So Good Spicy Chicken Strip, Enak dan Pedas!

2019-02-05 11.47.49 1-1024x768

Kalau jalan-jalan ke mall, sebelum kena So Good Spicy Chicken Strip, kami sering banget menclok ke salah satu kedai snack chicken strips. Tahu kan ya, yang kekinian itu loooo! Baik yang impor maupun yang lokal, sepertinya memang rame banget ya…. Antriannya panjang ciiin.

Nah kalau di rumah, trus kepengen itu, kadang kami bikin sendiri. Tapi heran selalu garing keset dan seret itu. Entah gimana si cara masaknya yang bener? Ada yang punya resep nggak? #eh

Kalau nggak bikin sendiri, suami sering banget order online. Yang bikin pusing adalaaaaaahhhh…. Seringnya kami ngidam malem-malem banget. Pas lagi lemburan ngerjain kerjaan gitu. Dingin-dingin, trus laper, pengen yang pedes-pedes enak. Hmmmm….

Dulu si berandai-andai, seandainya Doraemon itu ada….

Hihihi, ada yang senasib nggak?

2019-02-05 11.47.49 1-1024x768

Masa kelam itu sudah saya lalui si Nyah. Sekarang berhubung uda tahu kalau ada So Good Spicy Chicken Strip, saya jadi nggak kawatir merana karena pengen chicken strip yang jauh di sono. Yang ini lebih enak pulak.

Lebih enak karena praktis dan cepet bikinnya. Lebih enak di kantong dibanding order ayam spicy di resto fried chicken. Dan yang pastinya juga lebih enak di lidah. Spicy, juicy dan crispy gitu.

Saya review sedikit ya….

2019-02-05 11.47.47 1-1024x768

Nama Produk: So Good Spicy Chicken Strip

Harga: 38 ribu-an rupiah.

Where to buy: Giant.

Ukuran: 250 gram, terbagi menjadi kurang lebih 6 potongan daging ayam.

Deskripsi produk: Ayam potong berbumbu, frozen food.

Keterangan penting lain: Halal.

PhotoGrid_1549342422217-1024x768

Review rasa:

  • Spicy

Kalau ngomongin spicy, level kepedesannya masih bisa saya tolerir. Walaupun saya bukan penggemar makanan super pedas, tapi makanan pedas saya suka. Terutama yang pedesnya enak gini. Nggak nyegrak dan nggak menyakitkan. Nggak juga bikin mules. Pokoknya pedesnya enak.

Duh, sebenernya enak kan subyektif ya. Saya coba deskripsikan deh ya….

Jadi enaknya tu gurih gitu dagingnya. Bumbunya meresap sampai dalam. Kemudian, pedesnya juga berasa sampai ke dagingnya. Jadi nggak hanya di kulit krispinya aja. Kebayang kan nggak?

  • Crispy

Crispynya juga enak. Bumbu pedasnya menurut saya nggak terasa nyegrak. Sampai remah-remahnya saya serok serok dari penggorengan hihihi. Nggak mau rugi.

Paling enak dimakan pas panas-panas.

  • Juicy

Trus yang paling utama dan terutama, seperti yang saya bilang di mula. Spicy chicken strip yang enak itu yang nggak keset dan nggak seret. Jadi juicy gitu. Naaaah, yang So Good punya ini juicy banget dagingnya.

2019-02-05 11.47.50 1-1024x768

Padahal 100% real meat lo. Jadi potongan daging ayam yang dibalut tepung renyah gitu, BUKAN daging giling yang dicampur dengan tepung dan dicetak.

Seems too good to be true ya buat frozen food. Tapi aslik, saya juga amazed.

Buat yang mau lihat gimana saya kepedesan tapi sekaligus keenakan makan Chicken Strip ini bisa meluncur ke video berikut yaaa…..

 


View this post on Instagram

A post shared by emanuella christianti (@nyonyamalas) on

Kelihatan banget kan beneran nggak kontrol mukanya saya makan So Good Spicy Chicken Strip. Lha gimana mau komuk coba, lha wong ini beneran pedes dan enak. Jadi kalau mau makan ini harap ingat, “Jangan di depan calon mertua ya!” Di depan bos juga jangan deh. Soalnya dijamin gagal jaim.

Cara Menikmati:

1. Dicemilin aja uda enak.

2. Dimakan pakai nasi juga enakkkkkkk!

3. Jadi isi kebab.

2019-02-05 11.47.48 1-1024x768

Saya kemarin kepikiran banget ni buat bikin kebab pakai isian So Good Spicy Chicken Strip ini. Jadi kulit tortilla, pakai mentimun, wortel rebus dan juga tomat, pakai dressing mayonaise yang memang ada di kulkas. Pokoknya kebayang apa aja bisa jadi isian pendamping. Nah, daging utamanya pakai Chicken Strip ini.

Uda bela-belain loh, nyisihin dua potong chicken stripnya pas makan malam. Niatnya karena malam mau lembur gitu, buat cemilan. Eeeehhh, pas saya kelar ngelonin Gayatri, chicken stripnya uda lenyap. Dimakan suami.

Yahhh…. kecewa si sebenernya. Tapi mau gimana lagi. Saya nggak bilang kalau mau saya makan. Dan mana mungkin juga suami nggak tergoda makan! Lha wong enak!

Hahaha….

Yasudah deh, kapan-kapan saya bikin nanti saya share lagi di sini ya! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Anak Aktif Itu Sehat, bersama Susu Indomilk UHT Kids Full Cream

PhotoGrid_1548666639598-1024x1365
“Eh, buset dah, tu bocah kagak bisa diem. Hiperaktif kali yak,” atau kalau tidak, “Ih, nakal banget si. Rusak kali ya setelan baterenya,” seringkali saya mendengar komentar seperti ini di kalangan ibu-ibu. Hehehe, peace ya Buk Ibuuuk! Tidak sedang mengomentari Gayatri, anak saya si, tapi tak urung saya membatin, “Bukankah anak aktif itu sehat ya…. Bukankah tanda mereka sedang asyik-asyiknya bereksplorasi.”
Saya berkaca pada Gayarti soalnya. Usianya dua tahun saat ini, dan memang usia dua tahun sering kali disebut dengan terible two ya, saking mereka bergerak terus plus ngoceeeeeh terus. Hihihi, ada aja tingkah laku mereka yang membuat para ibu mengelus dada. Sambil bergerak, lari-larian, tangan mereka pun sering berhenti pada barang baru untuk kemudian dilihat atau dimainkan. “Apa tu? Apa tu?” celotehnya sambil nggrathil.
PhotoGrid_1548666382338-1024x768
Tapi walaupun merepotkan, menurut saya terlalu dini untuk menilai anak usia dua tahunan mengidap hiperaktif. Dari yang pernah saya baca dari American Academy of Pediatrics, diagnosa hiperaktif yang dalam artikel ini merujuk pada Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) baru bisa dilakukan pada rentang usia 4 – 18 tahun. CMMIW. Itu pun harus dokter yang melakukannya.

Perbedaan antara Anak Hiperaktif (ADHD) dengan Anak Aktif

Bagi orang tua, seperti saya juga, yang awam terhadap ilmu ini, memang sulit untuk membedakannya. Namun menurut Sani B. Hermawan, Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Jakarta pada Kompas, ada beberapa ciri yang bisa dijadikan gambaran, untuk membedakan mana anak hiperaktif (ADHD) dan anak yang aktif sebagai berikut:
  • Anak hiperaktif (ADHD) cenderung tidak bisa mengenali rasa lelah pada tubuhnya.
  • Yang kedua, mereka memiliki kecenderungan untuk impulsif, yaitu bergerak konstan namun sulit kita kenali apa tujuannya.
  • Yang ketiga mereka memiliki kecenderungan untuk merusak atau destruktif.
  • Dan yang keempat, mereka kesulitan untuk fokus atau berkonsentrasi.

Nah, anak aktif yang sehat, tidak demikian. Jadi selama anak memiliki konsentrasi yang baik dan juga mampu mengenali rasa lelahnya, maka menurut saya keaktifan mereka perlu kita dukung. Malah perlu kita stimulasi.

PhotoGrid_1548666743324-1024x768

Saya cukup concern, dan ingin menekankan hal ini karena, menurut saya, melabel negatif anak dengan istilah “hiperaktif” atau yang lebih umum dengan sebutan “nakal” saat anak sedang aktif-aktifnya, bisa membawa orang tua pada cara asuh yang salah. Alih-alih memfasilitasi dan juga mendukung keaktifannya, orang tua akan jadi cenderung membatasi atau malah memarahi anak.

Kenapa anak aktif itu sehat?

1 . Aktif adalah tanda bahwa anak sedang belajar.

Ya, “belajar” dalam hal ini bukan dalam kerangka akademis ya, namun bereksplorasi dengan tubuhnya maupun dengan lingkungan sekitarnya.
Saat anak mulai bisa berjalan, “dunia”nya mulai terbuka tidak hanya sekedar pada tubuh ibunya. Apa yang terlihat sebagai keusilan dan keisengan, bisa jadi adalah cara anak mencari tahu tentang lingkungannya dengan panca inderanya; melihat, menyentuh, memegang, mencium atau bahkan menjilat!
 Apa yang terlihat sebagai polah yang membuat mengelus dada, bisa jadi adalah cara anak untuk belajar menggerakkan anggota tubuhnya. Dia belajar mengoordinasikan tangan, kaki dan juga penglihatannya. Sayang sekali kan, kalau kegiatan mereka dibatasi, padahal eksplorasi itu penting sekali bagi perkembangan fisik maupun mental anak.

2 . Yang kedua, keaktifan fisik bisa membuat anak makin sehat.

Bagaimana tidak, keaktifan anak secara tidak langsung kan seperti olahraga fisik ya. Tentu saja, otot-ototnya pun akan semakin kuat. Selain itu, aktivitas anak juga akan menjauhkannya dari obesitas dan beberapa penyakit terkait. Apabila orang tua memfasilitasi dengan kegiatan outdoor, anak pun bisa dapat bonus udara segar dan sinar matahari yang baik untuk tubuhnya.
Selain itu, saat bermain anak pun merasakan kegairahan karena hormon-hormon dalam tubuhnya bekerja. Tentu hal ini baik baginya karena membuatnya bahagia. Anak yang bahagia tentu juga akan lebih sehat bukan?
PhotoGrid_1548666677180-1024x1365

Dukungan Orang Tua untuk Anak yang Aktif dan Sehat

Sebagai orang tua baru, saya mengakui juga kalau kadang melakukan pengasuhan dengan trial error. Tapi ya namanya usaha, tentu tidak ada salahnya ya Buk Ibuuuk. Berikut adalah hal-hal yang menurut saya penting untuk mendukung anak yang sehat dan aktif:

1 . Memberikan Stimulasi/ Fasilitasi Kegiatannya

Hal sederhana yang sering saya lakukan bersama Gayatri di rumah adalah, jalan-jalan ke taman komplek. Kadang sambil membawa sepedanya, atau sekedar berjalan kaki. Di usia dua tahun yang menjadi perhatian saya adalah kemampuannya berlari, melompat, meniti garis lurus, lempar tangkap bola dan berayun. Jadi kegiatan-kegiatan yang kami lakukan terkait dengan hal tersebut.

2. Memberikan Makanan dan Minuman secara Sehat

Selain memberikan stimulasi dari luar tubuh, tentunya penting juga mendukung keaktifan anak dari dalam tubuhnya. Saya bersyukur, Gayatri tidak mengalami gangguan makan yang berarti. Nafsu makannya cukup baik dan tidak pilih-pilih makanan. Daging merah, udang, ikan, belut, tempe, tahu, berbagai sumber protein hewani dan nabati dia konsumsi dengan happy. Kesukaannya pada buah dan sayur juga memudahkan saya untuk memberi asupan vitamin baginya. Disamping itu, setelah masa sapih, saya tetap memberikan susu padanya.
PhotoGrid_1548666639598-1024x1365
Walaupun kalori yang terbesar, Gayatri dapatkan dari makanan padat. Namun, susu bagi keluarga kami adalah sumber kalsium utama yang paling mudah dijangkau dan juga relatif lebih murah dibandingkan sumber kalsium lainnya. Susu favorit yang kerap kali saya berikan pada Gayatri adalah Susu Indomilk UHT Kids Full Cream , walaupun terkadang rasa lain pun kami berikan sebagai variasi, namun concern terhadap kandungan gula yang rendah menjadikan kami tetap menawarkan varian full cream ini padanya.

Susu Indomilk UHT Kids Full Cream untuk Mendukung Anak Aktif dan Sehat

Alasan mula-mula kami memilih Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah karena susu ini adalah susu UHT. Beberapa hal yang kami sukai dari Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah:

1 . Gayatri cocok.

Alasan yang paling penting adalah, Gayatri tidak mengalami reaksi negatif, seperti mencret, gatal-gatal, perut kembung, dll saat mengonsumsi susu ini. Dalam kemasan sendiri disebutkan bahwa Susu Indomilk UHT Kids Full Cream bisa dikonsumsi bagi anak di atas 12 bulan. Namun, please keep in mind, kalau masih ada ASI, sebelum dua tahun susu terbaik buat anak tetaplah ASI ya.

2. Praktis

Saat di rumah maupun di perjalanan, kami tidak perlu menyeduh susu dengan air panas. Kami bisa meletakkan tiga kotak susu di rak Gayatri, dan Gayatri kami latih untuk mengambil dan meminumnya sendiri, tentunya dalam pengawasan saya. Kemasannya juga tidak terlalu sulit untuk digenggam oleh tangan yang masih kecil. Kepraktisan ini, mendukung gaya pengasuhan kami, dimana menekankan kemandirian anak dan juga responsive feeding. Ukurannya yang compact juga membuatnya mudah kami bawa sebagai bekal saat Gayatri bermain di luar rumah.

3. Aman (Terjamin Kebersihannya)

Aman dalam hal ini adalah terkait dengan jaminan bakteri yang terdapat dalam susu telah mati. Pemanasan UHT dan juga pengemasan Tetra Pack membuat kami yakin bahwa produk yang kami terima tetap dalam kondisi yang baik. Hal ini yang membuat kami memilih UTH dibandingkan susu pasteurisasi karena kualitas susu pasteurisasi masih sangat bergantung pada proses penyimpanannya.

PhotoGrid_1548667417432-1024x1365

Selain itu, yang paling utama adalah beberapa poin di bawah ini, yang kami yakini mendukung keaktifan anak sekaligus menjaganya tetap sehat:

4. Kandungan gulanya rendah

Dalam kemasan disebutkan bahwa komposisi produk ini adalah susu sapi segar, air, susu skim bubuk dan penstabil nabati. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada gula tambahan yang diberikan pada produk ini. Saya happy sekali. Berikut adalah alasan mengapa saya senang dengan produk yang rendah gula:

  • sebagai orang tua, tentunya kita familiar dengan apa yang disebut dengan sugar rush atau keaktifan anak yang disebabkan oleh naiknya gula darah, mitos ataupun tidak, kelebihan gula memang tidak baik karena meningkatkan risiko diabetes,
  • meminimalisasi kerusakan gigi,
  • meminimalisasi anak menjadi kenyang karena rasa manis, dan tidak mau mengonsumsi makanan lain.

Memang dalam produk ini disebutkan terdapat 5 gram karbohidrat total dalam setiap kemasan 115 ml-nya, namun jumlah ini pun kalau saya bandingkan dengan produk lain masih tergolong rendah.

5. Kandungan Kalsium

Seperti yang saya sebutkan di atas, alasan terutama kami mengonsumsi susu, dan terutama untuk Gayatri, anak saya, adalah untuk memenuhi kebutuhan kalsiumnya. Mengingat susu adalah sumber kalsium terbaik yang sekaligus juga terjangkau bagi keluarga kami. Nah, Susu Indomilk UHT Kids Full Cream dalam 115 ml diklaim mengandung 30% kebutuhan kalsium anak.

Kalsium penting guna mendukung keaktifan anak, karena kekurangan kalsium dapat menyebabkan osteoporosis (pengeroposan tulang) dan rakhitis (pelunakan tulang yang berakibat kelainan bentuk tulang) dan terkadang sakit pada otot.

6. Kandungan Vitamin D

Mendukung poin kelima, yang saya salut dari Indomilk dalam mendesain Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah karena mereka melengkapi produk ini dengan Vitamin D. Saya bilang ini cerdas si, soalnya untuk menyerap kalsium secara optimal, tubuh manusia memang membutuhkan vitamin D. Jadi produk ini sudah menyediakan duo combo kalsium dan vitamin D. Semoga dengan hal ini penyerapan kalsium bisa optimal dan memenuhi kebutuhan anak.

7. Kandungan Gizi Lain

Dalam Susu Indomilk UHT Kids Full Cream juga terdapat zat gizi lain yang mendukung anak aktif dan sehat seperti:

  • lemak yang memberikan energi,
  • vitamin B kompleks yang membantu dalam proses penghasilan energi dan juga menjaga kesehatan syaraf,
  • zat fosfor yang mendukung kerja otot, dll.

Kandungannya lengkap dan seimbang, oleh karena itu saya yakin untuk mengikutsertakannya dalam rangkaian menu makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh anak saya sehari-hari.

PhotoGrid_1548666789584-1024x768

Banyak hal positif yang bisa kita dapatkan dari konsumsi susu dan juga aktivitas fisik anak, ya…. Semoga sharing kali ini makin membuat Teman-teman semangat untuk support anak dalam hal aktivitas maupun pemenuhan gizinya…. Teriring doa semoga anak-anak kita semua selalu aktif dan juga sehat!

Oiya, artikel ini saya ikut sertakan dalam Blog Competition yang diadakan oleh Indomilk, dengan pengalaman yang saya ceritakan berdasarkan pembelajaran dan pengalaman saya pribadi. Teman-teman, bisa juga ikut lomba ini loh, info lebih lanjut bisa cek media sosial dengan tagar #IndomilkUHTKidsFullCream #AktifItuSehat atau langsung ke web ini.

Semoga sharing kali ini bermanfaat yaaa! Salam sayang!

Sumber:

  1. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder: https://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/pages/AAP-Expands-Ages-for-Diagnosis-and-Treatment-of-ADHD-in-Children.aspx
  2. Beda Anak Hiperaktif dan Superaktif: https://edukasi.kompas.com/read/2009/07/16/12460644/read-brandzview.html
  3. Pentingnya kalsium: https://hellosehat.com/parenting/nutrisi-anak/kebutuhan-kalsium-untuk-anak/
Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Pengalaman Cabut Gigi Geraham dengan BPJS dan Daftar Puskesmas Online

PhotoGrid_1547492584764-1024x576

Saya memiliki BPJS Kesehatan selama delapan tahun, namun baru kali ini benar-benar memanfaatkan fasilitas ini. Dan cukup terkesan ya. Terkesannya karena ternyata apa yang selama ini saya underestimate ternyata tidak demikian. Berikut pengalaman saya cabut gigi geraham di Puskesmas menggunakan BPJS Kesehatan dan aplikasi eHealth.

Sebelumnya saya cerita dulu ke-skeptisan saya terhadap BPJS ya…. Jadi sebagai PNS kan saya diberi fasilitas BPJS. Berarti genap 8 tahun saya terdaftar keanggotaan BPJS, sesuai masa kerja saya. Bahkan seharusnya suami dan Gayatri anak saya pun bisa dapat fasilitas ini free dari kantor, karena biaya BPJS Kesehatan PNS kan ditanggung kantor.

Namun karena banyak kabar yang beredar kalau pakai BPJS nggak nyaman dll, selama delapan tahun ini hampir tidak pernah saya memanfaatkan BPJS saat sakit/ melahirkan, dll. Bahkan suami dan anak pun tidak saya urus administrasi keanggotaannya.

Saat suami opname di tahun kemarin, saya memilih biaya mandiri. Demikian pula saat Gayatri opname lima hari, pun kami memilih biaya mandiri. Dengan harapan akan mendapat layanan kesehatan yang lebih baik.

Tapi ternyata sama saja. Waktu Gayatri opname, saat itu yang tersedia hanya Kelas 1. Jadi di kamar ada dua pasien. Satu pasien lagi ternyata adalah pasien BPJS. Dari situlah, mata saya mulai terbuka terhadap layanan rumah sakit terhadap pasien BPJS. Kebetulan kedua pasien sama-sama rujukan dari IGD ya…. Jadi bukan dari faskes 1.

Saya si melihatnya pelayanan yang pasien BPJS itu dapatkan sama kok dengan yang Gayatri dapatkan. Saat keluar kami hampir bersamaan, Gayatri duluan dan saya ke kasir. Saya bayar sampai manyun, dan orang tua pasien BPJS itu sumringah karena gratis. Hehehehe, saya manyun beneran. Karena kalau saya dulu nggak skeptis, saya nggak perlu bayar biaya RS kan ya, karena toh dicover BPJS.

hiks

Pengalaman yang mahal. Wkwkwkwk….

Oleh karena itu, saat awal tahun ini saya berencana perawatan gigi geraham, saya memutuskan untuk mencoba menggunakan BPJS saja. Soalnya, di tahun 2017, suami saya pernah cabut gigi geraham juga di satu Fakultas Kedokteran Gigi di Jakarta Selatan, biayanya kurang lebih 2,5 jutaan. Saya pikir dengan duit segitu, mending buat nambahin saya beli Ipad Pro demi bisa doodling elektronik, wkwkwk.

Kedatangan Pertama: Kesan Pertama

Pertama saya datang ke Puskesmas, saya dapat antrian ke 6 apa ya. Cukup lama menunggunya, karena ternyata pada saat yang bersamaan, Puskesmas sedang cek alat. Tapi masih wajar si, nggak sampai jam 11 siang, saya sudah kelar. Perawatan pertama, saya diberi obat untuk menghilangkan rasa sakit dan infeksi dulu, dan diminta kembali lagi. Tidak dikenakan biaya untuk obat maupun dokter.

Kami dapat informasi kalau pendaftaran bisa dilakukan secara online di http://ehealth.surabaya.go.id/pendaftaran/. Sehingga saya nggak perlu menunggu lama, demikian kata petugas Puskesmas. Wow! Saya cukup terkejut si, ternyata Puskesmas sudah berkembang dengan baik ya. Apa saya aja yang nggak update ya? Hehehe….

Kedatangan Kedua: Bolak Balik Periksa Gigi

Kedua kali saya datang, menuruti kata petugas, saya daftar online dulu H-1. Syukurlah saya dapat antrian kedua, suami saya dapat antrian pertama wkwkwk, dia mau ikutan cek gigi juga. Sayangnya, ternyata kondisi gigi saya belum sepenuhnya siap untuk tindakan. Sehingga saya masih perlu konsumsi obat. Hanya obat diganti/ disesuaikan. Biayanya Gratis ya.

Berikut hasil download nomor antrian daftar puskesmas online, file ini tinggal ditunjukkan pada petugas ya….

pengalaman cabut gigi geraham di puskesmas

PS. Nama dan NIK saya saya blur ya….

Oh, iya! Saya diminta kembali lagi beberapa hari kemudian. Dokter juga menambahkan kalau ternyata kondisi gigi saya tidak juga bisa dilakukan tindakan di kedatangan ketiga maka perlu dilakukan rujukan ke dokter spesialis.

Awalnya saya nyaris kumat skeptisnya. “Tuh, kan disuruh bolak balik!”, demikian saya curhat ke kakak ipar. Namun ternyata kakak ipar balik cerita kalau dia pun pernah mengalami hal yang sama (diminta bolak balik) di Klinik Swasta, terkait perawatan gigi. Jadi memang prosedurnya begitu ya. Dokter tidak bisa melakukan tindakan jika gigi masih terasa sakit dan ada penyulit tertentu.

Kedatangan Ketiga: Tindakan Cabut Gigi Geraham

Ketiga kalinya saya datang. Dokter melihat kondisi gigi saya, syukurlah sudah siap dilakukan tindakan. Setelah menunjukkan kartu BPJS Kesehatan ke dokter, saya dicek tekanan darahnya oleh dokter umum, kemudian cek gula darah di lab pada Puskesmas yang sama. Kurang lebih satu jam proses pemeriksaan darah, dll, saya kembali ke klinik gigi untuk dilakukan tindakan.

Sayangnya saya nggak bisa mengambil gambar ya, karena ada larangan mengambil gambar di Puskesmas.

Ruangan tindakan sebenarnya cukup besar ya, namun terasa sempit karena ada dua kursi periksa gigi pasien yang cukup besar. Walaupun begitu saya rasa, kondisinya cukup nyaman kok.

Tiga kali perawatan, dokter yang menangani saya sama. Namun saat tindakan ada dua dokter lagi yang menemani. Salah satunya, dilihat dari penampakannya terlihat lebih senior. Dokter yang senior ini yang kemudian menjelaskan kepada saya tentang tindakan dan alasan tindakan perlu dilakukan.

Ketiga dokter ini cukup menyenangkan gaya komunikasinya. Saya sungguh senang dengan cara mereka mendengarkan keluhan, kemudian memeriksa serta meminta feedback kepada saya. Karena tubuh saya sepertinya memang agak kurang merespon obat bius (pengalaman operasi sebelumnya, juga demikian), saya sempat merasa kesakitan, dan ketiga dokter dengan sabar memberikan dosis lagi serta menunggu lagi sampai bius benar-benar bekerja di mulut saya.

Tindakan selesai.

Biaya Cabut Gigi Geraham di atas: Gratis.

Lesson Learn:

Jangan berpikiran negatif dulu terhadap segala sesuatu. Terutama ketika mendengar review dari orang lain. Karena kebanyakan orang bercerita ke orang lain itu dengan tema sambat. Sambat tentang pengalamannya yang kurang menyenangkan. Sementara mungkin pengalaman yang postif kurang banyak diperdengarkan ya….

Untuk itu saya jadi kepikiran untuk nulis artikel ini, sebagai penyeimbang juga. Oiya, ada cuitan dari Raya Fahreza juga tentang layanan BPJS yang dikomen dan diretweet ribuan orang. Bisa dicek di sini, untuk punya another point of view.

Saya nggak juga berpendapat kalau sistem ini sudah sempurna ya. Tentu saja masih ada room for improvement untuk membuat layanan BPJS ini semakin baik. Tapi berdasar pengalaman saya ini, juga berdasar pengalaman saya menjadi pasien di RS Swasta seperti RS Premier Bintaro, Eka Hospital BSD, IMC Bintaro ataupun klinik-klink biasa, layanan di Puskesmas Gununganyar ini bisa dibilang not bad lah.

Apalagi gratis kan. Hihihihi…. Seneng banget deh saya, kalau inget layanan di atas itu free.

love love

Saya menulis ini juga bukan berarti naif terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan oleh beberapa oknum yang masih memperhitungkan untung rugi ya. Kalau ada yang bilang oknum seperti itu masih ada, saya juga yakin ada si.

Apresiasi

Namun saya tetap mau menuliskan pengalaman ini untuk mengapresiasi tenaga kesehatan dalam hal ini tiga orang dokter gigi yang merawat saya (saya tidak sebutkan namanya due to their privacy), faskes Puskesmas Gununganyar dan juga Pemkot Surabaya. Semoga cerita ini pun mendorong orang lain untuk bercerita hal baik yang sama, dan hal baik tersebut menjadi standar baru bagi layanan kesehatan di bangsa ini.

Hihihi…. Sekali-kali serius ya eike ngomongnya….

Pahami Prosedur

Oiyaaa! Selain itu, tetap menurut saya, sebagai pasien kita harus mengert prosedurnya baik-baik. Supaya kita tahu mana yang bisa kita upayakan untuk meminimalisasi ketidaknyamanan. Karena kalau nggak ngerti prosedur dan kudu bolak balik ga jelas, juga males juga kan Kumendan.

Nah, salah stu prosedur yang menurut saya memudahkan pasien (di Surabaya) adalah aplikasi eHealth berikut. Saya nggak tahu kalau di daerah lain ya. Saya pernah baca di artikel Mbak Uniek kalau di Semarang bisa via WA. Please let me know, buat yang pengalaman jadi pasien di Puskesmas daerah lain, infoin aja di comment section ya. Pasti akan bermanfaat banget buat orang lain juga.

Daftar Puskesmas Online via eHealth Surabaya

Aplikasi ini sebenarnya tersedia di Appstore ya. Tapi kalau nggak mau download aplikasinya bisa ke webnya saja si di http://ehealth.surabaya.go.id/pendaftaran/. Saya sendiri juga daftarnya via web hehehe.

Kalau penjelasan Pemkot Surabaya terkait aplikasi ini adalah sbb: “Aplikasi yang dikembangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk memudahkan akses layanan kesehatan baik promotif, preventif, dan kuratif untuk mewujudkan masyarakat Surabaya sehat, mandiri, dan berdaya saing global.”

Saya nggak mau mereview panjang lebar ya. Hanya ingin menunjukkan bagaimana langkah-langkah melakukan pendaftaran sebagai pasien di Puskesmas menggunakan aplikasi ini.

Langkah-langkah Daftar Puskesmas Online

Langkah-langkah pendaftaran pasien ditunjukan dengan gambar berikut ya. Gambar-gambar di bawah adalah hasil screenshoot dari aplikasi eHealth Surabaya yang berbasis web:

daftar puskesmas online

  • Pilih Bahasa (Indonesia, Jawa, Madura)
  • Pilih Fasilitas Kesehatan (Rumah Sakit atau Puskesmas)
  • Pilih Regional Puskesmas (Surabaya Pusat, Barat, Utara, Timur, Selatan)
  • Pilih Nama Puskesmas

periksa gigi di puskesmas

  • Pilih Status Kependudukan (KTP Surabaya atau Non Surabaya)
  • Pilih Poli Kesehatan yang Ingin Dikunjungi (Umum, Gigi, KIA atau Klinik Ibu dan Anak, Gizi, Sanitasi, Batra, Psikologi, Lansia)
  • Isi Data Pasien, Verifikasi
  • Download Nomor Antrian

Sekian sharing kali ini yaaaa! Semoga infonya bermanfaat bagi yang mau daftar puskesmas online atau yang mau cabut gigi geraham dengan BPJS di Puskesmas! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Tentang Pilihan Gaya Hidup #CerdasDenganUangmu

gaya 2

Hidup 26 tahun dalam keluarga pegawai negeri, membuat cara pandang saya terhadap uang sangatlah konservatif. Penghidupan ya dari pay day ke pay day berikutnya, dicukup-cukupin tapi pasti. Hidup sederhana tapi tidak pernah berkekurangan. Selalu ada makanan empat sehat lima sempurna serta tidak pernah terlambat bayar SPP. Semua karena kedisiplinan dan ketaatan terhadap anggaran.

Tidak ada istilah boros, tidak mungkin juga berfoya-foya. Semuanya bermuara pada satu kata: PAS. Kalau ada sisa, bolehlah ditabung. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Kira-kira begitulah yang diterapkan dan yang saya pelajari dari rumah Papa.

Warna baru yang berbeda, saya rasakan ketika menikah. Suami berasal dari latar belakang keluarga yang sangat berbeda. Alih-alih bekerja kepada negara, mereka terbiasa berwirausaha atau self employed. Gaya hidupnya pun sangat berbeda.

gaya 1

Saya dan Alm. Mama Mertua

Jika diibaratkan dengan minum kopi, mungkin gaya hidup keluarga Papa saya bisa disamakan dengan minum kopi susu encer. Kami menikmati kafein yang tipis perlahan-lahan, supaya persediaan kopi tak segera habis. Sementara gaya hidup Papi mertua saya, menurut Mama mertua, seperti minum espresso. Telak dan mantap. Kafeinnya sekali teguk, nendang sampai ke jantung.

Perbandingannya mungkin begini. Satu SEMPAK milik Papi, harganya bisa sama dengan SEPATU milik saya yang paling mahal. Telak dan mantap.

Saya nggak tahu apakah tingkat kenyamanannya memang seworthy itu atau bagaimana ya…. Wong saya juga nggak pernah nyobain. Ya iyalah, masa saya cobain! Serius! Saya tahu harga celana dalam Papi karena pernah ikut kakak ipar belanja titipan beliau, hehehe. Bawa goodie bag isi sempak aja banyak sales apartement yang ngintilin. Itu baru sempak ya. Belum lagi jam tangan beliau. Mungkin sama harganya dengan harga rumah saya di kampung.

Tapi itu sekarang…. Pas jaman mujur, bisnis sedang di atas angin. Tapi bukan sekali dua kali, Papi mengalami kesulitan keuangan. Mama mertua sendiri yang bercerita bagaimana mereka harus menyambung nasib dari jasa jahitan dan jualan tahu goreng. Jangankan untuk menabung, kakak pertama dan kedua suami pun sempat putus kuliah. Beda banget kan perbandingannya, kayak naik roller coaster kalau kata Raffi Ahmad #eh.

Berbalik dengan itu, Papa saya di masa sulit adalah sahabat karib para pegawai bank. Kredit apapun pasti akan cair kalau sudah disodori SK PNS sebagai agunan. Satu belum lunas saja, sudah ditawari top up. Belum lagi dari koperasi kantor Papa. Slip gaji yang rutin dan pasti datang serta pinjaman demi pinjaman tersebut adalah jaminan, bahwa hidup kami ya lempeng lempeng saja. Punya pelampung dan sekoci cadangan. Selama waspada, pasti selamat sampai tujuan.

gaya 3

Gayatri dan Mama Papa Saya

Saya cerita seperti ini bukan sedang menjelek-jelekkan salah satu dari mereka ya. Both Papa maupun Papi, memberikan pelajaran yang berharga kepada kami berdua.

Pelajaran tersebut bernama: pilihan gaya hidup.

Saya pernah baca di moneysmart.id tentang gaya hidup kelas menengah milenials jaman now yang biayanya per bulan melebihi Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta. Banyak ya. Iya, hanya untuk gaya hidup saja. Dan saya tidak memungkiri hal ini kok. Karena kami sempat juga mengalaminya.

Makan di restoran bisa berkali-kali dalam satu minggu, nonton bioskop setiap film baru tayang. Belum lagi rider receh-recehnya kan, seperti kalau nonton beli snack, beli minum, dll. Nggak kerasa eh banyak! Eh, eh, eh, kok banyak banget!

Gaya hidup tersebut jadi mulai terasa berat saat saya dan suami mengambil pilihan untuk sama-sama keluar dari pekerjaan. Suami resign dari pekerjaannya di Jakarta dan mengambil job di suatu proyek kecil di Surabaya, dan saya menyusul dengan mengambil cuti selama tiga tahun tanpa digaji.

Kalau ditanya pengennya bagaimana? Ya maunya gaya hidup tetap asyik, enak, mantap, nendang, tralala tapi sekaligus juga sustain sampai selama-lamanya. Cuma kan yaaa…. Kita berada in the middle class problem ni: banyak mau sementara sumber daya terbatas. Jadi mau nggak mau ya harus menentukan pilihan. Kemana gaya hidup ini kita mau arahkan.

Kami banting setir. Nggak ada lagi tu makan-makan di luar rumah terlalu sering. Ya sekali dua kali dalam sebulan oke lah. Selebihnya kami belanja secara bulk dan masak sendiri di rumah. Dan guess whaatttt???? Di bulan Desember ini, kami bisa mengurangi biaya hidup sampai tinggal 30% dari sebelumnya. Lumayan banget kan ya, dan rasanya nggak sengsara-sengsara amat loh.

Saya jadi makin yakin, kalau masalah keuangan sebenarnya hanya matter of choice saja.

Ya. Tidak ada yang harus.

gaya 2

Tidak ada yang salah atau benar.

Mau senang-senang mumpung masih muda? Monggo….

Mau investasi biar senang-senangnya pas sudah tua aja? Juga monggo….

Semua balik lagi ke pilihan masing-masing. Lebih suka “minum kopi susu” kaya Papa saya atau “espresso” kaya Papi saya. Hanya saja, jangan memaksakan diri minum espresso kalau minum kopi susu aja udah deg-degan.

Sesuatu yang dipaksa itu rasanya bakal menyakitkan. Aseeekkk….

Kapan si harus mulai mengevaluasi pilihan gaya hidup?

1. Saat penghasilan berubah.

2. Saat memiliki tujuan keuangan baru.

3. Kapanpun saat ingin.

Bagaimana memulainya?

Beberapa hal berikut yang menurut saya cukup mudah untuk dilakukan saat memulai perubahan gaya hidup:

1. Mengurangi frekuensi makan di luar.

2. Auto debet rekening langsung ke rekening khusus tabungan atau investasi.

3. Tutup kartu kredit/ uninstal aplikasi fintech atau setidaknya minimalisasi penggunaan fasilitas cicilan.

4. Ambil kursus gratis/ kerjakan hobi yang produktif sebagai pengalihan perhatian.

Pertama melakukan perubahan pasti ada rasa kurang nyaman walau sedikit. Setidaknya ada kecanggungan. Namun berdasar pengalaman kami, percayalah, rasanya tidak sesengsara itu kok. Hehehehe…. Diingat-ingat saja apa alasan ingin memulai perubahan gaya hidup. Biar semangat lagi!!!

Semoga sharing kali ini bermanfaat yaaaaa! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Investasi Terbaik

IMG_20181231_025029_384-1024x2018

Well, sebenarnya saya agak kapok nulis tentang investasi terbaik. Masih segar dalam ingatan saya, saya nulis pengalaman investasi yang pernah saya lakukan di blog ini dan kemudian banyak yang nanya-nanya terkait.

Sebenernya saya senang kalau diajak diskusi. Tapi pertanyaannya itu looo….

Kebanyakan seperti ini:

1. Apa si investasi yang tepat buat saya?
2. Saya pengen beli reksadana ni, apa ya mbak yang oke buat saya?
3. Kalau saya mau beli rumah sekian tahun lagi, saya harus investasi apa ya?

Pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya seharusnya diambil atau dihitung sendiri oleh investor sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tipe seperti ini itu nggak bisa yang situ nanya, otomatis keluar jawaban.

IMG_20181231_025029_384-1024x2018

Kasuistis banget. Masalah personal finance, in my humble opinion, sebenarnya masalah pribadi yang berbeda tiap kasusnya ya. Tidak ada satu formula pun yang akan cocok untuk semua kakus…. Eh, kasus.

Sama seperti juga penyakit orang pun bisa macam-macam treatmentnya. Tidak ada satu obat untuk semuanya.

Yang ngeselin lagi, ada juga yang uda panjang lebar minta dijelaskan dari A sampai Z, tapi beberapa bulan kemudian bertanya kembali. Pertanyaan yang sama!

Saya ingatkan kalau saya pernah ngasih link untuk dibaca lebih lanjut. Dan dijawab bahwa dia sibuk. Oh okay, saya juga sebenarnya sibuk (bekerja saat itu dari jam 8 sampai jam 5) untuk menjawab ulang semua pertanyaan dan mencarikan kembali link-link yang sebelumnya saya berikan. Huh!

Hehehe, sorry, jadi curhat ni yeeee….

Tapi saya nulis lagi akhirnya. Selain demi curhat di atas, juga pengen ngasih insight ringan buat teman-teman yang (sama seperti saya juga) mau terus belajar untuk berinvestasi di tahun depan. Bukan pembahasan teknis terkait si, tapi lebih ke persiapan hati dan pikiran dalam memilih investasi terbaik. Semoga tetap bermanfaat ya! 

IMG_20181231_025701-1024x520

Jadi demikianlah tiga kriteria investasi terbaik yang layak untuk kita beli dengan uang hasil kerja keras kita selama ini; 1) yang bisa kita pahami, 2) yang sesuai karakter pribadi dan 3) investasi ke diri.

1. Investasi yang bisa kita pahami

Menggandakan uang di orang pintar. Itu jenis investasi yang paling saya nggak bisa pahami si, hahahaha!

Kalau investasi normal lain, sepertinya masih bisa dinalar dengan logika ya. Jadi kalau tertarik sebuah produk investasi, namun kita belum paham, ya berarti harus belajar dulu.

Oke, beberapa orang menganut pengalaman adalah guru terbaik. Ya bener juga sik. Tapi jangan juga ambil investasi saat pengetahuan akannya itu nol besar. Setidaknya common sense-nya kita paham lah sedikit-sedikit. Kalau hanya terpukau dengan janji dan asumsi, kita langsung bakar-bakar uang, kan sayang uangnya….

Beberapa yang sering banget muncul di pembahasan ibu-ibu adalah unit link. Saya tidak anti unit link si ya. Hanya ada beberapa orang kadang kurang paham dengan produk yang dia beli. Semacam tidak mencari tahu dengan benar sebelumnya.

Pada akhirnya, banyak yang kecewa karena kok nilai pengembaliannya lebih kecil dari yang disetorkan.

Yah, padahal seharusnya dari awal juga bisa dicari tahu ya, bagaimana cara kerja produk tersebut. Bagaimana produk tersebut sebenarnya tidak mengalokasikan seluruh dana nasabah ke investasi melainkan juga menyetorkan sebagian dananya sebagai premi asuransi. Bagaimana sebenarnya angka yang dijanjikan di awal oleh para marketing ini hanyalah sebuah asumsi. Yang mana bisa berubah tergantung dengan kondisi perekonomian di masa yang akan datang.

Sedih sih kalau sampai begitu.

Kalau bagi saya sendiri, rambu-rambu yang saya terapkan adalah:

  • tahu definisi dari produk investasi itu sendiri, kalau definisinya aja ga tahu gimana mau tahu cara kerjanya coba,
  • tahu gambaran bagaimana si cara kerja produk tersebut dalam menghasilkan laba. Misal mendapat laba saat diperjualbelikah, meningkat dalam bentuk potential gain kah, atau bagaimana,
  • tidak mengambil investasi yang too good too be true, misal imbal baliknya terlalu besar,
  • tidak mengambil investasi yang menjanjikan nol risiko, karena sepengetahuan saya tidak investasi yang demikian,
  • mencari second opinion dari teman yang pernah mengambil produk yang sama, alih-alih hanya mendengarkan dari satu pihak.

2. Investasi yang fit dengan karakter pribadi.

Ada TIGA karakter pribadi yang menurut saya perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi: 1) profil risiko, 2)  value/ nilai-nilai yang dianut dan 3) financial goals.

IMG_20181231_025646-1024x520

i) Profil Risiko

Beberapa bank menyediakan jasa ini ya, tapi kita juga bisa mengasses diri sendiri juga. Apakah diri kita termasuk investor yang AGRESIF-kah atau yang KONSERVATIF atau yang sedang-sedang saja (MODERAT). Profil ini menyangkut seberapa besar risiko yang dapat ditanggung oleh seorang calon investor apabila kehilangan investasi atau modalnya. Pemahaman mudahnya begitu ya….

Profil ini mengasses informasi seperti jangka waktu investasi, porsi dana investasi terhadap total asset, tingkat ketergantungan terhadap hasil investasi, toleransi risiko, dan beberapa poin lainnya.

Tentu saja profil risiko masing-masing orang bisa berbeda ya, walaupun nilai investasinya sama. Sebagai gambaran. A adalah seorang janda yang baru saja mendapatkan uang pertanggungan (UP) saat suaminya meninggal sebesar 1 M. Beliau tidak memiliki skill untuk bekerja atau usaha, sehingga akan menggantungkan penghidupannya dari hasil investasi (UP). Selain itu, beliau juga masih harus membesarkan putera-puterinya yang masih usia sekolah. Maka secara relatif, profil ibu ini adalah konservatif karena tingkat ketergantungannya terhadap hasil investasi tinggi, sementara toleransi terhadap risikonya sangat rendah.

Profil risiko ini yang akan memengaruhi produk apa yang tepat untuk calon investor. Dengan profil konservatif, para financial planner kemungkinan akan mengarahkan calon investor ke investasi-investasi yang risikonya rendah seperti deposito atau investasi di pasar uang.

Berbeda dengan B, seorang muda yang tidak memiliki tanggungan. Punya skill dan juga pengalaman bisnis. Profil risikonya agresif, mungkin akan memilih untuk berinvestasi di sektor riil atau pasar modal saja dengan uang sebesar itu. Tentu memang hasil investasinya pun akan semakin besar seiring dengan risikonya.

Teman-teman bisa coba googling dengan keyword “Cek Profil Risiko” ya, kalau mau tahu lebih lanjut.

ii) Value/ Nilai-nilai yang Dianut.

Kalau di poin 1 tadi membahas tentang pengetahuan otak, kalau poin ini lebih ke masalah hati ya…..

Saya cerita pengalaman pribadi sedikit…. Saya lulusan fakultas ekonomi, yang tentu saja familiar dengan masalah keuangan. Profil risiko saya agresif, karena saya sebelumnya aktif bekerja sebagai PNS di Kementerian Besar yang notabene kecil kemungkinan dipecat dan juga bukan tulang punggung keluarga. Jadi tingkat ketergantungan saya terhadap hasil investasi sangat rendah.

Beberapa rekan selalu menganjurkan saya untuk coba-coba investasi di pasar modal. Saya sudah mulai belajar juga sih. Tapi selalu ngeper. Nggak pernah beneran maju.

Kenapa coba?

Karena faktor greedy dan worry dalam diri saya cukup kuat. Jujur.

Serius! Selama saya belum bisa mengendalikan kedua hal tersebut dengan baik, sepertinya lebih baik buat saya untuk berinvestasi ke produk-produk konservatif. Saya ingin meminimalisasi dorongan saya buat jadi obsesif pada uang. That’s why saya selalu salut sama teman-teman yang investasi di dunia pasar modal namun bisa tetap berkepala dingin.

IMG_20181231_024833_109-1024x2018

Terserah! Mau diejekin mulu sama temen, dibilang “kaya nenek-nenek” karena hari gini masih invest di produk yang itu tuuuuuh, saya mah tutup telinga ajaaaah. -.-“

iii) Financial Goals

Masalah karakter pribadi yang menurut saya perlu dipertimbangkan untuk pengambilan keputusan investasi adalah tentang financial goals atau tujuan keuangan.

Seperti tadi ketika kita bahas unit link. Ya kalau tujuan keuangannya murni untuk investasi, bisa jadi keputusan beli unit link itu salah. Karena produk tersebut bukan murni investasi. BISA JADI. Namun keputusan itu bisa jadi tepat, kalau memang tujuan investor juga adalah perlindungan diri (asuransi). BISA JADI lo…. Tetap perlu dicermati proporsinya ya…. IMHO.

Selain itu, ketika kita telah memiliki tujuan keuangan, maka besaran pengembalian investasi yang diharapkan akan lebih terukur. Terukur jumlahnya yang diharapkan, terukur jumlah yang bisa diinvestasikan dan terukur kapan harus telah cair/ tersedia. So, poin ini tentu akan mempersempit pilihan investasi.

3. Investasi pada Diri Sendiri

Belajar skill baru atau pengetahuan baru won’t hurt. Sounds cliche ya? Tapi bener banget kaaaaan….

Both investasi dalam rangka menambah skill dan pengetahuan baru dalam hal investasi, maupun dalam hal lain, keduanya akan bermanfaat dalam jangka panjang. Belajar juga nggak harus ribet ribet kan, belajar investasi juga bisa dari baca-baca artikel investasi, ngobrol atau juga ambil interactive workshop. Semua bisa menyesuaikan dengan kesibukan masing-masing.

Poin ini cukup jelas ya, saya nggak mau berpanjang-panjang. Pokoknya belajar terus sampai akhir hayat.

***

So…. Selamat merenung dan berinvestasi ya teman-teman! Besok sudah 2019 loooh!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!