Redefining Kata “Produktif”

Saat saya bekerja dulu, saya sempat terlibat di pengelolaan kinerja pegawai. Jadi sedikit-sedikit paham apa itu goals, key performance indicator, bagaimana mengubah goal menjadi indikator, menerjemahkan kata “produktif” ke dalam data dan angka.

Setelah menjadi ibu rumah tangga?

Sempat saya tersesat menerjemahkan kata ini. Honestly, hehehe….

Terbiasa mengukur sesuatu dalam ranah kuantitatif yang linear. Kadang sulit mengukur produktivitas seorang ibu rumah tangga yang ritme kerjanya mbulet.

Kotor – bersih – kotor lagi – bersih – kotor lagi! Paaaaaakkkk, tulungin atuh iniiii…. Hihihi….

Pernah juga tersesat menerjemahkan kata produktif pada sebatas angka rupiah. Duh.

Cerita sebentar tentang masalah rupiah ini….

Saya memaklumi diri saya si tapi, kalau sempat terjebak dalam hal itu. Bekerja dan menghasilkan uang, selama delapan tahun, membuat saya agak merasa insecure saat mau isi pulsa aja harus minta suami. Hihihi…. Padahal kan hak ya sebenarnya. Suami juga nggak pernah melarang.

Bukan. Bukan tentang gengsi juga si. Ya hanya belum terbiasa aja…. Jadinya merasa nggak punya kemampuan gitu. Saya merasa lemah karena sebergantung itu. Perasaan yang tidak pas sebenarnya ya….

Saat itu, saya jadi tergoda untuk nggak batesin jumlah sponsored post di blog ini juga di social media. Demi fee. Demi punya penghasilan sendiri. Pun saya mulai buka olshop jualan buku. Begadang buat nulis. Siangnya foto-foto buku. Sibuk ya….

Please, jangan salah kira saya tidak mendukung ibu bekerja ya. Karena kondisinya memang berbeda-beda di tiap keluarga. Walau, kebetulan saya punya privillege untuk memilih, dan sebenarnya tidak harus juga mencari uang tambahan, berkarya dalam apa pun pilihan kita itu harus kalau menurut saya.

Yang saya sayangkan, adalah niatnya (saya). Saat itu, jujur, saya mixed antara keinginan berkarya untuk aktualisasi diri dengan mengejar materi karena saya merasa insecure.

Sampai akhirnya saya sadar. Kalau saya nggak fokus sama rumah dan sama Gayatri. Ngapain saya cuti panjang? Kalau fokus sama pengen ngehasilin duit, ya mending saya tetep ngantor, lebih gede kemana-mana. Jumlahnya. Jauh bedanya, Cinta.

Trus apa gunanya saya “mengorbankan” waktu tiga tahun masa kerja saya untuk cuti? Kalau hanya demi menelantarkan rumah dan anak juga akhirnya…. Ironis banget kan ya….

Akhirnya di bulan Maret kemarin saya mengurangi kegiatan yang punya tenggat waktu/ deadline ketat. Mulai mencoba meluruskan kembali niat. Mulai mencari cara supaya goals cuti saya yang semula, tetap menjadi fokus pencapaian saya.

Mulai mengendurkan ketegangan. Mengilangkan rasa insecure, supaya tetap jernih pikiran. Merendahkan hati, bukan merendahkan mimpi. Set tujuan antara, sehingga waktu jelas lebih terpeta.

Belajar menerjemahkan kembali arti kata produktif dalam panggilan saya sekarang sebagai ibu rumah tangga. :) Yang mungkin berbeda dengan ambisi saya sebelumnya….

*BRB ke dapur*

Ahelaaaaahhh…. Nulis tentang produktivitas, eh eike lupa njetekin power rice cooker kaaaaan…. Hahaha….

Ya ude ye, Nyaaah…. Eike lanjot ceplok telor dulu. #kibasdaster

Buat yang sedang merasakan hal yang sama, hai hai halo, kamu tidak sendirian. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *