Pengalaman Menggunakan Essential Oils (Organic Supply dan Young Living)

review essential oil

Sebelum terlalu jauh mereview essential oil dari Organic supply dan Young Living, serta menceritakan bagaimana pengalaman menggunakan essential oil, saya pengen cerita dulu tentang kenapa dan apakah worthy menggunakan EO.

Ya, karena sebagai orang yang pelit concern sama budget, pada awalnya saya juga merasa terintimidasi dengan harga produk-produk essential oil. Siapa yang sama hayo ngakuuu? Hahaha…. Ya memang nggak bisa dibilang murah si, cairan 5 ml s.d. 20 ml dalam botol amber kok bisa sambai puluhan s.d. ratusan ribu.

Tapi dengan beberapa pertimbangan, ternyata ada yang cocok. Jadinya nggak menyesal uda splurge money on it.

Pengalaman Pertama: Organic Supply

Jadi ceritanya di awal 2018 kemarin, saya long distance marriage dengan suami. Suami di Surabaya dan Jakarta. Saya bawa Gayatri, dan memutuskan untuk ngekos saja berdua. Saya nggak menyangka, kalau keputusan LDM ini punya konsekuensi terhadap kesehatan saya. Dalam artian stres, sehingga saya kesulitan tidur dan terus-terusan merasa lelah.

Sebelumnya saya sudah pernah menyoba beberapa oil blend dari berbagai merk, dan merasakan kalau badan saya memang bereaksi bagus dengan oil. Ngefek gitu lo. Nah, dari ngobrol-ngobrol dengan teman di kantor, yang punya keluhan sama, saya mempertimbangkan untuk mencoba essential oil, yang pure bukan yang blend, untuk masalah kesulitan tidur yang saya alami.

Merk yang pertama saya beli adalah Organic Supply. Pertama karena merk ini sering dibahas di livingloving.com, web kesayangan saya. Yang kedua adalah karena lagi promo. Hihihi…. Sekalian saya beli diffusernya.

Oil yang pertama saya beli tentu saja Lavender (10 ml) ya. Selain karena oil ini tu si mother oil. Juga sesuai dengan keluhan yang saya alami: susah tidur. Sukses. Oil ini beneran membantu saya rileks dan juga lebih mudah tidur.

ps. Yang spearmint nggak kefoto karena uda abis juga dan botolnya entah kemana.

Worthy or Not?

Hal ini bikin pembelian oil ini worthy buat saya. Karena susah tidurnya saya ini sudah mengganggu banget ya. Saya jadi sering nggak bisa mikir kalau di kantor. Emosi juga jadi nggak stabil, karena kurang tidur. Pekerjaan terbengkalai. Pun saya kawatir, kalau emosi saya nggak bagus akan buruk dampaknya pada perlakuan saya ke Gayatri.

Ngeri aja si, mengingat saya hanya berdua dengan anak di kosan.

Karena kesuksesan oil yang pertama, kemudian saya beli oil berikutnya: Clary Sage, Spearmint dan Tangerine. Ketiganya saya beli yang ukuran kecil 5 ml.

Clary Sage untuk membantu saya mengurangi rasa nyeri haid. Spearmint karena saya sering pilek (sebenarnya saya pengen Pepermint, hanya karena waktu itu Gayatri masih bayi banget, jadinya memilih Spearmint yang lebih mild, due to extra cautious). Kemudian kalau yang Tangerine, ini murni karena diskooooon 70%, wkwkwkwk.

Dari ketiga oil terakhir, yang menurut saya worthy adalah yang Clary Sage, karena berasa banget manfaatnya pas haid ya. Yang Spearmint, nggak terlalu ngefek di saya, tapi dimaafkan karena baunya enak dan jadi kombonya Clary Sage yang kurang saya suka baunya.

Tangerine ini ni yang saya nyesel beli, wkwkwkwk. Saya nggak suka baunya juga soalnya, manfaatnya juga ga jelas buat saya. Untunglah, saat saya pindah ke Surabaya, ternyata suami suka bau citrusynya. Jarang banget dia suka wewangian, bisa dibilang anti banget buat fragrance sintestis malah. Giliran kenal Tangerine oil, jadi malah oil ini yang pertama kali habis, karena suami saya boros kalau diffuse.

Lesson Learn

So, lesson learnnya adalah worthy atau enggaknya oil adalah tergantung kita milihnya. Riset dulu apa kebutuhan kita, dan juga jangan lupa riset juga oil apa yang tepat. Daaaannnn, riset juga bagaimana menggunakannya dengan tepat.

Saat itu, saya biasa pakai oil dengan tiga cara: diffuse, dillute di sabun bastille dan semprot. Saya nggak akan cerita lebih lanjut bagaimana bagaimananya ya, please riset dan sesuaikan dengan jenis oil yang digunakan serta kondisi masing-masing.

Sebenernya riset ini by googling juga bisa ya. Saya juga beli satu ebook terkait ini. Tapi jujur, sebagai newbie, adakalanya saya merasa lebih afdol kalau ada yang sharing dan kasih insight bagaimana menggunakan EO. Nah kebetulan, saya memang punya temen yang distributornya youngliving, namanya Mom Elly. Pas saya posting foto diffuser dan EO, dia DM, kita ngobrol-ngobrol dan berujung pada saya nyobain Young Living juga.

Pengalaman Kedua: Young Living

Oil pertama yang pernah saya coba dari Young Living, teteuuuup adalah Lavender (20 ml)!

Dari Mom Elly ini saya dapat tips penggunaan oil selain tiga cara tadi. Yaitu dengan dioles di kulit. Dari Mom Elly ini juga saya jadi ngeh kalau lokasi pengaplikasian oil di tubuh kita pun punya pengaruh yang berbeda-beda terhadap hasil yang diharapkan.

Untuk pertama kalinya juga, saya menggunakan EO di Gayatri (sebelumnya pernah juga coba oil blend untuk bayi) dengan oles dan diffuse. Dan sukseeees lagiiiii!!!

Duh seneng banget saya, soalnya pas lagi masa sapih kan. Dan Gayatri memang sempat beberapa saat susah bobok dan agak rewel. Cerita selengkapnya saya pernah cerita di artikel Sapih part 2.

Perbandingan Organic Supply x Youngliving

Kalau mau membandingkan antara Lavendernya Organic Supply dan Young Living. Yang saya rasakan si, untuk baunya, Organic Supply terasa lebih “manis” gitu, sementara yang Young Living lebih kerasa berat ya langunya. Kalau untuk urusan mengatasi kesulitan tidur yang saya alami, keduanya works well. Tapi kerasanya kalau pakai Young Living boboknya lebih pules. Ini dialami juga sama Gayatri dan suami ya, sepengamatan saya.

Worthy or Not?

Jadi kalau ditanya lagi, apakah worthy Lavendernya Young Living? Saya bilang si, buat kasus saya, worthy. Terlebih kalau YL bisa nanya-nanya ya, support groupnya lebih oke kalau saya bilang.

Cuma kalau ditanya tentang, apakah klaim tentang pengobatan dan penyembuhan berbagai macam penyakit itu benar, untuk kedua merk, saya no comment. Karena pengalaman saya sebatas mengatasi susah tidur dan anak rewel ya, belum pernah untuk penyakit yang macam-macam, jangan sampai ya, aamiin.

Walaupun demikian, kedua hal tadi walaupun terdengat sederhana tapi berujung pada kenyamanan dan kualitas hidup saya sebagai ibu. :)

Yap! Poin utamanya buat saya adalah meningkatkan kenyamanan saya kualitas hidup, jadi buat saya pribadi, penggunaan oil ini bukanlah pengganti obat maupun treatment dokter saat sakit. Namun mendukung kesehatan sehari-hari agar lebih bugar body and mind

Yap! Poin utamanya buat saya adalah meningkatkan kenyamanan saya kualitas hidup, jadi buat saya pribadi, penggunaan oil ini bukanlah pengganti obat maupun treatment dokter saat sakit. Namun mendukung kesehatan sehari-hari agar lebih bugar body and mind.

review essential oil

Where to buy:

Organic Supply: pernah beli di webnya https://www.organicsupply.co.id/ dan di official storenya di tokopedia. Follow akun IGnya buat update promo diskonnya. Kekurangannya adalah kita nggak bisa konsultasi ya. Mereka menyediakan informasi umum penggunaan EO di blognya.

Young Living: bisa dibeli di temen akoooh, bisa tanya-tanya aja dulu via DM di IGnya @pristinelly. Dia bukan yang tipe bakal menerormu dengan promosi-promosi gitu kok, jangan kawatir hihihi…. Mom Elly juga enak ditanya-tanya santai si tentang pengalaman menggunakan produk ini.

Gitu saja kali sharingku tentang pengalaman menggunakan essential oils dari kacamata konsumen dua merk di atas ya. Jadi aku nggak terlalu banyak cerita tentang ingredients, dll, hanya fokus ke mengapa saya menggunakan, apa manfaat yang saya rasakan dan pendapat saya tentang worthy atau tidaknya produk-produk di atas. Saya harap sharing kali ini bermanfaat yaaa! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

So Good Spicy Chicken Strip, Enak dan Pedas!

Kalau jalan-jalan ke mall, sebelum kena So Good Spicy Chicken Strip, kami sering banget menclok ke salah satu kedai snack chicken strips. Tahu kan ya, yang kekinian itu loooo! Baik yang impor maupun yang lokal, sepertinya memang rame banget ya…. Antriannya panjang ciiin.

Nah kalau di rumah, trus kepengen itu, kadang kami bikin sendiri. Tapi heran selalu garing keset dan seret itu. Entah gimana si cara masaknya yang bener? Ada yang punya resep nggak? #eh

Kalau nggak bikin sendiri, suami sering banget order online. Yang bikin pusing adalaaaaaahhhh…. Seringnya kami ngidam malem-malem banget. Pas lagi lemburan ngerjain kerjaan gitu. Dingin-dingin, trus laper, pengen yang pedes-pedes enak. Hmmmm….

Dulu si berandai-andai, seandainya Doraemon itu ada….

Hihihi, ada yang senasib nggak?

2019-02-05 11.47.49 1-1024x768

Masa kelam itu sudah saya lalui si Nyah. Sekarang berhubung uda tahu kalau ada So Good Spicy Chicken Strip, saya jadi nggak kawatir merana karena pengen chicken strip yang jauh di sono. Yang ini lebih enak pulak.

Lebih enak karena praktis dan cepet bikinnya. Lebih enak di kantong dibanding order ayam spicy di resto fried chicken. Dan yang pastinya juga lebih enak di lidah. Spicy, juicy dan crispy gitu.

Saya review sedikit ya….

2019-02-05 11.47.47 1-1024x768

Nama Produk: So Good Spicy Chicken Strip

Harga: 38 ribu-an rupiah.

Where to buy: Giant.

Ukuran: 250 gram, terbagi menjadi kurang lebih 6 potongan daging ayam.

Deskripsi produk: Ayam potong berbumbu, frozen food.

Keterangan penting lain: Halal.

PhotoGrid_1549342422217-1024x768

Review rasa:

  • Spicy

Kalau ngomongin spicy, level kepedesannya masih bisa saya tolerir. Walaupun saya bukan penggemar makanan super pedas, tapi makanan pedas saya suka. Terutama yang pedesnya enak gini. Nggak nyegrak dan nggak menyakitkan. Nggak juga bikin mules. Pokoknya pedesnya enak.

Duh, sebenernya enak kan subyektif ya. Saya coba deskripsikan deh ya….

Jadi enaknya tu gurih gitu dagingnya. Bumbunya meresap sampai dalam. Kemudian, pedesnya juga berasa sampai ke dagingnya. Jadi nggak hanya di kulit krispinya aja. Kebayang kan nggak?

  • Crispy

Crispynya juga enak. Bumbu pedasnya menurut saya nggak terasa nyegrak. Sampai remah-remahnya saya serok serok dari penggorengan hihihi. Nggak mau rugi.

Paling enak dimakan pas panas-panas.

  • Juicy

Trus yang paling utama dan terutama, seperti yang saya bilang di mula. Spicy chicken strip yang enak itu yang nggak keset dan nggak seret. Jadi juicy gitu. Naaaah, yang So Good punya ini juicy banget dagingnya.

2019-02-05 11.47.50 1-1024x768

Padahal 100% real meat lo. Jadi potongan daging ayam yang dibalut tepung renyah gitu, BUKAN daging giling yang dicampur dengan tepung dan dicetak.

Seems too good to be true ya buat frozen food. Tapi aslik, saya juga amazed.

Buat yang mau lihat gimana saya kepedesan tapi sekaligus keenakan makan Chicken Strip ini bisa meluncur ke video berikut yaaa…..

 


View this post on Instagram

A post shared by emanuella christianti (@nyonyamalas) on

Kelihatan banget kan beneran nggak kontrol mukanya saya makan So Good Spicy Chicken Strip. Lha gimana mau komuk coba, lha wong ini beneran pedes dan enak. Jadi kalau mau makan ini harap ingat, “Jangan di depan calon mertua ya!” Di depan bos juga jangan deh. Soalnya dijamin gagal jaim.

Cara Menikmati:

1. Dicemilin aja uda enak.

2. Dimakan pakai nasi juga enakkkkkkk!

3. Jadi isi kebab.

2019-02-05 11.47.48 1-1024x768

Saya kemarin kepikiran banget ni buat bikin kebab pakai isian So Good Spicy Chicken Strip ini. Jadi kulit tortilla, pakai mentimun, wortel rebus dan juga tomat, pakai dressing mayonaise yang memang ada di kulkas. Pokoknya kebayang apa aja bisa jadi isian pendamping. Nah, daging utamanya pakai Chicken Strip ini.

Uda bela-belain loh, nyisihin dua potong chicken stripnya pas makan malam. Niatnya karena malam mau lembur gitu, buat cemilan. Eeeehhh, pas saya kelar ngelonin Gayatri, chicken stripnya uda lenyap. Dimakan suami.

Yahhh…. kecewa si sebenernya. Tapi mau gimana lagi. Saya nggak bilang kalau mau saya makan. Dan mana mungkin juga suami nggak tergoda makan! Lha wong enak!

Hahaha….

Yasudah deh, kapan-kapan saya bikin nanti saya share lagi di sini ya! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Anak Aktif Itu Sehat, bersama Susu Indomilk UHT Kids Full Cream

“Eh, buset dah, tu bocah kagak bisa diem. Hiperaktif kali yak,” atau kalau tidak, “Ih, nakal banget si. Rusak kali ya setelan baterenya,” seringkali saya mendengar komentar seperti ini di kalangan ibu-ibu. Hehehe, peace ya Buk Ibuuuk! Tidak sedang mengomentari Gayatri, anak saya si, tapi tak urung saya membatin, “Bukankah anak aktif itu sehat ya…. Bukankah tanda mereka sedang asyik-asyiknya bereksplorasi.”
Saya berkaca pada Gayarti soalnya. Usianya dua tahun saat ini, dan memang usia dua tahun sering kali disebut dengan terible two ya, saking mereka bergerak terus plus ngoceeeeeh terus. Hihihi, ada aja tingkah laku mereka yang membuat para ibu mengelus dada. Sambil bergerak, lari-larian, tangan mereka pun sering berhenti pada barang baru untuk kemudian dilihat atau dimainkan. “Apa tu? Apa tu?” celotehnya sambil nggrathil.
PhotoGrid_1548666382338-1024x768
Tapi walaupun merepotkan, menurut saya terlalu dini untuk menilai anak usia dua tahunan mengidap hiperaktif. Dari yang pernah saya baca dari American Academy of Pediatrics, diagnosa hiperaktif yang dalam artikel ini merujuk pada Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) baru bisa dilakukan pada rentang usia 4 – 18 tahun. CMMIW. Itu pun harus dokter yang melakukannya.

Perbedaan antara Anak Hiperaktif (ADHD) dengan Anak Aktif

Bagi orang tua, seperti saya juga, yang awam terhadap ilmu ini, memang sulit untuk membedakannya. Namun menurut Sani B. Hermawan, Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Jakarta pada Kompas, ada beberapa ciri yang bisa dijadikan gambaran, untuk membedakan mana anak hiperaktif (ADHD) dan anak yang aktif sebagai berikut:
  • Anak hiperaktif (ADHD) cenderung tidak bisa mengenali rasa lelah pada tubuhnya.
  • Yang kedua, mereka memiliki kecenderungan untuk impulsif, yaitu bergerak konstan namun sulit kita kenali apa tujuannya.
  • Yang ketiga mereka memiliki kecenderungan untuk merusak atau destruktif.
  • Dan yang keempat, mereka kesulitan untuk fokus atau berkonsentrasi.

Nah, anak aktif yang sehat, tidak demikian. Jadi selama anak memiliki konsentrasi yang baik dan juga mampu mengenali rasa lelahnya, maka menurut saya keaktifan mereka perlu kita dukung. Malah perlu kita stimulasi.

PhotoGrid_1548666743324-1024x768

Saya cukup concern, dan ingin menekankan hal ini karena, menurut saya, melabel negatif anak dengan istilah “hiperaktif” atau yang lebih umum dengan sebutan “nakal” saat anak sedang aktif-aktifnya, bisa membawa orang tua pada cara asuh yang salah. Alih-alih memfasilitasi dan juga mendukung keaktifannya, orang tua akan jadi cenderung membatasi atau malah memarahi anak.

Kenapa anak aktif itu sehat?

1 . Aktif adalah tanda bahwa anak sedang belajar.

Ya, “belajar” dalam hal ini bukan dalam kerangka akademis ya, namun bereksplorasi dengan tubuhnya maupun dengan lingkungan sekitarnya.
Saat anak mulai bisa berjalan, “dunia”nya mulai terbuka tidak hanya sekedar pada tubuh ibunya. Apa yang terlihat sebagai keusilan dan keisengan, bisa jadi adalah cara anak mencari tahu tentang lingkungannya dengan panca inderanya; melihat, menyentuh, memegang, mencium atau bahkan menjilat!
 Apa yang terlihat sebagai polah yang membuat mengelus dada, bisa jadi adalah cara anak untuk belajar menggerakkan anggota tubuhnya. Dia belajar mengoordinasikan tangan, kaki dan juga penglihatannya. Sayang sekali kan, kalau kegiatan mereka dibatasi, padahal eksplorasi itu penting sekali bagi perkembangan fisik maupun mental anak.

2 . Yang kedua, keaktifan fisik bisa membuat anak makin sehat.

Bagaimana tidak, keaktifan anak secara tidak langsung kan seperti olahraga fisik ya. Tentu saja, otot-ototnya pun akan semakin kuat. Selain itu, aktivitas anak juga akan menjauhkannya dari obesitas dan beberapa penyakit terkait. Apabila orang tua memfasilitasi dengan kegiatan outdoor, anak pun bisa dapat bonus udara segar dan sinar matahari yang baik untuk tubuhnya.
Selain itu, saat bermain anak pun merasakan kegairahan karena hormon-hormon dalam tubuhnya bekerja. Tentu hal ini baik baginya karena membuatnya bahagia. Anak yang bahagia tentu juga akan lebih sehat bukan?
PhotoGrid_1548666677180-1024x1365

Dukungan Orang Tua untuk Anak yang Aktif dan Sehat

Sebagai orang tua baru, saya mengakui juga kalau kadang melakukan pengasuhan dengan trial error. Tapi ya namanya usaha, tentu tidak ada salahnya ya Buk Ibuuuk. Berikut adalah hal-hal yang menurut saya penting untuk mendukung anak yang sehat dan aktif:

1 . Memberikan Stimulasi/ Fasilitasi Kegiatannya

Hal sederhana yang sering saya lakukan bersama Gayatri di rumah adalah, jalan-jalan ke taman komplek. Kadang sambil membawa sepedanya, atau sekedar berjalan kaki. Di usia dua tahun yang menjadi perhatian saya adalah kemampuannya berlari, melompat, meniti garis lurus, lempar tangkap bola dan berayun. Jadi kegiatan-kegiatan yang kami lakukan terkait dengan hal tersebut.

2. Memberikan Makanan dan Minuman secara Sehat

Selain memberikan stimulasi dari luar tubuh, tentunya penting juga mendukung keaktifan anak dari dalam tubuhnya. Saya bersyukur, Gayatri tidak mengalami gangguan makan yang berarti. Nafsu makannya cukup baik dan tidak pilih-pilih makanan. Daging merah, udang, ikan, belut, tempe, tahu, berbagai sumber protein hewani dan nabati dia konsumsi dengan happy. Kesukaannya pada buah dan sayur juga memudahkan saya untuk memberi asupan vitamin baginya. Disamping itu, setelah masa sapih, saya tetap memberikan susu padanya.
PhotoGrid_1548666639598-1024x1365
Walaupun kalori yang terbesar, Gayatri dapatkan dari makanan padat. Namun, susu bagi keluarga kami adalah sumber kalsium utama yang paling mudah dijangkau dan juga relatif lebih murah dibandingkan sumber kalsium lainnya. Susu favorit yang kerap kali saya berikan pada Gayatri adalah Susu Indomilk UHT Kids Full Cream , walaupun terkadang rasa lain pun kami berikan sebagai variasi, namun concern terhadap kandungan gula yang rendah menjadikan kami tetap menawarkan varian full cream ini padanya.

Susu Indomilk UHT Kids Full Cream untuk Mendukung Anak Aktif dan Sehat

Alasan mula-mula kami memilih Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah karena susu ini adalah susu UHT. Beberapa hal yang kami sukai dari Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah:

1 . Gayatri cocok.

Alasan yang paling penting adalah, Gayatri tidak mengalami reaksi negatif, seperti mencret, gatal-gatal, perut kembung, dll saat mengonsumsi susu ini. Dalam kemasan sendiri disebutkan bahwa Susu Indomilk UHT Kids Full Cream bisa dikonsumsi bagi anak di atas 12 bulan. Namun, please keep in mind, kalau masih ada ASI, sebelum dua tahun susu terbaik buat anak tetaplah ASI ya.

2. Praktis

Saat di rumah maupun di perjalanan, kami tidak perlu menyeduh susu dengan air panas. Kami bisa meletakkan tiga kotak susu di rak Gayatri, dan Gayatri kami latih untuk mengambil dan meminumnya sendiri, tentunya dalam pengawasan saya. Kemasannya juga tidak terlalu sulit untuk digenggam oleh tangan yang masih kecil. Kepraktisan ini, mendukung gaya pengasuhan kami, dimana menekankan kemandirian anak dan juga responsive feeding. Ukurannya yang compact juga membuatnya mudah kami bawa sebagai bekal saat Gayatri bermain di luar rumah.

3. Aman (Terjamin Kebersihannya)

Aman dalam hal ini adalah terkait dengan jaminan bakteri yang terdapat dalam susu telah mati. Pemanasan UHT dan juga pengemasan Tetra Pack membuat kami yakin bahwa produk yang kami terima tetap dalam kondisi yang baik. Hal ini yang membuat kami memilih UTH dibandingkan susu pasteurisasi karena kualitas susu pasteurisasi masih sangat bergantung pada proses penyimpanannya.

PhotoGrid_1548667417432-1024x1365

Selain itu, yang paling utama adalah beberapa poin di bawah ini, yang kami yakini mendukung keaktifan anak sekaligus menjaganya tetap sehat:

4. Kandungan gulanya rendah

Dalam kemasan disebutkan bahwa komposisi produk ini adalah susu sapi segar, air, susu skim bubuk dan penstabil nabati. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada gula tambahan yang diberikan pada produk ini. Saya happy sekali. Berikut adalah alasan mengapa saya senang dengan produk yang rendah gula:

  • sebagai orang tua, tentunya kita familiar dengan apa yang disebut dengan sugar rush atau keaktifan anak yang disebabkan oleh naiknya gula darah, mitos ataupun tidak, kelebihan gula memang tidak baik karena meningkatkan risiko diabetes,
  • meminimalisasi kerusakan gigi,
  • meminimalisasi anak menjadi kenyang karena rasa manis, dan tidak mau mengonsumsi makanan lain.

Memang dalam produk ini disebutkan terdapat 5 gram karbohidrat total dalam setiap kemasan 115 ml-nya, namun jumlah ini pun kalau saya bandingkan dengan produk lain masih tergolong rendah.

5. Kandungan Kalsium

Seperti yang saya sebutkan di atas, alasan terutama kami mengonsumsi susu, dan terutama untuk Gayatri, anak saya, adalah untuk memenuhi kebutuhan kalsiumnya. Mengingat susu adalah sumber kalsium terbaik yang sekaligus juga terjangkau bagi keluarga kami. Nah, Susu Indomilk UHT Kids Full Cream dalam 115 ml diklaim mengandung 30% kebutuhan kalsium anak.

Kalsium penting guna mendukung keaktifan anak, karena kekurangan kalsium dapat menyebabkan osteoporosis (pengeroposan tulang) dan rakhitis (pelunakan tulang yang berakibat kelainan bentuk tulang) dan terkadang sakit pada otot.

6. Kandungan Vitamin D

Mendukung poin kelima, yang saya salut dari Indomilk dalam mendesain Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah karena mereka melengkapi produk ini dengan Vitamin D. Saya bilang ini cerdas si, soalnya untuk menyerap kalsium secara optimal, tubuh manusia memang membutuhkan vitamin D. Jadi produk ini sudah menyediakan duo combo kalsium dan vitamin D. Semoga dengan hal ini penyerapan kalsium bisa optimal dan memenuhi kebutuhan anak.

7. Kandungan Gizi Lain

Dalam Susu Indomilk UHT Kids Full Cream juga terdapat zat gizi lain yang mendukung anak aktif dan sehat seperti:

  • lemak yang memberikan energi,
  • vitamin B kompleks yang membantu dalam proses penghasilan energi dan juga menjaga kesehatan syaraf,
  • zat fosfor yang mendukung kerja otot, dll.

Kandungannya lengkap dan seimbang, oleh karena itu saya yakin untuk mengikutsertakannya dalam rangkaian menu makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh anak saya sehari-hari.

PhotoGrid_1548666789584-1024x768

Banyak hal positif yang bisa kita dapatkan dari konsumsi susu dan juga aktivitas fisik anak, ya…. Semoga sharing kali ini makin membuat Teman-teman semangat untuk support anak dalam hal aktivitas maupun pemenuhan gizinya…. Teriring doa semoga anak-anak kita semua selalu aktif dan juga sehat!

Oiya, artikel ini saya ikut sertakan dalam Blog Competition yang diadakan oleh Indomilk, dengan pengalaman yang saya ceritakan berdasarkan pembelajaran dan pengalaman saya pribadi. Teman-teman, bisa juga ikut lomba ini loh, info lebih lanjut bisa cek media sosial dengan tagar #IndomilkUHTKidsFullCream #AktifItuSehat atau langsung ke web ini.

Semoga sharing kali ini bermanfaat yaaa! Salam sayang!

Sumber:

  1. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder: https://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/pages/AAP-Expands-Ages-for-Diagnosis-and-Treatment-of-ADHD-in-Children.aspx
  2. Beda Anak Hiperaktif dan Superaktif: https://edukasi.kompas.com/read/2009/07/16/12460644/read-brandzview.html
  3. Pentingnya kalsium: https://hellosehat.com/parenting/nutrisi-anak/kebutuhan-kalsium-untuk-anak/
Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share