Menghakimi Mom Snob

Artikel ini sebenarnya ditriger oleh artikelnya Mojok.co yang judulnya lebih ngegas: “Radikalisme New Mom Snob yang Terkadang Menyebalkan”. Yang isinya adalah curhat menarik atas fenomena ibu-baru-perfeksionis-yang-suka-mengomentari-gaya-parenting-orang-lain. Saya bilang menarik, soalnya ya saya related bangeeettt!

Di satu sisi, saya setuju dengan artikel tersebut.

Karena saya pun pernah jadi korban mom snob ya, dalam artian dikomentari secara negatif/ judgemental tentang pengasuhan saya ke Gayatri, dengan gaya yang terkesan merendahkan, meremehkan atau menganggap dirinya (lebih) pintar (poin 2 dari arti snob KBBI).

Dihakimi Mom Snob

Seperti yang disebutkan di Mojok.co, bahkan dua tema penghakiman favorit Mom Snob saya pernah dapatkan. Hehehe….

1  . ASI

Saya di”cubit” Mom Snob terkait ASI itu sekurangnya dua kali.

Yang pertama, saat saya mencari donor ASI bagi Gayatri usia 4 hari, yang harus opname karena sepsis tanpa stok ASIP sama sekali. Ada seorang kawan yang nyeletuk di Facebook, yang intinya, kalau dia jadi saya, dia nggak akan pakai donor ASI, dengan pendapat-pendapat tambahan yang nyerempet SARA.

Pengen rasanya ngegas dan bilang, “Yahhh, Lu nggak ngalamin sendiri si, Nyai!” Untung saya cepet pindah saklar, dan konsen ke urusan yang lebih penting.

Yang kedua, adalah saat saya kehabisan ASIP pas Gayatri growth spurt sekitar usia 3-4 bulanan. Yang komentar tetangga di komplek, kepada Mama Mertua saya yang sedang menenangkan Gayatri yang kelaparan di teras. Saya kan (masih) working mom 8-5 ya saat itu.

Tetangga berkata, “Ibunya ni gimana si, jam segini belum pulang! Nggak mikirin anaknya apa ya? Mana nggak ninggalin susu yang cukup lagi…. Anak saya ya, ASInya banyak Bu…. Harusnya tu…. bla bla bla….”, demikian dikutip oleh Mama Mertua.

Saya sedih? Ya sedih lah!

Tapi nggak sedih gara-gara Tetangga tsb si, lebih sedih karena nggak punya ASIP itu, bingung mikirin buat besok. Soalnya tu Tetangga juga uda disemprot Mama Mertua, hihihi, sampai nggak berani lewat depan rumah sampai beberapa lama.

Sejak saat itu saya bersahabat dengan Mama Mertua.

2 . MPASI

Yuhuuuu! Walaupun hubungan Mertua dan Menantu kami, bisa dibilang sangat amat baik ya…. Tapi bukan berarti tidak pernah ada gejolak di antara kami.

Tanpa mengurangi rasa hormat ke Mama Mertua (alm), saya sempet agak nyesek saat di awal masa MPASI, saya mengutarakan keinginan untuk MPASI homemade. Ditolak mentah-mentah bok sama Mama Mertua, dengan alasan kawatir saya tidak akan sempat.

Saya kaget juga, karena selama ini di rumah Mama, bahkan untuk masak mie saja, Mama Mertua bela-belain bikin mie from scratch loh!

Saya yakin, alasan sebenarnya, karena Mama nggak yakin saya nggak bisa masak MPASI dengan benar. Iya si, masak sehari-hari aja saya failed. Pantas kalau Mama Mertua nggak percaya kalau saya akan masak MPASI homemade.

Selama dua minggu, saya masak MPASI homemade sementara Mama Mertua tetap menyiapkan bubur MPASI instant berfortifikasi (saya juga yang beli, atas arahan beliau #mantunurut).

Setelah selama dua minggu, Mama melihat saya istiqomah dan melihat bahwa masakan saya cucok dengan kaidah MPASI WHO (Mama kader Posyandu, FYI), Beliau melonggarkan pengawasan. Dan secara langsung bilang kalau masakan MPASI saya oke.

Saya terharu. Rasanya tu kayak pengen teriak, “Yeayyy!!!” sambil diiringi lagu Malaikat Juga Tahu-nya Dewi Lestari. Hahahaha!

Malaikat juga tahuuuuu, siapaaaaaaaa yang jadiiiiiiiiii…. Juaranya…..

Merdu pisan euy!

Related Post: Woles Menyambut MPASI (Jurnal WHO Included)

Menghakimi Mom Snob

Tapi di sisi lain….

Ada beberapa hal yang mengganjal juga di hati saya terkait artikel tersebut.

Buat saya, masing-masing Ibu bebas melakukan pengasuhan dengan gaya apapun bagi anak-anak mereka. #ProIbu #ProChoice Jadi jelas, saya tidak mau berusaha membela atau membenarkan gaya komunikasi Mom Snob kebanyakan yang bagaikan NaCl di atas luka menganga ya….

Namun saya kawatir juga ni dengan fenomena ibu-ibu begitu mudah menghakimi ibu lain sebagai mom snob. Begitu mudah menuduh orang lain melakukan mom shaming.

Tanpa melihat, konten dari masukan/ kritik yang disampaikan si “mom-tertuduh-snob” ini.

Saya pernah baca blognya dr. Meta Hanindita. Dia dituduh mom shaming dong. Sama pasiennya! Pas dia melakukan edukasi tentang vaksin.

Okelah, saya nggak tahu persis apa kata-katanya. Namun, heloooo! ini dokter lo. Dan walaupun ada ibu yang anti-vaksin, tetep aja menurut saya aneh, kalau menuduh edukasi profesional seorang dokter sebagai shaming. Kita kan emang dateng ke dokter buat denger opininyaaaaa! Lah kok baper.

Lhah, kalau yang diomongin memang fakta atau opini berdasar, masa iya kita terus-terusan denial, Nyaaaah!

Kalau ternyata terbukti, yang rugi siapa?

Ya kita juga kaaan. Ya anak-anak kita juga kaaaan!

Jangan bilang saya bisa komen gini karena dokter saya baik ya. Saya pernah dateng ke dokter (yang di Surabaya) karena Gayatri nggak nafsu makan habis sakit, dan dijawabnya, “Ah Ibu kali yang nggak telaten (nyuapin).” Pake gaya orang Surabayaan gitu loh.

Hasyeeeemmmm!

Tapi saya jadi mikir, apa bener ya, saya kurang telaten. Hihihi….

Related Post: Menjadi Orang Tua yang Yakin

Atas dasar kepentingan kita, sesama ibu-ibu. Dan juga anak-anak kita yang terkasih. Izinkan eike mengungkapkan pendapat ya….

Apapun yang kita dengar tentang kepengasuhan kita. Mau enak, apa enggak enak. Mau pujian ataupun terasa nyinyiran. Marilah kita bareng saring dan pisahkan ke dalam 3 kluster:

1 . Fakta

2 . Opini

3 . Judgemental

Saya pakai contoh yang saya alami di atas ya….

1 . Tentang donor ASI.

Ternyata di balik omongan nggak enak temen saya tentang keputusan saya nyari donor ASI tu, banyaaaak banget fakta dan nilai-nilai kebenaran di dalamnya. Bahwa ada risiko dan bahaya yang membayangi proses donor ASI ini. Apabila tidak dilakukan penapisan ASIP yang benar.

Saat itu, benar, saking paniknya bahkan saya tidak mencari tahu latar belakang kesehatan pendonor ASIP. Walaupun saya sangat berterimakasih dan juga beruntung karena pendonornya (ternyata) sehat, bukankah ada kemungkinan bagi saya mendapatkan ASIP yang tercemar virus atau penyakit? —– ini fakta yang benar-benar saya sesali sampai sekarang.

Sampai sekarang saya tetap mendukung adanya donor ASI, namun dengan penapisan yang benar.

2 . Tentang kehabisan ASIP

Tetangga berkata, “Ibunya ni gimana si, jam segini belum pulang! Nggak mikirin anaknya apa ya? Mana nggak ninggalin susu yang cukup lagi…. Anak saya ya, ASInya banyak Bu…. Harusnya tu…. bla bla bla….”, demikian dikutip oleh Mama Mertua.

