Working Moms, Let Us Stand Against Our Guilty Feeling!

guilty feeling

Rasa bersalah. Satu hal ini sering banget menggelayuti perasaan para ibu bekerja. Mau berangkat kerja, anak senyam senyum, “kok kaya ga sedih ya ditinggal, jangan-jangan bayiku lebih sayang Mbah Utiiii….”. #kraayyy Trus galau pengen di rumah aja. Lain waktu, saat mau berangkat kerja, anak rewel, makin galau lagi. Sampai di kantor mrebes mili di kamar mandi. Di kantor jadi ga konsen. Kerjaan ga kelar. Pulang telat. Makin tambah merasa bersalah lagi. Ujung-ujungnya, pengen resign.

hiks

Artikel ini saya buat bareng sahabat saya, sesama bloger, Faradila Putri. Triger-nya adalah obrolan di grup mamah mamah muda tentang keinginan resign seorang rekan dan pro kontranya. Hehehe, ngobrolin tentang working mom dan stay at home mom memang nggak ada habisnya yak. Yang WM pengen resign jadi SAHM, yang SAHM kangen pengen kerja lagi. Saya dan Dila pun, yaaahhh…. 11-12 mengalami hal yang sama. Saya yang WM pernah berniat resign, tapi ga jadi…. Dila, yang saat ini SAHM, pun berniat mencari pekerjaan. Baca curhatannya di Master of Science (CUMA) Ngurus Anak, Kenapa Nggak?.

Walau sempat galau, pada akhirnya sih, saya memilih untuk berhenti memandang rumput stay at home mom yang lebih hijau. Dan melihat bahwa rumput saya yang ungu dan gondrong pun bukan berarti tidak baik. Walaupun kadang canggung. Saya belajar legowo dan bangkit melawan satu parasit yang kerap menghinggapi hati saya sebagai working mom: RASA BERSALAH.

Here I am, now, mencoba mempersembahkan artikel separuh curhat ini untuk rekan-rekan seperjuangan. Bagi para working mom yang sudah mengambil keputusan sepenuh hati untuk menjadi ibu bekerja, namun hatinya kadang diliputi rasa bersalah, yuk mari belajar menikmati peran kita dengan kelegaan.

kuatMoms, let us against our guilty feeling!

1 . Ingatlah alasan mula-mula.

Pilihan tetap bekerja setelah melahirkan, saya yakin diambil para ibu pekerja dengan alasan tertentu yang melatarbelakanginya. Entah itu 1) demi kepentingan yang lebih besar, misalnya panggilan hidup, passion atau visi. 2) Demi kepentingan keluarga, misal sebagai tulang punggung keluarga, pewaris bisnis keluarga atau demi cicilan rumah yang harus dibayar. Atau 3) untuk alasan yang lebih egois, seperti aktualisasi diri, demi kewarasan, mandiri secara finansial. Atau apapun.

Pilihanmu, yang tentunya hasil diskusi dengan pasangan, adalah pilihan yang layak diperjuangkan.

Jika di suatu hari, sebagai ibu, kita merasa bersalah karena tak selalu mendampingi bayi kita sepanjang waktu. Ingat, ada alasan yang kita miliki. Kita tidak sedang jauh dari mereka tanpa alasan. Kita lo tidak sedang main-main.

2 . Bebaskan dirimu dari idealisme orang lain.

Di artikel sebelumnya, saya pernah ngomongin tentang jalan hidup #aseeek. Dimana masing-masing orang punya kesempatan, kemampuan dan keinginan yang berbeda-beda. Saat ini saya juga pengen menekankan hal yang sama.

Biar related, artikel bisa dibaca di sini yaa…. Realistis Aja Lah!

Ibu lain mungkin memiliki kemampuan prima menjadi ibu rumah tangga. Namun, orang lain belum tentu. Bisa jadi, orang lain akan menjadi ibu yang lebih baik, saat dia memiliki kesempatan menyalurkan bakatnya di luar rumah. Atau bisa juga sebaliknya. Tak perlu lah kita pandang pergumulan hidup orang lain, mari kembali fokus pada hidup kita. Jadi saat ada yang bilang, “Kalau saya sih lebih baik, bla bla bla bla….”. Ya sudah iyakan saja. Itu kan kalau versi situ, kalau versi saya lain, sah sah saja kan.

Saya jadi ingat obrolan saya dengan mama mertua. Waktu itu saya sedang minta maaf karena (menurut saya) saya tidak melakukan pekerjaan rumah tangga dengan sempurna. Cucian saya laundry, kecuali punya bayi saya. Makan pun saya pesankan catering. Mama menjawab, “Gapopo Nduk, ndak usah terlalu risau, yang penting semua beres. Semuanya jalan.”

love loveMakasi Mama Mertuaaaaa…. :love

Related Post: Manajemen Keluarga saat Ibu Bekerja ala Yenny Wahid

Mungkin di keluarga lain masalah mencuci pakaian sendiri adalah kewajiban. Atau makanan hangat buatan ibu adalah keharusan. Namun, jika memang di keluarga kita tidak demikian, “Tak perlulah Nyah, merasa bersalah….”

3 . Menerima good enough sebagai second best.

Poin ini sebenernya curhat terselubung. Hehehe. Saya dulu sedih banget, saat menyadari anak saya harus minum susu hasil perahan (ASIP). Hal terbaik yang saya inginkan adalah bisa menyusui Ning Gaya, bayi saya, secara langsung. Ada kualitas bonding antara ibu dan anak yang saya percaya dapat tercipta, selain daripada sekadar memberikan makan.

Namun tentu saja, hal ini nggak mungkin terjadi. Kan saya harus ngantor. Walaupun sekali dua kali saya pernah bawa bayi saya ke kantor. Tapi kan nggak mungkin juga tiap hari. Emangnya kantor punya bapak moyang eike. Kan enggak.

Menerima kenyataan bahwa kita tak selalu bisa memberikan yang terbaik adalah awal mula dari kelepasan dari rasa bersalah. Berhenti mencari pembenaran diri dan terus mencoba opsi lain sebagai second best adalah langkah terbaik. Hilangkan rasa bersalah dengan menerima si second best tadi sebagai hal yang baik juga untuk anak kita.

4 . Be a smart reader.

Jadilah pembaca dan pendengar yang bijak. Jangan suka baper. Jangan juga terlalu cepat merasa orang lain itu nyinyir. Jagalah hati dan pikiran kita sendiri. Sedikit cuek, tidak apa-apa menurut saya, hehehe….

Kadang orang nggak selalu bermaksud nyinyir sih. Pernah ada kejadian seorang teman, yang kebetulan ibu rumah tangga, komen saat ibu lain menanyakan suatu produk biskuit bayi. Tidak eksplisit menjawab pertanyaan, si Ibu tadi cerita bagaimana sebaiknya cemilan pun homemade, organik, dll, dsb. Temen saya kan jadi ngenes. Karena merasa belum mampu membuatkan cemilan sebaik itu karena waktunya yang terbatas. Saya pun.

Ibu homemade tadi tidak salah. Kadang para working mom memang harus punya “saringan” kuping tersendiri. Biar ga baper. Karena kan mungkin orang lain ga bermaksud juga buat nyindir atau nyinyiri keterbatasan kita.

guilty feeling

Nah, kalau kita kenal ada orang-orang yang berperan sebagai “polisi parenting” dengan intensi nyinyir. Memang lebih baik jaga jarak! Sebagai ibu, para working mom memang butuh masukan dan saran atau koreksi jika ada kesalahan. Namun, working mom juga manusia, punya rasa punya hati. Jadi sebisa mungkin mending nyari senior yang bijak deh. Daripada cuma dapet rasa bersalah, alih-alih pemecahan masalah.

5 . 100% hadir saat berada di rumah.

Sebelum kembali bekerja, saya punya waktu sekitar dua bulan cuti. Dalam dua bulan tersebut, saya menjadi ibu rumah tangga sementara. Lesson learn yang saya dapatkan adalah…. 24 jam saya berada di rumah tidak selalu 24 jam itu saya bareng-bareng terus bareng bayi saya. Ada saat dia bobo, ada saat dia saya tinggal cuci baju atau masak. Tak selalu dia membutuhkan saya juga.

Namun, sekarang saat saya sebagian waktu ada di luar rumah, berarti saya harus berpikir tentang 100% hadir untuk dia saat saya ada di rumah. Menjadikan waktu saya bersamanya berkualitas.

Trust me, it works! Ketika orang bilang kalau anak bakal ga dekat dengan ibunya kalau ibunya bekerja, saya bisa bilang, tidak. Tidak jaminan. Ketika saya pulang dari bekerja, dan Gayatri menyambut saya sepenuh hati. Saya tahu bahwa hal yang sering dinyatakan orang tadi tidak benar adanya. Dan hilanglah sudah rasa bersalah itu…. 🙂

***

Saya tidak mau berbohong dengan bilang kalau dengan melakukan kelima hal di atas semua rasa bersalah hilang seketika. Kadang masih ada rasa haru melihat bocah saat mau berangkat kerja. Wajar sih. But it’s faaaar faaar better. Saya tak lagi bermuram durja di kantor. Tak lagi sensi pada hal-hal kecil. Tak lagi merasa badan sakit, kepala pusing tanpa alasan yang jelas. Saya bisa bercanda dan bahagia lagi. Dan yang paling penting, saya bisa menjalani peran saya dengan lebih baik tanpa rasa bersalah yang besar.

So, working moms! Let us against our guilty feelings!

Salam sayaaaaaanggg!!!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Review Minyak Telon Bebe Roosie, Minyak Telon yang Berbentuk Krim

bebe roosie judul

Produk minyak telon adalah produk yang pasti sering banget dibeli oleh para mamah. Walaupun dokter anak saya sendiri bilang jika penggunaan minyak telon itu tidak harus. Namun karena sudah terbiasa, sepertinya ada yang kurang yak kalau tidak menggunakannya. Hehehe. Saya sendiri mulai menggunakan produk minyak telon mulai bayi berusia 2 minggu. Minyak telonnya yang digunakan juga masih minyak telon cair biasa, bukan minyak telon Bebe Roosie ini.

Saya mengenal merk Bebe Roosie ini dari tetangga sesama mamah muda, pas anak saya usia sekitar 5 bulan. Pas itu anak saya dan temannya itu berenang bareng. Setelah berenang, saya lihat ih apaan tu krim krim wadahnya kok lucu. Ya ampuuuunnnn, wadahnya bikin mupen. Hahaha. Terus saya tercengang waktu tahu krim itu adalah minyak telon. MINYAK TELON.

Related Post: Barang Bayi yang Harus Disiapkan Sebelum Persalinan

telon bebe roosie

Deskripsi produk

Produk bayi kesayangan saya ini adalah minyak telon yang berbentuk krim. Awalnya saya kira produk ini adalah produk impor. Soalnya sekilas kemasannya unyu unyu gimana gitu, tidak seperti kebanyakan kemasan minyak telon lokal. Eh, ternyata produk ini keluaran Jamu Jago. Dan baunya juga telon banget. Telon asli, bukan bau parfum bayi.

Sebenarnya kalau sehari-hari saya lebih suka menggunakan minyak telon yang berbentuk minyak biasa. Nah, minyak telon krim ini jadi andalan kalau sedang keluar rumah bareng bayi saya. Misalnya ke mall, gereja atau keluar kota. Ga kawatir tumpah di tas. Saya juga suka menggunakannya untuk diri saya sendiri hehehe.

Kemasan

Seperti yang sudah saya bahas di atas, kemasannya lucuuu. Berbentuk tube dengan tutup flip flop. Warnanya biru muda dan kuning pastel. Ada motif ayam kartun yang sedang bernyanyi. Emeeessshhhh….. Ukurannya kecil, berat isinya 60 gram, pas di genggaman tangan.

bebe roosie depan

Formula

Mintak telon ini formula unik yang membedakannya dengan minyak telon lain adalah di kandungan minyak zaitunnya serta mengandung anti nyamuk. Produk ini memang tidak menyatakan diri hypoalergenic, namun Ning Gaya, bayi saya tidak mengalami iritasi saat pemakaian. Namun untuk jaga-jaga Nyonyah bisa coba oleskan sedikit dulu di kulit bayi untuk melihat reaksi alergi, sebelum mengoleskannya ke seluruh tubuh.

Manfaat dan Anjuran Pemakaian

Pada kemasannya disebutkan manfaat dari produk ini adalah:
1. Mengandung minyak zaitun untuk melembabkan kulit bayi,
2. Membantu meredakan masuk angin, perut kembung dan menghangatkan kulit bayi,
3. Membantu menghindarkan bayi dari gigitan nyamuk.

So far ketiga manfaat yang disebutkan di atas memang terbukti sih. Buat bayi maupun buat emaknya hihihi. Saya suka membawa produk ini kemana-mana buat saya pakai. Soalnya saya suka baunya, jadi kadang saya oles di tangan untuk saya cium-cium. Lagi pula efek melembabkannya juga dapet. Cuma kalau di orang dewasa memang kurang terasa hangatnya, soft banget, lebih soft dari minyak kayuputih.

Cara pemakaian kalau di bayi, tinggal diusapkan secara lembut di bagian perut, pinggang, dada, tangan dan kaki. Kalau saya pribadi menghindari untuk mengusapkan di telapak tangan bayi, karena takut dia kucek-kucek mata atau malah ngemut jari jarinya…, eiymmmm….

bebe roosie belakang

Ingredients

1. Minyak kayu putih (oleum cajuputi)
2. Minyak adas (oleum foeniculi)
3. Minyak zaitun (oleum olivae)
4. Basis krim

Tekstur dan fragrance

Teksturnya seperti lotion biasa, warna lotionnya putih. Cukup mudah terserap kulit serta tidak lengket. Baunya khas minyak telon klasik. Segeeeerrr, saya suka saya sukaaa….

Harga

Saya beli offline di toko CnD dekat rumah seharga Rp 23.000,00. Kadang kalau sedang flash sale di shopee ada yang bandrol Rp 18.000,00 tapi jatuhnya lebih mahal juga kalau kena ongkir. Kalau Nyonyah tinggal si sekitar bintaro CnD bisa delivery juga minimal 3 produk free ongkir. Kalau tidak salah produk ini dijual juga di Guardian, soalnya saya pernah lihat produk ini di katalog promonya Guardian.

bebe roosie judul

Pros and Cons

Pros

1. Baunya enak, telon banget,
2. Kemasannya travel friendly dan unyuuuu :love,
3. Berbentuk krim sehingga tidak mudah tumpah,
4. Harga relatif affordable.

Cons:

1. Masih belum tersedia di minimarket umum. Harus ke baby shop tertentu atau online.

Repurchase? Yes.

Demikian Nyaaaahhh…. Review singkat tentang minyak telon eh krim telon Bebe Roosie. Semoga bermanfaat yaaak!

Salam sayaang :*

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Nikah atau Kuliah? Realistis aja lah!

nikah atau kuliah

Nona: Nyahhhh, mending nikah dulu apa aku lanjut kuliah lagi?
Nyonyah: Uda ada calon?
Nona: Belooooom.
Nyonyah: Yauda kuliah lagi aja….
Nona: Kaga punya biaya buat kuliah.
Nyonyah: Carilah beasiswa kalau gitu.
Nona: TOEFLku kecil, lagipula aku malas kalo harus apply-apply beasiswa Nyaaah….
Nyonyah: *ngemilbatako* Trus maksudmu tanya tadi itu apaaaaaaa????

***

Get the point?

Kemarin saya baca status war, kalau saya nggak salah tangkap, tentang perempuan berpendidikan tinggi niscaya susah nyari suami. Cmiiw. E buset, jujurly speaking, ini tema emang familiar banget ya di kalangan perempuan setidaknya di sekitar saya. Tapi di kasus ini tu saya rada ikutan panas juga. Nyinyir banget soalnya yang komen. Ya, jangan gitu dong mas…. Mentang-mentang situ uda nikah walaupun S1 nggak kelar-kelar, bukan berarti situ boleh nyela orang yang uda kelar S3 tapi belum nikah-nikah…. Huft. Nyonya jadi ikutan pengen komen kan jadinya…. Hihihi. Tapi saya ga mau bahas tentang mas-masnya ah. Nanti makin femes. Nyonya mau bahas tentang pilihan antara nikah atau lanjut sekolah.

Kalau saya ditanya pertanyaan “Nikah dulu atau sekolah lagi?”. Jawaban saya sederhana: KALAU SAYA mana yang di depan mata, sikaaat!

Hehehe…. Saya percaya jalan hidup sudah ada yang atur ya. Dan jalan hidup kita beda-beda bok. Ada yang lurus, ada yang zig zag, ada yang naik turun, ada yang nikah dulu, ada yang sekolah lagi, ada yang nikah sambil sekolah lagi, tapi percayalah ga ada yang nikung ke jalan hidup temennya. Ga bakal tertukar. Jadi fokus aja sama hidup sendiri, ga perlu banyak benchmarking.

Dan kalau ngomongin jalan hidup, semua seolah misterius yak. Tapi saya yakin kalau ada tanda-tanda yang sudah diletakkan si Pengatur di sepanjang jalan hidup tersebut. Saya si nggak mau muluk-muluk ngomongin wangsit ya, atau pertanda-pertanda ajaib kaya diguyur ombak pas lamaran. Sederhana aja deh, kalau saya cenderung melihat tiga hal yang masih rasional di bawah ini.

1 . Kesempatan

Kadang pintu kesempatan satu tertutup, pintu kesempatan lain terbuka. Kadang semua pintu tertutup dan kita diminta menunggu. Ya sama saja menurut saya, nikah atau studi itu yo tergantung kesempatan…. Mana kesempatan yang terbuka itulah jalan hidup. Masa jalan hidup kita cuma nungguin pintu yang ga dibuka-buka….. Masa sih Tuhan sebercanda itu….

Nah kalau ngomongin jalan hidup saya, beberapa teman dekat mungkin tau kalau cita-cita saya adalah kuliah ke Amrik lalu nikah usia 27an lah. Tercapai nggak? Enggak. Boro-boro sempat lanjut kuliah, daftar juga kagak. Logo kampus impian yang dipasang di desktop komputer berganti dengan foto mas mas ganteng, yang wajahnya mirip dimas seto + bapaknya boboho. Saya nikah umur 25.

Why?

Alasannya sederhana banget sih, lha wong jodoh sudah di depan mata. Ngajak kawin eh nikah sejak umur 23. Sedangkan buat sekolah saya masih harus nunggu beasiswa, buat dapet beasiswa harus nunggu pangkat golongan tertentu karena saya abdi negara. Buat dapat pangkat dan golongan tertentu saya harus nunggu masa jabatan beberapa tahun lagi. Nunggu nunggu nunggu. Huft. Jadi yaudah, tarik massss…. nikah yuk.

“Tapi kan kesempatan itu harus dibuat Nyah? Bukan cuma ditunggu jatuh dari langit….”

Eh bener juga yak…. Coba kalau gitu kita ke pertanda berikutnya:

2 . Kemampuan

Yang perlu direnungkan saat galau memilih antara menikah atau lanjut sekolah adalah tentang kemampuan diri. Ngukur diri. Lebih mampu mana antara nikah atau sekolah? Karena masing-masing pilihan kan membawa konsekuensinya masing-masing. Mampukah kita menerima konsekuensi dari pilihan kita tersebut itu juga wajib jadi pertimbangan.

Melanjutkan pendidikan S2 atau S3 tentu butuh kemampuan akademis. Menikah juga merupakah hal yang besar. Memutuskan untuk memilih salah satu berdasarkan keinginan sesaat tanpa mempertimbangkan kemampuan, menurut saya, adalah tindakan yang tidak bertanggungjawab.

Apalagi jika pilihan itu membuat penundaan atas pilihan yang lain…. Iye kan? Bayangkan saja, memilih nikah, namun karena belum siap mental malah jadi penggerutu. Menyesal mulu. Kan kasihan pasangannya. Iye kan? Atau malah sebaliknya, sudah nunda nikah karena mau lanjut kuliah, eh setelah lanjut ternyata nggak lulus lulus…. Hmmm…. dikepret Mr. Snape nyaho lo….

Related post: Mempersiapkan Pernikahan

Pada prinsipnya, saya percaya kemampuan yang diberikan Tuhan juga merupakan salah satu pertanda jalan hidup yang dipetakan dalam diri kita. Ikuti tandaNya.

*Kemampuan di sini termasuk juga kemampuan untuk membuat kesempatan ya.

3 . Keinginan

Last but not least, adalah keinginan. Dengerin kata hati. Tapi jujurlah dengan hati kita sendiri. Saya percaya kata hati yang jujur adalah pertanda dari Tuhan juga. Iye kan? Kalau kesempatan sudah di depan mata, kemampuan juga sudah mumpuni. Tapi kita ga pengen kuliah. Ya masa dipaksa. Begitu juga sebaliknya.

Kisah suami saya, mungkin bisa mencerminkan pengambilan keputusan antara kuliah dengan menikah yang murni karena keinginan hati. Tuan Besar, berhenti kuliah S2 saat sedang cum laude cum laude-nya. Beliau dengan sadar menDOkan diri dan pindah Jakarta. Nggak nunggu uang banyak, nggak nunggu juga dukungan semua orang. Madep mantep kata orang Jawa, yuk berangkat.

Related Post: 12 Dokumen Persyaratan Pernikahan (Catatan Sipil)

Why?

Sederhana banget, karena dia sudah kepingin nikah. Yah, walaupun setiap ditanya kenapa, dia jawab muter-muter tentang urgensi bla bla bla lah serta prioritas lalala lah…. Namun, saya yakin alasan yang sesungguhnya tak lain dan tak bukan adalah karena dia uda pengen membina rumah tangga. Dengan saya *GR*. Sesederhana itu.

Trus dari mana kita bisa dengerin kata hati yang jujur. Ah elah, masa nyonyamalas yang unyu unyu ini harus ngomongin beginian. Take your silent time Bro and Sist, God will lead you…. I know you know what I mean ;*

nikah atau kuliah

Demikian pendapat saya tentang memilih antar nikah dan sekolah. Semuanya balik ke pilihan masing-masing individu. Yang penting Realistis aja laaaaaahhhh….

Temen bloger saya juga menulis tentang pengalamannya memilih antara Nikah dan Kuliah di usianya yang (menurut saya) masih muda banget. Simak pendapatnya di Kuliah atau Nikah: Dilema Milenials di Tengah Nyinyiran Orang.

Salam sayang…..

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Pengalaman Melunasi Utang KTA Mandiri

reksadana usia muda

Ini cerita pengalaman saya melunasi utang KTA Bank Mandiri. FYI, KTA itu Kredit Tanpa Agunan dari Bank Mandiri. Masih sebagian si ngelunasinya, belum semua, tapi rasanya seneeeeeng…. Uda selangkah lebih dekat dengan pelunasan. Doain ya jemaah biar segera lunas nas nas. Amiiiin.

Sebelumnya saya kira prosedurnya bakalan ribet, ternyata engga seribet yang saya bayangkan. Sebelum saya cerita prosedurnya, saya pengen cerita latar belakang pelunasan hutang ini dulu….

Kenapa mau bayar hutang sebelum jatuh tempo?

1. Karena utang saya ini sifatnya konsumtif.

Jadi hutangnya dulu buat beli tanah yang ga produktif. Kalau untuk usaha kan produktif ya, jadi laba hasil usaha bisa buat bayar cicilan. Itu beda kasus. Saya menghormati juga rekan-rekan yang berani mengambil risiko demi membangun usahanya. Namun karena tanah yang saya beli (sementara ini) nganggur, ga menghasilkan cash in flow dan saya bayar pakai duit gaji, jadi saya pengen hutang ini segera sirna.

2. Mumpung punya duit daripada buat foya foya (halah).

Ini karena saya mengenal perilaku keuangan saya pribadi. Saya ga bisa pegang kas atau setara kas yang sifatnya liquid (mudah dicairkan). Pasti bakal menyublim jadi barang-barang belanjaan, atau makanan enak. Hehehe. Oleh karena itu, pas saya dapat THR, suami dan saya langsung cus mengalokasikannya untuk bayar utang. Sesaat setelah menerima THR.

Mungkin hal ini bisa diterapkan teman-teman juga ya. Saya tidak menyesal menyisihkan THR untuk membayar utang lebih dulu. Karena jika menunggu sisa, kayanya kok habis habis terus ya. Hehehe….

Related Post: Pengalaman Berinvestasi di Reksadana

Related Post: Tips Perencanaan Keuangan Keluarga

3. Biar hati tenang.

Mungkin teman-teman yang beragama muslim akan teringat tentang riba. Saya tidak membahasnya karena memang tidak paham riba. Teman sesama bloger saya, Girly, pernah membahas tentang riba dan tips menghindari riba di tabungan di blognya.

Saya pribadi walau tidak berpikir terkait riba, tetep saja di hati resah rasanya kalau punya tanggungan. Bukan kawatir mati sebelum lunas juga si, karena saya tahu KTA itu kan ada asuransi jiwanya. Tapi resah aja gitu. Adakah yang merasakan hal yang sama?

4. Demi perencanaan keuangan yang lain.

A man in debt is so far a slave,” kata Ralph Waldo Emerson terkait dengan alasan saya ke empat ini. Karena saya pengen bebas makanya saya berusaha melunasi hutang sesegera mungkin. Jadi, saya dan suami punya impian untuk bisa kerja pakai kolor alias kerja di rumah aja suatu hari. Nah, kerja freelance kan ga pasti ya, kadang ada duit kadang engga. Sementara kalau saya punya utang di bank, saya kan harus nyicil per bulannya. Deg-degan kan. Biar bisa mewujudkan impian tadi dengan lebih tenang dan juga nyaman, melunasi utang sesegera mungkin.

Sumber: giphy.com

Berikut prosedur pelunasannya yaaa….

Sebelum melanjutkan ke prosedur, saya ingin menekankan bahwa saya bukan petugas atau pegawai Bank manapun. Apa yang saya tulis di sini murni merupakan pengalaman pribadi dan tidak menggantikan informasi resmi dari pihak bank. Saya harap pengalaman saya bermanfaat sebagai bayangan awal, bukan sebagai konsultasi, karena masing-masing bank memiliki prosedur yang mungkin berbeda. Saya juga menghargai perbedaan preferensi perbankan yang mungkin dimiliki oleh teman-teman semua. 🙂

1. Datang ke Bank.

Pastikan datang ke kantor cabang yang tepat ya…. yang ada petugas kreditnya. Saya sempat sekali datang ke kantor yang ga ada petugas kreditnya. Jadi harus moving ke kantor lain, yang untungnya deket. Terus lagi saya ternyata dulu pengurusan kreditnya di pusat. Tapi untungnya bisa diurusin sama petugas kredit yang di cabang.

2. Konsultasi dengan petugas kredit.

Wajib yak! Tanya-tanya dulu, berapa pinalty, berapa sisa pokok utang, berapa lama harus menyicil, dsb dst. Bandingkan apa keuntungan dan kerugian kalau kita bayar sesuai waktu dengan kalau kita melakukan pelunasan lebih awal. Soalnya asumsi kita kadang kan beda sama Bank, jadi biar clear aja. Sehingga saat sudah dilakukan pelunasan tidak ada dendam di antara kita.

3. Mengisi form pelunasan utang.

Form pelunasan hutang ini sangat sederhana hanya satu lembar. Data yang diperlukan nama, no rekening hutang sama no rekening deposit untuk pembayaran utangnya. Di dalam form ini ada pilihan khusus untuk yang melakukan pelunasan sebagian. Ada pilihan terkait jumlah cicilan dan jumlah waktu cicilan. Pilihan pertama, cicilan tetap namun waktu makin pendek atau pilihan kedua, waktu pelunasan tetap namun besaran cicilannya mengecil. Kalau saya karena pengen segera lunas maka saya memilih yang pertama.

4. Menandatangani form tersebut di nomor 2.

Jika sudah yakin, tanda tangani formnya ya…. 🙂

5. Menyerahkan foto kopi KTP.

Kemarin saya ga bawa jadi difotokopiin sama petugas kreditnya. Oiya, fi form pelunasan utang, ada tulisan permintaan fotokopi KTP suami, namun kemarin saya tidak dimintai.

6. Deposit uang.

Sediakan deposit uang di rekening sebesar jumlah yang mau dibayar + biaya pinalty. Biaya penalty? Yap! Memang ada biaya yang harus ditanggung jika mau melakukan pelunasan sebagian atau pelunasan seluruhnya. Di tahun 2017 ini besarnya 2% x jumlah besaran yang dibayarkan. Dulu padahal 1% #kraaay. Namun karena sudah niat. Yawis ikhlaskan, hempaskan. Hehehe…

7. Menunggu proses.

Agar selama proses kita bisa follow up ke petugas kreditnya maka jangan lupa tanya nama dan nomor hape petugasnya ya.

8. Konfirmasi.

Setelah proses selesai, deposit kita akan otomatis dipotong dari rekening. Nah, pengalaman saya kemarin petugas kredit tidak mengonfirmasi ke saya. Jadi karena saya yang berkepentingan, saya yang berinisiatif untuk menghubungi terlebih dahulu.

Sumber: giphy.com

Kurang lebih gitu pengalaman melunasi hutang KTA Mandiri yang saya alami di bulan Juli 2017. Ada kemungkinan prosedur di masa depan akan berubah. Namun walau begitu, semoga sharing saya bermanfaat untuk memberi gambaran kepada teman-teman yang juga mau melunasi hutangnya yaaaa….

Semoga sukses. Salam sayaaaaang….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

[Review] Cetaphil Baby Gentle Wash and Shampoo

cetaphil baby review

Pengalaman baik sebelumnya dengan produk Cetaphil Gentle Skin Cleanser (yang untuk orang dewasa), membuat saya tertarik mencoba produk cetaphil untuk bayi. Cetaphil Baby ini produk-produknya lumayan lengkap dari shampo, baby wash, body lotion sampai ke tisu basahnya. Tapi karena saya dari Neng Gaya lahir tidak menggunakan banyak kosmetika bayi (ga mau rempong, hahaha), saya akhirnya mencoba Cetaphil Baby Gentle Wash and Shampoo saja. Berikut reviewnya setelah kurang lebih menggunakannya selama beberapa minggu:

cetaphil baby depan

Keterangan Produk

Cetaphil Baby Gentle Wash and Shampoo, adalah produk pembersih badan sekaligus rambut yang diformulasi aman untuk bayi, bahkan untuk bayi baru lahir sekalipun. Produk ini produk buatan Jerman yang diimpor ke Indonesia dengan POM NC16160701226.

Tekstur, fragrance

Tekstur produknya seperti sabun cair biasa, namun tidak terlalu kental. Ketika dibusakan tidak mengeluarkan busa, karena memang dinyatakan di kemasannya bahwa produk ini soap free. Saya cek di ingredientsnya memang tidak ada SLS-nya.

cetaphil baby tekstur

cetaphil baby busa

Untuk wanginya, wangi khas produk bayi, namun tidak terlalu menyengat. Soft. Saya suka sekali dengan wanginya. Cukup bertahan lama sampai siang kalau dicium ke kulit, namun jika sekedar bersebelahan saja tidak cukup tercium.

Kemasan

Kemasan berbentuk tube gepeng, dan tidak tersedia yang berbentuk pump seperti produk yang untuk dewasa. Saya agak sedih karena menurut saya lebih mudah menggunakan produk mandi bayi yang berbentuk pump, karena tangan kita yang satunya kan memegang bayi (terutama newborn), jadi agak rempong buka tutup tubenya. Apalagi ujung tube cetaphil babi ini berbentuk lonjong jadi tidak bisa diletakkan terbalik. Solusinya tube diletakkan horizontal. Riskan sekali isinya mengalir keluar, awalnya saya berpikir demikian. Syukurlah di bagian lubang tutupnya ada valve dari silikon, jadi tidak tumpah jika tubenya tidak ditekan. But, please Cetaphil, next time keluarin juga yang kemasan pump dong! Hehehe….

cetaphil baby valve

Formula

Sebagai gentle wash dan shampoo, tentu saja formulanya harus yang lembut ya, sesuai namanya. Cetaphil Baby si menyatakan bahwa produk ini lembut di mata (tear free), bebas dari sabun yang sering kali membuat kulit kering (soap free), hypoallergenic serta pH balanced. Produk ini juga dinyatakan dermatological tested. Oiya, secara khusus Cetaphil Gentle Wash dan Shampo menyatakan bahwa produknya diperkaya dengan Glycerin dan Pathenol. Produk ini tidak mengandung paraben, just in case you might concern.

cetaphil baby belakang

Saya mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang Glycerin dan Panthenol ini di Paula’s Choice Ingredients Dictionary.

Glycerin: diberi rating BEST, dinyatakan sebagai zat yang memperbaiki kelembaban kulit terluar dengan menyerap air dari lapisan yang lebih dalam. Kandungan glycerin dapat memperbaiki serta mencegah kulit mengalami kekeringan.

Panthenol: nama lain dari Pro vitamin B5, diberi rating BEST juga oleh Paula’s Choice. Sifatnya juga melembabkan dan mempertahankan kelembaban kulit. Karena curiga dengan namanya yang ada embel-embel -enol-enol seperti alkohol, saya mencoba mengecek kehalalannya. Ternyata bahan Panthenol ini dinyatakan halal oleh LPPOM MUI. Namun, produk Cetaphil Baby ini sendiri belum menampilkan logo halal di kemasannya.

Kegunaan dan Anjuran Pemakaian

Kegunaannya tidak berbeda dengan produk pembersih badan dan rambut bayi lainnya yaitu membersihkan.

Dapat digunakan menggunakan tangan langsung ataupun lap mandi dan dipakai sebagaimana menggunakan produk mandi biasa.

cetaphil baby review

Results

Kulit serta rambut bayi saya terasa bersih dan wangi, serta tidak kering. Hal itu adalah yang saya rasakan setelah Neng Gaya mandi. Rambutnya juga tidak lepek.

Karena saya tidak dapat menanyakan kesan pemakaian pada bayi saya berhubung dia belum bisa ngomong. Saya juga mencobanya sendiri sebagai pencuci muka. Jujur, saya lebih suka Cetaphil Gentle Wash dibandingkan dengan Cetaphil Baby. Walaupun sama-sama terasa bersih namun, saat saya menggunakan Cetaphil Baby kulit terasa sedikit tertarik namun tidak kering juga sih.

Pengalaman berkesan terkait penggunaan Cetaphil Baby adalah saat punggung suami saya kering. Saya menyarankannya untuk menggunakan Cetaphil (sebenarnya yang saya sarankan adalah yang Gentle Skin Clenaser milik saya), namun dia menggunakan yang Cetaphil Baby. Dan it woorrrkkkss!! Kulit punggung yang tadinya kering jadi membaik. Jadi kandungan Glycerinnya memang bekerja yak! Two thumbs up!

Pros and Cons

Pros:

  • Formulanya lembut, Hypoallergenic, pH balanced
  • Tidak pedih di mata
  • Berbentuk top to toe wash
  • Saya suka sekali dengan wanginya

Cons:

  • Harganya relatif mahal
  • Kemasannya berbentuk tube, jadi susah memencetnya dengan tangan satu.

Rating: 9/10, produk ini bagus.

Repurchase? No, karena di atas budget saya.

Availability & Where to Buy

Saya membelinya di Shopee secara online, untuk toko offline saya pernah melihatnya di Guardian dan Century.

Harga:

Rp 98.000,00 untuk 230 ml. Sayangnya, tidak seperti kakaknya si Cetaphil Gentle Skin Cleanser yang sering ada promo buy 1 get 1 nya di Guardian, produk ini belum pernah saya lihat ada diskonnnnnyaaaaaa….. Hiks hiks hiks…..

Related post: Review Cetaphil Gentle Skin Cleanser di blog ratnadewi.me.

Semoga review ini bermanfaat yaaa…. Salam sayang selalu….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Tes Denver, Screening Tumbuh Kembang Anak

tes denver tumbuh kebang anak

Saya membahas screening tumbuh kembang anak ini bukan karena saya ibu yang sakseis dan telah sempurna dalam menstimulasi anak. Tapi mungkin karena saya ibu yang banyak kesalahan makanya saya punya banyak hal untuk diceritakan. Hahaha…. Kalau orang lain share keberhasilan, saya mah share kegagalan melulu yak. Tapi, semoga up and down saya ini bisa jadi pelajaran untuk kita semua yaaa….

tes denver tumbuh kebang anak

Pertama kali saya mengenal tes denver adalah ketika Neng Gaya usia 4 bulan. Saat itu, seperti biasa, saya ke klinik untuk imunisasi bulanan sekaligus cek perkembangan bayi saya. Nah salah satu tool yang dijadikan acuan untuk cek perkembangan adalah form tes denver.

Jangan dibayangkan tes denver itu serius banget ya kaya ujian saringan masuk perguruan tinggi. Tentu tidak. Malah tesnya kaya mainan aja. Dokter sama bayi saling berhadapan dan dokter mulai memainkan beberapa barang, kemudian melihat respon bayinya gimana. Udah gitu kira-kira. Saya rasa sebenarnya tes ini juga bisa kali ya dilakukan para orang tua di rumah masing-masing.

Related Post: Review Klinik Bintaro Women and Children Clinic

Nah di usia 4 bulan, harusnya tangan bayi sudah MULAI menggapai benda yang di gerakkan di hadapannya. Namun Gayatri tidak merespon sama sekali. Dokter bilang tidak usah kawatir karena ada rentang sampai dengan usia 6 bulan. Sebagian besar bayi pun baru menunjukkan tanda demikian di usia 5 bulanan.

Tapi sebagai ibu kan ada kekawatiran tersendiri dong. Hihihi…. maklum anak pertama kan yes. Lagipula saat benda yang dipegang dokter digerakkan di hadapan Neng Gaya, yang berespon bukan tangan melainkan kakinya. Apakah anak ini kidal? Tapi kidalnya bukan tukar kiri kanan, melainkan tangan ke kaki. Hahhhh…. masa bisa begitu??? Ya kira-kira pikiran saya seperti itu bunyinya. 😬

Lalu saya tanya mengapa kok bisa tidak merespon dan apa yang harus dilakukan ke depannya. Dokter menanyakan bagaimana biasanya di rumah apakah dia sudah disimulasi dengan cukup. Saya lalu cerita kalau di kamarnya ada mainan seperti ini:

Berdasar buku yang saya baca (((aseeekkk rajin baca))) kan ini stimulasi yang tepat untuk tangan anak. Melatihnya untuk melihat, tertarik dan menggapai-gapai. Tapi kata dokter, ternyata selama ini saya salah taruh gawang mainan tersebut. Alih-alih saya taruh di atas dada bayi, malah saya taruh di atas lutut. Pantesaaaaannn, pas di tes yang gerak bukan tangan malah kakiiiii. Karena dia terbiasa terstimulasi kakinya. 😅

Hedeeehhh…..

Jadi tes denver tu apa ya…

Semacam screening untuk melihat perkembangan bayi. Form Denver dikembangkan melalui penelitian atas berbagai kelompok usia dan menghasilkan suatu skala tentang presentase anak yang dapat melakukan suatu aktivitas/ perilaku tertentu. Skala ini digambarkan dengan “kotak perilaku” sebagai berikut:

kotak perilaku

Perhatikan kotak paling kiri atas yang bertuliskan MACAM TES. Di atas kotak terdapat keterangan Persentase anak yang lulus lalu ada tulisan lagi 25, 50, 75, 90. Hal ini menggambarkan persentase anak yang dapat melaksanakan perilaku saat dilakukan penelitian. Contohnya lihat di sisi kanan paling atas pada tes “MENYIAPKAN SEREAL”, jika ditarik ke atas kotak putih bermula di usia 3 tahun, berarti saat diteliti ada sekitar 25% anak yang mampu menyiapkan serealnya pada usia 3 tahun, sementara yang lainnya secara bertahap sampai usia 5 tahun (dimana kotak hijau berakhir). Jika di atas usia 5 tahun, anak kita belum dapat menyiapkan sereal, maka perlu menjadi perhatian khusus.

Saya lebih suka menyebut tes ini sebagai screening, alias deteksi dini. Karena diperlukan tes yang lebih lanjut untuk menentukan keterlambatan tumbuh kembang anak yang lebih spesifik. Walaupun demikian secreening ini banyak sekali lo manfaatnya, lagipula untuk melakuannya pun relatif mudah.

Manfaatnya Tes Denver kurang lebih sebagai berikut….

  1. Menilai dan memantau perkembangan anak apakah sesuai usianya atau tidak,
  2. Identifikasi perhatian orang tua tentang perkembangan anak,
  3. Sebagai salah satu antisipasi bagi orang tua jika terdapat tanda-tanda ketertinggalan,
  4. Berdasarkan hasil, orang tua dapat mengajarkan perilaku yang tepat sesuai usia anak.

Kira-kira formnya seperti ini….

Di sisi diagonal atas, ada angka-angka yang menggambarkan usia bayi dalam bulan. Di dalam form ada kotak-kotak yang berisi perilaku-perilaku yang letaknya berbeda-beda. Form-nya secara utuh sebagai berikut:

form denver

Bagaimana cara membacanya….

Buat garis tegak lurus dari titik usia yang ada di margin atas. Garis lurus tersebut menunjukkan posisi usia bayi. Di sekitar garis usia tersebut ada kotak-kotak perilaku. Perhatikan kotak perilaku yang terkena garis usia, atau yang dekat sekali dengan gars usia. Perhatikan apa saja perilaku-perilaku tersebut, lalu amati apakah bayi sudah bisa melakukan perilaku tersebut.

Jika perilaku yang ada di sebelah kanan garis usia sudah dapat dilakukan oleh bayi, maka selamat anak anda super sekali! Karena secara umum dapat melakukan perilaku sebelum rata-rata anak lain. Jika garis usia anak anak di kotak putih/ hijau dan anak berhasil melakukan perilaku yang tersebut berarti normal. Namun jika ada di kotak hijau dan anak masih menolak. gagal/ tidak teramati sehari-hari dapat melakukan hal tersebut maka perlu diberikan perhatian khusus.

Bukan selalu berarti anaknya “lambat” ya. Tidak perlulah penghakiman seperti demikian. Yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi lagi kegiatan anak sehari-hari. Jangan-jangan seperti yang saya lakukan tadi, memberikan stimulasi yang kurang tepat.

Intinya, Tes Denver bukan untuk membandingkan anak kita lebih dari anak lain atau engga, atau sebaliknya. Tumbuh kembang bukanlah arena motor sport yang tagline-nya “yang unggul selalu di depan”. Namun, seperti manfaat yang saya jabarkan di atas tadi, Tes Denver lebih bermanfaat sebagai masukan bagi orang tua untuk melakukan ikhtiar dengan cara yang tepat sesuai dengan perkembangan anaknya.

Related Post: Kidzania dan Manfaat Bermain Bersama Orang Tua

Lesson learn….

Sepulang dari klinik dua bulan lalu itu, ada dua hal yang terngiang-ngiang di kepala saya:

  1. Saya jadi ngeh kalau form denver ini bisa saya pakai sehari-hari. Ga perlu waktu khusus ke klinik, saya jadi bisa ngukur perkembangan anak juga secara mandiri. Kalau pas main eeeeh, kok tiba-tiba dia menunjukkan kemampuan terrtentu. Langsung aja tandain di form. Ini pentingnya buat ibu-ibu niiiihhh! BIAR GA BAPERAN, kalau ada yang komentar nylekit tentang perkembangan anak. Misal, “Kok belum ini kok belum itu, ini anak saya uda bisa sulap lhooh!”. Kita jadi lebih siap “menangkis” atau setidaknya menenangkan hati. Karena kan kita bisa cek rata-rata dan rentang waktu tumbuh kembang anak. Yeeeeee!!!! Tapi kalau ternyata komentarnya berdasar ya, kita juga harus membuka diri untuk memperbaiki stimulasi yang kita berikan kepada bayi kita. Toh ini juga demi kebaikan anak kita ya buuukkk….
  2. Saya jadi sadar kalau punya mainan tapi ga ngerti menggunakannya sama aja bohong. Hahaha…. jadi apa yang disasar malah meleset kaya kesalahan saya tadi. Selain itu, saya juga jadi makin kritis memilih mainan. Makin ngerti apa gunanya mainan, jadinya lebih cerdas aja pas beli. Cerdas = medit. O yeah #kekepindompet #mamakmedit. Kalau ada yang lebih tepat, kenapa juga harus milih yang mahal? Kalo sama aja manfaat mainannya? Iya kaaan? Hahaha, pembenaran. Bilang aja ga mampu Nyah…. Hihihi…. Beberapa stimulasi atau permainan yang saya terapkan ke anak bisa dilihat di akun IG saya @nyonyamalas berikut. Yukkk follow followw!

Oiya, mau mengingatkan juga kalau tulisan saya ini murni pengalaman pribadi, sehingga tidak dapat menggantikan pendapat dokter. Saya menyadari jika bahasan ini terlalu sederhana karena keterbatasan pemahaman saya. Namun, tetep, karena saya merasa hal ini bermanfaat bagi saya, maka saya ingin membagikannya. Bukan ingin menggurui loooh. Apalah saya ini, hanyalah remah-remah oreo di atas cheesecake. Ga penting sih, tapi bikin enak kaaaan? ;-* wkwkwkw.

Semoga sharing kali ini bermanfaat ya….. Jika ada yang berkenan memberikan masukan dan koreksi (terutama di istilah kesehatan), saya berterimakasih sekali! 🙂

Akhir kata, semangat selalu dan bergembiralah!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Working Mom Essentials, Persiapan Kembali Ke Kantor Setelah Melahirkan

judul

Menjadi ibu pekerja di akhir cuti bersalin itu pasti deg-degan. Apalagi saat persiapan kembali ke kantor setelah melahirkan. Saat-saat ini krusial banget karena menentukan juga keberhasilan pemberian ASI saat ibu tidak di rumah. Selain ketenangan hati ada beberapa barang yang menurut saya penting dan perlu untuk dipersiapkan dengan baik. Barang-barang tsb adalah sbb:

1 . Media Penyimpanan ASIP

Poin pertama ini sepertinya wajib punya, jika Nyonyah berencana untuk tetap memberikan ASI dengan ASIP (Air Susu Ibu Perah). Media yang dipakai biasanya adalah botol kaca dengan tutup, atau plastik khusus ASIP. Saya sendiri menggunakan botol kaca khusus untuk ASIP dengan beberapa alasan:

  1. Sudah punya banyak botol kaca pemberian dari rekan-rekan,
  2. Sisa ASI cenderung tidak menempel pada kaca,
  3. Bisa untuk menyimpan ASIP dalam waktu yang relatif lebih lama dari pada penyimpanan plastik (bisa lebih dari tiga hari),
  4. Pasti food grade dan BPA free.

botol

Namun kelemahan dari botol kaca ini adalah menuh-menuhin freezer. Hal ini pasti jadi cncern tersendiri terutama bagi Nyonyah yang space freezernya terbatas. Selain makan tempat, membawa botol kaca ke kantor tentu juga menambah beban bagi Nyonyah.

Harga botol kaca/ pc antara Rp 3.000,00 s.d. Rp 8.000,00

Harga plastik ASI antara Rp 1.000,00 s.d. Rp 4.000,00 (makin lucu-lucu motifnya makin mahal, hehehe)

Where to buy: online di Tokopedia atau Shopee

2 . Sarana Pemberian ASI

Kalau membahas sarana pemberian ASI di grup ibu-ibu menyusui tertentu biasanya banyak muncul pro kontra. Sebagian Ibu berpendapat pemberian menggunakan sendok atau soft cup lebih baik karena mencegah bingung puting. Sebagian yang lain (ibu dan bayinya) mengalami kesulitan melakukan pemberian ASIP menggunakan sendok dan atau soft cup.

Saya termasuk yang kedua. Ini ceritanya agak panjang, gapapa ya…. latar belakang pemilihan sarana pemberian ASI itu penting soalnya.

dot1

Neng Gaya pertama kali minum susu tidak langsung dari saya adalah ketika dia harus dirawat di ruang perinatal (usia 4 hari). Saat itu media yang pertama kali dicoba adalah dot. Jangan bayangkan dot yang bagus ya, hehehe. Karena namanya darurat, Neng Gaya harus rawat inap per malam hari, dot yang kami gunakan adalah dot bawaan breastpump. Paginya suster mencoba media sendok. Namun ternyata penggunaan sendok menyulitkan Neng Gaya. Antara tidak sabar dan lemas, ASIP hanya disembur-sembur.

Walaupun ada kekawatiran bakal bingung puting, kami melanjutkan menggunakan dot selama di luar jam besuk. Sambil harap-harap cemas, karena saya menyadari setiap peralihan dari dot ke direct breastfeed, Neng Gaya seperti harus adaptasi lagi dan lagi. Ya, karena kan kalau menggunakan dot, ASIP akan menetes walau tidak disedot. Ada jeda bengong yang cukup lama, sampai akhirnya si Eneng sadar kalau saat menyusu langsung, dia harus menghisap supaya ASInya keluar.

Setelah pulang ke rumah, saya sempat beli soft cup. Harganya lumayan aduhai ya…. Untung saat itu beli dari temen. Dia jual soft cup-nya yang baru 1-2 kali pakai, karena anaknya kesulitan diberi minum menggunakan soft cup. Dan ternyata kesulitan itu juga terjadi pada mama mertua (yang mengasuh anak saya) dan Neng Gaya. Terulanglah kembali kejadian ASIP disembur-sembur. Banyak faktor yang terlibat, selain bayinya emang tidak sabar, mama mertua juga tampak kesulitan menggunakan soft cup. Akhirnya demi kemaslahatan banyak anggota keluarga, akhirnya kami memutuskan tetap menggunakan dot.

Keputusan ini tentu tidak bisa dijadikan acuan Nyonya serta merta ya…. Tetapi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Saya percaya bingung puting does exist, karena ada teman yang mengalaminya. Saya termasuk beruntung karena tidak mengalami hal tersebut. Walaupun saya tidak mengalami hal tersbut bukan berarti saya jadi sembarangan menggunakan dot. Menurut saya pemilihan dot juga menjadi salah satu penentu keberhasilan pemberian ASIP.

dot2

Kalau ditanya dot apa yang digunakan bayi saya saat ini adalah Phillips Avent 2.0. Apa yang saya suka dari merk dan tipe ini:

  1. Bentuknya dotnya menyerupai payudara, jadi leher botol dan dotnya lebar, pelekatan anak ke botol mirip seperti jika bayi menyusu langsung ke tubuh saya. Ini penting menurut saya karena kalau saya perhatikan dengan botol yang lehernya kecil, bayi cenderung hanya menarik bagian puting tidak sampai aerola.
  2. Bahan dotnya kenyal (tidak lembik, tidak pejal atau keras) namun cukup lembut seperti kulit,
  3. Desain ulir spiral, infonya hal ini memudahkan pergerakan lidah,
  4. ASIP tidak menetes saat tidak dihisap, hal ini yang membuat saya tenang terkait bingung puting,
  5. Botolnya mudah dipegang. Awalnya saya sempat kawatir Neng Gaya kesulitan karena ukuran botolnya gendut, tenyata tidak.

Harga: yang 125 ml sekitar Rp 100.000,00, yang 250 ml sekitar Rp 170.000,00.

Where to buy: di baby shop atau online shop.

3 . Cooler Bag + Ice Pack

Nyonyah bisa mempertimbangkan antara cooler bag atau cooler box ya. Hanya saja karena pertimbangan kepraktisan dan kenyamanan untuk dibawa kesana kemari, saya memilih cooler bag. Cooler bag penting buat saya karena kan kita mamah mamah pumping yak, jadi biar aman kondisi ASIP tetap baik sampai di rumah. Pengalaman saya selama ini menggunakan cooler bag dengan 2 ice pack beku, ASIP masih bertahan dari saya pumping pertama sekitar jam 9 pagi sampai dengan saya sampai di rumah jam 6 sore.

Mengapa harus 2 ice pack? Sebenarnya bisa saja ASIP di taruh di freezer kantor atau kulkas laktasi, namun karena kulkas kantor sering juga ditaruh makanan-makanan lain, saya prefer untuk taruh di cooler bag daripada di kulkas kantor. Untuk yang kulkas kantornya steril bisa disesuaikan jumlah ice pack yang mau digunakan ya.

gabag

Tips dari saya dalam memilih cooler bag:

  1. Pilih yang ada ruang untuk penyimpanan breastpump dan barang lain. Sehingga satu tas bisa untuk menyimpan semua barang Nyonyah ke kantor.
  2. Pilih yang modelnya ringkas. Saat ini ada loh yang bentuknya seperti ransel, ada juga yang berbentuk tas kerja. Saya sendiri punyanya yang berbentuk goodie bag (pilihan suami). Padahal saya pengennya yang ransel huhuhu. Alasan suami biar saya sedikit feminin sedikit. Hahaha….
  3. Perhatikan kualitas jahitan ya. Kalau Nyonyah berangkat naik KRL pilih yang super kuat, jangan sampai ASIP tumpah pas di jalan. Kan bisa nangis guling-guling. Pokoknya kekuatan nomor satu, kecantikan model nomor dua dah. Buat yang bawa kendaraan sendiri mungkin bisa lebih leluasa memilih yang cantik cantik.

Cooler bag yang saya miliki hanya satu, merk Gabag. So far saya puas dengan produk ini. Pas saya lihat jahitannya seperti ringkih. Namun ternyata sampai 6 bulan masih aman. Mungkin karena saya telaten dalam merawatnya? Hmmmm…. sepertinya tidak, hehehe.

Harga cooler bag: Rp 190.000,00.

Harga Ice pack: sekitar Rp 30.000,00 per pc.

Where to buy: baby shop Maebebe Bintaro, online juga banyak sih.

Dua poin berikutnya sebenarnya adalah optional, namun termasuk yang menurut saya layak dipertimbangkan jika Nyonyah ada rejeki berlebih. Saya bahasnya singkat-singkat saja ya…..

4 . Breast pad

Breast pad ini berguna banget untuk menyelamatkan Nyonyah-nyonyah dari tembus ASI, hehehe. Memang sebenarnya kalau Nyonyah rajin pumping, kemungkinan tembusnya kecil, karena kan sudah disalurkan sebelum membludak. Namun yang namanya di tempat kerja kan kadang tidak bisa ditebak ya. Kalau pas ada rally meeting misalnya yang lama, kan agak sungkan juga kalau kita keluar masuk izin pumping. Merk yang saya gunakan Breast Pad Avent, isi satu kotaknya ada 6 pcs. Harganya sekitar Rp 30.000,00 per kotak.

breastpad

5 . Pompa ASI

Buat saya yang nggak bisa merah ASI dengan tangan kosong, pompa ASI elektrik ini life saver bangeeeeeeeettt!!! Namun, ada juga lo ibu-ibu yang hasil perahan ASInya lebih banyak saat menggunakan tangan kosong manual. Selain karena saya kurang mahir memerah menggunakan tangan, manfaat pompa ASI buat saya adalah saya jadi bisa menggunakan waktu pumping untuk me time sambil menunggu si pompa bekerja. Kadang saya ngetik artikel blog di hape, baca-baca berita, medsosan, chatting, nonton film, dll. Pokoknya apapun yang bisa dilakukan sembari duduk dan tangan saya bebas melakukan apa saja.

Doooohhhh…. uda panjang aja ini bahasannya. Padahal tadi niatnya ga sepanjang ini, hehehe…. Bahasan lebih lanjut tentang Pompa ASI nanti saya tulis secara terpisah ya. Takut Nyonyah-nyonyah pada blenger baca artikel kepanjangan…. Kalau sampai tanggal 10 Agustus 2017 saya ga publish artikel tentang Pompa ASI, sok atuh dicolek aja di IG saya @nyonyamalas atau FB nyonyamalas yak…. Saya sering lupaaaa…. Maapkeuuunn….

judul

Semoga sharing kali ini bermanfaat ya Nyah…. Nyonyah juga monggo atuh kalau mau sharing barang essential-nya di kolom komen, supaya nambah info juga buat Nyonyah-nyonyah lainnya….

As usual, feel free to share. Salam sayang :*

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Bingung Memilih Menu MPASI? Jangan Lakukan 5 Hal ini

mpasi

Bulan ini Neng Gaya 6 bulaaaannnn…. Yeaaaayyy!!! Sudah boleh mulai mamam mamam niii. Seperti kebanyakan ibu-ibu (baru) anak satu, segala hal pertama yang dilalui anak pasti bikin gemes-gemes excited. Antara idealisme, penasaran, kekurangtahuan versus kenyataan. Intinya saya bingung memilih menu MPASI.

Siapa ibu muda yang mengalami hal ini? Yuk mari kita tos dulu.

Di tengah kebingungan ini saya banyak sekali mendapat masukan dan juga mencari berbagai sumber. Thanks semuaaaanya yang sudah memberi masukan ya :kiss :kiss. Dalam pencarian tsb, saya sempat makin bikin bingung. Sempet merasa sampai Raisa Hamish punya anak cucu pun, kebingungan saya tak akan berakhir…. Tsaahhh…. Beneran lebay deh. Setelah satu minggu kurang lebih saya menjalankan MPASI, akhirnya kebingungan itu pun sirna sudah.

Nah, kalau ga mau bingung seperti saya, better jangan lakukan 5 hal di bawah ini ya Nyaaah….

1 . Jangan Bertanya pada Sesama Ibu Baru

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada sesama ibu baru, saya wajib menyatakan ini: “Nanya tentang MPASI kepada sesama Ibu baru itu sama aja seperti minta orang buta menuntun orang buta”. Sama kagak ngartinya. Hihihi.

Tapi bukan berarti tidak boleh dilakukan ya. Saya sendiri punya semacam support grup berupa WA group sesama ibu-ibu muda yang anaknya baru lahir di bulan Januari dan Februari 2017. Bisa dibilang ini adalah grup ibu-ibu kesayangan saya banget. Berbagai printilan dan drama MPASI dibahas di sini. Hanya ketika diskusi dengan ibu baru, tujuannya lebih kepada saling menyemangati, dan berbagi rasa senasib sepenanggungan. Oiya, satu lagi, berbagi info diskon. Hehehe. Yang mau follow-follow IG-nya cus ke @bcjanfeb2017 yaaa….

2 . Jangan Bertanya pada Ibu yang Terlalu Tua

Awalnya saya berpendapat mama dan mama mertua pasti punya ilmu yang mumpuni terkait MPASI karena beliau berdua pengalamannya sudah tak diragukan lagi. Tapi ternyata saya salah. Mama saya terakhir bersinggungan dengan MPASI adalah 20 tahun lalu, dimana dulu gencar-gencarnya MPASI siap saji berfortifikasi. Mama dan mama mertua malah agak kawatir memberikan MPASI homemade sebagai MPASI pertama. Alasannya karena MPASI homemade tekstur, kebersihan dan nutrisinya tidak terukur. Ya, saya bisa memahami poinnya sih. Mereka menginginkan yang terbaik juga untuk cucunya.

Lalu satu lagi, mama saya berpendapat usia 4 bulan sudah boleh MPASI. Ya betul, jaman dulu memang MPASI boleh dimulai sejak umur 4 bulan (sekarang juga boleh dengan kondisi tertentu setelah berkonsultasi dengan dokter). Nah, kalau sekarang kan dianjurkannya pada usia 6 bulan. Syukurlah walaupun punya pendapat yang berbeda, Mama selalu menyerahkan keputusan kepada saya.

Bertanya dan berdiskusi dengan ibu yang “terlalu” sepuh berisiko menimbulkan perdebatan dan tudingan “dasar kamuh, anak bau kencur sok tau endebrai endebrai….“. Apalagi kalau kitanya sudah keukeuh dengan salah satu aliran. Hehehe, tapi kalau mamanya sudah modern dan mengikuti perkembangan ilmu perMPASIan, sila kalau mau berdiskusi dengan pikiran terbuka dan kerendahan hati.

Ps. Poin kedua ini tidak berlaku ya, apabila Nyonyah dan Tuan telah sepakat untuk meminta bantuan mamanya/ mama mertua untuk turut mengasuh bayinya. Seperti saya pribadi #curhat, karena mama mertua turut mengasuh Neng Gaya, maka saya tidak mungkin memaksakan kehendak saya sepenuhnya. Ada porsi pendapat beliau untuk menentukan metode seperti apa yang akan dilakukan. Dan menurut saya, hal itu memang layak kita berikan kepada mereka, tentu selama tidak bertentangan dengan anjuran dokter.

3 . Jangan Silau dengan MPASI Fancy Sophisticated Ala Seleb

a . Jangan Silau Dengan Peralatannya

Ga ada yang salah dengan review produk-produk canggih yang dilakukan oleh para seleb. Yang salah itu, kitanya kadang yang kesilauan, dan jadi pengen beli juga, tanpa tau memperhitungkan value for money dari produk tersebut. Atau butuh enggak butuhnya. Kalau pesennya @elizabethzennifer: “Be a smart reader, mom!“. Sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Hal di atas diamini oleh obrolan bareng seorang Mamah Newbie (sebut saja dia Manda -nama sebenarnya- hehehe) di grup birthclub jan-feb17 kesayangan saya tadi. Jadi ceritanya dia sedang curhat ke sepupunya tentang kebingungannya memilih MPASI lalu dijawab:

“Sebenernya MPASI gampang, kamu aja yg bikin ribet. Mau blender? Wes pake blender yg ono (mojok didapur belum pernah dipake). Mau ngukus? Pake panci aja biasa, isi air pakai mangkok lagi udah tunggu deh. Wes beli saringan khusus aja sama piring mangkok. Soalnya sayang beli yg mahal2. Toh makanan lunaknya cuma sebentar sisanya nanti bertahap tekstur makanannya”

Krak!

Euforia Mamah-mamah Newbie yang bersiap mborong alat MPASI pecah berkeping-keping. Tapi sebagian besar member bahkan Manda juga setuju kalau nasihat tadi banyak benarnya.

Sekarang saat googling artikel tentang peralatan MPASI, kalau saya nemu artikel “30 Peralatan MPASI yang WAJIB Dimiliki Bunda”, itu sudah pasti saya dadah-dadahin. Bhay! Kekepin dompet!

b . Jangan Silau Dengan Metodenya

Tahun ini sepertinya dunia per-ibu-ibu-an ramai benget membahas Andien Aisyah @andienaisyah terkait gaya parentingnya. Bagi sebagian orang, gaya parentingnya menginspirasi dan bagi sebagian orang membuat depresi, hehehe. Kalau saya termasuk yang dua-duanya. Jadi kaya love-hate relationship gitu. Kadang kepo, tapi kadang melongo. Hihihi. Follow – unfollow – follow – hmmm unfollow aja deh. Tapi percuma sih, feednya tetep sering nonggol di explore. -.-“

Untuk memulai BLW, bayi harus dalam kondisi sehat dan gizi baik. Makanan yang pertama kali dimakan Kawa adalah labu siam, brokoli, wortel, dan buncis. Semua dikukus. Sampai pada suatu hari ketika saya dan Mas Ippe ikutan kursus privat BLW dengan dokter @ratih_ayu_wulandari .. Kami diperlihatkan chart nutrisi yang tidak lagi bisa dipenuhi hanya dengan ASI saat bayi berusia sekitar setengah tahun. Di peringkat pertama itu zat besi, lalu protein, energi, baru vitamin. Ini membuat kami “engeh” mengapa ati ayam maupun daging banyak diberikan orangtua pada bayi sejak zaman ibu kita dulu. Tapi tidak hanya itu, bisa dicari juga makanan-makanan yang mengandung zat-zat tersebut di atas. . . Cara pemberian makanan untuk BLW adalah makanan dipotong sesuai dengan genggaman bayi. Berlaku untuk semua jenis makanan. Jangan takut untuk memberikan makanan tinggi kalori dan kolesterol. Babies need that. ASI itu mengandung kolesterol tinggi, jadi mereka sudah sangat terbiasa. Dan jangan takut untuk memberikan minyak. Bayi butuh minyak untuk memperlancar BAB mereka. . . Ingatlah untuk selalu percaya, dan selalu mencontohkan. Bukan menyuruhnya, apalagi memaksa ❤️ . . Nah, sekali lagi.. Cari cara MPASI yang paling suitable buat kamu yaaa 😊🙏🏻 Cari info sebanyak-banyaknya, timbang, lalu lihat mana yang paling pas di hati. Tadi saya juga baru diberi tahu bahwa ada komunitas @ceritablw di Indonesia. Sungguh menarik penjabaran mereka. Follow them and get inspired! . . #AnakuAskaraBiru #Kawa6Bulan #KawaBelajar

A post shared by Andien Aisyah (@andienaisyah) on

Ga bisa dipungkiri kalau info di captionnya @andienaisyah memang banyak yang informatif. Terutama tentang metode baby led weaning (BLW) yang dianutnya sebagai metode MPASI Kawa, anaknya. Saya juga sampai beli buku BLW loh, walaupun akhirnya tidak menerapkan metode tersebut. Namun, walaupun informatif, in my humble opinion, beberapa hal tidak dapat diterapkan oleh semua ibu. Tetep lagi, harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing ya Nyah. Kalau sesuai dan Nyonyah memahami keseluruhan pro and cons-nya ya silakan.

Ingat: Ngefans boleh, silau jangan! Unfollow boleh, julid jangan! I know, you know what i mean. 😛

4 . Jangan “Telan” Artikel Mentah-mentah, Cari Jurnal Asli atau Buku

Oke, kesalahan saya lainnya yang jangan ditiru  (selain kebanyakan nongkrongin instagram) adalah kebanyakan mantengin pinterest. Dimana artikel-artikel di sana kebanyakan adalah artikel luar negeri. Bukan berarti artikel luar negeri tu jelek. Bukan gitu, tapi artikel luar negeri ditulis dengan latar belakang luar negeri yang mungkin saja tidak kontekstual dengan kondisi Indonesia.

Contoh gampangannya adalah tentang bahan makanan yang digunakan. Beberapa menggunakan salmon. Bukan berarti saya bilang salmon tidak baik ya. Tidak baik di kantong, iya sih. Hehehe…. Ketika saya membaca mentah-mentah, di pikiran saya yang terlintas tentang protein yang baik untuk bayi ya cuma salmon tok. Padahal kan enggaaaak. Ikan lain juga ada kandungan proteinnya yang tentu juga bermanfaat.

Saya ngeh-nya pas baca jurnalnya WHO. WHO tidak menyebutkan bahan makanan secara spesifik yang sebaiknya dikonsumsi bayi. Karena kan  bahan makanan yang tersedia di tiap daerah berbeda.  Tidak bisa juga kita memaksakan diri alias ngoyoworo mengada-adakan bahan makanan tertentu, sementara mungkin di daerah kita jenis makanan tersebut sulit ditemui. Malah bisa jadi nggak fresh di tangan kita kan.

Jurnalnya bisa di download di link ini: Jurnal MPASI WHO dan di sini: Guidance.

Intinya, cari tahu apa yang melatarbelakangi penggunaan bahan makanan tertentu atau tindakan tertentu dalam artikel, setelah mengamati amati, Nyonyah bisa memutuskan untuk menitu atau memodifikasi secara cerdas dan kreatif. Sekarang saya cenderung memilih jurnal atau buku sebagai acuan karena biasanya di kedua sumber ini pembahasannya lebih panjang lebar. Sehingga informasi yang didapatkan bisa lebih utuh.

5 . Jangan Lupa Konsultasi dengan Dokter Anak atau Bidan

Akhirnyaaaa….. Saya mah kalau sudah bingung larinya ke dokter. Hehehe…. Soalnya kalau anak kenapa-kenapa larinya juga ke dokter sih. Selain berdoa pastinya.

Bukannya saya mendewakan dokter anak saya dan tutup telinga terhadap masukan dari orang awam. Namun, saya percaya pada dokter saya karena bagaimanapun beliau punya ilmu ya. Beliau sudah invest waktu, tenaga dan uang juga untuk belajar bidang ilmunya. Lagipula selama ini beliau dapat saya percaya. Jadi untuk urusan MPASI ini saya juga akan mendengarkan masukannya lebih dari masukan orang lain.

Terbukti, saat ngobrol dengan dokter banyak mitos-mitos yang akhirnya terpecahkan. Seperti tentang pro kontra metode baby led weaning, MPASI instan, MPASI homemade, menu pantangan, dll. Banyak kerumitan menjadi tercerahkan dan pemahaman saya menjadi berimbang. Yang paling penting, kekawatiran sirna sudah.

Artikel terkait: Klinik Ibu dan Anak di Bintaro (Review Women and Children Clinic)

Oiya, jika Nyonyah mengasuh bayinya bersama orang lain selain suami (entah itu mama kandung, mertua atau baby sitter) saya menyarankan agar pengasuh tersebut ikut konsultasi dengan dokter ya. Manfaatnya supaya ilmunya sama. Satu guru satu ilmu. Sehingga meminimalisasi kesalahpahaman saat mengeksekusi MPASI.

***

Sebenernya ada satu lagi sih yang menurut saya JANGAN DILAKUKAN 😀

“Jangan Nanya di Grup Emak-emak yang Galaknya Minta Ampun dan Suka Judging Mamah Mamah Newbie Polos Lugu kaya Aku”

Tapi ga jadi aku jadiin poin. Takut dibully di komen wkwkwkwkwk…..

***

mpasi

Hasil dari pengaplikasiaan dari lima hal di atas bisa jadi berbeda-beda ya. Ada yang akhirnya menemukan cara A dan ada yang memutuskan cara B. Tidak masalah, menurut saya. Saya sendiri pun tidak selalu ngoyo untuk menemukan jawaban yang paling IDEAL. Saya hanya berharap menemukan jawaban yang SESUAI dan baik untuk saya terapkan sesuai dengan kondisi anak dan keseluruhan keluarga (tentunya kondisi ibu juga).

Akhir kata, semoga Nyonyah dihindarkan dari segala bentuk intimidasi, propaganda, hasutan maupun bujuk rayu dari pihak manapun yang membuat para ibu baru bingung dalam menentukan menu MPASI untuk anak-anaknya. Hihihi….

Aminnn…..

Salam sayang….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

My Maternity Bag Stories Part 2, Perlengkapan Bayi yang Perlu Dibawa saat Persalinan

perlengkapan bayi yang harus dibawa saat persalinan

Sebelumnya saya sudah membahas tentang barang keperluan ibu yang perlu dibawa saat persalinan di artikel my maternity bag stories #1. Sekarang giliran perlengkapan bayi yang akan saya bahas. Artikel ini sebenernya sudah lama saya janjikan tapi tak kunjung saya posting. Sampai ditagih-tagih sama temen saya, Neng Dipel yang mau lahiran bulan iniiii….. Doain temen saya persalinannya lancar ya teman-temaaaan…..

Berikut perlengkapan bayi yang menurut saya perlu untuk dibawa saat persalinan:

selimut popok kaus kaki gedong maternity bag

1 . Popok

Mau pakai popok kain maupun disposable diapers is up to mommy ya. Dua-duanya ada baik dan buruknya. Kalau pengalaman saya, dulu membawa dua-duanya. Setengah hari setelah melahirkan, bidan dan dokter di klinik bersalin dimana saya melahirkan menganjurkan untuk menggunakan popok kain dulu. Bukan karena disposable diapers itu ga baik. Hanya saat itu, bidan ingin memantau jumlah pipis bayi. Kalau pakai dispo kan jadi susah terpantau ya. Setelah masa sehari itu, saya mengenakan disposable diapers ke Gayatri, pertama menggunakan ketika perjalanan pulang dari klinik ke rumah. Welcome home gayatri!

Saya saat itu membawa 6 pcs popok kain dan 13 pcs disposable diapers.

Artikel terkait: Gonta Ganti Merk Diapers, Yay or Nay?

2 . Kain bedong

Bidan dan dokter di BWCC tidak menganjurkan untuk membedong bayi dengan ketat seperti jaman dulu. Namun, bedong longgar masih diperlukan untuk menjaga agar bayi tetap hangat seperti di kandungan ibu. 🙂 Waktu itu saya bawa 6 kain bedong apa ya…. Banyak soalnya saya pakai juga buat ngelapis alas bobok bayi dan untuk menyelimutinya dari dekapan angin cemilir cemilir AC.

Artikel terkait: Mitos Bayi Pasca Persalinan

3 . Selimut

Sebenarnya kalau pas bobo, saya menyelimuti Neng Gaya menggunakan kain bedong, hehehe. Selimut yang saya maksud di poin 3 ini adalah kain selimut tebal yang ujungnya ada segitiganya (di foto tampak selimut berwarna putih dengan kepala beruang). Kain ini bermanfaat untuk membungkus bayi saat perjalanan pulang dari klinik. Jadi terasa lebih hangat dan empuk. Cukup bawa satu saja. Ga perlu beli banyak-banyak soalnya bakal jarang dipakai. Saya punya empat karena dikasih sih. Hihihi….

4 . Sarung tangan dan kaki

Saya membawa 3 pasang sarung tangan dan kaki. Oiya, sarung tangan dan kaki ga usah beli banyak-banyak. Menurut saya ya, hehehe. Soalnya saya penganut pakai kaus tangan dan kaki kalau kedinginan saja, ga tiap waktu dipakai. Alasannya biar tangannya megang-megang banyak hal dan memantapkan saraf sensoriknya. CMIIW yak. 🙂

Untuk kaus kaki sendiri, ada beberapa jenis ya. Seperti yang tampak di foto di atas (bukan yang di bawah), saya punya tiga jenis kaus kaki. Yang pertama yang berwarna putih dengan list oranye adalah yang berbahan katun itu yang saya bawa saat persalinan. Jenis yang pertama ini hanya dipakai sebentar saja. Sementara dua jenis yang lain dipakai sampai agak besar kalau pergi-pergi, jadi jangan pilih yang terlalu kecil. Yang ada bonekanya itu juga baik untuk latihan motorik, karena di dalam bonekanya terdapat krincingan. Krincingan tersebut akan berbunyi saat bayi bergerak, sehingga memotivasinya untuk aktif.

kain gendong tisu topi maternity bag

5 . Topi

Untuk topi saya membawa 2 topi kain atau yang sering disebut juga dengan kethu.

6 . Anting

Ini khusus buat yang bayinya diprediksi berjenis kelamin perempuan yaa…. Oiya tips dari saya, sebelumnya survey dulu apakah di klinik/ RS tempat bersalin menyediakan fasilitas tindik. Biar bisa sekalian pas habis lahir ditindik. Saya dulu ga memanfaatkan fasilitas ini di BWCC karena ga tau, huhuhuhu…. Jadi harus balik lagi deh beberapa minggu kemudian. Untung pas sekalian kontrol.

7 . Kain gendongan

Kain yang saya bawa adalah dua kain jarit motif batik yang embok embok banget dan satu kain gendong motif monyet, hehehe…. Perlunya hanya satu buah si yang untuk bayi. Tapi saya bawa tiga. Yang satu untuk lapisan alas tidur saya, dan satu lagi buat cadangan selimut saya, hehehe, maklum saya maniak kehangatan.

8 . Tisu (Tisu kering dan tisu basah)

Tisu kering bermanfaat untuk melap gumoh, pupup bayi, dll. Bawa satu bungkus yang isi 50 atau 90 itu saja cukup.

Sama seperti tisu kering, tisu basah bermanfaat untuk melap gumoh, pupup bayi, dll. Namun tisu ini fugsi utamanya adalah untuk cebok. Atau menyeka bagian alat kelamin setelah pipis supaya bersih. Bawa satu bungkus yang isi 50 atau 90 itu saja cukup. Pilih tisu basah yang tidak beralkohol dan juga tidak ber-fragrance untuk menghindari iritasi. Oiya kadang ada tisu basah yang diberi tambahan aloe vera. Niatnya si baik ya, namun ada kalanya bayi alergi dengan zat tambahan seperti ini. Gayatri salah satunya.

Jika tidak suka menggunakan tisu basah, bisa juga menggunakan kapas bulat yang dibasahi dengan air. Saya mengamati di klinik BWCC dan di RS IMC, bidannya memiliki satu wadah khusus berisi kapas yang direndam dalam air. Fungsinya untuk cebok bayi.

ala mandi termometer wadah ar ari maternity bag

9 . Termometer

Sebenarnya termometer tidak harus dibawa saat persalinan karena di klinik atau rumah sakit pasti ada. Namun, saya memasukkannya di list ini untuk menyatakan sebaiknya termometer sudah tersedia saat bayi keluar klinik. Buat jaga-jaga dan untuk memonitor perkembangan suhunya. Apakah dia kedinginan atau kepanasan. Dan yang lebih penting lagi untuk mengukur suhu tubuh bayi dengan akurat apabila terjadi demam. Saya bersyukur sekali waktu itu saya sudah memiliki termometer sebelum Gayatri lahir (sejak saya hamil). Karena kalau tidak mungkin infeksi Gayatri akan terlambat diketahui. Oiya, ketika bayi dibawah usia 40 hari mengalami demam, langsung hubungi dokter yaaa! 🙂

10 . Alat Mandi

Saya bawa alat mandi beruba sabun dan shampo bayi two in one, padahal sebenarnya di klinik disediakan juga hehehe. Jadi better ditanyakan juga ke kliniknya apakah mereka menyediakan alat mandi atau tidak. Oiya, saya kepikiran juga tentang minyak-minyakan dan bedak-bedakan. Kalau Gayatri tidak pakai bedak sampai sekarang. Untuk pemakaian minyak telon, saya memakaikannya ke Gayatri mulai umur dua mingguan. Kata dokter asal bayi nggak kedinginan nggak pakai minyak telon gapapa. Malahan beliau bilang untuk hati-hati menggunakan kosmetika bayi karena kadang bisa membuat alergi. Untuk baby oil saya pakai dari awal untuk pijat bayi.

Oiyaaa, kadang ada klinik yang memberi kita paket peralatan bayi lho sebagai hadiah.

11 . Handuk Bayi

Kalau kondisi tubuh dan suhu bayi oke, dalam satu hari itu kita bisa minta bayi kita dimandikan, sekalian ibu latihan memandikan dan memijat bayi. Waktu itu karena Gayatri suhunya turun saya tidak sempat latihan mandi di klinik BWCC. Akhirnya saya latihan memandikan dan memijat bayi di IMC pas Gayatri insisi. Kalau bidannya tidak menawarkan latihan memandikan dan memijat, coba kita sebagai pasien yang berinisiatif meminta latihan. Menurut saya dua skill ini bermanfaat banget. Tambah satu lagi, latihan merawat luka di pusar bayi. Penting, untuk mencegah infeksi pada bayi.

Artikel terkait: Review Klinik Ibu dan Anak di Bintaro, Bintaro Women and Children Clinic

12 . Tempat ari-ari

Ini agak ribet nyarinya nih, karena harus ke pasar tradisional. Bentuknya seperti kuali dari tanah berukuran kecil. Beberapa klinik seperti BWCC tempat saya melahirkan, menyediakan benda ini secara gratis (masuk dalam harga paket melahirkan), namun ada juga Rumah Sakit yang menjualnya secara terpisah.

perlengkapan bayi yang harus dibawa saat persalinan

Jangan membawa terlalu banyak barang karena akan ribet, tapi jangan juga nggak prepare. Mungkin gitu ya prinsipnya. Apalagi yang lahiran sendiri, hanya bareng dengan suami dan tidak ditunggui keluarga besar. Sebisa mungkin buat bawaan di tas sepraktis mungkin, seringan mungkin. 🙂 Sehappy mungkiiiinnn!!!

Selamat mempersiapkan persalinan ya Nyaaahhh….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

4 Alasan Orang Tua Sebaiknya Bermain Bersama Anak di Program Parent’s Experience Kidzania

pemadam kebakaran

Saat saya kecil, kegiatan bermain bersama orang tua biasanya berupa menggambar dan membaca buku. Hehehe, selain sifat permainannya cenderung satu arah, kegiatannya terdengar boring ya? Tapi dengan demikian saja saya dulu sudah happy sekali. Karena banyak hal yang Papa dan Mama ceritakan, yang saya sebagai anak kecil tidak ketahui. Lagipula, jaman dulu belum lazim fasilitas mainan edukasi seperti saat ini. Berbeda dengan sekarang. Saat ini, bahkan ada sebuah taman bermain anak dan keluarga berbentuk ’kota ’-nya anak-anak; Kidzania.

Taman bermain anak dan keluarga ini mengedepankan unsur pendidikan dan hiburan (edutainment) bagi anak-anak usia 2-16 tahun. Mungkin Nyonya-nyonya juga sudah familiar dengan namanya ya. Itu loh, taman bermain yang dibangun menyerupai replika sebuah kota dalam skala anak-anak. Lengkap dengan jalan raya, fasilitas kota seperti rumah sakit, supermarket, salon, theater, pabrik-pabrik dan masih banyak lagi. Seru dan pasti bermanfaat banget karena di kota ini anak-anak bisa memainkan peran atau profesi orang dewasa, seperti menjadi dokter, pilot, polisi, juru masak, ilmuwan dan lebih dari 100 profesi lainnya. Selain itu bebas was-was karena seluruh permainan juga telah di desain secara aman dan tetap edukatif.

kidzaniaFoto salah satu sudut Kidzania. Sumber: Kidzania

Sejak pertama kali tahu tentang tempat wisata keluarga ini, saya bertekad untuk mengajak Gayatri bermain di sini ketika sudah cukup umur. Saya bareng Tuan Besar tentunya juga mau ikutan main. Wkwkwkwk! Memang sih, di dalam Kidzania banyak anak-anak kecil seumuran yang bisa bermain bersama Gayatri. Namun saya punya beberapa alasan yang mendukung orang dewasa ikut serta bermain bersama anak di Kidzania:

1. Membangun Bonding

Ahhh, main di rumah juga bisa membangun bonding kok”, mungkin sebagai orang tua kita kerap berpikir demikian. Namun, saya menyadari membangun bonding dengan anak terkadang sangat tricky. Soalnya saat bermain bersama kadang orang tua malah sering mengacaukan suasana alias membuat “gagal bermain”.

Kadang kala yang membuat orang tua “gagal bermain” dengan anak adalah karena orang tua kerap kali merasa permainan tidak berjalan sesuai dengan harapan dan kemudian mencoba mengambil peran yang lebih besar. Sementara anak belum tentu sepaham dengan permainan yang diarahkan oleh orang tuanya.

Nah kalau di Kidzania, rule-nya jelas. Siapa menjadi apa dan bagaimana bermain perannya. Adanya kegiatan bermain peran di Kidzania membuat orang tua tidak mendominasi permainan bersama anak atau sebaliknya. Kegiatan yang terencana di Kidzania juga membantu orang tua tidak kehabisan “gaya” saat bermain bersama dengan anak. Tinggal ikuti saja permainan peran yang ada di dalam Kidzania. Mudah bukan?

Dengan tidak ada yang mendominasi permainan, orang tua dan anak bisa bermain dengan lebih menyenangkan dan berinteraksi satu dengan yang lain dengan lebih smooth. Niscaya bonding di antara keduanya pun dapat terjalin dengan nyaman.

2. Memperkenalkan Dunia “yang Sesungguhnya”

Tentu memang benar bahwa anak memerlukan waktu untuk bermain sendiri atau dengan teman sebayanya. Namun, keuntungan dari orang deawsa turut serta bermain dalam kegiatan anak adalah karena orang dewasa memiliki pengetahuan yang lebih atas “dunia” dan sering kali dapat memperluas imajinasi anak dengan pengetahuan tersebut.

Beberapa hal terkait dengan poin 2 ini yang bisa dilakukan oleh orang tua di Kidzania adalah sebagai berikut:

a. Memperkenalkan pekerjaan orang tua

Beberapa pekerjaan seperti dokter, guru, penjual es krim mungkin adalah pekerjaan-pekerjan yang mudah dipahami oleh anak-anak. Lha kalau pekerjaan orang tua adalah hakim, jaksa penuntut, penyulih suara, wartawan atau bahkan ahli anestesi, mau bijimana coba ngejelasin ke anak kecil, susah kan. Dengan ikut bermain di Kidzania orang tua memiliki kesempatan untuk menjelaskan apa profesi yang dimilikinya melalui permainan peran yang disediakan, seperti contoh di bwah ini:

anetesi kidzania

b. Kesempatan untuk memperkenalkan passion dan cita-cita

Seperti sudah disebutkan di atas, di Kidzania ada permainan peran yang melibatkan lebih dari 100 profesi. Saat bermain tentu ada kesempatan bagi orang tua untuk memaknai profesi-profesi tersebut tidak hanya sebagai pekerjaan yang menghasilkan uang. Namun di balik penghasilan ada juga yang namanya passion. Sejak dini dapat ditanamkan juga apa makna cita-cita serta bisa mulai dikulik-kulik tuh minat anaknya apa….

“Lhah anak saya masih balita mbaak?”

Emang kenape? Dulu pas masih TK saya juga uda punya cita-cita. Tapi ngeblur karena minim arahan dan stimulasi. Kita tentu mau anak-anak kita lebih terbuka wawasannya kan?

3. Menyinkronkan Nilai dan Skill

Misalkan saja, di Kidzania anak bermain sebagai Pemadam Kebakaran. Saat bermain anak akan belajar tentang nilai keamanan dan keselamatan – anak-anak belajar mengikuti instruksi dan prosedur yang aman sesuai dengan instruksi yang diberikan. Nah, ketika mengisi bensin di dunia nyata, Ibu atau Bapak bisa loh mengingatkan kembali, jika mengisi bensin harus mematikan mesin, tidak boleh menyalakan api, dsb. Biar sampai dewasa pun anak-anak menjadi pemilik kendaraan yang bijak saat mengisi bensin untuk mencegah kebakaran.

pemadam kebakaran

Contoh lainnya adalah di kegiatan Safety Riding School (berperan sebagai calon pengendara motor), di kegiatan ini anak-anak diajari untuk menjadi pengendara motor yang hati-hati. Nah, kegiatan ini jelas banget bisa disingkronkan dengan kegiatan sehari-hariyaaaa….

4. Menyehatkan orang tua

Orang tua harus ingat bahwa bermain bersama anak bukan sekedar kewajiban orang tua, ini juga adalah kesempatan untuk bersenang-senang bagi orang tua. Ciyusloh…. Saat duluuu saya tau ada tempat bermain bernama Kidzania, yang terlintas pertama di pikiran saya adalah, duh kenapa sih saya dulu lahir di tahun 1990. Pas Kidzania ada di Indonesia tahun 2007, saya sudah 17 tahun. Uda ga lucu lagi kalau saya ucluk-ucluk ikutan main sendiri. Kalau sekarang kan ada tameng anak sebagai alasan main di Kidzania, hihihi.

Lagipula bermain juga meningkatkan hormon kebahagiaan serta melatih tubuh orang tua untuk beraktivitas fisik loh… Jalan mengelilingi Kidzania yang luaaaaassss banget aja dijamin bisa membakar kalori. *lirikperutbuncit.

Program Parent’s Experience di Kidzania

parent experience

Nah buat yang anaknya sudah berusia di atas 2 tahun bisa langsung ikut program Parent’s Experience KidZania Jakarta. Program ini khusus ada di hari Jumat sesi sore, Sabtu dan Minggu sesi pagi dan sore. Untuk bisa ikutan Parent’s Experience, orang tua cukup membeli tiket seharga tiket anak yaitu IDR 150.000 saat weekdays, IDR 200.000 saat weekend dan IDR 250.000 ketika Holiday season. Jam pelaksanaannya adalah sbb: Senin – Kamis : 09.00 – 16.00. Jumat, Sabtu, Minggu : sesi 1 : 09.00 – 14.00, sesi 2 : 15.00 – 20.00.

Buat teman-teman yang ingin tahu lebih lanjut tentang program Parent’s Experience di Kidzania bisa langsung cus ke:

  • Facebook : KIDZANIA JAKARTA
  • Twitter : @kidzaniajakarta
  • Instagram : @kidzaniajakarta
  • Website : Jakarta.kidzania.com

Selamat berlibur dan bermain yang bermanfaat bersama anak yaaa….

Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!