Goodbye Sufor!

Gagal ASI eksklusif di semester pertama usia Gayatri tidak membuat saya putus asa untuk memperjuangkan ASI selama dua tahun. Hak bayi untuk mendapat nutrisi terbaik. Walau sempat menggunakan susu formula (sufor), puji Tuhan, saat ini saya bisa mengatakan “Goodbye Sufor!”

Ya, saya mengakui saya dan suami pernah mengambil keputusan memberikan sufor pada Gayatri. Keputusan yang membuat kami patah hati. Ceritanya seperti ini…. Saat itu, Gayatri didiagnosis sepsis sekaligus jaundice. Perawatan di perina adalah keharusan, dan kami tidak mendapatkan Rumah Sakit yang memiliki fasilitas penginapan bagi ibu. Kami tidak memiliki persiapan apapun, termasuk stok ASIP. Sambil mencari donor ASI, saya mencoba memerah payudara saya. Saya hanya mendapat ASIP 20 ml, dan kondisi kesehatan saya pun drop.

perinaGayatri dan Bapak saat di Perinatologi

Menjelang tengah malam kami mendapatkan donor ASI. Sayangnya, ASIP tersebut tidak bisa sampai saat jadwal pemberian susu berikutnya. Setelah berkonsultasi dengan Bidan, kami menandatangani surat izin pemberian sufor. Hari itu juga perkenalan pertamanya dengan dot. Alat yang ternyata menyimpan risiko bingung puting.

Maafkan orang tuamu ini Nak….

Setelah kami memiliki ASIP dari donor, sufor dihentikan. Dua kali sehari saya datang untuk direct breastfeeding dan mengantarkan ASIP. Saya pikir Gayatri tidak mengalami bingung puting. Karena dia tidak menolak menyusu, dan masih terasa hisapan mulutnya.

Baru setelah beberapa bulan kemudian saya mengetahui adanya bingung puting laten. Saya menyadarinya saat produksi perahan ASI saya perlahan berkurang kuantitasnya. Dari artikel yang saya baca dari portal The Urban Mama, saya jadi tahu jika penggunaan dot dapat membuat hisapan bayi menjadi lemah. Hisapan bayi yang lemah membuat pengosongan payudara ibu kurang maksimal, dan pada akhirnya menurunkan produksi ASI.

hiks

Menyesali keputusan kami sebelumnya, namun kami tak mau terlalu larut pada masa lalu. Kekawatiran saya adalah produksi ASI saya habis sebelum dua tahun. Jika itu terjadi, Gayatri akan kehilangan nutrisi yang sangat berharga di periode emasnya.

Dilema menggunakan dot cukup membuat saya stres. Bagaimana tidak, sebagai ibu bekerja saya “tergantung” pada dot. Cukup lama saya bertahan menggunakan dot yang lama, sambil mencari alternatif lain seperti soft cup, dll namun tidak berhasil. Antara Gayatri yang kesulitan atau Mama Mertua (yang mengasuh Gayatri) yang kesulitan.

Sementara itu, produksi ASIP makin kejar setoran, pumping hari ini buat besok, bahkan jam makan siang kadang saya harus pulang karena stok ASIP yang miris.

Pendek cerita, sebelum saya makin stres, saat itu ada rekan menawari saya botol susu Philips Avent yang varian Botol Natural 2.0. Thanks  Mbak Yunika! Bentuk botol dan nipplenya sendiri seperti ini:

dot1

dot2

Berdasar googling, saya mendapat info kelebihan botol tersebut sbb:

  1. Bentuk dotnya yang lebar seperti bentuk payudara, jadi proses pelekatannya atau latch on-nya mirip,
  2. Nipplenya berulir spiral sehingga lentur dan ada tingkatan usianya, jadi disesuaikan dengan kemampuan menghisap bayi,
  3. Tidak menetes jika tidak disedot, jadi bayi tetap harus mengeluarkan “usaha” saat menghisap.

Ketiga kelebihan di atas adalah kelebihan yang menjadi fokus saya untuk meminimalisasi bingung puting yang dialami Gayatri. Selain itu ada kelebihan lain seperti 1) bentuk botol yang ergonomis, 2) BPA free, 3) sistem anti kolik, dll.

ngedot di daycareGayatri 11 mo, minum susu di daycare.

Saya bersyukur setelah menggunakan botol Avent Sahabat Bunda produksi ASI saya mulai stabil. Tidak mengalami penurunan lagi. Saat ini, usia Gayatri 13 bulan dan sudah lebih dari dua minggu ini Gayatri tidak lagi mengonsumsi susu tambahan apapun. Full ASI dengan makanan pendamping yang sehat tentunya.

Saya yakin banyak urban mama yang mengalami hal yang sama. Peluk sayang. Pesan saya, “Gagal memberikan ASI eksklusif bukan berarti kita harus berhenti berjuang mengASIhi, tetap semangaaaat!” Yuk terus berjuang dengan mencari cara, peralatan dan dukungan yang tepat demi bisa memberikan nutrisi terbaik bagi buah hati kita.

*

*

*

Artikel ini diikutsertakan pada #TUMBloggersCompetition #AventSahabatBunda. Nyonyah-nyonyah juga bisa mengikuti kontes promo Apresiasi Cinta Bunda loh, ketentuannya sbb:

ACB-PromoPage-1875-01ACB-PromoPage-1875-02goodbye sufor

Related Post

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

6 Comments

    • Tetep pastiin dedeknya uda bisa lacht on ya kaaak 🙂 sukses mengasihinya mbak herva 🙂

  1. SID juga pakai ini. Bentuknya memang seperti payudara dan ada tulisan dot sesuai ukuran anak. Syukurlah sekarang ASIP lancar ya dan ga bingung puting lagi. Semangat hingga 2 tahun!

    • Amiiiinnn….
      Sekarang jadinya saya direct breastfeeding mbak, sampai nanti (entah) balik kantor….
      Terimakasih Mbaaaa….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *