Kecanduan Gadget, Sikapi dengan Santai tapi Serius

“Halo Sili…. Yutub Bebibas Indonesia,” celetukan Gayatri menirukan Bapaknya kalau sedang bukain dia YouTube Babybus. Spontan saya ngakak, sok iye banget gayanya. Hihihi…. Iya, gadget bukanlah sesuatu yang kami antipati dalam membesarkan Gayatri. Bisa dibilang cukup santai. Tapi kami pun tidak terlalu jor-joran memberikan akses gadget padanya. Ada batas-batas tertentu agar dia tidak mengalami kecanduan gadget.

Kenapa kami, walaupun tidak antipati tapi tetap, memberikan batasan secara serius? Karena kami ingin bayi kami tidak kehilangan kesempatan berkembang menjadi “manusia yang utuh” dari lingkungannya.

  1. Sosial dan Emosi. Kami menginginkan bayi kami maksimal dalam belajar berinteraksi, agar emosinya berkembang dengan baik. Patner yang tepat agar anak memiliki pengalaman emosi (bahagia, sedih, marah, dll), tentunya adalah dengan orang tua atau manusia lain. Karena, bagaimanapun baiknya sebuah teknologi saat ini, saya rasa sulit untuk menandingi manusia asli yang adalah “true learning patner” dalam hal perkembangan sosial dan emosinya. Saya menggaris bawahi perkembangan sosial dan emosi ya, karena usia 0-10 tahun memang kritis. Terutama di bawah usia 2 tahun, anak belum bisa memahami perbedaan interaksi dengan manusia dan dengan gadget (interaksi touch screen gadget misalnya).
  2. Fisik dan motorik. Yang kedua adalah menghindarkannya dari kemalasan bergerak. Hal ini berlaku untuk banyak hal. Termasuk bahkan mainan lainnya. Kami berusaha sebisa mungkin memilih mainan yang mendukung anak lebih banyak bergerak. Kami lebih strict karena gadget, apapun itu, karena gadget memiliki kemampuan atractive yang lebih besar. Tidak bisa dipungkiri kan, orang tua saja banyak yang sulit lepas.

Berikut pengalaman kami hidup bersama gadget dan seorang toddler.

Working Mom, Daycare dan Gadget

Bisa dibilang sampai Gayatri berusia 2 tahunan, saya cukup ketat terhadap penggunaan gadget. Melihat YouTube pun hanya hitungan jari dalam satu semester saat usianya di bawah 2 tahun. Biasanya, kesempatan dia nonton kalau ikut saya ke kantor. Gayatri akan menonton di komputer sebelah saya dan itu pun tidak lama – dia lebih tertarik pada kertas dan spidol. Menggunakan handphone untuk menonton video (yang sudah didownload) pun biasanya karena ikut-ikutan sepupunya.

Terdengar idealis ya? Wkwkwk….

To be honest, saya tidak akan menyombongkan keberhasilan menerapkan aturan secara strict tersebut sebagai hasil dari kedisiplinan saya. Nope. Soalnya kan dulu saya daycare ya. Jadi, tantangan untuk memberikan gadget ke anak memang rendah. Karena sepanjang hari saya di kantor, dan anak di daycare yang program kegiatan sehari-harinya sudah terorganisasi dengan baik.

Blessing in digust, ya…. Ketemu anak, cuma beberapa jam sehari, jadi beneran aware untuk memanfaatkan dengan uyel-uyelan. Nggak perlu YouTube ini mah. Orang saya ke toilet aja, Gayatri ikut. Hihihi….

Related post: Working Mom dan Rasa Bersalah

Ibu Rumah Tangga dan Juggling Pekerjaan yang Tiada Habisnya

Ketika akhirnya saya cuti panjang, dan menjadi ibu rumah tangga, otomatis fasilitas daycare saya tinggalkan. Pengalaman ini, membuat saya menyadari perjuangan membersamai anak sepanjang hari itu menantang banget. Soalnya, selain mengasuh anak, ada pekerjaan rumah yang ada aja. Hihihihi, curhat. Saya tahu persis, karena selama setahun ini saya sudah merasakan sebagai ibu rumah tangga.

Kalau uda kepepet, keinginan untuk menyodorkan gadget supaya anak anteng itu besar banget ya, Boook! Ada yang senasib? I feel youuu! Wkwkwkwk….

Terutama kalau sedang melakukan adegan berbahaya di dapur: NGGORENG AYAM. Minyaknya kan meleduk leduk tu. Biasanya demi keadaan lebih kondusif, saya akan mengamankan Gayatri di luar dapur. Cara paling mudah tentu dengan pakai gadget atau tivi. Daripada bahaya kaaaan…. #pembenaran wkwkwk….

Kondisi berikutnya adalah ketika saya sakit. Itu juga sering melonggarkan aturan main gadget di rumah. Pokoknya kondisi di mana saya nggak bisa menyiapkan kegiatan bermain lainnya. Seperti juga kalau saya sedang ada pertemuan dengan teman-teman, atau sedang dalam perjalanan (bandara, dst).

Hasil dari Pola Asuh Sejak Bayi

Hanya yang patut saya syukuri, walaupun aturan mengakses gadget cukup melonggar sejak usia 2 tahun, adalah kondisi Gayatri yang tidak terlalu nyandu dengan gadget. Misal ada pilihan mainan lain, Gayatri masih sering memilih mainan atau aktivitas lain. Pun kalau mau nonton pun, masih dalam batas kooperatif.

Kalau saya perhatikan lagi, hal tersebut karena sudah terbentuk polanya sejak bayi, tidak terlalu tergantung pada gadget. Semoga hal ini bisa kami pertahankan ya. Aamiin….

Ada beberapa poin yang saya jadikan patokan sebagai early warning system untuk mengevaluasi apakah anak kecanduan gadget atau tidak. Hal itu adalah tanda-tanda kecanduan gadget pada anak adalah sebagai berikut:

  1. keasyikan,
  2. kurangnya kemampuan mengontrol diri,
  3. menarik diri (enggan) bersosialisasi.

Untuk menghindari hal tersebut, kami meminimalisasi aktivitas main gadget sebagai aktivitas utama anak di rumah. Berikut adalah beberapa langkah sederhana yang kami lakukan:

  1. Melakukan aktivitas fisik (motorik kasar) minimal 1 jam sehari. Seperti berjalan, perosotan, jumpalitan, dst. Kalau pagi diawali dengan olahraga, biasanya seharian anak jadi cukup aktif, dan tidak minta nonton. Kalaupun lelah, dia akan tidur siang. Kalau aktivitas fisiknya kurang, anak tidak mengantuk, sementara Ibuknya (saya) sudah melambaikan tangan ke kamera. Wkwkwkwk, jadi nonton deh…. LOL.
  2. Membatasi screen time per 30 menit. Biasanya saya lakukan dengan alarm, karena Gayatri belum tahu konsep waktu. Jadi kalau alarm sudah berbunyi, waktunya mematikan handphone/ iPad/ televisi. Bagaimana kalau dia minta tambah waktu? Biasanya tetap distop, main yang lain dulu, baru nanti boleh nonton lagi. Pengecualian 30 menit ini kalau saya sakit, atau kami sedang di luar rumah dan tidak memungkinkan saya bermain bersamanya.
  3. Menyediakan prepared environment. Diadaptasi dari konsep Montessori, prepared environment yang saya maksud adalah, lingkungan di rumah yang memudahkan anak untuk beraktivitas. Seperti halnya, buku dan mainan saya letakkan pada tempat yang mudah dijangkau dan terlihat, dst. Hal ini membuat anak memiliki pilihan lain selain main gadget. Tentu saja, kebiasaan dari kecil juga mendorong anak untuk “merasakan enaknya” mainan lain.
  4. Terkait nonton YouTube, saya lebih senang kalau pakai TV daripada laptop, iPad atau handphone. Selain karena aktivitas saya sering membutuhkan ketiga hal tersebut, gadget yang berlayar sentuh membuat anak saya lebih betah, karena bisa diutak-utik. Berbeda dengan TV yang harus pakai remote, lebih cepat membuatnya bosan. Selain itu, jarak pandang mata dengan televisi juga lebih jauh.
  5. Tidak meninggalkan Gayatri bermain gadget seorang diri. Kalaupun sambil saya sambi melakukan pekerjaan rumah, saya tetap melakukan interaksi selama dia menonton. Misal, ditanya, nonton apa, atau minta dia menceritakan kembali apa yang dia tonton.
  6. Waktu makan dan waktu tidur, no gadget di antara kita semua.

Batasan yang kami pilih bukanlah hanya pada gadgetnya, namun melihat lebih utuh kepada aktivitasnya selama seharian.

Saya dan suami juga sama-sama paham, jadi bisa saling mengingatkan kalau sekiranya mulai muncul tanda-tanda kecanduan, seperti keasyikan. Itu, berarti tandanya kami akan memperketat lagi aturannya. Begitu saja si. Jadi tidak terlalu paranoid, namun tetap memiliki parameter yang jelas sebagai pengingat orang tua.

Tantangan Terbesar: Diri Sendiri sebagai Orang Tua

Tantangan terbesarnya sebenarnya ada pada saya pribadi, bagaimana tetap konsisten. Beberapa kali sudah ditegur suami untuk mengurangi screen time (saya), agar Gayatri tidak tertrigger untuk kepoin gadget yang saya pakai. Hihihi….

Tantangan berikutnya adalah untuk menjaga kesehatan saya sendiri, supaya selalu fit. Karena kembali ke tujuan pertama kami di awal tentang perkembangan sosial dan emosi, “mainan” terbaik untuk anak adalah orang tuanya. Kalau saya fit, Gayatri minta bermain apa aja, selama apapun sepertinya bisa dijabanin deh. Tapi kalau encok…. Adududududu….

Related Post: Mitos dan Strategi Mengenalkan Gadget pada Anak (oleh Girly Saputri)

Demikian pengalaman di keluarga kami terkait kecanduan gadget. Mungkin tidak sempurna ya, tapi semoga tetap ada manfaatnyaaaa! Salam sayaaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

2 Comments

  1. Ancung jempo dan salut
    Biasanya anak kecanduan gadget ya karena orang tuanya juga terlalu asek dengan gadget.
    Perbanyak ativitas, biar anak banyak gerah dan bersosialitas

    • Hihihi, bener Kang…. Saya mengaku dosa juga makanya tadi di akhir artikel. Soalnya, kadang kalau kita ada job mendesak kan jadi megang gadget mulu ya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *