Meal Prep Fails dan Lesson Learnnya Selama Sebulan #3 (Tips Menyimpan Sayuran dan Bahan Makanan Lain)

tips menyimpan sayur

Buat yang sering baca blog nyonyamalas (ada nggak ya? ada dong plis plis plis), mustinya uda ngeh ya kalau mulai 14 maret kemarin saya nulis tentang perjalanan saya belajar masak di dapur. Naaaaahhh, sebagai newbie di masalah masak memasak, banyak banget kesalahan yang saya lakukan saat mempersiapkan bahan masakan, seperti saat menyimpan sayuran. Beberapa sudah saya share di artikel sebelumnya:

Pengalaman Meal Prep Minggu I

Pengalaman Meal Prep Minggu II dan III

Padahal sebelum memulai belajar meal prep ini saya juga uda baca-baca duluan pengalaman meal prep orang-orang yang sudah jauh lebih jago. Hehehe, tapi bener kata blog Miun-Miunan, meal prep itu personal banget, harus trial error sendiri biar tahu mana cara yang paling pas sama selera. Oiya, blog apa saja yang saya baca tentang meal prep saya ringkas juga loh di artikel ini: Meal Prep Challenge.

Ternyata saya cukup rajin juga yak, ngeresume dan nyatet-nyatet…. Wkwkwkwk, lama-lama nama ini blog perlu diganti juga nih jadi nyonyarajin. Bwakakakak….

tips menyimpan sayuran

Pada foto diatas tampak kalau meal prep saya campuran ya, antara menyimpan makanan siap saji (kanan atas) berupa ungkepan ayam dan sambal goreng kentang (tidak terlihat ketutupan ungkepan ayam), sayuran yang telah dipotong dan yang masih utuhan. Demikian juga bumbu, saya juga stok bumbu jadi, hehehe dan bumbu yang racikan sendiri (kiri atas, tutup merah). Intinya meal prep wajib sesuai dengan kebutuhan masing-masing ya Nyah….

Oiya, sebelum saya lanjut, saya mau menegaskan kembali kalau yang saya share pengalaman ini bukan berarti saya sudah perfect ya. Tapi kan siapa tahu ada Nyonyah-nyonyah yang kompetensi masaknya dan tingkat kemalasannya juga 11-12 kaya saya, jadi pengalaman (kesalahan-kesalahan) saya pasti bakal berfaedah.

Lets Go!

Tips Menyimpan Bahan Makanan Ala Nyonyamalas:

1 . Menyimpan Sayuran

Sebelumnya saya mencoba untuk menyimpan sayuran di freezer (ngikut-ngikut akun instagram junjungan saya). Ternyata saya dan suami nggak cucok sama tekstur sayuran yang sebelumnya telah beku. Jadi kami banting setir untuk menyimpannya dalam keadaan mentah.

Biasanya saya akan menyimpannya dalam keadaan sudah dipetik (untuk bayam, kangkung dan kacang panjang). Dicuci bersih, dikeringkan dengan salad spinner (akan dibahas lebih lanjut di bawah). Kemudian diletakkan per sayur di wadah kedap udara yang sebelumnya sudah dialasi koran. Kalau saya nggak sempat nyuci sayurnya, saya cuma petikin saja lalu langsung masuk wadah tanpa kena air.

Air bikin cepat busuk btw.

Kalau labu siam saya simpan dalam keadaan utuh. Kentang pernah saya simpan dalam kondisi terpotong dadu dan direndam dalam air, hanya semalam saja, dan esoknya masih bagus. Kurang tahu kalau lebih dari itu.

Yang saya belum berhasil simpan adalah kemangi. Entah kenapa selalu berakhir layu.

2 . Menyimpan Daging

Saya simpan daging mentah di chiller dalam kondisi sudah dalam potongan sesuai dengan masakan yang direncanakan. Biasanya saya nggak cuci dulu dagingnya sebelum masuk chiller. Baru akan saya cuci saat mau dimasak. Pastikan saat memotong daging, tangan dalam keadaan bersih.

Namun, kalau saya mau masak soto atau sop iga, biasanya saya akan simpan daging dalam kondisi sudah direbus. Tujuannya biar empuk dulu dan ada kaldunya.

3 . Menyimpan Kaldu

Pengalaman yang lalu menyimpan kaldu, baik kaldu udang, kaldu sapi maupun kaldu ayam, di kulkas bawah tidak bisa lebih dari 2-3 hari. Kalau mau menyimpan lebih dari itu, sebaiknya di freezer alias dibekukan. Baca-baca si katanya bisa sampai berbulan-bulan.

4 . Menyimpan Tempe

Saya pernah zonk nyimpen tempe ni, jadi busuk. Akhirnya kalau saya mau simpan lebih dari tiga hari, tempenya saya ungkep dulu, biar nggak cepat busuk.

tips menyimpan bahan makanan

Tips Mempersingkat Waktu Meal Prep

1 . Buat menu mingguan dan daftar belanjaan.

Membuat menu mingguan akan mempermudah pembuatan list belanjaan. List belanjaan akan membuat waktu belanja jadi lebih cepat. Soalnya nggak pakai muter-muter dulu. Sampai ke supermarker/ pasar uda langsung tahu apa yang mau dibeli, jadi cak cek cak cek. Kelar.

2 . Petik sayuran/ potong daging setelah beli, simpan per porsi.

Segera setelah pulang belanja, petik semua sayuran/ potong daging dan simpan. Jadi langsung ringkes. Soalnya kalau sempat masuk kulkas dulu, keburu mager. Kalau sayuran sudah dalam keadaan terpotong-potong, dan daging-dagingan juga sudah terpotong simpan terpisah dalam jumlah sekali masak.

Tips menyimpan sayuran dengan jumlah per satuan masak ini untuk menghindari proses defrost yangg tidak perlu dari daging-dagingan (kalau disimpan dalam freezer). Selain itu juga menghindari porsi lain terlalu sering “kena tangan”. Karena kena tangan artinya potensi terkena bakteri lagi.

3 . Keringkan sayuran dengan salad spinner sebelum masuk kulkas.

Penyimpanan sayur (dedaunan) harus dalam keadaan sekering mungkin. Kalau tidak mungkin kering 100% ya nggak papa sih, yang penting tidak dalah kondisi basah terendam. Nah kadang proses pengeringan ini perlu waktu. Kemarin saya sempat beli salad spinner, pas Ikea lagi diskon, dan lumayan membantu mempercepat proses pengeringan ini.

Jadi sayurannya kaya diputer gitu. Bayangin aja pakaian kita di mesin pengeringan baju. Kan diputer jadi airnya muncrat-muncrat dan sayurnya kering. Tapi karena ada di dalam baskom jadi muncratnya nggak kemana-mana. Duh, jelasinnya gimana yak…. Wkwkwk…. Bentuk alatnya seperti ini:

salad spinner ikea

Alat ini opsional aja si, nggak harus punya. Saya sharing di sini biar jadi tambahan wawasan aja.

Kalau nggak mau ribet ngeringin, ya nggak perlu dicuci dulu. Petik dalam kondisi kering dan langsung masuk wadah. Nyucinya pas mau masak. Kelar.

4 . Buat ungkepan secara maraton.

Ini kalau nggak salah aku dapat tipsnya dari mbak Ega Dioni yang tinggal di luar Indonesia. Jadi karena bumbu di negara tempat tinggalnya mahal, jadi dia pakai bumbu ungkep untuk beberapa kali pakai. Eh ternyata ungkepan terkahir malah jadi tambah sedap karena sudah nyampur sama kaldu-kaldu daging sebelumnya.

Biasanya saya ungkep ayam kemudian sisa bumbu ungkepan ayam sebelumnya saya pakai untuk ungkep tempe. Oiya, jangan ulangi kesalahan saya ya…. Saya pernah maraton ungkep dengan melibatkan jeroan dan urutannya salah. Saya ungkep ayam – jeroan baru tempe. Jadideh, tempenya ikut bau ati ampela. Wkwkwkwk…. Lesson learnya, kalau mau ungkep jeroan juga, sebaiknya jeroan diungkep di kloter terakhir.

5 . Simpan Bumbu

Sebenarnya ini masih pro kontra ya: nyimpan bawang yang sudah dikupas. Karena ada yang bilang kalau para bawang ini akan menyerap bakteri. Nggak tau benar atau salah. Tapi kalau mengabaikan pro kontra tersebut, menyimpan bawang yang sudah dikupas itu beneran menyingkat waktu masak di pagi hari. Karena nggak perlu ngupas-ngupas lagi.

Yang pasti, simpannya di wadah yang tertutup rapat ya…. Saya biasanya gitu untuk meminimalisasi ketakutan saya atas pro kontra di atas.

Selain menyimpan bawang saya juga menyimpan bumbu jadi hehehe. Merknya BMM alias Bumbu Masak Machmudah. Bumbu ini tu produksi UKM di sekitar Surabaya gitu. Kayanya saya belum pernah lihat di daerah Jawa Tengah atau Jakarta. Tapi yang pernah nemu, komen yak…. Bumbu ini kalau di kulkas awet beberapa hari aja. Tidak seperti bumbu jadi pabrikan. So saya biasanya beli untuk seminggu dan simpan benar-benar di kulkas. Kalau wadahnya menggembung tandanya sudah tidak bisa dipakai lagi.

Sekiaaaaaan tips ala-ala dari saya…. 🙂

Buat Nyonyah-nyonyah yang mau ikutan ngasih tips boleh juga lo, tinggalin tipsnya di bagian komen. Terimakasih sudah mampir. Salam sayang!

🙂

tips menyimpan sayur

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Pengalaman Meal Prep Minggu Ke 2 dan 3 #2

meal prep minggu 2 dan 3

Edisi rapelan cerita pengalaman meal prep di minggu ke dua dan tiga ini yaaaa…. Dimulai dar ngecek Lesson Learn minggu pertama yaaa…..

Related post: Pengalaman Meal Prep Minggu Pertama

Yang uda dijalankan:

  • Berhubung minggu pertama saya nyoba menyimpan sayuran di frezeer, dan ternyata bikin teksturnya nggak cucok (buat kami), akhirnya minggu ini saya balik seperti dulu kala. Nyimpan sayuran di kulkas bawah. Sayuran saya potong-potong tanpa dicuci kemudian di masukkan ke dalam wadah. Dasar wadah dilapis kertas (saya pakai koran bekas). Kertas tersebut gunanya untuk menyerap kelebihan air, supaya sayuran tidak cepat busuk.

sayur

  • Minggu pertama saya baru ngeh kalau buah yang kami konsumsi sedikit sekali: hanya pisang dan pepaya. Di minggu kedua dan ketiga, kami nambah alpukat, buah naga dan belimbing.
  • Biar nggak selalu tergantung dengan Bumbu Masak Machmudah, saya mencoba masak resep baru pakai bumbu bikin sendiri. Jangan tanya rasanya yaaa….
  • Beli daging yang sudah potongan sesuai masakan (saya belanja di Superindo, beli daging sapi untuk sop buat masak rawon dan krengseng), jadi waktu meal-prepnya lebih singkat.

tempe

Dari Lesson Learn minggu pertama, yang belum berhasil dijalankan adalah: belanjanya nggak pagi. Minggu kedua belanjanya malem, karena habis keluar kota. Minggu ketiga menjelang sore. Jadi meal prepnya tertunda tunda. Mangkanya ga pernah ada foto yang kece kaya kaya di instagram instagram. Wkwkwkwk….

Dikomplain Suami

Oiya….. Di minggu 2 dan 3 ini saya terima komplain dari suami, karena perpaduan menu serta pengolahan sayur yang kurang oke. Hehehe…. Iya si, soalnya kan saya fokus sama apa yang bisa saya masak aja. Jadi keseringan tumis brokoli. 😛

Sebenernya komplain ini dilakukan beberapa kali. Saya jadi sempat ngambek dan mogok masak gegara dikomplain mulu. Nyonyah kan haus apresiasi. Puji dikit kek, biar tetap semangat menghadapi kehidupan. Saya beneran ngambek tauk. Saya chat suami. “Mbok ya pelan-pelan menghadapi masakan saya yang ya gitu gitu aja. Sabar, gitu. Wong dari skala minus, jadi kaya sekarang aja uda lumayan banget progressnya.”

Gitu. Pokoknya kalau ada uneg-uneg mending disampaikan to the point. Laki-laki mah kaga ngarti kalau kita cuma ngambek.

Tapi, sebenernya suami saya juga bukan tipe yang jarang muji. Tapi dia jujur. Kalau enak dibilang enak. Walaupun dia tau enaknya karena bumbu racikan serbaguna sekalipun, akan tetap dia puji. Tapi kalau kagak enak ya dibilang juga “kagak enak”. Dan jujurnya suka brutal. Sadis pisan, kata Afgan.

#LahMalahCurhat

kwetiau

Bikin Menu Kesukaan Semua

Trus akhirnya saya melakukan langkah berikut untuk memperbaiki keadaan sekaligus skill dapur saya. Mungkin langkah-langkah yang saya lakukan bakal bermanfaat juga buat teman-teman ya….

  1. Bikin list lauk sebanyak-banyaknya. Lalu beri keterangan mana yang saya bisa bikin bumbunya from scratch, mana yang mau pakai bumbu jadi (Bumbu Jadi Machmudah Oye!) dan mana yang harus nyari resep dulu.
  2. Bikin list sayur.
  3. Ngobrol sama suami/ anggota keluarga untuk menentukan mana yang mereka suka. Saya bersyukurnya selera Gayatri mirip sama Bapaknya ya. Jadi saya masak satu menu keluarga untuk semua.
  4. Bikin menu mingguan dengan mix antara poin 1 dan 2. Misal: Udang Saus Padang dan Tumis Kangkung, Krengseng Daging Sapi dan Bening Bayam, Sop Kacang Merah Iga dan Tempe Garit, Lodeh dan Ayam Goreng, Rawon dan Telur Asin.
  5. Nyetok resep terkait step nomor 2.

Yang poin 5 ini optional ya. Khususon buat saya soalnya memang belum bisa inget semua resep masakan. Dan kadang kalau harus googling dulu on the spot, malah jadi boros waktu. Apa lagi kalau ternyata bumbunya ada yang nggak ready di dapur. Endingnya gagal masak maning.

Di minggu kedua dan ketiga ini, ada dua resep baru yang saya coba masak from scratch alias kagak pake bumbu jadi: 1) udang saus padang dan 2) gulai cumi. Yang udang saus padangnya sukses. Yang gulai cumi, biasa aja. Geje rasanya, tapi masih dalam kadar bisa dimakan.

udang

Untuk resep, saya seringnya mengacu ke blognya mbak endang: justtryandtaste. Kadang juga lihat ke cookpad sebagai pembanding.

Meal Prep Memudahkan Evaluasi Gizi

Membuat menu selain memudahkan kita dalam memasak selama seminggu, juga memudahkan kita mengevaluasi gizi yang dikonsumsi keluarga. Seperti minggu lalu saya ngehnya kami kurang buah ya karena meal prep ini.

buah

Kemudian di akhir minggu 3, suami mengeluh lehernya kenceng. Biasanya hal itu terjadi kalau kolesterolnya naik. E bener setelah dicek menu kami memang kebanyakan bersantan, jeroan belum lagi ada udang dan cumi.

Mengolah Udang dan Cumi

Kalau untuk pengolahan bahan makanan hampir sama dengan minggu lalu. Cuma ketambahan udang sama cumi. Berikut beberapa hal yang saya pelajari tentang menyimpan dua bahan ini:

1 ) Udang

Kulit dan kepalanya enak banget dibikin kaldu. Cuma saya lebih suka tidak mengupas udang, kalau masakannya memungkinkan biar daging udangnya tetap juicy. Jadi kepalanya biasanya saya potek sedikit lalu saya bersihkan kotorannya, sambil dijaga agar kepalanya tidak copot. Antenanya saya potong.

2 ) Cumi

Sebagai orang yang nenek moyangnya (literally) pelaut. Saya lumayan bisa lo makan bersihin seafood. Tipsnya adalah: memakai asam jawa. Serius, asam jawa lebih nampol dalam membersihkan cumi. Bau amisnya ilang. Sedep dehhh. Caranya remas-remas cumi dengan air asam jawa + garam, lalu bilas.

cumi

Karena saya mau masak gulai maka bagian yang harus dibuang dari cumi adalah: tulang yang seperti plastik bening, ujung mulutnya yang kaya batu, kulit arinya dan tinta. Hmmmm, sebenarnya tinta tu bikin enak ya. Tapi nggak cucok aja kalau masak gulai, tinta cuminya nggak dibuang.

Continuous Improvement

Minggu keempat adalah minggu terakhir challenge ini ya…. Meal prepnya si bakalan lanjut, cuma mungkin nggak rutin saya update di blog. Takut pada bosen. Hihihi…. Untuk minggu keempat, perbaikan yang pengen saya lakukan adallah sbb:

  1. Belanja lebih pagi!
  2. Belajar bikin snack sebagai gimmick.
  3. Saya pengen punya buku catatan menu. Selama ini soalnya saya bikin di kertas asal-asalan. Biasanya si di buku gambarnya Gayatri. Soalnya kan nyusun menunya sambil nungguin Gayatri main. Cuma saya mikirnya buat lain waktu kan bisa dipakai lagi (berulang menunya).

Tiga itu aja PR yang buat minggu depan…. Doain istiqomah ya Nyaaaahhhh….

meal prep minggu 2 dan 3

Thankyuuu uda mampir. Yuk ayuk cerita siapa yang juga lagi belajar masak ata meal preeeeeep??? Share di comment section yaaa…. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Pengalaman Meal Prep Seminggu #1

meal prep seminggu 1

Minggu lalu saya sudah share hasil kajian pustaka (alias googling, hahaha) mengenai pengalaman-pengalaman orang lain dalam melakukan meal prep. Biar related, resume-nya bisa dibaca dulu di:

Sebenarnya masak sendirinya sudah dilakukan selama beberapa minggu, namun meal prepnya baru sekitar semingguan. Nah, kali ini saya mau cerita pengalaman saya selama meal prep seminggu ini.

TRIAL AND ERROR

Sebelum saya cerita bagaimana saya melakukan meal prep saya mau mengutip stories IGnya @miunmiunan, salah satu yang selalu saya pantau tips meal prepnya. Begini katanya:

meal prep minggu I nasehat miun

Saya setuju banget, kalau dalam meal prep ini, selain harus “belajar” dari orang lain dengan baca/ minta masukan, juga harus trial error sendiri. Karena kan kondisi orang beda-beda. Kebutuhan masing-masing keluarga beda. Selera juga beda-beda. BAHKAN, tujuan meal prep juga bisa bedaaaaa.

Kaya kemarin saya ngobrol sama Mbak Kidung. Tujuan meal prep beliau adalah untuk mendukung dietnya. Jadi beneran tu Mbak Kidung merhatiin banget setiap nutrisi, dan mengkritisi gimana idealnya setiap bahan dimasak. Nah, kalau saya tujuannya lebih ke ngirit dan praktis, selain juga pengen sehat juga. Jadi ya mungkin saya versi slebornya. 😛

Beda kan?

BEDA ITU BIASA

Bedaaaaa! Apalagi kalau mau dibandingkan dengan Mbak @atiit yang meal prep demi mengurangi foodwaste sekaligus mendukung gaya hidup berkesadarannya. Jelas, meal prep-nya @atiit lebih banyak menggunakan produk-produk organik dan mendukung lingkungan berkelanjutan.

Bukannya saya nggak pengen begitu ya, tapi kan pelan-pelan, Nyah proseeees, proseeeeesss…. Emak saya lihat saya mulai ke dapur aja bangga minta ampun uda kaya saya menang Olimpiade Fisika. Yang adalah nggak mungkin, karena saya tiap pelajaran Fisika mabal, dan sering remidial.

Satu lagiiiiiii yang tidak bisa dihindari: beda selera.

Saya nggak bakal bisa masakin suami saya healthy food kaya yang dimasakin Jenifer Bachdim ke suaminya. Yang semacam guacamole, oat, chia puding, dll. Yang ada mah suami saya kabur, kaga mau makan di rumah. 😛

Demi kesehatan harus mau dong!

Ya nggak bisa maksa gitu juga si. Perspektif orang akan makanan kan beda ya. Untuk sementara ini, saya memilih untuk menghormati pilihannya. Kasihan dia, uda harus menerima saya apa adanya, masa harus menerima makanan yang nggak sesuai selera juga. Setidaknya saya pastikan makanan kami sekarang lebih sehat dari pada kalau dia makan junk food melulu di luar rumah. Ga super sehat, gapapa. Yang pasti selangkah lebih baik.

PELAN-PELAN SAJA

Kalau ini pesan khusus dari saya, hehehe. Terutama buat orang yang kemampuan masaknya seperti saya, tingkat kemalasan seperti saya namun selera makannya juga tinggi kaya saya. Don’t over do meal prep. Pelan-pelan saja. Karena meal prep ini kan semacam maraton ya. Jangan sampai terlalu idealis tapi malah jadi ga jadi-jadi dilakukan mengingat kemampuan yang belum seberapa.

Gagal mulu kan bikin sutris ya. Jadi start dari yang kita suka, kita familiar dan kita bisa. Nanti dievaluasi, trus lama-lama kita usahakan untuk naik kelas. #selftalk #semogaistiqomah

MEAL PREP MINGGU I

Langkah-langkah yang saya lakukan:

  1. Cek bahan makanan yang masih ada di rak dan kulkas.
  2. Membuat rencana menu seminggu.
  3. Memperkirakan kebutuhan bahan baku sesuai menu mingguan di poin 2.
  4. Belanja.
  5. Nyicil Meal Prep.

 

meal prep minggu I belanjaan

Apa saja yang saya siapkan:

  • Sayur dan Buah: Baby Buncis 1 pak, Brokoli 2 batang (4 ons), Kentang 4 butir (6 ons), Wortel 3 batang (4 ons), Tauge 1 pak, Pete 1 pak, terong ungu lonjong dua buah.
  • Protein Hewani: Daging sapi giling (1 ons), daging sapi semur (5 ons), sayap ayam (9 ons), hati ayam (3 ons), ampela ayam (2 ons), ceker ayam (6 biji), ayam kampung (1 ekor), Bakso, Udang.
  • Lain-lain: Tempe (6 buah ukuran sedang bungkus daun), Bumbu racikan (ungkep, sambal goreng ati, herbs (daun bawang, daun jeruk, sereh, dll).

Meal prep seminggu yang saya lakukan:

Sayur dan Buah:

  • Baby buncis, wortel, brokoli, saya cuci, potong-potong terpisah, blansir, dan simpan di frezeer. Hasilnya kurang memuaskan.

meal prep minggu I sayuran

  • Kentang 2 butir saya potong dadu, goreng, simpan di kulkas bawah untuk sambal goreng ati.
  • Kentang 2 butir saya potong-potong, rendam di air, saya simpan di kulkas bawah.
  • Tauge, pete dan terong saya biarkan di pacakaging, saya simpan di rak bawah kulkas.
  • Pepaya saya biarkan, belum sempat dipotong, di kulkas bagian bawah.
  • Alpukat saya tusuk ujungnya dengan tusuk gigi supaya nggak berserat dan diletakkan di suhu ruangan.

meal prep minggu I alpukat

Protein Hewani

  • Daging cincang saya taruh di chiller.
  • Bakso saya taruh di chiller.
  • Udang langsung dimasak tumis.
  • Sayap ayam setelah dibersihkan, saya potong jadi dua, kemudian saya rebus dengan bumbu ungkep. Tiriskan. Saya simpan sayap ungkep di kulkas bawah.

meal prep minggu I ungkep yam

  • Sambil ungkep ayam, saya rebus ayam kampung (cuci terlebih dahulu dalam kondisi terpotong-potong). Tiriskan. 3/4 air rebusan ayam (kaldu) setelah dingin saya simpan di botol di pintu kulkas. Ayam saya pisahkan daging dan tulangnya. Tulang ayam saya kembalikan ke panci bersama 1/4 air rebusan ayam. Masukkan ceker ke dalam panci, tambahkan air, daun jeruk dan sereh, untuk membuat kaldu ceker dan tulang sebagai dasar kuah soto. Daging ayam saya masukkan ke tupperware direndam 1/3 air sisa ungkepan sayap ayam. Nantinya ayam yang di marinade ini saya goreng untuk soto ayam. Kaldu ayam kampung yang tadi disimpan (3/4 bagian) untuk kuah sop.
  • Hati ayam dan ampela saya rebus dengan 2/3 air sisa ungkepan sayap ayam. Tambahkan sereh dan daun jeruk supaya tidak amis. Tiriskan.

meal prep minggu I ati ampela

  • Daging sapi (semur) saya potong-potong lalu saya rebus. Buang busa dan kotoran yang mengapung. Tiriskan. Simpan kaldu di botol. Sementara dagingnya di bagi dua, masing-masing disimpan di dalam tupperware tergenang kaldu. Saya bekukan di freezer. Satu bagian akan dimasak krengseng, satu bagian akan saya masak rawon bersama kaldunya. Hasilnya cukup memuaskan.

meal prep minggu I daging sapi

Lain-lain

  • Tempe saya simpan di kulkas bawah.
  • Herbs saya simpan di laci bawah kulkas.

LESSON LEARN

  1. Menu alternatif itu perlu. Buat jaga-jaga kalau tiba-tiba anggota keluarga ada yang nggak mood makan menu sesuai rencana. Atau malah tiba-tiba berinisiatif bikin menu makanan improvisasi. Kaya saya yang uda dua kali gagal bikin tumis tauge jambal asin, gara-gara taugenya dibikin ote-ote alias bakwan alias bala-bala sama Bapak Tuan Besar.
  2. Memperkirakan jumlah bahan baku ternyata tricky ya. Yang tadinya saya pikir bakal kurang ternyata malah sisa. Yang saya kira kebanyakan, tapi karena enak (ehm, muji masakan sendiri) eh ternyata habis sebelum waktunya. Apaun kejadiannya, yang pasti kita harus fokus untuk tidak belanja (kecuali tambahan sayur yang sudah direncanakan) kalau kulkas belum kosong.
  3. Jam belanja itu penting Kumendan! Kemarin saya berangkat kesiangan, jam 10, kelar jam 12. Karena kena jam makan siangnya Gayatri maka saya nggak bisa langsung meal prep tu. Nunggu dia makan. Habis dia makan, nunggu dia bobo siang. Mulai meal prep jadi jam 2-an. Terus kejeda lagi dia snacking dan mandi. Jadi ada beberapa bahan yang akhirnya aku olah besoknya.
  4. Tips yang sukses dilakukan oleh seseorang bisa jadi tidak sukses buat kita. Misal, ada yang sukses nyimpan sayur di freezer. Giliran saya, sayuran yang saya simpan di freezer menjadi alot, mungkin karena beda kulkas kali ya. Next time akan coba disimpan dalam kondisi mentah di kulkas bawah aja.
  5. Kalau bisa beli bahan daging sapi/ ayam yang sudah dipotong-potong sesuai ukuran yang diinginkan. Kemarin saya belinya kurang pas, jadi takes time banget untuk motong-motongin lagi.
  6. Tempe mudah sekali busuk, jadi better dijadwal untuk dimasak paling awal.
  7. Kaldu sebaiknya difreezer kalau lebih dari 3 hari supaya tetap segar.
  8. Sisa (leftover) krengseng daging sapi bisa dibuat isi martabak telur.

meal prep minggu I martabak leftoverMartabak telur ala-ala.

CONTINUOUS IMPROVEMENT (NEXT TRIAL)

  1. Simpan sayuran dalam kondisi mentah terpotong-potong dialasi tisu.
  2. Belanja lebih pagi supaya bisa kelar hari itu juga.
  3. Coba bikin baceman bawang sendiri dan googling bumbu dasar biar nggak ketergantungan bumbu racikan Machmudah.
  4. Mau nambahin porsi buah dan sayur, karena setelah dievaluasi minggu ini kurang banget makan sayur. Awalnya mikir ah, nanti sayur beli di Kang Sayur aja takut cepet layu. Trus Kang Sayur lewat, sayanya nggak ngeh. #nyanyi lagu Yang Terlewatkan, Sheila on 7. Jadi nggak kebeli juga sayurnya.

meal prep minggu I kaldu

CLOSING

Waktu yang saya gunakan untuk meal prep seminggu masih lama (kalau ditotal, tanpa ngitung istirahat atau disambinya, kurang lebih 3 jam kali ya). Selain karena masih banyak tria errornya juga karena tipe meal prep saya yang mengolah lauk sampai setengah jadi.Tapi, beneran membantu rutinitas pagi saya menjadi lebih sederhana dan efisien. Soalnya tinggal cemplung cemplung dan cucian piringnya pun sedikit.

Apakah sistem ini akan cocok buat Nyonyah? IMHO, tergantung rutinitas harian Nyonyah dan makanan apa yang pengen dimakan ya.

Soalnya temen saya tiap hari sarapan telur ceplok ga masalah, jadi dia memilih nggak meal prep. Saya dan suami nggak bisa gitu. Terus lagi, ada yang aktvitas paginya nggak banyak, tapi malah lebih banyak “jalan” di weekend. Pola meal prep seminggu di weekend untuk hari-hari berikutnyaa juga nggak cocok.

So, balik lagi ke prinsip yang dibilang @miunmiunan tadi yak…. Selamat trial dan error, jangan lupa, beda itu biasa!

Salam sayaaang!

meal prep seminggu 1

ps. Maapkeun fotonya ala kadarnya, mana burem dan banyak yang skipppppp. Semoga minggu II bisa siang yak, jadi fotonya pun lebih bening, kaya kuah

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Challenge: Masak Sendiri dan Meal Prep

meal prep challenge

Selama tiga minggu nyicipin rasanya jadi ibu rumah tangga, saya mulai care dengan beberapa hal yang sebelumnya tidak saya perhatikan. Yang pertama adalah masalah uang makan dan yang kedua adalah masalah masak.

Uang Makan

Dua minggu pertama saya pindah ke Surabaya, hampir bisa dikatakan tiap hari saya jajan atau makan di luar. Bukannya sombong atau hura-hura ya. Tapi memang agak euforia aja lihat harga makanan di Surabaya yang jauh lebih murah dibandingkan Jakarta.

Tapi biar murah, setelah dihitung-hitung lumayan juga. Lumayan banget malah. Hahaha…. Hasil dari baca-baca blognya Mbak Rinda (rumahbarangtinggalan.wordpress.com) dan Twelvi (twelvifebrina.com), saya menyimpulkan kalau memang bener, biaya makan itu nggak kerasa tapi adalah faktor utama keborosan.

Tips dari kedua blog di atas untuk mencegah pemborosan uang makan kurang lebih sebagai berikut:

  1. Buat perencanaan menu untuk beberapa periode (misal seminggu atau sepuluh hari),
  2. Belanja sesuai perencanaan menu di atas,
  3. Masak sendiri di rumah dari bahan yang ada,
  4. Tidak belanja lagi sampai barang belanjaan di kulkas habis.

Minggu ketiga langsung banting setir untuk nyoba masak di rumah. Kami nyoba merencanakan menu seminggu lalu belanja. Daaaannnn, pengeluaran belanja protein hewani nggak sampai 20% persen dari pengeluaran kalau jajan full. Ya kalau ditambah dengan belanja sayur di Mang Sayur secara harian + beras, kayanya nggak sampai 30% dari pengeluaran kalau jajan deh.

Buat kami berdua, yang pas masih ngantor makan di luar nyaris 3x sehari, jumlah tersebut membuat kami terhenyak. Terhenyak dan membayangkan, kalau selama dua tahun pernikahan kami istiqomah bisa cut cost begitu terus, uda kaya raya kali kami yaa…. Hahahaha….

Bisa saving 70% Boookkkk!!!!

ngiler

Masak Memasak

Tapiiiii, ada tapinya ni…. Saya juga baru nyadar kalau masak full untuk tiga kali sehari, dengan tipe saya dan suami yang banyak maunya, itu boros waktu. Menyiapkan bahan, memasaknya daaaaan apalagi nyuci piringnya. Weleh weleh…. Apa lagi saya harus masak MPASI juga. #curhat.

Ribet. Sesuatu yang nggak saya banget.

Maka dari itu saya jadi rajin baca-baca Pinterest tentang Food Prep/ Meal Prep yang katanya bermanfaat untuk menghemat waktu. Banyak bingit yang dari blog luar ya, tapi saya juga nemu punya Mbak Rinda dan Mbak Ega Dioni (egadioniputri.wordpress.com). Blogger Indonesia. Punya Mbak Rinda memang sudah saya temuin dari lama si, cuma baru beneran saya baca baik-baik.

Lesson learn yang saya dapatkan adalah minggu lalu saya merasa ribet untuk tiap hari masak karena belum melakukan meal prep. Jadi habis belanja semua belanjaan masuk kulkas dan baru diproses saat akan masak.

Tips dari dua blog di atas untuk menghemat waktu memasak kira-kira seperti ini:

  1. Jangan nyari resep, menyiapkan bahan baku, dll tepat saat mau masak,
  2. Sebaiknya beberapa step sebelum masak sudah dipersiapkan terlebih dahulu (meal prep),
  3. Meal prep bisa dengan menyiapkan bahan mentahnya dahulu (motong-motong bahan) atau dengan menyimpan masakan sudah matang. Bedanya apa baca blog Mbak Ega Dioni.
  4. Kalau versi Mbak Rinda, dia melakukan beberapa versi meal prep sesuai kebutuhan, tapi yang pasti bahan mentah yang dari belanja langsung diproses di hari belanja. Persamaan antara Mbak Rinda dan Mbak Ega adalah memasak sekaligus banyak untuk kemudian sebagian dibekukan sebagai stok.

Percaya nggak, dengan perencanaan dan pengelolaan masak memasak, Mbak Rinda bisa mengepulkan dapurnya dengan budget Rp 500.000,00 SEBULAN!!! Kalau Mbak Twelvi bisa nabung 150 JUTA rupiah, buat traveling dan juga traktir keluarganya ikut travelinggggg!!!!

love love

Semaput.

Saya nggak akan seambisius itu si. Jauh di atas itupun saya masih akan bangga banget. Uda pasti menang banyak dah dibanding yang lalu lalu. Cumaaaa, satu yang jadi pertanyaan saya…. Apakah metode Mbak Rinda, Mbak Atiit, Mbak Ega dan Mbak Twelvi dengan Meal Prep mereka masing-masing sesuai dengan karakter nyonyamalas saya dalam jangka panjang? Akankah saya akan seistiqomah para Perempuan Rajin itu? #kraaayyy

Eh, dua ya pertanyaannya.

meal prep challenge

So, I’ll try ya…. Dan men-challenge diri saya pribadi untuk masak selama sebulan ini (kecuali kalau keluar kota ya). Nanti progressnya bakal saya ceritain di blog. Apa saja keberhasilan, KEGAGALAN 😛 dan lesson learn dari pengalaman yang saya alami. Harapannya si, challenge kali ini bisa menghasilkan formula yang pas buat para nyonyamalas seperti saya…. 😛

Selain itu, buat saya pribadi hal ini bakal jadi pembelajaran banget. Mumpung saya masih cuti juga, biar belajar skill kehidupan nyata seperti ini. Hehehe, skill dasar banget sebenernya ya. Rada malu juga si sebenernya posting ini. Tapi ya I just want to be real.

kuat

Saya juga yakin nantinya ini akan bermanfaat untuk banyak orang. So, please untuk yang mau dukung saya mengerjakan challenge ini, kasih saran ya, atau boleh juga kasih rujukan bacaan (blog Indonesia preferably). Buat yang uda pro, plis nggak usa pake bully kaya di status FB “ibu-ibu 2,5 juta” itu ya (you know what i mean). Akika, ibu newbie unyu unyu, lebih butuh saran dan masukan. So, yang mau sharing pengalamannya selama ini juga boleh loh. Tulis aja di comment section below yaaa….

Thanks Nyaaaahhh!!! Salam sayang!

PS. Challenge ini kayanya bakal mulai start di minggu kedua Maret, karena minggu depan saya mau keluar kota dulu.

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Mampir Ke Frutta Surabaya, Tempat Jual Bahan Makanan Organik

frutta surabaya jual makanan organik

Ini kali pertama saya belanja offline bahan makanan di konter yang segmented banget – khusus menjual bahan makanan organik, vegan related, etc. Ya, karena sesungguhnya saya memang not really into that ya. Kadang-kadang saja kalau sedang butuh bahan tertentu dan dompet mendukung saya akan beli via shopee. Nah, karena sekarang saya sedang cuti besar (dan banyak waktu luang) saya iseng nyari konter demikian, dalam rangka nyari mie sehat buat Gayatri. Syukurlah ketemu Frutta Surabaya ini.

frutta surabaya jual makanan organik

Cerita tentang Gayatri dan mie-nya akan saya sampaikan menyusul.

Singkat cerita saya nemu konter Frutta Surabaya ini. Infonya dapat dari webnya Ladang Lima malah, produsen mie sehat. Karena lokasinya di Pakuwon City cukup dekat dan suami familiar, jadilah kami meluncur ke situ.

First Impression

Yang terlintas pertama kali adalah: kecil bingit ini konternya. Kalau dibandingkan dengan Indomaret dan Alfamart secara umum, mungkin ini ukurannya cuma 1/3 atau 1/4-nya kali ya. Bahkan kami sempat nggak notice toko Frutta ini padahal uda radius 5 meteran gitu. Kami sempat nanya dulu ke Concierge Pakuwon Mall, dan pas nemu barengan kami bilang “Ya ampuuun, uda deket banget tadi”. Hahaha….

Tapi saya maklum si kalau konternya kecil. Soalnya kan ini bukan toko palugada yang Apa Elu Perlu Gue Ada. Ini toko yang kalau orang marketing bilang: superniche. Memilih untuk fokus ke jualan sesuatu yang sangat spesifik.

Menurut saya sebagai orang awam, beberapa tipe orang akan suka dengan toko ini:

  • penganut clean eating,
  • vegan,
  • vegetarian,
  • ibu-ibu dengan anak usia MPASI (nhaaaah ini saya masuk golongan ini).

Apa Saja yang Dijual:

Jujur sebagai emak-emak pembuat MPASI, walaupun saya nggak tipe emak-emak perfeksionis dan super sehat, saya happy banget lo nemu toko ini. Seneng gitu liat-liat sambil berimajinasi mau masak apaan.

Beberapa produknya sebagai berikut:

Disclaimer: setiap orang memiliki karakteristik dan kebutuhan nutrisi yang berbeda-beda. Produk yang saya tampilkan adalah contoh produk toko, bukan berarti rekomendasi. Untuk produk diet ada baiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi sebelum mengonsumsinya ya.

1 . Activated Charcoal

activated charcoalProduk satu ini saya cukup familiar, karena saya pernah pakai (tapi dari merk lain). Saya pernah pakai activated charcoal buat DIY skincare gitu hihihi, pas jamanan iseng dan sok rajin merawat diri. Cuma saya belum pernah mengonsumsinya dengan cara dimakan ya (produk yang di atas itu edible – bisa dimakan).

Katanya oh katanya si, buat detoks gitu bisa. Saya sendiri familiarnya dengan norit. Temen-temen mungkin juga uda familiar ya dengan obat diare ini. Itu bahan dasarnya juga sama: activated charcoal.

2 . Almond

almondCemilan kesukaan saya pas dulu awal-awal menyusui. Soalnya bikin ASI jadi kenceng dan kental. Cuma akhirnya saya stop karena Gayatri alergi kalau saya makan almond (atau susu almond) dalam jumlah banyak. Saya jadi berpaling pada kedelai dan susu kedelai.

3 . Cuka Apel

apple vinegarAda beberapa cuka di sini, yang saya foto adalah si BRAGG Apple Cider Vinegar yang Raw – Unfiltered. Kenapa? Soalnya ini cuka sempat happening banget. Banyak yang bilang baik untuk dikonsumsi rutin. Selain itu ada juga yang bilang kalau larutannya bisa untuk DIY Skincare. Jadi toner wajah gitu, karena mengandung glycolic acid, CMIIW. Ini sempat juga lo direview dan dibuat semacam challenge oleh Kak Afi Assegaf di Vlognya Female Daily. Sok atuh yang penasaran bisa cek di akun Youtube mereka.

4 . Beras Organik

beras organik

5 . Berbagai Macam Mie-mie-an

bihun dan mie

mie ladang limaYuuuup, the femes mie sehat Ladang Lima is hereee! Ini si tujuan utama saya datang kemari. Bermula dari post foto Gayatri lagi mamam mie, diakhiri dengan minta rekomendasi netizen tentang merk mie apa yang relatif lebih sehat. Kebanyakan pada rekomen merk ini, ada juga yang rekomen dari Namaste Organik, Lingkar Organik, dll. Berhubung saya googling dan dapat yang ada offline-nya si Ladang Lima di Frutta, maka meluncurlah saya kemari.

Kenapa nggak mie yang biasa aja? Sebenarnya si saya nggak punya masalah dengan mie telur yang ada di minimarket dekat rumah ya. Gayatri pernah juga kok saya masakin mie Burung Dara, mie Kijang Menjangan, dll. Cuma Mas Domas dan Mbah Akung rada worry dengan proses bleaching, pengawetan dll yang ada di mie-mie pasaran pada umumnya. Jadi saya diminta nyari mie organik yang uda jelas nggak mengandung bahan pengawet dll. Maka dan maka belilah saya mie ini. Sekian dan terima bingkisan.

organik ramen udon soba

6 .  Chia Seed

chia seedChia seed ini supefood yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan ya. Baik di kalangan ibu-ibu pembuat MPASI maupun yang bukan. Biasa dicampur di smoothies, puding, dll. Saya sendiri belum pernah konsumsi ini.

7 . Buah Kering

dried fruit

8 . Himalayan Salt dan Sea Salt

garamIni juga femes niiiiii…. Sea Salt maupun si Himalayan Salt, infonya lebih sehat karena mengandung lebih banyak mineral dibandingkan dengan refined salt alias garam dapur yang biasa saya pakai. Kemarin sempat mempertimbangkan beli, tapi urung kaena Mas Domas mau nyoba beli Lososal (Low Sodium Salt). Tapi belum jadi jugak. Ada yang pernah membandingkan keduanya? Please info yaaa…. Terimakasih.

9 . Spray Anti Serangga dan Krim Lucas Papaw

lucas papawDua produk ini bukan makanan ya. Saya highlight karena produk ini juga lumayan banyak dicari. Terutama Lucas Papaw ya. Produk impor dari Australia ini selain sering dibahas sebaga skincare untuk perempuan dewasa, saya pernah ikut bahasannya juga di grup ibu-ibu, juga bisa dipakai untuk anak-anak. Manfaatnya dari merawat bibir/ kulit kering, krim untuk merawat gigitan serangga, merawat ruam popok, dll.

10 . Muesli

muesli

11 . Nutritional Yeast

nutritional yeastIni juga salah bahan makanan yang lagi hits di kalangan Ibu-ibu pembuat MPASI kekinian. Biasanya dimanfaatkan untuk mengurangin konsumsi garam pada anak di bawah 1 tahun. Seperti namanya (yeast) produk ini sebenarnya adalah ragi yang masih aktif. Rasanya gurih seperti keju. Biasa digunakan sebagai perasa atau bisa sebagai taburan.

Orang dewasa juga bisa mengonsumsinya. Terbayangkan menggoreng kentang kemudian ditaburi nutritional yeast. Produk ini bisa jadi solusi alternatif bagi orang-orang yang mau mengurangi konsumsi garam namun tidak mau makanannya terasa hambar.

12 . Oat, Seed, Grains

oat

13 . Tepung-tepungan

tepung red mill

tepung mix

14 . Lain-lain:

Essentials Oil, mereka menyediakan EOnya Young Living. Kefir (minuman). Snacks dan Minuman yang unik-unik, hehehe…. Masih ada produk lain yang dijual di Frutta Surabaya, sebagian yang saya tampilkan di sini adalah yang paling menarik perhatian saya.

Dimana Cari Tahu Lebih Lanjut: Instagram @fruttasurabaya.

Tapi patut diingat kalau akun IGnya ini bukan toko onlinenya ya. Jadi mereka tidak jualan di IG. Maka maklum saja kalau slow respon. Kebanyakan pertanyaan juga dijawab dengan: “Hubungi kontak yang ada di bio ya”. Jadi manfaat dari akun ini tu untuk ngecek barang apa aja yang ada di toko si, IMHO.

Lokasi:

Pakuwon City. Tapi bukan di dalam Mallnya ya, ini di luarnya. Jadi di ruko yang menghadap Mall-nya.

***

Semoga sharing kali ini bermanfaat ya Nyaaah…. Oiya, adakah yang tahu apakah ada Frutta di kota lain selain Surabaya? Terimakasih sudah berkunjung. Salam sayaaang….

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Sarapan Supaya Sigap dan Berdaya

sarapan biar sigap

Saya sempat tertohok saat Mas Domas, suami saya, cerita Dia habis kena tegur oleh Bos-nya (untuk mudahnya kita sebut Beliau “Bos Jepang”) di pantry. Singkat cerita ternyata si Bos Jepang negur karena melihat Mas Dom makan mie instan di pantry. Dia bilang mie instan is no good. “No no no good. Suruh istri kamu siapin makan, bawa bekal ke kantor. Lebih sehat,” begitu katanya. Beliau sendiri memang selalu bawa bento dengan menu makan kumplit khas bento orang Jepang untuk makan siang, dan kami menebak kalau Beliau pastinya sudah sarapan di rumah.

Saat itu saya cukup salut dengan Bos Jepang, setahu saya mereka jarang sekali ngobrol masalah pribadi, cenderung ngomong yang terkait dengan pekerjaan. Dan ketika masalah sarapan ini dibahas di kantor, saya jadi menyadari bahwa sarapan menjadi sesuatu yang krusial di dalam kultur kerja keras orang Jepang.

setrong

Well, logis juga si. Untuk dapat bekerja dengan baik dan fokus, tubuh memang perlu didukung dengan nutrisi yang baik. Jadi, yuk sarapan supaya tubuh sigap dan berdaya!

1 . Tapi, Kenapa Tidak Sarapan?

Bikin Mules (Kalau Terlalu Banyak)

Terkait dengan teguran Bos Jepang di atas, dalam hati saya memberontak, “Yeeee, siapa juga yang kagak nyiapin makanan, wong dianya (Mas Dom) aja yang sering males sarapan”. Alasannya? “Kalau sarapan, aku jadi mules-mules, ngerasa kebelet buang air besar melulu”.

Alasan suami saya ternyata tidak mengada-ada loh. Menurut Kemenkes di Lembar Berita Jejaring Informasi Pangan dan Gizi, sarapan yang terlalu banyak cenderung akan mengganggu pencernaan. Tapi bukan berarti kita boleh tidak sarapan loh. Harusnya hal tersebut diminimalisasi dengan membatasi porsi sarapan. Jangan yang berat-berat Komandan.

Tidak Sempat

Selain karena masalah mules tadi, biasanya alasan kami tidak sarapan adalah karena tidak sempat. Yang pertama tidak sempat menyiapkan, atau yang kedua tidak sempat makannya.

Alasan yang lazim kan, saya yakin deh, teman-teman juga banyak yang sering mengalami. Apalagi yang Ibu-ibu, pagi-pagi mah sibuk ngurus anak dan suami. Anak dan suami kelar, lanjut beberes rumah. Tiba-tiba aja eh sudah jam sepuluh pagi. Padahal kan sarapan sebaiknya dilakukan sebelum jam sembilan tuh.

Sarapan adalah kegiatan makan dan minum yang dilakukan antara bangun pagi sampai jam 9 untuk memenuhi sebagian kebutuhan gizi harian (15-30% kebutuhan gizi) dalam rangka mewujudkan hidup sehat, aktif, dan produktif.
-Pedoman Gizi Seimbang Kemenkes RI-

Tapi HARUSNYA kalau sudah niat pasti ada aja jalannya.

Nggak sempat menyiapkan sarapan? Ya pilih menu makanan yang praktis pembuatannya, sehingga cepat penyiapannya. Nggak sempat makannya? Ya pilih makanan yang praktis makannya, jadi bisa dimakan saat di mobil, misalnya. Serta pastikan makanan yang dipilih padat gizinya, sehingga cepat dimakan namun sudah mengandung nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Iya kan iya kan? Setuju?

Bosan

Alasan yang lain adalah, “Bosan dengan menu yang itu-itu saja”. Iya juga sih, saya jadi ingat, dulu jaman masih bocah, sarapan paling ya mie instan atau roti tawar atau nasi pakai telur ceplok. Maklum, kedua orang tua saya bekerja, dan kami semua masuk jam tujuh pagi. Kadang memang terbersit rasa bosan dan tidak semangat sarapan.

Tapi kalau sekarang, saya jauh lebih kreatif daripada Mama (hehehe, sorry to say Maaaakkk!). Ada beberapa menu sarapan praktis yang bisa saya buat di pagi hari. Saya share di akhir artikel ini ya.

2 . Manfaat Sarapan

Seringnya sarapan dianggap sepele dan tidak penting membuat 225 ahli gizi, ahli pangan, dan praktisi kesehatan pada tahun 2012 merekomendasikan tanggal 14-20 Februari diperingati sebagai Pekan Sarapan Nasional sebagai trigger kesadaran masyarakat terhadap manfaat sarapan.

Do you realize?

Sadarkah teman-teman, kalau pas tidur tubuh kita “puasa” tanpa asupan makanan/ minuman selama hampir delapan jam. Ibarat tangki mobil sudah kosong melompong kan itu perut di pagi hari. Namun, bukan berarti sarapan hanya penting untuk memenuhi perut kosong semata. Nutrisi yang ada di dalamnya jauh lebih penting. Jadi tidak hanya asal kenyang.

Sarapan Mendukung Prestasi dan Aktivitas Sehari-hari

Seperti halnya mobil yang membutuhkan bensin dan oli untuk dapat berjalan, maka tubuh kita pun membutuhkan macro nutrients dan micro nutrients untuk dapat beraktivitas secara optimal. Dan berhubung pekerjaan/ sekolah dimulai dari pagi hari, tentu “isi tangki”-nya juga di pagi hari dong alias sarapan.

kuat

Nggak bisa dirapel tar siang aja gitu?

Kagakkkk! Soalnya kan dalam sistem pencernaan tubuh, makanan yang dibutuhkan tidak bisa sekaligus disediakan tetapi dibagi dalam 3 tahap yaitu tahap makan pagi, tahap makan siang dan tahap makan malam. Jika skip di pagi hari maka gula darah di dalam tubuh akan turun dan membuat kita menjadi lemas lunglai tak sigap tak berdaya.

Intinya sarapan berkaitan dengan kebutuhan sebagai berikut:

  1. Kecukupan energi sebagai bahan bakar tubuh.
  2. Kecukupan gizi lain untuk menjaga fungsi tubuh lain, menjaga daya tahan tubuh, meregenerasi sel, dll. Misalnya: tubuh membutuhkan vitamin A, B1, B2, asam folat dan kalsium. Asam folat digunakan untuk pembentukan sel dan sistem saraf termasuk sel darah merah. Asam folat bersama-sama dengan vitamin B6 dan B12 dapat membantu mencegah penyakit jantung.

Hasil Penelitian

Pendapat kalau sarapan mendukung prestasi dan aktivitas sehari-hari bukanlah pepesan kosong yang tanpa dasar loh…. Dalam paparan Prof. Ir. Hardinsyah, MS. PhD (dosen IPB) menyatakan bahwa dalam jurnal Brown (2008) yang mereview 102 penelitian yang dilakukan pada tahun 1982-2007, dapat disimpulkan bahwa anak sekolah yang sarapan memiliki kelebihan dibandingkan dengan yang tidak sarapan sebagai berikut:

  1. Mempunyai kemampuan daya ingat yang lebih baik.
  2. Memiliki daya juang, konsentrasi atau perhatian yang lebih baik.
  3. Memilki kemampuan membaca, berhitung serta nilai kemampuan sejenis yang lebih baik.
  4. Lebih jarang sakit dan jarang pusing, sakittelinga, sakit perut.
  5. Memiliki stamina yang lebih baik.

love love

Terbukti bukan jika sarapan itu penting kan. Oleh karena itu maka yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah tips dan trik bagaimana bisa sarapan walaupun terdapat hambatan waktu serta kebosanan.

Terimakasih sudah mampir ya, semoga sharing kali ini bermanfaat. Salam sayang…..

sarapan biar sigap

Sumber:

http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2011/11/LEMBAR-INFORMASI-NO-2-2011. pdf

http://pergizi.org/images/stories/downloads/materi_PESAN/materi3. pdf

http://gizi.depkes.go.id/download/Pedoman%20Gizi/PGS%20Ok. pdf

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Menyiapkan MPASI Homemade: Antara Tenaga, Waktu dan Alat Masak

menu mpasi

Sebagai ibu bekerja dari setengah delapan pagi sampai jam lima sore, tantangan terbesar dari menyiapkan MPASI homemade adalah masalah tenaga dan waktu. Jujur yes, bangun pagi yang ada di pikiran cuma masak MPASI (kadang masak sarapan malah nggak kepikiran), pulang kerja yang dipikirin adalah bahan MPASI buat besok.

No. no, no, saya tidak sedang mengeluh. Jujur, masak MPASI untuk Gayatri adalah salah satu kegiatan stress release saya selain menulis. Apalagi saya sadar dengan masak MPASI sendiri saya bisa memastikan nutrisi yang masuk ke tubuh Gayatri sesuai dengan kebutuhannya. Tailor need gitu. Tapiiiii…. yang bikin setres adalah cucian alat masaknya. Hahaha….

menu mpasi

Tapi karena keterbatasan anggaran, saya nggak beli alat masak MPASI yang fancy. Hampir semua pakai peralatan dapur yang ada dan ditambah kado-kado lahiran. Misal: panci ya saya pakai yang memang sudah kami miliki, untuk ngukus kami pakai dandang atau rice cooker kecil jamanan ngekos, buat menghaluskan makanan saya pakai saringan besi atau blender segede gaban. Belum lagi mangkuk-mangkuk: untuk defrost, untuk menghaluskan/ menyesuaikan tekstur juga. Jadi ya kebayang kan gimana cuciannya hehehe….

Oiya, ada slowcooker, tapi itu cuciannya rada PR juga ya, soalnya berkerak. Harus direndem dulu, endebrai endebrai…. Kadang mikirin cuciannya itu yang bikin males masak. 😛

That’s why saya iri dengan comment Mak Echa di FB tentang masak MPASI pakai Baby Food Maker. Dia bilang dengan satu alat, dia bisa melakukan banyak hal. Yang artinya, praktis, cepat serta cucian alat kotornya pun sedikit. Makin banyak waktu dan tenaga Ibu untuk memikirkan menu yang variatif atau bermain dengan anak. Kebayang kan enaknya….. Duh….

Iri

Iri

Iri

(bergema tiga kali biar manteb)

heheheMakanya pas The Urban Mama bareng Philips Avent bikin blog competition dengan hadiah Baby Food Maker ini, saya langsung bertekad ikutan. Mau tau apa aja alasan yang bikin saya ngir plus ngiler dengan alat masak satu ini? Cek ya atu-atu:

1 . Praktis

Sesuai namanya, 4 in 1 Healthy Baby Food Maker punya 4 fungsi dalam satu alat. Fungsinya itu 1) mengukus, 2) menghancurkan, 3) menghangatkan dan 4) defrost atau menyairkan. Semuanya dikerjakan dalam satu tabung ukuran 1.000 ml. Cukupan untuk masak beberapa porsi, namun ukurannya compact. Cuma perlu bersihin satu tabung saja untuk keempat fungsi di atas. Ohhh indahnya dunia ini….

baby food maker

2 . Nutrisi tetap terjaga

a. Avent Sahabat Ibu mendesain produk ini dapat mensirkulasikan uap dari bawah ke atas. Sehingga memastikan semua bahan matang merata. Kemudian semua nutrisi, tekstur, dan cairan yang dihasilkan disimpan untuk diblender kemudian. Ga ada yang terbuang seperti jika menggunakan peralatan masak yang berpindah-pindah.

b. Ada fungsi alarm (bunyi bip) yang mengingatkan Nyonyah kalau makanan sudah masak. Jadi meminimalisasi overcook, yang bisa merusak nutrisi makanan.

3 . Versatile sesuai tahapan usia

Dengan alat ini, Nyonyah bisa menyesuaikan tingkat kekasaran makanan dengan usia anak karena tersedia beberapa mode pengaturan kehalusan penghancuran makanan. Hal ini bermanfaat banget, karena kan selama ini kekawatiran sebagian ibu yang menggunakan blender adalah kesulitan menaikkan tekstur bubur bayi. Sementara kenaikan tekstur pada makanan penting bagi perkembangan kemampuan otot lidah, mulut dan rahang saat mengunyah dan belajar berbicara.

Kalaupun usia anak sudah seusia Gayatri (13 mo), alat ini pun masih bermanfaat sekali untuk menyiapkan variasi makanan. Saya membayangkan membuat saus tomat homemade dengan alat ini, untuk melengkapi pasta favorit Gayatri. Selain itu saya juga kebayang bikin dip in sauce dari buah-buahan untuk menambah nutrisi saat Gayatri makan biskuit. Jadi pas dia makan biskuit bisa dicelup-celup dulu, dan nambah vitamin deh. Yuuuummm!

ngiler

Duh…. mau bikin apa lagi ya….

Kayanya dengan menggunakan alat yang efisien, tenaga dan waktu yang digunakan jadi minimal, saya bisa lebih rajin berkreasi untuk memberikan makanan bernutrisi. Pada jadi kepengen juga nggak sih?

*

*

*

Artikel ini diikutsertakan pada #TUMBloggersCompetition #AventSahabatBunda. Nyonyah-nyonyah juga bisa mengikuti kontes promo Apresiasi Cinta Bunda loh, ketentuannya sbb:

ACB-PromoPage-1875-01ACB-PromoPage-1875-02

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Ngemil Bareng SO GOOD Nugget

so good nugget animals

Cemilan memiliki tempat yang khusus di dapur dan hati kami. Suami saya bilang kalau cemilan di rumah adalah life saver. Yang pertama dalam urusan emosional dan yang kedua untuk urusan sosial.

Ngemil Emosional

Ngemil ada kaitannya dengan hal emosional. Iya. Betapa tidak, katanya, saya kalau lagi laper, galak. Serius, kalau saya ingat-ingat lagi, biasanya kami mudah mengalami slek apabila saya sedang kelaperan. Beneran nggak tahan lapar, saya ini. Ada yang kaya saya??? Hayuk ngacuuung! Hihihihi….

That’s why, selain pisang dan susu kedelai, saya juga nyetok SO GOOD nugget, frozen dimsum atau SO GOOD chicken karaage. Ga selalu ada semuanya si, karena ya tidak tiap hari ngemilnya. Tapi salah satu biasanya ada. Siap-siap jadi pengganjal, sebelum saya berubah jadi Hulk emosional.

so good nugget

Saya rasa banyak juga ya, yang punya kebiasaan mirip saya. Atau kalau tidak sama persis pun, biasanya ada yak, yang kalau lagi galau bawaannya pengen ngemil. Berantem sama pacar, ngemil. Diomelin dosen pembimbing, ngemil. Misuh-misuh mantengin lambe turah sambil ngemil. Sirik sama Sophia Latjuba, lanjut ngemil.

Rasanya ngemil itu melegakan. Ada emosi yang tersalurkan di setiap cuilan, gigitan dan kertak adu geraham.

Ngemil Sosial

Selain ngemil emosional, ada juga kan ya yang suka ngemil sambil ngobrol. Apa lagi di Indonesia, budaya “nonggo” atau berkunjung masih sangat lekat. Rasanya paling pas, ya ngobrol sambil ngemil. Oleh karena itu, saat berkunjung, seorang tamu biasanya membawa makanan. Atau sebaliknya, saat ada tamu, sang tuan rumah pun menyediakan cemilan.

Yap, inilah ngemil sosial. Ngemil yang menambah suasana hangat dan akrab.

so good nugget animals

Trus ngemil apa?

Ya apa aja yang ada di kulkas, kalau adanya pisang ya pisang, kalau adanya nugget ya nugget yang keluar.

Hehehehe, memang nggak lazin ya nyuguhin tamu pakai nugget. Tapi kalau emang uda deket menurut saya nggak masalah juga si. Toh taste si nugget ini so good yak, everyone can’t resist ini. Siapa sih yang nggak doyan nugget? Saya si doyan banget. Lagipula nyiapinnya nggak ribet. Tinggal sreeenggg…. Siaapppp!

Lagian misi ngemil social dan emosional ini pun ada loh dalam jiwa produk-produknya SO GOOD. Terbukti dari logo barunya, Social Circle yang berisi banyak gambar-gambar simbolis yang melambangkan dukungan SO GOOD atas kebiasaan berkumpul dan makan bareng orang Indonesia, serta melambangkan dukungan SO GOOD pada pemenuhan gizi masyarakat.

Ini di gambar logo barunya….

so good nugget logo baruLogo di atas adalah loga yang tercantum pada SO GOOD Nugget Animals, ada beberapa lambang yang berbeda dari varian lain. Tapi yang pasti ada lingkaran (Sosial Circle) dan warna hijau segar.

Selain ngemil emosional dan sosial tadi, sebenarnya ada satu manfaat ngemil lagi yang saya rasakan. Yaitu untuk kesehatan.

What??? Ngemil bikin sehat?

Iyaaa!

Tahukah Nyonyah-nyonyah kalau  ngemil di antara jam makan berat membuat kalori tersebar secara merata. Tidak hanya pada jam-jam di tertentu saja. Berkaitan dengan itu berikut manfaat ngemil bagi kesehatan:

  1. Penyebaran kalori yang teratur lebih bisa membikin berat badan terkontrol daripada hanya mengonsumsi kalori saat makan berat. Tentu dengan catatan ngemilnya pun terkontrol ya. Kalau ukuran ngemilnya seukuran makan besar ya, besar tiang daripada pasak atuh. Kalori yang masuk tetap jauh lebih banyak daripada yang keluar yeee….
  2. Penyebaran kalori sebagaimana disebut di nomor satu, tidak hanya mengontrol berat badan, melainkan juga menyeimbangkan gula darah, dll sehingga mood kita pun jadi lebih stabil. Happy pangkal sehat kan yak? Nah, poin ini tentu saja tetap memerhatikan jenis cemilan apa yang kita pilih ya. Kalau ngemilnya kue-kue manis si sama aja naikin gula darah yak…. CMIIW.
  3. Buat saya pribadi yang punya anak bayi, yang masih demanding banget, kadang kala cemilan “agak berat” seperti nugget ini penting jadi pengganjal makan. Hal ini karena selain praktis saat dimasak, nugget juga praktis saat dimakan. Nggak ribet saat makan sambil gendong atau missal sambil menyusui sekalipun. Toh, produk seperti SO GOOD nugget ini pun mengandung tiga macro nutrients utama seperti karbohidrat, lemak dan protein.

ngiler

Ngomongin ngemil bikin saya jadi pengen ngemil euy. Tapi berhubung uda jam 11 malam, ya sudah lah, ditahan dulu kepengenannya, toh saya juga ga laper-laper amat. Biarpun bermanfaat, yang namanya berlebihan tetep aja nggak baik kan yak…. Setujuuu?

Nah, kalau Nyonyah, di rumah biasanya nyetok cemilan apa ni? Sharing dong apa yang jadi favorit keluargaaa!

Terimakasih ya sudah mampir, salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

MPASI On The Go, Bukan Panduan MPASI saat Traveling

MPASI on the go

Awalnya saya nggak berniat menuliskan MPASI saat traveling versi Gayatri karena MPASI yang saya sediakan bukan yang perfeksionis-perfeksionis amat. Merasa takut menyesatkan. Hehehe….

Namun karena mbak Gusti Tia @tiasangputri request, trus kebetulan di hari yang sama temen lain juga nanya via WA group, ya udah saya tulis aja yak. Sekali lagi, sesuai judul MPASI on the go versi Nyonyamalas ini bukan panduan (karena memang banyak hal yang nggak ideal), sifatnya hanya sekedar sharing pengalaman.

MPASI on the go

Pertimbangan MPASI saat Traveling:

1 . Standarnya berbeda dengan saat di rumah, kepraktisan jadi prioritas juga.

Saya menekankan baik-baik di pikiran saya, yang kadang suka kumat perfeksionisnya, kalau kondisi di rumah dan di “jalan” itu berbeda. Saya harus belajar untuk fleksibel dan juga concern terhadap kepraktisan. Standar yang berbeda kalau di rumah dengan di jalan terutama ada pada jenis menu yang dipilih, yaitu saya akan memilih menu-menu yang mudah diolah.

Prioritasnya bisa diurut sbb:

  • Yang tetap jadi prioritas utama tentu adalah kebersihan.
  • Prioritas selanjutnya adalah meminimalisasi makanan yang berisiko memicu alergi.
  • Kepraktisan naik pangkat prioritas ni kalau saat traveling.
  • Kelengkapan menu empat bintang juga tetap saya usahakan.
  • Menu non garam juga saya perhatikan, namun tidak seketat di rumah.

Toh bocah tidak akan langsung anemia cuma karena nggak makan daging sapi selama dua hari traveling. Katakanlah begitu. Tapi kalau kebersihan bisa bahaya sih, kan bisa kena diare di perjalanan dan itu fatal. Maka dari itu kebersihan nomor satu, utamakan selamat. Kelengkapan menu jadi prioritas yang lebih rendah.

2 . Jaga berat bawaan.

Peralatan MPASI kan sebenarnya bisa sedikit bisa juga banyak. Nah kalau di jalan saya akan meminimalisasi membawa peralatan yang berat-berat. Atau kalau bisa malah nggak membawa alat masak sama sekali.

3 . Kenali lokasi penginapan.

Saya tidak anti untuk membeli makanan untuk Gayatri, dan memodifikasinya menjadi makanan bayi. Tentu untuk dapat melakukannya saya harus mengenali lokasi penginapan terlebih dahulu. Seperti di poin 1 tadi, tentu kebersihan adalah nomor 1 ya. Saya berani makan/ beli makan buat Gayatri kalau sebelumnya saya pernah makan di tempat tersebut.

4 . Rileks.

Saya traveling biasanya karena ada acara keluarga, kerjaan kantor atau liburan. Ya saya mau fokus untuk mengerjakan hal-hal tersebut. Even untuk liburan pun saya mau fokus liburan. Hahahaha…. Saya nggak pengen juga karena saya ribet masak, eh kepasan bocah juga lagi malas makan trus saya jadi bad mood sepanjang perjalanan.

Berikut saya jembrengin pengalaman saya ya. Nyonyah pasti akan menemukan banyak kekurangan, jadi mohon jangan berekspektasi terlalu tinggi yak. Ya memang beginilah kenyataannya sih…. Heeee….

Umur 6 bulan – 7 bulan

Umur segini paling saya bawa Gayatri main di sekitaran Jakarta aja. Jadi ga terlalu masalah. Karena ga terlalu lama, bisa bawa bekal makanan (bubur). Kalaupun ga bisa bikinkan bubur, saya bawa pisang atau alpukat. Di jalan tinggal kerok. Tadi saya coba ubek-ubek Galery handphone dan nemu foto ini…. Tapi ini saya lupa pastinya umur berapa kayanya si sekitar 7 atau 8 bulanan deh…. bekalnya kaya gini hehehe….

kantor

Bagaimana kalau harus menginap? Akankah Nyonya bawa slow cooker dll?

Jawabannya Tidak. Karena di rumah, walaupun ada slowcooker, saya terbiasa masak bubur pakai panci atau alat lain yang ada. Biasanya panci tersedia kalau di penginapan yang ada kitchenettenya.

Paling saya bawa 1) saringan dan 2) parutan keju kecil. Alasannya karena nggak semua tempat menginap menyediakan dua benda ini. Lagipula dua benda ini versatile serta ngebantu banget untuk bikin MPASI, dan ukurannya keciiiiillll. Tinggal diselipin di diaper bag aja muat.

Trus gimana kalau mau menu empat bintang Nyah?

Kembali lagi, sesuaikan dengan lokasi penginapan. Sebisa mungkin cari penginapan yang memungkinkan kita berbelanja jika memang ingin memasak di lokasi traveling. Pilih bahan yang mudah disaring pakai saringan. Jangan pula beli daging sapi yang ga digiling, misalnya. Masak bubur pakai panci. Saring.

Lhah kalau di penginapan?

Nhaini memang agak tricky sih kalau nginepnya nggak di rumah Saudara. Tips dari saya si, better sewa apartemen harian atau mingguan ya daripada hotel. Karena di apartemen biasanya ada dapur kecil, dan biasanya juga dekat dengan pusat perbelanjaan.

Saya baru sekali bawa bayi nginap apartemen harian, yaitu pas di Surabaya. Nyewa satu unit Puncak Kertajaya untuk tiga hari. Lebih murah kok daripada hotel. Dan di dekat situ dekat Giant dan Superindo. Ada dapur sederhana, yang penting ada kompor, panci satu dan alat makan. Aman.

Di situ juga ada kantin yang jual gado-gado. Itu rebusan sayur (labu siam, dll), tahu goreng, kentang atau lontong, bisa dialusin jadi bubur bayi kalau kepepet. 😛 Hehehe…. Disclaimer: Suami dulu tinggal di apartemen ini setahunan, cuma beda tower, jadi dia tahu kantin mana yang layak diacungi jempol kebersihannya.

Saya punya food processor Nyah? Menurut Nyonyah gimana?

Saya nggak punya si, jadi nggak bisa cerita tentang food processor. Mohon maap. Hehehe….

Trus kalau mau bawa alat masak segambreng salah nggak?

Ya enggak papa juga si. Kalau bawa mobil sendiri, apa lagi, ya monggo. Itu tadi versi saya yang pulang kampung atau traveling-nya biasa ke luar kota dan kendaraan yang digunakan adalah pesawat. Sesuai Prinsip MPASI on the go versi Nyonya: Jaga berat bawaan.

setrong

Umur 8 bulan

Umur ini adalah masa paling ekstrim, karena saya sering bolak balik RS nganter Mbah Uti dan juga suami yang opname. Karena ga ada pengasuh, terpaksa Gayatri sering saya bawa ke RS atau ke kantor. Jujur kadang kasian juga sama anak. Tapi bersyukurnya, kami diberi kesehatan dan kekuatan. Setiap pergi-pergi sama juga saya bawa bekal makanan dari rumah.

Pernah, suatu saat saya tidak ekspektasi kalau observasinya Mbah Uti akan lama, dan nggak bawa makanan bayi. Saya melipir ke kantin untuk minta dibuatkan puree alpukat, tanpa gula, es dan susu. Syukurlah kantinnya mau membuatkan. Dengan berdoa, semoga alat makannnya bersih, puree alpukat jadi pengganjal makannya bocah.

Pernah juga saya pesan nasi tim ayam di Kantin Eka Hospital. Memang ini ga ideal untuk dilakukan, walaupun kantinnya bonafid dan bersih, namun bagaimanapun kita tidak bisa menjamin apa yang terkandung di makanannya. Termasuk juga kandungan garamnya. But, kalau sudah darurat, saya pilih yang terbaik yang bisa didapatkan dulu.

Umur 9 bulan – 10 bulan

Umur segini saya sudah mulai merasa mudah, karena Gayatri uda bisa makan makanan keluarga yang dimodifikasi. Saya menyiapkan makanannya dari makanan saya, hehehe. Cuma konsekuensinya, saya harus memilih makanan yang mungkin untuk saya modif jadi makanan bayi.

Pas di usia ini yang laing berkesan buat saya adalah traveling ke Yogyakarta. MPASI saat traveling-nya Gayatri saya bagi menjadi 2 sistem: sarapan di hotel dan selain sarapan makannya di luar.

sheraton

1 . Sarapan di hotel

Kurang lebih 4 hari saya menginap di Sheraton Mustika Hotel, dan so far seneng banget dengan menu-menu yang tersedia di sana karena bisa di modif jadi makanan bayi. Tiap hari berbeda si, tapi yang pasti di sana ada salad bar, omelet dan juga juicer yang ready buat digunakan secara custom. Beberapa paduan menu yang berhasil saya coba kulik:

1) Tofu, nasi, brokoli rebus, potongan ayam rebus dari stall soto,

2) Omelet, kentang, tomat panggang, tahu,

3) Kentang, omelet, wortel rebus, kacang merah rebus,

4) Kentang, buncis, ikan goreng (emacam dori/ gurame tepung dikuliti tepungnya).

Apalagi yaaa…. Ada yang uda kelupaan juga, hehehe…. Prinsip empat bintang sebisa mungkin saya pegang. Karbonya bisa dicari aja keliling resto, bisa diganti bubur ayam, lontong, ketupat, etc etc etc….

2 . Makan di luar

Menu resto yang paling lazim dan ada di mana-mana yang biasa saya pesan untuk Gayatri adalah ikan bakar (bumbu dipisah). Kulitnya dikupas, daging ikannya dilumat, sama lalapannya timun atau tomat bisa juga jadi finger food ala-ala. Trus apalagi ya, di PHD ada salad bar. Cuma kentangnya uda dicampur mayo. Kalau mau, dicuci bentar pakai air mineral. Salad barnya PHD malah ada kacangmerah, wortel rebus dll-nya. Kalau di Marugame Udon, beli kaldu ikan/ ayamnya terpisah itu murni kaldu loh, nggak pakai garam. Bisa jadi opsi lain buat makan di luar juga.

Yang aman tapi mahal ituuuuu Hanamasa. All you can eat dan “masak sendiri” kan, jadi bisa ngasih daging, sayur, tofu, nasi, dan segala macemnya ke bocah. Tapi nggak mungkin juga ye kita makan tiap hari di Hanamasa. Bisya bisya Bapak syewot bayarnya….

hehehe

Selain itu saya bawa makanan siap saji khusus bayi juga si. Saya bawa Heinz sama Milna biskuit. Gayatri pas umur segini entah kenapa ga doyan makanan instant bubuk. Heinz dan Milna ini jadi kaya last resource banget, daripada nggak makan.

Umur 11 bulan – 12 bulan

Usia ini mah sama seperti makanan di poin sebelumnya, bedanya saya sudah nggak mikir ngalusin lagi. Syukurlah Gayatri naik teksturnya lancar, jadi uda bisa makan nasi. Yang jadi perhatian dan PR bagi saya adalah meminimalisasi asupan garam dan memilih tempat makan dengan kebersihan makanan yang terjamin. Untuk alat makan, saya tetap prefer bawa alat makan sendiri.

Menjelang satu tahunnya Gayatri, kami liburan ke Surabaya dan Bromo, di sini lah MPASI paling koboi yang pernah saya lakukan. Soalnya mostly makanan yang tersedia adalah makanan family yang uda full bumbu. Tapi ya sudahlah uda mau setahun ini ya…. Maafkan ibu ya naaaakkk!

kuat

Hmmm…. jadi banyak juga yak bahasan MPASI saat travelingnya, hehehe…. Semoga sharing kali ini bermanfaat ya Nyaah…. Feel free untuk berbeda pendapat loh. Boleh juga memberi masukan atau berbagi pengalaman selama ini…. Terimakasih sudah mampir, salam sayang selalu….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Perhatikan Baik-baik 5 Hal ini Agar Kupon Voucher Diskonmu Tak Berujung Boros

contoh promo2

Mau untung malah buntung. Pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat membeli kupon voucher diskon makanan? Saya pernah beberapa kali. Sebenarnya karena kesalahan saya sendiri si. Hehehe…. Karena saya mengakui, saya adalah orang yang kurang teliti.

hiks

Padahal si sebenarnya kupon voucher diskon tu lumayan bisa menghemat biaya jajan loh…. Apalagi buat kamu yang memang doyan jajan atau sering melakukan meeting di restoran. Berikut adalah pelajaran yang saya petik dari kesalahan-kesalahan saya tersebut, semoga bisa jadi tips yang bermanfaat ya buat Nyonyah…..

1 . Perhatikan harga yang ditawarkan.

Adanya kupon tidak serta merta harga jualnya pasti lebih murah lo teman-teman. Jika kita belum familiar dengan tempat makan/ tempat belanja yang menawarkan diskon, better memastikan harga normalnya dahulu, agar harga yang didapatkan benar-benar value for money, bukan akal-akalan marketing semata. Caranya gampang kan, tinggal nanya mbah google.

2 . Perhatikan expired date.

  • Kalau bisa pilih kupon yang tidak terlalu mepet agar kecil kemungkinan kita melewatkan waktu menebus kupon tersebut.
  • Ingat-ingat jadwal ulang tahun atau perayaan-perayaan lain yang mengharuskan kita menraktir orang banyak. Cari kupon di saat-saat tersebut sehingga kita bisa menraktir rekan di tempat dan makanan yang lebih istimewa dengan budget yang terjangkau. Hal ini penting karena kita bisa saving lumayan banyak loh, kalau membeli dalam jumlah banyak menggunakan kupon. Contohnya produk yang terdapat di Voucher Diskon BambiDeal di bawah ini. Untuk makan Wagyu Steaks + Drink seharga Rp 147.000,00 kita hanya perlu bayar Rp 80.000,00 berarti hemat Rp 67.000,00/ meals. Kalau nraktir sekeluarga isi 4 orang aja, uda lumayan kan savingnya.

contoh promo 1

  • Simpan kupon dengan terorganisir ya, supaya tidak kelupaan.Pengorganisasiannya si bisa pakai kalender aja di google. Catat tanggal kapan kita mau menggunakan kupon apa. Sayang kan kalau sampai terlewat momen/ expired datenya.

3 . Perhatikan rules (syarat dan ketentuan) yang berlaku.

  • Cek apakah voucher bisa digunakan untuk delivery, take away atau harus dine in. Jika memang bisa delivery jangan lupa untuk memeriksa ketentuan biaya pengiriman yaaa….
  • Perhatikan jumlah porsi yang diinginkan, dan ketentuan pembelian kupon terkait. Saya pernah melakukan kesalahan saat saya ingin membeli kupon untuk 2 kali meals. Saya membelinya dalam satu kupon, sehingga saat membeli saya terpaksa membawa pulang dua porsi makanan, padahal yang saya inginkan adalah dua kali makan di waktu yang berbeda. Dooohhhh…. Ga teliti bangetttt….
  • Cek apakah voucher diperbolehkan untuk digunakan bersamaan dengan diskon/ promo lain. Misal pada beberapa hari dalam seminggu ada promo yang bisa membuat kita mendapatkan cash back apabila memiliki Debit Card dari bank yang kita miliki. Kalau memang bisa dobel kan untttttuuuuuuuungggg!!!

love love

  • Cek juga apakah kupon harus dicetak atau boleh hanya menunjukkan kode. Sebisa mungkin sih, jika membeli  Kupon Voucher Restaurant secara online pilih yang paperless yak. Selain mengurangi biaya printing, untuk jaga-jaga juga kalau kita lupa ngeprint. Hehehe, tips ini penting buat orang-orang yang pelupa seperti saya. Jangan sampai kita uda sampai di merchant uda pesen, eeehhhh, lupa ngeprint kuponnya. Kan tengsin. Kalau nggak harus diprint kan tinggal tunjukin kupon dari handphone. Kids jaman now gitu loh, masa handphone juga ketinggalan. Kayanya kecil kemungkinan kan.
  • Oiya jangan lupa untuk memastikan apakah harga yang tercantum sudah termasuk pajak yaaa….

Contoh syarat dan ketentuan (biasanya dapat dilihat di bagian bawah offer):

syarat dan ketentuan

4 . Perhatikan lokasi merchant yang dituju.

Perhitungkan biaya perjalanan, bensin, waktu tempuh dan juga biaya parkir. Nggak lucu aja, kalau ternyata kita beli kupon makanan yang membuat kita hemat Rp 40.000,00 tapi biaya perjalanannya Rp 50.000,00. Itu mah bukan hemat. Tapi nombokkkksss….
Lokasi merchant yang perlu diperhatikan selain jarak adalah tentang kenyamanan. Kenyamanan tempat maupun kenyamanan parkir. Apalagi jika teman-teman berencana membeli kupon di merchant yang berada di tengah mall untuk weekend. Pastikan tempat parkirnya nyaman, kalau harus bayar valet juga, kan sama aja nggak hemat.

contoh promo2

5 . Beli kupon voucher diskon untuk makanan yang benar-benar kamu pengen.

Last but not least ni, jangan membeli kupon hanya karena tergiur dengan diskonnya yang besar, padahal kita nggak doyan.
Kalaupun kita ingin menggunakan kupon untuk makanan yang belum pernah kita coba tapi yang beneran kita pengen, jadi kalaupun ternyata nggak enak pun nggak rugi-rugi amat. Hihihi…. Untuk meminimalisasi risiko nggak doyannya sebaiknya cari info sebanyak-banyaknya tentang makanan yang akan kita beli. Cari review di food blogger terpercaya yang kira-kira sesuai dengan seleramu.

Selamat hunting kupon voucher diskon ya Nyaaaahhh…. Semoga dengan perencanaan yang baik, anggaran jajan-nya bisa hemat namun tetep nikmat. Salam sayaaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!