Sadar Bencana Kekeringan Mulai dari Diri Sendiri: Lawan Mitos dan Lakukan Konservasi Air Skala Rumah Tangga

Sebagai orang awam, saya sering memandang sebelah mata bencana kekeringan. Bencana kebakaran hutan, banjir, longsor, terdengar lebih horor di telinga saya. Tepat sekali, itu karena saya belum pernah mengalami rasanya kekurangan air. Hidup urban di komplek perumahan yang relatif maju, membuat saya dimanja dengan fasilitas air bersih. Adanya penampungan bawah tanah yang menampung air PDAM dan toren di lantai dua rumah saya, berperan seperti lumbung air. Keran akan mengalir deras, kapanpun saya perlukan.

Saya tidak benar-benar memahami betapa dekatnya bencana kekeringan tersebut dengan kehidupan saya. Atau dengan kata lain saya tidak menyadari bahwa isu ini begitu penting dan mendesak, sampai beberapa waktu lalu. Di grup kampung kelahiran saya, kampung yang sudah saya tinggalkan hampir sepuluh tahun, ada yang membuat daftar daerah yang butuh droping air. Seorang anggota forum yang tinggal di tepi Kali Bogowonto, termasuk yang mengisi daftar kebutuhan air. Saya jadi sedikit tersentil, “Kali Bogowonto? Bukankah sungai tersebut sangat besar? Kenapa mereka sampai bisa kekurangan air?” Sentilan itu membuat saya melakukan pencarian lebih lanjut di Google.

Pencarian yang berhasil menemukan jawaban yang tidak menyenangkan.

Karena yang awalnya hanya sentilan, berubah menjadi tohokan besar. Headline di beberapa media online menyolok mata, “Lebih dari 1.900 Desa di Tujuh Provinsi Terdampak Kekeringan“, seru artikel di bnpb.go.id tertanggal 15 Juli 2019. Menyusul kemudian pada 31 Juli 2019, “2.347 Desa Dilanda Kekeringan, BNPB Siapkan Rekayasa Cuaca” berita di CNN Indonesia. Lalu terakhir yang saya baca saat menuliskan artikel ini adalah, “Kekeringan Semakin Meluas Pemerintah Gorontalo Tetapkan Status Darurat” yang ditampilkan Kompas Online pada 16 September 2019. Dalam petikan petikan berita lain, saya juga menemukan, ada daerah yang kekeringan sudah sampai lima bulan, ada yang sudah harus mengandalkan droping air atau memilih menggunakan air rawa yang keruh.

bencana kekeringan
Ilustrasi Bencana Kekeringan, Dokumen Pribadi.

Ternyata isu kekeringan semendesak dan sepenting ini, dan saya tidak menyadarinya. Sempat terbersit dalam hati, “Secuek itukah saya? Sepertinya saya harus unfollow akun lambe lambe di Instagram supaya lebih banyak membaca berita nasional.”

Setelah saya mengajak bicara beberapa rekan, saya menemukan hal yang lebih menyedihkan: bahwa saya tidak sendirian dalam ketidaksadaran saya. Saya jadi sadar bahwa banyak yang tidak sadar dengan hal ini. Saya tidak ingin menghakimi, karena saya pun demikian. Ketidaksadaran ini massal.

Setelah merenungkan beberapa hal, saya memutuskan untuk menuliskan artikel ini….

Mitos yang Menjerumuskan tentang Air

Mitos 1. Air adalah Barang Bebas

Pengalaman hidup di tempat yang memiliki akses air bersih tak terbatas (selama membayar tagihan), menjadikan saya menganggap air adalah barang bebas. Ya, seingat saya pun, dalam pelajaran ekonomi, bersama dengan udara dan sinar matahari, air dikategorikan dalam barang bebas.

Tapi sungguh, pemahaman air adalah barang bebas merupakan mitos yang berbahaya, karena membuat saya terlena. Membuat saya tidak sadar.

Buku cetak mengatakan bahwa 70% bagian bumi adalah air. Betul memang. Namun, saya baru tahu jika dari keseluruhan air di bumi hanya kurang dari 1%-nya saja yang merupakan air segar. Sisanya 2% berupa salju atau es di kutub dan pegunungan serta 97% lainnya adalah air asin di lautan (2).

This image has an empty alt attribute; its file name is hiks.jpg

Saya jadi tidak selera mandi saat mengetahui hal ini. Satu persen proporsi air untuk 7,7 milyar umat manusia adalah angka yang sangat kecil, untuk mendaulat air sebagai barang bebas. Air adalah barang terbatas! Seharusnya dia dimahkotai julukan barang ekonomis. Ingin rasanya saya sobek-sobek buku ekonomi yang saya miliki. Sayangnya, bukunya sudah dijual ke tukang loak.

Dengan memahkotai air sebagai barang ekonomis, seharusnya kita mahfum bahwa untuk mendapatkannya memerlukan pengorbanan. Ya, betul, sehari-hari kita pun sudah berkorban uang untuk membayar tagihan air. Namun bukan pengorbanan itu yang saya ingin garis bawahi, karena tagihan air pun sebenernya tidak seberapa jumlah rupiahnya. Sebagai tambahan info yang saya dapat dari RPJM 2020-2024, PDAM selama ini belum menerapkan tarif Full Cost Recovery.

Pengorbanan yang lebih ingin saya sororti adalah pengorbanan orang lain, yang juga berhak menikmati air bersih yang sama. Sama seperti saya, kaum-dengan-akses-air-bersih-tak-terbatas-karena-sanggup-bayar ini. Untuk memudahkan, dalam artikel ini, saya akan menyebut “kaum saya (atau kita?!?) ini” dengan Kaum X.

Mari berpikir makro. Bayangkan saja, jika 1% air bersih di muka bumi, dua pertiganya dinikmati dengan foya foya oleh Kaum X, maka hanya ada sisa sepertiga lagi untuk bagian masyarakat yang lain. Kalau Kaum X lebih ceroboh dan menggunakan tiga per empatnya, maka kaum lain hanya akan mendapat bagian seperempat saja. Rumusnya bisa jadi 1 – X = sisa air bersih.

“Kok jadi mengkotak-kotakkan kaum si, Nyah? Air kan mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Bukan dari perumahan kaya ke perumahan miskin. Jangan mendramatisasi deh!”, mungkin ada yang berpendapat demikian.

Mungkin terdengar mendramatisasi ya. Tapi memang pada kenyataannya, air bersih jaman sekarang mengalir pada pipa. Ke mana pipa dipasang, ke sanalah air mengalir sampai jauh.

Saya jadi menyadari keterlibatan saya pada bencana kekeringan yang dialami oleh orang lain. Tolong, maafkan saya yang sudah zhalim. Tapi saya juga punya kambing hitam: mitos bahwa air adalah barang bebas. Mitos ini membuat bencana kekeringan tampak tidak mendesak. Mitos ini bermuara pada ketidaksadaran akan bencana kekeringan.

“Tukang loak, musnahkan saja buku Ekonomi saya!”

Mitos: Air adalah barang bebas

Fakta: Air terbatas, dan penggunaan yang boros adalah kezhaliman bagi orang lain/ generasi berikutnya. Walaupun kuat bayar, tapi berarti mengorbankan pemenuhan kebutuhan orang lain.

Mitos 2. Air adalah Sumber Daya yang Dapat Diperbaharui

Mitos berikutnya yang awalnya juga saya yakini adalah bahwa air senantiasa dapat diperbaharui, melalui siklus alaminya. Jadi pemahaman awal saya adalah air tanah yang keluar menjadi sungai akan turun ke laut, menguap, menjadi awan lalu turun menjadi hujan kemudian terserap kembali menjadi air tanah dalam akuifer.

Namun, ternyata dengan logika sederhana sebagai orang awam pun saya menemukan bahwa siklus air tidaklah memperbaharui kuantitas air tanah secara seutuhnya. Bouwer menyatakan bahwa pada lingkungan dengan suhu dan kelembaban tinggi (saya menduga Indonesia termasuk di dalamnya) tingkat keterkembalian air hujan menjadi air tanah (natural recharge rate) adalah sekitar 50% atau hanya sekitar setengahnya saja. Untuk daerah yang lebih kering bahkan hanya sekitar kurang dari 10%.

Jadi siklus air tidak 100% mengembalikan air dari tanah menjadi air tanah kembali.

Indonesia sendiri menempati urutan 65 dari 164 negara dalam National Water Stress Ranking yang dikeluarkan oleh World Resource Institute di tahun 2019. Urutan ini berdasarkan berapa banyak (persentase) air yang diambil dari tanah dan permukaan dibandingkan dengan keseluruhan yang tersedia di suatu negara. Semakin rendah nilainya, maka kondisi ketersediaan airnya semakin ideal. Menduduki peringkat tersebut berarti Indonesia berada di tingkat 20-40% water stress. Sebagai pembanding, Malaysia berada di urutan 132 dari 164 negara, yang berarti kondisi ketersediaan airnya jauh lebih baik daripada negara kita. Kesimpulannya? Kondisi kita tidaklah terlalu baik.

Hal ini diperparah dengan perubahan iklim yang drastis. Di mana seringkali kemarau sangat panjang, menyebabkan  tidak ada air di mana-mana. Lalu secara kontras di waktu yang lain, hujan tiada henti, membuat tanah kembung, tiada mampu lagi menelan air secara cepat. Air kembali dimuntahkan sebelum memasuki akuifer.

Maka apabila manusia hanya pasrah pada siklus alami air, adalah suatu keniscayaan, bahwa ada saatnya sumur-sumur air tanah mengering di semua tempat. Dengan menyadari bahwa air bukanlah sumber daya yang dapat dengan mudah memperbaharui dirinya, maka pesan isu kekeringan ini menjadi lebih kuat dan penting. Budaya sadar bencana dalam diri saya bangun.

Mitos: Air adalah Sumber Daya yang Dapat Diperbaharui

Fakta: Natural recharge rate hanya sekitar 50%

Mitos 3. Kekeringan tidak akan terjadi di daerah saya.

Mitos bahwa kekeringan tidak akan terjadi di daerah saya, adalah mitos paling naif sekaligus menyedihkan. Karena faktanya, hal itu sudah terjadi, hanya saya tidak menyadarinya.

RPJM 2020-2024 yang dirilis Bappenas pada tahun 2019 menyatakan bahwa saat ini ketersediaan air sudah tergolong langka hingga kritis di sebagian besar wilayah Pulau Jawa dan Bali; sementara Sumatera bagian selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi bagian selatan akan langka/kritis air di tahun 2045. Diperkirakan luas wilayah kritis air meningkat dari 6 persen di tahun 2000 menjadi 9.6 persen di tahun 2045.

Tahun 2019 bencana kekeringan di Indonesia tercatat lebih buruk daripada tahun 2018. Banyak daerah di pulau Jawa yang di tahun 2018 tidak mengalami kekeringan, di 2019 harus kehausan. Lalu di tahun 2020 mau seperti apa? Tahun 2040 mau seperti apa?

Sekarang sudah pertengahan September 2019, dan BMKG memberikan prakiraan musim penghujan akan datang pada bulan Oktober 2019. Sebentar lagi, jika Tuhan berkehendak, hujan akan turun. Bahkan saat saya menuliskan artikel ini, semalam, hujan sudah turun di Bogor. Angin segar bagi daerah yang saat ini terdampak bencana kekeringan. Untuk daerah yang tidak terkena kekeringan pun, sebuah kelegaan besar. Syukurlah, tahun ini aman.

Namun, jika kita tidak mawas diri atas informasi tersebut, saya ngeri membayangkan tahun tahun menjelang, daerah yang tahun ini tidak mengalami kekeringan, mendapat giliran terkena bencana. Amit-amit, saya masih mau mandi dua kali sehari biar tidak kena penyakit kulit sampai tua.

Jadi, setelah musim kemarau selesai, jangan sampai kesadaran akan bencana kekeringan pun turut usai. Malahan kita perlu bersiap menjaga alam, agar di tahun berikutnya, Indonesia tidak perlu mengalami bencana kekeringan lagi. Kita jaga alam, alam jaga kita.

Jangan sampai kita baru sadar, saat sudah menjadi korbannya.

Mitos: Kekeringan tidak akan terjadi di daerah saya.

Fakta: Ketersediaan air sudah tergolong langka hingga kritis di sebagian besar wilayah Pulau Jawa dan Bali; sementara Sumatera bagian selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi bagian selatan akan langka/kritis air di tahun 2045.

Mitos 4. Ketersediaan Air bersih adalah SEMATA-MATA kewajiban pemerintah

Benar, adalah kewajiban pemerintah untuk menyediakan air. Lebih tepatnya, Pemerintah bertanggungjawab pada kapasitas penyediaan air minum/ air bersih. Saat bencana kekeringan terjadi pun, pemerintah telah melakukan beberapa tindakan seperti perbaikan infrastruktur PDAM, pengaturan irigasi dan melalui Pemerintah Daerah serta BNPB melakukan droping air bersih.

Masih banyak tugas yang harus pemerintah selesaikan, namun bukan berarti individu tidak memiliki kewajiban apapun terkait air bersih. Dalam PP Nomor 82 Tahun 2001 pasal 31 menyatakan bahwa setiap individu berkewajiban melestarikan kualitas sumber air dan mengendalikan pencemaran air.

Belajar dari kasus Australia, khususnya Melbourne, saat mengalami kekeringan paling parah sepanjang sejarah di tahun 1997 – 2009. Salah satu yang pemerintah Melbourne lakukan saat itu, selain pembangunan infrastruktur tentunya, adalah membuat electronic billboard yang menunjukkan level ketersediaan air. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat luas tentang bencana kekeringan yang sedang dan akan dialami. Tindakan itu berhasil dan menjadi rujukan keberhasilan dalam menghadapi Millenium Drought. Karena terbukti saat kesadaran masyarakat terbangun, Melbourne berhasil menurunkan tingkat konsumsi air rumah tangga sampai 50% di tahun 2010 dibandingkan dengan tingkat konsumsi sebelum terjadinya kekeringan.

Tercatat bahwa pemerintah Melbourne pun melakukan investasi pada infrastruktur desalinasi air laut menjadi air tawar. Namun program tersebut dihentikan karena prosesnya ternyata merusak alam. Jadi alih-alih hanya fokus pada pembangunan infrastruksur, keberhasilan Melbourne menghemat banyak air di atas adalah berkat mereka memiliki prioritas pada tindakan tindakan konservasi air. Bahkan setelah masa kekeringan tersebut lewat, masyarakat Melbourne tetap melanjutkan kebiasaan baik mereka dalam konservasi air dan makin meningkatkan daya tahan kota itu terhadap risiko bencana kekeringan.

Senada dengan apa yang dilakukan oleh warga Melbourne penelitian di Pennsylvania juga menyatakan bahwa perubahan sikap dapat menjadi pertolongan pertama pada kekeringan, namun peralatan dan praktik-praktik air lainnya juga diperlukan untuk perbaikan jangka panjang.

Di Pennsylvania sebagaimana juga di negara bagian Amerika Serikat yang lain, seperti juga Melbourne, terdapat early warning system untuk membangun kesadaran masyarakat tentang bencana kekeringan. Perbedaan dengan Melbourne adalah, jika Melbourne menggunakan electronic billboard yang menunjukkan status ketersediaan air pada waduk (sistem terpusat), di Pennsylvania menggunakan Drought Declaration (Deklarasi Kekeringan, terjemahan bebas) yang dapat dipantau secara real time pada web Department Environmental Protection.

Drought Declaration ini akan memberi informasi kepada warga tentang status kekeringan yang sedang terjadi di daerah mereka. Status tersebut adalah Normal, Drought Watch, Drought Warning dan Drought Emergency. Selain menunjukkan kondisi, status ini juga menjadi acuan langkah apa yang harus dilakukan oleh warga terkait konsumsi air yang mereka lakukan.

Status Drought Watch berarti anjuran bagi warga untuk smengurangi konsumsi air setidaknya sebesar 5%, status Drought Warning berarti mengurangi konsumsi air secara sukarela sebesar 10 s.d. 15%, dan status Drought Emergency berarti kewajiban bagi warga untuk mengurangi konsumsi air sebesar minimal 15%.

Berkaca dari pengalaman negara-negara lain lain di atas, mematahkan pemikiran bahwa konservasi air di tingkat rumah tangga adalah hal kecil yang tidak akan memiliki dampak apa-apa. Dan adalah sebuah halusinasi, jika kita merasa pemerintah akan sanggup berjuang sendiri untuk melakukan “pekerjaan besar”; menyediakan air bersih, di tengah kondisi alam yang sudah seperti ini. Ini seharusnya adalah proyek gotong royong semua pihak yang berkepentingan. Dan kita sebagai individu maupun sebagai rumah tangga merupakan subyek yang memiliki kepentingan sangat besar terhadap ketersediaan air bersih.

Saya tidak sedang membela pemerintah. Saya sedang membela nasib saya sendiri juga.

Konservasi air skala rumah tangga sebagaimana yang dilakukan di Melbourne ataupun di Penssylvania tadi pasti juga bisa kita lakukan. Berikut saya coba merangkum, langkah-langkah sederhana yang bisa kita bersama lakukan di rumah.

Mitos: Ketersediaan Air bersih adalah SEMATA-MATA kewajiban pemerintah.

Fakta: Ketersediaan air harus diupayakan oleh semua pihak.

Konservasi Air Skala Rumah Tangga

Konservasi air skala rumah tangga secara mudahnya, dapat diterjemahkan sebagai penghematan air yang sesuai dengan Tips Siaga Bencana Kekeringan yang diberikan oleh BNPB.

Sebagai informasi, BNPB telah mengeluarkan Tips Siaga Bencana Kekeringan yang meliputi 1) Pra Bencana dan 2) Saat Terjadi Bencana. Dari 11 hal yang disebutkan oleh BNPB di sini, saya ingin menggaris bawahi tiga hal yang paling mudah dilakukan dalam skala rumah tangga.

Hal ini kurang lebihnya sejalan dengan konservasi air:

  1. Memanfaatkan air yang ada secara efektif dan efisien.
  2. Membuat dan memperbanyak resapan air.
  3. Memanfaatkan sumber air yang tersedia sebagai keperluan air baku.

Sebenarnya ada banyak lagi cara dalam konservasi air. Tapi menurut saya, berikut adalah tahap yang paling do-able dan paling affordable juga.

1 . Memanfaatkan air yang ada secara efektif dan efisien

Dalam memanfaatkan air secara efektif dan efisien ada dua sudut pandang. Yang pertama dari sisi perubahan perilaku dari pengguna air dan yang kedua adalah dari sisi peralatan hemat air yang digunakan.

Contohnya dalam kegiatan menyiram toilet (sehabis buang air).

Dari sisi perilaku, kita bisa menghemat air dengan mengurangi kebiasaan menyiram toilet berkali-kali setelah buang air. Bagi yang menggunakan toilet duduk, ada kalanya untuk menghilangkan sepi, kita menekan tombol flush lebih dari sekali. Padahal hanya perlu sekali flush saja di akhir kegiatan buang air, sudah cukup untuk mengantarkan kotoran ke septic tank. Kebiasaan tersebut bisa melipatgandakan konsumsi air rumah tangga secara signifikan.

Sementara itu, dari sisi peralatan, kita bisa memilih toilet duduk yang memiliki dua mode flush; tombol kecil untuk menyiram kencing dengan jumlah air lebih sedikit dan tombol yang lebih besar untuk menyiram feses dengan jumlah air yang lebih besar.

Jika memiliki toilet dengan hanya satu metode flush, kita bisa memasukkan botol berpemberat ke dalam tampungan air flush, agar mengurangi volume airnya.

Kegiatan siram menyiram toilet ini, saya jadikan contoh pertama karena ternyata jumlahnya TERNYATA paling signifikan!

Konsumsi rumah tangga terbesar pada tahun 1999 di Amerika Serikat, sebagaimana ditunjukkan tabel di atas, adalah pada toilet yaitu 27%. Lebih banyak daripada penggunaan untuk menyuci baju.  Hal ini kurang lebih senada dengan pendapat Keating dan Howart pada tahun 2003 yang menyatakan 30 % konsumsi air rumah tangga berasal dari siraman air toilet (Keating dan Howart, 2003). Angka ini sekiranya bisa menjadi gambaran konsumsi air rumah tangga secara umum.

Misal, kita bisa menghemat konsumsi air di toilet berdasarkan Water Household Conservation, Penstate, 2008 maka per orang akan dapat menghemat 1.385,46 liter per bulan. Tabel terlampir di bawah ini.

Jika dalam satu keluarga terdapat 3 anggota, maka penghematan air yang dilakukan bisa lebih dari 3.000 liter. Bayangkan jika seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 267 juta jiwa, melakukannya. Milyaran liter air dapat dihemat setiap harinya.

Angka di atas hanya untuk penghematan konsumsi air toilet saja. Bayangkan berapa banyak yang bisa dihemat apabila kita menghemat konsumsi air pada hal lainnya juga.

Hal-hal sederhana lain yang bisa dipraktikkan di rumah terkait penggunaan air yang efektif dan efisien adalah:

  • Menggunakan bak pembilasan saat mencuci piring alih-alih membilas di bawah keran air yang senantiasa mengucur,
  • Menggosok gigi dengan keran tertutup dan berkumur dengan air yang ditampung dalam gelas,
  • Mencuci pakaian dengan dengan jumlah pakaian kotor yang optimal,
  • Tidak menyuci mobil atau menyiram halaman saat kondisi kekeringan,
  • Mandi menggunakan shower lebih hemat dibandingkan dengan mengguyur tubuh menggunakan gayung,
  • Pastikan tidak ada peralatan yang bocor,
  • Jika menggunakan pompa air, pastikan tempat penampungan air dilengkapi dengan saklar otomatis, yang memungkinkan mesin mati tepat saat penampungan penuh. Atau jika tidak, jangan meninggalkan rumah saat pompa air menyala.

2 . Membuat dan memperbanyak resapan air dengan artificial recharge storage/ water banking.

i ) Biopori

Kita tentu familiar dengan metode menabung air di bendungan. Air ditahan di sebuah wadah raksasa supaya ketika air melimpah tidak menyebabkan banjir, dan dapat digunakan sewaktu dibutuhkan.

Dalam skala rumah tangga, tentu kita tidak dapat membuat bendungan. Karena luasan tanah di atas permukaan yang diperlukan sangatlah besar. Bisa dibilang hal ini relative tidak terjangkau olah orang kebanyakan. Namun, kita bisa membuat “bendungan” di bawah tanah. Hal ini mungkin terjadi karena “ruangan” untuk air pun sebenarnya sudah tersedia di dalam tanah. Ruangan tersebut kita kenal dengan “akuifer”. Tempat ini adalah lapisan kulit bumi berpori yang dapat menahan air dan terletak di antara dua lapisan yang kedap air.

Mengingat ruangannya sudah tersedia, yang perlu dilakukan adalah bagaimana membantu mengalirkan air di atas permukaan tadi kembali masuk ke dalam tanah. Tentunya dengan lebih cepat melebihi natural recharge rate yang hanya sekitar 50% sebagaimana disebut di awal artikel ini. Salah satu cara yang termurah yang dapat dilakukan dalam skala rumah tangga adalah dengan membuat biopori.

Saya bilang termurah karena hanya membutuhkan alat untuk menggali ukuran 1 m dengan diameter, yang mana dapat digunakan rama-ramai. Jadi bisa satu RT iuran untuk membeli atau membuat di tukang las, satu atau dua alat biopori.

Bagaimana biopori bisa meningkatkan resapan air?

Biopori adalah lubang silinder yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm. Kedalaman ini bisa dikurangi apabila air tanah di sekitarnya dangkal. Selanjutnya lubang yang sudah dibuat tersebut diisi dengan sampah organic, yang nantinya akan berguna sebagai makanan organisme tanah.

Secara matematika sederhana, penampang tanah dengan diameter 10 cm hanya akan memiliki lahan resapan sebesar lingkaran dengan luas 78,5 cm persegi. Sementara ketika dibuat tabung dengan kedalaman 100 cm, maka luas bidang resapannya akan menjadi 3.218 cm persegi.

Belum lagi nantinya, ketika biopori diisi dengan sampah organik, maka cacing-cacing dan organisme tanah lainnya akan bergerak dari dan ke biopori di dalam tanah sehingga membentuk rongga-rongga di dalam tanah, yang makin mempermudah air untuk terserap.

ii ) Sumur resapan/ kolam infiltrasi

Kolam infiltrasi adalah kolam berukuran 21x13x3 m3, dengan tiga sumur injeksi berkedalaman 12 meter. Kapasitas tampungnya mencapai 400 m3/hari.

Karena ukurannya yang besar ini, tentu saja resapan yang bisa terjadi jauh lebih besar daripada biopori. Namun, karena ukurannya sangat besar, untuk skala rumah tangga saya rasa masih perlu bekerja sama dengan instansi terkait untuk pengadaannya.

iii ) Tidak menutup permukaan tanah

Last but not least, langkah yang harus dilakukan adalah tidak menutup semua permukaan tanah dengan semen atau keramik.

3 . Memanfaatkan sumber air yang tersedia sebagai keperluan air baku.

Selama ini, saya hanya mengandalkan air PDAM sebagai sumber air utama. Mau mencuci baju, menyiram tanaman, mencuci piring, mandi, mengepel, dll semua dari air PDAM. Hanya untuk air minum dan memasak saja yang menggunakan air mineral.

Setelah menyadari isu bencana kekeringan ini, pikiran saya jadi lebih terbuka untuk ide-ide sumber air lainnya. Sumber potensial yang telintas dalam benak saya adalah:

i ) Air hujan atau rain harvesting.

Cara paling sederhana yang bisa dilakukan adalah menggunakan drum untuk menampung air dari atap. Hal ini dilakukan oleh nenek saya yang tinggal di pesisir pantai sejak sebelum tahun 90-an. Nenek melakukan hal tersebut karena di rumah beliau, sumurnya payau. Pemenuhan air tawar dilakukan dengan membeli air di tukang air keliling. Air hujan merupakan berkah, karena dengan menampungnya, nenek bisa berhemat uang banyak. Saya masih ingat betul hal tersebut, karena saat kecil, liburan ke rumah beliau, saya pernah memasukkan lumpur ke dalam drum tersebut, dan nenek saya “mengaum” tak hentinya menggunakan Bahasa Jawa dialek pesisir Jawa Utara yang tidak terlalu saya pahami.

ii ) Menggunakan kembali air limbah.

Sebenarnya kita pun perlu memandang limbah air sebagai “sumber air” yang baru. Betul, dengan cara menggunakannya kembali. Menggunakan air limbah kembali memang tricky ya. Karena sebagai orang awam, saya sendiri ragu dengan kemampuan saya mengelola air limbah. Kawatir, alih-alih berhemat, malah jadi penyakit.

Namun, saya punya wacana bersama suami yang kebetulan adalah insinyur untuk mewujudkannya di rumah kami nanti. Wacana tersebut adalah tentang menggunakan kembali air cucian pakaian untuk menyiram toilet.

Beberapa poin yang kemarin perlu dikaji kembali oleh kami adalah masalah detergen, yang kemungkinan akan mengganggu proses penghancuran kotoran di septic tank. Kemungkinan besar jika kami bisa mencari sabun cuci pakaian yang lebih ramah lingkungan, seperti lerak atau castile soap, wacana ini dapat dilakukan. PR-nya adalah menghitung apakah pilihan tersebut tidak mengganggu kebersihan dan kenyamanan keluarga, serta juga menghitung nilai ekonomisnya kembali.

Saya pribadi benar-benar berharap wacana ini dapat terwujud. Karena jika menggunakan asumsi angka pada tabel Amerika serikat yang kita gunakan tadi. Maka konsumsi air toilet yang awalnya 18,5 gallons dipangkas 50% menggunakan peralatan hemat air menjadi 9,25 gallons per orang dapat dipenuhi sepenuhnya dari penggunaan kembali 15 gallons air bekas cuci pakaian. Bahkan masih sisa 4,75 gallons untuk dapat diolah lebih lanjut.

Ah, ya, harapan saya dengan langkah-langkah kecil yang sudah dan akan kita lakukan dalam konservasi air skala rumah tangga ini, tahun 2045 kita masih bisa terhindar dari bencana kekeringan ya…. Masih bisa menikmati kesegaran air minum bagi kesehatan kita. Dan tak lupa, air mandi supaya tetap glowing, shimmering, splendid….

Aamiin….

Daftar Pustaka:

  1. https://www.wellwater.bse.vt.edu/files/household%20water%20conservation.pdf
  2. http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.476.6599&rep=rep1&type=pdf
  3. http://www.sanitasi.net/dasar-dasar-teknik-dan-pengelolaan-air-limbah.html
  4. http://dibi.bnpb.go.id/
  5. https://bnpb.go.id/publikasi/siaga-bencana/siaga-bencana-kekeringan.html
  6. https://www.dep.pa.gov/Business/Water/PlanningConservation/Drought/Pages/default.aspx
  7. https://news.psu.edu/story/164626/2010/09/21/drought-watch-effect
  8. http://www.biopori.com/keunggulan_lbr.php
Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *