Perhatikan Baik-baik 5 Hal ini Agar Kupon Voucher Diskonmu Tak Berujung Boros

contoh promo2

Mau untung malah buntung. Pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat membeli kupon voucher diskon makanan? Saya pernah beberapa kali. Sebenarnya karena kesalahan saya sendiri si. Hehehe…. Karena saya mengakui, saya adalah orang yang kurang teliti.

hiks

Padahal si sebenarnya kupon voucher diskon tu lumayan bisa menghemat biaya jajan loh…. Apalagi buat kamu yang memang doyan jajan atau sering melakukan meeting di restoran. Berikut adalah pelajaran yang saya petik dari kesalahan-kesalahan saya tersebut, semoga bisa jadi tips yang bermanfaat ya buat Nyonyah…..

1 . Perhatikan harga yang ditawarkan.

Adanya kupon tidak serta merta harga jualnya pasti lebih murah lo teman-teman. Jika kita belum familiar dengan tempat makan/ tempat belanja yang menawarkan diskon, better memastikan harga normalnya dahulu, agar harga yang didapatkan benar-benar value for money, bukan akal-akalan marketing semata. Caranya gampang kan, tinggal nanya mbah google.

2 . Perhatikan expired date.

  • Kalau bisa pilih kupon yang tidak terlalu mepet agar kecil kemungkinan kita melewatkan waktu menebus kupon tersebut.
  • Ingat-ingat jadwal ulang tahun atau perayaan-perayaan lain yang mengharuskan kita menraktir orang banyak. Cari kupon di saat-saat tersebut sehingga kita bisa menraktir rekan di tempat dan makanan yang lebih istimewa dengan budget yang terjangkau. Hal ini penting karena kita bisa saving lumayan banyak loh, kalau membeli dalam jumlah banyak menggunakan kupon. Contohnya produk yang terdapat di Voucher Diskon BambiDeal di bawah ini. Untuk makan Wagyu Steaks + Drink seharga Rp 147.000,00 kita hanya perlu bayar Rp 80.000,00 berarti hemat Rp 67.000,00/ meals. Kalau nraktir sekeluarga isi 4 orang aja, uda lumayan kan savingnya.

contoh promo 1

  • Simpan kupon dengan terorganisir ya, supaya tidak kelupaan.Pengorganisasiannya si bisa pakai kalender aja di google. Catat tanggal kapan kita mau menggunakan kupon apa. Sayang kan kalau sampai terlewat momen/ expired datenya.

3 . Perhatikan rules (syarat dan ketentuan) yang berlaku.

  • Cek apakah voucher bisa digunakan untuk delivery, take away atau harus dine in. Jika memang bisa delivery jangan lupa untuk memeriksa ketentuan biaya pengiriman yaaa….
  • Perhatikan jumlah porsi yang diinginkan, dan ketentuan pembelian kupon terkait. Saya pernah melakukan kesalahan saat saya ingin membeli kupon untuk 2 kali meals. Saya membelinya dalam satu kupon, sehingga saat membeli saya terpaksa membawa pulang dua porsi makanan, padahal yang saya inginkan adalah dua kali makan di waktu yang berbeda. Dooohhhh…. Ga teliti bangetttt….
  • Cek apakah voucher diperbolehkan untuk digunakan bersamaan dengan diskon/ promo lain. Misal pada beberapa hari dalam seminggu ada promo yang bisa membuat kita mendapatkan cash back apabila memiliki Debit Card dari bank yang kita miliki. Kalau memang bisa dobel kan untttttuuuuuuuungggg!!!

love love

  • Cek juga apakah kupon harus dicetak atau boleh hanya menunjukkan kode. Sebisa mungkin sih, jika membeli  Kupon Voucher Restaurant secara online pilih yang paperless yak. Selain mengurangi biaya printing, untuk jaga-jaga juga kalau kita lupa ngeprint. Hehehe, tips ini penting buat orang-orang yang pelupa seperti saya. Jangan sampai kita uda sampai di merchant uda pesen, eeehhhh, lupa ngeprint kuponnya. Kan tengsin. Kalau nggak harus diprint kan tinggal tunjukin kupon dari handphone. Kids jaman now gitu loh, masa handphone juga ketinggalan. Kayanya kecil kemungkinan kan.
  • Oiya jangan lupa untuk memastikan apakah harga yang tercantum sudah termasuk pajak yaaa….

Contoh syarat dan ketentuan (biasanya dapat dilihat di bagian bawah offer):

syarat dan ketentuan

4 . Perhatikan lokasi merchant yang dituju.

Perhitungkan biaya perjalanan, bensin, waktu tempuh dan juga biaya parkir. Nggak lucu aja, kalau ternyata kita beli kupon makanan yang membuat kita hemat Rp 40.000,00 tapi biaya perjalanannya Rp 50.000,00. Itu mah bukan hemat. Tapi nombokkkksss….
Lokasi merchant yang perlu diperhatikan selain jarak adalah tentang kenyamanan. Kenyamanan tempat maupun kenyamanan parkir. Apalagi jika teman-teman berencana membeli kupon di merchant yang berada di tengah mall untuk weekend. Pastikan tempat parkirnya nyaman, kalau harus bayar valet juga, kan sama aja nggak hemat.

contoh promo2

5 . Beli kupon voucher diskon untuk makanan yang benar-benar kamu pengen.

Last but not least ni, jangan membeli kupon hanya karena tergiur dengan diskonnya yang besar, padahal kita nggak doyan.
Kalaupun kita ingin menggunakan kupon untuk makanan yang belum pernah kita coba tapi yang beneran kita pengen, jadi kalaupun ternyata nggak enak pun nggak rugi-rugi amat. Hihihi…. Untuk meminimalisasi risiko nggak doyannya sebaiknya cari info sebanyak-banyaknya tentang makanan yang akan kita beli. Cari review di food blogger terpercaya yang kira-kira sesuai dengan seleramu.

Selamat hunting kupon voucher diskon ya Nyaaaahhh…. Semoga dengan perencanaan yang baik, anggaran jajan-nya bisa hemat namun tetep nikmat. Salam sayaaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Pengalaman Melunasi Utang KTA Mandiri

reksadana usia muda

Ini cerita pengalaman saya melunasi utang KTA Bank Mandiri. FYI, KTA itu Kredit Tanpa Agunan dari Bank Mandiri. Masih sebagian si ngelunasinya, belum semua, tapi rasanya seneeeeeng…. Uda selangkah lebih dekat dengan pelunasan. Doain ya jemaah biar segera lunas nas nas. Amiiiin.

Sebelumnya saya kira prosedurnya bakalan ribet, ternyata engga seribet yang saya bayangkan. Sebelum saya cerita prosedurnya, saya pengen cerita latar belakang pelunasan hutang ini dulu….

Kenapa mau bayar hutang sebelum jatuh tempo?

1. Karena utang saya ini sifatnya konsumtif.

Jadi hutangnya dulu buat beli tanah yang ga produktif. Kalau untuk usaha kan produktif ya, jadi laba hasil usaha bisa buat bayar cicilan. Itu beda kasus. Saya menghormati juga rekan-rekan yang berani mengambil risiko demi membangun usahanya. Namun karena tanah yang saya beli (sementara ini) nganggur, ga menghasilkan cash in flow dan saya bayar pakai duit gaji, jadi saya pengen hutang ini segera sirna.

2. Mumpung punya duit daripada buat foya foya (halah).

Ini karena saya mengenal perilaku keuangan saya pribadi. Saya ga bisa pegang kas atau setara kas yang sifatnya liquid (mudah dicairkan). Pasti bakal menyublim jadi barang-barang belanjaan, atau makanan enak. Hehehe. Oleh karena itu, pas saya dapat THR, suami dan saya langsung cus mengalokasikannya untuk bayar utang. Sesaat setelah menerima THR.

Mungkin hal ini bisa diterapkan teman-teman juga ya. Saya tidak menyesal menyisihkan THR untuk membayar utang lebih dulu. Karena jika menunggu sisa, kayanya kok habis habis terus ya. Hehehe….

Related Post: Pengalaman Berinvestasi di Reksadana

Related Post: Tips Perencanaan Keuangan Keluarga

3. Biar hati tenang.

Mungkin teman-teman yang beragama muslim akan teringat tentang riba. Saya tidak membahasnya karena memang tidak paham riba. Teman sesama bloger saya, Girly, pernah membahas tentang riba dan tips menghindari riba di tabungan di blognya.

Saya pribadi walau tidak berpikir terkait riba, tetep saja di hati resah rasanya kalau punya tanggungan. Bukan kawatir mati sebelum lunas juga si, karena saya tahu KTA itu kan ada asuransi jiwanya. Tapi resah aja gitu. Adakah yang merasakan hal yang sama?

4. Demi perencanaan keuangan yang lain.

A man in debt is so far a slave,” kata Ralph Waldo Emerson terkait dengan alasan saya ke empat ini. Karena saya pengen bebas makanya saya berusaha melunasi hutang sesegera mungkin. Jadi, saya dan suami punya impian untuk bisa kerja pakai kolor alias kerja di rumah aja suatu hari. Nah, kerja freelance kan ga pasti ya, kadang ada duit kadang engga. Sementara kalau saya punya utang di bank, saya kan harus nyicil per bulannya. Deg-degan kan. Biar bisa mewujudkan impian tadi dengan lebih tenang dan juga nyaman, melunasi utang sesegera mungkin.

Sumber: giphy.com

Berikut prosedur pelunasannya yaaa….

Sebelum melanjutkan ke prosedur, saya ingin menekankan bahwa saya bukan petugas atau pegawai Bank manapun. Apa yang saya tulis di sini murni merupakan pengalaman pribadi dan tidak menggantikan informasi resmi dari pihak bank. Saya harap pengalaman saya bermanfaat sebagai bayangan awal, bukan sebagai konsultasi, karena masing-masing bank memiliki prosedur yang mungkin berbeda. Saya juga menghargai perbedaan preferensi perbankan yang mungkin dimiliki oleh teman-teman semua. 🙂

1. Datang ke Bank.

Pastikan datang ke kantor cabang yang tepat ya…. yang ada petugas kreditnya. Saya sempat sekali datang ke kantor yang ga ada petugas kreditnya. Jadi harus moving ke kantor lain, yang untungnya deket. Terus lagi saya ternyata dulu pengurusan kreditnya di pusat. Tapi untungnya bisa diurusin sama petugas kredit yang di cabang.

2. Konsultasi dengan petugas kredit.

Wajib yak! Tanya-tanya dulu, berapa pinalty, berapa sisa pokok utang, berapa lama harus menyicil, dsb dst. Bandingkan apa keuntungan dan kerugian kalau kita bayar sesuai waktu dengan kalau kita melakukan pelunasan lebih awal. Soalnya asumsi kita kadang kan beda sama Bank, jadi biar clear aja. Sehingga saat sudah dilakukan pelunasan tidak ada dendam di antara kita.

3. Mengisi form pelunasan utang.

Form pelunasan hutang ini sangat sederhana hanya satu lembar. Data yang diperlukan nama, no rekening hutang sama no rekening deposit untuk pembayaran utangnya. Di dalam form ini ada pilihan khusus untuk yang melakukan pelunasan sebagian. Ada pilihan terkait jumlah cicilan dan jumlah waktu cicilan. Pilihan pertama, cicilan tetap namun waktu makin pendek atau pilihan kedua, waktu pelunasan tetap namun besaran cicilannya mengecil. Kalau saya karena pengen segera lunas maka saya memilih yang pertama.

4. Menandatangani form tersebut di nomor 2.

Jika sudah yakin, tanda tangani formnya ya…. 🙂

5. Menyerahkan foto kopi KTP.

Kemarin saya ga bawa jadi difotokopiin sama petugas kreditnya. Oiya, fi form pelunasan utang, ada tulisan permintaan fotokopi KTP suami, namun kemarin saya tidak dimintai.

6. Deposit uang.

Sediakan deposit uang di rekening sebesar jumlah yang mau dibayar + biaya pinalty. Biaya penalty? Yap! Memang ada biaya yang harus ditanggung jika mau melakukan pelunasan sebagian atau pelunasan seluruhnya. Di tahun 2017 ini besarnya 2% x jumlah besaran yang dibayarkan. Dulu padahal 1% #kraaay. Namun karena sudah niat. Yawis ikhlaskan, hempaskan. Hehehe…

7. Menunggu proses.

Agar selama proses kita bisa follow up ke petugas kreditnya maka jangan lupa tanya nama dan nomor hape petugasnya ya.

8. Konfirmasi.

Setelah proses selesai, deposit kita akan otomatis dipotong dari rekening. Nah, pengalaman saya kemarin petugas kredit tidak mengonfirmasi ke saya. Jadi karena saya yang berkepentingan, saya yang berinisiatif untuk menghubungi terlebih dahulu.

Sumber: giphy.com

Kurang lebih gitu pengalaman melunasi hutang KTA Mandiri yang saya alami di bulan Juli 2017. Ada kemungkinan prosedur di masa depan akan berubah. Namun walau begitu, semoga sharing saya bermanfaat untuk memberi gambaran kepada teman-teman yang juga mau melunasi hutangnya yaaaa….

Semoga sukses. Salam sayaaaaang….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

10 Alasan Pengajuan KPR Ditolak Bank

kpr

kpr-ditolak-bank

Sebagai PNS yang lahir di keluarga PNS, jarang sekali saya mendengar pengajuan KPR ditolak. Bahkan PNS malah sering ditawari berbagai kredit oleh bank. Correct me if i wrong. Saya sendiri sering ditawari kredit personal tanpa agunan atau kartu kredit. Saya baru tahu dari cerita suami dan teman-temannya yang kebanyakan wiraswasta atau freelance, jika mereka tidak semulus itu mendapatkan kredit dari bank. Padahal kalau dihitung-hitung pendapatan mereka per tahun bisa lebih tinggi dari gaji PNS loh.

Awalnya saya merasa hal tersebut agak kurang masuk akal. Namun, setelah dipikir-pikir, unsur ketidakpastian dari penghasilan wiraswasta dan freelancer serta unsur kehati-hatian yang perlu di lakukan oleh Bank, adalah dua unsur yang masuk akal melatarbelakangi penolakan pengajuan KPR oleh bank tersebut. Karena penasaran saya googling lebih lanjut tentang alasan Bank menolak pengajuan KPR. Sekalian persiapan, siapa tahu suatu saat nanti perlu juga mengajukan KPR. Saya menemukan setidaknya ada sepuluh alasan mengapa pengajuan KPR ditolak oleh Bank (yang sebenarnya tidak dinyatakan secara resmi oleh Bank) sebagai berikut.

1 . Tidak Memenuhi Syarat

Syarat utama dari pengajuan pinjaman KPR (atau pinjaman apapun) di bank adalah kecakapan hukum. Artinya seseorang telah memiliki kewenangan untuk melakukan kontrak atas nama dirinya sendiri. Di Indonesia, syaratnya adalah minimal berusia 21 tahun. Jadi jangan harap teman-teman remaja, yang punya penghasilan besar jadi Youtuber atau selebgram, akan dikabulkan pengajuan pinjamannya ya.

Syarat lain secara umum adalah memiliki source of repayment atau sumber penghasilan untuk pembayaran pinjaman. Biasanya ditunjukkan dengan lama bekerja yang ditunjukkan dengan dokumen pendukung.

2 . Dokumen Tidak Lengkap

Pengumpulan dokumen adalah gerbang pertama verifikasi data nasabah. Jika pada tahap pertama saja, calon debitur sudah banyak tidak taat, bank akan kawatir memercayakan dana pada ybs. Dokumen pribadi dan dokumen jaminan secara umum adalah sbb:

  • Formulir Aplikasi
  • Fotokopi KTP / Passport Pemohon dan Pasangan
  • Fotokopi Kartu Keluarga
  • Fotokopi NPWP / SPT Tahunan
  • Fotokopi Rekening Koran / Tabungan / Deposito 3 bulan terakhir
  • Fotokopi Slip Gaji 3 bulan terakhir (khusus karyawan) atau Fotokopi SIUP / TDP / Domisili / Surat Keterangan Usaha Lain (khusus pengusaha)
  • Fotokopi Sertifikat HM / HGB / SHMSRS
  • Fotokopi IMB
  • Fotokopi PBB terakhir

Data di atas adalah data persyaratan DBS home loan, bank lain dapat berbeda.

3 . Alamat Tidak Ditemukan

Alamat yang biasanya akan diverifikasi adalah alamat domisili dan alamat tempat kerja. Jika calon debitur bukan karyawan melainkan wiraswasta yang juga akan dicek adalah lokasi usaha. Jika lokasi usaha ditemukan, namun dari hasil verifikasi ditemukan bahwa tempat tersebut bukanlah milik calon debitur, maka hal tersebut juga bisa menjadi kendala.

4 . Penghasilan Kecil

Penghasilan setiap bulan debitur minimal tiga kali besar cicilan pinjaman yang diajukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan calon debitur memiliki dana yang cukup setiap bulannya untuk membayar cicilan pinjamannya. Jika yang mengajukan pinjaman adalah pasangan suami istri (joint income) maka yang dihitung adalah total penghasilan suami dan istri. Atau dengan kata lain besar cicilan maksimal yang boleh diajukan adalah sekitar 30%-35% penghasilan setiap bulannya.

Untuk karyawan yang penghasilannya relatif tetap, perhitungan ini mudah. Perhitungan penghasilan ini menjadi agak unik ketika berhadapan dengan calon debitur wiraswasta atau freelancer. Info yang saya dapatkan dari laman rumah.com, ternyata yang dihitung adalah pemasukan terendah yang terjadi pada suatu bulan dalam satu tahun. Jadi misalkan, dalam satu tahun seorang wiraswasta atau freelancer memiliki penghasilan total satu tahun sejumlah 120 juta rupiah. Namun ada bulan-bulan yang bersangkutan hanya mendapatkan pemasukan sebesar 5 juta rupiah, maka cicilan maksimal yang boleh diajukan hanya sekitar 1,5 juta rupiah saja. Please, cmiiw.

5 . Jaminan Tidak Layak

Peraturan Bank Indonesia No.17/10/PBI/2015 tanggal 18 Juni 2015 disempurnakan dengan Peraturan Bank Indonesia No. 18/16/PBI/2016 menyatakan bahwa nilai jaminan untuk KPR rumah tapak di atas 70 meter persegi, nilainya maksimal 85% dari nilai jaminannya. Di luar dari ketentuan tersebut maka pengajuan pinjaman akan ditinjau ulang.

6 . Telepon Tidak Bisa Dihubungi

Seperti halnya poin 3, nomor telepon yang akan diverifikasi adalah nomor telepon rumah dan nomor telepon tempat kerja. Jadi pastikan kedua nomor tersebut aktif dan penerima telepon mengenal anda ya…. Ada cerita lucu dari seorang teman yang ditolak pengajuan pinjamannya karena asisten rumah tangga di rumah tidak tahu nama lengkap yang bersangkutan, sehingga salah menjawab. Hihihi…

7 . Black List Bank Indonesia

Bank calon kreditur bisa melihat rekam jejak kredit yang pernah atau sedang dimiliki oleh calon debitur di bank lain dari Sistem Informasi Debitur (SID) Bank Indonesia. Data tersebut meliputi juga bagaimana ketaatan sang calon debitur membayar cicilan/ hutangnya pada bank-bank lain. So, jika tidak mau ditolak pengajuan KPR-nya oleh Bank, maka sejak dini teratur membayar hutang yang sudah dimiliki yaa…. Keterangan lebih lanjut tentang SID bisa dilihat di website Bank Indonesia.

black-list-bank-indonesia

8 . Uang Muka Kurang

Terkait dengan poin no 5, bahwa rasio pinjaman terhadap nilai jaminan yang dibatasi dan diawasi oleh Bank Indonesia, maka Bank calon kkreditur pun menerapkan sistem uang muka ini. Sifatnya wajib ya teman-teman, besarannya sendiri sesuai dengan aturan yang berlaku di masing-masing bank. Rentang besaran uang muka yang diperlukan antara 20%-30% dari nilai rumah yang di KPR-kan.

9 . Batas Usia Maksimal

Poin ini menekankan pada usia maksimal seseorang mengajukan pinjaman kepada Bank. Terutama mengingat KPR biasanya jangka panjang. Hal ini dikaitkan dengan usia produktif seseorang. Biasanya untuk karyawan dibatasi maksimal sampai usia 55 tahun, sementara guru atau dosen usia sampai 60 tahun masih bisa mengajukan pinjaman.

Untuk usia-usia yang mendekati usia tersebut maka jangka waktu pinjaman akan disesuaikan/ lebih pendek daripada pekerja yang masa pensiunnya masih lama.

10 . Tidak Ada Kerjasama dengan Developer

Tidak hanya calon debitur yang diverifikasi kesehatan finansialnya. Developer yang kita pakai pun demikian. Terutama, apabila developer kamu belum memiliki kerjasama dengan bank tempat kamu mengajukan pinjaman, maka terkadang bank akan melakukan pengecekan terhadap developer tersebut. Jika developernya sehat maka proses KPR berlanjut. Namun, jika developernya memiliki catatan hitam, itu bisa menjadi kendala buat kamu mengajukan pinjaman KPR.

Nah, itu 10 hal yang bisa menjadi alasan pengajuan KPR ditolak bank. Buat temen-temen yang berencana mengajukan pinjaman KPR. Jangan sampai 10 hal di atas diabaikan ya, yuk mulai diberesin supaya proses pengajuan KPR-nya lancar. Semoga bermanfaat!

*artikel ini disponsori oleh DBS

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

6 Tips Mengatur Pengeluaran Keluarga (File Excel Available for Download)

mengatur-pengeluaran-keluarga-ala-nyonyamalas-judul

mengatur-pengeluaran-keluarga

Mengatur pengeluaran keluarga bisa jadi sesuatu yang susah-susah gampang. Gampang, karena sebenarnya entitasnya kecil. Namun, bisa jadi susah karena menggabungkan dua gaya manajemen keuangan dari suami dan istri. Terutama jika karakter kedua pasangan bertentangan dan memiliki hambatan komunikasi. Bisa jadi rame. Selain itu, jika tidak dikelola dengan baik, masalah keuangan terbukti menjadi sumber masalah perceraian terbesar dan utama di Amerika Serikat.

Lebih lanjut, mengatur pengeluaran merupakan salah satu pilar yang penting dalam manajemen keuangan. Saya yakin kamu sudah familiar dengan istilah ekonomi seperti istilah akuntansi, anggaran dan manajemen keuangan ya… Dalam artikel ini yang akan sering dipakai adalah istilah anggaran. Yang artinya kurang lebih adalah merencanakan pengeluaran dari sejumlah dana yang dimiliki. Nah, untuk dapat mengatur pengeluaran keuangan dengan baik, haruslah dimulai dari membuat anggaran yang baik. Berikut adalah 6 prinsip yang saya dan suami pegang dalam mengatur pengeluaran untuk keluarga kecil kami:

mengatur pengeluaran keluarga

 6 Prinsip dalam Mengatur Pengeluaran Keluarga

1 . Keterbukaan

Pertama, dan yang paling utama menurut saya, dalam membuat rencana mengatur pengeluaran keluarga adalah keterbukaan. Hal ini menyangkut kondisi keuangan pribadi masing-masing, serta apa yang diharapkan oleh masing-masing pihak. Jangan mengasumsikan kita sebagai orang yang paling tau, apa yang dibutuhkan atau diinginkan oleh pasangan.

2 . First things first

Setelah keterbukaan, prinsip yang paling penting dalam membuat anggaran keluarga adalah memahami mana yang kebutuhan dan mana yang sekedar keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang wajib dipenuhi sehingga perlu diberikan prioritas dalam anggaran. Sementara keinginan tidak wajib dipenuhi. Cara membedakannya adalah jika sesuatu tidak dipenuhi mengakibatkan kita “tidak sejahtera” pada saat ini atau di masa depan, maka bisa jadi itu adalah kebutuhan. “Tidak sejahtera” dalam hal ini bisa berupa jasmani maupun rohani ya…

3 . Keberlangsungan

Keberlangsungan ini maksudnya adalah memberikan ruang yang cukup dalam anggaran untuk dana operasional. Dana operasional adalah pos-pos pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan. Dana ini tidak hanya untuk wirausaha saja lo. Bagi pegawai, pos ini bisa berupa bensin kendaraan, biaya tol, atau biaya transportasi lainnya untuk berangkat kerja. Biaya paket internet, misalnya untuk blogger. Ga lucu kan tiba-tiba paket internet habis, dan sudah tidak ada dana lagi untuk membelinya. Jadi ga bisa kerja dong. “Gaji” bulan depan terancam deh… Oleh karena itu, pos-pos pengeluaran yang menjamin keberlangsungan penghasilan wajib untuk disisihkan dan tidak diganggu gugat.

4 . Bebas Terbatas

Bahasa kerennya si fleksibel. Anggaran memang membatasi kita untuk membelanjakan uang. Tujuannya agar uang yang dimiliki tepat guna dan tidak dihamburkan secara serampangan. Namun, saya sendiri tidak terlalu suka dengan anggaran yang terlalu detail dan kaku. Misalnya, ada teman yang sampai menganggarkan biaya per makan per hari, dsb. Buat saya dan suami, itu bikin stres. Kami lebih suka membuat anggaran gelondongan. Biaya makan sebulan jadi satu, tanpa rincian per hari, misalnya. Jadi jika kami sekali menggunakan anggaran makan cukup besar berarti pada hari lain kami harus makan lebih hemat. Percaya pada kemampuan pengendalian diri dan tetap bertanggung jawab, kuncinya.

5 . Sederhana dan Praktis

Semakin sederhana dan semakin praktis suatu sistem anggaran, maka anggaran tersebut akan menjadi aplikatif dan mudah untuk dijalankan secara terus menerus. Sederhana bisa dalam hal pembagian tugas antara suami dan istri. Misal: siapa bayar apa dan bagaimana cara pembayarannya. Demikian juga elemen-elemen pendukungnya, seperti pilihan bank yang digunakan, cara transaksi dll. Pilihlah yang praktis. Pilih bank yang menyediakan layanan autodebet, internet banking, dan layanan lain sesuai kebutuhan kamu.

Misalnya saya dan suami sepakat, pembayaran utang, tabungan, investasi, dll adalah dari rekening payroll saya. Sementara biaya hidup sehari-hari, suami yang atur. Alasannya karena saya gaptek dan pelupa, jadi dikasih tugasnya yang lebih simpel. Hahaha… Pembayaran utang kan autodebet, tabungan dan investasi juga autodebet. Jadi lebih tepatnya, saya diem aja, semua urusan juga beres sendiri. Sementara suami yang lebih telaten, ngurusin berbagai macam printilan yang lebih ribet.

6 . Konsisten

Konsisten dengan kesepakatan yang telah di buat dan bersama-sama saling mengingatkan agar tetap on the track. Dalam hal ini suami yang taat aturan biasanya yang mengingatkan saya. Saya sendiri kadang cuma jago bikin rencana, tapi pelaksanaannya jauh panggang dari api. Hehehehe…

Bagaimana dengan kamu dan pasangan? Kalau sudah sepakat, yuk lanjut ke tahap menyusun anggaran keluarga.

mengatur-pengeluaran-keluarga

6 Tahap Menyusun Anggaran Keluarga

Dalam penyusunan anggaran ini kita akan memerlukan 2 tabel: Tabel 1 Daftar Hutang/Piutang dan  Tabel 2 Anggaran. Tahap-tahapnya akan dijelaskan menjadi 6 tahap. Untuk poin 2 dan 3, saya dan suami hanya melakukan di beberapa bulan awal pernikahan kami. Setelah bulan ke empat kami sudah hapal, dan jadi otomatis pelaksanaannya. Sementara untuk poin 1, kami masih terus mencatat di satu buku khusus. Semoga kelak, saldo di buku hutang tersebut bisa 0 ya… Aminn…

1 . Diagnosa kondisi hutang/ piutang

Sebelum menikah, sebenarnya kami sudah biasa membicarakan masalah hutang yang kami miliki di masa lajang kami. Full disclosure gitu, hahaha. Trus kami jadi sadar kalau hutang kami ternyata banyak yaaa… Untunglah, hutang-hutang tersebut adalah hutang yang “baik” atau bukan hutang konsumtif. Jika kamu dan pasangan belum membicarakannya, ada baiknya untuk membuat daftar hutang ini. Pentingnya daftar ini adalah untuk menentukan kapan target hutang-hutang ini selesai dan berapa besaran uang setiap bulan yang akan dialokasikan untuk segera melunasi hutang ini.

Misalkan, di daftar hutang kita total hutang ada 48 juta dan kita sepakat untuk menyelesaikannya dalam waktu 12 bulan, maka setiap bulan kita wajib menyisihkan 4 juta dalam rencana pengeluaran bulanan. Oiya, daftar utang/ piutang ini berbeda dengan item pembayaran utang tiap bulan di poin 3 ya… 🙂 Daftar ini dibuat terpisah dari daftar anggaran. Contoh tabelnya kurang lebih seperti ini:

daftar-hutang

Tabel 1. Daftar Hutang Keluarga

File excel bisa di download di SINI 🙂

2 . Buat daftar penghasilan rutin seluruh anggota keluarga

Mulailah membuat anggaran dengan mengetahui seluruh penghasilan rutin anggota keluarga. Penghasilan rutin adalah penghasilan tetap yang relatif selalu kita dapatkan. Dalam hal ini, jangan memasukkan poin-poin penghasilan yang tidak rutin seperti bonus, hadiah, ceperan, hasil malak (hahaha, becanda), dll. Karena sifatnya yang tidak pasti. Poin-poin penghasilan tidak rutin langsung dialokasikan ke tabungan saja.

Teman-teman bisa input rincian penghasilan seperti gambar di bawah ini ya… Tentu saja, jumlah di gambar hanya sebagai contoh belaka, jadi harus disesuaikan lagi dengan kebutuhan teman-teman.

tabel-penghasilan

Tabel 2. Anggaran Keluarga

3 . Buat daftar perkiraan pengeluaran rutin

Setidaknya ada empat kelompok perkiraan pengeluaran rutin yang harus dianggarkan yaitu: 1) kebutuhan, 2) hutang, 3) tabungan/ investasi dan yang ke empat adalah 4) keinginan. Nomor 1 adalah yang paling prioritas dan nomor 4 adalah yang paling tidak prioritas. Jika teman-teman baru pertama menghitung perkiraan pengeluaran dan kesulitan memperkirakan secara gelondongan, teman-teman bisa buat rinci terlebih dahulu item pengeluaran di masing-masing kelompok. Tahap ini bisa diskip jika memang sudah hapal nantinya. Masukkan item-item perkiraan pengeluaran ke dalam Tabel 2 dalam file excel ya….

tabel-pengeluaran

Tabel 2. Anggaran Keluarga

4 . Buat Pos Pengeluaran

Ingat untuk memperhatikan total kolom Penghasilan dan Pengeluaran. Keduanya harus bernilai sama. Jika tidak sama, maka item-item pengeluaran harus disesuaikan sampai jumlahnya sama dengan total kolom penghasilan. Jika total pengeluaran lebih besar dibandingkan Total Penghasilan, namanya “besar pasak daripada tiang”. Item pengeluaran yang ada telah menjadi pos yang bisa dibelanjakan saat posisi penghasilan dan pengeluaran telah seimbang, seperti gambar di bawah ini:

balance-pengeluaran-dan-penghasilan

Tabel 2. Insert Anggaran Keluarga

Saya masih ingat, bagaimana saya diajari untuk mengatur pengeluaran keluarga dengan metode amplop konvensional oleh tante saya. Setiap mendapatkan gaji sebaiknya gaji tersebut dibagi menjadi beberapa pos pengeluaran. Masing-masing pos tersebut diwakili oleh satu amplop, yang kemudian diisi dengan uang sebesar yang dibutuhkan. Konsep dasar pembuatan pos ini sebenarnya sama dengan konsep amplop tersebut.

5 . Otomasi Semaksimal Mungkin Setelah Menerima Gaji

Mungkin bisa dibilang kegiatan otomasi inilah yang jadi kunci keberhasilan kami mengatur keuangan selama ini. Otomasi yang bisa temen-temen lakukan, mungkin harus menyesuaikan dengan bank yang dipakai masing-masing. Untuk kami, ketika mendapatkan gaji, sudah otomatis dipotong dengan autodebet untuk hutang, tabungan dan investasi. Sementara yang printilan yang lain kami menggunakan layanan Klickpay dan Flazz yang disediakan oleh BCA, karena suami adalah nasabah bank tsb. Metode tersebut dicantumkan pada tabel anggaran juga untuk nanti pendistribusian dana ke masing-masing metode.

tabel-metode-transaksi

Tabel 2. Anggaran Keluarga

File excel bisa di download di SINI 🙂

Jika dilihat di gambar di atas terlihat bahwa ada kebutuhan makan dan laundry yang tidak terotomasi. Ya, memang, tidak semuanya bisa diotomasi. Kita juga perlu memegang uang cash. Hanya saja untuk kami berdua, memegang cash seminimal mungkin adalah cara terbaik untuk mengatur pengeluaran keluarga kami.

fitur-bca-mengatur-pengeluaran-keluargaDi kolom paling kanan dalam tabel anggaran keluarga, memang tidak semua fitur perbankan yang tersedia kami gunakan, namun ada beberapa fitur dari BCA yang bisa kamu digunakan terkait otomasi ini antara lain:

Klick BCA

Seperti yang sudah saya ceritakan di awal, tugas membayari seluruh kegiatan sehari-hari ada di tangan suami. Dan sebagian besar suami lakukan dengan bantuan Klickpay. Dari beli token listrik, beli pulsa, beli paket internet, beli tiket bioskop, bayar kartu kredit, bayar kewajiban sosial/keagamaan, semua dibayar di hari yang sama ketika suami gajian. Tinggal klik klik klik, beres.

Kartu Flazz

Mirip dengan prinsip amplop, hanya saya dan suami menggunakan kartu flazz sebagai “amplop elektronik”. Hal ini untuk meminimalisasi biaya administrasi bank. Memang flazz memiliki kekurangan di mata beberapa orang yaitu: keterbatasan dana tersimpan sebesar 1 juta rupiah. Namun hal itu malah menjadi kelebihan bagi kami untuk membatasi “jajan” yang bisa kami lakukan.

Contoh yang kami lakukan adalah sebagai berikut. Uang operasional kerja suami, seperti bensin dan tol, pakai flazz merahnya. Sementara saya menggunakan flazz gramedia. Flazz Gramedia selain bisa untuk membeli bensin dan menghindari antrian top-up transportasi umum (KRL dan busway), Gramedia juga ngasih diskon khusus untuk pemegang kartu ini. Cocok banget buat saya yang pecinta buku dan ga suka ribet pokoknya.

flazz-bca-gramedia

Tahaka

Tahaka adalah tahapan berjangka atau tabungan dengan setoran rutin dalam jumlah dan jangka waktu tertentu, ditambah asuransi jiwa. Info lebih lanjut bisa klik di sini. Jadi setiap kamu dapat gaji, ada dana yang langsung disisihkan untuk ditabung. Supaya tidak keburu abis buat beli lipstik atau sepatu. Hehehe…

6 . Evaluasi secara Berkala

Langkah terakhir adalah Evaluasi. Bahasanya si evaluasi, tapi sebenarnya si ngobrol-ngobrol santai. Bukan seperti rapat formal. Tapi setidaknya kami lakukan dua kali, di tengah bulan dan menjelang akhir bulan. Yang paling sering kami bahas adalah masalah saldo masing-masing “amplop” dan rekening. Selain topik tersebut, biasanya momen ini dipakai juga untuk pengakuan dosa, hahaha… “Maaf ya Bi, kemarin khilaf beli sabun kebanyakan, pas diskonan” atau “Maaf ya Bi, aku beli benang rajut lagi” (padahal masih punya bergulung2 di lemari). Tujuannya bukan untuk menyalahkan, namun supaya setiap pihak tetap on the track dan tidak ada kebutuhan yang terlewatkan.

Demikian 6 prinsip dan 6 tahap mengatur pengeluaran keluarga ala keluarga kami. Gampang kan? Tentunya pengaturan pengeluaran masing-masing keluarga akan berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kalau ada tips dari kamu dan pasangan boleh loh di share di comment 🙂 Terimakasih sudah berkunjung! Jik menurutmu artikel ini bermanfaat, yuk share di sosmed mu dengan klic ikon sosmed di akhir artikel ini.

bca-experience

Tulisan ini berpartisipasi dalam “My BCA Experience” Blog Competition

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Why I Started to Invest in Mutual Fund at My Very Early Twenties

alasan investasi reksadana

Q: Berapa umur kamu saat pertama kali berniat investasi reksadana online?

A: 20 tahun.

Q: Berapa penghasilan kamu saat itu?

A: 850k rupiah per bulan! Dapet dari magang CPNS.

Q: 850 ribuuuuu????

A: Iya! Nekat banget yak? 😛

Begini cerita lengkapnya. Pada suatu hari, berbekal pengetahuan yang tak seberapa tentang ilmu keuangan, di tahun 2010, dengan nekatnya saya dateng ke sebuah bank untuk beli reksadana. Uda nanya ini itu panjang lebar sama mbak customer service yang baik dan cantik, akhirnya saya pulang dengan tangan hampa. Saya DITOLAK, Sodara-sodara! Cuma boleh buka rekening tapi belum bisa buka akun reksadananya.

Bukan karena saya cuma punya penghasilan 850k, Sodara-sodara. Tapi karena usia saya belum 21 tahun. *sok muda* Saya baru tahu, usia minimal buka akun reksadana adalah 21 tahun. Jadi, perjuangan cinta saya dengan mbak-mbak customer service reksadana berhenti sesaat. Sampai di akhir tahun 2011, saya berulang tahun ke 21 dan kemudian ngacir ke bank itu lagi. Mbak nya masih cantik dan masih baik juga, namanya mbak Roro (Hai mbaaa!). Oiya, kebetulan saat itu saya uda ga gajian 850k lagi. Uda naikkk status jadi pegawe tetap, alhamdulilah yahhh.

alasan investasi reksadana 2

Why I Started to Invest at My Very Early Twenties??

Sebelum ngomongin reksadana-nya, saya mau cerita tentang arti penting investasi buat saya. Ini rada serius dan emosional ya ceritanya. Hehehe… I started to invest at my very early twenties karena saya ingin mewujudkan impian setinggi langit saya. Eits, jangan salah paham dulu, bukan berarti saya bermimpi punya uang banyak dengan investasi yang saya lakukan ya. Uang bukan tujuan saya, namun uang menjadi salah satu sarana mencapai mimpi-mimpi saya tersebut.

Saya percaya kamu pun demikian, memiliki mimpi dan juga bekerja keras mencari cara untuk #WujudkanImpianmu itu. Mimpi saya sendiri adalah membangun rumah kos-kosan biar bisa punya pendapatan pasif. Dengan punya pendapatan pasif, saya bisa tenang resign dari pekerjaan 8 to 5 saya dan menjadi ibu rumah tangga atau bekerja paruh waktu saja. Bisa mengasuh anak-anak sendiri, mengerjakan pekerjaan rumah, serta punya waktu berkegiatan sosial dan mengerjakan hobi adalah impian terbesar saya.

Memang pendapatan suami sudah memadai untuk kebutuhan sehari-hari kami. Namun pendapatan pasif tetap penting buat saya. Saya masih ingin tetap memiliki penghasilan untuk jaga-jaga dan untuk membiayai kegiatan sosial serta hobi. Ga enak kan minta uang suami terus. Sisi lain, sedih juga kan, kalau mendadak orang tua kita membutuhkan uang, lalu kita tidak punya dana yang siap digunakan untuk hal-hal tersebut.

Nah, investasi yang saya lakukan adalah sarana mengumpulkan dana demi membangun rumah kos-kosan tersebut. Batu loncatan gitu ceritanya. Puji Tuhan, dari hasil investasi yang saya ceritakan di awal artikel ini, saya sudah bisa nyicil-nyicil beli tanah dengan lokasi yang dekat pusat sekolahan. Tinggal ngumpulin duit lagi buat ngelunasin beberapa utang terkait dan biaya material bangunannya.

That’s why I started investing at my very early twenties, lebih cepat mengumpulkan dana maka lebih cepat mencapai impian saya. Trus kenapa investasi, kenapa ga menabung saja? Hmmm… Saya memilih berinvestasi alih-alih menabung adalah untuk menghindari dua alasan di bawah ini:

reksadana usia muda

1 . Untuk Melepaskan Diri dari Lingkaran Setan Sandwich Generation

Kita, orang muda kelas menengah jaman sekarang, adalah orang-orang yang ada di zona sandwich generation. Apa artinya generasi sandwich itu? Generasi sandwich adalah generasi yang terjepit di antara dua generasi; generasi yang lahir sebelumnya dan generasi setelahnya. Terjepit dalam hal beban finansial. Untuk menjelaskan lebih lanjut, saya akan menyebut generasi orang tua kita sebagai generasi pertama, generasi kita alias generasi sandwich sebagai generasi kedua dan generasi anak-anak kita  sebagai generasi ketiga.

Saat usia produktif generasi pertama berakhir, generasi pertama yang tidak melek finansial dan tidak memiliki tunjangan hari tua, akan menjadi tidak mandiri secara finansial. Selain tidak mandiri, biaya kesehatan yang harus dikeluarkan oleh generasi pertama pada usia tersebut biasanya mengalami peningkatan. Sementara itu, generasi ketiga juga belum mandiri secara finansial, karena belum memasuki usia produktif. Membuat mereka bekerja adalah melanggar undang-undang perlindungan anak. Dan pada saat yang sama, biaya pendidikan mereka sedang besar-besarnya. Biaya kedua generasi tersebut adalah beban yang harus ditanggung.

Lalu, generasi manakah yang akan menanggung beban mulia tersebut? Betul. Generasi sandwich atau generasi kedua. KITA. Karena generasi ini adalah generasi yang sedang memiliki penghasilan. Mau tidak mau, secara moral dan secara budaya, generasi inilah yang bertanggungjawab atas beban tersebut.

Adakah dari tetangga kita yang sedang memiliki anak yang bersekolah? Tentu banyak. Yang anaknya sedang berkuliah? Tentu juga ada. Mari perhatikan lagi lebih dalam. Apakah mereka juga mendukung kehidupan orang tuanya secara finansial? Atau menanggung biaya pengobatan mertuanya? Tentu banyak juga yang melakukan keduanya. Itu yang saya maksudkan dengan generasi sandwich menanggung beban dua generasi.

Got it?

Lalu apa hubungannya dengan berinvestasi?

Jika kita, sebagai generasi sandwich, tidak berinvestasi sejak dini maka kemungkinan buruk yang bisa terjadi: 1) kesejahteraan ketiga generasi terganggu, 2) generasi kedua tidak mampu menggapai keinginannya karena hambatan finansial, 3) pendidikan generasi ketiga tidak maksimal atau 4) kita, para generasi kedua, akan menjadikan anak-anak kita, si generasi ketiga, sebagai generasi sandwich yang berikutnya. Poin ke empat terjadi karena generasi kedua tidak cukup memiliki tunjangan hari tua saat mengakhiri masa produktifnya. 🙁

That’s why I started investing at my very early twenties. Mumpung orang tua belum pensiun dan saya juga belum punya tanggungan anak. Jadi bisa fokus untuk mengumpulkan dana membangun kosan tadi sebelum saya terjebak dalam lingkaran setan sandwich generation.

reksadana sejak muda

2 . Karena Nilai Uang Terus Turun

Adakah yang inget es krim monas M*D??? Es krim monas adalah sebutan saya buat es krim cone yang dijual di booth M*D. Jaman saya SD dulu, saya bisa membelinya dengan sekeping uang seribuan alias SECENG. Sekarang harganya uda lima ribuan alias GOCENG. Kalau dulu saya yang masih imut bawa uang goceng, saya bisa dapat LIMA buah es krim monas dan senyum manis mas-masnya, sekarang uang goceng hanya mampu membeli SATU es krim monas. Uang goceng saya tak lagi memiliki daya beli seperti dulu. Mas-mas booth juga uda ga senyum-senyum manis lagi ke saya *abaikan.

Peningkatan harga es krim tadi menggambarkan inflasi. Inflasi inilah yang menjadi momok bagi penabung konvensional karena akan menghilangkan daya beli uang yang telah dikumpulkannya dengan susah payah.

Agar uang yang kita miliki sekarang tidak kehilangan daya belinya di masa depan, maka uang tersebut harus disimpan pada instrumen-instrumen yang memiliki kemampuan meningkatkan dirinya setidaknya sama dengan tingkat inflasi. Tingkat peningkatan tersebut biasanya disebut dengan bunga, interest atau imbal balik, dan yang perlu dilihat adalah rate-nya. Walapun begitu, tingkat inflasi tidak selalu bisa dijadikan patokan, karena ada barang-barang yang dibutuhkan di masa depan, seperti misalnya pendidikan anak, tempat tinggal, dll, peningkatannya seringkali jauh di atas tingkat inflasi. Berinvestasi di instrumen yang rate pengembaliannya di atas inflasi adalah yang diharapkan.

That’s why I started investing at my very early twenties. Supaya recehan yang saya miliki sekarang tidak kehilangan daya belinya. Berhubung harga tanah dan material bangunan selalu naik ga nanggung-nanggung, maka berinvestasi alih-alih menabung adalah pilihan yang lebih tepat buat saya mengumpulkan dana demi mencapai mimpi saya tadi.

So, Why I Invest in Mutual Fund??

Segala sesuatu yang saya share bukan bermaksud bilang kalau reksadana adalah instrumen terbaik di jagad raya. BUKAN! Bukan juga mau membandingkan reksadana dengan instrumen investasi yang lain. Kalau saya punya banyak kesempatan (Baca: duit dan waktu), saya juga mau lho punya semuanya, hahaha. Tapi sekarang, saya hanya ingin menekankan bahwa reksadana adalah instrumen yang pas buat saya, kemarin sampai saat ini. Dan bisa jadi solusi juga buat kamu. Siapa tahu ada yang senasib sepenanggungan sama saya, jadi bisa bermanfaat 🙂

Seperti halnya kosmetik, yang cocok-cocokan, atau seperti obat yang hanya mengobati  kondisi tertentu, instrumen investasi juga harus disesuaikan dengan kondisi dan tujuan keuangan masing-masing yaaa. Inilah alasan saya memilih reksadana:

1. Praktis

Yang dimaksudkan dengan praktis adalah mudah dalam proses pembelian dan penjualan/ penjualan kembali. Bayangin aja, proses pembelian dan penjualan investasi dalam bentuk tanah butuh waktu lama. Emas juga harus dipindahtangankan fisiknya. Proses jual-beli reksadana (atau yang disebut dengan redemption-subscribe) bisa melalui investasi reksadana online, loh. Pembelian pertama memang harus ke lokasinya sih, karena OJK (Otoritas Jasa Keuangan) mengatur demikian, tapi pembelian selanjutnya dan penjualan bisa online.

Ada aplikasi yang lebih praktis lagi bernama POEMS ProFunds (Phillip Online Electronic Mart System) yang bisa dipakai di berbagai platform gadget asal nyambung internet. Jadi bisa di handphone (android ataupun ios), tablet dan laptop. Info yang saya dapat, aplikasi ini sudah ada sejak 1996. Uda lama ya ternyata, kemana aje ya guwe. Hahaha. Oiya, aplikasi ini dinyatakan sebagai yang terbaik di Asia Tenggara karena aman, real time dan fleksibilitasnya. Kalau uda member, katanya malah kalau pas ga bisa online, kita bisa transaksi via telepon. Praktis banget ya…

Karena penasaran dan juga pingin, saat itu saya langsung download aplikasi POEMS di apple store. Buat yang penasaran dan pengen tau lebih lanjut, download manualnya bisa di sini.

2 . Constraint waktu

Alasan kedua saya memilih reksadana adalah karena mengelolanya tidak memerlukan banyak waktu. Saat ini saya bekerja dari jam 8 s.d jam 5, yang berarti berangkat dari rumah jam 7 pagi dan bisa sampai rumah lagi jam 7 malam, setelah itu beres-beres rumah, quality time bersama suami dan kadang ngeblog. Saya tidak ingin spending waktu lagi untuk berinvestasi di sektor riil. Walaupun laba yang dihasilkan sektor riil pasti lebih tinggi, namun tenaga dan waktu yang diperlukan juga sangat tinggi. Reksadana yang hanya memerlukan sedikit waktu untuk menganalisis di awal, kemudian membiarkannya sampai waktu dibutuhkan, sangat cocok bagi saya.

Apalagi dengan aplikasi reksadana online, saya bahkan bisa login sambil nyuci baju! klik to tweet!

poems(Mohon maafkan s*mpak saya ikut kefoto)

3. Bisa dimulai dari nominal yang kecil

Kita bisa membeli reksadana per 100 ribuan yang kita punya loh. Banyak kan dari kita yang sering ngeles ga punya ketersediaan dana untuk investasi. Nah, kalau seratus ribu punya kan? Dan ga sembarangan loh, ada produk-produk reksadana dari Manajer Investasi yang uda femes bingit seperti Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) yang bisa dibeli dengan harga mulai seratus ribu! Setidaknya ada tujuh produk dari MAMI yang bisa diecer seratus ribuan, contohnya: Manulife Dana Saham dan Manulife Dana Tumbuh Berimbang. Murah tapi ga murahan. Kinerja MAMI sudah ga perlu diragukan, di dua produk tersebut aja, walaupun Fee untuk pembelian dan penjualannya 0%, rate returnnya di atas 20% untuk satu tahun belakangan lhoh… *ngiler ngiler* Nih saya tunjukin tabelnya:

biaya beli jual reksadanaSumber: POEMS ProFunds

Oiya satu lagi fitur yang unik yang berkaitan dengan ketersediaan dana untuk investasi. Saya menyebutnya dengan fitur utang. Hihihi. Kalau aslinya fitur utang disebut dengan Waiting for Payment. Jadi kalau kita pas mau beli suatu produk reksadana tapi dana di rekening kita tidak cukup, pembelian tetap dapat dilakukan dan baru diproses setelah dana mencukupi. Jadi seperti pesen dulu gitu. Dan harga yang akan digunakan adalah harga saat transaksi kita diproses. Enak kan… Jadi ga perlu mengulang transaksi lagi. Memang si tidak semua MI memiliki layanan tersebut. Yang saya tahu memiliki layanan tsb adalah yang ada di bawah aplikasi PT Phillip Security tadi.

4. Relatif mudah dipahami

Belilah sesuatu yang dapat kamu pahami. Untuk memahami reksadana, saya rasa tidak perlu usaha yang berat karena sudah banyak situs yang membahasnya dengan bahasa sehari-hari. Misal untuk mencari manajer investasi dan produk reksadana yang akan dipilih. Tinggal ketikkan saja keyword “manajer investasi terbaik” di google search, maka akan muncul ratusan informasi terkait. Dengan cara yang mirip, saya pun googling “reksadana terbaik” dan kemudian lanjut googling prospektus dan fund fact sheet-nya. Atau bahkan kalau temen-temen lebih males dari saya, buka aja di POEMS ProFunds, temen-temen bisa dapetin fundfact produk-produk yang dijual di situ yang uda diresume seperti ini:

overview kinerja reksadanaSumber: POEMS ProFunds

Dengan langkah sederhana itu saja, saya bisa mendapatkan berbagai informasi yang cukup tanpa kening harus berkerut. Dengan informasi yang banyak dan cukup mudah dipahami tersebutlah, keputusan reksadana mana yang mau dibeli bisa diambil. Saya tidak perlu ambil kursus khusus atau bayar konsultan finansial untuk memahaminya.

5 . Bisa disesuaikan dengan profil risiko

Kita bisa menyesuaikan reksadana apa yang kita pilih dengan profil risiko yang kita punya. Jika kamu seperti saya, yang menginvestasikan uang dari sisa penghasilan, belum punya tanggungan, masih muda dan perkasa, berarti kamu masuk ke kategori profil risiko yang agresif. Atau dengan kata lain mampu menerima risiko tinggi. Dengan profil risiko yang demikian, saya memilih Reksadana Saham. Reksadana saham walaupun memiliki risiko yang tinggi dan jangka waktu optimalnya lebih dari 10 tahunan, rate pengembalian reksadana ini cenderung paling tinggi dibandingkan jenis yang lain (imho, cmiiw). Tapi, saya rada bandel si, pas umur reksadana saya masih 4 tahun uda dijual karena ditawari tanah yang super murah. Hehehe, namanya juga kesempatan, siapa tahu ga datang dua kali. Namun, kalau mau lebih optimal pengembaliannya, seharusnya saya nunggu sampai 10 tahun.

Untuk profil risiko investor yang menengah atau moderat lebih baik memilih Reksadana Campuran yang risikonya tidak terlalu tinggi. Risiko Reksadana Campuran tidak terlalu tinggi, karena efek-efek yang berada dalam reksadana ini adalah campuran antara saham, obligasi dan efek pasar uang lainnya. Bagi investor dengan profil risiko rendah tau konvensional lebih baik memilih Reksadana Pasar Uang atau Reksadana Pendapatan Tetap. Kedua instrumen ini memiliki risiko sangat rendah.

Naaahh… Itu adalah sharing saya tentang Why I Started to Invest in Mutual Fund at My Very Early Twenties. Disclosure: Artikel ini juga saya ikut sertakan dalam Phillip Securities Blog Competition dan berhasil menggondol juara 2.

juara-philips-poemsMasih ragu tuk #WujudkanImpianmu dengan reksadana online? Sok atuh, cari tahu lebih dalam lagi tentang investasi reksadana online. Dan semoga sharing saya bermanfaat yaaa… 🙂 Imho, apapun dan bagaimanapun cara berinvestasi kamu, yang penting jangan ditunda-tunda. Makin cepat berinvestasi, makin baik. Selamat berinvestasi!

PS. If you found that this article is useful, please do not hesitate to share this to your friends. Sharing is caring! Thankyou!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!