Review Gabag Versi Ibu yang Sering Traveling

Review gabag

Haiiii!!!! Seperti janji di Instagram @nyonyamalas kemarin, saya mau review gabag dari sudut pandang Ibu yang sering traveling serta nyoba membandingkan antara dua versi gabag yang saya miliki. Ini sekaligus juga dalam rangka mendukung campaign #gabagjelajahindonesia yang diinisiasi Gabag Indonesia dan Tiket.com. Yuk, gabagers ikutan campaign ini…. infonya sbb ya:

IMG_4453

Saya pribadi si seneng banget ya sama semangat #gabagjelajahindonesia ini. Seolah mau mengajak para ibu muda untuk tetap berani bepergian, karena sudah terfasilitasi oleh berbagai kemudahan: 1. kemudahan memesan tiket secara online di tiket.com dan 2. kemudahan membawa dan menyimpan ASIP dengan aman dan nyaman dengan cooler bag. Karena kan nggak bisa dipungkiri, walaupun sedang punya bayi, Nyonyah-nyonyah kadang punya kepentingan keluarga/ pekerjaan yang mengharuskan untuk keluar kota.

Pengalaman traveling paling berkesan saya bersama cooler bag gabag adalah saat outing kantor ke Cirebon. Saat itu saya tidak mungkin membawa Gayatri karena dia sedang sumeng. Ini pertama kalinya dan satu-satunya saya keluar kota lebih dari sehari tanpa anak. Biasanya kami akan bawa Gayatri ikut dinas saya.

Itu juga pertama kali dan sepertinya sekali seumur hidup, saya menyusui di dalam bus. Wkwkwk…. Agak rempeus ya. Soalnya malam malam, dilematis kalau nyalain lampu kelihatan (walau ditutup apron) tapi kalau nggak nyalain gelap-gelapan. Untung cooler bagnya compact jadi ringkes dan nggak mengganggu teman sebelah. Dada lega, saya pun happy karena bisa bawa oleh-oleh ASIP buat stok.

Pengalaman di atas bikin saya sadar kalau Gabag nggak cuma bermanfaat buat ke kantor saja, tapi bisa dibawa saat perjalanan. Agar baik aktivitas maupun kebutuhan menyusui tetap berjalan lancar.

IMG_4419

Fungsi Gabag

Berikut fungsi Gabag yang aku catat selama ini:
1. Bisa untuk menyimpan ASIP atau sebagai cooler bag.
2. Bisa untuk menyimpan makanan hangat secara umum, atau MPASI juga. Jadi seperti termos bag. Hehehe ada nggak sih istilah ini?
3. Bisa untuk diaper bag, pendamping koper bagian kompartemen atasnya kalau traveling bareng bayi.

Ketiga fungsi di atas pas banget buat para ibu yang sering berpergian dengan ataupun nggak bawa anak. Misal bawa bayi, maka tas bisa jadi diaper bag + kompartemen bawah bisa jadi tempat menyimpan bekal MPASI hangat. Kalau nggak bawa bayi, kompartemen bawah untuk simpan ASIP dan kompartemen atasnya buat simpan pompa.

Varian Gabag

Namun karena gabag punya banyak sekali varian, imho, Nyonyah juga harus pintar-pintar pilih mana yang paling pas buat kebutuhannya. Misal bawaannya lumayan banyak dan biasa bawa koper saat traveling. Mungkin gabag yang backpack bisa jadi alternatif sebagai tas pendamping. Kalau saya karena kebiasaan bawa travel bag berbentuk backpack jadinya lebih suka gabag yang berbentuk tas tangan.

IMG_4443

Tas tangan gabag yang saya punya pun ada dua macam. Yang pertama warna oranye, usianya uda dua tahun. Yang kedua baru banget saya punya, dan memang keluaran baru Gabag nama variannya Ceri. Warnanya pink kyoooootttt….

FullSizeRender

Review Gabag Dua Versi

Nah saya mau coba perbandingkan keduanya, siapa tau informasinya bermanfaat buat yang mau beli Gabag.

1. Ukuran

Ukuran dari versi Ceri adalah sbb:

IMG_4457

Ukuran ini sedikit lebih kecil dari versi lain yang saya punya, namun kompartemen atasnya tetap memadai untuk mewadahi baby essentials dan mesin pumping saya dan kompartemen bawahnya juga cukup untuk 2 buah ice gel pack beserta ASIP atau tempat bekal.

IMG_4409
2. Risleting

Perbedaan risleting ada di kompartemen atas sbb:

FullSizeRender

Bentuk risleting sebelah kiri memang lebih terasa aman karena rapat. Namun risleting sebelah kanan juga bermanfaat si, kalau pas bawa berkas kantor agak banyak bisa lebih fleksibel.

Untuk bagian kompartemen bawah tidak berbeda satu dengan yang lain, hanya arah risletingnya saja yang berbeda.

3. Saku

Versi Ceri (pink) memiliki dua kantung samping, satu saku depan dan satu saku belakang untuk nametag. Sementara versi oranye tidak memiliki kantung.

IMG_4408

Enaknya kalau ada kantung kalau traveling adalah, bisa untuk menyelipkan tiket/ boarding pass. Jadi cepat dan ringkas pengambilannya saat dibutuhkan.

4. Ice Gel Pack

Setiap pembelian satu tas, masing-masing mendapatkan dua buah ice gel pack. Untuk ketahanan, dinyatakan keduanya tidak berbeda. Hanya berbeda pada kemasannya saja sbb:

IMG_4411

Yang baru sebelah kiri dan yang lama sebelah kanan. Keduanya sama-sama bisa digunakan untuk penyimpanan panas maupun dingin ya. Tinggal disesuaikan saja, kalau butuh hangat  direndam di air panas sebelum digunakan. Kalau butuh dingin, jangan  lupa dibekukan.

Selama menggunakan Gabag lama hampir dua tahunan, so far saya puas si. Jadi saya juga cukup yakin versi yang baru tak akan mengecewakan saya.

Semoga informasi di atas bermanfaat ya Nyaaaahhh!!!!

Review gabag

ps. Untuk yang kemarin request di IG @nyonyamalas mau foto bagian dalamnya, nanti aku tambahkan ya…. Belum sempat foto-foto lagi nih. Hehehe….

Terimakasih. Salam sayang yaaa!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Meal Prep Fails dan Lesson Learnnya Selama Sebulan #3 (Tips Menyimpan Sayuran dan Bahan Makanan Lain)

tips menyimpan sayur

Buat yang sering baca blog nyonyamalas (ada nggak ya? ada dong plis plis plis), mustinya uda ngeh ya kalau mulai 14 maret kemarin saya nulis tentang perjalanan saya belajar masak di dapur. Naaaaahhh, sebagai newbie di masalah masak memasak, banyak banget kesalahan yang saya lakukan saat mempersiapkan bahan masakan, seperti saat menyimpan sayuran. Beberapa sudah saya share di artikel sebelumnya:

Pengalaman Meal Prep Minggu I

Pengalaman Meal Prep Minggu II dan III

Padahal sebelum memulai belajar meal prep ini saya juga uda baca-baca duluan pengalaman meal prep orang-orang yang sudah jauh lebih jago. Hehehe, tapi bener kata blog Miun-Miunan, meal prep itu personal banget, harus trial error sendiri biar tahu mana cara yang paling pas sama selera. Oiya, blog apa saja yang saya baca tentang meal prep saya ringkas juga loh di artikel ini: Meal Prep Challenge.

Ternyata saya cukup rajin juga yak, ngeresume dan nyatet-nyatet…. Wkwkwkwk, lama-lama nama ini blog perlu diganti juga nih jadi nyonyarajin. Bwakakakak….

tips menyimpan sayuran

Pada foto diatas tampak kalau meal prep saya campuran ya, antara menyimpan makanan siap saji (kanan atas) berupa ungkepan ayam dan sambal goreng kentang (tidak terlihat ketutupan ungkepan ayam), sayuran yang telah dipotong dan yang masih utuhan. Demikian juga bumbu, saya juga stok bumbu jadi, hehehe dan bumbu yang racikan sendiri (kiri atas, tutup merah). Intinya meal prep wajib sesuai dengan kebutuhan masing-masing ya Nyah….

Oiya, sebelum saya lanjut, saya mau menegaskan kembali kalau yang saya share pengalaman ini bukan berarti saya sudah perfect ya. Tapi kan siapa tahu ada Nyonyah-nyonyah yang kompetensi masaknya dan tingkat kemalasannya juga 11-12 kaya saya, jadi pengalaman (kesalahan-kesalahan) saya pasti bakal berfaedah.

Lets Go!

Tips Menyimpan Bahan Makanan Ala Nyonyamalas:

1 . Menyimpan Sayuran

Sebelumnya saya mencoba untuk menyimpan sayuran di freezer (ngikut-ngikut akun instagram junjungan saya). Ternyata saya dan suami nggak cucok sama tekstur sayuran yang sebelumnya telah beku. Jadi kami banting setir untuk menyimpannya dalam keadaan mentah.

Biasanya saya akan menyimpannya dalam keadaan sudah dipetik (untuk bayam, kangkung dan kacang panjang). Dicuci bersih, dikeringkan dengan salad spinner (akan dibahas lebih lanjut di bawah). Kemudian diletakkan per sayur di wadah kedap udara yang sebelumnya sudah dialasi koran. Kalau saya nggak sempat nyuci sayurnya, saya cuma petikin saja lalu langsung masuk wadah tanpa kena air.

Air bikin cepat busuk btw.

Kalau labu siam saya simpan dalam keadaan utuh. Kentang pernah saya simpan dalam kondisi terpotong dadu dan direndam dalam air, hanya semalam saja, dan esoknya masih bagus. Kurang tahu kalau lebih dari itu.

Yang saya belum berhasil simpan adalah kemangi. Entah kenapa selalu berakhir layu.

2 . Menyimpan Daging

Saya simpan daging mentah di chiller dalam kondisi sudah dalam potongan sesuai dengan masakan yang direncanakan. Biasanya saya nggak cuci dulu dagingnya sebelum masuk chiller. Baru akan saya cuci saat mau dimasak. Pastikan saat memotong daging, tangan dalam keadaan bersih.

Namun, kalau saya mau masak soto atau sop iga, biasanya saya akan simpan daging dalam kondisi sudah direbus. Tujuannya biar empuk dulu dan ada kaldunya.

3 . Menyimpan Kaldu

Pengalaman yang lalu menyimpan kaldu, baik kaldu udang, kaldu sapi maupun kaldu ayam, di kulkas bawah tidak bisa lebih dari 2-3 hari. Kalau mau menyimpan lebih dari itu, sebaiknya di freezer alias dibekukan. Baca-baca si katanya bisa sampai berbulan-bulan.

4 . Menyimpan Tempe

Saya pernah zonk nyimpen tempe ni, jadi busuk. Akhirnya kalau saya mau simpan lebih dari tiga hari, tempenya saya ungkep dulu, biar nggak cepat busuk.

tips menyimpan bahan makanan

Tips Mempersingkat Waktu Meal Prep

1 . Buat menu mingguan dan daftar belanjaan.

Membuat menu mingguan akan mempermudah pembuatan list belanjaan. List belanjaan akan membuat waktu belanja jadi lebih cepat. Soalnya nggak pakai muter-muter dulu. Sampai ke supermarker/ pasar uda langsung tahu apa yang mau dibeli, jadi cak cek cak cek. Kelar.

2 . Petik sayuran/ potong daging setelah beli, simpan per porsi.

Segera setelah pulang belanja, petik semua sayuran/ potong daging dan simpan. Jadi langsung ringkes. Soalnya kalau sempat masuk kulkas dulu, keburu mager. Kalau sayuran sudah dalam keadaan terpotong-potong, dan daging-dagingan juga sudah terpotong simpan terpisah dalam jumlah sekali masak.

Tips menyimpan sayuran dengan jumlah per satuan masak ini untuk menghindari proses defrost yangg tidak perlu dari daging-dagingan (kalau disimpan dalam freezer). Selain itu juga menghindari porsi lain terlalu sering “kena tangan”. Karena kena tangan artinya potensi terkena bakteri lagi.

3 . Keringkan sayuran dengan salad spinner sebelum masuk kulkas.

Penyimpanan sayur (dedaunan) harus dalam keadaan sekering mungkin. Kalau tidak mungkin kering 100% ya nggak papa sih, yang penting tidak dalah kondisi basah terendam. Nah kadang proses pengeringan ini perlu waktu. Kemarin saya sempat beli salad spinner, pas Ikea lagi diskon, dan lumayan membantu mempercepat proses pengeringan ini.

Jadi sayurannya kaya diputer gitu. Bayangin aja pakaian kita di mesin pengeringan baju. Kan diputer jadi airnya muncrat-muncrat dan sayurnya kering. Tapi karena ada di dalam baskom jadi muncratnya nggak kemana-mana. Duh, jelasinnya gimana yak…. Wkwkwk…. Bentuk alatnya seperti ini:

salad spinner ikea

Alat ini opsional aja si, nggak harus punya. Saya sharing di sini biar jadi tambahan wawasan aja.

Kalau nggak mau ribet ngeringin, ya nggak perlu dicuci dulu. Petik dalam kondisi kering dan langsung masuk wadah. Nyucinya pas mau masak. Kelar.

4 . Buat ungkepan secara maraton.

Ini kalau nggak salah aku dapat tipsnya dari mbak Ega Dioni yang tinggal di luar Indonesia. Jadi karena bumbu di negara tempat tinggalnya mahal, jadi dia pakai bumbu ungkep untuk beberapa kali pakai. Eh ternyata ungkepan terkahir malah jadi tambah sedap karena sudah nyampur sama kaldu-kaldu daging sebelumnya.

Biasanya saya ungkep ayam kemudian sisa bumbu ungkepan ayam sebelumnya saya pakai untuk ungkep tempe. Oiya, jangan ulangi kesalahan saya ya…. Saya pernah maraton ungkep dengan melibatkan jeroan dan urutannya salah. Saya ungkep ayam – jeroan baru tempe. Jadideh, tempenya ikut bau ati ampela. Wkwkwkwk…. Lesson learnya, kalau mau ungkep jeroan juga, sebaiknya jeroan diungkep di kloter terakhir.

5 . Simpan Bumbu

Sebenarnya ini masih pro kontra ya: nyimpan bawang yang sudah dikupas. Karena ada yang bilang kalau para bawang ini akan menyerap bakteri. Nggak tau benar atau salah. Tapi kalau mengabaikan pro kontra tersebut, menyimpan bawang yang sudah dikupas itu beneran menyingkat waktu masak di pagi hari. Karena nggak perlu ngupas-ngupas lagi.

Yang pasti, simpannya di wadah yang tertutup rapat ya…. Saya biasanya gitu untuk meminimalisasi ketakutan saya atas pro kontra di atas.

Selain menyimpan bawang saya juga menyimpan bumbu jadi hehehe. Merknya BMM alias Bumbu Masak Machmudah. Bumbu ini tu produksi UKM di sekitar Surabaya gitu. Kayanya saya belum pernah lihat di daerah Jawa Tengah atau Jakarta. Tapi yang pernah nemu, komen yak…. Bumbu ini kalau di kulkas awet beberapa hari aja. Tidak seperti bumbu jadi pabrikan. So saya biasanya beli untuk seminggu dan simpan benar-benar di kulkas. Kalau wadahnya menggembung tandanya sudah tidak bisa dipakai lagi.

Sekiaaaaaan tips ala-ala dari saya…. 🙂

Buat Nyonyah-nyonyah yang mau ikutan ngasih tips boleh juga lo, tinggalin tipsnya di bagian komen. Terimakasih sudah mampir. Salam sayang!

🙂

tips menyimpan sayur

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Berani Bermimpi

mimpi

Awatara Karya adalah nama perusahaan mungil yang dibangun suami bersama dua rekannya. Cita-citanya menjadi penyedia jasa konstruksi yang jujur, setia pada pakem teknik. Serta mampu menyejahterakan, tak hanya pemiliknya, melainkan juga pegawainya: para mandor, kenek dan juga tukang.

“Bisa kamu bayangkan bagaimana keuntungan masyarakat, jika semua proyek pemerintah dikerjakan secara efisien oleh kontraktor yang jujur?” waktu itu (calon) suami saya menambahkan. Tepat sasaran, karena saya bekerja di sektor keuangan negara jadi saya tahu betul betapa besar dampaknya bagi perekonomian secara makro.

Di pikiran saya saat itu, perusahaan ini semacam pengejawantahan Dasa Dharma Pramuka. Hehehe….

Dan awalnya perusahaan ini bukanlah impian saya.

Namun saat memahami cita-citanya, saya menjadikannya mimpi saya pribadi. Sungguh bahagia orang yang usahanya diberkati dan kemudian bisa menjadi berkat bagi orang banyak.

rapat malam

Sayangnya, walau sempat tumbuh, “bayi mungil” ini akhirnya koma karena masalah klise: kurang modal.

Angin segar, janji papa (calon mertua) untuk menyuntik dana segar, buyar, karena papa sendiri jatuh sakit. Tanpa asuransi, tanpa jaminan hari tua. Tak mungkin suami tetap mengajukan permohonan bantuan. Kurang ajar namanya.

Awatara Karya koma. Suami memutuskan pindah ke Jakarta, kembali menjadi budak korporasi. Namun impian akan Awatara Karya tidak mati. Pindah dari Jakarta, Dia mencoba apa yang pernah dimulai, sambil bekerja sebagai pegawai. Harapannya sebelum usia kami 40 tahun, usaha ini sudah dapat berdiri. Kurang dari sepuluh tahun lagi.

Tidak terlalu optimis. Namun kami siap belajar dari pengalaman masa lalu yang mengajarkan kami dua hal:

1 . Tidak grusa-grusu dalam mengambil keputusan.

Berdasar pengalaman sebelumnya: arus kas Awatara Karya kurang baik karena ada pos gaji tetap bagi ketiga founder-nya. Ada tidak ada proyek, gaji tetap dibayarkan setiap bulan. Hal itu mau tidak mau harus dilakukan, karena ketiganya full mengurus perusahaan, dan membutuhkan gaji tersebut sebagai penghidupan.

Dengan pengalaman itu, suami memutuskan untuk nyambi kerja. Tidak grusa-grusu mengambil keputusan tidak kerja sama sekali, karena bagaimanapun dapur harus tetap ngebul sambil mencari investasi terbaik. Kami tidak mau masalah keuangan pribadi kami akhirnya membebani perusahaan.

kantor jaman dulu

2 . Mempersiapkan rencana B dan tindakan jaga-jaga.

Poin kedua ini belajar dari pengalaman papa mertua. Sebagai pengusaha yang tidak memiliki jaminan kesehatan dan hari tua, Suami saya harus memiliki asuransi jiwa.

Saya jadi flashback, saat pertama kali membuat profil keuangan dibantu financial advisor dari Commonwealth Bank. Saya mulai menjadi nasabah di Bank ini saat usia saya baru dua puluh. Masih muda. Belum punya tanggungan. Profil investasi saya agresif. Tanpa asuransi tambahan, karena saya bekerja dengan fasilitas jaminan kesehatan sampai mati.

Namun, profil keuangan saya dan suami saat ini berbeda. Untuk itu, kami mempertimbangkan mana skema asuransi yang tepat, terutama bagi suami yang juga tulang punggung keluarga. Pilihannya 1) asuransi konvensional dengan manfaat asuransi murni. Atau 2) skema asuransi dengan unit link yang menawarkan juga manfaat investasi.

Target dalam waktu dua tahun kami telah memiliki asuransi. Dengan demikian, jika mimpi tidak tercapai karena hal yang tidak diinginkan (amit-amit), kami telah melakukan tindakan jaga-jaga untuk melindungi keluarga secara keuangan.

mimpi

Ini mimpi kami hari ini, semoga bisa tercapai. Doakan ya!

Semoga sharing di atas bermanfaat untuk semua yang sedang mengejar impiannya! Semangaaaaaat!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Bayi Posesif dan Rebutan Mainan

bayi posesif

Saya sejak beberapa bulan lalu mengamati perilaku Gayatri saat bermain bersama dengan anak sebayanya. Gayatri secara umum bukan anak yang dominan. Cenderung kalem, mengamati, namun tidak bisa dipungkiri kalau dia excited baik terhadap teman main maupun terhadap mainannya. Namun semakin hari semakin saya pahami kalau dia tak hanya excited, tapi sudah menjurus ke arah posesif.

Posesif terhadap mainan (baik miliknya, maupun orang lain) dan posesif terhadap saya sebagai ibunya.

Bayi posesif terhadap mainan miliknya….

Jarang ada anak kecil lain yang main ke rumah, tapi ada satu kejadian, Saudara (dengan anak kecil seusia Gayatri) menginap di rumah beberapa hari. Kentara sekali Gayatri cukup posesif atas barang-barangnya. Walaupun dengan gaya yang slow dan tidak agresif, saya perhatikan Gayatri cenderung mengambil kembali barangnya yang sedang dipakai oleh sepupu kecilnya.

Misal si Sepupu sedang naik mobil-mobilannya, maka Gayatri akan naik juga ke atas mobil. Seperti mbonceng. Ngak merebut dengan kasar sih. Tapi slow but sure, dia ambil lagi mainannya. -.-“

Bayi posesif terhadap mainan milik orang lain….

Kejadian yang mengesankan saya adalah saat Gayatri main bersama anak-anak komplek perumahan lama. Saat itu ada satu anak yang membawa skuter mainan. Gayatri tampak tertarik, namun sang anak agak ngambek dan nggak mengizinkan mainan itu dipinjam. Tapi Gayatri pepet terus. Nggak maksa si, tapi nempeeeeeeeeel terus kaya perangko, dengan wajah datarnya.

Jadilah Gayatri dipinjami skuter (yang sejenis) oleh tetangga yang lain yang kebetulan anaknya nggak main skuter. Dan giliran mau dipinjem anak lain. Gayatri juga nggak mau ngasih. Wkwkwkwk…. Neng neeeeeng, sama-sama minjem solider dikit napa Neng!

posesif*foto dipost seizin para orang tua

Tak hanya merasa barang milik temannya adalah miliknya sendiri, barang di tempat umum pun kadang dia posesifin.

Kejadian di Tempat Umum

Kejadian yang mirip-mirip dengan cerita di atas adalah saat Gayatri ikut Babybash yang diadakan oleh The Asianparents di bulan Desember. Dari awal kami main di playground, Gayatri tidak pernah melepaskan bola kecil warna hijau. Saya baru sadarnya juga saat melihat lihat foto. Dari foto awal sampai menjelang akhir Gayatri tampak memegang satu bola itu. Warna hejo.

Diminta kagak mau. Sepertinya dia nggak memahami kalau itu bola bukan punya dia, tapi punya playground.

mobil mobilan baby bash

Kejadian lainnya di klinik anak. Jadi di klinik langganan ada playground dengan satu perosotan. Dan perosotan adalah mainan favorit anak-anak. Termasuk Gayatri (saat itu 11 bulan) dan satu anak laki-laki kira-kira usianya sudah 2 tahunan lebih.

Gayatri nangkring di atas tangga perosotan, sementara si anak laki-laki (sebut saja dia Iqbal) dorong-dorong tu dari belakang. Dasar Gayatrinya naik tangganya pun pelan, si Iqbal tampak mulai nggak sabaran. Dia mulai naik tu. Jadi dempet-dempetan di tangga. Saya sama Ibu Iqbal cuma senyum saat Iqbal nyeletuk, “Sabar…. Sabaarrr….” Tapi sambil dorong-dorong Gayatri yang dengan tambengnya tetep berdiri di tepi tangga.

Saya nggak memaksa salah satu untuk mengalah. Yang penting saya siap sedia, biar dua-duanya kagak jatuh.

Hanya saya langsung catat dalam hati kalau ada sesuatu terkait dengan konsep memiliki dan meminjam barang yang sedang dialami Gayatri. Pikir saya saat itu.

Bayi posesif terhadap ibunya…

1 ) Gayatri cemburu pada Bapaknya

Kalau sedang di rumah, saya dan suami memang cenderung nggak malu untuk mempertontonkan afeksi satu sama lain, seperti berpelukan saat nonton tivi, suap-suapan atau elus-elus kepala (kecuali berhubungan badan tentunya). Nah, Gayatri pasti langsung sewot ni kalau saya sama suami peluk-pelukan. Jangankan peluk, nyender lagi santai aja dia sewot.

Langsung deh dia pindah posisi di tengah-tengah.

hiks

2 ) Gayatri cemburu pada meja kerja dan sink dapur

Ini kocak, tapi seriusan. Kalau Gayatri melihat saya mendekati meja kerja saya, dia pasti akan langsung caper alias cari perhatian. Biasanya si narik-narik tangan saya. Atau tiba-tiba dia minta duduk di meja kerja saya. Cara lain yang juga sering dilakukan adalah: minta nenen tiba-tiba.

Awalnya, saya tidak terlalu ngeh…. Tapi karena seringnya frekuensi hal-hal di atas di lakukannya saat saya mendekati meja kerja, saya yakin kalau Gayatri jealous dengan meja kerja. Saya mahfum si, karena kalau sudah di meja kerja, saya memang cenderung fokus dan konsen penuh. Mungkin dia pernah merasa terabaikan, dan hal itu membekas di hatinya. 🙁

Oiya hal ini juga sering terjadi kalau saya terlalu lama cuci piring di dapur. Hahaha…. Yaaahhh, maaf ya nak….

hehehe

Suami saya kawatir kalau hal ini adalah pertanda Gayatri punya sifat buruk di masa depan. Seperti pelit, medit, egois, dst. Saya lalu mulai banyak nyari-nyari info terkait hal tersebut.

Ada yang pernah mengalami kekawatiran yang sama nggak sih?

Saya yakin hal-hal di atas juga pernah dialami oleh Nyonyah-nyonyah. Saat ngumpul bareng sama Saudara apalagi kan, rebutan mainan bisa jadi urusan panjang, kalau berakhir dengan pertengkaran bocah bocah kecil. Soalnya ni kalau anak-anak bertengkar, kadang cuma sebentar, mereka sudah rukun lagi. Tapi orang tuanya yang baper, masih kebawa-bawa sampai kapan tahun, wkwkwkwk….

Lesson Learn

Kalau Nyonyah merasa hal yang sama dengan saya, berikut ada kabar baik yang saya simpulkan dari googling dan baca buku terkait posesifnya bayi seperti disebut di atas.

1 . Wajar

Bayi belum memahami konsep pinjam-meminjam dan kepemilikan. Yang dia pahami, barang yang ada di tangannya adalah miliknya. Dan ketika barang yang dia sukai ada di tangan orang lain, artinya kiamat. Terdengar lebay ya. Tapi buat anak usia-usia ini bisa jadi itu adalah masalah terbesar baginya. Who knows kan apa yang ada di pikiranny?

Mungkin seperti orang dewasa kehilangan kekasih saat lagi sayang-sayangnya? Atau kehilangan pekerjaan gitu kali ya? Kebayang kan setresnya…. Wajar kan kalau bayi bereaksi galau dan jadi posesif atas barang/ orang yang disukainya.

2 . Merupakan tahap tumbuh kembang

Menurut Standar Isi tentang Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (Permendikbud RI Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini), anak usia 12-24 bulan telah mampu menunjukkan reaksi marah apabila merasa terganggu (misal saat permainannya diambil) adalah pertanda Sosial Emosional yang baik lo. Hal ini menunjukkan sang anak telah mampu mengekspresikan reaksi emosi.

Dari standar yang sama, poin memahami milik diri sendiri dan orang lain seperti milik saya dan milik kamu, atau dengan kata lain pemahaman kognitif tentang kepemilikan ada di rentang usia 18 – 24 bulan. Catatan mengenai standar ini saya peroleh dari Buku Rumah Main Anak.

Reated post: Review Buku Rumah Main Anak

Tetap sabar dan semangat ya Nyonya-nyonyaaahhh! Fase frustating ini akan kelar pada saatnya nanti, hehehe…. Namun tentu saja, kita nggak hanya diam. Beberapa hal tentunya dapat kita lakukan untuk mempermudah anak memahami konsep kepemilikan dan melewati fase ini dengan baik.

setrong

Apa yang saya dan suami coba terapkan:

1 . Meminta maaf pada orang tua lain

Ya tentu saja minta maaf ya, karena kan nggak semua orang tua memahami bahwa posesif adalah tahapan yang wajar dilakukan anak. Setidaknya dengan minta maaf, bisa mengurangi rasa tidak nyaman/ ketersinggungan yang dialami oleh orang tua anak yang sedang bermain dengan Gayatri. Semoga.

2 . Mengajak ngobrol Gayatri

Memaklumi ke-posesifan Gayatri pada masa ini, bukan berarti kami tidak melakukan apa-apa. Kami mencoba melakukan negosiasi juga kadang, dengan menawarkan mainan lain sebagai penukar, atau meminta pengertian Gayatri. Di usianya yang baru 15 bulan ini, negosiasi nggak selalu mulus yak. Pan dianya juga belum paham-paham bener.

Kadang dia manggut-manggut, tapi tetap ngotot megang mainannya. Kadang nggak berhasil. KADANG berhasil….

Jika berhasil, atau dengan kata lain, Gayatri mau berbagi, pada akhir kegiatan, saya biasanya akan bertanya, “Gayatri happy ya tadi bermain bareng sama Dedek? Happy ya tadi Gayatri mau berbagi mainannya…. Terimakasih ya….” Ga saklek juga kata-katanya selalu begitu. Namun tujuannya adalah menekankan ke emosi positif (rasa bahagia/ happy) yang muncul ketika mau berbagi. Poin ini terinspirasi dari buku Anti Panik Mengasuh Bayi 0-3 Tahun.

3 . Tidak memaksa Gayatri mengalah

Terkait dengan nomor 2, walaupun melakukan negosiasi, kami menahan diri untuk tidak memaksa Gayatri mengalah demi pandangan orang lain. Ya biarlah, pelan-pelan saja…. Umurnya baru 15 bulan, belum memahami sepenuhnya makna kepemilikan. Seiring sejalan, negosiasi dan pembelajaran akan kami tingkatkan.

Kadang kami pun menciptakan “latihan berbagi”. Caranya dengan bertanya padanya saat ingin makan cemilannya atau menggunakan barang miliknya. Kemudian memberikan kesempatan pada Gayatri untuk memilih boleh atau tidak. Saya sering minta biskuitnya Gayatri sih, kalau boleh biasanya dia akan menyuapi saya. Wkwkwk…. Kalau nggak boleh saya biasanya cuma diliatin sambil pasang muka datar.

4 . Memeluknya segera saat dia merasa cemburu

The first thing first yang biasa kami lakukan untuk meredakan kecemburuannya adalah memeluknya. Ya, sambil berusaha tidak merasa “terganggu” dengan perilakunya. Tentunya juga sambil terus mengingat bahwa, anak kami ini bukan sedang “sengaja” melakukan hal demikian, dia hanya sedang merasa insecure kalau-kalau barang yang dia/ orang sayangi akan hilang dari dirinya.

Sedikit pelukan akan membuat perasaannya, sekaligus perasaan kita sendiri, menjadi lebih baik.

5 . Memberikan perhatian penuh

Hal ini kadang challenging ya, terutama saat lagi buru-buru masak atau sedang ada email/ kerjaan yang mau di cek. Yakali, masa cek email aja kudu drama. Cuma butuh bentar aja, kelar, tapi jadi rempeus. Tapi ya konsekuensi yak, namanya juga punya anak. Sabaaaaar…. Sabaaaar…. #selftalk, bwakakak.

6 . Memberinya contoh berbagi/ pinjam-meminjam

Seperti banyak orang bilang, anak belajar dengan meniru. Hal ini juga bisa diterapkan nih. Ada ide bagaimana cara memberi contoh sederhana berbagi pada anak dalam kehidupan sehari-hari?

bayi posesif

Ada yang punya pengalaman nggak enak masalah bayi posesif? Yuk ceritaiiiiin…. 🙂

Terimakasih sudah mampir dan baca ampe abis ya Nyah, semoga sharing kali ini bermanfaat. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Menikah, The Greatest Achievement?

Postingan “Menikah, The Greatest Achevement?” ini nggak akan panjang seperti biasa, hehehe. Berawal dari stories Instagram-nya Faradila yang triggernya dari akun IG lain (sebut saja Bunga), saya jadi kepikiran tema ini. Latar belakang yang saya tangkap saat itu, akun Bunga ngomentari akun lain lagi (sebut saja Gadis), dengan agak “keras”.

Mmmm keras apa kasar ya…. Begini ceritanya….

Gadis bilang kalau the greatest achievement-nya adalah menikah dan memiliki anak. Sementara menurut Bunga, hal tersebut adalah hal yang egois dan malas. Setahu saya, Bunga sudah menjelaskan lebih lanjut tentang perkataannya itu dan meminta maaf. So, saya pikir saya nggak akan bahas diskusi antara Bunga dan Gadis lebih lanjut.

Kalau yang penasaran siapa Bunga dan gimana cerita lengkapnya meluncur aja ke blognya Faradila ya, kemarin dia janji mau nulis latar belakang tema ini dengan lebih lengkap.

Linknya sbb: Is Marriage An Achievement?

Balik lagi ke masalah tadi, walau urusan mereka sudah kelar secara adat, saya tetep aja kepikiran. Wkwkwkwk…. Soalnya, ya ampuuunn, masa perbedaan cara pandang kaya gitu aja bisa jadi ramai di media sosial sih. Saya kan jadi pengen nimbrung….

Tapi di blog aja, biar nambah page views #eh

hehehe

Iseng, saya coba tanya ke suami, “Apa greatest achievement-nya?” Sedikit berharap jawabannya adalah “Menikahi nyonyamalas”. Wkwkwk…. Tapi ya nggak mungkin lah, suami saya bakal jawab begituan.

Dan bener. Buat dia, menikah BUKAN greatest achievement.

Saya nggak patah hati sih. Wong buat saya juga bukan. Dan kebetulan jawaban kami sama. But itu out of topic lah, nggak akan saya ceritain juga. Wkwkwk…. Yang penting kami satu sama! Yeeeyy!

Tapi bukan berarti saya memandang menikah bukan sesuatu yang tahapan penting ya. Penting banget malah.

Penting, tapi bukan achievement. Lebih pas (buat saya) kalau disebut GRACE. Yah mungkin hanya masalah mengartikan sebuah kata ya…. Jangan diambil hati ya para #TeamGadis

GRACE.

Anugerah. Ibarat seseorang yang nggak layak, tapi menerima sesuatu yang berharga. Kurang lebih gitulah saya memandang pernikahan dan memiliki anak.

Saya menikah usia 25 tahun, saat saya sendiri sebenarnya sadar kalau saya jauhlah dari kata “siap” menjadi istri yang ideal. Ngototan, kaga bisa masak, kaga bisa macak (dandan), egois pulak.

Related post: Ribut Rukun dalam Pernikahan.

Begitu juga dengan memiliki anak. Ebuset, ngurus diri sendiri aja, saya sering lupa mandi. Eladalah dikasih bocah.

Kehamilan pertama saya gugur. Awalnya saya berpikir, oh, mungkin ini isyarat Tuhan kalau memang saya belum waktunya punya anak. Genap satu siklus menstruasi setelah keguguran, saya hamil lagi. Benar-benar menggenapkan pemahaman saya, kalau memiliki anak itu ya anugerah Tuhan semata-mata.

GRACE ALONE.

Btw, saya jadi ingat lagu favorit saya. Judulnya Grace Alone:

Every promise we can make
Every prayer and step of faith
Every difference we can make
Is only by His grace.

Every mountain we will climb
Every ray of hope we shine
Every blessing left behind
Is only by His grace

Grace alone Which God supplies
Strength unknown He will provide
God* in us, our cornerstone
We will go forth in grace alone.

Di lirik aslinya *God: Christ. Karena ini lagu gereja. Cuma biar bisa dinikmati lebih umum dalam konteks sebagai ibu dan istri, saya cantumkan dengan “God” ya.

Sesuai dengan lagu tadi, sebagai ibu dan istri, kayanya kalau mengandalkan kekuatan sendiri saya nggak akan bisa achieve hal-hal itu deh. Setiap janji, setiap langkah, setiap tantangan yang berhasil dilakukan…. is only by His grace. Daaaaannnn, Nyaaaahhhh…. Kita akan jalan teruuuuss, juga in grace alone. We will go forth in grace alone. Semangaaaattt!!!!

setrong

PS.

Sebagai sesama penerima anugerah, ayolah no more arguing tentang segala sesuatu yang menurut saya nggak membangun. Kaya ribut-ributnya Bunga sama Gadis. Ngapain pulak. Endingnya si pakai “Yaaah, masing-masing orang bebas berpendapat.” Tapi nyolot. Trus dishare-share beranak pinak. Trus kubu-kubu-an. Saya #TeamBunga Kamu #TeamGadis. Trus war-war-an.

Mending nyanyi lagu Michael Jacson yang Heal The World.

Kalau kalem kaya saya kan adem. #peaceloveandbikinanakkedua

Please kalimat terakhir di atas jangan dianggep serius yaaaak! Apa lagi yang saya coret…. 😛

Terimakasih ya Nyahhh sudah mampir, kalau mau kasih pandangan boleh boleh aja di comment. But inga inga, nggak usah pada emosi. Norak tauk!

Salam sayaang….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Pengalaman Meal Prep Minggu Ke 2 dan 3 #2

meal prep minggu 2 dan 3

Edisi rapelan cerita pengalaman meal prep di minggu ke dua dan tiga ini yaaaa…. Dimulai dar ngecek Lesson Learn minggu pertama yaaa…..

Related post: Pengalaman Meal Prep Minggu Pertama

Yang uda dijalankan:

  • Berhubung minggu pertama saya nyoba menyimpan sayuran di frezeer, dan ternyata bikin teksturnya nggak cucok (buat kami), akhirnya minggu ini saya balik seperti dulu kala. Nyimpan sayuran di kulkas bawah. Sayuran saya potong-potong tanpa dicuci kemudian di masukkan ke dalam wadah. Dasar wadah dilapis kertas (saya pakai koran bekas). Kertas tersebut gunanya untuk menyerap kelebihan air, supaya sayuran tidak cepat busuk.

sayur

  • Minggu pertama saya baru ngeh kalau buah yang kami konsumsi sedikit sekali: hanya pisang dan pepaya. Di minggu kedua dan ketiga, kami nambah alpukat, buah naga dan belimbing.
  • Biar nggak selalu tergantung dengan Bumbu Masak Machmudah, saya mencoba masak resep baru pakai bumbu bikin sendiri. Jangan tanya rasanya yaaa….
  • Beli daging yang sudah potongan sesuai masakan (saya belanja di Superindo, beli daging sapi untuk sop buat masak rawon dan krengseng), jadi waktu meal-prepnya lebih singkat.

tempe

Dari Lesson Learn minggu pertama, yang belum berhasil dijalankan adalah: belanjanya nggak pagi. Minggu kedua belanjanya malem, karena habis keluar kota. Minggu ketiga menjelang sore. Jadi meal prepnya tertunda tunda. Mangkanya ga pernah ada foto yang kece kaya kaya di instagram instagram. Wkwkwkwk….

Dikomplain Suami

Oiya….. Di minggu 2 dan 3 ini saya terima komplain dari suami, karena perpaduan menu serta pengolahan sayur yang kurang oke. Hehehe…. Iya si, soalnya kan saya fokus sama apa yang bisa saya masak aja. Jadi keseringan tumis brokoli. 😛

Sebenernya komplain ini dilakukan beberapa kali. Saya jadi sempat ngambek dan mogok masak gegara dikomplain mulu. Nyonyah kan haus apresiasi. Puji dikit kek, biar tetap semangat menghadapi kehidupan. Saya beneran ngambek tauk. Saya chat suami. “Mbok ya pelan-pelan menghadapi masakan saya yang ya gitu gitu aja. Sabar, gitu. Wong dari skala minus, jadi kaya sekarang aja uda lumayan banget progressnya.”

Gitu. Pokoknya kalau ada uneg-uneg mending disampaikan to the point. Laki-laki mah kaga ngarti kalau kita cuma ngambek.

Tapi, sebenernya suami saya juga bukan tipe yang jarang muji. Tapi dia jujur. Kalau enak dibilang enak. Walaupun dia tau enaknya karena bumbu racikan serbaguna sekalipun, akan tetap dia puji. Tapi kalau kagak enak ya dibilang juga “kagak enak”. Dan jujurnya suka brutal. Sadis pisan, kata Afgan.

#LahMalahCurhat

kwetiau

Bikin Menu Kesukaan Semua

Trus akhirnya saya melakukan langkah berikut untuk memperbaiki keadaan sekaligus skill dapur saya. Mungkin langkah-langkah yang saya lakukan bakal bermanfaat juga buat teman-teman ya….

  1. Bikin list lauk sebanyak-banyaknya. Lalu beri keterangan mana yang saya bisa bikin bumbunya from scratch, mana yang mau pakai bumbu jadi (Bumbu Jadi Machmudah Oye!) dan mana yang harus nyari resep dulu.
  2. Bikin list sayur.
  3. Ngobrol sama suami/ anggota keluarga untuk menentukan mana yang mereka suka. Saya bersyukurnya selera Gayatri mirip sama Bapaknya ya. Jadi saya masak satu menu keluarga untuk semua.
  4. Bikin menu mingguan dengan mix antara poin 1 dan 2. Misal: Udang Saus Padang dan Tumis Kangkung, Krengseng Daging Sapi dan Bening Bayam, Sop Kacang Merah Iga dan Tempe Garit, Lodeh dan Ayam Goreng, Rawon dan Telur Asin.
  5. Nyetok resep terkait step nomor 2.

Yang poin 5 ini optional ya. Khususon buat saya soalnya memang belum bisa inget semua resep masakan. Dan kadang kalau harus googling dulu on the spot, malah jadi boros waktu. Apa lagi kalau ternyata bumbunya ada yang nggak ready di dapur. Endingnya gagal masak maning.

Di minggu kedua dan ketiga ini, ada dua resep baru yang saya coba masak from scratch alias kagak pake bumbu jadi: 1) udang saus padang dan 2) gulai cumi. Yang udang saus padangnya sukses. Yang gulai cumi, biasa aja. Geje rasanya, tapi masih dalam kadar bisa dimakan.

udang

Untuk resep, saya seringnya mengacu ke blognya mbak endang: justtryandtaste. Kadang juga lihat ke cookpad sebagai pembanding.

Meal Prep Memudahkan Evaluasi Gizi

Membuat menu selain memudahkan kita dalam memasak selama seminggu, juga memudahkan kita mengevaluasi gizi yang dikonsumsi keluarga. Seperti minggu lalu saya ngehnya kami kurang buah ya karena meal prep ini.

buah

Kemudian di akhir minggu 3, suami mengeluh lehernya kenceng. Biasanya hal itu terjadi kalau kolesterolnya naik. E bener setelah dicek menu kami memang kebanyakan bersantan, jeroan belum lagi ada udang dan cumi.

Mengolah Udang dan Cumi

Kalau untuk pengolahan bahan makanan hampir sama dengan minggu lalu. Cuma ketambahan udang sama cumi. Berikut beberapa hal yang saya pelajari tentang menyimpan dua bahan ini:

1 ) Udang

Kulit dan kepalanya enak banget dibikin kaldu. Cuma saya lebih suka tidak mengupas udang, kalau masakannya memungkinkan biar daging udangnya tetap juicy. Jadi kepalanya biasanya saya potek sedikit lalu saya bersihkan kotorannya, sambil dijaga agar kepalanya tidak copot. Antenanya saya potong.

2 ) Cumi

Sebagai orang yang nenek moyangnya (literally) pelaut. Saya lumayan bisa lo makan bersihin seafood. Tipsnya adalah: memakai asam jawa. Serius, asam jawa lebih nampol dalam membersihkan cumi. Bau amisnya ilang. Sedep dehhh. Caranya remas-remas cumi dengan air asam jawa + garam, lalu bilas.

cumi

Karena saya mau masak gulai maka bagian yang harus dibuang dari cumi adalah: tulang yang seperti plastik bening, ujung mulutnya yang kaya batu, kulit arinya dan tinta. Hmmmm, sebenarnya tinta tu bikin enak ya. Tapi nggak cucok aja kalau masak gulai, tinta cuminya nggak dibuang.

Continuous Improvement

Minggu keempat adalah minggu terakhir challenge ini ya…. Meal prepnya si bakalan lanjut, cuma mungkin nggak rutin saya update di blog. Takut pada bosen. Hihihi…. Untuk minggu keempat, perbaikan yang pengen saya lakukan adallah sbb:

  1. Belanja lebih pagi!
  2. Belajar bikin snack sebagai gimmick.
  3. Saya pengen punya buku catatan menu. Selama ini soalnya saya bikin di kertas asal-asalan. Biasanya si di buku gambarnya Gayatri. Soalnya kan nyusun menunya sambil nungguin Gayatri main. Cuma saya mikirnya buat lain waktu kan bisa dipakai lagi (berulang menunya).

Tiga itu aja PR yang buat minggu depan…. Doain istiqomah ya Nyaaaahhhh….

meal prep minggu 2 dan 3

Thankyuuu uda mampir. Yuk ayuk cerita siapa yang juga lagi belajar masak ata meal preeeeeep??? Share di comment section yaaa…. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Laissez-faire

pembagian tugas keluarga

Pernikahan saya dan suami, sebut saya dia Tuan Besar karena literaly memang besar, baru dua tahun. Tapi kami pernah mengalami beberapa bentuk pembagian tugas keluarga dalam manajemen rumah tangga. Aseeeeekkk (((manajemen))).

Tuan Besar sempat jadi working-at-home-husband sementara saya bekerja kantoran penuh waktu. Kami juga pernah mengalami masa-masa di mana kami berdua ngantor 8-5 bahkan lebih. Dan yang terakhir, saat ini Tuan Besar ngantor, dan saya temporary working at home.

Kami pernah punya ART paruh waktu. Pernah langganan laundry kiloan. Pernah setia pada katering harian. Pernah pula nitip anak ke daycare termahal di kawasan Bintaro (nangis kalau inget bill-nya). Dan kini, kami lepas dari semua fasilitas itu, sejak pindah ke Surabaya dua bulan lalu.

Berdasarkan berbagai pengalaman di masa lalu, kami belajar tentang karakteristik keluarga kami dan bagaimana bentuk pembagian tugas yang cocok buat kami. Bentuknya adalaaaaah: Laissez-faire. Yeeeaaahhh!!!

Laissez-faire adalah sebuah frasa bahasa Perancis yang berarti “biarkan terjadi” atau secara harafiah berarti “biarkan berbuat”. Intinya sih kalau di rumah siapa yang sempat, dialah yang akan mengerjakan. Buat orang-orang yang rapi dan teratur mungkin hal ini terdengar intimidatif ya. Tapi so far, buat kami semua berjalan baik-baik saja.

kuat

Tentu saja ada prinsip-prinsip yang dipegang si ya, biar ga berujung berantem atau jadi terbengkalai:

1 . Kesamaan pemahaman tentang arti kodrat.

Kesamaan ini yang penting antara suami dan istri sama gitu. Sama tetangga sih nggak harus sama pemahamannya gapapa. Buat kami, kodrat adalah sesuatu yang memang given di tubuh kita. Seperti misalnya menyusui adalah tugas saya sebagai ibu karena saya punya payudara, suami saya tidak. Sementara mencuci alat pumping bukanlah kodrat, tapi ini urusan manajemen dan kerelaan hati.

Kalau uda sepaham gini enak, lo. Soalnya jadi sama-sama bertanggung jawab dan juga berinisiatif. Nggak saling nuduh, “Ini kan tugas kamu!”. “Ah, kamu ni, tugas kamu jugaaak!!!!”

Krompyang! #piringdibanting

2 . Saling menghargai “me time“.

Me-time atau mengerjakan hobi sebagai kebutuhan pribadi adalah sesuatu yang penting buat kami. Urusan rumah tangga tidak lebih penting dari hobi. Ini yang berlaku buat kami lo yaaa…. Soalnya, hobi itu stress release banget. Lagipula kami nggak keterlaluan juga kok jadwalnya.

Pekerjaan rumah bisa menunggu, kesehatan jiwa lebih utama. Inget, nasihat di bak belakang truk Pantura, “Don’t to milk”. Ojo kesusu…. Hehehe, apa si saya….

Jadi kalau hari Kamis jam 10 malam, Tuan Besar uda nggak bisa diganggu gugat. Soalnya itu jam main game sama aliansinya, Marvel Future. Gitu juga kalau saya lagi “karaoke” di kamar mandi, suami juga siap siaga nemenin Gayatri.

Habis me-time, moodnya pasti jadi lebih baik. Siap buat cuci piring segunung lagi.

3 . Sepakat tentang mana yang prioritas dan mana yang enggak terlalu prioritas.

Skala prioritas kami untuk pekerjaan rumah adalah:

  1. Makanan harus ada dan bergizi.
  2. Sink selalu dalam keadaan kosong setelah digunakan, biar sehat.
  3. Kamar mandi kesat, biar aman, nggak mlesetin.
  4. Baju bersih.

Pekerjaan prioritas akan dikerjakan oleh siapapun yang sedang di rumah. Jadi kalau Tuan Besar yang pas di rumah maka dia yang akan masak, dst. Begitu pula kalau saya yang ada di rumah. Saat ini sih, mostly saya yang di rumah yak….

Segala hal selain keempat hal di atas dikerjakan pas super senggang aja, atau pas bisa disambi main sama bocah. Seperti nyapu halaman sambil nemenin Gayatri mainan batu. Nge-vacuum karpet pas Gayatri mainan building blocks, dll.

4 . Tahu konsekuensi, nggak perfeksionis.

Konsekuensi dari pembagian tugas laissez-faire adalah kerjaan rumah NGGAK SELALU selesai dengan perfect. Pokoknya yang penting kelar, yang penting semua jalan. Kalau ada yang kurang pas dikit, ya cincai lah.

Contoh, saya sedang belajar meal-prep. Nah, pernah tuh tauge yang rencananya mau saya tumis, dibikin bakwan dong sama suami. Karena dia pengen ngemil. Yaudin…. ikut nikmati aja, bakwannya enak ini. Nasib tumisannya, ya harus beli tauge lagi, hahaha….

setrong

Kalaupun dipaksa harus ada pembagian tugas, maka pembagian tugas kami adalah sebagai berikut:

1 . Suami ngasih vitamin A (A-PRESIASI)

Banyak perempuan merasa desperate di rumah, sebenarnya IMHO bukan karena memandang pekerjaan rumah itu sepele. Bukan. Melainkan karena pekerjaan rumah kurang diapresiasi.

Saya terlahir di keluarga yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Jadi beneran baru tahu pekerjaan rumah full ya baru dua bulan ini. Jadi kerasa banget bedanya kerjaan rumah dengan kerjaan kantor. Kerjaan kantor mah jelas kapan dikerjakan dan apa rewardnya. Lhah kalau kerjaan rumah…. Uda kaga ada habisnya, kalaupun dikerjain pun jarang ada pujiannya….

Kalau lagi PMS, rasanya tu pengen bilang, “Dengan kekuatan datang bulan, akan menghukummu”.

Oleh karena itu, jujur saya minta sama suami buat ngasih apresiasi. Terutama kalau saya masak (FYI, suami saya jago masak). Jadi sebagai ibu biasa yang gampang bahagia, diapresiasi membuat kehidupan #modyarhood jadi ada semriwing-semriwingnya gitu. Semangat 45 kembali.

2 . Istri ngasih vitamin C (cinta C-IUM)

Hahaha, seriusssss iniiii…. Dari berbagai perbincangan di grup ibu-ibu, saya menyimpulkan satu hal: para ibu kalau uda capek ngurus rumah, ngurus anak, jadi malas mesra-mesra sama suami. Pengennya langsung meluruskan punggung di kasur, cuss bobo.

Iya nggak sih? Ngakuuuuuu! Hayooo mulai sekarang jangan malas-malas ngasih vitamin C ke suaminya ya…. Cup cup mwaaahhh….

love loveYah, kira-kira seperti itu yang terjadi di rumah kami. Hehehe, mungkin nggak akan pas untuk diterapkan di rumah Nyonyah…. Tetep balik lagi ke karakter penghuninya ya…. Tapi semoga sharing kali tetap ada manfaatnya.

Ocip, akhir kata terimakasih sudah berkunjung! Salam sayang selaluuuuu….

pembagian tugas keluarga

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Challenge: Masak Sendiri dan Meal Prep

meal prep challenge

Selama tiga minggu nyicipin rasanya jadi ibu rumah tangga, saya mulai care dengan beberapa hal yang sebelumnya tidak saya perhatikan. Yang pertama adalah masalah uang makan dan yang kedua adalah masalah masak.

Uang Makan

Dua minggu pertama saya pindah ke Surabaya, hampir bisa dikatakan tiap hari saya jajan atau makan di luar. Bukannya sombong atau hura-hura ya. Tapi memang agak euforia aja lihat harga makanan di Surabaya yang jauh lebih murah dibandingkan Jakarta.

Tapi biar murah, setelah dihitung-hitung lumayan juga. Lumayan banget malah. Hahaha…. Hasil dari baca-baca blognya Mbak Rinda (rumahbarangtinggalan.wordpress.com) dan Twelvi (twelvifebrina.com), saya menyimpulkan kalau memang bener, biaya makan itu nggak kerasa tapi adalah faktor utama keborosan.

Tips dari kedua blog di atas untuk mencegah pemborosan uang makan kurang lebih sebagai berikut:

  1. Buat perencanaan menu untuk beberapa periode (misal seminggu atau sepuluh hari),
  2. Belanja sesuai perencanaan menu di atas,
  3. Masak sendiri di rumah dari bahan yang ada,
  4. Tidak belanja lagi sampai barang belanjaan di kulkas habis.

Minggu ketiga langsung banting setir untuk nyoba masak di rumah. Kami nyoba merencanakan menu seminggu lalu belanja. Daaaannnn, pengeluaran belanja protein hewani nggak sampai 20% persen dari pengeluaran kalau jajan full. Ya kalau ditambah dengan belanja sayur di Mang Sayur secara harian + beras, kayanya nggak sampai 30% dari pengeluaran kalau jajan deh.

Buat kami berdua, yang pas masih ngantor makan di luar nyaris 3x sehari, jumlah tersebut membuat kami terhenyak. Terhenyak dan membayangkan, kalau selama dua tahun pernikahan kami istiqomah bisa cut cost begitu terus, uda kaya raya kali kami yaa…. Hahahaha….

Bisa saving 70% Boookkkk!!!!

ngiler

Masak Memasak

Tapiiiii, ada tapinya ni…. Saya juga baru nyadar kalau masak full untuk tiga kali sehari, dengan tipe saya dan suami yang banyak maunya, itu boros waktu. Menyiapkan bahan, memasaknya daaaaan apalagi nyuci piringnya. Weleh weleh…. Apa lagi saya harus masak MPASI juga. #curhat.

Ribet. Sesuatu yang nggak saya banget.

Maka dari itu saya jadi rajin baca-baca Pinterest tentang Food Prep/ Meal Prep yang katanya bermanfaat untuk menghemat waktu. Banyak bingit yang dari blog luar ya, tapi saya juga nemu punya Mbak Rinda dan Mbak Ega Dioni (egadioniputri.wordpress.com). Blogger Indonesia. Punya Mbak Rinda memang sudah saya temuin dari lama si, cuma baru beneran saya baca baik-baik.

Lesson learn yang saya dapatkan adalah minggu lalu saya merasa ribet untuk tiap hari masak karena belum melakukan meal prep. Jadi habis belanja semua belanjaan masuk kulkas dan baru diproses saat akan masak.

Tips dari dua blog di atas untuk menghemat waktu memasak kira-kira seperti ini:

  1. Jangan nyari resep, menyiapkan bahan baku, dll tepat saat mau masak,
  2. Sebaiknya beberapa step sebelum masak sudah dipersiapkan terlebih dahulu (meal prep),
  3. Meal prep bisa dengan menyiapkan bahan mentahnya dahulu (motong-motong bahan) atau dengan menyimpan masakan sudah matang. Bedanya apa baca blog Mbak Ega Dioni.
  4. Kalau versi Mbak Rinda, dia melakukan beberapa versi meal prep sesuai kebutuhan, tapi yang pasti bahan mentah yang dari belanja langsung diproses di hari belanja. Persamaan antara Mbak Rinda dan Mbak Ega adalah memasak sekaligus banyak untuk kemudian sebagian dibekukan sebagai stok.

Percaya nggak, dengan perencanaan dan pengelolaan masak memasak, Mbak Rinda bisa mengepulkan dapurnya dengan budget Rp 500.000,00 SEBULAN!!! Kalau Mbak Twelvi bisa nabung 150 JUTA rupiah, buat traveling dan juga traktir keluarganya ikut travelinggggg!!!!

love love

Semaput.

Saya nggak akan seambisius itu si. Jauh di atas itupun saya masih akan bangga banget. Uda pasti menang banyak dah dibanding yang lalu lalu. Cumaaaa, satu yang jadi pertanyaan saya…. Apakah metode Mbak Rinda, Mbak Atiit, Mbak Ega dan Mbak Twelvi dengan Meal Prep mereka masing-masing sesuai dengan karakter nyonyamalas saya dalam jangka panjang? Akankah saya akan seistiqomah para Perempuan Rajin itu? #kraaayyy

Eh, dua ya pertanyaannya.

meal prep challenge

So, I’ll try ya…. Dan men-challenge diri saya pribadi untuk masak selama sebulan ini (kecuali kalau keluar kota ya). Nanti progressnya bakal saya ceritain di blog. Apa saja keberhasilan, KEGAGALAN 😛 dan lesson learn dari pengalaman yang saya alami. Harapannya si, challenge kali ini bisa menghasilkan formula yang pas buat para nyonyamalas seperti saya…. 😛

Selain itu, buat saya pribadi hal ini bakal jadi pembelajaran banget. Mumpung saya masih cuti juga, biar belajar skill kehidupan nyata seperti ini. Hehehe, skill dasar banget sebenernya ya. Rada malu juga si sebenernya posting ini. Tapi ya I just want to be real.

kuat

Saya juga yakin nantinya ini akan bermanfaat untuk banyak orang. So, please untuk yang mau dukung saya mengerjakan challenge ini, kasih saran ya, atau boleh juga kasih rujukan bacaan (blog Indonesia preferably). Buat yang uda pro, plis nggak usa pake bully kaya di status FB “ibu-ibu 2,5 juta” itu ya (you know what i mean). Akika, ibu newbie unyu unyu, lebih butuh saran dan masukan. So, yang mau sharing pengalamannya selama ini juga boleh loh. Tulis aja di comment section below yaaa….

Thanks Nyaaaahhh!!! Salam sayang!

PS. Challenge ini kayanya bakal mulai start di minggu kedua Maret, karena minggu depan saya mau keluar kota dulu.

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Ibu Multitasking, Yay or Nay?

multitasking yay or nay

Saya tim Nay!

Bukan masalah preferensi sebenarnya, tapi masalah sadar diri. Hehehe….

Hal ini berlaku saat saya masih ngantor 8-5 maupun pas saya cuti besar ini. Kalau saya mencoba mengerjakan dua hal secara bersamaan dalam waktu singkat, alias multitasking, biasanya malah akan menghancurkan keduanya.

Contoh satu: ngetik sambil ngasuh anak. Yang ada saya malah emosi sama anak, dan tulisan saya juga jadi banyak typonya. Tetot! Rugi di kedua belah sisi. Contoh kedua: mandi sambil nyanyi-nyanyi. Ya, bahkan untuk hal sesederhana mandi sambil nyanyi saja saya gagal. Biasanya kalau saya mencoba melakukan kedua hal ini, endingnya adalah pintu kamar mandi digedor sama suami karena saya mandi kelamaan. Padahal di dalam kamar mandi saya belum ngapa-ngapain, cuma nongkrong di pangkuan Mas Toto. Sambil fokus nyanyi tentunya.

Oiya, lagu favorit saya lagunya Fun. yang Why Do I Stand For. Lebih melengking dari Nate Ruess lebih jos. #Abaikan

hehehe

Saya tim Nay! karena bagi saya (bagi saya loh bagi saya, kita boleh beda loh, beneran, hehehe) multitasking akan berakibat:

1 . Lebih boros waktu.

Terdengar ironis ya? Tapi beneran. Ketika multitasking, yang saya lakukan sebenarnya bukanlah mengerjakan dua pekerjaan secara bersamaan, melainkan mengerjakannya secara bergantian (juga) namun dalam porsi yang kecil kecil.

Naasnya, dengan memotong-motong pekerjaan menjadi porsi kecil, kadang saya melupakan progress pekerjaan yang lain saat berpindah ke pekerjaan setelahnya. Saya jadi perlu tambahan waktu lagi untuk bisa tune in ke pekerjaan yang saya hadapi.

Ada yang sama? Atau saya saja yang oneng? 😛

2 . Lebih banyak kesalahan.

Misalnya saya lagi masak sambil memantau stories IG. Trus saya ngga sengaja deh masukin garam 2x. Asin asin deh kan. Atau mantau stories IG sambil nenenin Si Ening (DOSA BESAAARRR!!!). Pernah suatu kali, saya mesem-mesem baca storiesnya seseakun lalu ngakak, dan nggak sengaja si henpon merosot, Gayatri ketiban. Doooh.

hiks

Itu pake contoh kerjaan rumah aja ya. Contoh kerjaan kantor yang jadi banyak salah karena multitasking tentunya banyak. Bisa deh dibayangkan sendiri.

Pelupa + ceroboh + multitasking = mistakes.

3 . Menguras energi (dan somehow emosi).

Yap, multitasking menguras lebih banyak energi dan emosi. Ya bijimana kagak, biasanya saya tergoda untuk melakukan multitasking kan kalau ada deadline yak. Tapi alih-alih cepat selesai, pekerjaan malah jadi amburadul dan banyak salahnya. Pan jadi emosi. Tambah capek pula.

Kalau pas di rumah siapa yang jadi sasaran tembak? Suami lah…. Maafkan daku Mas, maafkan.

Pelupa + ceroboh + deadline + multitasking = bencana emosional.

Saya bisa multitasking jikaaaaa….

Salah satu pekerjaan diotomasi, misal mencuci dengan mesin cuci. Itu pun mesin cuci yang satu tabung ya, yang sekali pencet uda kelar dari ngerendem sampai ngeringin. Pengalaman, kalau menggunakan mesin cuci dua tabung, endingnya tar cucian cuma direndem dan baru inget nyuci besoknya lagi. -.-” Iya saya sepelupa itu.

Kalau di antara Nyonyah-nyonyah ada yang merasa dalam 24 jam ini sudah susah payah mengerjakan semua hal, namun kok nggak ada yang beres. Coba dicek deh…. Jangan-jangan Nyonyah setipe dengan saya tapi selama ini mencoba multitasking.

So, ya sudahlah, kalau buat Ibu lain, multitasking sukses, nggak harus sama kan dengan cara kerja kita. Dan itu bukan berarti kita lebih buruk dari mereka. Ya cuma beda cara kerja aja.

multitasking yay or nay

Trus gimana dong?

1 . Delegasikan.

Nasihat teman, saat saya baru melahirkan, “Jangan malu minta tolong. Jangan gengsi meminta bantuan”. Yap, beberapa pekerjaan sebenarnya bisa kok dibantu orang lain. Dibantu suami atau disubkontrakkan. Setrikaan banyak barengan sama deadline tulisan, ya sekali sekali laundry kiloan boleh lah.

2 . Jangan tunda, cicil tugas sedini mungkin.

Saat jadi stay at home mom, pekerjaan yang paling banyak menguras waktu dan tenaga saya adalah membuat makanan. Yaitu mulai dari bikin rencana menu, nyari resep (karena saya nggak jago masak), menyusun daftar belanjaan, belanja sampai memasaknya. Jadi prinsip menyicil ini kudu banget saya terapkan di masalah membuat makanan ini.

Misalkan, lapar nggak lapar saya harus tetap ke dapur. Kalaupun sudah ada makanan, saya bisa food preparation untuk besoknya. Atau ngecek stok bahan makanan dan bumbu. Lalu, sediakan frozen food buat jaga-jaga kalau lagi deadline jadi bisa tinggal dicairkan dan dihangatkan saja. Sekali-sekali gapapa to. Atau kalau sedang senggang nyicil googling resep dan disimpan, jangan buat kepoin IGnya Iqbal Dylan doang tu HP.

setrong

Hahaha, sok bener banget ya saya kasih nasihat. Ya, saya memang manusia yang penuh dosa, hehehe, maka dari itu yuuukkk belajar bareng-bareng…. Kalau ada Nyonyah-nyonyah yang punya tips, boleh banget lo dishare di comment section below.

Terimakasih dan salam sayang selalu….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Sarapan Supaya Sigap dan Berdaya

sarapan biar sigap

Saya sempat tertohok saat Mas Domas, suami saya, cerita Dia habis kena tegur oleh Bos-nya (untuk mudahnya kita sebut Beliau “Bos Jepang”) di pantry. Singkat cerita ternyata si Bos Jepang negur karena melihat Mas Dom makan mie instan di pantry. Dia bilang mie instan is no good. “No no no good. Suruh istri kamu siapin makan, bawa bekal ke kantor. Lebih sehat,” begitu katanya. Beliau sendiri memang selalu bawa bento dengan menu makan kumplit khas bento orang Jepang untuk makan siang, dan kami menebak kalau Beliau pastinya sudah sarapan di rumah.

Saat itu saya cukup salut dengan Bos Jepang, setahu saya mereka jarang sekali ngobrol masalah pribadi, cenderung ngomong yang terkait dengan pekerjaan. Dan ketika masalah sarapan ini dibahas di kantor, saya jadi menyadari bahwa sarapan menjadi sesuatu yang krusial di dalam kultur kerja keras orang Jepang.

setrong

Well, logis juga si. Untuk dapat bekerja dengan baik dan fokus, tubuh memang perlu didukung dengan nutrisi yang baik. Jadi, yuk sarapan supaya tubuh sigap dan berdaya!

1 . Tapi, Kenapa Tidak Sarapan?

Bikin Mules (Kalau Terlalu Banyak)

Terkait dengan teguran Bos Jepang di atas, dalam hati saya memberontak, “Yeeee, siapa juga yang kagak nyiapin makanan, wong dianya (Mas Dom) aja yang sering males sarapan”. Alasannya? “Kalau sarapan, aku jadi mules-mules, ngerasa kebelet buang air besar melulu”.

Alasan suami saya ternyata tidak mengada-ada loh. Menurut Kemenkes di Lembar Berita Jejaring Informasi Pangan dan Gizi, sarapan yang terlalu banyak cenderung akan mengganggu pencernaan. Tapi bukan berarti kita boleh tidak sarapan loh. Harusnya hal tersebut diminimalisasi dengan membatasi porsi sarapan. Jangan yang berat-berat Komandan.

Tidak Sempat

Selain karena masalah mules tadi, biasanya alasan kami tidak sarapan adalah karena tidak sempat. Yang pertama tidak sempat menyiapkan, atau yang kedua tidak sempat makannya.

Alasan yang lazim kan, saya yakin deh, teman-teman juga banyak yang sering mengalami. Apalagi yang Ibu-ibu, pagi-pagi mah sibuk ngurus anak dan suami. Anak dan suami kelar, lanjut beberes rumah. Tiba-tiba aja eh sudah jam sepuluh pagi. Padahal kan sarapan sebaiknya dilakukan sebelum jam sembilan tuh.

Sarapan adalah kegiatan makan dan minum yang dilakukan antara bangun pagi sampai jam 9 untuk memenuhi sebagian kebutuhan gizi harian (15-30% kebutuhan gizi) dalam rangka mewujudkan hidup sehat, aktif, dan produktif.
-Pedoman Gizi Seimbang Kemenkes RI-

Tapi HARUSNYA kalau sudah niat pasti ada aja jalannya.

Nggak sempat menyiapkan sarapan? Ya pilih menu makanan yang praktis pembuatannya, sehingga cepat penyiapannya. Nggak sempat makannya? Ya pilih makanan yang praktis makannya, jadi bisa dimakan saat di mobil, misalnya. Serta pastikan makanan yang dipilih padat gizinya, sehingga cepat dimakan namun sudah mengandung nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Iya kan iya kan? Setuju?

Bosan

Alasan yang lain adalah, “Bosan dengan menu yang itu-itu saja”. Iya juga sih, saya jadi ingat, dulu jaman masih bocah, sarapan paling ya mie instan atau roti tawar atau nasi pakai telur ceplok. Maklum, kedua orang tua saya bekerja, dan kami semua masuk jam tujuh pagi. Kadang memang terbersit rasa bosan dan tidak semangat sarapan.

Tapi kalau sekarang, saya jauh lebih kreatif daripada Mama (hehehe, sorry to say Maaaakkk!). Ada beberapa menu sarapan praktis yang bisa saya buat di pagi hari. Saya share di akhir artikel ini ya.

2 . Manfaat Sarapan

Seringnya sarapan dianggap sepele dan tidak penting membuat 225 ahli gizi, ahli pangan, dan praktisi kesehatan pada tahun 2012 merekomendasikan tanggal 14-20 Februari diperingati sebagai Pekan Sarapan Nasional sebagai trigger kesadaran masyarakat terhadap manfaat sarapan.

Do you realize?

Sadarkah teman-teman, kalau pas tidur tubuh kita “puasa” tanpa asupan makanan/ minuman selama hampir delapan jam. Ibarat tangki mobil sudah kosong melompong kan itu perut di pagi hari. Namun, bukan berarti sarapan hanya penting untuk memenuhi perut kosong semata. Nutrisi yang ada di dalamnya jauh lebih penting. Jadi tidak hanya asal kenyang.

Sarapan Mendukung Prestasi dan Aktivitas Sehari-hari

Seperti halnya mobil yang membutuhkan bensin dan oli untuk dapat berjalan, maka tubuh kita pun membutuhkan macro nutrients dan micro nutrients untuk dapat beraktivitas secara optimal. Dan berhubung pekerjaan/ sekolah dimulai dari pagi hari, tentu “isi tangki”-nya juga di pagi hari dong alias sarapan.

kuat

Nggak bisa dirapel tar siang aja gitu?

Kagakkkk! Soalnya kan dalam sistem pencernaan tubuh, makanan yang dibutuhkan tidak bisa sekaligus disediakan tetapi dibagi dalam 3 tahap yaitu tahap makan pagi, tahap makan siang dan tahap makan malam. Jika skip di pagi hari maka gula darah di dalam tubuh akan turun dan membuat kita menjadi lemas lunglai tak sigap tak berdaya.

Intinya sarapan berkaitan dengan kebutuhan sebagai berikut:

  1. Kecukupan energi sebagai bahan bakar tubuh.
  2. Kecukupan gizi lain untuk menjaga fungsi tubuh lain, menjaga daya tahan tubuh, meregenerasi sel, dll. Misalnya: tubuh membutuhkan vitamin A, B1, B2, asam folat dan kalsium. Asam folat digunakan untuk pembentukan sel dan sistem saraf termasuk sel darah merah. Asam folat bersama-sama dengan vitamin B6 dan B12 dapat membantu mencegah penyakit jantung.

Hasil Penelitian

Pendapat kalau sarapan mendukung prestasi dan aktivitas sehari-hari bukanlah pepesan kosong yang tanpa dasar loh…. Dalam paparan Prof. Ir. Hardinsyah, MS. PhD (dosen IPB) menyatakan bahwa dalam jurnal Brown (2008) yang mereview 102 penelitian yang dilakukan pada tahun 1982-2007, dapat disimpulkan bahwa anak sekolah yang sarapan memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang tidak sarapan sebagai berikut:

  1. Mempunyai kemampuan daya ingat yang lebih baik.
  2. Memiliki daya juang, konsentrasi atau perhatian yang lebih baik.
  3. Memilki kemampuan membaca, berhitung serta nilai kemampuan sejenis yang lebih baik.
  4. Lebih jarang sakit dan jarang pusing, sakittelinga, sakit perut.
  5. Memiliki stamina yang lebih baik.

love love

Terbukti bukan jika sarapan itu penting kan. Oleh karena itu maka yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah tips dan trik bagaimana bisa sarapan walaupun terdapat hambatan waktu serta kebosanan.

Terimakasih sudah mampir ya, semoga sharing kali ini bermanfaat. Salam sayang…..

sarapan biar sigap

Sumber:

http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/11/LEMBAR-INFORMASI-NO-2-2011. pdf

http://pergizi.org/images/stories/downloads/materi_PESAN/materi3. pdf

http://gizi.depkes.go.id/download/Pedoman%20Gizi/PGS%20Ok. pdf

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!