Jam segini belum pulang —–> fakta

Nggak mikirin anaknya apa —–> judgemental

Mana nggak ninggalin susu yang cukup ——> fakta

Anak saya ya, ASInya banyak Bu…. Harusnya tu…. ——> opini

Tentang penghakiman “nggak mikirin anaknya apa” yang dilontarkan tetangga tsb, saya berhak marah. Tapi kata Epicterus, “Any person anggering you becomes your master, he can anger you only when you permit yourself to be disturbed by him”.

Dan saya memilih untuk tidak mengizinkannya membuat saya marah.

Nggak penting. Mending pumping.

3 . Tentang MPASI homemade

Saya nggak bisa masak MPASI homemade dengan benar. —-> opini

MPASI berfortifikasi juga baik. —-> (ternyata) fakta.

Awalnya saya beropini kalau MPASI instant itu tidak baik karena ada pengawet lah, dll. Dan ternyata ketakutan saya tsb sirna ketika berdiskusi dengan mama mertua dan dokter anak kami.

Namun, saya juga berhasil mematahkan opini mama mertua bahwa saya nggak bisa masak MPASI homemade dengan benar. Hihihi. Bangga bukan main ya? LOL.

Pada akhirnya, tanpa emosi, kami berhasil berada di posisi sama-sama memahami pendapat masing-masing. Saya memahami pertimbangan Mama, dan Mama pun jadi respek pada kemauan saya berusaha dan belajar memasak untuk cucunya.

Persahabatan kami terjaga, sampai Beliau meninggal tahun lalu.

Bayangin kalau saya baper. Saya repot sendiri kalau traveling karena sama sekali nggak paham tentang makanan instan berfortifikasi. Hubungan saya dan mertua pun tentu akan memengaruhi hubungan saya dan suami. Jadi nggak enak semua lah.

Dan siapa yang rugi kalau nggak enak semua? Saya juga.

Ya gitu deh….

Daripada rugi sendiri, mending disaring omongan orang. Fakta dan opini (yang sahih) diambil. Bagian (yang kita rasa) judgementalnya dilupakan. Mereka hanya manusia biasa. Mungkin saja niatnya cuma sharing, nggak sengaja menyakiti….

Amin, jamaan….?

Enteng ya Nyonya ini kalau kotbah, super sekali. Hihihi…. Tapi yaaaa, kita sama-sama ngalami lah ya…. Daripada rugi sendiri, mari mengorganisasi pikiran menjadi lebih adem dan woles. Iyo to, enak to….

Udaaaa, iyain ajaaa…. Hahahaha….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

14 Comments

  1. Dan aku salut sama mendiang mama mertua yang mau damprat abis itu si mulut comberan!karena biasanya mertua suka malah nyudutin mantunya *curhat euy* wkwkwk

  2. โ€œIbunya ni gimana si, jam segini belum pulang!”

    Ini bisa ditampar ngga mulutnya. EMOSI!!! hahahaha, suka banget ngurusin orang lain hihihi. Biasanya yg begini tuh ngga bahagia, krn dia stuck dirumah doing nothing sementara kita bisa jd ibu dan kerja juga dapet penghasilan lebih dan bisa kasih fasilitas lbh sama anak.

    Kalau sama manusia gini ujungnya kita juga di bully lagi kalau jalan2 dan have fun sama anak sendiri kan hihihihi. Poor her.

  3. Kayaknya seperti yang apa aku rasakan juga deh setelah menikah dan punya anak.. Memang persaingan gak hanya jadi putri indonesia tapi jadi ibu juga

  4. Mom Snob ini sulit dihindari ya Kaka, apalagi dijaman bebas curhat bebas beropini kaya sekarang ini. Yang harus disadari adalah harus selalu berlapang dada. Hehehe.

  5. Kalau saya kena mom shaming nya soal c-section. Tentu saja dibilang “belom jadi ibu beneran” ingin rasanya ku obras mulutnya… Tapi toh bukan dia yg bayarin operasiku jadi kuanggap aja ucapannya itu angin lalu. Saya maafin tapi ngga saya lupain, supaya kalo saya mo komen “asal” saya bisa ngerem karena udah ngerasain sakit hatinya dikomenin sama orang.

