Pengalaman Cabut Gigi Geraham dengan BPJS dan Daftar Puskesmas Online

PhotoGrid_1547492584764-1024x576

Saya memiliki BPJS Kesehatan selama delapan tahun, namun baru kali ini benar-benar memanfaatkan fasilitas ini. Dan cukup terkesan ya. Terkesannya karena ternyata apa yang selama ini saya underestimate ternyata tidak demikian. Berikut pengalaman saya cabut gigi geraham di Puskesmas menggunakan BPJS Kesehatan dan aplikasi eHealth.

Sebelumnya saya cerita dulu ke-skeptisan saya terhadap BPJS ya…. Jadi sebagai PNS kan saya diberi fasilitas BPJS. Berarti genap 8 tahun saya terdaftar keanggotaan BPJS, sesuai masa kerja saya. Bahkan seharusnya suami dan Gayatri anak saya pun bisa dapat fasilitas ini free dari kantor, karena biaya BPJS Kesehatan PNS kan ditanggung kantor.

Namun karena banyak kabar yang beredar kalau pakai BPJS nggak nyaman dll, selama delapan tahun ini hampir tidak pernah saya memanfaatkan BPJS saat sakit/ melahirkan, dll. Bahkan suami dan anak pun tidak saya urus administrasi keanggotaannya.

Saat suami opname di tahun kemarin, saya memilih biaya mandiri. Demikian pula saat Gayatri opname lima hari, pun kami memilih biaya mandiri. Dengan harapan akan mendapat layanan kesehatan yang lebih baik.

Tapi ternyata sama saja. Waktu Gayatri opname, saat itu yang tersedia hanya Kelas 1. Jadi di kamar ada dua pasien. Satu pasien lagi ternyata adalah pasien BPJS. Dari situlah, mata saya mulai terbuka terhadap layanan rumah sakit terhadap pasien BPJS. Kebetulan kedua pasien sama-sama rujukan dari IGD ya…. Jadi bukan dari faskes 1.

Saya si melihatnya pelayanan yang pasien BPJS itu dapatkan sama kok dengan yang Gayatri dapatkan. Saat keluar kami hampir bersamaan, Gayatri duluan dan saya ke kasir. Saya bayar sampai manyun, dan orang tua pasien BPJS itu sumringah karena gratis. Hehehehe, saya manyun beneran. Karena kalau saya dulu nggak skeptis, saya nggak perlu bayar biaya RS kan ya, karena toh dicover BPJS.

hiks

Pengalaman yang mahal. Wkwkwkwk….

Oleh karena itu, saat awal tahun ini saya berencana perawatan gigi geraham, saya memutuskan untuk mencoba menggunakan BPJS saja. Soalnya, di tahun 2017, suami saya pernah cabut gigi geraham juga di satu Fakultas Kedokteran Gigi di Jakarta Selatan, biayanya kurang lebih 2,5 jutaan. Saya pikir dengan duit segitu, mending buat nambahin saya beli Ipad Pro demi bisa doodling elektronik, wkwkwk.

Kedatangan Pertama: Kesan Pertama

Pertama saya datang ke Puskesmas, saya dapat antrian ke 6 apa ya. Cukup lama menunggunya, karena ternyata pada saat yang bersamaan, Puskesmas sedang cek alat. Tapi masih wajar si, nggak sampai jam 11 siang, saya sudah kelar. Perawatan pertama, saya diberi obat untuk menghilangkan rasa sakit dan infeksi dulu, dan diminta kembali lagi. Tidak dikenakan biaya untuk obat maupun dokter.

Kami dapat informasi kalau pendaftaran bisa dilakukan secara online di http://ehealth.surabaya.go.id/pendaftaran/. Sehingga saya nggak perlu menunggu lama, demikian kata petugas Puskesmas. Wow! Saya cukup terkejut si, ternyata Puskesmas sudah berkembang dengan baik ya. Apa saya aja yang nggak update ya? Hehehe….

Kedatangan Kedua: Bolak Balik Periksa Gigi

Kedua kali saya datang, menuruti kata petugas, saya daftar online dulu H-1. Syukurlah saya dapat antrian kedua, suami saya dapat antrian pertama wkwkwk, dia mau ikutan cek gigi juga. Sayangnya, ternyata kondisi gigi saya belum sepenuhnya siap untuk tindakan. Sehingga saya masih perlu konsumsi obat. Hanya obat diganti/ disesuaikan. Biayanya Gratis ya.

Berikut hasil download nomor antrian daftar puskesmas online, file ini tinggal ditunjukkan pada petugas ya….

pengalaman cabut gigi geraham di puskesmas

PS. Nama dan NIK saya saya blur ya….

Oh, iya! Saya diminta kembali lagi beberapa hari kemudian. Dokter juga menambahkan kalau ternyata kondisi gigi saya tidak juga bisa dilakukan tindakan di kedatangan ketiga maka perlu dilakukan rujukan ke dokter spesialis.

Awalnya saya nyaris kumat skeptisnya. “Tuh, kan disuruh bolak balik!”, demikian saya curhat ke kakak ipar. Namun ternyata kakak ipar balik cerita kalau dia pun pernah mengalami hal yang sama (diminta bolak balik) di Klinik Swasta, terkait perawatan gigi. Jadi memang prosedurnya begitu ya. Dokter tidak bisa melakukan tindakan jika gigi masih terasa sakit dan ada penyulit tertentu.

Kedatangan Ketiga: Tindakan Cabut Gigi Geraham

Ketiga kalinya saya datang. Dokter melihat kondisi gigi saya, syukurlah sudah siap dilakukan tindakan. Setelah menunjukkan kartu BPJS Kesehatan ke dokter, saya dicek tekanan darahnya oleh dokter umum, kemudian cek gula darah di lab pada Puskesmas yang sama. Kurang lebih satu jam proses pemeriksaan darah, dll, saya kembali ke klinik gigi untuk dilakukan tindakan.

Sayangnya saya nggak bisa mengambil gambar ya, karena ada larangan mengambil gambar di Puskesmas.

Ruangan tindakan sebenarnya cukup besar ya, namun terasa sempit karena ada dua kursi periksa gigi pasien yang cukup besar. Walaupun begitu saya rasa, kondisinya cukup nyaman kok.

Tiga kali perawatan, dokter yang menangani saya sama. Namun saat tindakan ada dua dokter lagi yang menemani. Salah satunya, dilihat dari penampakannya terlihat lebih senior. Dokter yang senior ini yang kemudian menjelaskan kepada saya tentang tindakan dan alasan tindakan perlu dilakukan.

Ketiga dokter ini cukup menyenangkan gaya komunikasinya. Saya sungguh senang dengan cara mereka mendengarkan keluhan, kemudian memeriksa serta meminta feedback kepada saya. Karena tubuh saya sepertinya memang agak kurang merespon obat bius (pengalaman operasi sebelumnya, juga demikian), saya sempat merasa kesakitan, dan ketiga dokter dengan sabar memberikan dosis lagi serta menunggu lagi sampai bius benar-benar bekerja di mulut saya.

Tindakan selesai.

Biaya Cabut Gigi Geraham di atas: Gratis.

Lesson Learn:

Jangan berpikiran negatif dulu terhadap segala sesuatu. Terutama ketika mendengar review dari orang lain. Karena kebanyakan orang bercerita ke orang lain itu dengan tema sambat. Sambat tentang pengalamannya yang kurang menyenangkan. Sementara mungkin pengalaman yang postif kurang banyak diperdengarkan ya….

Untuk itu saya jadi kepikiran untuk nulis artikel ini, sebagai penyeimbang juga. Oiya, ada cuitan dari Raya Fahreza juga tentang layanan BPJS yang dikomen dan diretweet ribuan orang. Bisa dicek di sini, untuk punya another point of view.

Saya nggak juga berpendapat kalau sistem ini sudah sempurna ya. Tentu saja masih ada room for improvement untuk membuat layanan BPJS ini semakin baik. Tapi berdasar pengalaman saya ini, juga berdasar pengalaman saya menjadi pasien di RS Swasta seperti RS Premier Bintaro, Eka Hospital BSD, IMC Bintaro ataupun klinik-klink biasa, layanan di Puskesmas Gununganyar ini bisa dibilang not bad lah.

Apalagi gratis kan. Hihihihi…. Seneng banget deh saya, kalau inget layanan di atas itu free.

love love

Saya menulis ini juga bukan berarti naif terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan oleh beberapa oknum yang masih memperhitungkan untung rugi ya. Kalau ada yang bilang oknum seperti itu masih ada, saya juga yakin ada si.

Apresiasi

Namun saya tetap mau menuliskan pengalaman ini untuk mengapresiasi tenaga kesehatan dalam hal ini tiga orang dokter gigi yang merawat saya (saya tidak sebutkan namanya due to their privacy), faskes Puskesmas Gununganyar dan juga Pemkot Surabaya. Semoga cerita ini pun mendorong orang lain untuk bercerita hal baik yang sama, dan hal baik tersebut menjadi standar baru bagi layanan kesehatan di bangsa ini.

Hihihi…. Sekali-kali serius ya eike ngomongnya….

Pahami Prosedur

Oiyaaa! Selain itu, tetap menurut saya, sebagai pasien kita harus mengert prosedurnya baik-baik. Supaya kita tahu mana yang bisa kita upayakan untuk meminimalisasi ketidaknyamanan. Karena kalau nggak ngerti prosedur dan kudu bolak balik ga jelas, juga males juga kan Kumendan.

Nah, salah stu prosedur yang menurut saya memudahkan pasien (di Surabaya) adalah aplikasi eHealth berikut. Saya nggak tahu kalau di daerah lain ya. Saya pernah baca di artikel Mbak Uniek kalau di Semarang bisa via WA. Please let me know, buat yang pengalaman jadi pasien di Puskesmas daerah lain, infoin aja di comment section ya. Pasti akan bermanfaat banget buat orang lain juga.

Daftar Puskesmas Online via eHealth Surabaya

Aplikasi ini sebenarnya tersedia di Appstore ya. Tapi kalau nggak mau download aplikasinya bisa ke webnya saja si di http://ehealth.surabaya.go.id/pendaftaran/. Saya sendiri juga daftarnya via web hehehe.

Kalau penjelasan Pemkot Surabaya terkait aplikasi ini adalah sbb: “Aplikasi yang dikembangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk memudahkan akses layanan kesehatan baik promotif, preventif, dan kuratif untuk mewujudkan masyarakat Surabaya sehat, mandiri, dan berdaya saing global.”

Saya nggak mau mereview panjang lebar ya. Hanya ingin menunjukkan bagaimana langkah-langkah melakukan pendaftaran sebagai pasien di Puskesmas menggunakan aplikasi ini.

Langkah-langkah Daftar Puskesmas Online

Langkah-langkah pendaftaran pasien ditunjukan dengan gambar berikut ya. Gambar-gambar di bawah adalah hasil screenshoot dari aplikasi eHealth Surabaya yang berbasis web:

daftar puskesmas online

  • Pilih Bahasa (Indonesia, Jawa, Madura)
  • Pilih Fasilitas Kesehatan (Rumah Sakit atau Puskesmas)
  • Pilih Regional Puskesmas (Surabaya Pusat, Barat, Utara, Timur, Selatan)
  • Pilih Nama Puskesmas

periksa gigi di puskesmas

  • Pilih Status Kependudukan (KTP Surabaya atau Non Surabaya)
  • Pilih Poli Kesehatan yang Ingin Dikunjungi (Umum, Gigi, KIA atau Klinik Ibu dan Anak, Gizi, Sanitasi, Batra, Psikologi, Lansia)
  • Isi Data Pasien, Verifikasi
  • Download Nomor Antrian

Sekian sharing kali ini yaaaa! Semoga infonya bermanfaat bagi yang mau daftar puskesmas online atau yang mau cabut gigi geraham dengan BPJS di Puskesmas! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Tentang Pilihan Gaya Hidup #CerdasDenganUangmu

gaya 2

Hidup 26 tahun dalam keluarga pegawai negeri, membuat cara pandang saya terhadap uang sangatlah konservatif. Penghidupan ya dari pay day ke pay day berikutnya, dicukup-cukupin tapi pasti. Hidup sederhana tapi tidak pernah berkekurangan. Selalu ada makanan empat sehat lima sempurna serta tidak pernah terlambat bayar SPP. Semua karena kedisiplinan dan ketaatan terhadap anggaran.

Tidak ada istilah boros, tidak mungkin juga berfoya-foya. Semuanya bermuara pada satu kata: PAS. Kalau ada sisa, bolehlah ditabung. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Kira-kira begitulah yang diterapkan dan yang saya pelajari dari rumah Papa.

Warna baru yang berbeda, saya rasakan ketika menikah. Suami berasal dari latar belakang keluarga yang sangat berbeda. Alih-alih bekerja kepada negara, mereka terbiasa berwirausaha atau self employed. Gaya hidupnya pun sangat berbeda.

gaya 1

Saya dan Alm. Mama Mertua

Jika diibaratkan dengan minum kopi, mungkin gaya hidup keluarga Papa saya bisa disamakan dengan minum kopi susu encer. Kami menikmati kafein yang tipis perlahan-lahan, supaya persediaan kopi tak segera habis. Sementara gaya hidup Papi mertua saya, menurut Mama mertua, seperti minum espresso. Telak dan mantap. Kafeinnya sekali teguk, nendang sampai ke jantung.

Perbandingannya mungkin begini. Satu SEMPAK milik Papi, harganya bisa sama dengan SEPATU milik saya yang paling mahal. Telak dan mantap.

Saya nggak tahu apakah tingkat kenyamanannya memang seworthy itu atau bagaimana ya…. Wong saya juga nggak pernah nyobain. Ya iyalah, masa saya cobain! Serius! Saya tahu harga celana dalam Papi karena pernah ikut kakak ipar belanja titipan beliau, hehehe. Bawa goodie bag isi sempak aja banyak sales apartement yang ngintilin. Itu baru sempak ya. Belum lagi jam tangan beliau. Mungkin sama harganya dengan harga rumah saya di kampung.

Tapi itu sekarang…. Pas jaman mujur, bisnis sedang di atas angin. Tapi bukan sekali dua kali, Papi mengalami kesulitan keuangan. Mama mertua sendiri yang bercerita bagaimana mereka harus menyambung nasib dari jasa jahitan dan jualan tahu goreng. Jangankan untuk menabung, kakak pertama dan kedua suami pun sempat putus kuliah. Beda banget kan perbandingannya, kayak naik roller coaster kalau kata Raffi Ahmad #eh.

Berbalik dengan itu, Papa saya di masa sulit adalah sahabat karib para pegawai bank. Kredit apapun pasti akan cair kalau sudah disodori SK PNS sebagai agunan. Satu belum lunas saja, sudah ditawari top up. Belum lagi dari koperasi kantor Papa. Slip gaji yang rutin dan pasti datang serta pinjaman demi pinjaman tersebut adalah jaminan, bahwa hidup kami ya lempeng lempeng saja. Punya pelampung dan sekoci cadangan. Selama waspada, pasti selamat sampai tujuan.

gaya 3

Gayatri dan Mama Papa Saya

Saya cerita seperti ini bukan sedang menjelek-jelekkan salah satu dari mereka ya. Both Papa maupun Papi, memberikan pelajaran yang berharga kepada kami berdua.

Pelajaran tersebut bernama: pilihan gaya hidup.

Saya pernah baca di moneysmart.id tentang gaya hidup kelas menengah milenials jaman now yang biayanya per bulan melebihi Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta. Banyak ya. Iya, hanya untuk gaya hidup saja. Dan saya tidak memungkiri hal ini kok. Karena kami sempat juga mengalaminya.

Makan di restoran bisa berkali-kali dalam satu minggu, nonton bioskop setiap film baru tayang. Belum lagi rider receh-recehnya kan, seperti kalau nonton beli snack, beli minum, dll. Nggak kerasa eh banyak! Eh, eh, eh, kok banyak banget!

Gaya hidup tersebut jadi mulai terasa berat saat saya dan suami mengambil pilihan untuk sama-sama keluar dari pekerjaan. Suami resign dari pekerjaannya di Jakarta dan mengambil job di suatu proyek kecil di Surabaya, dan saya menyusul dengan mengambil cuti selama tiga tahun tanpa digaji.

Kalau ditanya pengennya bagaimana? Ya maunya gaya hidup tetap asyik, enak, mantap, nendang, tralala tapi sekaligus juga sustain sampai selama-lamanya. Cuma kan yaaa…. Kita berada in the middle class problem ni: banyak mau sementara sumber daya terbatas. Jadi mau nggak mau ya harus menentukan pilihan. Kemana gaya hidup ini kita mau arahkan.

Kami banting setir. Nggak ada lagi tu makan-makan di luar rumah terlalu sering. Ya sekali dua kali dalam sebulan oke lah. Selebihnya kami belanja secara bulk dan masak sendiri di rumah. Dan guess whaatttt???? Di bulan Desember ini, kami bisa mengurangi biaya hidup sampai tinggal 30% dari sebelumnya. Lumayan banget kan ya, dan rasanya nggak sengsara-sengsara amat loh.

Saya jadi makin yakin, kalau masalah keuangan sebenarnya hanya matter of choice saja.

Ya. Tidak ada yang harus.

gaya 2

Tidak ada yang salah atau benar.

Mau senang-senang mumpung masih muda? Monggo….

Mau investasi biar senang-senangnya pas sudah tua aja? Juga monggo….

Semua balik lagi ke pilihan masing-masing. Lebih suka “minum kopi susu” kaya Papa saya atau “espresso” kaya Papi saya. Hanya saja, jangan memaksakan diri minum espresso kalau minum kopi susu aja udah deg-degan.

Sesuatu yang dipaksa itu rasanya bakal menyakitkan. Aseeekkk….

Kapan si harus mulai mengevaluasi pilihan gaya hidup?

1. Saat penghasilan berubah.

2. Saat memiliki tujuan keuangan baru.

3. Kapanpun saat ingin.

Bagaimana memulainya?

Beberapa hal berikut yang menurut saya cukup mudah untuk dilakukan saat memulai perubahan gaya hidup:

1. Mengurangi frekuensi makan di luar.

2. Auto debet rekening langsung ke rekening khusus tabungan atau investasi.

3. Tutup kartu kredit/ uninstal aplikasi fintech atau setidaknya minimalisasi penggunaan fasilitas cicilan.

4. Ambil kursus gratis/ kerjakan hobi yang produktif sebagai pengalihan perhatian.

Pertama melakukan perubahan pasti ada rasa kurang nyaman walau sedikit. Setidaknya ada kecanggungan. Namun berdasar pengalaman kami, percayalah, rasanya tidak sesengsara itu kok. Hehehehe…. Diingat-ingat saja apa alasan ingin memulai perubahan gaya hidup. Biar semangat lagi!!!

Semoga sharing kali ini bermanfaat yaaaaa! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Investasi Terbaik

IMG_20181231_025029_384-1024x2018

Well, sebenarnya saya agak kapok nulis tentang investasi terbaik. Masih segar dalam ingatan saya, saya nulis pengalaman investasi yang pernah saya lakukan di blog ini dan kemudian banyak yang nanya-nanya terkait.

Sebenernya saya senang kalau diajak diskusi. Tapi pertanyaannya itu looo….

Kebanyakan seperti ini:

1. Apa si investasi yang tepat buat saya?
2. Saya pengen beli reksadana ni, apa ya mbak yang oke buat saya?
3. Kalau saya mau beli rumah sekian tahun lagi, saya harus investasi apa ya?

Pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya seharusnya diambil atau dihitung sendiri oleh investor sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tipe seperti ini itu nggak bisa yang situ nanya, otomatis keluar jawaban.

IMG_20181231_025029_384-1024x2018

Kasuistis banget. Masalah personal finance, in my humble opinion, sebenarnya masalah pribadi yang berbeda tiap kasusnya ya. Tidak ada satu formula pun yang akan cocok untuk semua kakus…. Eh, kasus.

Sama seperti juga penyakit orang pun bisa macam-macam treatmentnya. Tidak ada satu obat untuk semuanya.

Yang ngeselin lagi, ada juga yang uda panjang lebar minta dijelaskan dari A sampai Z, tapi beberapa bulan kemudian bertanya kembali. Pertanyaan yang sama!

Saya ingatkan kalau saya pernah ngasih link untuk dibaca lebih lanjut. Dan dijawab bahwa dia sibuk. Oh okay, saya juga sebenarnya sibuk (bekerja saat itu dari jam 8 sampai jam 5) untuk menjawab ulang semua pertanyaan dan mencarikan kembali link-link yang sebelumnya saya berikan. Huh!

Hehehe, sorry, jadi curhat ni yeeee….

Tapi saya nulis lagi akhirnya. Selain demi curhat di atas, juga pengen ngasih insight ringan buat teman-teman yang (sama seperti saya juga) mau terus belajar untuk berinvestasi di tahun depan. Bukan pembahasan teknis terkait si, tapi lebih ke persiapan hati dan pikiran dalam memilih investasi terbaik. Semoga tetap bermanfaat ya! 

IMG_20181231_025701-1024x520

Jadi demikianlah tiga kriteria investasi terbaik yang layak untuk kita beli dengan uang hasil kerja keras kita selama ini; 1) yang bisa kita pahami, 2) yang sesuai karakter pribadi dan 3) investasi ke diri.

1. Investasi yang bisa kita pahami

Menggandakan uang di orang pintar. Itu jenis investasi yang paling saya nggak bisa pahami si, hahahaha!

Kalau investasi normal lain, sepertinya masih bisa dinalar dengan logika ya. Jadi kalau tertarik sebuah produk investasi, namun kita belum paham, ya berarti harus belajar dulu.

Oke, beberapa orang menganut pengalaman adalah guru terbaik. Ya bener juga sik. Tapi jangan juga ambil investasi saat pengetahuan akannya itu nol besar. Setidaknya common sense-nya kita paham lah sedikit-sedikit. Kalau hanya terpukau dengan janji dan asumsi, kita langsung bakar-bakar uang, kan sayang uangnya….

Beberapa yang sering banget muncul di pembahasan ibu-ibu adalah unit link. Saya tidak anti unit link si ya. Hanya ada beberapa orang kadang kurang paham dengan produk yang dia beli. Semacam tidak mencari tahu dengan benar sebelumnya.

Pada akhirnya, banyak yang kecewa karena kok nilai pengembaliannya lebih kecil dari yang disetorkan.

Yah, padahal seharusnya dari awal juga bisa dicari tahu ya, bagaimana cara kerja produk tersebut. Bagaimana produk tersebut sebenarnya tidak mengalokasikan seluruh dana nasabah ke investasi melainkan juga menyetorkan sebagian dananya sebagai premi asuransi. Bagaimana sebenarnya angka yang dijanjikan di awal oleh para marketing ini hanyalah sebuah asumsi. Yang mana bisa berubah tergantung dengan kondisi perekonomian di masa yang akan datang.

Sedih sih kalau sampai begitu.

Kalau bagi saya sendiri, rambu-rambu yang saya terapkan adalah:

  • tahu definisi dari produk investasi itu sendiri, kalau definisinya aja ga tahu gimana mau tahu cara kerjanya coba,
  • tahu gambaran bagaimana si cara kerja produk tersebut dalam menghasilkan laba. Misal mendapat laba saat diperjualbelikah, meningkat dalam bentuk potential gain kah, atau bagaimana,
  • tidak mengambil investasi yang too good too be true, misal imbal baliknya terlalu besar,
  • tidak mengambil investasi yang menjanjikan nol risiko, karena sepengetahuan saya tidak investasi yang demikian,
  • mencari second opinion dari teman yang pernah mengambil produk yang sama, alih-alih hanya mendengarkan dari satu pihak.

2. Investasi yang fit dengan karakter pribadi.

Ada TIGA karakter pribadi yang menurut saya perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi: 1) profil risiko, 2)  value/ nilai-nilai yang dianut dan 3) financial goals.

IMG_20181231_025646-1024x520

i) Profil Risiko

Beberapa bank menyediakan jasa ini ya, tapi kita juga bisa mengasses diri sendiri juga. Apakah diri kita termasuk investor yang AGRESIF-kah atau yang KONSERVATIF atau yang sedang-sedang saja (MODERAT). Profil ini menyangkut seberapa besar risiko yang dapat ditanggung oleh seorang calon investor apabila kehilangan investasi atau modalnya. Pemahaman mudahnya begitu ya….

Profil ini mengasses informasi seperti jangka waktu investasi, porsi dana investasi terhadap total asset, tingkat ketergantungan terhadap hasil investasi, toleransi risiko, dan beberapa poin lainnya.

Tentu saja profil risiko masing-masing orang bisa berbeda ya, walaupun nilai investasinya sama. Sebagai gambaran. A adalah seorang janda yang baru saja mendapatkan uang pertanggungan (UP) saat suaminya meninggal sebesar 1 M. Beliau tidak memiliki skill untuk bekerja atau usaha, sehingga akan menggantungkan penghidupannya dari hasil investasi (UP). Selain itu, beliau juga masih harus membesarkan putera-puterinya yang masih usia sekolah. Maka secara relatif, profil ibu ini adalah konservatif karena tingkat ketergantungannya terhadap hasil investasi tinggi, sementara toleransi terhadap risikonya sangat rendah.

Profil risiko ini yang akan memengaruhi produk apa yang tepat untuk calon investor. Dengan profil konservatif, para financial planner kemungkinan akan mengarahkan calon investor ke investasi-investasi yang risikonya rendah seperti deposito atau investasi di pasar uang.

Berbeda dengan B, seorang muda yang tidak memiliki tanggungan. Punya skill dan juga pengalaman bisnis. Profil risikonya agresif, mungkin akan memilih untuk berinvestasi di sektor riil atau pasar modal saja dengan uang sebesar itu. Tentu memang hasil investasinya pun akan semakin besar seiring dengan risikonya.

Teman-teman bisa coba googling dengan keyword “Cek Profil Risiko” ya, kalau mau tahu lebih lanjut.

ii) Value/ Nilai-nilai yang Dianut.

Kalau di poin 1 tadi membahas tentang pengetahuan otak, kalau poin ini lebih ke masalah hati ya…..

Saya cerita pengalaman pribadi sedikit…. Saya lulusan fakultas ekonomi, yang tentu saja familiar dengan masalah keuangan. Profil risiko saya agresif, karena saya sebelumnya aktif bekerja sebagai PNS di Kementerian Besar yang notabene kecil kemungkinan dipecat dan juga bukan tulang punggung keluarga. Jadi tingkat ketergantungan saya terhadap hasil investasi sangat rendah.

Beberapa rekan selalu menganjurkan saya untuk coba-coba investasi di pasar modal. Saya sudah mulai belajar juga sih. Tapi selalu ngeper. Nggak pernah beneran maju.

Kenapa coba?

Karena faktor greedy dan worry dalam diri saya cukup kuat. Jujur.

Serius! Selama saya belum bisa mengendalikan kedua hal tersebut dengan baik, sepertinya lebih baik buat saya untuk berinvestasi ke produk-produk konservatif. Saya ingin meminimalisasi dorongan saya buat jadi obsesif pada uang. That’s why saya selalu salut sama teman-teman yang investasi di dunia pasar modal namun bisa tetap berkepala dingin.

IMG_20181231_024833_109-1024x2018

Terserah! Mau diejekin mulu sama temen, dibilang “kaya nenek-nenek” karena hari gini masih invest di produk yang itu tuuuuuh, saya mah tutup telinga ajaaaah. -.-“

iii) Financial Goals

Masalah karakter pribadi yang menurut saya perlu dipertimbangkan untuk pengambilan keputusan investasi adalah tentang financial goals atau tujuan keuangan.

Seperti tadi ketika kita bahas unit link. Ya kalau tujuan keuangannya murni untuk investasi, bisa jadi keputusan beli unit link itu salah. Karena produk tersebut bukan murni investasi. BISA JADI. Namun keputusan itu bisa jadi tepat, kalau memang tujuan investor juga adalah perlindungan diri (asuransi). BISA JADI lo…. Tetap perlu dicermati proporsinya ya…. IMHO.

Selain itu, ketika kita telah memiliki tujuan keuangan, maka besaran pengembalian investasi yang diharapkan akan lebih terukur. Terukur jumlahnya yang diharapkan, terukur jumlah yang bisa diinvestasikan dan terukur kapan harus telah cair/ tersedia. So, poin ini tentu akan mempersempit pilihan investasi.

3. Investasi pada Diri Sendiri

Belajar skill baru atau pengetahuan baru won’t hurt. Sounds cliche ya? Tapi bener banget kaaaaan….

Both investasi dalam rangka menambah skill dan pengetahuan baru dalam hal investasi, maupun dalam hal lain, keduanya akan bermanfaat dalam jangka panjang. Belajar juga nggak harus ribet ribet kan, belajar investasi juga bisa dari baca-baca artikel investasi, ngobrol atau juga ambil interactive workshop. Semua bisa menyesuaikan dengan kesibukan masing-masing.

Poin ini cukup jelas ya, saya nggak mau berpanjang-panjang. Pokoknya belajar terus sampai akhir hayat.

***

So…. Selamat merenung dan berinvestasi ya teman-teman! Besok sudah 2019 loooh!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Resolusi, antara Nasib dan Mitigasi Risiko

start

Resolusi 2018 apa kabar? Hehehe…. Beberapa kali saya baca obrolan di sosmed tentang resolusi dan menemukan komen, “Resolusi 2019-ku itu mencapai resolusi 2018-ku”. Bahkan di stories IG-nya Jouska, ada yang terang-terangan bilang kalau resolusi tahun 2019-nya adalah menyelesaikan resolusi tahun 2016. Beibh, 3 tahun lu ngapain ajaaa!

Screenshot_2018-12-28-23-13-52

Related Post: Cara Menyusun Resolusi dengan Mind Map

Etapi, ya, nggak salah juga sih. Resolusi 2019 saya pun ada yang sama dengan 2018, karena di tahun ini saya belum berhasil mencapainya.

Kenapa tidak berhasil mencapainya?

Karena nasib. #trusditimpuk.

Kasihan ya, di awal tahun gini Sang Nasib dikambinghitamkan. Wkwkwk….

Tapi jadi nggak lucu lagi kalau dari tahun ke tahun resolusinya ga tercapai dan jadi nyalahin nasib melulu. Bisa tersinggung berat kan nasibnya.

hehehe

Resolusi 2018 yang Berhasil:

  1. Bisa nyetir,
  2. Meningkatkan PV Blog dari 1200 ke 2000 views per hari,
  3. Pengembangan diri (ikut training, workshop, dll di luar kantor),
  4. Menang beberapa lomba blog,
  5. Jadi narasumber di suatu forum ibu-ibu.

Di awal tahun 2017 kemarin page views saya perhari rata-rata paling 200an views. Paling mentok 300 deh. Per hari bulan desember 2017 rata-rata PV saya sekitar 1.200 views padahal di awal tahun dulu resolusinya 400 views saja. Data Google Analytics.

Okelah, angka segitu memang belum wow ya kalau dibandingkan dengan para seleblog yang sering pamer screenshoot Google Analytic. Tapi kalau saya bandingkan dengan PV awal tahun saya sendiri, enam kali lipat itu suatu pencapaian buat nyonyamalas.com.

Kemudian di tahun 2018, berdasar pengalaman di 2017, saya memberanikan diri menaikkan target jadi 2.000 views per hari. Tercapai di pertengahan tahun 2018. Kegirangan lalu terlalu percaya diri, saya menaikkannya menjadi 3.000 views perhari. Eh alih-alih meningkat malah turun dikit dari rata-rata dua ribuan tadi.

Resolusi 2018 yang Gagal:

  1. Mendukung keuangan orang tua secara rutin.
  2. Menaikkan PV blog dari 2000 ke 3000 views per hari.

Lesson learn

1 . Kurangnya eksekusi dari rencana aksi.

Poin ini lebih ke kegagalan resolusi poin 2 ya. Seperti saya bilang di atas, saya meningkatkan target PV blog dari 2000 ke 3000 memang pure karena kegirangan dan kepercayaan diri yang berlebih akibat peningkatan views yang cukup masif di tahun 2017.

Naif sekali saya beranggapan bahwa hal tersebut akan terjadi terus tanpa perlu ada usaha dan juga perbaikan terus menerus terhadap kualitas dan kuantitas blog.

Jarang update artikel dan lalai memperbaiki SEO on page sepertinya jadi jawaban atas stagnansi views blog nyonyamalas ini. Jadi ya bukan salahnya nasib. Ataupun salahnya algoritma Google. Google mah selalu benar. Wkwkwkwk….

Hal ini jadi catatan buat saya di tahun 2019 untuk nggak hanya membuat resolusi saja tapi juga rencana aksi yang konkrit terkait. Biar resolusinya nggak hanya jadi pemanis dinding ruang kerja semata.

Related Post: Cara Mengubah Resolusi Tahunan Menjadi Rencana Aksi

setrong

2 . Kurangnya mitigasi risiko

Menurut KBBI, mitigasi risiko adalah  upaya untuk mengurangi kemungkinan terjadinya dan dampak risiko.

Ini terkait dengan kegagalan kami untuk memenuhi resolusi poin 1, yaitu support finansial orang tua secara rutin. Beberapa kali memang support, tapi nggak rutin dan juga menurut saya belum signifikan.

Agak malu juga si sebenarnya. Walaupun orang tua saya juga nggak meminta, dan tidak berkekurangan. Tapi saya seharusnya paham kalau biaya kuliah Kedokteran Gigi adik saya cukup menguras kocek orang tua saya. Setidaknya kan bisa bikin orang tua sedikit rileks dan juga persiapan mereka menabung untuk pensiun.

Tapi saya nggak berhasil untuk support rutin. Hiks. Alasannya si due to long distance marriage kami yang bikin biaya perjalanan membengkak dan juga biaya kesehatan karena kami tahun ini memang sering sakit.

Yah, kedengarannya alasan yang masuk akal ya tapi sebenarnya dua alasan itu pun masih bisa dimitigasi dengan baik agar tidak terlalu berdampak buat keuangan kami.

Mitigasi yang harusnya kami lakukan tapi lalai kami lakukan adalah:

1. Beli keanggotaan Sriwijaya untuk setahun, bebas biaya tiket kemana saja dan kapan saja. Kalau di awal tahun kami melakukan hal ini tentu biaya perjalanan kami bisa ditekan dan kami masih ada dana yang bisa kami alokasikan untuk menabung dan support orang tua.

2. Mendaftarkan Gayatri dan Bapak asuransi kesehatan. Ini rada fatal si. Karena sebenarnya dari kantor saya punya fasilitas ini untuk suami dan anak. Namun sayanganya saya selalu tunda-tunda untuk mengurus administrasinya.

Huft….

Pelajaran banget buat tahun 2019 ni untuk memitigasi risiko dengan lebih baik, biar ga terus terusan nyalahin nasib bae di akhir tahun kan.

start

Nah, kalau temen-temen apa resolusi tahun 2019?

Sudahkah menyusun rencana aksinya?

Dannnnn…. sudahkah mengidentifikasi risiko dan mulai merencanakan cara memitigasinya?

Yuk barengan sama akooooh! Semangaaat!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Barang Antik dan 7 Koleksi untuk Investasi yang Menguntungkan

nitendo

Saya punya sepupu yang hobi banget blusukan ke kampung-kampung dan mbongkari gudang demi mencari benda-benda unik. Yah sebenarnya banyak benda-benda yang dia ambil, saya anggap tidak bernilai. Tapi, sebaliknya justru dianggap sebagai investasi olehnya dan mungkin juga orang lain yang memiliki hobi sama dengan sepupu saya itu. Saya jadi menyesali momen-momen bersih-bersih yang pernah kami lakukan di rumah eyang. Seharusnya banyak benda-benda tua dan kuno yang menurut saya sudah rusak dan layak buang yang bisa jadi untuk koleksi atau dijual kembali sebagai barang antik. Bisa untung mayan cuy!

Lesson learnnya si, buat kamu yang punya koleksi mainan-mainan yang dianggap kuno tapi masih berfungsi dengan baik seperti Game Boy, action figure, hingga benda-benda lawas seperti perangko, uang jadul, piringan hitam, dan lain sebagainya. Jangan buru-buru buang yak. Jika tidak membutuhkannya, kamu bisa menjualnya daripada hanya disimpan di gudang dan menuh-menuhin rumah.

nitendo

Trus…. jualnya dimana?

Tidak perlu khawatir, kalau berdasar pengalaman sepupu saya, barang-barang tersebut pun bisa dijual secara online atau di komunitas. Enaknya dengan ada toko online, kita tidak perlu mencari pelanggan sendiri, tidak perlu membuka toko yang membutuhkan biaya besar, dan tidak perlu melakukan promosi macam-macam. Karena semua itu sudah dilakukan oleh toko online yang bersangkutan.

Seperti online shop Bukalapak misalnya. Sehingga, sebagai penjual kita hanya perlu melakukan registrasi atau mendaftar sebagai jual. Kemudian pajang saja barang yang akan dijual. Tinggal duduk manis di rumah, segera pembeli akan berdatangan. Jika ada pembeli yang tertarik atau jika ada penawaran, aplikasi toko online akan secara otomatis memberikan kita notifikasi.

Saya sendiri pernah berbelanja series komik jadul Harlem Beat (komik jaman saya dan suami SMP) buat seserahan nikah, secara online. Hihihi…. Habisnya komik itu uda nggak terbit lagi di toko-toko buku. Dicari kemana-mana susah. Padahal tu seri ada nilai historisnya buat hubungan kami, jadi pengeeeen banget punya. Eh, nemu online…. Happyyyy!!!!

Related post: Antara Irit dan Wishlist

Bagi kamu yang tertarik dan ingin membeli atau mencari benda-benda seperti buku kuno maupun baru, mainan seperti action figure, remote control, video game, batu cincin atau batu akik, perlengkapan musik dan alat musik, senjata tradisional, miniatur mobil, gamepad bluetooth, boneka, gitar, hingga bibit tanaman, coba deh cari juga deh di Bukalapak. Siapa tahu nemu di mari.

Oiya balik lagi tentang barang-barang koleksi yang bisa dijadikan investasi karena bisa dijual lagi. Coba deh cek, siapa tahu di gudang rumahmu, atau di gudang rumah eyang banyak menumpuk benda-benda berikut:

7 benda koleksi atau barang antik yang bisa dijadikan sebagai investasi menguntungkan:

1. Buku

Buku adalah jendela dunia sekaligus sumber ilmu yang sangat berharga. Ada banyak buku_buku kuno yang menyimpan ilmu-ilmu penting dan dianggap sebagai barang berharga oleh para kolektor dan pecinta buku. Kalau kamu punya buku-buku menarik yang sudah berusia, dan tidak membutuhkannya lagi. Kamu bisa menjualnya di olshop Bukalapak. Siapa tahu ada yang kayak saya kan, nyari buku yang sentimentil buat seserahan nikahan atau kado buat orang tersayang….

2. Perangko

Perangko dianggap sebagai barang antik yang berharga mahal. Banyak orang menganggap perangko sebagai sesuatu yang bernilai tinggi karena tingkat kelangkaannya. Perangko yang saat ini tidak lagi kita gunakan merupakan benda yang banyak dikoleksi dan dijual dengan harga mahal.

perangko

3. Uang kuno

Walaupun tidak bisa digunakan untuk transaksi tapi dianggap sebagai benda langka Uang jadul, atau biasa kita dikenal juga dengan istilah uang lawas dan uang kuno adalah benda bernilai tinggi yang juga sering dikoleksi oleh para kolektor layaknya perangko.

4. Action figure

Action figure adalah mainan modern yang semakin banyak diminati karena harganya yang mahal. Mahalnya harga action figure tidak lepas
dari tingkat kerumitan pembuatan dan detail pada mainan tersebut.

5. Kamera jadul

Kamera jadul bisa jadi benda antik yang harganya sangat mahal. Sekalipun tidak berfungsi lagi, jangan buang kamera-kamera jadul yang kamu miliki. Pasalnya, masih banyak kolektor yang ingin mengoleksi benda-benda seperti ini. Buat pajangan juga cakep kan.

kamera

6. Piringan hitam dan kaset

Piringan hitam dan kaset adalah benda yang mulai dianggap langka dan unik. Jika kamu punya koleksi benda-benda seperti ini sebaiknya jangan dibuang dan rawatlah dengan baik.

7. Tanda tangan orang terkenal dan populer

Tanda tangan bisa jadi sangat bernilai terutama apabila berkaitan dengan public figure yang bersangkutan. Misalnya jika kamu punya tanda tangan
di atas kaos Timnas dari pemain bola populer Indonesia seperti Evan Dimas contohnya. Tanda tangan yang mereka akan sangat bernilai beberapa puluh tahun kedepan atau ketika pemain sudah pensiun dan punya banyak prestasi.

Apa lagi ya barang-barang jadul lain yang bisa dijual? Ada ide? Atau pernah punya cerita jual/ beli koleksi barang antik atau unik? Yuk share cerita di komen…. 🙂

Sumber gambar: pexels.com

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!