Cara Mengobati Luka Ringan, Agar Tidak Terjadi Infeksi

Luka ringan sering kali dianggap sepele, sehingga cara mengobati lukanya pun kadang tidak diperhatikan. Namun tidak bisa dipungkiri, kalau luka kecil pun dapat mengganggu produktivitas.

Seperti yang saya alami beberapa waktu lalu. Saya terluka kena sirip ikan saat memasak di dapur. Lukanya berada di daerah tangan kanan (tangan yang aktif) yaitu di lipatan jempol. Lukanya si keciiiiiiiil bingit, tapi ngganggu gitu. Buat nekuk rasanya kelu. Buat nyuci perih perih gimana.

Sesama ibu-ibu pasti tahu lah ya gimana rasanya. Kita tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah, walaupun memiliki luka di tangan. Selain mengganggu produktivitas, yang lebih serem sebenarnya adalah infeksi si. Berikut saya mau sharing cara mengobati luka ringan yang biasanya saya lakukan.

Secara sederhana ada setidaknya tiga langkah yang perlu dilakukan untuk mengobati luka ringan:

1 . Menghentikan pendarahan

Cara menghentikan darah pada luka yang ringan adalah:

  1. Menekan bagian yang luka,
  2. Letakan area luka pada tempat yang lebih tinggi,
  3. Istirahatkan,
  4. Kompres dengan es.

Setelah melakukan tiga/ empat hal tersebut, pastikan tidak terus mengalir. Jika pendarahan tidak kunjung berhenti, pertimbangkan untuk mencari pertolongan medis lebih lanjut. Bahkan jika sifatnya urget tanpa perlu ke tahap dua dan tiga, karena yang penting adalah mempertahankan darahnya dulu. Untuk penanganan luka yang lebih besar, saya tidak akan membahasnya di artikel ini ya….

Oiya, biasanya jika luka terjadi di dalam mulut, karena tergigit atau terbentur sehingga bibir mengeluarkan darah, saya cukup sampai ke tahap kompres dengan es tadi (setelah sebelumnya kumur-kumur). Namun apabila luka terjadi di organ gerak saya akan melakukan langkah lain, dari membersihkan luka sampai ke tahap menutup luka di bawah ini. Simak terus yaaaa!

2 . Membersihkan luka

Jika darah sudah tidak mengalir, mulai untuk membersihkan luka. Beberapa cairan berikut dapat digunakan untuk membersihan luka:

  • Air mengalir. Cairan ini paling mudah ditemukan. Terutama saat terjadi luka di dapur. Buka keran, dan buang kotoran-kotoran yang terdapat pada luka, misal sedang mengiris sayuran mungkin ada sayuran yang menempel, dll. Walau demikian, cairan ini juga mengandung risiko infeksi, karena air adalah pembawa bakteri yang umum. Atau dengan kata lain, pembersihan menggunakan air mengalir sebenarnya hanya membersihkan secara fisik. Namun aspek biologisnya tidak dibersihkan secara optimal.
  • Cairan NaCl/ cairan infus. Apabila terdapat cairan infus di kotak PPPK keluarga di rumah, cairan ini bisa digunakan juga seperti air mengalir. Namun, memang bisa disadari kalau cairan ini jarang tersedia di rumah. Saya sendiri mengetahui bahwa cairan infus dapat digunakan sebagai cairan pencuci luka, adalah saat pelatihan PPPK oleh PMI. Namun karena penyimpanannya tidak praktis, saya tidak menyimpannya di rumah.
  • Cairan alkohol. Cairan ketiga ini cukup familiar ya. Apalagi ada kemasan kecil Alcohol Swab yang cukup praktis. Sudah tersedia dalam kemasan kecil yang tinggal disobek dan diusapkan. Satu yang kurang saya suka dari cairan ini adalah karena cairan ini membuat kulit kering dan tidak nyaman. Ada kalanya sensasi perihnya mengganggu proses pembersihan luka, jika luka terjadi pada anak-anak.
  • Hansaplast Spray Antiseptik. Seperti disebutkan pada namanya, cairan ini adalah cairan antiseptik yang dikemas dalam bentuk spray untuk tidak hanya membersihkan kotoran melainkan juga bakteri. Jadi penggunaannya disemprot. Praktis banget, dan nama Hansaplast, bikin saya cukup yakin saat mau menggunakannya.

Tentang Hansaplast Spray Antiseptic

Produk ke empat yang saya sebutkan ini produk baru ya. Saya juga baru mencobanya saat kemarin terluka di dapur. Luka kecil sekali tapi dalem di jempol. So far saya suka, karena cairan antiseptik ini gak pake perih. Saya akan mengulasnya lebih lanjut ya. Karena memang masih jarang sekali yang tahu dengan produk inovatif ini, sepertinya.

Produk ini bahan utamanya adalah Polyhexanide (PHMB), zat antiseptik yang banyak digunakan oleh dokter karena tidak perih, tidak mengakibatkan noda dan tidak berbau. Bahan ini sebenarnya sudah banyak digunakan di Rumah Sakit, tapi sepertinya baru Hansaplast ini yang menjualnya dalam bentuk produk OTC (over the counter, produk yang dijual bebas).

Harganya saat saya beli sekitar dua puluh ribuan, saat itu sedang diskon di Alfacart. Saya cek di Giant harganya kurang lebih empat puluh ribuan.

Untuk informasi lebih lanjut tentang produk ini bisa dilihat di web www.hansaplast.co.id dan melalui akun Instagram resmi Hansaplast @Hansaplast_ID dan Facebook Fanpage @HansaplastID.

Beberapa cairan di atas memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun dari keempat cairan yang saya sebutkan di atas, tidak ada yang berwarna ya.

Hal tersebut, karena saya pribadi tidak terlalu suka menggunakan cairan antiseptik yang memiliki warna. Cairan antiseptik berwarna akan menutupi warna kulit di sekitar luka, hal tersebut akan menyulitkan untuk mengontrol, apakah luka tersebut sembuh atau mengalami pembengkakan, atau infeksi lebih lanjut.

Saya merasa hal ini perlu banget ditekankan, terutama karena beberapa waktu lalu saya dengar berita seorang pemulung yang meninggal karena infeksi pada luka tertusuk lidi sate. Ya, tampak sederhana bukan. Tapi yang namanya luka terbuka memang riskan terjadi infeksi. Dan warna kulit pada sekitar luka merupakan indikasi penting, apakah luka tersebut perlu penanganan medis lebih lanjut atau tidak. Oleh karena itu, saya lebih suka dengan cairan pembersih luka yang tidak mengubah warna kulit/ warna luka.

3 . Menutup luka

Last but not least, saya akan menutup luka dengan plester untuk mengurangi interaksi luka dengan air atau dengan kotoran. Jadi luka cenderung tidak lembab dan juga mudah sembuh.

Dengan cara mengobati luka di atas, saya bisa langsung beraktivitas seketika, kembali memasak, tanpa terlalu terganggu dengan luka yang saya alami di jempot tangan kanan tadi. Mengupas udang, membersihkan sirip ikan pun tak lagi jadi momok yang menyeramkan di dapur.

Aman dari infeksi, dan ga pake perih juga. Laaaaf!!!!

Semoga sharing kali ini bermanfaat yak! Salam sayaaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *