Resolusi, antara Nasib dan Mitigasi Risiko

start

Resolusi 2018 apa kabar? Hehehe…. Beberapa kali saya baca obrolan di sosmed tentang resolusi dan menemukan komen, “Resolusi 2019-ku itu mencapai resolusi 2018-ku”. Bahkan di stories IG-nya Jouska, ada yang terang-terangan bilang kalau resolusi tahun 2019-nya adalah menyelesaikan resolusi tahun 2016. Beibh, 3 tahun lu ngapain ajaaa!

Screenshot_2018-12-28-23-13-52

Related Post: Cara Menyusun Resolusi dengan Mind Map

Etapi, ya, nggak salah juga sih. Resolusi 2019 saya pun ada yang sama dengan 2018, karena di tahun ini saya belum berhasil mencapainya.

Kenapa tidak berhasil mencapainya?

Karena nasib. #trusditimpuk.

Kasihan ya, di awal tahun gini Sang Nasib dikambinghitamkan. Wkwkwk….

Tapi jadi nggak lucu lagi kalau dari tahun ke tahun resolusinya ga tercapai dan jadi nyalahin nasib melulu. Bisa tersinggung berat kan nasibnya.

hehehe

Resolusi 2018 yang Berhasil:

  1. Bisa nyetir,
  2. Meningkatkan PV Blog dari 1200 ke 2000 views per hari,
  3. Pengembangan diri (ikut training, workshop, dll di luar kantor),
  4. Menang beberapa lomba blog,
  5. Jadi narasumber di suatu forum ibu-ibu.

Di awal tahun 2017 kemarin page views saya perhari rata-rata paling 200an views. Paling mentok 300 deh. Per hari bulan desember 2017 rata-rata PV saya sekitar 1.200 views padahal di awal tahun dulu resolusinya 400 views saja. Data Google Analytics.

Okelah, angka segitu memang belum wow ya kalau dibandingkan dengan para seleblog yang sering pamer screenshoot Google Analytic. Tapi kalau saya bandingkan dengan PV awal tahun saya sendiri, enam kali lipat itu suatu pencapaian buat nyonyamalas.com.

Kemudian di tahun 2018, berdasar pengalaman di 2017, saya memberanikan diri menaikkan target jadi 2.000 views per hari. Tercapai di pertengahan tahun 2018. Kegirangan lalu terlalu percaya diri, saya menaikkannya menjadi 3.000 views perhari. Eh alih-alih meningkat malah turun dikit dari rata-rata dua ribuan tadi.

Resolusi 2018 yang Gagal:

  1. Mendukung keuangan orang tua secara rutin.
  2. Menaikkan PV blog dari 2000 ke 3000 views per hari.

Lesson learn

1 . Kurangnya eksekusi dari rencana aksi.

Poin ini lebih ke kegagalan resolusi poin 2 ya. Seperti saya bilang di atas, saya meningkatkan target PV blog dari 2000 ke 3000 memang pure karena kegirangan dan kepercayaan diri yang berlebih akibat peningkatan views yang cukup masif di tahun 2017.

Naif sekali saya beranggapan bahwa hal tersebut akan terjadi terus tanpa perlu ada usaha dan juga perbaikan terus menerus terhadap kualitas dan kuantitas blog.

Jarang update artikel dan lalai memperbaiki SEO on page sepertinya jadi jawaban atas stagnansi views blog nyonyamalas ini. Jadi ya bukan salahnya nasib. Ataupun salahnya algoritma Google. Google mah selalu benar. Wkwkwkwk….

Hal ini jadi catatan buat saya di tahun 2019 untuk nggak hanya membuat resolusi saja tapi juga rencana aksi yang konkrit terkait. Biar resolusinya nggak hanya jadi pemanis dinding ruang kerja semata.

Related Post: Cara Mengubah Resolusi Tahunan Menjadi Rencana Aksi

setrong

2 . Kurangnya mitigasi risiko

Menurut KBBI, mitigasi risiko adalah  upaya untuk mengurangi kemungkinan terjadinya dan dampak risiko.

Ini terkait dengan kegagalan kami untuk memenuhi resolusi poin 1, yaitu support finansial orang tua secara rutin. Beberapa kali memang support, tapi nggak rutin dan juga menurut saya belum signifikan.

Agak malu juga si sebenarnya. Walaupun orang tua saya juga nggak meminta, dan tidak berkekurangan. Tapi saya seharusnya paham kalau biaya kuliah Kedokteran Gigi adik saya cukup menguras kocek orang tua saya. Setidaknya kan bisa bikin orang tua sedikit rileks dan juga persiapan mereka menabung untuk pensiun.

Tapi saya nggak berhasil untuk support rutin. Hiks. Alasannya si due to long distance marriage kami yang bikin biaya perjalanan membengkak dan juga biaya kesehatan karena kami tahun ini memang sering sakit.

Yah, kedengarannya alasan yang masuk akal ya tapi sebenarnya dua alasan itu pun masih bisa dimitigasi dengan baik agar tidak terlalu berdampak buat keuangan kami.

Mitigasi yang harusnya kami lakukan tapi lalai kami lakukan adalah:

1. Beli keanggotaan Sriwijaya untuk setahun, bebas biaya tiket kemana saja dan kapan saja. Kalau di awal tahun kami melakukan hal ini tentu biaya perjalanan kami bisa ditekan dan kami masih ada dana yang bisa kami alokasikan untuk menabung dan support orang tua.

2. Mendaftarkan Gayatri dan Bapak asuransi kesehatan. Ini rada fatal si. Karena sebenarnya dari kantor saya punya fasilitas ini untuk suami dan anak. Namun sayanganya saya selalu tunda-tunda untuk mengurus administrasinya.

Huft….

Pelajaran banget buat tahun 2019 ni untuk memitigasi risiko dengan lebih baik, biar ga terus terusan nyalahin nasib bae di akhir tahun kan.

start

Nah, kalau temen-temen apa resolusi tahun 2019?

Sudahkah menyusun rencana aksinya?

Dannnnn…. sudahkah mengidentifikasi risiko dan mulai merencanakan cara memitigasinya?

Yuk barengan sama akooooh! Semangaaat!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Hadiah Paska Persalinan: Perlengkapan Bayi VS Kado untuk Ibu

IMG_20181227_061356

Ide menulis tema ini muncul dari Reihan Putri yang beberapa minggu lalu sempat bertanya di grup IFB dalam rangka menyari kado perlengkapan bayi bagi temannya yang baru melahirkan. Saya yakin kalau proses pembelian hadiahnya si sebenarnya relatif mudah dilakukan ya, bisa beli online maupun offline. Cuma menentukan apa hadiahnya itu lo yang kadang memang tricky.

Di grup langsung rame ide-ide dari yang mainstream seperti baju bayi sampai yang rada anti mainstream seperti skincare sebagai kado untuk ibunya. Dari yang fungsional seperti breastpump sampai yang fashionable seperti diaper bag bermerek.

Risiko nanya di grup memang gitu ya. Akan banyak versi jawaban. Karena yang menjawab pun berasal dari berbagai latar belakang. Sebagai orang yang belum pernah mengalami memiliki bayi, memang jadi tantangan tersendiri si membeli kado perayaan kelahiran.

Tapi yang menarik buat saya, adalah beberapa berpendapat juga untuk selain memberikan hadiah berupa perlengkapan bayi, Ibu yang baru melahirkan perlu juga lo diberi hadiah.

IMG_20181227_061356

Apakah perlu memberi kado untuk ibu?

Kalau saya perhatikan, maraknya pemahaman orang akan baby blues sepertinya adalah permulaan ide untuk memberi perhatian khusus kepada para ibu, disamping para bayi. Itu bagus juga si. Karena kadang, sang ibu pun lupa dirinya memiliki kebutuhan pasca persalinan karena terlalu fokus berbelanja kebutuhan bayinya.

Ini saya setuju banget.

Untuk ibu yang tidak mengalami baby blues,  seperti saya, namun tinggal jauh dari orang tua saat persalinan, mendapat kado untuk diri saya sendiri tentu akan terasa menyenangkan. Merasa diperhatikan dan diingatkan bahwa ibu tidak berjuang sendiri.

Saya sendiri setelah persalinan Gayatri, ada yang ngadoin kamera cobak. Mirrorless. Nggak ada kaitannya kan sama ngurus bayi. Tapi mereka tahu banget saya memang lagi tertarik fotografi terkait dengan blog. Dan menurut mereka kamera akan membantu saya untuk stay happy, stay waras dan juga mengingatkan saya untuk tetap menjadi diri sendiri dan melakukan hobi, even sudah punya bayi. So sweeeeeeet!

Namun IMHO lebih baik memberi kado yang demikian apabila kita memang dekat dan tahu selera ibunya ya. Kalau tidak terlalu ngerti si, perlengkapan bayi lebih aman. Soalnya kalau pun kita kado perlengkapan bayi pun, nanti budget yang awalnya buat bayi kan bisa dialihalokasikan ke ibu juga, wkwkwkwk….

Jadi sama aja to….

Nah, tapi saya punya beberapa pendapat tentang memilih kado bagi keluarga yang dikaruniai anak.

setrong

Kenali Tipe Orang Tua

Pertama-tama tentunya kita harus mengingat berapa budget yang kita sediakan. Kemudian yang tak kalah penting, kita juga harus lihat tipe atau latar belakang (calon) orang tuanya:

1. Seberapa detail menyiapkan perlengkpan bayinya?

Seperti saya dan suami, untuk perlengkapan bayi usia 1 s.d. 6 bulan sudah dicicil beli dari jauh-jauh hari. Tapi di atas usia itu kami sengaja nggak beli, karena atas nasihat temen, “Nanti cek kado dulu.” Eh bener dong!

Makanya saya merasa beruntung banget tu nggak borong baju bayi yang agak gede. Soalnya saya dapat buanyaaaak banget kado baju bayi rumahan untuk usia 6 bulan ke atas. Kado-kado tersebut saya susun berdasar umur, sampai setahunan lebih apa ya, saya nggak beli baju rumah dari Gayatri karena tinggal ambil stok. Hehehe….

Nah, cuma kan orang beda-beda ni…. Siapa tahu, kebalikannya, orang tua saking semangatnya uda stok baju-baju kece nan lucu, tapi malah minim stok baju rumahan.

2. Seberapa jauh perlu dukungan materi?

Kalau kita tahu ini calon orang tua tipe keluarga yang tajir melintir tujuh turunan, kemungkinan besar kebutuhan bayi yang primer sudah terpenuhi. Buat orang-orang seperti ini bisa deh, kita konsen aja ke kebutuhan sekundernya bayi, yang mungkin luput dari perhatian mereka. Seperti alat stimulasi bayi, buku, mainan, dll. Atau bisa juga kado untuk ibunya saja.

3. Bagaimana pengalamannya merawat anak?

Ini ngaruh karena kaau anak kedua dan seterusnya, mungkin peralatan elektronik (sterilizer, slow cooker, dll) atau peralatan besar (cribs, high chair, dll) mungkin sudah dapat lungsuran dari kakaknya. Jadi nggak perlu dikado lagi.

4. Segi kedekatan dengan kita. Seberapa kenal kita?

Ini pentingnya adalah untuk menghindari salah kado yang bikin ngenes. Apalagi kalau kita berniat memberikan kado yang sifatnya personal, kaya ngado baju ke Ibu. Niatnya si so sweet, karena kita tahu dia pernah naksir sama suatu model pakaian. Ehhhh, berhubung uda lama nggak ketemu, nggak ngeh perubahan bentuk badan paska kehamilan. Baju ama modelnya cucok siiiii, orangnya seneng sampai klepek klepek…. Tapi ukurannya lebih kecil dua nomor. Kan jadi ngenes….

Kalau cuma nggak suka modelnya mah mending ya. Tapi kalau masalah berat badan after melahirkan kan ada yang sensitif yaaak…. Hadiah niatnya bikin happy malah bikin sedih. Kan mending ngado apa gitu yng lain…. Daripada berisiko.

Tujuan Memberi Hadiah

Terkait dengan poin di atas, kemudian kita bisa ingat-ingat lagi tujuan kita memberi hadiah kepada orang tua baru ini apa. Karena tentu sebenarnya kita tidak harus

1. Membantu secara materi.

2. Menunjukkan perhatian.

3. Ingin bermanfaat.

love love

Tips

1. Minta wishlist jauh-jauh hari ke calon ibu, atau menyodorkan pilihan.

Hehehe, ini kesannya kok malas mikir dan nggak so sweet banget ya…. Tapi ini menurut saya opsi yang paling logis sih untuk kalau tujuan kita yang utama adalah untuk membantu secara materi atau ingin bermanfaat.

Alasannya karena yang pertama, barang pasti nantinya bakal terpakai, dan kemungkinan cocok dengan yang diharapkan oleh calon ibu. Trus lagi untuk menimimalisasi barang tidak terpakai numpuk di kemudian hari. Soalnya banyak banget lo kado-kado lahiran yang nggak terpakai dan akhirnya jadi numpuk dan usang.

Mau dijual atau dikasihin orang kok ya sungkan…. Wong itu barang pemberian.

2. Patungan dengan teman-teman lain.

Selain biar lebih hemat, patungan juga membuat pilihan hadiah kita jadi lebih banyak. Meminimalisasi juga ada kado yang sama atau mirip-mirip dari satu circle pertemanan. Kan uda patungan, so pasti uda janjian dong mau apa ngadonya. Dengan pilihan yang lebih banyak, maka kemungkinan untuk mendapatkan hadiah yang lebih cocok dan berkesan pastinya juga akan lebih besar juga.

3. Perhatikan timing kasih kadonya.

Benar kita pasti akan bersiap membelikan hadiah saat ada bayi lahir. Tapi jangan lupa menyesuaikan dengan waktu memberikan kadonya ya…. Jangan sampai kelupaan diberikan, sehingga sudah lewat masa pakainya.

Ide Hadiah Perlengkapan Bayi maupun Kado untuk Ibu.

Beberapa ide perlengkapan bayi yang bisa dijadikan hadiah:

1 . Budget under 500k:

  • Pakaian bayi
  • Sepatu bayi, prewalker
  • Alat makan
  • Bouncer
  • Booster chair/ high chair
  • Diaper bag
  • Perlak
  • Sprei anti air
  • Mainan

2 . Budget 501k – 1 juta

  • Slowcooker
  • Sterilizer botol
  • Gendongan bayi
  • Diaper bag
  • Mainan
  • Playmat

3 . Budget 1+ juta – 2 juta

  • Sterilizer
  • Food processor untuk MPASI
  • Anting bayi (bagi anak perempuan)
  • Breastpump
  • Playmat
  • Safety/ pagar play ground

Beberapa ide kado untuk ibu:

  • Blus/ baju dengan akses menyusui
  • Korset
  • Makanan kesukaan
  • Skincare
  • Perawatan strechtmarks
  • Apron
  • Jamu (konsultasi dulu dengan orangnya)

Info lebih lanjut tentang tips seputar ibu dan perlengkapan bayi, klik aja di link ini yaaa…. —-> perlengkapan bayi.

Aih, jadi nostalgia, pengen punya bayi dan bukain kado kado lagi nih. Hahaha…. Apakah ada yang punya tips dan ide hadiah yang lain? Feel free untuk tinggalin komen ya…. It will very useful. Terimakasih sudah mampir. Semoga bermanfaat ya…. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Newt Scamander, Asrama Hogwarts dan Stereotypenya

newt scamander

Gara-gara nonton Fantastic Beast #2 yang The Crime of Grindelwald, saya jadi nonton lagi dan baca ulang beberapa episode dari Harry Potter series. Yaaah, mumpung saya juga lagi cuti lama kan ya, jadi agak santai. Tapi saya di artikel ini bukan sedang mau review film-filmnya ya. Sebagai Potter Head uda jelas lah, nggak akan obyektif tulisan-tulisan saya, wkwkwkwk.

Saya mau bahas dari sisi karakter Newt Scamander – asrama Hogwarts – dan Stereotypenya dari sudut pandang saya sebagai ibu.

Selamat membaca, Muggles!

via GIPHY

Dalam cerita Harry Potter, di sekolah sihir-nya terdapat empat asrama. Yang masing-masing siswa dipilih untuk masuk ke suatu asrama berdasarkan karakteristik tertentu yang menonjol dari dirinya. Asrama Gryffindor katanya akan memilih yang gagah berani, Ravenclaw akan memilih yang pintar-pintar, Slytherin akan memilih yang berdarah murni nan eksklusif, sementara Hufflepuff akan memilih yang baik hati. Yang terakhir, kerap disalah artikan dengan kelemahan, atau siswa sisa.

Harry Potter ada di asrama Griffindor. Sementara Newt Scamander yang menjadi tokoh sentral di Fantastic Beast berasal dari Hufflepuff.

newt scamander

Sumber: https://www.pottermore.com/news/introducing-newt-scamander-fantastic-beasts

Ya! Hufflepuff! Yang memiliki stereotype sebagai siswa sisa yang lemah itu!

Tapi walau memiliki stereotype demikian, ternyata beliau memiliki kekuatan maha dahsyat, yang salah satu buktinya, kalau mungkin teman-teman nggak mengikuti, adalah berhasil lolos dari pertempuran melawan Grindelwald sebanyak setidaknya dua kali. Grindelwald adalah penyihir terbesar sekaligus terjahat pada masa itu.

Film ini mengingatkan saya kembali pada pesan di buku Harry Potter yang ke tujuh, bahwa bukan penilaian orang yang akan menentukan kita sebagai apa. Bukan. Kita sendirilah yang membentuknya.

kuat

Paragraf di atas, sebenarnya sedang saya ingin ingatkan lagi pada diri saya sendiri. Saya, berdasarkan kuesioner pottermore.com dimasukkan ke dalam Asrama Slytherin. Hehehehe…. Asrama yang isinya mostly penyihir jahat.

Stereotype Asrama Hogwarts

Hihihi…. Ngeri bhet yak…. Para potterhead pasti memahami yak apa yang saya rasakan.

Tapi walaupun begitu Slytherin tu sekaligus asrama Severus Snape, antihero yang keren banget di buku ini looooh! #teteupbelain. Sayangnya siswa di asrama ini kadung memiliki stereotype sebagai orang yang angkuh, dingin dan tidak berperasaan.

via GIPHY

Asem! Seru saya saat hasil kuesioner itu muncul. Awalnya rada denial, berhubung saya sebenernya pengennya masuk ke Ravenclaw aja gitu. #sokpintar Kan keren yak, wkwkwkwk.

Kuesionernya sendiri seperti tes psikologi gitu, tapi kurang tahu seperti apa penyusunannya. Tapi kalau dicocoklogi, memang hasilnya senada seirama dengan hasil tes psikologi saya yang lain di MBTI.

Stereotype Karakter

Berdasarkan hasil tes psikologi MBTI tadi saya INTJ. Singat cerita, INTJ adalah pribadi yang memiliki kecenderungan  Introvert – Intuitive – Thinking – Judging.

Salah satu bahasan tentang INTJ sebagai orang tua adalah bahwa orang-orang dengan karakter ini akan menjadi orang tua yang terlalu logis (tidak berperasaan eh?) dan sulit mengekspresikan kasih sayang (dingin eh?).

Asem! Seru saya lagi….

Dingin dan tidak berperasaan, apalagi masuk di asrama yang notabene isinya penyihir jahat, hahaha. Apakah saya akan seburuk itu sebagai orang tua?

hiks

 

ENGGAK, kata suami saya.

Kecuali kalau saya tersugesti dengan hasil tes tes itu dan kemudian tanpa sadar menggenapinya.

Pygmalion Effect

Jadi semacam pygmalion effect gitu loh.

Noted: Pygmalion effects kalau di manajemenn itu sebutan/ pandangan untuk fenomena yang terjadi pada seseorang akibat ekspektasi yang dilekatkan atau disampaikan padanya. Misal seseorang yang tahu bahwa dirinya diekspektasikan akan berkineja baik, akan meningkat kinerjanya, begitu juga sebaliknya. CMIIW.

Walaupun sudah diperingatkan suami saya demikian, saya tetap mengingat hasil tes dan stereotypenya tersebut. Bukan untuk membuktikannya. Atau untuk menggenapinya.

Melainkan sebagai pengingat agar mawas diri.

Mawas diri mengingat karakter dasar saya yang dingin, maka saya harus ingat untuk berusaha lebih keras mengekspresikan kasih sayang saya. Bukan malah jadi pasrah, dan mengkambinghitamkan stereotype karakter dasar. Karena seperti Newt Scamander yang tetap mampu mengembangkan diri dan akhirnya mau memilih pihak, seperti itupun karakter saya sebagai ibu.

Terus berkembang.

setrong

Being Best Version of Our Truly Self

Walaupun saya tahu, saya tidak akan dan juga tidak mau menjadi orang lain. Namun saya yakin saya bisa menjadi ibu yang terbaik versi diri saya dengan mengenali (stereotype) karakter kepribadian saya dan mawas diri untuk meminimalisasi hal-hal negatif darinya.

Saya tetaplah INTJ sekaligus proud Slytherin. Tapi mengapa tidak mungkin juga sekaligus menjadi ibu yang oke (versi saya)?

Saya percaya kita semua bisa. Apapun karakter dasarnya. Atau apapun hasil tes pottermore kita wkwkwk…. Saya percaya kita semua bisa.

Ahseeeeekkk…. Sounds like Mario Teguh saya ya di artikel kali ini, hehehehe…. Salam Zupeeerr….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Review Buku Montessori Play and Learn Lesley Britton

2018-12-15 01.48.46 2

Sejak tertarik dengan metode Montessori sebagai salah satu cara pandang parenting, saya sering hunting review buku Montessori. Buat beli yang cucok tentunya. Kenapa buku? Karena saya pengen tahu prinsip-prinsip mendasar dari metode ini. Soalnya banyak banget kan konten-konten di media sosial terutama instagram yang menggunakan embel-embel #montessori tapi dengan bentuk yang beraneka ragam. Biar tidak bingung pengennya si punya pegangan yang tepat gitu….

Awalnya sempat tertarik pada bukunya Maria Montessori sendiri yang Absorbent Mind. Namun setelah baca reviewnya di beberapa portal buku, saya mundur. Banyak yang berpendapat buku ini terlalu “ilmiah” dan “susah dikunyah” untuk orang baru yang sama sekali nggak punya latar belakang pengetahuan tentang montessori.

Berhubung saya memang awam sekali dengan metode ini; tak pernah datang di sekolah murni montessori. Jadinya saya undur untuk membacanya dan mencari yang lebih handy.

2018-12-15 01.48.46 2

Tertarik dengan bukunya Lesley Britton setelah sekilas lihat promonya di @kotakmainmainan dan baca-baca reviewnya. Sepertinya ini buku yang saya cari: ringan dan easy digest. Cucok meyong buat saya yang super beginner ini.

Deskripsi Buku

Judul: Montessori Play and Learn

Buku ini diterjemahkan dari Montessori Play and Learn terbitan Vermilion yang diterbitkan pada tahun 1992. Buku yang saya miliki ini cetakan ke tiga di bulan Maret 2018, diterbitkan oleh B First (PT Bentang Pustaka) dan didistribusikan oleh Mizan Media Utama.

Penulis: Lesley Britton, seorang Montessorian dan founder London Montessori Centre. Diterjemahkan oleh Ade Kumalasari, disunting oleh Noni Rosliyani dan Ranny Afandi.

Jumlah Halaman: 280 halaman.

Resume:

Di sampul buku ini disampaikan bahwa tujuan dari buku ini adalah mengoptimalkan potensi anak dengan permainan untuk usia 2 – 6 tahun. Berisi tentang:

  1. Selayang pandang Montessori; siapa itu Maria Montessori dan apa esensi metode Montessori,
  2. Bagaimana menerapkan Montessori di rumah, dalam hal ini tips merencanakan rumah ramah anak,
  3. Ide aktivitas Montessori praktis sehari-hari di lingkungan rumah maupun wilayah sekitarnya.

Buku ini berisi enam bab utama:

  1. Siapa Maria Montessori?
  2. Esensi Metode Montessori
  3. Menerapkan Metode Montessori
  4. Merencanakan Rumah Ramah Anak
  5. Menjelajah Lingkungan Sekitar
  6. Menemukan Dunia

Bab yang paling berkesan bagi saya tentunya adalah Bab 2. Esensi Metode Montessori. Pada bab ini dibahas tentang:

  • Cara kerja otak anak yang memengaruhi cara anak belajar. Poin ini dijelaskan melalui pandangan Maria Montessori: Absorbent Mind. Atau pandangan bahwa anak memiliki cara belajar dengan menyerap apa yang di lingkungannya menggunakan panca indra yang dimilikinya. Kurang lebihnya mungkin seperti itu, cmiiw.
  • Pada bab ini saya juga belajar tentang enam periode sensitif yang dialami anak-anak: 1) sensitif pada keteraturan, 2) sensitif pada bahasa, 3) sensitif pada berjalan kaki, 4) sensitif pada aspek sosial kehidupan, 5) sensitif pada benda kecil dan 6) sensitif pada belajar melalui indra. Keenam-enamnya dibahas di bab dua.

2018-12-15 01.48.46 1

2018-12-15 01.48.45 1

Review (In My Humble Opinion)

Daaaaaannnn…. Serius saya bersyukur banget baca buku ini. Enak banget di baca. Terjemahannya oke banget. Semuanya pas, mudah dipahami. Selanjutnya saya ikut workshop singkat tentang Montessori di Sunshine Training Center, dan materi yang ada di buku ini beneran membantu saya banget dalam memahami materi-materi workshop.

What I love

Poin plus pertama dari buku ini: enak dibaca.

Poin plus berikutnya adalah: compact. Jadi materinya tu disampaikan singkat padat dan jelas.

Jadi untuk ibu-ibu yang waktunya terbatas, cocok banget lah. Saya nggak sampai seminggu sepertinya baca buku ini. Padahal bacanya malam-malam setelah Gayatri bobok atau sebelum saya berangkat kerja.

Ga bertele-tele dan langsung ke pokoknya. Ini kalau makanan semacam uda jadi sari-sarinya itu.

Manfaat Buku Ini

Bagi yang ingin mendalami Montessori:

  • Bisa mendapatkan gambaran umum yang sederhana, sebelum mempelajari lebih jauh. Jadi seperti menyicipi dulu kulit-kulitnya gitu loh.

Bagi orang tua secara umum:

  • Seperti saya yang walaupun tertarik namun tidak berencana menjadi montessorian yang saklek, buku ini tetap memberikan manfaat yang baik: memberikan wawasan dan pandangan tentang kepengasuhan. Wawasan ini memang tidak serta merta mengubah saya menjadi orang tua yang sempurna seperti perubahan Power Rangers yang instan, namun cukup memberikan saya “pengingat” bagaimana seharusnya memosisikan diri sebagai orang tua terhadap minat dan potensi anak.
  • Membantu saya memahami beberapa fenomena atau tingkah laku unik yang dilakukan anak saya.
  • Membantu saya menemukan ide aktivitas bersama anak di rumah.
  • Memberi saya wawasan tentang bagaimana sebaiknya menata rumah agar rumah lebih ramah anak.

How to Buy:

Saya membelinya via Shopee kalau tidak salah di tokonya kotakmainmainan, seharga kurang lebih Rp 60.000,00-an sebelum ongkir (eh tapi pas itu free ongkir deng, karena beli barang lainnya juga). Kira-kira ya, saya lupa pastinya. Di Gramedia juga ada, tapi sepertinya harganya lebih mahal, hehehe….

Nah, sekian review singkat ala nyonyamalas. Selain buku ini saya baca dua buku lain tentang Montessori. Akan saya review mungkin beberapa minggu lagi ya…. So stay tune, dan semoga reviewnya bermanfaat ya!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Rasa yang Dulu Pernah Ada

Gegara baca postingan Kresnoadi tentang permen karet. Saya jadi termanggut-manggut. Asem. Lagi-lagi ni mantan bocah kribo ini membuat saya berpikir serius pada ujung cerita, setelah terlena sama panjang guyonannya.

Kan kesel, harusnya di ending kita uda santai santai, ini malah jadi mikir.

Yang mau baca silakan ke sini ya….Yang ga mau baca ya nggak papa juga si. (Sorry Di, wkwkwk) Biar related saya mau kutip kata-kata Adi tentang ngunyah permen karet:

“Sewaktu dewasa, gue sadar kalau dengan makan permen karet, kita diingatkan bahwa semakin kita merasakan hal yang sama, berulang-ulang, berkali-kali, rasanya pasti memudar.”

Saya jadi mikir tentang pernikahan.

Pernikahan kami. Pernikahan saya dan suami maksudnya ya, bukan saya sama Kresnoadi.

Saya dan suami baru menikah selama tiga tahun kurang 14 hari. Masih seumur jagung. Tapi saya akui sebagian rasa di antara kami telah memudar. Bukan berarti sedang ada masalah di antara kita. Ya, kami tetap saling menyintai si walaupun sering berantem juga seperti yang pernah saya ceritain di Ribut Rukun.

Tapi tetep ada rasa yang dulu pernah ada, lalu sekarang memudar.

Hal-hal sepele si sebenernya….

hehehe

Misalnya nih, nggak ada lagi rasa sriwing sriwing saat saling bersentuhan tangan seperti jaman dulu pacaran.

Beeeuugghhh! Jangankan sentuhan tangan kan ya. Lihat pagar rumah gebetan jaman dulu aja rasanya jantung mau copot. Iya nggak sih? Apa saya aja yang jantungnya lemah ya? Lhah kalau sekarang, pagar rumah dia kan pagar rumah kita jugak…. Masa iya, mau copot terus.

Trus lagi, nggak ada lagi percakapan romantis bertabur senyum-senyum malu yang tulus, semacam “Kamu cantik/ tampan deh.” Kalaupun ada, yakin dah itu pasti ada maunya. Mwahahaha…. “Kamu tampan deh pak, hari ini, aku uda check out Tokopedia transferin yaaa….”

Ya gitu…. Sun sayang setiap pagi, kewajiban. Sun muah muah setiap malam, ya rutinitas. Seneng si, tapi beda rasanya.

Rasanya not so roller coaster anymore.

Buat yang uda nikah lama, mungkin nangkep ya maksud saya.

***

Tiga tahun kurang 14 hari mungkin waktu yang cukup lama untuk membuat gejolak kawula muda sedikit mereda. Namun, sebenarnya adalah waktu yang masih sangat singkat untuk sebuah pernikahan. Mengingat perjanjian setia sampai salah satu dari kami mati ini masih lama sekali.

Kalau dihitung-hitung harapan hidup manusia Indonesia sampai 60 tahunan kan berarti masih ada sekitar 30 tahun lagi. Ya, kalau beruntung sampai usia 70 tahun kan berarti 40 tahun lagi.

via GIPHY

Saya jadi ingat, dulu saat konseling pra nikah, Pak Pendeta (konselor kami) pernah memperingatkan juga tentang hal ini. Bahwa dalam pernikahan ada kalanya rasa (asmara) itu memudar. Beliau menggunakan kata “eros” sebagai kata yang menjelaskan rasa asmara itu.

Sesuatu yang normal jika eros memudar. Fisik manusia kan terus menurun. Normal-normal saja. Sesuatu yang normal juga jika eros bisa diusahakan kembali, kayak di film The Notebook itu lo.

setrong

Tapi ini penting!

Memahami kalau rasa yang dulu pernah ada itu bisa memudar, buat saya itu sesuatu yang sehat si. Biar ekspektasi kita terhadap romantisme pasangan itu ya nggak melulu tinggi.Biar nggak kecewa, kalau pasangan kadang ya lempeng-lempeng aja gitu. Ya memang normal begitu. Walaupun kalau mau diusahakan biar lebih happy ya bagus juga si….

Memahami kalau rasa yang dulu pernah ada itu bisa memudar, juga ada baiknya. Supaya ketika kita nggak merasakan sriwing-sriwing again, kita nggak trus menyimpulkan kalau sudah sampai di sini saja perjodohan kita. Karena dengan siapapun, eros normalnya ya akan memudar seiring waktu.

Jangan njuk gampang mengkambinghitamkan jodoh.

***

Saya trus bertanya pada suami yang kira-kira kalau dieksplisitkan (dengan banyak sensor biar nggak vulgar tentunya) kira-kira seperti ini,

Saya: “Kalau tua nanti eros kita memudar, njuk piye?”

Suami (sambil ngantuk): “Ya wajar…. Tapi kan tetep sayang….”

Saya: “Sayang kayak kasih sayang sama sahabat gitu ya?”

Suami: “Ya iya, tapi pasti masih ada erosnya sedikit-sedikit. Dirawat…. Lagian kalau aku dijawil jawil juga pasti pengen.”

Saya: “Kalau erosnya pindah ke orang lain?”

Suami: “Ya, nggak usah diladeni. Makanya itu namanya komitmen.”

Suami: “Komitmen, tauk…. “

Saya: -.-“

Suami: *ngorok

via GIPHY

Suami saya hidup di keluarga yang orang tuanya berpisah. Saya mengakui, pemikirannya tentang hal ini pasti jauhhhhh jauhhhh lebih dalem daripada saya. Sambil ngantuk lumayan juga pemikirannya. 1) kasih persahabatan, 2) merawat eros dan 3) komitmen. Atau mungkin karena ngantuk, jadi itu wangsit?

*mata menerawang

Tar lah, coba saya tanya lagi kalau dia sudah sadar…. 😛

Semoga Tuhan memberkati keluarga kita semua dengan kasih dan juga komitmen ya! Karena kita nggak tahu apa yang ada di masa depan, entah seperti apa jadinya rasa yang dulu pernah ada….

Hmmmm….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!