Financial Abuse

Ini rada sensitif yak. Jangan dibaperin dulu sebelum kelar pembahasannya ya…. Hehehe….

Pertama-tama, buat yang belum kenal, perkenalkan, Financial Abuse. Beliau adalah suatu tindakan atau serentetan tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu hubungan, agar pasangannya kehilangan kemampuan finansial atau kehilangan akses atas aset/ sumber daya finansial keluarga.

NNEDV (National Network to End Domestic Violence – Amerika Serikat) bilang kalau tindakan abusive satu ini sangatlah lembut. Kadang awalnya bisa malah tampak seperti tindakan perlindungan kepada pasangannya. Kadaaaaang lo kadang. Namun bisa juga tidak selembut itu.

Sang “korban” pun biasanya nggak ngeh atau ya sebenarnya pun akan baik-baik saja. KECUALI, jika financial abuse ini kemudian menjadikan pelaku merasa “aman” untuk melakukan tindakan abusive lain, seperti kekerasan fisik atau kekerasan verbal.

Kenapa kok merasa aman? Soalnya si korban tidak berdaya, tidak akan berani melawan, karena telah menjadi begitu bergantung (penghidupannya) kepadanya.

Sering kan dengar cerita, seorang ibu mempertahankan rumah tangga dengan suami pelaku KDRT, demi anak. Demi anaknya tetep bisa sekolah. Demi nggak jadi gelandangan. Endebrei endebrei.

Ya kira-kira begitulah kalau disederhanakan. She/ he trapped in unhealthy relationship karena rasa takut tidak dapat bertahan hidup tanpa sokongan keuangan dari pihak pelaku.

Kalau alasan bertahannya karena cinta mati, atau dengan ikhlas berharap pasangan akan taubat, atau karena komitmen, ya beda lagi bahasannya ya. Jadi, setiap keputusan selayaknya diambil memang karena punya alasan, bukan karena (merasa) tak punya pilihan. #sebuahquote

Selalukah hal itu terjadi? Ya memang tidak. Namun NNEDV lagi-lagi menyatat kalau di hampir di semua kasus kekerasan dalam rumah tangga, melibatkan financial abuse. So, saya pikir si financial abuse ini penting untuk dipahami oleh semua pihak ya. Bukan untuk ditakuti, tapi disikapi dan diantisipasi dengan bijaksana.

Biar kita nggak jadi korban, atau malah jadi pelaku.

Ini sorry bahasa saya jadi rada formal, ati-ati, nggak becandaan kaya biasanya ya. Soalnya takut salah tangkap aja. Sensitip boook, kaya test pack!!!!

Soalnya pas IG storiin topik ini, saya pernah sedikit kena “tuduh” seakan saya sedang nakut-nakutin ibu rumah tangga, dan nyuruh mereka kerja aja biar nggak di-financial-abuse-in. 😅

Ya nggak mungkin lah, saya berniat begitu.

Wong posisi saya aja ibu rumah tangga kok. Baru banget ambil unpaid leave, jadi ya nggak banget lah kalau malah saya ngomporin ibu lain untuk takut jadi ibu rumah tangga (IRT).

I’ll embrace every mom’s choice, mau jadi working mom maupun stay at home mom. Kan panggilan hidup orang beda beda ya kan….

Lagipula, semua orang tu juga berpotensi jadi korban kok, nggak cuma IRT.

Real story, ada suami yang ditodong menyerahkan semua penghasilannya sama istri. Cuma dikasih ongkos harian. Mau beli mainan aja kudu dosa. Bohong masalah harga. Dimurah-murahin, takut ketahuan beli dari duit ceperan (yang dirahasiakan). Seems familiar?

Ada juga istri, yang karena bekerja dan punya penghasilan sendiri, tidak pernah dinafkahi suami. Bahkan nggak tahu penghasilan dan aset-aset atas nama suami. Sekedar informasi asetnya aja, kagak dikasih tahu, apalagi penghuni cantiknya. Hus! Kucing maksudnya. Jangan suudzon!

Apakah di atas termasuk financial abuse? Menurut saya iya sih. Walaupun kasus yang kedua, rada abu-abu ya.

Tapi saya nggak naif jugalah. Yang paling rawan memang IRT ya. Saya pun pertama beneran aware dengan isu ini adalah saat memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga.

Apakah karena saya nggak percaya pada suami makanya saya jadi insecure? Saya kawatir nanti dia KDRTin saya? Apakah saya curiga?

Mmmm, mungkin malah sebaliknya ya. Saya percaya sepenuhnya, bahwa saya menikahi orang yang baik, yaitu suami saya. Oleh karena itu saya mau menjaganya, dengan tidak memberinya peluang, menjadi orang yang jahat di kemudian hari.

Waktu bisa mengubah seseorang. Dan sebagai pasangan yang bertanggungjawab, seharusnya kami saling menjaga.

Salah satunya, dengan tetap menjadi sepadan. Terkait dengan tema financial abuse ini, berarti menjaga kesepadanan dalam akses dan kemampuan finansial.

Dengan doa lah Nyah!

Ya iya lah Zaenab, kan saya bilang salah satu. Yakali doain suami juga saya yang kudu ngajarin.

Oiya, SEPADAN itu tidak berarti saya sebagai istri dan ibu, ngotot harus SAMA-SAMA bekerja. TIDAK. Tidak juga dengan ngotot, semua penghasilan suami harus diserahkan pada saya. Ya tidak gitu juga. Itu mah tergantung kesepakatan ya. Dan tergantung juga pada panggilan hidup si istri itu sendiri.

Yang perlu digaris bawahi untuk dipertahankan, kalau menurut saya adalah 1) akses keuangan dan yang berikutnya 2) kemampuan keuangan.

1 . Menjaga Akses

Akses yang saya maksud di sini adalah akses terhadap informasi atas aset atau sumber daya yang dimiliki keluarga. SEKALIGUS juga adalah akses untuk dapat ikut mengelola sumber daya tersebut.

Kalau di keluarga kami, penerapan secara sederhananya adalah dengan saling tahu penghasilan masing-masing (saya freelance, btw), tahu arus kas bulanan, tahu kami punya aset apa dan berapa serta juga tahu kami punya utang berapa dan kepada siapa.

Cara kami sharing informasi ini adalah di “meeting” ala-ala yang sering kami lakukan. Saya pernah menuliskannya di artikel family budget meeting.

Selain itu, walaupun secara pribadi kami tetap punya privacy masing-masing. Namun dalam keuangan keluarga, kami mengedepankan keterbukaan.

Misalnya saja, saya nggak tahu password email suami saya (ini privacy si kalau saya bilang), tapi saya tahu pin ATM dan pin mobile bankingnya. Demikian juga dengan rekening saya. Lalu, Kartu Kredit kami secara fisik dipegang suami, tapi laporan bulannya masuk juga ke email saya. Jadi kami bisa saling cross check. Apa lagi ya….

Kira-kira praktisnya begitu si.

Dengan demikian, saya punya akses informasi tanpa harus menjadi monster yang over protektif terhadap penghasilan suami. Saya juga tidak jadi perempuan insecure, bukan pelaku waskat karena takut ditikung. Tapi juga bukan juga perempuan naif, pasrah pasrah aja, nggak tahu apa-apa.

Suami masih bebas-bebas aja beli sepatu futsal, misalnya. Atau beli “berlian” buat game Mobile Legendnya. Paling dia kasih notifikasi dulu, cek gimana, apakah aman buat beli bulan ini atau bulan depan aja. Sama seperti saya juga, bebas-bebas aja bayar biaya maintenance blog, misalnya, atau beli buku.

Yang penting sama-sama ngasih tahu, dan ngasih izin tanpa perlu dimintai maaf.

2 . Menjaga Kemampuan

Menjaga kemampuan finansial itu kalau buat saya, saya lakukan dengan tetap berkarya (dari rumah, karena saya nggak bekerja formal lagi).

Itulah sebabnya, saya tetap mempertahankan blog ini dan juga aktif di sosial media. Bukan tentang nominalnya ya. Tapi lebih ke menjaga skill saya tetap up to date, pikiran saya tetap terlatih dan tetap punya networking. Tiga hal tersebut, yang bisa jadi titik tolak, kalau dirasa suatu saat nanti ingin mencari penghasilan juga.

Tentu saja waktu yang saya alokasikan tidak banyak, karena pilihan yang saya ambil jadi IRT ya. Santai santai nggak terlalu ambisius gitu. Paling sejam dua jam sehari, karena anak dan pekerjaan rumah pun sudah cukup menguras tenaga. Tapi tetep saya punya garis besar haluan goals yang pengen saya capai.

Bersyukur, sekarang semua itu bisa dikerjakan dari rumah, kapanpun saya sempat, via internet. Asal ada kemauan, pasti ada jalan.

Selain itu, saya juga belajar berbisnis dengan santai serta ikut seminar/ workshop terkait minat. Supaya tidak usang.

Poin dua ini, juga harus dikomunikasikan ke pasangan ya. Memang ada tipe suami yang kemudian akan berkomentar “Buat apa sih? Kan nafkah dariku cukup.” Apalagi kalau ternyata, kemudian kitanya juga keteteran ngerjainnya.

Jelasin aja apa pentingnya dari sisi pengembangan diri atau dari sisi lain yang sekiranya suami paham. Tanpa harus melukai egonya. Tanpa juga membuat dirinya merasa dituduh. Dan buktikan juga kalau kita mampu bertanggung jawab dan mengelola waktu dengan baik.

Sejujurnya dua hal di atas (tentang menjaga akses dan menjaga kemampuan keuangan) ini juga adalah nasihat dari almarhumah mama mertua saya. Saat Beliau berpisah dari suaminya saat itu, yang membuatnya mampu untuk kemudian bangkit kembali dari keterpurukan adalah skill menjahitnya.

Yah, amit-amit kalau hal ini (perpisahan atau perceraian) sampai menimpa kita. Namun lebih amit-amit lagi kalau sampai hal tersebut terjadi, kita tidak memiliki daya apa-apa, sehingga terpuruk begitu dalam dan tak bisa bangkit lagi.

Tapi teteeeeuppp, jangan pernah mengambil keputusan HANYA karena ketakutan. Balik lagi ke #sebuahquote tadi, “Setiap keputusan selayaknya diambil memang karena punya alasan, bukan karena (merasa) tak punya pilihan.

Semoga bahasan kali ini, makin membuat kita mawas terhadap pemberdayaan diri ya. Tak peduli kita mau milih jadi ibu rumah tangga atau ibu yang bekerja di sektor formal.

Karena apa pun yang terjadi di masa depan, memiliki DAYA dan RASA BERDAYA (yang positif) saya rasa tidak pernah ada salahnya. :)

Demi keluarga kita. Demi anak-anak juga. Dan demi diri kita sendiri.

Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

[GIVEAWAY] Review Ellips Hair Vitamin Pro Keratin Complex

Sesuai janji terdahulu di Instagram, saya bakalan review Ellips Hair Vitamin Pro Keratin setelah rutin penggunaan kurang sebulan. Oiya, buat yang menanyakan, perasaan baru post first impression dua minggu lalu deh, hihihi, saya posting first impression di IGnya kemarin tu late post btw. Soalnya kan Lebaran tu, jadi Nyonyah fokus Lebaran dulu deh. Ngabisin opor. Sebenarnya sudah nyobain varian baru ini sejak sebelum lebaran gitu sebagai upaya tampil cetar mempesona namun tetap effortless di hari raya.

Oiya, satu lagi, pas saya post di IG banyaaaak banget yang bilang kalau uda nyobain Ellips Vitamin Rambut dari zaman SMP. Yang mana kalau seumuran saya, berarti uda sekitar lebih dari sepuluh tahun yang lalu yak…. (duh buka rahasia usia hahaha).

Ya emang bener juga si, soalnya kan ni brand emang pertama banget yang ngeluarin produk vitamin rambut ini dibanding brand lainnya dan mereka juga yang bikin vitamin rambut dalam kemasan kapsul Pertama di Indonesia. Untuk kapsul Ellipsnya sendiri terbuat dari gelatin murni yang menggunakan tulang sapi dan bersertifikasi Halal dari LPPOM MUI. Banyak banget info yang saya baru tau nih hahaha

Naaaaah, saya tuh baru ngeh, ternyata varian yang zaman dulu itu BEDA sama yang sama coba ini.

Perbedaan dari kemasan blister.

Nah loh, buat Sodara Sodari yang kemarin ngaku uda pernah cobain, yuk mari dicek kembali varian apa yang uda dicoba. Hihihi….

BEDAnya tu gini, versi barunya ada bahan aktif Pro Keratin Complex.

Lah beda di PRO KERATIN dowing, emang apa pentingnya, emang apa ngaruhnya???

Ellips Hair Vitamin With Pro Keratin Complex

Penting Zaenaaabbbb! Tahukah Dikau, Nab? Kalau sering ngeringin rambut pakai hair dryer atau styling macem-macem, rambut akan mengalami kekeringan. Seperti rambut saya. Hal itu akibat panas dari styling tools tadi, yang merusak keratin alami rambut. Pada akhirnya rambut rusak. Rapuh. Sedih.

Bagaimana tidak, suhu styling tools kan bisa sampai 150 – 160 derajat celcius gitu loh. Air aja umubbb alias mendidih dan bahkan menguap. Ya demikian pula yang dialami di dalam rambut kita saat distyling.

Tapi, sama sekali menghindari styling rambut juga sepertinya nggak mungkin ya. Jadi ya, kudu siap sedia vitamin rambut buat cegah dan atasi kerusakan lebih lanjut.

Oiya, balik ke vitamin rambut tadi. Selain dari bahan aktif Keratin itu sendiri, Pro Keratin Complex-nya Ellips ini juga dilengkapi Pro Vitamin B5 dan multi vitamin lainnya yang fungsinya adalah sbb:

Klaimnya Ellips seri vitamin rambut dengan Pro Keratin Complex ini bisa bikin rambut 2x lebih sehat dan 2x lebih lembut.

Jadi kalau yang uda pada jatuh cinta pada varian sebelumnya. Nah, yang ini bisa bikin makin klepek-klepek cintanya. Gitu kali yak, perumpamaannya. Hihihi….

Review Ellips Hair Vitamin Setelah Pemakaian

Trus klaimnya terbukti nggak?

IYAAAA bangeeeet di saya.

Saya pakai yang warna kuning: yang SMOOTH & SILKY.

Varian ini sesuai sama kebutuhan rambut saya yang memang ngembang, kering dan juga susah diatur. Alias rambut singa. Saya si tidak terlalu mempermasalahkan mengembang dan gelombangnya ya. Cuma karena kering jadinya kelihatan kusam dan tidak sehat.

Dengan penggunaan rutin efek yang saya rasakan adalah rambut singanya jadi jinak ya:

  1. Rambutnya jadi terlihat lebih sehat, tidak tampak kusam. Nah ini ternyata ngaruh juga ya ke muka. Soalnya banyak yang komentar kalau wajah saya jadi ikutan kelihatan segar.
  2. Suami saya bilang, rambut saya makin lembut, enak dipegang-pegang. Nggak kasar dan kering kaya ijuk. Walaupun pakai hair dryer juga nggak berasa sekering sebelumnya. Kalau dilihat di foto di bawah ini, mungkin nggak terlalu terlihat ya, tapi kalau disentuh, uuuughhh beda banget rasanya.
  3. Mudah disisir dan tidak mudah kusut. FYI, rambut saya memang tebal by genetics, ya saya nggak berharap juga rambut saya jadi kaya nona nona Korea yang dari sononya helaian rambutnya tipis. Tapi saya seneng si, tebelnya lebih rapi gitu, effort buat nyisirnya berkurang.
  4. Oiya, juga nggak bikin lepek walaupun nggak dibilas.

Pros and Cons

Pokoknya saya suka. Dan bakal istiqomah pakai terus. Selain dari 4 hal di atas yang membuat saya tambah suka adalah beberapa hal berikut:

  1. Pemakaiannya praktis. Nggak perlu dibilas. Ngoles-olesnya pun cuma butuh nggak sampai 5 menit. Buat ibu-ibu yang sering ditangisin anak, padahal cuman mandi doang cocok banget kan. Sambil kejar-kejaran sama anak juga kayanya masih bisa deh, hihihi….
  2. Travel friendly. Pas liburan lebaran kemarin cuma bawa lima kapsul vitamin, diselipin aja di pouch make up. Aman.
  3. Gampang ditemukan di minimarket deket rumah. Jadi nggak mager kalau mau repurchased.
  4. Harganya juga relatif terjangkau yak. Yang blister itu sekitar Rp 11.500,00/ 6 kapsul. Yang botolan Rp 82.000,00/ 50 kapsul. Per kapsul isinya 1 ml. Jadi nggak sampai Rp 2.000,00 yak per kapsul.

Yah intinya nggak pakai ribet dah pembelian dan juga pemakaiannya. Saya mah, kalau ketemu yang ribet, jatuhnya jadi nggak istiqomah pakai. Padahal pakai produk perawatan mah, istiqomah adalah kunci keberhasilan.

Kalau mau dicari-cari kelemahan produk ini apaan ya…. Palingan, kalau boleh request, saya berharap ada yang wangi buah-buahan segar gitu. Hihihi…. Tapi wangi yang sekarang juga fine-fine aja si so far.

Varian Vitamin Rambut

Oiya itu tadi adalah testimoni dari pemakaian varian yang kuning ya (SMOOTH & SILKY). Selain yang kuning ada juga yang varian warna hitam (SILKY BLACK) untuk tujuan rambut tampak hitam dan berkilau. Serta yang varian warna pink (HAIR REPAIR) yang untuk rambut rusak dan kering agar lebih ternutrisi.

3 Varian Ellips Hair Vitamin Pro Keratin dalam kemasan botol/ jar.

Info lebih lanjut tentang masing-masing produk bisa didapat di IG @Ellips_Haircare dan FB ellipshaircare.indonesia.

Saran Pemakaian:

  1. Buka bungkus kapsul dengan menguliti “U” yang mengitari kapsul. Setelah itu pencet. Dijamin lebih gampang keluar isi vitaminnya dibanding berjibaku memotong leher kapsul tanpa gunting. Trust me, it’s works!
  2. Gunakan setelah keramas, saat rambut setengah kering atau sebelum melakukan styling rambut.
  3. Aplikasikan vitamin pada batang rambut ya, jangan pada kulit kepala.
  4. Biarkan kering, tidak perlu dibilas. Bisa juga langsung dilakukan styling dengan perasaan lebih tidak was-was karena rambut sudah lebih terlindungi.

Buat yang pengen cobain, saran saya beneran disesuaikan varian yang mau digunakan dengan kebutuhan rambutnya ya…. Mau yang kuning, pink atau hitam. Bisa juga beli yang blister atu atu dulu kalau mau nyobain tiap variannya. Kalau uda tahu mana yang cocok bisa deh beli yang jar, soalnya sebenarnya jadi lebih murah per kapsulnya kalau belinya yang kemasan botol.

Giveaway Ellips Hair Care

Pengen coba kan pengen coba kaaaaan. Nah, saya juga pengen ngasih satu paket produk Ellips ini niiiii buat satu orang. GIVEAWAAAAY!

Hadiahnya:

  • 1 buah pouch exclusive-nya Ellips, kolaborasi dengan crafter kesayangan kita semua, idekuhandmade!!!!
  • 1 buah dry shampo ukuran 200 ml yang ungu
  • 1 dus (12 pcs) hair mask yang pink
  • 1 jar Ellips hair vitamin Pro Keratin, varian sesuai dengan kebutuhan/ requesssst kamooooh!

Caranya:

  • Buat yang pernah nyoba, ceritain dong pengalamanmu. Buat yang belum ceritain kenapa pengen coba.
  • Tulis varian Ellips hair vitamin mana yang pengen kamu cobain.
  • Tulis akun IG kamu dan domisili di akhir komen kamu.
  • Poin 1 s.d. 3 di atas, ditulis di comment section di bawah artikel ini ya….
  • Giveaway berlangsung dari 18 Juni s.d. 24 Juni 2019 ya. Pengumuman akan saya sampaikan di akun instagram @nyonyamalas. Jangan lupa follow akun @nyonyamalas dan @ellips_haircare yaaaa!
  • Saya bakalan seneng banget kalau teman-teman (pemenang) mau posting story di IG saat paket hadiahnya sudah sampai atau boleh juga kalau mau kasi testimoni. Please tag @nyonyamalas dan @ellips_haircare ya….

Sekian yak, review hair vitaminnya. Semoga bermanfaat dan yuuuuuk ikutan giveawaynya yuuuuukkk! :) Tulis di comment section yaaak! Salam sayaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

8 Sabun Bayi Non SLS dan Paraben

Sebelumnya saya pernah membahas 4 sabun bayi yang tidak mengandung sls dan paraben. Berhubung isu kulit bayi kembali ramai, saya jadi kepikiran untuk melengkapi tulisan yang lalu di artikel 8 sabun bayi non sls dan paraben.

Sebelumnya saya mau cerita dulu. Beberapa hari ini sosial media ibuk-ibuk sedang ramai dengan topik “Derita Bayi Lucu” tentang seorang bayi yang menderita iritasi kulit parah setelah ditowel-towel pipinya oleh banyak orang di acara kondangan. Well, pro dan kontra langsung merebak. Apalagi setelah thread tersebut dikomentari oleh akun dengan embel-embel dokter kulitku.

Saya tidak mau bahas lebih lanjut pro dan kontranya. Karena pembahasannya jadi merembet ke masalah boleh tidaknya orang towel menowel pipi bayi. Kalau masalah itu si terserah Mak Bapaknya ya kalau saya. Tapi kita juga kudu sadar kalau, menerapkan suatu rule ke orang lain, itu susah, dan ada konsekuensinya juga. Worth or not untuk dilakukan, ya balik lagi ke keputusan dan kondisi masing-masing.

Saya di sini pengen lebih konstruktif aja si bahasnya. Karena saya punya pengalaman anak yang dermatitis atopik juga, walau tidak terlalu parah. Jadi saya niteni (memperhatikan) apa saja yang biasanya menyebabkan anak saya mengalami iritasi kulit.

Saya pernah bahas di artikel “Penyebab Iritasi Kulit Bayi dan Cara Menanganinya“. Di situ saya bahas 3 penyebab yang sering terjadi di Gayatri, anak saya. Salah satu yang paling sering membuat Gayatri iritasi kulit adalah sabun mandi bayi.

Disclaimer: saya bukan dokter, yang saya share adalah pengalaman sehari-hari, tentunya juga ada diskusi dengan dokter. Kondisi yang saya sharingkan spesifik pada kasus anak saya, namun saya rasa, beberapa prinsipnya tetap dapat dipahami dan mungkin bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing, walaupun hasilnya tentu bisa berbeda-beda. :) #nooffense.

Trus kenapa kok gonta ganti merk sampai delapan kali? Honestly, karena saya pengen nyari yang paling bagus sekaligus affordable ya. Nggak pengen boncos juga kan kantong mamak. Kadang saya juga mencoba produk yang dikirimkan ke saya untuk review (tentu dengan seleksi yang ketat).

Berikut adalah perbandingan sabun non sls dan non paraben yang pernah saya coba. Saya harap, pengalaman saya bisa membantu ibuk-ibuk juga yang sedang mencari sabun mandi bayi bayi putra-putrinya….

1 . Mothercare

Produk sabun bayi keluaran Mothercare yang pernah saya coba adalah Mothercare All We Know Body Wash. All we know lah ya, kalau produk ini termasuk brand premium kesayangan ibu-ibu.

Secara umum saya tidak ada masalah dengan produk ini. Cukup lembut di kulit bayi dan tidak menimbulkan iritasi. Hanya saja saya tidak suka dengan desain kemasannya, yang membuat produk mudah tumbah dan belepotan.

Penggunaannya bersama dengan lotionnya membuat kulit lembut banget. Suka, bahkan suami saya juga mengakui kelembutannya.

Harga Rp 100.000,00 – an / 300 ml.

Saya pernah membahas varian ini di artikel Mothercare All We Know Toiletries.

2 . Tupperware Little Bee Baby Wash

Produk ini bebas SLS maupun SLES dan juga paraben. Apa itu SLS, SLES dan Paraben bisa dilihat di artikel ini.

Walaupun demikian, jika dipakai terus menerus, saya merasa kulit bayi menjadi sedikit kering. Tidak sampai iritasi si. Tapi sedikit lebih kering gitu. Tidak supple atau kenyal.

Saya curiganya, mungkin, karena fragrance yang digunakan ya. Menurut saya wanginya, walaupun enak – musky gitu, cenderung cukup kuat untuk ukuran produk bayi soalnya.

Dari beberapa sumber yang saya baca, fragrance ini pun termasuk salah satu yang membuat kulit iritasi dan kering. Penggunaan produk ini dan produk bayi lain keluaran Tupperware bisa dilihat di artikel spa bayi sendiri di rumah.

Harga Rp 90.000,00 an per 200 ml

3 . Corine de Farme

Produk yang pernah kami pakai adalah Baby Bath 2 in 1 (sabun sekaligus shampo). Produk ini tidak menyebabkan kulit kering. Tapi tidak juga menambah kelembaban. Mungkin karena produk ini sabun sekaligus shampo ya. Kalau lembab, rambutnya malah jadi lepek, imho.

Di dalam produk ini tidak mengandung SLS, tapi mengandung SLeS ya….

Harga Rp 200.000,000 an per 500 ml.

4 . Purebaby Liquid Soap for Sensitive Skin

PALING FAVORIT!!!

Kalau mau dibandingkan dengan produk lain yang saya sebutkan, produk ini termasuk produk terbaik dalam hal melembabkan kulit bayi ya. Karena mengandung oat dan bahan alami lain yang berfungsi mengobati dan melembabkan. Bahkan produk ini berani memberikan klaim merawat dermatitis lo. (FYI, produk ini proses produksinya di bawah pengawasan grup farmasi, jadi klaimnya cukup bisa dipertanggungjawabkan, IMHO).

Kemampuannya membersihkannya juga tokcer. Saya membahas produk ini secara khusus di artikel menangani iritasi bayi, di bagian bawah.

Kualitasnya, menurut saya bersaing dengan Mustela. Wanginya lebih enak Purebaby tapi daripada Mustela.

Harga Rp 106.000,00 / 250 ml.

Kalau tidak ada budget constraint, saya memilih kedua produk ini sebagai favorit saya. Sayangnya dua-duanya agak mahal yak. Hihihi….

Produk Sabun Non SLS dan Paraben Lainnya:

5 . Mustela Bebe, 6 . Cetaphil Baby, 7 . Purebaby (for normal skin), 8 . Switzal (paling affordable). Produk ke 5 s.d. 8 ini pernah saya bahas secara lebih detail di artikel 4 sabun bebas SLS dan Paraben.

Sekian sharing dari saya, semoga sharingnya membantu untuk mendapatkan sabun non sls yang terbaik untuk putera puterinya yaaa….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share