    • Aiiih, poin tentang terakhirnya cucooookkk Mbaaaak. “Saya maafin tapi ngga saya lupain, supaya kalo saya mo komen โ€œasalโ€ saya bisa ngerem karena udah ngerasain sakit hatinya dikomenin sama orang.”

      Thanks sudah mau sharing ya…..

  6. Loveee this article, kepikiran aja mak untuk brought up thus topic ๐Ÿ˜Š anyway kl lg waras sih bs dipikirin pake logikaa, tp kl lg senggol bacok itu yg beda cerita ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    • Hihihi…. Awalnya aku kepikirannya tentang pemikiran #ProIbu atau #ProChoice yang rame-rame membela ibu dan pilihannya. Seriusan, aku seneng banget sama pemikiran ini ya Mak.

      Tapi trus sepanjang dua tahun, ngasuh anak ini, aku ngalamin beberapa salah ngambil keputusan, atau kurang informasi – sehingga bukan informed decision yang kami kasih ke Gayatri. Dan ngalami juga saat-saat dimana pengen bacok saat disenggol, tapi ternyata senggolannya terbukti bener di kemudian hari….

      Aku jadi mikir semacam…. Ya memang kita kudu pro sama ibu. Tapi untuk pro choice, choice yang mana dulu ni. Hahaha….

      Aku jadi merindukan ekosistem emak-emak yang sehat gitu lo Mak. Dimana ya orang bisa husnudon (bener ga si bahasanya) sama kritik dan sharing ibu lain, tapi juga husnudon sama kekurangan/ ketidak sempurnaan ibu lain. Ekosistem dimana kita juga bisa diskusi tanpa harus merasa dihakimi atau sebaliknya…. Merasa lebih pintar dari orang lain. Ekosistem dimana diskusi sama ibu lain jadi saat yang menyegarkan gitu lo….

      Semacam kita…. Ahahaha….

      Panjang bener eike balas komen aja ya Maaaak…. Hahaha….

  7. aku tipe yg sangat ga suka ikut campur urusan org. Dan ga mau kasih pendapat, kalo ga diminta :p. buatku, semua ibu pasti pgn yg terbaik utk anak dan keluarganya. kalo memang kita ga tau alasan dia ga ninggalin asi, ga ngasih asi (ini aku soalnya), jam 9 malam blm pulang dr kantor (ini aku jg hahahah), yaaa jgn ngejudge .

    sekalipun kita tau itu ibu blm pulang kantor krn clubbing ama rekan kerjanya, trus mau apa… ga bisa kita apa2in juga toh. makanya sebisa mungkin, aku ga mau komen soal2 pribadi org. yg suka bikin war ttg working mom ato stay at home mom, duuh please… itu bener2 ga faedahnya :p. kurang kerjaaan buuuuk..

    yo wis mbaaa, yg ptg kita mah happy yaaa, anak2 sehat walo makan mpasi instan.. buatku itu lbh ptg drpd ngurusin tetangga kepo dan sinis hahahah

  8. Dulu pernah juga ngalamin begini, apalagi anak pertama kan…semua org sibuk ngurusin dan komentar…awal2 hati carut marut denger kiri kanan, lama2 lbh percaya sama naluri sendiri dan santai aja cuekin apa kata org (baca: iya2 di depan habis itu lupa) hahaha… thx for sharing mbak

  9. Kalo saya sih penganut paham bahwa bahagia itu dari hati, kita yang ciptakan sendiri. Sebodo amat orang mau bilang apa…

    Adapun tentang pola asuh kita kepada anak tentunya lain keluarga lain kebiasaannya, gak bisa kita menjudge orang lain salah dalam merawat/mendidik anaknya.

    Selalu semangat, nyonya :*

  10. Duh, saya ‘kena’ banget dengan quotes-nya Epictetus tersebut. Terkadang kita merasa memang berhak marah, namun nggak worth it ya kalo tiap kali harus ‘meresponi’ sesuatu/seseorang yang membuat kita naik darah. Bener memang, better do what we have to do. Thank you for sharing!

    • Hihihi iya kan ya…. Tapi kadang saya juga kepikiran si. Sebenernya saya ni beneran berkepala dingin atau sebenernya malah cenderung nggak peduli ya…. -.-” Hihihi…. Thanks sudah mampir, Jane! Salam kenal ya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *