Blazer ke Daster: Menjadi Ibu Rumah Tangga

Halo, artikel tips adaptasi menjadi ibu rumah tangga ini sebenarnya sudah direquest beberapa teman dari sejak awal tahun 2019. Hehehe, namun baru saya post hari ini, kurang lebih 10 bulan setelah saya menjadi ibu rumah tangga. Pasalnya, bagaimana saya bisa memberi tips, wong saat itu pun saya sedang “meraba-raba” menjadi ibu rumah tangga. Hehehe….

Namun, ternyata proses menjadi ibu rumah tangga yang baik, pun tetap berlangsung sampai sekarang. Jadi saya tuliskan saja apa yang telah saya alami ya, semoga ada lesson learn yang bisa diambil teman-teman! :)

Disclaimer: artikel ini BUKAN kampanye menjadi ibu rumah tangga ya, hehehe, melainkan ditujukan kepada teman-teman yang memang sudah mempertimbangkan atau malah memutuskan menjadi IRT dan mencari cerita pengalaman ibu lain.

Sebelumnya perkenalkan, saya Ella. Sebelumnya bekerja di Kementerian Keuangan dari 2010. Kemudian mengajukan Cuti di Luar Tanggungan Negara untuk ikut suami selama 3 tahun. Selama menjalani masa cuti inilah saya menjadi ibu rumah tangga.

menjadi ibu rumah tangga

Masa Awal Adaptasi Menjadi Ibu Rumah Tangga

Jujur, saya menyadari masa peralihan ini saya jalani dengan banyak privilege. Dukungan penuh dari keluarga (moril dan materiil) benar-benar menyokong saya dan suami menjalani masa ini.

Saya menyebut “saya dan suami”, karena kebetulan masa ini BERSAMAAN juga dengan peralihan pekerjaan yang dialami oleh suami. Suami yang awalnya berwirausaha dan juga sempat menjadi konsultan, mendapat beasiswa LPDP, sehingga memilih untuk resign dari tempat kerja sebelumnya. Rencananya, Beliau mau melanjutkan usahanya sambil kuliah.

Namun, baru juga selesai Persiapan Keberangkatan LPDP, Beliau mendapat kabar kalau diterima PNS di Pemkot Surabaya. Beasiswa harus dipending, karena harus menunggu persetujuan atasan baru (sebagai PNS).

Kondisi ini benar-benar tidak kami prediksi. Karena walaupun dengan sadar mendaftarkan diri, namun sebenarnya menjadi PNS bukanlah cita-cita beliau sedari muda. Jadi antara bersyukur dan shock. Karena hal ini berarti merombak rencana-rencana kami sedari mula.

Lesson Learn: Hal ini saya ceritakan, karena menurut saya unpredictable things mungkin juga akan terjadi dalam perjalanan teman-teman saat mempersiapkan diri menjadi ibu rumah tangga. Baik yang terjadi pada diri kita sebagai istri, maupun pada suami. Saat seperti inilah dukungan dalam keluarga benar-benar akan terasa menguatkan.

Tentang Mengatur Keuangan

Karena saya cuti bersamaan dengan suami resign pada akhir bulan November 2018, saya dan suami sempat mengalami masa kami TIDAK MEMILIKI PENGHASILAN. Ditambah dengan Beliau diterima PNS, membuat allowance beasiswa yang awalnya kami perhitungkan akan diterima di Januari ditunda, seiring penunaan beasiswa.

Kurang lebih empat bulan, kami bertahan mengandalkan dana darurat dan support keluarga. Benar-benar sesuatu yang challenging, karena bisa dibilang, saat itu kami mengelola dana per bulan sebesar kurang dari 1/4 penghasilan kami sebelumnya. Seperempat ini yang harus diatur agar dapat menyukupi semua kebutuhan tanpa harus menderita-menderita amat.

Deg-degan banget, mengingat belum adanya kepastian kapan gaji suami sebagai CPNS turun. Namun, yang paling saya syukuri adalah, saat itu kami tidak memiliki hutang di bank. Sehingga tekanan keuangan kami tidak terlalu berat.

Lesson learn: Perhitungkan dana darurat, jumlah hutang dan hal-hal terkait keuangan lain saat merencanakan beralih dari working mom menjadi stay at home mom. Karena bagaimanapun hilangnya satu sumber penghasilan tentu akan mempengaruhi kondisi keuangan keluarga secara umum.

Untuk meminimalisasi pengeluaran sehari-hari, kami menghindari makan di luar. Hampir selalu kami MAKAN DI RUMAH, dan membawa bekal. Trust me, hal ini ternyata benar-benar efektif memangkas biaya makan!

Related post: Meal Prep ala Nyonyamalas: Kesalahan dan Lesson Learn

Walaupun bisa dibilang pada Maret kami sudah bisa bernapas lega, namun bukan berarti kami mengurangi kewaspadaan. Setelah kami mulai bisa beradaptasi dengan sumber penghasilan tunggal, langkah berikutnya yang kami lakukan adalah: mendaftar asuransi jiwa dengan crisis benefit (askes kami masih pakai BPJS) dan kemudian mulai mengembalikan dana darurat yang sebelumnya terpakai.

Oiya, satu lagi yang saya syukuri pada saat itu adalah, saya memiliki hobi yang bisa menghasilkan uang. Walaupun tidak banyak, namun mendapatkan uang dari blog ini saat “negara api menyerang” jadi hiburan tersendiri. To be honest, saya belum pernah merasa sebahagia itu menerima fee menulis dan juga adsense google. Saya jadi menyadari betapa kufurnya saya sebelumnya. Hahaha…. (tertawa miris ini, wkwkwkwk).

Lesson learn: Mempersiapkan sumber penghasilan lain yang bisa dikerjakan dari rumah juga ada baiknya. Walaupun tidak wajib ya. Saya memahami kalau kondisi/ penyebab seorang ibu menjadi ibu rumah tangga berbeda-beda. Jadi bisa jadi berbeda pula, waktu yang tersedia untuk mempersiapkan diri. Tapi apapun itu, tetap semangaaaattt!!!!

Relationship Suami Istri

Jaman saya bekerja, kami Long Distance Marriage. Saat saya menjadi ibu rumah tangga, saya pindah ke Surabaya. Yang awalnya ketemu hanya seminggu atau dua minggu sekali, jadi ketemu tiap hari.

Senang si. Tapi frekuensi berantem jadi makin sering juga wkwkwk. Sepertinya, karena masa peralihan tadi. Saya adaptasi menjadi ibu rumah tangga, sementara suami adaptasi menjadi PNS. Kami sama-sama sedang mencoba menenangkan hati paska mengubur mimpi-mimpi masa muda. Sedang sama-sama mencoba ikhlas.

Hal-hal kecil, yang biasanya kami diskusikan dengan woles, bisa jadi trigger nada bicara yang naik naik ke puncak gunung. Kadang falseto. Wkwkwkwk….

Contoh ni ya, contoh: “Pulang jam berapa, Pak? Malam ya?”, “Rasa masakannya kok asin ya?”. Hihihi, sepele kan. Tapi bisa jadi WAAAARRRRRRR!!!

Sekarang saya bisa ketawa ketiwi ceritanya, pas kejadian si rasanya senep banget ya. Kadang terlintas, “Nggak worthy ni, pengorbanan karir saya, kalau ternyata malah bikin semuanya jadi kacau.” Saya yakin pada suami pun terlintas demikian.

Saya dan suami sebenarnya, sebelumnya tidak punya masalah komunikasi yang berarti. Biasanya kalau satu lagi ngegas, yang satu bisa kalem. Dan begitu sebaliknya. Pun termasuk pasangan yang terbuka dan kalau dikusi cukup logis. Namun, pas masa awal adaptasi itu beneran semua kayanya gas pol. Ga ada logika logika, pokoknya ESMOSI. Kata suami, saya sampai MENGIGAU SAAT TIDUR. Dan ngingaunya MARAH-MARAH!!!

Astaga bener deh….

Berhubung kami mulai merasa komunikasi kami mulai nggak produktif, diskusi-diskusi mulai nggak solutif, kami memutuskan untuk ke konselor.

FYI, konseling ini memang sudah tradisi ya kalau di kami. Sebelum menikah pun kami konseling pranikah ada kali enam kali lebih. Jadi bukan sesuatu yang tabu, buat saya dan suami. Namun, hal ini bisa jadi tidak sesuai buat teman-teman, terutama kalau suaminya kurang nyaman. Harap disesuaikan ya! :)

Saat konseling ini kami jadi terbantu untuk melihat akar masalah yang kami hadapi sebenarnya. Istilahnya dari helicopter view. Nggak dari sudut pandang istri, nggak juga dari sudut pandang suami BELAKA.

Kemudian kami diminta sama-sama menentukan “boundary” yang disepakati bersama-sama. Termasuk di dalamnya, pekerjaan rumah tangga apa yang mau diprioritaskan, bagaimana saya/ suami ingin diapresiasi, dll. Detail, jadinya kami tidak saling berasumsi.

Kami pun jadi mengalokasikan waktu-waktu “bersenang-senang”. Awalnya pos ini dihindari banget, karena kami pengen hemat. Tapi setelah sadar, kami butuh rekreasi, kami jadi mengusahakannya walau ya cari alternatif yang lebih hemat. Saat kami lebih rileks, komunikasinya jadi lebih menyenangkan juga.

Rasa ikhlas menghadapi peran dan kondisi baru pun datang lebih smooth. Lebih ayem rasa di hati.

Lesson Learn: Hmmm…. apa yak? Wkwkwkwk….

Cerita berbeda tentang rasa ikhlas di hati terkait dengan peralihan peran dari ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga juga dialami oleh teman saya, Mbak Yeni Sovia. Beliau dulunya adalah guru di sekolah anak berkebutuhan khusus. Yang mau baca ceritanya bisa ke artikel ini ya: Balada Awal Menjadi Ibu Rumah Tangga

Tentang Mengatur Waktu

Pekerjaan di kantor dan di rumah, karakteristiknya sangat berbeda ya. Kalau di kantor, lebih terasa linear. Satu selesai akan berganti ke pekerjaan lainya. Bukan berarti lebih mudah juga, namun sudah ada sistem yang membantu kita menjadi fokus pada satu task sebelum mengerjakan pekerjaan lain.

Sementara kalau di rumah seperti bentuk per (pegas) yang melingkar lingkar. Jadi kadang pekerjaan yang sudah selesai balik lagi. Seperti cuci piring, sink baru bersih, tiba-tiba ada gelas kotor datang, dst. Awalnya saya merasa agak tertekan karena pekerjaan seperti tidak pernah selesai dan saya merasa selalu dikejar-kejar waktu.

Sampai di suatu titik, bersama suami, kami menyepakati beberapa hal yang membuat saya menjadi lebih rileks dalam membagi waktu:

1 . Prioritas

Kami menyepakati pekerjaan-pekerjaan apa saja yang perlu diprioritaskan untuk dikerjakan. Seperti misalnya memasak adalah prioritas, karena kami ingin sehat sekaligus hemat. Pekerjaan yang tidak diprioritaskan adalah menyetrika, hanya pakaian kerja saja yang perlu diseterika.

Hal-hal seperti ini sebaiknya dikomunikasikan kedua belah pihak. Agar sama-sama enak dan nyaman. Kami berdua juga tidak menganut pembagian tugas yang saklek kalau di rumah. Jadi ada kalanya suami juga turut membantu pekerjaan rumah sehari-hari.

2 . Standar

Standar yang ingin dicapai dalam pekerjaan rumah itu seperti apa. Misal, definisi “rumah rapi dan nyaman” itu seperti apa. Ternyata suami hanya meminta, kamar dan ruang tengah tidak dipenuhi mainan dan pakaian berserakan. Jadi saya bisa mengatur satu ruangan tersendiri untuk Gayatri bermain dan saya menaruh pakaian.

Sederhana tapi beneran bikin saya rileks. Saya bisa fokus ke masak memasak, dimana standar suami saya agak “demanding”, suka makanan tradisional yang bumbu/ masaknya rada-rada ribet.

Dengan prioritas dan standar yang jelas, saya jadi tidak merasa terlalu tegang. Saya tidak jadi stres karena halaman tidak disapu (misal), karena memang tidak prioritas. Disapu beberapa hari sekali kalau sempat pun, suami nggak terganggu. Deseu lebih terganggu kalau saya kucelnya keterlaluan.

Jadi daripada tegang ngurusin halaman yang tidak penting (bagi kami) lebih baik kan menyempatkan diri luluran atau maskeran sekali-sekali. Badan lebih sehat, suami juga seneng lihatnya….

Poin ini saya taruh terakhir, soalnya ini poin yang saya paling struggling banget. Bisa dibilang, rumah tu masih berantakan (kalau dibandingin rumah-rumah pada umumnya). Tapi setidaknya suami uda jarang komplain si. Seiring berjalannya waktu, saya yakin bakal makin ekspert ngerjain pekerjaan rumah tangga. :)

Slow but sure aja ya Nyaaaah…. Yang penting jangan lupa bahagiaaaa!

Sekian sharingnya, kalau ada yang kurang-kurang boleh deh dicolek di komen yaaa! Sekali lagi, jangan lupa bahagiaaaaa!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Literasi Baca Tulis Mulai dari Keluarga

Gayatri, anak saya masih berusia 2 tahun 9 bulan. Setiap selesai makan siang dan menjelang tidur malam, dia menuntut untuk saya membacakannya buku. Dengan gembira, dia menyimak saya membacakannya halaman demi halaman sampai selesai. Kadang bahkan akan meminta ekstra buku lagi untuk dibacakan, sampai saya sendiri yang ingin mengibarkan bendera putih karena sudah terlalu lelah. Ampuuuun, Naaak! Hahaha….

Mau menolak, tapi ada terbersit senang juga di dalam hati, melihat anak sekecil ini sudah suka sekali dengan buku. Dilema, tapi sekaligus bangga. Jadi saya tahankan, karena saya pun ingin melihat kecintaannya akan buku tidak padam. Biarlah bibir ini pegal, toh nanti akan tiba saatnya ananda bisa membaca sendiri.

Gayatri usia kurang lebih dua tahun. Sumber: dokumentasi pribadi.

Apa yang saya alami sebagai ibu, sering ditertawakan oleh Ibu Bapak saya. Pasalnya, dulu jaman masih balita, saya dan adik-adik pun kerap membuat Ibu kami kewalahan karena hal yang sama: minta dibacakan buku, lagi, lagi dan lagi. Hahaha! “Oalah, nurun! Sejarah berulang,” kata Ibu Bapak saya.

Majalah anak-anak yang kami langgan seminggu sekali, tidak cukup memuaskan kami. Sebagai tambahannya, Bapak Ibu sering membeli majalah anak-anak bekas yang sudah dibundel. Tebal-tebal, kurang lebih sepuluh majalah per bundel. Kemudian saya dan adik laki-laki saya akan berjajar minta dibacakan setiap malam.

Dari pengalaman turun temurun dalam keluarga kami, saya menyimpulkan bahwa kegemaran membaca bisa ditanamkan bahkan sebelum anak bisa membaca. Bahkan sebelum anak bisa mengeja dan mengenal satu huruf pun.

Loh, bagaimana bisa anak SUKA membaca saat dia BELUM BISA membaca?

Dewayani (2018) dalam Panduan Pemilihan Buku Nonteks Pelajaran menyatakan bahwa anak usia dini harus ditumbuhkan minat baca mereka terhadap cerita melalui simbol makna seperti angka, huruf, gambar, dan bentuk simbolik lainnya. Pada usia ini, peserta didik tidak boleh dipaksa untuk dapat mengeja abjad melainkan dapat dibacakan.

Gayatri usia kurang lebih satu tahun. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kalau berkaca dari keluarga kami, kecintaan ini pun tidak timbul begitu saja. Sesuai dengan apa yang saya kutip di atas, saya menarik beberapa persamaan dalam pola asuh kami (saya serta suami) dibandingkan dengan pola asuh orang tua, yang kami duga sebagai penyebab kegemaran membaca pada anak sebagai berikut.

  1. Orang tua senang mendongeng (berbicara) atau membacakan dongeng dari buku dengan suara yang jelas.
  2. Orang tua mengenalkan buku sedini mungkin.
  3. Orang tua menjadikan membacakan buku sebagai kegiatan rutin.
  4. Orang tua menjadikan kegiatan membaca buku bersama sebagai aktivitas yang menyenangkan.
  5. Orang tua sering mengajak ke perpustakaan atau toko buku.
  6. Terdapat pojok baca, atau setidaknya tempat khusus dimana buku mudah ditemukan di rumah.
  7. Last but not least, orang tua menjadi teladan suka membaca buku.

Berkaitan dengan poin 2, “mengenalkan buku sedini mungkin”, sejak usia berapa?

Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud (2018) membagi tahapan penjenjangan buku dalam Panduan Penjenjangan Buku Nonteks Pelajaran bagi Pengguna Perbukuan berdasarkan tahap perkembangan membaca pada Chall’s Stages of Reading Development (1983). Tahapan ini sesuai dengan perkembangan literasi anak dan lebih mudah dipahami landasan pentahapannya.

Sumber: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud, 2018

Berdasarkan bagan di atas, pengenalan buku sejak dini masuk dalam tahapan A. Pra Membaca. Kemendikbud menyatakan tahapan ini ada pada rentang 0 s.d. 3 tahun. Selaras dengan hal tersebut, Chall menyatakan bahwa tahapan Pre Reading atau juga disebut dengan Stage 0 (usia sebelum anak dapat membaca) atau Pseudo Reading dimulai pada usia 6 bulan sampai dengan usia 6 tahun.

Berhubung mulainya tahap Pra Membaca ada pada usia 0 tahun, maka penting bagi orang tua untuk menyadari kebutuhan anak akan adanya buku yang baik bagi perkembangan literasinya. Karena kita mahfum, anak pada usia tersebut, kebanyakan belum bersekolah dan masih senantiasa bersama orang tuanya.

Lalu bagaimana memilih bacaan yang tepat untuk anak usia dini?

Panduan memilih bacaan atau buku untuk anak usia dini atau pada tahap Pra Membaca adalah sebagai berikut.

Sumber: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud, 2018

Jujur, mencari buku yang sama persis dengan ketentuan di atas masih menjadi tantangan tersediri bagi saya. Terutama mencari buku dengan ilustrasi hitam putih. Namun, kata Ibu saya, jaman sekarang jauh lebih mudah untuk mendapatkan buku anak dibandingkan jaman saya kecil.

Jadi walaupun tidak sempurna betul, namun saya dan suami tetap mengupayakan adanya buku yang baik dan sesuai dengan usia Gayatri. Setidaknya sampai saat ini, kami rasa kami berhasil menanamkan kecintaannya pada buku. Semoga hal ini akan mengoptimalkan kemampuan literasi baca tulisnya di masa depan.

Gayatri usia kurang lebih tujuh bulan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sekali lagi saya ingin menekankan bahwa, literasi baca tulis dimulai dari rumah. Bukan saat anak mulai bisa membaca, atau ketika anak mulai sekolah, namun dimulai sedini mungkin. Pada tahap Pra Membaca pun, anak sudah bisa ditanamkan kegemaran membaca. Sebagai orang tua, kita harus menyadari pentingnya tahap Pra Membaca ini!

Terimakasih sudah membaca. Teriring doa, semoga anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini, memiliki tingkat literasi yang makin baik tiap harinya. Salam sayang!

#SahabatKeluarga

#LiterasiKeluarga

Daftar Pustaka:

Pusat Perbukuan dan Kurikulum Kemendikbud (2018). Panduan Penjenjangan Buku Nonteks Pelajaran bagi Pengguna Perbukuan. Dikutip 30 September 2019 dari Repositori Kemendikbud: http://repositori.kemdikbud.go.id/10404/1/Book%20Perjenjangan%20untuk%20Pengguna.pdf

Dewayani, Sofie (2018). Panduan Pemilihan Buku Nonteks Pelajar. Dikutip 30 September 2019 dari Repositori Kemendikbud: http://repositori.kemdikbud.go.id/10407/1/Panduan%20Pemilihan%20Buku%20Nonteks%20Pelajaran.pdf

Chall, Jeanne S (1983). Stages of Reading Development. Dikutip 30 September 2019 dari Learner: https://www.learner.org/courses/readwrite/media/pdf/RWD.DLU1.ChallsStages.pdf

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Sadar Bencana Kekeringan Mulai dari Diri Sendiri: Lawan Mitos dan Lakukan Konservasi Air Skala Rumah Tangga

bencana kekeringan

Sebagai orang awam, saya sering memandang sebelah mata bencana kekeringan. Bencana kebakaran hutan, banjir, longsor, terdengar lebih horor di telinga saya. Tepat sekali, itu karena saya belum pernah mengalami rasanya kekurangan air. Hidup urban di komplek perumahan yang relatif maju, membuat saya dimanja dengan fasilitas air bersih. Adanya penampungan bawah tanah yang menampung air PDAM dan toren di lantai dua rumah saya, berperan seperti lumbung air. Keran akan mengalir deras, kapanpun saya perlukan.

Saya tidak benar-benar memahami betapa dekatnya bencana kekeringan tersebut dengan kehidupan saya. Atau dengan kata lain saya tidak menyadari bahwa isu ini begitu penting dan mendesak, sampai beberapa waktu lalu. Di grup kampung kelahiran saya, kampung yang sudah saya tinggalkan hampir sepuluh tahun, ada yang membuat daftar daerah yang butuh droping air. Seorang anggota forum yang tinggal di tepi Kali Bogowonto, termasuk yang mengisi daftar kebutuhan air. Saya jadi sedikit tersentil, “Kali Bogowonto? Bukankah sungai tersebut sangat besar? Kenapa mereka sampai bisa kekurangan air?” Sentilan itu membuat saya melakukan pencarian lebih lanjut di Google.

Pencarian yang berhasil menemukan jawaban yang tidak menyenangkan.

Karena yang awalnya hanya sentilan, berubah menjadi tohokan besar. Headline di beberapa media online menyolok mata, “Lebih dari 1.900 Desa di Tujuh Provinsi Terdampak Kekeringan“, seru artikel di bnpb.go.id tertanggal 15 Juli 2019. Menyusul kemudian pada 31 Juli 2019, “2.347 Desa Dilanda Kekeringan, BNPB Siapkan Rekayasa Cuaca” berita di CNN Indonesia. Lalu terakhir yang saya baca saat menuliskan artikel ini adalah, “Kekeringan Semakin Meluas Pemerintah Gorontalo Tetapkan Status Darurat” yang ditampilkan Kompas Online pada 16 September 2019. Dalam petikan petikan berita lain, saya juga menemukan, ada daerah yang kekeringan sudah sampai lima bulan, ada yang sudah harus mengandalkan droping air atau memilih menggunakan air rawa yang keruh.

bencana kekeringan
Ilustrasi Bencana Kekeringan, Dokumen Pribadi.

Ternyata isu kekeringan semendesak dan sepenting ini, dan saya tidak menyadarinya. Sempat terbersit dalam hati, “Secuek itukah saya? Sepertinya saya harus unfollow akun lambe lambe di Instagram supaya lebih banyak membaca berita nasional.”

Setelah saya mengajak bicara beberapa rekan, saya menemukan hal yang lebih menyedihkan: bahwa saya tidak sendirian dalam ketidaksadaran saya. Saya jadi sadar bahwa banyak yang tidak sadar dengan hal ini. Saya tidak ingin menghakimi, karena saya pun demikian. Ketidaksadaran ini massal.

Setelah merenungkan beberapa hal, saya memutuskan untuk menuliskan artikel ini….

Mitos yang Menjerumuskan tentang Air

Mitos 1. Air adalah Barang Bebas

Pengalaman hidup di tempat yang memiliki akses air bersih tak terbatas (selama membayar tagihan), menjadikan saya menganggap air adalah barang bebas. Ya, seingat saya pun, dalam pelajaran ekonomi, bersama dengan udara dan sinar matahari, air dikategorikan dalam barang bebas.

Tapi sungguh, pemahaman air adalah barang bebas merupakan mitos yang berbahaya, karena membuat saya terlena. Membuat saya tidak sadar.

Buku cetak mengatakan bahwa 70% bagian bumi adalah air. Betul memang. Namun, saya baru tahu jika dari keseluruhan air di bumi hanya kurang dari 1%-nya saja yang merupakan air segar. Sisanya 2% berupa salju atau es di kutub dan pegunungan serta 97% lainnya adalah air asin di lautan (2).

This image has an empty alt attribute; its file name is hiks.jpg

Saya jadi tidak selera mandi saat mengetahui hal ini. Satu persen proporsi air untuk 7,7 milyar umat manusia adalah angka yang sangat kecil, untuk mendaulat air sebagai barang bebas. Air adalah barang terbatas! Seharusnya dia dimahkotai julukan barang ekonomis. Ingin rasanya saya sobek-sobek buku ekonomi yang saya miliki. Sayangnya, bukunya sudah dijual ke tukang loak.

Dengan memahkotai air sebagai barang ekonomis, seharusnya kita mahfum bahwa untuk mendapatkannya memerlukan pengorbanan. Ya, betul, sehari-hari kita pun sudah berkorban uang untuk membayar tagihan air. Namun bukan pengorbanan itu yang saya ingin garis bawahi, karena tagihan air pun sebenernya tidak seberapa jumlah rupiahnya. Sebagai tambahan info yang saya dapat dari RPJM 2020-2024, PDAM selama ini belum menerapkan tarif Full Cost Recovery.

Pengorbanan yang lebih ingin saya sororti adalah pengorbanan orang lain, yang juga berhak menikmati air bersih yang sama. Sama seperti saya, kaum-dengan-akses-air-bersih-tak-terbatas-karena-sanggup-bayar ini. Untuk memudahkan, dalam artikel ini, saya akan menyebut “kaum saya (atau kita?!?) ini” dengan Kaum X.

Mari berpikir makro. Bayangkan saja, jika 1% air bersih di muka bumi, dua pertiganya dinikmati dengan foya foya oleh Kaum X, maka hanya ada sisa sepertiga lagi untuk bagian masyarakat yang lain. Kalau Kaum X lebih ceroboh dan menggunakan tiga per empatnya, maka kaum lain hanya akan mendapat bagian seperempat saja. Rumusnya bisa jadi 1 – X = sisa air bersih.

“Kok jadi mengkotak-kotakkan kaum si, Nyah? Air kan mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Bukan dari perumahan kaya ke perumahan miskin. Jangan mendramatisasi deh!”, mungkin ada yang berpendapat demikian.

Mungkin terdengar mendramatisasi ya. Tapi memang pada kenyataannya, air bersih jaman sekarang mengalir pada pipa. Ke mana pipa dipasang, ke sanalah air mengalir sampai jauh.

Saya jadi menyadari keterlibatan saya pada bencana kekeringan yang dialami oleh orang lain. Tolong, maafkan saya yang sudah zhalim. Tapi saya juga punya kambing hitam: mitos bahwa air adalah barang bebas. Mitos ini membuat bencana kekeringan tampak tidak mendesak. Mitos ini bermuara pada ketidaksadaran akan bencana kekeringan.

“Tukang loak, musnahkan saja buku Ekonomi saya!”

Mitos: Air adalah barang bebas

Fakta: Air terbatas, dan penggunaan yang boros adalah kezhaliman bagi orang lain/ generasi berikutnya. Walaupun kuat bayar, tapi berarti mengorbankan pemenuhan kebutuhan orang lain.

Mitos 2. Air adalah Sumber Daya yang Dapat Diperbaharui

Mitos berikutnya yang awalnya juga saya yakini adalah bahwa air senantiasa dapat diperbaharui, melalui siklus alaminya. Jadi pemahaman awal saya adalah air tanah yang keluar menjadi sungai akan turun ke laut, menguap, menjadi awan lalu turun menjadi hujan kemudian terserap kembali menjadi air tanah dalam akuifer.

Namun, ternyata dengan logika sederhana sebagai orang awam pun saya menemukan bahwa siklus air tidaklah memperbaharui kuantitas air tanah secara seutuhnya. Bouwer menyatakan bahwa pada lingkungan dengan suhu dan kelembaban tinggi (saya menduga Indonesia termasuk di dalamnya) tingkat keterkembalian air hujan menjadi air tanah (natural recharge rate) adalah sekitar 50% atau hanya sekitar setengahnya saja. Untuk daerah yang lebih kering bahkan hanya sekitar kurang dari 10%.

Jadi siklus air tidak 100% mengembalikan air dari tanah menjadi air tanah kembali.

Indonesia sendiri menempati urutan 65 dari 164 negara dalam National Water Stress Ranking yang dikeluarkan oleh World Resource Institute di tahun 2019. Urutan ini berdasarkan berapa banyak (persentase) air yang diambil dari tanah dan permukaan dibandingkan dengan keseluruhan yang tersedia di suatu negara. Semakin rendah nilainya, maka kondisi ketersediaan airnya semakin ideal. Menduduki peringkat tersebut berarti Indonesia berada di tingkat 20-40% water stress. Sebagai pembanding, Malaysia berada di urutan 132 dari 164 negara, yang berarti kondisi ketersediaan airnya jauh lebih baik daripada negara kita. Kesimpulannya? Kondisi kita tidaklah terlalu baik.

Hal ini diperparah dengan perubahan iklim yang drastis. Di mana seringkali kemarau sangat panjang, menyebabkan  tidak ada air di mana-mana. Lalu secara kontras di waktu yang lain, hujan tiada henti, membuat tanah kembung, tiada mampu lagi menelan air secara cepat. Air kembali dimuntahkan sebelum memasuki akuifer.

Maka apabila manusia hanya pasrah pada siklus alami air, adalah suatu keniscayaan, bahwa ada saatnya sumur-sumur air tanah mengering di semua tempat. Dengan menyadari bahwa air bukanlah sumber daya yang dapat dengan mudah memperbaharui dirinya, maka pesan isu kekeringan ini menjadi lebih kuat dan penting. Budaya sadar bencana dalam diri saya bangun.

Mitos: Air adalah Sumber Daya yang Dapat Diperbaharui

Fakta: Natural recharge rate hanya sekitar 50%

Mitos 3. Kekeringan tidak akan terjadi di daerah saya.

Mitos bahwa kekeringan tidak akan terjadi di daerah saya, adalah mitos paling naif sekaligus menyedihkan. Karena faktanya, hal itu sudah terjadi, hanya saya tidak menyadarinya.

RPJM 2020-2024 yang dirilis Bappenas pada tahun 2019 menyatakan bahwa saat ini ketersediaan air sudah tergolong langka hingga kritis di sebagian besar wilayah Pulau Jawa dan Bali; sementara Sumatera bagian selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi bagian selatan akan langka/kritis air di tahun 2045. Diperkirakan luas wilayah kritis air meningkat dari 6 persen di tahun 2000 menjadi 9.6 persen di tahun 2045.

Tahun 2019 bencana kekeringan di Indonesia tercatat lebih buruk daripada tahun 2018. Banyak daerah di pulau Jawa yang di tahun 2018 tidak mengalami kekeringan, di 2019 harus kehausan. Lalu di tahun 2020 mau seperti apa? Tahun 2040 mau seperti apa?

Sekarang sudah pertengahan September 2019, dan BMKG memberikan prakiraan musim penghujan akan datang pada bulan Oktober 2019. Sebentar lagi, jika Tuhan berkehendak, hujan akan turun. Bahkan saat saya menuliskan artikel ini, semalam, hujan sudah turun di Bogor. Angin segar bagi daerah yang saat ini terdampak bencana kekeringan. Untuk daerah yang tidak terkena kekeringan pun, sebuah kelegaan besar. Syukurlah, tahun ini aman.

Namun, jika kita tidak mawas diri atas informasi tersebut, saya ngeri membayangkan tahun tahun menjelang, daerah yang tahun ini tidak mengalami kekeringan, mendapat giliran terkena bencana. Amit-amit, saya masih mau mandi dua kali sehari biar tidak kena penyakit kulit sampai tua.

Jadi, setelah musim kemarau selesai, jangan sampai kesadaran akan bencana kekeringan pun turut usai. Malahan kita perlu bersiap menjaga alam, agar di tahun berikutnya, Indonesia tidak perlu mengalami bencana kekeringan lagi. Kita jaga alam, alam jaga kita.

Jangan sampai kita baru sadar, saat sudah menjadi korbannya.

Mitos: Kekeringan tidak akan terjadi di daerah saya.

Fakta: Ketersediaan air sudah tergolong langka hingga kritis di sebagian besar wilayah Pulau Jawa dan Bali; sementara Sumatera bagian selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi bagian selatan akan langka/kritis air di tahun 2045.

Mitos 4. Ketersediaan Air bersih adalah SEMATA-MATA kewajiban pemerintah

Benar, adalah kewajiban pemerintah untuk menyediakan air. Lebih tepatnya, Pemerintah bertanggungjawab pada kapasitas penyediaan air minum/ air bersih. Saat bencana kekeringan terjadi pun, pemerintah telah melakukan beberapa tindakan seperti perbaikan infrastruktur PDAM, pengaturan irigasi dan melalui Pemerintah Daerah serta BNPB melakukan droping air bersih.

Masih banyak tugas yang harus pemerintah selesaikan, namun bukan berarti individu tidak memiliki kewajiban apapun terkait air bersih. Dalam PP Nomor 82 Tahun 2001 pasal 31 menyatakan bahwa setiap individu berkewajiban melestarikan kualitas sumber air dan mengendalikan pencemaran air.

Belajar dari kasus Australia, khususnya Melbourne, saat mengalami kekeringan paling parah sepanjang sejarah di tahun 1997 – 2009. Salah satu yang pemerintah Melbourne lakukan saat itu, selain pembangunan infrastruktur tentunya, adalah membuat electronic billboard yang menunjukkan level ketersediaan air. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat luas tentang bencana kekeringan yang sedang dan akan dialami. Tindakan itu berhasil dan menjadi rujukan keberhasilan dalam menghadapi Millenium Drought. Karena terbukti saat kesadaran masyarakat terbangun, Melbourne berhasil menurunkan tingkat konsumsi air rumah tangga sampai 50% di tahun 2010 dibandingkan dengan tingkat konsumsi sebelum terjadinya kekeringan.

Tercatat bahwa pemerintah Melbourne pun melakukan investasi pada infrastruktur desalinasi air laut menjadi air tawar. Namun program tersebut dihentikan karena prosesnya ternyata merusak alam. Jadi alih-alih hanya fokus pada pembangunan infrastruksur, keberhasilan Melbourne menghemat banyak air di atas adalah berkat mereka memiliki prioritas pada tindakan tindakan konservasi air. Bahkan setelah masa kekeringan tersebut lewat, masyarakat Melbourne tetap melanjutkan kebiasaan baik mereka dalam konservasi air dan makin meningkatkan daya tahan kota itu terhadap risiko bencana kekeringan.

Senada dengan apa yang dilakukan oleh warga Melbourne penelitian di Pennsylvania juga menyatakan bahwa perubahan sikap dapat menjadi pertolongan pertama pada kekeringan, namun peralatan dan praktik-praktik air lainnya juga diperlukan untuk perbaikan jangka panjang.

Di Pennsylvania sebagaimana juga di negara bagian Amerika Serikat yang lain, seperti juga Melbourne, terdapat early warning system untuk membangun kesadaran masyarakat tentang bencana kekeringan. Perbedaan dengan Melbourne adalah, jika Melbourne menggunakan electronic billboard yang menunjukkan status ketersediaan air pada waduk (sistem terpusat), di Pennsylvania menggunakan Drought Declaration (Deklarasi Kekeringan, terjemahan bebas) yang dapat dipantau secara real time pada web Department Environmental Protection.

Drought Declaration ini akan memberi informasi kepada warga tentang status kekeringan yang sedang terjadi di daerah mereka. Status tersebut adalah Normal, Drought Watch, Drought Warning dan Drought Emergency. Selain menunjukkan kondisi, status ini juga menjadi acuan langkah apa yang harus dilakukan oleh warga terkait konsumsi air yang mereka lakukan.

Status Drought Watch berarti anjuran bagi warga untuk smengurangi konsumsi air setidaknya sebesar 5%, status Drought Warning berarti mengurangi konsumsi air secara sukarela sebesar 10 s.d. 15%, dan status Drought Emergency berarti kewajiban bagi warga untuk mengurangi konsumsi air sebesar minimal 15%.

Berkaca dari pengalaman negara-negara lain lain di atas, mematahkan pemikiran bahwa konservasi air di tingkat rumah tangga adalah hal kecil yang tidak akan memiliki dampak apa-apa. Dan adalah sebuah halusinasi, jika kita merasa pemerintah akan sanggup berjuang sendiri untuk melakukan “pekerjaan besar”; menyediakan air bersih, di tengah kondisi alam yang sudah seperti ini. Ini seharusnya adalah proyek gotong royong semua pihak yang berkepentingan. Dan kita sebagai individu maupun sebagai rumah tangga merupakan subyek yang memiliki kepentingan sangat besar terhadap ketersediaan air bersih.

Saya tidak sedang membela pemerintah. Saya sedang membela nasib saya sendiri juga.

Konservasi air skala rumah tangga sebagaimana yang dilakukan di Melbourne ataupun di Penssylvania tadi pasti juga bisa kita lakukan. Berikut saya coba merangkum, langkah-langkah sederhana yang bisa kita bersama lakukan di rumah.

Mitos: Ketersediaan Air bersih adalah SEMATA-MATA kewajiban pemerintah.

Fakta: Ketersediaan air harus diupayakan oleh semua pihak.

Konservasi Air Skala Rumah Tangga

Konservasi air skala rumah tangga secara mudahnya, dapat diterjemahkan sebagai penghematan air yang sesuai dengan Tips Siaga Bencana Kekeringan yang diberikan oleh BNPB.

Sebagai informasi, BNPB telah mengeluarkan Tips Siaga Bencana Kekeringan yang meliputi 1) Pra Bencana dan 2) Saat Terjadi Bencana. Dari 11 hal yang disebutkan oleh BNPB di sini, saya ingin menggaris bawahi tiga hal yang paling mudah dilakukan dalam skala rumah tangga.

Hal ini kurang lebihnya sejalan dengan konservasi air:

  1. Memanfaatkan air yang ada secara efektif dan efisien.
  2. Membuat dan memperbanyak resapan air.
  3. Memanfaatkan sumber air yang tersedia sebagai keperluan air baku.

Sebenarnya ada banyak lagi cara dalam konservasi air. Tapi menurut saya, berikut adalah tahap yang paling do-able dan paling affordable juga.

1 . Memanfaatkan air yang ada secara efektif dan efisien

Dalam memanfaatkan air secara efektif dan efisien ada dua sudut pandang. Yang pertama dari sisi perubahan perilaku dari pengguna air dan yang kedua adalah dari sisi peralatan hemat air yang digunakan.

Contohnya dalam kegiatan menyiram toilet (sehabis buang air).

Dari sisi perilaku, kita bisa menghemat air dengan mengurangi kebiasaan menyiram toilet berkali-kali setelah buang air. Bagi yang menggunakan toilet duduk, ada kalanya untuk menghilangkan sepi, kita menekan tombol flush lebih dari sekali. Padahal hanya perlu sekali flush saja di akhir kegiatan buang air, sudah cukup untuk mengantarkan kotoran ke septic tank. Kebiasaan tersebut bisa melipatgandakan konsumsi air rumah tangga secara signifikan.

Sementara itu, dari sisi peralatan, kita bisa memilih toilet duduk yang memiliki dua mode flush; tombol kecil untuk menyiram kencing dengan jumlah air lebih sedikit dan tombol yang lebih besar untuk menyiram feses dengan jumlah air yang lebih besar.

Jika memiliki toilet dengan hanya satu metode flush, kita bisa memasukkan botol berpemberat ke dalam tampungan air flush, agar mengurangi volume airnya.

Kegiatan siram menyiram toilet ini, saya jadikan contoh pertama karena ternyata jumlahnya TERNYATA paling signifikan!

Konsumsi rumah tangga terbesar pada tahun 1999 di Amerika Serikat, sebagaimana ditunjukkan tabel di atas, adalah pada toilet yaitu 27%. Lebih banyak daripada penggunaan untuk menyuci baju.  Hal ini kurang lebih senada dengan pendapat Keating dan Howart pada tahun 2003 yang menyatakan 30 % konsumsi air rumah tangga berasal dari siraman air toilet (Keating dan Howart, 2003). Angka ini sekiranya bisa menjadi gambaran konsumsi air rumah tangga secara umum.

Misal, kita bisa menghemat konsumsi air di toilet berdasarkan Water Household Conservation, Penstate, 2008 maka per orang akan dapat menghemat 1.385,46 liter per bulan. Tabel terlampir di bawah ini.

Jika dalam satu keluarga terdapat 3 anggota, maka penghematan air yang dilakukan bisa lebih dari 3.000 liter. Bayangkan jika seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 267 juta jiwa, melakukannya. Milyaran liter air dapat dihemat setiap harinya.

Angka di atas hanya untuk penghematan konsumsi air toilet saja. Bayangkan berapa banyak yang bisa dihemat apabila kita menghemat konsumsi air pada hal lainnya juga.

Hal-hal sederhana lain yang bisa dipraktikkan di rumah terkait penggunaan air yang efektif dan efisien adalah:

  • Menggunakan bak pembilasan saat mencuci piring alih-alih membilas di bawah keran air yang senantiasa mengucur,
  • Menggosok gigi dengan keran tertutup dan berkumur dengan air yang ditampung dalam gelas,
  • Mencuci pakaian dengan dengan jumlah pakaian kotor yang optimal,
  • Tidak menyuci mobil atau menyiram halaman saat kondisi kekeringan,
  • Mandi menggunakan shower lebih hemat dibandingkan dengan mengguyur tubuh menggunakan gayung,
  • Pastikan tidak ada peralatan yang bocor,
  • Jika menggunakan pompa air, pastikan tempat penampungan air dilengkapi dengan saklar otomatis, yang memungkinkan mesin mati tepat saat penampungan penuh. Atau jika tidak, jangan meninggalkan rumah saat pompa air menyala.

2 . Membuat dan memperbanyak resapan air dengan artificial recharge storage/ water banking.

i ) Biopori

Kita tentu familiar dengan metode menabung air di bendungan. Air ditahan di sebuah wadah raksasa supaya ketika air melimpah tidak menyebabkan banjir, dan dapat digunakan sewaktu dibutuhkan.

Dalam skala rumah tangga, tentu kita tidak dapat membuat bendungan. Karena luasan tanah di atas permukaan yang diperlukan sangatlah besar. Bisa dibilang hal ini relative tidak terjangkau olah orang kebanyakan. Namun, kita bisa membuat “bendungan” di bawah tanah. Hal ini mungkin terjadi karena “ruangan” untuk air pun sebenarnya sudah tersedia di dalam tanah. Ruangan tersebut kita kenal dengan “akuifer”. Tempat ini adalah lapisan kulit bumi berpori yang dapat menahan air dan terletak di antara dua lapisan yang kedap air.

Mengingat ruangannya sudah tersedia, yang perlu dilakukan adalah bagaimana membantu mengalirkan air di atas permukaan tadi kembali masuk ke dalam tanah. Tentunya dengan lebih cepat melebihi natural recharge rate yang hanya sekitar 50% sebagaimana disebut di awal artikel ini. Salah satu cara yang termurah yang dapat dilakukan dalam skala rumah tangga adalah dengan membuat biopori.

Saya bilang termurah karena hanya membutuhkan alat untuk menggali ukuran 1 m dengan diameter, yang mana dapat digunakan rama-ramai. Jadi bisa satu RT iuran untuk membeli atau membuat di tukang las, satu atau dua alat biopori.

Bagaimana biopori bisa meningkatkan resapan air?

Biopori adalah lubang silinder yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm. Kedalaman ini bisa dikurangi apabila air tanah di sekitarnya dangkal. Selanjutnya lubang yang sudah dibuat tersebut diisi dengan sampah organic, yang nantinya akan berguna sebagai makanan organisme tanah.

Secara matematika sederhana, penampang tanah dengan diameter 10 cm hanya akan memiliki lahan resapan sebesar lingkaran dengan luas 78,5 cm persegi. Sementara ketika dibuat tabung dengan kedalaman 100 cm, maka luas bidang resapannya akan menjadi 3.218 cm persegi.

Belum lagi nantinya, ketika biopori diisi dengan sampah organik, maka cacing-cacing dan organisme tanah lainnya akan bergerak dari dan ke biopori di dalam tanah sehingga membentuk rongga-rongga di dalam tanah, yang makin mempermudah air untuk terserap.

ii ) Sumur resapan/ kolam infiltrasi

Kolam infiltrasi adalah kolam berukuran 21x13x3 m3, dengan tiga sumur injeksi berkedalaman 12 meter. Kapasitas tampungnya mencapai 400 m3/hari.

Karena ukurannya yang besar ini, tentu saja resapan yang bisa terjadi jauh lebih besar daripada biopori. Namun, karena ukurannya sangat besar, untuk skala rumah tangga saya rasa masih perlu bekerja sama dengan instansi terkait untuk pengadaannya.

iii ) Tidak menutup permukaan tanah

Last but not least, langkah yang harus dilakukan adalah tidak menutup semua permukaan tanah dengan semen atau keramik.

3 . Memanfaatkan sumber air yang tersedia sebagai keperluan air baku.

Selama ini, saya hanya mengandalkan air PDAM sebagai sumber air utama. Mau mencuci baju, menyiram tanaman, mencuci piring, mandi, mengepel, dll semua dari air PDAM. Hanya untuk air minum dan memasak saja yang menggunakan air mineral.

Setelah menyadari isu bencana kekeringan ini, pikiran saya jadi lebih terbuka untuk ide-ide sumber air lainnya. Sumber potensial yang telintas dalam benak saya adalah:

i ) Air hujan atau rain harvesting.

Cara paling sederhana yang bisa dilakukan adalah menggunakan drum untuk menampung air dari atap. Hal ini dilakukan oleh nenek saya yang tinggal di pesisir pantai sejak sebelum tahun 90-an. Nenek melakukan hal tersebut karena di rumah beliau, sumurnya payau. Pemenuhan air tawar dilakukan dengan membeli air di tukang air keliling. Air hujan merupakan berkah, karena dengan menampungnya, nenek bisa berhemat uang banyak. Saya masih ingat betul hal tersebut, karena saat kecil, liburan ke rumah beliau, saya pernah memasukkan lumpur ke dalam drum tersebut, dan nenek saya “mengaum” tak hentinya menggunakan Bahasa Jawa dialek pesisir Jawa Utara yang tidak terlalu saya pahami.

ii ) Menggunakan kembali air limbah.

Sebenarnya kita pun perlu memandang limbah air sebagai “sumber air” yang baru. Betul, dengan cara menggunakannya kembali. Menggunakan air limbah kembali memang tricky ya. Karena sebagai orang awam, saya sendiri ragu dengan kemampuan saya mengelola air limbah. Kawatir, alih-alih berhemat, malah jadi penyakit.

Namun, saya punya wacana bersama suami yang kebetulan adalah insinyur untuk mewujudkannya di rumah kami nanti. Wacana tersebut adalah tentang menggunakan kembali air cucian pakaian untuk menyiram toilet.

Beberapa poin yang kemarin perlu dikaji kembali oleh kami adalah masalah detergen, yang kemungkinan akan mengganggu proses penghancuran kotoran di septic tank. Kemungkinan besar jika kami bisa mencari sabun cuci pakaian yang lebih ramah lingkungan, seperti lerak atau castile soap, wacana ini dapat dilakukan. PR-nya adalah menghitung apakah pilihan tersebut tidak mengganggu kebersihan dan kenyamanan keluarga, serta juga menghitung nilai ekonomisnya kembali.

Saya pribadi benar-benar berharap wacana ini dapat terwujud. Karena jika menggunakan asumsi angka pada tabel Amerika serikat yang kita gunakan tadi. Maka konsumsi air toilet yang awalnya 18,5 gallons dipangkas 50% menggunakan peralatan hemat air menjadi 9,25 gallons per orang dapat dipenuhi sepenuhnya dari penggunaan kembali 15 gallons air bekas cuci pakaian. Bahkan masih sisa 4,75 gallons untuk dapat diolah lebih lanjut.

Ah, ya, harapan saya dengan langkah-langkah kecil yang sudah dan akan kita lakukan dalam konservasi air skala rumah tangga ini, tahun 2045 kita masih bisa terhindar dari bencana kekeringan ya…. Masih bisa menikmati kesegaran air minum bagi kesehatan kita. Dan tak lupa, air mandi supaya tetap glowing, shimmering, splendid….

Aamiin….

Daftar Pustaka:

  1. https://www.wellwater.bse.vt.edu/files/household%20water%20conservation.pdf
  2. http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.476.6599&rep=rep1&type=pdf
  3. http://www.sanitasi.net/dasar-dasar-teknik-dan-pengelolaan-air-limbah.html
  4. http://dibi.bnpb.go.id/
  5. https://bnpb.go.id/publikasi/siaga-bencana/siaga-bencana-kekeringan.html
  6. https://www.dep.pa.gov/Business/Water/PlanningConservation/Drought/Pages/default.aspx
  7. https://news.psu.edu/story/164626/2010/09/21/drought-watch-effect
  8. http://www.biopori.com/keunggulan_lbr.php
Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share