Mengajari Anak Berperilaku Asertif Saat Membela Diri

Di artikel ini saya pengen cerita tentang perilaku agresif, submisif/ pasif dan asertif pada ANAK saat membela diri. As usual, I dont want to preach my parenting style to You, lhooo Gaeeees…. Karena saya pun bukan ahli parenting dan juga bukan ahli bela diri. Jadi sifatnya sharing yang selama ini kami alami dalam keluarga yaaak. Semoga bermanfaat!

Siapa yang anaknya pernah ditabok sama anak lain????? Sayaaaaaa!!!

Siapa juga yang anaknya pernah nabok temennya?

Hmmm…. Kalau nabok, anak saya nggak punya kecenderungan ini. Cumaaaaa, dia pernah ngedudukin temennya. Literally duduk di atas badan temennya. Wkwkwkwk…. Beda ya. Tapi LEBIH PARAH si. Hihihi….

Jaman saya kecil dulu, kelas 5 SD, seorang teman dekat pernah menarik kertas ulangan saya. Dan karena, belum selesai mengerjakan dan sedang khusyuk, refleks saya tabok dia. Tepat di muka. PLAAAKK!!! Anak laki-laki itu menangis. Akhirnya, memang saya dibela oleh guru dan hubungan pertemanan kami pun baik-baik saja. Namun, perasaan bersalah saya terbawa sampai sekarang.

Suami saya pun pernah melakukan hal yang 11-12 ketika kecil. Berantem, sampai tabok-tabokan. Dan dia menang. Ya iyalah, badan segede itu. Tapi kenangan itu membekas. Saya tahu persis, karena dia pernah cerita. Sejak saat itu, dia bertekad untuk tidak bertindak agresif seperti itu lagi.

Perilaku Agresif

Anak saya, seperti yang saya bilang tadi, juga bukan anak yang 100% bebas dari perilaku. Selain dulu pernah menduduki temannya, dia juga pernah menduduki kap mobil-mobilan yang sedang dikendarai sepupunya. Dalam rangka mau mengambil mobil-mobilan tersebut. Karena kap diduduki, mobil tidak bisa jalan, dan sepupunya pun menangis.

Memang, dalam kasus terakhir, secara fisik, anak saya tidak memukul atau bahkan tidak menarik mainannya. Tapi saya tetap mengategorikan sikap itu sebagai perilaku agresif, karena sudah memasuki/ mengganggu “wilayah” orang lain.

Related Post di 2018: Bayi Posesif dan Rebutan Mainan

Perilaku Submisif/ Pasif

Sementara itu, di usianya kurang lebih dua tahun, saya pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri, anak saya ditabokin anak lain. Saya dalam posisi yang jauh dari anak saya, tapi masih bisa melihat dengan jelas. Dan ibu dari si pelaku pun jauh dari posisi anak kami. Untuk ada dua orang dewasa lain yang kemudian memisahkan mereka.

Saya kemudian mendatangi Gayatri yang sedang menangis dalam kondisi kebingungan. Iya, dia tidak ketakutan, melainkan bingung. Sepertinya, dia ingin merespons tapi tidak tahu harus berbuat apa.

Perilaku submisif/ pasif, secara sederhana adalah membiarkan orang lain memasuki “wilayah”nya walaupun tidak menyukainya.

Perilaku Asertif saat Membela Diri

Perilaku Asertif berbeda dengan kedua perilaku di atas. Mengutip dari web IPEKA Integrated Christian School, “Asertif adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan pikiran, perasaan, dan keinginan secara jujur kepada orang lain tanpa merugikan orang lain.”

Jadi, saya dan suami benar-benar berpikir keras dan berusaha mengajari Si Ening untuk membela diri termasuk tetap mempertahankan kepentingannya (terutama hak dan keselamatannya) tanpa mengorbankan kepentingan ataupun keselamatan orang lain.

Berikut adalah beberapa hal yang kami lakukan, yang mulai menunjukkan progress, walaupun belum sempurna betul:

Rebutan Mainan

Suatu sore, di RTPRA dekat perumahan, Si Ening manyun karena ayunan warna hijau yang sering dia pakai, kebetulan dipakai anak lain yang seumuran. Sebut saja dia Mawar. Dia terus menerus bilang bahwa dia ingin mainan ayunan warna hijau. Dia bilangnya ke saya, tapi setengah mumbling nggak jelas.

Saya awalnya bilang, “Ayunan yang biru, kamu nggak suka?” Dia menggeleng, dan terus menerus bilang hanya mau ayunan hijau. Doooh, bocah dah. Trus saya kepikiran aja, toh ini tempat umum kan ya, siapa tahu Mawar juga mau gantian, jadi saya minta Si Ening untul NGOMONG (NEGOSIASI) ke Mawar untuk gantian. “Bilangnya baik-baik yaaa!” seru saya.

Si Ening Gaya maju perlahan, ragu-ragu dia bilang, “Mawar, aku mau ayunan hijau.” Ngomongnya agak lirih gitu. Ehhhhhh, ternyata Mawar mau doooong! Dia pindah ke ayunan biru yang ada di sebelah ayunan hijau. Case closed, Si Ening happy, Mawar pun juga happy karena ditemenin Si ening, dan mereka hidup bahagia selamanya #eh.

Karena strategi ini berhasil, anak saya jadi ketagihan gitu. Hihihi, sore berikutnya, dia gitu lagi. Tapi dengan Melati yang sedang asyik main di ayunan hijau. Ngomongnya, baik-baik, tapi lebih percaya diri.

Sayangnya, ditolak doooong! Si Melati tetap kekeuh mau yang hijau juga. Hahaha…. Dan Si Ening nyoba dua sampai tiga kali, sampai akhirnya agak frustasi. Dan mulai mau nangis.

Karena saya lihat, dia sudah berusaha mengkomunikasikan keinginannya. Akhirnya saya samperin Si Ening, dan bilang, kalau mau tetap ayunan hijau kita bisa nunggu sampai Melati pulang, sementara itu kita bisa mainan yang lain. Eh, Si Ening nyamperin Melati lagi, dan bilang, “Melati, kamu pulang aja ya….” Dan Melati tetap tidak bergeming.

Hahahaha, ngakaaaakkk!!! But, aku bangga banget si sama progress ini. Setidaknya walaupun sad ending, dan Si Ening uring-uringan jadinya, tapi setidaknya dia sudah belajar bersikap asertif.

Pukul Balas Pukul?

Saya pribadi tidak pernah untuk menyarankan anak saya untuk membalas memukul. Kalau memang khilaf memukul atau khilaf melukai anak lain, pastinya akan saya tanya alasannya dulu, dan akan menjadi her advocate. Tapi untuk menyarankan membalas memukul sebagai bentuk bela diri, saya tim NO.

Alasan tidak menyarankan balas memukul adalah:

1 . Better Problem Solving

Saya dan suami ingin membuka wawasan Si Ening, bahwa masalah TIDAK SELALU harus diselesaikan dengan kekerasan. Ada pilihan-pilihan lain dalam pemecahan masalah yang win-win solution. Saya harap, pola pikir yang demikian akan terbawa sampai dewasa nanti. Teriring doa, semoga Si Ening nggak jadi netijen yang suka bawa-bawa LPG (ngegas, wkwkwk).

2 . Menghindari Risiko Lebih Buruk

Ada risiko yang bisa jadi lebih buruk ketika anak melakukan kekerasan fisik. Jadi balik lagi ke tujuan utama, kita nggak pengen anak kita di-bully atau dipukul kan. Kalau kita mengajari anak membalas memukul, bukankah bisa jadi kita sedang mengarahkan anak ke masalah yang lebih besar. Seperti dipukul lagi (berulang), atau ditempeleng emak temennya, kan lebih parah. Tidak peduli siapa yang pertama kali memukul, kalau bonyok ya tetep bonyok.

Ingat, anak balita, belum bisa mengukur risiko yang akan dia hadapi. Dan kami, tidak selalu ada di samping mereka untuk melindunginya. Jadi mengajari mereka untuk mengambil pilihan yang lebih tidak berisiko adalah pilihan kami.

How-to-nya nanti akan dibahas di bawah.

3 . Personal belief

Tentu, masing-masing orang punya kepercayaannya masing-masing, yang menjadi sumber dari segala prinsip kehidupan. Yang ketika kita bingung, bisa kita rujuk sebagai pegangan. Demikian juga dengan saya, yang meyakini untuk lebih baik mengutamakan kasih sesuai ajaran agama. Tentu hal ini pun akan memengaruhi cara membela diri yang diajarkan kepada anak.

Berikut adalah sharing ibu lainnya, Girly Saputri: Balas Pukul atau Boleh Pukul? Yuk mampir, Nyah! Yuuuukkkk!!!

How-to : Self Defense Sederhana

Tidak mengajarkan anak untuk balas memukul, bukan berarti saya dan suami anti bela diri ya. Malah sebaliknya, kami merasa bela diri sangat perlu, agar anak bisa melakukan defense dengan lebih efektif dan efisien tanpa harus bonyok bonyok amat.

Saya dan suami berencana untuk melatih anak saya ilmu bela diri Wingchun, saat usianya lebih besar. Saat ini si belum. Selain karena kami belum menemukan tempat latihan Wingchun yang menerima anak batita, kami juga ingin melihat bagaimana perkembangan temperamen Si Ening lebih lanjut (apakah cocok Wingchun atau bela diri lain).

Sementara ini, yang saya ajarkan ke Si Ening adalah sebagai berikut:

1 . Menghindar

Saya mengajari anak untuk setidaknya mundur dan pergi menjauh jika akan dipukul. Jika dalam posisi tidak memungkinkan untuk mundur, saya mengajari memosisikan kedua tangan terentang ke depan. Posisi ini paling memungkinkan untuk menangkis apabila akan dipukul.

2 . Menolak

Saya mengajari Si Ening untuk berteriak, “NO!” saat ada yang tidak dia sukai yang dilakukan orang lain terhadap dirinya.

Ini ada success story yang sedih.

Jadi pernah suatu kali, saya kelepasan nabok pantatnya karena emosi (khilaf banget, sorry). Si Ening langsung ngangkat tangan dan bilang “No, aku nggak suka!”

Kaget, trus langsung sadar sayanya. Sedih banget, apalagi habis itu dia juga nangis, bilang kalau, “Nggak suka pukul pukul.” Sebenarnya ada sedikit rasa lega, karena dia bisa menolak sedemikian, memraktikkan apa yang kami ajari.

Tapi sedih banget, why oh why, kenapa kok saya yang jadi pelakunya. Huhuhu…. Tobat Simbok, Naaak!

3 . Mengungkapkan perasaan

Sesederhana mengungkapkan rasa sakit yang dia alami. Karena bisa jadi lo, bocah-bocah tu kalau lagi main bareng suka kelepasan. Karena mereka pun belum bisa sepenuhnya ngontrol tubuh mereka dan mengukur seberapa tenaga mereka. Jadi penting buat anak, untuk kasih notifikasi ke temannya, dengan mengungkapkan perasaan.

Sesederhana, saya kalau lagi main sama Si Ening suka nggak sengaja kejambak, ketendang, ketiban badannya habis salto atau ditusuk-tusuk pipinya. Saya juga akan bilang ke Si Ening, kalau saya merasakan sakit atau tidak suka. Ya begitulah….

Kemarin saya membaca insightnya Mbak Damar di akun IGnya Mikhadou. Buset, apa yang dia paparkan jauh lebih detail dan humanis. Bagus banget si menurut saya. Kalau teman-teman mau baca juga bisa lihat di bawah ini ya….

Ya, kita memang tidak bisa menjamin anak kita 100% bakal aman. Namun, sebagai orang tua kita tentu punya cara sesuai keyakinannya masing-masing. Demi keselamatan anak, dan juga perdamaian dunia #aseeeek yuk mari mengajari anak berperilaku asertif saat membela diri. Yuk, Nyaaaah? Yuuuukkk!!!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Memories

Saya tahu lagu Memories – Maroon 5 ini dari suami. Ada beberapa hal dari lirik lagu ini yang membuat kami feeling nostalgic. Flashback pada masa lalu masing-masing. Sounds so sentimentil ya, hahahaha….

Ada dua bagian dari diri saya yang terungkit dari lagu ini: tentang passion dan tentang mantan.

Passion

Saya bukan orang yang suka menggembar-gemborkan untuk mengejar passion. Karena sejujurnya, saya pun tidak pernah benar-benar mengejar passion saya, sejak sedari muda, menggambar.

Antara saya tidak pernah serius menganggap menggambar adalah pasion saya. A little bit denial. Atau karena saya terlalu phragmatis ya, ambil aja peluang yang di depan mata….

Hanya saja ketika beranjak tiga dasawarsa, saya mengingat kembali satu per satu memori, dan menarik garis merah kegiatan saya dari TK sampai menjelang lulus SMA, ada satu hal yang menarik di ingatan. Menggambar adalah sesuatu yang saya lakukan dengan senang hati dan effortless.

Saran dari guru seni rupa dan juga hasil psikotes yang mengarahkan saya ke fakultas desain, saya abaikan. Karena entah apa. Hahaha…. Sepertinya karena saya lebih melihat pendidikan sebagai jalan menuju pekerjaan ya. Jadi jurusan teknik sepertinya lebih masuk akal untuk dikejar.

Saya dapat tiket jurusan Teknik Informatika sebelum saya lulus. Maka saya pun ambil, tanpa pernah mencoba jurusan lain di SNMPTN.

Berikutnya, saya mendaftar di STAN atas permintaan keluarga dan diterima. Pikiran saya sederhana saja saat ini, di STAN kuliah dengan beasiswa, maka akan baik bagi keluarga kami secara finansial. Jadi saya pun cabut cuss ke jurusan yang paling tidak dianjurkan oleh hasil psikotes: Akuntansi.

Hahahaha….

Hal ini memang menghantui dari lama, sepertinya makin terasa saat saya memiliki anak. Mulai menggumulkan kembali panggilan hidup. Memories bring back, memories bring back…. Bring back banyak sekali pemikiran, yang membuat saya mempertanyakan, “Kenapa dulu tidak mencoba? Setidaknya untuk tahu the best version of my self?”

Apalagi setelah memutuskan menjadi ibu rumah tangga, seperti ada sisa sisa rasa penasaran yang mendorong saya untuk “mencari panggung saya sendiri”. Saya tahu ini tidak sehat. Seperti belum “selesai dengan diri sendiri”, seperti masih mencari-cari “kepingan puzzle yang tidak terselesaikan”. Wkwkwkwk….

Telat banget ya? Apa memang ini quarter life crisis? Idk.

Tapi sejujurnya saya juga TIDAK menyesali keputusan demi keputusan di masa lalu. Karena saya tahu, kalau saya ambil jalur yang sesuai passion pun, bisa jadi hidup saya malah berantakan. Keluarga saya juga. Mungkin adik saya jadi tidak bisa lanjut kuliah, dst, dst.

Jadi saya tetap mensyukuri, saat ini sudah sampai di titik ini. Hanya saja that memories mengajarkan saya untuk memberi pemahaman tentang passion kepada anak. Saya berharap, sedari muda dia benar-benar serius menggumulkan panggilan hidupnya. Dan berusaha mengerjakannya sungguh-sungguh.

Karena dia, generasi yang ada di kondisi yang jauh lebih baik daripada kondisi yang saya alami. Sebagai orang tua pun, tentunya saya berharap bisa memberikan peluang dan wawasan yang lebih baik.

Mantan

Suami saya, sebenarnya adalah senior saya sejak SMP. Jadi kami saling kenal sebenarnya ada kalau 12 tahun sebelum pacaran. Kadang saya nyeletuk, “Kalau gitu, ngapain kita muter-muter dulu, sempat pacaran sama orang-orang lain dan baru ketemu lagi, trus nikah ya?”

Here’s to the ones that we got
Cheers to the wish you were here, but you’re not
‘Cause the drinks bring back all the memories
Of everything we’ve been through
Toast to the ones here today
Toast to the ones that we lost on the way
‘Cause the drinks bring back all the memories
And the memories bring back, memories bring back you

(Memories – Maroon 5)

Suami saya selalu menjawab dengan woles dan default, “Jalane Gusti….”

Hahaha, kesel bener deh, kalau lagi pengen ngobrol trus dijawab dua kata itu. Soalnya auto case closed kalau bawa-bawa nama Tuhan. Soalnya ya EMANG BENER!

Kalau dipikir-pikir lagi, kalau beneran kami pacaran sejak SMP atau sejak SMA, wagelaseh…. jahiliyah banget Eike jaman dulu. Belum emosi yang masih naik turun. Malah nggak jadi nikah kami. Gayatri nggak bakal ada kali ya….

Karena kalau diinget-inget lagi pun, sebenernya para mantan pun sebenernya orang-orang yang baik. Hampir semua sekali-sekali masih saling likes foto anak, walaupun uda nggak pernah kontak langsung due to respek sama pasangan masing-masing.

Emang jodoh tu masalah waktu ya….

Saya jadi bersyukur, ketemu calon suami pas sudah tobat. Memang masih biasa aja, nggak yang alim gimana, tapi setidaknya uda nggak seegois dulu. Ga barbar juga, kalau ngomong uda ada saringannya.

Gitu juga sama suami. Dia uda makan banyak asam garam kehidupan (4 tahun lebih tua), uda jauh lebih mateng dan leadershipnya juga uda kuat. Nggak bisa saya “goyang goyang” dengan mudah, prinsip dan arahannya. Lebih tenang juga, walah masih suka celelekan, tapi bisa bikin rasa hormat saya berlipat ganda dibanding jaman masih jadi juniornya dulu.

Duh, tumben ya saya jadi bijak gini ngomongnya….

Singkat kata, saya jadi mengamini satu ayat, yang intinya menyatakan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu. Yang kadang kita nggak sadari saat menjalani, namun ketika kita mengenang kembali memories, kita sadar kalau yang Dia kerjakan itu baik. :)

Bahas lagunya Maroon 5, kenapa bisa jadi sedalem ini ya ngelanturnya…. Hahaha…. Yauda dulu deh…. :) Semoga ada manfaatnya ya, walaupun ngalor ngidup gini obrolannya. Saya bakal seneng banget kalau ada temen-temen yang mau cerita pengalamannya ya….

Salam sayaaang….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Better Worry than Sorry, But…

Minggu lalu saya bikin question box di IGS buat ibu-ibu senior untuk kasih semacam “nasehat untuk ibu baru”. Paling banyak nasehat yang diberikan itu agar, Ibu Baru terus belajar, percaya diri dan juga nggak over-reaktif terhadap sesuatu terkait bayinya.

Saya setuju si. Karena dulu jaman baru punya newborn, saya tu reaktif banget. Bahkan ada yang sampai overreaktif. Setiap ada insting, atau perasaan nggak enak, terutama tentang kesehatan anak, pasti langsung ke klinik atau malah rumah sakit.

Hal itu terjadi sampai kira-kira Gayatri umur setahunan kali ya. Pokoknya sampai dokter saya eneg mengedukasi saya tentang pertolongan pertama, tentang kapan saya harus ke dokter, kapan harus menunggu dulu, gitu gitu. Hahaha…. Kalau inget malu juga kadang.

Tapi, kan better worry than sorry ya….

Seiring bertambahnya pengetahuan dan pengalaman saya, saya makin woles dan bijaksana saat menyikapi sakitnya Gayatri.

Berikut, saya cerita aja ya, kisah-kisah reaktifnya saya. Ada yang ternyata feeling saya betul, tapi ada juga yang ZONK. Hahaha…. Semoga bisa jadi bahan pembelajaran buat para ibu baruuuuu….

Better Wory Than Sorry

Bayi Usia 4 Hari Harus Opname

Sepertinya kejadian anak saya harus dirawat inap di Perinatal saat usianya baru empat hari adalah permulaan sikap overreaktif saya.

Jadi saat Si Ening pulang ke rumah setelah persalinan, dia mengalami demam. Kalau diukur dengan termometer, demamnya tidak terlalu tinggi. Sesuai anjuran dokter, diminta skin to skin. Setelah skin to skin memang turun. Tapi nanti naik lagi suhu tubuhnya.

Saya ingat sekali kalau ketika pulang dari klinik bersalin, saya dipesankan kalau ada deman dalam seminggu pertama, harus langsung kontak ke klinik. Jadi saya intens untuk komunikasi dengan klinik.

Hari keempat, pagi hari saya datang ke klinik untuk cek. Dokter yang jaga bukan DSA yang menangani Gayatri saat baru lahir. Dia lebih fokus ke kotoran mata yang memang banyak banget keluar saat itu. Jadi saya pulang dengan pesan-pesan terkait kotoran mata bayi saya.

Di hari yang sama, saya menemukan kalau luka di tali pusat bayi saya, seperti basah dan ada nanahnya. Maka saya langsung komunikasi lagi ke klinik, untuk infokan informasi baru tadi. Oleh suster, saya langsung diminta balik ke klinik, karena kebetulan DSA anak saya praktik sorenya.

Saat saya datang, saya dipandu skin to skin lagi. Kemudian, dokter minta untuk cek darah. Saat itu, hasil tes darahnya menunjukkan infeksi (sepsis). Langsung saat itu juga dirujuk ke RS terdekat. Oleh DSA di RS, anak saya dirujuk untuk opname.

Dari pengalaman tersebut, otak saya jadi terset untuk super sensitif dengan segala perubahan yang ada di badan bayi saya. Mungkin karena dalam kasus ini, saya merasa, “Untung aja aku peka, kalau engga sepsisnya telat ketahuan.”

Bayi kena Bronkopneumonia saat Staycation

Pengalaman yang sama, terjadi ketika anak saya sudah satu tahunan lebih. Jadi ketika suami saya ikut Persiapan Keberangkatan beasiswa LPDP, saya ikut menginap di dekat asrama untuk menemani dia persiapan acara (karena dia panitia jadi datang sebelum hari H) di luar kota.

Memang saat itu anak saya sedang flu ringan (kami memang punya riwayat alergi, jadi sering pilek), tapi dia masih aktif dan ceria.

Namun tidak disangka-sangka, malam harinya Gayatri demam cukup tinggi. Saat itu saya sudah tahu, kalau demam itu normal. Jadi saya masih tenang. Nah, saya mulai tidak tenang ketika napas anak saya tersengal-sengal. Saya hitung lebih dari 50-60an napas per menit, dalam kondisi tidur. Dan ada suara seperti mengi.

Saya sendiri punya asma, jadi agak ngeh dengan tanda-tanda ini. Saya langsung kontak suami yang sedang rapat panitia di asrama untuk ke UGD. Yang saya kawatirkan bukan lagi demamnya, tapi gagal napasnya.

Di UGD, setelah ditangani, saya infokan ke dokter apa saja gejala yang dialami berdasarkan catatan yang saya buat sebelum ke RS. Dari tanda-tanda tersebut, dokter menyarankan untuk cek darah. Ternyata ada infeksi, dan dirujuk opname untuk observasi lebih lanjut.

Saya pribadi, karena sedang di luar kota, dan suami harus balik ke asrama ya memilih opname ya. Daripada kenapa-kenapa, dan saya nggak mobile.

Diagnosisnya saat itu adalah BP. Positif rawat inap. Huhuhu….

Saat itu, perawatnya kaya kagum gitu, ada ibu-ibu yang super detail bawa catatan (suhu tubuh anak dan jumlah napas per menit). Saya juga merasa wah, saya bisa mempercayai insting saya ini. Aseeeekkk, INSTING IBUUUU!!!

Tapi ternyata, tidak selalu insting saya ini bisa diandalkan. Kalau sedang kalut berbalut emosi, jarang saya bisa berpikir jernih seperti dua kejadian di atas.

Kala Emosi Memperkeruh Firasat

Cuma Pilek, dibawa ke UGD?!?!

Ini kalau saya inget lagi, sering ngakak sendiri. Jadi pernah suatu malam, saya bawa anak saya ke UGD hanya karena pilek. COMMON FLU. Beda sama BP tadi ya.

Ya, karena saking paranoidnya. Dan lagipula itu kan hari kerja, jadi saya nggak punya catatan apa-apa. Karena saya ngantor dan anak saya diasuh mama mertua. Karena saya ragu, dan gamang, akhirnya saya bawa anak saya ke UGD. Nggak tanggung-tanggung UGD RS Internasional cuyyyyy!!! Awokwokwok bener dah eike….

Saya maksa-maksa gitu dokter jaganya buat cek darah. Hahahaha…. Dooohhh, maaf ya dokter ya…. Tengah malem bawel bener, pasiennya…. Untung dokternya baik dan sabar. Susternya juga, walau cowok tapi sabaaar bener ngadepi saya yang rungsing dan anak bayi yang cranky gara-gara diambil darah.

Sayangnya kebaikan mereka berbanding terbalik sama kasir. Nangis bok, lihat bill-nya…. Hahahaha…. Mana diagnosisnya ternyata kan common flu doang! Ketawa dah, saya dan suami…. Miskin dah gara-gara overreaktif.

Bayi Cek Kebocoran Jantung

Nah, sebenarnya cerita tentang keover-reaktifan saya banyak ya, tapi kan panjang, jadi saya mau langsung cerita ke yang gong aja. Cerita tentang anak saya yang dibilang ada murmur di jantungnya.

Jadi seperti ada suara bocor/ desiran gitu. Pertama dideteksi pas usia anak saya baru beberapa hari. Hancur nggak hati bambank sebagai seorang ibu. Hancurrrrr hancuur sehancur-hancurnya. Kawatir banget.

TIGA DOKTER yang bilang begitu. Satu DSA langganan saya, dan 2 dokter lainnya. Whuuutttt. Dua dokter terakhir (satu dokter klinik anak, satu dokter RS kecil) malah langsung merujuk ke RS besar untuk echocardiogram alias pengecekan jantung lebih lanjut.

DSA langganan saya, meminta untuk sabar dulu, karena menurut beliau ada beberapa kasus murmur yang hilang dengan sendirinya, bukan karena kelainan. Toh kalaupun kelainan, ya nggak bisa ditangani langsung juga anak sekecil itu. Kurang lebihnya begitu.

Tapi namanya orang tua kalut ya. Ngebayangin, anak guwe punya kelainan jantung, ini gimana masa depannya. Dan seterusnya dan seterusnya. Kami langsung nabung buat echocardiogram (beda dengan electrocardiogram ya). Soalnya seingat saya biayanya 2-3 jutaan gitu.

Mengabaikan saran DSA langganan, pas ada duit, kami langsung ke RS Premier Bintaro, untuk ketemu Dr. dr. Najib Advani Sp.A (K), M.Med (Paed). Dokter spesialis anak konsultan bidang jantung anak. Saya tulis komplet, siapa tahu ada yang perlu. Kalau yang familiar dengan penyakit Kawazaki, mungkin pernah dengar nama beliau ya.

Asli, dokter ini beneran oke banget dah. Sabar mengedukasinya. Mana saat itu jantung kami mau rontok kan, denger pasien yang sebelum kami harus operasi jantung di usia 7 tahun. Pokoknya lutut lemes.

Tapi bersyukurnya, pas Gayatri dicek, memang murmurnya ada, tapi dari hasil echocardiogram diperkirakan tidak ada kelainan yang menetap. Perkiraan beliau, terbukti sampai sekarang. Tidak pernah ada DSA yang mendengar murmur itu lagi saat usianya 2 tahun.

Ketika akhirnya saya lapor DSA langganan, beliau hanya senyum senyum.

Kami juga senyum senyum lega si. Tapi dompetnya berdarah. Hahahaha….

Lesson learn:

  1. Kekawatiran orang tua itu wajar. Tapi ada baiknya, ketika kawatir mengedepankan logika pikir dan data daripada emosi sesaat. Sebagai orang awam apalagi ya, mendengar sesuatu yang berisiko pasti gentar, untuk itu perlu belajar untuk berkomunikasi, mendengarkan, serta jangan lupa untuk konfirmasi atau klarifikasi ke dokter jika ada yang kurang jelas.
  2. Sedia termometer di rumah dan catatan kesehatan anak.
  3. Cari dan punyai dokter/ tenaga medis yang RUM yang mau mengedukasi dan mau dihubungi untuk konsultasi. Namanya juga orang awam ya, lebih baik kita tanya langsung ke ahlinya daripada berasumsi sendiri.
  4. Terus edukasi diri sebagai orang tua.
  5. Terus berdoa dan memohon kekuatan kepada Tuhan untuk dapat selalu bijaksana.

Saya yakin banget banyak orang tua muda yang mirip-mirip saya. Soalnya Girly juga cerita begitu di artikelnya, Jadi Ibu (Jangan) Lebay.

Ada yang punya pengalaman seperti kami? Atau mau nambahin tips? Boleh yaaaa, ditunggu di komeeennn…. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share