Better Worry than Sorry, But…

Minggu lalu saya bikin question box di IGS buat ibu-ibu senior untuk kasih semacam “nasehat untuk ibu baru”. Paling banyak nasehat yang diberikan itu agar, Ibu Baru terus belajar, percaya diri dan juga nggak over-reaktif terhadap sesuatu terkait bayinya.

Saya setuju si. Karena dulu jaman baru punya newborn, saya tu reaktif banget. Bahkan ada yang sampai overreaktif. Setiap ada insting, atau perasaan nggak enak, terutama tentang kesehatan anak, pasti langsung ke klinik atau malah rumah sakit.

Hal itu terjadi sampai kira-kira Gayatri umur setahunan kali ya. Pokoknya sampai dokter saya eneg mengedukasi saya tentang pertolongan pertama, tentang kapan saya harus ke dokter, kapan harus menunggu dulu, gitu gitu. Hahaha…. Kalau inget malu juga kadang.

Tapi, kan better worry than sorry ya….

Seiring bertambahnya pengetahuan dan pengalaman saya, saya makin woles dan bijaksana saat menyikapi sakitnya Gayatri.

Berikut, saya cerita aja ya, kisah-kisah reaktifnya saya. Ada yang ternyata feeling saya betul, tapi ada juga yang ZONK. Hahaha…. Semoga bisa jadi bahan pembelajaran buat para ibu baruuuuu….

Better Wory Than Sorry

Bayi Usia 4 Hari Harus Opname

Sepertinya kejadian anak saya harus dirawat inap di Perinatal saat usianya baru empat hari adalah permulaan sikap overreaktif saya.

Jadi saat Si Ening pulang ke rumah setelah persalinan, dia mengalami demam. Kalau diukur dengan termometer, demamnya tidak terlalu tinggi. Sesuai anjuran dokter, diminta skin to skin. Setelah skin to skin memang turun. Tapi nanti naik lagi suhu tubuhnya.

Saya ingat sekali kalau ketika pulang dari klinik bersalin, saya dipesankan kalau ada deman dalam seminggu pertama, harus langsung kontak ke klinik. Jadi saya intens untuk komunikasi dengan klinik.

Hari keempat, pagi hari saya datang ke klinik untuk cek. Dokter yang jaga bukan DSA yang menangani Gayatri saat baru lahir. Dia lebih fokus ke kotoran mata yang memang banyak banget keluar saat itu. Jadi saya pulang dengan pesan-pesan terkait kotoran mata bayi saya.

Di hari yang sama, saya menemukan kalau luka di tali pusat bayi saya, seperti basah dan ada nanahnya. Maka saya langsung komunikasi lagi ke klinik, untuk infokan informasi baru tadi. Oleh suster, saya langsung diminta balik ke klinik, karena kebetulan DSA anak saya praktik sorenya.

Saat saya datang, saya dipandu skin to skin lagi. Kemudian, dokter minta untuk cek darah. Saat itu, hasil tes darahnya menunjukkan infeksi (sepsis). Langsung saat itu juga dirujuk ke RS terdekat. Oleh DSA di RS, anak saya dirujuk untuk opname.

Dari pengalaman tersebut, otak saya jadi terset untuk super sensitif dengan segala perubahan yang ada di badan bayi saya. Mungkin karena dalam kasus ini, saya merasa, “Untung aja aku peka, kalau engga sepsisnya telat ketahuan.”

Bayi kena Bronkopneumonia saat Staycation

Pengalaman yang sama, terjadi ketika anak saya sudah satu tahunan lebih. Jadi ketika suami saya ikut Persiapan Keberangkatan beasiswa LPDP, saya ikut menginap di dekat asrama untuk menemani dia persiapan acara (karena dia panitia jadi datang sebelum hari H) di luar kota.

Memang saat itu anak saya sedang flu ringan (kami memang punya riwayat alergi, jadi sering pilek), tapi dia masih aktif dan ceria.

Namun tidak disangka-sangka, malam harinya Gayatri demam cukup tinggi. Saat itu saya sudah tahu, kalau demam itu normal. Jadi saya masih tenang. Nah, saya mulai tidak tenang ketika napas anak saya tersengal-sengal. Saya hitung lebih dari 50-60an napas per menit, dalam kondisi tidur. Dan ada suara seperti mengi.

Saya sendiri punya asma, jadi agak ngeh dengan tanda-tanda ini. Saya langsung kontak suami yang sedang rapat panitia di asrama untuk ke UGD. Yang saya kawatirkan bukan lagi demamnya, tapi gagal napasnya.

Di UGD, setelah ditangani, saya infokan ke dokter apa saja gejala yang dialami berdasarkan catatan yang saya buat sebelum ke RS. Dari tanda-tanda tersebut, dokter menyarankan untuk cek darah. Ternyata ada infeksi, dan dirujuk opname untuk observasi lebih lanjut.

Saya pribadi, karena sedang di luar kota, dan suami harus balik ke asrama ya memilih opname ya. Daripada kenapa-kenapa, dan saya nggak mobile.

Diagnosisnya saat itu adalah BP. Positif rawat inap. Huhuhu….

Saat itu, perawatnya kaya kagum gitu, ada ibu-ibu yang super detail bawa catatan (suhu tubuh anak dan jumlah napas per menit). Saya juga merasa wah, saya bisa mempercayai insting saya ini. Aseeeekkk, INSTING IBUUUU!!!

Tapi ternyata, tidak selalu insting saya ini bisa diandalkan. Kalau sedang kalut berbalut emosi, jarang saya bisa berpikir jernih seperti dua kejadian di atas.

Kala Emosi Memperkeruh Firasat

Cuma Pilek, dibawa ke UGD?!?!

Ini kalau saya inget lagi, sering ngakak sendiri. Jadi pernah suatu malam, saya bawa anak saya ke UGD hanya karena pilek. COMMON FLU. Beda sama BP tadi ya.

Ya, karena saking paranoidnya. Dan lagipula itu kan hari kerja, jadi saya nggak punya catatan apa-apa. Karena saya ngantor dan anak saya diasuh mama mertua. Karena saya ragu, dan gamang, akhirnya saya bawa anak saya ke UGD. Nggak tanggung-tanggung UGD RS Internasional cuyyyyy!!! Awokwokwok bener dah eike….

Saya maksa-maksa gitu dokter jaganya buat cek darah. Hahahaha…. Dooohhh, maaf ya dokter ya…. Tengah malem bawel bener, pasiennya…. Untung dokternya baik dan sabar. Susternya juga, walau cowok tapi sabaaar bener ngadepi saya yang rungsing dan anak bayi yang cranky gara-gara diambil darah.

Sayangnya kebaikan mereka berbanding terbalik sama kasir. Nangis bok, lihat bill-nya…. Hahahaha…. Mana diagnosisnya ternyata kan common flu doang! Ketawa dah, saya dan suami…. Miskin dah gara-gara overreaktif.

Bayi Cek Kebocoran Jantung

Nah, sebenarnya cerita tentang keover-reaktifan saya banyak ya, tapi kan panjang, jadi saya mau langsung cerita ke yang gong aja. Cerita tentang anak saya yang dibilang ada murmur di jantungnya.

Jadi seperti ada suara bocor/ desiran gitu. Pertama dideteksi pas usia anak saya baru beberapa hari. Hancur nggak hati bambank sebagai seorang ibu. Hancurrrrr hancuur sehancur-hancurnya. Kawatir banget.

TIGA DOKTER yang bilang begitu. Satu DSA langganan saya, dan 2 dokter lainnya. Whuuutttt. Dua dokter terakhir (satu dokter klinik anak, satu dokter RS kecil) malah langsung merujuk ke RS besar untuk echocardiogram alias pengecekan jantung lebih lanjut.

DSA langganan saya, meminta untuk sabar dulu, karena menurut beliau ada beberapa kasus murmur yang hilang dengan sendirinya, bukan karena kelainan. Toh kalaupun kelainan, ya nggak bisa ditangani langsung juga anak sekecil itu. Kurang lebihnya begitu.

Tapi namanya orang tua kalut ya. Ngebayangin, anak guwe punya kelainan jantung, ini gimana masa depannya. Dan seterusnya dan seterusnya. Kami langsung nabung buat echocardiogram (beda dengan electrocardiogram ya). Soalnya seingat saya biayanya 2-3 jutaan gitu.

Mengabaikan saran DSA langganan, pas ada duit, kami langsung ke RS Premier Bintaro, untuk ketemu Dr. dr. Najib Advani Sp.A (K), M.Med (Paed). Dokter spesialis anak konsultan bidang jantung anak. Saya tulis komplet, siapa tahu ada yang perlu. Kalau yang familiar dengan penyakit Kawazaki, mungkin pernah dengar nama beliau ya.

Asli, dokter ini beneran oke banget dah. Sabar mengedukasinya. Mana saat itu jantung kami mau rontok kan, denger pasien yang sebelum kami harus operasi jantung di usia 7 tahun. Pokoknya lutut lemes.

Tapi bersyukurnya, pas Gayatri dicek, memang murmurnya ada, tapi dari hasil echocardiogram diperkirakan tidak ada kelainan yang menetap. Perkiraan beliau, terbukti sampai sekarang. Tidak pernah ada DSA yang mendengar murmur itu lagi saat usianya 2 tahun.

Ketika akhirnya saya lapor DSA langganan, beliau hanya senyum senyum.

Kami juga senyum senyum lega si. Tapi dompetnya berdarah. Hahahaha….

Lesson learn:

  1. Kekawatiran orang tua itu wajar. Tapi ada baiknya, ketika kawatir mengedepankan logika pikir dan data daripada emosi sesaat. Sebagai orang awam apalagi ya, mendengar sesuatu yang berisiko pasti gentar, untuk itu perlu belajar untuk berkomunikasi, mendengarkan, serta jangan lupa untuk konfirmasi atau klarifikasi ke dokter jika ada yang kurang jelas.
  2. Sedia termometer di rumah dan catatan kesehatan anak.
  3. Cari dan punyai dokter/ tenaga medis yang RUM yang mau mengedukasi dan mau dihubungi untuk konsultasi. Namanya juga orang awam ya, lebih baik kita tanya langsung ke ahlinya daripada berasumsi sendiri.
  4. Terus edukasi diri sebagai orang tua.
  5. Terus berdoa dan memohon kekuatan kepada Tuhan untuk dapat selalu bijaksana.

Saya yakin banget banyak orang tua muda yang mirip-mirip saya. Soalnya Girly juga cerita begitu di artikelnya, Jadi Ibu (Jangan) Lebay.

Ada yang punya pengalaman seperti kami? Atau mau nambahin tips? Boleh yaaaa, ditunggu di komeeennn…. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Realistis terhadap Biaya Sekolah Anak

Kalau ngomongin biaya sekolah yang tiap tahun meningkat, pasti rame deh di grup ibu-ibu. Ada banyak pendapat, tentunya, terutama kalau menyangkut tema “biaya sekolah sekarang mahal”, “metode pendidikan yang paling sesuai” serta “pertimbangan memilih sekolah”.

Dan pro kontra pasti tidak akan menemukan ujung, soalnya kan, standar dan preferensi orang kan beda-beda ya…. Standar mahal misalnya. Apa yang buat saya mahal, mungkin buat orang lain tidak. Atau sebaliknya. Begitu pun dengan metode yang diterapkan di sekolah. Bisa jadi untuk saya, metode A adalah yang terbaik, sementara bagi keluarga lain metode B adalah yang paling tepat.

So, kalau saya dan suami berpendapat, yang penting realistis aja ya. Terutama untuk masalah biaya. Yuk mareeee #timrealistis merapaaatttt!!!

Pertimbangan Agar Realistis

Untuk dapat berpikir secara realistis, ada beberapa hal yang perlu diperbandingkan dengan nominal biaya sekolah anak yang akan orang tua pilih.

  1. Fokus pada tujuan.
  2. Mutu pendidikan yang diberikan.
  3. Kemampuan keuangan keluarga.

1 . Fokus pada tujuan.

Saat konseling keluarga dengan seorang psikolog, saya sempat curi-curi bertanya tentang sekolah anak. Konteks pertanyaan saya saat itu adalah kami galau apakah anak kami perlu masuk playgroup atau tidak. Yang pertama ditanyakan oleh Psikolog tersebut adalah, “Tujuannya (masukin anak sekolah) apa dulu ni?”

Saya dan suami sempat pandang-pandangan. Jawaban versi saya adalah karena saya ingin punya tandem pendidik yang professional dalam mengasuh anak saya. Sementara suami saya menekankan kekawatirannya atas kemampuan anak bersosialisasi,kalau sehari-hari hanya berdua dengan saya saja.

Akhir dari diskusi kami, akhirnya kami memilih untuk tidak memasukkan Gayatri playgroup. Hal itu karena tujuan yang disebutkan tadi dapat dicapai dengan cara lain yang lebih hemat. #nooffense untuk yang memilih untuk menyekolahkan anak di usia dini ya, karena kondisi keluarga kan beda-beda. Saya menceritakan hal ini, dengan latar belakang kondisi keluarga kami yang sedang transisi pekerjaan, jadi lebih menitikberatkan ke penghematan, nyaaahhh.

Uangnya bisa kami alokasikan ke dana pendidikan SD, yang menurut kami lebih wajib. Hal ini tentu saja bisa berbeda di masing-masing kondisi ya. Misal, saya memutuskan untuk kembali bekerja, pendidikan anak usia dini di lembaga pendidikan tentu naik prioritasnya.

Nah, sekarang, membicarakan biaya pendidikan TK – SD dan seterusnya, prinsipnya sama juga. Catat apa yang menjadi tujuan yang ingin dicapai. Hal ini memudahkan kita juga untuk mendefinisikan frasa “sekolah bagus” yang bisa jadi sangat subyektif menjadi parameter-parameter yang lebih jelas.

Contoh: dalam suatu keluarga parameter pendidikan agama di sekolah bisa jadi nilai utama dalam pemilihan sekolah, dalam keluarga lain bisa jadi komponen penilaian utamanya adalah materi berwirausaha. Atau bisa jadi keluarga lainnya mungkin membutuhkan sekolah yang khusus, yang memiliki fasilitas terapi, karena anaknya special needs. Tentu komponen tambahan ini juga akan menentukan biaya sekolah yang dibebankan.

Saat kita harus memilih di antara banyak pilihan baik, maka fokus pada tujuan dan parameter-parameter tersebut, akan memudahkan kita untuk membandingkan dan menentukan mana yang paling cocok.

2 . Biaya yang dikeluarkan harus sesuai dengan mutu pendidikan yang diharapkan.

Realistis bukan berarti pasrah. Kesadaran untuk realistis, mendorong saya untuk mempertanyakan apakah sekolah yang sedang dijajaki value for money atau tidak. Mahal jika sebanding dengan kualitas, rasanya tidak akan mengecewakan. Namun, jika mahal, namun hanya menjual embel-embel belaka, tidak sesuai dengan mutunya, sepertinya kok sakitnya dobel dobel ya. Di hati dan di kantong.

Orang tua kan mengejar isi, bukan bayar mahal demi gengsi.

Makanya saya salut sekali dengan seorang teman, yang rela trial di banyak sekolah untuk memastikan label montessori yang dilekatkan pada sekolah, benar-benar dipraktikkan. Prinsipnya, nama besar bukanlah jaminan. Pada seorang rekan yang lain juga. Dia dengan tegas mendaftarhitamkan salah satu sekolah dengan embel-embel bilingual, saat survey dan mendengar sendiri bagaimana pronouciation pengajarnya saat summer camp.

Survey, survey, survey. Mungkin itu adalah kunci, supaya biaya yang kita keluarkan worth every pennies. Mama nggak mau rugi!

3 . Memperbandingkan biaya sekolah dengan kemampuan.

Memang sedih dan juga pasti terbersit rasa bersalah ketika nantinya menemukan sekolah yang memenuhi poin pertama dan kedua di atas, namun ternyata melebihi budget. Pilihannya ada dua: menurunkan standar atau mencari strategi lain. Intinya adalah menjaga agar balance dan tidak mengorbankan stabilitas keuangan keluarga.

Yang saya dan suami usahakan adalah tetap dalam koridor tidak berhutang melebihi kemampuan bayar serta juga tidak mengorbankan DANA PENSIUN.

Yang boleh diotak atik adalah biaya operasional sehari-hari, yaitu dengan menurunkan gaya hidup atau berhemat. Namun, pos asuransi, hutang, hunian serta dana pensiun, menurut kami sebaiknya tidak diutak-atik.

CONTOH*), gambaran sederhananya seperti ini:

  • Hutang biasanya dipatok 30% dari penghasilan,
  • 10% untuk perpuluhan (atau 2,5% untuk zakat),
  • 5% untuk asuransi (berdasar pengalaman kami, karena hanya asuransi jiwa, askes ditanggung kantor),
  • investasi (dana pensiun, dll) 10%,
  • dana darurat (kami 0% karena sudah terpenuhi).
  • Sisanya untuk operasional sehari-hari, gaya hidup dan dana pendidikan, total sebesar 45%.
  • Maka apabila ingin memberikan porsi yang besar untuk dana pendidikan, maka dana operasional seperti makan, dll, atau gaya hidup mau tidak mau harus ditekan.

*)Persentase ini tidak saklek ya. Mungkin bagi keluarga tertentu perlu ada post untuk support orang tua, silakan disesuaikan.

Terdengar seperti tidak mau berkorban demi masa depan anak ya? Padahal justru karena demi masa depan anaklah, maka orang tua tidak boleh mengesampingkan dana pensiun.

Bayangkan, jika kita lalai mempersiapkan dana pensiun atau bahkan masih memiliki hutang saat sudah tidak produktif atau belum memiliki hunian saat usia lanjut, anak juga yang akan menjadi korban. Karena harus menanggung kita, orang tuanya sekaligus menanggung cucu-cucu kita nantinya. Alias menjadi sandwich generation.

Mempersiapkan Dana Pendidikan

Walaupun bikin deg-degan, saya bersyukur sekali, karena jaman sekarang sudah mudah mencari informasi tentang biaya sekolah di media sosial. Saya jadi bisa tahu besaran uang yang harus dipersiapkan sejak jauh hari. Berkaitan dengan pertimbangan di atas, kalau kita merasa, sekolah yang diharapkan itu mahal, maka ada beberapa hal yang mungkin bisa kita lakukan:

1 . Mempersiapkan biaya jauh-jauh hari.

Jangan lengah karena merasa, masih lama. Karena makin lama waktu persiapan, sebenarnya makin baik. Apalagi jika teman-teman bisa berinvestasi di instrument yang tepat. Total uang yang harus dispent bisa tidak sebesar jika persiapannya lebih singkat.

2. Mencari tambahan penghasilan.

Persiapan yang lebih lama, juga akan memungkinkan orang tua untuk mencari tambahan penghasilan. Penghasilan tambahan tersebut bisa khusus dialokasikan untuk dana pendidikan. Dengan demikian bisa meminimalisasi risiko berhutang.

Saya sendiri tidak anti berhutang untuk pendidikan anak. Namun, perlu diingat, ketika memutuskan berhutang, orang tua harus mengetahui betul sumber dana yang akan digunakan untuk membayar hutang. Jangan sampai terjerat hutang dengan bunga yang berlipat ganda, yang pada akhirnya nanti akan membebani sampai usia pensiun.

Ingat, ketika masa pensiun tiba dan utang belum selesai, anak jugalah yang akan menjadi korban akhirnya.

3. Mencari alternatif lain.

Kalau strategi pertama dan kedua sudah mentok, agar tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga, mau ga mau kita mengendurkan standar ya. Misal, dengan memilih sekolah yang lenih terjangkau.

Sementara apabila pilihan sekolah yang dikendurkan, orang tua masih bisa mencari alternatif untuk back up, seperti beasiswa, tambahan les/ kursus atau mendampingi anak melakukan pengembangan diri secara mandiri. Karena sesungguhnya, memang tugas orang tualah untuk mendampingi anak-anak dalam pendidikannya.

Memang pilihan yang sulit, dan tentunya, pilihan untuk menurunkan standar ini saya rasa baru boleh diambil jika kita sudah mencoba melakukan beberapa strategi terlebih dahulu. Last option, sampai titik darah penghabisan.

Jadi ya kesimpulannya???? Semangaaaaaaattt!!!

Teriring doa dari ibu yang anaknya masuk sekolah lima tahun lagi….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Cara Naik Pesawat Bersama Bayi 101

Cara naik pesawat bersama bayi, memang gampang-gampang susah. Tapi berdasarkan pengalaman saya kurang lebih satu tahun pulang pergi tiap dua minggu sekali Jakarta Surabaya naik pesawat bawa bayi, ada hal-hal yang harus diperhatikan agar perjalanan menjadi ringkas. Hal ini tentunya juga bisa diterapkan saat mudik naik pesawat bareng bayi, atau traveling bersama bayi di kesempatan lain.

Disclaimer: Artikel ini berdasarkan pengalaman saya selamai ini. Syarat dan ketentuan dari maskapai dan bandara bisa berubah sewaktu-waktu.

tips bawa bayi naik pesawat bersama bayi
Suami, saya dan Gayatri di Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta

Saya harap pengalaman saya ini bermanfaat ya….

Hal-hal yang harus diperhatikan antara lain:

1 . Pemilihan maskapai pesawat dan tempat duduk.

Yang seringkali terlewatkan saat mempersiapkan perjalanan bersama bayi adalah pemilihan maskapai. Pertimbangan yang utama biasanya adalah biaya ya. Namun, kenyamanan seharusnya pun tidak boleh dinomor duakan.

Kenyamanan maskapai mahal belum tentu lebih baik daripada maskapai low cost loh. Saya pernah membandingkan beberapa maskapai di kelasnya pada artikel-artikel sebagai berikut:

Perbandingan maskapai low cost.

Perbandingan maskapai full service.

Selain kenyamanan, yang paling penting dipertimbangkan saat memilih maskapai adalah: apakah maskapai tersebut memberikan izin kepada penumpang yang membawa bayi/ infant untuk melakukan online/ web checkin.

Karena beberapa maskapai seperti Garuda dan Sriwijaya tidak mengizinkan penumpang dengan infant untuk melakukan web checkin.

Hal ini perlu dipertimbangkan, karena web checkin akan mempersingkat waktu tunggu di bandara. Yang mana, akan lebih nyaman bagi penumpang dengan bayi. Nunggu lama di bandara, bareng bayi, itu kurang nyaman loh. Walaupun di lounge, walaupun se-kids-friendly apapun, kalau saya better sudah checkin online dulu.

Checkin online juga memungkinkan penumpang yang membawa bayi untuk memilih tempat duduk yang senyaman mungkin, sedini mungkin.

Memang beberapa maskapai seperti Air Asia dan Citilink, memperbolehkan untuk upgrade seat di atas pesawat dengan biaya tambahan, tetap saja jika masih tersedia seatnya. Jadi better persiapan si kalau saya.

Pastikan juga membaca cara naik pesawat dari web maskapai masing-masing untuk memastikan ada tidaknya peraturan khusus.

2 . Barang bawaan.

Jumlah barang bawaan tergantung lamanya vakansi dan juga jumlah orang yang berangkat tentunya. Kalau saya hanya berpergian berdua dengan Gayatri, saya akan lebih ngrepress barang bawaan, dibandingkan saat bepergian dengan suami.

Tujuannya tentu demi kepraktisan. Apalagi sekarang biaya bagasi untuk maskapai lowcost dibebankan ke penumpang ya…..

Untuk yang pertama kali berpergian naik pesawat bersama bayi, saya ingin kasih gambaran. Yang pertama harus dibawa adalah diaper bag, dimana kita bisa mengambil keperluan bayi dengan ringkas dan cepat. Jadi isinya hanya keperluan bayi selama dalam perjalanan. Sementara pakaian bayi dan orang tua selama liburan, wajib dipisahkan dalam tas kedua, dst.

Daftar isi diaper bag yang menurut saya harus dibawa saat anak usia di bawah satu tahun saya tulis di daftar barang bawaan.

Ada tiga tempat untuk meletakkan barang bawaan saat bepergian dengan pesawat:

  1. Di bagasi pesawat, untuk bawaan yang banyak dan berat. Kita bisa menitipkan barang saat melakukan checkin. Pilihan ini paling saya tidak sukai, karena proses pengambilannya di bandara tujuan, biasanya cukup lama.
  2. Di kompartemen kabin (di atas tempat duduk). Jika memutuskan untuk memilih tempat ini, yang harus dipertimbangkan adalah,pilih tas yang paling mudah dibawa, mengingat nanti kita akan menggendong bayi, menenteng diaper bag dan membawa tas berisi pakaian lain. Saya dan suami biasanya memilih travel bag yang bisa dipanggul di punggung (backpack).
  3. Di bawah kursi penumpang depan kita. Tempat ini relatif kecil, jadi biasanya saya taruh diaper bag saya di sini. Untuk memudahkan saya juga mengambil barang bayi yang dibutuhkan saat on board.

Paketin sebagian.

Pilihan saya lainnya (demi kepraktisan) apabila harus membawa bayi dalam perjalanan hanya berdua, adalah memaketkan barang bawaan. Supaya bawaan saya ringkas, hanya perlu gendong bayi dan nenteng diaper bag saja.

Memang jadi ada biaya tambahan, namun dalam kacamata saya, pilihan ini juga lebih aman. Karena konsentrasi kita tidak terpecah untuk mengawasi barang-barang yang banyak. Jadi kita bisa fokus untuk mengawasi anak dan keselamatan diri.

Stroller boleh dibawa ke pesawat?

Stroller yang boleh di bawa ke dalam kabin pesawat, setahu saya adalah yang bisa dilipat seukuran diaper bag. Kecil gitu. Pliko gitu. Selain itu, harus masuk bagasi.

3 . Tips saat di atas pesawat.

Yang paling sering ditanyakan adalah bagaimana tips agar anak tidak rewel di atas pesawat. Sebenarnya sebagai ibu, kita pasti mengenal anak kita ya, jadi kebiasaan sehari-harinya saja diadaptasi.

Yang pasti orang tuanya harus tenang ya. Sama-sama menjaga mood. Terutama mood ibu, karena akan berpengaruh ke anak. Jangan saling menyalahkan jika ada kejadian yang kurang menyenangkan. Karena yaaaa, namanya juga traveling sama bayi, ada aja kejadiannya hihihi….

  1. Bawa mainan kesayangan, tapi yang praktis. Misalkan anak senang nonton video, ya boleh dikasih. Atau senang mainan boneka, ya bawa bonekanya. Kalau senang baca buku, ya dibawa bukunya.
  2. Perlukah ear muff? Kalau pengalaman saya si tidak perlu ya. Saya sudah coba ear muff dan ear bud, untuk Gayatri, dia malah jadi ribet sendiri dan tidak nyaman. Jadi saya nggak pernah kasih lagi. Untuk menghindari rasa sakit di telinga saya menggunakan tips berikut:
  3. Untuk menghindari sakit telinga pada bayi saat naik pesawat, saya biasanya kasih minum susu (nenen) terutama saat take off dan landing. Proses mengenyot dan menelan air susu akan meringankan tekanan di telinga. Sama seperti kalau kita mengemut permen.
  4. Terkait dengan hal tersebut, pakaian yang nyaman untuk menyusui wajib digunakan.
  5. Menggunakan seat belt. Jika bayi tidak nyaman saat menggunakan seat belt (yang dikaitkan ke tubuh ibu), tanyakan ke pramugari apakah diizinkan untuk menggunakan gendongan. Dulu saya satu dua kali pernah diizinkan menggunakan gendongan SSC dan hipseat alih-alih seat belt. Namun pernah juga tidak diizinkan.
Saya dan Gayatri di Bandara Adi Sucipto

4 . Tentang kesehatan bayi saat naik pesawat.

Perlukah surat sehat? Pengalaman saya selama ini, tidak pernah dimintai surat sehat saat membawa bayi naik pesawat. Namun ada baiknya, untuk bayi yang masih sangat kecil, untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak langganan terlebih dahulu.

Bagaimana saat membawa bayi sedang pilek?

Saya pribadi pernan membawa bayi yang sedang pilek (common flu) naik pesawat. Tentu setelah berkonsultasi dengan dokter spesialis anaknya ya. Yang patut diwaspadai saat membawa bayi saat pilek, adala rasa sakit yang bisa terjadi di telinga karena tekanan di ketinggian.

Saya sendiri yang orang dewasa saja kalau sedang pilek, sering merasa sakit saat naik pesawat. Apalagi anak kan. Yang lebih membuat saya khawatir adalah takut mengganggu pendengarannya si. Itu yang lebih fatal. Oleh karena itu biasanya saya minta pendapat dokter. Kalau dokter oke, kondisi pileknya tidak parah, baru saya berangkat.

Kalaupun tetap berangkat, ada beberapa hal yang biasa kami lakukan untuk mengurangi rasa sakit di telinga. Poin-poin berikut juga adalah tips dari dokter kami, namun tentu tidak menggantikan judgement dari DSA teman-teman ya….

  1. Menyusui sepanjang perjalanan naik pesawat, jika dimungkinkan. Namun utamanya saat take off dan landing.
  2. Konsumsi obat pelega hidung tersumbat, yang diresepkan DSA.
  3. Menggunakan pakaian hangat.
  4. Memberikan minuman hangat saat akan naik, atau di atas pesawat jika dimungkinkan, untuk anak di atas 6 bulan.
  5. Mengolesi dada, leher dan punggung dengan balsam bayi/ minyak telon, untuk melegakan pernapasan. Saya biasanya pakai transpulmin.
  6. Rutin menggunakan nassal cleaner, terutama saat akan naik pesawat. Saya menggunakan sterimar.
  7. Menggunakan penyedot ingus. Pokonya memastikan saat akan naik pesawat hidungnya bersih dari ingus.
  8. Konsultasi dengan dokter is a must!

5 . Related Post

Pengalaman memalukan saat naik pesawat bareng bayi.

Pengalaman bawa bayi usia 4 bulan naik pesawat.

Pengalaman bawa bayi usia 9 bulan naik pesawat.

Sekian sharing kali ini. Cara naik pesawat bagi penumpang yang pertama kali terbang, akan saya bahas di artikel selanjutnya. Semoga bermanfaat yaaa!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share