Finally, Gayatri Memilih Daycare

Judulnya agak dramatis yak, biar gereget. Tapi beneran loh, di samping orang tua yang memilih daycare, anak pun turut “memilih” daycare. Walaupun ni bocah belum bisa ngomong. Tapi kesan pertama dia memasuki daycare, turut menentukan keputusan kami memilih daycare mana yang tepat untuknya.

Caution: tidak perlu menanyakan Daycarenya dimana yak, selama Gayatri berdaycare di sana, pertanyaan tersebut akan saya jawab “Rahasia”.

Hihihi. Tapi tenang, saya bakal jabarin apa saja poin-poin yang patut dipertimbangkan saat memilih daycare. Dan bagaimana pengalaman menghadapi bayi yang pertama kali daycare. Semoga tetap bermanfaat yaaakkk!

tips memilih daycare yang bagus

Setelah kepergian Mbah Uti, banyak hal yang saya dan suami pertimbangkan kembali dalam mengatur rumah tangga kami. Kepergian Mbah Uti secara emosional maupun non-emosional cukup membuat parenteam kami limbung. Dan akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan Gayatri di daycare dan juga meng-hire asisten rumah tangga.

Keputusan tersebut, setidaknya akan berlaku sampai kami berdua telah menyelesaikan masa we-time kami dengan baik.

Sebenarnya sebelum ini, Gayatri pernah daycare juga sementara waktu. Selama 3 hari, yaitu pas seletah Lebaran. Namun, kami memutuskan untuk tidak lanjut lagi di daycare sebelumnya karena jauh dari rumah. Berikut alasan memilih daycare yang baru:

1 . Lokasi

Lokasi daycare pertama Gayatri lumayan jauh dari rumah dan dari kantor. Dan arahnya pun berkebalikan. Untuk bisa mencapai daycare Gayatri saya harus spend waktu sejam lebih; setengah jam rumah-daycare dan setengah jam lebih dari daycare ke kantor. Itu kalau kondisi jalanan lancar. Kalau tidak? Bisa lebih.

Hal tersebut jadi masalah karena daycare baru buka jam 7, saya masuk kantor jam 7.30. Kalau terlambat ada potongan tunjangan. #cryyyy Memang sih, sebenarnya biaya daycarenya relatif murah, tapi kalau dihitung-hitung dengan potongan tunjangan ya sama ajeee kumendan!

Pilihan keduanya, suami yang antar bayi. Tapi kasian juga, soalnya kantornya lebih jauh lagi. Dan rahnya juga berkebalikan. Huft.

Berdasar pengalaman tersebut, saya memilih daycare yang dekat kantor. Tinggal ngesot sampai. Ga sampai 10 menit lah, kecuali si Komo lewat. Biaya memang relatif mahal, tapi so far saya merasa worth kok dengan pengasuhan yang diberikan.

setrong

2 . Fasilitas

Saya nggak berharap fasilitas yang macem-macem. Yang penting tempatnya aman dan nyaman. Dua itu aja, yang lain saya hitung bonus.

Berikut yang saya pertimbangkan dari poin fasilitas:

1 ) Aman 1

Aman yang pertama artinya lokasinya tidak di jalan besar. Kenapa? Saya parno aja anak saya yang imut itu diculik. Hihihi. Kalau ada di perumahan, entah mengapa saya merasa lebih aman. Selain itu kalau anak saya nanti uda bisa jalan, kan serem aja kalau pas pintu terbuka dia ngacir ke jalan raya.

2 ) Aman 2

Aman yang kedua adalah terkait keamanan bocah dari benturan lantai dan dinding. Saya nggak berharaplah satu suster akan setia terus menunggui anak saya seorang. Pasti namanya di daycare kan merhatikannya ya rame-rame. Oleh karena itu, ketika saya lihat selutuh permukaan lantai, dinding dan tiang dilapisi dengan sejenis playmate untuk meredam benturan, saya langsung tenang.

Gayatri (10 mo) lagi rajin-rajinnya manjat soalnya. Kalau jatuh kan lumayan. Dan memang saya juga nggak pengen dia terlalu dibatasi, biar anaknya bisa berkeksplorasi, tapi tetap aman.

Selain itu, saya perhatikan kalau minim barang dengan bahan dari kaca. Termasuk sekat antar ruangan juga bukan kaca. Soalnya kan riskan banget ya, bahan kaca itu mudah pecah dan menggores anak.

3 ) Aman 3

Aman ketiga berarti aman dari penularan penyakit mematikan. (((lebaaayyy))) Hehehe, ya penularan penyakit yang nggak mematikan juga perlu diminimalisasi. Aku menilainya dari adanya ruang karantina, dimana anak yang terindikasi mengalami gejala sakit akan dipisahkan tempat bermainnya. Dan jika terjadi demam melebihi 38 derajat, orang tua akan diminta jemput. Demikian juga jika terindikasi diare dan penyakit menular berbahaya lainnya.

Oiya, saya senangnya juga saat mendaftar ke daycare juga diperiksa catatan imunisasi dan buku kesehatan untuk melihat riwayat penyakit dan juga alerginya. Adanya administrasi yang demikian menunjukkan kehati-hatian yang menurut saya perlu diapresiasi ya.

4 ) Nyaman

Udaranya ga dingin dingin amat dan tapi juga ga gerah. Gayatri anaknya pabrik keringat banget soalnya. Di rumah aja saya nggak merasa panas, seringkali punggungnya uda basah keringetan. Mirip bapaknya. Jadi poin ga gerah ini masuk perhitungan saya banget.

Kemudian yang kedua adalah adanya bukaan cahaya yang banyak. Jadi ruangannya terang. Saya percaya ruangan yang berlimpah cahaya itu sehat, karena meminimalisasi tumbuhnya jamur dan bakteri lainnya.

love love

3 . Makanan

Nyonyah harus cek makanan yang diberikan di dalam daycare. Perlu diperhatikan apakah daycarenya pro-ASI atau tidak, bagaimana proses pemberian ASIP atau susu formulanya. Kemudian jika sudah di atas 6 bulan seperti Gayatri, bagaimana MPASInya. Saya bersyukur di daycarenya diberikan makan berat sebanyak 3x, snack buah 1x dan snack lain 1x.

Cocok banget buat saya yang malas ini. Ahahaha….

Jangan ragu juga untuk menanyakan apakah makanannya diberi gula garam atau tidak. Bagaimana dengan makanan yang bisa menyebabkan anak alergi.

Oiya, jangan malu untuk menanyakan, apakah makanan bisa diantar ke rumah apabila anak tidak masuk yak…. Hihihi, Gayatri dua hari ini sedang sakit sehingga saya tidak memasukkan dia ke daycare. Dan syukurlah, makanannya di daycare bisa diantar ke rumah pakai go send. Karena ga terlalu jauh juga. Saya jadi happy karena berkurang beban masaknya. Hihihi….

4 . Rekomendasi

Last but not least, faktor yang menentukan pemilihan daycare adalah rekomendasi dari orang-orang yang pernah men-daycarekan anaknya di situ. Hal ini yang paling saya pertimbangkan si sebenarnya. Dan rekomendasi yang saya pertimbangkan adalah rekomendasi dari orang yang benar-benar saya kenal.

Setidaknya ada empat orang yang saya kenal yang anaknya pernah daycare di tempat ini. Semuanya memberikan testimoni yang positif. Saya pun jadi mantap dalam memilih.

tips memilih daycare

Setelah kami sudah memilih satu daycare, kami survey dulu dengan membawa Gayatri tentunya. Kesan pertama begitu menggoda. Gayatri mau turun dan main sendiri (karena pas jam anak-anak tidur). Ekspresinya terlihat ceria dan excited. Seneng gitu liat mainannya, mungkin karena di rumah ga punya banyak mainan yak, hihihi.

Seketika itu juga saya langsung pandang-pandangan dengan suami, dan jatuhlah keputusan (walaupun agak sedih lihat tagihannya). Ahahaha….

Doakan Gayatri betah yaaa!

Semoga sharing kali ini bermanfaat ya Nyaaah…. 🙂

Related Post

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

3 Comments

  1. Anakku sampai hari ini masih dititipin sama keluarga jauh. Alhamdulillah sih yang jagain ini telaten. Ada sih kepikiran mau masukin dia ke daycare kalau misalnya si ibu nggak bisa jagain anakku lagi. He

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *