Realistis terhadap Biaya Sekolah Anak

Kalau ngomongin biaya sekolah yang tiap tahun meningkat, pasti rame deh di grup ibu-ibu. Ada banyak pendapat, tentunya, terutama kalau menyangkut tema “biaya sekolah sekarang mahal”, “metode pendidikan yang paling sesuai” serta “pertimbangan memilih sekolah”.

Dan pro kontra pasti tidak akan menemukan ujung, soalnya kan, standar dan preferensi orang kan beda-beda ya…. Standar mahal misalnya. Apa yang buat saya mahal, mungkin buat orang lain tidak. Atau sebaliknya. Begitu pun dengan metode yang diterapkan di sekolah. Bisa jadi untuk saya, metode A adalah yang terbaik, sementara bagi keluarga lain metode B adalah yang paling tepat.

So, kalau saya dan suami berpendapat, yang penting realistis aja ya. Terutama untuk masalah biaya. Yuk mareeee #timrealistis merapaaatttt!!!

Pertimbangan Agar Realistis

Untuk dapat berpikir secara realistis, ada beberapa hal yang perlu diperbandingkan dengan nominal biaya sekolah anak yang akan orang tua pilih.

  1. Fokus pada tujuan.
  2. Mutu pendidikan yang diberikan.
  3. Kemampuan keuangan keluarga.

1 . Fokus pada tujuan.

Saat konseling keluarga dengan seorang psikolog, saya sempat curi-curi bertanya tentang sekolah anak. Konteks pertanyaan saya saat itu adalah kami galau apakah anak kami perlu masuk playgroup atau tidak. Yang pertama ditanyakan oleh Psikolog tersebut adalah, “Tujuannya (masukin anak sekolah) apa dulu ni?”

Saya dan suami sempat pandang-pandangan. Jawaban versi saya adalah karena saya ingin punya tandem pendidik yang professional dalam mengasuh anak saya. Sementara suami saya menekankan kekawatirannya atas kemampuan anak bersosialisasi,kalau sehari-hari hanya berdua dengan saya saja.

Akhir dari diskusi kami, akhirnya kami memilih untuk tidak memasukkan Gayatri playgroup. Hal itu karena tujuan yang disebutkan tadi dapat dicapai dengan cara lain yang lebih hemat. #nooffense untuk yang memilih untuk menyekolahkan anak di usia dini ya, karena kondisi keluarga kan beda-beda. Saya menceritakan hal ini, dengan latar belakang kondisi keluarga kami yang sedang transisi pekerjaan, jadi lebih menitikberatkan ke penghematan, nyaaahhh.

Uangnya bisa kami alokasikan ke dana pendidikan SD, yang menurut kami lebih wajib. Hal ini tentu saja bisa berbeda di masing-masing kondisi ya. Misal, saya memutuskan untuk kembali bekerja, pendidikan anak usia dini di lembaga pendidikan tentu naik prioritasnya.

Nah, sekarang, membicarakan biaya pendidikan TK – SD dan seterusnya, prinsipnya sama juga. Catat apa yang menjadi tujuan yang ingin dicapai. Hal ini memudahkan kita juga untuk mendefinisikan frasa “sekolah bagus” yang bisa jadi sangat subyektif menjadi parameter-parameter yang lebih jelas.

Contoh: dalam suatu keluarga parameter pendidikan agama di sekolah bisa jadi nilai utama dalam pemilihan sekolah, dalam keluarga lain bisa jadi komponen penilaian utamanya adalah materi berwirausaha. Atau bisa jadi keluarga lainnya mungkin membutuhkan sekolah yang khusus, yang memiliki fasilitas terapi, karena anaknya special needs. Tentu komponen tambahan ini juga akan menentukan biaya sekolah yang dibebankan.

Saat kita harus memilih di antara banyak pilihan baik, maka fokus pada tujuan dan parameter-parameter tersebut, akan memudahkan kita untuk membandingkan dan menentukan mana yang paling cocok.

2 . Biaya yang dikeluarkan harus sesuai dengan mutu pendidikan yang diharapkan.

Realistis bukan berarti pasrah. Kesadaran untuk realistis, mendorong saya untuk mempertanyakan apakah sekolah yang sedang dijajaki value for money atau tidak. Mahal jika sebanding dengan kualitas, rasanya tidak akan mengecewakan. Namun, jika mahal, namun hanya menjual embel-embel belaka, tidak sesuai dengan mutunya, sepertinya kok sakitnya dobel dobel ya. Di hati dan di kantong.

Orang tua kan mengejar isi, bukan bayar mahal demi gengsi.

Makanya saya salut sekali dengan seorang teman, yang rela trial di banyak sekolah untuk memastikan label montessori yang dilekatkan pada sekolah, benar-benar dipraktikkan. Prinsipnya, nama besar bukanlah jaminan. Pada seorang rekan yang lain juga. Dia dengan tegas mendaftarhitamkan salah satu sekolah dengan embel-embel bilingual, saat survey dan mendengar sendiri bagaimana pronouciation pengajarnya saat summer camp.

Survey, survey, survey. Mungkin itu adalah kunci, supaya biaya yang kita keluarkan worth every pennies. Mama nggak mau rugi!

3 . Memperbandingkan biaya sekolah dengan kemampuan.

Memang sedih dan juga pasti terbersit rasa bersalah ketika nantinya menemukan sekolah yang memenuhi poin pertama dan kedua di atas, namun ternyata melebihi budget. Pilihannya ada dua: menurunkan standar atau mencari strategi lain. Intinya adalah menjaga agar balance dan tidak mengorbankan stabilitas keuangan keluarga.

