Aduh-hainya Ngekos Bareng Bayi #GratitudeList

ngekos

Nyusul cerita sebelumnya tentang pengalaman jadi ibu rumah tangga sementara, ending ceritanya kan saya balik ke Jakarta lagi untuk bekerja. Banyak ni yang nanyain, Ning Gaya gimana nasibnya? Hehehe, Si Ening kabarnya baik, dia ikut saya balik Jakarta. Setelah, Opa Surabaya sempat ngusulin Ning Gaya tetep di Surabaya aja, dan Simbah Akung Utinya yang di Pati juga minta Ning Gaya ke Pati aja, keputusan Gayatri ikut saya, kami pikir adalah keputusan terbaik so far sampai saat ini.

“Berdua aja Nyah?”

Iya…. Dan karena berdua aja, kami memilih untuk ngekos instead sewa rumah. Selain, agar lebih praktis, pilihan ngekos juga memberi kesempatan bagi saya untuk memilih hunian terdekat dengan daycare Ning Gaya sekaligus yang dekat juga dengan kantor saya. Jadi bisa jalan kaki, tidak sampai 10 menit di pagi hari saya bisa antar Si Ening ke daycare dan sampai di kantor. Yah, maksimal jadi 15 menit kalau saya jalannya pelan-pelan atau sambil ngobrol dengan Suster daycare dulu.

“Gimana rasanya ngekos berdua aja sama bayi?”

Hihihi, ya pasti ada suka dukanya ya. Tentu nggak seindah kalau tinggal di rumah bareng sama suami yang pasti. Tapi di postingan kali ini saya nggak mau cerita yang melo melo. Tar saya tambah melo kan yak…. Hihihi….

Momen pas dianter ke kos sama Bapak.

Momen pas dianter ke kos sama Bapak.

Saya mau list apa aja si yang saya syukuri di tengah ke-Aduh-hay-an ngekos bareng bayi. Ala-ala #gratitudelist gitu, biar nanti pas saya mulai lelah, saya bisa baca lagi dan jadi pengingat buat saya, daaaan siapa tahu juga bisa jadi penghiburan buat para ibu yang sedang ngalamin hal yang sama dengan saya….

1 . Dapat kos yang dekeeet banget sama daycare-nya Ning Gaya dan kantor saya.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kosan saya – daycare – kantor dapat ditempuh dalam waktu sepuluh menit. Bahkan jarak kosan saya ke daycarenya Gayatri itu cuma lima langkah. Hihihi…. Kaya lagu dangdut pacar lima langkah yak…. Nggak literaly lima langkah kaki juga si, tapi cuma selisih taman aja uda sampai.

Saya bersyukur banget dapat kosan ini, karena awalnya sebenernya saya mengincar satu kosan lain yang jaraknya lebih jauh sedikit. Sudah kontak-kontakan sama pemiliknya beberapa minggu sebelum saya balik Jakarta. Tapi belum bayar. Eeeeeh, keduluan orang lain, dan saya tahunya itu H-2 dong dari keberangkatan saya. Mau nangis deh. Ya masa iya saya balik Jakarta, bawa bayi, tapi belum jelas mau tinggal dimana.

Trus nyari-nyarilah di olx, nemulah kosan saya ini. Daaaan masih ada satu kamar. Syukurlah…..

setrong

2 . Kosan dekat dengan laundry.

Saya tetap menggunakan jasa orang ketiga untuk laundry karena di kosan tidak ada mesin cuci. Menyuci sekaligus menyeterika sendiri di kosan yang kecil bareng bayi yang sedang aktif-aktifnya bukan pilihan yang bijaksana buat saya, yang juga bekerja dari jam 8 pagi s.d. 5 sore. Daripada capek, emosi dan semuanya berantakan, lebih baik waktu yang dipakai ngurusin cucian buat main sama anak. Hehehe…. Memang harus memilih si, walaupun tidak ideal. Syukurlah ada laundry di samping kosan yang lumayan murah.

3 . Punya teman kos yang muda, ceria dan unyu unyu.

Penyakit paling mematikan itu mungkin bukan kanker, tapi rasa kesepian. Sendiri, ngasuh bocah, LDM, pasti ada saat-saat kita bad mood. Punya temen ngobrol, atau sekedar say hi di pagi dan malam, temen ngangkat galon ke dispenser (wkwkwk) atau sekedar temen makan itu sesuatu yang berharga ya. Saya bersyukur banget ada dua orang yang tinggal sepaviliun dengan saya dan anaknya talkactive dan ceria-ceria banget.

love love

Teman kos ini maksud saya bukan temen ngekos sekamar ya. Tapi teman sepaviliun. Bentuk kosan kami memang rada unik, selain ada kamar-kamar yang langsung menghadap halaman, ada satu yang berbentuk paviliun tersendiri yang berisi dua kamar, satu dapur, satu kamar mandi dan ruang makan yang sekaligus dipakai buat ruang belajar dan ngumpul. Paviliun inilah yang saya tempati bersama dua orang lain yang menggunakan kamar terpisah.

Selisih usia kami sepuluh tahun, jadi sebenernya ya saya nggak bisa curhat yang berat-berat gitu. Kaga nyambung. Tapi dengerin mereka cerita film Korea atau ngeliat tingkah mereka (yang oleh mereka sendiri sebut receh) menghibur banget buat saya.

4 . Karena di paviliun ada dapur, saya bisa masak sendiri.

Karena Long Distance Marriage bikin pengeluaran jadi lebih banyak, jadi proses ngekos bareng bayi pun harus mempertimbangkan kondisi keuangan. Saya nggak bisa sembarang pesan Go Food mulu tiap makan, misalnya. Untungnya dapur di kosan memadai banget buat masak ala saya. Hehehe…. Saya tetep bisa meal prep loh, karena ada kulkas juga yang lumayan gede lah buat dipakai tiga orang.

Hemat Nyaaah!

Apa lagi yaaaa…. Apa lagi yaaa…. Hihihi….

Lesson learnnya buat yang mau ngekos bareng bayi, in my humble opinion mungkin sebaiknya mempertimbangkan hal-hal di atas ya. Terutama yang kedekatan lokasi ituuuuu…. Beneran ngurangin stres banget.

ngekos

Apa lagi yaaaa…. Apa lagi yaaa…. Apa lagi yaaa…. Hihihi….

Sambil saya mikir, Nyonyah-nyonyah sendiri adakah yang punya pengalaman LDM atau pengalaman tinggal berdua bareng bayi? Shariiiing yuuuukkk di comment section!

Terimakasih, salam sayaaang!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Laissez-faire

pembagian tugas keluarga

Pernikahan saya dan suami, sebut saya dia Tuan Besar karena literaly memang besar, baru dua tahun. Tapi kami pernah mengalami beberapa bentuk pembagian tugas keluarga dalam manajemen rumah tangga. Aseeeeekkk (((manajemen))).

Tuan Besar sempat jadi working-at-home-husband sementara saya bekerja kantoran penuh waktu. Kami juga pernah mengalami masa-masa di mana kami berdua ngantor 8-5 bahkan lebih. Dan yang terakhir, saat ini Tuan Besar ngantor, dan saya temporary working at home.

Kami pernah punya ART paruh waktu. Pernah langganan laundry kiloan. Pernah setia pada katering harian. Pernah pula nitip anak ke daycare termahal di kawasan Bintaro (nangis kalau inget bill-nya). Dan kini, kami lepas dari semua fasilitas itu, sejak pindah ke Surabaya dua bulan lalu.

Berdasarkan berbagai pengalaman di masa lalu, kami belajar tentang karakteristik keluarga kami dan bagaimana bentuk pembagian tugas yang cocok buat kami. Bentuknya adalaaaaah: Laissez-faire. Yeeeaaahhh!!!

Laissez-faire adalah sebuah frasa bahasa Perancis yang berarti “biarkan terjadi” atau secara harafiah berarti “biarkan berbuat”. Intinya sih kalau di rumah siapa yang sempat, dialah yang akan mengerjakan. Buat orang-orang yang rapi dan teratur mungkin hal ini terdengar intimidatif ya. Tapi so far, buat kami semua berjalan baik-baik saja.

kuat

Tentu saja ada prinsip-prinsip yang dipegang si ya, biar ga berujung berantem atau jadi terbengkalai:

1 . Kesamaan pemahaman tentang arti kodrat.

Kesamaan ini yang penting antara suami dan istri sama gitu. Sama tetangga sih nggak harus sama pemahamannya gapapa. Buat kami, kodrat adalah sesuatu yang memang given di tubuh kita. Seperti misalnya menyusui adalah tugas saya sebagai ibu karena saya punya payudara, suami saya tidak. Sementara mencuci alat pumping bukanlah kodrat, tapi ini urusan manajemen dan kerelaan hati.

Kalau uda sepaham gini enak, lo. Soalnya jadi sama-sama bertanggung jawab dan juga berinisiatif. Nggak saling nuduh, “Ini kan tugas kamu!”. “Ah, kamu ni, tugas kamu jugaaak!!!!”

Krompyang! #piringdibanting

2 . Saling menghargai “me time“.

Me-time atau mengerjakan hobi sebagai kebutuhan pribadi adalah sesuatu yang penting buat kami. Urusan rumah tangga tidak lebih penting dari hobi. Ini yang berlaku buat kami lo yaaa…. Soalnya, hobi itu stress release banget. Lagipula kami nggak keterlaluan juga kok jadwalnya.

Pekerjaan rumah bisa menunggu, kesehatan jiwa lebih utama. Inget, nasihat di bak belakang truk Pantura, “Don’t to milk”. Ojo kesusu…. Hehehe, apa si saya….

Jadi kalau hari Kamis jam 10 malam, Tuan Besar uda nggak bisa diganggu gugat. Soalnya itu jam main game sama aliansinya, Marvel Future. Gitu juga kalau saya lagi “karaoke” di kamar mandi, suami juga siap siaga nemenin Gayatri.

Habis me-time, moodnya pasti jadi lebih baik. Siap buat cuci piring segunung lagi.

3 . Sepakat tentang mana yang prioritas dan mana yang enggak terlalu prioritas.

Skala prioritas kami untuk pekerjaan rumah adalah:

  1. Makanan harus ada dan bergizi.
  2. Sink selalu dalam keadaan kosong setelah digunakan, biar sehat.
  3. Kamar mandi kesat, biar aman, nggak mlesetin.
  4. Baju bersih.

Pekerjaan prioritas akan dikerjakan oleh siapapun yang sedang di rumah. Jadi kalau Tuan Besar yang pas di rumah maka dia yang akan masak, dst. Begitu pula kalau saya yang ada di rumah. Saat ini sih, mostly saya yang di rumah yak….

Segala hal selain keempat hal di atas dikerjakan pas super senggang aja, atau pas bisa disambi main sama bocah. Seperti nyapu halaman sambil nemenin Gayatri mainan batu. Nge-vacuum karpet pas Gayatri mainan building blocks, dll.

4 . Tahu konsekuensi, nggak perfeksionis.

Konsekuensi dari pembagian tugas laissez-faire adalah kerjaan rumah NGGAK SELALU selesai dengan perfect. Pokoknya yang penting kelar, yang penting semua jalan. Kalau ada yang kurang pas dikit, ya cincai lah.

Contoh, saya sedang belajar meal-prep. Nah, pernah tuh tauge yang rencananya mau saya tumis, dibikin bakwan dong sama suami. Karena dia pengen ngemil. Yaudin…. ikut nikmati aja, bakwannya enak ini. Nasib tumisannya, ya harus beli tauge lagi, hahaha….

setrong

Kalaupun dipaksa harus ada pembagian tugas, maka pembagian tugas kami adalah sebagai berikut:

1 . Suami ngasih vitamin A (A-PRESIASI)

Banyak perempuan merasa desperate di rumah, sebenarnya IMHO bukan karena memandang pekerjaan rumah itu sepele. Bukan. Melainkan karena pekerjaan rumah kurang diapresiasi.

Saya terlahir di keluarga yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Jadi beneran baru tahu pekerjaan rumah full ya baru dua bulan ini. Jadi kerasa banget bedanya kerjaan rumah dengan kerjaan kantor. Kerjaan kantor mah jelas kapan dikerjakan dan apa rewardnya. Lhah kalau kerjaan rumah…. Uda kaga ada habisnya, kalaupun dikerjain pun jarang ada pujiannya….

Kalau lagi PMS, rasanya tu pengen bilang, “Dengan kekuatan datang bulan, akan menghukummu”.

Oleh karena itu, jujur saya minta sama suami buat ngasih apresiasi. Terutama kalau saya masak (FYI, suami saya jago masak). Jadi sebagai ibu biasa yang gampang bahagia, diapresiasi membuat kehidupan #modyarhood jadi ada semriwing-semriwingnya gitu. Semangat 45 kembali.

2 . Istri ngasih vitamin C (cinta C-IUM)

Hahaha, seriusssss iniiii…. Dari berbagai perbincangan di grup ibu-ibu, saya menyimpulkan satu hal: para ibu kalau uda capek ngurus rumah, ngurus anak, jadi malas mesra-mesra sama suami. Pengennya langsung meluruskan punggung di kasur, cuss bobo.

Iya nggak sih? Ngakuuuuuu! Hayooo mulai sekarang jangan malas-malas ngasih vitamin C ke suaminya ya…. Cup cup mwaaahhh….

love loveYah, kira-kira seperti itu yang terjadi di rumah kami. Hehehe, mungkin nggak akan pas untuk diterapkan di rumah Nyonyah…. Tetep balik lagi ke karakter penghuninya ya…. Tapi semoga sharing kali tetap ada manfaatnya.

Ocip, akhir kata terimakasih sudah berkunjung! Salam sayang selaluuuuu….

pembagian tugas keluarga

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Pengalaman Meal Prep Seminggu #1

meal prep seminggu 1

Minggu lalu saya sudah share hasil kajian pustaka (alias googling, hahaha) mengenai pengalaman-pengalaman orang lain dalam melakukan meal prep. Biar related, resume-nya bisa dibaca dulu di:

Sebenarnya masak sendirinya sudah dilakukan selama beberapa minggu, namun meal prepnya baru sekitar semingguan. Nah, kali ini saya mau cerita pengalaman saya selama meal prep seminggu ini.

TRIAL AND ERROR

Sebelum saya cerita bagaimana saya melakukan meal prep saya mau mengutip stories IGnya @miunmiunan, salah satu yang selalu saya pantau tips meal prepnya. Begini katanya:

meal prep minggu I nasehat miun

Saya setuju banget, kalau dalam meal prep ini, selain harus “belajar” dari orang lain dengan baca/ minta masukan, juga harus trial error sendiri. Karena kan kondisi orang beda-beda. Kebutuhan masing-masing keluarga beda. Selera juga beda-beda. BAHKAN, tujuan meal prep juga bisa bedaaaaa.

Kaya kemarin saya ngobrol sama Mbak Kidung. Tujuan meal prep beliau adalah untuk mendukung dietnya. Jadi beneran tu Mbak Kidung merhatiin banget setiap nutrisi, dan mengkritisi gimana idealnya setiap bahan dimasak. Nah, kalau saya tujuannya lebih ke ngirit dan praktis, selain juga pengen sehat juga. Jadi ya mungkin saya versi slebornya. 😛

Beda kan?

BEDA ITU BIASA

Bedaaaaa! Apalagi kalau mau dibandingkan dengan Mbak @atiit yang meal prep demi mengurangi foodwaste sekaligus mendukung gaya hidup berkesadarannya. Jelas, meal prep-nya @atiit lebih banyak menggunakan produk-produk organik dan mendukung lingkungan berkelanjutan.

Bukannya saya nggak pengen begitu ya, tapi kan pelan-pelan, Nyah proseeees, proseeeeesss…. Emak saya lihat saya mulai ke dapur aja bangga minta ampun uda kaya saya menang Olimpiade Fisika. Yang adalah nggak mungkin, karena saya tiap pelajaran Fisika mabal, dan sering remidial.

Satu lagiiiiiii yang tidak bisa dihindari: beda selera.

Saya nggak bakal bisa masakin suami saya healthy food kaya yang dimasakin Jenifer Bachdim ke suaminya. Yang semacam guacamole, oat, chia puding, dll. Yang ada mah suami saya kabur, kaga mau makan di rumah. 😛

Demi kesehatan harus mau dong!

Ya nggak bisa maksa gitu juga si. Perspektif orang akan makanan kan beda ya. Untuk sementara ini, saya memilih untuk menghormati pilihannya. Kasihan dia, uda harus menerima saya apa adanya, masa harus menerima makanan yang nggak sesuai selera juga. Setidaknya saya pastikan makanan kami sekarang lebih sehat dari pada kalau dia makan junk food melulu di luar rumah. Ga super sehat, gapapa. Yang pasti selangkah lebih baik.

PELAN-PELAN SAJA

Kalau ini pesan khusus dari saya, hehehe. Terutama buat orang yang kemampuan masaknya seperti saya, tingkat kemalasan seperti saya namun selera makannya juga tinggi kaya saya. Don’t over do meal prep. Pelan-pelan saja. Karena meal prep ini kan semacam maraton ya. Jangan sampai terlalu idealis tapi malah jadi ga jadi-jadi dilakukan mengingat kemampuan yang belum seberapa.

Gagal mulu kan bikin sutris ya. Jadi start dari yang kita suka, kita familiar dan kita bisa. Nanti dievaluasi, trus lama-lama kita usahakan untuk naik kelas. #selftalk #semogaistiqomah

MEAL PREP MINGGU I

Langkah-langkah yang saya lakukan:

  1. Cek bahan makanan yang masih ada di rak dan kulkas.
  2. Membuat rencana menu seminggu.
  3. Memperkirakan kebutuhan bahan baku sesuai menu mingguan di poin 2.
  4. Belanja.
  5. Nyicil Meal Prep.

 

meal prep minggu I belanjaan

Apa saja yang saya siapkan:

  • Sayur dan Buah: Baby Buncis 1 pak, Brokoli 2 batang (4 ons), Kentang 4 butir (6 ons), Wortel 3 batang (4 ons), Tauge 1 pak, Pete 1 pak, terong ungu lonjong dua buah.
  • Protein Hewani: Daging sapi giling (1 ons), daging sapi semur (5 ons), sayap ayam (9 ons), hati ayam (3 ons), ampela ayam (2 ons), ceker ayam (6 biji), ayam kampung (1 ekor), Bakso, Udang.
  • Lain-lain: Tempe (6 buah ukuran sedang bungkus daun), Bumbu racikan (ungkep, sambal goreng ati, herbs (daun bawang, daun jeruk, sereh, dll).

Meal prep seminggu yang saya lakukan:

Sayur dan Buah:

  • Baby buncis, wortel, brokoli, saya cuci, potong-potong terpisah, blansir, dan simpan di frezeer. Hasilnya kurang memuaskan.

meal prep minggu I sayuran

  • Kentang 2 butir saya potong dadu, goreng, simpan di kulkas bawah untuk sambal goreng ati.
  • Kentang 2 butir saya potong-potong, rendam di air, saya simpan di kulkas bawah.
  • Tauge, pete dan terong saya biarkan di pacakaging, saya simpan di rak bawah kulkas.
  • Pepaya saya biarkan, belum sempat dipotong, di kulkas bagian bawah.
  • Alpukat saya tusuk ujungnya dengan tusuk gigi supaya nggak berserat dan diletakkan di suhu ruangan.

meal prep minggu I alpukat

Protein Hewani

  • Daging cincang saya taruh di chiller.
  • Bakso saya taruh di chiller.
  • Udang langsung dimasak tumis.
  • Sayap ayam setelah dibersihkan, saya potong jadi dua, kemudian saya rebus dengan bumbu ungkep. Tiriskan. Saya simpan sayap ungkep di kulkas bawah.

meal prep minggu I ungkep yam

  • Sambil ungkep ayam, saya rebus ayam kampung (cuci terlebih dahulu dalam kondisi terpotong-potong). Tiriskan. 3/4 air rebusan ayam (kaldu) setelah dingin saya simpan di botol di pintu kulkas. Ayam saya pisahkan daging dan tulangnya. Tulang ayam saya kembalikan ke panci bersama 1/4 air rebusan ayam. Masukkan ceker ke dalam panci, tambahkan air, daun jeruk dan sereh, untuk membuat kaldu ceker dan tulang sebagai dasar kuah soto. Daging ayam saya masukkan ke tupperware direndam 1/3 air sisa ungkepan sayap ayam. Nantinya ayam yang di marinade ini saya goreng untuk soto ayam. Kaldu ayam kampung yang tadi disimpan (3/4 bagian) untuk kuah sop.
  • Hati ayam dan ampela saya rebus dengan 2/3 air sisa ungkepan sayap ayam. Tambahkan sereh dan daun jeruk supaya tidak amis. Tiriskan.

meal prep minggu I ati ampela

  • Daging sapi (semur) saya potong-potong lalu saya rebus. Buang busa dan kotoran yang mengapung. Tiriskan. Simpan kaldu di botol. Sementara dagingnya di bagi dua, masing-masing disimpan di dalam tupperware tergenang kaldu. Saya bekukan di freezer. Satu bagian akan dimasak krengseng, satu bagian akan saya masak rawon bersama kaldunya. Hasilnya cukup memuaskan.

meal prep minggu I daging sapi

Lain-lain

  • Tempe saya simpan di kulkas bawah.
  • Herbs saya simpan di laci bawah kulkas.

LESSON LEARN

  1. Menu alternatif itu perlu. Buat jaga-jaga kalau tiba-tiba anggota keluarga ada yang nggak mood makan menu sesuai rencana. Atau malah tiba-tiba berinisiatif bikin menu makanan improvisasi. Kaya saya yang uda dua kali gagal bikin tumis tauge jambal asin, gara-gara taugenya dibikin ote-ote alias bakwan alias bala-bala sama Bapak Tuan Besar.
  2. Memperkirakan jumlah bahan baku ternyata tricky ya. Yang tadinya saya pikir bakal kurang ternyata malah sisa. Yang saya kira kebanyakan, tapi karena enak (ehm, muji masakan sendiri) eh ternyata habis sebelum waktunya. Apaun kejadiannya, yang pasti kita harus fokus untuk tidak belanja (kecuali tambahan sayur yang sudah direncanakan) kalau kulkas belum kosong.
  3. Jam belanja itu penting Kumendan! Kemarin saya berangkat kesiangan, jam 10, kelar jam 12. Karena kena jam makan siangnya Gayatri maka saya nggak bisa langsung meal prep tu. Nunggu dia makan. Habis dia makan, nunggu dia bobo siang. Mulai meal prep jadi jam 2-an. Terus kejeda lagi dia snacking dan mandi. Jadi ada beberapa bahan yang akhirnya aku olah besoknya.
  4. Tips yang sukses dilakukan oleh seseorang bisa jadi tidak sukses buat kita. Misal, ada yang sukses nyimpan sayur di freezer. Giliran saya, sayuran yang saya simpan di freezer menjadi alot, mungkin karena beda kulkas kali ya. Next time akan coba disimpan dalam kondisi mentah di kulkas bawah aja.
  5. Kalau bisa beli bahan daging sapi/ ayam yang sudah dipotong-potong sesuai ukuran yang diinginkan. Kemarin saya belinya kurang pas, jadi takes time banget untuk motong-motongin lagi.
  6. Tempe mudah sekali busuk, jadi better dijadwal untuk dimasak paling awal.
  7. Kaldu sebaiknya difreezer kalau lebih dari 3 hari supaya tetap segar.
  8. Sisa (leftover) krengseng daging sapi bisa dibuat isi martabak telur.

meal prep minggu I martabak leftoverMartabak telur ala-ala.

CONTINUOUS IMPROVEMENT (NEXT TRIAL)

  1. Simpan sayuran dalam kondisi mentah terpotong-potong dialasi tisu.
  2. Belanja lebih pagi supaya bisa kelar hari itu juga.
  3. Coba bikin baceman bawang sendiri dan googling bumbu dasar biar nggak ketergantungan bumbu racikan Machmudah.
  4. Mau nambahin porsi buah dan sayur, karena setelah dievaluasi minggu ini kurang banget makan sayur. Awalnya mikir ah, nanti sayur beli di Kang Sayur aja takut cepet layu. Trus Kang Sayur lewat, sayanya nggak ngeh. #nyanyi lagu Yang Terlewatkan, Sheila on 7. Jadi nggak kebeli juga sayurnya.

meal prep minggu I kaldu

CLOSING

Waktu yang saya gunakan untuk meal prep seminggu masih lama (kalau ditotal, tanpa ngitung istirahat atau disambinya, kurang lebih 3 jam kali ya). Selain karena masih banyak tria errornya juga karena tipe meal prep saya yang mengolah lauk sampai setengah jadi.Tapi, beneran membantu rutinitas pagi saya menjadi lebih sederhana dan efisien. Soalnya tinggal cemplung cemplung dan cucian piringnya pun sedikit.

Apakah sistem ini akan cocok buat Nyonyah? IMHO, tergantung rutinitas harian Nyonyah dan makanan apa yang pengen dimakan ya.

Soalnya temen saya tiap hari sarapan telur ceplok ga masalah, jadi dia memilih nggak meal prep. Saya dan suami nggak bisa gitu. Terus lagi, ada yang aktvitas paginya nggak banyak, tapi malah lebih banyak “jalan” di weekend. Pola meal prep seminggu di weekend untuk hari-hari berikutnyaa juga nggak cocok.

So, balik lagi ke prinsip yang dibilang @miunmiunan tadi yak…. Selamat trial dan error, jangan lupa, beda itu biasa!

Salam sayaaang!

meal prep seminggu 1

ps. Maapkeun fotonya ala kadarnya, mana burem dan banyak yang skipppppp. Semoga minggu II bisa siang yak, jadi fotonya pun lebih bening, kaya kuah

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Challenge: Masak Sendiri dan Meal Prep

meal prep challenge

Selama tiga minggu nyicipin rasanya jadi ibu rumah tangga, saya mulai care dengan beberapa hal yang sebelumnya tidak saya perhatikan. Yang pertama adalah masalah uang makan dan yang kedua adalah masalah masak.

Uang Makan

Dua minggu pertama saya pindah ke Surabaya, hampir bisa dikatakan tiap hari saya jajan atau makan di luar. Bukannya sombong atau hura-hura ya. Tapi memang agak euforia aja lihat harga makanan di Surabaya yang jauh lebih murah dibandingkan Jakarta.

Tapi biar murah, setelah dihitung-hitung lumayan juga. Lumayan banget malah. Hahaha…. Hasil dari baca-baca blognya Mbak Rinda (rumahbarangtinggalan.wordpress.com) dan Twelvi (twelvifebrina.com), saya menyimpulkan kalau memang bener, biaya makan itu nggak kerasa tapi adalah faktor utama keborosan.

Tips dari kedua blog di atas untuk mencegah pemborosan uang makan kurang lebih sebagai berikut:

  1. Buat perencanaan menu untuk beberapa periode (misal seminggu atau sepuluh hari),
  2. Belanja sesuai perencanaan menu di atas,
  3. Masak sendiri di rumah dari bahan yang ada,
  4. Tidak belanja lagi sampai barang belanjaan di kulkas habis.

Minggu ketiga langsung banting setir untuk nyoba masak di rumah. Kami nyoba merencanakan menu seminggu lalu belanja. Daaaannnn, pengeluaran belanja protein hewani nggak sampai 20% persen dari pengeluaran kalau jajan full. Ya kalau ditambah dengan belanja sayur di Mang Sayur secara harian + beras, kayanya nggak sampai 30% dari pengeluaran kalau jajan deh.

Buat kami berdua, yang pas masih ngantor makan di luar nyaris 3x sehari, jumlah tersebut membuat kami terhenyak. Terhenyak dan membayangkan, kalau selama dua tahun pernikahan kami istiqomah bisa cut cost begitu terus, uda kaya raya kali kami yaa…. Hahahaha….

Bisa saving 70% Boookkkk!!!!

ngiler

Masak Memasak

Tapiiiii, ada tapinya ni…. Saya juga baru nyadar kalau masak full untuk tiga kali sehari, dengan tipe saya dan suami yang banyak maunya, itu boros waktu. Menyiapkan bahan, memasaknya daaaaan apalagi nyuci piringnya. Weleh weleh…. Apa lagi saya harus masak MPASI juga. #curhat.

Ribet. Sesuatu yang nggak saya banget.

Maka dari itu saya jadi rajin baca-baca Pinterest tentang Food Prep/ Meal Prep yang katanya bermanfaat untuk menghemat waktu. Banyak bingit yang dari blog luar ya, tapi saya juga nemu punya Mbak Rinda dan Mbak Ega Dioni (egadioniputri.wordpress.com). Blogger Indonesia. Punya Mbak Rinda memang sudah saya temuin dari lama si, cuma baru beneran saya baca baik-baik.

Lesson learn yang saya dapatkan adalah minggu lalu saya merasa ribet untuk tiap hari masak karena belum melakukan meal prep. Jadi habis belanja semua belanjaan masuk kulkas dan baru diproses saat akan masak.

Tips dari dua blog di atas untuk menghemat waktu memasak kira-kira seperti ini:

  1. Jangan nyari resep, menyiapkan bahan baku, dll tepat saat mau masak,
  2. Sebaiknya beberapa step sebelum masak sudah dipersiapkan terlebih dahulu (meal prep),
  3. Meal prep bisa dengan menyiapkan bahan mentahnya dahulu (motong-motong bahan) atau dengan menyimpan masakan sudah matang. Bedanya apa baca blog Mbak Ega Dioni.
  4. Kalau versi Mbak Rinda, dia melakukan beberapa versi meal prep sesuai kebutuhan, tapi yang pasti bahan mentah yang dari belanja langsung diproses di hari belanja. Persamaan antara Mbak Rinda dan Mbak Ega adalah memasak sekaligus banyak untuk kemudian sebagian dibekukan sebagai stok.

Percaya nggak, dengan perencanaan dan pengelolaan masak memasak, Mbak Rinda bisa mengepulkan dapurnya dengan budget Rp 500.000,00 SEBULAN!!! Kalau Mbak Twelvi bisa nabung 150 JUTA rupiah, buat traveling dan juga traktir keluarganya ikut travelinggggg!!!!

love love

Semaput.

Saya nggak akan seambisius itu si. Jauh di atas itupun saya masih akan bangga banget. Uda pasti menang banyak dah dibanding yang lalu lalu. Cumaaaa, satu yang jadi pertanyaan saya…. Apakah metode Mbak Rinda, Mbak Atiit, Mbak Ega dan Mbak Twelvi dengan Meal Prep mereka masing-masing sesuai dengan karakter nyonyamalas saya dalam jangka panjang? Akankah saya akan seistiqomah para Perempuan Rajin itu? #kraaayyy

Eh, dua ya pertanyaannya.

meal prep challenge

So, I’ll try ya…. Dan men-challenge diri saya pribadi untuk masak selama sebulan ini (kecuali kalau keluar kota ya). Nanti progressnya bakal saya ceritain di blog. Apa saja keberhasilan, KEGAGALAN 😛 dan lesson learn dari pengalaman yang saya alami. Harapannya si, challenge kali ini bisa menghasilkan formula yang pas buat para nyonyamalas seperti saya…. 😛

Selain itu, buat saya pribadi hal ini bakal jadi pembelajaran banget. Mumpung saya masih cuti juga, biar belajar skill kehidupan nyata seperti ini. Hehehe, skill dasar banget sebenernya ya. Rada malu juga si sebenernya posting ini. Tapi ya I just want to be real.

kuat

Saya juga yakin nantinya ini akan bermanfaat untuk banyak orang. So, please untuk yang mau dukung saya mengerjakan challenge ini, kasih saran ya, atau boleh juga kasih rujukan bacaan (blog Indonesia preferably). Buat yang uda pro, plis nggak usa pake bully kaya di status FB “ibu-ibu 2,5 juta” itu ya (you know what i mean). Akika, ibu newbie unyu unyu, lebih butuh saran dan masukan. So, yang mau sharing pengalamannya selama ini juga boleh loh. Tulis aja di comment section below yaaa….

Thanks Nyaaaahhh!!! Salam sayang!

PS. Challenge ini kayanya bakal mulai start di minggu kedua Maret, karena minggu depan saya mau keluar kota dulu.

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!