Blazer ke Daster: Menjadi Ibu Rumah Tangga

Halo, artikel tips adaptasi menjadi ibu rumah tangga ini sebenarnya sudah direquest beberapa teman dari sejak awal tahun 2019. Hehehe, namun baru saya post hari ini, kurang lebih 10 bulan setelah saya menjadi ibu rumah tangga. Pasalnya, bagaimana saya bisa memberi tips, wong saat itu pun saya sedang “meraba-raba” menjadi ibu rumah tangga. Hehehe….

Namun, ternyata proses menjadi ibu rumah tangga yang baik, pun tetap berlangsung sampai sekarang. Jadi saya tuliskan saja apa yang telah saya alami ya, semoga ada lesson learn yang bisa diambil teman-teman! :)

Disclaimer: artikel ini BUKAN kampanye menjadi ibu rumah tangga ya, hehehe, melainkan ditujukan kepada teman-teman yang memang sudah mempertimbangkan atau malah memutuskan menjadi IRT dan mencari cerita pengalaman ibu lain.

Sebelumnya perkenalkan, saya Ella. Sebelumnya bekerja di Kementerian Keuangan dari 2010. Kemudian mengajukan Cuti di Luar Tanggungan Negara untuk ikut suami selama 3 tahun. Selama menjalani masa cuti inilah saya menjadi ibu rumah tangga.

menjadi ibu rumah tangga

Masa Awal Adaptasi Menjadi Ibu Rumah Tangga

Jujur, saya menyadari masa peralihan ini saya jalani dengan banyak privilege. Dukungan penuh dari keluarga (moril dan materiil) benar-benar menyokong saya dan suami menjalani masa ini.

Saya menyebut “saya dan suami”, karena kebetulan masa ini BERSAMAAN juga dengan peralihan pekerjaan yang dialami oleh suami. Suami yang awalnya berwirausaha dan juga sempat menjadi konsultan, mendapat beasiswa LPDP, sehingga memilih untuk resign dari tempat kerja sebelumnya. Rencananya, Beliau mau melanjutkan usahanya sambil kuliah.

Namun, baru juga selesai Persiapan Keberangkatan LPDP, Beliau mendapat kabar kalau diterima PNS di Pemkot Surabaya. Beasiswa harus dipending, karena harus menunggu persetujuan atasan baru (sebagai PNS).

Kondisi ini benar-benar tidak kami prediksi. Karena walaupun dengan sadar mendaftarkan diri, namun sebenarnya menjadi PNS bukanlah cita-cita beliau sedari muda. Jadi antara bersyukur dan shock. Karena hal ini berarti merombak rencana-rencana kami sedari mula.

Lesson Learn: Hal ini saya ceritakan, karena menurut saya unpredictable things mungkin juga akan terjadi dalam perjalanan teman-teman saat mempersiapkan diri menjadi ibu rumah tangga. Baik yang terjadi pada diri kita sebagai istri, maupun pada suami. Saat seperti inilah dukungan dalam keluarga benar-benar akan terasa menguatkan.

Tentang Mengatur Keuangan

Karena saya cuti bersamaan dengan suami resign pada akhir bulan November 2018, saya dan suami sempat mengalami masa kami TIDAK MEMILIKI PENGHASILAN. Ditambah dengan Beliau diterima PNS, membuat allowance beasiswa yang awalnya kami perhitungkan akan diterima di Januari ditunda, seiring penunaan beasiswa.

Kurang lebih empat bulan, kami bertahan mengandalkan dana darurat dan support keluarga. Benar-benar sesuatu yang challenging, karena bisa dibilang, saat itu kami mengelola dana per bulan sebesar kurang dari 1/4 penghasilan kami sebelumnya. Seperempat ini yang harus diatur agar dapat menyukupi semua kebutuhan tanpa harus menderita-menderita amat.

Deg-degan banget, mengingat belum adanya kepastian kapan gaji suami sebagai CPNS turun. Namun, yang paling saya syukuri adalah, saat itu kami tidak memiliki hutang di bank. Sehingga tekanan keuangan kami tidak terlalu berat.

Lesson learn: Perhitungkan dana darurat, jumlah hutang dan hal-hal terkait keuangan lain saat merencanakan beralih dari working mom menjadi stay at home mom. Karena bagaimanapun hilangnya satu sumber penghasilan tentu akan mempengaruhi kondisi keuangan keluarga secara umum.

Untuk meminimalisasi pengeluaran sehari-hari, kami menghindari makan di luar. Hampir selalu kami MAKAN DI RUMAH, dan membawa bekal. Trust me, hal ini ternyata benar-benar efektif memangkas biaya makan!

Related post: Meal Prep ala Nyonyamalas: Kesalahan dan Lesson Learn

Walaupun bisa dibilang pada Maret kami sudah bisa bernapas lega, namun bukan berarti kami mengurangi kewaspadaan. Setelah kami mulai bisa beradaptasi dengan sumber penghasilan tunggal, langkah berikutnya yang kami lakukan adalah: mendaftar asuransi jiwa dengan crisis benefit (askes kami masih pakai BPJS) dan kemudian mulai mengembalikan dana darurat yang sebelumnya terpakai.

Oiya, satu lagi yang saya syukuri pada saat itu adalah, saya memiliki hobi yang bisa menghasilkan uang. Walaupun tidak banyak, namun mendapatkan uang dari blog ini saat “negara api menyerang” jadi hiburan tersendiri. To be honest, saya belum pernah merasa sebahagia itu menerima fee menulis dan juga adsense google. Saya jadi menyadari betapa kufurnya saya sebelumnya. Hahaha…. (tertawa miris ini, wkwkwkwk).

Lesson learn: Mempersiapkan sumber penghasilan lain yang bisa dikerjakan dari rumah juga ada baiknya. Walaupun tidak wajib ya. Saya memahami kalau kondisi/ penyebab seorang ibu menjadi ibu rumah tangga berbeda-beda. Jadi bisa jadi berbeda pula, waktu yang tersedia untuk mempersiapkan diri. Tapi apapun itu, tetap semangaaaattt!!!!

Relationship Suami Istri

Jaman saya bekerja, kami Long Distance Marriage. Saat saya menjadi ibu rumah tangga, saya pindah ke Surabaya. Yang awalnya ketemu hanya seminggu atau dua minggu sekali, jadi ketemu tiap hari.

Senang si. Tapi frekuensi berantem jadi makin sering juga wkwkwk. Sepertinya, karena masa peralihan tadi. Saya adaptasi menjadi ibu rumah tangga, sementara suami adaptasi menjadi PNS. Kami sama-sama sedang mencoba menenangkan hati paska mengubur mimpi-mimpi masa muda. Sedang sama-sama mencoba ikhlas.

Hal-hal kecil, yang biasanya kami diskusikan dengan woles, bisa jadi trigger nada bicara yang naik naik ke puncak gunung. Kadang falseto. Wkwkwkwk….

Contoh ni ya, contoh: “Pulang jam berapa, Pak? Malam ya?”, “Rasa masakannya kok asin ya?”. Hihihi, sepele kan. Tapi bisa jadi WAAAARRRRRRR!!!

Sekarang saya bisa ketawa ketiwi ceritanya, pas kejadian si rasanya senep banget ya. Kadang terlintas, “Nggak worthy ni, pengorbanan karir saya, kalau ternyata malah bikin semuanya jadi kacau.” Saya yakin pada suami pun terlintas demikian.

Saya dan suami sebenarnya, sebelumnya tidak punya masalah komunikasi yang berarti. Biasanya kalau satu lagi ngegas, yang satu bisa kalem. Dan begitu sebaliknya. Pun termasuk pasangan yang terbuka dan kalau dikusi cukup logis. Namun, pas masa awal adaptasi itu beneran semua kayanya gas pol. Ga ada logika logika, pokoknya ESMOSI. Kata suami, saya sampai MENGIGAU SAAT TIDUR. Dan ngingaunya MARAH-MARAH!!!

Astaga bener deh….

Berhubung kami mulai merasa komunikasi kami mulai nggak produktif, diskusi-diskusi mulai nggak solutif, kami memutuskan untuk ke konselor.

FYI, konseling ini memang sudah tradisi ya kalau di kami. Sebelum menikah pun kami konseling pranikah ada kali enam kali lebih. Jadi bukan sesuatu yang tabu, buat saya dan suami. Namun, hal ini bisa jadi tidak sesuai buat teman-teman, terutama kalau suaminya kurang nyaman. Harap disesuaikan ya! :)

Saat konseling ini kami jadi terbantu untuk melihat akar masalah yang kami hadapi sebenarnya. Istilahnya dari helicopter view. Nggak dari sudut pandang istri, nggak juga dari sudut pandang suami BELAKA.

Kemudian kami diminta sama-sama menentukan “boundary” yang disepakati bersama-sama. Termasuk di dalamnya, pekerjaan rumah tangga apa yang mau diprioritaskan, bagaimana saya/ suami ingin diapresiasi, dll. Detail, jadinya kami tidak saling berasumsi.

Kami pun jadi mengalokasikan waktu-waktu “bersenang-senang”. Awalnya pos ini dihindari banget, karena kami pengen hemat. Tapi setelah sadar, kami butuh rekreasi, kami jadi mengusahakannya walau ya cari alternatif yang lebih hemat. Saat kami lebih rileks, komunikasinya jadi lebih menyenangkan juga.

Rasa ikhlas menghadapi peran dan kondisi baru pun datang lebih smooth. Lebih ayem rasa di hati.

Lesson Learn: Hmmm…. apa yak? Wkwkwkwk….

Cerita berbeda tentang rasa ikhlas di hati terkait dengan peralihan peran dari ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga juga dialami oleh teman saya, Mbak Yeni Sovia. Beliau dulunya adalah guru di sekolah anak berkebutuhan khusus. Yang mau baca ceritanya bisa ke artikel ini ya: Balada Awal Menjadi Ibu Rumah Tangga

Tentang Mengatur Waktu

Pekerjaan di kantor dan di rumah, karakteristiknya sangat berbeda ya. Kalau di kantor, lebih terasa linear. Satu selesai akan berganti ke pekerjaan lainya. Bukan berarti lebih mudah juga, namun sudah ada sistem yang membantu kita menjadi fokus pada satu task sebelum mengerjakan pekerjaan lain.

Sementara kalau di rumah seperti bentuk per (pegas) yang melingkar lingkar. Jadi kadang pekerjaan yang sudah selesai balik lagi. Seperti cuci piring, sink baru bersih, tiba-tiba ada gelas kotor datang, dst. Awalnya saya merasa agak tertekan karena pekerjaan seperti tidak pernah selesai dan saya merasa selalu dikejar-kejar waktu.

Sampai di suatu titik, bersama suami, kami menyepakati beberapa hal yang membuat saya menjadi lebih rileks dalam membagi waktu:

1 . Prioritas

Kami menyepakati pekerjaan-pekerjaan apa saja yang perlu diprioritaskan untuk dikerjakan. Seperti misalnya memasak adalah prioritas, karena kami ingin sehat sekaligus hemat. Pekerjaan yang tidak diprioritaskan adalah menyetrika, hanya pakaian kerja saja yang perlu diseterika.

Hal-hal seperti ini sebaiknya dikomunikasikan kedua belah pihak. Agar sama-sama enak dan nyaman. Kami berdua juga tidak menganut pembagian tugas yang saklek kalau di rumah. Jadi ada kalanya suami juga turut membantu pekerjaan rumah sehari-hari.

2 . Standar

Standar yang ingin dicapai dalam pekerjaan rumah itu seperti apa. Misal, definisi “rumah rapi dan nyaman” itu seperti apa. Ternyata suami hanya meminta, kamar dan ruang tengah tidak dipenuhi mainan dan pakaian berserakan. Jadi saya bisa mengatur satu ruangan tersendiri untuk Gayatri bermain dan saya menaruh pakaian.

Sederhana tapi beneran bikin saya rileks. Saya bisa fokus ke masak memasak, dimana standar suami saya agak “demanding”, suka makanan tradisional yang bumbu/ masaknya rada-rada ribet.

Dengan prioritas dan standar yang jelas, saya jadi tidak merasa terlalu tegang. Saya tidak jadi stres karena halaman tidak disapu (misal), karena memang tidak prioritas. Disapu beberapa hari sekali kalau sempat pun, suami nggak terganggu. Deseu lebih terganggu kalau saya kucelnya keterlaluan.

Jadi daripada tegang ngurusin halaman yang tidak penting (bagi kami) lebih baik kan menyempatkan diri luluran atau maskeran sekali-sekali. Badan lebih sehat, suami juga seneng lihatnya….

Poin ini saya taruh terakhir, soalnya ini poin yang saya paling struggling banget. Bisa dibilang, rumah tu masih berantakan (kalau dibandingin rumah-rumah pada umumnya). Tapi setidaknya suami uda jarang komplain si. Seiring berjalannya waktu, saya yakin bakal makin ekspert ngerjain pekerjaan rumah tangga. :)

Slow but sure aja ya Nyaaaah…. Yang penting jangan lupa bahagiaaaa!

Sekian sharingnya, kalau ada yang kurang-kurang boleh deh dicolek di komen yaaa! Sekali lagi, jangan lupa bahagiaaaaa!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Literasi Baca Tulis Mulai dari Keluarga

Gayatri, anak saya masih berusia 2 tahun 9 bulan. Setiap selesai makan siang dan menjelang tidur malam, dia menuntut untuk saya membacakannya buku. Dengan gembira, dia menyimak saya membacakannya halaman demi halaman sampai selesai. Kadang bahkan akan meminta ekstra buku lagi untuk dibacakan, sampai saya sendiri yang ingin mengibarkan bendera putih karena sudah terlalu lelah. Ampuuuun, Naaak! Hahaha….

Mau menolak, tapi ada terbersit senang juga di dalam hati, melihat anak sekecil ini sudah suka sekali dengan buku. Dilema, tapi sekaligus bangga. Jadi saya tahankan, karena saya pun ingin melihat kecintaannya akan buku tidak padam. Biarlah bibir ini pegal, toh nanti akan tiba saatnya ananda bisa membaca sendiri.

Gayatri usia kurang lebih dua tahun. Sumber: dokumentasi pribadi.

Apa yang saya alami sebagai ibu, sering ditertawakan oleh Ibu Bapak saya. Pasalnya, dulu jaman masih balita, saya dan adik-adik pun kerap membuat Ibu kami kewalahan karena hal yang sama: minta dibacakan buku, lagi, lagi dan lagi. Hahaha! “Oalah, nurun! Sejarah berulang,” kata Ibu Bapak saya.

Majalah anak-anak yang kami langgan seminggu sekali, tidak cukup memuaskan kami. Sebagai tambahannya, Bapak Ibu sering membeli majalah anak-anak bekas yang sudah dibundel. Tebal-tebal, kurang lebih sepuluh majalah per bundel. Kemudian saya dan adik laki-laki saya akan berjajar minta dibacakan setiap malam.

Dari pengalaman turun temurun dalam keluarga kami, saya menyimpulkan bahwa kegemaran membaca bisa ditanamkan bahkan sebelum anak bisa membaca. Bahkan sebelum anak bisa mengeja dan mengenal satu huruf pun.

Loh, bagaimana bisa anak SUKA membaca saat dia BELUM BISA membaca?

Dewayani (2018) dalam Panduan Pemilihan Buku Nonteks Pelajaran menyatakan bahwa anak usia dini harus ditumbuhkan minat baca mereka terhadap cerita melalui simbol makna seperti angka, huruf, gambar, dan bentuk simbolik lainnya. Pada usia ini, peserta didik tidak boleh dipaksa untuk dapat mengeja abjad melainkan dapat dibacakan.

Gayatri usia kurang lebih satu tahun. Sumber: dokumentasi pribadi.

Kalau berkaca dari keluarga kami, kecintaan ini pun tidak timbul begitu saja. Sesuai dengan apa yang saya kutip di atas, saya menarik beberapa persamaan dalam pola asuh kami (saya serta suami) dibandingkan dengan pola asuh orang tua, yang kami duga sebagai penyebab kegemaran membaca pada anak sebagai berikut.

  1. Orang tua senang mendongeng (berbicara) atau membacakan dongeng dari buku dengan suara yang jelas.
  2. Orang tua mengenalkan buku sedini mungkin.
  3. Orang tua menjadikan membacakan buku sebagai kegiatan rutin.
  4. Orang tua menjadikan kegiatan membaca buku bersama sebagai aktivitas yang menyenangkan.
  5. Orang tua sering mengajak ke perpustakaan atau toko buku.
  6. Terdapat pojok baca, atau setidaknya tempat khusus dimana buku mudah ditemukan di rumah.
  7. Last but not least, orang tua menjadi teladan suka membaca buku.

Berkaitan dengan poin 2, “mengenalkan buku sedini mungkin”, sejak usia berapa?

Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud (2018) membagi tahapan penjenjangan buku dalam Panduan Penjenjangan Buku Nonteks Pelajaran bagi Pengguna Perbukuan berdasarkan tahap perkembangan membaca pada Chall’s Stages of Reading Development (1983). Tahapan ini sesuai dengan perkembangan literasi anak dan lebih mudah dipahami landasan pentahapannya.

Sumber: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud, 2018

Berdasarkan bagan di atas, pengenalan buku sejak dini masuk dalam tahapan A. Pra Membaca. Kemendikbud menyatakan tahapan ini ada pada rentang 0 s.d. 3 tahun. Selaras dengan hal tersebut, Chall menyatakan bahwa tahapan Pre Reading atau juga disebut dengan Stage 0 (usia sebelum anak dapat membaca) atau Pseudo Reading dimulai pada usia 6 bulan sampai dengan usia 6 tahun.

Berhubung mulainya tahap Pra Membaca ada pada usia 0 tahun, maka penting bagi orang tua untuk menyadari kebutuhan anak akan adanya buku yang baik bagi perkembangan literasinya. Karena kita mahfum, anak pada usia tersebut, kebanyakan belum bersekolah dan masih senantiasa bersama orang tuanya.

Lalu bagaimana memilih bacaan yang tepat untuk anak usia dini?

Panduan memilih bacaan atau buku untuk anak usia dini atau pada tahap Pra Membaca adalah sebagai berikut.

Sumber: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud, 2018

Jujur, mencari buku yang sama persis dengan ketentuan di atas masih menjadi tantangan tersediri bagi saya. Terutama mencari buku dengan ilustrasi hitam putih. Namun, kata Ibu saya, jaman sekarang jauh lebih mudah untuk mendapatkan buku anak dibandingkan jaman saya kecil.

Jadi walaupun tidak sempurna betul, namun saya dan suami tetap mengupayakan adanya buku yang baik dan sesuai dengan usia Gayatri. Setidaknya sampai saat ini, kami rasa kami berhasil menanamkan kecintaannya pada buku. Semoga hal ini akan mengoptimalkan kemampuan literasi baca tulisnya di masa depan.

Gayatri usia kurang lebih tujuh bulan. Sumber: dokumentasi pribadi.

Sekali lagi saya ingin menekankan bahwa, literasi baca tulis dimulai dari rumah. Bukan saat anak mulai bisa membaca, atau ketika anak mulai sekolah, namun dimulai sedini mungkin. Pada tahap Pra Membaca pun, anak sudah bisa ditanamkan kegemaran membaca. Sebagai orang tua, kita harus menyadari pentingnya tahap Pra Membaca ini!

Terimakasih sudah membaca. Teriring doa, semoga anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini, memiliki tingkat literasi yang makin baik tiap harinya. Salam sayang!

#SahabatKeluarga

#LiterasiKeluarga

Daftar Pustaka:

Pusat Perbukuan dan Kurikulum Kemendikbud (2018). Panduan Penjenjangan Buku Nonteks Pelajaran bagi Pengguna Perbukuan. Dikutip 30 September 2019 dari Repositori Kemendikbud: http://repositori.kemdikbud.go.id/10404/1/Book%20Perjenjangan%20untuk%20Pengguna.pdf

Dewayani, Sofie (2018). Panduan Pemilihan Buku Nonteks Pelajar. Dikutip 30 September 2019 dari Repositori Kemendikbud: http://repositori.kemdikbud.go.id/10407/1/Panduan%20Pemilihan%20Buku%20Nonteks%20Pelajaran.pdf

Chall, Jeanne S (1983). Stages of Reading Development. Dikutip 30 September 2019 dari Learner: https://www.learner.org/courses/readwrite/media/pdf/RWD.DLU1.ChallsStages.pdf

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Tips Rukun Dengan Ipar, Mungkinkah?

Beberapa hari lalu saya posting foto bareng suami dan kakak ipar di Instagram. Entah apakah karena kami tampak kompak, karena kebetulan sama-sama pakai baju hitam, atau karena kompak tampak ginuk ginuk menggemaskan, ada DM masuk. Intinya menanyakan bagaimana tips rukun dengan ipar.

Netizen: Rukun ya, kasih tips biar bisa rukun dengan ipar dong….
Saya: Eh, emangnya kami rukun? Wkwkwkwk….
(Jawaban slebor ini tentunya sudah seizin kakak ipar ya….)

Hehehe, karena sesunguhnya, kalau dalam pikiran saya ya, definisi rukun dengan ipar itu sungguhlah relatif. Wong sama saudara kandung saja, ada aja salah paham atau ya selisih pendapat to. Trus, mau rukun yang seperti apa sama ipar yang jelas jelas berasal dari latar belakang yang berbeda. Itu dulu deh yang kudu disamaartikan. Biar nggak berharap yang berlebihan.

Saya sendiri baru punya ipar, sekitar 3 tahun jalan 4 tahun ini. Dengan tiga orang saudara suami, soalnya adik-adik saya belum ada yang menikah. Karena dua saudara suami tinggal di luar kota, saya paling dekat memang dengan kakak ipar yang ada di foto ini.

rukun dengan ipar

Definisi rukun kami si sederhana ya. Pokoknya kita tahu sama tahu tentang privacy masing-masing, dan saling berpikiran positif. So far si, belum ada pahit-pahit yang dialami ya. Kalau ngegas dikit-dikit kalau sedang cape atau bete, ya ada lah. Apalagi kalau pas PMS trus cembetut cembetut dikit, ya normal juga. Nggak pernah dibawa baper terlalu jauh. Semoga si bakal begitu terus sampai nanti ya. Aamiin.

Nah, kalau standar temen-temen tentang kerukunan umat beriparan sebelas dua belas seperti kami, ya mungkin tips berikut bisa diterapkan.

1 . Jarak = Privacy

Dulu pas awal saya pindah ke Surabaya, saya dan kakak ipar pernah ngobrolin tentang jarak rumah antar keluarga. Dalam hal ini kami sama-sama setuju kalau sebaiknya, rumah satu dengan yang lain tu jangan dempet. Atau malah satu rumah. Buat kami itu BIG NO NO.

Alasannya si karena privacy ya. Dan poin keduanya untuk mengurangi potensi gesekan, hihihi. Ya maklum lah, orang Surabaya kan terkenal kalau ngomong suka ceplas ceplos. Saya pun kadang saringan mulutnya rada jebol. Jadi daripada pas badmood, nyeletuk yang kurang pas, kan mending ada jarak di antara kita. Dengan ada jarak, jadi ada kesempatan untuk menyaring omongan.

Deketan di dalam satu perumahan, beda gang, masih oke lah. Jadi masih mudah kalau ada perlu, dan tolong menolong. Tapi masih ada ruang untuk privacy keluarga masing-masing.

Pernah denger pepatah, “Kalau jauh tercium cuma wanginya, kalau dekat tercium sampai bau-baunya”, tidak? Ya kira-kira begitulah….

2 . Internal Suami-Istri Kudu Beres Dulu

Kalau ini pendapat saya pribadi ya. Tapi kami juga pernah ikut konseling keluarga, dan Psikolognya berpendapat yang kurang lebih sama.

Bagaimana relasi kita di dalam keluarga pasangan, pasti dipengaruhi oleh bagaimana relasi internal suami istri. Kalau ipar atau mertua melihat pasangan kita menaruh hormat pada kita. Pasti ada respek yang juga menular.

Saya sendiri kan bukan tipikal Menantu Idaman ya sebenarnya. Hihihi…. Masak nggak jago, beberes rumah pun payah. Pokoknya banyak celah yang bisa digasak untuk dijadikan bahan celaan sebenarnya. Karena saya memang beda banget dengan kakak-kakak perempuan suami. Walau sama-sama ibu rumah tangga, tapi mereka lebih profesional gitu lah. Wkwkwk…. Kedua mama mertua saya juga demikian. Tapi sampai sekarang si, nggak pernah ada komentar yang frontal banget terkait ini.

Kalau dighibahin, si saya yakin ada aja lah. Ngaku dosa deh semua orang di negara ini, nggak ada yang 100% nggak pernah ghibahin anggota keluarga lain. Tapi yang penting kan nggak yang sampai nyela, nggak sampai nyinyir. Gitu aja uda bagus banget kalau di standar saya. Saya nggak pernah berekspektasi yang terlalu romantis terhadap hubungan antar manusia, btw.

Saya rasa, hal tersebut sedikit banyak juga dipengaruhi oleh rasa respek suami terhadap saya. Terhadap pribadi saya, maupun terhadap kemauan saya untuk belajar dan memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut. Salah satunya, demikian. MUNGKIN, hahahaha!

3 . Keluarga Suami, Suami yang Hadapi

Terkait dengan poin tadi, kalau saya dan suami punya kesepakatan ini. Kalau ada hal yang sensitif yang dibicarakan antar keluarga dalam keluarga besar Suami, maka dialah yang menjadi pembicara. Termasuk kalau (amit-amit), nantinya ada kesalahpahaman, beliaulah yang menjadi “penengah” atau”penerjemah”. Demikian juga sebaliknya. Kalau saudara saya atau orang tua saya membuat suami saya kurang nyaman, maka saya yang akan “maju”.

Tambahan dari Psikolog yang lalu saat konseling: Penting bagi pasangan untuk tahu batas “respek” pasangan lainnya. Tahu batasan, di hal apa pasangan akan merasa tersinggung. Tahu topik-topik apa yang sekiranya sensitif bagi pasangan.

Hal ini harus clear ya, jangan berdasar asumsi pribadi, tapi tanyakan pada pasangan. Saya dan suami cukup lama klarifikasi hal ini, karena kepribadian dan latar belakang yang berbeda, membuat sudut pandang kami berbeda. Yang awalnya saya kira enteng, ternyata bagi suami penting. Begitu sebaliknya.

Related Post: Suami Istri Ribut Rukun

Memang benar, kalau setelah menikah, keluarga suami adalah keluarga kita juga. Tapi yang patut diingat, darah bagaimanapun tetap lebih kental daripada air. Ngobrol sama Saudara sendiri relatif lebih nyaman dibandingkan dengan Ipar. Iya to…. Soalnya kita sudah jauh lebih kenal. “Bahasa”nya pun sama. Slah dan gasnya pun jauh lebih kita pahami. Jadi, harapannya diskusi jadi lebih lancar atau kalau berupa kesalahpahaman jadi bisa lebih mudah terurai.

Jangan sampai malah kebalikannya, saya sedang slek dengan suami, trus saya menjelek-jelekkan suami ke saudara saya. Ya sudah pasti, WAAARRRRRR!!!!

Begitu saja si, kurang lebihnya yang kami jalani. Yang saya syukuri, tentu saja karena kakak ipar saya bukan yang aneh-aneh ya. Tapi tidak menutup kemungkinan cobaan orang lain lebih berat. Saya yakin ada teman-teman yang sudah lebih lama membangun rumah tangga, lebih banyak merasakan pahit getirnya punya ipar, boleh banget loh, share tips rukun dengan ipar yang dimiliki, di komen. Terimakasih sudah mampirrr!!! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share