Pengalaman Menggunakan Essential Oils (Organic Supply dan Young Living)

review essential oil

Sebelum terlalu jauh mereview essential oil dari Organic supply dan Young Living, serta menceritakan bagaimana pengalaman menggunakan essential oil, saya pengen cerita dulu tentang kenapa dan apakah worthy menggunakan EO.

Ya, karena sebagai orang yang pelit concern sama budget, pada awalnya saya juga merasa terintimidasi dengan harga produk-produk essential oil. Siapa yang sama hayo ngakuuu? Hahaha…. Ya memang nggak bisa dibilang murah si, cairan 5 ml s.d. 20 ml dalam botol amber kok bisa sambai puluhan s.d. ratusan ribu.

Tapi dengan beberapa pertimbangan, ternyata ada yang cocok. Jadinya nggak menyesal uda splurge money on it.

Pengalaman Pertama: Organic Supply

Jadi ceritanya di awal 2018 kemarin, saya long distance marriage dengan suami. Suami di Surabaya dan Jakarta. Saya bawa Gayatri, dan memutuskan untuk ngekos saja berdua. Saya nggak menyangka, kalau keputusan LDM ini punya konsekuensi terhadap kesehatan saya. Dalam artian stres, sehingga saya kesulitan tidur dan terus-terusan merasa lelah.

Sebelumnya saya sudah pernah menyoba beberapa oil blend dari berbagai merk, dan merasakan kalau badan saya memang bereaksi bagus dengan oil. Ngefek gitu lo. Nah, dari ngobrol-ngobrol dengan teman di kantor, yang punya keluhan sama, saya mempertimbangkan untuk mencoba essential oil, yang pure bukan yang blend, untuk masalah kesulitan tidur yang saya alami.

Merk yang pertama saya beli adalah Organic Supply. Pertama karena merk ini sering dibahas di livingloving.com, web kesayangan saya. Yang kedua adalah karena lagi promo. Hihihi…. Sekalian saya beli diffusernya.

Oil yang pertama saya beli tentu saja Lavender (10 ml) ya. Selain karena oil ini tu si mother oil. Juga sesuai dengan keluhan yang saya alami: susah tidur. Sukses. Oil ini beneran membantu saya rileks dan juga lebih mudah tidur.

ps. Yang spearmint nggak kefoto karena uda abis juga dan botolnya entah kemana.

Worthy or Not?

Hal ini bikin pembelian oil ini worthy buat saya. Karena susah tidurnya saya ini sudah mengganggu banget ya. Saya jadi sering nggak bisa mikir kalau di kantor. Emosi juga jadi nggak stabil, karena kurang tidur. Pekerjaan terbengkalai. Pun saya kawatir, kalau emosi saya nggak bagus akan buruk dampaknya pada perlakuan saya ke Gayatri.

Ngeri aja si, mengingat saya hanya berdua dengan anak di kosan.

Karena kesuksesan oil yang pertama, kemudian saya beli oil berikutnya: Clary Sage, Spearmint dan Tangerine. Ketiganya saya beli yang ukuran kecil 5 ml.

Clary Sage untuk membantu saya mengurangi rasa nyeri haid. Spearmint karena saya sering pilek (sebenarnya saya pengen Pepermint, hanya karena waktu itu Gayatri masih bayi banget, jadinya memilih Spearmint yang lebih mild, due to extra cautious). Kemudian kalau yang Tangerine, ini murni karena diskooooon 70%, wkwkwkwk.

Dari ketiga oil terakhir, yang menurut saya worthy adalah yang Clary Sage, karena berasa banget manfaatnya pas haid ya. Yang Spearmint, nggak terlalu ngefek di saya, tapi dimaafkan karena baunya enak dan jadi kombonya Clary Sage yang kurang saya suka baunya.

Tangerine ini ni yang saya nyesel beli, wkwkwkwk. Saya nggak suka baunya juga soalnya, manfaatnya juga ga jelas buat saya. Untunglah, saat saya pindah ke Surabaya, ternyata suami suka bau citrusynya. Jarang banget dia suka wewangian, bisa dibilang anti banget buat fragrance sintestis malah. Giliran kenal Tangerine oil, jadi malah oil ini yang pertama kali habis, karena suami saya boros kalau diffuse.

Lesson Learn

So, lesson learnnya adalah worthy atau enggaknya oil adalah tergantung kita milihnya. Riset dulu apa kebutuhan kita, dan juga jangan lupa riset juga oil apa yang tepat. Daaaannnn, riset juga bagaimana menggunakannya dengan tepat.

Saat itu, saya biasa pakai oil dengan tiga cara: diffuse, dillute di sabun bastille dan semprot. Saya nggak akan cerita lebih lanjut bagaimana bagaimananya ya, please riset dan sesuaikan dengan jenis oil yang digunakan serta kondisi masing-masing.

Sebenernya riset ini by googling juga bisa ya. Saya juga beli satu ebook terkait ini. Tapi jujur, sebagai newbie, adakalanya saya merasa lebih afdol kalau ada yang sharing dan kasih insight bagaimana menggunakan EO. Nah kebetulan, saya memang punya temen yang distributornya youngliving, namanya Mom Elly. Pas saya posting foto diffuser dan EO, dia DM, kita ngobrol-ngobrol dan berujung pada saya nyobain Young Living juga.

Pengalaman Kedua: Young Living

Oil pertama yang pernah saya coba dari Young Living, teteuuuup adalah Lavender (20 ml)!

Dari Mom Elly ini saya dapat tips penggunaan oil selain tiga cara tadi. Yaitu dengan dioles di kulit. Dari Mom Elly ini juga saya jadi ngeh kalau lokasi pengaplikasian oil di tubuh kita pun punya pengaruh yang berbeda-beda terhadap hasil yang diharapkan.

Untuk pertama kalinya juga, saya menggunakan EO di Gayatri (sebelumnya pernah juga coba oil blend untuk bayi) dengan oles dan diffuse. Dan sukseeees lagiiiii!!!

Duh seneng banget saya, soalnya pas lagi masa sapih kan. Dan Gayatri memang sempat beberapa saat susah bobok dan agak rewel. Cerita selengkapnya saya pernah cerita di artikel Sapih part 2.

Perbandingan Organic Supply x Youngliving

Kalau mau membandingkan antara Lavendernya Organic Supply dan Young Living. Yang saya rasakan si, untuk baunya, Organic Supply terasa lebih “manis” gitu, sementara yang Young Living lebih kerasa berat ya langunya. Kalau untuk urusan mengatasi kesulitan tidur yang saya alami, keduanya works well. Tapi kerasanya kalau pakai Young Living boboknya lebih pules. Ini dialami juga sama Gayatri dan suami ya, sepengamatan saya.

Worthy or Not?

Jadi kalau ditanya lagi, apakah worthy Lavendernya Young Living? Saya bilang si, buat kasus saya, worthy. Terlebih kalau YL bisa nanya-nanya ya, support groupnya lebih oke kalau saya bilang.

Cuma kalau ditanya tentang, apakah klaim tentang pengobatan dan penyembuhan berbagai macam penyakit itu benar, untuk kedua merk, saya no comment. Karena pengalaman saya sebatas mengatasi susah tidur dan anak rewel ya, belum pernah untuk penyakit yang macam-macam, jangan sampai ya, aamiin.

Walaupun demikian, kedua hal tadi walaupun terdengat sederhana tapi berujung pada kenyamanan dan kualitas hidup saya sebagai ibu. :)

Yap! Poin utamanya buat saya adalah meningkatkan kenyamanan saya kualitas hidup, jadi buat saya pribadi, penggunaan oil ini bukanlah pengganti obat maupun treatment dokter saat sakit. Namun mendukung kesehatan sehari-hari agar lebih bugar body and mind

Yap! Poin utamanya buat saya adalah meningkatkan kenyamanan saya kualitas hidup, jadi buat saya pribadi, penggunaan oil ini bukanlah pengganti obat maupun treatment dokter saat sakit. Namun mendukung kesehatan sehari-hari agar lebih bugar body and mind.

review essential oil

Where to buy:

Organic Supply: pernah beli di webnya https://www.organicsupply.co.id/ dan di official storenya di tokopedia. Follow akun IGnya buat update promo diskonnya. Kekurangannya adalah kita nggak bisa konsultasi ya. Mereka menyediakan informasi umum penggunaan EO di blognya.

Young Living: bisa dibeli di temen akoooh, bisa tanya-tanya aja dulu via DM di IGnya @pristinelly. Dia bukan yang tipe bakal menerormu dengan promosi-promosi gitu kok, jangan kawatir hihihi…. Mom Elly juga enak ditanya-tanya santai si tentang pengalaman menggunakan produk ini.

Gitu saja kali sharingku tentang pengalaman menggunakan essential oils dari kacamata konsumen dua merk di atas ya. Jadi aku nggak terlalu banyak cerita tentang ingredients, dll, hanya fokus ke mengapa saya menggunakan, apa manfaat yang saya rasakan dan pendapat saya tentang worthy atau tidaknya produk-produk di atas. Saya harap sharing kali ini bermanfaat yaaa! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Menghakimi Mom Snob

Artikel ini sebenarnya ditriger oleh artikelnya Mojok.co yang judulnya lebih ngegas: “Radikalisme New Mom Snob yang Terkadang Menyebalkan”. Yang isinya adalah curhat menarik atas fenomena ibu-baru-perfeksionis-yang-suka-mengomentari-gaya-parenting-orang-lain. Saya bilang menarik, soalnya ya saya related bangeeettt!

Di satu sisi, saya setuju dengan artikel tersebut.

Karena saya pun pernah jadi korban mom snob ya, dalam artian dikomentari secara negatif/ judgemental tentang pengasuhan saya ke Gayatri, dengan gaya yang terkesan merendahkan, meremehkan atau menganggap dirinya (lebih) pintar (poin 2 dari arti snob KBBI).

Dihakimi Mom Snob

Seperti yang disebutkan di Mojok.co, bahkan dua tema penghakiman favorit Mom Snob saya pernah dapatkan. Hehehe….

1  . ASI

Saya di”cubit” Mom Snob terkait ASI itu sekurangnya dua kali.

Yang pertama, saat saya mencari donor ASI bagi Gayatri usia 4 hari, yang harus opname karena sepsis tanpa stok ASIP sama sekali. Ada seorang kawan yang nyeletuk di Facebook, yang intinya, kalau dia jadi saya, dia nggak akan pakai donor ASI, dengan pendapat-pendapat tambahan yang nyerempet SARA.

Pengen rasanya ngegas dan bilang, “Yahhh, Lu nggak ngalamin sendiri si, Nyai!” Untung saya cepet pindah saklar, dan konsen ke urusan yang lebih penting.

Yang kedua, adalah saat saya kehabisan ASIP pas Gayatri growth spurt sekitar usia 3-4 bulanan. Yang komentar tetangga di komplek, kepada Mama Mertua saya yang sedang menenangkan Gayatri yang kelaparan di teras. Saya kan (masih) working mom 8-5 ya saat itu.

Tetangga berkata, “Ibunya ni gimana si, jam segini belum pulang! Nggak mikirin anaknya apa ya? Mana nggak ninggalin susu yang cukup lagi…. Anak saya ya, ASInya banyak Bu…. Harusnya tu…. bla bla bla….”, demikian dikutip oleh Mama Mertua.

Saya sedih? Ya sedih lah!

Tapi nggak sedih gara-gara Tetangga tsb si, lebih sedih karena nggak punya ASIP itu, bingung mikirin buat besok. Soalnya tu Tetangga juga uda disemprot Mama Mertua, hihihi, sampai nggak berani lewat depan rumah sampai beberapa lama.

Sejak saat itu saya bersahabat dengan Mama Mertua.

2 . MPASI

Yuhuuuu! Walaupun hubungan Mertua dan Menantu kami, bisa dibilang sangat amat baik ya…. Tapi bukan berarti tidak pernah ada gejolak di antara kami.

Tanpa mengurangi rasa hormat ke Mama Mertua (alm), saya sempet agak nyesek saat di awal masa MPASI, saya mengutarakan keinginan untuk MPASI homemade. Ditolak mentah-mentah bok sama Mama Mertua, dengan alasan kawatir saya tidak akan sempat.

Saya kaget juga, karena selama ini di rumah Mama, bahkan untuk masak mie saja, Mama Mertua bela-belain bikin mie from scratch loh!

Saya yakin, alasan sebenarnya, karena Mama nggak yakin saya nggak bisa masak MPASI dengan benar. Iya si, masak sehari-hari aja saya failed. Pantas kalau Mama Mertua nggak percaya kalau saya akan masak MPASI homemade.

Selama dua minggu, saya masak MPASI homemade sementara Mama Mertua tetap menyiapkan bubur MPASI instant berfortifikasi (saya juga yang beli, atas arahan beliau #mantunurut).

Setelah selama dua minggu, Mama melihat saya istiqomah dan melihat bahwa masakan saya cucok dengan kaidah MPASI WHO (Mama kader Posyandu, FYI), Beliau melonggarkan pengawasan. Dan secara langsung bilang kalau masakan MPASI saya oke.

Saya terharu. Rasanya tu kayak pengen teriak, “Yeayyy!!!” sambil diiringi lagu Malaikat Juga Tahu-nya Dewi Lestari. Hahahaha!

Malaikat juga tahuuuuu, siapaaaaaaaa yang jadiiiiiiiiii…. Juaranya…..

Merdu pisan euy!

Related Post: Woles Menyambut MPASI (Jurnal WHO Included)

Menghakimi Mom Snob

Tapi di sisi lain….

Ada beberapa hal yang mengganjal juga di hati saya terkait artikel tersebut.

Buat saya, masing-masing Ibu bebas melakukan pengasuhan dengan gaya apapun bagi anak-anak mereka. #ProIbu #ProChoice Jadi jelas, saya tidak mau berusaha membela atau membenarkan gaya komunikasi Mom Snob kebanyakan yang bagaikan NaCl di atas luka menganga ya….

Namun saya kawatir juga ni dengan fenomena ibu-ibu begitu mudah menghakimi ibu lain sebagai mom snob. Begitu mudah menuduh orang lain melakukan mom shaming.

Tanpa melihat, konten dari masukan/ kritik yang disampaikan si “mom-tertuduh-snob” ini.

Saya pernah baca blognya dr. Meta Hanindita. Dia dituduh mom shaming dong. Sama pasiennya! Pas dia melakukan edukasi tentang vaksin.

Okelah, saya nggak tahu persis apa kata-katanya. Namun, heloooo! ini dokter lo. Dan walaupun ada ibu yang anti-vaksin, tetep aja menurut saya aneh, kalau menuduh edukasi profesional seorang dokter sebagai shaming. Kita kan emang dateng ke dokter buat denger opininyaaaaa! Lah kok baper.

Lhah, kalau yang diomongin memang fakta atau opini berdasar, masa iya kita terus-terusan denial, Nyaaaah!

Kalau ternyata terbukti, yang rugi siapa?

Ya kita juga kaaan. Ya anak-anak kita juga kaaaan!

Jangan bilang saya bisa komen gini karena dokter saya baik ya. Saya pernah dateng ke dokter (yang di Surabaya) karena Gayatri nggak nafsu makan habis sakit, dan dijawabnya, “Ah Ibu kali yang nggak telaten (nyuapin).” Pake gaya orang Surabayaan gitu loh.

Hasyeeeemmmm!

Tapi saya jadi mikir, apa bener ya, saya kurang telaten. Hihihi….

Related Post: Menjadi Orang Tua yang Yakin

Atas dasar kepentingan kita, sesama ibu-ibu. Dan juga anak-anak kita yang terkasih. Izinkan eike mengungkapkan pendapat ya….

Apapun yang kita dengar tentang kepengasuhan kita. Mau enak, apa enggak enak. Mau pujian ataupun terasa nyinyiran. Marilah kita bareng saring dan pisahkan ke dalam 3 kluster:

1 . Fakta

2 . Opini

3 . Judgemental

Saya pakai contoh yang saya alami di atas ya….

1 . Tentang donor ASI.

Ternyata di balik omongan nggak enak temen saya tentang keputusan saya nyari donor ASI tu, banyaaaak banget fakta dan nilai-nilai kebenaran di dalamnya. Bahwa ada risiko dan bahaya yang membayangi proses donor ASI ini. Apabila tidak dilakukan penapisan ASIP yang benar.

Saat itu, benar, saking paniknya bahkan saya tidak mencari tahu latar belakang kesehatan pendonor ASIP. Walaupun saya sangat berterimakasih dan juga beruntung karena pendonornya (ternyata) sehat, bukankah ada kemungkinan bagi saya mendapatkan ASIP yang tercemar virus atau penyakit? —– ini fakta yang benar-benar saya sesali sampai sekarang.

Sampai sekarang saya tetap mendukung adanya donor ASI, namun dengan penapisan yang benar.

2 . Tentang kehabisan ASIP

Tetangga berkata, “Ibunya ni gimana si, jam segini belum pulang! Nggak mikirin anaknya apa ya? Mana nggak ninggalin susu yang cukup lagi…. Anak saya ya, ASInya banyak Bu…. Harusnya tu…. bla bla bla….”, demikian dikutip oleh Mama Mertua.

Jam segini belum pulang —–> fakta

Nggak mikirin anaknya apa —–> judgemental

Mana nggak ninggalin susu yang cukup ——> fakta

Anak saya ya, ASInya banyak Bu…. Harusnya tu…. ——> opini

Tentang penghakiman “nggak mikirin anaknya apa” yang dilontarkan tetangga tsb, saya berhak marah. Tapi kata Epicterus, “Any person anggering you becomes your master, he can anger you only when you permit yourself to be disturbed by him”.

Dan saya memilih untuk tidak mengizinkannya membuat saya marah.

Nggak penting. Mending pumping.

3 . Tentang MPASI homemade

Saya nggak bisa masak MPASI homemade dengan benar. —-> opini

MPASI berfortifikasi juga baik. —-> (ternyata) fakta.

Awalnya saya beropini kalau MPASI instant itu tidak baik karena ada pengawet lah, dll. Dan ternyata ketakutan saya tsb sirna ketika berdiskusi dengan mama mertua dan dokter anak kami.

Namun, saya juga berhasil mematahkan opini mama mertua bahwa saya nggak bisa masak MPASI homemade dengan benar. Hihihi. Bangga bukan main ya? LOL.

Pada akhirnya, tanpa emosi, kami berhasil berada di posisi sama-sama memahami pendapat masing-masing. Saya memahami pertimbangan Mama, dan Mama pun jadi respek pada kemauan saya berusaha dan belajar memasak untuk cucunya.

Persahabatan kami terjaga, sampai Beliau meninggal tahun lalu.

Bayangin kalau saya baper. Saya repot sendiri kalau traveling karena sama sekali nggak paham tentang makanan instan berfortifikasi. Hubungan saya dan mertua pun tentu akan memengaruhi hubungan saya dan suami. Jadi nggak enak semua lah.

Dan siapa yang rugi kalau nggak enak semua? Saya juga.

Ya gitu deh….

Daripada rugi sendiri, mending disaring omongan orang. Fakta dan opini (yang sahih) diambil. Bagian (yang kita rasa) judgementalnya dilupakan. Mereka hanya manusia biasa. Mungkin saja niatnya cuma sharing, nggak sengaja menyakiti….

Amin, jamaan….?

Enteng ya Nyonya ini kalau kotbah, super sekali. Hihihi…. Tapi yaaaa, kita sama-sama ngalami lah ya…. Daripada rugi sendiri, mari mengorganisasi pikiran menjadi lebih adem dan woles. Iyo to, enak to….

Udaaaa, iyain ajaaa…. Hahahaha….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Pengalaman Pulang Kampung Naik Bus Bareng Bayi

Tidak bisa ditampik, kebutuhan akan moda transportasi bus masih besar ya. Apalagi yang punya kampung halaman seperti saya, Pati. Yang tidak punya stasiun maupun bandara, dan letaknya nanggung banget.

Perjalanan dari Surabaya ke Pati, via darat adalah 6 – 7 jam, perjalanan santai. Kalau naik pesawat saya harus turun di Semarang, berarti perjalanan dari rumah ke bandara 30 menit, waktu tunggu sekitar satu jam, plus perjalanan udara kurang lebih satu jam, tambah bandara Semarang ke Pati (ke rumah saya) bisa sampai 3 jam. Jadi totalnya 5,5 jam. Beda tipis total waktu perjalanan, namun biayanya selisih jauuuuh. Demikian juga kalau naik kereta, stasiun terdekat juga ada di Semarang.

2019-02-19 05.18.21 1-1024x1024

Maka dari itu, sebenarnya saya paling prefer naik mobil pribadi. Dengan catatan, suami sedang fit, dan liburan kami cukup lama. Kalau suami sedang kurang enak badan ditambah lagi liburan hanya sebentar. Saya kok kasihan sama dia kalau harus nyetir PP tanpa istirahat. Saya nggak bisa nggantiin nyetir soalnya, wkwkwk.

Jadi kalau kondisinya begitu, alternatifnya adalah naik bus atau travel.

Di artikel traveling bareng bayi sebelumnya ada yang bertanya pada saya tentang tips perjalanan membawa bayi 4 bulan naik bus. Jujur saja saya tidak pernah bawa bayi usia segitu ya naik bus. Namun, saya pernah bawa Gayatri naik bus, perjalanan kurang lebih 7 jam naik bus, untuk pulang kampung, saat usianya satu tahun. Walaupun tidak bisa menjawab pertanyaan di artikel sebelumnya, saya tetep kepikiran mau sharing pengalaman tersebut, siapa tahu bermanfaat buat teman-teman yang lain yaaaakkk….

Berikut adalah cerita perjalanan sekaligus tips dari saya….

1 .  Cari Teman Seperjalanan

Jujur, kalau saya pribadi, belum berani naik bus bareng bayi sendirian. Naik pesawat si sering ya, tapi kalau bus, saya masih keder euy. Karena beda banget ya, antara naik pesawat, naik kereta maupun naik bus.

Kalau di atas pesawat atau kereta, kita punya support system seperti pramugari/ pramugara. Sementara kalau di bus tidak ada. Selain itu, di bus dan terminal, frekuensi orang keluar masuk sangat banyak. Tidak seperti bandara dan stasiun yang dibatasi dengan boarding pas. Hal itu tentu akan membuat kondisi di bus/ terminal lebih rawan dibandingkan dengan bandara/ stasiun.

Kondisi membawa bayi, tentulah akan mengurangi konsentrasi kita terhadap lingkngan sekitar. Sehingga adanya teman seperjalanan atau pendamping akan membuat kita lebih nyaman, aman dan juga bisa fokus mengurus anak.

2019-02-19 05.18.22 1-1024x1024

2 . Beli Tiket di Agen yang Terpercaya

Nah, kalau ini pengalaman pribadi jaman kuliah. Jadi waktu itu pertama kali saya naik bus dari Jakarta menuju Pati. Dan karena kurang pengalaman dan juga agak lugu-lugu bloon gitu, saya dibohongin calo dong. Dibohongin harga si masih mending ya, tapi ini tujuannya juga bedaaaaa! Parahnya saya nggak dikasih tiket, saat itu juga iya-iya aja. Dan diarahkanlah saya naik bus arah Solo.

Ingin ku memaki. Tapi kebodohanku sendiri juga si. Hahaha…. Ya namanya juga pengalaman pertama.

Dan ternyata ada satu keluarga juga yang mengalami hal yang sama di bus tersebut. Calo tidak sopan!

Pengalaman yang mirip, juga kami rasakan. Nyari tiket bus, untuk yang tidak terbiasa naik bus dan tidak kenal agen memang agak agak repot ya. Soalnya kadang agennya tu nggak bisa online. Kalau nggak punya nomor telepon mereka, ya kudu ke terminal. Wasting time.

Waktu itu saya perginya di pertengahan 2018. Belum tahu kalau bus sekarang pun bisa dibeli via website pemesanan tiket online seperti Traveloka. Padahal info tentang ini sudah ada sejak Maret 2018 di Kompas. Duh, kemana aja si guweee! So, saya mau infokan ke temen-temen tentang ini. Kalau mau bepergian naik bus, coba deh beli di web-web seperti ini. Jauh lebih tenang dan nggak kena calo.

3 . Pastikan Jam Keberangkatan

Terkait hal ini kami juga punya pengalaman kurang enak ni. Jadi setelah memesan tiket via agen, kami dapat jam keberangkatan jam 10 pagi kalau tidak salah. Ternyata agennya datanya nggak akurat dong. Jadi jam tersebut sudah penuh armadanya, dan kami dioper ke jadwal lain. Hmmmm….

Salah kami juga si, take it for granted ya, karena kami pikir semua agen pasti profesional. Jadi omongannya bisa dipegang walaupun kami belum cetak tiketnya di loket. Ternyata ya walau sudah reservasi, tapi kalau belum datang, bisa ditikung penumpang lain juga. Pengalaman yak…. Hihihi….

Untungnya jam penggantinya tidak jauh-jauh amat. Setelah beberapa saat menunggu, sambil deg-deg-an, akhirnya kami berangkat.

Terkait dengan poin di atas, kalau pesan via agen, sekali lagi, pastikan ambil tiketnya sebelum hari H lengkap dengan keterangan waktu keberangkatan ya. Jangan hanya mempercayai obrolan dengan agen via telepon.

Kalau pesan via Traveloka si uda relatif aman ya. Karena ada jaminan keberangkatan. Pilihan jamnya juga sudah pasti di aplikasi.

Misalkan saja dari kota Wonogiri ke kota Jakarta, kita sudah memilih PO Sedya Mulya, ni. Tinggal pilih dan order jam yang available yang tertera di aplikasi. Atau bisa juga memilih kota keberangkatan ke kota tujuan yang lain, PO lain dan jadwal keberangkatan lain, semuanya jelas. Nggak ada kira-kira, seperti yang saya alami di atas.

4 . Bawalah Perbekalan

Di terminal Bungur Asih, dari tempat drop off ke bus kita harus berjalan kaki. Jadi penting untuk memastikan barang bawaan seringkas dan seringan mungkin, namun tetap sekomplit mungkin. Kalau saat naik pesawat atau bawa kendaraan pribadi, teman-teman terbiasa bawa koper, saya menyarankan untuk menggantinya dengan travel bag yang bisa dicangklong di punggung.

Bawaan bayi wajib dipisahkan ya di tas tersendiri (diaper bag) supaya tidak perlu bongkar bagasi hanya untuk mengambil minyak telon, misalnya.

Yang wajib dibawa dalam diaper bag, saat melakukan perjalanan membawa bayi naik bus adalah:

  • obat-obatan, minyak telon, dan printilan lain terkait P3K bayi,
  • makanan; snack dan juga makanan berat,
  • pakaian ganti; untuk bayi dan orang tua minimal satu stel, jaga-jaga kalau ada yang muntah,
  • tisu; basah dan kering,
  • diapers,
  • air minum,
  • kaus kaki,
  • handuk kecil,
  • hand sanitizer.

Related post: Tips Menjaga Kesehatan Bayi Saat Traveling

naik bus bareng bayi

5 . Ambil Hikmah dan Nikmati Perjalanan!

Nah, di luar pengalaman kurang menyenangkan dengan agen tadi, sebenarnya perjalanan menggunakan bus cukup menyenangkan ya. Terutama karena Gayatri saat itu (usia kurang lebih 18 bulan) sangat excited. Bagaimana tidak, naik “mobil” yang ukurannya berkali-kali lipat dengan ukuran “mobil” yang biasa dia naiki, membuat dia amazed. Wkwkwk…. Dasar anak kecil!

Ketinggian bus dibanding kendaraan lain, juga membuat Gayatri punya pengalaman sudut pandang yang berbeda terhadap jalan raya. Fun banget lah! Kebetulan armada yang kami naiki juga sangat nyaman. Jadi ketidaknyamanan di masalah ticketing tadi terhapuslah sudah.

Saat sampai di kota tujuan, semua juga happy, termasuk suami saya, karena bisa beristirahat dalam perjalanan. Jadinya kami bisa langsung beraktivitas keesokan harinya, untuk berkunjung ke rumah saudara.

Sekian sharing dari saya, semoga ada manfaatnya yaaa!

Salam sayaaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share