MPASI On The Go, Bukan Panduan MPASI saat Traveling

Awalnya saya nggak berniat menuliskan MPASI saat traveling versi Gayatri karena MPASI yang saya sediakan bukan yang perfeksionis-perfeksionis amat. Merasa takut menyesatkan. Hehehe….

Namun karena mbak Gusti Tia @tiasangputri request, trus kebetulan di hari yang sama temen lain juga nanya via WA group, ya udah saya tulis aja yak. Sekali lagi, sesuai judul MPASI on the go versi Nyonyamalas ini bukan panduan (karena memang banyak hal yang nggak ideal), sifatnya hanya sekedar sharing pengalaman.

MPASI on the go

Pertimbangan MPASI saat Traveling:

1 . Standarnya berbeda dengan saat di rumah, kepraktisan jadi prioritas juga.

Saya menekankan baik-baik di pikiran saya, yang kadang suka kumat perfeksionisnya, kalau kondisi di rumah dan di “jalan” itu berbeda. Saya harus belajar untuk fleksibel dan juga concern terhadap kepraktisan. Standar yang berbeda kalau di rumah dengan di jalan terutama ada pada jenis menu yang dipilih, yaitu saya akan memilih menu-menu yang mudah diolah.

Prioritasnya bisa diurut sbb:

  • Yang tetap jadi prioritas utama tentu adalah kebersihan.
  • Prioritas selanjutnya adalah meminimalisasi makanan yang berisiko memicu alergi.
  • Kepraktisan naik pangkat prioritas ni kalau saat traveling.
  • Kelengkapan menu empat bintang juga tetap saya usahakan.
  • Menu non garam juga saya perhatikan, namun tidak seketat di rumah.

Toh bocah tidak akan langsung anemia cuma karena nggak makan daging sapi selama dua hari traveling. Katakanlah begitu. Tapi kalau kebersihan bisa bahaya sih, kan bisa kena diare di perjalanan dan itu fatal. Maka dari itu kebersihan nomor satu, utamakan selamat. Kelengkapan menu jadi prioritas yang lebih rendah.

2 . Jaga berat bawaan.

Peralatan MPASI kan sebenarnya bisa sedikit bisa juga banyak. Nah kalau di jalan saya akan meminimalisasi membawa peralatan yang berat-berat. Atau kalau bisa malah nggak membawa alat masak sama sekali.

3 . Kenali lokasi penginapan.

Saya tidak anti untuk membeli makanan untuk Gayatri, dan memodifikasinya menjadi makanan bayi. Tentu untuk dapat melakukannya saya harus mengenali lokasi penginapan terlebih dahulu. Seperti di poin 1 tadi, tentu kebersihan adalah nomor 1 ya. Saya berani makan/ beli makan buat Gayatri kalau sebelumnya saya pernah makan di tempat tersebut.

4 . Rileks.

Saya traveling biasanya karena ada acara keluarga, kerjaan kantor atau liburan. Ya saya mau fokus untuk mengerjakan hal-hal tersebut. Even untuk liburan pun saya mau fokus liburan. Hahahaha…. Saya nggak pengen juga karena saya ribet masak, eh kepasan bocah juga lagi malas makan trus saya jadi bad mood sepanjang perjalanan.

Berikut saya jembrengin pengalaman saya ya. Nyonyah pasti akan menemukan banyak kekurangan, jadi mohon jangan berekspektasi terlalu tinggi yak. Ya memang beginilah kenyataannya sih…. Heeee….

Umur 6 bulan – 7 bulan

Umur segini paling saya bawa Gayatri main di sekitaran Jakarta aja. Jadi ga terlalu masalah. Karena ga terlalu lama, bisa bawa bekal makanan (bubur). Kalaupun ga bisa bikinkan bubur, saya bawa pisang atau alpukat. Di jalan tinggal kerok. Tadi saya coba ubek-ubek Galery handphone dan nemu foto ini…. Tapi ini saya lupa pastinya umur berapa kayanya si sekitar 7 atau 8 bulanan deh…. bekalnya kaya gini hehehe….

kantor

Bagaimana kalau harus menginap? Akankah Nyonya bawa slow cooker dll?

Jawabannya Tidak. Karena di rumah, walaupun ada slowcooker, saya terbiasa masak bubur pakai panci atau alat lain yang ada. Biasanya panci tersedia kalau di penginapan yang ada kitchenettenya.

Paling saya bawa 1) saringan dan 2) parutan keju kecil. Alasannya karena nggak semua tempat menginap menyediakan dua benda ini. Lagipula dua benda ini versatile serta ngebantu banget untuk bikin MPASI, dan ukurannya keciiiiillll. Tinggal diselipin di diaper bag aja muat.

Trus gimana kalau mau menu empat bintang Nyah?

Kembali lagi, sesuaikan dengan lokasi penginapan. Sebisa mungkin cari penginapan yang memungkinkan kita berbelanja jika memang ingin memasak di lokasi traveling. Pilih bahan yang mudah disaring pakai saringan. Jangan pula beli daging sapi yang ga digiling, misalnya. Masak bubur pakai panci. Saring.

Lhah kalau di penginapan?

Nhaini memang agak tricky sih kalau nginepnya nggak di rumah Saudara. Tips dari saya si, better sewa apartemen harian atau mingguan ya daripada hotel. Karena di apartemen biasanya ada dapur kecil, dan biasanya juga dekat dengan pusat perbelanjaan.

Saya baru sekali bawa bayi nginap apartemen harian, yaitu pas di Surabaya. Nyewa satu unit Puncak Kertajaya untuk tiga hari. Lebih murah kok daripada hotel. Dan di dekat situ dekat Giant dan Superindo. Ada dapur sederhana, yang penting ada kompor, panci satu dan alat makan. Aman.

Di situ juga ada kantin yang jual gado-gado. Itu rebusan sayur (labu siam, dll), tahu goreng, kentang atau lontong, bisa dialusin jadi bubur bayi kalau kepepet. 😛 Hehehe…. Disclaimer: Suami dulu tinggal di apartemen ini setahunan, cuma beda tower, jadi dia tahu kantin mana yang layak diacungi jempol kebersihannya.

Saya punya food processor Nyah? Menurut Nyonyah gimana?

Saya nggak punya si, jadi nggak bisa cerita tentang food processor. Mohon maap. Hehehe….

Trus kalau mau bawa alat masak segambreng salah nggak?

Ya enggak papa juga si. Kalau bawa mobil sendiri, apa lagi, ya monggo. Itu tadi versi saya yang pulang kampung atau traveling-nya biasa ke luar kota dan kendaraan yang digunakan adalah pesawat. Sesuai Prinsip MPASI on the go versi Nyonya: Jaga berat bawaan.

setrong

Umur 8 bulan

Umur ini adalah masa paling ekstrim, karena saya sering bolak balik RS nganter Mbah Uti dan juga suami yang opname. Karena ga ada pengasuh, terpaksa Gayatri sering saya bawa ke RS atau ke kantor. Jujur kadang kasian juga sama anak. Tapi bersyukurnya, kami diberi kesehatan dan kekuatan. Setiap pergi-pergi sama juga saya bawa bekal makanan dari rumah.

Pernah, suatu saat saya tidak ekspektasi kalau observasinya Mbah Uti akan lama, dan nggak bawa makanan bayi. Saya melipir ke kantin untuk minta dibuatkan puree alpukat, tanpa gula, es dan susu. Syukurlah kantinnya mau membuatkan. Dengan berdoa, semoga alat makannnya bersih, puree alpukat jadi pengganjal makannya bocah.

Pernah juga saya pesan nasi tim ayam di Kantin Eka Hospital. Memang ini ga ideal untuk dilakukan, walaupun kantinnya bonafid dan bersih, namun bagaimanapun kita tidak bisa menjamin apa yang terkandung di makanannya. Termasuk juga kandungan garamnya. But, kalau sudah darurat, saya pilih yang terbaik yang bisa didapatkan dulu.

Umur 9 bulan – 10 bulan

Umur segini saya sudah mulai merasa mudah, karena Gayatri uda bisa makan makanan keluarga yang dimodifikasi. Saya menyiapkan makanannya dari makanan saya, hehehe. Cuma konsekuensinya, saya harus memilih makanan yang mungkin untuk saya modif jadi makanan bayi.

Pas di usia ini yang laing berkesan buat saya adalah traveling ke Yogyakarta. MPASI saat traveling-nya Gayatri saya bagi menjadi 2 sistem: sarapan di hotel dan selain sarapan makannya di luar.

sheraton

1 . Sarapan di hotel

Kurang lebih 4 hari saya menginap di Sheraton Mustika Hotel, dan so far seneng banget dengan menu-menu yang tersedia di sana karena bisa di modif jadi makanan bayi. Tiap hari berbeda si, tapi yang pasti di sana ada salad bar, omelet dan juga juicer yang ready buat digunakan secara custom. Beberapa paduan menu yang berhasil saya coba kulik:

1) Tofu, nasi, brokoli rebus, potongan ayam rebus dari stall soto,

2) Omelet, kentang, tomat panggang, tahu,

3) Kentang, omelet, wortel rebus, kacang merah rebus,

4) Kentang, buncis, ikan goreng (emacam dori/ gurame tepung dikuliti tepungnya).

Apalagi yaaa…. Ada yang uda kelupaan juga, hehehe…. Prinsip empat bintang sebisa mungkin saya pegang. Karbonya bisa dicari aja keliling resto, bisa diganti bubur ayam, lontong, ketupat, etc etc etc….

2 . Makan di luar

Menu resto yang paling lazim dan ada di mana-mana yang biasa saya pesan untuk Gayatri adalah ikan bakar (bumbu dipisah). Kulitnya dikupas, daging ikannya dilumat, sama lalapannya timun atau tomat bisa juga jadi finger food ala-ala. Trus apalagi ya, di PHD ada salad bar. Cuma kentangnya uda dicampur mayo. Kalau mau, dicuci bentar pakai air mineral. Salad barnya PHD malah ada kacangmerah, wortel rebus dll-nya. Kalau di Marugame Udon, beli kaldu ikan/ ayamnya terpisah itu murni kaldu loh, nggak pakai garam. Bisa jadi opsi lain buat makan di luar juga.

Yang aman tapi mahal ituuuuu Hanamasa. All you can eat dan “masak sendiri” kan, jadi bisa ngasih daging, sayur, tofu, nasi, dan segala macemnya ke bocah. Tapi nggak mungkin juga ye kita makan tiap hari di Hanamasa. Bisya bisya Bapak syewot bayarnya….

hehehe

Selain itu saya bawa makanan siap saji khusus bayi juga si. Saya bawa Heinz sama Milna biskuit. Gayatri pas umur segini entah kenapa ga doyan makanan instant bubuk. Heinz dan Milna ini jadi kaya last resource banget, daripada nggak makan.

Umur 11 bulan – 12 bulan

Usia ini mah sama seperti makanan di poin sebelumnya, bedanya saya sudah nggak mikir ngalusin lagi. Syukurlah Gayatri naik teksturnya lancar, jadi uda bisa makan nasi. Yang jadi perhatian dan PR bagi saya adalah meminimalisasi asupan garam dan memilih tempat makan dengan kebersihan makanan yang terjamin. Untuk alat makan, saya tetap prefer bawa alat makan sendiri.

Menjelang satu tahunnya Gayatri, kami liburan ke Surabaya dan Bromo, di sini lah MPASI paling koboi yang pernah saya lakukan. Soalnya mostly makanan yang tersedia adalah makanan family yang uda full bumbu. Tapi ya sudahlah uda mau setahun ini ya…. Maafkan ibu ya naaaakkk!

kuat

Hmmm…. jadi banyak juga yak bahasan MPASI saat travelingnya, hehehe…. Semoga sharing kali ini bermanfaat ya Nyaah…. Feel free untuk berbeda pendapat loh. Boleh juga memberi masukan atau berbagi pengalaman selama ini…. Terimakasih sudah mampir, salam sayang selalu….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

4 Comments

  1. Aku dulu anak pertama, bawa yogurt, oat, sama pisang atau jeruk peres. Langsung aduk deh gak pake dimasak 😀 sesekali cheating tak apelah 😀 kalau gak nginep tinggal masak finger food. Tau deh kalau anak yang ke dua ini gimana, mikir MPASI aja udah males duluan, heuheu

  2. anakku sampai sekarang susah banget makan sama aku. padahal kalau kata ibu yang jagain dia makannya lahap aja kalau sama dia. padahal yang disuapin sama-sama bikinanku juga. jadi sedih. hik

  3. sudah dibuatin tulisan eee gak dateng2 yaa daku *mintadikepruk*
    terima kasih ellaa utk sharingnya. aku pun akhirnya travelling dg menu makanan simple, tapi masih agak2 idealis dg bawa slowcooker… biskuit pabrikan yang aq menyerah padanya karena bawa buah kupas diperjalanan cepet banget basi dan lonyot bikin gak selera.

    • ho, aku malah masih bawa pisang mbak, soale pisang tak pernah salah sama Gayatri hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *