Better Worry than Sorry, But…

Minggu lalu saya bikin question box di IGS buat ibu-ibu senior untuk kasih semacam “nasehat untuk ibu baru”. Paling banyak nasehat yang diberikan itu agar, Ibu Baru terus belajar, percaya diri dan juga nggak over-reaktif terhadap sesuatu terkait bayinya.

Saya setuju si. Karena dulu jaman baru punya newborn, saya tu reaktif banget. Bahkan ada yang sampai overreaktif. Setiap ada insting, atau perasaan nggak enak, terutama tentang kesehatan anak, pasti langsung ke klinik atau malah rumah sakit.

Hal itu terjadi sampai kira-kira Gayatri umur setahunan kali ya. Pokoknya sampai dokter saya eneg mengedukasi saya tentang pertolongan pertama, tentang kapan saya harus ke dokter, kapan harus menunggu dulu, gitu gitu. Hahaha…. Kalau inget malu juga kadang.

Tapi, kan better worry than sorry ya….

Seiring bertambahnya pengetahuan dan pengalaman saya, saya makin woles dan bijaksana saat menyikapi sakitnya Gayatri.

Berikut, saya cerita aja ya, kisah-kisah reaktifnya saya. Ada yang ternyata feeling saya betul, tapi ada juga yang ZONK. Hahaha…. Semoga bisa jadi bahan pembelajaran buat para ibu baruuuuu….

Better Wory Than Sorry

Bayi Usia 4 Hari Harus Opname

Sepertinya kejadian anak saya harus dirawat inap di Perinatal saat usianya baru empat hari adalah permulaan sikap overreaktif saya.

Jadi saat Si Ening pulang ke rumah setelah persalinan, dia mengalami demam. Kalau diukur dengan termometer, demamnya tidak terlalu tinggi. Sesuai anjuran dokter, diminta skin to skin. Setelah skin to skin memang turun. Tapi nanti naik lagi suhu tubuhnya.

Saya ingat sekali kalau ketika pulang dari klinik bersalin, saya dipesankan kalau ada deman dalam seminggu pertama, harus langsung kontak ke klinik. Jadi saya intens untuk komunikasi dengan klinik.

Hari keempat, pagi hari saya datang ke klinik untuk cek. Dokter yang jaga bukan DSA yang menangani Gayatri saat baru lahir. Dia lebih fokus ke kotoran mata yang memang banyak banget keluar saat itu. Jadi saya pulang dengan pesan-pesan terkait kotoran mata bayi saya.

Di hari yang sama, saya menemukan kalau luka di tali pusat bayi saya, seperti basah dan ada nanahnya. Maka saya langsung komunikasi lagi ke klinik, untuk infokan informasi baru tadi. Oleh suster, saya langsung diminta balik ke klinik, karena kebetulan DSA anak saya praktik sorenya.

Saat saya datang, saya dipandu skin to skin lagi. Kemudian, dokter minta untuk cek darah. Saat itu, hasil tes darahnya menunjukkan infeksi (sepsis). Langsung saat itu juga dirujuk ke RS terdekat. Oleh DSA di RS, anak saya dirujuk untuk opname.

Dari pengalaman tersebut, otak saya jadi terset untuk super sensitif dengan segala perubahan yang ada di badan bayi saya. Mungkin karena dalam kasus ini, saya merasa, “Untung aja aku peka, kalau engga sepsisnya telat ketahuan.”

Bayi kena Bronkopneumonia saat Staycation

Pengalaman yang sama, terjadi ketika anak saya sudah satu tahunan lebih. Jadi ketika suami saya ikut Persiapan Keberangkatan beasiswa LPDP, saya ikut menginap di dekat asrama untuk menemani dia persiapan acara (karena dia panitia jadi datang sebelum hari H) di luar kota.

Memang saat itu anak saya sedang flu ringan (kami memang punya riwayat alergi, jadi sering pilek), tapi dia masih aktif dan ceria.

Namun tidak disangka-sangka, malam harinya Gayatri demam cukup tinggi. Saat itu saya sudah tahu, kalau demam itu normal. Jadi saya masih tenang. Nah, saya mulai tidak tenang ketika napas anak saya tersengal-sengal. Saya hitung lebih dari 50-60an napas per menit, dalam kondisi tidur. Dan ada suara seperti mengi.

Saya sendiri punya asma, jadi agak ngeh dengan tanda-tanda ini. Saya langsung kontak suami yang sedang rapat panitia di asrama untuk ke UGD. Yang saya kawatirkan bukan lagi demamnya, tapi gagal napasnya.

Di UGD, setelah ditangani, saya infokan ke dokter apa saja gejala yang dialami berdasarkan catatan yang saya buat sebelum ke RS. Dari tanda-tanda tersebut, dokter menyarankan untuk cek darah. Ternyata ada infeksi, dan dirujuk opname untuk observasi lebih lanjut.

Saya pribadi, karena sedang di luar kota, dan suami harus balik ke asrama ya memilih opname ya. Daripada kenapa-kenapa, dan saya nggak mobile.

Diagnosisnya saat itu adalah BP. Positif rawat inap. Huhuhu….

Saat itu, perawatnya kaya kagum gitu, ada ibu-ibu yang super detail bawa catatan (suhu tubuh anak dan jumlah napas per menit). Saya juga merasa wah, saya bisa mempercayai insting saya ini. Aseeeekkk, INSTING IBUUUU!!!

Tapi ternyata, tidak selalu insting saya ini bisa diandalkan. Kalau sedang kalut berbalut emosi, jarang saya bisa berpikir jernih seperti dua kejadian di atas.

Kala Emosi Memperkeruh Firasat

Cuma Pilek, dibawa ke UGD?!?!

Ini kalau saya inget lagi, sering ngakak sendiri. Jadi pernah suatu malam, saya bawa anak saya ke UGD hanya karena pilek. COMMON FLU. Beda sama BP tadi ya.

Ya, karena saking paranoidnya. Dan lagipula itu kan hari kerja, jadi saya nggak punya catatan apa-apa. Karena saya ngantor dan anak saya diasuh mama mertua. Karena saya ragu, dan gamang, akhirnya saya bawa anak saya ke UGD. Nggak tanggung-tanggung UGD RS Internasional cuyyyyy!!! Awokwokwok bener dah eike….

Saya maksa-maksa gitu dokter jaganya buat cek darah. Hahahaha…. Dooohhh, maaf ya dokter ya…. Tengah malem bawel bener, pasiennya…. Untung dokternya baik dan sabar. Susternya juga, walau cowok tapi sabaaar bener ngadepi saya yang rungsing dan anak bayi yang cranky gara-gara diambil darah.

Sayangnya kebaikan mereka berbanding terbalik sama kasir. Nangis bok, lihat bill-nya…. Hahahaha…. Mana diagnosisnya ternyata kan common flu doang! Ketawa dah, saya dan suami…. Miskin dah gara-gara overreaktif.

Bayi Cek Kebocoran Jantung

Nah, sebenarnya cerita tentang keover-reaktifan saya banyak ya, tapi kan panjang, jadi saya mau langsung cerita ke yang gong aja. Cerita tentang anak saya yang dibilang ada murmur di jantungnya.

Jadi seperti ada suara bocor/ desiran gitu. Pertama dideteksi pas usia anak saya baru beberapa hari. Hancur nggak hati bambank sebagai seorang ibu. Hancurrrrr hancuur sehancur-hancurnya. Kawatir banget.

TIGA DOKTER yang bilang begitu. Satu DSA langganan saya, dan 2 dokter lainnya. Whuuutttt. Dua dokter terakhir (satu dokter klinik anak, satu dokter RS kecil) malah langsung merujuk ke RS besar untuk echocardiogram alias pengecekan jantung lebih lanjut.

DSA langganan saya, meminta untuk sabar dulu, karena menurut beliau ada beberapa kasus murmur yang hilang dengan sendirinya, bukan karena kelainan. Toh kalaupun kelainan, ya nggak bisa ditangani langsung juga anak sekecil itu. Kurang lebihnya begitu.

Tapi namanya orang tua kalut ya. Ngebayangin, anak guwe punya kelainan jantung, ini gimana masa depannya. Dan seterusnya dan seterusnya. Kami langsung nabung buat echocardiogram (beda dengan electrocardiogram ya). Soalnya seingat saya biayanya 2-3 jutaan gitu.

Mengabaikan saran DSA langganan, pas ada duit, kami langsung ke RS Premier Bintaro, untuk ketemu Dr. dr. Najib Advani Sp.A (K), M.Med (Paed). Dokter spesialis anak konsultan bidang jantung anak. Saya tulis komplet, siapa tahu ada yang perlu. Kalau yang familiar dengan penyakit Kawazaki, mungkin pernah dengar nama beliau ya.

Asli, dokter ini beneran oke banget dah. Sabar mengedukasinya. Mana saat itu jantung kami mau rontok kan, denger pasien yang sebelum kami harus operasi jantung di usia 7 tahun. Pokoknya lutut lemes.

Tapi bersyukurnya, pas Gayatri dicek, memang murmurnya ada, tapi dari hasil echocardiogram diperkirakan tidak ada kelainan yang menetap. Perkiraan beliau, terbukti sampai sekarang. Tidak pernah ada DSA yang mendengar murmur itu lagi saat usianya 2 tahun.

Ketika akhirnya saya lapor DSA langganan, beliau hanya senyum senyum.

Kami juga senyum senyum lega si. Tapi dompetnya berdarah. Hahahaha….

Lesson learn:

  1. Kekawatiran orang tua itu wajar. Tapi ada baiknya, ketika kawatir mengedepankan logika pikir dan data daripada emosi sesaat. Sebagai orang awam apalagi ya, mendengar sesuatu yang berisiko pasti gentar, untuk itu perlu belajar untuk berkomunikasi, mendengarkan, serta jangan lupa untuk konfirmasi atau klarifikasi ke dokter jika ada yang kurang jelas.
  2. Sedia termometer di rumah dan catatan kesehatan anak.
  3. Cari dan punyai dokter/ tenaga medis yang RUM yang mau mengedukasi dan mau dihubungi untuk konsultasi. Namanya juga orang awam ya, lebih baik kita tanya langsung ke ahlinya daripada berasumsi sendiri.
  4. Terus edukasi diri sebagai orang tua.
  5. Terus berdoa dan memohon kekuatan kepada Tuhan untuk dapat selalu bijaksana.

Saya yakin banget banyak orang tua muda yang mirip-mirip saya. Soalnya Girly juga cerita begitu di artikelnya, Jadi Ibu (Jangan) Lebay.

Ada yang punya pengalaman seperti kami? Atau mau nambahin tips? Boleh yaaaa, ditunggu di komeeennn…. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Realistis terhadap Biaya Sekolah Anak

Kalau ngomongin biaya sekolah yang tiap tahun meningkat, pasti rame deh di grup ibu-ibu. Ada banyak pendapat, tentunya, terutama kalau menyangkut tema “biaya sekolah sekarang mahal”, “metode pendidikan yang paling sesuai” serta “pertimbangan memilih sekolah”.

Dan pro kontra pasti tidak akan menemukan ujung, soalnya kan, standar dan preferensi orang kan beda-beda ya…. Standar mahal misalnya. Apa yang buat saya mahal, mungkin buat orang lain tidak. Atau sebaliknya. Begitu pun dengan metode yang diterapkan di sekolah. Bisa jadi untuk saya, metode A adalah yang terbaik, sementara bagi keluarga lain metode B adalah yang paling tepat.

So, kalau saya dan suami berpendapat, yang penting realistis aja ya. Terutama untuk masalah biaya. Yuk mareeee #timrealistis merapaaatttt!!!

Pertimbangan Agar Realistis

Untuk dapat berpikir secara realistis, ada beberapa hal yang perlu diperbandingkan dengan nominal biaya sekolah anak yang akan orang tua pilih.

  1. Fokus pada tujuan.
  2. Mutu pendidikan yang diberikan.
  3. Kemampuan keuangan keluarga.

1 . Fokus pada tujuan.

Saat konseling keluarga dengan seorang psikolog, saya sempat curi-curi bertanya tentang sekolah anak. Konteks pertanyaan saya saat itu adalah kami galau apakah anak kami perlu masuk playgroup atau tidak. Yang pertama ditanyakan oleh Psikolog tersebut adalah, “Tujuannya (masukin anak sekolah) apa dulu ni?”

Saya dan suami sempat pandang-pandangan. Jawaban versi saya adalah karena saya ingin punya tandem pendidik yang professional dalam mengasuh anak saya. Sementara suami saya menekankan kekawatirannya atas kemampuan anak bersosialisasi,kalau sehari-hari hanya berdua dengan saya saja.

Akhir dari diskusi kami, akhirnya kami memilih untuk tidak memasukkan Gayatri playgroup. Hal itu karena tujuan yang disebutkan tadi dapat dicapai dengan cara lain yang lebih hemat. #nooffense untuk yang memilih untuk menyekolahkan anak di usia dini ya, karena kondisi keluarga kan beda-beda. Saya menceritakan hal ini, dengan latar belakang kondisi keluarga kami yang sedang transisi pekerjaan, jadi lebih menitikberatkan ke penghematan, nyaaahhh.

Uangnya bisa kami alokasikan ke dana pendidikan SD, yang menurut kami lebih wajib. Hal ini tentu saja bisa berbeda di masing-masing kondisi ya. Misal, saya memutuskan untuk kembali bekerja, pendidikan anak usia dini di lembaga pendidikan tentu naik prioritasnya.

Nah, sekarang, membicarakan biaya pendidikan TK – SD dan seterusnya, prinsipnya sama juga. Catat apa yang menjadi tujuan yang ingin dicapai. Hal ini memudahkan kita juga untuk mendefinisikan frasa “sekolah bagus” yang bisa jadi sangat subyektif menjadi parameter-parameter yang lebih jelas.

Contoh: dalam suatu keluarga parameter pendidikan agama di sekolah bisa jadi nilai utama dalam pemilihan sekolah, dalam keluarga lain bisa jadi komponen penilaian utamanya adalah materi berwirausaha. Atau bisa jadi keluarga lainnya mungkin membutuhkan sekolah yang khusus, yang memiliki fasilitas terapi, karena anaknya special needs. Tentu komponen tambahan ini juga akan menentukan biaya sekolah yang dibebankan.

Saat kita harus memilih di antara banyak pilihan baik, maka fokus pada tujuan dan parameter-parameter tersebut, akan memudahkan kita untuk membandingkan dan menentukan mana yang paling cocok.

2 . Biaya yang dikeluarkan harus sesuai dengan mutu pendidikan yang diharapkan.

Realistis bukan berarti pasrah. Kesadaran untuk realistis, mendorong saya untuk mempertanyakan apakah sekolah yang sedang dijajaki value for money atau tidak. Mahal jika sebanding dengan kualitas, rasanya tidak akan mengecewakan. Namun, jika mahal, namun hanya menjual embel-embel belaka, tidak sesuai dengan mutunya, sepertinya kok sakitnya dobel dobel ya. Di hati dan di kantong.

Orang tua kan mengejar isi, bukan bayar mahal demi gengsi.

Makanya saya salut sekali dengan seorang teman, yang rela trial di banyak sekolah untuk memastikan label montessori yang dilekatkan pada sekolah, benar-benar dipraktikkan. Prinsipnya, nama besar bukanlah jaminan. Pada seorang rekan yang lain juga. Dia dengan tegas mendaftarhitamkan salah satu sekolah dengan embel-embel bilingual, saat survey dan mendengar sendiri bagaimana pronouciation pengajarnya saat summer camp.

Survey, survey, survey. Mungkin itu adalah kunci, supaya biaya yang kita keluarkan worth every pennies. Mama nggak mau rugi!

3 . Memperbandingkan biaya sekolah dengan kemampuan.

Memang sedih dan juga pasti terbersit rasa bersalah ketika nantinya menemukan sekolah yang memenuhi poin pertama dan kedua di atas, namun ternyata melebihi budget. Pilihannya ada dua: menurunkan standar atau mencari strategi lain. Intinya adalah menjaga agar balance dan tidak mengorbankan stabilitas keuangan keluarga.

Yang saya dan suami usahakan adalah tetap dalam koridor tidak berhutang melebihi kemampuan bayar serta juga tidak mengorbankan DANA PENSIUN.

Yang boleh diotak atik adalah biaya operasional sehari-hari, yaitu dengan menurunkan gaya hidup atau berhemat. Namun, pos asuransi, hutang, hunian serta dana pensiun, menurut kami sebaiknya tidak diutak-atik.

CONTOH*), gambaran sederhananya seperti ini:

  • Hutang biasanya dipatok 30% dari penghasilan,
  • 10% untuk perpuluhan (atau 2,5% untuk zakat),
  • 5% untuk asuransi (berdasar pengalaman kami, karena hanya asuransi jiwa, askes ditanggung kantor),
  • investasi (dana pensiun, dll) 10%,
  • dana darurat (kami 0% karena sudah terpenuhi).
  • Sisanya untuk operasional sehari-hari, gaya hidup dan dana pendidikan, total sebesar 45%.
  • Maka apabila ingin memberikan porsi yang besar untuk dana pendidikan, maka dana operasional seperti makan, dll, atau gaya hidup mau tidak mau harus ditekan.

*)Persentase ini tidak saklek ya. Mungkin bagi keluarga tertentu perlu ada post untuk support orang tua, silakan disesuaikan.

Terdengar seperti tidak mau berkorban demi masa depan anak ya? Padahal justru karena demi masa depan anaklah, maka orang tua tidak boleh mengesampingkan dana pensiun.

Bayangkan, jika kita lalai mempersiapkan dana pensiun atau bahkan masih memiliki hutang saat sudah tidak produktif atau belum memiliki hunian saat usia lanjut, anak juga yang akan menjadi korban. Karena harus menanggung kita, orang tuanya sekaligus menanggung cucu-cucu kita nantinya. Alias menjadi sandwich generation.

Mempersiapkan Dana Pendidikan

Walaupun bikin deg-degan, saya bersyukur sekali, karena jaman sekarang sudah mudah mencari informasi tentang biaya sekolah di media sosial. Saya jadi bisa tahu besaran uang yang harus dipersiapkan sejak jauh hari. Berkaitan dengan pertimbangan di atas, kalau kita merasa, sekolah yang diharapkan itu mahal, maka ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan:

1 . Mempersiapkan biaya jauh-jauh hari.

Jangan lengah karena merasa, masih lama. Karena makin lama waktu persiapan, sebenarnya makin baik. Apalagi jika teman-teman bisa berinvestasi di instrument yang tepat. Total uang yang harus dispent bisa tidak sebesar jika persiapannya lebih singkat.

2. Mencari tambahan penghasilan.

Persiapan yang lebih lama, juga akan memungkinkan orang tua untuk mencari tambahan penghasilan. Penghasilan tambahan tersebut bisa khusus dialokasikan untuk dana pendidikan. Dengan demikian bisa meminimalisasi risiko berhutang.

Saya sendiri tidak anti berhutang untuk pendidikan anak. Namun, perlu diingat, ketika memutuskan berhutang, orang tua harus mengetahui betul sumber dana yang akan digunakan untuk membayar hutang. Jangan sampai terjerat hutang dengan bunga yang berlipat ganda, yang pada akhirnya nanti akan membebani sampai usia pensiun.

Ingat, ketika masa pensiun tiba dan utang belum selesai, anak jugalah yang akan menjadi korban akhirnya.

3. Mencari alternatif lain.

Kalau strategi pertama dan kedua sudah mentok, agar tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga, mau ga mau kita mengendurkan standar ya. Misal, dengan memilih sekolah yang lenih terjangkau.

Sementara apabila pilihan sekolah yang dikendurkan, orang tua masih bisa mencari alternatif untuk back up, seperti beasiswa, tambahan les/ kursus atau mendampingi anak melakukan pengembangan diri secara mandiri. Karena sesungguhnya, memang tugas orang tualah untuk mendampingi anak-anak dalam pendidikannya.

Memang pilihan yang sulit, dan tentunya, pilihan untuk menurunkan standar ini saya rasa baru boleh diambil jika kita sudah mencoba melakukan beberapa strategi terlebih dahulu. Last option, sampai titik darah penghabisan.

Jadi ya kesimpulannya???? Semangaaaaaaattt!!!

Teriring doa dari ibu yang anaknya masuk sekolah lima tahun lagi….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Penyebar Hoax yang Lugu

Sejak Pemilu, sepertinya kata hoax dan buzzer jadi ramai dibicarakan. Apalagi sejak Bradshaw & Howard dari Universitas Oxford merilis The Global Disinformation Order (2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation). Dalam report tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang diinventarisasi. Akhirnya, kata buzzer makin disorot, namun sayangnya dengan tendensi yang negatif.

ps. Selama saya terlibat di komunitas blogger, saya memahami bahwa, sebenarnya makna buzzer tidak hanya sekedar seperti yang dibicarakan dalam The Global Disinformation Order. Karena ada kalanya, para buzzer inipun berperan dalam penyebaran informasi yang konstruktif. Namun, dalam artikel ini, saya tidak akan membahas tentang hal itu lebih lanjut.

Diinformasi/ Hoax

Kata yang digunakan oleh Oxford dalam reportnya adalah disinformasi, alias penyampaian informasi yang salah (dengan sengaja) untuk membingungkan orang lain (KBBI). Secara umum disinformasi, maknanya sama dengan hoax.

Hoax bisa diartikan dengan berita yang tidak benar yang dibuat seakan-akan benar. Beda dengan gosip atau rumor ya, karena kalau gosip/ rumor beredar dengan label abu-abu, antara benar dan tidak. Sementara hoax, sengaja diformulasikan sehingga tampak meyakinkan.

Dalam report Bradshaw & Howard (2019), dinyatakan bahwa terdapat tim cyber troop (buzzer) yang bekerja di sosial media untuk membuat konten hoax dan mengamplifikasi pesan. Di Indonesia, kecenderungan tim ini ada saat masa pemilu, dan akan hilang, lalu muncul lagi pada periode berikutnya.

Saya merasakannya betul, apalagi di Facebook atau di WA Group. Duh. Namun, saya pribadi merasakan juga kalau hoax yang beredar di Indonesia TIDAK hanya tentang politik. Di dunia kesehatan dan pendidikan pun banyak. Contohnya, jaman MPASI ada hoax tentang menu tunggal WHO, lalu tentang vaksin, lalu tentang montessori ala-ala (yang setelah saya ikut workshop Montessori, saya hanya bisa membatin, “Montessori apaan tu? pada postingan ibu-ibu kekinian, dan pada diri saya di masa lalu juga, hahaha #nooffense).

Dan saya rasa ada “peranan” orang awam yang turut serta menyebarkan hoax secara lugu. Selugu orang tua baru yang dengan semangat ingin mengobarkan romantisme dan idealisme parenting.

Saya bilang lugu, karena mungkin, sebenarnya orang-orang awam tersebut sebenarnya tidak memiliki agenda apa-apa. Apalagi dibayar. Mereka hanya menyakini hoax yang mereka terima itu benar. Dan dengan bersemangat ingin memberi “pencerahan” kepada orang lain. Sehingga hoax tersebut menggelinding seperti bola salju. Makin lama makin menyebar.

Saya mungkin pernah termasuk dalam kawanan orang lugu tersebut. Atau juga teman-teman. Tapi, mari kita bahas tema ini dengan kepala adem, dan bukan saling merendahkan satu sama lain.

Orang Awam yang Mengalahkan Pakar

Saya sempat membaca artikel yang menarik di Kumparan, berjudul “Mungkinkah Buzzer Mengalahkan Kepakaran?“. Redaksi mendasarkan artikel itu pada buku The Death of Expertise, Tom Nichols.

Dalam artikel tersebut, digambarkan bahwa, banyaknya hoax yang ditulis meyakinkan dan diperdengarkan terus menerus, dengan mudah akan diyakini oleh sekelompok orang di media sosial sebagai suatu kebenaran. Dan bahkan ketika kelompok tersebut diperhadapkan pada pendapat pakar/ ahli, pendapat tersebut mental. Tak lain dan tak bukan, karena ada kecenderungan pengguna media sosial untuk menyaring informasi berdasar “kebenaran” versi mereka sendiri.

Apakah hal ini familiar? LOL.

Saya pernah ngobrol dengan Faradila, dia menunjukkan pada saya suatu bagan Three Stages of Expertise. Bagan ini sebenarnya adalah anekdot. Atau kata pembuatnya, Simon Wardley, semata-mata adalah sebuah JOKE. Tapi, sambil tertawa dan tertohok, dalam hati, saya mengakui kalau bercandaan itu banyak benarnya hahaha….

(JOKE ALLERT) Bagan Three Stages of Expertise Simon Wardley

Di zaman internet ini, dengan mudahnya, manusia mendapatkan informasi. Tak peduli seperti apa kualitas informasinya, dengan mudah pula manusia merasa di memiliki KNOWLEDGE. Padahal knowledge tanpa adanya kepakararan atau expertise, dalam bagan bercandaan di atas, akan membuat kita masuk ke dalam fase HAZARD.

Fase ini adalah fase dimana seseorang MERASA BANYAK TAHU (how much I think I know) padahal SEBENARNYA BELUM BENAR-BENAR TAHU (how much I actually know) dan parahnya lagi, seseorang dalam fase ini pun TIDAK MENYADARI BAHWA MASIH PERLU MENCARI TAHU (how much more I realise there is to know).

Hahaha, miris ya…. Untung itu cuma bercandaan. Bercandaan yang pahit. HAHAHAHAHA!

Namun, ternyata di belahan dunia yang berbeda, terdapat dua orang yang mendapatkan NOBEL untuk makalah yang sebenarnya bisa dipakai untuk mendukung bercandaan tersebut. Temuan di dunia psikologi itu disebut Dunning-Kruger Effect.

Secara sederhana, Dunning-Kruger berpendapat bahwa terdapat orang-orang yang menganggap dirinya kompeten (merasa dirinya lebih tahu/ mampu daripada orang lain), karena ketidaktahuannya. Ketika orang tersebut tidak tahu bahwa dia tidak tahu, maka dia akan menjadi percaya diri. Bahkan dia bisa merasa lebih tahu daripada orang lain (yang bisa saja sebenarnya lebih tahu).

Bagan Dunning-Kruger Effect, Sumber: Ruang Guru

Related Post: Artikel Ruang Guru tentang Dunning-Kruger Effect

Tahu apa penyebabnya? EGO.

Berkaca dari Bagan Dunning-Kruger Effect di atas, saya jadi 1) memahami bahwa orang yang tidak kompeten tapi ngeyelan dan percaya diri itu wajar, maklumi saja, dan 2) jadi introspeksi diri juga, jangan-jangan saya pun sering terkena Dunning-Kruger Effect ini saat menyampaikan opini yang di luar bidang yang saya pahami.

Berhenti Menjadi Penyebar Hoax yang Lugu

Lalu, gimana dong? Apakah sebaiknya kita jadi nggak sharing opini di sosial media karena takut informasi yang kita sampaikan itu salah?

Ya, nggak gitu juga si temen-temen. Malahan, kita yang sudah teredukasi dengan baik, atau bisa menyaring informasi dengan baik, kudu mau speak up. Supaya sosial media nggak dipenuhi dengan hoax melulu. Apalagi kalau ternyata kita memang punya kepakaran dalam bidang yang ingin kita sharingkan.

Saya sendiri juga kadang ragu-ragu kalau mau sharing. Tapi, Faradila, teman saya bilang, gapapa ragu-ragu. Kalau keraguan itu lalu mendorong kita untuk terus belajar dan mencari tahu, sebelum menyebarkan informasi. Nice insight!

Berikut adalah beberapa hal yang saya coba lakukan selama ini untuk meminimalisasi menyebarkan hoax:

1 . Mencari tahu apakah berita/ informasi itu hoax atau tidak.

Ada dua hal yang saya untuk mengecek apakah berita yang saya terima adalah hoax atau tidak. Yang pertama adalah mengecek pembuat berita.

Misalkan saya dapat berita di media sosial, pertama saya lihat adalah ekstensi URLnya. Kemudian organisasi pembuat beritanya. Kalau dari portal berita, kalau belum familiar, maka saya akan cek redaksi atau penulisnya. Kalau meragukan, misalnya menggunakan akun palsu, biasanya tidak akan saya share.

Menurut Bradshaw & Howard (2019), terdapat pola diinformasi yang dilakukan cyber corps dilihat dari tone kontennya, yaitu bersifat support ke salah satu kelompok, attack opposition, serta mendorong terjadinya perpecahan atau pengelompokan masa. Kalau satu akun konsisten melakukan hal ini, biasanya saya juga tidak akan menjadikannya rujukan.

2 . Cari Referensi

Yang kedua, adalah untuk mengecek apakah suatu informasi adalah hoax atau tidak, biasanya saya mencari referensi. Bukan hanya sekedar katanya atau kutipan.

Poin cari referensi ini, berdasarkan pengalaman saya saat memulai MPASI anak saya. Saat itu sedang banyak pro kontra terkait BLW, lalu tentang menu tunggal dan tentang menu WHO. Yang saya lakukan adalah: tentu saja konsultasi dengan DSA (pakar), kemudian membaca buku tentang BLW, dan yang terakhir saya membaca jurnal terkait MPASI WHO.

Dari pencarian referensi dasar, saya jadi menemukan bahwa banyak sekali informasi yang bias akibat kutipan yang dikutip kembali. Jadi informasinya kadang berbelok, atau rawan disalahpahami.

3 . Keluar dari Media Bubble

Pernahkah teman-teman mendengar seruan untuk unfollow akun-akun teman yang berseberangan pandangan demi kesehatan mental?

Ya, ada satu dua yang saya unfollow karena benar-benar toxic. Tapi sejujurnya, saya masih mempertahankan banyak sekali teman di sosial media maupun di dunia nyata yang memiliki perbedaan pandangan. Termasuk akun-akun pakar yang beda mahzab ya. Akun dokter yang pro BLW dengan yang kontra BLW misalnya.

Hal ini penting menurut saya, untuk memberi saya informasi pembanding. Jadi saya tidak seperti katak di dalam tempurung. Yang hanya mau mendengarkan informasi, berdasarkan kebenaran versi saya pribadi.

4 . Tidak Yakin? Berhenti di Kamu.

Tapi saya sadar juga kalau tidak semua informasi bisa saya kroscek dengan cara di atas. Banyak yang tidak bisa. Misal seperti “informasi Ring 1 tentang pemilihan menteri kabinet” yang beredar sebelum pelantikan.

Kalau memang tidak bisa dikroscek ya sudah, saya putuskan untuk berhenti di saya informasinya. Gapapa, nggak eksis. Buat apa coba si? FOMO?

Hihihi…. Duh kok jadi panjang….

Kalau temen-temen sendiri gimana biasanya? Adakah tips lain untuk bisa tidak menyebarkan hoax dan membuat sosial media jadi tempat yang lebih baik? Sharing doooong di komentar….

Tips dari Girly Saputri bisa dilihat di Tutorial Anti Hoax.

Terimakasih yaaaa…. Semoga sharing tentang hoax ini bermanfaat. Terimakasih sudah mampir, salam sayaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share