Pulang

Sejak meninggalnya Mama mertua di bulan Oktober 2017, disusul Mbah Uyut di bulan Januari 2018, satu hal yang saya tekankan dalam diri saya: harus sering pulang ke rumah orang tua.

Mau orang tua saya atau orang tua suami. Pokoknya kami harus lebih rajin tengok-tengok mereka. Kita nggak tahu sampai kapan “kemewahan” bisa menengok orang tua itu diberikan pada kita kan. Nggak pengen nyesel kan.

hiks

Mana meninggalnya Mbah Uyut itu agak bikin nyesek juga. Karena sebelumnya Beliau sempat ada salah paham dengan Kakak ipar yang berlarut-larut. Dan belum kelar. Sampai menjelang meninggal, Sang Kakak Ipar datang, mengucap saling memaafkan. Sejenak setelah itu, Mbah Uyut menghembuskan napas terakhir.

Entah kebetulan atau tidak. Tapi saya yakin Beliau memang menanti rekonsiliasi.

Saya tak ingin hal tersebut terjadi pada kami. Kami tak mau, orang tua kami merindu, dan terpuaskan hanya pada saat-saat terakhir.

Oleh karena itu, punya duit nggak punya duit. Nantinya bisa “ngoleh-olehin” atau enggak. Nggak penting lagi. Kami sadar bahwa bagi mereka yang penting melihat kami, dan tentunya Gayatri, cucu mereka. Bukan oleh-oleh, uang, atau yang lain. Karena bahkan malah kebanykan orang tua, seperti juga orang tua saya, maunya malah memberi memberi dan memberi.

Walaupun ya kadang pulang pun ada risikonya ya hahaha. Kira-kira pada ngalamin hal yang sama nggak ya???

Risiko Pulang 1: No Privacy

Yang paling malesin adalah ditanya macem-macem. Semacam: “kok ambil cuti lama, gimana nanti kerjaanmu?”, “kenapa kok mas domas resign (dari kerjaan sebelumnya)”, “kapan program (hamil) lagi?”, dll terkait keputusan kami sebagai keluarga baru.

Hehehe, ya hak orang tua juga si bertanya. Namanya juga orang tua. Mau kita uda umur berapa aja pun tetep berasa “anak kecil”. Dan ga ada yang namanya privacy buat “anak kecil”.

Belum lagi kalau dibahas soal, “Gayatri kurusan ya….”, “ASImu masih keluar ta?”.

#curhat
Wkwkwkwk…..

hehehe

Ah, tapi namanya juga orang tua ya. Bagaimanapun pasti ada rasa ingin tahu tanda perhatian. Saya makin kesini makin bisa merasakan kasih sayang alih alih keusilan di balik kekepoan mereka. Makin kesini juga uda nggak baper lagi. Makin jago ngeles juga, hihihi.

Risiko Pulang 2: Nerima Banyak Petuah

Itu kalau pulang ke rumah orang tua saya. Kalau ke rumah papanya Mas Domas lain cerita. Hihihi, mereka lebih slow masalah resign resign soalnya kebanyakan wirausaha backgroundnya (tidak seperti keluarga saya yang dari buyut nenek kakek mama papa pegawai negeri -.-). Cumaaaaa…. papa manjain banget Gayatri.

Apa aja dituruti. Papa lagi minum es teh ni, Gayatri memandangi kepo. Padahal ya cuma kepo. Gayatri mostly kepo sama hal baru. Termasuk gemerincing es batu di gelas teh Papa. Dianggapnya pengen, dikasih dong. Gitu juga sama cokelat. Paling parah duren. Dan saya cuma bisa ketawa Ahahaha #ketawamiris.

😛

Namanya juga cinta dan sayang si ya. Dan katanya cintanya nenek kakek tu lebih lebih daripada cintanya orang tua ke anak.

Cinta versi Agnes Monica.

“…kadang kadang tak ada logika….”

-.-“

Kalau di rumah sendiri saya bisa ngeles, kalau di rumah mertua, suami yang maju. Mencoba menjelaskan apa-apa aja yang boleh, mana-mana aja yang enggak.

Terakhir kali menjelaskan si, berakhir dengan ceramah Papa Mertua bahwa anak jangan dilarang-larang. Kasihan. Nanti jiwanya jadi begini begitu. Lebih panjang daripada penjelasan kita sebagai anak. Nah loh….

Ada yang ngalamin demikian?

Sering ngalamin Risiko 1 atau Risiko 2?

Atau malah dua-duanya ni? Wkwkwkwk….

pulang

Tapi apapun yang terjadi di rumah orang tua saya maupun mertua, nggak akan membuat kami kapok pulang. Kami akan terus pulang. Dan mengajari Gayatri apa arti pulang.

Lagipula makin jadi orang tua, saya jadi makin melo. Makin sering kangen sama orang tua, karena sudah mulai bisa ikut merasakan, “Oalah, gini to rasanya jadi orang tua….”.

Doain kami lancar-lancar urusan ya, biar bisa sering pulang…. Sehat, lancar rejeki dan kehidupan. Doakan juga orang tua kami sehat dan panjang umur, diberi waktu yang manfaat. Amiin. Kami doakan hal yang sama untuk semua. 🙂

Kalau kamu, apa yang diharapkan bisa dilakukan tahun ini?

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

2 Comments

  1. Wahaha iya ya dilema antara pertanyaan dan tudingan tak ada habisnya dengan perasaan kangen. Kalaupun ga bisa sering pulang, at least vidcall sama ortu. Syukurlah udah ada teknologi canggih gini.

    • Iyaaaa, video call membantu banget memang Mbaaa….
      Bersyukur banget ya jaman sekarang apa-apa jauh lebih mudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *