Pentingkah Rash Cream untuk Bayi? Review Rash Cream Sebamed dan Mustela #Seri Perlengkapan Bayi

review rash cream mustela sebamed judul

Setiap orang tua, saya yakin, ingin mendukung tumbuh kembang anaknya dengan maksimal. Saya pun. Apalagi sebagai orang tua baru ya, dunia terasa hanya milik berdua, ibu dan bayi. Bapaknya cuma ngontrak. Ahahaha. Tapi kadang karena rasa ingin-memberikan-yang-terbaik itulah yang membuat saya kadang kalap beli ini beli itu. Termasuk salah satunya rash cream atau care cream atau diaper cream (sebenarnya saya bingung nama apa yang tepat menggambarkan produk yang mau saya review ini, hehehe).

Setelah anak saya berusia 8 bulan, menurut saya, sebenernya sih Ning Gaya ga terlalu butuh rash cream ya. Karena kondisi kulitnya nggak sensitip sensitip amat. Bisa dibilang ga pernah ruam. Sampai Ning Gaya umur 8 bulan saya cuma pernah beli rash cream 1x, dikasih orang 2x. Jadi uda nyicip 3 merk rash cream. Dari ketiganya sih ga ada yang terpakai lebih dari 1/4 tube. Saking juaraaaang banget dipakai.

Ahahahaha, ini saya gimana si ya. Mau ngereview tapi malah bikin pembaca nggak semangat. Ya, itu kan kondisi bayi saya kan, bisa saja kondisi bayi Nyonyah berbeda. Mungkin, bayi Nyonyah termasuk yang memerlukan rash cream. Untuk itu, saya mau mereview 2 produk sejenis rash cream yang pernah saya coba. Semoga bermanfaat!

review rash cream mustela sebamed judul

Sebelum menggunakan produk dari Sebamed dan Mustela sebenarnya saya pernah menggunakan produk Switzal Baby Cream Extra Care With Zinc. Saya tidak akan membahasnya dengan detail, karena saya sudah tidak memiliki produknya lagi. Produk ini berbentuk tube warna kuning khas switzal dengan tutup ungu. Yang saya ingat lagi, produk ini mengandung paraben (per Januari 2017, cmiiw, siapa tahu produk ini sudah reformulasi ya). Ketika dulu bayi saya newborn dan mengalami merah-merah di pantat (belum sampai ruam), produk ini cukup efektif menghentikan kemerahan tersebut. Kabar baiknya lagi produk ini harganya sangat terjangkau. Harganya tidak sampai Rp 20.000,00 untuk ukuran 50 ml.

Setelah produk Switzal, selanjutnya saya membeli produk Sebamed, dan kemudian mendapatkan gift dari Mustela. Berikut perbandingan kedua produknya:

cover depan mustela sebamedcover belakang mustela sebamed

Sebamed

Produk yang saya akan bandingkan ini adalah varian Sebamed Care Cream. Sebamed memiliki banyak sekali jenis krim. Varian yang Care Cream ini dinyatakan di kemasannya memiliki fungsi untuk digunakan di nappy area/ diaper area. Formula yang dimiliki mengandung banyak D-panthenol yang membuat kulit lembut dan kenyal. Bahan aktif yang terkandung di dalamnya adalah Bisabolon, Squalane dan Allantoin yang merawat dan menenangkan kulit.

Mustela

Varian produk Mustela yang akan saya sandingkan dengan Sebamed adalah Mustela Barrier Cream. Formula yang dimiliki mengandung Avocado Perseose yang berguna melembabkan kulit, serta Alcacea Oxeoline, + Zinc Oxide yang berguna memperbaiki lapisan pelindung kulit dan meningkatkan pembentukan perlindungan kulit.

Related post: Review Produk Perawatan Bayi Lengkap dari Mustela Baby

Perbandingan Sebamed dan Mustela

Ukuran: Sama-sama 100 ml

Harga: Sama-sama di atas Rp 100.000,00. Kurang lebih Sebamed Rp 105.000,00 dan Mustela Rp 142.000,00.

Cara kerja: Hampir sama walaupun formulasinya berbeda. Keduanya menggunakan tiga tahapan perawatan kulit di area pantat; 1) mencegah dan mengatasi iritasi, 2) membantu pembentukan lapisan kulit luar, 3) memperkuat lapisan kulit.

Penyerapan: Mustela terserap dengan lebih baik di kulit, sementara Sebamed masih ada semacam sisa krim dan agak lengket. Namun jika terkena air, Mustela ikut mencair, sementara Sebamed lebih tahan air. Berhubung fungsi krim ini untuk di bagian pantat yang pasti terkena air, saya berpendapat Sebamed lebih dapat melindungi kulit dari pipis dibandingkan Mustela. Namun memang Mustela lebih nyaman digunakan. Berikut perbandingan tekstur serta penyerapan kedua produk ini di kulit:

tekstur krim sebamed mustelaNomor 1 adalah Sebamed, nomor 2 adalah Mustela. Dari gambar di atas terlihat jika tekstur keduanya tidak jauh berbeda.

sebamed versus mustela penyerapan krimNomor 1 adalah Sebamed, nomor 2 adalah Mustela. Setelah diratakan terihat jika di daerah 1 (Sebamed) masih terdapat semacam white cast, sisa krim yang tidak dapat terserap dengan baik.

kuatIn Nyonya’s Humble Opinion

Jika ditanya, mana yang lebih saya pilih saya akan memilih Sebamed karena berfungsi lebih baik. Walaupun sebenarnya saya lebih menyukai penyerapan produk Mustela. Namun, sepertinya saya tidak akan repurchase kedua produk di atas. Karena balik seperti yang saya bilang di awal, setelah menemukan diapers yang cocok, Ning Gaya tidak pernah mengalami ruam lagi.

Oiya, sebagai tambahan tips saja, mungkin akan bermanfaat ya buat temen-temen. Tips ini saya dapat dari ngobrol-ngobrol sesama ibu, tentang bagaimana cara mengurangi terjadinya ruam:

  1. Sering mengganti diapers, segera setelah pup,
  2. Mencuci selangkangan bayi dengan bersih saat ganti popok, ibu pun jangan lupa cuci tangan dulu,
  3. Kalau tidak memungkinkan mencuci dengan air, pastikan tisu basah yang dipakai non alkohol, non fragrance yaak untuk meminimalisasi iritasi
  4. Memilih merk diapers yang cocok untuk kulit bayi. Poin ini last but not least, ya Nyaaahhh. Berdasar pengalaman pribadi saat Gayatri newborn dan kami belum mengetahui merk apa yang cocok untuknya, kami membeli merk yang sudah terkenal. Ternyata Ning Gaya nggak cocok dengan kandungan aloe vera yang dikandungnya. Setelah ketemu diapers yang pas, so far pantatnya ga pernah merah merah lagi, apa lagi sampai ruam. Ga pernah. Related post: Gonta Ganti Merk Diapers? Yay or Nay?

mustela sebamed ceria

Walaupun masalah ruam ini masalah yang “kecil” namun menurut saya hal ini hal yang patut jadi concern ya Nyaah. Karena masalah kecil pun bisa menimbulkan efek domino. Jika bayi mengalami ruam, dia akan merasa tidak nyaman karena perih kan mak selangkangan. Kebayang kaaan??? Ga enak banget pasti.

Kalau bocah merasa ga nyaman anak cenderung rewel. Sebaliknya jika selangkangan bayi terasa nyaman, bayi akan merasa happy dan bebas bergerak. Semakin bayi bebas bergerak makin terbuka peluang bagi orang tua untuk melakukan stimulasi. Bayi pun makin besar peluangnya untuk belajar. Hal ini penting karena mendukung tumbuh kembang bayi. Betul kan yeeess????

Related Post: Perbandingan Diapers Premium dan Ekonomis

Balik lagi ke bahasan rash cream. Kalau demi tumbuh kembang bayi, menurut Nyonyah perlu menggunakan rash cream, Saya tentu tetap menghargai pilihan Nyonyah. Kalaupun Nyonya merasa perlu beli rash cream untuk jaga-jaga, semoga review rash cream di atas bermanfaat yaaaa…..

Be a smart reader and a smart buyer moooommm! Salam sayaaang…..

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Parenteam bareng Mertua, Yay or Nay? #jumatcurhat

parenteam judul fix

Beberapa temen sesama ibu baru sering menceritakan komentar-komentar mertuanya, kurang lebih sebagai berikut:
Mertua Teman 1: “Kalian ga mau beliin walker ya? Oma beliin aja ya”.
Mertua Teman 2:“Duuhhh, ini anak kurus amat, aturan tambah sufor aja kali naaak!”.
Mertua Teman 3:“Halah, dulu lo suamimu dua bulan uda Inang kasih makan pisang”. 

Padahal Teman 1 tu aliran anti walker. Teman 2 Pejuang ASI garis keras. Teman 3 berpedoman pada MPASI WHO yang mulai MPASI-nya ketika usia 6 bulan. Yaiyalah, mereka nangis nangis bombay sambil curhat.

Temen-temen saya juga sering menyeritakan bahwa orang tua mereka sering melakukan hal-hal yang tidak mereka setujui saat mereka tidak ada. Yang terakhir curhat, bilang kalau bayinya disuapi Gabin (sejenis cracker). Hehehe…. Kalau uda begitu para mantu hanya bisa membatin “Eyyymmm…”. Soalnya kan salah tingkah ya, kalau dijawab, durhaka, kalau ga dijawab, ga sesuai sama keputusan diri ini. MEREKA BEDA PENDAPAT.

hiks

Eh, tapi saya pikir-pikir, para mertua ini pun pasti merasakan hal yang sama ya, melihat kelakuan para anak/ menantu dalam mendidik cucu mereka. MEREKA BEDA PENDAPAT. Mungkin kalau ada WA group nenek kakek millenials, mungkin mereka juga bakal nggibahin cara mantu-mantunya ngedidik cucu mereka kali ya. Hihihi…. ngebayangin aja mereka bakal ngomong gini:
Mertua 1: “Masa cucuku umur 5 bulan belum makan dong….. apa kata duniaaa!”
Mertua 2: “Eh mendingan itu Jeng Hepii, anak saya lho, cucu saya baru 6 bulan masa uda dikasi brokoli rebus. Gara-gara itu lo anak artis yang namanya siapa tuh… Nadien?”
Mertua 1: “Nadien yang Putri Indonesia itu, Jeng?”
Mertua 2: “Iyaaa!”

hehehe

Ahahaha….

Kebayang nggaaaa? Hihihi….

Ngomongin hubungan mertua menantu, apalagi Ibu Mertua dengan Menantu Perempuannya memang nggak ada habisnya. Saya biasanya kalau lagi pada sesi curhat gitu, saya yang paling diem. Soalnya, Mama Mertua saya tipe emak-emak modern yang bisa diajak diskusi. Jadi parenteam bareng beliau memang less drama. Less drama ya, bukan berarti ga ada perbedaan pendapat sama sekali. Oke, saya ceitain deh lengkapnya sebagai berikut.

INHO (In Nyonya’s Humble Opinion)

Parenteam bareng Mertua, Yay or Nay?

Saya Yay!

Idealnya menurut saya, sebaiknya parenting dilakukan hanya oleh kedua orang tua saja, minim dari campur tangan orang lain. Idealnya loh…. Namun, saya pribadi YAY untuk mendidik anak saya bersama dengan Mertua saya. Sekarang berarti kurang lebih sudah 6 bulan Mama Mertua tinggal bersama kami untuk mengasuh Ning Gaya bersama.

Lalu bagaimana rasanya? So far, saya bersyukur Mama Mertua berkenan parenteam dengan kami. Jika teman-teman mempertimbangkan hal yang sama dengan kami, IN MY HUMBLE OPINION, yang harus diusahakan adalah HUBUNGAN BAIK antara Menantu dan Mertua. Kalau nggak ada hubungan baik nantinya bisa jadi masalah di belakang. Bukannya mengasuh bersama malah gontok-gontokan bersama.

Nah, dalam usia pernikahan saya yang masih seumur jagung ini, saya belajar beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjalin hubungan baik antara Mertua dan Menantu. Bukan berarti saya telah sempurna melakukannya, namun saya yakin hal yang ingin saya sharingkan ini bisa bermanfaat untuk pengingat saya sendiri dan teman-teman juga:

1 . Harus Jujur dan Mau Menerima Satu Sama Lain

Secara pribadi saya mengakui lah, kalau saya ini bukan tipikal menantu idaman. Mama mertua saya pastilah (sebenarnya) bisa punya alasan untuk mencela mantu perempuannya yang satu ini. Berikut saya list ya kekurangan-kekurangan saya:

  1. Saya tidak piawai melakukan pekerjaan rumah tangga,
  2. Saya tidak so sweet, tidak pandai bersimpati, pokoknya lempeng gitu,
  3. Saya tidak peka,
  4. Saya slebor masalah penampilan.

Di awal-awal hidup bersama, Mama agaknya berharap saya akan masak di rumah. Saya jujur bilang kalau dengan pekerjaan saya yang seperti sekarang, saya memilih untuk katering saja. Waktu yang tersisa lebih baik digunakan untuk bermain dengan bocah atau mengerjakan hoby saja -menulis. Saya jujur, namun saya juga mencoba memahami sudut pandangnya. Hidup sebagai single parent selama puluhan tahun mind set-nya adalah semaksimal mungkin menggunakan uang. Karena saya memahami itu, saya mencoba menjelaskan ke Mama kalau dengan main sama bocah dan menulis, saya juga menghasilkan uang yang ya bisa lah buat bantu-bantu suami bayar katering walaupun ga banyak, banyakan buat jajan sendiri. Hehehe…. Akhirnya Mama paham. Kami tetap katering, namun bonus: di pagi hari dan di weekends Mama masak enaaakkk yeee!

parenteam rambut

Contoh lain yang menyenangkan itu di poin 4. Masalah penampilan saya. Mama Mertua paling kesel kalau saya berantakan. Sampai sekarang juga masih sih. Tapi biasanya beliau komentar jujur. Nah, di posisi saya sebenarnya bisa baper loh. Tapi saya belajar kebal. Alih-alih baper, saya memanfaatkan keadaan. Pas Mama komen rambut saya kering, rontok di mana-mana, saya minta bantuan beliau untuk ngoles-ngoles minyak zaitun ke kepala saya. Saya senang, bisa perawatan gratis. Mama juga seneng, kan secara ga langsung, saya dengerin usulnya juga. Walaupun usulnya tersebut harus dia pikul juga konsekuensinya, hihihi….

Mungkin masih banyak lagi yang harus ditambahkan dalam list kekurangan saya ini ya, hehehe…. Tapi yang paling fatal memang empat ini. Mama Mertua pun pasti bukan seorang yang sempurna. Namun dalam kelebihan dan kekurangan kami masing-masing, kami mencoba menerima satu dengan yang lain.

2 . Jangan Berharap tapi Mulai Aja Duluan

Di awal pernikahan, saya sudah singkirkan jauh-jauh impian akan hubungan Mertua-Menantu yang semanis madu. Mengapa? Karena kalau sudah berharap tapi kenyataan seperti jauh panggang dari api, itu sakit Jenderal. Mending kaya saya, nggak berharap tapi ternyata yang saya hadapi sekarang itu manis. Saya anggap bonus. Agar yang manis itu dapat terjadi, memang kita sebagai menantu, menurut saya, yang harus menunjukkan itikad baik terlebih dahulu.

Tunjukkan kalau kita sayang padanya. Tunjukkan juga kalau kita sayang sama anaknya. Karena sayang aja ga cukup lo, Nyah. Harus ditunjukkan. 🙂 Syukurlah gayung bersambut, Mama Mertua pun memiliki itikad baik yang sama. Sayangku tak bertepuk sebelah tangan.

3 . Belajar Berteman

Saya termasuk introvert. Mama Mertua juga. Di awal sekali saya punya bayi, saya menghabiskan sebagian besar waktu saya di kamar. Mama Mertua juga, beliau main candy crush. Kami sih baik-baik saja ya. Namanya juga introvert. Tapi apakah ini baik untuk hubungan kami? Kata suami saya tidak. Apalagi untuk mengasuh anak bersama, kami butuh komunikasi. Dan komunikasi itu ga terjadi serta merta, Nyah. Wajib dan kudu dikondisikan.

parenteam bertiga di teras

Momen terawkward saya dan Mama Mertua adalah saat Ning Gaya anak saya masuk perinatologi. Saya dan suami pulang malam, Mama menanti di ruang tamu. Namanya juga introvert. Mama mertua hanya diam, berharap saya bakal curhat habis-habisan. Sementara saya, ibu introvert yang lagi galau karena bayinya harus opname, cuma diam dan ngeloyor langsung masuk kamar. Semuanya hanya diam.

Beberapa hari kemudian, suami saya beperan layaknya mediator. Seperti burung merpati dia menclok ke sana dan ke mari. Intinya, kami berdua akhirnya sadar kalau kami harus sering-sering ngobrol. Biar nggak aneh, kami memulainya dengan nonton tivi bersama. Kalau tidak salah pas itu lagi hot-hotnya film India. Hahaha….

Sekarang? Sekarang mah suami sering bilang kalau Mama malah lebih sering cerita ke saya daripada ke dia. Ya, saya si bersyukur ya, kalau memang Mama Mertua beneran nyaman ngobrol sama saya. *GR

love love

Naaahhh…. kalau ketiga bahasan di atas lebih banyak menyangkut hubungan menantu mertua secara umum, sekarang mulai masuk ke bagian mengasuh bersamanya ya….

4 . Jangan Over Idealis

Sebagai ibu, kelebihan namun sekaligus kekurangan ibu baru ada satu: OVER IDEALIS. Hal ini menurut saya yang paling rentang bikin parenteam antara Menantu dan Mama Mertua bubar jalan. Over idealis itu maksud saya, terlalu strict terhadap sesuatu yang kita percaya based on sesuatu/ sumber yang kita pelajari. Kekeuhhh. Dan menilai apapun di luar idealisme yang kita miliki itu cacat, ga bener, kurang tepat dan lain sebagainya.

Kita, Ibu Baru memiliki sumber ilmu pengetahuan terbaru. Sementara Mama Mertua, hadir dengan kesederhanaan namun juga kredibilitas. Bagaimanapun beliau memiliki pengalaman yang jauh lebih lama dan terbukti. Kalau dua hal ini dibenturkan, apalagi ditambah dengan ego masing-masing, Bhay sudah kerukunan….

Saya mengalami ini pas Ning Gaya mulai MPASI. Hihihi…. Saya pengen banget bisa MPASI homemade versi WHO itu looohhh…. Sementara Mama Mertua, Ibu hasil didikan Seminar Posyandu jaman dahulu kala, yang berpendapat kalau MPASI pertama sebaiknya adalah bubur bayi berfortifikasi (bubur instant pabrikan), karena sudah terukur gizinya dan ada tambahan zat besinya. Kami berdua punya cita-cita yang sama: memberikan yang terbaik bagi Ning Gaya. Namun cara yang kami pandang baik berbeda karena adanya gap pengetahuan.

mpasi

Related post: Bingung Memilih MPASI, Jangan Lakukan Hal Ini

Saya setengah mati putar otak, bagaimana menjelaskan kepada Mama tanpa harus agresif. Senjata pertama sata adalah rujukan bacaan dari IDAI dan jurnal WHO. Kelebihan Mama Mertua saya ini adalah rajin membaca. Jadi saya pikir jika ada bacaan dari kedua sumber tersebut yang mengatakan bahwa bubur berfortifikasi itu dilarang, pasti Mama akan mengerti. Namun ternyata kedua sumber itu pun tidak anti bubur berfortifikasi, walaupun lebih menyarankan MPASI homemade.

Senjata kedua saya adalah mengajak Mama Mertua ke Dokter Anak. Saya sengaja mengajak Mama karena saya tahu bahwa dokter saya ini adalah konsultan gizi, konselor ASI serta dokter yang pro homemade. Namun ternyata dengan segala embel-embel tersebut pun, beliau tetap tidak anti bubur berfotifikasi. Oke, berarti sayalah yang harus mengubah mindset saya. Mungkin memang bubur berfortifikasi memang tidak seburuk pikiran saya.

Namun, masih ada satu hal yang saya pegang erat-erat. Bubur pabrikan sebaik apapun harus saya minimalisasi karena rasanya tidak natural. Saya tidak mau nanti Ning Gaya jadi pilih-pilih makanan, karena lebih familiar dengan makanan dengan perasa buatan. Oleh karena itu saya tetap berusaha untuk meminimalisasi penggunaan bubur tersebut.

kuat

Untuk dapat melakukan harapan saya, ternyata butuh waktu Nyah. Mama berpendapat bayi harus makan bubur berfortifikasi selama setidaknya sebulan sampai usianya 7 bulan. Namun, di minggu pertama saya mulai kasih buah-buahan juga. Sambil cerita keberhasilan teman-teman saya yang “berhasil” MPASI homemade. Pelan-pelan. Saya juga menunjukkan pada Mama Mertua kalau saya bisa membuat bubur MPASI homemade yang bergizi dan juga enak (bayi saya doyan). Perjuangan saya itu berlangsung sekitar dua minggu…. Semakin lama, Mama makin “terpesona” dan memahami bahwa bubur homemade pun bisa kita atur gizinya. Setelah dua minggu penuh perjuangan dan strategi main halus tersebut, Ning Gaya selalu makan MPASI homemade.

Syukurlah…. Doakan semoga saya istiqomah masakin Ning Gaya yaaakkk….

5 . Perjuangkan Kesetaraan

Kesetaraan dalam hal ini adalah saya mau pendapat saya, walaupun minim pengalaman, tetap diperhitungkan karena saya adalah Ibunya. Hal ini saya coba perjuangkan dengan membangun kepercayaan Mama terhadap pola asuh saya, termasuk dalam hal membuat makanan di atas. Memperjuangkan kesetaraan berarti saya juga tetap menghargai Mama, sebagai orang yang berpengalaman sekaligus Nenek dari anak saya. Saya menanamkan sungguh-sungguh dalam pikiran saya bahwa Mama bukan sekedar orang yang membantu saya dan suami mengasuh Ning Gaya. Mama Mertua adalah Neneknya, yang ketika kami memutuskan untuk menerima bantuannya, berarti juga memberikannya hak untuk berpendapat atas pola asuh yang sama-sama akan kami bertiga lakukan.

Jika, temen-temen bertanya lagi pendapat saya tentang parenteam bersama mertua apakah Yay or Nay? Saya tetap akan menjawab Yay! Setidaknya untuk saat ini dan pada kondisi kami yang seperti ini. Mungkin besok atau lusa pertimbangannya akan berbeda, namun saya berharap, semoga perbedaan itu bukan karena hubungan baik yang telah terjalin antara kami itu rusak. 🙂

Untuk kondisi teman-teman yang mungkin berbeda, saya menghormati pilihan teman-teman…. Sekali lagi artikel ini tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa pilihan saya paling baik ya…. Tentu saja pilihan yang baik adalah pilihan yang kontekstual. Setujuuu? Selamat mempertimbangkan dan memperjuangkan pilihan masing-masing ya Nyaaahhh!!! #proibu #ibudukungibu

parenteam judul fix

Postingan ini dipersembahkan untuk Mbah Uti, Mama Mertua saya yang sering bikin ngiri banyak menantu, yang saat ini sedang sakit. Semoga jadi penyemangat bagi para ibu muda yang juga Parenteam dengan Mertuanya yaaa…. Hubungan baik antara Mertua dan Menantu bukan sesuatu yang mustahil kok….

Selamat ber-parenteam ria! Salam sayang dari kamiiii….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Review Diapers Premium vs Ekonomi, Perbandingan 2 Varian Diapers Merk Goon # Seri Perlengkapan Bayi

review diapers goon judul

Setelah saya membahas sabun yang bebas SLS dan bebas paraben di seri perlengkapan bayi sebelumnya, kali ini saya akan membahas tentang diapers alias popok sekali pakai. Bahasan kali ini lebih fokus ke perbandingan antara diapers premium dan ekonomis ya. Kalau tentang gonta ganti merk diapers saya sudah pernah membahasnya juga di artikel Gonta Ganti Merk Diaper, Yay or Nay. Berikut saya mau coba bikin perbandingan dua varian diapers dari satu merk (biar adil ya jamaah, saya bandingin yang satu pabrikan), yaitu Goon.

Langsung saja karena biasanya bakal panjang. Hahaha…. Ini diaaaaa perbandingannyaaa…..

Deskripsi Produk

Goon adalah produk diapers yang berasal dari Jepang, mulai masuk ke Indonesia (diproduksi di dalam negeri) mulai tahun 2010. Ada beberapa varian produk yang dikeluarkan oleh Goon: Excellent Soft, Excellent Dry dan Smile Baby. Dalam artikel ini kata diapers premium merujuk ke Goon Excellent Soft Pants yang ukuran L, dan kata diapers ekonomis merujuk ke Goon Smile Baby Pants yang ukuran L.

Goon Excellent Soft (Premium)

Goon Excellent Soft (Premium)

 

review diapers goon smile baby bungkus

Goon Smile Baby (Ekonomis)

Harga

Kalau ngomongin harga sudah dipastikan kalau yang Smile Baby lebih hemat dong dibandingkan dengan yang Excellent Soft. Tanggal 1 Oktober 2017, saya cek di jd.id, harga yang Excellent Soft Pants ukuran L isi 26 pcs itu seharga Rp 68.000,00 atau Rp 2.600,00 per pc popok. Sementara yang Smile Baby ukuran L isi 20 pcs itu seharga Rp 31.000,00 atau Rp 1.550,00 per pc popok. Harga ini bisa jadi lebih murah di toko online lain yak. Rajin-rajin bandingin aja…. 🙂

Materials

Kekhawatiran awal ketika menggunakan diapers pada bayi saya adalah kabar bahwa diapers menyebabkan isu kesehatan. Sebagai orang awam, tentunya deg-degan juga ya terhadap kandungan kimia pada setiap produk yang bersentuhan dengan bayi kita. Untuk itu saya lumayan rajin mencari info lebih lanjut terkait bahan-bahan apa yang sebaiknya ada dan tidak ada di produk bayi. Ada beberapa hal yang saya temukan yang membuat saya cukup tenang menggunakan produk ini:

  • Artikel dr. Rina (neonatologist) menyebutkan bahwa orang tua sebaiknya waspada atas bahan-bahan kimia berupa dioxide, baik sulfur maupun chlorine dioxide yang dapat menyebabkan kanker. Artikel selengkapnya di sini. Saya googling lebih lanjut tentang chlorine dioxide, tenyata bahan ini biasanya digunakan dalam proses bleaching dan sebagai disinfektan.
  • IDAI menyebutkan bahwa bahan polyester memiliki kemampuan menyerap yang baik. Selain itu juga menekankan untuk memilih popok yang memiliki lapisan dalam yang lembut dan memiliki ventilasi yang baik (untuk diapers berarti memilih diapers yang permukaan luarnya berpori-pori). Artikel selengkapnya di sini.
  • Artikel Mioki yang mereview tentang produk-produk diapers dari Jepang menyebutkan bahwa produk Jepang tidak menggunakan chlorine sebagai bleach pada pabrik-pabrik diapers sejak tahun 1998. Artikel selengkapnya di sini.

review popok goon

Disclaimer: Artikel di atas tidak menyebutkan merk Goo.N secara eksplisit (kecuali artikel no.3). Artikel 1 dan 2 hanya menyebutkan bahan-bahan apa yang patut dihindari atau yang sebaiknya ada, dan saya membandingkan dengan komposisi material yang dicantumkan di kemasan Goo.N. Karena saya tidak menggunakan produk diapers lain, sementara ini saya hanya dapat mengecek material dari Goo.N ya Nyonyah nyonyah. Mohon berkenan membaca ketiga artikel rujukan di atas dan juga melihat kemasan dari diapers yang digunakan bayinya masing-masing ya…. 🙂 Feel free untuk memberikan koreksi, terutama dari rekan-rekan yang memiliki keahlian di bidang ini. 🙂

Berikut saya cantumkan bahan mentah penyusun kedua varian ini, sumbernya dari kemasannya ya.

Top sheet: Polyefin non-woven. Absorbent pad: Pulp, Super absorbent polymer, paper. Waterproof material: Polyolefin film. Back sheet: Polyolefin non-woven. Elastic: Polyurethane. Construction: Styrene elastomer synthetic resin. Package: Polyethylene.

Perbedaan antara yang premium dengan yang ekonomis ada pada persentase absorbent pad-nya sebagaimana gambar di bawah ini:

review diapers goon premium materialreview diapers goon economis material

Fitur

Perbandingan fitur antara diapers premium dan ekonomis saya sandingkan dalam bentuk tabel sbb yaaa:

review diapers perbandingan varian goon

Impression Setelah Pemakaian

Secara umum Ning Gaya anak saya tidak mengalami ruam saat menggunakan baik varian premium maupun yang ekonomis. Selain itu, saya merasa kedua varian ini pun lumayan tipis, tidak gembung, bentuk diapersnya pun tidak ketat yang bikin pingget namun juga tidak kendor sehingga so far anak saya bisa tetap bebas bergerak.

Disclaimer: Kalau premiumnya sudah saya pakai sekitar 7 bulanan lebih, kalau yang ekonomisnya memang baru pakai satu bungkus, baru sekali repurchase.

kuatINHO

(In Nyonya’s Humble Opinion)

Pilih mana ekonomis atau premium?

Secara umum saya lebih banyak menggunakan yang premium daripada yang ekonomis. Seperti tersirat dari namanya premium bisa jadi lebih mahal, namun secara kualitas biasanya memang lebih yahut. Nah, setelah banyak diskusi di forum emak-emak, akhir-akhir ini saya mulai untuk menggunakan dua varian ini secara mix, walau tetap penggunaan dominan di diapers premium.

Tips dari pengalaman saya seperti ini:

1. Gunakan varian premium dan ekonomis secara mix, demi penghematan. Hihihi.

2. Tetap mencari DISKON baik premium maupun ekonomis.

Akhir-akhir ini saya perhatikan di Indomaret dan Alfamaret uda mulai sering promo diapers ya. Dan merk yang diskon pun beraneka ragam. Tidak hanya merk yang menguasai pasar aja, merk Goon pun, yang dulu di awal-awal saya pakai masih susah ditemukan di toko sebelah tersebut, sekarang mulai banyak diskonnya yeeeee! Saat diskon ini adalah saat krusial untuk nyetok diapers. Karena Nyaaaahhh, diskon popok adalah kunci keamanan dompet keluarga.

3. Saat perjalanan atau ngemall gunakan varian premium.

Pengalaman pribadi saya traveling ke Salatiga dan Surabaya membawa bayi, cerita lengkapnya di sini, saya menggunakan yang varian premium so far aman. Pertimbangannya adalah sebagai berikut:

  • Karena masa guna premium lebih lama (6x pipis) dibandingkan dengan yang ekonomis. Jaga-jaga siapa tahu mengalami kesulitan untuk mengganti popok selama perjalanan.
  • Yang premium ada fitur roll tapenya alias selotip. Jadi kalau ganti di perjalanan, gampang ngeringkes diapers bekasnya. Tinggal gulung. Jaga-jaga kalau kehabisan kresek, atau pas di nursery roomnya ga ada diapers bag.
  • Walaupun sama-sama tipis, saya merasa yang premium bentuk elastis di sekitar pinggang lebih slim fit gitu. Lebih rapi, saya sempat coba foto sebagai perbandingan sbb. Sebenernya ga terlalu masalah ya, apa saya aja yang bawel ya? Hihihi. Etapi walaupun slimfit, tapi sofar si nggak pingget ya.

elastis waist goon economiselastis waist goon premium

4. Menggunakan diapers ekonomis di waktu-waktu pendek.

Saya bisanya akan menggunakan diapers ekonomis di waktu-waktu pendek sehari-hari, misal Gayatri pupup mendekati jam mau mandi. Ya kan mau tidak mau harus ganti diapers kan, saat seperti ini mending pakai ekonomis. Daripada pakai premium hanya sebentar dan ga maksimal manfaatnya, ya mending pakai ekonomis kan. Ngirit. Coba kalau sehari bocah pup 1-2 kali (anak saya umur 8 bulan), kalau sekali aja per hari pakai ekonomis, saya bisa irit 30 pc diapers premium kan, jadi kira-kira bisa save Rp 50.000,00 (harga sebungkus premium dikurangi sebungkus ekonomis). Mayan 50 rebu bisa beli sebungkus lagi yang ekonomis, plus kembaliannya buat beli thai tea, wkwkwk.

5. Malam hari saya lebih memilih untuk menggunakan varian premium.

Jaga-jaga saya kelupaan ganti popok tengah malam, hehehe…. Jujur yak, saya sering kelupaan soalnya. Kadang kalau bayi ga bangun, saya ga bangun juga. Molor, hehehe. Untung suami kadang bangun. Terimakasih suami siagaaa!

review diapers goon judul

Demikian sharing saya tentang perbandingan diapers premium dan ekonomis. Pada akhirnya saya memilih untuk menggunakan secara mix dengan dominasi penggunaan varian premium. Mungkin pilihan Nyonyah bisa berbeda sesuai kondisi dan kebutuhan. Saya juga menghormati pilihan ibu-ibu lain yang memilih menggunakan popok ain, clodi, atau diapers merk lain. Namun, jika ditanya mana yang paling baik, tentunya saya tidak dapat menjawab. Karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk saya, saat ini, pilihan diapers yang saya share di atas adalah yang paling sesuai dengan kondisi saya.

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

4 Sabun Bayi yang Bebas SLS dan Bebas Paraben, Seri Perlengkapan Bayi

perlengkapan bayi sabun

Artikel ini semacam summary dari obrolan saya dan teman-teman di grup birthclub januari februari. Gara-gara ada yang curhat bayinya punya kulit sensitif dan jadi merembet ke isu-isu ingredients sabun bayi. Akhirnya di grup birthclub kami bikin list sabun bayi yang bebas SLS dan bebas paraben berdasarkan produk yang kami gunakan. Salah 4-nya adalah produk-produk yang akan saya bahas di seri perlengkapan bayi kali ini.

Namun sebelum saya melanjutkan membahas list produk sabun bayi yang bebas SLS dan bebas paraben, beberapa hal ingin saya sampaikan terkait apa itu SLS dan apa itu paraben. Jujur saya memang bukan pakar ingredients, pembahasan di bawah ini berdasarkan riset kecil-kecilan saya di Ingredient Dictionary-nya Paula’s Choice ya. Untuk yang mau riset lebih lanjut tentang dua bahan ini di web tersebut ada disebutkan jurnal akademis yang jadi dasar materi mereka.

perlengkapan bayi sabun

Apa itu SLS?

SLS adalah singkatan dari sodium lauryl sulfate.  Sodium lauryl sulfate berbeda dengan sodium laureth sulfate ya…. Jika Sodium Laureth Sulfate dinyatakan di Paula’s choice ingredients dictionary sebagai bahan yang relatif aman, Sodium Lauryl Sulfate dinyatakan tidak aman karena dapat mengakibatkan iritasi. Namun, tentu saja, tingkat iritasinya berbeda-beda tergantung kondisi kulit setiap orang.

Apa itu paraben?

Paraben adalah kelompok bahan pengawet kontroversial yang meliputi butylparaben, isobutylparaben, propylparaben, methylparaben, dan ethylparaben. Bahan pengawet diperlukan dalam produk personal care untuk melindungi produk dari pencemaran bakteri. Hal ini penting karena bakteri tentunya juga berbahaya untuk kesehatan pengguna produk personal care.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paraben aman digunakan dalam kosmetik dan lebih disukai daripada pengawet lainnya untuk menjaga agar formula tetap stabil. Studi-studi tersebut juga menunjukkan paraben tidak memiliki efek apapun bila dibandingkan dengan hormon alami dalam tubuh. Namun ada pula penelitian yang mengatakan sebaliknya. Ada yang horror horror, seperti dibilang menyebabkan kanker.

hiks

Saya pribadi sebenarnya bukanlah orang yang paranoid dengan kedua bahan di atas. Karena kan penelitian atas bahan-bahan tersebut (terutama paraben) masih diperdebatkan. Ada yang bilang ada logical fallacy-nya dsb. Pandangan saya terhadap kedua bahan tersebut hampir sama seperti pandangan saya terhadap MSG alias micin. Ga parno, ga anti, dalam hal ini kalau ada yang nawarin snack ya saya tetep makan walaupun tau ada MSGnya, namun saat beli bakso kadang kalau inget saya pesen abang tukang baksony buat nggak usah ditambahin micin, saya juga ga stok micin di rumah.

Ya perlakuannya sama gitu deh dengan SLS dan paraben. Kalau pas ada yang terjangkau kocek, ya saya pakai yang bebas SLS dan bebas paraben, for extra cautious. Tapi kalau dompet berkata TIDAK, yaaah, saya pakai-pakai aja juga sih. Syukurlah kalau sabun masih banyak yang terjangkau.

Namun walaupun saya agak cuek cuek peduli, saya menghargai jika Nyonyah memilih untuk extra hati-hati dan memilih produk-produk yang menenangkan hati. Berikut adalah 4 sabun bayi top to toe wash alias sabun plus shampoo yang bebas SLS dan bebas paraben:

1 . Mustela

mustela

Yang paling menonjol dari produk ini adalah kemampuannya memberikan kelembaban, tidak membuat kulit bayi menjadi kering. Produk ini menjanjikan bahwa produknya hipoalergenik serta aman bagi bayi baru lahir. Kualitasnya memang tidak menghianati harganya sih. Hehehe.

Ingredients:

mustela ingredHarga perkiraan: Rp 100.000,00

Related post: Review Produk Mustela Bebe

2 . Cetaphil Baby

cetaphil baby

Mirip dengan Mustela, sabun bayi sekaligus shampoo ini juga memberikan kelembaban di kulit bayi. Berbeda dengan produk “kakak-nya”, Cetaphil Gentle Cleanser, Cetaphil Baby ini tidak mengandung SLeS.

Ingredients:

cetaphil baby ingredHarga perkiraan: Rp 100.000,00

Related post: Review Cetaphil Baby

3 . Pure Baby

pure baby

Produk tanpa SLS dan tanpa paraben itu tidak selalu mahal. Salah satu produk sabun yang terjangkau yang tidak mengandung kedua bahan tersebut adalah Pure Baby ini. Yang saya suka dari produk ini adalah wanginyaaaa. Love banget. Setahu saya ada dua varian wangi: chamomile dan apel. Yang apel favorit saya. Untuk masalah kelembaban dll-nya tidak telalu berbeda dengan sabun bayi biasa.

Ingredients:

pure baby ingredHarga perkiraan: Rp 31.500,00

4 . Switzal

switzal

Dari keempat produk ini, Switzal lah yang paling lama saya gunakan dan sudah beberapa kali saya repurchase. Maklum, harganya super miring jika dibandingkan dengan produk lain. Ingredientsnya pun lumayan ya. Walau begitu, satu teman saya pernah bilang jika anaknya mengalami iritasi menggunakan produk ini. So, jika kulit anak Nyonyah super sensitif mungin harus concern juga ke ingredients lain ya. Kalau Ning Gaya anak saya mah lanjuuut.

Ingredients:

switzal ingredHarga perkiraan: Rp 24.000,00

***

Harga perlengkapan bayi yang saya sebutkan di atas adalah perkiraan ya…. Karena kadang ada diskon di beberapa web atau juga took-toko tertentu, bisa jadi harganya kurang/ lebih dari harga yang saya cantumkan di atas. Jangan bosan-bosan bandingin harga took sebelah dengan took online ya, siapa tahu ada promo loh!

Tentu saja tidak hanya 4 varian di atas yang bebas SLS dan atau paraben. Namun karena saya di rumah hanya memiliki empat produk ini dan belum pernah saya coba yang lain, jadinya saya nggak masukin di sini. Maybe next time kalau ada kesempatan nyobain produk sabun lain, list ini akan saya tambah.

Kalau Nyonyah ada rekomendasi produk lain boleh looh ditinggalin di comment section.

Semoga bermanfaat ya Nyaaah sharing kali ini. Salam sayang….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Review Transpulmin Balsam, Kehangatan yang Membantu Penyembuhan Flu pada Bayi

review transpulmin balsam

Karena saat newborn gayatri pernah demam (sepsis) sampai harus dirawat inap di perina, sampai sekarang saya punya semacam kekawatiran berlebih jika anak saya ini mengalami demam. Maklum mamah newbie. Walaupun sudah banyak edukasi melalui literatur ataupun ngobrol dengan dokter, namun jujur, perasaan gentar selalu menghinggapi saya saat menghadapi anak demam.

Better worry than sorry, prinsip saya. Hal itu yang membawa saya beberapa bulan lalu ke UGD RS premier bintaro jam 2 pagi. Hanya karena gayatri demam 3 hari. Setelah cek darah yang lumayan menghabiskan uang jajan, diagnosisnya Fluuu! Hihihi, emplu aja ampe ke UGD yak. Habisnya waktu itu belum keliatan tanda-tanda flunya sih, eh habis ke UGD sorenya mbeleerrr hidungnyaaaa.

Dengan sopan dan maklum, dokter mengapresiasi kesigapan saya, saya sendiri menyadari jika hal tersebut bukan sigap tapi parno. Hehehe…. Beda kan ya!

hehehe

Dokter saat itu berpesan jika bayi saya demam lagi namun dengan tanda lain yang menyertai, seperti batuk atau pilek, better dilakukan home treatment. Namun apabila demam tanpa tanda lain sampai 4 hari, dokter menganjurkan untuk menghubungi dokter. Nah pesen dokter di UGD itu, home treatment yang perlu dilakukan saat bayi pilek adalah home treatment yang berkaitan dengan melegakan jalan napas dan membantu mengeluarkan dahak.

Setelah drama UGD tadi usai, gayatri sempat flu sekali lagi (ketularan saya). Saat ini saya ga sepanik sebelumnya…. modal nanya-nanya di grup emak-emak saya sedia beberapa senjata: balsam bayi transpulmin, penyedot ingus dan nasal cleaner. Yang nasal cleaner aku ceritain nanti di post terpisah yak. Yang mau aku review lebih dalam sekarang adalah si balsam transpulmin. Saya tahu produk ini dari WA group Ayo Semangat Ibu (ASI) dan WA group Birth Club Jan-Feb 2017. Produknya sendiri saya dapat dari Kumpulan Emak Blogger.

perlengkapan menghadapi anak flu

Ketika saya merasa Gayatri mulai batuk dan meler (ingus bening keluar dari hidungnya) setiap pagi dan sore menjelang malam saya mengoleskan transpulmin (warna putih) ke bagian dada dan punggungnya. Harapan saya dengan melakukan hal tersebut, gejala flu yang membuatnya merasa tidak nyaman dapat berkurang, dan dia dapat beristirahat dengan baik.

Benar, sebenarnya obat flu adalah kekebalan tubuh si anak. Kekebalan anak didapat dari asupan yang baik (ASI jika dia masih bayi) dan juga istirahat yang cukup. Namun, ada kalanya bayi ketika flu tidak dapat istirahat dengan baik, karena tubuhnya tidak nyaman dan juga hidungnya mampet. Ya sama lah dengan orang dewasa. Jika dia tidak dapat istirahat, hal ini akan memperburuh keadaannya.

Kekawatiran saya adalah flu yang diderita Gayatri berlarut-larut dan menyebabkan penyakit yang lebih serius. Syukurlah dengan penanganan yang tepat, si Ening dapat sembuh dalam waktu yang relatif singkat (sekitar 1 minggu). Salah satu langkah yang saya ambil ya dengan mengoleskan balsam ini. Tentu ini bukan satu-satunya ikhtiar yang saya lakukan. Namun saya rasa inilah, home treatment yang sangat efektif membantu penyembuhan Gayatri kemarin.

review transpulmin balsam

Deskripsi produk:

Transpulmin ini ada dua jenis ya Nyaaah, yang warna putih itu Transpulmin BB sementara yang kuning Transpulmin aja. Gunanya pun berbeda loh. Yang putih bisa untuk bayi, sementara yang kuning dapat digunakan sebagai balsam bagi anak di atas usia 2 tahun. Jangan sampai tertukar ya Nyaaah…. Nanti mak nyooosss…. Hehehehe….

dua macam transpulmin

Ingredients:

1 . Transpulmin BB Balsam Bayi

transpulmin BB balsam bayi muka ingred

2 . Transpulmin Balsam Keluarga

transpulmin balsam keluarga muka kuning

transpulmin balsam keluarga ingredients

Perbandingan komposisi kedua varian ini adalah, jika pada Transpulmin BB Balsam bayi hanya terdapat dua ingredients utama yaitu: Eucalyptol dan Chamomile. Pada Transpulmin Balsam Keluarga, selain kedua kandungan tersebut ada pula kandungan menthol, champor dan sage oil. Jadi yang balsam kuning rasanya memang lebih hangat ya Nyah, lebih cocok untuk anak-anak di atas usia 2 tahun.

perbandingan ingredients transpulmin

Cara penggunaan:

Untuk Transpulmin BB Balsam bayi cara penggunaannya adlah tingga dioles di dada dan punggung bayi (0-2 tahun). Sementara untuk produk Transpulmin Balsam keluarga, selain dioleskan di badan, balsam ini dapat juga digunakan sebagai bahan “uap” untuk melegakan pernapasan. Tentu saja untuk anak usia di atas 2 tahun ya Nyaaah…. Caranya dengan memasukkan balsam ke air panas, kemudian uapnya dihirup.

Manfaat:

  1. Yang paling banget banget banget saya rasakan manfaatnya adalah menghangatkan badan bayi saya saat terkena flu,
  2. Membantu melegakan pernapasan,
  3. Meredakan sakit kepala,
  4. Meredakan sakit punggung,
  5. Meredakan skit perut.

Harga:

Transpulmin BB Balsam Bayi (warna putih): Kurang lebih Rp 51.000,00 ukuran 10 gram. Transpulmin Balsam Keluarga (warna kuning): Kurang lebih Rp 50.000,00 ukuran 10 gram.

Sekarang saya tidak kawatir lagi jika Gayatri menunjukkan gejala flu, semoga  Nyonyah setelah membaca sharingku ini juga dapat manfaatnya Nyaah…. Salam sayang…..

***

Image Lomba Transpulmin

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Investasi Perawatan Kulit Sejak Bayi, Review Mustela Bebe

review mustela

Jujur, saya dulu adalah ibu yang medit pelit irit dalam membelanjakan uang. Termasuk untuk perawatan Ning Gaya, bayi saya. Karena yah, saya berpikir kan kulit bayi belum kenapa-kenapa ya. Belum rusak seperti kulit saya yang sering kena polusi, kena sinar matahari, dll. Jadi saya selalu belanja sabun bayi strictly on budget, dan hampir bisa dibilang jarang beli-beli perawatan lain selain sabun/ shampo bayi. Kalau perawatan kulit buat saya malah banyak. Alasannya jujur karena saya belum paham dengan urgency pemakaian produk perawatan bayi. Setelah saya ngeh dengan beberapa fakta tentang kulit bayi, saya berpikir ulang tentang gaya berbelanja perawatan bayi saya. Duh, saya jadi merasa bersalah…. Nah, sebelum saya membahas review Mustela Bebe, produk perawatan bayi yang saya pakai, saya mau bahas kesalahan pemahaman saya sebelumnya terkait perawatan kulit bayi….

hehehe“Jangan ditiru ya Nyaaaah….”

1 . Dulu saya pikir kulit bayi itu dalam kondisi super bagus, jadi tak perlu perawatan.

Soalnya kan orang sering bilang pepatah “mulus seperti pantat bayi” atau “sehalus kulit bayi”. Dalam hal ini saya tidak sepenuhnya salah sih, karena memang stem cell atau sel punca bayi masih dalam kondisi terbaiknya untuk meregenerasi diri. Namuuuuunnn, kabar buruknya adalah: pada usia 0-2 tahun, lapisan pelindung kulit bayi belum berfungsi dengan baik. Selain itu, kelembaban kulit bayi berusia 0-2 tahun juga ternyata sangat rendah. Sehingga jika kulit bayi tidak dirawat dengan baik, kekayaan stem cell ini akan langsung berkurang drastis saat kulit bayi mengalami perubahan di usia 0-2 tahun. Pas tua jadi susah oke lagi kulitnya….

2 . Dulu saya pikir semua produk bayi itu sama.

Faktanya, tidak semua merk perawatan bayi itu sama kualitasnya. Ada brand-brand tertentu yang fokus kepada riset dan pengembangan produknya, tidak hanya fokus pada kemauan pasar semata. Seperti misalnya Mustela, selama 10 tahun brand ini meneliti kulit 200 bayi-bayi. Sesuatu yang niat dan patut diapresiasi menurut saya. Kemudian tidak semua produk perawatan bayi menggunakan bahan yang aman dan alami loh.

Pada akhirnya, sekarang saya melihat penggunaan produk perawatan bayi sebagai investasi untuk masa depan kulit Ning Gaya, bayi saya, dengan lebih selektif dalam berbelanja produk perawatan bayi. Sekarang mungkin belum kelihatan efek yang dramatis, tapi saat anak-anak kita dewasa nanti, mungkin mereka akan berterima kasih karena kulitnya masih semulus pantat bayi, Tentu karena perawatan kulit yang telah kita lakukan sejak dini.

review mustela bebe proteksi“Protect Baby’s Skin Today and For Tomorrow”

Saya menggunakan produk-produk di bawah ini kurang lebih sekitar dua mingguan lebih dan so far puas. Produk yang saya gunakan adalah Mustela Dermo Cleansing, Mustela Hydra Bebe, Mustela Baries Cream dan Mustela Massage Oil. Kita bahas satu-satu yuuukkk….

1 . Mustela Dermo Cleansing

mustela dermo cleansing

Kegunaan produk ini adalah untuk membersihkan, melindungi dan menjaga keseimbangan lapisan alami pada kulit kepala dan badan bayi.  Saya menggunakan produk ini untuk membersihkan seluruh tubuh sekaligus untuk keramas rambut Ning Gaya. Praktis, satu untuk semua…. *tetep-irit hihihi.

Tekstur, fragrance:

Teksturnya lebih encer daripada sabun cair biasa dan busanya tidak terlalu banyak. Hal ini saya sukai karena sedikitnya busa merupakan indikasi dari minimnya detergent dalam produk ini. Terlalu banyak detergent akan membuat kulit mudah kering. Kalau masalah bau, saya agak sulit menggambarkannya ya. Agak berbeda dengan sabun bayi kebanyakan. Kalau kata mama mertua saya baunya seperti bunga bakung. Dari semua cleansing wash bayi yang pernah saya coba, bau Mustela Dermo Cleansing ini favorit mama mertua.

Kemasan: 

Berbentuk botol yang mudah dipegang bahkan oleh bayi sekalipun, namun seandainya ada yang berbentuk pump, saya pasti akan lebih happy. Ukuran yang saya miliki ini berisi 200 ml.

Formula:

  • Avocado Perseose: Bahan aktif alami yang dipatenkan dan berguna untuk memperkuat lapisan pelindung kulit dan mempertahankan kesehatan stem Cell / sel punca. Ini nih, yang tadi saya bahas di awal. Masih inget kan apa pentingnya sel punca dan mengapa sel punca ini wajib dilindungi? Yap! Biar kulit bayi sehat terus sampai nenek kakek.
  • Vitamin B5: Menenangkan dan melembabkan kulit.
  • Gentle surfactants: Bahan pelindung permukaan kulit yang lembut, membersihkan tanpa menghilangkan minyak alami di kulit.

Kandungannya menenangkan kulit, mengurangi efek kering setelah mandi dan tidak perih di mata. Dengan formulasi hypoallergenic & teruji secara klinis, Mustela bebe menggunakan bahan alami, dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya seperti alcohol & paraben sehingga Mustela Bebe aman dipakai dari bayi baru dilahirkan (newborn). Jadi untuk ibu-ibu yang sedang mempersiapkan kelahiran bayinya dan hati-hati banget dalam mencari sabun mandi bayi yang super aman, produk ini bisa dipertimbangkan ya….

Cara pemakaian:

Tuang cairan ke telapak tangan, gosok ke seluruh tubuh sampai berbusa lembut, kemudian bilas hingga bersih.

Results

Dalam beberapa kali pemakaian memang ada bedanya di kondisi kulit bayi setelah mandi. Terasa lebih lembab, terasa sekali jika menyentuh bagian-bahian kulit seperti siku. Untuk rambut pun terasa halus dan tidak mudah kusut. Wanginya walaupun soft namun tahan lama.

Harga: Rp 130.000,00.

2 . Mustela Hydra Bebe Body Lotion

mustela hydra bebe

Kegunaan produk ini tuh seperti body lotion orang dewasa ya, menjaga kelembaban, memperkuat lapisan pelindung kulit serta menjadikan kulit halus, kenyal dan lembut.

Tekstur, fragrance:

Sebagaimana lotion, namun tidak terlalu kental. Saya suka sekali dengan lotion ini karena cepat diserap ke kulit dan tidak lengket.

body lotion

Kemasan: 

Berbentuk pump sehingga mudah dikeluarkan. Di awal terdapat segel yang memastikan bahwa produk ini tidak pernah dibuka sebelumnya, jadi yakin dengan keamanan dan juga keutuhannya saat sampai di tangan kita. Ukuran yang saya miliki 300 ml. Dan isinya sepertinya banyak banget, kayanya bisa buat berbulan-bulan.

Formula:

  • Avocado Perseose. Mustela Bebe mengandung bahan aktif alami Avocado Perseose untuk memperkuat kulit bayi sehingga lebih tahan terhadap iritasi / kemerahan dan menjaga kekayaan stem cell yang berperan dalam menjaga kualitas kulit, sekarang &
    seterusnya.
  • Jojoba Oil: Menjaga lemak dalam kulit dan mempertahankan kelembaban kulit
  • Vitamins E and F: Memulihkan dan menjaga keseimbangan air di kulit
  • Shea Butter

Cara pemakaian:

Dioleskan ke tangan, kaki dan tubuh setelah mandi. Saya biasanya tidak menggunakannya di bagian pantat, karena bagian tersebut nanti diolesi Mustela Barier Cream.

Results

Kulit yang sudah dioles-oles jadi kenyaaaaaaal banget. Jadi pengen nyiwel-nyiwel terus, tangan dan kakinya. Bagian yang paling saya suka adalah telapak kaki bayi. Duh rasanya kaya lagi nyiwel-nyiwel squishy….

Harga: Rp 200.000,00

3 . Mustela Massage Oil (Review First Impression)

mustela oil

Seperti namanya tentu saja minyak ini digunakan untuk memijat bayi. Namun karena beberapa hari ini bayi saya sedang flu jadi saya pijitnya menggunakan minyak telon dulu. Tunggu reviewnya lagi setelah saya menggunakannya ya. Nah, walaupun saya belum menggunakannya ke tubuh Gayatri saya sudah mencobanya untuk kulit saya sendiri. Yang menarik buat saya adalah kemasan dari produk ini berbentuk spray, Jadinya higienis banget, karena ga dicolak colek…. 🙂 Kemudian yang saya suka adalah sifat minyaknya yang tidak greasy. Jadi cepat berminyak banget, ringan namun tetap enak untuk pijat.

Kira-kira seperti in before dan afternya:

before after massage oil

Bingung kok mijet pakai spray? Contoh penggunaan Mustela Massage Oil  dan sekaligus tutorial bagaimana step-step memijat bayi bisa dilihat dalam video berikut:

4 . Mustela Barrier Cream

mustela barrier cream

Kegunaan produk ini adalah seperti diaper cream. Walaupun bayi saya hampir tidak pernah mengalami ruam, namun saya tetap menggunakan cream ini di bagian pantatnya untuk pencegahan.

Tekstur, fragrance:

Teksturnya lebih kental daripada Mustela Hydra Bebe Body Lotion, namun tetap mudah diserap kulit. Penyerapan yang cepat ini menurut saya penting, supaya bayi tidak kelamaan dalam proses pemakaian diapers. Apalagi bayi saya kan sudah aktif banget, kalau kelamaan nunggu krimnya kering bisa keburu kabur. Hihihi…. Bersyukurnya Mustela Barrier Cream ini cepet diserap kulitnya, kelihatan tidak greasy sama sekali kan di foto di bawah ini….

before after barrier cream

Kemasan: 

Berbentuk tube ukuran 100 ml. Di dalam tubenya juga terdapat segel ketika baru dibuka. Jadi saya yakin dengan keamanan dan juga keutuhannya saat sampai di tangan kita.

Formula:

Jika diaper cream lain biasanya hanya mengandung Zinc Oxide sebagai pelindung kulit saja, Mustela Barrier Cream  memiliki 3 mekanisme kerja, Itulah sebabnya di kemasannya ada tulisan “1 2 3”, artinya:
1.  Melindungi sel inti dan lapisan kulit terluar dengan Avocado Perseose,
2. Mengurangi peradangan pada kulit dengan Alcacea Oxeoline,
3. Memperbaiki lapisan pelindung kulit dan meningkatkan pembentukan lipid kulit bagian luar dengan Alcacea Oxeoline, + Zinc Oxide sebagai pelindung kulit ekstra dari infeksi.

Jadi produk ini efektif digunakan untuk mencegah dan meredakan ruam popok yang sudah terbentuk.

Cara Pemakaian:

Setiap mengganti popok, oleskan tipis Barrier Cream ke kulit bayi disekitar area popok yang sudah dibersihkan.

Harga: Rp 142.000,00

review mustelaWebsite : www.mustela.co.id, Facebook : mustelaindonesia, Instagram : @mustelaindonesia

Sekian review singkat tentang beberapa produk Mustela. Semoga bermanfaat ya Nyaaaahhhh…..

Salam sayaaang…..

Artikel ini diikutsertakan dalam kampanye Mustela Bebe #MustelaTodayForTomorrow dari PT Interbat.

logo interbat

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

7 Instagram Moms Favoriteeeee!!!

instagram moms

Sebagai ibu millenials #aseeek, tentu saya jarang lepas dari media sosial. Media sosial favorit saya adalah Instagram (karena mungkin Pinterest tidak tepat disebut media sosial, IMHO) dan the old fashioned Facebook, hehehe. Jika sedang lelah dengan kehiruk-pikukan timeline facebook, biasanya saya melarikan diri ke IG. Jika di FB saya tidak bisa menghindar jika friend share macem-macem, di IG cenderung aman ya, jarang saya follow yang aneh-aneh. Saya juga tidak follow akun gosip sama sekali. Dan sebisa mungkin follow akun-akun Instagram Moms yang menebar positive vibes walau tak selalu berfaedah.

Semenjak jadi nyonyah-nyonyah, saya jadi rajin follow-follow akun emak-emak yang inspiratif di Instagram. Berikut adalah 7 akun Instagram Moms favorit saya…. Saya bagi berdasar kategori mengapa saya menyukai akun-akun ini yaaa….

Instagram Moms Kreatif Ceria Asik Asik Jos

1 . Laybabylay

Yang saya suka dari akun ini adalah bagaimana sang pemilik akun, Joni Lay, menata rumahnya. Ceria banget dan super cute. Detailnya super manis dan imut, pokoknya saya ga pernah bosan melihat foto-fotonya. Desain dan penataan ruangannya juga bisa jadi inspirasi buat yang mau ngedekor perayaan pesta anak, untuk day care, atau sekedar desain kamar main anak. Unyuuuuu. Hahaha, alasannya super dangkal ya…. Tapi coba deh dibuka akunnya…. Kalau kita satu selera, mungkin bakalan sama betahnya sama saya 🙂

A post shared by Joni Lay (@laybabylay) on

2 . Joy Cho

Mirip-mirip dengan @laybabylay, saya suka akun ini karena kekreatifan pemiliknya. Namun lebih ke ide-ide crafting yang di post Kakak (((sok ikrib))) Joy Cho @ohjoy ini. Membuat saya mengenang hobi bikin-bikin saya yang sering kali terabaikan.

A post shared by Joy Cho / Oh Joy! (@ohjoy) on

Related Post: Membuat Tas dari Celana Jeans

Instagram Moms Berfaedah

3 . Elizabeth Zenifer

Awalnya saya kira akun ini akun selebgram biasa yang preaching tutorial ini itu. Tapi lama-lama saya jatuh hati sama kejujuran Mom Eliz saat dia menceritakan kegagalan demi kegagalan serta lesson learn yang dialaminya saay membesarkan David, anaknya. Info yang diberikan juga kumplit. Berfaedah bingit, bahkan sampai dia bikinkan semacam direktori hastag biar followernya gampang nyari materi yang dimauin. Materi yang kebanyakan dishare Mom Eliz adalah terkait MPASI, ASIP, tantrum, peralatan bayi, dsb.

Walaupun saya suka baca-bacain info dari Mom Eliz tetep rule number 1 buat saya adalah “be a smart reader, disaring!”.  Ga semua dong yang dishare oleh orang lain itu yang paling tepat. Semua harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing doong.

Related Post: Bingung Memilih Metode MPASI? Jangan Lakukan Kesalahan Saya Ini

4 . Jennifer Bachdim

Walaupun jarang posting tutorial bagaimana mengurus badan sebagai ibu-ib, tapi pics said a thousand words. Kalau lihat fotonya mbak Jen ini yaaaaaaa…. Langsung deh pingin olahragaaaaaa hahaha…. Saya salut juga melihat keakrabannya dengan anak-anaknya. Kelihatan so natural dan happy. 🙂

Instagram Moms Inspiratif

5 . This Little Miggy

Akun ini dimiliki oleh seorang ibu dengan putri berkebutuhan khusus. Mirip juga dengan akun @gracemelia di nomor 7 di bawah. Yang membuat saya menjadikan akun ini sebagai akun instagram mom inspiratif karena postingannya tetep ceria dan juga memperlihatkan bagaimana dia berusaha membuat anaknya yang spesial mampu berbaur dengan kegiatan sehari-hari. Luar biasa sekali pokoknya! :love

6 . Grace Melia

Akun milik seorang narablog dengan niche parenting for special needs dan sekaligus pendiri komunitas Rumah Ramah Rubella ini khas dengan hashtag #ceritabahagiaku. Gaya Gesi yang ceria dan unyu unyu apalah itu, membuat ibu beranak dua ini selalu tampak bersemangat. Semangat terus ya buuuukkkk!!!

7 . My Tiny Tribe

Genre foto Amanda, pemilik akun ini agak berbeda dengan gaya akun-akun sebelumnya yang khas dengan warna ceria. Akun ini warna dominannya lebih earthy. Saya menyukai gaya captionnya yang satire namun humoris. Jujur banget menggambarkan kehidupan sehari-hari seorang mamak rempong. Jujur, humoris dan bikin saya yang juga seorang ibu ngerasa terkait gitu dengan postingannya. Guwe banget. Oiya, pertama saat melihat foto selfienya, awalnya saya merasa agak aneh karena senyumnya seperti sinis. Senyum sebelah. Ternyata hal tersebut disebabkan oleh penyakit bells palsy yang diidapnya. Jadi bukan karena sinis ya Nyaaah….

A post shared by a m a n d a (@mytinytribe) on

***

Itulah 7 Instagram mom favoritkuuuuuu…. Kalau favoritmu siapakah Nyaaah? Tinggalin akun favoritnya di komen yaaaakkk, boleh juga kok promoin akun IG sendiri hihihi….

Oiya, sekalian kenalan juga dong sama akunku @nyonyamalas…. Feel free to follow yaaak! Saya seringnya kalau ga post tentang MPASI ya tentang stimulasi bayi…. Semoga bermanfaat yaaa…..

 

Salam sayang!

:*

.

.

.

.

instagram moms

 

 

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Review Buku Rumah Main Anak, Panduan Permainan Anak Usia 0-2 Tahun

rumah main anak judul

Ignacio Estrada dikutip dari Buku Rumah Main Anak mengatakan:

If a child can’t learn the way we teach, maybe we shoud teach the way they learn

Dan bagaimanakah anak-anak belajar? Ya! Dengan bermaiiinnn!!!

***

Menjadi seorang ibu, adalah sesuatu yang menantang, sekaligus seru. Menantangnya karena bagi saya ini kali pertamanya saya memiliki seorang anak. Tentu saya exciting sekali melihat anak yang tadinya hanya bisa bobok nenen ngompol, tiba-tiba mulai menunjukkan kepandaian yang berbeda-beda setiap harinya. Tentu saya sebagai orang tua baru (bersama suami) ingin memberikan yang terbaik bagi perkembangan anak kami, Gayatri. Saya yakin Nyonyah Tuan pun demikian….

Namun menjadi orang tua tidak serta merta kita menjadi lagsung tahu apa yang dilakukan. Ada kalanya saya melakukan sesuatu yang menurut saya baik dan bisa dimengerti bayi, namun Gayatri seperti tidak nyambung. Ya iya ya, namanya juga bayi. Karena hal tersebut, makanya kami rajin baca buku tentang perkembangan anak. Buku Rumah Main Anak adaah salah satu buku yang saya baca. Dan menurut saya buku ini mudah dimengerti serta praktis pengaplikasiannya. Maklum bagi orang tua muda seperti saya yang jadi prioritas tentu adalah kemudahan pengaplikasian materi-materi yang ada. Percuma juga materi yang begitu sophisticated, namun tidak bisa kami terapkan sehari-hari. Setujuuuuu???

Semoga review buku ini bermanfaat yaaa….

buku rumah main anak

Identitas Buku

  • Judul Buku :Rumah Main Anak
  • Penulis : Julia Sarah Rangkuti
  • ISBN : 978-979-155849-4-4
  • Penerbit : Sahabat Sejati Publishing
  • Tanggal Terbit : Februari 2016 (cetakan ketiga)
  • Harga : Kurang lebih Rp 100.000,00
  • Pembelian: Saya membelinya di Gramedia, namun di dalam bukunya terdapat alamat distributor resminya; Huta Media, PErumahan De Bale, Cluster Saphire Nomor 45, Cimanggis, Depok, Jawa Barat 16457, Telepon 021 29061244, Email distributorhutamedia@gmail.com.
  • Tebal : 333 halaman

Profil Penulis

Julia Sarah Rangkuti adalah pendiri komunitas Rumah Main Anak. Ia bersama suaminya menjalankan homeschooling bagi kedua anaknya. Dalam komunitas yang didirikannya Ia mengajak para orang tua untuk berusaha optial bermain bersama anak-anaknya sesuai dengan tumbuh kembang anak. Julia Sarah dapat dihubungi melalui Instagram @JuliaSarahRangkuti, Twitter @Sarah_Rangkuti dan Facebook Julia Sarah Rangkuti.

Isi

Buku ini dibuka dengan testimonial tentang Rumah Main Anak, suatu komunitas yang didirikan oleh penulis buku ini. Kemudian setelah pembuka dan lain-lain daftar isinya (sebagian) dapat diintip sbb:

rumah main anak daftar isi

Selanjutnya masuk ke materi-materi yang utama sebagai berikut:

1 . Aspek perkembangan anak usia dini, dalam bagian ini penulis membahas empat aspek perkembangan anak.

2 . Perkembangan bayi usia 0-3 bulan, setelah membahas tentang perkembangan anak dalam periode ini, penulis menyediakan 10 permainan yang bisa dilakukan orang tua bersama anak.

3 . Perkembangan bayi usia 3-6 bulan, setelah membahas tentang perkembangan anak dalam periode ini, penulis menyediakan 10 permainan yang bisa dilakukan orang tua bersama anak.

4 . Perkembangan bayi 6-9 bulan, setelah membahas tentang perkembangan anak dalam periode ini, penulis menyediakan 10 permainan yang bisa dilakukan orang tua bersama anak.

5 . Perkembangan bayi 9-12 bulan, setelah membahas tentang perkembangan anak dalam periode ini, penulis menyediakan 20 permainan yang bisa dilakukan orang tua bersama anak. Contoh halaman muka per periode usia:

rumah main anak contoh perkembangan 9 bulan

6 . Mengenal permainan sensory,

7 . Perkembangan anak usia 1-2 tahun, setelah membahas tentang perkembangan anak dalam periode ini, penulis menyediakan 53 permainan yang bisa dilakukan orang tua bersama anak.

8 . Perkembangan anak usia 2 tahun, setelah membahas tentang perkembangan anak dalam periode ini, penulis menyediakan 75 permainan yang bisa dilakukan orang tua bersama anak. Contoh permainan anak usia 2 tahun sbb:

rumah main anak contoh permainan 2 tahun

9 . Membuat agenda bermain anak usia dini,

10 . Bonus: Agenda bermain anak usia 1-3 tahun berdasar Permendikbud

rumah main anak contoh permendikbud

11 . Bonus: Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Kuesioner ini adalah alat/ instrumen yang digunaka untuk mengetahui perkembangan anak, apakah normal atau ada penyimpangan.

Review

love loveYang saya sukai dari buku ini adalah:

  1. Contoh permainannya banyak, kurang lebih ada 160 jenis permainan yang bisa ditiru atau diterapkan di rumah.
  2. Alat yang diperlukan dalam contoh-contoh permainan mudah didapatkan. Mungkin karena penulisnya adalah orang Indonesia ya, sehingga lingkungan sekitarnya mirip dengan yang saya alami. Hal ini jauh lebih memudahkan saya untuk menduplikasi permainan, dibandingkan ketika saya membaca bloog-blog parenting dari luar negeri.
  3. Panduan permainannya sangat jelas.
  4. Harga bukunya sebanding dengan manfaatnya.
  5. Saya sangat menghargai penulis mau memberikan juga contoh agenda dari Permendikbud dan juga Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) sehingga para orang tua yang ingin mengembangkan permainan bersama anak, tidak serta merta meniru saja, namun juga dapat melakukan penyesuaian berdasarkan kondisi perkembangan anak masing-masing.

Related post: Tes Denver, Screening Tumbuh Kembang Bayi dan Anak

Related Post: [DIY] Mainan Bayi Usia 4-6 Bulan dengan Bahan yang Ada di Rumah

rumah main anak judul

Adakah yang punya rekomendasi buku lain terkait tumbuh kembang anak? Boleh banget lhooo komen di comment section! 🙂

Terimakasih sudah mampir, semoga reviewnya bermanfaat yaaa…. Salam sayang!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

[DIY] 5 Mainan Bayi Usia 4 – 6 Bulan dari Bahan yang Ada di Rumah

mainan bayi usia 4 - 6 bulan

Sebelum ngobrolin lebih lanjut tentang mainan bayi usia 4 – 6 bulan dan cara membuatnya dari bahan yang ada di rumah. Saya pengen ngobrol dulu ah. “Pernah nggak kita (sebagai orang tua) ngerasa gemes karena uda beliin mainan sophisticated buat anak, eeeehhh, anaknya nggak mudeng mainan kece?”. Hihihi…. Saya pernah. Ceritanya saya belikan Ning Gaya semacam tower book. Dan alih-alih lihat gambar di dalam buku-bukunya, Gayatri malah lebih tertarik sama tali penngikat tutup kardus tower booknya. Doooohhhh….

Click pict to play!

Pernah lagi, saya beliin Ning Gaya semacam mainan bola yang ada klinthingannya di dalam bola tersebut. Tiga biji bola warna warni. Ketiganya sukses tak dihiraukan. Gayatri berpaling pada wadah tisu dan remote tivi yang nganggur. Hahaha…. Ada yang nasibnya sama kaya saya: bayinya obsesif sama remote tivi? Tos dulu kita.

But, segemes atau segeli apapun saya dengan kelakuan Ning Gaya terhadap mainan, saya mencoba demokratis. Biarlah dia yang menentukan mau main apa dan seperti apa. Saya mencoba tidak terlalu dominan, karena yah namanya juga main bareng. Walaupun lebih pinter, saya belajar memosisikan diri sebagai temen main yang baik. Perlahan-lahan toh anaknya juga mudeng, jadi tidak perlu seketika itu juga dipaksa mainin mainan versi yang kita mau. Daripada si bayik melengos, sambil mbatin, “Ih, orang tua jaman sekarang ya, kagak asik….” Iye kan yes….

Related post: Manfaat Orang Tua bermain Bersama Anak di Kidzania

Saya memberi artikel ini judul [DIY] 5 Mainan Bayi Usia 4 – 6 Bulan, bukan berarti mainan ini saklek hanya bisa dimainkan di usia tersebut ya Nyaaaahhh…. Ini hanya perkiraan saya berdasarkan pengalaman saya menerapkan permainan ini di anak saya, Ning Gaya. Jika menurut Nyonyah tidak sesuai dengan perkembangan anaknya, atau apabila ada bahan yang tidak tersedia di rumah, boleh banget loh dimodifikasi agar sesuai. Ini blog bukan kitab suci, tidak ada yang sepenuhnya benar. ;*

1 . Botol Menggelinding

Click pict to play!

Bahan: Botol Bekas

Cara Bermain: Letakkan botol bekas di hadapan bayi dengan jarak yang cukup “menarik” namun cukup “menantang” juga. Usahakan botolnya dipilih yang mudah menggelinding saat terkena sentuhan. Jika bayi tampak tak tertarik, coba gelindingkan botol mendekatinya, atau sebaliknya, maju mundur cantik. Lihat reaksi bayi lebih lanjut.

Tujuan dari permainan ini adalah untuk menstimulasi motorik kasar bayi. Untuk Ning Gaya dulu saya beri mainan ini karena dia agak “mager” alias malas gerak. Jadi saat tummy time, saya berharap Gayatri belajar merangkak atau setidaknya ngesot dulu. Setelah beberapa percobaan, it’s works!

2. Botol Isi Kacang

Klik panah untuk menggeser foto!

Bahan: Botol bekas yang sudah dicuci bersih, kacang hijau secukupnya.

Cara Membuat: Masukkan kacang hijau ke dalam botol, tutup rapat.

Cara Bermain: Serahkan saja botol pada bayi. Kalau diperlukan, contohkan padanya bagaimana menggerak-gerakkan botol. Gayatri suka merhatiin bunyi yang dihasilkan saat botolnya dikocok. Lalu dengan keponya dia menggerak-gerakkan botolnya sendiri. 😅 Sungguh anak yang gampang penasaran dan dibahagiakan…. Tugas ibu cuma merhatiin, jaga-jaga agar botol tidak terbuka dan kacang ijonya diemplok bayi 😖 tapi seumuran Neng Gaya (6mo) kayanya si belum bisa buka botol sendiri yak 😬

Tujuannya adalah supaya koordinasi tangan dan mata Ning Gaya terlatih. Karena ternyata hal tersebut bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Perlu pembiasaan agar tangan bayi luwes mengikuti kemana mata memandang dan menggerakkan.

3. Melepaskan Sticky Notes

Click pict to play!

Peralatan: sticky notes, kardus (masih ada isinya jadi tidak mudah goyang). Lakukan di atas alas yang aman ya…. Ibu/ pengasuh mohon tetap waspada.

Cara membuatnya sangat mudah, tempelkan sticky notes di permukaan kardus, terutama di sisi depannya. Karena Ning Gaya sudah mulai berdiri saya tempelkan juga di sisi atas kardus.

Tujuan permainan ini adalah 1) stimulasi motorik kasar serta koordinasi mata dan tangan, 2) supaya Gayatri (7 mo) ga mager, merangkak, bergeser dan menggapai sticky notes dan 3) stimulasi motorik halus; latihan menggerakkan jari jemari saat melepaskan sticky notes dari kardus.

Oiya, pertama kali memainkan mainan ini, Gayatri lebih tertarik untuk memainkan kardusnya. Ning Gaya malah lebih tertarik jadiin kardusnya sebagai gendang. Ditabok tabokin doang, dooohh…. Tapi namanya main sama bayi ya, kadang emang gitu. Ortu harapannya apa, anak maunya main apa. Hihihi, sabar-sabar aja ya Nyaaahhh Tuan. Akan tiba saatnya kok dia paham maksud kita…. Kaya Ning Gaya hari ini, juaraaa! Berhasil melepaskan semua sticky notes yang ditempel Ibuk di kardus. Yeaay!

4 . Selotip Lengket

Click follow @nyonyamalas!

Bahan: Selotip atau lakban. Bisa baru atau bekas, misal bekas segel toples snack lebaran atau selotip bekas buka paket JNE. Biasanya kan masih lengket tuh….

Cara Membuat: Selotip atau lakban digulung menyerupai bola kecil dengan bagian lengket di luar.

Cara Bermain: Letakkan bola-bola selotip yang lengket tersebut di dalam genggaman bayi. Biarkan dia mencoba melepaskan diri dari lengketnya selotip yang menempel di telapak tangannya. Mohon terus diperhatikan yaaaa, soalnya temen pernah nyobain permainan ini dan si bayi malah pengen memasukkan si bola lengket ke dalam mulut. Doooohhh! Hahaha….

Tujuan mainan ini adalah untuk melatih motorik halus bayi; yaitu pada jari jemarinya.

5 . Cilukba!

Click pict to play!

Permainan ini tentu sudah sangat familiar yaaa…. Sederhana, bikin bayi hapy dan juga ada pembelajarannya ternyata. 🙂

Bahan: Alat penutup (bisa boneka, kain, tangan, dll)

Cara Bermain: Halangi pandangan bayi dengan alat penutup beberapa saat, kemudian buka sambil tunjukkan wajah yang ceria. Bisa sambil mengatakan “Ciluuukba!” seperti yang umumnya dilakukan untuk menambah suasana makin meriah.

Tujuan permainan ini adalah melatih kemampuan sosialnya. Agar anak belajar bahwa ketika orang tuanya tak kelihatan, belum tentu berarti orang tuanya hilang. Bersabar sebentar maka kita akan muncul kembali. Baaaaa!

mainan bayi usia 4 - 6 bulan

Oiya, di artikel sebelumnya saya juga pernah share tentang Tes Denver, Screening Perkembangan Anak. Tes ini bermanfaat banget untuk saya. Terutama dalam mengukur perkembangannya dan juga sebagai pertimbangan dalam menentukan mainan apa yang mau diberikan ke anak supaya sesuai dengan usianya. Yuk, mampir biar nyambung! Klik link di bawah ini yaa….

Related post: Tes Denver, Screening Tumbuh Kembang Anak

Demikian sharing saya Nyaaahhh…. Semoga bermanfaat! Salam sayang selalu….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Working Moms, Let Us Stand Against Our Guilty Feeling!

guilty feeling

Rasa bersalah. Satu hal ini sering banget menggelayuti perasaan para ibu bekerja. Mau berangkat kerja, anak senyam senyum, “kok kaya ga sedih ya ditinggal, jangan-jangan bayiku lebih sayang Mbah Utiiii….”. #kraayyy Trus galau pengen di rumah aja. Lain waktu, saat mau berangkat kerja, anak rewel, makin galau lagi. Sampai di kantor mrebes mili di kamar mandi. Di kantor jadi ga konsen. Kerjaan ga kelar. Pulang telat. Makin tambah merasa bersalah lagi. Ujung-ujungnya, pengen resign.

hiks

Artikel ini saya buat bareng sahabat saya, sesama bloger, Faradila Putri. Triger-nya adalah obrolan di grup mamah mamah muda tentang keinginan resign seorang rekan dan pro kontranya. Hehehe, ngobrolin tentang working mom dan stay at home mom memang nggak ada habisnya yak. Yang WM pengen resign jadi SAHM, yang SAHM kangen pengen kerja lagi. Saya dan Dila pun, yaaahhh…. 11-12 mengalami hal yang sama. Saya yang WM pernah berniat resign, tapi ga jadi…. Dila, yang saat ini SAHM, pun berniat mencari pekerjaan. Baca curhatannya di Master of Science (CUMA) Ngurus Anak, Kenapa Nggak?.

Walau sempat galau, pada akhirnya sih, saya memilih untuk berhenti memandang rumput stay at home mom yang lebih hijau. Dan melihat bahwa rumput saya yang ungu dan gondrong pun bukan berarti tidak baik. Walaupun kadang canggung. Saya belajar legowo dan bangkit melawan satu parasit yang kerap menghinggapi hati saya sebagai working mom: RASA BERSALAH.

Here I am, now, mencoba mempersembahkan artikel separuh curhat ini untuk rekan-rekan seperjuangan. Bagi para working mom yang sudah mengambil keputusan sepenuh hati untuk menjadi ibu bekerja, namun hatinya kadang diliputi rasa bersalah, yuk mari belajar menikmati peran kita dengan kelegaan.

kuatMoms, let us against our guilty feeling!

1 . Ingatlah alasan mula-mula.

Pilihan tetap bekerja setelah melahirkan, saya yakin diambil para ibu pekerja dengan alasan tertentu yang melatarbelakanginya. Entah itu 1) demi kepentingan yang lebih besar, misalnya panggilan hidup, passion atau visi. 2) Demi kepentingan keluarga, misal sebagai tulang punggung keluarga, pewaris bisnis keluarga atau demi cicilan rumah yang harus dibayar. Atau 3) untuk alasan yang lebih egois, seperti aktualisasi diri, demi kewarasan, mandiri secara finansial. Atau apapun.

Pilihanmu, yang tentunya hasil diskusi dengan pasangan, adalah pilihan yang layak diperjuangkan.

Jika di suatu hari, sebagai ibu, kita merasa bersalah karena tak selalu mendampingi bayi kita sepanjang waktu. Ingat, ada alasan yang kita miliki. Kita tidak sedang jauh dari mereka tanpa alasan. Kita lo tidak sedang main-main.

2 . Bebaskan dirimu dari idealisme orang lain.

Di artikel sebelumnya, saya pernah ngomongin tentang jalan hidup #aseeek. Dimana masing-masing orang punya kesempatan, kemampuan dan keinginan yang berbeda-beda. Saat ini saya juga pengen menekankan hal yang sama.

Biar related, artikel bisa dibaca di sini yaa…. Realistis Aja Lah!

Ibu lain mungkin memiliki kemampuan prima menjadi ibu rumah tangga. Namun, orang lain belum tentu. Bisa jadi, orang lain akan menjadi ibu yang lebih baik, saat dia memiliki kesempatan menyalurkan bakatnya di luar rumah. Atau bisa juga sebaliknya. Tak perlu lah kita pandang pergumulan hidup orang lain, mari kembali fokus pada hidup kita. Jadi saat ada yang bilang, “Kalau saya sih lebih baik, bla bla bla bla….”. Ya sudah iyakan saja. Itu kan kalau versi situ, kalau versi saya lain, sah sah saja kan.

Saya jadi ingat obrolan saya dengan mama mertua. Waktu itu saya sedang minta maaf karena (menurut saya) saya tidak melakukan pekerjaan rumah tangga dengan sempurna. Cucian saya laundry, kecuali punya bayi saya. Makan pun saya pesankan catering. Mama menjawab, “Gapopo Nduk, ndak usah terlalu risau, yang penting semua beres. Semuanya jalan.”

love loveMakasi Mama Mertuaaaaa…. :love

Related Post: Manajemen Keluarga saat Ibu Bekerja ala Yenny Wahid

Mungkin di keluarga lain masalah mencuci pakaian sendiri adalah kewajiban. Atau makanan hangat buatan ibu adalah keharusan. Namun, jika memang di keluarga kita tidak demikian, “Tak perlulah Nyah, merasa bersalah….”

3 . Menerima good enough sebagai second best.

Poin ini sebenernya curhat terselubung. Hehehe. Saya dulu sedih banget, saat menyadari anak saya harus minum susu hasil perahan (ASIP). Hal terbaik yang saya inginkan adalah bisa menyusui Ning Gaya, bayi saya, secara langsung. Ada kualitas bonding antara ibu dan anak yang saya percaya dapat tercipta, selain daripada sekadar memberikan makan.

Namun tentu saja, hal ini nggak mungkin terjadi. Kan saya harus ngantor. Walaupun sekali dua kali saya pernah bawa bayi saya ke kantor. Tapi kan nggak mungkin juga tiap hari. Emangnya kantor punya bapak moyang eike. Kan enggak.

Menerima kenyataan bahwa kita tak selalu bisa memberikan yang terbaik adalah awal mula dari kelepasan dari rasa bersalah. Berhenti mencari pembenaran diri dan terus mencoba opsi lain sebagai second best adalah langkah terbaik. Hilangkan rasa bersalah dengan menerima si second best tadi sebagai hal yang baik juga untuk anak kita.

4 . Be a smart reader.

Jadilah pembaca dan pendengar yang bijak. Jangan suka baper. Jangan juga terlalu cepat merasa orang lain itu nyinyir. Jagalah hati dan pikiran kita sendiri. Sedikit cuek, tidak apa-apa menurut saya, hehehe….

Kadang orang nggak selalu bermaksud nyinyir sih. Pernah ada kejadian seorang teman, yang kebetulan ibu rumah tangga, komen saat ibu lain menanyakan suatu produk biskuit bayi. Tidak eksplisit menjawab pertanyaan, si Ibu tadi cerita bagaimana sebaiknya cemilan pun homemade, organik, dll, dsb. Temen saya kan jadi ngenes. Karena merasa belum mampu membuatkan cemilan sebaik itu karena waktunya yang terbatas. Saya pun.

Ibu homemade tadi tidak salah. Kadang para working mom memang harus punya “saringan” kuping tersendiri. Biar ga baper. Karena kan mungkin orang lain ga bermaksud juga buat nyindir atau nyinyiri keterbatasan kita.

guilty feeling

Nah, kalau kita kenal ada orang-orang yang berperan sebagai “polisi parenting” dengan intensi nyinyir. Memang lebih baik jaga jarak! Sebagai ibu, para working mom memang butuh masukan dan saran atau koreksi jika ada kesalahan. Namun, working mom juga manusia, punya rasa punya hati. Jadi sebisa mungkin mending nyari senior yang bijak deh. Daripada cuma dapet rasa bersalah, alih-alih pemecahan masalah.

5 . 100% hadir saat berada di rumah.

Sebelum kembali bekerja, saya punya waktu sekitar dua bulan cuti. Dalam dua bulan tersebut, saya menjadi ibu rumah tangga sementara. Lesson learn yang saya dapatkan adalah…. 24 jam saya berada di rumah tidak selalu 24 jam itu saya bareng-bareng terus bareng bayi saya. Ada saat dia bobo, ada saat dia saya tinggal cuci baju atau masak. Tak selalu dia membutuhkan saya juga.

Namun, sekarang saat saya sebagian waktu ada di luar rumah, berarti saya harus berpikir tentang 100% hadir untuk dia saat saya ada di rumah. Menjadikan waktu saya bersamanya berkualitas.

Trust me, it works! Ketika orang bilang kalau anak bakal ga dekat dengan ibunya kalau ibunya bekerja, saya bisa bilang, tidak. Tidak jaminan. Ketika saya pulang dari bekerja, dan Gayatri menyambut saya sepenuh hati. Saya tahu bahwa hal yang sering dinyatakan orang tadi tidak benar adanya. Dan hilanglah sudah rasa bersalah itu…. 🙂

***

Saya tidak mau berbohong dengan bilang kalau dengan melakukan kelima hal di atas semua rasa bersalah hilang seketika. Kadang masih ada rasa haru melihat bocah saat mau berangkat kerja. Wajar sih. But it’s faaaar faaar better. Saya tak lagi bermuram durja di kantor. Tak lagi sensi pada hal-hal kecil. Tak lagi merasa badan sakit, kepala pusing tanpa alasan yang jelas. Saya bisa bercanda dan bahagia lagi. Dan yang paling penting, saya bisa menjalani peran saya dengan lebih baik tanpa rasa bersalah yang besar.

So, working moms! Let us against our guilty feelings!

Salam sayaaaaaanggg!!!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!