Menikah, The Greatest Achievement?

Postingan “Menikah, The Greatest Achevement?” ini nggak akan panjang seperti biasa, hehehe. Berawal dari stories Instagram-nya Faradila yang triggernya dari akun IG lain (sebut saja Bunga), saya jadi kepikiran tema ini. Latar belakang yang saya tangkap saat itu, akun Bunga ngomentari akun lain lagi (sebut saja Gadis), dengan agak “keras”.

Mmmm keras apa kasar ya…. Begini ceritanya….

Gadis bilang kalau the greatest achievement-nya adalah menikah dan memiliki anak. Sementara menurut Bunga, hal tersebut adalah hal yang egois dan malas. Setahu saya, Bunga sudah menjelaskan lebih lanjut tentang perkataannya itu dan meminta maaf. So, saya pikir saya nggak akan bahas diskusi antara Bunga dan Gadis lebih lanjut.

Kalau yang penasaran siapa Bunga dan gimana cerita lengkapnya meluncur aja ke blognya Faradila ya, kemarin dia janji mau nulis latar belakang tema ini dengan lebih lengkap.

Linknya sbb: Is Marriage An Achievement?

Balik lagi ke masalah tadi, walau urusan mereka sudah kelar secara adat, saya tetep aja kepikiran. Wkwkwkwk…. Soalnya, ya ampuuunn, masa perbedaan cara pandang kaya gitu aja bisa jadi ramai di media sosial sih. Saya kan jadi pengen nimbrung….

Tapi di blog aja, biar nambah page views #eh

hehehe

Iseng, saya coba tanya ke suami, “Apa greatest achievement-nya?” Sedikit berharap jawabannya adalah “Menikahi nyonyamalas”. Wkwkwk…. Tapi ya nggak mungkin lah, suami saya bakal jawab begituan.

Dan bener. Buat dia, menikah BUKAN greatest achievement.

Saya nggak patah hati sih. Wong buat saya juga bukan. Dan kebetulan jawaban kami sama. But itu out of topic lah, nggak akan saya ceritain juga. Wkwkwk…. Yang penting kami satu sama! Yeeeyy!

Tapi bukan berarti saya memandang menikah bukan sesuatu yang tahapan penting ya. Penting banget malah.

Penting, tapi bukan achievement. Lebih pas (buat saya) kalau disebut GRACE. Yah mungkin hanya masalah mengartikan sebuah kata ya…. Jangan diambil hati ya para #TeamGadis

GRACE.

Anugerah. Ibarat seseorang yang nggak layak, tapi menerima sesuatu yang berharga. Kurang lebih gitulah saya memandang pernikahan dan memiliki anak.

Saya menikah usia 25 tahun, saat saya sendiri sebenarnya sadar kalau saya jauhlah dari kata “siap” menjadi istri yang ideal. Ngototan, kaga bisa masak, kaga bisa macak (dandan), egois pulak.

Related post: Ribut Rukun dalam Pernikahan.

Begitu juga dengan memiliki anak. Ebuset, ngurus diri sendiri aja, saya sering lupa mandi. Eladalah dikasih bocah.

Kehamilan pertama saya gugur. Awalnya saya berpikir, oh, mungkin ini isyarat Tuhan kalau memang saya belum waktunya punya anak. Genap satu siklus menstruasi setelah keguguran, saya hamil lagi. Benar-benar menggenapkan pemahaman saya, kalau memiliki anak itu ya anugerah Tuhan semata-mata.

GRACE ALONE.

Btw, saya jadi ingat lagu favorit saya. Judulnya Grace Alone:

Every promise we can make
Every prayer and step of faith
Every difference we can make
Is only by His grace.

Every mountain we will climb
Every ray of hope we shine
Every blessing left behind
Is only by His grace

Grace alone Which God supplies
Strength unknown He will provide
God* in us, our cornerstone
We will go forth in grace alone.

Di lirik aslinya *God: Christ. Karena ini lagu gereja. Cuma biar bisa dinikmati lebih umum dalam konteks sebagai ibu dan istri, saya cantumkan dengan “God” ya.

Sesuai dengan lagu tadi, sebagai ibu dan istri, kayanya kalau mengandalkan kekuatan sendiri saya nggak akan bisa achieve hal-hal itu deh. Setiap janji, setiap langkah, setiap tantangan yang berhasil dilakukan…. is only by His grace. Daaaaannnn, Nyaaaahhhh…. Kita akan jalan teruuuuss, juga in grace alone. We will go forth in grace alone. Semangaaaattt!!!!

setrong

PS.

Sebagai sesama penerima anugerah, ayolah no more arguing tentang segala sesuatu yang menurut saya nggak membangun. Kaya ribut-ributnya Bunga sama Gadis. Ngapain pulak. Endingnya si pakai “Yaaah, masing-masing orang bebas berpendapat.” Tapi nyolot. Trus dishare-share beranak pinak. Trus kubu-kubu-an. Saya #TeamBunga Kamu #TeamGadis. Trus war-war-an.

Mending nyanyi lagu Michael Jacson yang Heal The World.

Kalau kalem kaya saya kan adem. #peaceloveandbikinanakkedua

Please kalimat terakhir di atas jangan dianggep serius yaaaak! Apa lagi yang saya coret…. 😛

Terimakasih ya Nyahhh sudah mampir, kalau mau kasih pandangan boleh boleh aja di comment. But inga inga, nggak usah pada emosi. Norak tauk!

Salam sayaang….

Related Post

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

5 Comments

  1. jadi pinisirin sapa bunga n sapa gadis mba hahahaha…
    dan akhirnya salfok hestek peaceloveandbikinanakkedua wkwk semangat mb Ella biar neng Gaya ada temennya *komvor bingits

    • Ahahahaha, amiiinnn…. doain ya mbak, kami juga pengen Ning Gaya ada temennya ni 🙂
      Semoga nanti dikasih pada waktu yang tepat ya…. Amin….

  2. Ngeri deh jaman sekarang itu sama sosial media. Karena susah juga mau nentuin mana yang benar mana yang salah. Semua punya persepsi. Mana sekarang lagi banyak kasus kayak gini lagi.

    Tapi yang aku tangkap adalah:
    1. Semua orang bebas berpendapat, tapi tidak boleh mengejek dan merendahkan pendapat orang lain.
    2. Perlu pikiran yang positif dan tenang saat mengomentari pendapat orang lain, supaya gak jadi bikin sisi lain tersinggung. Lagipula semua orang punya pandangan masing-masing.
    3. Udahlah, main sosmed buat yang lucu-lucuan dan hepi-hepi aja. Ngeri kalo satu status jadi bisa rame kemana-mana. Hahahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *