Perubahan Setelah Menikah

Perubahan setelah menikah yang paling saya alami adalah di 1) karakter dan yang kedua 2) pengambilan keputusan.

1 . Perubahan Karakter

Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Apalagi setelah menikah, kesempatan “beradu” dengan “manusia” lain yang tak lain dan tak bukan adalah suami tu sering banget. Gimana engga, interaksi antara suami dan istri kan sangat intens ya. Melebihi interaksi dan komunikasi antar manusia biasanya.

Saya yang cenderung soliter dari kecil, karena tidak tinggal dengan orang tua, jadi seperti “dipaksa” untuk belajar hidup bersama. Apalagi kebetulan saya dan suami punya latar belakang yang cukup berbeda. Hal ini, dalam tiga tahun usia pernikahan, ternyata berpengaruh pada karakter saya.

Pada poin ini saya bukan sedang bilang bahwa karakter saya berubah menjadi orang lain ya. Bukan gitu, saya ya tetaplah saya seperti apa adanya saya. Tapi saya merasa menjadi the better version of my self aja.

Kalau kata suami saya, perubahan karakter yang paling dia rasakan adalah saat saya marah. Hahaha….

DULU kalau lagi marah sama suami, saya akan mogok ngomong. Bobok pun menghadap tembok, kasih punggung walau dijawil-jawil gemes. Killing him softly, berharap dia ngerti sendiri. ⁣

DULU kalau lagi marah, saya bisa merepet nggak kelar-kelar. Tapi nggak mau ngomong langsung dengan clear. Beraninya di chat. Sampai paaaaanjang, mbulet, tapi nggak tepat sasaran. Saking panjangnya, dulu saya nulis repetan saya via email. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Kalau nggak dibales, langsung menyusun strategi untuk membuat hidupnya lebih tidak tenang.⁣

Pasif si, nggak ada gerakan kasat mata kaya memukul. Tapi agresif, kaya kentut. Nggak kelihatan, kadang nggak kedengeran, tapi efeknya membahana. DAN DIPASTIKAN TAHAN LAMA⁣.
⁣
Wkwkwkwk. Sekarang si uda nggak gitu lagi ya….⁣
⁣
Ga sempurna, tapi uda mending. Uda mulai bisa mengomunikasikan kepentingan dan perasaan saya (terutama kemarahan, ketidaksukaan, kekecewaan, dll) dengan lebih baik. Tanpa harus menyerang “batas” kenyamanan suami.⁣

Kisah tentang berantem-berantemnya kami jaman dulu bisa dibaca di artikel : Ribut Rukun #nyonyapunyacerita

2 . Pengambilan Keputusan

Setelah menikah, juga banyak rencana hidup yang disusun dari mula lulus kuliah, harus dievaluasi ulang. Karena ternyata banyak poin yang tidak sejalan dan tidak mengakomodasi seluruh kepentingan anggota keluarga.

Yak, betul! KOMPROMI

Yang awalnya terbiasa berpikir sendiri, memutuskan dan memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan sendiri, jadi harus banyak diskusi. Lalu juga kadang, setelah diskusi pun, dalam perjalanannya harus ada penyesuaian-penyesuaian lagi gitu. Jadi lebih ribet, to be honest.

Tapi kalau sedang merasa “duh, apaan si ini, ribet amat kehidupan”, saya belajar untuk ingat satu pepatah. Sebenarnya ini si pepatah tentang traveling ya. Tapi sepertinya bisa diterapkan dalam keluarga. Kan keluarga juga sama kaya traveling ya. Sama-sama perjalanan. Bedanya dalam keluarga perjalanannya tu perjalanan kehidupan. Aseeeek.

Pepatahnya bunyinya, “Kalau mau cepat, travelinglah sendiri. Tapi kalau mau survive dalam waktu yang lebih lama, walaupun jadi lebih lambat, travelinglah bareng-bareng.”

Jadi karena perjalanan hidup itu lama (AAMIIN, panjang umur), jadi ya kudu tabah menjalaninya bareng-bareng. So far, pengambilan keputusan kalau dilakukan bareng juga jadi lebih baik si.

Saya yang kaku dan cenderung strict dengan rencana, jadi bisa belajar dari suami untuk sedikit fleksibel dan reaktif menghadapi perubahan. Sementara suami saya yang impromtu banget, bisa jadi lebih bisa dapat masukan tentang risiko dan cara-cara memitigasinya.

Ya, kami bukan pasangan yang sempurna si. Masih terus belajar untuk memaksimalkan perbedaan kelebihan yang kami miliki masing-masing, dan juga belajar jangan sampai malah yang mempengaruhi malah sisi-sisi negatifnya aja hahahaha….

Kunciny biar bisa mengambil keputusan yang lebih baik saat bersama adalah sikap saling menghormati dan mau mengakui kelebihan pihak lain.

Contohnya: suami saya kepala keluarga, dia yang punya penghasilan utama, tapi kalau masalah keuangan, dia beneran merendahkan hati lo untuk mau nanya ke saya, tentang keputusan apa yang harus diambil. Karena latar belakang pendidikan keuangan yang saya miliki, saya rasa tradisi yang demikian oke untuk dijalankan di keluarga kami. Begitu juga sebaliknya, ada hal-hal yang saya selalu konsultasi dulu ke suami, karena dalam banyak hal, dia lebih bijak dan tenang.

Tapi kadang kalau ego sedang kumat, ya ada aja si keputusan-keputusan yang akhirnya kami sesali. Hahaha…. Tapi ya, doakan aja makin tua kami makin bijaksana ya.

Oke, paling gitu aja si yang mau saya ceritakan tentang perubahan yang saya alami setelah menikah. Memang ada perubahan-perubahan lain, seperti pola pikir, keterampilan, dll. Tapi mungkin itu kasuistis banget. Jadi saya sharing dua ini, karena juga yang paling berasa dan juga saya pikir, lebih umum terjadi.

Teman saya, Girly, juga merasakan ada perubahan si setelah menikah. Ceritanya bisa dibaca di Skill Baru yang Didapat Setelah Menikah.

Jadi buat teman-teman yang sedang merencanakan menikah, atau sedang merasa kecewa dalam pernikahan karena menemukan perbedaan antara menikah dan sebelum menikah. Be relax. Perubahan memang suatu keniscayaan, Gaes!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

One Comment

  1. aku baca tulisan serasa baca KBBI. Nambah kosakata baru ya πŸ˜‚ tapi emang namanya hubungan harus ada adjusting satu sama lain. Ketika memutuskan bersama berarti jadi team work ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *