Dibilang “privileged”? So, what?

Beberapa waktu lalu saat Maudy Ayunda diterima di dua kampus bergengsi dunia, kata “privilege” mengemuka di dunia maya. Ada yang tonenya nyinyir, ada yang tonenya netral-netral saja. Saya pribadi merasa kata “privilege” ini netral ya.

Kecuali mungkin dibilang, “Privilege DOANG!” Ya itu si, kata DOANGnya yang jahadddd. Kata privilegenya si tetap netral.

Privilege do exist. Walaupun demikian saya juga setuju kalau privilege DOANG tidak akan cukup untuk membuat orang diterima di Stanford sekaligus Harvard. Atau pencapaian lainnya. Tetap butuh kerja keras dan komitmen untuk mencapainya.

But, still…. Privilege do exist. Maudy Ayunda sendiri mengakuinya, kok. So, what?

Privilege vs Diskriminasi

Privilege atau keistimewaan, adalah kondisi yang menguntungkan yang dimiliki seseorang/ kelompok yang membuatnya dapat mengakses fasilitas demi mencapai tujuannya. Kondisi ini dimiliki by grace, unearned power.

Kadang privilege ini sifatnya diskriminatif, namun ada juga yang tidak.

Privilege yang Diskriminatif

Dalam sejarah Amerika, kata privilege ini memang bergelimang “dosa” ya. Karena ada privilege-privilege yang menciderai hak asasi manusia. Salah satu contohnya white-skin privilege. Privilege yang mana menguntungkan satu kaum tertentu, namun MERUGIKAN kaum berkulit hitam. Kajian tentang ini merujuk pada observasi yang dilakukan oleh sosiologis W.E.B Du Bois yang dilakukan di tahun 1920an s.d. 1930an.

Di negara yang sama, kata privilege juga sempat booming lagi saat McIntosh di 1990 membahas tentang privilege yang diskriminatif terkait dengan ras dan gender. Resume kajiannya bisa diakses di White Privilege: Unpacking the Invisible Knapsack, Peggy McIntosh.

Selain menggaris bawahi kerugian yang ditimbulkan oleh pihak lain akibat diskriminasi ini, saya juga ingin menggaris bawahi jika privilege yang diskriminatif sifatnya tidak adil. Hal-hal yang terkait dengan hak asasi manusia, seharusnya bisa diakses oleh semua orang. Bukan hanya dengan privilege.

Untuk diskriminasi semacam ini, saya rasa penting untuk kita kritisi dan lawan.

Privilege yang Tidak Diskriminatif

Untuk privilege yang tidak diskriminatif, kembali aku ambil contohnya Maudy lagi ya….

Maudy punya privilege berupa ORANG TUA yang SUPPORT pendidikan, dan bisa dibilang MAMPU untuk menyekolahkannya ke sekolah terbaik sejak anak-anak. Dia bisa bersekolah di sekolah dengan kurikulum berstandar internasional setahu saya. Saya tahu sekolah ini MAHAL, karena dulu salah satu teman kos saya kerja di situ. TIDAK SEMUA ORANG bisa menikmati pendidikan dengan standar ini. Hal itu merupakan fasilitas yang mendukungnya untuk diterima di kampus bergengsi, imho. Suatu privilege.

via GIPHY

Namun, privilege di atas saya kira BUKAN privilege yang diskriminatif. Karena bagaimanapun proses seleksi masuknya menggunakan sistem MERIT. Kalau nggak ada kemampuan (hasil usaha dan komitmen) nggak bisa keterima juga keleus….

Keren banget lah, Maudy!

Privilege yang (kadang) tidak dirasakan

Saya meyakini bahwa setiap orang memiliki baik keberuntungan sekaligus kenaasan dari lahir. Dan kocaknya, walau tidak selalu, kadang keduanya berubah tergantung kapan dan dimana kita berada.

Saya sering sekali mendapat komentar, ” Enak ya, masih muda uda PNS”, karena saya PNS dari usia 20 tahun. Di luar pro kontra enak nggak enaknya, saya tetap sadar sepenuhnya kalau hal ini saya dapatkan karena privilege.

Kalau mau ditarik lebih jauh, privilege ini adalah bisa masuk PNS lewat jalur PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan) STAN. Tentunya privilege tadi TIDAK diskriminatif ya. Karena seleksi masuk STANnya pun ketat. Namun, kuota masuknya (di jaman saya) lebih besar daripada kuota penerimaan pegawai umum.

Kalau mau ditarik lebih jauh lagi, sebelum masuk STAN, saya bersekolah di SMA yang memang concern banget mengarahkan siswanya masuk PTN atau PTK. Alumni-alumninya pun banyak yang sebelumnya diterima ke sana dan sering kembali ke sekolah untuk memberi info sekaligus try out. Informasi dan pelatihan tersebut, membuat kami memiliki banyak amunisi dan pilihan melanjutkan pendidikan.

Kalau mau ditarik lebih jauh lagiiiiii, semua mungkin bermula karena Kakek Buyut saya yang kebetulan lahir dengan titel Raden. Karena status darahnya, dia memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Hal tersebut kemudian juga ditularkan ke Kakek dan Nenek saya.

Jaman dulu, menurut Kakek, bisa sekolah itu privilege banget. Terdengar nggak adil kan ya? Tapi saya tetap bersyukur atas privilege itu, karena kemudian saya pun menikmati hasil pendidikan itu.

Nenek saya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat, yang mana juaraaaaang banget dirasakan oleh seorang perempuan di jaman beliau. Pikirannya yang maju, membentuk anak-anaknya, generasi orang tua kami, untuk mandiri. Hal memberikan generasi saya peluang yang besar, karena kami, generasi para cucu, tidak menjadi sandwich generation.

Kami bisa lebih leluasa untuk memilih dan juga berusaha, meraih nasib baik kami tanpa “terbebani” generasi yang lalu.

Terimakasih, Kakung Uti!!!!!

Jadi kalau ada yang komentar, “Enak ya jadi alumni STAN, lulus langsung jadi PNS.” Ya saya nggak akan baper. Nggak juga bakal mengungkit-ungkit usaha kami setiap hari agar tidak didrop-out. Nggak juga mau inget-inget berapa ribu orang yang kami lengserkan saat seleksi masuk. Nggak juga sedih karena sebenarnya saya pengennya masuk FSRD ITB dan jadi seniman digital aja. Kagak.

Kalau ada yang komen begitu, jawaban saya, “Iya, alhamdulilah ya, sesuatu.”

Pentingnya menyadari privilege

Rendah hati.

Nggak ada satu orang pun yang survive sendirian. Makanya dibilang manusia adalah homo socialis. Ketika kita sadar, kita berhasil meraih sesuatu bukan hanya semata-mata usaha kita sendiri, kaki kita tu tetap nancep ke tanah. Down to earth.

Sejauh apapun pencapaian kita, kita nggak akan jadi kacang yang lupa sama kulit. Kita menjadi orang-orang yang tahu berterimakasih kepada siapapun yang menunjukkan kita jalan, hingga lebih cepat sampai ke ujung maze perjuangan ini.

Tidak Membandingkan.

Kesadaran akan adanya privilege, menurut saya juga penting supaya kita TIDAK perlu saling MEMBANDING-BANDINGKAN pencapaian. Lha wong startnya beda. Jalurnya beda. Seperti lari maraton, beda-beda perjuangannya.

via GIPHY

Yang penting kalau ada yang berhasil finish, ya mari ucapin selamat yaaaakk!!! Turut berbahagia saat orang lain bahagia, kan nggak ada ruginya….

Dan kalaupun ada yang melabeli kita dengan kata “privileged” secara nyinyir, percayalah sebenarnya orang tersebut BUKAN sedang menyerang persona kita. Mungkin mereka hanya sedang merefleksikan kekecewaan, pengalaman dan masa lalu mereka sendiri. Jadi, so what gitu loh? Yang penting kita tahu kalau privilege yang kita miliki bukanlah yang diskriminatif.

Temenku, Girly punya opini yang berbeda ni. Dia tulis di artikelnya: Privilege, Sudut Pandang yang Berbeda. Silakan dikunjungi, karena opini yang berbeda itu seru dan bisa menambah wawasan.

Terimakasih sudah berkunjung! Salam sayaaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

4 Comments

  1. Wah saya jadi tahu apa itu privilage
    Ada yang diskirminatif ada yang tidak, bahkan ada yang tidak disadari oleh diri sendiri.
    Mengucapkan selamat pada orang yang telah berhasil finish, hanya bagi yang punya jiwa besar. Jarang sekali orang melakukannya.

  2. privilege tanpa kerja keras juga kayaknya gak akan bisa bawa orang ke mana-mana sih ya mbak. kan banyak juga orang yang sebenernya punya privilege, lalu terlena, akhirnya dia menghadapi hidup yang berat setelah privilege itu tak lagi dia miliki.

    • Betuuuuuullll!!!!
      Sayang banget ya, padahal kalau dimanfaatkan dengan baik, leveragenya bisa berfaedah bangeeettttt!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *