Manajemen Keluarga saat Ibu Bekerja ala Yenny Wahid

Manajemen Keluarga saat Ibu Bekerja ala Yenny Wahid disusun berdasarkan Talkshow Manajemen Keluarga yang diadakan oleh Sahabat Ibu Indonesia pada Hari Ibu, 22 Desember 2016, di FX Sudirman, Jakarta. Salah satu narasumber dari Talkshow tersebut adalah Ibu Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan nama Yenny Wahid. Selain Ibu Yenny, sebenarnya ada tiga panelis lainnya dalam talkshow ini. Namun, karena masing-masing memiliki manajemen keluaga yang berbeda, dalam artikel ini saya mau fokus ke materi Ibu Yenny. Semoga bermanfaat!

talkshow-manajemen-keluarga

Siapa sih yang tak kenal Ibu Yenny Wahid? Putri mantan presiden Gusdur, istri dari Dhorir Farisi, ibu dari tiga orang anak yang sekaligus adalah aktivis Islam dan politisi Indonesia. Pemilik gelar Master’s in Public Administration dari Universitas Harvard (dengan beasiswa Mason) ini saya kagumi juga karena keberaniannya sebagai reporter pada masa dan pasca masa referendum Timor Timur yang membuatnya mendapatkan Liputannya anugerah Walkley Award. Agak kontras sebenarnya ya, dengan gayanya yang cukup “ibu-ibu” (in a positive way yakkk, hehe); bawahan kain dan kerudungnya yang khas itu serta senyumnya yang lembut. Oiya, setelah tidak menjadi reporter, Beliau terus berkarya di Wahid Institute, Partai Kebangkitan Bangsa dan segudang aktvitas lainnya.

Saya ga kebayang loh, punya anak tiga kecil-kecil (yang paling besar umur 6/7 tahun, cmiiw) dan tetap punya kegiatan seabrek di luar rumah. Gimana cara bagi waktunya dan gimana juga bisa tetap “waras” dan malah berprestasi juga. Saya saja yang sorangan sama suami kadang cucian piring numpuk sampai pagi. Pagi dua hari berikutnya, maksudnya, hehehe. Weekend lalu saya malah nemu bangkai cicak kering akibat kejepit jendela tanpa kami sadari keberadaannya. Uda kering. Hiiiiiii…. Uda lama kali yak dia tewas di sana, dan karena saking jarang dibersihkan jadi lama ketahuannya. Kasian-kasian…. Gimana nanti tambah dedek bayi di rumah…. *garuk-garuk kepala

Balik ke laptop. Beberapa poin saya dapat dari sharing Ibu Yenny di Talkshow tsb saya catat di buku tulis kecil saya (iyeeeee, masih pake buku tulis) dan akan saya rinci di bawah ini. Sayangnya waktu yang diberikan panitia sangat sempit hanya sekitar satu jam, sehingga tidak ada sesi tanya jawab dengan peserta. Namun, apa yang disampaikan oleh Ibu Yenny saya rasa adalah prinsip-prinsip yang bisa kita kembangkan dan adaptasi lebih lanjut dengan kondisi kita masing-masing. Secara umum memang Beliau menekankan pada kondisi keluarga dengan ibu bekerja, namun sepertinya sah-sah saja jika ibu rumah tangga juga ingin menerapkannya.

manajemen-keluarga-ala-yenny-wahid

Berikut prinsip manajemen keluarga saat ibu bekerja ala Yenny Wahid:

1 . Prioritas

Menjadi seorang ibu yang sekaligus pekerja tentu memiliki banyak tantangan. Namun, seorang ibu harus sadar bahwa dirinya tidak bisa melakukan semua hal. Setujuuuuu!!!! Tidak semua hal harus dilakukan oleh Ibu. Namun, hal-hal yang esensial dan penting harus dipastikan untuk berjalan dengan baik. Beda yak, antara “melakukan” dan “memastikan dilakukan”. Salah satu prioritas yang harus dilakukan oleh seorang Ibu adalah terkait mengasuh anak. Baik pengasuhan tersebut dikerjakan sendiri atau dengan bantuan orang lain, namun ada poin-poin penting yang harus ditekankan dan itu wajib dilakukan dengan “signature” dari Ibu.

Contohnya adalah tentang etika yang harus diterapkan di rumah, nilai-nilai apa yang ingin ditanamkan ke anak. Seorang Ibu harus memberikan prioritas yang lebih pada hal-hal seperti ini. Salah satu nilai yang wajib ditekankan kepada anak, adalah tentang berani menghadapi kegagalan. Walaupun anaknya masih kecil-kecil dalam berbagai kesempatan, Ibu Yenny berusaha mengexpose si anak pada kegagalan. Contohnya saat mengikat tali sepatu, dll. Namun, Beliau berpesan agar tetap mendampingi pada saat anak-anak merasa gagal/ tidak mampu menyelesaikan tugasnya.

Contoh lain yang lebih teknis adalah memastikan asupan gizi yang didapatkan oleh anak-anak. Ibu Yenny mengakui bahwa dirinya tidak bisa memasak (Yah, buk, kan tinggal liat aja resep di nyonyamalas.com!). Karena hal tersebut, Beliau memutuskan untuk meminta bantuan juru masak. Namun, menu yang harus dimasak, kriteria bahan masakan dan lain-lain seluruhnya berasal dari dirinya. Jadi si anak ga melulu dimasakin ayam goleng klispi ya…. Sayuran juga wajib.

2 . Support System

Terkait dengan poin pertama di atas. Agar seorang ibu dapat memastikan hal-hal yang prioritas dilaksanakan sesuai dengan harapan, tentu ibu harus memiliki suatu support sistem. Adapun pembuatannya meliputi tiga tahap berikut:

  1. Merancang sistem
  2. Membangun sistem
  3. Mengontrol sistem

Merancang support system dilakukan tentu saja dengan diskusi bersama suami tentang apa saja yang menjadi prioritas, siapa yang akan men-support dan bagaimana akan menjalankannya. Kemudian tahap membangun sistem. Pada tahap ini di dalamnya termasuk melatih orang-orang yang terlibat dalam support system. Contohnya adalah baby sister.  Ibu Yenny menceritakan bahwa proses melatih baby sister atau pengasuh untuk anak-anaknya membutuhkan waktu yang cukup lama, agar sang pengasuh memahami benar apa yang Ibu Yenny harapkan dari pengasuh dalam mengasuh anak-anaknya. Tahap terakhir, mengontrol sistem yang sedang berjalan. Kuncinya ada pada komunikasi yang baik. Bersyukur saat ini teknologi informasi sudah cukup maju. Ibu Yenny terbiasa mengontrol kondisi rumah dan anak-anaknya melalui skype dan sarana telekomunikasi lainnya.

3 . Time Management

Manajemen waktu dalam manajemen keluarga, menurut Ibu Yenny berfokus pada kualitas. Ada tiga momen quality time yang beliau tekankan pada saat talk show:

  1. Momen quality time dengan pasangan. Hihihihi, tetep menjaga nyala api cinta gitu ya saat berdua. Uhuyy!
  2. Momen quality time dengan masing-masing anak. Jadi masing-masing anak memiliki waktu khusus berdua dengan Ibunya.
  3. Momen quality time dengan diri sendiri atau me time. Ini yang mungkin sering Nyonya-nyonya lupakan. Seorang ibu juga harus memiliki waktu khusus untuk rileks dengan diri sendiri,memiliki sahabat, agar ibu jangan sampai mengalami burn out, stress atau kelelahan kronis.

4 . Kerjasama Istri dan Suami

Kunci dari manajemen keluarga yang baik terutama adalah adanya kesepakatan antara suami dan istri. Karena tidak mungkin akan timbul kerjasama yang baik jika tidak ada kata sepakat di antara kedua belah pihak. Selain itu, kesepakatan sangat penting untuk menghindarkan pasangan dari adanya harapan yang tidak terpenuhi akibat ekspektasi yang ga nyambung. Pernah kan yak? Hihihihi…. Kita berharap suami seperti apa, namun ternyata suami berespon lain, padahal maksudnya baik. Lalu kita menjadi kecewa. Padahal ya, suami tidak salah juga sebenarnya.

Di dalam poin ini Ibu Yenny menekankan beberapa hal, yang dia yakini dan juga dia alami dalam kehidupan rumah tangganya bersama suami dan juga berkaca pada rumah tangga kedua orang tuanya. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Peranan suami dan istri haruslah seimbang dalam pengambilan keputusan. Masing-masing memiliki hak untuk memberikan kontribusi dalam pengambilan keputusan.
  2. Tidak ada sekat antara peran laki-laki dan perempuan. Istri dan suami harus memiliki pandangan yang sama dalam memahami perbedaan antara konstruksi sosial dan kodrat. Kodrat menurut Ibu Yenny adalah sesuatu yang given dari Tuhan sejak manusia lahir. Contohnya bagi perempuan adalah mengalami menstruasi, hamil, melahirkan, menghasilkan air susu dan juga mengalami menopause. Hal-hal lain dapat dikategorikan sebagai norma sosial dimana terdapat ruang diskusi antara suami dan istri dalam menentukan perannya dalam keluarga.
  3. Kesepakatan haruslah didasari sikap saling menghormati dan kesetaraan. Kesepakatan juga bukan hasil dari keterpaksaan. Istri maupun suami seyogyanya tetap menjadi diri sendiri namun menjadi versi yang terbaik dari dirinya.

“Seorang Ibu harus tetap menjadi dirinya sendiri, but the best version of herself (Yenny Wahid)”

click to tweet!

sahabat-ibu-indonesia-expo

Manajemen keluarga memang unik ya. Masing-masing keluarga memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Tentu latar belakang keluarga juga akan mempengaruhi proses manajemen keluarga. Keempat panelis (Yenny Wahid, Evelyne E. Sukoco, Meliana Cahya Dikata dan Ayu Diah Pasha) juga memiliki manajemen keluarga yang berbeda.

Dari talkshow ini, saya pun berkaca atas latar belakang keluarga kecil saya. Suami saya misalnya, terbiasa dengan adanya seorang perempuan yang siap sedia di rumah, karena di keluarganya nenek, mama dan kakak-kakak perempuannya semua ibu rumah tangga. Namun, ketika menyadari istrinya ini jauh lebih produktif di depan laptop dibandingkan di depan kompor atau mesin cuci, dia memberi saya kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengerjakan passion saya itu. Bahkan ketika saya hamil, dia yang mengajukan opsi untuk berlangganan laundry antar jemput. Opsi yang awalnya saya tolak karena kawatir baju dilaundry jadi kurang bersih. Namun setelah mencoba sekali, ternyata hasil cucian laundry dekat rumah lebih bersih dari hasil cucian sayaaaaaa…. Aaaaaakkkk!!!! Baiklah. Mungkin seiring waktu berjalan kami akan terus berproses dan menemukan gaya manajemen keluarga kami yang lebih baik hari lepas hari.

Oiya, saya dan suami baru wedding anniversary yang pertama looohhh tanggal 2 Januari kemarin…. Masih seumur jagung, ya…. Hehehe…. Semoga dengan manajemen keluarga yang baik, sebuah keluarga tidak hanya happily ever after untuk dirinya sendiri, namun bisa juga menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya. Semangaaaattt!!!! 🙂

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

9 Comments

  1. Makasih sharingnya Ella. Ini pasti akan sangat bermanfaat bgt untuk semua ibu2 diluar sana, termasuk aku 🙂

  2. Sharingnya vermanfaat bNget say. Btw aku juga pernah gitu, cicak mati bAru ketahuan waktu udah mengeras gitu. Piring kotor pun demikian, kalo bangun pagi agak telat, ya say good bye aja. Malam atau keesokannya baru aku cuci

  3. Sebelumnya selamat y mb ella n suami moga makin bahagia dg kehadiran debay kelak.
    Mengenai manajemen sepakat mba mesti bisa prioritas kadang saya juga sok2an jadi wonder woman alhasil badan pegal linu 😀

  4. Kalau jauh dari keluarga (perantau) mungkin jg perlu memikirkan support system yg terpercaya ya mbak. Ini nih PRku kalau mau milih balik ngantor huhuhu
    TFS 🙂

  5. Usia pernikahan saya juga masih seunu jagung, Mbak. Anak baru satu. Tinggal masih sama ortu yang apa-apa dibantu. Tapi karena saya cenderung OCD dan overprotekif ke anak, jadilah berasa kok kayak selalu huru-hara di rumah 😀
    TFS Mbak. Suka sama quotesnya Mbak Yenny di akhir tulisan ini.

  6. Seiring waktu pasti bisa memanage keluarga, apalagi tiap keluarga menurut aku beda.. 😀 kalau ngikutin pengennya sih pengen punya ART, bebi sitter, supir, tukang salon, tukang pijet hahahah tapi apadaya ngga memungkinkan ya wes lah ngurus semua sendirian 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *