Menyiapkan MPASI Homemade: Antara Tenaga, Waktu dan Alat Masak

menu mpasi

Sebagai ibu bekerja dari setengah delapan pagi sampai jam lima sore, tantangan terbesar dari menyiapkan MPASI homemade adalah masalah tenaga dan waktu. Jujur yes, bangun pagi yang ada di pikiran cuma masak MPASI (kadang masak sarapan malah nggak kepikiran), pulang kerja yang dipikirin adalah bahan MPASI buat besok.

No. no, no, saya tidak sedang mengeluh. Jujur, masak MPASI untuk Gayatri adalah salah satu kegiatan stress release saya selain menulis. Apalagi saya sadar dengan masak MPASI sendiri saya bisa memastikan nutrisi yang masuk ke tubuh Gayatri sesuai dengan kebutuhannya. Tailor need gitu. Tapiiiii…. yang bikin setres adalah cucian alat masaknya. Hahaha….

menu mpasi

Tapi karena keterbatasan anggaran, saya nggak beli alat masak MPASI yang fancy. Hampir semua pakai peralatan dapur yang ada dan ditambah kado-kado lahiran. Misal: panci ya saya pakai yang memang sudah kami miliki, untuk ngukus kami pakai dandang atau rice cooker kecil jamanan ngekos, buat menghaluskan makanan saya pakai saringan besi atau blender segede gaban. Belum lagi mangkuk-mangkuk: untuk defrost, untuk menghaluskan/ menyesuaikan tekstur juga. Jadi ya kebayang kan gimana cuciannya hehehe….

Oiya, ada slowcooker, tapi itu cuciannya rada PR juga ya, soalnya berkerak. Harus direndem dulu, endebrai endebrai…. Kadang mikirin cuciannya itu yang bikin males masak. ūüėõ

That’s why saya iri dengan comment Mak Echa di FB tentang masak MPASI pakai Baby Food Maker. Dia bilang dengan satu alat, dia bisa melakukan banyak hal. Yang artinya, praktis, cepat serta cucian alat kotornya pun sedikit. Makin banyak waktu dan tenaga Ibu untuk memikirkan menu yang variatif atau bermain dengan anak. Kebayang kan enaknya….. Duh….

Iri

Iri

Iri

(bergema tiga kali biar manteb)

heheheMakanya pas The Urban Mama bareng Philips Avent bikin blog competition dengan hadiah Baby Food Maker ini, saya langsung bertekad ikutan. Mau tau apa aja alasan yang bikin saya ngir plus ngiler dengan alat masak satu ini? Cek ya atu-atu:

1 . Praktis

Sesuai namanya, 4 in 1 Healthy Baby Food Maker punya 4 fungsi dalam satu alat. Fungsinya itu 1) mengukus, 2) menghancurkan, 3) menghangatkan dan 4) defrost atau menyairkan. Semuanya dikerjakan dalam satu tabung ukuran 1.000 ml. Cukupan untuk masak beberapa porsi, namun ukurannya compact. Cuma perlu bersihin satu tabung saja untuk keempat fungsi di atas. Ohhh indahnya dunia ini….

baby food maker

2 . Nutrisi tetap terjaga

a. Avent Sahabat Ibu mendesain produk ini dapat mensirkulasikan uap dari bawah ke atas. Sehingga memastikan semua bahan matang merata. Kemudian semua nutrisi, tekstur, dan cairan yang dihasilkan disimpan untuk diblender kemudian. Ga ada yang terbuang seperti jika menggunakan peralatan masak yang berpindah-pindah.

b. Ada fungsi alarm (bunyi bip) yang mengingatkan Nyonyah kalau makanan sudah masak. Jadi meminimalisasi overcook, yang bisa merusak nutrisi makanan.

3 . Versatile sesuai tahapan usia

Dengan alat ini, Nyonyah bisa menyesuaikan tingkat kekasaran makanan dengan usia anak karena tersedia beberapa mode pengaturan kehalusan penghancuran makanan. Hal ini bermanfaat banget, karena kan selama ini kekawatiran sebagian ibu yang menggunakan blender adalah kesulitan menaikkan tekstur bubur bayi. Sementara kenaikan tekstur pada makanan penting bagi perkembangan kemampuan otot lidah, mulut dan rahang saat mengunyah dan belajar berbicara.

Kalaupun usia anak sudah seusia Gayatri (13 mo), alat ini pun masih bermanfaat sekali untuk menyiapkan variasi makanan. Saya membayangkan membuat saus tomat homemade dengan alat ini, untuk melengkapi pasta favorit Gayatri. Selain itu saya juga kebayang bikin dip in sauce dari buah-buahan untuk menambah nutrisi saat Gayatri makan biskuit. Jadi pas dia makan biskuit bisa dicelup-celup dulu, dan nambah vitamin deh. Yuuuummm!

ngiler

Duh…. mau bikin apa lagi ya….

Kayanya dengan menggunakan alat yang efisien, tenaga dan waktu yang digunakan jadi minimal, saya bisa lebih rajin berkreasi untuk memberikan makanan bernutrisi. Pada jadi kepengen juga nggak sih?

*

*

*

Artikel ini diikutsertakan pada #TUMBloggersCompetition #AventSahabatBunda. Nyonyah-nyonyah juga bisa mengikuti kontes promo Apresiasi Cinta Bunda loh, ketentuannya sbb:

ACB-PromoPage-1875-01ACB-PromoPage-1875-02

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Goodbye Sufor!

goodbye sufor

Gagal ASI eksklusif di semester pertama usia Gayatri tidak membuat saya putus asa untuk memperjuangkan ASI selama dua tahun. Hak bayi untuk mendapat nutrisi terbaik. Walau sempat menggunakan susu formula (sufor), puji Tuhan, saat ini saya bisa mengatakan “Goodbye Sufor!”

Ya, saya mengakui saya dan suami pernah mengambil keputusan memberikan sufor pada Gayatri. Keputusan yang membuat kami patah hati. Ceritanya seperti ini…. Saat itu, Gayatri didiagnosis sepsis sekaligus jaundice. Perawatan di perina adalah keharusan, dan kami tidak mendapatkan Rumah Sakit yang memiliki fasilitas penginapan bagi ibu. Kami tidak memiliki persiapan apapun, termasuk stok ASIP. Sambil mencari donor ASI, saya mencoba memerah payudara saya. Saya hanya mendapat ASIP 20 ml, dan kondisi kesehatan saya pun drop.

perinaGayatri dan Bapak saat di Perinatologi

Menjelang tengah malam kami mendapatkan donor ASI. Sayangnya, ASIP tersebut tidak bisa sampai saat jadwal pemberian susu berikutnya. Setelah berkonsultasi dengan Bidan, kami menandatangani surat izin pemberian sufor. Hari itu juga perkenalan pertamanya dengan dot. Alat yang ternyata menyimpan risiko bingung puting.

Maafkan orang tuamu ini Nak….

Setelah kami memiliki ASIP dari donor, sufor dihentikan. Dua kali sehari saya datang untuk direct breastfeeding dan mengantarkan ASIP. Saya pikir Gayatri tidak mengalami bingung puting. Karena dia tidak menolak menyusu, dan masih terasa hisapan mulutnya.

Baru setelah beberapa bulan kemudian saya mengetahui adanya bingung puting laten. Saya menyadarinya saat produksi perahan ASI saya perlahan berkurang kuantitasnya. Dari artikel yang saya baca dari portal The Urban Mama, saya jadi tahu jika penggunaan dot dapat membuat hisapan bayi menjadi lemah. Hisapan bayi yang lemah membuat pengosongan payudara ibu kurang maksimal, dan pada akhirnya menurunkan produksi ASI.

hiks

Menyesali keputusan kami sebelumnya, namun kami tak mau terlalu larut pada masa lalu. Kekawatiran saya adalah produksi ASI saya habis sebelum dua tahun. Jika itu terjadi, Gayatri akan kehilangan nutrisi yang sangat berharga di periode emasnya.

Dilema menggunakan dot cukup membuat saya stres. Bagaimana tidak, sebagai ibu bekerja saya “tergantung” pada dot. Cukup lama saya bertahan menggunakan dot yang lama, sambil mencari alternatif lain seperti soft cup, dll namun tidak berhasil. Antara Gayatri yang kesulitan atau Mama Mertua (yang mengasuh Gayatri) yang kesulitan.

Sementara itu, produksi ASIP makin kejar setoran, pumping hari ini buat besok, bahkan jam makan siang kadang saya harus pulang karena stok ASIP yang miris.

Pendek cerita, sebelum saya makin stres, saat itu ada rekan menawari saya botol susu Philips Avent yang varian Botol Natural 2.0. Thanks  Mbak Yunika! Bentuk botol dan nipplenya sendiri seperti ini:

dot1

dot2

Berdasar googling, saya mendapat info kelebihan botol tersebut sbb:

  1. Bentuk dotnya yang lebar seperti bentuk payudara, jadi proses pelekatannya atau latch on-nya mirip,
  2. Nipplenya berulir spiral sehingga lentur dan ada tingkatan usianya, jadi disesuaikan dengan kemampuan menghisap bayi,
  3. Tidak menetes jika tidak disedot, jadi bayi tetap harus mengeluarkan “usaha” saat menghisap.

Ketiga kelebihan di atas adalah kelebihan yang menjadi fokus saya untuk meminimalisasi bingung puting yang dialami Gayatri. Selain itu ada kelebihan lain seperti 1) bentuk botol yang ergonomis, 2) BPA free, 3) sistem anti kolik, dll.

ngedot di daycareGayatri 11 mo, minum susu di daycare.

Saya bersyukur setelah menggunakan botol Avent Sahabat Bunda produksi ASI saya mulai stabil. Tidak mengalami penurunan lagi. Saat ini, usia Gayatri 13 bulan dan sudah lebih dari dua minggu ini Gayatri tidak lagi mengonsumsi susu tambahan apapun. Full ASI dengan makanan pendamping yang sehat tentunya.

Saya yakin banyak urban mama yang mengalami hal yang sama. Peluk sayang. Pesan saya, “Gagal memberikan ASI eksklusif bukan berarti kita harus berhenti berjuang mengASIhi, tetap semangaaaat!” Yuk terus berjuang dengan mencari cara, peralatan dan dukungan yang tepat demi bisa memberikan nutrisi terbaik bagi buah hati kita.

*

*

*

Artikel ini diikutsertakan pada #TUMBloggersCompetition #AventSahabatBunda. Nyonyah-nyonyah juga bisa mengikuti kontes promo Apresiasi Cinta Bunda loh, ketentuannya sbb:

ACB-PromoPage-1875-01ACB-PromoPage-1875-02goodbye sufor

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Review Gendongan Mooimom Hipseat [First Impression]

gendongan hipseat mooimom judul

Kalau lihat temen-temen sesama ibu pakai gendongan wrap etnik kaya yang sering dipakai Andien Aisyah (Andien lagi Andien lagiiii), kadang tuh saya pengen loh. Soalnya kaya unik aja gitu ya. Cuma dari lubuk hati yang paling dalam saya tahu, kalau gendongan seperti itu not my thing. Saat terlahir kembali menjadi ibu, saya tahu persis kalau saya berjodoh dengan gendongan praktis.

Bukan berarti gendongan wrap itu nggak bagus loh. Cuma ya masalah selera dan kemampuan yak…. Halah ngomong aja kaga bisa make Nyaaah!!! Hahaha…. Iya si bener, saya emang nggak telaten buat makai gendongan yang dililit-lilit. Maunya yang ceklek ceklek jadi. Padahal kalau kondangan kan kece yak pakai gendongan kain yang match sama kebaya atau dress kita gituuu…. KETJEEE.

gendongan mooimom hipseat

But, ya memang beginilah saya, kaga telatenan.

Gendongan pujaan saya yang pertama adalah SSC yang bisa jadi hipseat. Saya pakai tiap hari buat nganter Gayatri daycare, kaga pernah ganti. Kena iler, tumpahan air, juga nggak pernah ganti. Soalnya nggak punya gantinyaaaa hahaha. Sampai dua minggu lalu, akhirnyaaa, saya punya hipseat baruuuu Sodara Sodaraaa! Bisa buat ganti gendongan sebelumnya yang uda buluk karena dipakai terus.

Yang bikin saya happy, ini lokal asli Indonesia loh jadi ukurannya lebih ngepas buat bayi lokal.

Dalam kehidupan sehari-hari, saya hanya menggunakan gendongan paling lama setengah jam. Yaitu pada saat antar jemput Gayatri ke daycare. Atau kalau weekend, saya pakai pas perjalanan menuju satu lokasi. Di lokasi si biasanya Gayatri saya umbar lagi, merangkak atau jalan.

Walaupun tidak lama, namun gendongan ini cukup krusial buat saya karena beberapa hal:

  1. Menyangkut keamanan bayi
  2. Menyangkut kenyamanan/ kesehatan bayi
  3. Menyangkut kenyamanan ibu
  4. Menyangkut produktivitas ibu

Jadi saya akan bahas produk ini dari sudut pandang keempat hal di atas ya….

1 . Keamanan Bayi

Kekawatiran terbesar saat gendong bayi menggunakan gendongan adalah gendongannya lepas karena jahitannya kurang kuat atau pengaitnya lepas.

Dalam hal ini saya acungi jempol mooimom. Seperti produknya yang lain, jahitannya kuat. Beberapa pengait juga memiliki penahan sbb:

gendongan resleting

gendongan ceklekan

gendongan pengait

Sandaran punggungnya karena didesain bisa untuk hadap depan juga, jadi agak pendek kalau dipakai dengan posisi bayi menghadap ibu. Desain ini sisi positifnya adalah bikin pergerakan kepala anak jadi bebas, nggak ngunci di satu arah aja. Selain itu desain ini bisa jadi alternatif buat bayi yang selama ini kelelep kalau pakai produk gendongan impor. Namun, harus dipastikan anak tetap terjaga aja selama digendong. Biar kepalanya nggak tiba-tiba jatuh ke belakang.

Buat emak rider kaya saya penambahan fitur kain penahan kepala¬†sepertinya perlu dipertimbangkan deh. Gayatri suka ngorok kalau dibawa naik motor soalnya, hehehe. Apalagi Gayatri kan tinggi menjulang yak, ya jadi kadang gitu deh, bahasa jawanya ngaglik aglik, hehehe….

gendongan hipseat mooimom judul

Poin keamanan berikutnya adalah karena modelnya ringkas. Jadi kalau naik kendaraan saya tidak kawatir ada kain atau tali yang nyangkut atau nyrimpet. Kan serem euy, amit-amit, jangan sampai terjadi.

  1. Kenyamanan/ Kesehatan bayi

Dengan adanya dudukan hipseat, yang aku rasakan Gayatri (12 mo) duduknya lebih nyaman ya. Dia bisa duduk selayaknya duduk di kursi biasa. Nggak ngangkang secara nggak normal. Ini jadi perhatian saya, khususnya untuk mencegah selangkangannya mengalami cedera.

Struktur gendongannya juga nggak njepit bayi ke tubuh saya. Jadi dia tetap duduk tegap. Nggak mleyat mleyot. Saya juga nggak gerah gerah amat jadinya.

Selain dudukan dan struktur gendongan, yang mendukung kenyamanan bayi adalah bahan yang digunakan. Yang pertama, kain yang digunakan 100% katun. Jadi Gayatri nggak iritasi saat kulitnya bergesekan dalam gendongan. Yang kedua adalah bahan bantalan dudukannya. Menurut saya, dudukan mooimom ini relatif lebih empuk dari hipseat kepunyaan saya sebelumnya.

gendongan dudukan

  1. Kenyamanan Ibu

Hipseat mooimom ini paling nyaman kalau dipakai dalam posisi berdiri atau berjalan kaki. Bebannya nggak berasa numpuk di pundak. Mungkin karena ketahan di pinggang ya. Jadi terdistribusi gitu bebannya.

Lumayan lho bok, Gayatri 12 bulan ini sekitar 10,5 kg. Trus saya kan mungil gitu…. Langsing kaya Jenifer Bachdim. Jadi ya kadang berasa encok aja kalau gendongannya nggak support.

Tapi kalau dipakai gendong sambil duduk ya ngganjel itu dudukannya. Kalau dipakai boncengan naik motor, pemboncengnya juga pasti kesodok sodok dudukan. Hihihi, suami pernah kesodok soalnya. Tapi semua hipseat ya gitu, risiko ada dudukannya kan.

Oiyaaa, satu lagi yang bikin nyaman adalah strap di pundaknya empuk, jadi nggak terasa teriris iris sembilu. Trus ada saku kecilnya, lumayan kalau belanja nggak perlu nenteng dompet, tinggal selipin duit disitu sambil berdoa semoga nggak jatuh atau kecopetan.

  1. Produktivitas Ibu

Gendongan ini mendukung produktivitas ibu bangeeeeet! Soalnya bikin tangan kita jadi bebas dan bisa mengerjakan hal-hal lain sambil menggendong. Misal pas belanja, satu tangan bawa keranjang satu tangan ngambilin belanjaan kan? Bisa! Contoh lain sambil jemur pakaian, nyapu, atau makan!

Iya makan! Poin makan ini penting yak, soalnya ibu harus makan dengan bener dan tepat waktu. Even bocah lagi manja dan pengen digendong terus, ibu harus tetep makan.

Yang kedua, karena pemakaiannya praktis. Terutama bagi saya ya, yang memang menggunakan gendongan untuk antar jemput Gayatri di daycare sebelum dan sesudah ngantor.

gendongan mooimom

Jadi nggak ribet makai gitu. Selesai siap-siap, tinggal klek klek klek pasang pengait uda kelar. Cepet, jadi nggak telat ngantor. Hihihi…. #timmepet. Soalnya kalau ampe telat potong tunjangan boook. Hihihi…. Pas jemput do daycare juga praktis, saya bisa masang gendongan pas di daycare dengan cepat.

So far baru itu aja si yang bisa saya bahas dari hipseat ini. Soalnya barang baru punya 2 minggu yak. Saya belum banyak berkesempatan melakukan tindakan akrobatik pakai gendongan ini. Jadi ya nggak bisa terlalu banyak cerita, gimana kalau dipakai ke depan, ke samping sambil nungging dll. Hehehe, IMHO pada dasarnya saya juga lebih suka gendong dengan mode hadap berpelukan. Walaupun sebenarnya hipseat ini infonya bisa buat gendong 360 derajat.

Where to Buy:

Web Mooimom

FB Mooimom

IG @mooimom.id

Sekian sharingnya Nyaaah, semoga bermanfaat bagi yang sedang nyari review produk gendongan yaaa…. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

MPASI On The Go, Bukan Panduan MPASI saat Traveling

MPASI on the go

Awalnya saya nggak berniat menuliskan MPASI¬†saat traveling versi Gayatri karena MPASI yang saya sediakan¬†bukan yang perfeksionis-perfeksionis amat. Merasa takut menyesatkan. Hehehe….

Namun karena mbak Gusti Tia @tiasangputri request, trus kebetulan di hari yang sama temen lain juga nanya via WA group, ya udah saya tulis aja yak. Sekali lagi, sesuai judul MPASI on the go versi Nyonyamalas ini bukan panduan (karena memang banyak hal yang nggak ideal), sifatnya hanya sekedar sharing pengalaman.

MPASI on the go

Pertimbangan MPASI saat Traveling:

1 . Standarnya berbeda dengan saat di rumah, kepraktisan jadi prioritas juga.

Saya menekankan baik-baik di pikiran saya, yang kadang suka kumat perfeksionisnya, kalau kondisi di rumah dan di “jalan” itu berbeda. Saya harus belajar untuk fleksibel dan juga concern terhadap kepraktisan. Standar yang berbeda kalau di rumah dengan di jalan terutama ada pada jenis menu yang dipilih, yaitu saya akan memilih menu-menu yang mudah diolah.

Prioritasnya bisa diurut sbb:

  • Yang tetap jadi prioritas utama tentu adalah kebersihan.
  • Prioritas selanjutnya adalah meminimalisasi makanan yang berisiko memicu alergi.
  • Kepraktisan naik pangkat prioritas ni kalau saat traveling.
  • Kelengkapan menu empat bintang juga tetap saya usahakan.
  • Menu non garam juga saya perhatikan, namun tidak seketat di rumah.

Toh bocah tidak akan langsung anemia cuma karena nggak makan daging sapi selama dua hari traveling. Katakanlah begitu. Tapi kalau kebersihan bisa bahaya sih, kan bisa kena diare di perjalanan dan itu fatal. Maka dari itu kebersihan nomor satu, utamakan selamat. Kelengkapan menu jadi prioritas yang lebih rendah.

2 . Jaga berat bawaan.

Peralatan MPASI kan sebenarnya bisa sedikit bisa juga banyak. Nah kalau di jalan saya akan meminimalisasi membawa peralatan yang berat-berat. Atau kalau bisa malah nggak membawa alat masak sama sekali.

3 . Kenali lokasi penginapan.

Saya tidak anti untuk membeli makanan untuk Gayatri, dan memodifikasinya menjadi makanan bayi. Tentu untuk dapat melakukannya saya harus mengenali lokasi penginapan terlebih dahulu. Seperti di poin 1 tadi, tentu kebersihan adalah nomor 1 ya. Saya berani makan/ beli makan buat Gayatri kalau sebelumnya saya pernah makan di tempat tersebut.

4 . Rileks.

Saya traveling biasanya karena ada acara keluarga, kerjaan kantor atau liburan. Ya saya mau fokus untuk mengerjakan hal-hal tersebut. Even untuk liburan pun saya mau fokus liburan. Hahahaha…. Saya nggak pengen juga karena saya ribet masak, eh kepasan bocah juga lagi malas makan trus saya jadi bad mood sepanjang perjalanan.

Berikut saya jembrengin pengalaman saya ya. Nyonyah pasti akan menemukan banyak kekurangan, jadi mohon jangan berekspektasi terlalu tinggi yak. Ya memang beginilah kenyataannya sih…. Heeee….

Umur 6 bulan –¬†7 bulan

Umur segini paling saya bawa Gayatri main di sekitaran Jakarta aja. Jadi ga terlalu masalah. Karena ga terlalu lama, bisa bawa bekal makanan (bubur). Kalaupun ga bisa bikinkan bubur, saya bawa¬†pisang atau alpukat. Di jalan tinggal kerok. Tadi saya coba ubek-ubek Galery handphone dan nemu foto ini…. Tapi ini saya lupa pastinya umur berapa kayanya si sekitar 7 atau 8 bulanan deh…. bekalnya kaya gini hehehe….

kantor

Bagaimana kalau harus menginap? Akankah Nyonya bawa slow cooker dll?

Jawabannya Tidak. Karena di rumah, walaupun ada slowcooker, saya terbiasa masak bubur pakai panci atau alat lain yang ada. Biasanya panci tersedia kalau di penginapan yang ada kitchenettenya.

Paling saya bawa 1) saringan dan 2) parutan keju kecil. Alasannya karena nggak semua tempat menginap menyediakan dua benda ini. Lagipula dua benda ini versatile serta ngebantu banget untuk bikin MPASI, dan ukurannya keciiiiillll. Tinggal diselipin di diaper bag aja muat.

Trus gimana kalau mau menu empat bintang Nyah?

Kembali lagi, sesuaikan dengan lokasi penginapan. Sebisa mungkin cari penginapan yang memungkinkan kita berbelanja jika memang ingin memasak di lokasi traveling. Pilih bahan yang mudah disaring pakai saringan. Jangan pula beli daging sapi yang ga digiling, misalnya. Masak bubur pakai panci. Saring.

Lhah kalau di penginapan?

Nhaini memang agak tricky sih kalau nginepnya nggak di rumah Saudara. Tips dari saya si, better sewa apartemen harian atau mingguan ya daripada hotel. Karena di apartemen biasanya ada dapur kecil, dan biasanya juga dekat dengan pusat perbelanjaan.

Saya baru sekali bawa bayi nginap apartemen harian, yaitu pas di Surabaya. Nyewa satu unit Puncak Kertajaya untuk tiga hari. Lebih murah kok daripada hotel. Dan di dekat situ dekat Giant dan Superindo. Ada dapur sederhana, yang penting ada kompor, panci satu dan alat makan. Aman.

Di situ juga ada kantin yang jual gado-gado. Itu rebusan sayur (labu siam, dll), tahu goreng, kentang atau lontong, bisa dialusin jadi bubur bayi kalau kepepet. ūüėõ Hehehe…. Disclaimer: Suami dulu tinggal di apartemen ini setahunan, cuma beda tower, jadi dia tahu kantin mana yang layak diacungi jempol kebersihannya.

Saya punya food processor Nyah? Menurut Nyonyah gimana?

Saya nggak punya si, jadi nggak bisa cerita tentang food processor. Mohon maap. Hehehe….

Trus kalau mau bawa alat masak segambreng salah nggak?

Ya enggak papa juga si. Kalau bawa mobil sendiri, apa lagi, ya monggo. Itu tadi versi saya yang pulang kampung atau traveling-nya biasa ke luar kota dan kendaraan yang digunakan adalah pesawat. Sesuai Prinsip MPASI on the go versi Nyonya: Jaga berat bawaan.

setrong

Umur 8 bulan

Umur ini adalah masa paling ekstrim, karena saya sering bolak balik RS nganter Mbah Uti dan juga suami yang opname. Karena ga ada pengasuh, terpaksa Gayatri sering saya bawa ke RS atau ke kantor. Jujur kadang kasian juga sama anak. Tapi bersyukurnya, kami diberi kesehatan dan kekuatan. Setiap pergi-pergi sama juga saya bawa bekal makanan dari rumah.

Pernah, suatu saat saya tidak ekspektasi kalau observasinya Mbah Uti akan lama, dan nggak bawa makanan bayi. Saya melipir ke kantin untuk minta dibuatkan puree alpukat, tanpa gula, es dan susu. Syukurlah kantinnya mau membuatkan. Dengan berdoa, semoga alat makannnya bersih, puree alpukat jadi pengganjal makannya bocah.

Pernah juga saya pesan nasi tim ayam di Kantin Eka Hospital. Memang ini ga ideal untuk dilakukan, walaupun kantinnya bonafid dan bersih, namun bagaimanapun kita tidak bisa menjamin apa yang terkandung di makanannya. Termasuk juga kandungan garamnya. But, kalau sudah darurat, saya pilih yang terbaik yang bisa didapatkan dulu.

Umur 9 bulan – 10 bulan

Umur segini saya sudah mulai merasa mudah, karena Gayatri uda bisa makan makanan keluarga yang dimodifikasi. Saya menyiapkan makanannya dari makanan saya, hehehe. Cuma konsekuensinya, saya harus memilih makanan yang mungkin untuk saya modif jadi makanan bayi.

Pas di usia ini yang laing berkesan buat saya adalah traveling ke Yogyakarta. MPASI saat traveling-nya Gayatri saya bagi menjadi 2 sistem: sarapan di hotel dan selain sarapan makannya di luar.

sheraton

1 . Sarapan di hotel

Kurang lebih 4 hari saya menginap di Sheraton Mustika Hotel, dan so far seneng banget dengan menu-menu yang tersedia di sana karena bisa di modif jadi makanan bayi. Tiap hari berbeda si, tapi yang pasti di sana ada salad bar, omelet dan juga juicer yang ready buat digunakan secara custom. Beberapa paduan menu yang berhasil saya coba kulik:

1) Tofu, nasi, brokoli rebus, potongan ayam rebus dari stall soto,

2) Omelet, kentang, tomat panggang, tahu,

3) Kentang, omelet, wortel rebus, kacang merah rebus,

4) Kentang, buncis, ikan goreng (emacam dori/ gurame tepung dikuliti tepungnya).

Apalagi yaaa…. Ada yang uda kelupaan juga, hehehe…. Prinsip empat bintang sebisa mungkin saya pegang. Karbonya bisa dicari aja keliling resto, bisa diganti bubur ayam, lontong, ketupat, etc etc etc….

2 . Makan di luar

Menu resto yang paling lazim dan ada di mana-mana yang biasa saya pesan untuk Gayatri adalah ikan bakar (bumbu dipisah). Kulitnya dikupas, daging ikannya dilumat, sama lalapannya timun atau tomat bisa juga jadi finger food ala-ala. Trus apalagi ya, di PHD ada salad bar. Cuma kentangnya uda dicampur mayo. Kalau mau, dicuci bentar pakai air mineral. Salad barnya PHD malah ada kacangmerah, wortel rebus dll-nya. Kalau di Marugame Udon, beli kaldu ikan/ ayamnya terpisah itu murni kaldu loh, nggak pakai garam. Bisa jadi opsi lain buat makan di luar juga.

Yang aman tapi mahal ituuuuu Hanamasa. All you can eat dan “masak sendiri” kan, jadi bisa ngasih daging, sayur, tofu, nasi, dan segala macemnya ke bocah. Tapi nggak mungkin juga ye kita makan tiap hari di Hanamasa. Bisya bisya Bapak syewot bayarnya….

hehehe

Selain itu saya bawa makanan siap saji khusus bayi juga si. Saya bawa Heinz sama Milna biskuit. Gayatri pas umur segini entah kenapa ga doyan makanan instant bubuk. Heinz dan Milna ini jadi kaya last resource banget, daripada nggak makan.

Umur 11 bulan Р12 bulan

Usia ini mah sama seperti makanan di poin sebelumnya, bedanya saya sudah nggak mikir ngalusin lagi. Syukurlah Gayatri naik teksturnya lancar, jadi uda bisa makan nasi. Yang jadi perhatian dan PR bagi saya adalah meminimalisasi asupan garam dan memilih tempat makan dengan kebersihan makanan yang terjamin. Untuk alat makan, saya tetap prefer bawa alat makan sendiri.

Menjelang satu tahunnya Gayatri, kami liburan ke Surabaya dan Bromo, di sini lah MPASI paling koboi yang pernah saya lakukan. Soalnya mostly makanan yang tersedia adalah makanan family yang uda full bumbu. Tapi ya sudahlah uda mau setahun ini ya…. Maafkan ibu ya naaaakkk!

kuat

Hmmm…. jadi banyak juga yak bahasan MPASI saat travelingnya, hehehe…. Semoga sharing kali ini bermanfaat ya Nyaah…. Feel free untuk berbeda pendapat loh. Boleh juga memberi masukan atau berbagi pengalaman selama ini…. Terimakasih sudah mampir, salam sayang selalu….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Arti Nama Gayatri

arti nama gayatri

Nama Gayatri akhir-akhir ini jadi beken ya, gara-gara cucu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono diberi nama ini. Saya jadi sering dicolek colek sama temen, eh nama cucunya SBY sama ama anakmu. Suami saya cuma komen, “Ih, Ibas nggak kreatif banget sih”. Hahaha…. Songong, padahal kami juga mengetahui arti nama Gayatri juga dari nama orang lain.

Ya, nama orang lain. Adalah Gayatri Sri Rajapatni, putri Majapahit. Dialah tokoh yang menjadi inspirasi nama anak perempuan pertama kami. Gaya banget yak, namanya ada Gaya-gayanya, literaly GAYA loh!

Btw, nama anaknya Ibas Gayatri juga, tapi panggilannya Gaia. CMIIW. Gaia yaa bukan Gaya. itu totally different! #apasi sayaaaaa, hahahaha….hehehe

Arti kata Gayatri sendiri berarti memiliki banyak kelebihan. Sesuai namanya, Beliau memang memiliki banyak kelebihan. Namun bukan itu yang paling memesona dari diri Gayatri Sri Rajapatni bagi kami. Yang paling memesona adalah jalan hidup dan pilihan yang dia ambil. Seharusnya bisa menjadi raja namun memilih menjadi biksu.

Saking terpesonanya dengan kepribadian dan karakter yang dia miliki kami memilih nama Gayatri, teriring doa semoga anak kami meneladani yang baik-baik dari beliau.

1 . Dia tau apa yang menjadi panggilan hidupnya dan menghidupinya.

Karena nama Gayatri sendiri tidak seterkenal tokoh Majapahit lain, saya pengen ngomongin tentang siapa sih dia dengan sedikit lebih detail. Karena ngomongnya rada sejarah yang mana bukan keahlian saya banget, mohon koreksi kalau ada salah-salah yak.

Once a time a go….

Hiduplah seorang Gayatri yang disebut disebut Rajapatni. Rajapatni artinya adalah pemimpin para istri utama Raja Majapahit atau bisa juga disebut istri kesayangan Raden Wijaya. Sementara prameswari (istri yang berusia paling sepuh, CMIIW) Raja saat itu adalah¬†Tribhuaneswari. Seperti kita tahu bersama-sama, Raja jaman dulu biasa memiliki istri lebih dari satu. —–> ini saya nggak berharap Dedek Gayatri (anak saya yang bukan Rajapatni) akan mengalaminya sih.

Setelah Raden Wijaya wafat, tahta turun kepada Jayanegara putra Wijaya dengan Tribhuneswari. Setelah Jayanegara wafat dalam intrik politik, ada yang berpendapat bahwa tahta kemudian turun kepada Gayatri Sri Rajapatni, sebagai istri utama raja pendahulu.

Namun, apakah kemudian Gayatri menjadi raja? Tidak. Beliau memilih menjadi seorang biksuni Budhist. Dan kemudian menyerahkan tahta kepada Tribhuwanadewi putrinya. Sampai di sini, tentu nama Tribhuwanadewi sudah familiar yak? Saya akan stop di sini cerita sejarahnya.

Saya kagum loh. Gayatri menolak menjadi raja dan memilih tetap menjadi biksuni.setrong

Bukan berarti menjadi pemuka agama lebih mulia dari pada menjadi pemimpin bangsa ya. Saya meyakini masing-masing orang Tuhan beri panggilan hidupnya masing-masing. Yang masing-masing itu spesial, tidak ada yang lebih mulia dibandingkan yang lain.

Namun banyak orang yang kesulitan setia pada panggilan hidupnya karena ketakutan atau tertarik dengan kekuasaan. Hal tersebut yang saya kagumi dari Gayatri Sri Rajapatni.

Saya berharap Gayatri, anak kami pun demikian. Mampu mengenali dan menghidupi panggilan hidupnya dengan tulus. Being the best version of her self. Bukan versi orang lain, atau yang populer semata. Kami berdoa biarlah Tuhan yang menolong kami membimbingnya.

2. Menolong banyak orang menjadi the best vesion of them selves.

Trus lagi ya, menurut buku Gayatri Rajapatni karya Earl Drake, dinyatakan bahwa Gayatri adalah seorang mentor bagi Gajah Mada, Hayam Wuruk dan Tribhuwanadewi. Tiga tokoh besar dunia persilatan sekaligus! Memang tidak bisa dibilang jika ketiga tokoh tersebut adalah tokoh yang sempurna. Dengan segala hormat pada penduduk Jawa Barat, saya ingin menyoroti hanya tentang bagaimana ketiga tokoh tersebut berhasil membangun kejayaan Majapahit. Dan terutama pada peranan Gayatri di balik panggung kepemimpinan mereka.kuat

Makin keren kan, dia di mata saya….

Pertama dia tak hanya bisa being the best version of her self. Kemudian dia pun bisa menolong banyak orang menjadi the best vesion of them selves. Atau setidaknya menjadi orang yang menolong orang lain menjadi dirinya yang lebih baik.

Hampir 10 tahun kerja di training center buat bos bos, membuat saya memahami pentingnya seorang mentor bagi seorang pemimpin. Namun juga memahami sulitnya menjadi mentor yang baik bagi seorang pemimpin. Gayatri Sri Rajapatni pastilah seorang yang memiliki hati yang bijak, kepekaan perasaan, namun sekaligus otak yang cerdik jika sampai bisa “mementori” tokoh-tokoh besar Majapahit.

Berharap banget Gayatri anak saya pun bisa demikian. Diberkati dan kemudian juga menjadi berkat bagi orang lain. Amin…. Kayanya harapan semua orang tua yak? Hehehe….

Apalah arti sebuah nama….

Prosesi pemberian nama sendiri kadang nggak semudah yang dibayangkan yak. Karena biasanya pasa simbah pengen turut sumbang nama. Itu juga yang terjadi pada kami. Pertanyaan yang diajukan adalah, “Kok namanya nggak ada alkitab-alkitabnya?”. Hehehe….

Sebenernya saya menyiapkan nama Priskila untuk anak saya. Sifat Priskila dalam alkitab mirip-mirip dengan Gayatri Sri Rajapatni. Namun, di perjalanannya saya dan suami akhirnya memilih nama Gayatri.

arti nama gayatri

Kata Pakdhe Shakespeare, mawar akan tetap wangi walaupun namanya bukan mawar. Enel uga sih…. Tapi sebagai orang tua tentu pengen memberi nama yang baik yak, supaya jadi doa juga bagi anak. Saya yakin Ibas juga punya alasan khusus saat memberi nama Gayatri bagi putrinya. Entah alasannya sama dengan kami atau tidak, namun saya yakin pasti inginnya yang baik-baik lah ya.

Gimana pendapat Nyonya? Apakah punya alasan khusus saat memberi nama putra/ putrinya? Sharing yuuuk di comment section ūüôā

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Merencanakan Liburan Bareng Bocah ala Nyonyamalas

merencanakan liburan bareng bocah

Setahun ini saya sering wara-wiri, ke Surabaya,Yogjakarta, Semarang, Pati, Purworejo ¬†lalu yang terakhir ke Bromo. Sayangnya hampir sebagian besar perjalanan kami itu bukan liburan yang selow…. Sebagian family matter (pemakaman, kondangan, dll) atau kalau engga liburan campur bus-trip kantor atau bareng sama bus-tripnya keluarga. Tetep seneng sih, tapi kemarin Tuan Besar mancing-mancing pengen jalan bertiga aja, murni liburan 100%. Yeah, wishlist 2018: liburaaan!

Kemana? Doain ada rejeki yak, biar kami bisa ke Bali (lagi). Terakhir kami ke Bali, pas belum ada Gayatri. Pure, bondo nekat, impulsif dan tanpa persiapan. Waktu itu kami ke daerah Kuta, yang turis banget. Hihihi, sekarang kami pengen liburan yang rada bener dah kali ini, tetep ke Bali tapi yang lebih syahdu. Tepatnya, ke Nusa Penida.

Kenapa ke Nusa Penida?  Yang pasti karena saya butuh vitamin sea dan juga butuh tempat yang masih bisa saya capai bareng bocah. Masih dendam kemarin ke Bromo ga bisa ke kawahnya gegara harus berangkat pagi dan ga tega bangunin Gayatri demi liat sunrise. Tapi pengen. Huh!

Ni saya pamerin foto Nusa Penida:

merencanakan liburan bareng bocah

Pengen bener dah, saya tu duduk duduk di bawah salah satu payungnya. Doain ya jemaah biar kesampaian ni wishlistnya….

Oiya balik lagi ke laptop… Tentang merencanakan liburan bareng bocah.

Beberapa waktu lalu saya sering banget mengeluarkan (((mengeluarkan kaya album aja))) artikel yang terkait dengan traveling bersama bocah. Ada lima artikel kayanya, mulai dari bawa bayi naik pesawat usia 4 bulan, review 3 maskapai pesawat low cost, review 3 maskapai full service, pengalaman bawa bayi naik pesawat usia 9 bulan sampai review diaper bag yang travelling friendly. Mungkin karena banyak sharing terkait itu, jadi ada beberapa yang nanyain tentang tips merencanakan liburan bareng bocah.

Sejujurnya saya bukan ahli merencanakan liburan ala-ala traveller atau backpacker yak. Kalau mau travelling saya akan nongkrongin tetangga kubikel saya (Kang Irpan) buat minta advices. Hehehe, tapi berhubung uda lumayan sering ya dikit-dikit uda mulai ngerti polanya.

Berikut pola merencanakan liburan ala saya. Nothing special, tapi saya yakin essentials.

1 . Bedakan traveling jaman single dengan jaman uda bawa anak.

Ada beberapa perbedaan antara traveling jaman saya masih sorangan dengan jaman now dimana sudah punya gembolan satu orang anak. Perbedaan yang paling terasa adalah di persiapan akomodasi. Yang dulu bisa nyantai go show, sekarang nggak mungkin go show lagi. Nggak mungkin tega membayangkan kemungkinan terburuk: menggelandang di stasiun atau bandara nunggu moda transportasi dari satu titik ke titik tujuan lain sambil gendong bayi.

Oke mungkin orang lain tega, tapi saya kagak!

hiks

Untuk itu yang pasti saya lakukan adalah Beli Tiket Online dan juga memesan Hotel online (kalau nggak menginap di rumah Saudara).

Saya tadi iseng cek email suami, tenyata pemesanan tiket pesawat kami di traveloka ada hampir dua lusin. Kalau pemesanan hotelnya baru setengah lusin. So far, kalau ditanya biasa pesen tiket dimana, saya akan jawab traveloka. Ada yang sama?

Keuntungannya kita memesan hotel terlebih dahulu adalah kita bisa memilih hotel yang sesuai dengan kebutuhan bocah. Misal: saya pernah memesan satu kamar apartemen di Surabaya saat Gayatri baru-barunya MPASI. Kami memilih unit tersebut karena kami butuh ada kitchenette, lagipula murah. Kalau nggak salah waktu itu dapat Apartemen Puncak Kertajaya. Pas Gayatri uda mulai bisa makan MPASI yang diadaptasi dari makanan orang dewasa, saya sudah lebih fleksibel memilih penginapan.

2 . Hemat tanpa mengorbankan kenyamanan.

Kalau pas bussiness trip sih enak ya, karena penginapan dibayarin kantor. Dan biasanya pun ada corporate rate yang relatif lebih murah daripada rate yang dipajang di resepsionis hotel. Percaya nggak, saya pernah dapat Sheraton Mustika Yogyakarta di harga nett 700k???

Kalau nggak sedang pakai corporate rate emang harus lebih tricky sih. Biar dapat harga murah meriah tanpa harus merogoh kocek terlalu dalem. Kalau advicesnya Kang Irpan si, mesen tiket pesawat + hotelnya milih yang paketan dari Traveloka. Pakai promo-promonya, kalau punya poin gunakan. Trus kalau ada promo kartu kredit, dll juga jangan lupa bandingin, pakai promo yang paling menguntungkan. Hihihi….

Masa dong, dia cerita pernah merencanakan liburan ke Bali (Legian) 4 hari, tiket (dari Bandung) ama hotel all in untuk 2 orang dewasa + anak, yang tadinya 5 juta jadi 3,2 juta. Hemat 1,8 juta karena memanfaatkan fitur paketan dari Traveloka tersebut. Okelah, 3,2 juta utnuk empat hari, mungkin buat beberapa orang masih lumayan yak…. Temen-temen yang backpackeran mungkin bisa bilang bisa nyari akomodasi yang lebih miring lagi. But, buat saya dan buat mas Irfan tadi, backpakeran dengan bawa bayi is a NO! Hehehe…. Dan saya nggak bakal nolak bisa hemat 1,8 juta buat akomodasi perjalanan.

Iseng-aja aku bikin studi kasus buat wishlist kami di Nusa Penida tadi yak pake paket pesawat hotel traveloka:

paketan hotel pesawat traveloka

Jadi pesan paket pesawat+hotel secara bersamaan lebih hemat dibanding pesan terpisah, infonya sih hematnya bisa sampai 20% tanpa kode promo apapun. Tapi bisa juga lebih hemat lagi karena sering ada promo seperti di bawah ini:

promo traveloka

Dengan beli paketan + promo berarti biayanya sekitar 3.3 juta yak…. Kelebihan lainnya juga karena sistem paketan ini lebih praktis dan saving time, cara pembayarannya pun mudah dan tersedia banyak metode pembayaran. Cucok meong buat orang yang malas cerdas kaya saya!

Bandingin kalau harus beli tiket pesawat sendiri:

tiket pesawatBiaya hotelnya:

biaya hotel

Total Biaya jadi: 4,1 juta. Hehehehe, jadi¬† yak, untung sekitar 800 rebuuu. Mayan banget tu 800 rebu buat nambahin bayar sewa motor seminggu atau buat nambahin jajaaaaaannnn…..

ngiler

3 . Persiapkan dan perhitungkan barang bawaan.

Selain dua hal di atas, hal lain yang paling krusial dalam travelling bersama bayi adalah masalah barang bawaan. Rules mempersiapkan barang bawaan bagi saya:

  • Barang yang bisa dibeli di lokasi sebaiknya beli di lokasi, ini berlaku terutama untuk barang-barang yang sekali pakai seperti: DIAPERS BAYIIIIIII. Uda gede banget kan kalau bela-belain bawa dari rumah. Menuh-menuhin bagasi, bikin repot. Tapi jangan lupa untuk memastikan kalau di dekat lokasi liburan ada minimarket itu tuh, yang selalu tetanggaan. Biasanya si barang meraka kumplit. Hehehehe….
  • Maksimal bawa 2 tas punggung (travel bag) + 1 diaper bag atau 1 tas punggung + 1 koper + 1 diaper bag. Itu maksimal banget yak. Paling sering kami bawa satu travel bag + 1 diaper bag. Kenapa itu maksimal banget, karena kami juga masih harus ngawasin satu bocah yang beratnya hampir 11 kilo dan uda lincah jalan ke sana kemari…. Atau kadang ngesot ke sana kemari…. Hahaha….
  • Kalau bisa sebagian barang dipaketkan, paketkan saja dulu. Ini terutama kalau tujuan liburannya ke rumah Saudara yak. Dan jangan lupa pastikan itu barang sampai tepat waktu. Ga lucu juga kita uda mau pulang, ehhhhh paketannya baru nyampe. Bisa nggak ganti sempak seminggu kan.

Itu aja si, kalau tips memilih maskapai yang tepat dan tips di perjalanannya bisa di lihat di related post di bawah ini yak….. Sekali lagi, jangan lupa doain kami bisa nyampai ke Nusa Penida yaaak! Atau ada yang mau traktir traktir kami liburan? Hehehehe….

Saya pamerin ni satu foto lagi yak, biar mupeng:

nusa penida

Buat yang mau liburan bareng bocah, happy holiday! Jangan lupa untuk pesan tiket + hotel yang paketan biar lebih hemat dan makin happy saat holiday! Salam sayang selalu….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Ribut Rukun #NyonyaPunyaCerita

ribut rukun

“Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.”

-Amsal-

*

Kalau ditanya siapa manusia yang paling “mengasah” diri saya, saya bakal bilang SUAMIIIII.¬†Dua tahun bersamanya itu semacam konsentrat pelajaran bersosialisasi dengan banyak orang. Hahahaha…. Yaiyalah ya, tinggal seatap dengan orang yang tak berhubungan darah, berbeda latar belakang dan juga cara berpikiran, lagipula beliau jadi orang yang terdekat kan, yang¬† bahkan diri dan hidup saya sendiri pun harus saya bagi dengannya. Sudah pasti, banyak momen-momen beda pendapat yang dijalani.

ribut rukun

“Kalian ngalamin yang sama nggak si? Apa ada yang langsung klop cucok meyong tanpa perlu adaptasi sama pasangannya? Adakah yang ga pernah berantem? Nggak pernah marah sama sekali? Nggak ada kaaaan? Nggak ada kaaaan?” #nyaritemensenasib. Hehehehe….

“Terimakasih buat kamu¬†yang sudah¬†menampakkan rasa senasib sepenanggungan di wajahnya, kamuuu…. iya kamuuuuu…. Uda ngaku aja dehhhh” #maksa.

Namun suami istri sebagai manusia biasa tentu tak sepenuhnya bersifat seperti besi kan yes. Besi mah pasrah pasrah wae dipukul pukul, diadu adu sampai jadi pisau atau benda tajam sesuai keinginan pembuatnya. Manusia mah bisa kabur. Pergi. Putus hubungan. So thank you so much, I’m sorry good bye! Kalau kata Mbak Krisdayanti.

Kabur

Ngomong-ngomong¬†“kabur”, hal ini sering saya lakukan (dulu) (di awal masa pernikahan). Jujur, tidak seperti suami saya yang rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas jika sedang mengatasi masalah, saya itu jenis yang pasif agresif. Menyerang dalam diam.¬†As known as¬†ngambekan. Kalau nggak sreg, diem. Alias mutungan.

“Kabur” pertama saya, pernah saya lakukan saat saya dan suami di Jogja. Sumpe ini rada malu-maluin sih. Soalnya sampai mau dilerai Bapak-bapak di pinggir jalan gitu.

hehehe

Kabur 1

Jadi di awal pernikahan dulu, kami pernah slek. Saya lupa persisnya kenapa, sepertinya karena Mas Domas negur saya yang kelewat manja. Dan saya nggak terima. Pas itu mana kami lagi liburan ke Jogja lagi. Saya yang ngambek jalan dalam diam sepanjang Jalan Malioboro, Mas Domas ngintilin di belakang kaya kutil yang keras kepala. Dicuekin tapi tetep nempel. Sampai akhirnya Mas Domas yang capek ngintilin saya, narik tangan saya, ngasih kunci hotel.

Di pikiran saya saat itu, kalau saya terima tu kunci, enak banget deseu bisa balik hotel dengan tenang, tar aku balik sendiri. Saya balikin kunci hotel, dan minta kartu kredit (doooohhh). Hahaha…. soalnya kalau saya bawa kartu kredit, saya bisa kemana saja bok, itu limit kartu kreditnya kan lumayan. Dalam pikiran saya, saya mau kabur ke Bali. Liburan sendiri, numpang di rumah Inez sahabat saya dari SMP yang tinggal di sana. Cuma modal tiket aja, seminggu palingan.

Tapi seperti sudah paham alur berpikir saya, Mas Dom kekeuh nyuruh saya pulang. Kayanya rada drama gitu soalnya sampai ada Bapak-bapak yang nyamperin kita.

Bapak-bapak: Woy woy woy, sama perempuan jangan kasar woy!

Mas Dom: *megangin tangan saya* Ini istri saya ini pak!

Bapak-bapak: Masa mbak?

Saya: *dilematis, kalau saya bilang enggak, takut Mas Dom digebukin massa kan, tapi bilang iya kok tengsin*

Saya: *berhubung cinta saya jawab* Iya si Pak….

Bapak-bapak: Oalaahh…. *ngeloyor pergi*

Mas Dom: *nyegat taksi*

Saya: *ngikut naik taksi* *receh*

Sepanjang perjalanan kami ngobrolin betapa sinetronnya kami tadi, dan kemungkinan Mas Dom jadi headline koran lampu merah. “Seorang suami mati digebukin massa karena tidak diakui istri”. Terus ketawa-ketawa. Uda gitu aja, marah-marahnya lupa. Semacam tiba-tiba ngeh aja kalau saya itu sayang sama suami dan suami juga jadi ngeh kalau semarah-marahnya saya, masih mikirin keselamatan deseu.

Setelah kepala sama-sama adem, masalah “manja” tadi dibahas juga. Pada dasarnya suami merasa saya berubah. Dulu pas single itu mandiri, setelah nikah kok jadi manja banget. Saat uda nggak emosi, masukannya terdengar lebih logis si. Dan menurut saya itu masukan yang membangun dan bikin saya lebih baik juga. Jadi saya introspeksi diri.

Kabur 2

Kabur saya berikutnya, di rumah. Kabur ke kamar. Lagi-lagi karena nggak terima dibawelin suami. Masuk kamar. Pintu saya kunci dari dalem. Naas. Beberapa jam kemudian saya kebeles pipit. Dan pintunya nggak bisa dibukaaaaa akkkkkk!

hiks

Saya coba putar-putar kuncinya, tetep nggak berhasil. Doooh, mau minta tolong suami tapi tengsin abis. Saya kan ceritanya lagi ngambek.¬†Untung suami ngeh sama suara pintu diogrek ogrek. Nanya pake suara lempeng, “Pintunya emang rusak, mau aku bukain?”. Yaiyalah, uda mau ngompol ni.

Pas pintu uda dibuka, saya melesat pipis. Habis itu kita ngakak bareng. “Mangkanya nggak usa ngambek-ngambek!”. Iya iyaaa….

Tujuan Menikah

Gimana ya, hidup seatap dengan orang yang beda banget karakternya emang ujian kehidupan banget si. Buat saya, dan saya yakin buat suami saya juga.

Tapi kalau nggak gitu, kami juga bakalan tetep jadi diri kami masing-masing yang keras kepala dan mau benernya sendiri. Kadang berpikir (kalau lagi rukun) ya memang rencana Tuhan pasti ya, biar kami juga tumbuh jadi pribadi yang lebih baik.

Eh, ingat Tuhan, saya jadi inget kalau pembahasan ini sebenernya pernah kami bahas di kelas konseling pernikahan. Tentang tujuan pernikahan salah satunya adalah: pertumbuhan karakter menjadi lebih baik.

Cuma pas di kelas dulu, masih teori. Kedengerannya kok romantis bener yak. Manis manis maniiiis. Pas dijalanin. Hahaha. Kadang ada pedesnya. Mana pedesnya itu kadang kaya mak icih level 15. Sering bikin berurai air mata. Wkwkwkwk. Drama bheut deh saya.

Tapi kalau lagi rukun ya emang manis manis manissss si. Hihihi.

love love

Jadi, selamat ribut rukun Nyonyah dan Tuan…. Saya nggak jamin, kalau ke depan hubungan suami istri bakal bisa adem ayem setelah paham secara teori tujuan-tujuan pernikahan. Namun, semoga pas ribut kita ingat tujuan pernikahan masing-masing, dan ga kabur sehingga hubungan suami istri kembali rukun dan¬†karakter kita pun upgrading¬†selalu. Amiiiinnn.

ps.

Tulisan ini adalah tulisan janjian, antara saya dan Tetty empunya blog www.tettytanoyo.com. Kami sama-sama lagi sedih karena timeline akhir-akhir ini kalau nggak tentang pelakor ya tentang perselingkuhan, kalau enggak tentang perceraian. Usia pernikahan kami masing-masing memang masih seumur jagung, dan kami nggak mau khotbah tentang pernikahan. Kami cuma pengen cerita receh-receh aja, tapi yang kami rasa related tapi nggak makin memperkeruh timeline.

Kalau mau baca tulisan Tetty dengan bahasan serupa tapi tak sama, Nyonyah-nyonyah bisa langsung cus ke blognya di:

#NyonyaPunyaCerita: Susahnya Menikah

Semoga sharing kami bermanfaat yaaaa…. Salam sayang….

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Review Mainan Bayi ELC Wobble Toddle Ride On

ELC

Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang mainannya Ning Gaya yang saya buat sendiri dari bahan-bahan yang ada di rumah. Saat itu mainannya adalah untuk usia 4-6 bulan. Kali ini saya mau membahas dari sisi mainan yang lain, yaitu mainan pabrikan, tapi teteeeeeup mainan yang fokus pada aspek edukasi dan developmental. Mungkin uda banyak yang menebak pabrikan mana yang saya maksud yak? Yap, betul saya mau bahas mainan bayi ELC atau Early Learning Centre.

Pabrikan dari Inggris ini kayanya uda kesohor banget yak, untuk masalah mainan bagi anak usia dini yang bertujuan untuk merangsang kemampuan dasar anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Kebetulan bulan lalu, Gayatri baru dapat hadiah ulang tahun yang datang lebih awal, karena sebenernya ulang tahunnya baru Januari ini, berupa Wobble Toddle Ride On dari Early Learning Centre (ELC). Terimakasih yaaa Pakdhe Dani dan Budhe Laksmi, hadiahnya cucok banget sama kebutuhan Gayatri yang lagi latihan jalan.

Nah, langsung saja ya saya coba review. Semoga review kali ini bermanfaat buat Nyonyah-nyonyah yang lagi galau milih mainan buat anaknya.¬†Biar ga belibet menyebut Wobble Toddle Ride On, aku singkat jadi WoTROn aja ya, hehehe….

ELC Wobble Toddle Ride On push walker

Fitur:

  1. Bisa jadi bentuk mobil-mobilan,
  2. Bisa jadi push walker untuk latihan berjalan,
  3. Ada 3 pilihan musik yang catchy dan ceria,
  4. Ada 4 pilihan penyortir bentuk untuk latihan menyesuaikan bentuk: stars, kubus, segitiga dan tabung dengan colour block yang ngejeng khas mainan anak-anak,
  5. Ada cermin di spionnya, Gayatri yang sedang senang-senangnya mengamati wajahnya di cermin, juga senang melongok sejenak ke spion.

Manfaat:

Saya memang bukan ibu yang anti gadget, tapi sampai saat ini memang jarang sekali memberikan gadget ke bocah untuk mainan. Saya lebih suka dengan model mainan seperti WoTROn ini karena mendukung aktivitas fisik. Anak terdorong untuk melihat (baik melihat jalan saat mengendarai WoTROn atau melihat warna warninya yang gonjreng), untuk mendengar (karena ada musiknya), dan menyentuh (body WoTROn dan penyortir bentuk). Bahasa kecenya menstimulasi berbagai panca inderanya.

Secara khusus di masing-masing fiturnya juga punya manfaat yang khas. Beberapa manfaat hasil pengamatan saya sebagai berikut:

1 . Mobil-mobilan

ELC Wobble Toddle Ride On mobil

Saat berbentuk mobil, mainan ini membantu melatih keterampilan motorik kasar anak; Gayatri belajar mendorong menggunakan kaki dan juga membelokkan setir dengan tangannya. Saat mengendarai WoTROn, Gayatri juga belajar keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh.

Selain masalah fisik, bentuk bodinya yang bisa ditunggangi sepertinya juga mengembangkan imajinasinya ya. Saya nggak tau persis apa yang dipikirkan Gayatri saat mengendarai¬†WoTROn. Tapi kadang dia kelihatan curious, kadang ketawa-ketawa bangga…. Aneh tapi menyenangkan si, melihatnya berekspresi seperti itu.

musik pada setir mainan bayi ELC

Yang paling senang dia lakukan saat mengendarai¬†WoTROn adalah mencetin tombol musik. Di poin ini saya merasa, permainan ini penting karena mengajarkan padanya konsep sebab-akibat. “Kamu pencet – aku bunyi”. Semacam itu kali ya.

Selain mencetin tombol musik, Gayatri juga suka ngacaaaa di spion. Dooohhh! Narsis abis. Tapi tak apalah, nak, asalkan Kau bahagia.

2 . Pushwalker

ELC push walker

Seperti pushwalker pada umumnya, manfaat WoTROn adalah melatih berjalan. Ini super duper manfaat juga buat emak-bapak-nya, yang mulai merasa encok karena harus titah Gayatri kemana-mana. Hihihi…. No more titah titah, Gayatri tinggal sorong¬†WoTROn, yeayyyy! Ibu Happy! Hahahaha!

Saya bersyukur Gayatri tumbuh sesuai dengan usianya, saat ini belum genap setahun, Gayatri bisa melangkah tanpa dipegangi sebanyak tiga empat langkah. Semoga dengan rutin berlatih dengan¬†WoTROn, dia makin percaya diri untuk berjalan ya. Karena kalau saya perhatikan sebenarnya kaki dan badannya sudah cukup kokoh saat melangkah. Namun, terkadang dia masih ragu-ragu. Doain ya onty oooommm! ūüôā

3 . Penyortir Bentuk

Di bagian badan mainan terdapat empat lubang berbentuk stars, kubus, tabung dan segitiga serta empat building block yang bisa dipakai untuk bermain shape-shorter atau menyortir bentuk. Gayatri belum lancar main ini nih, terutama yang berbentuk stars. Yang paling gape dia loloskan adalah yang tabung. Soalnya paling gampang kayanya, hehehe.

penyortir bentukk mainan bayi ELC

Walaupun Gayatri belum lancar, saya tidak patah arang si. Menurut saya permainan ini bermanfaat secara tidak langsung untuk membuat dia belajar konsep keluar masuk serta konsep bangun ruang. Saya tentu tidak memaksanya belajar tentang hal tersebut. Namun kalau saat bermain dia bisa sekaligus belajar. Kenapa tidak.

What I Love

  • Kukuh materialnya dan menurut seorang teman sesama ibu muda, mainan ELC ini aweeet, Mama mertuanya masih menyimpan mainan suaminya yang kemudian dilungsurin ke keponakan dan kemudian ke anaknya sekarang. Keren yak, mainannya keren ditambah pasti ngerawatnya juga apik.
  • Saat menjadi puswalker, mainan ini relatif aman karena saat ditekan dia berhenti, jadi nggak mudah tergelincir.
  • Mudah disusun, dari box saat pertama dibuka hanya tinggal menyusun roda dan memasang baterai sudah siap digunakan.
  • Pengoperasiannya mudah dan menarik bagi bayi. Gayatri tidak cepat bosan.
  • Harga jual kembalinya tinggi, saya sempat cek harga prelovednya di OLX ada yang jual 700k, di tokopedia malah ada yang jual 1,1 juta which is lumayan banget buat yang merasa sayang-sayang duit buat beliin bocah mainan. Harga beli barunya sekitar 1,2 juta.
  • Perubahan bentuk dari mobil menjadi pushwalker mudah dilakukan. Untuk mempermudah temen-temen melihat cara mengubahnya saya membuat video ala-ala, semoga bermanfaat ya….

Room for Improvement:

Penambahan penyangga punggung saat WoTROn berbentuk mobil menurut saya akan menambah keamanan mainan ini terutama untuk bayi yang usianya lebih kecil daripada Gayatri.

Yang harus diperhatikan:

  • Mainan ini¬†diperuntukkan bagi bayi usia 9 s.d. 24 bulan.
  • Maksimal beban yang bisa ditanggung adalah¬†20 kg.
  • Walaupun relatif aman, pengawasan tetaplah penting.
  • Perhatikan lokasi bermain, hindari penggunaan di¬†jalan, dekat kendaraan bermotor, di atau di dekat tangga/ tanjakan yang tajam, kolam renang dan tempat berair lainnya.
  • Hanya untuk satu pengendara, tidak disarankan untuk berboncengan.

Kelengkapan di Dalam Kardus saat Pembelian:

review mainan bayi ELC

  • 1 Wobble Toddle Ride On,
  • 4 Shape Sorting Blocks,
  • ¬†Baterai dijual terpisah.

Where to Buy:

Ning Gaya dibeliin mainan ini sama Pakde Dani dan Bude Laksmi di Toko ELC yang di Pondok Indah Mall. Selain di PIM, toko terdekat dari rumah kami itu di Bintaro Exchange. Kalau di kota Nyonyah nggak ada toko ELC, Nyonyah bisa juga beli secara online di webnya mothercare. Jangan lupa follow akun Instagramnya ELC, soalnya sering ada info promo di sana.

Link Web Mothercare

Link Akun IG ELC

Sebenarnya selain WoTROn ini, Gayatri pernah mencoba sebagian besar mainan produknya ELC. Jadi¬†di bulan Desember tahun lalu, saya dan Gayatri ikutan Baby Bash yang diselenggarakan oleh Asianparents Indonesia. Di situ ada both-nya ELC (Early Learning Centre) yang isinya buanyak banget mainan bayi ELC. Gayatri puas banget main di situ secara kami datang awal banget, dan kayanya keluar booth itu paling akhir. Wkwkwkwk…. Manfaatin banget momennya lah…. Bentuk mainan-mainan yang dicoba Gayatri tersebut bisa dilihat di postingan saya tentang Serunya Baby Bash bareng The Asianparents yaaak. Buat yang pengen ikut acara seru semacam #BabyBashID ini pantengin aja akun IGnya The Asianparents.

Link Akun IG The Asianparents

ELC

Sementara sekian review Mainan Bayi ELC Wobble Toddle Ride On, semoga reviewnya bermanfaat yaaa!

Salam sayang selalu…. :*

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Gayatri dan Separation Anxiety (9 – 11 Bulan)

judul separation anxiety

“Apaan tuh separation anxiety?”. Saya pertama kali mendengar istilah ini saat ngobrol-ngobrol dengan ibu-ibu muda seangkatan. Saat itu, kami membahas mengapa bocah-bocah kami (waktu itu range usia 7-9 bulan) sering mewek kalau ditinggal emaknya pergi barang sebentar.

Trus seperti biasa saya buka Universitas Google Mandiri. ūüėõ Dari web-nya lactamil saya menyimpulkan bahwa separation anxiety itu perasaan sulit berpisah, tak ingin ditinggal (oleh pengasuh utama) yang dialami bayi. Dan hal tersebut memang WAJAR terjadi di usia 7-10 bulan.

judul separation anxiety

Walaupun wajar, tapi saya rasanya agak nyesek kalau lihat Gayatri mewek. Soalnya dia meweknya tu drama gitu. Mukanya memelas…. Kadang sambil keluar ingus, dan sedih gitu. Padahal cuma ditinggal pipis. Ah elaah Ning, masa pipis pun harus diajak terus. Btw, saya kadang memang bawa dia ke toilet si kalau nggak memungkinkan ditinggal. Hehehe.

Drama memuncak ketika Gayatri (usia 10 bulan) masuk daycare.

Related post: Akhirnya Gayatri Masuk Daycare

Walaupun sebenarnya di minggu pertama Gayatri daycare, Gayatri bisa dibilang relatif terkendali nangisnya. Namun entah mengapa minggu kedua pas dianter ke daycare Gayatri mulai nangiiissss yang lebay dong. Merong merong nangisnya. Kata aunty daycare-nya, antara dia memang lagi kangen atau dia niruin temen barunya yang kalau daycare nangis-nangis. Temennya itu antara juga lagi adaptasi sama daycare (anak baru) plus lagi masa sapih.

Kaya gitu berlangsung semingguan lebih.¬†Kalau ditinggal Gayatri nangis bombay. Tapi kalau uda ditinggal, saya pantau dari CCTV dia happy-happy aja…. Pas dijemput, kalau uda denger suara saya dari jauh, uda deh nangisssss again.

Gayatri 11 bulan

Mulai masuk minggu kedua Desember kayanya Gayatri uda mulai bisa mengatasi separation anxiety-nya. Kalau diantar ke depan pintu daycare, dan disambut auntynya…. dia uda mengulurkan tangan minta pindah gendong. Pas saya jemput, dia juga uda bisa ketawa-ketawa menyambut saya.

No more drama.

CCTV daycare

In frame: CCTV Daycare-nya Gayatri yang bisa dipantau secara online. Gayatri yang pakai baju kuning.

Saya bersyukur banget si, Gayatri bisa adaptasi. Ada beberapa hal si yang saya baca dan saya coba terapkan di masa peralihan antara diasuh di rumah dan daycare ini. Mungkin (((mungkin))) bisa juga diterapkan sama Nyonyah di rumah. Saya nggak tau ini memang ada efek langsungnya, atau hanya kebetulan saja di kasus Gayatri.

1 . Keteraturan.

Teratur jam antarnya, teratur jemputnya. Jadi si bocah pun bisa “niteni” atau ngeh kalau pagi-pagi memang waktunya dia daycare. Dan mengurangi rasa insecurenya, karena dia “niteni” juga kalau nanti sore bakal dijemput lagi.

Mungkin bagi kita yang udah memahami konsep janji dan konsep pulang pergi, masalah ditinggal di suatu tempat itu nggak masalah ya. Tapi buat bocah? Dia belum mengerti kalau Ibunya yang nggak kelihatan itu masih ada apa enggak. Dia belum memahami konsep itu. Yang dia tahu Ibunya tidak ada lagi.

Bayangin aja, kita yang uda dewasa kehilangan Ibu untuk selama-lamanya. Sedih banget kan. Ya, mungkin bagi bayi yang belum memiliki konsep ruang dan waktu, kepergian kita yang sejenak itu seperti selama-lamanya. Nangisnya yang merong-merong itu wajar.

So, jangan pula dibilang, “Cengeng ah!”.

2 . Main cilukba.

Saya pernah membaca¬†artikel¬†yang menyatakan bahwa cilukba dan permainan petak umpet akan membantu anak mengatasi¬†¬†separation anxiety. Disebutkan, hal itu karena dua permainan itu mangajarkan tentang konsep ada dan tiada bagi anak. Percaya tidak percaya, saya si melakukannya. Namun, tentu saja tidak bisa menyimpulkan secara ilmiah, apakah pernyataan ini benar atau tidak. ūüôā

3 . Ibu harus menenangkan diri.

Kata mama mertua dulu, anak dan ibu itu punya ikatan feeling yang so strong. Jadi kalau Ibu baper, anaknya juga bisa ikutan galau jarak jauh. Semacam telepati gitu kali yak, percaya ga percaya. Oleh karena itu, kalau saya pengen Gayatri happy di daycare, saya juga harus belajar mengendalikan perasaan saya sendiri.

Yang paling susah tu mengurangi rasa bersalah sik. Kalau inget gimana tu bocah berurai air mata, tu langsung merasa jadi ibu yang kejam, jahat dan tegaan. Masa anak sekecil itu dititip titipin orang.

hiks

Related post: Menghadapi Rasa Bersalah Ibu Bekerja

Tapi masalah nitip menitip anak itu bukan masalah jahat atau baik. Ini hanyalah masalah manajemen keluarga. Dan tiap orang tua pasti (saya yakin) telah mempertimbangkan opsi-opsi yang terbaik bagi semua. Percayalah drama pasti berlalu.

4 . Ngobrol dan ritual perpisahan itu wajib.

Agak susah si ya, memahami apakah bocah memahami yang kita omongkan atau tidak. Tapi setiap pagi kalau mau berangkat saya ngomong aja. Ngomong mau pergi kemana, nanti Gayatri main di sana happy happy sampai dijemput lagi sore. Ngomongnya dengan suara tenang dan percaya diri.

Kenapa harus percaya diri? Supaya terdengar meyakinkan. Hehehe…. Saya yakin si Si Ening belum bisa memahami kata per kata. Tapi mungkin memahami intonasi. Kalau kita terdengar gentar, saya yakin itu juga nular. Hehehe.

Kalau terkait ritual perpisahan yang kami lakukan ya paling ngobrol itu, kemudian peluk Ibu, Aunty daycare akan mengulurkan tangan kemudian Gaya akan mengulurkan tangan balik menuju Aunty, mereka berpelukan, trus Gayatri akan dadah dadah pada saya. Biasanya juga, saya akan tetap diam di pintu, dan Gayatrilah yang akan pergi (digendong) sambil dadah dadah. Bukan sebaliknya.

Haram hukumnya bagi saya untuk meninggalkannya diam-diam.

berangkat ngantor

In frame: Saya sebelum ngantor, ngantar Ning Gaya daycare dulu….

5 . Kerjasama dengan pihak Daycare.

Satu yang saya suka dari Daycare Gayatri adalah pengurus (saya biasa memanggilnya Aunty) enak banget diajak ngobrol. Termasuk juga ngobrol tentang kebiasaan Gayatri di rumah dan bagaimana biasanya kami menyikapinya. Dengan demikian, pihak daycare juga bisa memahami perilaku Gayatri. Nggak salah interpretasi gitu, dan penanganannya juga pas. Sehingga mempercepat adaptasi Gayatri juga.

6 . Jangan berlama-lama, jangan pula dipaksa.

Ini maksudnya pas perpisahan, jangan dibiasakan berlama-lama. Kaya tawar menawar gitu. Soalnya sebagai Ibu pasti akan meleleh perasaannya kalau melihat anak nangis. Dan anak sekecil itupun menurut saya uda paham yak, jangan sampai air matanya itu jadi senjata untuk menawar keputusan kita.

Saat ini saya melihat, Gayatri mulai mengembangkan kemampuannya untuk percaya diri dan percaya pada pengasuhnya. Kadang jadi agak baper juga si. Kadang jadi mikir,” Ini bocah mulai mandiri apa mulai nggak butuh saya yak”. Hehehe….

***

Di akhir artikel ini, saya ingin menyatakan bahwa saya bukanlah psikolog atau ahli tumbuh kembang yaaak. Hehehe…. Sebagai orang awam, banyak sekali hal-hal yang baru pertama saya alami bersama Gayatri yang kadang bikin saya amazed ataupun surprised. Saya yakin Nyonyah (terutama yang baru punya anak satu) pun mengalami hal yang sama. Feel free untuk share pengalamannya di comment section ya….

Saya senang sekali, Nyonyah sudah berkunjung. Semoga sharing kali ini bermanfaat. Salam sayang selalu….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Serunya Baby Bash bareng The Asianparent (Desember 2017)

baby bash

Asik asik, Gayatri sudah sah ditahbiskan jadi anak gawwwl ibukota nih. Hihihi soalnya¬†dia sudah pernah ikut the most anticipated play date event tahun iniiiii: Baby Bash The Asianparent!¬†Duo sobat saya (Faradila & Uchy) hepi banget dapet undangan dari The Asianparent, penyelenggara acara ini. Bahkan Faradila ampe bela-belain nginep di Serpong dari rumahnya di Bogor. Melihat itu, saya yang awalnya ragu ikutan jadi ketularan excited. Dan…. Mereka bener! Nggak kuciwalah ikutan Baby Bash ini. Happy banget!

FYI, just in case ada yang blm ngeh dengan acara yang disebut Baby Bash, Baby Bash adalah acara gathering keluarga muda yang diselenggarakan oleh The Asianparent. The Asianparent sendiri adalah media online yang fokus membahas tentang pengasuhan anak. Acara baby bash ini sudah diselenggarakan sebanyak 4 kali di tahun 2018. Di event terakhir ini, keluarga yang diundang adalah yang memiliki bayi berusia 1 s.d. 2 tahun.

baby bash

Di acara ini Gayatri seneng, puas main-main di playgroundnya, Bapaknya puas makan dan dengerin berbagai ilmu di seminarnya…. Emaknya? Ga kalah seneng lah…. Lihat bocah sama suami seneng. Selain itu ibuk juga bisa ngumpul sesama mamah muda, ikut nambah ilmu pluuus pulangnya juga nenteng doorprize ama goodiebagnya yang segambreng kekeke.

Nah buat yang mungkin berencana ikutan Baby Bash atau mau ngadain Birthday Bash, berikut pengalaman yang saya dapat di Baby Bash The Asianparents yang menurutku bagus banget dan bisa ditiru:

1 . Acaranya menarik.

Ada dia game yang melibatkan para bapaaaak. Ini kocak si serius. Jadi game yang pertama tu game kerjasama antara ibu dan bapak. Ibu belanja pake aplikasi honestbee trus bapaknya yang bikin puree. Ih, ga nyangka bapak bapak juga pada jago loh bikin puree pakai hand blender. Game kedua adalah game mengganti popok boneka. Ada bapak-bapak yang masang pakai acara salah tingkah loh. Tapi semuanya bisaaa, ga ada tuh yang kebalik depan belakangnya.

Ini ni video game gantiin popok yang dilakukan para bapak-bapak:

Yang surprise adalah di tengah acara, panitia membagikan bunga mawar untuk para suami. Kemudian para suami diberi waktu untuk memberikan bunga dan mengucapkan terimakasih pada istri-istrinya. Hehehe…. Buat saya sama suami yang tukang becanda, jadi rada awkward yak moment tersebut. Saya memilih kaboooorrrr. Hehehe…. Tapi setelah saya pikir-pikir, momen romantis seperti ini sebenarnya penting ya. Untuk menyegarkan kembali suasana romantis antara suami istri.

Di luar ballroom pun ada booth-booth yang instagramable banget kaya booth foto sama booth dessert.

2 . Seminarnya berfaedah.

Di birthday bash asian parent ada beberapa seminar singkat: tentang merawat kulit bayi, tentang penanganan demam, info tentang difteri, dll. Di sini saya baru tahu kalau pengukuran demam di tubuh itu berbeda-beda. Ngecek suhu dengan termometer dikening, beda dengan yang di telinga dan beda pula dengan yang di dubur. Saya jadi lebih paham juga bagaimana penanganan demam.

Kemudian juga tentang difteri dibahas mitos-mitos apa yang beredar di masyarakat. Termasuk foto-foto tenggorokan yang sedang banyak beredar itu dijabarkan lagi oleh dokter mana yang beneran gejala difteri, mana yang radang biasa. Kece bingit kan ilmunya?

3 . Tempatnya nyaman untuk orang tua.

Tempat yang digunakan oleh The Asianparent adalah ballroom hotel Atria¬†Gading Serpong, yang berlokasi di CBD Gading Serpong Kab. 2, Jalan Boulevard Gading Serpong, Tangerang, Banten.¬†Nggak tanggung-tanggung dua ballroom digabung. Jadi ya nyaman lah…. standar hotel dan orang-orang walaupun ramai tidak sampai umpel-umpelan.

playmat baby bash

Karena kami datang pagi banget masih sempat foto ballroomnya pas masih kosong. Setingan ruangnya kaya gini ni Nyaaah…. Kursi-kursi di samping buat yang mau duduk kursi. Sementara di tengah ada play mat yang leluasa buat yang pengen lesehan bareng bayinya.

Hal ini penting buat saya atau mungkin juga Nyonyah-nyonyah lain yang suaminya agak rewel kalau ikutan acara ibu-ibu yang tempatnya nggak nyaman. Bisa bete, dan minta pulang duluan kan, hihihi…. Kalau acara ini, suami anteng sampai akhir. ūüôā

4 . Tempatnya nyaman untuk bayi.

a) Playmat

Untuk seminarnya para orang tua bisa memilih untuk di kursi maupun lesehan bersama dengan bayinya. Acaranya santai, ada yang nidurin anaknya sambil ngedengerin materi dari narasumber.

b) Playground

Fasilitas ini sebenernya yang paling favoriiiiit buat saya. Playgroundnya banyak banget mainan dari ELC (Early Learning Center). Karena banyak bocah bocah pun ga rebutan. Gayatri nyobain banyaaaaaakk mainan ELC.

buble baby bashSuasana di salah satu ujung playgroundnya Early Learning Center Indonesia (ELC), ada mainan pembuat bubble gituuuu…. duuuhhh langsung diserbu bocah bocah yang penasaran sama gelembung-gelembung yang berterbangan.

mandi bola baby bashAda tempat untuk mandi bola mini.

stimulating game baby bashYang ini namanya Giant Wooden Activiy Cubes buat usia 12-36 bulan.

Yang paling difavoritin Gayatri adalah yang bentuknya bisa dinaiki dan bisa jalan seperti kedua mainan ini:

mobil mobilan baby bashNah yang kedua ini unik banget karena bisa jadi push walker. Kebetulan Gayatri dikado sama temennya Bapak mainan di bawah ini niiiii…. Senengnyaaa, jadi bakal saya review terpisah ya.

push walker baby bashReviewnya menyusul ya.

5 . Ada nursing room yang memadai.

Disediakan nursing room yang memadai. Ada 5 sofa dan puluhan kursi menghadap meja. Tempat untuk berganti popoknya pun ada. Oiya nursing room yang disediakan sepertinya aslinya adalah ruang pertemuan yang disulap jadi nursing room, jadi memang tidak ada wastafel. Namun pihak penyelenggara mengantisipasi dengan menyediakan tisu basah. Diapersnya pun disediakan. Salut! Detail banget persiapannya!

6 . Makanannya enak.

a) Makanan orang tua

Kami dari rumah ke arah BSD kan bisa dibilang lumayan jaraknya. Ga jauh si, tapi karena pengen ontime kami berangkat jam 7. Gayatri uda sarapan walau dikit karena ga doyan, cuma bapak mamaknya belum. Untung di sediain coffeebreak. Kami bolak balik melulu ambil makanan. Selain emang doyan, laper juga sik hihihi. Untuk makan siangnya juga memuaskan dari segi rasa, jumlah maupun pelayanan.

b) Makanan bayi

Panitia juga menyediakan makanan untuk bayi loh. Sayangnya karena target acaranya untuk bayi berusia 1-2 tahun, gayatri yang belum genap 11 bulan belum bisa gabung makanannya. Akhirnya saya buat makanannya dimodif dari makanan orang dewasa.

geng emak emak

Anaknya happyyyy, ibunya apalagiii…. ūüôā credit: instagram husbandnya Faradila.

7 . Panitia yang profesional, aku suka banget sama panitianya.

Kesannya santai tapi well prepared dan juga disiplin. Terbukti dari acaranya yang ontime dari sesi ke sesi. Dan berakhir pas sesuai jadwal. Soalnya klo sampai molor-molor kan kasihan bocah yak. Trus pas pengambilan dokumentasi juga nggak ganggu kenyamanan keluarga yang lagi menikmati acara. ūüĎćūüŹľūüĎćūüŹľūüĎćūüŹľ

 8 . Goodiebagnya worthy.

Setahu saya acara baby bash ini ada biaya kontribusinya senilai 250K untuk early bird dan 300K untuk tiket regulernya. Kalau saya hitung-hitung, nilai goodiebag-nya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan nilai HTM tersebut. Belum lagi kalau memperhitungkan biaya makan orang tua, anak serta hal-hal lain yang di dapatkan. Relatif menang banyak ya, menurutku.

Goodie bagnya sendiri seperti ini:

Tips agar voucher-voucher yang ada optimal adalah, setelah diterima wajib langsung digunakan. Atau untuk beberapa voucher, bisa dijadikan gift.

9 . Selain goodie bag ada doorprize juga.

Ada yang doorprize (sistem undian) dapat emas batangan! Ada yang dapat handblender bosch, dll.¬†Selain itu kalau Nyonyah rajin ikut aktivitas, misal menjadi volunteer di game-game yang diadakan, Nyonyah juga bisa dapat hadiah yang lebih banyak lagi seperti paket popok, sampai dengan paket hand-blender. Lumayan kan. Saya karena si bocah terlalu fokus ama mainan di boothnya ELC jadi kaga sempet ngeksis di panggung nihhhh….

Saya pribadi, selain goodie bag yang semua peserta dapat, saya dapat doorprize berupa hampers produk-produk naturalnya corine de frame yang buanyak banget…. kayanya worth sampai 1,5 jutaan gitu. Happyyyy! Untuk produk corine de farmenya sendiri akan aku review terpisah yaaa….

***

Buat yang jadi pengen ikutan, pantengin aja terus akun IG The Asianparents @theasianparent_id soalnya seat-nya selalu terbatas. Have fuuuunn! Salam sayang selaluuu…. :*

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!