Irit vs Wishlist

“Tercenung adalah ketika, menahan wishlist begitu lama, dan ketika memutuskan beli, uda sold out”.

Bulan lalu saya pernah story-in kalimat dengan nada demikian. Diakhiri dengan pertanyaan, “Sebenarnya saya ini irit atau pelit (sama diri sendiri) si?” Trus ketawa. Ngetawain diri ini.

mengatur keuangan

Tebak apa coba wishlist saya?

Sepele, cuma scarft dari idekuhandmade yang entah kenapa saya suka banget. Harganya sebenarnya juga masih terjangkau banget buat kocek kami. Cuma nggak tau kenapa saya ga jadi jadi beli. Padahal tiap buka Instagram selalu sempetin buka akun mereka untuk ngecek apa produk itu masih available. Trus setelah berminggu-minggu, akhirnya out of stock. Hahaha….

hiks

By the way….

Beberapa tahun terakhir ini saya dan suami memang struggling untuk mengatur keuangan. Beberapa hal uda pernah saya ceritain ya di post-post sebelumnya. Strugglingnya worthy si, karena akhirnya kami bisa dapat yang kami mau. Tapi lepas dari uda dapat yang dimau ternyata “otot” otak kami masih kejang. Jadi masih kebawa-bawa sampai sekarang perhitungannya. Dikit-dikit alarmnya bunyi “eman duit eman duit”, begitulah bunyinya.

Saya inget-inget. Terakhir saya beli lipstik itu tahun lalu. Dan cuma satu-satunya yang saya beli. BLP Burnt Cinnamon. Produk lokal, nggak murahan tapi ya nggak mahal juga. Sama sekali nggak beli tas. Beli sepatu pake duit sendiri cuma satu, sepatu olahraga karena saya emang nggak punya, dan butuh buat kerjaan kalau lagi jadi asisten outbond. Saking nggak pernah beli sepatu, sampe papa mertua saya beliin saya sepatu sampai dua biji! Hahaha! Mungkin beliau prihatin, mengira kami miskin segitunya.

Ah, kamu! Nggak beli lipstik aja dibilang irit. Lihat tu di luar sana, masih banyak bahkan yang harus makan biskuit tanah. Bersyukur dong….

setrong

Bukan saya nggak bersyukur ya. Tapi cuma pengen menggambarkan kondisi yang terjadi. Lagipula membanding-bandingkan dengan orang yang menderita juga kurang pas ya dalam hal ini. Bandingin sama temen sekantor gitu, mungkin lebih apple to apple lah kondisinya….

Saya tahu, sebenarnya kebiasaan saya untuk menahan diri ini bagus.

Tapi seberapa bagus sampai tidak kelewatan?

So, saya akhirnya membuat semacam peraturan buat diri saya sekarang terkait masalah ini, agar saya tetap irit namun tidak kelewat pelit.

1 . Doing  nice to my self is not a crime at all.

Saya mulai menyadari ada beberapa pembelian barang terutama yang terkait dengan selfcare atau malah fashion tidak bisa didasari dengan semata-mata logika. Somehow, beberapa produk kita beli selain kita butuh, juga melibatkan preferensi.

Misalnya: beli sabun mandi. Di luar kita bahas mahal atau murah, it is okay kok menurut saya kalau memilih produk yang lebih mahal karena baunya membuat kita lebih happy, lebih fresh…. Atau sepatu, ya…. it is okay lah buat memilih sepatu yang nyaman, walaupun itu lebih mahal sedikit. Atau makanan, selain membuat tubuh sehat, ada kalanya kita juga butuh makanan yang lezat juga kan….

hehehe

Saya mencoba untuk, walau sedang berhemat, tapi ya nggak boleh terus mengabaikan preferensi pribadi (atau juga pasangan). Doing nice to our self is not a crime at all.

Di poin ini saya tidak sedang mendukung konsumerisme demi kesenangan hati semata-mata ya. Poinnya adalah kalau memang menginginkan sesuatu (yang benar-benar kita inginkan) ya why not? Treat yourself. Kalau mahal, ya menabunglah. Namun, jika hal-hal tersebut membuat kita malah merasa bersalah karena boros. Maka pilih kesempatan-kesempatan khusus untuk memberikan diri kita sendiri “nice things” sebagai rewards.

Untuk mengetahui apakah saya benar-benar menginginkan sesuatu, lanjut ke poin berikutnya.

2 . Shopping intentionally, not just shopping therapy.

Prinsip tentang belanja sebenarnya tidak hanya sekedar tentang “restriction” atau pembatasan. Namun lebih ke “intention” atau niat dan tujuan dari belanja itu sendiri. Kalau memang butuh ya gapapa kan belanja. Mahal pun gapapa, asal memang butuh. Tapi kalau nggak butuh, murah pun jangan dibeli gitu. Apalagi cuma karena iseng….

  • Tanyakan pada diri sendiri, “Do you really need it? Do you really love it?”
  • Riset tentang produknya baik-baik. Apa kelebihan dan kekurangannya.
  • Memikirkan benar-benar apa nilai tambah produk tsb.
  • Cek barang yang sudah dimiliki. Bandingkan dengan poin sebelumnya. Apakah ada barang lain yang bisa mensubstitusi?
  • Wait 24 jam sebelum membeli untuk menghindari pembelian impulsif.
  • Atau tunggu lebih lama lagi, tapi jangan lupa dicatat. Jadi semacam punya wishlist panjang yang bakal saya evaluasi berkala.

3 . Akankan saya akan tetep happy dengan produk ini tiga bulan lagi?

Since saya membatasi diri untuk berbelanja setiap saat. Saya mulai menekankan ke kualitas barang yang saya beli. Akankah dia akan bertahan tiga bulan atau lebih? Apakah dia awet? Dan apakah saya akan tetap menyukainya setelah tiga bulan? Seberapa sering akan menggunakannya?

Kalau saya bisa menjawab dengan baik, dan jawabannya positif. Yauda beliiiii! Seperti akhirnya saya beli juga tu scarft dari idekuhandmade yang saya ceritain di awal. Bela-belain pre order jadinya, wkwkwkwk….

love love

Pada akhirnya jalan keluar dari irit menjurus medit (pada diri sendiri) vs wishlist adalah kebijaksanaan. (((kebijaksanaan))) wkwkwkwk. Dan kebijaksanaan biasanya ada di tengah-tengah. Nggak yang peliiiiiittt, tapi juga nggak yang boroooooossss….

Gimana kalau menurut temen-temen? Apakah teman-teman punya tips mengatur keuangan tapi yang nggak pelit sama diri sendiri? Sharing dooong….

Terimakasih ya sudah mampir, salam sayang!

Related Post

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

13 Comments

  1. Aku juga tipe yg termasuk cukup menahan diri dlm hal belanja (kecuali buku idaman, hehe). Menurutku bagus kok bisa menahan diri, apalagi ketika ada hal lain yg lbh prioritas. Lebih bahaya kalo ga bs nahan diri, soalnya toh kebanyakan sebetulnya cuma keinginan, malah jadi konsumtif & numpuk barang, hehe

  2. iya ya mbak kalau kita menahan diri buat belanja pas belanja harus beli barang yang berkualitas yang tahan lama gitu yaaa, ahhh nice hahaha aku nih lg berusaha menekan shopa holic hiks..ss (halah padahal juga bukan branded) hahah

  3. Kadang aku juga suka dulit membedakan apa aku ini irit atau pelit hehehe, soalnya ketika aku memutuskan beli sesuatu yang harganya mungkin masih masuk budget tapi berujung rusak lebih cepat dibanding harga yang waktu itu bedanya 100 ribu atau tidak mempertimbangkan kenyamanan. Sering dibilang “nyusahin diri sendiri” sama paksu wkwkkww.

  4. tapi aku selalu punya 1000 alasan untuk membuat suatu barang jadi dibutuhkan..hahaha..akhirnya dibeli juga. tapi begitu sampai rumah jadi nggak butuh

  5. Aku sekarang di tipe 2 sama 3 sih mba kalau mau beli sesuatu. Enggak iseng kayak dulu yang akhirnya banyak yang enggak kepake karena hanya suka sesaat doang. Malah lebih suka dibeliin makanan aja 😀

  6. persis ini nih moms yang sekalu aku tanyakan kalo mau beli sesuatu. kadang ya aku simpan dulu di keranjang, terus diliat0liat dulu, diliat2 lagi sampe lupa trasnfer dan gak jadi deh belanja nya hahaha

  7. Saya sih menganut prinsip irit = kalo masoh ada yang bisa dipake, kenapa harus beli.
    Contohnya baju, saya lebih memilih beliin anak yang dalam masa pertumbuhan.
    Kalo saya sih cukup mix n match aja.

  8. Tips mengelola keuangan tapi ngga pelit sama diri sendiri ala aku adalah.. menyisihkan budget untuk diri sendiri setiap bulannya, misalnya 500ribu untuk baju, salon dll (misalnya lho yaaa), terus kalo budget sudah habis ya udah tunggu budget bulan depan, atau kalo lagi incer barang yang harganya diluar bugdet, ya rela puasa dulu.. untuk ngga ngeluarin bugget bulan ini sebagai deposit atau tambahan moda beli produk inceran.. kalo aku begitu mba hehe semoga bermanfaat

  9. Kalo saya sih bukan pelit tapi irit.
    Mikirku tuh kalo masih ada baju yang bisa dipake, kenapa harus beli? Kan bisa di-mix n match. Kecuali kalo emang udah ada baju yang harus disumbangkan atau body udah berubah atau bajunya udah kusam/rusak, berarti sudah waktunya beli.

  10. aku no berapa ya, bisa dibilang sih aku pelit sama diri sendiri atau lebih tepatnya merasa berdosa ketika nge-treat diri dengan belanja atau treatment di salon. suka gak enak sama suami dan anak aja. Tapi ya tapi, kalo lagi dateng egoisnya, bisa tuh aku belanja kalap. sekalap-kalapnya gak pernah lebih dari 500ribu juga sih dari beberapa bulan ahahhaha. btw nice sharing!

  11. Aku justru bukan mikirnya pelit mba sekarang lebih ke sudah bukan masanya lagi aku beli ini dan itu, beli sepatu banyak yang kepake cuman 1 beli baju terus saking laper mata boro2 dipake akhirnya ngejogrog mungkin saat ini aku sudah ((dewasa)) dalam hal beli membeli wkwk jadi ya itu seperti yg mb sampaikan meski harga murah tapi klo ga butuh buat apa?dan sekarang aku uda ga vanasan juga 😀

  12. Nice sharing! Setelah lamaaaa bgt ga mampir ke blog ini. Tetep selalu unik! Iyes mb, aku tuh no 1 bgt, nge treat diri sendiri krn emang udah work hard, ya why not. Juga lbh mentingin kualitas drpd kuantitas. No 2 juga sih, hehe..

    Btw mampir di artikelku ya, ada info lomba blog destinasi wisata jember, kali mo ikutan, masi s.d 25 Juli, hehe

    • Wadooooo mbak prita aku disuruh wisata religi islamiiiic….
      Okedeh, aku meluncur yaaa….
      Terimakasih komplimennya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *