Resolusi, antara Nasib dan Mitigasi Risiko

start

Resolusi 2018 apa kabar? Hehehe…. Beberapa kali saya baca obrolan di sosmed tentang resolusi dan menemukan komen, “Resolusi 2019-ku itu mencapai resolusi 2018-ku”. Bahkan di stories IG-nya Jouska, ada yang terang-terangan bilang kalau resolusi tahun 2019-nya adalah menyelesaikan resolusi tahun 2016. Beibh, 3 tahun lu ngapain ajaaa!

Screenshot_2018-12-28-23-13-52

Related Post: Cara Menyusun Resolusi dengan Mind Map

Etapi, ya, nggak salah juga sih. Resolusi 2019 saya pun ada yang sama dengan 2018, karena di tahun ini saya belum berhasil mencapainya.

Kenapa tidak berhasil mencapainya?

Karena nasib. #trusditimpuk.

Kasihan ya, di awal tahun gini Sang Nasib dikambinghitamkan. Wkwkwk….

Tapi jadi nggak lucu lagi kalau dari tahun ke tahun resolusinya ga tercapai dan jadi nyalahin nasib melulu. Bisa tersinggung berat kan nasibnya.

hehehe

Resolusi 2018 yang Berhasil:

  1. Bisa nyetir,
  2. Meningkatkan PV Blog dari 1200 ke 2000 views per hari,
  3. Pengembangan diri (ikut training, workshop, dll di luar kantor),
  4. Menang beberapa lomba blog,
  5. Jadi narasumber di suatu forum ibu-ibu.

Di awal tahun 2017 kemarin page views saya perhari rata-rata paling 200an views. Paling mentok 300 deh. Per hari bulan desember 2017 rata-rata PV saya sekitar 1.200 views padahal di awal tahun dulu resolusinya 400 views saja. Data Google Analytics.

Okelah, angka segitu memang belum wow ya kalau dibandingkan dengan para seleblog yang sering pamer screenshoot Google Analytic. Tapi kalau saya bandingkan dengan PV awal tahun saya sendiri, enam kali lipat itu suatu pencapaian buat nyonyamalas.com.

Kemudian di tahun 2018, berdasar pengalaman di 2017, saya memberanikan diri menaikkan target jadi 2.000 views per hari. Tercapai di pertengahan tahun 2018. Kegirangan lalu terlalu percaya diri, saya menaikkannya menjadi 3.000 views perhari. Eh alih-alih meningkat malah turun dikit dari rata-rata dua ribuan tadi.

Resolusi 2018 yang Gagal:

  1. Mendukung keuangan orang tua secara rutin.
  2. Menaikkan PV blog dari 2000 ke 3000 views per hari.

Lesson learn

1 . Kurangnya eksekusi dari rencana aksi.

Poin ini lebih ke kegagalan resolusi poin 2 ya. Seperti saya bilang di atas, saya meningkatkan target PV blog dari 2000 ke 3000 memang pure karena kegirangan dan kepercayaan diri yang berlebih akibat peningkatan views yang cukup masif di tahun 2017.

Naif sekali saya beranggapan bahwa hal tersebut akan terjadi terus tanpa perlu ada usaha dan juga perbaikan terus menerus terhadap kualitas dan kuantitas blog.

Jarang update artikel dan lalai memperbaiki SEO on page sepertinya jadi jawaban atas stagnansi views blog nyonyamalas ini. Jadi ya bukan salahnya nasib. Ataupun salahnya algoritma Google. Google mah selalu benar. Wkwkwkwk….

Hal ini jadi catatan buat saya di tahun 2019 untuk nggak hanya membuat resolusi saja tapi juga rencana aksi yang konkrit terkait. Biar resolusinya nggak hanya jadi pemanis dinding ruang kerja semata.

Related Post: Cara Mengubah Resolusi Tahunan Menjadi Rencana Aksi

setrong

2 . Kurangnya mitigasi risiko

Menurut KBBI, mitigasi risiko adalah  upaya untuk mengurangi kemungkinan terjadinya dan dampak risiko.

Ini terkait dengan kegagalan kami untuk memenuhi resolusi poin 1, yaitu support finansial orang tua secara rutin. Beberapa kali memang support, tapi nggak rutin dan juga menurut saya belum signifikan.

Agak malu juga si sebenarnya. Walaupun orang tua saya juga nggak meminta, dan tidak berkekurangan. Tapi saya seharusnya paham kalau biaya kuliah Kedokteran Gigi adik saya cukup menguras kocek orang tua saya. Setidaknya kan bisa bikin orang tua sedikit rileks dan juga persiapan mereka menabung untuk pensiun.

Tapi saya nggak berhasil untuk support rutin. Hiks. Alasannya si due to long distance marriage kami yang bikin biaya perjalanan membengkak dan juga biaya kesehatan karena kami tahun ini memang sering sakit.

Yah, kedengarannya alasan yang masuk akal ya tapi sebenarnya dua alasan itu pun masih bisa dimitigasi dengan baik agar tidak terlalu berdampak buat keuangan kami.

Mitigasi yang harusnya kami lakukan tapi lalai kami lakukan adalah:

1. Beli keanggotaan Sriwijaya untuk setahun, bebas biaya tiket kemana saja dan kapan saja. Kalau di awal tahun kami melakukan hal ini tentu biaya perjalanan kami bisa ditekan dan kami masih ada dana yang bisa kami alokasikan untuk menabung dan support orang tua.

2. Mendaftarkan Gayatri dan Bapak asuransi kesehatan. Ini rada fatal si. Karena sebenarnya dari kantor saya punya fasilitas ini untuk suami dan anak. Namun sayanganya saya selalu tunda-tunda untuk mengurus administrasinya.

Huft….

Pelajaran banget buat tahun 2019 ni untuk memitigasi risiko dengan lebih baik, biar ga terus terusan nyalahin nasib bae di akhir tahun kan.

start

Nah, kalau temen-temen apa resolusi tahun 2019?

Sudahkah menyusun rencana aksinya?

Dannnnn…. sudahkah mengidentifikasi risiko dan mulai merencanakan cara memitigasinya?

Yuk barengan sama akooooh! Semangaaat!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Hadiah Paska Persalinan: Perlengkapan Bayi VS Kado untuk Ibu

IMG_20181227_061356

Ide menulis tema ini muncul dari Reihan Putri yang beberapa minggu lalu sempat bertanya di grup IFB dalam rangka menyari kado perlengkapan bayi bagi temannya yang baru melahirkan. Saya yakin kalau proses pembelian hadiahnya si sebenarnya relatif mudah dilakukan ya, bisa beli online maupun offline. Cuma menentukan apa hadiahnya itu lo yang kadang memang tricky.

Di grup langsung rame ide-ide dari yang mainstream seperti baju bayi sampai yang rada anti mainstream seperti skincare sebagai kado untuk ibunya. Dari yang fungsional seperti breastpump sampai yang fashionable seperti diaper bag bermerek.

Risiko nanya di grup memang gitu ya. Akan banyak versi jawaban. Karena yang menjawab pun berasal dari berbagai latar belakang. Sebagai orang yang belum pernah mengalami memiliki bayi, memang jadi tantangan tersendiri si membeli kado perayaan kelahiran.

Tapi yang menarik buat saya, adalah beberapa berpendapat juga untuk selain memberikan hadiah berupa perlengkapan bayi, Ibu yang baru melahirkan perlu juga lo diberi hadiah.

IMG_20181227_061356

Apakah perlu memberi kado untuk ibu?

Kalau saya perhatikan, maraknya pemahaman orang akan baby blues sepertinya adalah permulaan ide untuk memberi perhatian khusus kepada para ibu, disamping para bayi. Itu bagus juga si. Karena kadang, sang ibu pun lupa dirinya memiliki kebutuhan pasca persalinan karena terlalu fokus berbelanja kebutuhan bayinya.

Ini saya setuju banget.

Untuk ibu yang tidak mengalami baby blues,  seperti saya, namun tinggal jauh dari orang tua saat persalinan, mendapat kado untuk diri saya sendiri tentu akan terasa menyenangkan. Merasa diperhatikan dan diingatkan bahwa ibu tidak berjuang sendiri.

Saya sendiri setelah persalinan Gayatri, ada yang ngadoin kamera cobak. Mirrorless. Nggak ada kaitannya kan sama ngurus bayi. Tapi mereka tahu banget saya memang lagi tertarik fotografi terkait dengan blog. Dan menurut mereka kamera akan membantu saya untuk stay happy, stay waras dan juga mengingatkan saya untuk tetap menjadi diri sendiri dan melakukan hobi, even sudah punya bayi. So sweeeeeeet!

Namun IMHO lebih baik memberi kado yang demikian apabila kita memang dekat dan tahu selera ibunya ya. Kalau tidak terlalu ngerti si, perlengkapan bayi lebih aman. Soalnya kalau pun kita kado perlengkapan bayi pun, nanti budget yang awalnya buat bayi kan bisa dialihalokasikan ke ibu juga, wkwkwkwk….

Jadi sama aja to….