Yang saya dan suami usahakan adalah tetap dalam koridor tidak berhutang melebihi kemampuan bayar serta juga tidak mengorbankan DANA PENSIUN.

Yang boleh diotak atik adalah biaya operasional sehari-hari, yaitu dengan menurunkan gaya hidup atau berhemat. Namun, pos asuransi, hutang, hunian serta dana pensiun, menurut kami sebaiknya tidak diutak-atik.

CONTOH*), gambaran sederhananya seperti ini:

  • Hutang biasanya dipatok 30% dari penghasilan,
  • 10% untuk perpuluhan (atau 2,5% untuk zakat),
  • 5% untuk asuransi (berdasar pengalaman kami, karena hanya asuransi jiwa, askes ditanggung kantor),
  • investasi (dana pensiun, dll) 10%,
  • dana darurat (kami 0% karena sudah terpenuhi).
  • Sisanya untuk operasional sehari-hari, gaya hidup dan dana pendidikan, total sebesar 45%.
  • Maka apabila ingin memberikan porsi yang besar untuk dana pendidikan, maka dana operasional seperti makan, dll, atau gaya hidup mau tidak mau harus ditekan.

*)Persentase ini tidak saklek ya. Mungkin bagi keluarga tertentu perlu ada post untuk support orang tua, silakan disesuaikan.

Terdengar seperti tidak mau berkorban demi masa depan anak ya? Padahal justru karena demi masa depan anaklah, maka orang tua tidak boleh mengesampingkan dana pensiun.

Bayangkan, jika kita lalai mempersiapkan dana pensiun atau bahkan masih memiliki hutang saat sudah tidak produktif atau belum memiliki hunian saat usia lanjut, anak juga yang akan menjadi korban. Karena harus menanggung kita, orang tuanya sekaligus menanggung cucu-cucu kita nantinya. Alias menjadi sandwich generation.

Mempersiapkan Dana Pendidikan

Walaupun bikin deg-degan, saya bersyukur sekali, karena jaman sekarang sudah mudah mencari informasi tentang biaya sekolah di media sosial. Saya jadi bisa tahu besaran uang yang harus dipersiapkan sejak jauh hari. Berkaitan dengan pertimbangan di atas, kalau kita merasa, sekolah yang diharapkan itu mahal, maka ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan:

1 . Mempersiapkan biaya jauh-jauh hari.

Jangan lengah karena merasa, masih lama. Karena makin lama waktu persiapan, sebenarnya makin baik. Apalagi jika teman-teman bisa berinvestasi di instrument yang tepat. Total uang yang harus dispent bisa tidak sebesar jika persiapannya lebih singkat.

2. Mencari tambahan penghasilan.

Persiapan yang lebih lama, juga akan memungkinkan orang tua untuk mencari tambahan penghasilan. Penghasilan tambahan tersebut bisa khusus dialokasikan untuk dana pendidikan. Dengan demikian bisa meminimalisasi risiko berhutang.

Saya sendiri tidak anti berhutang untuk pendidikan anak. Namun, perlu diingat, ketika memutuskan berhutang, orang tua harus mengetahui betul sumber dana yang akan digunakan untuk membayar hutang. Jangan sampai terjerat hutang dengan bunga yang berlipat ganda, yang pada akhirnya nanti akan membebani sampai usia pensiun.

Ingat, ketika masa pensiun tiba dan utang belum selesai, anak jugalah yang akan menjadi korban akhirnya.

3. Mencari alternatif lain.

Kalau strategi pertama dan kedua sudah mentok, agar tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga, mau ga mau kita mengendurkan standar ya. Misal, dengan memilih sekolah yang lenih terjangkau.

Sementara apabila pilihan sekolah yang dikendurkan, orang tua masih bisa mencari alternatif untuk back up, seperti beasiswa, tambahan les/ kursus atau mendampingi anak melakukan pengembangan diri secara mandiri. Karena sesungguhnya, memang tugas orang tualah untuk mendampingi anak-anak dalam pendidikannya.

Memang pilihan yang sulit, dan tentunya, pilihan untuk menurunkan standar ini saya rasa baru boleh diambil jika kita sudah mencoba melakukan beberapa strategi terlebih dahulu. Last option, sampai titik darah penghabisan.

Jadi ya kesimpulannya???? Semangaaaaaaattt!!!

Teriring doa dari ibu yang anaknya masuk sekolah lima tahun lagi….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

4 Comments

  1. Halo mba, boleh tanya gak.
    bagaimana bisa dana darurat 0% karena sudah terpenuhi. apakah ada pekerjaan sampingan yang memang hasilnya di alokasikan ke dana tsb ?

    • Halo Syifna, dana darurat saya terpenuhi, karena sudah mulai menabung sejak muda (sejak belum menikah).
      Lalu hantaran nikah dulu juga dalam bentuk emas yang kepingan, bukan perhiasan.
      Memang sengaja, janjian sama suami, itu jadi salah satu bentuk dana darurat kami.

  2. Sama Mba Say, aku juga ama suami mutusin Erysha untuk main sambil belajar di rumah. Ga dimasukin k playgroup. Mending nabung buat SD. Soalnya biaya sekolah sekarang menurut kantongku mahal wkwkwk. Apalagi ayah Erysha pindaj-pindah krjanya. Gimana aku ga tambaj galau mba soal biaya ini hiks. Smga nti ada rezekinya ya Mba 😊

    • Aamiin, semoga lancar-lancar semua ya Mbak, urusan kerjaan suami, rejeki sama sekolah anaaaak….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *