Rasa yang Dulu Pernah Ada

Gegara baca postingan Kresnoadi tentang permen karet. Saya jadi termanggut-manggut. Asem. Lagi-lagi ni mantan bocah kribo ini membuat saya berpikir serius pada ujung cerita, setelah terlena sama panjang guyonannya.

Kan kesel, harusnya di ending kita uda santai santai, ini malah jadi mikir.

Yang mau baca silakan ke sini ya….Yang ga mau baca ya nggak papa juga si. (Sorry Di, wkwkwk) Biar related saya mau kutip kata-kata Adi tentang ngunyah permen karet:

“Sewaktu dewasa, gue sadar kalau dengan makan permen karet, kita diingatkan bahwa semakin kita merasakan hal yang sama, berulang-ulang, berkali-kali, rasanya pasti memudar.”

Saya jadi mikir tentang pernikahan.

Pernikahan kami. Pernikahan saya dan suami maksudnya ya, bukan saya sama Kresnoadi.

Saya dan suami baru menikah selama tiga tahun kurang 14 hari. Masih seumur jagung. Tapi saya akui sebagian rasa di antara kami telah memudar. Bukan berarti sedang ada masalah di antara kita. Ya, kami tetap saling menyintai si walaupun sering berantem juga seperti yang pernah saya ceritain di Ribut Rukun.

Tapi tetep ada rasa yang dulu pernah ada, lalu sekarang memudar.

Hal-hal sepele si sebenernya….

hehehe

Misalnya nih, nggak ada lagi rasa sriwing sriwing saat saling bersentuhan tangan seperti jaman dulu pacaran.

Beeeuugghhh! Jangankan sentuhan tangan kan ya. Lihat pagar rumah gebetan jaman dulu aja rasanya jantung mau copot. Iya nggak sih? Apa saya aja yang jantungnya lemah ya? Lhah kalau sekarang, pagar rumah dia kan pagar rumah kita jugak…. Masa iya, mau copot terus.

Trus lagi, nggak ada lagi percakapan romantis bertabur senyum-senyum malu yang tulus, semacam “Kamu cantik/ tampan deh.” Kalaupun ada, yakin dah itu pasti ada maunya. Mwahahaha…. “Kamu tampan deh pak, hari ini, aku uda check out Tokopedia transferin yaaa….”

Ya gitu…. Sun sayang setiap pagi, kewajiban. Sun muah muah setiap malam, ya rutinitas. Seneng si, tapi beda rasanya.

Rasanya not so roller coaster anymore.

Buat yang uda nikah lama, mungkin nangkep ya maksud saya.

***

Tiga tahun kurang 14 hari mungkin waktu yang cukup lama untuk membuat gejolak kawula muda sedikit mereda. Namun, sebenarnya adalah waktu yang masih sangat singkat untuk sebuah pernikahan. Mengingat perjanjian setia sampai salah satu dari kami mati ini masih lama sekali.

Kalau dihitung-hitung harapan hidup manusia Indonesia sampai 60 tahunan kan berarti masih ada sekitar 30 tahun lagi. Ya, kalau beruntung sampai usia 70 tahun kan berarti 40 tahun lagi.

via GIPHY

Saya jadi ingat, dulu saat konseling pra nikah, Pak Pendeta (konselor kami) pernah memperingatkan juga tentang hal ini. Bahwa dalam pernikahan ada kalanya rasa (asmara) itu memudar. Beliau menggunakan kata “eros” sebagai kata yang menjelaskan rasa asmara itu.

Sesuatu yang normal jika eros memudar. Fisik manusia kan terus menurun. Normal-normal saja. Sesuatu yang normal juga jika eros bisa diusahakan kembali, kayak di film The Notebook itu lo.

setrong

Tapi ini penting!

Memahami kalau rasa yang dulu pernah ada itu bisa memudar, buat saya itu sesuatu yang sehat si. Biar ekspektasi kita terhadap romantisme pasangan itu ya nggak melulu tinggi.Biar nggak kecewa, kalau pasangan kadang ya lempeng-lempeng aja gitu. Ya memang normal begitu. Walaupun kalau mau diusahakan biar lebih happy ya bagus juga si….

Memahami kalau rasa yang dulu pernah ada itu bisa memudar, juga ada baiknya. Supaya ketika kita nggak merasakan sriwing-sriwing again, kita nggak trus menyimpulkan kalau sudah sampai di sini saja perjodohan kita. Karena dengan siapapun, eros normalnya ya akan memudar seiring waktu.

Jangan njuk gampang mengkambinghitamkan jodoh.

***

Saya trus bertanya pada suami yang kira-kira kalau dieksplisitkan (dengan banyak sensor biar nggak vulgar tentunya) kira-kira seperti ini,

Saya: “Kalau tua nanti eros kita memudar, njuk piye?”

Suami (sambil ngantuk): “Ya wajar…. Tapi kan tetep sayang….”

Saya: “Sayang kayak kasih sayang sama sahabat gitu ya?”

Suami: “Ya iya, tapi pasti masih ada erosnya sedikit-sedikit. Dirawat…. Lagian kalau aku dijawil jawil juga pasti pengen.”

Saya: “Kalau erosnya pindah ke orang lain?”

Suami: “Ya, nggak usah diladeni. Makanya itu namanya komitmen.”

Suami: “Komitmen, tauk…. “

Saya: -.-“

Suami: *ngorok

via GIPHY

Suami saya hidup di keluarga yang orang tuanya berpisah. Saya mengakui, pemikirannya tentang hal ini pasti jauhhhhh jauhhhh lebih dalem daripada saya. Sambil ngantuk lumayan juga pemikirannya. 1) kasih persahabatan, 2) merawat eros dan 3) komitmen. Atau mungkin karena ngantuk, jadi itu wangsit?

*mata menerawang

Tar lah, coba saya tanya lagi kalau dia sudah sadar…. 😛

Semoga Tuhan memberkati keluarga kita semua dengan kasih dan juga komitmen ya! Karena kita nggak tahu apa yang ada di masa depan, entah seperti apa jadinya rasa yang dulu pernah ada….

Hmmmm….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Orang Tua yang Yakin

bertiga

Sebagai orang tua jaman sekarang godaan untuk tidak yakin pada pilihan sendiri cukup besar ya. Maraknya forum orang tua di sosial media, ataupun juga public figure yang share pengalamannya membuat orang tua kebanjiran informasi. Yang kadang saling bertentangan.

Informasi tentang metode A vs metode B. Komentar si anu vs komentar si ono. MPASI begini, begitu.

Kadang informasinya sendiri diembel-embeli harus begono begitu plus too much horror and teror. Harus keras kepala supaya ini nanti. Kalau enggak nanti anakmu bakal gitu lo.

Yang sini bilang harus. Yang sana juga harus. Njuk aku kudu piyeeee????

Eh, emang ada yang harus dalam dunia perparentingan ini?

Ya ada si, secara umum: kudu tanggung jawab dan penuh kasih.

Tapi bagaimana menerjemahkan tanggung jawab dan penuh kasih secara spesifik, menurut saya ya kembali ke orang tua masing-masing. Masing-masing memiliki kewenangan dan hak untuk memilih. Ga ada yang harus harus.

Karena setiap pilihan parenting memiliki alasan dan latar belakang masing-masing. Di tengah segala kelebihan dan kekurangan orang tua, sewajarnya pasti memiliki “kebijakan dan kebijaksanaan” masing-masing.

Baik buat situ belum tentu baik buat (dompet) sini. #eh

So kepada orang tua lain….

Memberi masukan boleh.
Penting malah.
Menyampaikan kebenaran, silakan.
Baik banget, malah.

Tapi memaksakan kehendak pada orang tua lain itu pelecehan. Apalagi kalau NGGAK DITANYA.

Pelecehan pada kemampuan individu untuk berpikir, dan memutuskan pilihan yang terbaik bagi anak-anaknya sendiri.

Toh orang tua mana si yang nggak menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Yang normal loh….

bertiga

Sebaliknya, sebagai orang tua….

Mendengarkan masukan itu boleh.
Penting malah.
Mempertimbangkan alternatif, juga silakan….
Yang jangan itu…. DIBAWA PERASAAN.

Hehehe….

Yah, mendengar pendapat orang lain tentang pilihan parenting kita, yang kadang kita ga minta memang bikin males si. Hahaha….

Gimana enggak cobak:

“Itu kenapa anaknya kok nangis guling-guling dibiarin aja?”
“Ih, cuma kinder joy, barang sepuluh rebu aja masa ga kuat beliin.”
“Tu lo buuuk, anaknya (4 bulan) mangap-mangap minta makan.”
“Anak tu jangan dilarang-larang makan manis, tuh jadi kurus kan.”
“Jangan bilang jangan!”
“Anaknya kurus banget, Mbak…. dikasih vitamin ini cobaaa. Anak saya bla bla bla.”

Hehehe…. Ada yang pernah digituin? Atau tapi pake versi lain?

Saya?

Ya ngalamin lah!
KAGAK pernah baper terhadap kontennya sih. Tapi kalau baper karena suami nggak menunjukkan keberpihakan pada pilihan parenting kami saat dikomentari orang, PERNAH BANGET.

Btw, setelah diusut lebih jauh…. ternyata suami saya pas itu nggak denger komentar tu orang. Makanya ga bereaksi. Wkwkwk. Tiwas uda kesel sayanya.

hehehe

Kok bisa nggak baper?

Mungkin karena sayanya emang tipe nggak punya perasaan yak. Saya perhatikan juga beberapa rekan sesama orang tua baru juga memiliki karakter yang sama. Lebih logis dibanding pakai perasaan. Maksudnya emang lempeng dari lahir gitu.

Jadinya ya susah buat bisa bawa perasaan. Tapi ada beberapa hal yang saya perhatikan dari diri kami yang bikin kami yakin dan percaya diri sebagai orang tua. (((Aseek))) Mungkin hal-hal tersebut bisa bermanfaat buat temen-temen untuk jadi orang tua yang yakin:

1 . Standar

Secara prinsip, saya nggak pernah merasa kami paling bener pilihan parentingnya. Atau juga nggak berusaha jadi yang paling benar.

Jadi kalau ada orang bilang pilihan kami nggak ideal, ya ndak papa. Emang kami ndak target jadi yang ideal kok.

Standar kami tu sederhana: pilihan kami sesuai sama kondisi kami.

Dan siapa yang paling tahu kondisi kami?

Betuuuuul!

Kami sendiri.

Berbekal kemahfuman itu, we set our self free dari standar-standar orang lain.

2 . Open Minded

Kalau ada orang lain berkomentar, nggak usah defense. Nggak perlu denial. Sikap hati dan pikiran yang pertama saya lakukan adalah bilang, “Oh, bisa jadi ya.”

Bisa jadi omongannya bener.
Bisa jadi kagak.

Seperti misal ni, ngomongin Gayatri yang penampakannya langsing bener. Saya sering banget tu dapat komentar untuk kasih ini itu ke anak.

Godaan untuk bilang, “Gapapa, yang penting anaknya aktif”, itu besar ya. Yang walaupun benar, tapi saya nggak mau bilang begitu demi denial. Hanya demi menenangkan hati saya saja.

Saya akan bilang, “Oh, iya ya? Nanti saya coba cek lagi.” Ngomong ke orang dan juga ngomong ke diri sendiri. Dan beneran saya bakal ngecek faktanya lo ya.

setrong

Ini saya sambil ngingetin diri saya sendiri juga. Bahwa sebagai orang tua harus tetap bisa open mind. Karena siapa tahu memang mata orang lebih jeli, daripada mata orang tua yang kadang subyektif ini.

Menjawab demikian akan menghentikan pendapat orang lebih nyinyir dari sebelumnya. So, risiko baper lebih dapat diminimalisasi.

3 . Data

Kita, sebagai orang tua bisa yakin dan percaya diri dengan pilihan parenting kita, ya jika kitanya sendiri benar-benar memahami pilihan kita tersebut.

Banyak baca dari sumber yang sahih tentang alternatif-alternatif yang bisa kita pilih. Ikut worshop kalau perlu. Tanya ke ahlinya kalau memungkinkan.

Get second opinion.

Pahami benar-benar.

Sehingga pondasi pilihan kita itu firm. Sudah lewat pertimbangan masak-masak dan balik lagi, dipilih yang paling sesuai dengan kondisi keluarga.

bertiga 2

Apapun jargon yang dilekatkan orang lain pada mahzab “terbaik”nya, tidak akan mengintimidasi kita lagi. Apalagi membuat kita baper dan tidak yakin pada pilihan kita sendiri.

So, selamat yakin pada pilihan masing-masing ya Nyaaaah…. tentunya jangan lupa tetap open mind dan rajin belajar! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

3 Hotel Murah Dekat STAN Bintaro

citra dream bintaro

Sebagai pejuang LDM yang tinggal di kosan, saya jadi sering booking hotel yang dekat tempat tinggal saya. Hal ini karena suami kalau sedang berkunjung nggak boleh nginap di kamar kos yang notabene ada di paviliun kos putri.

Tar ngintip lagi kan.

Kawatir suami ngintip?

Kebalik! Kawatir temen kos yg ngintip suami! 

Wkwkwk nggak ding!

Ya memang aturan kos begitu. Ya dijalani aja. Mantranya ya itu: dijalani dan diakali aja.

Ngakalinnya gimana? Ya nyari hotel yang 1) murah meriah tapi masih 2) family friendly yang terjangkau jarak dan budget. Saya khususon sebut dekat dengan kampus STAN biar ngebantu para orang tua mahasiswa sekalian ya. Pasti banyak kan yang butuh info hotel dengan dua kriteria di atas. Apalagi kalau menjelang maba masuk, rencanakan dan booking hotel jauh-jauh hari ya….

Kriteria 1. Murah Meriah

Hotel murah meriah buat saya itu berarti under Rp 500.000,00/ malamnya ya…. syukur-syukur lagi kalau bisa under Rp 300.000,00. Gile aja kan kalau dua minggu sekali ngeluarin budget sejutaan buat booking hotel. So pasti se-family friendly apapun Hotel Shantika Bintaro, sudah pasti dicoret dari list saya karena budget constraint. Bukan berarti ga bagus hotelnya, dompet saya aja yang jadi nggak bagus kalau nginep di situ, wkwkwk….

Kriteria 2. Family Friendly

  • Kalau definisi family friendly buat saya itu sirkulasi udaranya bagus, kalau bisa kamarnya terpapar udara bebas/ matahari. Hal ini bisa diartikan kalau hotelnya menyediakan kamar no smoking. Bisa wafat saya dan Gayatri kalau pakai AC central barengan kamar yang boleh merokok. Bukannya lebay, tapi memang pernah kejadian kami staycation di salah satu penginapan (di Depok) yang sirkulasi udaranya ga bagus. Dan berakhir Gayatri masuk IGD karena sesak napas.
  • Selain itu, saya juga menggaris bawahi kemudahan mendapatkan makan. Kalau di hotel tidak tersedia restorasi, setidaknya banyak pilihan tempat makan yang mudah dijangkau atau dipesan via aplikasi ojek online.
  • Yang terakhir yang paling penting adalah BUKAN HOTEL REMANG-REMANG yang ada fasilitas ajep ajep nya. Hehehe, karena ini adaaa lo di Bintaro. Adaaaa!

Kriteria 3. Kemudahan Booking Hotel

Malas aja kan booking hotel via telepon. Atau kudu datang langsung ke hotel. Eike nenteng-nenteng bayi ciiin! Yang pesan hotel pun seringnya adalah suami yang domisili di Surabaya. Jadi bisa booking hotel via aplikasi online is a must.

So, dari tiga kriteria di atas, inilah 3 penginapan / hotel murah dekat STAN Bintaro favorit saya.

3 Hotel Murah Dekat STAN Bintaro

1 . Hotel Citradream Bintaro

Citradream jadi salah satu favorit buat saya karena aksesnya yang sangat mudah. Posisinya di samping Bintaro Plaza (BP) Sektor 3 cuy! Itu berarti mudah beli makan karena bisa beli di BP maupun Pujasera di kaki lima seberang BP. Tapi kalau mau makan di hotel pun bisa. Tersedia restorasi buat sarapan. Tapi ya B aja standar hotel bintang 2.

Hotel ini dekat Hero (kalau perlu belanja groceries atau keperluan pribadi lain) dan juga Cahaya (kalau perlu belanja pakaian). Dan kalau perlu belanja pakaian yang lebih oke, relatif dekat juga kok dengan Bintaro Exchange atau Pondok Indah Mall.

citra dream

citra dream bintaro

Foto pertama dari aplikasi pegipegi, foto kedua adalah foto kamar saat bednya saya turunkan, menghindari Gayatri jatuh, ngglundung, hehehe….

Dari hotel ke STAN Bintaro hanya sekitar 1 km. Bisa menggunakan ojek, angkot D9 sekali naik ataupun jalan kaki kalau kuat. Saya pernah jalan kaki kok sore-sore dari BP sampai kampus.

Budget: Rp 400.000,00 – Rp 500.000,00-an

2 . Kasira Residence

Ini bisa dibilang semacam apartement gitu bentuknya. Dan penginapan yang paling favorit buat saya pribadi karenaaaaa ada bathtubnya. Hehehe…. Dengan budget Rp 300.000,00-an bisa dapat bathtub tu menurut saya exceed my expectation.

Selain itu ukuran kamarnya gedeeeeee banget, jadi pas banget untuk yang menginap sekeluarga. Dan sebagaimana apartement studio, per kamarnya ada kitchenettenya ya. Tapi ga ada kompor. Hanya kulkas dan sink untuk cuci piring. Disediakan microwave di setiap lantai.

kasira 1

kasira 2

kasira 3

Foto dokumentasi pribadi.

Yang saya suka lagi, makanan di restorasi cocok banget buat lidah saya. Selera Indonesia. Jadi cocok juga buat yang bawa orang tua ke sini, ga susah nyari makannya.

Lokasi Kasira agak masuk ke gang di Sektor 7. Tapi sudah terdaftar di aplikasi ojek online kok, dan sudah banyak yang familiar. So tidak perlu kawatir dengan hal ini. Menuju STAN Bintaro hanya sekitar 10 menitan ga sampai.

Budget: Rp 250.000,00 – Rp 400.000,00-an

3 . Bintaro Homestay Syariah

Pertama kali menginap di sini, saya agak underestimate ya karena bentuk penginapannya yang agak tua dari luar. Lokasinya ada di lantai 2, di atas Bintaro Baby Shop. Harus naik tangga gitu di samping toko. Tapi setelah masuk…. hmmm ternyata hommy sekali. Penginapan ini jadi yang paling sering saya booking karena murahnya hehehe….

bintaro homestay

bintaro homestay kitchen

Foto pertama dari aplikasi pegipegi, foto kedua dokumentasi pribadi.

Ada kitchenettenya yang lengkap: sink cuci piring, alat makan, alat masak dan kulkas. Ada mesin cuci juga yang bisa dipakai, tapi jemurannya di kamar mandi atau di teras dekat tangga.

Di penginapan ini tidak disediakan makan. Tapi ada yang jual nasi kuning/ uduk pagi-pagi di deket situ. Dan nasinya enaaaaakkk! Bangun pagi ya, karena kalau agak siang uda abis sama bapak ibu komplek yang sarapan di situ.

Alamat resmi: Jl. Kepodang 8 Blok W2 No. 41 Bintaro Jaya Sektor 2 Tangerang Selatan, Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia, Bintaro.

Tips: Kalau menuju penginapan ini menggunakan aplikasi ojek online, saya lebih prefer untuk mencantumkan destinasinya: Bintaro Baby Shop – Rengas, supaya drop off di depan lobby (toko). Kalau search pakai Bintaro Homestay Syariah, akan lewat perumahan menuju samping penginapan yang dipagar dan dikunci jadi malah susah masuknya.

Budget: Rp 150.000,00 – Rp 200.000,00-an.

Oiya, penginapan ini rameeee banget ya. Dan cuma ada dua kamar, setahu saya satu kamarnya uda dibooking bulanan gitu. Jadi kalau memang mau nginap di situ, booking online jauh-jauh hari ya.

Ini aja saya cek di aplikasi pegipegi, Bintaro Homestay Syariah full book di minggu ini (nggak muncul nama hotelnya di aplikasi kalau full). Sama juga di website, saya cek ada keterangannya kalau tidak tersedia di tanggal yang saya coba search. So, cek cek dulu ya di aplikasi, daripada kecele on the spot.

How To Go:

Di bawah ini adalah peta lokasi STAN – Kasira Residence – Citradream Bintaro – Bintaro Homestay Syariah. Paling mudah si menurut saya ke ketiga penginapan di atas ya menggunakan mobil atau ojek online. Kecuali Citradream yang bisa menggunakan angkot langsung.

hotel murah bintaro

How to Booking:

Ketiga hotel murah ini ada di aplikasi travel online, dan saya lebih suka pesan online si. Berikut contoh booking hotel yang available di daerah Bintaro menggunakan aplikasi pegipegi:

3 hotel murah bintaro

Kalau teman-teman sudah berada di Bintaro, teman-teman bisa pakai fitur search hotel terdekat. Kalau pesannya dari jauh langsung ketik saja di lokasi: Bintaro, Tangerang Selatan, nanti akan muncul banyak pilihan. Buat yang sebelumnya pernah melihat hotel-hotel tersebut, historynya akan muncul di “Last Seen” atau “terakhir Dilihat”.

Yak!

Sekian review sekilas dari saya, rincian lengkap fasilitas yang disediakan si sudah ada ya di aplikasi travel online seperti pegipegi dll. Saya hanya mencoba menggambarkan ambiance riil nya saja. Semoga info ini bermanfaat yaaa….

Terimakasih sudah mampir. Kalau ada rekomendasi penginapan/ hotel murah lain di Bintaro boleh juga loh tinggalkan pesan di comment section. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Balancing Screen Time dan Play Time

screen time 2

Selamat hari anak!

Saat hari anak, yang kerap menjadi pembahasan adalah hak anak untuk memperoleh pendidikan. Dan juga hak anak untuk bermain dan mendapatkan hiburan. Kalau terkait pendidikan tentu sudah jelas ya. Yang sering abu-abu wilayahnya adalah hak bermain dan mendapatkan hiburan.

Terkait dengan hal tersebut, yang kerap menjadi bahan diskusi antara saya dan suami, adalah tentang berapa lama Gayatri (usia dua tahun) boleh menonton layar (televisi ataupun gadget) dan bagaimana kami memaksimalkan manfaat edukasi dan hiburannya di samping mengurangi efek negatifnya pada tumbuh kembang anak.

Ya, selama ini kami memang cukup selektif dan juga ketat menerapkan peraturan screen time di keluarga. Hal ini karena kami memegang beberapa prinsip penting demi kesehatan dan perkembangan fisik serta  psikologis anak. Hal-hal tersebut adalah pentingnya 1) movement, 2) sentuhan serta adanya 3) koneksi dengan manusia lain.

Kekawatiran kami yang utama adalah, karena begitu menariknya gadget membuat anak terbius dan lupa bermain, dan kami sebagai orang tua pun terlena.

screen time 1

Manfaat Screen Time

Namun tak bisa dipungkiri kami juga merasakan manfaat adanya tayangan aman yang bisa jadi metode belajar seru bagi keluarga.

1 . Suasana ceria.

Contohnya: saya menggunakan video/ lagu-lagu untuk bersama-sama senam dan menari bersama Gayatri. Ada yang namanya senam ceria, dimana ada gerakan menirukan bebek dan juga pesawat terbang. Ada bagian lagu yang liriknya, “bebek yang berenang bunyinya wek wek, bebek yang berjalan geraknya megal-megol.” Ya pada bagian tersbut saya betulan manyun-manyun seperti bebek dan berjalan megal-megol.

Suara musik yang ceria, memotivasi anak untuk semangat bergerak. Emak Bapaknya juga jadi ga canggung, hihihi…. Saat saya joget-joget tentu Gayatri happy banget dan juga ikut-ikutan bergerak demikian. Nggak hanya dapat movementnya kan, bonding dan koneksi antara anak dan orang tua juga dapet.

Momen tayangan televisi membantu “mencairkan” suasana, juga pernah terjadi di rumah  Mbah Akung. Pernah suatu kali, karena Gayatri lama tak berjumpa, Gayatri jadi takut mendekat Mbah Akung. Mulai lumer, karena Mbah Akung menyetel channel anak-anak yang ada Mickey Mousenya. Yah, ada untungnya juga ya Mbah Akung punya tv berlangganan MNC Vision. Hihihi….

2 . Referensi orang tua.

Kemudian saat saya pernah kebingungan, mau memberikan contoh bagaimana beberapa hewan spesifik bersuara, saya pun merasa tertolong karena ada video suara hewan. Hehehe…. Jadi buat referensi juga untuk saya bagaimana suara keledai, atau bagaimana suara kalkun. Kalau suara anjing atau sapi mah, saya udah khatam, hihihi….

Dua contoh di atas adalah bagaimana kami mencoba menerjemahkan screen time terbatas yang lebih bermanfaat bagi Gayatri yang memenuhi ketiga prinsip penting; 1) movement, 2) sentuhan serta adanya 3) koneksi dengan manusia lain, sebagaimana saya sebut sebelumnya.

3 . Sarana bimbingan belajar.

Untuk anak usia sekolah, saya malah pernah dengar kalau ada juga channel di MNC Vision yang bisa jadi channel bimbingan belajar gitu, untuk anak-anak usia 4 s.d. 6 SD. Besmart namanya. Ada juga channel untuk belajar bahasa Inggris dan juga belajar bahasa Mandarin.

Sebagai orang tua, kita pun harus update dengan fasilitas seperti ini ya….

screen time 2

Tips Menyeimbangkan Screen Time dan Play Time

1 . Batasan waktu.

Menuju semakin bertambah usia Gayatri, sebagaimana juga anjuran oleh American Academy of Pediatric, batasan screen time sudah boleh melonggar; maksimal 1 jam sehari untuk anak usia 2 – 5 tahun. Yang mana orang tua juga harus memilih mana tayangan yang aman untuk anak, tayangan berkualitas dan fitur terbaik untuk anak.

Tidak meletakkan televisi di ruang bermain anak dan kamar tidur anak, adalah salah satu langkah yang bisa diambil untuk mempermudah membatasi screen time anak. Soalnya kalau ditaruh di dua tempat yang sering ditempati anak tersebut, godaan untuk menyetelnya akan semakin besar.

2 . Batasan konten.

Jadi bukan masalah waktunya saja yang dibatasi, melainkan juga konten tayangan yang dikonsumsi anak.

Untuk anak-anak yang masih krucil-krucil seperti Gayatri pembatasan konten ini relatif mudah ya. Kita sebagai orang tualah yang menjadi “saringan” yang harus selalu mendampingi mereka saat menonton televisi.

Saat anak beranjak besar, pembatasan ini mungkin menjadi lebih menantang. Karena bocah sudah bisa memilih sendiri channel yang ingin mereka tonton. Kalau berlangganan MNC Vision, jangan lupa manfaatkan fitur parental lock. Dengan fitur ini orang tua dapat mengontrol dan membatasi channel-channel apa saja yang dapat ditonton oleh anak-anak.

3 . Mix dengan kegiatan fisik (sensorik/ motorik)

Tayangan beberapa channel bermutu seperti BBC Earth, Animal Planet, Discovery, History dan National Geographic pun kerap menjadi bahan referensi saya saat ngobrol dengan anak. Tapi tak hanya ngobrol secara abstrak. Karena usia Gayatri yang masih sangat muda, kadang penting untuk mix suatu konsep dengan sesuatu yang lebih kongkrit dan riil.

Jadi saat memegang es batu di dapur (misalnya) saya bisa cerita panjang tu…. tentang zaman es lah, tentang dinosaurus, dll. Gayatri sambil memegang es, atau mainan berbentuk hewan. Hal ini akan merangsang sensoriknya sekaligus juga menambah kosa katanya.

Kalau untuk motorik, ya seperti yang saya sebutkan di awal, menyanyi dan menari dengan video musik. Awal mula, Gayatri belajar melompat juga dari lagu senam ceria lo. Ada bagian liriknya, “Kelinci melompat ke kanan dan ke kiri, kelinci melompat ke sana dan ke mari…. Lompat! Yayayayaya…. yayayayayaya….”

Dengan demikian anak tetap aktif secara fisik dan tetap belajar aktivitas sosial (bersama orang tua) saat screen time.

4 . Orang tua menjadi contoh

Last but not least, menjadi penonton yang bijaksana tentunya harus dimulai dari orang tuanya terlebih dahulu. Bagaimana orang tua memilih tayangan dan berapa lama orang tua menonton televisi tentu akan memengaruhi bagaimana anak bersikap terhadap televisi.

Jika orang tua bijak, saya rasa tentu akan lebih banyak manfaat yang didapatkan dari tayangan yang bermutu dibandingkan dengan mudharatnya. Selamat kritis dan selamat memanfaatkan tekhnologi!

Demikian sharing dari saya…. Semoga sharingnya bermanfaat ya….

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Tips Hemat Belanja Online

belanjaan online

Kalau ditanya terakhir saya belanja offline, sepertinya sudah berbulan-bulan yang lalu deh. Sejak menjalani Long Distance Marriage, saya sangat bergantung pada belanja online, demi kepraktisan. Bagaimana tidak, pergi ke pusat perbelanjaan dengan anak berusia 21 bulan, yang sedang seneng-senengnya lari-larian tu tantangan tersendiri ya. Untuk makan atau untuk window shopping masih okelah. Tapi kalau nyari barang, hmmm…. Seringnya emosi saya, hehehe.

Pokoknya saya mau belanja offline kalau lagi bareng sama suami aja. Selain itu, online for the rescue!

belanja offline

Terimakasih para olshop dan marketplace! Keberadaanmu sungguh membantu kami.

Walaupun memang membeli secara online akan ada biaya tambahan seperti misalnya ongkos kirim, tapi biaya-biaya tersebut bisa diakali lo, supaya jatuhnya nanti tetap bisa lebih hemat atau setidaknya sama dengan belanja offline tapi dengan benefit lebih praktis. Sebelumnya saya pernah share 5 cara berbelanja online saat lebaran, termasuk di dalamnya bagaimana membuat daftar belanjaan, dll. Berkenaan dengan itu, saya mau share 5 tips tambahan meminimalisasi biaya belanja online:

1 . Manfaatkan Cashback

Buat yang belum familiar dengan istilah ini, definisi cashback adalah persentase pengembalian uang/ uang virtual atas pembelian suatu barang yang memenuhi syarat dan ketentuan tertentu, yang dapat digunakan pada masa yang akan datang.

Biasanya si cashback bisa dipakai saat pembelian berikutnya. Namun ada juga yang bisa diuangkan kembali seperti di Shopback.

Enaknya di Shopback ini selain dia bisa diuangkan, di sini kita juga banyak pilihan marketplace yang dapat cashback gitu di luar promo marketplacenya sendiri. Jadi yang biasa belanja di Lazada ya tetep belanja di Lazada-nya, tapi via Shopback biar dapat cashbacknya di Shopback.

Setahu saja gerainya ada 100 an lebih, coba aja dicek yak, siapa tahu selama ini teman-teman biasa beli di gerai tersebut tapi nggak via Shopback jadi nggak dapat cashbacknya. Mayan kan, seolah nabung pas belanja.

2 . Manfaatkan Free Ongkir

Hitung perbandingan biaya ongkir dengan biaya yang harus dikeluarkan saat belanja offline. Kalau biaya bensin ditambah parkir ditambah kerepotan yang ditimbulkan belanja offline masih lebih ringan dari pada belanja online ya offline aja. Tapi kalau engga, ya mending belanja online kalau saya mah.

Terutama ni groceries ya…. Hehehe, betul, bahkan untuk groceries pun saya belanjanya online. Groceries kan biasanya cukup berat tu. Kalau saya belanja offline, saya akan kesulitan bawa karena sambil bawa bayi, tapi kalau online bakal gede jadinya ongkirnya. Untuk itu saya biasanya akan ngakalin dengan nyari marketplace yang kasih free ongkir untuk pembelian tertentu.

Belinya batch dalam jumlah banyak jadi sekalian memenuhi syarat harga minimal. Kalau belanjaan teman-teman kebetulan sedikit, bareng aja sama teman yang lain biar bisa satu check out. Dapet dah tu free ongkirnya.

Bayangkan, beli beras, alpukat, pisang, tepung dll. Semua jadi ringan, nggak perlu angkat-angkat tiba-tiba belanjaan uda dateng di depan pintu kos. Daaaaaaan tetap hemat. Asoy!

List groceries hasil belanja online rekomendasi saya, saya tarus di highlight Instagram @nyonyamalas dengan judul GROCERIES ya…. Beberapa di antaranya sbb:

belanjaan online

Related post: Cara Mengatur Keuangan Keluarga

3 . Manfaatkan Kupon/ Voucher

Kalau kupon/ voucher biasanya saya dapat infonya dari influencer nih. Jadi mereka suka share kode voucher affiliasi mereka, jadi kalau kita pakai voucher itu kita dapat diskon dan dia dapat affiliate fee gitu. Sama-sama seneng kan.

Kalau engga dari para influencer, bisa nyari di shopback tadi juga atau di marketplacenya sendiri. Terutama kalau lagi tanggal cantik kaya tanggal 9 bulan 9, tanggal 10 bulan 10 atau pas Hari Belanja Online Nasional alias Harbolnas tuh para Kupon dan Voucher akan bertebaran.

Kita? tinggal pungutin aja….

Tapi inget jangan gas pol, direm juga yaaak…. Biar nggak kalap belanja yang nggak perlu.

LALUUUUU….

4 . Pinter-pinter Mix And Match

Kalau bisa DI-MIX-AND-MATCH-KAN saja ketiga tips di atas!

Hihihi, ga cuma baju yak yang harus di mix and match. Cashback – free ongkir – kupon jugaaa! Tapi kalau ga bisa ketiganya ya dua aja juga uda happy si.

Misalnya saya belanja groceries di fresh boxnya blibli.com via shopback, kadang saya berkesempatan dapat cashback (dari shopback) dan juga free ongkir (dari blibli-nya). Atau cari di Lazada yang ada kuponnya gitu gitu ya…. Tapi memang harus teliti cek dan riceknya.

5 . Silahturahmi Membuka Jalan Rejeki

Salah satu jalan rejeki adalah informasi. Informasi diskon, informasi cashback, informasi kupon. Ya, karena kadang-kadang tu proo muncul pas kita lagi lengah, nggak cek notifikasi di PC misalnya. Kan jadi bisa kelewatan.

Kalau saya punya satu temen di salah satu Whatsapp Group gitu yang rajiiiin banget nyari cashback dan diskonan, kita panggil dia Mamanda. Uda gitu dia seneng banget share kalau ada info diskon gitu. Jadi kalaupun aku ngak sempet ngecek2 sendiri, aku sering taunya dari dia….

Biasanya di grup mamak-mamak birthclub juga pada rajin sharing diskonan juga tu…. Apalagi diskonan popok apa lipen…. Kiss kiss muach banget pokoknya….

Gitu aja si palingan tips dari saya. Simple aja, tapi lumayan ngefek kok. Jadi nggak banyak buang-buang duit buat beli Thaitea kalau belanja offline kan, terminimalisasi juga anak minta dibeliin jajan yang engga-engga.

Selamet (duitnya alias hemat), nyaman dan praktis.

Selamat berhemat dengan belanja online! Semoga sharing kali ini bermanfaat!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!