Keingintahuan

“Emangnya kamu pengen blog mu ini seperfect apa si?”, celetuk Mbak Echa, blogger senior yang sering banget saya tanya-tanyain tentang perbloggeran dan Search Engine Optimization. Sepertinya dia merasa saya terlalu ambisius belajar SEO sedemikian.

Saya sebenarnya, nggak terlalu banyak berpikir saat menjawabnya, “Saya nggak ngejar perfect, Mbak. Saya cuma memenuhi keingintahuan. Selama saya enjoy, ya bakal terus tak belajari. Terus belajar menjaga saya waras (jadi ibu rumah tangga).”

Setelah saya baca lagi jawaban saya di WAG tersebut. Saya kaget sendiri. Hahaha! Ini jawaban seorang nyonyamalas kah? Kok sounds like Maudy Ayunda pas diwawancara Najwa Shihab terkait ujian ya. Hahahaha….

#kibasrambut

Tapi tak ayal, pikiran saya menembus sepuluhan tahun yang lalu. Saat saya baru lulus SMA. Belia. Informatika khususon web desain memang adalah jurusan yang ingin sekali saya masuki.

Bahkan saat lebih muda lagi, saya tergabung di tim olimpiade komputer loh. Hahaha. Ngakak deh kalau inget itu. Secara sebenarnya saya tukang mabal. Fisika dan Kimia aja remidi terus. Tapi untuk satu mata pelajaran ini entah kenapa, hati ini terpaut.

Kampus dengan jurusan tersebut kemudian sudah saya dapatkan, bahkan sebelum pengumuman kelulusan sekolah. Sayangnya (atau untungnya ya?) saya diterima di salah satu perguruan tinggi kedinasan. Orang tua meminta saya ke sana. Due to financial constraint, saya setuju. Realistis.

Namun, sekarang, saat sudah tidak bekerja. Punya privilege berupa waktu dan dukungan dari suami, ternyata hobi saya pun tak jauh-jauh dari komputer dan internet. Ngeblog. SEO.

Entah apakah benar, semata-mata demi memenuhi keingintahuan, atau karena lara masa lalu…..

Apapun motifnya, tapi perasaan ini sangat menyenangkan menurut saya. Perasaan ingin tahu. Perasaan excited. Perasaan yang membuat saya bener-bener merasa hidup gitu. Perasaan segar. Perasaan yang membuat saya merasa ingin terus maju. Ingin terus berkembang. Positif.

Mungkin gini juga kali ya, rasanya para beauty enthusiast yang penasaran sama pallete eyeshadow baru. Bisa sampai nyobain nyampurin warnanya sampai kelopak mata ledes. Blending (eyeshadow) is my cardio, jargonnya.

Atau seperti hobiis kopi yang bakal kebawa mimpi kalau belum menyambangi coffee shop indie di sekitar rumah.

Atau seperti pecinta maraton? Yang ingin terus menantang diri, dan menjajal keteguhan hati dari lintasan satu ke lintasan yang lain….

Yah…. mungkin benar seperti itu ya. Mungkin.

Hahahaha…. Ah sok, filosofis banget saya kali ini….

Ceita cerita dong yuuuk…. Lagi pada semangat ngapain ni?

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

7 Cara Agar Anak Senang Membaca 

Pas Maudy Ayunda diwawancara oleh Najwa Shihab terkait letter of acceptance-nya di dua kampus bergengsi dunia, ada jawaban yang menarik banget buat saya. Yaitu tentang bagaimana Maudy menghabiskan masa kecilnya: dengan buku, dan tentang bagaimana orang tuanya meng-encourage Maudy untuk senang membaca. Saya jadi nostalgia dengan masa kecil saya, #BerasaMiripMaudy ehehehe….

Gayatri saat usia 2 tahunan.

Orang tua saya pun demikian. Kami, tiga bersaudara, bisa dibilang kutu buku ya. Dan saat saya beranjak dewasa, kebiasaan senang membaca tersebut terasa sekali manfaatnya. Bagi anak-anak pun, berdasar beberapa sumber, menyatakan bahwa membaca, baik untuk anak.

Salah satu manfaat membaca yang paling penting adalah untuk menstimulasi kecerdasan anak. Manfaat lainnya adalah membantu anak untuk berkonsentrasi. Ketika anak membaca ia belajar untuk fokus menyelesaikan bacaannya. Membaca juga bermanfaat untuk menambah kosakata. Semakin banyak kosakata yang diketahui, kita akan dapat menyampaikan hal melalui tulisan atau ujaran dengan baik.

So, saya belajar untuk menerapkan beberapa hal, yang kebetulan orang tua saya lakukan di rumah (terkait membaca) pada anak kami…. 

1 . Jangan memaksa

Membaca adalah kegiatan yang dikondisikan terjadi, bukan kegiatan yang dipaksakan terjadi. Ketika melihat orang tua saya gemar membaca, senang membicarakan buku bagus, tak ayal kami pun melihat bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan.

Demikian pula saya dengan Gayatri. Saat pertama kali memperkenalkannya dengan buku, saat itu usianya baru beberapa bulan, saya berpura-pura “bermain” dengan bukunya terlebih dahulu. Baru dia mendekat, dan ikutan bermain. Buku pertamanya adalah soft book. Jadi mungkin memang lebih pas disebut bermain ya, daripada membaca. Namun mulai dari situlah, saya berusaha membuat Gayatri akrab dengan buku.

Saat usia kurang lebih 4 bulan.

Memaksa anak untuk membaca, dalam kacamata saya, akan membuat anak merasa terbebani. Alih-alih senang membaca, anak justru membenci membaca. Kawatirnya begitu ya….

2 . Jadikan kegiatan rutin

Kebiasaan terbentuk dari rutinitas. Karena Mama Papa saya keduanya bekerja dari pagi sampai sore, saat kecil kami biasa dibacakan buku saat menjelang tidur atau saat hari libur.

Beberapa waktu sekali, kami pun diajak ke toko buku. Kadang toko buku di gang depan rumah. Kadang di toko buku bekas di pasar. Saya tidak menyangka juga sebenarnya kalau hal-hal sederhana ini begitu membekas dalam ingatan saya. Bahkan sama membekasnya dengan ingatan saya diajak ke taman bermain atau hal-hal lain yang lebih luar biasa.

Demikian pun, kami coba lakukan pada Gayatri. Bahkan, saking seringnya saya bolak balik ke toko buku, saya juga jadi jualan buku anak loh. Buat yang sering mengikuti akun Instagram saya pasti tahu ya…. Hihihi…. Semoga kebiasaan ini pun akan dia kenang, dan menjadi pondasi bagi kecintaannya pada buku dan membaca.

3 . Kelilingi dengan buku

Seperti yang saya ceritakan di awal, pertama kali saya mengenalkan buku adalah dengan softbook saat usianya baru beberapa bulan. Kemudian beranjak besar, kami pun mengenalkannya dengan buku yang berisi gambar kongkret tunggal, due to keterbatasan kemampuan visual anak menangkap gambar dan konsentrasi.

Beranjak semakin besar, kami baru mengenalkannya pada buku ilustrasi. Dan, akhir-akhir ini mulai mengenalkannya pada buku ilustrasi yang lebih kompleks dengan beberapa kalimat singkat di bawah gambar.

Saat usia 18 bulan.

Semakin besar, menurut hemat saya, perlu mengenalkan anak dengan berbagai bacaan menarik, seperti buku bergambar, novel, komik, atau biografi. Tujuannya adalah agar anak tahu bahwa ada beragam jenis bacaan yang dapat dinikmati. Biasanya, anak menyukai jenis buku tertentu yang membuatnya betah berlama-lama dengan bukunya.

Tidak perlu buku mahal. Buku favorit saya untuk Gayatri (2,5 tahun) adalah Ensiklopedia Pertamaku terbitan BIP Gramedia, hanya Rp 25.000,00. Gambarnya cukup bagus, dan isinya pun edukatif. Mengingat orang tua saya pun, kadang membelikan saya buku bekas. Kadang kami juga menikmati bundelan majalah lama, disamping juga berlangganan Bobo.

Disesuaikan saja dengan kondisi masing-masing. Yang lebih penting lagi adalah membelikan buku yang sesuai dengan usia dan kesukaan si kecil. Dengan begitu anak akan lebih semangat membaca buku favoritnya.

4 . Be Creative

Dalam hal ini Papa saya punya teladan yang bagus. Beliau sangat cakap dalam mendongeng. Menyenangkan sekali mendengarkan beliau menceritakan tentang, Dani si Manusia Air (diadaptasi dari berita di majalah Bobo), tentang Donald Bebek, ataupun Oki dan Nirmala. Semua terasa hidup, karena kreativitas beliau dan ekspresi beliau saat membacakan buku atau majalah.

Kami yang awalnya belum bisa membaca pun, jadi gemas. Rasa-rasanya itulah, yang membuat kami bertiga, bisa membaca sendiri dalam usia yang cukup muda. Karena kami ingin segera bisa membaca sendiri. Tidak perlu harus menunggu Papa pulang kerja.

Saat usia 2 tahun 2 bulan.

Oiya, Nyonyah juga bisa mengunakan property, seperti boneka, atau jari-jari tangan. Bisa juga dengan mengikutsertakan benda terkait yang konkret (seperti daun, batu, miniatur hewan) saat membahas buku terkait. Dengan begitu, anak akan tertarik untuk mulai membaca dan tidak akan merasa bosan.

5 . Barengi dengan latihan menulis.

Membaca merupakan proses belajar visual, yang artinya anak mengenali bentuk alfabet yang ada di tulisan. Untuk anak yang lebih besar daripada Gayatri, untuk mempercepat proses belajar membaca, orang tua dapat menggabungkan dengan latihan menulis loh. Hasilnya, anak akan lebih cepat menghafal huruf dan cara menyebutkannya.

Hal ini pun saya lakukan pada Gayatri, namun dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan usianya. Saya mengenalkannya huruf saat bermain play dough. Jadi cetakan yang digunakan berbentuk angka dan huruf. Memang tak saklek mengajarinya, namun sesekali kami menyebutkan jika bentuk panjang lurus ini adalah huruf I. Yang bersilangan adalah X. Yang bulat seperti donat adalah O. Tanpa ekspektasi yang berlebihan.

Saya senang sekali saat membaca buku, ternyata kemudian Gayatri excited saat menemukan deretan huruf yang ada “donat”nya sambal berteriak “Ini O, ini O.” Ahahaha….

Beberapa mainan yang bisa digunakan sejak balita.

Sejak saat itu, jika saya membacakan buku padanya, jari saya akan sambil menuding huruf demi huruf (tanpa mengeja). Agar her absorbent mind bisa mengenali kalau deretan simbol di bawah gambar itu adalah huruf, bisa dibaca dan memiliki makna. Berharap dengan demikian, dia nantinya akan termotivasi untuk belajar membaca sendiri.

6 . Selingi dengan audio book

Jaman saya masih kecil dulu, memang belum ada audiobook dalam format MP3 seperti sekarang ya. Dulu berbentuknya kaset. Ada yang familiar? Saya dulu pernah mendengarkan audiobook versi kaset dalam bentuk dongeng. Jadi semacam drama radio gitu kali ya…. Tentang Raksasa dan Air Kehidupan, duh itu mendebarkan banget ya….

Poin ini belum pernah saya praktikkan ke Gayatri, namun rencananya akan diucicoba saat dia lebih besar. Sepertinya mendengarkan penulis membaca langsung tulisannya dengan dramatisasi akan membantu proses belajar membaca dengan intonasi yang sesuai.

7 . Mengikuti kegiatan seru

Dulu saya dan adik pertama saya sering sekali mengikuti kegiatan semacam “sekolah liburan”. Semacam pesantren kilat gitu. Tapi isinya kegiatan-kegiatan non formal yang di akhir kegiatan ada perkemahannya. Mungkin mirip-mirip Summer Camp ya kalau di Amrik. Manfaat yang kami rasakan adalah kemandirian tentunya ya…. Dan manfaat lain sesuai dengan tema summer camp-nya, seperti membaca dan menulis!

Terkait poin ini nanti akan saya bahas lebih lanjut contoh kegiatannya di akhir artikel ya, tentang Holiday Academy yang dilakukan oleh English First.

Demikian 7 cara agar anak senang membaca. Ketujuh-tujuhnya pernah saya nikmati saat saya masih anak-anak dan kerasa banget efektif membuat saya dan adik-adik saya gemar membaca sampai tua. Sebagai orang tua pun, di tengah tantangan dunia digital instan, bagaimanapun kami juga berusaha supaya anak-anak tetap gemar membaca sumber yang sahih. Supaya manfaat yang saya sampaikan di awal artikel tadi bisa tercapai. Aamiin ya Buk Ibuuuukkkkk…..

Oiya, selain 7 tips di atas, saya juga mau kasih info tentang kegiatan summer camp yang diadakan oleh English First sebagai berikut. Semoga infonya bermanfaat yaaa!

Holiday Academy (English First)

Menjelang liburan ini, English First via EF English Center for Kid and Teens merancang program Holiday Academy. Kegiatan yang durasinya antara seminggu s.d. empat minggu yang dirancang sebagai kegiatan edukatif yang fun buat anak. Jadi anak bisa tetep seru-seruan liburan dengan teman baru sambil belajar menulis, membaca, story telling atau bahkan public speaking. Tergantung pilihan program yang diambil.

Berikut aku infokan programnya ya….

Membaca dan Menulis

Untuk si kecil yang memiliki minat di bidang menulis dan membaca, Holiday Academy memiliki dua program yaitu Reading Science (untuk anak usia 9-13 tahun) dan Writer’s Guild (untuk anak usia 11-13 tahun). Kedua program ini dirancang untuk mengasah kemampuan memahami teks dan membuat berbagai macam tulisan. Tak ketinggalan kegiatan eksperimen  yang mengasah kemampuan percakapan anak.

Bercerita dan Public Speaking

Si kecil senang bercerita dan tampil di depan umum? Holiday Academy memiliki tiga program yaitu Storytellers (untuk anak usia 3-7 tahun), Phonics (untuk anak usia 4-7 tahun), dan On Stage (untuk anak usia 9-17 tahun) merupakan program yang dapat mengasah kemampuan anak dalam mendengar, membaca, berbicara sekaligus meningkatkan kepercayaan dirinya melalui bermain peran.

Program Holiday Academy ini memiliki durasi program yang bervariasi, mulai dari 1 hingga 4 minggu. Untuk pendaftaran dan informasi Holiday Academy, kunjungi EF.ID/holidaywow dan dapatkan harga spesial. Jika Moms ingin si buah hati mendapatkan pengalaman seru belajar bahasa Inggris yang lebih lama, Moms dapat mengunjungi EF.ID/diskonmeriah untuk pendaftaran kelas reguler EF dan dapatkan diskon terbatas hingga Rp 2,45 juta beserta merchandise eksklusif! #AkuBisa jago Inggris dengan seru di EF.

Sekian sharing kali ini! Salam sayaaaaaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Pengalaman Menggunakan Essential Oils (Organic Supply dan Young Living)

review essential oil

Sebelum terlalu jauh mereview essential oil dari Organic supply dan Young Living, serta menceritakan bagaimana pengalaman menggunakan essential oil, saya pengen cerita dulu tentang kenapa dan apakah worthy menggunakan EO.

Ya, karena sebagai orang yang pelit concern sama budget, pada awalnya saya juga merasa terintimidasi dengan harga produk-produk essential oil. Siapa yang sama hayo ngakuuu? Hahaha…. Ya memang nggak bisa dibilang murah si, cairan 5 ml s.d. 20 ml dalam botol amber kok bisa sambai puluhan s.d. ratusan ribu.

Tapi dengan beberapa pertimbangan, ternyata ada yang cocok. Jadinya nggak menyesal uda splurge money on it.

Pengalaman Pertama: Organic Supply

Jadi ceritanya di awal 2018 kemarin, saya long distance marriage dengan suami. Suami di Surabaya dan Jakarta. Saya bawa Gayatri, dan memutuskan untuk ngekos saja berdua. Saya nggak menyangka, kalau keputusan LDM ini punya konsekuensi terhadap kesehatan saya. Dalam artian stres, sehingga saya kesulitan tidur dan terus-terusan merasa lelah.

Sebelumnya saya sudah pernah menyoba beberapa oil blend dari berbagai merk, dan merasakan kalau badan saya memang bereaksi bagus dengan oil. Ngefek gitu lo. Nah, dari ngobrol-ngobrol dengan teman di kantor, yang punya keluhan sama, saya mempertimbangkan untuk mencoba essential oil, yang pure bukan yang blend, untuk masalah kesulitan tidur yang saya alami.

Merk yang pertama saya beli adalah Organic Supply. Pertama karena merk ini sering dibahas di livingloving.com, web kesayangan saya. Yang kedua adalah karena lagi promo. Hihihi…. Sekalian saya beli diffusernya.

Oil yang pertama saya beli tentu saja Lavender (10 ml) ya. Selain karena oil ini tu si mother oil. Juga sesuai dengan keluhan yang saya alami: susah tidur. Sukses. Oil ini beneran membantu saya rileks dan juga lebih mudah tidur.

ps. Yang spearmint nggak kefoto karena uda abis juga dan botolnya entah kemana.

Worthy or Not?

Hal ini bikin pembelian oil ini worthy buat saya. Karena susah tidurnya saya ini sudah mengganggu banget ya. Saya jadi sering nggak bisa mikir kalau di kantor. Emosi juga jadi nggak stabil, karena kurang tidur. Pekerjaan terbengkalai. Pun saya kawatir, kalau emosi saya nggak bagus akan buruk dampaknya pada perlakuan saya ke Gayatri.

Ngeri aja si, mengingat saya hanya berdua dengan anak di kosan.

Karena kesuksesan oil yang pertama, kemudian saya beli oil berikutnya: Clary Sage, Spearmint dan Tangerine. Ketiganya saya beli yang ukuran kecil 5 ml.

Clary Sage untuk membantu saya mengurangi rasa nyeri haid. Spearmint karena saya sering pilek (sebenarnya saya pengen Pepermint, hanya karena waktu itu Gayatri masih bayi banget, jadinya memilih Spearmint yang lebih mild, due to extra cautious). Kemudian kalau yang Tangerine, ini murni karena diskooooon 70%, wkwkwkwk.

Dari ketiga oil terakhir, yang menurut saya worthy adalah yang Clary Sage, karena berasa banget manfaatnya pas haid ya. Yang Spearmint, nggak terlalu ngefek di saya, tapi dimaafkan karena baunya enak dan jadi kombonya Clary Sage yang kurang saya suka baunya.

Tangerine ini ni yang saya nyesel beli, wkwkwkwk. Saya nggak suka baunya juga soalnya, manfaatnya juga ga jelas buat saya. Untunglah, saat saya pindah ke Surabaya, ternyata suami suka bau citrusynya. Jarang banget dia suka wewangian, bisa dibilang anti banget buat fragrance sintestis malah. Giliran kenal Tangerine oil, jadi malah oil ini yang pertama kali habis, karena suami saya boros kalau diffuse.

Lesson Learn

So, lesson learnnya adalah worthy atau enggaknya oil adalah tergantung kita milihnya. Riset dulu apa kebutuhan kita, dan juga jangan lupa riset juga oil apa yang tepat. Daaaannnn, riset juga bagaimana menggunakannya dengan tepat.

Saat itu, saya biasa pakai oil dengan tiga cara: diffuse, dillute di sabun bastille dan semprot. Saya nggak akan cerita lebih lanjut bagaimana bagaimananya ya, please riset dan sesuaikan dengan jenis oil yang digunakan serta kondisi masing-masing.

Sebenernya riset ini by googling juga bisa ya. Saya juga beli satu ebook terkait ini. Tapi jujur, sebagai newbie, adakalanya saya merasa lebih afdol kalau ada yang sharing dan kasih insight bagaimana menggunakan EO. Nah kebetulan, saya memang punya temen yang distributornya youngliving, namanya Mom Elly. Pas saya posting foto diffuser dan EO, dia DM, kita ngobrol-ngobrol dan berujung pada saya nyobain Young Living juga.

Pengalaman Kedua: Young Living

Oil pertama yang pernah saya coba dari Young Living, teteuuuup adalah Lavender (20 ml)!

Dari Mom Elly ini saya dapat tips penggunaan oil selain tiga cara tadi. Yaitu dengan dioles di kulit. Dari Mom Elly ini juga saya jadi ngeh kalau lokasi pengaplikasian oil di tubuh kita pun punya pengaruh yang berbeda-beda terhadap hasil yang diharapkan.

Untuk pertama kalinya juga, saya menggunakan EO di Gayatri (sebelumnya pernah juga coba oil blend untuk bayi) dengan oles dan diffuse. Dan sukseeees lagiiiii!!!

Duh seneng banget saya, soalnya pas lagi masa sapih kan. Dan Gayatri memang sempat beberapa saat susah bobok dan agak rewel. Cerita selengkapnya saya pernah cerita di artikel Sapih part 2.

Perbandingan Organic Supply x Youngliving

Kalau mau membandingkan antara Lavendernya Organic Supply dan Young Living. Yang saya rasakan si, untuk baunya, Organic Supply terasa lebih “manis” gitu, sementara yang Young Living lebih kerasa berat ya langunya. Kalau untuk urusan mengatasi kesulitan tidur yang saya alami, keduanya works well. Tapi kerasanya kalau pakai Young Living boboknya lebih pules. Ini dialami juga sama Gayatri dan suami ya, sepengamatan saya.

Worthy or Not?

Jadi kalau ditanya lagi, apakah worthy Lavendernya Young Living? Saya bilang si, buat kasus saya, worthy. Terlebih kalau YL bisa nanya-nanya ya, support groupnya lebih oke kalau saya bilang.

Cuma kalau ditanya tentang, apakah klaim tentang pengobatan dan penyembuhan berbagai macam penyakit itu benar, untuk kedua merk, saya no comment. Karena pengalaman saya sebatas mengatasi susah tidur dan anak rewel ya, belum pernah untuk penyakit yang macam-macam, jangan sampai ya, aamiin.

Walaupun demikian, kedua hal tadi walaupun terdengat sederhana tapi berujung pada kenyamanan dan kualitas hidup saya sebagai ibu. :)

Yap! Poin utamanya buat saya adalah meningkatkan kenyamanan saya kualitas hidup, jadi buat saya pribadi, penggunaan oil ini bukanlah pengganti obat maupun treatment dokter saat sakit. Namun mendukung kesehatan sehari-hari agar lebih bugar body and mind

Yap! Poin utamanya buat saya adalah meningkatkan kenyamanan saya kualitas hidup, jadi buat saya pribadi, penggunaan oil ini bukanlah pengganti obat maupun treatment dokter saat sakit. Namun mendukung kesehatan sehari-hari agar lebih bugar body and mind.

review essential oil

Where to buy:

Organic Supply: pernah beli di webnya https://www.organicsupply.co.id/ dan di official storenya di tokopedia. Follow akun IGnya buat update promo diskonnya. Kekurangannya adalah kita nggak bisa konsultasi ya. Mereka menyediakan informasi umum penggunaan EO di blognya.

Young Living: bisa dibeli di temen akoooh, bisa tanya-tanya aja dulu via DM di IGnya @pristinelly. Dia bukan yang tipe bakal menerormu dengan promosi-promosi gitu kok, jangan kawatir hihihi…. Mom Elly juga enak ditanya-tanya santai si tentang pengalaman menggunakan produk ini.

Gitu saja kali sharingku tentang pengalaman menggunakan essential oils dari kacamata konsumen dua merk di atas ya. Jadi aku nggak terlalu banyak cerita tentang ingredients, dll, hanya fokus ke mengapa saya menggunakan, apa manfaat yang saya rasakan dan pendapat saya tentang worthy atau tidaknya produk-produk di atas. Saya harap sharing kali ini bermanfaat yaaa! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share