Tips Melunasi Utang Lebih Cepat

Mumpung menjelang lebaran ni…. Maunya kan semua dimulai lagi dari 0. Termasuk utang hihihi, maunya habis lebaran utangnya pun jadi 0. Bukan malah nambaaaaaah! Hihihi…..

Pro kontra tentang utang memang tiada habis dibahas. Masing-masing sisi memang punya argumen yang kuat sesuai kondisi keuangannya. Namun, ngotot dengan satu pendapat juga tidak bijaksana menurut saya. Seperti melarang orang KPR misalnya, “Emang ngana mau bikinin rumah deseu kalau orang yang ngana larang tar jadi gelandangan?” Kan engga…. hehehe….

Jadi ngingetin orang boleh, tapi jangan ngotot. Walaupun kita (MUNGKIN) benar, tapi ya kan kita kadang nggak tahu persis kondisi orang yang kita nasehati. So, marilah ngobrolin tentang utang dengan santai.

tips melunasi utang

Saya anti utang? Tidak.

Saya pro utang? Tidak juga sik.

Punya utang tu nggak enak banget.

Btw, saya nggak bahas riba ya. Soalnya emang nggak memahami hal tersebut. Jadi tulisan berikut nggak akan nyangkut sama riba, dosa, dan konsep agama lainnya. Tapi sharing pengalaman aja.

Saya mengalami sendiri, punya utang dalam jumlah besar (bagi saya, puluhan juta itu besar ya) sejak usia muda. Sekitar umur 20 tahunan. Kredit Tanpa Agunan di sebuah bank. Buat beli tanah di kampung. Lama kreditnya 7 tahun. Nekat bhet yak? Belum 7 tahun uda saya top up buat beli tanah lagi.

Keputusan yang nggak sehat sebenarnya. Karena menjadi beban buat keuangan saya secara jangka panjang. Kalau temen-temen seangkatan saya uda bolak balik liburan ke luar negeri, punya mobil atau tabungan yang melimpah. Saya nggak pernah. Gaya hidup pun sederhana, atau malah jangan-jangan dianggap medit ya. Mungkin kadang ada yang mbatin, “Ah masa nggak ada duit sih.” Ya bukan masalah ada enggaknya duit, tapi masalah ada tidaknya anggaran. Kan anggaran kami ketat, karena kami sadar harus nyicil utang, dan bunganya yang tiada tara ituuuuu.

hiks

Menyesal berutang? Enggak juga si.

Saya tidak menyesal, karena waktu itu tanah yang saya beli pas dibawah harga pasar banget. Apalagi akhirnya tanah tersebut akhirnya ditinggali orang tua saya, karena dekat dengan tempat kerja mereka, alih-alih rumah kami yang sekitar sejam dari tempat bekerja orang tua. Saya jadi tetap happy.

  • Pengalaman punya Kredit Tanpa Agunan

Happy bukan berarti saya juga tenang-tenang aja loh. KTA yang harusnya lunas di 2022, uda lunas tahun kemarin (2017). Setiap ada rejeki; hadiah lomba, honor, THR, dapat hibah dari orang tua, atau apapun, kami alokasikan pertama-tama buat nyicil pokok utang tersebut. Sebisa mungkin lunas secepatnya. Dan syukurlah sudah lunas.

Related post: Prosedur Melunasi Kredit Tanpa Agunan di Bank Mandiri

  • Pengalaman punya Utang di Pegadaian dan Kartu Kredit

Selain KTA, kami pun pernah punya cicilan pegadaian dan kartu kredit karena ada hal-hal mendadak yang nggak terduga, dan melebihi dana darurat kami. Sama juga, saat ada rejeki wajib hukumnya langsung dilunasi. Biar nggak dibebani bunga yang bertambah setiap jatuh tempo.

  • Pengalaman punya Utang sama Temen

Satu lagi, hihihi, banyak banget ya pengalaman ngutang kami. Utang sama temen. Ini pernah dialami sama suami. Jumlahnya lumayan pula, karena terkait sama usahanya dulu. Duh, sungkan banget rasanya punya utang sama temen. Walaupun kita tau dianya pun paham kondisi kita, tapi tetep nggak enak secara moral. Utang jenis ini yang kami prioritaskan untuk kami lunasi dan sekarang juga uda kami kelar. Bisa dibilang ini jenis pinjaman yang sangat amat lunak, namun kalau nanti amit-amit harus ngutang, kami akan memilih untuk mencari sumber lain dulu, demi menjaga hubungan baik.

setrong

Akhirnyaaaaa….

Saat ini kami bebas utang. Walaupun masih harus mengencangkan ikat pinggang karena kondisi Long Distance Marriage, setidaknya kami mulai bisa mengatur keuangan lagi dengan lebih leluasa, tanpa beban utang. Dan kalaupun nantinya harus utang (lagi), kami akan benar-benar berhitung atas konsekuensi yang harus kami pikul.

Saya cerita di atas bukan sekedar mau show off atau pamer banyak duit makanya bisa bebas utang. Bukaaaan! Sebaliknya malah, kami pengen cerita kalau walaupun duit kita terbatas, kita masih bisa kok melunasi utang lebih cepat.

Dari pengalaman kami di atas mungkin kalau mau disarikan menjadi tips, kaya gini ya….

Tips melunasi hutang lebih cepat:

1 . Catat semua utang yang dimiliki dan buat prioritas.

Saya dan suami di awal menikah, sudah tahu sama tahu kondisi keuangan masing-masing. Itulah sebabnya kami nggak mengadakan resepsi pernikahan. Prioritas keuangan kami saat itu bukan bikin resepsi. Prioritas kami adalah membangun pondasi keuangan keluarga yang lebih sehat. Dan poin utamanya adalah melunasi hutang.

Honey moon juga kagak, di rumah aja. Yang ada beberapa hari setelah menikah, kami tulis secara rinci utang piutang kami di sebuah buku tulis. Kemudian kami tandai mana yang akan kami bayar duluan saat punya uang dan mana yang prioritas kedua.

Step-stepnya membuat list prioritas adalah sebagai berikut:

  1. bikin list atau tabel yang berisi informasi nama utang – utang kemana – besarannya berapa – jatuh tempo kapan – ada bunganya tidak, poin nomor 1 ini nantinya bermanfaat untuk menentukan nomor 3,
  2. kemudian urutkan utang berdasarkan besarannya dari yang kecil ke besar,
  3. evaluasi berdasarkan urgensinya (misal demi hubungan baik, atau demi menghindari bunga, dll), ditimbang-timbang aspek-aspeknya ya,
  4. saya prefer memilih melunasi yang kecil-kecil dulu dan yang utang ke temen duluan – baru kemudian yang pegadaian dan yang terakhir yang KTA.

List ini bermanfaat karena setiap ada penghasilan kami bisa langsung cek list ini, hihihi. Kalau mau beli-beli apa juga kita jadi lebih aware, kalau nggak penting-penting banget mending bayar utang duluan.

2 . Restrukturisasi utang jika memungkinkan.

Restrukturisasi utang biasanya dilakukan orang untuk memperpanjang jangka utang (mengecilkan besaran cicilan) agar memudahkan membayar setiap periodenya. Namun, yang saya maksud malah sebaliknya. Untuk mempercepat pelunasan utang, kami pernah mengajukan pembayaran cicilan lebih besar sehingga memperpendek masa utang.

Jadi misalnya nih (MISAL), cicilan lama sebesar 4 juta/ bulan untuk 5 tahun. Diubah menjadi 8 juta/ bulan untuk 2 tahun. Mengajukan hal seperti ini sebenarnya wajar ya, karena penghasilan kami meningkat. Belum lagi kan jadi double income, sehingga kemampuan membayar kami lebih besar.

Namun sayangnya, skema restrukturisasi di bank tempat saya memiliki utang agak aneh. Saya diminta top up utang dulu baru bisa mengubah waktu dan besaran cicilan. Hal tersebut membuat kami tak jadi mengambil opsi ini dan mengambil cara lain. Namun, cara ini bisa teman-teman coba, siapa tahu bisa lebih menguntungkan di bank teman-teman.

3 . Pakai bonus/ pendapatan tak terduga untuk bayar utang.

Nah, poin 3 ini sebenarnya bagi kami adalah kunci. Bonus, honor, THR, hibah, warisan atau apapun langsung segera dialokasikan ya. Walaupun ngenes rasanya, tapi kita akan menikmati buahnya di belakang. Selain itu, alokasi pendapatan tak terduga ini membantu kita mempercepat pelunasan utang TANPA mengganggu anggaran rutin sehari-hari.

kuat

4 . Buat anggaran untuk mengurangi biaya sehari-hari.

Poin ini sebenarnya tidak selalu harus dilakukan. Poin ini harus dilakukan hanya jika teman-teman adalah mengalami besar pasak dari pada tiang. Jika biaya sehari-hari tidak dikurangi, niscaya akan terjadi gali lobang tutup lobang. Jadi utang nggak kelar-kelar, namun hanya ganti judul dan skema saja.

Saya pernah menuliskan cara membuat anggaran sederhana dan cara mengotomasinya pada artikel tips mengatur pengeluaran keluarga (ada contoh excelnya).

5 . Mencari pendapatan tambahan.

Poin ini gampang-gampang susah ya. Kalau punya keahlian khusus seperti suami saya yang insinyur, mungkin bisa buka jasa konsultasi perencanaan membangun rumah atau renovasi. Kalau seperti saya, hobi menulis saya lah yang biasanya mendatangkan tambahan pendapatan. Tentu masing-masing orang memiliki peluang dan cara yang berbeda-beda. Yang pasti jangan sampai mengganggu pekerjaan utama ya….

Demikian sharing dari saya, semoga ada manfaatnya yaaa…. Kalau teman-teman punya tips lain, boleh juga loh nambahin di comment section. 🙂 Salam sayang!

Related Post

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *