Tolong! #nyonyapunyacerita

tolong

“Mbak, tolong mbak…. Saya kecopetan tadi di bus. Saya nggak punya ongkos pulang. Boleh tidak saya pinjam uangnya, nanti saya transfer pas sudah sampai di rumah?”. Jika ada orang asing di tempat umum menyambangi teman-teman dan mengatakan hal tadi, apa respon teman-teman?

Kasihan? Ya, kalau memang beneran memelas, kitanya pasti kasihan ya. Tapi pernahkah terlintas curiga? Kalau saya si iyes. CURIGATION. Soalnya sudah dua kali kejadian ketipu karena rasa kasihan. Dua-duanya sama anak kecil lagi. Pada kesempatan yang berbeda, anak kecil meminta-minta pada saya, namun dengan kebohongan. Huft. Kesel banget ketika kebohongan itu ketahuan.

Masalah ditipu karena belas kasihan juga pernah dialami oleh teman saya, Tetty.

Ceritanya bisa dibaca di: #NyonyaPunyaCerita: Susahnya Jadi Orang Baik

“Kalau ada yang minta-minta sama saya lagi seperti itu, apa yang harus saya lakukan?,” tanya saya pada senior kuliah saya saat itu. Namanya Kak Flo. Jawabnya, “Ikuti kata hati”.

Buset, jawabannya dalem banget. Dengerin kata hati. Kayak ngedengerin kata hati itu gampang aja. LOL. Mana hati saya kadang bekerjanya tidak proper. Hehehe….

“Dengarkan kata hati, karena di situ akar kemanusiaan”.

Tapi lama sudah setelah kejadian itu, saya tidak pernah mengalami ditipu karena belas kasihan lagi. Setelah kurang lebih 1o tahun berlalu saya mengalami hal yang berkaitan. Namun, posisinya saya sebagai pihak yang meminta pertolongan.

Ya, singkat cerita, saya kehilangan uang saat perjalanan dari Kantor Pusat di daerah Purnawarman menuju kantor saya di Bintaro. Posisi saya naik transjakarta dan kendaraan saya parkir di sebuah universitas.

Yang menjadi masalah adalah, untuk pulang saya harus bayar parkir. Hanya dua ribu perak. Sayangnya saya tak ada uang sepeser pun.

tolong

Setelah sempat stuck dan bengong cukup lama, saya mencoba mendekati seorang mahasiswa. Menawari barter cash dengan transfer pulsa. Namun, dia tak bergeming. Memandang saya sejenak untuk menjawab pun tidak. Dia ngeloyor pergi.

Potek hati kakak, Dik. Sudah malu merasa mengemis ngemis. Zonk pula.

Tapi saat itu saya sadar juga. Mungkin si Adek kawatir dihipnotis. Curiga saya adalah penipu yang berkedok minta belas kasihan. Kekawatiran dan kecurigaan yang sama yang pernah saya rasakan. Dan pun masih ada dalam diri saya.

hiks

Saya pengen nangis, saat itu. Belum pernah ngerasa sehopeless itu. Tapi sekaligus saya merasa keji dan tidak berperikemanusiaan karena pernah menyimpan kejawatiran dan kecurigaan yang sama.

Ya walaupun ngasih uang ke pengemis itu dilarang Perda, namun menolong orang bukankah naluri seorang manusia? Jika memungkinkan bukankah bisa dengan cara lain. Atau dengan cara yang sopan setidaknya.

Saya chat suami, seperti biasa, mengadu. Suami bersabda supaya saya pulang naik gojek saja. Kendaraan biar besok dia yang ambil.

Tapi saya jadi nggak tega.

Dengan sedikit semangat, saya mencoba mengelilingi kampus dengan menunduk. Siapa tahu ada beberapa keping recehan seribu apa limaratusan yang bisa saya pungut dan kumpulkan.

Dua kali saya nemu recehan. Naasnya, yang ketemu cuma cepekan.

Hari semakin sore, saya makin pengen cepat pulang. Akhirnya saya beranikan diri lagi untuk meminta pertolongan orang lain. Berat rasanya lo, minta tolong pada orang tak dikenal.

Ada rasa sungkan. Ada rasa takut ditolak. Ada rasa malu. Ada rasa gengsi.

Sungguh manusia macam apa ya saya ini. Sudah butuh, gengsi pula.

Saya masuk ke bangunan kecil tempat Unit Kegiatan Mahasiswa. Ada satu mahasiswa sedang duduk. Saya sampaikan kesulitan saya, dan juga menawarkan untuk bertukar cash dengan pulsa.

Namanya Wahyu. Dia menolak. Menolak untuk ditukar pulsa, namun mengulurkan selembar dua ribuan. Ongkos parkir.

love love

Saya terharu saat dia pun menawari untuk mengantar ke pos parkir, takut tarifnya lebih. Namun saya tolak karena tahu pasti tarifnya hanya segitu. Terimakasih sekali, bantuanmu sudah lebih dari cukup.

Entah mengapa kejadian meminta tolong dan diberi pertolongan oleh sesama manusia tadi benar-benar berkesan di hati saya. Saya jadi percaya kalau manusia masih bisa saling mempercayai.

Faith in humanity.

Teringat kembali pesan Kakak Senior, “Ikuti kata hati, karena disanalah akar kemanusiaan”. Jangan tutupi dengan kecurigaan. Jangan pula dengan kekawatiran. Mungkin tugas kita menolong, semampu apa yang bisa kita lakukan.

Tanpa pretensi, tanpa tendensi.

Salam sayang!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Antara Harga, Gaya dan Kegunaan

tas fossil original

Postingan seorang rekan di FB pun cukup menggelitik saya. Beliau menanyakan apa sih yang jadi patokan “high end” bagi netizen jaman now. Banyak yang menjawab jam tangan, sepatu, perhiasan dan teman-teman perempuan banyak juga yang menjawab dengan handbag alias tas.

Hmmmm…. Banyak pendapat, pro dan kontra, jika membicarakan gaya hidup. Apalagi lebih sensitif lagi menyerempet ke masalah harga barang yang digunakan. Ya, sebenarnya ya nggak bisa didiskusikan ramai-ramai karena daya beli orang kan beda-beda jadi ukuran mahal dan ukuran kegunaan barang bergengsi pun bisa jadi beda.

tas fossil original

Kalau saya pribadi, mau beli barang seperti apapun yang penting ingat tiga poin di bawah ini:

1 . Buat Apa Dulu

Yep! Buat apa beli barang mahal?

Oke karena mahal itu “beda-beda” maka saya batasi saja ke barang mahal versi kaum menengah ya. Contohnya: tas Fossil original. Saya pakai contoh produk ini karena setahu saya ini merk dengan kualitas high end yang harganya masih terjangkau, namun ya masih lumayan juga nabungnya kalau mau beli. Semurah-murahnya masih pakai juta dibelakang harganya.

Saya coba cek harga tas Fossil original di MatahariMall, harganya antara 1-4 jutaan sbb:

tas fossil original harga

Dulu banget, sebagai anak yang dilahirkan dari keluarga pegawai negeri turun temurun, dan akhirnya jadi pegawai negeri juga. Nggak pernah terlintas dalam benak saya tentang manfaat barang bermerk. Nggak pernah mikirin tepatnya. Hahaha….

Setelah menikah dengan suami dan dikritik sama Papa Mertua tentang penampilan saya yang kelewat “sederhana”, saya baru buka mata dan pikiran tentang kegunaan barang bermerk tadi. Yang pertama tentu adalah untuk mendukung penampilan yang terkait dengan pekerjaan. Hal ini penting untuk orang-orang seperti papa mertua yang bisnisnya terkait dengan kepercayaan dan berkaitan dengan orang-orang yang memang asli tajir melintir. Pepatah “ajining raga seko busana” itu ngaruh banget ke pekerjaannya.

Sekarang kalau lihat artis gitu nenteng tas mahal, ya saya sudah paham dan nggak nyinyir seperti dulu. Ya itu tuntutan kerja dia, nggak Cuma sekedar gaya-gayaan. Bisa jadi dia ambassadornya produk tertentu yang citranya memang harus high end. Masa ya penampilannya lusuh. Bisa diputus kontrak.

Tapi kalau kita pegawai negeri baru juga diangkat, unyu-unyu trus belanjanya Chanel 30 jeti tiap hari ganti. Ya, siap-siap aja diinterogasi.

hehehe

“Buat apa” yang berikutnya adalah buat kualitasnya.

Ono rego ono rupo. Ada harga ada rupa. Pepatah ini memang banyak benarnya sih. Walau sekarang mulai banyak pengrajin yang no brand dengan kualitas bersaing, tapi merk dagang tetap bisa jadi patokan kualitas.

Kalau kata suami, daripada beli tas atau sepatu seratus ribuan tapi tiap bulan ganti karena rusak, mending sekali beli yang mahalan tapi bisa untuk setahun dua tahun. Dan memang bener si, suami saya tipe yang nabung bener-bener buat beli barang yang dia mau. Dan beneran aweeeet setengah mati. Sepatu yang dia pakai pas kami pertama ngedate itu baru rusak setelah saya hamil tua Gayatri. Berarti hampir empat tahun kali ya, padahal daily use, wong ya ga punya banyak sepatu. Tasnya lebih parah lagi, belum rusak sampai sekarang.

Related post: Diaper Bag Andalan Saat Traveling.

2 . Berapa Yang Kita Mampu

Buat teman-teman yang follow akun IG @jouska_id (financial advisor) mungkin terhenyak saat beberapa waktu lalu, mereka post salah satu kasus kliennya. Inti dari kasus tersebut adalah tentang bagaimana kliennya yang seorang muda milenials usia 30an bergaji 27 jutaan sebulan bisa tidak punya tabungan karena gaya hidupnya. Yang lebih heboh lagi adalah tentang postingan dari seorang lain yang menyeritakan tentang seseorang yang stress karena kehidupannya tak seindah feeds IGnya. Tak lain dan tak bukan adalah gaya hidup yang melebihi kemampuan.

Tapi, balik ke masalah beli barang mahal tadi, kalau uda kerja sebagai pegawai senior selama lima tahun, trus mau beli satu tas Fossil original tadi buat kerja atau untuk acara khusus, saya rasa masih pantas banget lo. Tiap minggu, menyisihkan uang seharga satu gelas Caramel Macchiato di kedai kopi tersohor onoh, nggak sampai setahun juga kebeli kali.

love love

Saya tahu persis, soalnya kemarin junior saya nitip dibelikan dompet apa tas fossil original gitu sama temen kantor yang lagi traveling. Wohhh kan, junior saya aja bisa beli. Tapi dia memang rajin menabung sih.

Balik lagi ke masalah “Berapa yang kita mampu” tadi, pesan orang tua, “Jangan lebih besar pasak daripada tiang”.

3 . Worthy Kagak Ye?

Setelah mikir dua hal di atas, baru deh bisa kita menyimpulkan apakah barang yang kita inginkan itu worthy to buy or not. Kalau value for money ya beli lah, kalau tidak ya jangan laaahhhh…. Dan sekali lagi jangan nyinyirin orang lain, urus aja belanjaan diri sendiri. Soalnya kebutuhan dan kemampuan orang kan beda-beda toh.

Hehehe….

Jangan nyinyirin saya juga, saya nggak lagi ngajak untuk hidup boros. Malah sebaliknya, mari kita hidup realistis. Kalau harga barang ada gunanya dan gayanya bisa bikin kita “balik modal”. Why not?

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Arti Nama Gayatri

arti nama gayatri

Nama Gayatri akhir-akhir ini jadi beken ya, gara-gara cucu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono diberi nama ini. Saya jadi sering dicolek colek sama temen, eh nama cucunya SBY sama ama anakmu. Suami saya cuma komen, “Ih, Ibas nggak kreatif banget sih”. Hahaha…. Songong, padahal kami juga mengetahui arti nama Gayatri juga dari nama orang lain.

Ya, nama orang lain. Adalah Gayatri Sri Rajapatni, putri Majapahit. Dialah tokoh yang menjadi inspirasi nama anak perempuan pertama kami. Gaya banget yak, namanya ada Gaya-gayanya, literaly GAYA loh!

Btw, nama anaknya Ibas Gayatri juga, tapi panggilannya Gaia. CMIIW. Gaia yaa bukan Gaya. itu totally different! #apasi sayaaaaa, hahahaha….hehehe

Arti kata Gayatri sendiri berarti memiliki banyak kelebihan. Sesuai namanya, Beliau memang memiliki banyak kelebihan. Namun bukan itu yang paling memesona dari diri Gayatri Sri Rajapatni bagi kami. Yang paling memesona adalah jalan hidup dan pilihan yang dia ambil. Seharusnya bisa menjadi raja namun memilih menjadi biksu.

Saking terpesonanya dengan kepribadian dan karakter yang dia miliki kami memilih nama Gayatri, teriring doa semoga anak kami meneladani yang baik-baik dari beliau.

1 . Dia tau apa yang menjadi panggilan hidupnya dan menghidupinya.

Karena nama Gayatri sendiri tidak seterkenal tokoh Majapahit lain, saya pengen ngomongin tentang siapa sih dia dengan sedikit lebih detail. Karena ngomongnya rada sejarah yang mana bukan keahlian saya banget, mohon koreksi kalau ada salah-salah yak.

Once a time a go….

Hiduplah seorang Gayatri yang disebut disebut Rajapatni. Rajapatni artinya adalah pemimpin para istri utama Raja Majapahit atau bisa juga disebut istri kesayangan Raden Wijaya. Sementara prameswari (istri yang berusia paling sepuh, CMIIW) Raja saat itu adalah Tribhuaneswari. Seperti kita tahu bersama-sama, Raja jaman dulu biasa memiliki istri lebih dari satu. —–> ini saya nggak berharap Dedek Gayatri (anak saya yang bukan Rajapatni) akan mengalaminya sih.

Setelah Raden Wijaya wafat, tahta turun kepada Jayanegara putra Wijaya dengan Tribhuneswari. Setelah Jayanegara wafat dalam intrik politik, ada yang berpendapat bahwa tahta kemudian turun kepada Gayatri Sri Rajapatni, sebagai istri utama raja pendahulu.

Namun, apakah kemudian Gayatri menjadi raja? Tidak. Beliau memilih menjadi seorang biksuni Budhist. Dan kemudian menyerahkan tahta kepada Tribhuwanadewi putrinya. Sampai di sini, tentu nama Tribhuwanadewi sudah familiar yak? Saya akan stop di sini cerita sejarahnya.

Saya kagum loh. Gayatri menolak menjadi raja dan memilih tetap menjadi biksuni.setrong

Bukan berarti menjadi pemuka agama lebih mulia dari pada menjadi pemimpin bangsa ya. Saya meyakini masing-masing orang Tuhan beri panggilan hidupnya masing-masing. Yang masing-masing itu spesial, tidak ada yang lebih mulia dibandingkan yang lain.

Namun banyak orang yang kesulitan setia pada panggilan hidupnya karena ketakutan atau tertarik dengan kekuasaan. Hal tersebut yang saya kagumi dari Gayatri Sri Rajapatni.

Saya berharap Gayatri, anak kami pun demikian. Mampu mengenali dan menghidupi panggilan hidupnya dengan tulus. Being the best version of her self. Bukan versi orang lain, atau yang populer semata. Kami berdoa biarlah Tuhan yang menolong kami membimbingnya.

2. Menolong banyak orang menjadi the best vesion of them selves.

Trus lagi ya, menurut buku Gayatri Rajapatni karya Earl Drake, dinyatakan bahwa Gayatri adalah seorang mentor bagi Gajah Mada, Hayam Wuruk dan Tribhuwanadewi. Tiga tokoh besar dunia persilatan sekaligus! Memang tidak bisa dibilang jika ketiga tokoh tersebut adalah tokoh yang sempurna. Dengan segala hormat pada penduduk Jawa Barat, saya ingin menyoroti hanya tentang bagaimana ketiga tokoh tersebut berhasil membangun kejayaan Majapahit. Dan terutama pada peranan Gayatri di balik panggung kepemimpinan mereka.kuat

Makin keren kan, dia di mata saya….

Pertama dia tak hanya bisa being the best version of her self. Kemudian dia pun bisa menolong banyak orang menjadi the best vesion of them selves. Atau setidaknya menjadi orang yang menolong orang lain menjadi dirinya yang lebih baik.

Hampir 10 tahun kerja di training center buat bos bos, membuat saya memahami pentingnya seorang mentor bagi seorang pemimpin. Namun juga memahami sulitnya menjadi mentor yang baik bagi seorang pemimpin. Gayatri Sri Rajapatni pastilah seorang yang memiliki hati yang bijak, kepekaan perasaan, namun sekaligus otak yang cerdik jika sampai bisa “mementori” tokoh-tokoh besar Majapahit.

Berharap banget Gayatri anak saya pun bisa demikian. Diberkati dan kemudian juga menjadi berkat bagi orang lain. Amin…. Kayanya harapan semua orang tua yak? Hehehe….

Apalah arti sebuah nama….

Prosesi pemberian nama sendiri kadang nggak semudah yang dibayangkan yak. Karena biasanya pasa simbah pengen turut sumbang nama. Itu juga yang terjadi pada kami. Pertanyaan yang diajukan adalah, “Kok namanya nggak ada alkitab-alkitabnya?”. Hehehe….

Sebenernya saya menyiapkan nama Priskila untuk anak saya. Sifat Priskila dalam alkitab mirip-mirip dengan Gayatri Sri Rajapatni. Namun, di perjalanannya saya dan suami akhirnya memilih nama Gayatri.

arti nama gayatri

Kata Pakdhe Shakespeare, mawar akan tetap wangi walaupun namanya bukan mawar. Enel uga sih…. Tapi sebagai orang tua tentu pengen memberi nama yang baik yak, supaya jadi doa juga bagi anak. Saya yakin Ibas juga punya alasan khusus saat memberi nama Gayatri bagi putrinya. Entah alasannya sama dengan kami atau tidak, namun saya yakin pasti inginnya yang baik-baik lah ya.

Gimana pendapat Nyonya? Apakah punya alasan khusus saat memberi nama putra/ putrinya? Sharing yuuuk di comment section 🙂

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Goodbye 2017

Hidup manusia seperti uap.

2017 mengingatkan saya bahwa hidup manusia seperti uap. Pagi ini ada, esok tiada yang tahu. 2017 sekaligus adalah masa pertemuan dan perpisahan karena hidup. Litteraly, karena hidup dan Sang Pemberi Hidup.

Bagaimana tidak. 2017 adalah tahun pertama saya bertemu dengan Gayatri. Saat persalinan.

parenteam bertiga di teras

2017 juga adalah tahun dimana saya berpisah dengan Mama Mertua yang meninggal beberapa hari setelah ulang tahun saya. Beberapa hari setelah beliau minta maaf, karena saat saya ulang tahun kami malah menghabiskan waktu di RS. Saya sendiri tak ingat hari itu ultah.

Untuk beberapa rekan yang tahu kedekatan kami, pastilah tau beratnya saya kehilangan Mama. Saya tak menceritakannya di blog, tentang kepergian Mama. Tak sempat menuliskannya saat Beliau sakit karena semua begitu cepat. Kami kehilangan Beliau bahkan saat hasil tes laboratorium yang dilakukan belum keluar. Dan untuk menuliskan kronologinya kembali saya sedih. Sedih dan bingung. Sebingung saat menerima hasil lab yang ternyata semua negatif.

hiks

#
Mohon maklum kepada saudara dan kerabat yang merasa tidak dikabari. Kami terlalu sibuk mencoba kuat. Terlalu sibuk menenangkan diri.

Uangpun seperti uap.

Begitu juga dengan masalah keuangan. Sejak awal tahun kami berusaha tertib demi cita-cita melunasi hutang. Kelahiran normal Gayatri yang melegakan karena membuat tabungan kami aman, ternyata tak menjadi jaminan. Dalam 2017 Gayatri masuk RS, sepsis. Belum lagi diagnosis murmur yang mendorong kami harus cek echocardiodram.

Puji Tuhan, setelah konsul dengan dokter spesialis jantung anak, jantung Gayatri dinilai normal. Di saat itulah kali pertama saya dan suami merasa sangat bersyukur walau duit banyak melayang.

setrong

Pukulan kedua bagi keuangan kami adalah saat suami harus opname. Pukulan telak, karena disusul sakitnya mama mertua.

Bantuan dari keluarga dan kerabat datang, saat kami benar-benar kehabisan uang. Saat itu juga jenazah Mama harus dibawa ke kampung halaman. Bantuan datang tepat sesuai yang kami butuhkan.

Di bandara, menuju kampung halaman, hanya bersama Gayatri karena suami ikut dalam mobil jenazah, saya banyak merenung. Sesungguhnya tiada arti kuasa yang kami punya di hadapan sang Pemberi Hidup. Saat itu saya tak bisa menangis walaupun ingin sekali.

Saya ingin menangis bukan karena menangisi nasib Mama. Karena saya percaya Beliau telah bahagia bersama Penciptanya.

Saya ingin menangis untuk diri saya sendiri. Untuk saya yang kehilangan. Dan untuk saya yang merasa tidak berdaya.

Selama ini saya memahaminya secara teori. Namun saat itu saya seolah menelan teori itu dalam kenyataan. Bahwa dengan mudahnya hidup dibalikkan dari suka menjadi duka.

Vice versa.

Setelah duka pun, Tuhan dengan mudah bisa memberi rasa suka. Ya, bulan terakhir 2017 masih menyimpan kejutan yang menyukakan hati.

Kami yang awalnya kehabisan tabungan cash (bahkan hanya bisa membeli sweater bayi seharga 50k untuk Gayatri – di musim hujan ini – karena jaket ni bocah uda kekecilan) tiba-tiba mendapat rejeki yang lumayan. Bahkan untuk melunasi hutang bank yang jatuh tempo masih beberapa tahun lagi.

Utang menguap.

Saya pun speechless.

*

Btw….. Sebenernya saya tak ingin terdengar seperti kotbah malam akhir tahun. Tapi ya sudahlah, bagaimanapun saya pengen banget ngutip lirik lagu theme song 2017 saya ini….

God is too wise to be mistaken,

God is too good to be unkind.

But when we don’t understand,

when we can’t see His hand,

when we can’t trace His plan,

trust His Heart….”

kuat

Goodbye 2017! Walaupun saya tak bisa bilang “nice to meet you” tapi yahhh, thanks alot buat pelajaran hidupnya. Hehehe…. Semoga saya bisa lebih bijak di 2018!!!!

Dooohh…. saya jadi pingin nangis melooo kaaan…. Uda ah. Terimakasih sudah mampir dan salam sayang….. :*

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Moms, be Proud of Yourself!

Mau Nyonyah itu stay-at-home mom, mau working mom kaya saya (yes! saya workingmom), atau yang pakai ART, pake baby sitter, yang single mom, atau nitip mom, pleaseeeee be proud lah sama diri kita! Kita tu baik hati, setrong lagipula kece dengan cara kita masing-masing.

Don’t let words bring us down. Kita tidak selemah itu!

Hihihi, tumben yak, saya memulai artikel dengan rada emosional. Soalnya emang rada emosional si topik obrolan kita kali ini Nyaaah…. tentang ibu-ibu yang sering lara hati dan jadi minder karena omongan orang. Tepatnya lagi omongan orang yang kurang kompeten buat ngomongin hidup kita.

Sering kan, ya kita denger curhatan temen atau malah kita sendiri ngalamin, betapa potek hati mamak denger kritikan orang tentang badan bayi yang kayanya makin hari makin kurus. “Kaya nggak pernah dikasi makan,” kata tetangga. Atau, “Makanya jangan main hape mulu…. tuh, anaknya makan angin“. Atau, “Anak saya loh uda bisa salto merangkak dari usia 2 bulan, anakmu kok kayanya cuma tidar tidur aja ya kerjanya….“. Hmmmm….

hiks

Is it related to you?

Saya si jarang yak denger komen kaya gitu dari tetangga, soalnya saya pergi pagi pulang malem si. Kaga pernah ketemu tetangga. Hehehehe…. Tapi saya related banget sama topik ini karena sering dicurhatin mamak-mamak. Yes, mamak mamak jaman now, walaupun ga bisa temu muka kan sering tsurhat via whatssap. Dan eike jadi pingin kalap ngesleding itu mulut mulut kurang tata krama yang suka nyinyirin temen eike.

Tapi ga jadi, soalnya salah satu yang suka nyinyirin temen eike itu, ibunya temen eike sendiri. Kan Nyonyah harus sopan ya sama orang tua…. Maap maap….

Gimana ga esmosi coba. Problem yang dialamin temen saya ini atas anaknya, menurut saya emang menantang ya. Punya banyak alergi, uda gitu selera makannya juga rendah, dll dsb. Kemudian orang-orang dengan mudahnya ngomentarin kalau si anak kayak ga dikasi makan karena kelihatan kurus.

Padahal Dokter Spesialis Anaknya bilang GAPAPA.

Cuman, ibu mana si yang nggak baper hatinya denger celometan kaya begono. Eike aja esmosi, karena tau sendiri gimana perjuangan temen yang jungkir balik bikin berbagai macam menu makanan yang selain nggak memicu alergi anaknya juga menurut saya menarik.

Bahkan temen saya sampai jualan makanan bayi loh, yang kemudian lumayan banyak testi yang bilang makanannya itu menyelamatkan bayi-bayi lain dari ke-GTM-an. See? Berarti masalahnya bukan di ibunya males masak atau yang lain sesuai tudingan para nyinyirers abad 21.

Tapi kita kan nggak bisa ngatur omongan orang yak kan?

Yap.

Betul. Tapi kita bisa menjaga hati kita.

So, dengarlah para jamaah, Nyonyah mau bersabda. #Aseeekkk

“Tetaplah bangga pada dirimu, Nyah. Bukan karena kita sebagai ibu telah mencapai #mothergoal di mata orang-orang; anak gemuk, pintar, lincah, ramah dan rajin menabung. Melainkan karena kita telah berjuang selangkah demi selangkah untuk mewujudkan harapan kita tersebut.

Untuk setiap langkah yang berani kita ambil. Untuk setiap eksperimen. Untuk setiap keringat. Untuk setiap air mata.

Untuk setiap doa….”

love love

Tapi kalau Tuhan berkehendak lain, masakan kita mau nyalahin Dia. Engga kan yes. Mana berandos dos. Yang penting ikhtiar jalan teroooos. Ye kaaaan? Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati kita semua.

Amin, jamaah? Amin amin amin.

Beberapa hal yang membantu saya agar bisa tetap tegar menghadapi dunia emak jaman now yang keras adalah sbb:

  1. Konsultasi dengan ahli terkait kesehatan anak, saya si biasanya dengan dokter anak langganan. Kalaupun denger komentar dari orang mah, senyumin aja. Jadikan bahan konsultasi di pertemuan berikutnya sama dokter.
  2. Minimalisasi banget bertanya di grup-grup sosial media yang tidak betul kita kenal dan mengenal kita. Selain kadang mereka yang menjawab tidak selalu kompeten, kadang yang ada bukannya dapat jawaban tapi malah penghakiman. Ini mah peribahasanya kalau di bahasa jawa: “kutuk marani sunduk” (ikan mendekati kail), “ulo marani gebug” (ular menyambangi pemukul). Nyari mati loe!
  3. Menjaga kuping dan hati baik-baik bukan berarti menutup kepala dari masukan yang baik ya…. Kita bisa kok memilah mana yang patut kita pikirkan sungguh-sungguh. Mana yang cuma basa-basi (tapi nyakitin). Mana juga yang cupa cari perhatian…. yang terakhir mah di-wolesin ajahhh….
  4. Punyailah support sistem yang suportif. Yang logis pas kita lagi drama. Jangan juga nyari yang sama dramanya. Tar malah jadi nangis berjamaah, atau malah balik ngumpat-ngupat si nyinyir berjamaah. Dua-duanya ga baik juga buat kesehatan jiwa Nyonyah…. Jangan juga hanya berharap pada suami, karena kadang suami tak selalu memahami drama ibu-ibu ini. Kalau maksa suami ngerti, kadang malah timbul drama baru. Ehehehe….
  5. Ada yang mau nambahin? Feel fre untuk nambahin di komen yaaakkk!

So Moms, be Proud of Yourself!!!!!!!!!

Salam sayang semuanyaaa!

.

.

.

.

.

.

kuat

PS:

Tumben yak, tulisan saya singkat, ahahaha. Iya kayanya ini tulisan paling singkat di blog nyonyamalas nih. Sekedar mencurahkan uneg-uneg. Semoga ga banyak yang tersinggung ya, karena kata-katanya banyak yang sembarangan banget. Hehehe….

Sekali lagi, salam sayang Nyaaah!

***Artikel Moms, be Proud of Yourself! ini dipersembahkan untuk teman, yang nggak perlu saya mention tapi kayanya pasti baca artikel ini soalnya saya share ahahaha…..

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!