Gayatri Mendadak Naik Tekstur MPASI

FullSizeRender(1)

Gaya, nama anak saya memang litteraly Gaya ya…. Bukan gegayaan, hihihi. Usianya sekarang 9 bulan dan seperti yang kebanyakan ibu muda bingungkan, 9 bulan adalah saatnya naik tekstur makanan. Saya sendiri rada concern dengan masalah perteksturan ini karena hasil baca-baca, masalah makan itu berkaitan dengan belajar bicara. Rada kawatir juga karena saya pakai blender untuk memroses bubur Gayatri, which is kata orang (((banyakan kata orang nih, hahaha))) bisa bikin bocah susah naik tekstur MPASI.

hehehe

But, ternyata kegalauan tersebut menguap begitu saja. Mendadak Gayatri naik tekstur. Beneran mendadak ya, karena cepat sekali peralihannya. Tanpa saya banyak usaha gitu. Tiba-tiba, eh ni bocah mau makan nasi aja. Blessings in disguise, karena bulan lalu kami rada sibuk dengan masuk keluarnya Suami dan Mama Mertua ke Rumah Sakit, Gayatri malah jadi naik tekstur dengan lancar. Ga nyambung yak? Sumprit, itu nyambung!

Tekstur MPASI Gayatri Sebelum 9 Bulan

Saya sering post menu MPASI-nya Gayatri di Instagram. Kalau temen-temen lihat dan merhatiin pasti ngeh kalau tekstur makanannya Gayatri itu nggak konsisten. Kadang alus banget, kadang kasar, trus besoknya balik alus lagi. Galau, kaya emaknya. 😛

Hal itu karena biasanya saya siapin bubur agak kasar. Kadang bocah mau makan bubur kasar. Kadang nggak maaauuuuuuk…. Kalau pas nggak mau ini kadang saya blender lagi biar alus. Hehehe…. Nggak ideal sih, ngikutin bocah gitu. Tapi prinsipnya si, saya nggak mau maksain dia makan. Tapi tetep dicoba lagi besoknya tekstur kasar, ga mau lagi, blender lagi Maaaanggg….

Itu salah satu menu MPASInya Gayatri pas umur sebelum 9 bulan, kalau mau tau yang lain langsung cuss aja ke IG yaaak….

Blessing in Disguise

Bulan kemarin Suami dan Mama Mertua gantian masuk rumah sakit. Mau nggak mau saya sering bawa Gayatri juga ke RS untuk mengantar mereka berobat. Kalau kami ke RS, nggak mungkin dong mblender ulang bekal Gayatri kalau ternyata dia nggak mau bubur agak kasar. Dan entah karena lapar atau karena ni bocah pengertian, selama di RS nggak pernah ngerewelin makanan. Bekal selalu dimakan. Kadang kalau saya lupa mbekal, saya beli nasi tim ayam di kantin (kantin Eka Hospital, nasi timnya enak loh), dan dia mau juga.

Kayanya si turning poinnya di situ ya. Setelah semuanya sehat, dan kami ga perlu balik RS lagi, Gayatri uda nggak mau makan bubur lagi. Fix nasi. Nasi disini maksudnya nasi lembek ya, seperti nasi tim.

Thanks God! Saya cek di panduan tekstur makannya WHO juga sesuai kok kalau anak usia 9-12 memang sudah waktunya belajar makan nasi. Kalau teman-teman anaknya uda 9 bulan tapi belum bisa makan nasi, tenang Nyyyaaaaahhh, jangan panik. Anak-anak kan punya jalur belajarnya masing-masing. Pelan-pelan sajaaaaahhhh…. 🙂

Makan Sendiri

Cuma sekarang saya punya PR baru nih. Gayatri lagi seneng-senengnya makan sendiri. Dia jumputin nasi di piring, dan dimasukin ke mulutnya. Kadang mau sambil disuapin. Tapi kadang nggak mau sambil disuapin.

Ada senengnya sih. Wah, ni bocah uda tambah pinter. Tapi ada juga nggak senengnya. Dooohhh, saya ni kurang bersyukur banget ya, hahaha. Yang pertama, pasti belepotan dong. Nasi berceceran di lantai. Hal itu buat saya nggak terlalu masalah si. Tinggal diberesin, atau pindah aja tempat makan bocah di teras belakang. Hehehe, kejam.

Yang bikin saya agak worry adalah, kalau dia makan sendiri biasanya cuma mau makan nasi dowang wang wang wang wang wang…. Takut kurang gizi kan lama-lama. Beberapa hal coba saya lakukan sbb:

  1. Nasi dicampur lauk dan sayur yang sudang dicincang lalu dibentuk bulatan-bulatan. Hal ini sempat berhasil, namun hanya beberapa kali, setelah itu failed. Bocah malah nggak mau makan.
  2. Nasinya saya ganti nasi uduk. Masak sendiri tentunya, bukan nasi uduk di warung sebelah. Hehehe…. Saya cuma masukin santan di rice cooker saat membuatkan nasi lembek untuk Gayatri. Ini sebenernya tips dari DSAnya Gayatri si, supaya kalori yang masuk ke tubuh bocah nambah. Ini berhasil, bocah tetap doyan. Semoga kebutuhan lemaknya terpenuhi dari sini ya.
  3. Saya (sebenernya bapaknya si) bikin snack yang “berat”. Kemarin sempat nyoba martabak mi, yang dibuat dari telur, misua rebus, parutan wortel. Lumayan lah buat nambahin nutrisi bocah, ada protein, karbo dan sayuran. Ada yang punya ide snack lain? 🙂

Teman-teman ada yang pernah mengalami hal yang sama? Feel free untuk ninggalin pengalaman atau tipsnya di komen yaaa…. 🙂

kuatLesson Learn

Balik lagi ke masalah naik tekstur MPASI tadi…. Yang saya pelajari dari kejadian Gayatri Mendadak Naik Tesktur MPASI itu adalah:

  1. Nggak perlu pusing atau kebanyakan kawatir, percayalah bocah punya kemampuan untuk belajar yang berbeda-beda 🙂
  2. Yang penting Emaknya usaha konsisten, tapi nggak perlu memaksakan kehendak juga, ikuti saja kesiapan bayi. Siapa tahu nanti bocah yang akan memberi kita kejutan dengan kemampuan-kemampuan barunya.
  3. Setelah satu tantangan selesai, masih banyak tantangan baru yang laiiinnn ahahaha, kagak selesai selesaaaiii, jadi jangan dihabiskan stressnya sekarang…. Karena masih banyak kesetresan lain menunggu…. wkwkwkwk…. Jadi selow aja Nyaaah, Belanda masih jauuuhhh!

FullSizeRender(1)Related Post: Bingung Memilih Metode MPASI? Jangan Lakukan 5 Hal Ini

Mmm…. Apa lagi yak?

Kayanya gitu dulu, sampai jumpa di cerita berikutnya ya Nyah…. Semoga sharing kali ini ada manfaatnya ya, walaupun mostly curhat ahahaha…. Salam sayang! 🙂

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Bingung Memilih Menu MPASI? Jangan Lakukan 5 Hal ini

mpasi

Bulan ini Neng Gaya 6 bulaaaannnn…. Yeaaaayyy!!! Sudah boleh mulai mamam mamam niii. Seperti kebanyakan ibu-ibu (baru) anak satu, segala hal pertama yang dilalui anak pasti bikin gemes-gemes excited. Antara idealisme, penasaran, kekurangtahuan versus kenyataan. Intinya saya bingung memilih menu MPASI.

Siapa ibu muda yang mengalami hal ini? Yuk mari kita tos dulu.

Di tengah kebingungan ini saya banyak sekali mendapat masukan dan juga mencari berbagai sumber. Thanks semuaaaanya yang sudah memberi masukan ya :kiss :kiss. Dalam pencarian tsb, saya sempat makin bikin bingung. Sempet merasa sampai Raisa Hamish punya anak cucu pun, kebingungan saya tak akan berakhir…. Tsaahhh…. Beneran lebay deh. Setelah satu minggu kurang lebih saya menjalankan MPASI, akhirnya kebingungan itu pun sirna sudah.

Nah, kalau ga mau bingung seperti saya, better jangan lakukan 5 hal di bawah ini ya Nyaaah….

1 . Jangan Bertanya pada Sesama Ibu Baru

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada sesama ibu baru, saya wajib menyatakan ini: “Nanya tentang MPASI kepada sesama Ibu baru itu sama aja seperti minta orang buta menuntun orang buta”. Sama kagak ngartinya. Hihihi.

Tapi bukan berarti tidak boleh dilakukan ya. Saya sendiri punya semacam support grup berupa WA group sesama ibu-ibu muda yang anaknya baru lahir di bulan Januari dan Februari 2017. Bisa dibilang ini adalah grup ibu-ibu kesayangan saya banget. Berbagai printilan dan drama MPASI dibahas di sini. Hanya ketika diskusi dengan ibu baru, tujuannya lebih kepada saling menyemangati, dan berbagi rasa senasib sepenanggungan. Oiya, satu lagi, berbagi info diskon. Hehehe. Yang mau follow-follow IG-nya cus ke @bcjanfeb2017 yaaa….

2 . Jangan Bertanya pada Ibu yang Terlalu Tua

Awalnya saya berpendapat mama dan mama mertua pasti punya ilmu yang mumpuni terkait MPASI karena beliau berdua pengalamannya sudah tak diragukan lagi. Tapi ternyata saya salah. Mama saya terakhir bersinggungan dengan MPASI adalah 20 tahun lalu, dimana dulu gencar-gencarnya MPASI siap saji berfortifikasi. Mama dan mama mertua malah agak kawatir memberikan MPASI homemade sebagai MPASI pertama. Alasannya karena MPASI homemade tekstur, kebersihan dan nutrisinya tidak terukur. Ya, saya bisa memahami poinnya sih. Mereka menginginkan yang terbaik juga untuk cucunya.

Lalu satu lagi, mama saya berpendapat usia 4 bulan sudah boleh MPASI. Ya betul, jaman dulu memang MPASI boleh dimulai sejak umur 4 bulan (sekarang juga boleh dengan kondisi tertentu setelah berkonsultasi dengan dokter). Nah, kalau sekarang kan dianjurkannya pada usia 6 bulan. Syukurlah walaupun punya pendapat yang berbeda, Mama selalu menyerahkan keputusan kepada saya.

Bertanya dan berdiskusi dengan ibu yang “terlalu” sepuh berisiko menimbulkan perdebatan dan tudingan “dasar kamuh, anak bau kencur sok tau endebrai endebrai….“. Apalagi kalau kitanya sudah keukeuh dengan salah satu aliran. Hehehe, tapi kalau mamanya sudah modern dan mengikuti perkembangan ilmu perMPASIan, sila kalau mau berdiskusi dengan pikiran terbuka dan kerendahan hati.

Ps. Poin kedua ini tidak berlaku ya, apabila Nyonyah dan Tuan telah sepakat untuk meminta bantuan mamanya/ mama mertua untuk turut mengasuh bayinya. Seperti saya pribadi #curhat, karena mama mertua turut mengasuh Neng Gaya, maka saya tidak mungkin memaksakan kehendak saya sepenuhnya. Ada porsi pendapat beliau untuk menentukan metode seperti apa yang akan dilakukan. Dan menurut saya, hal itu memang layak kita berikan kepada mereka, tentu selama tidak bertentangan dengan anjuran dokter.

Related Post: Parenteam Bareng Mertua? Yay or Nay?

3 . Jangan Silau dengan MPASI Fancy Sophisticated Ala Seleb

a . Jangan Silau Dengan Peralatannya

Ga ada yang salah dengan review produk-produk canggih yang dilakukan oleh para seleb. Yang salah itu, kitanya kadang yang kesilauan, dan jadi pengen beli juga, tanpa tau memperhitungkan value for money dari produk tersebut. Atau butuh enggak butuhnya. Kalau pesennya @elizabethzennifer: “Be a smart reader, mom!“. Sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Hal di atas diamini oleh obrolan bareng seorang Mamah Newbie (sebut saja dia Manda -nama sebenarnya- hehehe) di grup birthclub jan-feb17 kesayangan saya tadi. Jadi ceritanya dia sedang curhat ke sepupunya tentang kebingungannya memilih MPASI lalu dijawab:

“Sebenernya MPASI gampang, kamu aja yg bikin ribet. Mau blender? Wes pake blender yg ono (mojok didapur belum pernah dipake). Mau ngukus? Pake panci aja biasa, isi air pakai mangkok lagi udah tunggu deh. Wes beli saringan khusus aja sama piring mangkok. Soalnya sayang beli yg mahal2. Toh makanan lunaknya cuma sebentar sisanya nanti bertahap tekstur makanannya”

Krak!

Euforia Mamah-mamah Newbie yang bersiap mborong alat MPASI pecah berkeping-keping. Tapi sebagian besar member bahkan Manda juga setuju kalau nasihat tadi banyak benarnya.

Sekarang saat googling artikel tentang peralatan MPASI, kalau saya nemu artikel “30 Peralatan MPASI yang WAJIB Dimiliki Bunda”, itu sudah pasti saya dadah-dadahin. Bhay! Kekepin dompet!

b . Jangan Silau Dengan Metodenya

Tahun ini sepertinya dunia per-ibu-ibu-an ramai benget membahas Andien Aisyah @andienaisyah terkait gaya parentingnya. Bagi sebagian orang, gaya parentingnya menginspirasi dan bagi sebagian orang membuat depresi, hehehe. Kalau saya termasuk yang dua-duanya. Jadi kaya love-hate relationship gitu. Kadang kepo, tapi kadang melongo. Hihihi. Follow – unfollow – follow – hmmm unfollow aja deh. Tapi percuma sih, feednya tetep sering nonggol di explore. -.-“

Untuk memulai BLW, bayi harus dalam kondisi sehat dan gizi baik. Makanan yang pertama kali dimakan Kawa adalah labu siam, brokoli, wortel, dan buncis. Semua dikukus. Sampai pada suatu hari ketika saya dan Mas Ippe ikutan kursus privat BLW dengan dokter @ratih_ayu_wulandari .. Kami diperlihatkan chart nutrisi yang tidak lagi bisa dipenuhi hanya dengan ASI saat bayi berusia sekitar setengah tahun. Di peringkat pertama itu zat besi, lalu protein, energi, baru vitamin. Ini membuat kami “engeh” mengapa ati ayam maupun daging banyak diberikan orangtua pada bayi sejak zaman ibu kita dulu. Tapi tidak hanya itu, bisa dicari juga makanan-makanan yang mengandung zat-zat tersebut di atas. . . Cara pemberian makanan untuk BLW adalah makanan dipotong sesuai dengan genggaman bayi. Berlaku untuk semua jenis makanan. Jangan takut untuk memberikan makanan tinggi kalori dan kolesterol. Babies need that. ASI itu mengandung kolesterol tinggi, jadi mereka sudah sangat terbiasa. Dan jangan takut untuk memberikan minyak. Bayi butuh minyak untuk memperlancar BAB mereka. . . Ingatlah untuk selalu percaya, dan selalu mencontohkan. Bukan menyuruhnya, apalagi memaksa ❤️ . . Nah, sekali lagi.. Cari cara MPASI yang paling suitable buat kamu yaaa 😊🙏🏻 Cari info sebanyak-banyaknya, timbang, lalu lihat mana yang paling pas di hati. Tadi saya juga baru diberi tahu bahwa ada komunitas @ceritablw di Indonesia. Sungguh menarik penjabaran mereka. Follow them and get inspired! . . #AnakuAskaraBiru #Kawa6Bulan #KawaBelajar

A post shared by Andien Aisyah (@andienaisyah) on

Ga bisa dipungkiri kalau info di captionnya @andienaisyah memang banyak yang informatif. Terutama tentang metode baby led weaning (BLW) yang dianutnya sebagai metode MPASI Kawa, anaknya. Saya juga sampai beli buku BLW loh, walaupun akhirnya tidak menerapkan metode tersebut. Namun, walaupun informatif, in my humble opinion, beberapa hal tidak dapat diterapkan oleh semua ibu. Tetep lagi, harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing ya Nyah. Kalau sesuai dan Nyonyah memahami keseluruhan pro and cons-nya ya silakan.

Ingat: Ngefans boleh, silau jangan! Unfollow boleh, julid jangan! I know, you know what i mean. 😛

4 . Jangan “Telan” Artikel Mentah-mentah, Cari Jurnal Asli atau Buku

Oke, kesalahan saya lainnya yang jangan ditiru  (selain kebanyakan nongkrongin instagram) adalah kebanyakan mantengin pinterest. Dimana artikel-artikel di sana kebanyakan adalah artikel luar negeri. Bukan berarti artikel luar negeri tu jelek. Bukan gitu, tapi artikel luar negeri ditulis dengan latar belakang luar negeri yang mungkin saja tidak kontekstual dengan kondisi Indonesia.

Contoh gampangannya adalah tentang bahan makanan yang digunakan. Beberapa menggunakan salmon. Bukan berarti saya bilang salmon tidak baik ya. Tidak baik di kantong, iya sih. Hehehe…. Ketika saya membaca mentah-mentah, di pikiran saya yang terlintas tentang protein yang baik untuk bayi ya cuma salmon tok. Padahal kan enggaaaak. Ikan lain juga ada kandungan proteinnya yang tentu juga bermanfaat.

Saya ngeh-nya pas baca jurnalnya WHO. WHO tidak menyebutkan bahan makanan secara spesifik yang sebaiknya dikonsumsi bayi. Karena kan  bahan makanan yang tersedia di tiap daerah berbeda.  Tidak bisa juga kita memaksakan diri alias ngoyoworo mengada-adakan bahan makanan tertentu, sementara mungkin di daerah kita jenis makanan tersebut sulit ditemui. Malah bisa jadi nggak fresh di tangan kita kan.

Jurnalnya bisa di download di link ini: Jurnal MPASI WHO dan di sini: Guidance.

Intinya, cari tahu apa yang melatarbelakangi penggunaan bahan makanan tertentu atau tindakan tertentu dalam artikel, setelah mengamati amati, Nyonyah bisa memutuskan untuk menitu atau memodifikasi secara cerdas dan kreatif. Sekarang saya cenderung memilih jurnal atau buku sebagai acuan karena biasanya di kedua sumber ini pembahasannya lebih panjang lebar. Sehingga informasi yang didapatkan bisa lebih utuh.

5 . Jangan Lupa Konsultasi dengan Dokter Anak atau Bidan

Akhirnyaaaa….. Saya mah kalau sudah bingung larinya ke dokter. Hehehe…. Soalnya kalau anak kenapa-kenapa larinya juga ke dokter sih. Selain berdoa pastinya.

Bukannya saya mendewakan dokter anak saya dan tutup telinga terhadap masukan dari orang awam. Namun, saya percaya pada dokter saya karena bagaimanapun beliau punya ilmu ya. Beliau sudah invest waktu, tenaga dan uang juga untuk belajar bidang ilmunya. Lagipula selama ini beliau dapat saya percaya. Jadi untuk urusan MPASI ini saya juga akan mendengarkan masukannya lebih dari masukan orang lain.

Terbukti, saat ngobrol dengan dokter banyak mitos-mitos yang akhirnya terpecahkan. Seperti tentang pro kontra metode baby led weaning, MPASI instan, MPASI homemade, menu pantangan, dll. Banyak kerumitan menjadi tercerahkan dan pemahaman saya menjadi berimbang. Yang paling penting, kekawatiran sirna sudah.

Artikel terkait: Klinik Ibu dan Anak di Bintaro (Review Women and Children Clinic)

Oiya, jika Nyonyah mengasuh bayinya bersama orang lain selain suami (entah itu mama kandung, mertua atau baby sitter) saya menyarankan agar pengasuh tersebut ikut konsultasi dengan dokter ya. Manfaatnya supaya ilmunya sama. Satu guru satu ilmu. Sehingga meminimalisasi kesalahpahaman saat mengeksekusi MPASI.

***

Sebenernya ada satu lagi sih yang menurut saya JANGAN DILAKUKAN 😀

“Jangan Nanya di Grup Emak-emak yang Galaknya Minta Ampun dan Suka Judging Mamah Mamah Newbie Polos Lugu kaya Aku”

Tapi ga jadi aku jadiin poin. Takut dibully di komen wkwkwkwkwk…..

***

mpasi

Hasil dari pengaplikasiaan dari lima hal di atas bisa jadi berbeda-beda ya. Ada yang akhirnya menemukan cara A dan ada yang memutuskan cara B. Tidak masalah, menurut saya. Saya sendiri pun tidak selalu ngoyo untuk menemukan jawaban yang paling IDEAL. Saya hanya berharap menemukan jawaban yang SESUAI dan baik untuk saya terapkan sesuai dengan kondisi anak dan keseluruhan keluarga (tentunya kondisi ibu juga).

Akhir kata, semoga Nyonyah dihindarkan dari segala bentuk intimidasi, propaganda, hasutan maupun bujuk rayu dari pihak manapun yang membuat para ibu baru bingung dalam menentukan menu MPASI untuk anak-anaknya. Hihihi….

Aminnn…..

Salam sayang….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!