Anak Aktif Itu Sehat, bersama Susu Indomilk UHT Kids Full Cream

PhotoGrid_1548666639598-1024x1365
“Eh, buset dah, tu bocah kagak bisa diem. Hiperaktif kali yak,” atau kalau tidak, “Ih, nakal banget si. Rusak kali ya setelan baterenya,” seringkali saya mendengar komentar seperti ini di kalangan ibu-ibu. Hehehe, peace ya Buk Ibuuuk! Tidak sedang mengomentari Gayatri, anak saya si, tapi tak urung saya membatin, “Bukankah anak aktif itu sehat ya…. Bukankah tanda mereka sedang asyik-asyiknya bereksplorasi.”
Saya berkaca pada Gayarti soalnya. Usianya dua tahun saat ini, dan memang usia dua tahun sering kali disebut dengan terible two ya, saking mereka bergerak terus plus ngoceeeeeh terus. Hihihi, ada aja tingkah laku mereka yang membuat para ibu mengelus dada. Sambil bergerak, lari-larian, tangan mereka pun sering berhenti pada barang baru untuk kemudian dilihat atau dimainkan. “Apa tu? Apa tu?” celotehnya sambil nggrathil.
PhotoGrid_1548666382338-1024x768
Tapi walaupun merepotkan, menurut saya terlalu dini untuk menilai anak usia dua tahunan mengidap hiperaktif. Dari yang pernah saya baca dari American Academy of Pediatrics, diagnosa hiperaktif yang dalam artikel ini merujuk pada Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) baru bisa dilakukan pada rentang usia 4 – 18 tahun. CMMIW. Itu pun harus dokter yang melakukannya.

Perbedaan antara Anak Hiperaktif (ADHD) dengan Anak Aktif

Bagi orang tua, seperti saya juga, yang awam terhadap ilmu ini, memang sulit untuk membedakannya. Namun menurut Sani B. Hermawan, Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Jakarta pada Kompas, ada beberapa ciri yang bisa dijadikan gambaran, untuk membedakan mana anak hiperaktif (ADHD) dan anak yang aktif sebagai berikut:
  • Anak hiperaktif (ADHD) cenderung tidak bisa mengenali rasa lelah pada tubuhnya.
  • Yang kedua, mereka memiliki kecenderungan untuk impulsif, yaitu bergerak konstan namun sulit kita kenali apa tujuannya.
  • Yang ketiga mereka memiliki kecenderungan untuk merusak atau destruktif.
  • Dan yang keempat, mereka kesulitan untuk fokus atau berkonsentrasi.

Nah, anak aktif yang sehat, tidak demikian. Jadi selama anak memiliki konsentrasi yang baik dan juga mampu mengenali rasa lelahnya, maka menurut saya keaktifan mereka perlu kita dukung. Malah perlu kita stimulasi.

PhotoGrid_1548666743324-1024x768

Saya cukup concern, dan ingin menekankan hal ini karena, menurut saya, melabel negatif anak dengan istilah “hiperaktif” atau yang lebih umum dengan sebutan “nakal” saat anak sedang aktif-aktifnya, bisa membawa orang tua pada cara asuh yang salah. Alih-alih memfasilitasi dan juga mendukung keaktifannya, orang tua akan jadi cenderung membatasi atau malah memarahi anak.

Kenapa anak aktif itu sehat?

1 . Aktif adalah tanda bahwa anak sedang belajar.

Ya, “belajar” dalam hal ini bukan dalam kerangka akademis ya, namun bereksplorasi dengan tubuhnya maupun dengan lingkungan sekitarnya.
Saat anak mulai bisa berjalan, “dunia”nya mulai terbuka tidak hanya sekedar pada tubuh ibunya. Apa yang terlihat sebagai keusilan dan keisengan, bisa jadi adalah cara anak mencari tahu tentang lingkungannya dengan panca inderanya; melihat, menyentuh, memegang, mencium atau bahkan menjilat!
 Apa yang terlihat sebagai polah yang membuat mengelus dada, bisa jadi adalah cara anak untuk belajar menggerakkan anggota tubuhnya. Dia belajar mengoordinasikan tangan, kaki dan juga penglihatannya. Sayang sekali kan, kalau kegiatan mereka dibatasi, padahal eksplorasi itu penting sekali bagi perkembangan fisik maupun mental anak.

2 . Yang kedua, keaktifan fisik bisa membuat anak makin sehat.

Bagaimana tidak, keaktifan anak secara tidak langsung kan seperti olahraga fisik ya. Tentu saja, otot-ototnya pun akan semakin kuat. Selain itu, aktivitas anak juga akan menjauhkannya dari obesitas dan beberapa penyakit terkait. Apabila orang tua memfasilitasi dengan kegiatan outdoor, anak pun bisa dapat bonus udara segar dan sinar matahari yang baik untuk tubuhnya.
Selain itu, saat bermain anak pun merasakan kegairahan karena hormon-hormon dalam tubuhnya bekerja. Tentu hal ini baik baginya karena membuatnya bahagia. Anak yang bahagia tentu juga akan lebih sehat bukan?
PhotoGrid_1548666677180-1024x1365

Dukungan Orang Tua untuk Anak yang Aktif dan Sehat

Sebagai orang tua baru, saya mengakui juga kalau kadang melakukan pengasuhan dengan trial error. Tapi ya namanya usaha, tentu tidak ada salahnya ya Buk Ibuuuk. Berikut adalah hal-hal yang menurut saya penting untuk mendukung anak yang sehat dan aktif:

1 . Memberikan Stimulasi/ Fasilitasi Kegiatannya

Hal sederhana yang sering saya lakukan bersama Gayatri di rumah adalah, jalan-jalan ke taman komplek. Kadang sambil membawa sepedanya, atau sekedar berjalan kaki. Di usia dua tahun yang menjadi perhatian saya adalah kemampuannya berlari, melompat, meniti garis lurus, lempar tangkap bola dan berayun. Jadi kegiatan-kegiatan yang kami lakukan terkait dengan hal tersebut.

2. Memberikan Makanan dan Minuman secara Sehat

Selain memberikan stimulasi dari luar tubuh, tentunya penting juga mendukung keaktifan anak dari dalam tubuhnya. Saya bersyukur, Gayatri tidak mengalami gangguan makan yang berarti. Nafsu makannya cukup baik dan tidak pilih-pilih makanan. Daging merah, udang, ikan, belut, tempe, tahu, berbagai sumber protein hewani dan nabati dia konsumsi dengan happy. Kesukaannya pada buah dan sayur juga memudahkan saya untuk memberi asupan vitamin baginya. Disamping itu, setelah masa sapih, saya tetap memberikan susu padanya.
PhotoGrid_1548666639598-1024x1365
Walaupun kalori yang terbesar, Gayatri dapatkan dari makanan padat. Namun, susu bagi keluarga kami adalah sumber kalsium utama yang paling mudah dijangkau dan juga relatif lebih murah dibandingkan sumber kalsium lainnya. Susu favorit yang kerap kali saya berikan pada Gayatri adalah Susu Indomilk UHT Kids Full Cream , walaupun terkadang rasa lain pun kami berikan sebagai variasi, namun concern terhadap kandungan gula yang rendah menjadikan kami tetap menawarkan varian full cream ini padanya.

Susu Indomilk UHT Kids Full Cream untuk Mendukung Anak Aktif dan Sehat

Alasan mula-mula kami memilih Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah karena susu ini adalah susu UHT. Beberapa hal yang kami sukai dari Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah:

1 . Gayatri cocok.

Alasan yang paling penting adalah, Gayatri tidak mengalami reaksi negatif, seperti mencret, gatal-gatal, perut kembung, dll saat mengonsumsi susu ini. Dalam kemasan sendiri disebutkan bahwa Susu Indomilk UHT Kids Full Cream bisa dikonsumsi bagi anak di atas 12 bulan. Namun, please keep in mind, kalau masih ada ASI, sebelum dua tahun susu terbaik buat anak tetaplah ASI ya.

2. Praktis

Saat di rumah maupun di perjalanan, kami tidak perlu menyeduh susu dengan air panas. Kami bisa meletakkan tiga kotak susu di rak Gayatri, dan Gayatri kami latih untuk mengambil dan meminumnya sendiri, tentunya dalam pengawasan saya. Kemasannya juga tidak terlalu sulit untuk digenggam oleh tangan yang masih kecil. Kepraktisan ini, mendukung gaya pengasuhan kami, dimana menekankan kemandirian anak dan juga responsive feeding. Ukurannya yang compact juga membuatnya mudah kami bawa sebagai bekal saat Gayatri bermain di luar rumah.

3. Aman (Terjamin Kebersihannya)

Aman dalam hal ini adalah terkait dengan jaminan bakteri yang terdapat dalam susu telah mati. Pemanasan UHT dan juga pengemasan Tetra Pack membuat kami yakin bahwa produk yang kami terima tetap dalam kondisi yang baik. Hal ini yang membuat kami memilih UTH dibandingkan susu pasteurisasi karena kualitas susu pasteurisasi masih sangat bergantung pada proses penyimpanannya.

PhotoGrid_1548667417432-1024x1365

Selain itu, yang paling utama adalah beberapa poin di bawah ini, yang kami yakini mendukung keaktifan anak sekaligus menjaganya tetap sehat:

4. Kandungan gulanya rendah

Dalam kemasan disebutkan bahwa komposisi produk ini adalah susu sapi segar, air, susu skim bubuk dan penstabil nabati. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada gula tambahan yang diberikan pada produk ini. Saya happy sekali. Berikut adalah alasan mengapa saya senang dengan produk yang rendah gula:

  • sebagai orang tua, tentunya kita familiar dengan apa yang disebut dengan sugar rush atau keaktifan anak yang disebabkan oleh naiknya gula darah, mitos ataupun tidak, kelebihan gula memang tidak baik karena meningkatkan risiko diabetes,
  • meminimalisasi kerusakan gigi,
  • meminimalisasi anak menjadi kenyang karena rasa manis, dan tidak mau mengonsumsi makanan lain.

Memang dalam produk ini disebutkan terdapat 5 gram karbohidrat total dalam setiap kemasan 115 ml-nya, namun jumlah ini pun kalau saya bandingkan dengan produk lain masih tergolong rendah.

5. Kandungan Kalsium

Seperti yang saya sebutkan di atas, alasan terutama kami mengonsumsi susu, dan terutama untuk Gayatri, anak saya, adalah untuk memenuhi kebutuhan kalsiumnya. Mengingat susu adalah sumber kalsium terbaik yang sekaligus juga terjangkau bagi keluarga kami. Nah, Susu Indomilk UHT Kids Full Cream dalam 115 ml diklaim mengandung 30% kebutuhan kalsium anak.

Kalsium penting guna mendukung keaktifan anak, karena kekurangan kalsium dapat menyebabkan osteoporosis (pengeroposan tulang) dan rakhitis (pelunakan tulang yang berakibat kelainan bentuk tulang) dan terkadang sakit pada otot.

6. Kandungan Vitamin D

Mendukung poin kelima, yang saya salut dari Indomilk dalam mendesain Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah karena mereka melengkapi produk ini dengan Vitamin D. Saya bilang ini cerdas si, soalnya untuk menyerap kalsium secara optimal, tubuh manusia memang membutuhkan vitamin D. Jadi produk ini sudah menyediakan duo combo kalsium dan vitamin D. Semoga dengan hal ini penyerapan kalsium bisa optimal dan memenuhi kebutuhan anak.

7. Kandungan Gizi Lain

Dalam Susu Indomilk UHT Kids Full Cream juga terdapat zat gizi lain yang mendukung anak aktif dan sehat seperti:

  • lemak yang memberikan energi,
  • vitamin B kompleks yang membantu dalam proses penghasilan energi dan juga menjaga kesehatan syaraf,
  • zat fosfor yang mendukung kerja otot, dll.

Kandungannya lengkap dan seimbang, oleh karena itu saya yakin untuk mengikutsertakannya dalam rangkaian menu makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh anak saya sehari-hari.

PhotoGrid_1548666789584-1024x768

Banyak hal positif yang bisa kita dapatkan dari konsumsi susu dan juga aktivitas fisik anak, ya…. Semoga sharing kali ini makin membuat Teman-teman semangat untuk support anak dalam hal aktivitas maupun pemenuhan gizinya…. Teriring doa semoga anak-anak kita semua selalu aktif dan juga sehat!

Oiya, artikel ini saya ikut sertakan dalam Blog Competition yang diadakan oleh Indomilk, dengan pengalaman yang saya ceritakan berdasarkan pembelajaran dan pengalaman saya pribadi. Teman-teman, bisa juga ikut lomba ini loh, info lebih lanjut bisa cek media sosial dengan tagar #IndomilkUHTKidsFullCream #AktifItuSehat atau langsung ke web ini.

Semoga sharing kali ini bermanfaat yaaa! Salam sayang!

Sumber:

  1. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder: https://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/pages/AAP-Expands-Ages-for-Diagnosis-and-Treatment-of-ADHD-in-Children.aspx
  2. Beda Anak Hiperaktif dan Superaktif: https://edukasi.kompas.com/read/2009/07/16/12460644/read-brandzview.html
  3. Pentingnya kalsium: https://hellosehat.com/parenting/nutrisi-anak/kebutuhan-kalsium-untuk-anak/
Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Tidak Takut Lebam saat Menjaga Anak Bereksplorasi #AksiFlashBunda

IMG_20190118_100430-1024x768

Kalau ditanya apa kemampuan yang tiba-tiba saya muncul saat menjadi ibu, maka saya akan menjawab, kemampuan seperti The Flash. Hehehe…. Itu lo salah satu speedster di kumpulan superheronya DC Comics, yang seperti namanya, bisa bergerak dengan kecepatan cahaya. Saya punya kekuatan ini hanya jika ada bahaya menyangkut keselamatan anak. Jadi berasa punya kekuatan #AksiFlashBunda getooo.

kuat

Gambar atas: Saya, The Flash KW Super. Gambar bawah: The Flash Ori. Hehehe….

via GIPHY

Kebayang kan, punya anak umur dua tahun yang sudah bisa melesat lincah dan energik kaya torpedo. Dipadu dengan keingintahuan yang super besar, namun dikombinasikan dengan pemahaman akan bahaya yang belum cukup matang. Hmmmm…. Persis seperti torpedo. Tapi torpedo yang arahnya random. Serem kan.

Mau sering melarang kok ya, kawatir nanti dia tidak optimal dalam bereksplorasi. Mau dibebaskan kok ya, ngeri ngeri sedap sama tubuh kecilnya. Jadilah saya, ibunya, yang memang harus waspada dan juga tangkas setiap saat untuk menjaga dan melindungi Gayatri. Sehingga dia tetap bebas bereksplorasi namun juga bebas dari luka ataupun benturan yang mungkin dia dapatkan saat bermain.

Gayatri naik kursi, oleng. Untung ada ibu, yang nangkap di lantai….

Gayatri naik sepeda di jalan turunan. Untung ada ibu yang siaga megangin sebelum jatuh.

Gayatri main perosotan. Gayatri main ayunan. Gayatri main apa aja. Ada ibu yang siap menjaga. Ketabrak ayunan, keseruduk sepeda, ngesot di bawah perosotan. Aku rapopo.

Namun ya, no pain no gain ya Buk Ibukkk…. Cuma bedanya ini yang ngerasain pain-nya itu ibunya, alih-alih anak. Memar dan lebam ada aja Buuuk yang nyangkut di kaki maupun anggota tubuh yang lain.

Sayang seribu sayang, ada perbedaan signifikan antara saya sebagai manusia biasa sama The Flash tadi. Kalau The Flash kan punya aura yang melindunginya dari gesekan selama beraksi. Nah, saya kagak. The Flash juga punya kekuatan untuk menyembuhkan diri yang lebih cepat. Nah kalau saya yaaa…. Gitu deh…. Lebam sekali bisa dua sampai tiga minggu baru sembuh kalau cukup besar luka dalamnya.

Kalau pas lebamnya di betis atau paha si tidak terlalu mengganggu ya. Tapi kalau lebamnya tu pas di area gerak, seperti lutut atau siku itu loooooooh! Rasanya mak nyuuuut pas gerak…. Pegel linu nyeri. Ibu-ibu pasti tahu lah rasanya. Padahal masih harus tetap beraksi kan.

hiks

Salah Kaprah saat Mengatasi Lebam

Oleh karena lebam sudah jadi seperti teman seperjalanan yang tidak menyenangkan, maka saya pun mencari ilmu bagaimana cara untuk mengusirnya dengan cepat. Tentunya biar bisa ber-#AksiFlashBunda lagi. Nah, pas pelatihan P3K di kantor, sang trainer menekankan beberapa salah kaprah yang biasa dilakukan masyarakat saat mencoba mengatasi lebam. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Melakukan pijatan di lokasi terjadinya memar. Jika memang ingin memberikan rasa nyaman, bisa dengan kompres es atau dengan menepuk-nepuk di bagian luar memar.
  • Melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan fase memar (penjelasan selanjutnya dibahas di bagian bawah).
  • Mengoles balsam atau krim panas lainnya yang memperparah pembengkakan.

Mengoles gel/ krim obat lebam (bukan krim panas yaaa!) berdasarkan pengalaman saya memang efektif membantu penyembuhan lebam, namun aplikasinya pada tahapan yang sesuai dan tentunya juga sesuai cara penggunaan pada produk. Tentang pengalaman saya menggunakan Thromboflash, gel obat lebam, ini akan saya bahas lebih lanjut di artikel bagian bawah ya.

IMG_20190118_100430-1024x768

Nah, jadi ketiga kesalahan di atas mohon diingat-ingat ya, jangan sampai alih-alih mengusir eh, lebamnya malah betah dan jadi makin parah.

Bersahabat dengan Lebam

Naaah, supaya kita (((kitaaaaa, saya aja kali ya, hehehe) nggak salah kaprah lagi, saya belajar dulu dong tentang apa dan bagaimana terjadinya memar dan lebam.

Definisi Lebam

Secara sederhana memar dan lebam dapat diartikan sebagai cedera pada jaringan tubuh yang menyebabkan aliran darah mengumpul pada suatu jaringan terdekat, namun tidak disertai dengan luka terbuka. Atau bisa juga dibilang kalau memar ini adalah pecahnya pembuluh darah kapiler di bawah kulit karena benturan dengan benda tumpul.

Tahapan Perubahan Warna Lebam

Saat darah mengumpul tersebutlah maka timbul rasa nyeri dan terjadi perubahan warna kulit. Nah, luka memar atau lebam sendiri ada beberapa fasenya ya, Teman-teman…. Kebetulan pas saya membuat artikel ini ada beberapa lebam di tubuh saya, jadi bisa saya dokumentasikan. Sayangnya yang fase merah dan kehijauan tidak ada. Namun semoga gambaran di atas cukup membantu yaaa….

PhotoGrid_1548457399597-1024x768

Tahapan perubahan warna lebam sendiri sebenarnya ada empat tahap sebagai berikut:

1. Merah

Warna ini biasanya muncul saat baru terjadi benturan. Saat diamati, biasanya akan terlihat bahwa lokasi yang terbentur akan sedikit bengkak dan nyeri jika disentuh.

2. Biru Keunguan

Di area yang bengkak di atas, setelah dua hari akan membiru atau keunguan. Hal ini menandakan darah yang mengumpul di sekitar jaringan tersebut kekurangan oksigen. Sehingga darah merahnya berubah warna menjadi biru atau keunguan seperti di foto paling kiri di gambar di atas.

3. Kehijauan

Setelah beberapa hari, kurang lebih seminggu (tergantung luka), lebam akan berangsur menjadi kehijauan. Hal itu berarti sel darah merah mulai terurai dan proses penyembuhan sedang berlangsung. Yeaay!

4. Kuning Kecokelatan

Dari warna kehijauan di atas, lebam akan berubah warna lagi ke arah yang lebih cerah yaitu kuning atau cokelat. Setelah warna ini, lebam tidak akan berubah warna lagi, melainkan berangsur-angsur menghilang seperti di foto tengah dan foto paling kanan gambar di atas.

Pertolongan Pertama yang Bisa Diterapkan saat Lebam

Sesuai yang saya pelajari saat workshop P3K di kantor, saat terjadi cedera yang menimbulkan memar atau lebam, maka yang PERTAMA kali dilakukan adalah prosedur R-I-C-E. Prosedur inilah yang seharusnya / harap segera dilakukan saat fase memar pada warna MERAH. Namanya juga pertolongan pertama.

Jangan malah saat fase ini kita oles-oles balsem atau krim panas yang lainnya, yang bisa makin memicu pembengkakan di jaringan memar tadi…. Hehehe….

setrong

R-I-C-E sendiri sebenarnya adalah singkatan dari Rest – Ice – Compression – Elevation.

1 . Rest

Saat terjadi cedera, maka setidaknya istirahatkan bagian tubuh yang mengalami cedera. Lamanya istirahat bervariasi sesuai rasa nyeri yang dialami ya…. Tujuannya adalah untuk mencegah cedera berlanjut dan juga untuk mempercepat proses penyembuhan.

2. Ice

Kompres dingin dilakukan pada 10 menit pertama segera setelah benturan terjadi, lalu diulang pada 2-4 jam berikutnya dalam satu hari. Dilakukan menggunakan es batu (dalam plastik tentunya) yang telah dilapisi oleh handuk. Tujuan dari pengkompresan dingin ini adalah untuk mengatasi bengkak, mengurangi nyeri dan juga mengurangi ketegangan otot.

3. Compression

Memberikan tekanan pada bagian memar. Saya klarifikasi ya, tekanan dalam hal ini BUKAN berarti pijatan. Melainkan bisa berupa tekanan tangan saat melakukan kompres dingin tadi, atau dengan elastic verban yang melilit kompres dingin. Tujuan langkah ini adalah untuk mengatasi pembengkakan.

4. Elevation

Meninggikan bagian yang cedera pada posisi yang lebih tinggi dari jantung. Hal ini bermanfaat agar mempermudah cairan (darah, dll) yang tadinya mengumpul pada jaringan yang terbentur agar kembali ke jantung. Sehingga tidak terjadi akumulasi yang menimbulkan pembengkakan makin parah.

Pengalaman Menggunakan Thromboflash, Sahabat Keluarga

Nah, sayangnya, saya seringkali setelah benturan terjadi belum ngeh tuh dengan rasa sakitnya. Kadang masih sibuk main dengan anak, atau juggling with another pekerjaan rumah. Tiba-tiba besoknya pas bangun tidur, kok terasa nyeri dan memarnya sudah biru keunguan. Jadi tidak sempat melakukan pertolongan pertama sebagaimana di atas.

Seperti kejadian beberapa minggu lalu. Saya kurang tahu karena terbentur apa, sepertinya terbentur palang di tempat main Gayatri. Hanya yang pasti, pas saya naik tangga di toko buku kok nyeri banget. Apalagi saat itu ke lantai tiga. Hanya karena pakai celana panjang terus, jadi tidak bisa periksa. Keesokan harinya sudah biru seperti ini:

IMG_20190125_102845-1024x768

Kalau kecil-kecil lebamnya mah biasa diabaikan yak. Hehehe, tapi lebam kali ini cukup besar, pas di lutut lagi, rasanya lumayan nyeri kalau saya pakai jongkok saat bermain dengan Gayatri. Pilihan yang bisa saya lakukan kalau menemukan lebam yang sudah pada fase BIRU KEUNGUAN seperti di atas adalah 1) kompres hangat atau pakai 2) Thromboflash.

Kali ini saya pilih yang nomor 2, karena lebih praktis, yaitu menggunakan Thromboflash, sahabat keluarga yang memang wajib ada di kotak P3K kami.

Sekilas Tentang Produk

PhotoGrid_1548454933256-1024x1364

Thromboflash adalah obat untuk luka dalam/ memar atau lebam yang bersifat anti thrombosis/ anti coagulant. Bahan aktifnya adalah Heparin Sodium 200 IU yang berfungsi untuk melarutkan darah yang mengumpul di bawah permukaan kulit sebagaimana disebut di atas. Selain itu juga berfungsi untuk mengurangi pembengkakan dan melancarkan peredaran darah.

Dalam kemasannya sendiri tampak banyak keterangan seperti Logo Halal MUI, Nomor BPOM, Simbol Obat Lingkaran Biru (obat bebas terbatas), keterangan obat hanya untuk aplikasi bagian luar tubuh, keterangan bahan aktif, petunjuk penyimpanan dll yang menurut saya lengkap. Hal tersebut menggambarkan betapa produk ini concern dan melindungi konsumen.

Cara Menggunakan:

IMG_20190118_100249-1024x768

  1. Oles tipis di permukaan memar/ lebam, 2-3 kali dalam sehari. Bisa juga dengan dioleskan pada sepotong kain kasa lalu ditempelkan pada bagian lebam.
  2. Pergunakan sampai sembuh.
  3. Hentikan pemakaian jika terjadi indikasi alergi.
  4. Tidak boleh digunakan pada luka terbuka.
  5. Kode obat ini adalah bulat biru dengan lingkaran hitam, yang berarti Thromboflash ini obat bebas terbatas. Seperti juga halnya dengan obat flu, dll, penggunaannya untuk balita, kalau saya pribadi akan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Yang saya suka dari Thromboflash:

Yang pasti saya suka karena produk ini efektif mempercepat penyembuhan lebam ya. Yang biasanya saya bisa dua sampai tiga minggu, kemarin itu dalam waktu kurang dari seminggu, lebamnya sudah pulih kembali. Seneng banget saya! Jadi nggak takut lebam lagi!

PhotoGrid_1548457848054-1024x1365

Selain itu beberapa hal lain yang saya suka dari Thromboflash adalah:

1. Bersertifikasi Halal dari MUI sehingga aman dan nyaman.

Thromboflash mengandung Heparin Sodium dari bahan bovine yang bersumber dari mucosa sapi. Oleh karena itu, produk ini sudah mendapat sertifikat halal dari MUI. Bagi teman-teman yang muslim, mungkin hal ini bisa menjadi perhatian khusus ya, ya karena tidak semua Heparin Sodium berasal dari sumber mucosa sapi tersebut, ada juga yang bersumber dari porcine yang berasal dari mucosa babi.

2. Praktis.

Saya memiliki produk ini yang ukuran 10 gram. Tidak makan tempat sehingga bisa disimpan dalam pouch P3K kami yang ukurannya mungil. Selain itu, juga praktis dalam hal waktu. Cocok bagi yang sibuk dan tidak bisa beristrirahat ketika mengalami lebam. Cocok juga bagi yang sering berpergian karena pengaplikasiannya lebih praktis dibandingkan dengan kompres hangat yang membutuhkan waktu dan persiapan peralatan.

3. Tidak lengket.

Bentuk produknya gel, ketika diaplikasikan tidak ada rasa lengket dan cepat meresap, sehingga tetap nyaman walaupun digunakan di balik celana atau pakaian.

Harga: Saya membelinya di onlineshop kurang lebih Rp 40.000,00-an.

Produsen: Fahrenheit (PT Pratapa Nirmala).

Keterangan lebih lanjut pada pamflet dalam produk sebagai berikut:

IMG_20190125_102448-1024x768

Demikian sharing saya tentang bagaimana mengobati memar/ lebam di tubuh Ibu. Jadi tak perlu lagi takut lebam saat melakukan #AksiFlashBunda ya! Tetap semangat dalam menjaga putera puteri kita saat bereksplorasi!

Semoga sharing kali ini bermanfaat. Salam sayang!

PS: Artikel ini diikutsertakan dalam #LombaBlogThromboflash #AksiFlashBunda, namun segala materi yang di sebutkan di atas, kecuali disebutkan lain, merupakan hasil pembelajaran dan pengalaman blogger secara pribadi.

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Sapih (Part 1)

weaning with love

Heyyyaaaaa!!! Gayatri uda dua tahun aja ni bulan ini. Hehehe…. Seperti kesepakatan saya dan suami, kami akan melakukan sapih dengan mengadaptasi metode weaning with love. Dalam artikel ini kami akan sharing bagaimana cara kami menyapih Gayatri ya. Sharing pengalaman saja dan tidak bermaksud menyatakan bahwa cara ini paling benar atau bagaimana.

Walaupun memang cocok pada kami, memang belum tentu cocok untuk anak atau orang tua lain. Tapi siapa tahu cocok kan yaaa…. Hihihi….

Tentang Metode Menyapih

Banyak yang membahas tentang cara sapih dengan Weaning With Love. Saya sendiri mengadaptasi beberapa poin-poin dari WWL ini. Beberapa di antaranya adalah:

  • menyapih dengan mempertimbangkan kesiapan bayi,
  • tidak dengan “menipu”,
  • mengalihkan perhatian dengan kasih sayang (pelukan, tepuk tepuk lembut, dll).

Yang tidak saya adopsi dengan saklek adalah prinsip “don’t offer, don’t refuse“. Karena pada masa pra sapih (saya menyebutnya demikian) mulai dari 18 bulan s.d. 24 bulan saya melakukan prinsip ini sambil terus sounding. Namun setelah usia 24 bulan, dalam beberapa negosiasi yang dilakukan Gayatri, saya menolak dengan halus permintaannya untuk menyusu. Tentunya karena saya menilai saat itu Gayatri meminta menyusu bukan karena kebutuhan, namun karena kebiasaan menjelang mau tidur. Hal ini juga mempertimbangkan karakter dan rules di rumah masing-masing ya…..

Namun bukan berarti saya bilang orang yang tidak menggunakan cara-cara WWL ini tuh menyapih tidak dengan cinta yak. Ya enggak juga keles, thats wahy saya jarang sekali menggunakan frasa tersebut.

Setiap ibu (yang normal) saya rasa akan mengambil keputusan apapun dilandasi dengan cinta. Setidaktahu apa pun ibu terhadap metode-metode terbaik abad ini, dan secanggung apapun dia melakukannya, saya tetap yakin para ibu melakukannya dengan cinta. Cinta kepada anaknya.

love love

So please, jangan saling menghakimi metode mana yang paling baik dan paling penuh cinta ya…. Yang ada adalah metode mana yang paling cocok bagi keluarga. 🙂

Related Post: Orang Tua yang Yakin

Tentang Usia Menyapih

Oiya, tentang usia yang tepat untuk menyapih, sebenarnya memang tidak ada batas waktu yang saklek ya tentang masa sapih ini. Kami melakukannya pada usia 2 tahun, karena memang ingin Gayatri menikmati ASI setidaknya sampai 2 tahun. Walaupun saya tidak berhasil ASIx namun tetap ingin memberi ASI sampai dua tahun sesuai anjuran dokter.

Selain itu, kami rasa dengan beberapa persiapan yang telah kami lakukan sebelumnya sejak usia 18 bulan, Gayatri telah siap di usia tersebut.

Oiya, kesiapan Gayatri ini beneran kami konfirmasi ya. Bukan hanya perasaan saya semata….

Nah, inilah yang kami lakukan sebelum dan saat menyapih Gayatri. Untuk kemudahan teman-teman membaca, saya akan membagi ke dua tema bahasan: Pra Sapih dan Sapih. Lalu di masing-masing tema akan ada sub tema untuk menghighlight beberapa pesan ya. Nggak saklek bingit si, cuma biar lebih mudah dipahami saja….

Di artikel ini saya bahas tema satunya dulu ya…..

PRA SAPIH

1. Kesepakatan dg suami

Poin 1 intinya saya dan suami sepakat untuk memulai sapih segera setelah usia 2 tahun. Sepakat juga untuk pakai cara sounding jauh-jauh hari karena metode ini beberapa kali kami pakai dan bisa masuk ke Gayatri dg efektif. Soundingnya sebenarnya mulai dari 18 bulanan. Namun mulai intens dua bulan sebelum Gayatri dua tahun, dan sebulan sebelumnya bisa dibilang tiap hari soundingnya.

Saya sendiri juga sudah meyakini bahwa saya sebagai ibu, siap untuk menyapihnya. Jadi nggak mellow, atau masih ragu dan galau. Saya memahami, kalau kontak saat menyusui adalah sesuatu yang sangat indah, yang kadang bagi ibu sulit untuk melepaskannya.Ibu pun sering merasa jahat atau bersalah saat menyapih. Hal tersebut harus dihindari.

setrong

Karena perlu disadarai juga bahwa menyapih juga adalah kebutuhan bagi anak. Masa-masa baginya untuk belajar bahwa dunianya itu besar, tidak sebatas pada tubuh ibunya. Dia juga akan belajar bahwa dirinya bisa dan mampu untuk (mulai) mandiri. Jika dilakukan tanpa trauma, saya rasa hal ini dapat dicapai.

Kembali lagi, apapun keputusan parenting, mau sapih umur 3 tahun dan mau pakai cara apapun sebaiknya hasil diskusi dari kedua orang tuanya ya. Karena bagaimanapun nanti, ibu akan butuh bantuan dan support suami saat menjalaninya.

2. Sounding ke anak dan keluarga

Sounding ke Gayatri sudah mulai sejak dia 18 bulan. Tapi nggak intens. Baru mulai intens dibicarakan dua bulan sebelum sapih. Dan sebulan sebelum sapih bisa dibilang setiap hari selalu disounding. Kadang serius njelasin, kadang nyeletuk-nyeletuk aja.

Poin ini si yang menurut saya jadi senjata weaning with love di keluarga kami.

Apa yang disounding?

1. Kapan sapih

Berikut beberapa poin pertanyaan yang saya ajukan pada diri sendiri dan kemudian bicarakan dengan Gayatri.

  • Kapan Gayatri mau disapih? Saat ulang tahun 2 tahun.
  • Kapan ulang tahun? – – – – Januari
  • Kapan itu januari? – – – – Habis Desember (lihat kalender)
  • Kapan sapihnya start? Habis tiup lilin dan potong kue.

IMG_20190113_130519-1024x1365

PRnya adalah karena masalah waktu sifatnya adalah konsep. Dan konsep waktu ini belum dipahaminya. Jadi harus menurunkan ke hal-hal yang Gayatri familiar dulu.

Kami menjelaskan ulang tahun dengan tiup lilin dan potong kue sebagai penanda waktu. Walaupun sebenarnya tidak terbiasa merayakan ultah juga, tapi hal itu yang paling familiar sama Gayatri. Karena di daycare sering ada yang merayakan ulang tahun dengan tiup lilin dan potong kue. Syukurlah Gayatri ingat momen ultahnya Rafka, Atano dan Malik. Jadi kalimatnya, “Gayatri mau ulang tahun. Tiup lilin. Tiup lilin sudah besar ya…. Sudah besar tidak nenen.”

Kami jelaskan kalau Gayatri ulang tahun di Januari. Januari habis Desember. Dia nggak tahu apa itu Januari dan Desember. Jadi ya dibilang aja pas Desember, ini bulan Desember. Habis Desember Januari ya…. Pas masuk Januari dibilang lagi, sekarang uda Januari. Bisa juga pakai kalender. Gayatri ulang tahun 10 hari lagi (misal) sambil nunjukin jari 10. Besoknya gitu lagi nunjukin jari 9, dst. Kami mulai gitu H-10 karena Gayatri tahunya angka ya baru 1-10 hehehe….

2. Kenapa sapih

Tentu sebenarnya alasan sapih dalam sebuah keluarga sangat kompleks ya. Yang pasti terkait dengan kebutuhan bayi, kondisi ibu maupun kondisi keluarga.

Misalnya, orang tua seudah merasa cukup memberikan ASI sampai 2 tahun saja sesuai anjuran WHO dan IDAI, atau karena masalah kesehatan ibu, atau masalah rencana program anak selanjutnya, dll. Namun bagi kami, yang perlu disampaikan ke Gayatri, tidak semuanya, hanya beberapa hal sebagai berikut:

  • Umur 2 tahun sudah besar,
  • Besar itu seperti apa, gambaran atau deskripsi kata “besar”,
  • Besar berarti tidak nenen.

Kami menjelaskan konsep “sudah besar” sama dengan Mas Malik. Teman daycarenya yang paling besar. “Mas Malik sudah besar, Mas Malik nggak nenen.” Konsep ini clear saat Gayatri sendiri sering bilang ke kami kalau Mas Malik nggak nenen. Hehehe…. Ini butuh beberapa hari ya. Nggak instan.

weaning with love

3. Bagaimana setelah sapih

Yang jangan lupa disounding adalah skenario setelah tidak nenen sebagai berikut:

  • Gimana kalau Gayatri pengen nenen,
  • Gimana kalau Gayatri mau bobok (karena Gayatri biasa bobok sambil menyusu).

Kami memilih untuk bilang,  “sudah besar minumnya susu kotak. Kalau pengen nenen ambil susu kotak. Susu kotak di rak.” Keteraturan posisi ini ternyata membantu juga. Jadi dia nggak dalam kondisi nol banget saat sapih. Uda tau “exit procedure”. Tentunya Gayatri juga sudah bisa minum susu kotak (pakai sedotan) dan doyan juga ya.

Yang lebih penting lagi, kami juga bilang kalau, “Walaupun Gayatri sudah ga nenen, ibuk tetap sayang. Gayatri ga nenen, boleh peluk erat. Kalau ngantuk peluk ibuk. Nanti ibu puk puk sambil nyanyi sampai Gayatri bobo. Kalau sedih peluk ibuk. Peluk sayang.”

Tentu saja masalah peluk erat, puk puk dan nyanyi ini disesuaikan dengan bagaimana kebiasaan anak sebelumnya, kalau bobok saat nggak ada ibunya ya…. Kebiasaan puk puk dan nyanyi ini adalah informasi dari daycarenya Gayatri dulu, Sementara kalau peluk, itu kebiasaan Gayatri kalau bobok sama bapaknya.

***

Yang melakukan sounding ke Gayatri ini tidak hanya saya. Hal di atas tentunya juga dilakukan oleh suami saya ke Gayatri. Pokoknya satu suara. Karena kami sering juga ngumpul keluarga bareng kakak ipar. Kakak ipar dan ponakan-ponakan juga tahu tentang ini dan ikutan bantu sounding juga.

So far saya merasakan bahwa sounding ini ngebantu banget. Mungkin karena Gayatri tipe yang (saya duga) thinking ya. Seperti saya. Jadi lebih mudah disentuh melalui kognitifnya dulu. Dia akan memahami sesuatu baru kemudian menerimanya. Setelah masalah pemahamannya kelar, baru kemudian menjaga hati dan perasaannya agar legowo.

Cerita selanjutnya saat masa sapih akan saya ceritakan di postingan berikutnya DI SINI yaa! Semoga bermanfaat! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Pengalaman Cabut Gigi Geraham dengan BPJS dan Daftar Puskesmas Online

PhotoGrid_1547492584764-1024x576

Saya memiliki BPJS Kesehatan selama delapan tahun, namun baru kali ini benar-benar memanfaatkan fasilitas ini. Dan cukup terkesan ya. Terkesannya karena ternyata apa yang selama ini saya underestimate ternyata tidak demikian. Berikut pengalaman saya cabut gigi geraham di Puskesmas menggunakan BPJS Kesehatan dan aplikasi eHealth.

Sebelumnya saya cerita dulu ke-skeptisan saya terhadap BPJS ya…. Jadi sebagai PNS kan saya diberi fasilitas BPJS. Berarti genap 8 tahun saya terdaftar keanggotaan BPJS, sesuai masa kerja saya. Bahkan seharusnya suami dan Gayatri anak saya pun bisa dapat fasilitas ini free dari kantor, karena biaya BPJS Kesehatan PNS kan ditanggung kantor.

Namun karena banyak kabar yang beredar kalau pakai BPJS nggak nyaman dll, selama delapan tahun ini hampir tidak pernah saya memanfaatkan BPJS saat sakit/ melahirkan, dll. Bahkan suami dan anak pun tidak saya urus administrasi keanggotaannya.

Saat suami opname di tahun kemarin, saya memilih biaya mandiri. Demikian pula saat Gayatri opname lima hari, pun kami memilih biaya mandiri. Dengan harapan akan mendapat layanan kesehatan yang lebih baik.

Tapi ternyata sama saja. Waktu Gayatri opname, saat itu yang tersedia hanya Kelas 1. Jadi di kamar ada dua pasien. Satu pasien lagi ternyata adalah pasien BPJS. Dari situlah, mata saya mulai terbuka terhadap layanan rumah sakit terhadap pasien BPJS. Kebetulan kedua pasien sama-sama rujukan dari IGD ya…. Jadi bukan dari faskes 1.

Saya si melihatnya pelayanan yang pasien BPJS itu dapatkan sama kok dengan yang Gayatri dapatkan. Saat keluar kami hampir bersamaan, Gayatri duluan dan saya ke kasir. Saya bayar sampai manyun, dan orang tua pasien BPJS itu sumringah karena gratis. Hehehehe, saya manyun beneran. Karena kalau saya dulu nggak skeptis, saya nggak perlu bayar biaya RS kan ya, karena toh dicover BPJS.

hiks

Pengalaman yang mahal. Wkwkwkwk….

Oleh karena itu, saat awal tahun ini saya berencana perawatan gigi geraham, saya memutuskan untuk mencoba menggunakan BPJS saja. Soalnya, di tahun 2017, suami saya pernah cabut gigi geraham juga di satu Fakultas Kedokteran Gigi di Jakarta Selatan, biayanya kurang lebih 2,5 jutaan. Saya pikir dengan duit segitu, mending buat nambahin saya beli Ipad Pro demi bisa doodling elektronik, wkwkwk.

Kedatangan Pertama: Kesan Pertama

Pertama saya datang ke Puskesmas, saya dapat antrian ke 6 apa ya. Cukup lama menunggunya, karena ternyata pada saat yang bersamaan, Puskesmas sedang cek alat. Tapi masih wajar si, nggak sampai jam 11 siang, saya sudah kelar. Perawatan pertama, saya diberi obat untuk menghilangkan rasa sakit dan infeksi dulu, dan diminta kembali lagi. Tidak dikenakan biaya untuk obat maupun dokter.

Kami dapat informasi kalau pendaftaran bisa dilakukan secara online di http://ehealth.surabaya.go.id/pendaftaran/. Sehingga saya nggak perlu menunggu lama, demikian kata petugas Puskesmas. Wow! Saya cukup terkejut si, ternyata Puskesmas sudah berkembang dengan baik ya. Apa saya aja yang nggak update ya? Hehehe….

Kedatangan Kedua: Bolak Balik Periksa Gigi

Kedua kali saya datang, menuruti kata petugas, saya daftar online dulu H-1. Syukurlah saya dapat antrian kedua, suami saya dapat antrian pertama wkwkwk, dia mau ikutan cek gigi juga. Sayangnya, ternyata kondisi gigi saya belum sepenuhnya siap untuk tindakan. Sehingga saya masih perlu konsumsi obat. Hanya obat diganti/ disesuaikan. Biayanya Gratis ya.

Berikut hasil download nomor antrian daftar puskesmas online, file ini tinggal ditunjukkan pada petugas ya….

pengalaman cabut gigi geraham di puskesmas

PS. Nama dan NIK saya saya blur ya….

Oh, iya! Saya diminta kembali lagi beberapa hari kemudian. Dokter juga menambahkan kalau ternyata kondisi gigi saya tidak juga bisa dilakukan tindakan di kedatangan ketiga maka perlu dilakukan rujukan ke dokter spesialis.

Awalnya saya nyaris kumat skeptisnya. “Tuh, kan disuruh bolak balik!”, demikian saya curhat ke kakak ipar. Namun ternyata kakak ipar balik cerita kalau dia pun pernah mengalami hal yang sama (diminta bolak balik) di Klinik Swasta, terkait perawatan gigi. Jadi memang prosedurnya begitu ya. Dokter tidak bisa melakukan tindakan jika gigi masih terasa sakit dan ada penyulit tertentu.

Kedatangan Ketiga: Tindakan Cabut Gigi Geraham

Ketiga kalinya saya datang. Dokter melihat kondisi gigi saya, syukurlah sudah siap dilakukan tindakan. Setelah menunjukkan kartu BPJS Kesehatan ke dokter, saya dicek tekanan darahnya oleh dokter umum, kemudian cek gula darah di lab pada Puskesmas yang sama. Kurang lebih satu jam proses pemeriksaan darah, dll, saya kembali ke klinik gigi untuk dilakukan tindakan.

Sayangnya saya nggak bisa mengambil gambar ya, karena ada larangan mengambil gambar di Puskesmas.

Ruangan tindakan sebenarnya cukup besar ya, namun terasa sempit karena ada dua kursi periksa gigi pasien yang cukup besar. Walaupun begitu saya rasa, kondisinya cukup nyaman kok.

Tiga kali perawatan, dokter yang menangani saya sama. Namun saat tindakan ada dua dokter lagi yang menemani. Salah satunya, dilihat dari penampakannya terlihat lebih senior. Dokter yang senior ini yang kemudian menjelaskan kepada saya tentang tindakan dan alasan tindakan perlu dilakukan.

Ketiga dokter ini cukup menyenangkan gaya komunikasinya. Saya sungguh senang dengan cara mereka mendengarkan keluhan, kemudian memeriksa serta meminta feedback kepada saya. Karena tubuh saya sepertinya memang agak kurang merespon obat bius (pengalaman operasi sebelumnya, juga demikian), saya sempat merasa kesakitan, dan ketiga dokter dengan sabar memberikan dosis lagi serta menunggu lagi sampai bius benar-benar bekerja di mulut saya.

Tindakan selesai.

Biaya Cabut Gigi Geraham di atas: Gratis.

Lesson Learn:

Jangan berpikiran negatif dulu terhadap segala sesuatu. Terutama ketika mendengar review dari orang lain. Karena kebanyakan orang bercerita ke orang lain itu dengan tema sambat. Sambat tentang pengalamannya yang kurang menyenangkan. Sementara mungkin pengalaman yang postif kurang banyak diperdengarkan ya….

Untuk itu saya jadi kepikiran untuk nulis artikel ini, sebagai penyeimbang juga. Oiya, ada cuitan dari Raya Fahreza juga tentang layanan BPJS yang dikomen dan diretweet ribuan orang. Bisa dicek di sini, untuk punya another point of view.

Saya nggak juga berpendapat kalau sistem ini sudah sempurna ya. Tentu saja masih ada room for improvement untuk membuat layanan BPJS ini semakin baik. Tapi berdasar pengalaman saya ini, juga berdasar pengalaman saya menjadi pasien di RS Swasta seperti RS Premier Bintaro, Eka Hospital BSD, IMC Bintaro ataupun klinik-klink biasa, layanan di Puskesmas Gununganyar ini bisa dibilang not bad lah.

Apalagi gratis kan. Hihihihi…. Seneng banget deh saya, kalau inget layanan di atas itu free.

love love

Saya menulis ini juga bukan berarti naif terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan oleh beberapa oknum yang masih memperhitungkan untung rugi ya. Kalau ada yang bilang oknum seperti itu masih ada, saya juga yakin ada si.

Apresiasi

Namun saya tetap mau menuliskan pengalaman ini untuk mengapresiasi tenaga kesehatan dalam hal ini tiga orang dokter gigi yang merawat saya (saya tidak sebutkan namanya due to their privacy), faskes Puskesmas Gununganyar dan juga Pemkot Surabaya. Semoga cerita ini pun mendorong orang lain untuk bercerita hal baik yang sama, dan hal baik tersebut menjadi standar baru bagi layanan kesehatan di bangsa ini.

Hihihi…. Sekali-kali serius ya eike ngomongnya….

Pahami Prosedur

Oiyaaa! Selain itu, tetap menurut saya, sebagai pasien kita harus mengert prosedurnya baik-baik. Supaya kita tahu mana yang bisa kita upayakan untuk meminimalisasi ketidaknyamanan. Karena kalau nggak ngerti prosedur dan kudu bolak balik ga jelas, juga males juga kan Kumendan.

Nah, salah stu prosedur yang menurut saya memudahkan pasien (di Surabaya) adalah aplikasi eHealth berikut. Saya nggak tahu kalau di daerah lain ya. Saya pernah baca di artikel Mbak Uniek kalau di Semarang bisa via WA. Please let me know, buat yang pengalaman jadi pasien di Puskesmas daerah lain, infoin aja di comment section ya. Pasti akan bermanfaat banget buat orang lain juga.

Daftar Puskesmas Online via eHealth Surabaya

Aplikasi ini sebenarnya tersedia di Appstore ya. Tapi kalau nggak mau download aplikasinya bisa ke webnya saja si di http://ehealth.surabaya.go.id/pendaftaran/. Saya sendiri juga daftarnya via web hehehe.

Kalau penjelasan Pemkot Surabaya terkait aplikasi ini adalah sbb: “Aplikasi yang dikembangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk memudahkan akses layanan kesehatan baik promotif, preventif, dan kuratif untuk mewujudkan masyarakat Surabaya sehat, mandiri, dan berdaya saing global.”

Saya nggak mau mereview panjang lebar ya. Hanya ingin menunjukkan bagaimana langkah-langkah melakukan pendaftaran sebagai pasien di Puskesmas menggunakan aplikasi ini.

Langkah-langkah Daftar Puskesmas Online

Langkah-langkah pendaftaran pasien ditunjukan dengan gambar berikut ya. Gambar-gambar di bawah adalah hasil screenshoot dari aplikasi eHealth Surabaya yang berbasis web:

daftar puskesmas online

  • Pilih Bahasa (Indonesia, Jawa, Madura)
  • Pilih Fasilitas Kesehatan (Rumah Sakit atau Puskesmas)
  • Pilih Regional Puskesmas (Surabaya Pusat, Barat, Utara, Timur, Selatan)
  • Pilih Nama Puskesmas

periksa gigi di puskesmas

  • Pilih Status Kependudukan (KTP Surabaya atau Non Surabaya)
  • Pilih Poli Kesehatan yang Ingin Dikunjungi (Umum, Gigi, KIA atau Klinik Ibu dan Anak, Gizi, Sanitasi, Batra, Psikologi, Lansia)
  • Isi Data Pasien, Verifikasi
  • Download Nomor Antrian

Sekian sharing kali ini yaaaa! Semoga infonya bermanfaat bagi yang mau daftar puskesmas online atau yang mau cabut gigi geraham dengan BPJS di Puskesmas! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Menjaga Kesehatan Bayi saat Liburan

2019-01-03 12.37.14 1-1024x768

Setelah liburan akhir tahun kemarin, saya sempat bikin stories di Instagram tentang Traveling Bareng Bayi. Di situ saya juga bertanya tentang tantangan apa sering dirasakan oleh teman-teman saya saat membawa bayi berpergian. Response-nya lumayan rame ya. Dari response DM dan komen teman-teman tersebut, saya rangkum ke dalam 10 Tantangan Membawa Bayi Traveling.

10 Tantangan Membawa Bayi Traveling adalah sebagai berikut:

  1. Bocah badmood,
  2. Minta jajan mahal,
  3. Pup di celana,
  4. Anak sakit,
  5. Susah nemu toilet,
  6. Anak pecicilan,
  7. Barang bawaan banyak,
  8. Susah makan,
  9. Masalah jadwal,
  10. Teman seperjalanan rempong.

Tiap keluarga pasti tantangan utamanya bisa berbeda-beda yak…. Seperti saya pribadi saya tidak akan terlalu memusingkan poin 9. Masalah jadwal, karena saya memang tidak pernah strict dengan jadwal ataupun itienary. Ataupun poin 10. Teman seperjalanan rempong, ya karena seumur-umur teman seperjalanan saya cuma suami saya dan Gayatri, anak saya.

2019-01-03 12.37.14 1-1024x768

Buat saya pribadi, horor dari segala horor saat liburan bareng bayi adalah yang poin 4: BAYI SAKIT.

Tahun ini saya dan Gayatri sempat tiga kali liburan. Yang pertama saat lebaran, ke rumah Eyang Akung dan Gayatri kena cacar air. Yang kedua, staycation aja di Bogor dan Gayatri harus opname karena Pneumonia. Memang sakitnya nggak yang parah, karena sudah vaksin. Tapi tetap aja bikin mamak sedih serta mengacaubalaukan seluruh rencana liburan….

Syukurlah pada liburan ketiga, liburan yang terakhir ini, liburan akhir tahun. Puji Tuhan, Gayatri sehat wal a fiat. Liburan jadi seru banget dah kalau sehat gini.

Tapi sehatnya Gayatri di liburan terakhir ini bukannya tanpa usaha loh. Kami prepare benar-benar, supaya pengalaman buruk anak sakit saat liburan tidak terulang. Berikut saya coba share apa ikhtiar yang kami lakukan ya…. Semoga sharingnya bisa bermanfaat juga bagi teman-teman….

1. Menjaga daya tahan tubuh anak.

Menjaga daya tahan tubuh anak ini gampang-gampang susah ya. Tapi yang pasti sumbernya adalah dari makanan serta istirahat yang cukup. Khususon buat anak saya karena pasca penyembuhan, jadinya sama dokter ditambah suplemen dan prebiotik.

Kira-kira tips terkait menjaga daya tahan tubuh anak seperti ini ya:

a) Sebelum Liburan

Praktiknya, sebelum liburan, Gayatri jadi sering saya kasih buah-buahan lebih dari biasanya. Buah-buahannya si sebenarnya tidak istimewa-istimewa amat ya; pepaya, jeruk dan tomat. Tapi yang pasti ketiga buah ini favorit Gayatri dan banyak vitamin C-nya untuk ngeboost imun.

Pokoknya sebisa mungkin, kami siapkan kondisi tubuhnya dalam kondisi seprima mungkin menyambut liburan. Puji Tuhan, liburan yang terakhir itu, bahkan pilek pun enggak loh! Mamak so proud dan puas sama hasil persiapannya deh.

2019-01-10 12.38.00 1-1024x768

b) Bekal saat Liburan

Kalau saat liburan, kami jaga asupan makannya dengan membawa beberapa bekal dalam 3 wadah. Yang pertama cemilan berat yang padat gizi seperti arem-arem, telur rebus, mie goreng sayur, ikan goreng, baceman atau pastel. Yang kedua isinya sereal. Dan wadah ketiga kosong. Hehehehe…. Itu jaga-jaga kalau pas di tempat makan, Gayatri ga mau makan jadi bisa bungkus dimakan di jalan. Plus juga selalu bawa susu UHT buat tambahan.

Pokoknya perut jangan sampai kosong deh. Tapi jangan juga jajan sembarangan.

2. Melindungi agar tidak ada kuman yang mendekat.

Kalau dari dalam sudah kuat, yang perlu diwaspadai adalah kuman-kuman yang datangnya dari luar tubuh anak ni. Hal ini kelihatannya sepele tapi ini yang paling diwanti-wanti sama dokter, mengingat Gayatri masih dalam masa perlindungan 1000 hari pertamanya. Kekebalan tubuhnya masih perlu dijaga banget.

Dokter selalu menekankan walaupun sudah vaksin, anak tetap berisiko tertular penyakit yang berasal dari virus dan bakteri ya. Hanya saja memang dampaknya nggak separah kalau nggak divaksin.

Nah, kalau liburan kan di tempat umum, kita nggak bisa mengontrol lingkungan kita. Jadi semaksimal mungkin apa yang melekat di badanlah yang harus dijaga kebersihannya benar-benar dengan menggunakan produk yang mengandung antibakterial namun tetap aman bagi kulit bayi.

2019-01-10 12.37.58 1-1024x768

Yang kami lakukan adalah:

  1. Mandi sesegera mungkin saat sampai di tempat tujuan. Kadang kan karena sudah lelah atau sampainya malam hari, jadinya menunda mandi. Padahal ini penting, supaya kumannya tidak menemani anak bobok.
  2. Cuci tangan sebelum makan, saat di perjalanan.
  3. Mencuci pakaian segera saat terkena kotoran.

Poin ketiga ini yang baru kami terapkan akhir-akhir ini. Iyakkkk, selama liburan walaupun di penginapan kami mencuci baju ya. Hal ini terutama kalau dalam perjalanan, Gayatri muntah atau pupup di celana. Nggak perlu nunggu sampai penginapan, pasti akan langsung kami cuci di toilet terdekat. Soalnya bawa pakaian yang kena kotoran demikian kan iyuuuuhhh ya….

Yang pertama pasti karena baunya. Yang kedua, biar ga melekat nodanya di pakaian. Lalu yang ketiga yang paling penting terkait kesehatan anak ya karena kuman dan virus itu loh. Serem kan bawa bibit penyakit kemana-mana….

Awalnya dulu saya mikir ribet ya. Kudu nyuci di tengah perjalanan, atau segera setelah sampai penginepan. Kan maunya ya nikmati aja liburan gitu ya…. Tapi setelah dijalani, ternyata nggak seribet itu kok. Malahan jadi lebih enak suasananya pas pulang karena nggak bawa cucian numpuk. Lagipula juga karena udah nemu deterjen khusus bayi yang travel friendly si…. Si Sleek Baby Laundry Travel Wash. Jadi kegiatan nyuci jadi lebih praktis.

Nanti di bagian bawah artikel, aku bahas lebih lanjut tentang produk ini ya….

2019-01-10 12.38.02 1-1024x768

3. Persiapan Psikologisnya.

Kata orang bijak, hati yang gembira adalah obat. Jadi kalau hatinya senang selama perjalanan, anak juga akan sehat. Jadi segala itienary dalam perjalanan semua akan menyesuaikan moodnya anak. Terutama kalau anak mengantuk, ya disegerakan waktu untuk beristirahat.

Selain itu, sebelum berangkat, jauh-jauh hari kami sudah sounding ke anak kalau kami akan mengadakan perjalanan. Nanti naik apa. Misal naik pesawat, maka akan disounding kalau naik pesawat nanti pas take off dan landing harus nenen yaaa…. Atau kalau naik mobil, disounding juga kalau perjalanannya akan sedikit lama ya, dll. Biasanya sih hal-hal seperti ini akan membuat Gayatri lebih siap dan tidak rewel di perjalanan. Tidak rewel sama dengan happy sama dengan sehat. Yeay!

Resume

Demikian tiga hal yang menurut saya harus banget dipersiapkan untuk menjaga kesehatan anak saat liburan:

  1. Menjaga daya tahan tubuh anak, sebelum dan selama perjalanan dengan makanan dan istirahat yang cukup.
  2. Melindungi dari kuman dan bakteri penyebab penyakit yang mendekat.
  3. Persiapan psikologis agar anak tetap happy selama perjalanan.

Kalau teman-teman apakah ada tips lain? Feel free untuk meninggalkan komen ya….

Berikut sesuai yang saya bilang di atas, saya mau kasih bonus review produk bayi yang travel friendly: Sleek Baby Laundy Travel Wash.

Review Sleek Baby Laundry Travel Wash

Sebenarnya seperti foto di atas, rangkaian produk Sleek Baby yang bisa kita bawa traveling itu bermacam-macam. Empat di antaranya: 1) Sleek Bottle, Nipple & Accessories Cleanser untuk mencuci peralatan bayi, 2) Sleek 2 in 1 Hair & Body Liquid Soap untuk mandi dan keramas, 3) Sleek Antibacterial Diaper Cream untuk mencegah dan mengobati ruam serta yang keempat 4) Sleek Baby Laundry Travel Wash.

Saya mau review produk yang keempat saja ya…. Soalnya menurut saya produk ini masih banyak yang belum familiar dibanding tiga produk lain, padahal ini unik dan bermanfaat banget.

2019-01-10 12.37.56 1-1024x1365

What i love:

1 . Fitur antibacterial.

Dalam keterangan di bagian belakang kemasan, disebutkan bahwa produk ini efektif mematikan Staphylococcus aureus yang biasanya menyerang saluran pernapasan atas dan kulit, Pseudomonas aeruginosa yang merupakan penyebab utama pneumonia dan mematikan kapang atau jamur.

Walaupun bakteri yang pertama disebutkan, Staphylococcus aureus, biasanya tidak menimbulkan penyakit dalam kondisi tubuh yang sehat, namun saat kondisi tubuh melemah, bakteri ini bisa menimbulkan penyakit. Jadi perlindungan ekstra saat perjalanan, dimana kondisi tubuh anak sering turun, lebih saya pilih dan tidak saya sepelekan, mengingat dua kali pengalaman buruk, Gayatri sakit saat perjalanan.

Better worry than sorry lah….

2 . Kemasannya yang sangat travel friendly, bentuknya tube.

Kesan pertama saat melihat produk Sleek Baby Laundry Travel Wash ini adalah kemasannya beda dari yang lain! Bentuknya tube seperti kemasan diaper cream. Saya baru lihat produk dengan kemasan seperti ini si. Enaknya kemasan seperti ini adalah: 1) tidak mudah tumpah, 2) mudah dipegang saat mengeluarkan produk, 3) ukurannya kecil (100 ml) sehingga tidak memakan tempat. Saya bisa menyelipkannya di diaper bag, atau di kantung belakang kursi mobil. Just in case, ada yang perlu di cuci mudah diraih dan tidak perlu bongkar koper. Bahkan kalau mau ngacir ke toilet pun bisa masuk ke dalam saku celana jeans.

2019-01-10 12.38.01 1-1024x768

3 . Dinyatakan aman bagi bayi.

Lulus dermatology test di labolatorium yang terakreditasi, sehingga tidak menyebabkan iritasi di tangan maupun saat pemakaian. Untuk yang concern terhadap kandungan paraben, produk ini Paraben Free. Memiliki izin Kemenkes RI dengan nomor PKD 20202510444.

4 . Efektif menghilangkan noda.

Mengandung ekstrak jeruk nipis, sehingga efektif menghilangkan noda muntah, lemak, noda kekuningan akibat pup maupun noda makanan. Semakin segera dicuci nodanya, maka akan semakin mudah hilang.

Cara pemakaian: Larutkan 1-2 sendok makan ke dalam 5 liter air, rendam selama 30 menit lalu kucek. Jika dalam perjalanan dapat pula langsung menuang sedikit produk ke bagian yang terkena noda lalu dikucek dan bilas.

5. Produknya berbentuk gel kental.

Nah ini juga unik ni. Biasanya kan sabun cuci baju bentuknya liquid yang cair ya…. Kalau yang ini tu seperti pasta gigi gel. Jadi nggak menetes walaupun tubenya terbuka. Tapi tetap mudah dikeluarkan kok dengan sedikit dipencet. Savior banget kan. Saya tidak kawatir sabun ini akan tumpah dan mengotori barang bawaan lainnya di diaper bag. That’s why tadi saya bilang ini produk pas banget kalau disebut Travel Wash, ya karena travel friendly banget.

Kebiasaan masa lalu bawa detergen sachet ataupun mindahin detergen ke botol kecil bisa ditinggalkan ya ibuk ibuuuukkk…. Hihihi….

Harganya: Sekitar Rp 12.000,00

Where to buy: Lebih mudah ditemukan di olshop. Atau pantau cek IG @SleekBaby_id dan FB : @SleekBaby yaa!

Waaahhh, nggak nyangka panjang juga ni cerita kali ini. Saya berharap sharing kali ini bermanfaat ya teman-teman…. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!