Review dan Pricelist/ Harga Mom n Jo Bintaro

pijat bayi dan ibu hamil di mom n jo bintaro

Sebenernya saya termasuk yang parnoan masalah pijet memijet, apalagi pijat bayi atau pijat diri sendiri saat hamil. Namun, dulu pas hamil saya pernah ke Mom n Jo Bintaro untuk pijat khusus ibu hamil. Secara umum saya merasa pijat di sini cukup membantu untuk menguragi rasa sakit/ pegal di punggung akibat kehamilan yang makin besar. Setelah memiliki bayi pun, saya hanya berani untuk memijatkan bayi di sini. Selain itu saya memilih untuk memijat bayi sendiri di rumah. Oiya, pijat yang saya lakukan sebatas pijat untuk mengurangi rasa lelah Bagi teman-teman yang setipe sama saya, mungkin review Mom n Jo Bintaro ini akan bermanfaat ya.

Berikut adalah pengalaman saya pijat bayi di mom n jo Bintaro.

pijat bayi dan ibu hamil di mom n jo bintaro

Jasa yang pernah digunakan:

1 . Pijit Ibu Hamil

Rasa pijitan terapisnya cukup enak bikin rileks gitu, tapi bukan yang kuat banget mijitnya, kalau dibanding tukang pijit langganan di kampung halaman. Mungkin memang karena untuk ibu hamil ya. Ruangannya nyaman, ada kamar mandi di dalam kamar pijat. Suasananya bisa diset, terang gelapnya. Saya pribadi prefer agak remang-remang, biar enak bobo, hehehe. Saat dipijit kita diberi semacam bantal khusus ibu hamil, jadi tengkurapnya agak miring dan tidak menekan perut.

Minyak yang dipakai untuk memijat adalah grapeseed oil. Minyak dari biji anggur ini, berdasar artikel-artikel yang saya baca adalah emollient yang bagus untuk kulit. Berfungsi untuk melembabkan, melembutkan serta menenangkan kulit. Infonya minyak ini juga (biasanya) tidak menimbulkan alergi. Yang saya suka dari minyak ini adalah tidak terlalu lengket di badan. Saya habis pijat cuma bilas air hangat tanpa sabun saja nggak merasa lengket (disclaimer: kulit saya kering kerontang). Namun apabila kita mau request minyak lain bisa diinfokan saja ke terapisnya, kalau tidak salah pilihan lainnya adalah jojoba oil. Saya sendiri belum pernah mencoba minyak ini.

2 . Pijit Bayi

Dua kali pijit di sini, pas Ning Gaya lagi bad mood. Jadi nuangiiis sepanjang dipijit. Zzzzz…. Bukan karena kesakitan, tapi memang pas lagi ga mood. Dan kalau lagi ga mood, anak saya ga suka dipegang-pegang. Tapi saya salut sama terapisnya yang sabaaar banget lo. Dan bisa mijit dengan berbagai macam posisi bayi. Sambil bobo miring, sambil saya peluk, sambil saya pangku. Pokoknya macem-macem ngikutin pergerakan bayi saya.

pijat bayi di mom n jo bintaro

Minyak yang dipakai sama juga, grapeseed oil. Dan kalau kita punya essentials oil bisa juga dibawa untuk digunakan saat pijat. Di mom n jo bintaro ada dijual juga si essentials oil merk Belli to Baby. Sayangnya, di kemasan produk yang minyaknya campuran kurang jelas info EO apa saja yang terkandung di dalam satu produk. Nanya ke terapisnya, juga kurang mengetahui produk yang disediakan. Jadi kalau mau pakai, better yang sudah familiar digunakan.

Saya pribadi pernahnya nyoba yang imune booster. So far saya suka si dan memang ngefek. Cuma masih was-was karena ga tau kandungan EO-nya.

Related post: Review klinik ibu dan anak di Bintaro (Bintaro Women dan Children Center)

Fasilitas:

  1. Ruangan berperedam bentur, alias seluruh lantainya dilapis dengan semacam matras. Ini untuk ruangan pijat bagi bayi.
  2. Ruang pijat ibu dengan bantal khusus untuk ibu hamil. Lengkap dengan kamar mandi dalam. Di sini tersedia juga tungku aromaterapi.
  3. Kolam renang bayi di masing-masing kamar pijat bayi.
  4. Ruang tunggu yang nyaman.
  5. Timbangan untuk mengukur berat badan bayi, timbangan untuk orang dewasa.
  6. Termometer untuk mengukur suhu tubuh bayi.

fasilitas mom n jo bintaro 2

fasilitas mom n jo bintaro 1

baby spa di mom n jo bintaro

What I love:

  1. Kakak-kakak pemijatnya baik, kids friendly sabar,
  2. Kakak-kakak pemijatnya bisa memijat dalam segala posisi bayi,
  3. Admin dan satpamnya ramah, helpful banget,
  4. Tempatnya nyaman dan aman buat bayi, seluruh lantai dilapis matras,
  5. Tersedia esential oil merk Belli to Baby,
  6. Mijatnya relatif enak.
  7. Ruang tunggunya cukup nyaman, bahkan ada yang semi private (terpisah dengan tirai) seperti di gambar di bawah ini:

ruang tunggu

What I dont:

  1. Harganya lumayan mahal, tapi ini relatif si ya, hehehe….
  2. Kalau ga menekankan pesanan, biasanya dipaketin langsung pijat + renang,
  3. Kakak-kakak pemijatnya tidak paham essential oil yang ditawarkan.

Tips ke Mom n Jo

  1. Bawa kaus kaki untuk orang tua yang menemani bayi, karena untuk masuk ke lokasi pijat bayi harus menggunakan kaus kaki.
  2. Lakukan reservasi, apalagi jika berencana pijat saat weekend.
  3. Tegaskan hanya pijat kalau memang hanya ingin pijat. Karena pengalaman dulu nggak menegaskan hanya ingin pijat, disiapkan sekalian sama renang. Padahal pas reservasi di telepon bilang pijat. Kan lumayan tu biaya tambahannya, hehehe.
  4. Datang 15 menit sebelum jam mulai. Terutama di jam-jam sibuk, karena kalau sudah lewat jamnya, dan jam berikutnya sudah full book, kita harus nunggu lebih lama. Huhuhu….
  5. Pesan minumnya, free kok (ga mau rugi).

Pricelist Mom n Jo

Untuk Pijat Ibu:

harga mom n jo bintaro pijat ibu hamil 2

harga mom n jo bintaro pijat ibu hamil

Untuk Pijat Bayi:

harga mom n jo bintaro pijat anak 2

harga mom n jo bintaro pijat anak

harga mom n jo bintaro pijat bayi

*

Alamat Mom N Jo Bintaro: Jl. Bintaro Tengah, Blok U4/4, Sektor 2, Tangerang.

Telepon (reservasi) 0217370119, 08998888820

*

Selain di Bintaro Mom N Jo sepertinya juga buka di banyak tempat lain deh, soalnya setahu saya ada juga yang di Dharmawangsa dan di Surabaya juga ada. Oiya, buka setiap jam 10.00 s.d. 20.00 WIB.

Pas nulis ini saya jadi pengen pijit lagi ni, hehehe…. Adakah yang punya tempat pijit bayi favorit? Boleh lho share di kolom komentar. 🙂 Siapa tahu bermanfaat juga bagi ibu-ibu lainnya….

Terimakasih sudah mampir! Salam sayang ya Nyaaah…. 🙂

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Moms, be Proud of Yourself!

Mau Nyonyah itu stay-at-home mom, mau working mom kaya saya (yes! saya workingmom), atau yang pakai ART, pake baby sitter, yang single mom, atau nitip mom, pleaseeeee be proud lah sama diri kita! Kita tu baik hati, setrong lagipula kece dengan cara kita masing-masing.

Don’t let words bring us down. Kita tidak selemah itu!

Hihihi, tumben yak, saya memulai artikel dengan rada emosional. Soalnya emang rada emosional si topik obrolan kita kali ini Nyaaah…. tentang ibu-ibu yang sering lara hati dan jadi minder karena omongan orang. Tepatnya lagi omongan orang yang kurang kompeten buat ngomongin hidup kita.

Sering kan, ya kita denger curhatan temen atau malah kita sendiri ngalamin, betapa potek hati mamak denger kritikan orang tentang badan bayi yang kayanya makin hari makin kurus. “Kaya nggak pernah dikasi makan,” kata tetangga. Atau, “Makanya jangan main hape mulu…. tuh, anaknya makan angin“. Atau, “Anak saya loh uda bisa salto merangkak dari usia 2 bulan, anakmu kok kayanya cuma tidar tidur aja ya kerjanya….“. Hmmmm….

hiks

Is it related to you?

Saya si jarang yak denger komen kaya gitu dari tetangga, soalnya saya pergi pagi pulang malem si. Kaga pernah ketemu tetangga. Hehehehe…. Tapi saya related banget sama topik ini karena sering dicurhatin mamak-mamak. Yes, mamak mamak jaman now, walaupun ga bisa temu muka kan sering tsurhat via whatssap. Dan eike jadi pingin kalap ngesleding itu mulut mulut kurang tata krama yang suka nyinyirin temen eike.

Tapi ga jadi, soalnya salah satu yang suka nyinyirin temen eike itu, ibunya temen eike sendiri. Kan Nyonyah harus sopan ya sama orang tua…. Maap maap….

Gimana ga esmosi coba. Problem yang dialamin temen saya ini atas anaknya, menurut saya emang menantang ya. Punya banyak alergi, uda gitu selera makannya juga rendah, dll dsb. Kemudian orang-orang dengan mudahnya ngomentarin kalau si anak kayak ga dikasi makan karena kelihatan kurus.

Padahal Dokter Spesialis Anaknya bilang GAPAPA.

Cuman, ibu mana si yang nggak baper hatinya denger celometan kaya begono. Eike aja esmosi, karena tau sendiri gimana perjuangan temen yang jungkir balik bikin berbagai macam menu makanan yang selain nggak memicu alergi anaknya juga menurut saya menarik.

Bahkan temen saya sampai jualan makanan bayi loh, yang kemudian lumayan banyak testi yang bilang makanannya itu menyelamatkan bayi-bayi lain dari ke-GTM-an. See? Berarti masalahnya bukan di ibunya males masak atau yang lain sesuai tudingan para nyinyirers abad 21.

Tapi kita kan nggak bisa ngatur omongan orang yak kan?

Yap.

Betul. Tapi kita bisa menjaga hati kita.

So, dengarlah para jamaah, Nyonyah mau bersabda. #Aseeekkk

“Tetaplah bangga pada dirimu, Nyah. Bukan karena kita sebagai ibu telah mencapai #mothergoal di mata orang-orang; anak gemuk, pintar, lincah, ramah dan rajin menabung. Melainkan karena kita telah berjuang selangkah demi selangkah untuk mewujudkan harapan kita tersebut.

Untuk setiap langkah yang berani kita ambil. Untuk setiap eksperimen. Untuk setiap keringat. Untuk setiap air mata.

Untuk setiap doa….”

love love

Tapi kalau Tuhan berkehendak lain, masakan kita mau nyalahin Dia. Engga kan yes. Mana berandos dos. Yang penting ikhtiar jalan teroooos. Ye kaaaan? Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati kita semua.

Amin, jamaah? Amin amin amin.

Beberapa hal yang membantu saya agar bisa tetap tegar menghadapi dunia emak jaman now yang keras adalah sbb:

  1. Konsultasi dengan ahli terkait kesehatan anak, saya si biasanya dengan dokter anak langganan. Kalaupun denger komentar dari orang mah, senyumin aja. Jadikan bahan konsultasi di pertemuan berikutnya sama dokter.
  2. Minimalisasi banget bertanya di grup-grup sosial media yang tidak betul kita kenal dan mengenal kita. Selain kadang mereka yang menjawab tidak selalu kompeten, kadang yang ada bukannya dapat jawaban tapi malah penghakiman. Ini mah peribahasanya kalau di bahasa jawa: “kutuk marani sunduk” (ikan mendekati kail), “ulo marani gebug” (ular menyambangi pemukul). Nyari mati loe!
  3. Menjaga kuping dan hati baik-baik bukan berarti menutup kepala dari masukan yang baik ya…. Kita bisa kok memilah mana yang patut kita pikirkan sungguh-sungguh. Mana yang cuma basa-basi (tapi nyakitin). Mana juga yang cupa cari perhatian…. yang terakhir mah di-wolesin ajahhh….
  4. Punyailah support sistem yang suportif. Yang logis pas kita lagi drama. Jangan juga nyari yang sama dramanya. Tar malah jadi nangis berjamaah, atau malah balik ngumpat-ngupat si nyinyir berjamaah. Dua-duanya ga baik juga buat kesehatan jiwa Nyonyah…. Jangan juga hanya berharap pada suami, karena kadang suami tak selalu memahami drama ibu-ibu ini. Kalau maksa suami ngerti, kadang malah timbul drama baru. Ehehehe….
  5. Ada yang mau nambahin? Feel fre untuk nambahin di komen yaaakkk!

So Moms, be Proud of Yourself!!!!!!!!!

Salam sayang semuanyaaa!

.

.

.

.

.

.

kuat

PS:

Tumben yak, tulisan saya singkat, ahahaha. Iya kayanya ini tulisan paling singkat di blog nyonyamalas nih. Sekedar mencurahkan uneg-uneg. Semoga ga banyak yang tersinggung ya, karena kata-katanya banyak yang sembarangan banget. Hehehe….

Sekali lagi, salam sayang Nyaaah!

***Artikel Moms, be Proud of Yourself! ini dipersembahkan untuk teman, yang nggak perlu saya mention tapi kayanya pasti baca artikel ini soalnya saya share ahahaha…..

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Perbandingan Tiga Maskapai Penerbangan Full Service (Garuda, Sriwijaya, Batik Air)

maskapai penerbangan

Perbandingan Maskapai Penerbangan Full Service Economy Class: Garuda, Sriwijaya dan Batik Air. Kalau ditanya mana yang paling oke dari ketiga maskapai penerbangan tersebut? Tentu saja semua akan dengan mudahnya bilang Garudaaaaa!!!!

Anti klimaks banget yesss….

Hehehe, tapi ya mau gimana lagi yak, emang betul si, Garuda so far maskapai penerbangan domestik yang paling nyaman buat bawa bayi. Tapi ga nyaman di dompet ibu dan bapak. Ihihi…. Sama satu lagi, saya pegel banget kalau dapet gate paling ujungnya Ultimate 3. Jauh banget bok. Tar lengkapnya saya ceritain di bawah.

maskapai penerbangan

Sebelumnya saya mau cerita secara umum dulu tentang perbedaan maskapai penerbangan full service dengan yang low cost sebagai berikut:

  1. Jarak antar kursi relatif lebih besar dari pada maskapai low cost (kecuali Sriwijaya, menurut saya, hehehe). Ini penting buat saya yang punya suami segede dan setampan Chriss Prat jaman main Jurassic World. Karena ruang antar kursi yang lebih lebar membuatnya lebih nyaman. Lebih nyaman juga untuk saya yang duduk sambil menggendong bayi, yang sudah mulai aktif bergerak.
  2. Sebagian maskapai penerbangan full service memberikan layanan hiburan berupa monitor untuk menonton film, video atau mendengarkan musik. Bebera
  3. Makanan dan minuman diberikan secara gratis. Buat perjalanan jarak pendek palingan dapat snack sama air mineral segelas. Kalau jarak panjang, bisa dapat makan berat.

Related Post: Pengalaman menggunakan 3 Maskapai Penerbangan Domestik Low Cost

Pengalaman Berkesan Menggunakan Garuda

Yang saya suka dari Garuda, penumpang yang bawa bayi dapat memilih extra legroom seat dengan tanpa tambah bayar. Kalau di Air Asia atau Citilink kan harus bayar tu…. Trus penumpang yang bepergian dengan bayi bisa dapat pinjaman keranjang bayi (baby bassinet). Tapi saya belum pernah memanfaatkan fasilitas ini soalnya selalu jarak dekat, dan Ning Gaya juga lebih nyaman kalau duduk saya pangku. Lebih mudah neneninnya.

Oiya, extra legroom seat merupakan kursi pada kompartemen ekonomi yang memiliki ruang kaki lebih luas daripada kursi ekonomi lainnya pada penerbangan Garuda Indonesia. Extra legroom seat terletak pada baris pertama (first row) dan emergency exit row dari kompartemen ekonomi.

Daaaaaan, yang paling saya suka lagi (bawa ataupun ga bawa bayi) adalah makanan Garuda ini adalah yang paling enak di antara maskapai penerbangan domsetik lain. Baik snack maupun makan beratnya. Makanan beratnya pun bisa memilih antara kentang dan ikan atau nasi dan daging. Untuk penerbangan jarak jauh, lumayan banget menyegarkan perut dan perasaan. Saya kalau lapar galak soalnya. Trus, bisa memesan makanan bayi pada rute-rute tertentu.

Hanya saja, di Garuda tidak boleh membawa stroller ke kabin, info dari web. Semua stroller harus di bagasikan.

Yang perlu diperhatikan saat menggunakan Garuda saat membawa bayi dengan Garuda adalah ketentuan cek in-nya. Garuda tidak mengizinkan penumpang yang membawa bayi untuk web check in. Ini cukup menyulitkan, karena kalau kita check in di hari H, tentu sudah keciiiiil sekali kemungkinan mendapatkan extra legroom seat. Itu yang saya alami di penerbangan pertama saya dengan Ning Gaya.

Namun, ternyata bisa diatasi dengan city check in di konter darat. Saya merasa bodoh karena tidak tahu hal tsb. Apalagi setelah tahu kalau di mall dekat kantor ada konter darat Garudaaaa…. eeeekkkkk…. So, untuk yang mau melakukan perjalanan bersama bayi dengan Garud, city check in is a must!

Related post: kisah pengalaman pertama saya membawa bayi pada usia 4 bulan.

Kemudian jika melakukan perjalanan dengan Garuda via Soekarno Hatta, mohon spare waktu  yang cukup untuk check in. Karena gatenya jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh dari konter check in. Saya pernah dapet gate 26. Dan saat itu belum banyak mobil golf yang wara-wiri anter penumpang antar gate. Jadi harus nunggu agak lama baru dapet mobil pengantar. Untung kami berangkatnya pagi. Kalau enggak kan gempor jalan buru-buru sambil gendong bayi.

Gempor dan berotot tentunya.

Untuk masalah hiburan di atas pesawat Garuda juga patut diacungi jempol. Ada monitor + earphone. Serta majalahnya juga bagus.

Pengalaman Berkesan Menggunakan Sriwijaya

Pengalaman paling berkesan menggunakan Sriwijaya adalah saat saya dan Ning Gaya hanya berdua menuju kampung halaman. Sementara suami menggunakan mobil jenazah, mengiring almarhumah Mbah Uti, mama mertua saya.

Keberangkatan dari 2F Bandara Soekarno Hatta. Perasaan saya agak limbung. Namun, entah mengapa saya merasa beruntung saat itu Sriwijaya very helpful. Penerbangan tepat waktu. Pramugarinya juga ramah. Beberapa kali pramugari menawarkan mainan (jualan) kepada Gayatri. Saya tahu, semuanya tidak berlebihan. Namun pas.

Sampai sekarang saya masih teringat rasa cookies cokelat yang dibagikan di atas pesawat. It was a little bitter but sweet. Walaupun maskapai ini bukan favorit suami saya karena jarak antar kursinya paling sempit di antara maskapai penerbangan, namun saya selalu menantikan untuk bisa menikmati cookies cokelat itu tadi.

Oiya,  info dari petugas darat Sriwijaya, kami tidak boleh membawa stroller ke kabin.

Saat menggunakan Sriwijaya usia bayi saya kurang lebih 9 bulan, kami tidak dimintai dokumen apapun. Hanya membawa tiket infant (seharga kurang lebih Rp 50.000,00 perjalanan dari Semarang – Jakarta).

 

Pengalaman Berkesan Menggunakan Batik Air

Penerbangan pertama saya menggunakan Batik Air cukup melumerkan cap tidak terlalu baik dari “Lion Air”, group seperusahaannya. Terutama karena Batik Air memiliki ruang kursi yang lebar dan sangat nyaman.

Untuk makanannya tidak terlalu spesial. Yang paling spesial ya itu: ruang antar kursinya.

Selain ruang antar kursi, saya cukup terkesan dengan adanya USB port di setiap seat. Lumayan buat ngecharge. Hehehe…. Oiya, di Batik Air juga menyediakan monitor untuk menonton film, video atau sekedar mendengarkan musik. Tapiiiiii, earphonenya nggak gratis kaya Garuda. Tapi harus dibeli dengan harga sekitar Rp 25.000,00.

Untuk yang kupingnya agak rewel (seperti suami saya), lebih baik membawa earphone sendiri deh. Hehehe….

Untuk penerbangan menggunakan Batik Air, boleh membawa stroller yang dapat ditekuk (seperti pockit) info dari petugas darat Bandara Ahmad Yani. Petugas tersebut menekankan, “Cuma boleh yang kecil ya mbak, stroller yang kecil yang bisa ditekuk itu ya Mbak”. Siaaaappp!

Ketentuan yang saya baca di web Lion Air (group) terkait mengangkut bayi adalah sbb:

“Lion Air berhak untuk tidak mengangkut bayi berusia kurang dari dua (2) hari dan bayi yang berusia antara tiga (3) dan tujuh (7) hari harus disertai dengan Sertifikat Kesehatan yang menyatakan bahwa bayi tersebut cukup sehat untuk melakukan perjalanan udara. Sertifikat Kesehatan tersebut harus diterbitkan 72 jam sebelum waktu keberangkatan. Batas usia maksimum bayi adalah kurang dari 2 tahun. Bayi yang melakukan perjalanan udara dengan Lion Air harus disertai dengan Formulir Ganti Rugi yang ditandatangani oleh orangtuanya.”

Namun untuk poin formulir ganti rugi tidak diminta kepada kami saat itu. 🙂 Saat menggunakan Batik air yang adalah Lion Air group usia anak saya 10 bulan.

love love

Terimakasih sudah membacaaa…. Kalau teman-teman punya pengalaman lain terkait tiga maskapai penerbangan di atas, boleh banget lo share pengalamannya di komen. Karena bisa jadi pengalaman yang kita miliki berbeda, dan pasti akan bermanfaat buat Nyonyah-nyonyah lain yang membaca….

Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Tentang Buka Handphone, Privacy dan Keterbukaan

privacy handphone

Saya dan suami minggu kemarin ngomongin sesuatu yang minggu lalu hot dibicarakan di sosmed: tentang buka handphone suami dan kelancangan istri.

Rada kesentil juga si, ketika di media sosial ada seseorang yang menyebut istri orang lain lancang. Ihwalnya adalah karena istri orang lain itu membuka handphone suaminya. Lebih tersentil-sentil lagi ketika, walaupun sang suami sudah komen bahwa beliau mengizinkan istrinya membuka hape-nya, pro dan kontra masih berkepanjangan.

Hello?

Itu bini orang, loh. Yang punya hape aje selo.

hehehe

Eit, jangan nuduh dulu! Saya tidak mau membela sang istri kok. Sebenarnya saya setuju juga (sebagian) kalau membuka handphone milik pasangan adalah sesuatu yang lancang. Hidup privacy! Tapi ya kalau dalam kasus tadi kan beda yak, suaminya fine-fine aja ya harusnya kita juga fine-fine aja. Kan masing-masing keluarga punya adat istiadatnya masing-masing.

Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung.

Yang punya saja tak beriak, mengapa situ yang pundung?

privacy handphone

Trus Pernah Buka Hape Suami?

Ya pernah lah.

Trus saya mendapat penemuan terbesar abad ini:

Foto VIA VALLEN di handphone suami.

Aw aw aw….

Katanya si kiriman dari grup kantor. Grup kantor suami emang kadang random banget si. Masalah pembangunan bangsa dan negara, sampe penyanyi dangdut koplo pantura juga dibahas.

Saya sih, percaya percaya aja. Kalaupun dia download sendiri pun foto Via Vallen, kayanya juga nggak masalah buat saya. Dia ngefans juga gapapa.

Tentang Privacy

1 . Tentang Privacy Pasangan

Saya dan suami mengakui bahwa pasangan kami masing-masing walaupun telah bersatu sebagai pasangan suami istri adalah tetap entitas yang mandiri. Yang memiliki pemikiran, keinginan dan zona pribadi. Masalah harta memang milik bersama, barang berupa handphone-nya pun kami akui sebagai milik bersama (walaupun pelaporannya pajaknya kami lapor secara terpisah demi kepraktisan). Namun akun yang didalam handphone, yang berupa aset tak berwujud itu tetap kami hargai sebagai milik pribadi.

Akun (nomor) telepon, WA, social media dan email adalah milik pribadi.

Jadi kalau secara diam-diam tanpa seizin suami, saya nggratil membuka chat atau email atau bikin status di sosmednya, itu namanya LANCANG.

setrong

Vice versa.

Berlaku juga sebaliknya, walau iphone yang saya pakai itu juga dibeliin suami. Tapi nggak ada tuh suami grepe-grepe hape saya tanpa seizin saya. Kalau pinjam hape pun biasanya cuma buat foto-foto (karena kamera hapenya burem) atau numpang telepon kalau dia lagi nggak punya pulsa. Bisa dibilang, hampir nggak pernah dia buka chat saya.

2 . Tentang Privacy Orang Lain yang Terkait

Mengapa saya dan suami memilih untuk tidak membuka chat satu sama lain? Karena bisa jadi dalam ruang chat kami mengandung privacy kerabat pasangan yang tidak perlu saya atau suami tahu.

Contohnya: sahabat suami bercerita tentang rumah tangganya. Perlukah saya tahu? Tidak.

Tapi kalau saya usil baca-baca secara tidak langsung saya bakal tahu kan. Dan saya pasti tahunya akan cuma sepotong dan nggak komprehensif, sebatas apa yang saya baca di chat tersebut. Penilaian saya terhadap ybs mungkin akan berbeda. Bisa jadi saya akan komen yang enggak-enggak, dan suami jadi males. Efeknya malah nggak bagus buat kami. Itu contoh aja sih.

Atau sebaliknya, temen perempuan saya nanya tentang lingerie atau hal-hal ciwi-ciwi yang nggak sepatutnya laki-laki tahu. Apalagi emak-emak jaman now kan suka punya grup ibu-ibu kan yeeesss…. Nah kalau suami usil baca. Hmmmm…. gimana juga itu kan saru ya.

Intinya nggak semua urusan pasangan kita harus tahu kok. Lagipula saya percaya kalau urusan yang perlu saya tahu, pasti pasangan akan ceritakan. Yuk, mari kita ke poin berikutnya….

Tentang Keterbukaan

“Lhah Mbak, kan suami istri itu harus saling terbuka…. Jadi nggak papa dong saling buka-buka handphone!”

Ya nggak papa saling buka-buka hand phone. Asal seizin pasangan. Daaaan, kalau memang saling terbuka, ga perlu nunggu hape dibuka pun pasangan uda bakal cerita si. Kalau urusan itu memang hal yang perlu kita tahu.

love love

“Yakin Mbak, suami-nya Mbak bakal jujur terus?”

Ya, memang nggak ada jaminan sih bahwa pasangan akan selalu jujur. Tapi bukankah memang itu yak, seninya pernikahan: kepercayaan dan keterbukaan. Kalau memang sudah tidak ada kepercayaan dan keterbukaan, pernikahan macam apa yang sedang dijalani? Sepertinya melelahkan.

Kalau kata suami saya, “Minta izin aja, ga usah curiga-curigaan, ga usah pakai acara diem-diem…. Toh juga pasti dikasih kan…. Kalau saya nggak ngasih, baru dah sono kalau mau curiga“.

Iya uga sih…. Selama ini memang tidak pernah tidak dikasih, kalau saya minjem hape suami. Kecualiiiii…. dia lagi main game Marvel Future Fight kesayangannya setiap jam 10 malem. Apalagi kalau pas hari kamis, jadwalnya mau ngereset game apa gimana gitu. Tapi ya kalau uda ngomong game mah, uda beda urusan yak…. Hihihi….

Saya akui memang naif dan terlalu percaya pada suami, sebagaimana saya rasa beliau pun naif dan percaya pada saya. Kami mencoba untuk menjalani pernikahan yang tidak dibebani rasa curiga. Biarlah Tuhan yang nanti membalikkan hati kami apabila, salah satu dari kami mulai serong. Amin.

***

Di akhir obrolan saya dan suami….

Saya: “Mau pinjem hape dong….

Suami: “Sik bentar, aku hapus foto Nella Kharisma dulu yakkkk….” 😛

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Finally, Gayatri Memilih Daycare

tips memilih daycare

Judulnya agak dramatis yak, biar gereget. Tapi beneran loh, di samping orang tua yang memilih daycare, anak pun turut “memilih” daycare. Walaupun ni bocah belum bisa ngomong. Tapi kesan pertama dia memasuki daycare, turut menentukan keputusan kami memilih daycare mana yang tepat untuknya.

Caution: tidak perlu menanyakan Daycarenya dimana yak, selama Gayatri berdaycare di sana, pertanyaan tersebut akan saya jawab “Rahasia”.

Hihihi. Tapi tenang, saya bakal jabarin apa saja poin-poin yang patut dipertimbangkan saat memilih daycare. Dan bagaimana pengalaman menghadapi bayi yang pertama kali daycare. Semoga tetap bermanfaat yaaakkk!

tips memilih daycare yang bagus

Setelah kepergian Mbah Uti, banyak hal yang saya dan suami pertimbangkan kembali dalam mengatur rumah tangga kami. Kepergian Mbah Uti secara emosional maupun non-emosional cukup membuat parenteam kami limbung. Dan akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan Gayatri di daycare dan juga meng-hire asisten rumah tangga.

Keputusan tersebut, setidaknya akan berlaku sampai kami berdua telah menyelesaikan masa we-time kami dengan baik.

Sebenarnya sebelum ini, Gayatri pernah daycare juga sementara waktu. Selama 3 hari, yaitu pas seletah Lebaran. Namun, kami memutuskan untuk tidak lanjut lagi di daycare sebelumnya karena jauh dari rumah. Berikut alasan memilih daycare yang baru:

1 . Lokasi

Lokasi daycare pertama Gayatri lumayan jauh dari rumah dan dari kantor. Dan arahnya pun berkebalikan. Untuk bisa mencapai daycare Gayatri saya harus spend waktu sejam lebih; setengah jam rumah-daycare dan setengah jam lebih dari daycare ke kantor. Itu kalau kondisi jalanan lancar. Kalau tidak? Bisa lebih.

Hal tersebut jadi masalah karena daycare baru buka jam 7, saya masuk kantor jam 7.30. Kalau terlambat ada potongan tunjangan. #cryyyy Memang sih, sebenarnya biaya daycarenya relatif murah, tapi kalau dihitung-hitung dengan potongan tunjangan ya sama ajeee kumendan!

Pilihan keduanya, suami yang antar bayi. Tapi kasian juga, soalnya kantornya lebih jauh lagi. Dan rahnya juga berkebalikan. Huft.

Berdasar pengalaman tersebut, saya memilih daycare yang dekat kantor. Tinggal ngesot sampai. Ga sampai 10 menit lah, kecuali si Komo lewat. Biaya memang relatif mahal, tapi so far saya merasa worth kok dengan pengasuhan yang diberikan.

setrong

2 . Fasilitas

Saya nggak berharap fasilitas yang macem-macem. Yang penting tempatnya aman dan nyaman. Dua itu aja, yang lain saya hitung bonus.

Berikut yang saya pertimbangkan dari poin fasilitas:

1 ) Aman 1

Aman yang pertama artinya lokasinya tidak di jalan besar. Kenapa? Saya parno aja anak saya yang imut itu diculik. Hihihi. Kalau ada di perumahan, entah mengapa saya merasa lebih aman. Selain itu kalau anak saya nanti uda bisa jalan, kan serem aja kalau pas pintu terbuka dia ngacir ke jalan raya.

2 ) Aman 2

Aman yang kedua adalah terkait keamanan bocah dari benturan lantai dan dinding. Saya nggak berharaplah satu suster akan setia terus menunggui anak saya seorang. Pasti namanya di daycare kan merhatikannya ya rame-rame. Oleh karena itu, ketika saya lihat selutuh permukaan lantai, dinding dan tiang dilapisi dengan sejenis playmate untuk meredam benturan, saya langsung tenang.

Gayatri (10 mo) lagi rajin-rajinnya manjat soalnya. Kalau jatuh kan lumayan. Dan memang saya juga nggak pengen dia terlalu dibatasi, biar anaknya bisa berkeksplorasi, tapi tetap aman.

Selain itu, saya perhatikan kalau minim barang dengan bahan dari kaca. Termasuk sekat antar ruangan juga bukan kaca. Soalnya kan riskan banget ya, bahan kaca itu mudah pecah dan menggores anak.

3 ) Aman 3

Aman ketiga berarti aman dari penularan penyakit mematikan. (((lebaaayyy))) Hehehe, ya penularan penyakit yang nggak mematikan juga perlu diminimalisasi. Aku menilainya dari adanya ruang karantina, dimana anak yang terindikasi mengalami gejala sakit akan dipisahkan tempat bermainnya. Dan jika terjadi demam melebihi 38 derajat, orang tua akan diminta jemput. Demikian juga jika terindikasi diare dan penyakit menular berbahaya lainnya.

Oiya, saya senangnya juga saat mendaftar ke daycare juga diperiksa catatan imunisasi dan buku kesehatan untuk melihat riwayat penyakit dan juga alerginya. Adanya administrasi yang demikian menunjukkan kehati-hatian yang menurut saya perlu diapresiasi ya.

4 ) Nyaman

Udaranya ga dingin dingin amat dan tapi juga ga gerah. Gayatri anaknya pabrik keringat banget soalnya. Di rumah aja saya nggak merasa panas, seringkali punggungnya uda basah keringetan. Mirip bapaknya. Jadi poin ga gerah ini masuk perhitungan saya banget.

Kemudian yang kedua adalah adanya bukaan cahaya yang banyak. Jadi ruangannya terang. Saya percaya ruangan yang berlimpah cahaya itu sehat, karena meminimalisasi tumbuhnya jamur dan bakteri lainnya.

love love

3 . Makanan

Nyonyah harus cek makanan yang diberikan di dalam daycare. Perlu diperhatikan apakah daycarenya pro-ASI atau tidak, bagaimana proses pemberian ASIP atau susu formulanya. Kemudian jika sudah di atas 6 bulan seperti Gayatri, bagaimana MPASInya. Saya bersyukur di daycarenya diberikan makan berat sebanyak 3x, snack buah 1x dan snack lain 1x.

Cocok banget buat saya yang malas ini. Ahahaha….

Jangan ragu juga untuk menanyakan apakah makanannya diberi gula garam atau tidak. Bagaimana dengan makanan yang bisa menyebabkan anak alergi.

Oiya, jangan malu untuk menanyakan, apakah makanan bisa diantar ke rumah apabila anak tidak masuk yak…. Hihihi, Gayatri dua hari ini sedang sakit sehingga saya tidak memasukkan dia ke daycare. Dan syukurlah, makanannya di daycare bisa diantar ke rumah pakai go send. Karena ga terlalu jauh juga. Saya jadi happy karena berkurang beban masaknya. Hihihi….

4 . Rekomendasi

Last but not least, faktor yang menentukan pemilihan daycare adalah rekomendasi dari orang-orang yang pernah men-daycarekan anaknya di situ. Hal ini yang paling saya pertimbangkan si sebenarnya. Dan rekomendasi yang saya pertimbangkan adalah rekomendasi dari orang yang benar-benar saya kenal.

Setidaknya ada empat orang yang saya kenal yang anaknya pernah daycare di tempat ini. Semuanya memberikan testimoni yang positif. Saya pun jadi mantap dalam memilih.

tips memilih daycare

Setelah kami sudah memilih satu daycare, kami survey dulu dengan membawa Gayatri tentunya. Kesan pertama begitu menggoda. Gayatri mau turun dan main sendiri (karena pas jam anak-anak tidur). Ekspresinya terlihat ceria dan excited. Seneng gitu liat mainannya, mungkin karena di rumah ga punya banyak mainan yak, hihihi.

Seketika itu juga saya langsung pandang-pandangan dengan suami, dan jatuhlah keputusan (walaupun agak sedih lihat tagihannya). Ahahaha….

Doakan Gayatri betah yaaa!

Semoga sharing kali ini bermanfaat ya Nyaaah…. 🙂

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Perbandingan 3 Maskapai Penerbangan Low Cost Carrier, Seri Pengalaman Membawa Bayi Naik Pesawat

low cost carrier

Sebenarnya saya bukan orang yang suka travelling, namun banyaknya kejadian mengakibatkan saya sering harus berpergian dengan membawa bayi naik pesawat. Sejak usianya 4 bulan sampai dengan 10 bulan, kurang lebih sudah hampir selusin penerbangan Ning Gaya jalani. Walaupun ya perginya hanya ke situ-situ saja, 4 kota. Jakarta – Jogja – Semarang – Surabaya.

Baca dulu artikel di bawah ini ya, biar related, karena di artikel ini saya cuma mau bahas perbandingannya:

Pengalaman secara umum dan tips membawa bayi saat usia 4 bulan.

Pengalaman secara umum dan tips membawa bayi saat usia 9 bulan.

Saya biasanya dalam membeli tiketnya selalu nyari waktu dan harga yang pas, maskapai penerbangan tidak terlalu jadi perhatian, jadilah Ning Gaya uda nyoba Maskapai penerbangan macem-macem. Garuda dua kali, Citilink tiga kali, Air Asia tiga kali, Lion Air sekali dan Sriwijaya dua kali.

Di artikel ini, saya mau mencoba memperbandingkan bagaimana si pengalaman saya membawa bayi naik pesawat dari maskapai yang low cost; Air Asia, Citilink dan Lion Air.

Dan sebelum saya menceritakan bagaimana pengalaman saya menggunakan maskapai penerbangan low cost, saya pengen memberikan beberapa disclaimer, agar pembaca dapat menarik kesimpulan dengan lebih smart bagi kepentingannya masing-masing.

Disclaimer:

  1. Penerbangan membawa bayi yang pernah saya lakukan adalah penerbangan domestik jarak pendek. Waktu tempuhnya tidak sampai dua jam.  Jadi, mungkin beberapa pengalaman akan tidak relevan dengan perjalanan jarak jauh.
  2. Bandara yang saya lewati adalah: Soekarno Hatta untuk Jakarta, Ahmad Yani untuk Semarang, Adi Soecipto untuk Yogyakarta dan Juanda untuk Surabaya. Mohon perhatian bahwa Bandara Soekarno Hatta, Adi Soecipto dan Juanda memiliki beberapa terminal. Terminal yang berbeda akan memberi pengalaman yang berbeda pula.

Karena dua hal di atas, maka saya tidak akan membandingkan tiga maskapai penerbangan berikut secara poin per poin. Melainkan dengan storytelling tentang apa yang saya rasakan saat menggunakan maskapai tersebut. Saya harap dari cerita saya ini tetap dapat diambil kesimpulan yang bermanfaat bagi perjalanan Nyonyah-nyonyah yaaa….

low cost carrier

Pengalaman Menggunakan Maskapai Penerbangan Low Cost secara Umum

Kenyamanan

Jangan salah, low cost itu nggak selalu lebih jelek pelayanannya daripada yang full service loh. Contohnya: saya lebih memfavoritkan Air Asia (low cost) dibandingkan dengan Sriwijaya (full service) dari sisi kenyamanan kursi. Pembahasan tentang Sriwijaya dan maskapai penerbangan full service lain akan saya bahas di artikel terpisah.

Walaupun tidak selalu lebih tidak nyaman dibandingkan dengan maskapai penerbangan full service, namun penerbangan low cost memang tidak selengkap full service. Yang tidak ada dari penerbangan tersebut adalah: layanan makan dan layanan hiburan. Layanan hiburan dalam hal ini adalah layar yang bisa digunakan untuk menonton video serta mendengarkan musik.

Biaya

Untuk tiket yang namanya lowcost pasti paling memang relatif lebih murah ya dibandingkan yang full service. Kalau untuk infant memang free seat-nya, karena bayi di bawah dua tahun masih boleh duduk dipangku orang tuanya. Namun kita masih harus membayar semacam asuransi untuk bayi. Harganya sekitar 40 – 60 ribu, tergantung tujuan penerbangan.

Serta untuk layanan low cost, biasanya untuk memilih bangku di row awal harus menambah biaya tertentu.

Pengalaman berkesan menggunakan Citilink

Saya menggunakan Citilink saat ke Surabaya PP. Perjalanan berjalan menyenangkan, tidak ada yang mengganggu kenyamanan saya maupun Gayatri di perjalanan. Yang saya sukai dari Citilink aalah sebagai berikut:

  1. Krunya relatif ramah-ramah, gayanya santai dan helpful. Saat berangkat dan mendarat, kita akan disapa dengan pantun-pantun yang, kadang kalau sedang iseng saya perhatikan, lucu ugaaaa….
  2. Yang paling mengesankan dari Citilink berikutnya adalah soft landingnya. Buset, saya kayanya berkali-kali naik Citilink seumur hidup saya, selalu landing mulus. Jempol banget buat pilotnya! Jadi yang sedang bawa bayi, dan bayinya sedang bobo saat landing, bayinya tidak terlalu terganggu lah.
  3. Sebagaimana semua penerbangan lowcost, Citilink pun tidak menyediakan fasilitas hiburan berupa video atau musik. Namun Citilink menyediakan majalah Linkers. Dan menurut saya majalah ini bagus banget yak…. Paling bagus di antara sesama inflight magazine-nya maskapai lowcost. Kenapa saya bahas majalah, karena Ning Gaya anak saya suka mainan majalah. Jadi majalah yang warna warni kece, selain menghibur buat saya juga menghibur bocah juga.
  4. Citilink mengizinkan untuk web check ini walaupun kita membawa bayi.

terminal 1C

Ketentuan yang saya dapat di web Citilink terkait mengangkut bayi adalah sbb:

“Citilink mencadangkan hak untuk tidak mengangkut bayi yang berusia 20 (dua puluh) hari dan/atau di bawahnya. Citilink dapat, menurut kebijakan mutlak mereka, memutuskan untuk mengangkut bayi tersebut pada penerbangan jika pengangkutan tersebut disetujui secara tegas dan orang tua bayi menandatangani Surat Pernyataan Tanggung Jawab Terbatas. Untuk alasan keselamatan, jumlah bayi yang dapat Citilink angkut tidak dapat melebihi 10% dari kapasitas pesawat udara.”

Namun dua kali penerbangan kami tidak diminta untuk menandatangani Surat Pernyataan Tanggung Jawab Terbatas. 🙂

Oiya, terminal yang digunakan oleh Citilink di Bandara Soekarno Hatta adalah Terminal 1C. Terminal favorit suami saya karena ada konter Polo. Polo-nya kayanya yang produk lokal punya. Jadi harganya memang miring, ditambah lagi sering ada promo, jadi makin tambah miring lagi. Buat penyuka kaus Polo mungkin bisa mampir sebelum lanjut ke gate. Berarti kalau di foto di atas, jangan langsung masuk security check in dulu yaaaakkkk….

Pengalaman berkesan menggunakan Air Asia

Bisa dibilang maskapai penerbangan low cost favorit saya adalah Air Asia. Saya menyukainya karena:

  1. Tepat waktu, saya belum pernah mengalami delay saat menggunakan Air Asia. Baik dalam penerbangan saya bersama Gayatri maupun penerbangan saya saat masih jaman single.
  2. Kursi dan jarak antar kursinya lebih lebar dibanding maskapai penerbangan low cost lain. Bahkan lebih longgar daripada pesawat Sriwijaya yang pernah saya tumpangi.
  3. Yang saya suka lagi, walaupun membawa infant, kita bisa checkin online atau web checkin. Tidak seperti Garuda (yang hanya bisa city check in dan counter check in) dan Sriwijaya. Dengan checkin online, keberangkatan jadi lebih tenang. Bawa anak kan kadang ada hal-hal tak terduga ya yang terjadi.

menyusui di bandara

Foto di atas adalah di Bandara Juanda. Kalau terminal yang digunakan Air Asia di Bandara Soekarno Hatta adalah Terminal 2F. Saya senang dengan terminal ini karena rapi, dan lebih banyak pilihan makanan dibandingkan dengan Terminal 1C. Namun, nursing roomnya cukup jauh dari ruang tunggu gate. Ada toilet dekat ruang tunggu namun untuk ganti popok bayi, dll, better di nursing roomnya.

Oiya, nursing room 2F ada yang ruang menyusuinya disekat loh. Kalau biasanya kan satu ruangan dipakai bersama-sama. Kalau ini ada yang ruang ganti popok dengan menyusuinya terpisah dengan dua ruang menyusui. Ruang menyusuinya pun disekat, jadi masing-masing ibu menggunakan satu bilik tersendiri.

Kira-kira seperti ini nursing room 2F:

nursing room 2f

Ketentuan yang saya peroleh di web Air Asi terkait membawa bayi adalah:

“Penumpang diharap membawa paspor bayi Anda dengan masa berlaku paling tidak 6 bulan untuk penerbangan internasional. Untuk penerbangan domestik, penumpang diharap membawa kartu identitas atau fotokopi akte kelahiran bayi Anda.”

Walau saya tidak pernah dimintai fotokopi akte kelahiran bayi, namun biasanya saay terbang saya memang jaga-jaga membawa dokumen tersebut.

Tips agar lebih nyaman menggunakan Air Asia:

  1. Belilah asuransi untuk bayi,
  2. Jika menginginkan kursi yang paling depan, kita bisa membeli hot seat. Pembelian secara online lebih murah dibandingkan membeli on flight. Kalau on flight harganya berkisar 80 – 100 ribu. Kalau online bisa setengahnya,
  3. Air Asia menyediakan penjualan makanan di atas pesawat. Jika berencana untuk makan besar, sebaiknya memesan secara online juga saat pembelian tiket.

Pengalaman berkesan menggunakan Lion Air

Saya punya pengalaman unik bersama Lion Air. Jadi saya, suami dan Ning Gaya pernah “terdampar” di Yogyakarta. Penerbangan seluruhnya mengalami gangguan karena cuaca yang buruk serta antrian pesawat yang panjang. Bayangkan, pesawat Batik Air yang rencananya akan kami tumpangi menuju Jakarta, pada saat jam (seharusnya) boarding masih ada di Jakarta dan belum jelas kapan sampai di Yogyakarta. Saat itu naasnya kami mengambil penerbangan malam dan Ning Gaya sedang agak demam. Huft….

hiks

Suami awalnya memutuskan untuk refund atau reschedule saja ke hari berikutnya, daripada harus lontang lantung di bandara. Ketika menuju ke konter Batik Air, yang satu perusahaan dengan Lion Air, iseng suami bertanya apakah kami boleh pindah penerbangan. Dijawab oleh petugasnya, “Boleh”.

Saya tidak tahu peraturannya sebenarnya boleh atau tidak ya.

Kebetulan saat itu ada penerbangan Lion Air yang sedang panggilan boarding. Walaupun harus turun layanan dari Batik Air yang full service ke Lion Air yang low cost, kami senaaaaang sekali, karena bisa pulang saat itu juga. Yeay!

Jadilah untuk pertama kalinya kami menggunakan Lion Air.

Ketentuan yang saya baca di web Lion Air terkait mengangkut bayi adalah sbb:

“Lion Air berhak untuk tidak mengangkut bayi berusia kurang dari dua (2) hari dan bayi yang berusia antara tiga (3) dan tujuh (7) hari harus disertai dengan Sertifikat Kesehatan yang menyatakan bahwa bayi tersebut cukup sehat untuk melakukan perjalanan udara. Sertifikat Kesehatan tersebut harus diterbitkan 72 jam sebelum waktu keberangkatan. Batas usia maksimum bayi adalah kurang dari 2 tahun. Bayi yang melakukan perjalanan udara dengan Lion Air harus disertai dengan Formulir Ganti Rugi yang ditandatangani oleh orangtuanya.”

Namun untuk poin formulir ganti rugi tidak diminta kepada kami saat itu. 🙂

Dan di dalam pesawat itu mungkin nggak sampai 20 orang penumpang ya. Sepi sekali. Saya tidak mau berasumsi apa-apa, karena juga baru sekali ini menggunakan Lion Air. Dan entah apakah akan menggunakannya kembali.

You know what I mean. 😉

***

Saya seneng banget dengan seri ini, karena banyak yang komen, baik di blog maupun di pages/ instagram saya. Respon dari teman-teman, baik berupa kritik, saran maupun request, bikin saya happy karena saya jadi merasa kalau blog saya ini bermanfaat. Hehehe, GR yak…. So keep in touch yaaak! Klik Like di Pages FB nyonyamalas.com di bar kanan (kalau di PC) atau di bagian paling bawah page ini jika Nyonyah membuka via HP.

Terimakasih sudah membacaaa…. Kalau teman-teman punya pengalaman lain terkait tiga maskapai penerbangan di atas, boleh banget lo share pengalamannya di komen. Karena bisa jadi pengalaman yang kita miliki berbeda, dan pasti akan bermanfaat buat Nyonyah-nyonyah lain yang membaca….

Salam sayang!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

3 Senjata Supaya Aman Menyusui di Tempat Umum

menyusui di tempat umum

Sebenarnya mau nulis tentang ini tuh uda lamaaaaa banget gara-gara lihat seorang Ibu yang menyusui anaknya sambil mengendarai sepeda motor. Yes, bukan dibonceng yak. Tapi si Ibunya yang mengendarai sepeda motor. Heroik! Tapi aku agak agak gimana gitu ngeliatnya, selain tidak aman juga tidak nyaman ya bagi beliau dan yang melihatnya. No offense dan no judging ya.

Saya pribadi sebenernya ga anti menyusui di tempat umum. Apalagi setelah pengalaman penerbangan terakhir, Gayatri agak rewel di pesawat dan maunya nenen dari antri masuk sampai santri keluar, saya jadi menyadari kalau ada kalanya menyusui di tempat umum dan mengambil risiko “terlihat” memang diperlukan.

Namun, teteeeuuup, sebagai perempuan, saya berpendapat kalau harus ada usahanya juga dong untuk menutup aset diri. Yang penting usaha yak, kalau ternyata nanti terlihat karena kondisinya tidak memungkinkan sama sekali untuk menutupi ya, sudahlah. Yang penting sudah berusaha.

Berikut 3 Senjata Supaya Aman Menyusui di Tempat Umum:

1 . Baju Menyusui

Senjata satu ini sepertinya sudah populer banget ya. Saya sendiri punya beberapa yang kebanyakan dibeliin, hihihihi. Bahan dan modelnya bermacam-macam pula. Ada yang formal dan semi formal sehingga bisa dipakai ngantor, ada juga yang berbahan kaos yang super kasual. Berikut contoh yang saya punya:

menyusui di bandara

Foto di atas diambil di Bandara Juanda Surabaya. Saya kalau terbang harus banget pakai baju menyusui. Soalnya pas take off dan landing kan bayi (sebaiknya) harus senantiasa menyusu. Agar telinganya tidak bindeng karena perbedaan tekanan udara. Gerakan menyusu dan menelan akan mengurangi risiko bayi mengalami sakit telinga. Menggunakan baju menyusui ini praktis banget karena di atas kursi pun saya bisa menyusui Gayatri dalam posisi duduk. Bahkan pernah saat dalam kondisi berdiri. Tinggal di buka akses menyusui yang ada di kanan atau kiri baju, tangkupkan kepala bayi, tutup dengan tangan atau dengan hoodie jaket atau hoodie gendongan bayi. Aman sudah.

Kalau foto yang berikutnya adalah saat main di taman. Kalau diperhatikan di sisi kanan baju, ada seperti garis. Nah itulah akses menyusuinya. Bisa dibuka sampai dada, dan di dalamnya ada pelapis yang meminimalisasi tubuh Ibu terlihat dari luar. Di dalamnya Ibu tinggal menggunakan bra/ kamisol khusu menyusui yang ada kaitannya di depan, sehingga mudah dibuka tanpa harus melepas pakaian.

menyusui di taman

2 . Bra Menyusui/ Kamisol Menyusui

Seperti baju menyusi, bra menyusui juga sudah familiar ya…. Banyak yang menjualnya. Jika Nyonyah masih penasaran, bisa googling saja di marketplace dengan keyword “bra menyusui”, pasti akan muncul banyak pilihan. Bra menyusui ini life saver banget buat saya (sepaket dengan baju menyusui) karena memudahkan saya menyusui di mana saja. Evenpun hanya di rumah, paketan baju dan bra menyusui ini menghindarkan saya dari masuk angin, kalau menyusui sampai ketiduran. Ada yang mengalami? Hehehe….

Namun kekurangan bra menyusui bagi saya adalah karena saya suka pakai tank top. Jadi akses menyusuinya tertutup tanktop. Awalnya demikian sampai saya menemukan kamisol bra menyusui di mooimom.id. Kamisolnya itu ya kaya tank top tapi ada busanya sebagai penopang payudara. Daaaannn…. saya baru banget tahu ada teknologi kamisol ini. Super exciteeeedd! Hihihi…. norak ya!

Just in case ada juga yang belum tahu seperti saya seperti apa kamisol, aku share fotonya yak…. Sorry aku ga bisa sediakan foto yang pas aku pakai di badan. Soalnya saruuuuu…. 😛

kamisol menyusui tampak depan

Detai kaitannya si seperti bra menyusui biasa seperti ini:

detail kancing kamisol menyusui

Busa penyelamat bangsa supaya gunungan tidak terlalu merusak moral ada di sini:

kamisol tampak busa

Saya seneng dengan model yang menutup perut seperti ini, soalnya lebih melindungi tubuh bagian bawah. Soalnya kalau kadang banyak bergerak titah-titah Gayatri kan sering menunduk dan kaus luar tersibak, kalau pakai kamisol kan tertutup, jadi punggung dan perut juga tidak terkespos.

3 . Apron

Jujur sebenarnya saya kurang menyukai apron sebagai penutup dada saat menutupi Gayatri. Alasannya karena apronnya malah digunakan sebagai mainan bocah. Hahahaha…. Malah mainan Cilukba! Kan malah riweuuuhhh…. Namun mungkin bayi Nyonyah tipe yang anteng di bawah apron, mungkin bisa dipertimbangkan untuk membelinya. Saya pribadi tidak pernah beli apron. Hanya punya satu buah, bonus dari pembelian gendongan bayi.

Nah, apron ini bermanfaat buat saya malah bukan saat menyusui Gayatri. Namun saat pumping di kantor, tapi pas tidak di nursing room. Hehehe…. Soalnya kalau kerjaan lagi repot, pumping di ruangan akan lebih efisien. Toh kubikel saya ada di pojok dan lumayan terlindung. Jadi bisa pumping sambil mojoks dan ngetik. Hehehe….

Pumping paling ekstrim saya pernah lakukan di bus! Tapi bus pariwisata si. Saat itu lagi acara outing dengan rekan-rekan kantor. Jadi sebelah saya temen kantor, sesama perempuan. Saya minta izin untuk menggunakan kursi yang mepet jendela, kemudian pumping dengan ditutupi jaket sebagai pengganti apron. Saya sengaja menggunakan jaket (dipasang terbalik) agar tidak semencolok apron. Lagipula saat itu malam hari, jadi ya tidak ada yang tau juga kalau saya sedang pumping. Kecuali rekan sebelah, tentu saja. 🙂

menyusui di tempat umum

Bonus foto: saya dan Gayatri, pelaku menyusui aman di tempat umum. Proud and happy! Kelihatan gepeng karena kesalahan pengeditan ya. Bukan karena saya tuambuah guenduuutttt!!! Hihihi….

Saya bersyukur karena kondisi sekarang, banyak instansi dan tempat keramaian yang sudah busui friendly dengan menyediakan banyak tempat menyusui yang nyaman. Namun apabila pun tidak ada, dengan tiga senjata tersebut saya tidak khawatir kegiatan menyusui akan mengganggu kenyamanan bersama. So, Ibu tidak perlu menahan diri lagi untuk menyusui di tempat umum ya. Karena menyusui, baik untuk ibu dan juga bayi. 🙂

Semoga sharing kali ini bermanfaat. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Pengalaman Membawa Bayi Naik Pesawat (Umur 9 Bulan)

bawa bayi naik pesawat

Sebelumnya saya pernah menulis pengalaman saya membawa bayi naik pesawat pas bayi saya ber umur 4 bulan plus seorang lansia. Buat yang belum baca, mari cuss dulu ke sini ya, biar related.

Related Post: Pengalaman Membawa Bayi Usia 4 Bulan + Lansia

Nah dari 4 bulan s.d 9 bulan ini, Gayatri terbang sekitar 10 kali. Dari situ saya ngerasain perbedaan tantangan antara membawa bayi usia 4 bulan dan 9 bulan. Ngakalin tantangannya juga beda. Dikit sih, tapi beda! Hehehe….

bawa bayi naik pesawat

Bedanya:

  1. Bayi umur 4 bulan belum banyak gerak. Sementara Gayatri, anak saya, pas umur 9 bulan maunya dititah mulu kemana-mana. Evenpun di dalam pesawat. Jadi kalau dulu, bisa dipasangin infant seat belt. Sekarang enggak. Pakai gendongan kanguru pun dia sudah bisa muntir muntir, mau melarikan diri.
  2. Bayi umur 4 bulan kalau nangis, tinggal tancepin nenen, case closed. Sementara Gayatri, anak saya, pas umur 9 bulan kalau nangis kadang jerit-jerit naik 8 oktaf, ngalahin Mariah Carey falseto. Lalalalalalallllllaaaaaaaa….
  3. Bayi umur 4 bulan kalau pupup baunya masih bearable. Sementara bayi 9 bulan, omagaaaahhh, baunya uda bisa dikategorikan senjata biologis pemusnah masal.
  4. Bayi umur 4 bulan cuma butuh ASI, ASI dan ASI. Sementara bayi 9 bulan kan uda makan. Jadi bawaannya makin bikin Ibu berotot.
  5. Bayi umur 4 bulan kalau kepo cuma bisa merem melek, sementara Gayatri kemarin pas kepo tangannya uda bisa grepe-grepe seragam pramugari (dan sekali juga pramugara), kan bikin gengges….

hehehe

Pendapat diatas berdasarkan 10x penerbangan domestik-nya Gayatri ya. Mungkin kalau penerbangan internasional yang lama penerbangannya lebih panjang listnya bisa lebih panjang lagi. Hahaha…. Mari lanjut ke lesson learn yang saya dapat ya, semoga sharingnya bermanfaat untuk yang mau ajak bayi baru gede naik pesawat.

Memilih Maskapai Penerbangan

Maskapai yang pernah digunakan oleh saya bareng bayi: Garuda (2x), Citilink (3x), Air Asia (3x), Lion Air (1x), Sriwijaya (1x). Kalau ditanya mana maskapai favorit saya saat membawa bayi naik pesawat, ya tentu Garuda yak. Dengan catatan pas PROMOOOO, soalnya desseu mahaal! Tapi karena hal tersebut jarang terjadi, maka kalau saya harus memilih maskapai yang low budget, saya akan lebih memilih Air Asia. Dan kemudian Citilink.

Barang Bawaan

Wajib, kudu dan harus, memisahkan beberapa printilan bayi di tas terpisah yang mudah dijangkau. Jadi kalau bawaan banyak biasanya saya bawa tas punggung dan satu diaper bag. Kadang malah nggak bawa tas punggung, hanya bawa satu diaper bag saja. Barang-barang lain saya paketin via JNE ke lokasi tujuan. Biasanya barang yang saya bawa di diapers bag adalah sebagai berikut:

  1. Popok sekali pakai
  2. Tisu basah
  3. Baju ganti
  4. Botol minum
  5. Kotak makanan Gayatri
  6. Obat-obatan
  7. Teether
  8. Dompet isi tanda pengenal

barang bawaan

Yang perlu diperhatikan saat membawa diaper bag adalah ukuran dan diaper bag yang dipakai. Ukurannya harus cukup besar untuk bisa menampung printilan bayi yang lumayan banyak. Namun juga tidak terlalu besar untuk bisa masuk di kolong kursi penumpang pesawat.

Kemarin aku ukur pake tangan, kira-kira lebar punggung kursi penumpang itu dua kilan tanganku, which is perkiraan 40 cm, dikurangi ada kaki kursi, perkiraan lebar/ tebal  tas maksimal yang bisa masuk adalah sekitar 30 cm. Saya memasukkannya menyamping. Oiya satu lagi, saya suka yang banyak kompartemen, baik di dalam tas maupun di bagian saku. Kompartemen ini fungsinya agar barang di dalam tas lebih terorganisasi. Selain itu, kompartemen di saku juga berfungsi untuk menaruh tanda pengenal, dll, agar lebih mudah di raih.

diaper bag di nursing room

Foto di atas, adalah foto pas saya ngegantiin popok Gayatri di Terminal 2F Soekarno Hatta. Kebayang kan. Tangan kanan harus megang bocah yang udah lincah mau loncat dari meja tempat ganti popok. Sementara tangan kiri ngubek-ubek tas buat nyari popok, tisu, dll. Dengan kompartemen yang banyak dan rapih membuat semuanya dapat dilakukan dengan nyaman dan cepat.

Tas yang saya gunakan adalah Mooimom Lady Diaper Bag, saya buat reviewnya terpisah ya.

How About Stroller?

Saya pribadi belum pernah membawa stroller, karena Gayatri terbiasa tak gendong kemana mana tak gendong kemana mana. Namun, karena akhir tahun berencana family trip agak lama, ada rencana juga si bawa stroller. Jadi saya sempat nanya ke petugas check in Citilink. Stroller boleh dibawa sampai pas mau boarding. Pas mau boarding, stroller bisa diserahkan ke petugas untuk dimasukkan bagasi.

setrong

Persiapan Kesehatan

Kalau dulu pas bocah masih kicik banget, tiap bulan selalu kontrol ke dokter + imunisasi. Jadi kalau mau terbang biasanya bisa sekalian konsultasi dan periksa. Sekarang kan jeda kontrolnya bisa 3 bulan, jadi tidak selalu periksa dokter dulu.

Cuma kemarin pas Gayatri kaya mau flu, saya bela-belain ke dokter dulu untuk nanya apakah boleh naik pesawat atau engga. Saat itu Gayatri belum resmi flu si. Ga ada demam atau ingus yang kental. Cuma kadang suka ada kaya ingus super encer meler kalau di pagi hari. Walau begitu saya tetep worry. Soalnya takut memaksakan diri, dan efek perbedaan tekanan udara pas bocah pilek ga bagus ke pendengaran bocah. Saya yang orang dewasa aja pernah terbang pas pilek, dan telinga rasanya sakit banget.

Better worry than sorry, ye kan….

Setelah diperiksa dokter, dan dokter bilang saluran pernapasannya bersih. Kami cukup PD untuk berangkat. Cuma untuk persiapan kami bawa beberapa persenjataan just in case dia meler pas mau berangkat:

  1. Sterimar nassal cleanser
  2. Penyedot ingus
  3. Paracetamol
  4. Rhinos
  5. Termometer

Gunakan Pakaian yang Nyaman untuk Ibu

Untuk Ibu yang menyusui secara langsung saya sangat menyarankan banget pakai baju menyusui. Berdasarkan pengalaman saya dengan Gayatri, pakai apron di pesawat is no no banget lah. Udah ribet, kadang bocahnya juga malah ciluba-an pakai apron. Kalo uda jadi mainan, makin susah untuk ngontrol pabrik susu Ibu tetap aman terkendali.

Kalau pakai baju menyusui yang jaman sekarang tuh, yang kaya ada jendela di sisi kanan dan kiri, lebih praktis dan menurut saya juga lebih aman. Amannya relatif si, tetep ada kemungkinan terkekspos juga namun lebih terkontrol karena nggak dipakai mainan bocah. Untuk “perlindungan ekstra” saya biasanya dobelin pakai kamisol khusus menyusui juga. Kaya tank-top tapi sekalian jadi bra, jadi ga perlu pake bra lagi.

Berbeda dengan baju menyusui yang sudah populer, sepertinya kamisol ini belum terlalu hits yak. Kaya gini nih bentuknya:

kamisol menyusui tampak depan

Selain aman, juga nyaman, bahkan saya bisa menyusui Gayatri dalam posisi duduk di dalam gendongan kanguru. Tinggal ditutup pakai tudung jaket atau tudung dari gendongan kanguru, penumpang sebelah pun ga terganggu serta nggak bikin risih.

Beli kamisol dimana dan detail produknya saya tulis di: 3 Senjata Agar Nyaman Menyusui di Tempat Umum.

Gunakan Pakaian yang Nyaman untuk Bayi

Standar pakaian yang saya pakaikan Gayatri: Jaket berpenutup kepala, kaus, stoking tutup (yang sampai menutup telapak kaki), sepatu. Oiya satu lagi yang wajib adalah popok sekali pakai, demi kepraktisan. Biar ga perlu bolak balik ganti kalau pipis. Paling hebohnya cuma kalau pup. Hihihi….

Saya pernah pas hampir mau landing di Yogyakarta, Gayatri pupup. Masyaallah baunya. Mana landing di Yogyakarta tu kadang lama, pakai acara muter-muter di udara karena antrian yang panjang. Sebelah saya tu sampai tutup tutup hidung dan oles-oles freshcare untuk ngalahin baunya pupup Gayatri. Mau diganti juga uda ga bisa karena proses landing, penumpang ga diizinkan ke toilet. Jadi ya gitu deh…. Hahaha….

Syukurlah Gayatri pas itu ga cepirit ya. Kalau sampai cepirit di celana, wasallam dah. PR banget, soalnya saya pas solo travelling. Cuma sama Gayatri. Di situ saya mau sungkem sama Goo.N, merk diapersnya Gayatri hahaha. Life saver banget soalnya. Aman, ga tembus dan ga luber pas pupup. Nggak gembung juga kalau penuh, dan anaknya jadi tetep merasa nyaman dan bebas bergerak juga, walaupun perjalanan cukup lama.

bawa bayi naik pesawat 2

Selain diapers yang perlu diperhatikan adalah jaketnya. Saya jarang banget beli baju yang mahal buat Gayatri. Namun, buat jaket saya bela-belain yang agak mahal dikit. Soalnya jaket yang bagus itu, hangat pas suhu dingin, namun ga bikin gerah pas kita ada di luar ruangan. Secara kan bocah saya gendong terus…. Kadang panas bok, kalau pake jaket yang nggak sip. Pilih juga jaket yang ada hoodienya, biar tidak perlu pakai tutup kepala lagi, seperti foto Gayatri di atas.

Apa lagi ya? Hehehe…. yang punya tips bisa juga tinggalkan tipsnya di komen ya. Untuk tips supaya bocah tidak rewel di atas pesawat aku tulis di artikel yang berbeda. Soalnya ini uda puanjuaaaanggggg…. 🙂

Terimakasih sudah mampir. Semoga sharing kali ini bermanfaat. Salam sayaanggg! 🙂

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Review Mooimom Lady Diaper Bag

gayatri dan diaper bag judul

Untuk Ibu beranak yang memiliki mobilitas cukup tinggi seperti saya, tas adalah investasi yang berharga. Karena tas bukan hanya sekedar untuk kepentingan menunjang penampilan. Melainkan demi kepentingan fungsional yang mendukung produktivitas sehari-hari. Saya menggaris bawahi peran “ibu beranak” ya, karena kebutuhan tas bagi ibu yang sudah memiliki anak itu beda. Kalau dulu kita cuma perlu tas yang bisa diisi dokumen pekerjaan dan sedikit makeup. Sekarang tas kita untuk perjalanan harus juga mengangkut printilan-printilan bayi. Yang kadang ribet banget kalau wadahnya nggak fungsional.

gayatri dan diaper bag judul

Tas ini favorit banget, terutama buat saya yang akhir-akhir ini sering banget bepergian naik pesawat bareng Ning Gaya. Biar ga terlalu panjang langsung aja ke hal-hal yang saya Review Mooimom Lady Diaper Bag berikut:

Deskripsi:

Nama barangnya Mooimom Lady Diaper Bag yang motif garis-garis putih biru muda. Mooimom itu nama merknya. Lucu yak? Saya sendiri bingung bacanya gimana hihihihi #abaikan.

Bahannya dari canvas tebal. Modelnya kasual dan cukup fashionable ya. Nggak mamak-mamak banget. Sebenarnya saya punya satu diaper lainyang  ada motif gajah gede banget di muka. Awalnya saya pikir motifnya lucu. Tapi lama-lama kok gengges. Terlalu kelihatan kalau itu diaper bag. Hihihi, so i prefer pakai diaper bag yang satu ini sekarang.

Kata webnya si bisa jadi Hand Carry, Sling Bag atau Shoulder bag. Tapi aku biasa pakai dengan sling bag aja. Mungkin harus nyoba jadiin shouder bag ya, soalnya kalau isinya buanyak kerasa berat juga kalau di satu pundak aja.

Tampak depan dan sampingnya sebagai berikut:

diaper bag tampak muka

diaper bag tampak samping

Size : 43 x 13 x 34 cm ( Panjang / Lebar / Tinggi )

Ukuran ini cukup besar buat memuat segala macam printilan bayi, tapi masih cukup untuk dimasukkan di kolong kursi penumpang. Ini penting banget ya, karena memudahkan saya meraih benda-benda yang diperlukan saat di atas pesawat. Karena tidak perlu meletakkannya di kabin. Terakhir saya terbang menggunakan Citilink, saya ukur kira-kira ukuran lebar kolong kursi penumpang itu satu setengah jengkal (lebih) tangan saya. Sementara diaper bag yang saya isi lumayan penuh itu hanya kurang dari satu jengkal tangan saya. So, tas masih bisa keluar masuk kolong dengan relatif mudah.

Selain itu, ukurannya yang bulky tapi not so bulky itu nggak mengganggu pergerakan saat berjalan menuju pesawat tanpa membawa troli. Even sambil menggendong Gayatri ya.

love love

What I Love:

  • Banyak disediakan tali: terdapat 2 strap kecil untuk di stroller, terdapat tali strap panjang untuk Sling Bag.
  • Kompartemennya banyak banget; 13 kantong saku. Jadi ga perlu pakai tas tas terpisah lagi untuk memisahkan barang-barang printilan. Jadinya di dalam tas rapi dan barang-barangnya mudah dicari. Oiya, yang bikin beda juga dengan tas biasa dan diaper bag yang sebelumnya saya miliki adalah ada kantung yang dilapisi dengan alumunium. Sebanyak empat buah! Dua di dalam dan dua di luar. Kata suami saya itu untuk menjada suhu. Ini helpfull banget buat bawa makanan atau minuman, soalnya menjaga tetap hangat atau tetap dingin.

kantung diaper bag alumunium foil

diaper bag bagian dalam

barang bawaan

  • Terdapat Pacifier Clip dan kantong kecil untuk menyimpan dot/teether bayi.
  • Jahitannya kokoh, infonya bisa menampung berat 3kg. Kekokohan ini penting banget menurut saya. Soalnya kalau bawa bayi, kita harus meminimalisasi hal-hal yang unpredictable, seberti tali putus atau tas sobek. Biar kitanya bisa fokus menjaga bayi, tanpa khawatir barang-barang kita terburai atau tercecer karena tasnya rusak.
  • Ada bonus perlaknya buat ganti popokssss…. Laffff….

Netral:

  • Harganya lebih tinggi dibandingkan diaper bag yang saya miliki sebelumnya. Tapi wajar saja si, memang kualitas bahan dan jahitannya lebih kuat. Fitur dan hal-hal lainnya juga lebih baik dan fungsional. Seperti kata orang Jawa bilang “ono rego, ono rupo”. Harga sesuai dengan kualitas yang diberikan. Harganya Rp 799.000,00 tapi lagi diskon jadi Rp 599.000,00.
  • Warna putih birunya cakep bingit, namun juga mudah kotor bagi saya yang agak kemproh ini. Hanya saya salut sama pembuatnya, karena sepertinya sudah mengantisipasi hal ini. Bagian bawah tas dilapis dengan kulit yang lebih mudah dibersihkan dibandingkan dengan kanvas. Sehingga mengurangi kekemprohan akibat kebiasaan saya yang suka taruh tas sembarangan. Buat yang merasa lebih kemproh dari saya mungkin bisa mempertimbangkan yang warna hitam putih.

In my humble opinion ya, tas ini cucok meong buat yang suka travelling bawa anak. Its recommended terutama untuk ukuran, kekuatan bahan serta jumlah kompartemen seperti yang sudah saya sebutkan di atas. 🙂

Where to Buy:

Web Mooimom

FB Mooimom

IG @mooimom.id

Sekian review dari saya, semoga reviewnya bermanfaat ya Nyaaah…. Semangat para Ibuuuu, punya anak bukanlah alasan untuk menghambat pergerakan kita kan yak! Selalu ada cara untuk membuat perjuangan para Ibu menjadi lebih mudah dan nyaman. Salam sayaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Gayatri Mendadak Naik Tekstur MPASI

FullSizeRender(1)

Gaya, nama anak saya memang litteraly Gaya ya…. Bukan gegayaan, hihihi. Usianya sekarang 9 bulan dan seperti yang kebanyakan ibu muda bingungkan, 9 bulan adalah saatnya naik tekstur makanan. Saya sendiri rada concern dengan masalah perteksturan ini karena hasil baca-baca, masalah makan itu berkaitan dengan belajar bicara. Rada kawatir juga karena saya pakai blender untuk memroses bubur Gayatri, which is kata orang (((banyakan kata orang nih, hahaha))) bisa bikin bocah susah naik tekstur MPASI.

hehehe

But, ternyata kegalauan tersebut menguap begitu saja. Mendadak Gayatri naik tekstur. Beneran mendadak ya, karena cepat sekali peralihannya. Tanpa saya banyak usaha gitu. Tiba-tiba, eh ni bocah mau makan nasi aja. Blessings in disguise, karena bulan lalu kami rada sibuk dengan masuk keluarnya Suami dan Mama Mertua ke Rumah Sakit, Gayatri malah jadi naik tekstur dengan lancar. Ga nyambung yak? Sumprit, itu nyambung!

Tekstur MPASI Gayatri Sebelum 9 Bulan

Saya sering post menu MPASI-nya Gayatri di Instagram. Kalau temen-temen lihat dan merhatiin pasti ngeh kalau tekstur makanannya Gayatri itu nggak konsisten. Kadang alus banget, kadang kasar, trus besoknya balik alus lagi. Galau, kaya emaknya. 😛

Hal itu karena biasanya saya siapin bubur agak kasar. Kadang bocah mau makan bubur kasar. Kadang nggak maaauuuuuuk…. Kalau pas nggak mau ini kadang saya blender lagi biar alus. Hehehe…. Nggak ideal sih, ngikutin bocah gitu. Tapi prinsipnya si, saya nggak mau maksain dia makan. Tapi tetep dicoba lagi besoknya tekstur kasar, ga mau lagi, blender lagi Maaaanggg….

Itu salah satu menu MPASInya Gayatri pas umur sebelum 9 bulan, kalau mau tau yang lain langsung cuss aja ke IG yaaak….

Blessing in Disguise

Bulan kemarin Suami dan Mama Mertua gantian masuk rumah sakit. Mau nggak mau saya sering bawa Gayatri juga ke RS untuk mengantar mereka berobat. Kalau kami ke RS, nggak mungkin dong mblender ulang bekal Gayatri kalau ternyata dia nggak mau bubur agak kasar. Dan entah karena lapar atau karena ni bocah pengertian, selama di RS nggak pernah ngerewelin makanan. Bekal selalu dimakan. Kadang kalau saya lupa mbekal, saya beli nasi tim ayam di kantin (kantin Eka Hospital, nasi timnya enak loh), dan dia mau juga.

Kayanya si turning poinnya di situ ya. Setelah semuanya sehat, dan kami ga perlu balik RS lagi, Gayatri uda nggak mau makan bubur lagi. Fix nasi. Nasi disini maksudnya nasi lembek ya, seperti nasi tim.

Thanks God! Saya cek di panduan tekstur makannya WHO juga sesuai kok kalau anak usia 9-12 memang sudah waktunya belajar makan nasi. Kalau teman-teman anaknya uda 9 bulan tapi belum bisa makan nasi, tenang Nyyyaaaaahhh, jangan panik. Anak-anak kan punya jalur belajarnya masing-masing. Pelan-pelan sajaaaaahhhh…. 🙂

Makan Sendiri

Cuma sekarang saya punya PR baru nih. Gayatri lagi seneng-senengnya makan sendiri. Dia jumputin nasi di piring, dan dimasukin ke mulutnya. Kadang mau sambil disuapin. Tapi kadang nggak mau sambil disuapin.

Ada senengnya sih. Wah, ni bocah uda tambah pinter. Tapi ada juga nggak senengnya. Dooohhh, saya ni kurang bersyukur banget ya, hahaha. Yang pertama, pasti belepotan dong. Nasi berceceran di lantai. Hal itu buat saya nggak terlalu masalah si. Tinggal diberesin, atau pindah aja tempat makan bocah di teras belakang. Hehehe, kejam.

Yang bikin saya agak worry adalah, kalau dia makan sendiri biasanya cuma mau makan nasi dowang wang wang wang wang wang…. Takut kurang gizi kan lama-lama. Beberapa hal coba saya lakukan sbb:

  1. Nasi dicampur lauk dan sayur yang sudang dicincang lalu dibentuk bulatan-bulatan. Hal ini sempat berhasil, namun hanya beberapa kali, setelah itu failed. Bocah malah nggak mau makan.
  2. Nasinya saya ganti nasi uduk. Masak sendiri tentunya, bukan nasi uduk di warung sebelah. Hehehe…. Saya cuma masukin santan di rice cooker saat membuatkan nasi lembek untuk Gayatri. Ini sebenernya tips dari DSAnya Gayatri si, supaya kalori yang masuk ke tubuh bocah nambah. Ini berhasil, bocah tetap doyan. Semoga kebutuhan lemaknya terpenuhi dari sini ya.
  3. Saya (sebenernya bapaknya si) bikin snack yang “berat”. Kemarin sempat nyoba martabak mi, yang dibuat dari telur, misua rebus, parutan wortel. Lumayan lah buat nambahin nutrisi bocah, ada protein, karbo dan sayuran. Ada yang punya ide snack lain? 🙂

Teman-teman ada yang pernah mengalami hal yang sama? Feel free untuk ninggalin pengalaman atau tipsnya di komen yaaa…. 🙂

kuatLesson Learn

Balik lagi ke masalah naik tekstur MPASI tadi…. Yang saya pelajari dari kejadian Gayatri Mendadak Naik Tesktur MPASI itu adalah:

  1. Nggak perlu pusing atau kebanyakan kawatir, percayalah bocah punya kemampuan untuk belajar yang berbeda-beda 🙂
  2. Yang penting Emaknya usaha konsisten, tapi nggak perlu memaksakan kehendak juga, ikuti saja kesiapan bayi. Siapa tahu nanti bocah yang akan memberi kita kejutan dengan kemampuan-kemampuan barunya.
  3. Setelah satu tantangan selesai, masih banyak tantangan baru yang laiiinnn ahahaha, kagak selesai selesaaaiii, jadi jangan dihabiskan stressnya sekarang…. Karena masih banyak kesetresan lain menunggu…. wkwkwkwk…. Jadi selow aja Nyaaah, Belanda masih jauuuhhh!

FullSizeRender(1)Related Post: Bingung Memilih Metode MPASI? Jangan Lakukan 5 Hal Ini

Mmm…. Apa lagi yak?

Kayanya gitu dulu, sampai jumpa di cerita berikutnya ya Nyah…. Semoga sharing kali ini ada manfaatnya ya, walaupun mostly curhat ahahaha…. Salam sayang! 🙂

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!