Barang Antik dan 7 Koleksi untuk Investasi yang Menguntungkan

nitendo

Saya punya sepupu yang hobi banget blusukan ke kampung-kampung dan mbongkari gudang demi mencari benda-benda unik. Yah sebenarnya banyak benda-benda yang dia ambil, saya anggap tidak bernilai. Tapi, sebaliknya justru dianggap sebagai investasi olehnya dan mungkin juga orang lain yang memiliki hobi sama dengan sepupu saya itu. Saya jadi menyesali momen-momen bersih-bersih yang pernah kami lakukan di rumah eyang. Seharusnya banyak benda-benda tua dan kuno yang menurut saya sudah rusak dan layak buang yang bisa jadi untuk koleksi atau dijual kembali sebagai barang antik. Bisa untung mayan cuy!

Lesson learnnya si, buat kamu yang punya koleksi mainan-mainan yang dianggap kuno tapi masih berfungsi dengan baik seperti Game Boy, action figure, hingga benda-benda lawas seperti perangko, uang jadul, piringan hitam, dan lain sebagainya. Jangan buru-buru buang yak. Jika tidak membutuhkannya, kamu bisa menjualnya daripada hanya disimpan di gudang dan menuh-menuhin rumah.

nitendo

Trus…. jualnya dimana?

Tidak perlu khawatir, kalau berdasar pengalaman sepupu saya, barang-barang tersebut pun bisa dijual secara online atau di komunitas. Enaknya dengan ada toko online, kita tidak perlu mencari pelanggan sendiri, tidak perlu membuka toko yang membutuhkan biaya besar, dan tidak perlu melakukan promosi macam-macam. Karena semua itu sudah dilakukan oleh toko online yang bersangkutan.

Seperti online shop Bukalapak misalnya. Sehingga, sebagai penjual kita hanya perlu melakukan registrasi atau mendaftar sebagai jual. Kemudian pajang saja barang yang akan dijual. Tinggal duduk manis di rumah, segera pembeli akan berdatangan. Jika ada pembeli yang tertarik atau jika ada penawaran, aplikasi toko online akan secara otomatis memberikan kita notifikasi.

Saya sendiri pernah berbelanja series komik jadul Harlem Beat (komik jaman saya dan suami SMP) buat seserahan nikah, secara online. Hihihi…. Habisnya komik itu uda nggak terbit lagi di toko-toko buku. Dicari kemana-mana susah. Padahal tu seri ada nilai historisnya buat hubungan kami, jadi pengeeeen banget punya. Eh, nemu online…. Happyyyy!!!!

Related post: Antara Irit dan Wishlist

Bagi kamu yang tertarik dan ingin membeli atau mencari benda-benda seperti buku kuno maupun baru, mainan seperti action figure, remote control, video game, batu cincin atau batu akik, perlengkapan musik dan alat musik, senjata tradisional, miniatur mobil, gamepad bluetooth, boneka, gitar, hingga bibit tanaman, coba deh cari juga deh di Bukalapak. Siapa tahu nemu di mari.

Oiya balik lagi tentang barang-barang koleksi yang bisa dijadikan investasi karena bisa dijual lagi. Coba deh cek, siapa tahu di gudang rumahmu, atau di gudang rumah eyang banyak menumpuk benda-benda berikut:

7 benda koleksi atau barang antik yang bisa dijadikan sebagai investasi menguntungkan:

1. Buku

Buku adalah jendela dunia sekaligus sumber ilmu yang sangat berharga. Ada banyak buku_buku kuno yang menyimpan ilmu-ilmu penting dan dianggap sebagai barang berharga oleh para kolektor dan pecinta buku. Kalau kamu punya buku-buku menarik yang sudah berusia, dan tidak membutuhkannya lagi. Kamu bisa menjualnya di olshop Bukalapak. Siapa tahu ada yang kayak saya kan, nyari buku yang sentimentil buat seserahan nikahan atau kado buat orang tersayang….

2. Perangko

Perangko dianggap sebagai barang antik yang berharga mahal. Banyak orang menganggap perangko sebagai sesuatu yang bernilai tinggi karena tingkat kelangkaannya. Perangko yang saat ini tidak lagi kita gunakan merupakan benda yang banyak dikoleksi dan dijual dengan harga mahal.

perangko

3. Uang kuno

Walaupun tidak bisa digunakan untuk transaksi tapi dianggap sebagai benda langka Uang jadul, atau biasa kita dikenal juga dengan istilah uang lawas dan uang kuno adalah benda bernilai tinggi yang juga sering dikoleksi oleh para kolektor layaknya perangko.

4. Action figure

Action figure adalah mainan modern yang semakin banyak diminati karena harganya yang mahal. Mahalnya harga action figure tidak lepas
dari tingkat kerumitan pembuatan dan detail pada mainan tersebut.

5. Kamera jadul

Kamera jadul bisa jadi benda antik yang harganya sangat mahal. Sekalipun tidak berfungsi lagi, jangan buang kamera-kamera jadul yang kamu miliki. Pasalnya, masih banyak kolektor yang ingin mengoleksi benda-benda seperti ini. Buat pajangan juga cakep kan.

kamera

6. Piringan hitam dan kaset

Piringan hitam dan kaset adalah benda yang mulai dianggap langka dan unik. Jika kamu punya koleksi benda-benda seperti ini sebaiknya jangan dibuang dan rawatlah dengan baik.

7. Tanda tangan orang terkenal dan populer

Tanda tangan bisa jadi sangat bernilai terutama apabila berkaitan dengan public figure yang bersangkutan. Misalnya jika kamu punya tanda tangan
di atas kaos Timnas dari pemain bola populer Indonesia seperti Evan Dimas contohnya. Tanda tangan yang mereka akan sangat bernilai beberapa puluh tahun kedepan atau ketika pemain sudah pensiun dan punya banyak prestasi.

Apa lagi ya barang-barang jadul lain yang bisa dijual? Ada ide? Atau pernah punya cerita jual/ beli koleksi barang antik atau unik? Yuk share cerita di komen…. ūüôā

Sumber gambar: pexels.com

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Tips Hemat Belanja Online

belanjaan online

Kalau ditanya terakhir saya belanja offline, sepertinya sudah berbulan-bulan yang lalu deh. Sejak menjalani Long Distance Marriage, saya sangat bergantung pada belanja online, demi kepraktisan. Bagaimana tidak, pergi ke pusat perbelanjaan dengan anak berusia 21 bulan, yang sedang seneng-senengnya lari-larian tu tantangan tersendiri ya. Untuk makan atau untuk window shopping masih okelah. Tapi kalau nyari barang, hmmm…. Seringnya emosi saya, hehehe.

Pokoknya saya mau belanja offline kalau lagi bareng sama suami aja. Selain itu, online for the rescue!

belanja offline

Terimakasih para olshop dan marketplace! Keberadaanmu sungguh membantu kami.

Walaupun memang membeli secara online akan ada biaya tambahan seperti misalnya ongkos kirim, tapi biaya-biaya tersebut bisa diakali lo, supaya jatuhnya nanti tetap bisa lebih hemat atau setidaknya sama dengan belanja offline tapi dengan benefit lebih praktis. Sebelumnya saya pernah share 5 cara berbelanja online saat lebaran, termasuk di dalamnya bagaimana membuat daftar belanjaan, dll. Berkenaan dengan itu, saya mau share 5 tips tambahan meminimalisasi biaya belanja online:

1 . Manfaatkan Cashback

Buat yang belum familiar dengan istilah ini, definisi cashback adalah persentase pengembalian uang/ uang virtual atas pembelian suatu barang yang memenuhi syarat dan ketentuan tertentu, yang dapat digunakan pada masa yang akan datang.

Biasanya si cashback bisa dipakai saat pembelian berikutnya. Namun ada juga yang bisa diuangkan kembali seperti di Shopback.

Enaknya di Shopback ini selain dia bisa diuangkan, di sini kita juga banyak pilihan marketplace yang dapat cashback gitu di luar promo marketplacenya sendiri. Jadi yang biasa belanja di Lazada ya tetep belanja di Lazada-nya, tapi via Shopback biar dapat cashbacknya di Shopback.

Setahu saja gerainya ada 100 an lebih, coba aja dicek yak, siapa tahu selama ini teman-teman biasa beli di gerai tersebut tapi nggak via Shopback jadi nggak dapat cashbacknya. Mayan kan, seolah nabung pas belanja.

2 . Manfaatkan Free Ongkir

Hitung perbandingan biaya ongkir dengan biaya yang harus dikeluarkan saat belanja offline. Kalau biaya bensin ditambah parkir ditambah kerepotan yang ditimbulkan belanja offline masih lebih ringan dari pada belanja online ya offline aja. Tapi kalau engga, ya mending belanja online kalau saya mah.

Terutama ni groceries ya…. Hehehe, betul, bahkan untuk groceries pun saya belanjanya online. Groceries kan biasanya cukup berat tu. Kalau saya belanja offline, saya akan kesulitan bawa karena sambil bawa bayi, tapi kalau online bakal gede jadinya ongkirnya. Untuk itu saya biasanya akan ngakalin dengan nyari marketplace yang kasih free ongkir untuk pembelian tertentu.

Belinya batch dalam jumlah banyak jadi sekalian memenuhi syarat harga minimal. Kalau belanjaan teman-teman kebetulan sedikit, bareng aja sama teman yang lain biar bisa satu check out. Dapet dah tu free ongkirnya.

Bayangkan, beli beras, alpukat, pisang, tepung dll. Semua jadi ringan, nggak perlu angkat-angkat tiba-tiba belanjaan uda dateng di depan pintu kos. Daaaaaaan tetap hemat. Asoy!

List groceries hasil belanja online rekomendasi saya, saya tarus di highlight Instagram @nyonyamalas dengan judul GROCERIES ya…. Beberapa di antaranya sbb:

belanjaan online

Related post: Cara Mengatur Keuangan Keluarga

3 . Manfaatkan Kupon/ Voucher

Kalau kupon/ voucher biasanya saya dapat infonya dari influencer nih. Jadi mereka suka share kode voucher affiliasi mereka, jadi kalau kita pakai voucher itu kita dapat diskon dan dia dapat affiliate fee gitu. Sama-sama seneng kan.

Kalau engga dari para influencer, bisa nyari di shopback tadi juga atau di marketplacenya sendiri. Terutama kalau lagi tanggal cantik kaya tanggal 9 bulan 9, tanggal 10 bulan 10 atau pas Hari Belanja Online Nasional alias Harbolnas tuh para Kupon dan Voucher akan bertebaran.

Kita? tinggal pungutin aja….

Tapi inget jangan gas pol, direm juga yaaak…. Biar nggak kalap belanja yang nggak perlu.

LALUUUUU….

4 . Pinter-pinter Mix And Match

Kalau bisa DI-MIX-AND-MATCH-KAN saja ketiga tips di atas!

Hihihi, ga cuma baju yak yang harus di mix and match. Cashback – free ongkir – kupon jugaaa! Tapi kalau ga bisa ketiganya ya dua aja juga uda happy si.

Misalnya saya belanja groceries di fresh boxnya blibli.com via shopback, kadang saya berkesempatan dapat cashback (dari shopback) dan juga free ongkir (dari blibli-nya). Atau cari di Lazada yang ada kuponnya gitu gitu ya…. Tapi memang harus teliti cek dan riceknya.

5 . Silahturahmi Membuka Jalan Rejeki

Salah satu jalan rejeki adalah informasi. Informasi diskon, informasi cashback, informasi kupon. Ya, karena kadang-kadang tu proo muncul pas kita lagi lengah, nggak cek notifikasi di PC misalnya. Kan jadi bisa kelewatan.

Kalau saya punya satu temen di salah satu Whatsapp Group gitu yang rajiiiin banget nyari cashback dan diskonan, kita panggil dia Mamanda. Uda gitu dia seneng banget share kalau ada info diskon gitu. Jadi kalaupun aku ngak sempet ngecek2 sendiri, aku sering taunya dari dia….

Biasanya di grup mamak-mamak birthclub juga pada rajin sharing diskonan juga tu…. Apalagi diskonan popok apa lipen…. Kiss kiss muach banget pokoknya….

Gitu aja si palingan tips dari saya. Simple aja, tapi lumayan ngefek kok. Jadi nggak banyak buang-buang duit buat beli Thaitea kalau belanja offline kan, terminimalisasi juga anak minta dibeliin jajan yang engga-engga.

Selamet (duitnya alias hemat), nyaman dan praktis.

Selamat berhemat dengan belanja online! Semoga sharing kali ini bermanfaat!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Irit vs Wishlist

irit

“Tercenung adalah ketika, menahan wishlist begitu lama, dan ketika memutuskan beli, uda sold out”.

Bulan lalu saya pernah story-in kalimat dengan nada demikian. Diakhiri dengan pertanyaan, “Sebenarnya saya ini irit atau pelit (sama diri sendiri) si?” Trus ketawa. Ngetawain diri ini.

mengatur keuangan

Tebak apa coba wishlist saya?

Sepele, cuma scarft dari idekuhandmade yang entah kenapa saya suka banget. Harganya sebenarnya juga masih terjangkau banget buat kocek kami. Cuma nggak tau kenapa saya ga jadi jadi beli. Padahal tiap buka Instagram selalu sempetin buka akun mereka untuk ngecek apa produk itu masih available. Trus setelah berminggu-minggu, akhirnya out of stock. Hahaha….

hiks

By the way….

Beberapa tahun terakhir ini saya dan suami memang struggling¬†untuk mengatur keuangan. Beberapa hal uda pernah saya ceritain ya di post-post sebelumnya. Strugglingnya worthy si, karena akhirnya kami bisa dapat yang kami mau. Tapi lepas dari uda dapat yang dimau ternyata “otot” otak kami masih kejang. Jadi masih kebawa-bawa sampai sekarang perhitungannya.¬†Dikit-dikit alarmnya bunyi “eman duit eman duit”, begitulah bunyinya.

Saya inget-inget. Terakhir saya beli lipstik itu tahun lalu. Dan cuma satu-satunya yang saya beli. BLP Burnt Cinnamon. Produk lokal, nggak murahan tapi ya nggak mahal juga. Sama sekali nggak beli tas. Beli sepatu pake duit sendiri cuma satu, sepatu olahraga karena saya emang nggak punya, dan butuh buat kerjaan kalau lagi jadi asisten outbond. Saking nggak pernah beli sepatu, sampe papa mertua saya beliin saya sepatu sampai dua biji! Hahaha! Mungkin beliau prihatin, mengira kami miskin segitunya.

Ah, kamu! Nggak beli lipstik aja dibilang irit. Lihat tu di luar sana, masih banyak bahkan yang harus makan biskuit tanah. Bersyukur dong….

setrong

Bukan saya nggak bersyukur ya. Tapi cuma pengen menggambarkan kondisi yang terjadi. Lagipula membanding-bandingkan dengan orang yang menderita juga kurang pas ya dalam hal ini. Bandingin sama temen sekantor gitu, mungkin lebih apple to apple lah kondisinya….

Saya tahu, sebenarnya kebiasaan saya untuk menahan diri ini bagus.

Tapi seberapa bagus sampai tidak kelewatan?

So, saya akhirnya membuat semacam peraturan buat diri saya sekarang terkait masalah ini, agar saya tetap irit namun tidak kelewat pelit.

1 . Doing  nice to my self is not a crime at all.

Saya mulai menyadari ada beberapa pembelian barang terutama yang terkait dengan selfcare atau malah fashion tidak bisa didasari dengan semata-mata logika. Somehow, beberapa produk kita beli selain kita butuh, juga melibatkan preferensi.

Misalnya: beli sabun mandi. Di luar kita bahas mahal atau murah, it is okay kok menurut saya kalau memilih produk yang lebih mahal karena baunya membuat kita lebih happy, lebih fresh…. Atau sepatu, ya…. it is okay lah buat memilih sepatu yang nyaman, walaupun itu lebih mahal sedikit. Atau makanan, selain membuat tubuh sehat, ada kalanya kita juga butuh makanan yang lezat juga kan….

hehehe

Saya mencoba untuk, walau sedang berhemat, tapi ya nggak boleh terus mengabaikan preferensi pribadi (atau juga pasangan). Doing nice to our self is not a crime at all.

Di poin ini saya tidak sedang mendukung konsumerisme demi kesenangan hati semata-mata ya.¬†Poinnya adalah kalau memang menginginkan sesuatu (yang benar-benar kita inginkan) ya why not? Treat yourself. Kalau mahal, ya menabunglah.¬†Namun, jika hal-hal tersebut membuat kita malah merasa bersalah karena boros. Maka pilih kesempatan-kesempatan khusus untuk memberikan diri kita sendiri “nice things” sebagai rewards.

Untuk mengetahui apakah saya benar-benar menginginkan sesuatu, lanjut ke poin berikutnya.

2 . Shopping intentionally, not just shopping therapy.

Prinsip tentang belanja sebenarnya tidak hanya sekedar tentang “restriction” atau pembatasan. Namun lebih ke “intention” atau niat dan tujuan dari belanja itu sendiri. Kalau memang butuh ya gapapa kan belanja. Mahal pun gapapa, asal memang butuh. Tapi kalau nggak butuh, murah pun jangan dibeli gitu. Apalagi cuma karena iseng….

  • Tanyakan pada diri sendiri, “Do you really need it? Do you really love it?”
  • Riset tentang produknya baik-baik. Apa kelebihan dan kekurangannya.
  • Memikirkan benar-benar apa nilai tambah produk tsb.
  • Cek barang yang sudah dimiliki. Bandingkan dengan poin sebelumnya. Apakah ada barang lain yang bisa mensubstitusi?
  • Wait 24 jam sebelum membeli untuk menghindari pembelian impulsif.
  • Atau tunggu lebih lama lagi, tapi jangan lupa dicatat. Jadi semacam punya wishlist panjang yang bakal saya evaluasi berkala.

3 . Akankan saya akan tetep happy dengan produk ini tiga bulan lagi?

Since saya membatasi diri untuk berbelanja setiap saat. Saya mulai menekankan ke kualitas barang yang saya beli. Akankah dia akan bertahan tiga bulan atau lebih? Apakah dia awet? Dan apakah saya akan tetap menyukainya setelah tiga bulan? Seberapa sering akan menggunakannya?

Kalau saya bisa menjawab dengan baik, dan jawabannya positif. Yauda beliiiii!¬†Seperti akhirnya saya beli juga tu¬†scarft dari idekuhandmade yang saya ceritain di awal. Bela-belain pre order jadinya, wkwkwkwk….

love love

Pada akhirnya jalan keluar dari irit menjurus medit (pada diri sendiri) vs wishlist adalah kebijaksanaan. (((kebijaksanaan))) wkwkwkwk. Dan kebijaksanaan biasanya ada di tengah-tengah. Nggak yang peliiiiiittt, tapi juga nggak yang boroooooossss….

Gimana kalau menurut temen-temen? Apakah teman-teman punya tips mengatur keuangan tapi yang nggak pelit sama diri sendiri? Sharing dooong….

Terimakasih ya sudah mampir, salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Couple/ Family Budget Meeting, Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga

cara mengatur keuangan rumah tangga

Pas lebaran kemarin, pas maaf-maafan sama pasangan pada ngaku dosa keuangan nggak si sama pasangan?

“Yang, maaf ya, dulu aku bohong sama kamu. Bilang kalau gamis Ria Miranda yang aku beli itu seratus ribuan…. padahal x.xxx.xxx.”¬†Atau ada yang ngumpet ngumpet beli pallete eye shadow baru (lagi)? ūüėõ

Atau suami,¬†“Iya Bu, aku juga. Ngakunya beli diamond buat game Marvel Future Fight 50 ribu per bulan, padahal per minggu beli….”¬†Atau ngibulin istri besaran THR yang diterima?

Hahaha, hayo siapa yang 11-12? Yaaaa nggak plek jiplek gitu tapi beti. Ngaku ajaaaaaa! Aaaakkkkk….

Kalau saya dan suami si enggak. #kibasrambut

Bukan! Bukan karena kami nggak mampu ngibul satu sama lain. Tapi karena kami sering banget ngobrolin masalah keuangan keluarga. Bisa dibilang tiap minggu bahas. Apalagi pas dulu narget ngelunasi utang lebih cepat, lebih sering lagi. Jadi ngaku dosanya nggak nunggu dirapel pas lebaran wkwkwkwk. Uda keburu ketahuan eh ngaku duluan.

Lagipula kami tau password atm, mobile banking dan email masing-masing, jadi gampang ngetracenya. LOL.

hehehe

Wkwkwkwk! Tapi seriusan, Couple/ Family Budget Meeting yang rutin dilakukan itu dampaknya baik lo sebagai salah satu cara mengatur keuangan rumah tangga.

Couple/ Family Budget Meeting sebagai Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga

Manfaatnya adalah selain 1) mendorong keterbukaan, juga 2) mendorong masing-masing pasangan untuk tetap berdisiplin mengatur pos/ anggaran yang dimiliki. Selain itu, kita juga jadi 3) aware sama kondisi keuangan terkini dan 4) bisa nyari solusi bareng kalau ada masalah.

Seperti kemarin, suami bilang, “Duit kita kok jadi cepet abis ya akhir-akhir ini, padahal uda jarang jajan.”¬†“Cek aja yuk pak di mutasi rekening,” saya menimpali.

Dan ketemu jawabannya: biaya perjalanan rutin PP Surabaya – Jakarta kami gede bangeeet, saking seringnya. LDM ini sungguhlah berat di ongkos. Ya, gimana dong. Kangen sik, seminggu nggak ketemu tu rasanya kaya nggak ketemu 168 jam.

Hehehe….

Habis menemukan fakta itu, kami ngobrol lebih lanjut. Walau masih meraba-raba cara ngakali biaya perjalanan ini, tapi setidaknya sudah tiada prasangka di antara kami. Bahwa anggaran bocor bukan karena salah satu dari kami foya foya, tapi karena ada jarak di antara kita. Jadi tinggal fokus mikir solusinya.

Thanks to Couple/ Family Budget Meeting!

cara mengatur keuangan rumah tangga

“Couple/ Family Budget Meeting”, ah elaaah bahasanya ribet amat ya. Sebenernya si ya kaya ngobrol-ngobrol biasa, hanya bahasannya spesifik. Fokus ke masalah keuangan. Nggak harus dibungkus serius kaya rapat kantor gitu. Bisa juga sambil ngeteh-ngeteh. Gimana enaknya aja….

Biar meetingnya efektif dan efisien sebagai cara mengatur keuangan rumah tangga, selama ini kami selalu berusaha untuk melakukan hal-hal berikut:

1 . Terbuka satu sama lain.

Dari awal menikah, saya dan suami sudah sepakat untuk terbuka masalah keuangan. Bahkan sebenarnya sejak sebelum menikah, kami pun sudah tahu kondisi keuangan masing-masing. Tidak ada kekawatiran ataupun keraguan akan ditilep satu dengan yang lain.

Mungkin ada yang bilang keterbukaan seperti ini naif. Tapi bagi suami istri yang sah, kami berpikir bahwa tubuh pun kami bagi dan saling terbuka, padahal itu hal yang sangat pribadi. Mengapa soal keuangan tidak?

2 . Nggak baper.

Ada lo yang baperan sama pasangan masalah keuangan. Entah karena gede kecilnya pendapatan. Karena background status keluarga. Atau hal lain. Nhaah, jangan sampai baper ini mengganggu komunikasi saat ngobrolin keuangan ya. Tar jadi problem di akhir malah.

3 . Memahami prioritas bersama namun menghargai kebutuhan atau bahkan (sekedar) keinginan pasangan.

Saya pakai kata “sekedar” di dalam kurung ya. Walaupun bukan prioritas bersama, bisa jadi keinginan/ kebutuhan pasangan adalah prioritas baginya. Kadang agak susah menerima juga si. Misalkan hobi. Hobi itu kan kadang nggak logis ya. Cuma ya nggak ada salahnya dipertimbangkan, walaupun tak selalu dikabulkan wkwkwkwk.

Karena siapa tahu hobi bisa juga mendukung kinerja pasangan. Atau mendukung kesehatan pasangan. Fisik maupun mental.

Kalau nggak parah-parah banget absurbnya si, kami biasanya saling support. Contohnya seperti yang saya sebutkan di awal, suami saya menganggarkan beli diamond buat mendukung main game. Cuma Rp 50.000,00/ bulan ya oke oke aja saya mah. Atau beli sepatu futsal, kan balik juga buat kesehatan dia. Saya mah happy banget.

Mending dia main game apa main bola kan dari pada mainin hati saya. Ah elahhh….

Saya? Ya saya punya hobi juga. Ngeblog ini juga hobi yang makan biaya loh. Domain sama hosting per tahunnya Rp 610.000,00 ribuan sendiri. Belum kalau saya pingin stiker-stiker lucu. Hehehehe…. Walaupun dari blog saya juga dapat uang saku. Tapi sejujurnya, domain dan hosting kadang suami juga sik yang transferin. ūüėõ

Suami rela? Ya rela lah. Daripada saya menyalurkan lebih dari 15.000 kata per hari saya ke dia kan. Mending saya bawel di blog dan jadi lebih kalem ke deseu.

Cuma ya teteeeep, kita punya batasan. Yaitu prioritas keluarga. Nah, prioritas keluarga ini uda harus diomongin dan jelas dari sejak awal menikah ya. Kalau kata mbak Prita Ghozie si uda jelas TUJUAN KEUANGANnya apa dulu.

setrong

4 . Ada data pendukung.

Saya dan suami adalah orang yang punya preferensi masing-masing. Dan kebetulan sama-sama kuat. Jadi daripada gontok-gontokan dengan pendapat masing-masing, kami lebih suka ngomong pakai data.

Misalkan, suami lebih suka investasi pakai emas, saya suka tanah. Suami suka reksadana, saya pengen coba-coba saham. Nah, yang kaya gitu kan sebenarnya nggak ada benar salah ya. Itu preferensi. Jalan tengahnya adalah, sama-sama belajar tentang preferensi masing-masing. Kenapa si suami suka emas? Misalkan begitu.

Untuk dapat diskusi dengan kepala dingin tanpa asumsi sendiri, enakan pakai data pendukung.

5 . Ada catatan.

Catatan adalah poin penting dalam menggunakan couple/ family budget meeting sebagai cara mengatur keuangan rumah tangga. Tanpa catatan, bisa jadi budget meeting sudah menghasilkan solusi, tapi kemudian dilupakan begitu saja. Kan sayang….

Kami pernah punya satu buku bahkan lo. Buku ijo, yang kami gunakan sebagai buku catatan utang. Di situ tersimpan hasil budget meeting kami tentang prioritas utang mana yang duluan mau dibayar dan dibayar dari sumber penghasilan mana.

Selengkapnya tentang buku utang ini saya pernah cerita di Tips Melunasi Utang Sebelum Jatuh Tempo.

Catatan di poin ini nggak selalu buat utang ya. Bisa juga untuk tujuan keuangan lainnya. Disesuaikan saja yak!

6 . Ada meeting followup berikutnya.

Catatan juga harus difollow up ya. Meeting followup ditentukan aja saat meeting sebelumnya. Jadi bisa janjian, tar seminggu lagi kita bahas lagi yak. Yah, semacam itu. Saya sendiri nggak punya jadwal khusus banget.

Frekuensi ngobrol dan lamanya sesi ngobrol tentu tergantung kondisi ya. Ada kalanya kami hanya berupa pertanyaan, “Masih ada duit, Bu?” Atau “Eh, aku baru dapat bonus loh, tak buat beli speaker yo!” Uda kelar.

Atau bisa jadi lebih lama. Yang lebih lama biasanya kalau bahas masalah yang dampaknya jangka panjang. Seperti pelunasan utang, mau investasi, rencana beli kendaraan, ya sejenis itu. Teman-teman pasti sudah punya bayangan di keluarga masing-masing ya….. Atau malah uda rajin melakukan couple budget meeting?

Sharing dooong gimana biasanya cara mengatur keuangan rumah tangga di rumah masing-masing…. ūüôā

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Tips Melunasi Utang Lebih Cepat

tips melunasi utang

Mumpung menjelang lebaran ni…. Maunya kan semua dimulai lagi dari 0. Termasuk utang hihihi, maunya habis lebaran utangnya pun jadi 0. Bukan malah nambaaaaaah! Hihihi…..

Pro kontra tentang utang memang tiada habis dibahas. Masing-masing sisi memang punya argumen yang kuat sesuai kondisi keuangannya. Namun, ngotot dengan satu pendapat juga tidak bijaksana menurut saya. Seperti melarang orang KPR misalnya, “Emang ngana mau bikinin rumah deseu kalau orang yang ngana larang tar jadi gelandangan?” Kan engga…. hehehe….

Jadi ngingetin orang boleh, tapi jangan ngotot. Walaupun kita (MUNGKIN) benar, tapi ya kan kita kadang nggak tahu persis kondisi orang yang kita nasehati. So, marilah ngobrolin tentang utang dengan santai.

tips melunasi utang

Saya anti utang? Tidak.

Saya pro utang? Tidak juga sik.

Punya utang tu nggak enak banget.

Btw, saya nggak bahas riba ya. Soalnya emang nggak memahami hal tersebut. Jadi tulisan berikut nggak akan nyangkut sama riba, dosa, dan konsep agama lainnya. Tapi sharing pengalaman aja.

Saya mengalami sendiri, punya utang dalam jumlah besar (bagi saya, puluhan juta itu besar ya) sejak usia muda. Sekitar umur 20 tahunan. Kredit Tanpa Agunan di sebuah bank. Buat beli tanah di kampung. Lama kreditnya 7 tahun. Nekat bhet yak? Belum 7 tahun uda saya top up buat beli tanah lagi.

Keputusan yang nggak sehat sebenarnya. Karena menjadi beban buat keuangan saya secara jangka panjang. Kalau temen-temen seangkatan saya uda bolak balik liburan ke luar negeri, punya mobil atau tabungan yang melimpah. Saya nggak pernah. Gaya hidup pun sederhana, atau malah jangan-jangan dianggap medit ya. Mungkin kadang ada yang mbatin, “Ah masa nggak ada duit sih.” Ya bukan masalah ada enggaknya duit, tapi masalah ada tidaknya anggaran.¬†Kan anggaran kami ketat, karena kami¬†sadar harus nyicil utang, dan bunganya yang tiada tara ituuuuu.

hiks

Menyesal berutang? Enggak juga si.

Saya tidak menyesal, karena waktu itu tanah yang saya beli pas dibawah harga pasar banget. Apalagi akhirnya tanah tersebut akhirnya ditinggali orang tua saya, karena dekat dengan tempat kerja mereka, alih-alih rumah kami yang sekitar sejam dari tempat bekerja orang tua. Saya jadi tetap happy.

  • Pengalaman punya Kredit Tanpa Agunan

Happy bukan berarti saya juga tenang-tenang aja loh. KTA yang harusnya lunas di 2022, uda lunas tahun kemarin (2017). Setiap ada rejeki; hadiah lomba, honor, THR, dapat hibah dari orang tua, atau apapun, kami alokasikan pertama-tama buat nyicil pokok utang tersebut. Sebisa mungkin lunas secepatnya. Dan syukurlah sudah lunas.

Related post: Prosedur Melunasi Kredit Tanpa Agunan di Bank Mandiri

  • Pengalaman punya Utang di Pegadaian dan Kartu Kredit

Selain KTA, kami pun pernah punya cicilan pegadaian dan kartu kredit karena ada hal-hal mendadak yang nggak terduga, dan melebihi dana darurat kami. Sama juga, saat ada rejeki wajib hukumnya langsung dilunasi. Biar nggak dibebani bunga yang bertambah setiap jatuh tempo.

  • Pengalaman punya Utang sama Temen

Satu lagi, hihihi, banyak banget ya pengalaman ngutang kami. Utang sama temen. Ini pernah dialami sama suami. Jumlahnya lumayan pula, karena terkait sama usahanya dulu. Duh, sungkan banget rasanya punya utang sama temen. Walaupun kita tau dianya pun paham kondisi kita, tapi tetep nggak enak secara moral. Utang jenis ini yang kami prioritaskan untuk kami lunasi dan sekarang juga uda kami kelar. Bisa dibilang ini jenis pinjaman yang sangat amat lunak, namun kalau nanti amit-amit harus ngutang, kami akan memilih untuk mencari sumber lain dulu, demi menjaga hubungan baik.

setrong

Akhirnyaaaaa….

Saat ini kami bebas utang. Walaupun masih harus mengencangkan ikat pinggang karena kondisi Long Distance Marriage, setidaknya kami mulai bisa mengatur keuangan lagi dengan lebih leluasa, tanpa beban utang. Dan kalaupun nantinya harus utang (lagi), kami akan benar-benar berhitung atas konsekuensi yang harus kami pikul.

Saya cerita di atas bukan sekedar mau show off atau pamer banyak duit makanya bisa bebas utang. Bukaaaan! Sebaliknya malah, kami pengen cerita kalau walaupun duit kita terbatas, kita masih bisa kok melunasi utang lebih cepat.

Dari pengalaman kami di atas mungkin kalau mau disarikan menjadi tips, kaya gini ya….

Tips melunasi hutang lebih cepat:

1 . Catat semua utang yang dimiliki dan buat prioritas.

Saya dan suami di awal menikah, sudah tahu sama tahu kondisi keuangan masing-masing. Itulah sebabnya kami nggak mengadakan resepsi pernikahan. Prioritas keuangan kami saat itu bukan bikin resepsi. Prioritas kami adalah membangun pondasi keuangan keluarga yang lebih sehat. Dan poin utamanya adalah melunasi hutang.

Honey moon juga kagak, di rumah aja. Yang ada beberapa hari setelah menikah, kami tulis secara rinci utang piutang kami di sebuah buku tulis. Kemudian kami tandai mana yang akan kami bayar duluan saat punya uang dan mana yang prioritas kedua.

Step-stepnya membuat list prioritas adalah sebagai berikut:

  1. bikin list atau tabel yang berisi informasi nama utang – utang kemana – besarannya berapa – jatuh tempo kapan – ada bunganya tidak, poin nomor 1 ini nantinya bermanfaat untuk menentukan nomor 3,
  2. kemudian urutkan utang berdasarkan besarannya dari yang kecil ke besar,
  3. evaluasi berdasarkan urgensinya (misal demi hubungan baik, atau demi menghindari bunga, dll), ditimbang-timbang aspek-aspeknya ya,
  4. saya prefer memilih melunasi yang kecil-kecil dulu dan yang utang ke temen duluan – baru kemudian yang pegadaian dan yang terakhir yang KTA.

List ini bermanfaat karena setiap ada penghasilan kami bisa langsung cek list ini, hihihi. Kalau mau beli-beli apa juga kita jadi lebih aware, kalau nggak penting-penting banget mending bayar utang duluan.

2 . Restrukturisasi utang jika memungkinkan.

Restrukturisasi utang biasanya dilakukan orang untuk memperpanjang jangka utang (mengecilkan besaran cicilan) agar memudahkan membayar setiap periodenya. Namun, yang saya maksud malah sebaliknya. Untuk mempercepat pelunasan utang, kami pernah mengajukan pembayaran cicilan lebih besar sehingga memperpendek masa utang.

Jadi misalnya nih (MISAL), cicilan lama sebesar 4 juta/ bulan untuk 5 tahun. Diubah menjadi 8 juta/ bulan untuk 2 tahun. Mengajukan hal seperti ini sebenarnya wajar ya, karena penghasilan kami meningkat. Belum lagi kan jadi double income, sehingga kemampuan membayar kami lebih besar.

Namun sayangnya, skema restrukturisasi di bank tempat saya memiliki utang agak aneh. Saya diminta top up utang dulu baru bisa mengubah waktu dan besaran cicilan. Hal tersebut membuat kami tak jadi mengambil opsi ini dan mengambil cara lain. Namun, cara ini bisa teman-teman coba, siapa tahu bisa lebih menguntungkan di bank teman-teman.

3 . Pakai bonus/ pendapatan tak terduga untuk bayar utang.

Nah, poin 3 ini sebenarnya bagi kami adalah kunci. Bonus, honor, THR, hibah, warisan atau apapun langsung segera dialokasikan ya. Walaupun ngenes rasanya, tapi kita akan menikmati buahnya di belakang. Selain itu, alokasi pendapatan tak terduga ini membantu kita mempercepat pelunasan utang TANPA mengganggu anggaran rutin sehari-hari.

kuat

4 . Buat anggaran untuk mengurangi biaya sehari-hari.

Poin ini sebenarnya tidak selalu harus dilakukan. Poin ini harus dilakukan hanya jika teman-teman adalah mengalami besar pasak dari pada tiang. Jika biaya sehari-hari tidak dikurangi, niscaya akan terjadi gali lobang tutup lobang. Jadi utang nggak kelar-kelar, namun hanya ganti judul dan skema saja.

Saya pernah menuliskan cara membuat anggaran sederhana dan cara mengotomasinya pada artikel tips mengatur pengeluaran keluarga (ada contoh excelnya).

5 . Mencari pendapatan tambahan.

Poin ini gampang-gampang susah ya. Kalau punya keahlian khusus seperti suami saya yang insinyur, mungkin bisa buka jasa konsultasi perencanaan membangun rumah atau renovasi. Kalau seperti saya, hobi menulis saya lah yang biasanya mendatangkan tambahan pendapatan. Tentu masing-masing orang memiliki peluang dan cara yang berbeda-beda. Yang pasti jangan sampai mengganggu pekerjaan utama ya….

Demikian sharing dari saya, semoga ada manfaatnya yaaa…. Kalau teman-teman punya tips lain, boleh juga loh nambahin di comment section. ūüôā Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!