Kecanduan Gadget, Sikapi dengan Santai tapi Serius

“Halo Sili…. Yutub Bebibas Indonesia,” celetukan Gayatri menirukan Bapaknya kalau sedang bukain dia YouTube Babybus. Spontan saya ngakak, sok iye banget gayanya. Hihihi…. Iya, gadget bukanlah sesuatu yang kami antipati dalam membesarkan Gayatri. Bisa dibilang cukup santai. Tapi kami pun tidak terlalu jor-joran memberikan akses gadget padanya. Ada batas-batas tertentu agar dia tidak mengalami kecanduan gadget.

Kenapa kami, walaupun tidak antipati tapi tetap, memberikan batasan secara serius? Karena kami ingin bayi kami tidak kehilangan kesempatan berkembang menjadi “manusia yang utuh” dari lingkungannya.

  1. Sosial dan Emosi. Kami menginginkan bayi kami maksimal dalam belajar berinteraksi, agar emosinya berkembang dengan baik. Patner yang tepat agar anak memiliki pengalaman emosi (bahagia, sedih, marah, dll), tentunya adalah dengan orang tua atau manusia lain. Karena, bagaimanapun baiknya sebuah teknologi saat ini, saya rasa sulit untuk menandingi manusia asli yang adalah “true learning patner” dalam hal perkembangan sosial dan emosinya. Saya menggaris bawahi perkembangan sosial dan emosi ya, karena usia 0-10 tahun memang kritis. Terutama di bawah usia 2 tahun, anak belum bisa memahami perbedaan interaksi dengan manusia dan dengan gadget (interaksi touch screen gadget misalnya).
  2. Fisik dan motorik. Yang kedua adalah menghindarkannya dari kemalasan bergerak. Hal ini berlaku untuk banyak hal. Termasuk bahkan mainan lainnya. Kami berusaha sebisa mungkin memilih mainan yang mendukung anak lebih banyak bergerak. Kami lebih strict karena gadget, apapun itu, karena gadget memiliki kemampuan atractive yang lebih besar. Tidak bisa dipungkiri kan, orang tua saja banyak yang sulit lepas.

Berikut pengalaman kami hidup bersama gadget dan seorang toddler.

Working Mom, Daycare dan Gadget

Bisa dibilang sampai Gayatri berusia 2 tahunan, saya cukup ketat terhadap penggunaan gadget. Melihat YouTube pun hanya hitungan jari dalam satu semester saat usianya di bawah 2 tahun. Biasanya, kesempatan dia nonton kalau ikut saya ke kantor. Gayatri akan menonton di komputer sebelah saya dan itu pun tidak lama – dia lebih tertarik pada kertas dan spidol. Menggunakan handphone untuk menonton video (yang sudah didownload) pun biasanya karena ikut-ikutan sepupunya.

Terdengar idealis ya? Wkwkwk….

To be honest, saya tidak akan menyombongkan keberhasilan menerapkan aturan secara strict tersebut sebagai hasil dari kedisiplinan saya. Nope. Soalnya kan dulu saya daycare ya. Jadi, tantangan untuk memberikan gadget ke anak memang rendah. Karena sepanjang hari saya di kantor, dan anak di daycare yang program kegiatan sehari-harinya sudah terorganisasi dengan baik.

Blessing in digust, ya…. Ketemu anak, cuma beberapa jam sehari, jadi beneran aware untuk memanfaatkan dengan uyel-uyelan. Nggak perlu YouTube ini mah. Orang saya ke toilet aja, Gayatri ikut. Hihihi….

Related post: Working Mom dan Rasa Bersalah

Ibu Rumah Tangga dan Juggling Pekerjaan yang Tiada Habisnya

Ketika akhirnya saya cuti panjang, dan menjadi ibu rumah tangga, otomatis fasilitas daycare saya tinggalkan. Pengalaman ini, membuat saya menyadari perjuangan membersamai anak sepanjang hari itu menantang banget. Soalnya, selain mengasuh anak, ada pekerjaan rumah yang ada aja. Hihihihi, curhat. Saya tahu persis, karena selama setahun ini saya sudah merasakan sebagai ibu rumah tangga.

Kalau uda kepepet, keinginan untuk menyodorkan gadget supaya anak anteng itu besar banget ya, Boook! Ada yang senasib? I feel youuu! Wkwkwkwk….

Terutama kalau sedang melakukan adegan berbahaya di dapur: NGGORENG AYAM. Minyaknya kan meleduk leduk tu. Biasanya demi keadaan lebih kondusif, saya akan mengamankan Gayatri di luar dapur. Cara paling mudah tentu dengan pakai gadget atau tivi. Daripada bahaya kaaaan…. #pembenaran wkwkwk….

Kondisi berikutnya adalah ketika saya sakit. Itu juga sering melonggarkan aturan main gadget di rumah. Pokoknya kondisi di mana saya nggak bisa menyiapkan kegiatan bermain lainnya. Seperti juga kalau saya sedang ada pertemuan dengan teman-teman, atau sedang dalam perjalanan (bandara, dst).

Hasil dari Pola Asuh Sejak Bayi

Hanya yang patut saya syukuri, walaupun aturan mengakses gadget cukup melonggar sejak usia 2 tahun, adalah kondisi Gayatri yang tidak terlalu nyandu dengan gadget. Misal ada pilihan mainan lain, Gayatri masih sering memilih mainan atau aktivitas lain. Pun kalau mau nonton pun, masih dalam batas kooperatif.

Kalau saya perhatikan lagi, hal tersebut karena sudah terbentuk polanya sejak bayi, tidak terlalu tergantung pada gadget. Semoga hal ini bisa kami pertahankan ya. Aamiin….

Ada beberapa poin yang saya jadikan patokan sebagai early warning system untuk mengevaluasi apakah anak kecanduan gadget atau tidak. Hal itu adalah tanda-tanda kecanduan gadget pada anak adalah sebagai berikut:

  1. keasyikan,
  2. kurangnya kemampuan mengontrol diri,
  3. menarik diri (enggan) bersosialisasi.

Untuk menghindari hal tersebut, kami meminimalisasi aktivitas main gadget sebagai aktivitas utama anak di rumah. Berikut adalah beberapa langkah sederhana yang kami lakukan:

  1. Melakukan aktivitas fisik (motorik kasar) minimal 1 jam sehari. Seperti berjalan, perosotan, jumpalitan, dst. Kalau pagi diawali dengan olahraga, biasanya seharian anak jadi cukup aktif, dan tidak minta nonton. Kalaupun lelah, dia akan tidur siang. Kalau aktivitas fisiknya kurang, anak tidak mengantuk, sementara Ibuknya (saya) sudah melambaikan tangan ke kamera. Wkwkwkwk, jadi nonton deh…. LOL.
  2. Membatasi screen time per 30 menit. Biasanya saya lakukan dengan alarm, karena Gayatri belum tahu konsep waktu. Jadi kalau alarm sudah berbunyi, waktunya mematikan handphone/ iPad/ televisi. Bagaimana kalau dia minta tambah waktu? Biasanya tetap distop, main yang lain dulu, baru nanti boleh nonton lagi. Pengecualian 30 menit ini kalau saya sakit, atau kami sedang di luar rumah dan tidak memungkinkan saya bermain bersamanya.
  3. Menyediakan prepared environment. Diadaptasi dari konsep Montessori, prepared environment yang saya maksud adalah, lingkungan di rumah yang memudahkan anak untuk beraktivitas. Seperti halnya, buku dan mainan saya letakkan pada tempat yang mudah dijangkau dan terlihat, dst. Hal ini membuat anak memiliki pilihan lain selain main gadget. Tentu saja, kebiasaan dari kecil juga mendorong anak untuk “merasakan enaknya” mainan lain.
  4. Terkait nonton YouTube, saya lebih senang kalau pakai TV daripada laptop, iPad atau handphone. Selain karena aktivitas saya sering membutuhkan ketiga hal tersebut, gadget yang berlayar sentuh membuat anak saya lebih betah, karena bisa diutak-utik. Berbeda dengan TV yang harus pakai remote, lebih cepat membuatnya bosan. Selain itu, jarak pandang mata dengan televisi juga lebih jauh.
  5. Tidak meninggalkan Gayatri bermain gadget seorang diri. Kalaupun sambil saya sambi melakukan pekerjaan rumah, saya tetap melakukan interaksi selama dia menonton. Misal, ditanya, nonton apa, atau minta dia menceritakan kembali apa yang dia tonton.
  6. Waktu makan dan waktu tidur, no gadget di antara kita semua.

Batasan yang kami pilih bukanlah hanya pada gadgetnya, namun melihat lebih utuh kepada aktivitasnya selama seharian.

Saya dan suami juga sama-sama paham, jadi bisa saling mengingatkan kalau sekiranya mulai muncul tanda-tanda kecanduan, seperti keasyikan. Itu, berarti tandanya kami akan memperketat lagi aturannya. Begitu saja si. Jadi tidak terlalu paranoid, namun tetap memiliki parameter yang jelas sebagai pengingat orang tua.

Tantangan Terbesar: Diri Sendiri sebagai Orang Tua

Tantangan terbesarnya sebenarnya ada pada saya pribadi, bagaimana tetap konsisten. Beberapa kali sudah ditegur suami untuk mengurangi screen time (saya), agar Gayatri tidak tertrigger untuk kepoin gadget yang saya pakai. Hihihi….

Tantangan berikutnya adalah untuk menjaga kesehatan saya sendiri, supaya selalu fit. Karena kembali ke tujuan pertama kami di awal tentang perkembangan sosial dan emosi, “mainan” terbaik untuk anak adalah orang tuanya. Kalau saya fit, Gayatri minta bermain apa aja, selama apapun sepertinya bisa dijabanin deh. Tapi kalau encok…. Adududududu….

Related Post: Mitos dan Strategi Mengenalkan Gadget pada Anak (oleh Girly Saputri)

Demikian pengalaman di keluarga kami terkait kecanduan gadget. Mungkin tidak sempurna ya, tapi semoga tetap ada manfaatnyaaaa! Salam sayaaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Awww!!! Menghilangkan Bulu Ketiak Tanpa Rasa Sakit dengan Erhair Removeasy

Rambut ketiak atau yang juga sering disebut bulu ketiak adalah sesuatu yang sebenarnya alami tumbuh saat tumbuh dewasa. Namun, pertumbuhan yang berlebihan seringkali mengganggu penampilan. Adanya rambut yang tumbuh tidak beraturan, menimbulkan kesan tidak bersih dan jorok. Iyuuuhhh…. Siapa yang mengalami masalah sulit menghilangkan buku ketiak ini? Tos dulu, kitaaaa!

Menghilangkan bulu ketiak dengan berbagai cara pernah saya coba. Dari mencabut, mencukur dan juga dengan krim. Namun, hasilnya belum memuaskan.

Seperti cara mencabut, cara ini selain ribet, karena harus nyabutin atu-atu sampai leher pegel, juga menimbulkan rasa sakit. Jangankan sakit karena waxing, sakit karena dicabut satu-satu saja saya nggak tahan. Rasa sakit itu akibat luka di bekas cabutan. Kadang malah terbentuk seperti jerawat kecil akibat infeksi. Jerawat kecil-kecil tersebut membuat kulit saya tampak seperti kulit ayam mentah yang habis dicabut bulunya. Brudul-brudul gitu. Sedih deh.

Mencukur pun tidak kalah menyakitkan, seringkali timbul iritasi ringan yang menimbulkan warna kehitaman di ketiak. Dan biasanya akan tumbuh rambut yang lebih tebal dan keriting di bekas area cukuran.

Saya saat melihat information book sambil registrasi.

Beruntung saya dapat info tentang treatment ERHAIR Removeasy Hair Removal by IPL dari Mbak Caca, kenalan saya. Treatment ini bertujuan untuk menghilangkan rambut yang tidak diinginkan pada bagian tubuh tertentu. Prosesnya menggunakan teknologi Intense Pulsed Light (IPL) di Erha Apothecary & Erha Clinic.

Karena di dekat rumah saya kebetulan ada Erha Clinic, saya berniat mencobanya. Hihihi, soalnya dengar-dengar, metode ini tu prosesnya cepat, tidak sakit dan juga bisa menghilangkan rambut secara permanen. Kan menggiurkan tu….

Berikut adalah pengalaman saya mencoba ERHAIR Removeasy. Sebelumnya, saya kasih warning dulu kalau nanti mungkin akan ada gambar ketiak yang muncul. DISGUSTING PICTURE ALLERT. Tapi saya mohon izin untuk tetap menampilkannya ya, supaya teman-teman yang kemarin di IG nanya tentang proses detail dan before after treatment bisa dapat gambaran yang jelas.

Suasana di Lantai 1 Klinik Dermatologi Erha Clinic

ERHAIR Removeasy Hair Removal by IPL

Seperti disebutkan di atas, treatment ERHAIR Removeasy Hair Removal by IPL ini adalah tindakan medis yang menggunakan teknologi Intense Pulsed Light. Teknologi ini berbasis sinar/ cahaya yang berspektrum luas.

Cara kerjanya adalah dengan menembakkan sinar ke area yang rambutnya ingin dihilangkan. Sinar yang dihasilkan akan diubah menjadi energi panas dan saat mencapai folikel rambut, sinar tersebut akan diserap oleh melanin rambut. Dengan demikian, folikel rambut akan mengalami regresi, yang diharapkan menyebabkan pengurangan ketebalan rambut (rambut yang tumbuh lebih halus), pengurangan pigmen rambut, rambut rontok dan mencegah pertumbuhan rambut kembali.

dr. Cahyangi Abi Saka menjelaskan proses treatment
Sumber: digambar ulang dari penjelasan dr. Cahyaning Abi Saka.

Pada gambar di atas, tampak bahwa rambut akan rontok dengan sendirinya selama dua minggu setelah perawatan. Kurang lebih 70% rambut/ bulu ketiak akan hilang secara permanen dan sisanya akan tumbuh lebih halus dan tipis. Apabila tindakan hair removal dilakukan secara terus menerus (4-5 kali) sesuai prosedur yang dianjurkan, maka akan memberikan hasil yang permanen.

Selain info di atas, dr. Cahyangi juga memberikan info bahwa energi dari sinar tersebut dapat menghancurkan pigmen di dalam kulit, mengurangi produksi minyak di kulit, mematikan rambut, hingga merangsang pertumbuhan serat kolagen kulit (peremajaan). Sehingga nantinya kulit ketiak akan menjadi lebih cerah dan sehat.

Dokter Cahyangi juga memberi infor beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pasien sebelum datang untuk treatment:

  1. Sebaiknya tidak berjemur sebelum melakukan treatment.
  2. Hindari infeksi.
  3. Jangan melakukan waxing 3-4 minggu sebelumnya.

Tahapan Pelaksanaan Treatment Hair Removal

Berikut adalah gambaran tahapan pelaksanaan treatment ERHAIR Removeasy Hair Removal by IPL:

Tahap demi tahap pelaksanaan treatment.

1 . Konsultasi dengan Dokter

Sebelum treatment dilaksanakan, perlu konsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Dalam sesi konsultasi ini, dokter akan menginfokan tentang IPL, memberikan gambaran treatment yang akan dilakukan lalu menjelaskan beberapa hal yang harus dijaga after treatment.

2 . Persiapan Treatment

Kemudian suster akan membersihkan area ketiak terlebih dahulu. Jika teman-teman belum bercukur sebelumnya, tidak usah kawatir karena nanti akan dibantu dicukurkan terlebih dahulu. Kemarin dr. Cahyangi juga menganjurkan, sebaiknya memang tidak dicukur sendiri agar menghindari iritasi. Karena treatment tidak dapat dilakukan apabila kondisi kulit sedang iritasi.

Kondisi kulit sebelum treatment juga didokumentasikan oleh pihak klinik. Pada tahap ini, mesin terkomputerasi, yang digunakan untuk mengatur kekuatan sinar dinyalakan.

3 . Dokter menggambar area ketiak yang akan menjadi area IPL menggunakan pensil berwarna putih.

4. Suster memberikan gel pada area IPL.

Gel gunanya menjadi medium, sehingga alat IPL tidak langsung kontak dengan kulit. Sehingga menghindari terjadinya iritasi. Selama treatment, gel ini dibersihkan dan ditambah sesuai dengan kebutuhan.

5 . Proses penyinaran.

Proses penyinaran dilakukan oleh dokter, mengingat hal ini adalah tindakan medis. Saat proses penyinaran, mata saya ditutup menggunakan penutup mata.

6 . Proses pembersihan akhir dan pemberian sunblock pada area IPL.

Teman-teman juga dapat melihat video berikut untuk mendapat gambaran yang lebih nyata atas pelaksanaan tahapan menghilangkan rambut/ bulu ketiak menggunakan teknologi IPL di Erha Clinic:

Before and After

Sebagaimana gambar di bawah ini, kondisi sebelum treatment saya ada beberapa daerah berwarna kehitaman akibat sering dicukur menggunakan pisau cukur (area yang ditunjukkan dengan garis putus-putus). Selain itu juga ada masalah seperti jerawat kecil.

Setelah perawatan, daerah yang kehitaman mengecil/ warna kehitamannya memudar. Saya tidak mengalami kemerahan maupun bula (lepuh). Karena saya menuliskan artikel ini beberapa hari setelah treatment, hasil rontoknya rambut/ bulu ketiak belum tampak. Akan saya tambahkan di akhir bulan Oktober ya.

Kondisi ketiak sebelum dan sesudah treatment.

Kalau biasanya setelah cukur, saya mengalami perih dan jerawat, paska IPL saya tidak mengalami masalah tersebut. So far, saya senang karena tidak ada efek samping yang saya alami. Tinggal menunggu hasil bulu ketiak/ rambut rontok saja.

Apa yang harus diperhatikan setelah treatment:

Berikut adalah hal-hal yang dipesankan oleh dokter dan saya praktikkan setelah treatment.

  1. Minimal lima hari setelah treatment, hindari aktivitas yang menyebabkan timbulnya keringat berlebih (seperti fitness), berenang, dan sauna. Selalu gunakan sunblock sebelum melakukan kegiatan.
  2. Tidak diperbolehkan untuk menyabut paksa rambut halus yang tumbuh paska perawatan, karena akan rontok dengan sendirinya.
  3. Apabila terjadi kemerahan, kompres area tersebut dengan icepack/ kompres dingin. Apabila keluhan berlanjut hubungi dokter (kontak ke Erha Clinic).
  4. Mengulang treatment dalam periode 3-5 minggu untuk hasil yang lebih optimal. Saya sendiri diminta untuk ulang treatment di awal bulan November.
  5. Menghindari tanning selama 3-6 bulan setelah treatment.

Pelayanan di Erha Clinic Rungkut

Saya datang di hari Minggu pagi pukul 10.00 WIB, saat itu saya mendapatkan antrian pertama untuk treatment. Dari administrasi, konsultasi sampai dengan treatment, saya rasa pelayanan di Erha Clinic Rungkut sangat sopan, informatif dan helpful.

Dokter, suster dan ruangan treatment.

Untuk ruang tunggu di lantai 1 bergabung dengan Erhastore yang menjual skincare product on the counter. Ruangannya tidak terlalu luas, namun cukup nyaman. Ruang tunggu di lantai 2, dekat dengan ruang konsultasi dokter, lebih lega dan tetap nyaman. Di ruang tunggu lantai 2, dilengkapi dengan toilet yang bersih.

Ruangan treatmentnya juga cukup nyaman dan bersih. Paling utama yang saya nilai adalah kebersihannya. Penting sekali karena kebersihan di klinik kecantikan ini menyangkut kesehatan juga.

Selain kebersihan, saya mengapresiasi dokter dan susternya. Kebetulan saya ditangani dr. Cahyangi Abi Saka, dibantu suster Fani. Saat konsultasi, apa yang saya tanyakan dijawab dan dijelaskan dengan baik. Dokter juga tidak menutup-nutupi risiko yang mungkin timbul dan menjelaskan juga bagaimana penanganannya jika hal itu terjadi (kemerahan).

Fequently Asked Questions

  • Sakit atau tidak? Saya tidak merasakan sakit. Ketika penyinaran hanya terasa hangat dan sedikit silau. Di video di atas, saya tampilkan percakapan saya dengan dokter saat treatment.
  • Berapa biayanya? Untuk underarm, Single  Rp 399.000,00, Paket 5x Rp 1.795.500,00, Paket 10x Rp 3.391.500,00. Biaya administrasi Rp 15.000,00 dan biaya konsultasi dokter Rp 150.000,00. Harga berbeda untuk area tangan dan kaki. Oiya, di bulan Oktober sedang ada promo untuk treatment ini dan juga bisa pakai OVO untuk mendapatkan cashback.
  • Bagian tubuh mana saja yang bisa dilakukan ERHAIR Removeasy Hair Removal by IPL? Underarm (ketiak), lengan/ tangan dan kaki.
  • Selain treatment ERHAIR Removeasy, teknologi IPL untuk apa saja? Setahu saya di Erha selain untuk Hair Removal, teknologi IPL juga digunakan pada treatment ERHA TRUWHITE Ultimate Radiance by IPL (dipadukan dengan diamond peel microdermabrassion). Treatment ini untuk wajah dan atau leher, dengan tujuan sehingga kulit tampak lembut, cerah dan glowing.
  • Dimana saja yang menyediakan treatment ini? ERHA Apothecary & ERHA Clinic. Untuk tahu lokasi terdekat dengan teman-teman bisa cek di website: https://www.erha.co.id/ IG Erha Official: @erha.dermatology.
  • Berapa kali treatment? Rata-rata untuk menghilangkan bulu ketiak diperlukan 4-5 kali treatment dengan jeda kurang lebih satu bulan di tiap treatment.

Namun, tentu saja, review ini berdasarkan pengalaman saya sebagai pengguna. Bukan sebagai ahli, jadi pengalaman saya tidak bisa dijadikan pengganti advice dokter ya. Jika teman-teman, memiliki permasalahan kulit dan rambut yang serius, saya rasa tetap penting untuk konsultasi langsung dengan dokter di cabang terdekat.

Semoga sharing kali ini bermanfaat ya. Terimakasih sudah membaca. Salam sayaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Dibilang “privileged”? So, what?

Beberapa waktu lalu saat Maudy Ayunda diterima di dua kampus bergengsi dunia, kata “privilege” mengemuka di dunia maya. Ada yang tonenya nyinyir, ada yang tonenya netral-netral saja. Saya pribadi merasa kata “privilege” ini netral ya.

Kecuali mungkin dibilang, “Privilege DOANG!” Ya itu si, kata DOANGnya yang jahadddd. Kata privilegenya si tetap netral.

Privilege do exist. Walaupun demikian saya juga setuju kalau privilege DOANG tidak akan cukup untuk membuat orang diterima di Stanford sekaligus Harvard. Atau pencapaian lainnya. Tetap butuh kerja keras dan komitmen untuk mencapainya.

But, still…. Privilege do exist. Maudy Ayunda sendiri mengakuinya, kok. So, what?

Privilege vs Diskriminasi

Privilege atau keistimewaan, adalah kondisi yang menguntungkan yang dimiliki seseorang/ kelompok yang membuatnya dapat mengakses fasilitas demi mencapai tujuannya. Kondisi ini dimiliki by grace, unearned power.

Kadang privilege ini sifatnya diskriminatif, namun ada juga yang tidak.

Privilege yang Diskriminatif

Dalam sejarah Amerika, kata privilege ini memang bergelimang “dosa” ya. Karena ada privilege-privilege yang menciderai hak asasi manusia. Salah satu contohnya white-skin privilege. Privilege yang mana menguntungkan satu kaum tertentu, namun MERUGIKAN kaum berkulit hitam. Kajian tentang ini merujuk pada observasi yang dilakukan oleh sosiologis W.E.B Du Bois yang dilakukan di tahun 1920an s.d. 1930an.

Di negara yang sama, kata privilege juga sempat booming lagi saat McIntosh di 1990 membahas tentang privilege yang diskriminatif terkait dengan ras dan gender. Resume kajiannya bisa diakses di White Privilege: Unpacking the Invisible Knapsack, Peggy McIntosh.

Selain menggaris bawahi kerugian yang ditimbulkan oleh pihak lain akibat diskriminasi ini, saya juga ingin menggaris bawahi jika privilege yang diskriminatif sifatnya tidak adil. Hal-hal yang terkait dengan hak asasi manusia, seharusnya bisa diakses oleh semua orang. Bukan hanya dengan privilege.

Untuk diskriminasi semacam ini, saya rasa penting untuk kita kritisi dan lawan.

Privilege yang Tidak Diskriminatif

Untuk privilege yang tidak diskriminatif, kembali aku ambil contohnya Maudy lagi ya….

Maudy punya privilege berupa ORANG TUA yang SUPPORT pendidikan, dan bisa dibilang MAMPU untuk menyekolahkannya ke sekolah terbaik sejak anak-anak. Dia bisa bersekolah di sekolah dengan kurikulum berstandar internasional setahu saya. Saya tahu sekolah ini MAHAL, karena dulu salah satu teman kos saya kerja di situ. TIDAK SEMUA ORANG bisa menikmati pendidikan dengan standar ini. Hal itu merupakan fasilitas yang mendukungnya untuk diterima di kampus bergengsi, imho. Suatu privilege.

via GIPHY

Namun, privilege di atas saya kira BUKAN privilege yang diskriminatif. Karena bagaimanapun proses seleksi masuknya menggunakan sistem MERIT. Kalau nggak ada kemampuan (hasil usaha dan komitmen) nggak bisa keterima juga keleus….

Keren banget lah, Maudy!

Privilege yang (kadang) tidak dirasakan

Saya meyakini bahwa setiap orang memiliki baik keberuntungan sekaligus kenaasan dari lahir. Dan kocaknya, walau tidak selalu, kadang keduanya berubah tergantung kapan dan dimana kita berada.

Saya sering sekali mendapat komentar, ” Enak ya, masih muda uda PNS”, karena saya PNS dari usia 20 tahun. Di luar pro kontra enak nggak enaknya, saya tetap sadar sepenuhnya kalau hal ini saya dapatkan karena privilege.

Kalau mau ditarik lebih jauh, privilege ini adalah bisa masuk PNS lewat jalur PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan) STAN. Tentunya privilege tadi TIDAK diskriminatif ya. Karena seleksi masuk STANnya pun ketat. Namun, kuota masuknya (di jaman saya) lebih besar daripada kuota penerimaan pegawai umum.

Kalau mau ditarik lebih jauh lagi, sebelum masuk STAN, saya bersekolah di SMA yang memang concern banget mengarahkan siswanya masuk PTN atau PTK. Alumni-alumninya pun banyak yang sebelumnya diterima ke sana dan sering kembali ke sekolah untuk memberi info sekaligus try out. Informasi dan pelatihan tersebut, membuat kami memiliki banyak amunisi dan pilihan melanjutkan pendidikan.

Kalau mau ditarik lebih jauh lagiiiiii, semua mungkin bermula karena Kakek Buyut saya yang kebetulan lahir dengan titel Raden. Karena status darahnya, dia memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Hal tersebut kemudian juga ditularkan ke Kakek dan Nenek saya.

Jaman dulu, menurut Kakek, bisa sekolah itu privilege banget. Terdengar nggak adil kan ya? Tapi saya tetap bersyukur atas privilege itu, karena kemudian saya pun menikmati hasil pendidikan itu.

Nenek saya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat, yang mana juaraaaaang banget dirasakan oleh seorang perempuan di jaman beliau. Pikirannya yang maju, membentuk anak-anaknya, generasi orang tua kami, untuk mandiri. Hal memberikan generasi saya peluang yang besar, karena kami, generasi para cucu, tidak menjadi sandwich generation.

Kami bisa lebih leluasa untuk memilih dan juga berusaha, meraih nasib baik kami tanpa “terbebani” generasi yang lalu.

Terimakasih, Kakung Uti!!!!!

Jadi kalau ada yang komentar, “Enak ya jadi alumni STAN, lulus langsung jadi PNS.” Ya saya nggak akan baper. Nggak juga bakal mengungkit-ungkit usaha kami setiap hari agar tidak didrop-out. Nggak juga mau inget-inget berapa ribu orang yang kami lengserkan saat seleksi masuk. Nggak juga sedih karena sebenarnya saya pengennya masuk FSRD ITB dan jadi seniman digital aja. Kagak.

Kalau ada yang komen begitu, jawaban saya, “Iya, alhamdulilah ya, sesuatu.”

Pentingnya menyadari privilege

Rendah hati.

Nggak ada satu orang pun yang survive sendirian. Makanya dibilang manusia adalah homo socialis. Ketika kita sadar, kita berhasil meraih sesuatu bukan hanya semata-mata usaha kita sendiri, kaki kita tu tetap nancep ke tanah. Down to earth.

Sejauh apapun pencapaian kita, kita nggak akan jadi kacang yang lupa sama kulit. Kita menjadi orang-orang yang tahu berterimakasih kepada siapapun yang menunjukkan kita jalan, hingga lebih cepat sampai ke ujung maze perjuangan ini.

Tidak Membandingkan.

Kesadaran akan adanya privilege, menurut saya juga penting supaya kita TIDAK perlu saling MEMBANDING-BANDINGKAN pencapaian. Lha wong startnya beda. Jalurnya beda. Seperti lari maraton, beda-beda perjuangannya.

via GIPHY

Yang penting kalau ada yang berhasil finish, ya mari ucapin selamat yaaaakk!!! Turut berbahagia saat orang lain bahagia, kan nggak ada ruginya….

Dan kalaupun ada yang melabeli kita dengan kata “privileged” secara nyinyir, percayalah sebenarnya orang tersebut BUKAN sedang menyerang persona kita. Mungkin mereka hanya sedang merefleksikan kekecewaan, pengalaman dan masa lalu mereka sendiri. Jadi, so what gitu loh? Yang penting kita tahu kalau privilege yang kita miliki bukanlah yang diskriminatif.

Temenku, Girly punya opini yang berbeda ni. Dia tulis di artikelnya: Privilege, Sudut Pandang yang Berbeda. Silakan dikunjungi, karena opini yang berbeda itu seru dan bisa menambah wawasan.

Terimakasih sudah berkunjung! Salam sayaaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share