Nah, tapi saya punya beberapa pendapat tentang memilih kado bagi keluarga yang dikaruniai anak.

setrong

Kenali Tipe Orang Tua

Pertama-tama tentunya kita harus mengingat berapa budget yang kita sediakan. Kemudian yang tak kalah penting, kita juga harus lihat tipe atau latar belakang (calon) orang tuanya:

1. Seberapa detail menyiapkan perlengkpan bayinya?

Seperti saya dan suami, untuk perlengkapan bayi usia 1 s.d. 6 bulan sudah dicicil beli dari jauh-jauh hari. Tapi di atas usia itu kami sengaja nggak beli, karena atas nasihat temen, “Nanti cek kado dulu.” Eh bener dong!

Makanya saya merasa beruntung banget tu nggak borong baju bayi yang agak gede. Soalnya saya dapat buanyaaaak banget kado baju bayi rumahan untuk usia 6 bulan ke atas. Kado-kado tersebut saya susun berdasar umur, sampai setahunan lebih apa ya, saya nggak beli baju rumah dari Gayatri karena tinggal ambil stok. Hehehe….

Nah, cuma kan orang beda-beda ni…. Siapa tahu, kebalikannya, orang tua saking semangatnya uda stok baju-baju kece nan lucu, tapi malah minim stok baju rumahan.

2. Seberapa jauh perlu dukungan materi?

Kalau kita tahu ini calon orang tua tipe keluarga yang tajir melintir tujuh turunan, kemungkinan besar kebutuhan bayi yang primer sudah terpenuhi. Buat orang-orang seperti ini bisa deh, kita konsen aja ke kebutuhan sekundernya bayi, yang mungkin luput dari perhatian mereka. Seperti alat stimulasi bayi, buku, mainan, dll. Atau bisa juga kado untuk ibunya saja.

3. Bagaimana pengalamannya merawat anak?

Ini ngaruh karena kaau anak kedua dan seterusnya, mungkin peralatan elektronik (sterilizer, slow cooker, dll) atau peralatan besar (cribs, high chair, dll) mungkin sudah dapat lungsuran dari kakaknya. Jadi nggak perlu dikado lagi.

4. Segi kedekatan dengan kita. Seberapa kenal kita?

Ini pentingnya adalah untuk menghindari salah kado yang bikin ngenes. Apalagi kalau kita berniat memberikan kado yang sifatnya personal, kaya ngado baju ke Ibu. Niatnya si so sweet, karena kita tahu dia pernah naksir sama suatu model pakaian. Ehhhh, berhubung uda lama nggak ketemu, nggak ngeh perubahan bentuk badan paska kehamilan. Baju ama modelnya cucok siiiii, orangnya seneng sampai klepek klepek…. Tapi ukurannya lebih kecil dua nomor. Kan jadi ngenes….

Kalau cuma nggak suka modelnya mah mending ya. Tapi kalau masalah berat badan after melahirkan kan ada yang sensitif yaaak…. Hadiah niatnya bikin happy malah bikin sedih. Kan mending ngado apa gitu yng lain…. Daripada berisiko.

Tujuan Memberi Hadiah

Terkait dengan poin di atas, kemudian kita bisa ingat-ingat lagi tujuan kita memberi hadiah kepada orang tua baru ini apa. Karena tentu sebenarnya kita tidak harus

1. Membantu secara materi.

2. Menunjukkan perhatian.

3. Ingin bermanfaat.

love love

Tips

1. Minta wishlist jauh-jauh hari ke calon ibu, atau menyodorkan pilihan.

Hehehe, ini kesannya kok malas mikir dan nggak so sweet banget ya…. Tapi ini menurut saya opsi yang paling logis sih untuk kalau tujuan kita yang utama adalah untuk membantu secara materi atau ingin bermanfaat.

Alasannya karena yang pertama, barang pasti nantinya bakal terpakai, dan kemungkinan cocok dengan yang diharapkan oleh calon ibu. Trus lagi untuk menimimalisasi barang tidak terpakai numpuk di kemudian hari. Soalnya banyak banget lo kado-kado lahiran yang nggak terpakai dan akhirnya jadi numpuk dan usang.

Mau dijual atau dikasihin orang kok ya sungkan…. Wong itu barang pemberian.

2. Patungan dengan teman-teman lain.

Selain biar lebih hemat, patungan juga membuat pilihan hadiah kita jadi lebih banyak. Meminimalisasi juga ada kado yang sama atau mirip-mirip dari satu circle pertemanan. Kan uda patungan, so pasti uda janjian dong mau apa ngadonya. Dengan pilihan yang lebih banyak, maka kemungkinan untuk mendapatkan hadiah yang lebih cocok dan berkesan pastinya juga akan lebih besar juga.

3. Perhatikan timing kasih kadonya.

Benar kita pasti akan bersiap membelikan hadiah saat ada bayi lahir. Tapi jangan lupa menyesuaikan dengan waktu memberikan kadonya ya…. Jangan sampai kelupaan diberikan, sehingga sudah lewat masa pakainya.

Ide Hadiah Perlengkapan Bayi maupun Kado untuk Ibu.

Beberapa ide perlengkapan bayi yang bisa dijadikan hadiah:

1 . Budget under 500k:

  • Pakaian bayi
  • Sepatu bayi, prewalker
  • Alat makan
  • Bouncer
  • Booster chair/ high chair
  • Diaper bag
  • Perlak
  • Sprei anti air
  • Mainan

2 . Budget 501k – 1 juta

  • Slowcooker
  • Sterilizer botol
  • Gendongan bayi
  • Diaper bag
  • Mainan
  • Playmat

3 . Budget 1+ juta – 2 juta

  • Sterilizer
  • Food processor untuk MPASI
  • Anting bayi (bagi anak perempuan)
  • Breastpump
  • Playmat
  • Safety/ pagar play ground

Beberapa ide kado untuk ibu:

  • Blus/ baju dengan akses menyusui
  • Korset
  • Makanan kesukaan
  • Skincare
  • Perawatan strechtmarks
  • Apron
  • Jamu (konsultasi dulu dengan orangnya)

Info lebih lanjut tentang tips seputar ibu dan perlengkapan bayi, klik aja di link ini yaaa…. —-> perlengkapan bayi.

Aih, jadi nostalgia, pengen punya bayi dan bukain kado kado lagi nih. Hahaha…. Apakah ada yang punya tips dan ide hadiah yang lain? Feel free untuk tinggalin komen ya…. It will very useful. Terimakasih sudah mampir. Semoga bermanfaat ya…. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Newt Scamander, Asrama Hogwarts dan Stereotypenya

newt scamander

Gara-gara nonton Fantastic Beast #2 yang The Crime of Grindelwald, saya jadi nonton lagi dan baca ulang beberapa episode dari Harry Potter series. Yaaah, mumpung saya juga lagi cuti lama kan ya, jadi agak santai. Tapi saya di artikel ini bukan sedang mau review film-filmnya ya. Sebagai Potter Head uda jelas lah, nggak akan obyektif tulisan-tulisan saya, wkwkwkwk.

Saya mau bahas dari sisi karakter Newt Scamander – asrama Hogwarts – dan Stereotypenya dari sudut pandang saya sebagai ibu.

Selamat membaca, Muggles!

via GIPHY

Dalam cerita Harry Potter, di sekolah sihir-nya terdapat empat asrama. Yang masing-masing siswa dipilih untuk masuk ke suatu asrama berdasarkan karakteristik tertentu yang menonjol dari dirinya. Asrama Gryffindor katanya akan memilih yang gagah berani, Ravenclaw akan memilih yang pintar-pintar, Slytherin akan memilih yang berdarah murni nan eksklusif, sementara Hufflepuff akan memilih yang baik hati. Yang terakhir, kerap disalah artikan dengan kelemahan, atau siswa sisa.

Harry Potter ada di asrama Griffindor. Sementara Newt Scamander yang menjadi tokoh sentral di Fantastic Beast berasal dari Hufflepuff.

newt scamander

Sumber: https://www.pottermore.com/news/introducing-newt-scamander-fantastic-beasts

Ya! Hufflepuff! Yang memiliki stereotype sebagai siswa sisa yang lemah itu!

Tapi walau memiliki stereotype demikian, ternyata beliau memiliki kekuatan maha dahsyat, yang salah satu buktinya, kalau mungkin teman-teman nggak mengikuti, adalah berhasil lolos dari pertempuran melawan Grindelwald sebanyak setidaknya dua kali. Grindelwald adalah penyihir terbesar sekaligus terjahat pada masa itu.

Film ini mengingatkan saya kembali pada pesan di buku Harry Potter yang ke tujuh, bahwa bukan penilaian orang yang akan menentukan kita sebagai apa. Bukan. Kita sendirilah yang membentuknya.

kuat

Paragraf di atas, sebenarnya sedang saya ingin ingatkan lagi pada diri saya sendiri. Saya, berdasarkan kuesioner pottermore.com dimasukkan ke dalam Asrama Slytherin. Hehehehe…. Asrama yang isinya mostly penyihir jahat.

Stereotype Asrama Hogwarts

Hihihi…. Ngeri bhet yak…. Para potterhead pasti memahami yak apa yang saya rasakan.

Tapi walaupun begitu Slytherin tu sekaligus asrama Severus Snape, antihero yang keren banget di buku ini looooh! #teteupbelain. Sayangnya siswa di asrama ini kadung memiliki stereotype sebagai orang yang angkuh, dingin dan tidak berperasaan.

via GIPHY

Asem! Seru saya saat hasil kuesioner itu muncul. Awalnya rada denial, berhubung saya sebenernya pengennya masuk ke Ravenclaw aja gitu. #sokpintar Kan keren yak, wkwkwkwk.

Kuesionernya sendiri seperti tes psikologi gitu, tapi kurang tahu seperti apa penyusunannya. Tapi kalau dicocoklogi, memang hasilnya senada seirama dengan hasil tes psikologi saya yang lain di MBTI.

Stereotype Karakter

Berdasarkan hasil tes psikologi MBTI tadi saya INTJ. Singat cerita, INTJ adalah pribadi yang memiliki kecenderungan  Introvert – Intuitive – Thinking – Judging.

Salah satu bahasan tentang INTJ sebagai orang tua adalah bahwa orang-orang dengan karakter ini akan menjadi orang tua yang terlalu logis (tidak berperasaan eh?) dan sulit mengekspresikan kasih sayang (dingin eh?).

Asem! Seru saya lagi….

Dingin dan tidak berperasaan, apalagi masuk di asrama yang notabene isinya penyihir jahat, hahaha. Apakah saya akan seburuk itu sebagai orang tua?

hiks

 

ENGGAK, kata suami saya.

Kecuali kalau saya tersugesti dengan hasil tes tes itu dan kemudian tanpa sadar menggenapinya.

Pygmalion Effect

Jadi semacam pygmalion effect gitu loh.

Noted: Pygmalion effects kalau di manajemenn itu sebutan/ pandangan untuk fenomena yang terjadi pada seseorang akibat ekspektasi yang dilekatkan atau disampaikan padanya. Misal seseorang yang tahu bahwa dirinya diekspektasikan akan berkineja baik, akan meningkat kinerjanya, begitu juga sebaliknya. CMIIW.

Walaupun sudah diperingatkan suami saya demikian, saya tetap mengingat hasil tes dan stereotypenya tersebut. Bukan untuk membuktikannya. Atau untuk menggenapinya.

Melainkan sebagai pengingat agar mawas diri.

Mawas diri mengingat karakter dasar saya yang dingin, maka saya harus ingat untuk berusaha lebih keras mengekspresikan kasih sayang saya. Bukan malah jadi pasrah, dan mengkambinghitamkan stereotype karakter dasar. Karena seperti Newt Scamander yang tetap mampu mengembangkan diri dan akhirnya mau memilih pihak, seperti itupun karakter saya sebagai ibu.

Terus berkembang.

setrong

Being Best Version of Our Truly Self

Walaupun saya tahu, saya tidak akan dan juga tidak mau menjadi orang lain. Namun saya yakin saya bisa menjadi ibu yang terbaik versi diri saya dengan mengenali (stereotype) karakter kepribadian saya dan mawas diri untuk meminimalisasi hal-hal negatif darinya.

Saya tetaplah INTJ sekaligus proud Slytherin. Tapi mengapa tidak mungkin juga sekaligus menjadi ibu yang oke (versi saya)?

Saya percaya kita semua bisa. Apapun karakter dasarnya. Atau apapun hasil tes pottermore kita wkwkwk…. Saya percaya kita semua bisa.

Ahseeeeekkk…. Sounds like Mario Teguh saya ya di artikel kali ini, hehehehe…. Salam Zupeeerr….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Balancing Screen Time dan Play Time

screen time 2

Selamat hari anak!

Saat hari anak, yang kerap menjadi pembahasan adalah hak anak untuk memperoleh pendidikan. Dan juga hak anak untuk bermain dan mendapatkan hiburan. Kalau terkait pendidikan tentu sudah jelas ya. Yang sering abu-abu wilayahnya adalah hak bermain dan mendapatkan hiburan.

Terkait dengan hal tersebut, yang kerap menjadi bahan diskusi antara saya dan suami, adalah tentang berapa lama Gayatri (usia dua tahun) boleh menonton layar (televisi ataupun gadget) dan bagaimana kami memaksimalkan manfaat edukasi dan hiburannya di samping mengurangi efek negatifnya pada tumbuh kembang anak.

Ya, selama ini kami memang cukup selektif dan juga ketat menerapkan peraturan screen time di keluarga. Hal ini karena kami memegang beberapa prinsip penting demi kesehatan dan perkembangan fisik serta  psikologis anak. Hal-hal tersebut adalah pentingnya 1) movement, 2) sentuhan serta adanya 3) koneksi dengan manusia lain.

Kekawatiran kami yang utama adalah, karena begitu menariknya gadget membuat anak terbius dan lupa bermain, dan kami sebagai orang tua pun terlena.

screen time 1

Manfaat Screen Time

Namun tak bisa dipungkiri kami juga merasakan manfaat adanya tayangan aman yang bisa jadi metode belajar seru bagi keluarga.

1 . Suasana ceria.

Contohnya: saya menggunakan video/ lagu-lagu untuk bersama-sama senam dan menari bersama Gayatri. Ada yang namanya senam ceria, dimana ada gerakan menirukan bebek dan juga pesawat terbang. Ada bagian lagu yang liriknya, “bebek yang berenang bunyinya wek wek, bebek yang berjalan geraknya megal-megol.” Ya pada bagian tersbut saya betulan manyun-manyun seperti bebek dan berjalan megal-megol.

Suara musik yang ceria, memotivasi anak untuk semangat bergerak. Emak Bapaknya juga jadi ga canggung, hihihi…. Saat saya joget-joget tentu Gayatri happy banget dan juga ikut-ikutan bergerak demikian. Nggak hanya dapat movementnya kan, bonding dan koneksi antara anak dan orang tua juga dapet.

Momen tayangan televisi membantu “mencairkan” suasana, juga pernah terjadi di rumah  Mbah Akung. Pernah suatu kali, karena Gayatri lama tak berjumpa, Gayatri jadi takut mendekat Mbah Akung. Mulai lumer, karena Mbah Akung menyetel channel anak-anak yang ada Mickey Mousenya. Yah, ada untungnya juga ya Mbah Akung punya tv berlangganan MNC Vision. Hihihi….

2 . Referensi orang tua.

Kemudian saat saya pernah kebingungan, mau memberikan contoh bagaimana beberapa hewan spesifik bersuara, saya pun merasa tertolong karena ada video suara hewan. Hehehe…. Jadi buat referensi juga untuk saya bagaimana suara keledai, atau bagaimana suara kalkun. Kalau suara anjing atau sapi mah, saya udah khatam, hihihi….

Dua contoh di atas adalah bagaimana kami mencoba menerjemahkan screen time terbatas yang lebih bermanfaat bagi Gayatri yang memenuhi ketiga prinsip penting; 1) movement, 2) sentuhan serta adanya 3) koneksi dengan manusia lain, sebagaimana saya sebut sebelumnya.

3 . Sarana bimbingan belajar.

Untuk anak usia sekolah, saya malah pernah dengar kalau ada juga channel di MNC Vision yang bisa jadi channel bimbingan belajar gitu, untuk anak-anak usia 4 s.d. 6 SD. Besmart namanya. Ada juga channel untuk belajar bahasa Inggris dan juga belajar bahasa Mandarin.

Sebagai orang tua, kita pun harus update dengan fasilitas seperti ini ya….

screen time 2

Tips Menyeimbangkan Screen Time dan Play Time

1 . Batasan waktu.

Menuju semakin bertambah usia Gayatri, sebagaimana juga anjuran oleh American Academy of Pediatric, batasan screen time sudah boleh melonggar; maksimal 1 jam sehari untuk anak usia 2 – 5 tahun. Yang mana orang tua juga harus memilih mana tayangan yang aman untuk anak, tayangan berkualitas dan fitur terbaik untuk anak.

Tidak meletakkan televisi di ruang bermain anak dan kamar tidur anak, adalah salah satu langkah yang bisa diambil untuk mempermudah membatasi screen time anak. Soalnya kalau ditaruh di dua tempat yang sering ditempati anak tersebut, godaan untuk menyetelnya akan semakin besar.

2 . Batasan konten.

Jadi bukan masalah waktunya saja yang dibatasi, melainkan juga konten tayangan yang dikonsumsi anak.

Untuk anak-anak yang masih krucil-krucil seperti Gayatri pembatasan konten ini relatif mudah ya. Kita sebagai orang tualah yang menjadi “saringan” yang harus selalu mendampingi mereka saat menonton televisi.

Saat anak beranjak besar, pembatasan ini mungkin menjadi lebih menantang. Karena bocah sudah bisa memilih sendiri channel yang ingin mereka tonton. Kalau berlangganan MNC Vision, jangan lupa manfaatkan fitur parental lock. Dengan fitur ini orang tua dapat mengontrol dan membatasi channel-channel apa saja yang dapat ditonton oleh anak-anak.

3 . Mix dengan kegiatan fisik (sensorik/ motorik)

Tayangan beberapa channel bermutu seperti BBC Earth, Animal Planet, Discovery, History dan National Geographic pun kerap menjadi bahan referensi saya saat ngobrol dengan anak. Tapi tak hanya ngobrol secara abstrak. Karena usia Gayatri yang masih sangat muda, kadang penting untuk mix suatu konsep dengan sesuatu yang lebih kongkrit dan riil.

Jadi saat memegang es batu di dapur (misalnya) saya bisa cerita panjang tu…. tentang zaman es lah, tentang dinosaurus, dll. Gayatri sambil memegang es, atau mainan berbentuk hewan. Hal ini akan merangsang sensoriknya sekaligus juga menambah kosa katanya.

Kalau untuk motorik, ya seperti yang saya sebutkan di awal, menyanyi dan menari dengan video musik. Awal mula, Gayatri belajar melompat juga dari lagu senam ceria lo. Ada bagian liriknya, “Kelinci melompat ke kanan dan ke kiri, kelinci melompat ke sana dan ke mari…. Lompat! Yayayayaya…. yayayayayaya….”

Dengan demikian anak tetap aktif secara fisik dan tetap belajar aktivitas sosial (bersama orang tua) saat screen time.

4 . Orang tua menjadi contoh

Last but not least, menjadi penonton yang bijaksana tentunya harus dimulai dari orang tuanya terlebih dahulu. Bagaimana orang tua memilih tayangan dan berapa lama orang tua menonton televisi tentu akan memengaruhi bagaimana anak bersikap terhadap televisi.

Jika orang tua bijak, saya rasa tentu akan lebih banyak manfaat yang didapatkan dari tayangan yang bermutu dibandingkan dengan mudharatnya. Selamat kritis dan selamat memanfaatkan tekhnologi!

Demikian sharing dari saya…. Semoga sharingnya bermanfaat ya….

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Tentang Bertahan dan Membagi Waktu

membagi waktu

Karena postingan sebelumnya yang membahas kondisi LDM saya dan suami, banyak yang bilang kalau saya itu wanita tegar. Aseek. Jauh dari suami, sama bayi, nggak punya pengasuh plus kerja 8-5 daaaan masih sempet ngeblog pula. Hihihi terkesan saya supermom yang jago membagi waktu ya, padahal ya kagak…..

Beneran kagak. Kira-kira ya begini prinsip saya saya untuk bertahan hidup sehari-hari….

Tentang Prioritas dan Hidup yang Sederhana

Ketika menyadari saya akan LDM, saya buang jauh-jauh dah segala impian kesempurnaan dalam detail kehidupan. Saya berusaha untuk hidup yang lebih sederhana.

Hidup yang sederhana di sini maksud saya bukan hidup hemat ya. Tapi hidup yang ringkes gitu. Yang nggak banyak mau. Yang nggak mempertanyakan banyak hal. Yang nggak membaperkan hal-hal yang nggak esensi. Jadi energinya nggak terkuras karena terdistribusi untuk hal-hal yang nggak penting.

Prioritas kami adalah kami bertahan.

Prioritas tersebut proxy-nya tiga: kami sehat, kami rukun dan pekerjaan selesai. Untuk itu, sebagian besar waktu saya alokasikan untuk ketiga hal tersebut.

Ada garis bekas setrikaan di celana panjang? Ga masalah.

Kabar Andien jadi Inspiring Mom versi majalah online? I dont care.

 Atta Halilintar bikin prank settingan???? Apalagiii! Hihihi….

Saya tahu, beberapa bulan ini saya tidak banyak melakukan progress. Tapi setidaknya saya bertahan dengan baik. Akan ada waktunya saya meningkatkan apa yang saya dapatkan hari ini. Namun itu belumlah prioritas, setidaknya untuk saat ini.

Tentang Multitasking

Bagaimana membagi waktu? Saya cuma bisa bilang kalau saya tidak membagi waktu saya dengan jam segini harus ini, jam segitu harus begitu. Tidak demikian.

Saya cuma fokus pada menyelesaikan satu pekerjaan lalu berganti ke tugas yang lain. Satu satu dan fokus. Konsentrasi pada satu hal. Baru berpindah ke hal lain.

Karena saya tidak bisa multitasking. #sadardiri

Godaan untuk nyambi nyambi besar. Tapi biasanya bukannya mempercepat pekerjaan, malah memperkeruh keadaan. Atau mungkin karena saya saja ya yang tidak bisa multitasking ya, hehehe. Saya pernah menulis tentang multitasking ini di: Multitasking, Yay or Nay.

Tentang Support System

Bagaimana mengasuh dan mendidik anak saat bekerja?

Kalau pas saya kerja ya daycare menjadi tumpuan. Oleh karena itu memilih daycare yang tepat adalah kunci. Banyak poin yang perlu diperhatikan saat memilih daycare, saya pernah cerita di Akhirnya Gayatri Memilih Daycare.

Yang mau saya soroti lebih adalah tentang pola pengasuhan. Titik krusialnya adalah kesepahaman antara daycare dan orang tua tentang pola asuh seperti apa yang akan diterapkan.

*adow berat anet bahasa eike

membagi waktu

Saya mau cerita pengalaman sedikit buat gambaran:

Beberapa hari lalu, Aunty daycare sempat chat saya tentang beberapa perubahan perilaku Gayatri menjelang usia 2 tahun. Sering dibilang Terible Two ya…. Via chat dan ketemu langsung di kemudian hari, kami membahas hal tersebut. Ada beberapa poin yang kami sepakati untuk sama-sama diterapkan baik di daycare maupun di rumah kos secara konsisten.

Sebaliknya, beberapa bulan lalu saat saya ngeh Gayatri sudah bisa bilang “eek”, saya tak lupa mengajak pihak daycare untuk diskusi tentang toilet training. Supaya ya, sama perlakuannya gitu. Jangan sampai di rumah kalau dia bilang “eek” kita ngacir ke toilet, sementara di daycare enggak. Kan bubrah tu settingan bocah.

setrong

Kalau Gayatri sedang sakit dan tidak bisa daycare, saya otomatis wajib izin kantor untuk bersama Gayatri. Hal ini tidak bisa ditawar karena mau siapa lagi cobak yang mengasuhnya? Tentu saja, pihak kantor (atasan) juga harus sudah mengerti kondisi ini.

Nggak punya support system dan mau working at home??? Tantangannya tetep ada loh. Buat yang mempertimbangkan jadi working at home mom, simak deh cerita temen saya Girly tentang perjuangannya mengasuh bayi SAMBIL bekerja dari rumah.

Tentang Ngeblog

Ini saya bahas tersendiri, karena ngeblog memang punya tempat yang khas. Kalau orang bilang salut saya produktif karena tetep nulis di tengah kondisi saya. Saya bilang malah kebalik.

Ngeblog itu buat saya stress release.

Jadi kalau stress saya nulis, saya malah jadi seger lagi. Walaupun memang tidak bisa seintens saat cuti kemarin, tapi nulis, helps me a lot.

Kapan nulisnya….?

Saya ngedraft mostly di note handphone. Jadi pas bengong di Tranjakarta pun saya bisa nulis.

Tantangan saya ngeblog adalah masalah visual. Karena kalau ngedit gambar harus di laptop, dan pegang laptop saat Gayatri bangun adalah kemustahilan. Jadi kalau saya mau edit gambar ya berarti saya harus merelakan sedikit waktu tidur saya. Kalau saya capek, ya berarti tulisan saya hanya akan parkir di draft.

Thats why, di parkiran saya ada 36 drafts tulisan yang belum di publish. LOL.

Intinya adalah: JANGAN MEMAKSAKAN DIRI.

Kalau memang tidak suka menulis ya jangan ngeblog, lakukan saja hobi yang lain. Apalagi kalau punya kondisi seperti saya. Uda deh, selametin yang pokok aja dulu. Kemudian ambil waktu untuk me-time sesuai preferensi masing-masing. 🙂

Tentang Alat Bantu

Saya nggak punya alat bantu yang fancy btw buat membagi waktu, hihihi. Alat bantu yang saya punya sederhana sekali, namun menurut saya cukup efektif dan efisien membantu saya menyelesaikan tugas sehari-hari. Nggak perlu fancy kan, yang penting everything is done.

Alat bantu saya tiga hal ini:

  1. Alarm
  2. Kalender Meja
  3. Buku Agenda.

Oiya, tentang Buku Agenda. Jangan bayangin isi agenda saya itu schedule yang rapet pet pet tiap jam ada keterangan aktivitasnya apa. Kagak.

Agenda saya isinya cuma berbentuk  to do list. Bahasa kerennya bujo aliat bulleted journal.

Aslinya mah, cuma catetan kudu nyelesein apa hari itu, trus yang uda dicentang atau dicoret.

Ga pakai acara gambar-gambar cantik. Kagak sempet!

Menyederhanakan Rutinitas:

Selain itu kegiatan lain-lain yang rutin saya sederhanakan. Jadi jadwal rutin itu membuat saya nggak banyak mikir. Laundry 2x seminggu, masukin baju bersih ke daycare juga 2x seminggu. Belanja buah di brambang.com per senin. Belanja stok lauk sebulan sekali di nikaskitchen. Masaknya per batch. Belanja lain-lain sama token listrik di Alfamart deket kosan.

Ga sempet masak? Ya beli, gitu aja kok repot.

Kan balik lagi ke prinsip utama membagi waktu: tau prioritas dan sederhanakan kehidupan.

Itulah ikhtiar kami bertahan hidup.

Urusan gosip Andien (Andien lagiiii!) bawa Kawa naik kapal tanpa pelampung? Itu bukan urusan akoooooh!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!