Tentang Bertahan dan Membagi Waktu

membagi waktu

Karena postingan sebelumnya yang membahas kondisi LDM saya dan suami, banyak yang bilang kalau saya itu wanita tegar. Aseek. Jauh dari suami, sama bayi, nggak punya pengasuh plus kerja 8-5 daaaan masih sempet ngeblog pula. Hihihi terkesan saya supermom yang jago membagi waktu ya, padahal ya kagak…..

Beneran kagak. Kira-kira ya begini prinsip saya saya untuk bertahan hidup sehari-hari….

Tentang Prioritas dan Hidup yang Sederhana

Ketika menyadari saya akan LDM, saya buang jauh-jauh dah segala impian kesempurnaan dalam detail kehidupan. Saya berusaha untuk hidup yang lebih sederhana.

Hidup yang sederhana di sini maksud saya bukan hidup hemat ya. Tapi hidup yang ringkes gitu. Yang nggak banyak mau. Yang nggak mempertanyakan banyak hal. Yang nggak membaperkan hal-hal yang nggak esensi. Jadi energinya nggak terkuras karena terdistribusi untuk hal-hal yang nggak penting.

Prioritas kami adalah kami bertahan.

Prioritas tersebut proxy-nya tiga: kami sehat, kami rukun dan pekerjaan selesai. Untuk itu, sebagian besar waktu saya alokasikan untuk ketiga hal tersebut.

Ada garis bekas setrikaan di celana panjang? Ga masalah.

Kabar Andien jadi Inspiring Mom versi majalah online? I dont care.

¬†Atta Halilintar bikin prank settingan???? Apalagiii! Hihihi….

Saya tahu, beberapa bulan ini saya tidak banyak melakukan progress. Tapi setidaknya saya bertahan dengan baik. Akan ada waktunya saya meningkatkan apa yang saya dapatkan hari ini. Namun itu belumlah prioritas, setidaknya untuk saat ini.

Tentang Multitasking

Bagaimana membagi waktu? Saya cuma bisa bilang kalau saya tidak membagi waktu saya dengan jam segini harus ini, jam segitu harus begitu. Tidak demikian.

Saya cuma fokus pada menyelesaikan satu pekerjaan lalu berganti ke tugas yang lain. Satu satu dan fokus. Konsentrasi pada satu hal. Baru berpindah ke hal lain.

Karena saya tidak bisa multitasking. #sadardiri

Godaan untuk nyambi nyambi besar. Tapi biasanya bukannya mempercepat pekerjaan, malah memperkeruh keadaan. Atau mungkin karena saya saja ya yang tidak bisa multitasking ya, hehehe. Saya pernah menulis tentang multitasking ini di: Multitasking, Yay or Nay.

Tentang Support System

Bagaimana mengasuh dan mendidik anak saat bekerja?

Kalau pas saya kerja ya daycare menjadi tumpuan. Oleh karena itu memilih daycare yang tepat adalah kunci. Banyak poin yang perlu diperhatikan saat memilih daycare, saya pernah cerita di Akhirnya Gayatri Memilih Daycare.

Yang mau saya soroti lebih adalah tentang pola pengasuhan. Titik krusialnya adalah kesepahaman antara daycare dan orang tua tentang pola asuh seperti apa yang akan diterapkan.

*adow berat anet bahasa eike

membagi waktu

Saya mau cerita pengalaman sedikit buat gambaran:

Beberapa hari lalu, Aunty daycare sempat chat saya tentang beberapa perubahan perilaku Gayatri menjelang usia 2 tahun. Sering dibilang Terible Two ya…. Via chat dan ketemu langsung di kemudian hari, kami membahas hal tersebut. Ada beberapa poin yang kami sepakati untuk sama-sama diterapkan baik di daycare maupun di rumah kos secara konsisten.

Sebaliknya, beberapa bulan lalu saat saya ngeh Gayatri sudah bisa bilang “eek”, saya tak lupa mengajak pihak daycare untuk diskusi tentang toilet training. Supaya ya, sama perlakuannya gitu. Jangan sampai di rumah kalau dia bilang “eek” kita ngacir ke toilet, sementara di daycare enggak. Kan bubrah tu settingan bocah.

setrong

Kalau Gayatri sedang sakit dan tidak bisa daycare, saya otomatis wajib izin kantor untuk bersama Gayatri. Hal ini tidak bisa ditawar karena mau siapa lagi cobak yang mengasuhnya? Tentu saja, pihak kantor (atasan) juga harus sudah mengerti kondisi ini.

Tentang Ngeblog

Ini saya bahas tersendiri, karena ngeblog memang punya tempat yang khas. Kalau orang bilang salut saya produktif karena tetep nulis di tengah kondisi saya. Saya bilang malah kebalik.

Ngeblog itu buat saya stress release.

Jadi kalau stress saya nulis, saya malah jadi seger lagi. Walaupun memang tidak bisa seintens saat cuti kemarin, tapi nulis, helps me a lot.

Kapan nulisnya….?

Saya ngedraft mostly di note handphone. Jadi pas bengong di Tranjakarta pun saya bisa nulis.

Tantangan saya ngeblog adalah masalah visual. Karena kalau ngedit gambar harus di laptop, dan pegang laptop saat Gayatri bangun adalah kemustahilan. Jadi kalau saya mau edit gambar ya berarti saya harus merelakan sedikit waktu tidur saya. Kalau saya capek, ya berarti tulisan saya hanya akan parkir di draft.

Thats why, di parkiran saya ada 36 drafts tulisan yang belum di publish. LOL.

Intinya adalah: JANGAN MEMAKSAKAN DIRI.

Kalau memang tidak suka menulis ya jangan ngeblog, lakukan saja hobi yang lain. Apalagi kalau punya kondisi seperti saya. Uda deh, selametin yang pokok aja dulu. Kemudian ambil waktu untuk me-time sesuai preferensi masing-masing. ūüôā

Tentang Alat Bantu

Saya nggak punya alat bantu yang fancy btw buat membagi waktu, hihihi. Alat bantu yang saya punya sederhana sekali, namun menurut saya cukup efektif dan efisien membantu saya menyelesaikan tugas sehari-hari. Nggak perlu fancy kan, yang penting everything is done.

Alat bantu saya tiga hal ini:

  1. Alarm
  2. Kalender Meja
  3. Buku Agenda.

Oiya, tentang Buku Agenda. Jangan bayangin isi agenda saya itu schedule yang rapet pet pet tiap jam ada keterangan aktivitasnya apa. Kagak.

Agenda saya isinya cuma berbentuk  to do list. Bahasa kerennya bujo aliat bulleted journal.

Aslinya mah, cuma catetan kudu nyelesein apa hari itu, trus yang uda dicentang atau dicoret.

Ga pakai acara gambar-gambar cantik. Kagak sempet!

Menyederhanakan Rutinitas:

Selain itu kegiatan lain-lain yang rutin saya sederhanakan. Jadi jadwal rutin itu membuat saya nggak banyak mikir. Laundry 2x seminggu, masukin baju bersih ke daycare juga 2x seminggu. Belanja buah di brambang.com per senin. Belanja stok lauk sebulan sekali di nikaskitchen. Masaknya per batch. Belanja lain-lain sama token listrik di Alfamart deket kosan.

Ga sempet masak? Ya beli, gitu aja kok repot.

Kan balik lagi ke prinsip utama membagi waktu: tau prioritas dan sederhanakan kehidupan.

Itulah ikhtiar kami bertahan hidup.

Urusan gosip Andien (Andien lagiiii!) bawa Kawa naik kapal tanpa pelampung? Itu bukan urusan akoooooh!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Mandiri Menuju Asian Games

turnamen voli bank mandiri

Asian Games 2018¬†memang baru akan¬†berlangsung dari 18 Agustus sampai 2 September 2018, namun geregetnya sudah mulai terasa ya…. Apalagi yang tinggal DKI Jakarta atau Palembang ya…. Sudah mulai terasa geliat perhelatan besar ini. Untuk yang berada jauh dari lokasi penyelenggaraan, jangan sedih yaaaa! Karena akan ada juga kegiatan di daerah-daerah lain yang diadakan oleh Bank Mandiri menuju Asian Games.

Mau datang langsung? Bisa juga kok! Nanti saya ceritain lebih lanjut ya, tentang promo tiket penyelenggaraan Asian Games yang bisa bikin dompet teman-teman happy yang disediakan oleh Bank Mandiri.

Sebelum saya cerita tentang dua hal di atas, saya pengen flash back dulu tentang penyelenggaraan Asian Games di Indonesia ya. Biar kita makin bisa menghayati dan juga ikut terbakar semangatnya mendukung perhelatan akbar ini.

setrong

Indonesia sebelumnya pernah menjadi tuan rumah bagi Asian Games. Adalah di tahun 1962, Indonesia dipercaya oleh 22 negara yang memberikan vote pada Indonesia. Mengalahkan Pakistan yang saat itu di-vote oleh 20 negara. Penentuan tuan rumah dengan voting ini menggambarkan bahwa bangsa-bangsa lain mengakui kemampuan suatu bangsa untuk menjalankan suatu event yang besar.

Kemudian di tahun 2018, Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Saat Vietnam, negara yang memenangkan voting menjadi tuan rumah Asian Games, mengundurkan diri karena masalah ekonomi yang sedang mereka hadapi.

Kepercayaan yang besar ini tentunya harus bangsa kita jaga ya, demi nama baik bangsa Indonesia sendiri dan juga demi hubungan baik dengan negara-negara Asia. Kita tentu juga berharap agar tujuan kegiatan ini; mengeratkan kerjasama, pemahaman dan hubungan antar negara dapat tercapai. Selain itu, tentunya kita juga ingin ya, kegiatan-kegiatan seperti ini memiliki efek pengungkit bagi kualitas fasilitas dan juga minat olahraga di tanah air.

Buat saya yang berada di dekat DKI Jakarta terasa banget ni suasana Asian Games mulai menggeliat. Dari beberapa perubahan jalur transportasi sampai dengan kemeriahan umbul-umbul yang dipasang di jalanan. Beberapa pertandingan-pertandingan olahraga juga mulai bermunculan sebagai pemanasan.

Eitttt! Buat yang ada di daerah, jangan berkecil hati yaaaa…. Seperti yang saya sampaikan tadi di awal, Bank Mandiri sebagai salah satu BUMN terbesar di negara ini memiliki program-program untuk¬†membawa semangat Asian Games ke daerah-daerah. Yang pertama programnya adalah dengan mengadakan turnamen-turnamen olahraga dan yang kedua adalah program promo pembelian tiket menuju Palembang dan Jakarta. Seru kaaan!!!

1 . Turnamen Olahraga Mandiri Menuju Asian Games

Bank Mandiri mendukung Karang Taruna Permadi Padukuhan Keceme, Desa Caturharjo, Sleman¬† mengadakan kegiatan Turnamen Bola Voli se-Kabupaten dan sekitarnya.¬†Turnamen ini adalah yang ke – VII dan diselenggarakan pada¬†waktu pelaksanaan mulai tanggal 14 Juli 2018 s/d 1 September 2018. Berikut adalah sekilas kegiatannya….

mandiri menuju asian games

Bapak Rudi As’ Aturridha (Regional Head Bank Mandiri Yogya) bersama panitia dan atlet volley yang akan bertanding hari ini¬†membuka pertandingan.

turnamen voli bank mandiri

Tim Sejavo dan Vomage yang bertanding sedang melakukan pemanasan. Biar makin semangat ya kaaan….

mandiri menuju asian games turnamen voli

Semoga kegiatan seperti ini tidak hanya demi memeriahkan Asian Games saja ya, melainkan juga menumbuhkan bibit-bibit baru di bidang olahraga voli. Dan semoga acara seperti ini dilestarikan selalu, agar kawula muda memiliki wadah untuk menyalurkan minat dan bakatnya.

2 . Promo Tiket Mandiri Menuju Asian Games

Dengan menggunakan kartu debit atau kartu kredit Mandiri, nasabah Bank Mandiri bisa berkesempatan untuk mendapatkan diskon sampai dengan 50% untuk pembelian tiket Asian Games. Selain itu, ada program cicilan tiket Asian Games yang menarik.

Promo spesial ini mulai berlangsung pada tanggal 9 Juli 2018. Promo ini juga hanya berlaku untuk pembelian tiket di situs resmi penjualan tiket Asian Games 2018, yaitu di KiosTix. Tidak ada batasan transaksi per kartu, syarat dan ketentuan berlaku.

promo mandiri menuju asian games

Info lengkap tentang promo tiket Asian Games oleh Bank Mandiri¬†bisa dicek¬†di link ini yaaa…. http://jadimandiri.org/2018/07/09/beli-tiket-asian-games-pakai-kartu-mandiri/ Promo ini sampai dengan tanggal 2 September ya teman-teman, sampai Asian Games berakhir. Tapi jangan mentang-mentang masih lama, trus jadi dilama-lamain deh beli tiketnya. Ayo buruan, soalnya kuota tiketnya juga terbatas. Jangan sampai kehabisan yaaaa! Tar nyesek loh!

What can we do?

Terinspirasi dari Bank Mandiri, yuk sebarkan semangat dan kemeriahan Asian Games di daerah kita. Dukung Asian Games dengan menciptakan suasana yang kondusif baik di dunia nyata maupun dunia maya, jadi mandiri mulai dari diri kita. Semangaaaattt!!!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Capsule Wardrobe Baju Wanita

capsule wardrobe

Saat saya balik lagi ke Jakarta setelah cuti besar bulan Mei lalu, saya memilih untuk ngekos daripada sewa rumah lagi. Jadi sewa hanya satu kamar, yang saya tempati  berdua dengan Ning Gaya. Ngekos dengan bayi punya banyak konsekuensi, sebagian besar sudah saya ceritakan di sini. Selain itu, ada satu yang belum saya ceritakan: space lemari pakaian yang jadi kueciiiiiilllll sekali.

Karena bagaimanapun, sebenarnya kamar yang saya sewa didesain untuk mahasiswa. Jadi ya lemarinya pun didesain hanya untuk satu orang. Pada kondisi saya, lemari yang sama harus saya pakai, selain untuk menyimpan baju wanita saya, baju bayi gayatri, juga stok printilan bayi seperti diapers, handuk, mainan, dll. Makin sempit saja kaaaaan.

lemari

Seperti ini kira-kira lemari saya. Saya nggak mungkin juga nambah lemari karena kamarnya sempit. Untung kemudian saya nemu artikelnya Mbak Nike Prima tentang Capsule Wardrobe di Living Loving.

Walaupun saya nggak 100% memgikuti prinsipnya, namun ada beberapa hal yang bisa saya terapkan agar baju wanita saya tetap muat di lemari kosan. Namun sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari biar tidak terlalu kelihatan kalau pakaiannya mbahrenggo alias kumbah ‚Äď garing ‚Äď dienggo, gitu lo.

capsule wardrobe

via pexels.com

Prinsip yang mau saya adaptasi dari eksperimen capsule wardrobe nya Mbak Nike Prima:

  1. Memilah pakaian sampai jumlah tertentu (kalau mbak Nike pakai batasan jumlah 37 pcs, kalau saya kayanya bakal lebih sedikit dari itu karena menyesuaikan ruang lemari),
  2. Memilih pakaian yang mencerminkan style atau karakter diri,
  3. Kalau diperlukan berbelanja aju wanita, lalukan dengan intentional. Ga sembarangan. Pilih yang longlasting dan beneran kita suka. Nggak hanya karena diskon atau retail terapy semata.
  4. Memilih pakaian yang versatile.

Versatile itu maksudnya:

  1. Mudah dipadu padankan satu dengan yang lain,
  2. Mudah untuk dipakai dalam occasion yang berbeda. Jadi yang formal terlalu kaku, yang casual terlalu gembel. Sehingga masih bisa ada peluang untuk di mix match-kan. Hehehehe….

padu padan

via pexels.com

Let’s staaarrrttt!!!!

1 . Bongkar Lemari

Dari prinsip di atas saya mulai bongkar lemari di Surabaya. Sayangnya, saya menemukan kalau sebagian besar pakaian saya itu nggak versatile. Susah dipadupadankan. #cry Kalau saya paksakan, pasti jumlahnya akan menggelembung melebihi kapasitas lemari. Huft!

Temen-temen pernah nggak merasakan hal yang sama dengan saya? Punya baju banyak tapi merasa nggak punya baju yang pas buat dipakai untu satu aktivitas. Nah, mungkin teman-teman pun melakukan kesalahan yang sama dengan saya. Tosss!

Dari hasil seleksi lemari saya menemukan:

  1. Kemeja putih
  2. Celana hitam
  3. Kemeja biru
  4. Batik
  5. Batik
  6. Batik
  7. Blus
  8. Baju stripes
  9. Sepatu semi formal
  10. Sepatu formal
  11. Sepatu olahraga
  12. Celana semi formal hitam
  13. Celana abu-abu tua

Saya baru ngeh kalau saya tidak punya celana jeans! Padahal itu salah satu must have item yang paling mudah dipadu padankan.

Oke fine. Stapples di atas nggak bakal bisa memenuhi kebutuhan saya.

jeans

via pexels.com

2 . Nyari Referensi (1)

Saya kemudian memutuskan untuk nanya-nanya ke grup WA Indonesian Female Bloggers, gimana si styling baju wanita yang sederhana dan jumlah terbatas tapi tetep punya ciri khas.

Saya nanya di situ karena saya tahu persis mereka memahami fashion dengan baik, dan sekaligus mengenal saya dengan cukup baik juga. Jadi saya yakin nggak akan sembarangan ngasih insight.

Dari mereka saya dapat list must have item:

1 . Kemeja putih

2 . Celana formal

3 . Celana jeans

4 . Kaus stripes

5 . Outer

6 . Statement Asesoris

Saya juga baca-baca lebih lanjut artikel-artikel di pinterest tentang capsule wardrobe dan styling dengan pieces baju wanita yang terbatas. So far masuknnya mirip-mirip si.

Kesimpulannya saya tinggal melengkapi stapples yang saya punya dengan outer, jeans dan asesoris. Setidaknya itu dulu cukup.

3 . Nyari referensi (2)

Step terakhir adalah nyari-nyari baju wanita di olshop dan marketplace. Jujur, saya tu seleranya nggak terlalu bagus. Hehehe….

Jadi belanja baju wanita buat saya itu punya tantangan tersendiri. Kadang kalau beli sendiri, uda dibeli, sampai di rumah baru sadar kalau baju yang dibeli itu nggak cocok buat saya.

Untuk itu saya sekarang punya pendekatan yang berbeda dalam beli baju. Yaitu mengandalkan online dulu. Saya screenshoot-screenshoot produk yang saya suka. Saya periksa detail ukurannya. Lalu saya kirimkan ke suami.

matahari mall

via Matahari Mall

Contohnya begini, saya screen shoot baju wanita dari matahari mall.

Nanti suami yang kurasi. Setelah itu baru saya simpan. Beberapa hari saya lihat lagi, kalau saya masih pengen beli, berarti saya memang suka. Gituuuu, hihihi, ribet yaaak….

Tapi so far ini cara yang kayanya bakal paling efektif deh buat saya. Temen-temen ada ide lain nggak? Eksperimen capsule wardrobe versi saya ini bakal saya update lagi yaaa! Semoga bermanfaat buat yang punya space terbatas seperti saya, atau yg sedang menjalani hidup minimalis seperti Mbak Nike Prima. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Irit vs Wishlist

irit

“Tercenung adalah ketika, menahan wishlist begitu lama, dan ketika memutuskan beli, uda sold out”.

Bulan lalu saya pernah story-in kalimat dengan nada demikian. Diakhiri dengan pertanyaan, “Sebenarnya saya ini irit atau pelit (sama diri sendiri) si?” Trus ketawa. Ngetawain diri ini.

mengatur keuangan

Tebak apa coba wishlist saya?

Sepele, cuma scarft dari idekuhandmade yang entah kenapa saya suka banget. Harganya sebenarnya juga masih terjangkau banget buat kocek kami. Cuma nggak tau kenapa saya ga jadi jadi beli. Padahal tiap buka Instagram selalu sempetin buka akun mereka untuk ngecek apa produk itu masih available. Trus setelah berminggu-minggu, akhirnya out of stock. Hahaha….

hiks

By the way….

Beberapa tahun terakhir ini saya dan suami memang struggling¬†untuk mengatur keuangan. Beberapa hal uda pernah saya ceritain ya di post-post sebelumnya. Strugglingnya worthy si, karena akhirnya kami bisa dapat yang kami mau. Tapi lepas dari uda dapat yang dimau ternyata “otot” otak kami masih kejang. Jadi masih kebawa-bawa sampai sekarang perhitungannya.¬†Dikit-dikit alarmnya bunyi “eman duit eman duit”, begitulah bunyinya.

Saya inget-inget. Terakhir saya beli lipstik itu tahun lalu. Dan cuma satu-satunya yang saya beli. BLP Burnt Cinnamon. Produk lokal, nggak murahan tapi ya nggak mahal juga. Sama sekali nggak beli tas. Beli sepatu pake duit sendiri cuma satu, sepatu olahraga karena saya emang nggak punya, dan butuh buat kerjaan kalau lagi jadi asisten outbond. Saking nggak pernah beli sepatu, sampe papa mertua saya beliin saya sepatu sampai dua biji! Hahaha! Mungkin beliau prihatin, mengira kami miskin segitunya.

Ah, kamu! Nggak beli lipstik aja dibilang irit. Lihat tu di luar sana, masih banyak bahkan yang harus makan biskuit tanah. Bersyukur dong….

setrong

Bukan saya nggak bersyukur ya. Tapi cuma pengen menggambarkan kondisi yang terjadi. Lagipula membanding-bandingkan dengan orang yang menderita juga kurang pas ya dalam hal ini. Bandingin sama temen sekantor gitu, mungkin lebih apple to apple lah kondisinya….

Saya tahu, sebenarnya kebiasaan saya untuk menahan diri ini bagus.

Tapi seberapa bagus sampai tidak kelewatan?

So, saya akhirnya membuat semacam peraturan buat diri saya sekarang terkait masalah ini, agar saya tetap irit namun tidak kelewat pelit.

1 . Doing  nice to my self is not a crime at all.

Saya mulai menyadari ada beberapa pembelian barang terutama yang terkait dengan selfcare atau malah fashion tidak bisa didasari dengan semata-mata logika. Somehow, beberapa produk kita beli selain kita butuh, juga melibatkan preferensi.

Misalnya: beli sabun mandi. Di luar kita bahas mahal atau murah, it is okay kok menurut saya kalau memilih produk yang lebih mahal karena baunya membuat kita lebih happy, lebih fresh…. Atau sepatu, ya…. it is okay lah buat memilih sepatu yang nyaman, walaupun itu lebih mahal sedikit. Atau makanan, selain membuat tubuh sehat, ada kalanya kita juga butuh makanan yang lezat juga kan….

hehehe

Saya mencoba untuk, walau sedang berhemat, tapi ya nggak boleh terus mengabaikan preferensi pribadi (atau juga pasangan). Doing nice to our self is not a crime at all.

Di poin ini saya tidak sedang mendukung konsumerisme demi kesenangan hati semata-mata ya.¬†Poinnya adalah kalau memang menginginkan sesuatu (yang benar-benar kita inginkan) ya why not? Treat yourself. Kalau mahal, ya menabunglah.¬†Namun, jika hal-hal tersebut membuat kita malah merasa bersalah karena boros. Maka pilih kesempatan-kesempatan khusus untuk memberikan diri kita sendiri “nice things” sebagai rewards.

Untuk mengetahui apakah saya benar-benar menginginkan sesuatu, lanjut ke poin berikutnya.

2 . Shopping intentionally, not just shopping therapy.

Prinsip tentang belanja sebenarnya tidak hanya sekedar tentang “restriction” atau pembatasan. Namun lebih ke “intention” atau niat dan tujuan dari belanja itu sendiri. Kalau memang butuh ya gapapa kan belanja. Mahal pun gapapa, asal memang butuh. Tapi kalau nggak butuh, murah pun jangan dibeli gitu. Apalagi cuma karena iseng….

  • Tanyakan pada diri sendiri, “Do you really need it? Do you really love it?”
  • Riset tentang produknya baik-baik. Apa kelebihan dan kekurangannya.
  • Memikirkan benar-benar apa nilai tambah produk tsb.
  • Cek barang yang sudah dimiliki. Bandingkan dengan poin sebelumnya. Apakah ada barang lain yang bisa mensubstitusi?
  • Wait 24 jam sebelum membeli untuk menghindari pembelian impulsif.
  • Atau tunggu lebih lama lagi, tapi jangan lupa dicatat. Jadi semacam punya wishlist panjang yang bakal saya evaluasi berkala.

3 . Akankan saya akan tetep happy dengan produk ini tiga bulan lagi?

Since saya membatasi diri untuk berbelanja setiap saat. Saya mulai menekankan ke kualitas barang yang saya beli. Akankah dia akan bertahan tiga bulan atau lebih? Apakah dia awet? Dan apakah saya akan tetap menyukainya setelah tiga bulan? Seberapa sering akan menggunakannya?

Kalau saya bisa menjawab dengan baik, dan jawabannya positif. Yauda beliiiii!¬†Seperti akhirnya saya beli juga tu¬†scarft dari idekuhandmade yang saya ceritain di awal. Bela-belain pre order jadinya, wkwkwkwk….

love love

Pada akhirnya jalan keluar dari irit menjurus medit (pada diri sendiri) vs wishlist adalah kebijaksanaan. (((kebijaksanaan))) wkwkwkwk. Dan kebijaksanaan biasanya ada di tengah-tengah. Nggak yang peliiiiiittt, tapi juga nggak yang boroooooossss….

Gimana kalau menurut temen-temen? Apakah teman-teman punya tips mengatur keuangan tapi yang nggak pelit sama diri sendiri? Sharing dooong….

Terimakasih ya sudah mampir, salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Redefining Kerja

redefining kerja

N : Pak, kalau deposito kita banyak, bisa kali ya bunganya kita cukup-cukupin buat hidup tiap bulan. Ga usa kerja lagi.

T : Ya, bisa aja kalau mau dicukup-cukupin. Tapi masa iya, kita berhenti kerja sama sekali…. Trus hidup buat apa….

(((Hidup buat apa)))

Kalimat tersebut jadi terngiang ngiang di kepala. Di bayangan saya, kalau sudah merdeka secara finansial, saya mau santai-santai aja menikmati hidup. Ga mau kerja.

Tapi diskusi bareng suami tadi, membawa saya kembali ke zaman kuliah dulu.

redefining kerja

Zamannya idealisme tumbuh dan hidup. Zamannya saya memahami kalau kerja itu hakikatnya hidup, bukan sekedar menyambung penghidupan. Bahwa kerja bukan hukuman. Bahwa kerja bukan sesuatu yang patut menjadi beban.

Bahwa kerja itu panggilan hidup.

Bahwa kerja itu ibadah.

(((Klise tapi ya bener!)))

(((Bener-bener klise :P)))

(((BENERAAAAN!)))

setrong

Jujur, sempat melupakan hal tersebut belakangan ini. Menjadi ibu bekerja yang tinggal berbeda kota dengan suami, membuat hidup saya mekanis. Jugling between harapan dan realita, drama and dreams mommy mommy. Bangun tidur, siap-siap, antar anak daycare, kerja, pengen cepat pulang, jemput anak di daycare, main bareng, tidur, bangun, kerja lagi, dst.

Jujur, sempat lupa nikmatnya menemukan cara baru untuk mengerjakan persoalan kantor. Lupa nikmatnya berjerih lelah dalam suka cita. Lupa nikmatnya tertawa, saat menemukan kesalahan sepele yang membuat diri berkutat di depan komputer lebih lama. Yang teringat hanya payah.

Payah mengejar target nominal deposito yang (saya pikir) menjanjikan ritme hidup yang saya dambakan.

Payah mengingat apa yang tidak sedang saya miliki, namun melupakan apa yang sedang saya punyai.

Payah karena kufur.

hiks

Baiklah, di ujung malam ini, saya tobat.

Saya berdoa bagi diri saya sendiri. Semoga ada ketenangan hati, damai sejahtera dan tekad yang kuat. Biarlah kalau nantipun saya bisa merdeka finansial (((AMIIIN))), saya mau tetap kerja. Di kantor atau di rumah atau dimananya tak penting. Tetep di kantor sekarang yang 7.30 to 5, atau jadi freelance yang bisa kerja kapanpun, itu urusan belakangan.

Yang penting, saya niatkan dalam hati kalau saya mau tetap kerja yang bermanfaat buat orang lain juga. Bukankah, sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat? Ya kaaaan? Amin, Sodara sodaraaaa????

Kalau misalnya nih, temen-temen nggak harus mikirin masalah finansial, kira-kira temen-temen mau ngapain? Sharing yuuuk!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!