Perbandingan 3 Maskapai Penerbangan Low Cost Carrier, Seri Pengalaman Membawa Bayi Naik Pesawat

Sebenarnya saya bukan orang yang suka travelling, namun banyaknya kejadian mengakibatkan saya sering harus berpergian dengan membawa bayi naik pesawat. Sejak usianya 4 bulan sampai dengan 10 bulan, kurang lebih sudah hampir selusin penerbangan Ning Gaya jalani. Walaupun ya perginya hanya ke situ-situ saja, 4 kota. Jakarta – Jogja – Semarang – Surabaya.

Baca dulu artikel di bawah ini ya, biar related, karena di artikel ini saya cuma mau bahas perbandingannya:

Pengalaman secara umum dan tips membawa bayi saat usia 4 bulan.

Pengalaman secara umum dan tips membawa bayi saat usia 9 bulan.

Saya biasanya dalam membeli tiketnya selalu nyari waktu dan harga yang pas, maskapai penerbangan tidak terlalu jadi perhatian, jadilah Ning Gaya uda nyoba Maskapai penerbangan macem-macem. Garuda dua kali, Citilink tiga kali, Air Asia tiga kali, Lion Air sekali dan Sriwijaya dua kali.

Di artikel ini, saya mau mencoba memperbandingkan bagaimana si pengalaman saya membawa bayi naik pesawat dari maskapai yang low cost; Air Asia, Citilink dan Lion Air.

Dan sebelum saya menceritakan bagaimana pengalaman saya menggunakan maskapai penerbangan low cost, saya pengen memberikan beberapa disclaimer, agar pembaca dapat menarik kesimpulan dengan lebih smart bagi kepentingannya masing-masing.

Disclaimer:

  1. Penerbangan membawa bayi yang pernah saya lakukan adalah penerbangan domestik jarak pendek. Waktu tempuhnya tidak sampai dua jam.  Jadi, mungkin beberapa pengalaman akan tidak relevan dengan perjalanan jarak jauh.
  2. Bandara yang saya lewati adalah: Soekarno Hatta untuk Jakarta, Ahmad Yani untuk Semarang, Adi Soecipto untuk Yogyakarta dan Juanda untuk Surabaya. Mohon perhatian bahwa Bandara Soekarno Hatta, Adi Soecipto dan Juanda memiliki beberapa terminal. Terminal yang berbeda akan memberi pengalaman yang berbeda pula.

Karena dua hal di atas, maka saya tidak akan membandingkan tiga maskapai penerbangan berikut secara poin per poin. Melainkan dengan storytelling tentang apa yang saya rasakan saat menggunakan maskapai tersebut. Saya harap dari cerita saya ini tetap dapat diambil kesimpulan yang bermanfaat bagi perjalanan Nyonyah-nyonyah yaaa….

low cost carrier

Pengalaman Menggunakan Maskapai Penerbangan Low Cost secara Umum

Kenyamanan

Jangan salah, low cost itu nggak selalu lebih jelek pelayanannya daripada yang full service loh. Contohnya: saya lebih memfavoritkan Air Asia (low cost) dibandingkan dengan Sriwijaya (full service) dari sisi kenyamanan kursi. Pembahasan tentang Sriwijaya dan maskapai penerbangan full service lain akan saya bahas di artikel terpisah.

Walaupun tidak selalu lebih tidak nyaman dibandingkan dengan maskapai penerbangan full service, namun penerbangan low cost memang tidak selengkap full service. Yang tidak ada dari penerbangan tersebut adalah: layanan makan dan layanan hiburan. Layanan hiburan dalam hal ini adalah layar yang bisa digunakan untuk menonton video serta mendengarkan musik.

Biaya

Untuk tiket yang namanya lowcost pasti paling memang relatif lebih murah ya dibandingkan yang full service. Kalau untuk infant memang free seat-nya, karena bayi di bawah dua tahun masih boleh duduk dipangku orang tuanya. Namun kita masih harus membayar semacam asuransi untuk bayi. Harganya sekitar 40 – 60 ribu, tergantung tujuan penerbangan.

Serta untuk layanan low cost, biasanya untuk memilih bangku di row awal harus menambah biaya tertentu.

Pengalaman berkesan menggunakan Citilink

Saya menggunakan Citilink saat ke Surabaya PP. Perjalanan berjalan menyenangkan, tidak ada yang mengganggu kenyamanan saya maupun Gayatri di perjalanan. Yang saya sukai dari Citilink aalah sebagai berikut:

  1. Krunya relatif ramah-ramah, gayanya santai dan helpful. Saat berangkat dan mendarat, kita akan disapa dengan pantun-pantun yang, kadang kalau sedang iseng saya perhatikan, lucu ugaaaa….
  2. Yang paling mengesankan dari Citilink berikutnya adalah soft landingnya. Buset, saya kayanya berkali-kali naik Citilink seumur hidup saya, selalu landing mulus. Jempol banget buat pilotnya! Jadi yang sedang bawa bayi, dan bayinya sedang bobo saat landing, bayinya tidak terlalu terganggu lah.
  3. Sebagaimana semua penerbangan lowcost, Citilink pun tidak menyediakan fasilitas hiburan berupa video atau musik. Namun Citilink menyediakan majalah Linkers. Dan menurut saya majalah ini bagus banget yak…. Paling bagus di antara sesama inflight magazine-nya maskapai lowcost. Kenapa saya bahas majalah, karena Ning Gaya anak saya suka mainan majalah. Jadi majalah yang warna warni kece, selain menghibur buat saya juga menghibur bocah juga.
  4. Citilink mengizinkan untuk web check ini walaupun kita membawa bayi.

terminal 1C

Ketentuan yang saya dapat di web Citilink terkait mengangkut bayi adalah sbb:

“Citilink mencadangkan hak untuk tidak mengangkut bayi yang berusia 20 (dua puluh) hari dan/atau di bawahnya. Citilink dapat, menurut kebijakan mutlak mereka, memutuskan untuk mengangkut bayi tersebut pada penerbangan jika pengangkutan tersebut disetujui secara tegas dan orang tua bayi menandatangani Surat Pernyataan Tanggung Jawab Terbatas. Untuk alasan keselamatan, jumlah bayi yang dapat Citilink angkut tidak dapat melebihi 10% dari kapasitas pesawat udara.”

Namun dua kali penerbangan kami tidak diminta untuk menandatangani Surat Pernyataan Tanggung Jawab Terbatas. 🙂

Oiya, terminal yang digunakan oleh Citilink di Bandara Soekarno Hatta adalah Terminal 1C. Terminal favorit suami saya karena ada konter Polo. Polo-nya kayanya yang produk lokal punya. Jadi harganya memang miring, ditambah lagi sering ada promo, jadi makin tambah miring lagi. Buat penyuka kaus Polo mungkin bisa mampir sebelum lanjut ke gate. Berarti kalau di foto di atas, jangan langsung masuk security check in dulu yaaaakkkk….

Pengalaman berkesan menggunakan Air Asia

Bisa dibilang maskapai penerbangan low cost favorit saya adalah Air Asia. Saya menyukainya karena:

  1. Tepat waktu, saya belum pernah mengalami delay saat menggunakan Air Asia. Baik dalam penerbangan saya bersama Gayatri maupun penerbangan saya saat masih jaman single.
  2. Kursi dan jarak antar kursinya lebih lebar dibanding maskapai penerbangan low cost lain. Bahkan lebih longgar daripada pesawat Sriwijaya yang pernah saya tumpangi.
  3. Yang saya suka lagi, walaupun membawa infant, kita bisa checkin online atau web checkin. Tidak seperti Garuda (yang hanya bisa city check in dan counter check in) dan Sriwijaya. Dengan checkin online, keberangkatan jadi lebih tenang. Bawa anak kan kadang ada hal-hal tak terduga ya yang terjadi.

menyusui di bandara

Foto di atas adalah di Bandara Juanda. Kalau terminal yang digunakan Air Asia di Bandara Soekarno Hatta adalah Terminal 2F. Saya senang dengan terminal ini karena rapi, dan lebih banyak pilihan makanan dibandingkan dengan Terminal 1C. Namun, nursing roomnya cukup jauh dari ruang tunggu gate. Ada toilet dekat ruang tunggu namun untuk ganti popok bayi, dll, better di nursing roomnya.

Oiya, nursing room 2F ada yang ruang menyusuinya disekat loh. Kalau biasanya kan satu ruangan dipakai bersama-sama. Kalau ini ada yang ruang ganti popok dengan menyusuinya terpisah dengan dua ruang menyusui. Ruang menyusuinya pun disekat, jadi masing-masing ibu menggunakan satu bilik tersendiri.

Kira-kira seperti ini nursing room 2F:

nursing room 2f

Ketentuan yang saya peroleh di web Air Asi terkait membawa bayi adalah:

“Penumpang diharap membawa paspor bayi Anda dengan masa berlaku paling tidak 6 bulan untuk penerbangan internasional. Untuk penerbangan domestik, penumpang diharap membawa kartu identitas atau fotokopi akte kelahiran bayi Anda.”

Walau saya tidak pernah dimintai fotokopi akte kelahiran bayi, namun biasanya saay terbang saya memang jaga-jaga membawa dokumen tersebut.

Tips agar lebih nyaman menggunakan Air Asia:

  1. Belilah asuransi untuk bayi,
  2. Jika menginginkan kursi yang paling depan, kita bisa membeli hot seat. Pembelian secara online lebih murah dibandingkan membeli on flight. Kalau on flight harganya berkisar 80 – 100 ribu. Kalau online bisa setengahnya,
  3. Air Asia menyediakan penjualan makanan di atas pesawat. Jika berencana untuk makan besar, sebaiknya memesan secara online juga saat pembelian tiket.

Pengalaman berkesan menggunakan Lion Air

Saya punya pengalaman unik bersama Lion Air. Jadi saya, suami dan Ning Gaya pernah “terdampar” di Yogyakarta. Penerbangan seluruhnya mengalami gangguan karena cuaca yang buruk serta antrian pesawat yang panjang. Bayangkan, pesawat Batik Air yang rencananya akan kami tumpangi menuju Jakarta, pada saat jam (seharusnya) boarding masih ada di Jakarta dan belum jelas kapan sampai di Yogyakarta. Saat itu naasnya kami mengambil penerbangan malam dan Ning Gaya sedang agak demam. Huft….

hiks

Suami awalnya memutuskan untuk refund atau reschedule saja ke hari berikutnya, daripada harus lontang lantung di bandara. Ketika menuju ke konter Batik Air, yang satu perusahaan dengan Lion Air, iseng suami bertanya apakah kami boleh pindah penerbangan. Dijawab oleh petugasnya, “Boleh”.

Saya tidak tahu peraturannya sebenarnya boleh atau tidak ya.

Kebetulan saat itu ada penerbangan Lion Air yang sedang panggilan boarding. Walaupun harus turun layanan dari Batik Air yang full service ke Lion Air yang low cost, kami senaaaaang sekali, karena bisa pulang saat itu juga. Yeay!

Jadilah untuk pertama kalinya kami menggunakan Lion Air.

Ketentuan yang saya baca di web Lion Air terkait mengangkut bayi adalah sbb:

“Lion Air berhak untuk tidak mengangkut bayi berusia kurang dari dua (2) hari dan bayi yang berusia antara tiga (3) dan tujuh (7) hari harus disertai dengan Sertifikat Kesehatan yang menyatakan bahwa bayi tersebut cukup sehat untuk melakukan perjalanan udara. Sertifikat Kesehatan tersebut harus diterbitkan 72 jam sebelum waktu keberangkatan. Batas usia maksimum bayi adalah kurang dari 2 tahun. Bayi yang melakukan perjalanan udara dengan Lion Air harus disertai dengan Formulir Ganti Rugi yang ditandatangani oleh orangtuanya.”

Namun untuk poin formulir ganti rugi tidak diminta kepada kami saat itu. 🙂

Dan di dalam pesawat itu mungkin nggak sampai 20 orang penumpang ya. Sepi sekali. Saya tidak mau berasumsi apa-apa, karena juga baru sekali ini menggunakan Lion Air. Dan entah apakah akan menggunakannya kembali.

You know what I mean. 😉

***

Saya seneng banget dengan seri ini, karena banyak yang komen, baik di blog maupun di pages/ instagram saya. Respon dari teman-teman, baik berupa kritik, saran maupun request, bikin saya happy karena saya jadi merasa kalau blog saya ini bermanfaat. Hehehe, GR yak…. So keep in touch yaaak! Klik Like di Pages FB nyonyamalas.com di bar kanan (kalau di PC) atau di bagian paling bawah page ini jika Nyonyah membuka via HP.

Terimakasih sudah membacaaa…. Kalau teman-teman punya pengalaman lain terkait tiga maskapai penerbangan di atas, boleh banget lo share pengalamannya di komen. Karena bisa jadi pengalaman yang kita miliki berbeda, dan pasti akan bermanfaat buat Nyonyah-nyonyah lain yang membaca….

Salam sayang!

 

Related Post

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

2 Comments

  1. Yg pasti kalo aku, semua anak maskapai lion group sih udh aku blacklist mba :D. Terlalu sering dpt pengalaman ga enak, apalagi slalu pas aku bawa anak. Kalo utk low cost air asia aku suka jg.. Ama prnh ngerasain low cost peach airlines kepunyaan jepang, itu jg bgs, tepat waktu service ramah dan anakku jg happy.

    • Iya kan iya kan…. hihihi, berarti so far pendapat kita terhadap lion air dan air asia sama yak :salaman. Thanks buat info tentang peach airlines yak! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *