Sertifikasi Pra Nikah? Emang Perlu?

Ketika muncul wacana akan diadakan sertifikasi pra nikah oleh pemerintah, saya si senyum-senyum aja. Belum berani banyak komentar karena toh bentuknya seperti apa juga belum jelas.

Tapi sebagai orang yang pernah mempersiapkan pernikahan dengan bimbingan pra nikah dan sangat terbantu dengan bimbingan tersebut, opini saya terbelah menjadi dua. Yang pertama setuju pada esensinya. Dan yang kedua, males kalau nanti program ini hanya berhenti pada formalitas saja.

Saya coba kupas satu per satu opini saya ya….

Setuju pada Esensi Persiapan Pernikahan

Sebelum menikah dulu, saya dan suami mengikuti semacam kelas persiapan pernikahan selama 6 bulan. Wkwkwkwk, satu semester bok. Seingat saya materinya ada 12 pokok bahasan. Kami ikut kelas ini di gereja, bersama Bapak Pendeta. Kebetulan gereja tempat orang tua saya menginduk, memang ada program ini bagi warganya.

Saya lupa-lupa ingat pokok bahasan apa saja, tapi kurang lebih temanya meliputi:

  1. Dasar-dasar kekristenan
  2. Pemahaman esensi pernikahan
  3. Tujuan pernikahan
  4. Tentang kodrat dan kaitannya dengan peran suami dan istri
  5. Tentang kesucian dan hubungan badan suami istri
  6. Hubungan keluarga baru dengan keluarga besar (orang tua dan ipar)
  7. Tentang karakter dan kebiasaan lama
  8. Tentang anak
  9. Tentang keuangan di dalam keluarga
  10. Tentang pentingnya komunikasi
  11. Tentang kasih dan persahabatan di dalam pernikahan
  12. Tentang komitmen dan janji

Dari awal, (calon) suami saya yang mendorong untuk kami ikut kelasnya full. Nggak pakai dirapel materinya, dan juga privat. Jadi hanya kami berdua dengan Bapak Pendeta. bentuk kelasnya sendiri jadi seperti konseling. Awalnya Bapak Pendeta bertindak seperti fasilitator pemahaman Alkitab. Kemudian kami berdiskusi bareng, menggunakan bahan diskusi yang dipersiapkan oleh gereja.

* Membuat Kesepakatan Pra Nikah

Dalam diskusi tersebut, kami jadi terbuka pikirannya terhadap apa yang mungkin terjadi setelah menikah. Dan ada kesepakatan-kesepakatan yang akhirnya kami putuskan bareng.

Walaupun sebenarnya sulit, karena kondisinya saya di Jakarta, suami saya di Surabaya dan kami melaksanakan pemberkatan (serta bimbingan pra nikah) di Pati, Jawa Tengah. Jadi untuk ikut kelas, kami harus perjalanan antar kota antar provinsi, tapi kami merasa apa yang kami jalani dulu, berharga banget.

Kami tidak menyesali keputusan kami tersebut. Karena dalam menjalani empat tahun pernikahan, banyak sekali kami dikuatkan dengan banyak pemahaman dan juga kesepakatan yang kami diskusikan dan putuskan dalam bimbingan tersebut. Ketika ada masalah, kami bisa flashback pada konsep-konsep yang sama-sama sudah kami pahami.

Istilahnya, sudah satu guru satu ilmu. Visinya pun sudah relatif lebih terarah dan sama.

Saya nggak bilang kalau mengikuti bimbingan seperti ini akan menjamin semua akan lancar-lancar saja ya. Karena ya tidak, tetap banyak penyesuaian yang dilakukan ketika menjalani rumah tangga. Namun setidaknya kami sudah memiliki bekal. Dan itu membantu sekali.

* Sarana Mengenal Cara Berpikir Calon Pasangan

Selain tentang kesepakatan, dalam bimbingan pra nikah yang bentuknya demikian, saya merasa dibantu untuk mengenal cara berpikir suami dengan lebih baik. Banyak hal baru yang saya temukan dalam kelas tersebut.

Tentu saja hal ini, tergantung pada keterbukaan masing-masing pasangan ya. Karena kalau di dalam diskusi saling menutup-nutupi, atau jawabannya munafik, saya rasa tidak bermanfaat juga diskusinya. Tentu saja, hal ini saya kroscek juga dengan pengalaman ketika bertemu dengan keluarga atau dengan sahabat-sahabatnya.

* Tidak Semua Lembaga Agama Menyediakan

Saya sadar kalau tidak semua gereja, atau lembaga agama menyediakan fasilitas ini. Berhubung dengan keterbatasan sumber daya yang mereka miliki. Oleh karena itu, jika memang pemerintah berinisiatif untuk menyediakan orang yang kompeten dan program yang sesuai tentu akan sangat bermanfaat sekali.

Tidak Setuju pada Formalitas Sertifikasi Pra Nikah

Hanya saja, yang saya khawatirkan adalah bentuk kelas yang akan dibuat dalam sertifikasi pra nikah yang akan diadakan oleh pemerintah. Apakah dapat personal seperti yang kami alami, atau kah hanya sekadar hadir mendapat materi kemudian pulang. Seberapa besar materi tersebut dapat efektif, itu perlu dipertanyakan.

Lalu yang kedua, terkait dengan preferensi masing-masing calon pasangan. Apakah jika ada pasangan yang memilih untuk mendapat bimbingan pra nikah di luar lembaga pemerintahan (seperti yang kami jalani, di gereja) masih dapat diizinkan?

Mengingat jika harus dua kali mengikuti bina pra nikah, saya dapat membayangkan betapa merepotkannya. Terutama untuk yang menjalani Long Distance Relationship seperti kami dulu.

Harapan saya adalah, jika benar esensi dari program ini sesuai dengan harapan, maka prosesnya semoga tidak mempersulit proses persiapan pernikahan. Semoga juga benar, program ini dapat meningkatkan kualitas hidup keluarga dan juga generasi berikutnya.

Kalau menurut teman-teman bagaimana? Apakah bimbingan pra nikah perlu?

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Perubahan Setelah Menikah

Perubahan setelah menikah yang paling saya alami adalah di 1) karakter dan yang kedua 2) pengambilan keputusan.

1 . Perubahan Karakter

Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Apalagi setelah menikah, kesempatan “beradu” dengan “manusia” lain yang tak lain dan tak bukan adalah suami tu sering banget. Gimana engga, interaksi antara suami dan istri kan sangat intens ya. Melebihi interaksi dan komunikasi antar manusia biasanya.

Saya yang cenderung soliter dari kecil, karena tidak tinggal dengan orang tua, jadi seperti “dipaksa” untuk belajar hidup bersama. Apalagi kebetulan saya dan suami punya latar belakang yang cukup berbeda. Hal ini, dalam tiga tahun usia pernikahan, ternyata berpengaruh pada karakter saya.

Pada poin ini saya bukan sedang bilang bahwa karakter saya berubah menjadi orang lain ya. Bukan gitu, saya ya tetaplah saya seperti apa adanya saya. Tapi saya merasa menjadi the better version of my self aja.

Kalau kata suami saya, perubahan karakter yang paling dia rasakan adalah saat saya marah. Hahaha….

DULU kalau lagi marah sama suami, saya akan mogok ngomong. Bobok pun menghadap tembok, kasih punggung walau dijawil-jawil gemes. Killing him softly, berharap dia ngerti sendiri. ⁣

DULU kalau lagi marah, saya bisa merepet nggak kelar-kelar. Tapi nggak mau ngomong langsung dengan clear. Beraninya di chat. Sampai paaaaanjang, mbulet, tapi nggak tepat sasaran. Saking panjangnya, dulu saya nulis repetan saya via email. 😂😂😂 Kalau nggak dibales, langsung menyusun strategi untuk membuat hidupnya lebih tidak tenang.⁣

Pasif si, nggak ada gerakan kasat mata kaya memukul. Tapi agresif, kaya kentut. Nggak kelihatan, kadang nggak kedengeran, tapi efeknya membahana. DAN DIPASTIKAN TAHAN LAMA⁣.

Wkwkwkwk. Sekarang si uda nggak gitu lagi ya….⁣

Ga sempurna, tapi uda mending. Uda mulai bisa mengomunikasikan kepentingan dan perasaan saya (terutama kemarahan, ketidaksukaan, kekecewaan, dll) dengan lebih baik. Tanpa harus menyerang “batas” kenyamanan suami.⁣

Kisah tentang berantem-berantemnya kami jaman dulu bisa dibaca di artikel : Ribut Rukun #nyonyapunyacerita

2 . Pengambilan Keputusan

Setelah menikah, juga banyak rencana hidup yang disusun dari mula lulus kuliah, harus dievaluasi ulang. Karena ternyata banyak poin yang tidak sejalan dan tidak mengakomodasi seluruh kepentingan anggota keluarga.

Yak, betul! KOMPROMI

Yang awalnya terbiasa berpikir sendiri, memutuskan dan memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan sendiri, jadi harus banyak diskusi. Lalu juga kadang, setelah diskusi pun, dalam perjalanannya harus ada penyesuaian-penyesuaian lagi gitu. Jadi lebih ribet, to be honest.

Tapi kalau sedang merasa “duh, apaan si ini, ribet amat kehidupan”, saya belajar untuk ingat satu pepatah. Sebenarnya ini si pepatah tentang traveling ya. Tapi sepertinya bisa diterapkan dalam keluarga. Kan keluarga juga sama kaya traveling ya. Sama-sama perjalanan. Bedanya dalam keluarga perjalanannya tu perjalanan kehidupan. Aseeeek.

Pepatahnya bunyinya, “Kalau mau cepat, travelinglah sendiri. Tapi kalau mau survive dalam waktu yang lebih lama, walaupun jadi lebih lambat, travelinglah bareng-bareng.”

Jadi karena perjalanan hidup itu lama (AAMIIN, panjang umur), jadi ya kudu tabah menjalaninya bareng-bareng. So far, pengambilan keputusan kalau dilakukan bareng juga jadi lebih baik si.

Saya yang kaku dan cenderung strict dengan rencana, jadi bisa belajar dari suami untuk sedikit fleksibel dan reaktif menghadapi perubahan. Sementara suami saya yang impromtu banget, bisa jadi lebih bisa dapat masukan tentang risiko dan cara-cara memitigasinya.

Ya, kami bukan pasangan yang sempurna si. Masih terus belajar untuk memaksimalkan perbedaan kelebihan yang kami miliki masing-masing, dan juga belajar jangan sampai malah yang mempengaruhi malah sisi-sisi negatifnya aja hahahaha….

Kunciny biar bisa mengambil keputusan yang lebih baik saat bersama adalah sikap saling menghormati dan mau mengakui kelebihan pihak lain.

Contohnya: suami saya kepala keluarga, dia yang punya penghasilan utama, tapi kalau masalah keuangan, dia beneran merendahkan hati lo untuk mau nanya ke saya, tentang keputusan apa yang harus diambil. Karena latar belakang pendidikan keuangan yang saya miliki, saya rasa tradisi yang demikian oke untuk dijalankan di keluarga kami. Begitu juga sebaliknya, ada hal-hal yang saya selalu konsultasi dulu ke suami, karena dalam banyak hal, dia lebih bijak dan tenang.

Tapi kadang kalau ego sedang kumat, ya ada aja si keputusan-keputusan yang akhirnya kami sesali. Hahaha…. Tapi ya, doakan aja makin tua kami makin bijaksana ya.

Oke, paling gitu aja si yang mau saya ceritakan tentang perubahan yang saya alami setelah menikah. Memang ada perubahan-perubahan lain, seperti pola pikir, keterampilan, dll. Tapi mungkin itu kasuistis banget. Jadi saya sharing dua ini, karena juga yang paling berasa dan juga saya pikir, lebih umum terjadi.

Teman saya, Girly, juga merasakan ada perubahan si setelah menikah. Ceritanya bisa dibaca di Skill Baru yang Didapat Setelah Menikah.

Jadi buat teman-teman yang sedang merencanakan menikah, atau sedang merasa kecewa dalam pernikahan karena menemukan perbedaan antara menikah dan sebelum menikah. Be relax. Perubahan memang suatu keniscayaan, Gaes!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Tips Mencuci Botol Susu dan Perlengkapan Bayi

Mencuci botol susu bayi dan perlengkapan lain (alat makan dan mainan) tampak mudah dan sederhana. Namun apabila dilakukan dengan baik, sebenarnya kita sedang melindungi anak kita dari serangan bakteri jahat loh. Karena walaupun tampak bersih, namun bisa jadi ada bakteri jahat yang bersarang di alat makan dan minum anak-anak kita. Di sisi lain kondisi tubuh bayi dalam masa 1000 hari perlindungan atau masa bayi baru lahir s.d. batita, masih sangat rentan terkena penyakit.

Berdasarkan pengalaman saya selama ini, lemak susu yang tertinggal di dinding atau celah-celah sempit botol bayi seringkali tidak dapat terlihat dengan kasat mata. Setelah dicuci, botolnya sudah tampak jernih, namun saat kering, dan diraba masih ada lapisan lemaknya. Duh, sasaran empuk buat bakteri jahat berkumpul ni!

Tips Mencuci Botol Bayi

Demikian juga dengan mainan atau aksesoris lainnya, duh, bocah di bawah satu tahun yang sedang fase oral tu seneng-senengnya ya memasukkan mainan di dalam mulutnya…. Mau melarang, tapi ya memang fase pertumbuhannya demikian, kan ya, Nyaaah, I feel you banget. Semangaaaaattt!!! Beranjak besar dan sudah sapih pun, saya masih sering menemukan bercak kotoran di sedotan air minum Gayatri. Padahal isinya air putih loh. Hal ini bisa berasal dari sisa makanan yang ada di mulut anak ketika dia minum. Sisa makanan itu masuk ke dalam botol, bersama dengan air. Oleh karena itu, botol air putih juga harus dicuci setiap hari ya.

Pertama kali yang mengingatkan saya hal ini adalah kakak ipar. Dia menyadari ada rasa yang berbeda dari air minum di botol Gayatri. Selidik punya selidik ternyata sedotannya dong yang kotor. Kotoran itu tidak terlihat karena berada di dalam sedotan dan pas di bagian tutup botol. Sejak saat itu, setiap mencuci botol Gayatri, saya selalu bongkar komponen, termasuk sedotan dan lain-lain.

Selain kotoran di dalam sedotan, yang seringkali sulit untuk dijangkau adalah sisa susu yang berada di dasar botol dot. Biasanya hal ini disebabkan mulut botol yang kecil namun dalam atau berukuran di atas 250 ml.

Saya juga dulu merasakan kekhawatiran yang sama. Namun setelah banyak ngobrol dan dari pengalaman-pengalaman selama ini, jadi ketemu jalan keluar dari permasalahan di atas. Jawabannya adalah di peralatan mencuci yang tepat dan pembersih botol yang berkualitas.

Berikut saya sampaikan beberapa peralatan yang akan memudahkan teman-teman, terutama ibu baru, mencuci botol susu bayi atau peralatan makan anak.

Peralatan Mencuci yang Harus Dimiliki

Perlengkapan Bayi
Peralatan Mencuci Botol Steril

1. Sikat Khusus Botol

Sikat khusus botol yang saya miliki kebetulan merknya sama dengan botol susu yang anak saya punya. Karena merk-nya sama, jadi desainnya pas banget bisa menjangkau sampai ke dasar botol dan lekukan-lekukan botol. Karena sikatnya diproduksi oleh produsen botol susu, saya juga jadi yakin kalau, sikat ini tidak akan merusak lapisan plastik botol susu.

2. Pipe Cleaner

Sementara pipe cleaner, bisa anda dapatkan di toko-toko kelontong atau baby shop. Semenjak booming sedotan stainless, pipe cleaner ini juga makin mudah ditemukan kok. Harganya pun sangat murah.  Namun bermanfaat sekali untuk membersihkan bagian dalam sedotan pada tempat minum anak.

3. Spons Khusus Alat Makan Anak

Last but not least, tentunya adalah spons atau sabut pencuci piring. Yang membuat spons ini berbeda, bukan hanya karena warnanya yang pink ya. Melainkan karena spons warna pink ini memang didesain lebih halus agar tidak menggores alat makan anak. Spons seperti ini sudah mudah sekali ditemukan di minimarket. Jangan lupa untuk cek keterangan “Untuk Alat Makan Anak” yang tertera di kemasannya.

Cleanser Pencuci Botol, Dot dan Perlengkapan Bayi

Pencuci Botol Susu

Selain peralatan mencuci di atas, yang tak kalah penting, menurut saya adalah cleanser yang digunakan untuk mencuci. Dari Gayatri bayi sampai dengan sekarang sudah bisa lari-lari, saya masih setia menggunakan Sleek Baby Pembersih Botol Dengan 8 Proteksi.

Selain karena mudah ditemukan di minimarket terdekat, menggunakan produk bayi yang aman ini membuat perasaan saya lebih tenang karena fitur-fitur yang dimilikinya. Fitur pada Sleek Baby Pembersih Botol dilengkapi dengan 8 Proteksi.

Pembersih Botol Bayi
Sleek Baby Pencuci Botol

1 . Anti Bacterial Alami. Sleek Baby menggunakan bahan alami sebagai bahan aktifnya,

2. Microbiological Tested. Secara klinis, Sleek baby telah teruji efektif membasmi bakteri E. coli (penyebab diare), Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa dan Aspergillus sp.

3 . Stain Removal. Dengan fitur stain removal ini, Sleek Baby mampu membersihkan kotoran serta noda yang melekat di peralatan bayi. Sleek baby juga cukup efektif dalam menghilangkan sisa lemak susu serta bau yang kurang sedap pada peralatan makan.

4 . Food Grade. Lambang Food Grade ini salah satu yang membuat hati tenang, karena berarti produk ini tidak mengandung bahan yang berbahaya bagi kesehatan, jadi aman untuk anak.

5. Paraben Free. Salah satu bahan kimia yang seringkali menjadi sorotan ibu-ibu adalah paraben. To whom it may concern, Sleek Baby tidak mengandung paraben ya.

Selain perlindungan kepada anak-anak yang menggunakan alat makan yang dicuci menggunakan Sleek Baby, produk ini juga memberikan perlindungan kepada para pencucinya looooh. Hihihi, so sweet yak. Terbukti ada perlindungan-perlindungan berikut ini.

 6. Hypoallergenic. Sleek baby diformulasikan hypoallergenic. Sehingga meminimalisasi terjadinya iritasi kulit, gatal-gatal dan kulit kasar.

7. Dermatologically Tested. Formulasi tersebut sudah diuji secara klinis oleh ahli kulit.

8. High Quality Concentrate. Yang terakhir ini adalah perlindungan terhadap kantong. Hihihihi. Teman-teman mungkin akan menyadari kalau tekstur cleanser ini sedikit berbeda denga sabun cuci piring biasanya. Tenang saja, walau demikian, efektivitasnya tetap terjamin kok. Dengan sedikit produk, kotorannya bersih.

Untuk info terkait produk Sleek Baby Pembersih Botol Dengan 8 Proteksi dapat didapatkan di FB : https://id-id.facebook.com/SleekJugaSayangAnak/ dan IG : https://www.instagram.com/sleekbaby_id/

Tutorial Mencuci Botol Bayi dan Anak

Jika ada teman-teman yang memerlukan gambaran lebih lanjut, step by step mencuci peralatan minum bayi, berikut adalah video ilustrasi bagaimana saya biasanya mencuci botol susu maupun botol minum Gayatri.

Saya harap sharing di atas cukup jelas ya. Namun, jika ada hal-hal yang masih belum jelas, silakan DM di IG atau tinggalkan komentar ya…. Akan saya balas, as soon as possible. Terimakasih sudah mampir.

Salam sayang!

#SleekBaby #SleekBabyAlamiMelindungi #SleekBaby8Protection #1000HariPertama

#PerlengkapanBayi #ProdukBayi #BayiBaruLahir #PembersihBotol

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share