Bayi Posesif dan Rebutan Mainan

Saya sejak beberapa bulan lalu mengamati perilaku Gayatri saat bermain bersama dengan anak sebayanya. Gayatri secara umum bukan anak yang dominan. Cenderung kalem, mengamati, namun tidak bisa dipungkiri kalau dia excited baik terhadap teman main maupun terhadap mainannya. Namun semakin hari semakin saya pahami kalau dia tak hanya excited, tapi sudah menjurus ke arah posesif.

Posesif terhadap mainan (baik miliknya, maupun orang lain) dan posesif terhadap saya sebagai ibunya.

Bayi posesif terhadap mainan miliknya….

Jarang ada anak kecil lain yang main ke rumah, tapi ada satu kejadian, Saudara (dengan anak kecil seusia Gayatri) menginap di rumah beberapa hari. Kentara sekali Gayatri cukup posesif atas barang-barangnya. Walaupun dengan gaya yang slow dan tidak agresif, saya perhatikan Gayatri cenderung mengambil kembali barangnya yang sedang dipakai oleh sepupu kecilnya.

Misal si Sepupu sedang naik mobil-mobilannya, maka Gayatri akan naik juga ke atas mobil. Seperti mbonceng. Ngak merebut dengan kasar sih. Tapi slow but sure, dia ambil lagi mainannya. -.-“

Bayi posesif terhadap mainan milik orang lain….

Kejadian yang mengesankan saya adalah saat Gayatri main bersama anak-anak komplek perumahan lama. Saat itu ada satu anak yang membawa skuter mainan. Gayatri tampak tertarik, namun sang anak agak ngambek dan nggak mengizinkan mainan itu dipinjam. Tapi Gayatri pepet terus. Nggak maksa si, tapi nempeeeeeeeeel terus kaya perangko, dengan wajah datarnya.

Jadilah Gayatri dipinjami skuter (yang sejenis) oleh tetangga yang lain yang kebetulan anaknya nggak main skuter. Dan giliran mau dipinjem anak lain. Gayatri juga nggak mau ngasih. Wkwkwkwk…. Neng neeeeeng, sama-sama minjem solider dikit napa Neng!

posesif*foto dipost seizin para orang tua

Tak hanya merasa barang milik temannya adalah miliknya sendiri, barang di tempat umum pun kadang dia posesifin.

Kejadian di Tempat Umum

Kejadian yang mirip-mirip dengan cerita di atas adalah saat Gayatri ikut Babybash yang diadakan oleh The Asianparents di bulan Desember. Dari awal kami main di playground, Gayatri tidak pernah melepaskan bola kecil warna hijau. Saya baru sadarnya juga saat melihat lihat foto. Dari foto awal sampai menjelang akhir Gayatri tampak memegang satu bola itu. Warna hejo.

Diminta kagak mau. Sepertinya dia nggak memahami kalau itu bola bukan punya dia, tapi punya playground.

mobil mobilan baby bash

Kejadian lainnya di klinik anak. Jadi di klinik langganan ada playground dengan satu perosotan. Dan perosotan adalah mainan favorit anak-anak. Termasuk Gayatri (saat itu 11 bulan) dan satu anak laki-laki kira-kira usianya sudah 2 tahunan lebih.

Gayatri nangkring di atas tangga perosotan, sementara si anak laki-laki (sebut saja dia Iqbal) dorong-dorong tu dari belakang. Dasar Gayatrinya naik tangganya pun pelan, si Iqbal tampak mulai nggak sabaran. Dia mulai naik tu. Jadi dempet-dempetan di tangga. Saya sama Ibu Iqbal cuma senyum saat Iqbal nyeletuk, “Sabar…. Sabaarrr….” Tapi sambil dorong-dorong Gayatri yang dengan tambengnya tetep berdiri di tepi tangga.

Saya nggak memaksa salah satu untuk mengalah. Yang penting saya siap sedia, biar dua-duanya kagak jatuh.

Hanya saya langsung catat dalam hati kalau ada sesuatu terkait dengan konsep memiliki dan meminjam barang yang sedang dialami Gayatri. Pikir saya saat itu.

Bayi posesif terhadap ibunya…

1 ) Gayatri cemburu pada Bapaknya

Kalau sedang di rumah, saya dan suami memang cenderung nggak malu untuk mempertontonkan afeksi satu sama lain, seperti berpelukan saat nonton tivi, suap-suapan atau elus-elus kepala (kecuali berhubungan badan tentunya). Nah, Gayatri pasti langsung sewot ni kalau saya sama suami peluk-pelukan. Jangankan peluk, nyender lagi santai aja dia sewot.

Langsung deh dia pindah posisi di tengah-tengah.

hiks

2 ) Gayatri cemburu pada meja kerja dan sink dapur

Ini kocak, tapi seriusan. Kalau Gayatri melihat saya mendekati meja kerja saya, dia pasti akan langsung caper alias cari perhatian. Biasanya si narik-narik tangan saya. Atau tiba-tiba dia minta duduk di meja kerja saya. Cara lain yang juga sering dilakukan adalah: minta nenen tiba-tiba.

Awalnya, saya tidak terlalu ngeh…. Tapi karena seringnya frekuensi hal-hal di atas di lakukannya saat saya mendekati meja kerja, saya yakin kalau Gayatri jealous dengan meja kerja. Saya mahfum si, karena kalau sudah di meja kerja, saya memang cenderung fokus dan konsen penuh. Mungkin dia pernah merasa terabaikan, dan hal itu membekas di hatinya. 🙁

Oiya hal ini juga sering terjadi kalau saya terlalu lama cuci piring di dapur. Hahaha…. Yaaahhh, maaf ya nak….

hehehe

Suami saya kawatir kalau hal ini adalah pertanda Gayatri punya sifat buruk di masa depan. Seperti pelit, medit, egois, dst. Saya lalu mulai banyak nyari-nyari info terkait hal tersebut.

Ada yang pernah mengalami kekawatiran yang sama nggak sih?

Saya yakin hal-hal di atas juga pernah dialami oleh Nyonyah-nyonyah. Saat ngumpul bareng sama Saudara apalagi kan, rebutan mainan bisa jadi urusan panjang, kalau berakhir dengan pertengkaran bocah bocah kecil. Soalnya ni kalau anak-anak bertengkar, kadang cuma sebentar, mereka sudah rukun lagi. Tapi orang tuanya yang baper, masih kebawa-bawa sampai kapan tahun, wkwkwkwk….

Lesson Learn

Kalau Nyonyah merasa hal yang sama dengan saya, berikut ada kabar baik yang saya simpulkan dari googling dan baca buku terkait posesifnya bayi seperti disebut di atas.

1 . Wajar

Bayi belum memahami konsep pinjam-meminjam dan kepemilikan. Yang dia pahami, barang yang ada di tangannya adalah miliknya. Dan ketika barang yang dia sukai ada di tangan orang lain, artinya kiamat. Terdengar lebay ya. Tapi buat anak usia-usia ini bisa jadi itu adalah masalah terbesar baginya. Who knows kan apa yang ada di pikiranny?

Mungkin seperti orang dewasa kehilangan kekasih saat lagi sayang-sayangnya? Atau kehilangan pekerjaan gitu kali ya? Kebayang kan setresnya…. Wajar kan kalau bayi bereaksi galau dan jadi posesif atas barang/ orang yang disukainya.

2 . Merupakan tahap tumbuh kembang

Menurut Standar Isi tentang Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (Permendikbud RI Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini), anak usia 12-24 bulan telah mampu menunjukkan reaksi marah apabila merasa terganggu (misal saat permainannya diambil) adalah pertanda Sosial Emosional yang baik lo. Hal ini menunjukkan sang anak telah mampu mengekspresikan reaksi emosi.

Dari standar yang sama, poin memahami milik diri sendiri dan orang lain seperti milik saya dan milik kamu, atau dengan kata lain pemahaman kognitif tentang kepemilikan ada di rentang usia 18 – 24 bulan. Catatan mengenai standar ini saya peroleh dari Buku Rumah Main Anak.

Reated post: Review Buku Rumah Main Anak

Tetap sabar dan semangat ya Nyonya-nyonyaaahhh! Fase frustating ini akan kelar pada saatnya nanti, hehehe…. Namun tentu saja, kita nggak hanya diam. Beberapa hal tentunya dapat kita lakukan untuk mempermudah anak memahami konsep kepemilikan dan melewati fase ini dengan baik.

setrong

Apa yang saya dan suami coba terapkan:

1 . Meminta maaf pada orang tua lain

Ya tentu saja minta maaf ya, karena kan nggak semua orang tua memahami bahwa posesif adalah tahapan yang wajar dilakukan anak. Setidaknya dengan minta maaf, bisa mengurangi rasa tidak nyaman/ ketersinggungan yang dialami oleh orang tua anak yang sedang bermain dengan Gayatri. Semoga.

2 . Mengajak ngobrol Gayatri

Memaklumi ke-posesifan Gayatri pada masa ini, bukan berarti kami tidak melakukan apa-apa. Kami mencoba melakukan negosiasi juga kadang, dengan menawarkan mainan lain sebagai penukar, atau meminta pengertian Gayatri. Di usianya yang baru 15 bulan ini, negosiasi nggak selalu mulus yak. Pan dianya juga belum paham-paham bener.

Kadang dia manggut-manggut, tapi tetap ngotot megang mainannya. Kadang nggak berhasil. KADANG berhasil….

Jika berhasil, atau dengan kata lain, Gayatri mau berbagi, pada akhir kegiatan, saya biasanya akan bertanya, “Gayatri happy ya tadi bermain bareng sama Dedek? Happy ya tadi Gayatri mau berbagi mainannya…. Terimakasih ya….” Ga saklek juga kata-katanya selalu begitu. Namun tujuannya adalah menekankan ke emosi positif (rasa bahagia/ happy) yang muncul ketika mau berbagi. Poin ini terinspirasi dari buku Anti Panik Mengasuh Bayi 0-3 Tahun.

3 . Tidak memaksa Gayatri mengalah

Terkait dengan nomor 2, walaupun melakukan negosiasi, kami menahan diri untuk tidak memaksa Gayatri mengalah demi pandangan orang lain. Ya biarlah, pelan-pelan saja…. Umurnya baru 15 bulan, belum memahami sepenuhnya makna kepemilikan. Seiring sejalan, negosiasi dan pembelajaran akan kami tingkatkan.

Kadang kami pun menciptakan “latihan berbagi”. Caranya dengan bertanya padanya saat ingin makan cemilannya atau menggunakan barang miliknya. Kemudian memberikan kesempatan pada Gayatri untuk memilih boleh atau tidak. Saya sering minta biskuitnya Gayatri sih, kalau boleh biasanya dia akan menyuapi saya. Wkwkwk…. Kalau nggak boleh saya biasanya cuma diliatin sambil pasang muka datar.

4 . Memeluknya segera saat dia merasa cemburu

The first thing first yang biasa kami lakukan untuk meredakan kecemburuannya adalah memeluknya. Ya, sambil berusaha tidak merasa “terganggu” dengan perilakunya. Tentunya juga sambil terus mengingat bahwa, anak kami ini bukan sedang “sengaja” melakukan hal demikian, dia hanya sedang merasa insecure kalau-kalau barang yang dia/ orang sayangi akan hilang dari dirinya.

Sedikit pelukan akan membuat perasaannya, sekaligus perasaan kita sendiri, menjadi lebih baik.

5 . Memberikan perhatian penuh

Hal ini kadang challenging ya, terutama saat lagi buru-buru masak atau sedang ada email/ kerjaan yang mau di cek. Yakali, masa cek email aja kudu drama. Cuma butuh bentar aja, kelar, tapi jadi rempeus. Tapi ya konsekuensi yak, namanya juga punya anak. Sabaaaaar…. Sabaaaar…. #selftalk, bwakakak.

6 . Memberinya contoh berbagi/ pinjam-meminjam

Seperti banyak orang bilang, anak belajar dengan meniru. Hal ini juga bisa diterapkan nih. Ada ide bagaimana cara memberi contoh sederhana berbagi pada anak dalam kehidupan sehari-hari?

bayi posesif

Ada yang punya pengalaman nggak enak masalah bayi posesif? Yuk ceritaiiiiin…. 🙂

Terimakasih sudah mampir dan baca ampe abis ya Nyah, semoga sharing kali ini bermanfaat. Salam sayang!

Related Post

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

6 Comments

  1. Adekku dulu juga ngelewatin fase ini nyah. Awalnya pelit. Sampe tiap abis main sama sepupu-sepupu krucil tuh semua pada nangis karena rebutan mainan dan harus dipisahin. 😂
    Tapi lama lama paham kok. Yang adekku dan sepupu krucil pahami, ini mainanku tapi dia juga boleh mainin soalnya dia saudaraku dan saudara harus berbagi.
    Berhasil deh. Sekarang kalo mainan selalu sama sama. Yaah udah gede sih ya adekku SD kelas 1 sepupu krucil pada PG. 😆

    • Hihihi, iya ya lama-lama paham…. 🙂
      Tapi pasti momen para krucil berantem tu mayan bikin rempong ya, wkwkwk….

  2. Samaaaa! Rio posesif sama laptopku. Kalau aku udah mau mendekat, pasti dia teriak-teriak hahahaha. Tapi emang bagus sih mengenalkan rasa marah dan kecewa ke anak asal kita bisa memberi pengertian dan contoh yang baik cara menanggulanginya. 😀

    • Karena dia merasa fokus kita terbagi kali ya….
      Duh, anak-anak kita so sweet, tak mau hati kita terbagi #aseeekkk

    • Ihihihi, jangan-jangan aku anak yang posesif juga ya….
      Kapan-kapan aku tanyain ke Ibuku juga deh, wkwkwkwk….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *