Cara Mengobati Luka Ringan, Agar Tidak Terjadi Infeksi

Luka ringan sering kali dianggap sepele, sehingga cara mengobati lukanya pun kadang tidak diperhatikan. Namun tidak bisa dipungkiri, kalau luka kecil pun dapat mengganggu produktivitas.

Seperti yang saya alami beberapa waktu lalu. Saya terluka kena sirip ikan saat memasak di dapur. Lukanya berada di daerah tangan kanan (tangan yang aktif) yaitu di lipatan jempol. Lukanya si keciiiiiiiil bingit, tapi ngganggu gitu. Buat nekuk rasanya kelu. Buat nyuci perih perih gimana.

Sesama ibu-ibu pasti tahu lah ya gimana rasanya. Kita tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah, walaupun memiliki luka di tangan. Selain mengganggu produktivitas, yang lebih serem sebenarnya adalah infeksi si. Berikut saya mau sharing cara mengobati luka ringan yang biasanya saya lakukan.

Secara sederhana ada setidaknya tiga langkah yang perlu dilakukan untuk mengobati luka ringan:

1 . Menghentikan pendarahan

Cara menghentikan darah pada luka yang ringan adalah:

  1. Menekan bagian yang luka,
  2. Letakan area luka pada tempat yang lebih tinggi,
  3. Istirahatkan,
  4. Kompres dengan es.

Setelah melakukan tiga/ empat hal tersebut, pastikan tidak terus mengalir. Jika pendarahan tidak kunjung berhenti, pertimbangkan untuk mencari pertolongan medis lebih lanjut. Bahkan jika sifatnya urget tanpa perlu ke tahap dua dan tiga, karena yang penting adalah mempertahankan darahnya dulu. Untuk penanganan luka yang lebih besar, saya tidak akan membahasnya di artikel ini ya….

Oiya, biasanya jika luka terjadi di dalam mulut, karena tergigit atau terbentur sehingga bibir mengeluarkan darah, saya cukup sampai ke tahap kompres dengan es tadi (setelah sebelumnya kumur-kumur). Namun apabila luka terjadi di organ gerak saya akan melakukan langkah lain, dari membersihkan luka sampai ke tahap menutup luka di bawah ini. Simak terus yaaaa!

2 . Membersihkan luka

Jika darah sudah tidak mengalir, mulai untuk membersihkan luka. Beberapa cairan berikut dapat digunakan untuk membersihan luka:

  • Air mengalir. Cairan ini paling mudah ditemukan. Terutama saat terjadi luka di dapur. Buka keran, dan buang kotoran-kotoran yang terdapat pada luka, misal sedang mengiris sayuran mungkin ada sayuran yang menempel, dll. Walau demikian, cairan ini juga mengandung risiko infeksi, karena air adalah pembawa bakteri yang umum. Atau dengan kata lain, pembersihan menggunakan air mengalir sebenarnya hanya membersihkan secara fisik. Namun aspek biologisnya tidak dibersihkan secara optimal.
  • Cairan NaCl/ cairan infus. Apabila terdapat cairan infus di kotak PPPK keluarga di rumah, cairan ini bisa digunakan juga seperti air mengalir. Namun, memang bisa disadari kalau cairan ini jarang tersedia di rumah. Saya sendiri mengetahui bahwa cairan infus dapat digunakan sebagai cairan pencuci luka, adalah saat pelatihan PPPK oleh PMI. Namun karena penyimpanannya tidak praktis, saya tidak menyimpannya di rumah.
  • Cairan alkohol. Cairan ketiga ini cukup familiar ya. Apalagi ada kemasan kecil Alcohol Swab yang cukup praktis. Sudah tersedia dalam kemasan kecil yang tinggal disobek dan diusapkan. Satu yang kurang saya suka dari cairan ini adalah karena cairan ini membuat kulit kering dan tidak nyaman. Ada kalanya sensasi perihnya mengganggu proses pembersihan luka, jika luka terjadi pada anak-anak.
  • Hansaplast Spray Antiseptik. Seperti disebutkan pada namanya, cairan ini adalah cairan antiseptik yang dikemas dalam bentuk spray untuk tidak hanya membersihkan kotoran melainkan juga bakteri. Jadi penggunaannya disemprot. Praktis banget, dan nama Hansaplast, bikin saya cukup yakin saat mau menggunakannya.

Tentang Hansaplast Spray Antiseptic

Produk ke empat yang saya sebutkan ini produk baru ya. Saya juga baru mencobanya saat kemarin terluka di dapur. Luka kecil sekali tapi dalem di jempol. So far saya suka, karena cairan antiseptik ini gak pake perih. Saya akan mengulasnya lebih lanjut ya. Karena memang masih jarang sekali yang tahu dengan produk inovatif ini, sepertinya.

Produk ini bahan utamanya adalah Polyhexanide (PHMB), zat antiseptik yang banyak digunakan oleh dokter karena tidak perih, tidak mengakibatkan noda dan tidak berbau. Bahan ini sebenarnya sudah banyak digunakan di Rumah Sakit, tapi sepertinya baru Hansaplast ini yang menjualnya dalam bentuk produk OTC (over the counter, produk yang dijual bebas).

Harganya saat saya beli sekitar dua puluh ribuan, saat itu sedang diskon di Alfacart. Saya cek di Giant harganya kurang lebih empat puluh ribuan.

Untuk informasi lebih lanjut tentang produk ini bisa dilihat di web www.hansaplast.co.id dan melalui akun Instagram resmi Hansaplast @Hansaplast_ID dan Facebook Fanpage @HansaplastID.

Beberapa cairan di atas memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun dari keempat cairan yang saya sebutkan di atas, tidak ada yang berwarna ya.

Hal tersebut, karena saya pribadi tidak terlalu suka menggunakan cairan antiseptik yang memiliki warna. Cairan antiseptik berwarna akan menutupi warna kulit di sekitar luka, hal tersebut akan menyulitkan untuk mengontrol, apakah luka tersebut sembuh atau mengalami pembengkakan, atau infeksi lebih lanjut.

Saya merasa hal ini perlu banget ditekankan, terutama karena beberapa waktu lalu saya dengar berita seorang pemulung yang meninggal karena infeksi pada luka tertusuk lidi sate. Ya, tampak sederhana bukan. Tapi yang namanya luka terbuka memang riskan terjadi infeksi. Dan warna kulit pada sekitar luka merupakan indikasi penting, apakah luka tersebut perlu penanganan medis lebih lanjut atau tidak. Oleh karena itu, saya lebih suka dengan cairan pembersih luka yang tidak mengubah warna kulit/ warna luka.

3 . Menutup luka

Last but not least, saya akan menutup luka dengan plester untuk mengurangi interaksi luka dengan air atau dengan kotoran. Jadi luka cenderung tidak lembab dan juga mudah sembuh.

Dengan cara mengobati luka di atas, saya bisa langsung beraktivitas seketika, kembali memasak, tanpa terlalu terganggu dengan luka yang saya alami di jempot tangan kanan tadi. Mengupas udang, membersihkan sirip ikan pun tak lagi jadi momok yang menyeramkan di dapur.

Aman dari infeksi, dan ga pake perih juga. Laaaaf!!!!

Semoga sharing kali ini bermanfaat yak! Salam sayaaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Naik Kereta Jakarta Surabaya Bareng Bocah (2 tahun)

Apa rasanya naik kereta Jakarta Surabaya (approx 7-8 jam) bareng anak umur 2,5 tahun?!?!? Ternyata rasanya menyenangkan Gaeeesss! Nggak seribet yang saya bayangkan.

Jujur, sebenarnya saya sendiri tidak terbiasa naik kereta lebih dari 8 jam. Rekor sepertinya cuma Jakarta – Yogyakarta, Jakarta – Semarang gitu. Selebihnya ya naik pesawat. Jadi kali ini adalah kali pertamanya saya naik kereta api sejauh ini, dan sekaligus bawa Gayatri. Hihihi…. Deg-degan pisan euy.

Alasannya tak lain dan tak bukan adalah karena:

  1. Harga tiket pesawat mahal, yang biasanya dulu PP Jakarta-Surabaya naik Citilink pun sudah eman-eman gitu rasanya….
  2. Gayatri uda lebih dari 2 tahun, jadi naik pesawat uda nggak bisa pakai tiket infant. Wkwkwkwk…. Yang mana, uda mahal, kudu beli tiga tiket pula kan kalau naik pesawat. Kalau naik kereta api, dia masih bisa tiket infant karena under 3 years old.
  3. Kami berangkat Jumat Malam, yang mana itu peak waktunya para pejuang LDM juga pada pulang ke Jakarte, so high demand. Intinya, mahal, makin mahal, dan mahal. Hahaha….

Kalau mau tahu harga tiket kereta dari Jakarta Surabaya lihat di sini.

Kondisi Stasiun

Singkat cerita, saya mau kondangan ke Jakarta di hari Sabtu beberapa minggu lalu. Jadi saya beli tiket berangkat Jumat malam naik Argo Bromo Anggrek dan pulangnya naik Argo Bromo Anggrek juga di Minggu pagi. Stasiunnya dari Surabaya Pasar Turi – Jakarta Gambir, PP.

Both stasiun cukup nyaman ya. Di Surabaya Pasar Turi, ruang tunggu dipisah antara KA Ekonomi, KA Eksekutif dan yang paling wevvaaaaah adalah KA Priority. Ruang tunggu untuk KA Priority pakai sofa euy.

Kalau di Gambir, saya hanya lihat satu ruang tunggu. Waktu itu, kami memilih untuk menunggu langsung di peron karena memang datang mepet jam keberangkatan. Dari lobby menuju peron harus naik dua lantai. Namun tenang, ada ekskalator naik kok, jadi yang bawa bayi, anak ataupun orang tua tidak terlalu lelah.

Peron yang sama juga menjadi peron kedatangan kami. Bedanya saat turun tidak ada eskalator turun.

Tiket Infant?

Untuk anak di bawah usia 3 tahun diizinkan menggunakan tiket infant (tetap harus dipesan namun tidak dikenakan biaya tambahan). Tapi walaupun usianya masih di bawah 3 tahun, boleh juga beli tiket dewasa.

Tiket berangkat kami beli 3 tiket dewasa, dan pulangnya kami beli 2 tiket dewasa + 1 tiket infant (gratis, karena nggak dapat seat alias pangku). Pertimbangannya si, karena kalau malam kan biar enak ya, bobok masing-masing di seatnya. Kalau siang, ekspektasi kami, Gayatri ga bakalan duduk tu, tapi ngider sana kemari, jalan-jalan karena bosan.

Etapi ternyata enggak! Memang di awalnya Gayatri sempat minta jalan jalan sedikit lalu minta pangku sambil lihat pemandangan. Tapi seterusnya dia minta duduk sendiri gitu, dan bobok. Hahahaha…. Untung ada bangku kosong yang nggak ada penumpangnya gitu, sampai Cirebon. Jadi lumayan kita nggak desek-desekan setengah perjalanan.

Lesson learn: kalau uda toddler, baiknya memang dibelikan tiket dewasa tersendiri. Walaupun naik KA Eksekutif yang sebenarnya juga sudah lega seatnya.

Etapi buat yang ukuran tubuhnya mungil mungil nggak terlalu masalah ya. Ini bukan body shaming tapi fakta si. Saya 168 cm, 66 kg, sementara suami 178 cm, 93 kg, dan anak saya 98 cm, 14 kg. Pasti hal itu juga pengaruh ya….

Saya sengaja ambil perjalanan pagi di hari Minggunya, karena pengen kasih pengalaman yang beda ke Gayatri. Kalau berangkatnya kan malam ya, dia fokus ke dalam keretanya. Sementara ketika pulang ke Surabaya di pagi hari, saat dia tidak tidur, Gayatri sempat menikmati pemandangan di luar jendela. Melihat ekspresinya, saya puas banget si dengan perjalanan ini.

Lesson learn: Naik kereta malam, lebih nyaman karena anak tidur. Sementara naik kereta pagi lebih seru, karena bisa memberi anak banyak pengalaman baru sepanjang perjalanan.

Yang perlu jadi catatan saat perjalanan buat saya adalah masalah toilet dan masalah makan.

Review Gerbong KA Argo Bromo Anggrek

Saat berangkat dan pulang saya sama-sama menggunakan KA Argo Bromo Anggrek namun di gerbong yang berbeda. Sepertinya beda gerbong beda standarnya ya. Walaupun sama-sama nyaman.

Seat yang digunakan adalah reclining seat, sehingga bisa disesuaikan kemiringan sandaran kursinya. Nah yang agak berbeda dengan reclining seat pesawat yang biasa saya gunakan adalah, ketika sandaran kursi direbahkan, maka dudukan kursi ikut menyesuaikan kemiringannya. Menurut saya ini menambah kenyamanan ya. Untuk ukuran tubuh saya yang lumayan bongsor ini, jadi nggak merasa melorot.

Untuk kaki juga disediakan sandaran kaki di seberang kursi. Adjustable juga ketinggiannya.

Diberikan bantal dan selimut bersih saat malam hari, dan hanya bantal saat siang hari. Kedua item ini pun bersih.

Yang paling mengesankan buat saya adalah petugas kebersihannya cekatan dan rajin bolek balik mengambil sampah. Saya yang sudah lama sekali tidak naik kereta jadi sangat terkesan dengan perubahan ini.

Saya jadi penasaran dengan layanan yang kelas priority ni….

Toilet di Kereta Api Argo Bromo Anggrek

Untuk toilet di atas kereta api, sebenarnya sudah sangat memadai banget dan cukup bersih. Ketersediaan tisu juga aman. Saya beberapa kali ke toilet soalnya. Dan sampai di akhir perjalanan tisunya masih ada.

Satu kejadian tidak nyaman dialami oleh suami. Karena pengguna toilet sebelumnya entah bagaimana tidak mengguyur toiletnya. Namun, ketika suami menyampaikan ke petugas, masalah itu dibersihkan dengan cepat. Two thumbs up!

Yang masih menjadi PR mungkin adalah bagi penumpang yang membawa bayi ya. Karena tidak ada nursery room untuk mengganti popok. Jadi kalau mau ganti popok mendingan di kursi penumpang. Di toilet saya rasa kurang memungkinkan karena ruangannya sempit dan risiko bayi jatuhnya besar. Opsi kedua, better mengganti popok di stasiun saja. :) Saya melihat ada nursery room baik di Stasiun Pasar Turi maupun di Stasiun Gambir.

Restorasi di atas Kereta Api Jakarta Surabaya

Karena perjalanan cukup panjang, yang perlu dipikirkan selain toilet adalah makaaaan! Kondisi saya saat itu, tidak memungkinkan membawa bekal, sehingga kami memilih untuk memesan makanan dari restorasi di atas kereta api.

Makan malam pada perjalanan berangkat, kami memesan Nasi Ayam Krispi. Saat perjalanan pulang, untuk makan siang kami memesan Hoka-hoka Bento dan Nasi Bakar Ayam Jamur. Untuk sore harinya, kami memesan bakso dan Nasi Goreng Parahyangan.

Harganya sekitar Rp 38.000,00an all item.

Banyak pilihan ya, dan rasanya si not bad lah. Untuk Nasi Goreng Parahyangan malah bisa dibilang lumayan.

Pembelian makanan bisa dilakukan dengan datang langsung ke gerbong restorasi, atau memesan pada petugas restorasi yang akan berjalan berkeliling pada waktu-waktu tertentu. Oiya, kalau mau pesan Hoka-hoka Bento, karena ini best seller, better pas mau berangkat langsung ke restorasi saja, soalnya pas malam kami mau pesan uda abis aja padahal baru sejam berangkat.

Ketepatan Waktu Kereta Jakarta Surabaya

Untuk masalah ketepatan waktu keberangkatan kereta, tepat banget sampai ke menit-menitnya. Jadi saran saya, datang ke stasiunnya jangan terlalu mepet ya. Apalagi untuk yang baru pertama kali datang ke stasiun.

Untuk jam sampai, sempat mengalami keterlambatan sekitar 30 menit di perjalanan Surabaya – Jakarta. Namun Jakarta – Surabaya on time.

Prosedur Naik Kereta Api

Yang pasti kita harus sudah membeli tiket ya. Saya kemarin beli tiket kereta api Jakarta – Surabaya di Traveloka. E-ticket diterima suami via email. Kami tidak mencetak tiket melainkan langsung cetak boarding pas di stasiun pada hari H keberangkatan.

Untuk penumpang dewasa saat masuk gate,diminta menunjukkan KTP. Sementara anak, kemarin saya tidak dimintai kartu identitasnya. Tapi buat jaga-jaga saya sudah bawa scan Kartu Keluarga.

Tips Supaya Toddler Aman dan Nyaman saat Naik Kereta:

  1. Sedia baju hangat dan juga penutup kepala, untuk jaga-jaga kalau AC terlalu dingin,
  2. Bawa cemilan dan minuman secukupnya,
  3. Bawa mainan sederhana yang tidak terlalu ribet, atau video for the rescue, soalnya entertainment yang tersedia adalah TV, dan acaranya belum tentu menarik untuk anak-anak,
  4. Bawa tisu basah dan baju ganti.

Yaaaaaakkkk!!! Kalau ada yang mau nambahin, sok atuh ditulis di komen yak!

Kalau mau baca-baca tentang pengalaman lain saya traveling bareng bayi bisa dibaca di kumpulan artikel 101 traveling bareng bayi.

Thanks sudah membaca sampai akhir, semoga cerita pengalaman naik kereta Jakarta Surabaya ini bermanfaat yaaaa! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Pengalaman Sewa Apartemen Harian Bareng Bocah

Selain tiket dan moda transportasi, akomodasi adalah yang wajib dipertimbangkan juga saat traveling. Terutama kalau travelingnya bareng bocah ya. Antara menginap di hotel, kosan harian atau sewa apartemen, ya pilihannya. Opsi ngemper di bandara, transit sambil mandi di stasiun, apalagi istirahat di masjid, uda dicoret jauh-jauh! Hahaha….

Bukannya sok manjah si…. Tapi ya gimana dong…. Kalau bocah nggak nyaman trus cranky, emak bapak juga jadi nggak happy lagi. Tar kali ya, kalau miss little princess uda agak gede, mungkin bisa lagi kita nostalgia bobok sambil ngekep backpack, sambil mata setengah melek di jalanan.

Nah berhubung frekuensi traveling kami cukup rapat, selain kenyamanan, keamanan dompet juga jadi pertimbangan. Nah, kali ini saya mau cerita tentang pengalaman saya dan keluarga menyewa apartemen harian bareng Gayatri, anak kami.

Pengalaman pertama: Apartemen Puncak Kertajaya, Surabaya.

Pertama kali saya menginap di apartemen harian adalah saat Gayatri, anak saya, berusia 6 bulan. Pas banget baru-barunya dia MPASI, hihihi. Jadi concern saya selain kenyamanan, harga dan lokasi, ketersediaan kitchenette di apartemen juga jadi keunggulan.

Memang kamarnya tidak mewah, tapi ada dapuuur mini yang tersedia kompor dan juga panci. Dekat dengan Giant dan Superindo juga, jadi kalau anak saya ngadat makan MPASI berfortifikasi dalam kemasan, saya gampang ngacirnya buat bikin MPASI homemade.

Foto di atas adalah foto kami makan siang di tepi kolam renang apartemen. Kebetulan di sana ada kantin yang menu Gado-Gado Surabayanya enaaaaak banget.

Oiya fasilitas kolam renang dan juga gym bisa dipakai bebas. Dan yang pasti ini muraaaaaaah, tapi memenuhi kebutuhan dasar kami. Kurang lebih dulu biayanya sekitar Rp 200 ribuan per malam.

Pengalaman kedua: Semi Apartemen Kasira Residence, Bintaro

Kalau penginapan ini favorit banget. Sudah ada tiga sampai empat kali saya menginap di sini, saat saya dan suami menjalani long distance relationship.

Saya bingung sebenarnya apakah Kasira Residence bisa dikategorikan apartemen atau tidak. Tapi memang apartemen si. Hanya ada satu dua lantai yang tetap dimiliki oleh satu owner, dan owner ini mengelolanya jadi seperti hotel. Ada resepsionis gitu gitu. Jadi enak banget, mau datang jam berapapun, kamar pasti uda ready, tinggal lapor di lobby.

Harganya juga cukup murah untuk ukuran kamar yang luaaaaas banget dan ada bath tubnya. Value for money banget kalau dibandingkan dengan (BAHKAN) hotel di sekitar Bintaro lainnya. Harganya antara Rp 300 – 400 ribuan. That’s whyyyyy sering banget full booked di Traveloka.

Kurang lebih kamarnya seperti ini:

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Saya pernah menuliskan review Kasira Residence ini dan membandingkan dengan hotel dan kosan harian di sekitar Bintaro yang menurut saya relatif nyaman di artikel Review 3 Penginapan Murah di Sekitar Kampus STAN Bintaro.

Gayatri happy banget menginap di tempat ini, soalnya ada bath tub tadi. Rekan sekantor juga bilang kalau anaknya nyaman-nyaman aja menginap di sini.

Oiya, ada kitchenette, namun tidak ada kompor dan alat masak. Hanya ada microwave yang digunakan bersama-sama (satu lantai satu), yang lokasinya di lorong antar kamar. Hanya selama saya menginap di sini, saya prefer makan di restorannya. Karena murah, dan cocok di lidah kami. Menunya Indonesia gitu, mie goreng, nasi goreng, ikan patin bakar, tempe mendoan, dll.

Pengalaman ketiga: Apartemen Senyum Hotel, Malang

Apartemen yang ketiga ini saya survey saat menjelang lebaran kemarin. Lokasinya ada di sebelah Senyum Hotel yang satu komplek dengan Jatimpark 3!!!!! Asli itu ngesot distance uda sampai ke Jatimpark 3 yang Dinopark!

Saya list apartemen ini di artikel ini soalnya mau nunjukkin kalau memang si, apartemen tidak selalu murah. Karena range apartemen ini sekitar Rp 700 ribuan (setara hotel yak). Bahkan akan jadi lebih mahal di hari raya. Tapi apartemen juga tidak selalu kalah fasilitasnya dibandingkan dengan hotel.

Salah satu kamarnya, dokumentasi pribadi.

Contohnya ya si Apartemen Senyum ini, dengan harga di bawah Hotel Senyum, tapi kita bisa nikmati fasilitas yang sama dengan Hotelnya. Karena satu lokasi dan aksesnya pun bisa ditempuh via apartemen.

Buat yang belum tahu, Hotel Senyum itu, astaganaga kid friendly banget! Jadi yang punya anak usia toddler ke atas, dijamin anaknya pada kagak mau pulang. Hahaha….

Ada kolam renang, panjat tebing untuk anak-anak namun ukurannya guedeeee, ada arena ninja warior, lapangan futsal dan lapangan basket 3 on 3. Apartemen ini one stop recreation banget kalau saya bilang, dan bisa jadi opsi yang lebih hemat namun fasilitas sama memuaskannya dengan Senyum Hotel.

Saya survey bareng Ipar-ipar saya, dan Sodara sempet bikinin vlog sbb, buat yang mau lihat fasilitasnya:

PS: enaknya lagi kalau di apartemen, ada kitchenettenya! Bahkan untuk kamar yang paling murce. Sementara hotelnya nggak ada kecuali yang kelas paling mahal. Cuma interior hotel memang lebih unik si. Lihat aja di video di atas yak!

Lesson Learn

Hal yang Harus Dipertimbangkan Saat Sewa Apartemen Harian:

  • Masing-masing apartemen punya karakteristik beda-beda. Apa saja yang disediakan oleh penyedia kamar pun berbeda-beda. Hal ini bisa dikonfirmasi saat pemesanan online ya. Supaya temen-temen bisa mendapatkan deal yang paling sesuai dengan kebutuhan.
  • Terkait poin pertama ini, misalnya adalah: apakah ada kolam renang yang bisa digunakan, apakah ada bath tub, apakah di kitchenette disediakan alat masak, dll. Di web tempat kita memesan, biasanya sudah ada informasi umum ya. But, don’t hesitate to ask!
  • Kalau berencana memasak di apartemen, pastikan bahwa lokasi apartemen dekat dengan pusat perbelanjaan, dimana kita bisa berbelanja bahan masakan ya. Pastikan juga, di kitchenette tersedia alat masak. Soalnya berdasar pengalaman, Apartemen yang kami sewa di Surabaya menyediakan kompor dan panci, yang di Bintaro hanya menyediakan microwave, sementara yang di Malang kumplit peralatan masak standar ada di kitchenettenya.
  • Sesuaikan lokasi apartemen dengan lokasi kegiatan. Seperti misalnya, ketika di Surabaya saya memilih apartemen yang terdekat dengan rumah mertua. Ketika di Bintaro, yang terdekat dengan kampus, dst. Jadi walaupun apartemen idaman ada di Jakarta Pusat, tapi kalau kegiatan kita bakalan berkisar di Bekasi, ya pesen apartemennya di Bekasi atuuuhhhh di sini. Toh banyak kok pilihannya sekarang, pesen online pula. Biar ngirit ongkos transportasi gitu.
  • Beberapa apartemen punya kebijakan security yang berbeda-beda. Seperti apartemen yang pernah saya gunakan di Surabaya itu pakai kartu akses untuk sekedar bisa masuk lobby saja, sementara apartemen yang lain lebih leluasa karena kartu akses hanya untuk kamar, misalnya. Jadi pastiin juga hal ini ya! Supaya nggak ribet di hari H-nya.

Ternyata jadi panjang juga ya ceritanya. Hehehe, semoga lesson learn dan review sekilasnya tadi bermanfaat yaaaa! Untuk yang sedang berencana sewa apartemen harian saat traveling bersama keluarga, terutama saat membawa anak!

Buat yang mau tanya atau sharing juga pengalamannya, bisa tinggalin komen yak! Terimakasih, salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share