Tubuh dan Pikiran yang Jernih (Sejernih Pristine 8+)

pristine dan ibu

“Hei jangan dorong-dorong dong!”

“Apaan si Buk, siapa juga yang mau dorong Ibu…. belakang saya ini”

Pemandangan Ibu-ibu berantem di Transjakarta atau Commuter Line sudah lazim saya temui. Saya pun pernah kena damprat, perkara saya tidak sengaja nyenggol punggung penumpang lain. Mau ngeladenin lelah, nggak diladeni kok dongkol ya…. Hehehe….

Yah, risiko perempuan bekerja di tengah kota namun tinggal di pinggiran memang rentan emosi. Dan saat jam pulang kerja, pasti bertemu juga dengan pekerja lain yang lelah secara fisik dan juga pikiran. Alhasil mudah sekali tersulut pertengkaran.

Energi negatif yang mudah sekali menular.

Saya masih ingat nasihat seorang rekan penganut live balance, tentang hal-hal yang membantunya menjaga tubuh tetap bugar dan pikiran tetap jernih walaupun dalam kondisi emosi:

  • Atur napas
  • Duduk
  • Minum segelas air
  • Basuh wajah.

Kalau sedang di kendaraan umum memang sulit mempraktikkan keempat-empatnya ya, paling hanya bisa mengatur napas saja, sambil ngelus dada. Namun kalau di rumah efektif sekali loh mempraktikkan semuanya.

Awalnya memang saya sedikit meremehkan nasihat di atas. Namun setelah merasakan manfaatnya sendiri, saya jadi senang mempraktikkannya. Tidak hanya saat sedang emosi melainkan juga saat saya sedang ingin menyiapkan diri menghadapi sesuatu yang membutuhkan stamina fisik dan kejernihan pikiran secara seimbang.

pristine dan ibu

Mengahadapi anak-anak adalah salah satunya. Walaupun Gayatri termasuk anak yang tenang dan mudah bekerjasama, namun gap bahasa bayi (Gayatri usia 20 bulan sudah bisa bicara dan kode-kode namun belum lancar) dan bahasa orang dewasa di antara kami kadang membuat kami sama-sama frustasi. Untuk itu, sebagai orang yang lebih dewasa, saya merasa lebih bertanggung jawab untuk dapat berpikir jernih dan mencoba menjadi pihak yang berusaha memahaminya terlebih dahulu.

Oleh karena itu, sebelum menjemput Gayatri di daycare, saat turun ojek dan menuju pintu, saya sempatkan untuk mengatur napas. Duduk sejenak di teras dan minum air (itulah sebabnya saya selalu bawa bekal air minum). Kalau perjalanan melelahkan sekali, kadang saya sempatkan mandi dulu di kosan baru kemudian jemput.

Hal tersebut seolah mampu membuat pikiran saya yang awalnya ruwet karena masalah pekerjaan dan jalanan ibu kota menjadi fresh kembali. Fungsinya seperti saklar on off. Pikiran ruwet off, pikiran jernih on.

Saya siap menyambut Gayatri sebagai ibunya sepenuhnya, walau kadang masih mengenakan seragam kerja, hehehe…. Ibu bekerja pun harus tetap hidup seimbang bukan?

pristine dan gayatri 2

Sudah bukan rahasia umum kalau air pun adalah media healing bagi tubuh kita, mengingat air sendiri adalah komponen utama tubuh sebesar 60-65%. Tak hanya mampu menyegarkan pikiran, namun juga terutama menyegarkan tubuh jasmani kita. Mendorong metabolisme, melancarkan pencernaan, membantu kerja ginjal, menjadi bagian dalam plasma darah, dan masih banyak lagi peran air dalam tubuh kita.

Sepenting itu air, hingga namanya sudah muncul di pelajaran sejak sekolah dasar. Hayoooo, siapa yang ingat pelajaran IPA jaman SD tentang syarat air yang baik untuk dikonsumsi tubuh????

Iya betul. Tak semua air punya manfaat yang baik bagi tubuh. Yang memiliki manfaat adalah air yang bersih, secara umum dicirikan dengan tanda tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Atau dengan kata lain jernih dan netral.

Hal itulah yang membuat saya tidak ragu mencoba Pristine 8+. Karena Pristine 8+ tidak mengandung suplemen tambahan, bahan pengawet ataupun pemanis. Jadi Pristine 8+ benar-benar air alami dan murni.

Sesuai dengan namanya Pristine yang artinya adalah jernih.

Air kemasan ini berasal dari sumber mata air terbaik yaitu berasal dari Pegunungan Gede Pangrango dimana sebelumnya dilakukan uji kualitas. Berbeda dengan pengolahan air alkali lainnya, pengolahan Pristine 8+ dengan teknologi Nihon Trim menjaga agar kadar pH baik untuk tubuh yaitu pH 8,3 – 8,5 (tidak ekstrim dan mudah diterima tubuh).

pristine dan gayatri

Saya yakin kalau hampir sebagian orang dewasa mengetahui pentingnya minum air putih secara cukup. Tapi, karena kesibukan kadang saya sendiri pun sering kelupaan minum air di tengah aktivitas sehari-hari.

Botol minum adalah koentji! Seperti saya sebutkan di atas saya simpan botol minum di tas. Selain itu saya juga simpan di kantor (satu tumbler, dan satu pitcher) serta di kamar (dia botol untuk saya dan Gayatri). Kalau sedang banyak kerjaan, kadang saya siapkan dua botol tersebut untuk saya sendiri di dekat laptop. Seperti foto di atas, satu botol Pristine 8+ ukuran 600ml dan satu botol 400ml. Biar tidak lupa minum. Hehehe….

Produk Pristine 8+ mudah ditemui di minimarket. Dulu saya pertama tertarik karena botolnya yang langsing, hehehe. Selain ukuran 400 ml dan 600 ml. Ada juga yang ukuran galon.

Begitu pentingnya air bagi kejernihan tubuh dan pikiran kita, yuk mari memperhatikan asupan air minum kita!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Persiapan Kehamilan Sebagai Upaya Pencegahan Stunting pada Anak

tips mempersiapkan kehamilan

Acara resepsi pernikahan telah usai. Malam pertama menanti di depan mata. Lalu apa yang harus dilakukan?Alih-alih menasehati untuk mengambil paket perawatan di salon, Inez, sahabat saya sejak SMP, berpesan: “Minum susu persiapan kehamilan, La!”

“Astaga!” kata saya saat itu. Saya baru nikah Neng, belum mikir mau hamidun.

Saya tidak menanggapi serius pesannya, dan ternyata kehamilan datang tanpa menunggu saya sempat memikirkannya. Tanpa ada jeda masa menstruasi, saya positif hamil. Kami gembira sekali saat itu. Apalagi orang tua saya, janin di kandungan saya adalah calon cucu pertama. Digadang-gadang akan lahir tegap seperti Kakeknya jika laki-laki, dan cantik seperti Neneknya jika perempuan. Sayangnya, kami harus kehilangan kandungan saya secepat kabar datangnya kehamilan itu.

hiksSedih? Tentu saja.

Namun, tak larut dalam kesedihan, kami belajar dari kesalahan masa lalu. Kehamilan adalah sesuatu yang harus dipersiapkan dengan baik. Demi kesehatan calon bayi dan kesehatannya di masa mendatang. Singkat cerita, saya hamil kembali, dan anak kami yang pertama sekarang telah berusia 20 bulan. Puji Tuhan, sehat, tinggi dan lincah bukan main. Seusai melahirkan dulu, saat suami saya meluncurkan niatan menambah momongan, Dokter Kandungan saya berpesan, jaga jarak antar kehamilan agar kondisi tubuh Ibu telah pulih sepenuhnya.

Siaaaap! Dan kini saat yang kami rasa sudah cukup. Empat bulan lagi, Gayatri sapih dan rencananya saya akan melepas IUD yang saya gunakan sebagai alat kontrasepsi. Masa ini akan saya pergunakan kembali untuk memersiapkan tubuh saya menyambut jabang bayi.

Apakah saya terdengar berlebihan, belum lepas IUD sudah persiapan kehamilan berikutnya?

Tentu tidak ya. Selain memiliki pengalaman buruk di masa lalu sebagaimana saya ceritakan di atas, saya juga memiliki data tentang bagaimana masa kehamilan dapat mempengaruhi kesehatan anak di masa depan dalam jangka panjang.

Adalah kondisi bernama stunting, atau gagal tumbuh pada tubuh dan otak anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama, yang mengimbas 29,6% balita Indonesia di tahun 2017. Angka yang kurang bagus, mengingat batas WHO adalah 20%. Kondisi ini terjadi karena pemberian gizi pada 1000 hari pertama kelahiran atau yang sering disebut dengan Golden Period tidak optimal.

persentase stunting balita IndonesiaSumber: Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes RI dalam www.sehatnegeriku.kemenkes.go.id.

Dan sebagaimana mungkin tidak kita sadari benar, Golden Period dihitung sejak hari pertama kehidupan. Yap! Tidak salah baca. Kehidupan dalam konteks ini dihitung sejak hari pertama kehamilan, bukan kelahiran. Atau dengan kata lain sembilan bulan di kandungan sampai dengan usia anak dua tahun.

Oleh karena itu, saya sangat memperhatikan masa persiapan kehamilan. Supaya saat hari pertama sel telur saya bertemu dengan sel sperma suami, tubuh saya telah siap untuk dilekati embrio kesayangan kami berdua.

Lalu bagaimana saya selama ini memersiapkan kehamilan?

1 . Asupan Makanan Pra Kehamilan.

Berkaitan dengan pesan Inez di awal tadi, saya sempat bertanya pada dokter kandungan saya. “Apakah benar saya harus minus susu pra kehamilan untuk mendapat asupan yang terbaik bagi kehamilan saya nantinya?” Jawaban dokter saya, “Tidak.” Yang pasti saya harus memperhatikan adalah kecukupan asupan zat besi, asam folat dan kalsium.  Jadi, saya pun tidak ganti susu, saya tetap minum susu kesukaan saya seperti biasanya (Iya! saya sampai tua gini masih suka minum susu. Doyan!).

Sharing kali ini berdasarkan konsultasi saya dengan dokter kandungan saya ya, bisa jadi kondisi tubuh masing-masing Ibu berbeda. Jadi walaupun secara umum, sama, tapi saya juga menyarankan untuk berdiskusi dengan ahlinya.

makanan ibu hamilUntuk menyukupi kebutuhan zat besi, asam folat dan kalsium, menu makanan yang dikonsumsi tidak harus mewah, dari bahan pangan yang mudah ditemui pun banyak yang mengandung zat-zat tersebut. Berikut adalah contoh menu makanan paling mudah saya temui dan tentu saja saya sukai:

  1. Zat Besi : Daging merah, ayam, ikan, brokoli dan sawi hijau. Zat besi, selain diperlukan untuk kesehatan Ibu juga penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin serta pertumbuhan plasenta.
  2. Asam Folat : Alpukat, jeruk, brokoli dan kacang merah. Asam folat berperan untuk perkembangan tabung saraf yang membentuk otak dan sumsum tulang belakang demi mencegah kecacatan.
  3. Kalsium : Susu, keju dan yoghurt. Kalsium diperlukan untuk pembentukan tulang dan gigi bayi.

2 . Kesehatan Psikis dan Fisik Lainnya.

Concern saya yang juga tak kalah penting adalah masalah asma yang saya derita. Saya benar-benar ingin saya fit saat hamil sehingga, saya tidak perlu mengonsumsi obat-obatan. Dulu saat hamil Gayatri saya menyempatkan untuk rutin berenang dan melakukan yoga. Saat ini, karena suami tinggal di luar kota, kedua hal ini sulit untuk saya lakukan. Untuk itu saya mengakalinya dengan berjalan kaki saat berangkat ke kantor dari halte Trans Jakarta atau sebaliknya. Lumayan ya, setengah jam berjalan kaki setiap harinya membuat saya merasa lebih segar dan bugar.

Selain asma, yang sedang saya kawatirkan adalah kondisi psikis saya. Berjauhan dengan suami, dengan kondisi berkerja sambil mengasuh satu balita memang cukup menguras tenaga jiwa dan raga. Beberapa kali saya mendapati kelelahan yang terakumulasi kadang membuat saya merasa burn out.Tanda-tanda yang saya rasakan adalah seringnya saya sulit tidur, mood swing dan merasakan nyeri otot dan kepala.

tubuh dan jiwa yang sehat

Saya bersyukur dukungan suami begitu kuat, sehingga saya tidak mengalami depresi yang berat. Selebihnya untuk menjaga kesehatan psikis saya, saya menggunakan aromaterapi (tidak dianjurkan jika sudah hamil), melakukan meditasi dan juga mendengarkan musik. Hal-hal sederhana ini masih bisa saya lakukan sambil melakukan aktivitas sehari-hari bersama Gayatri, anak pertama saya, dan terbukti efektif.

Saya harap, kesehatan fisik dan psikis saya ini menolong saya mampu menjalani kehamilan dengan sehat dan juga mampu melahirkan pada waktunya. Kesehatan fisik dan psikis juga penting bagi kesiapan saya merawat bayi saya pasca persalinan, terutama untuk mencegah baby blues dan persiapan menyusui.

Jadi yang diperhatikan jangan hanya kesehatan fisik semata ya, kesehatan psikis juga penting!

3 . Pengetahuan untuk Memenuhi Gizi Bayi Setelah Lahir.

1000 hari pertama Kehidupan memang tidak berhenti saat bayi lahir. Setelah lahir, masih ada ratusan hari lagi yang masih harus diperjuangkan. Perjuangan memenuhi gizi bayi melalui ASI dan MPASI. Untuk itu penting bagi saya untuk belajar (lagi dan lagi) tentang menyiapkan ASI (dan juga ASI Perah, karena saya ibu bekerja) serta tentang menyiapkan MPASI.

“Menyusui adalah dasar kehidupan. Dukung ibu menyusui untuk mencegah stunting. Anak sehat, bangsa kuat”, tutur Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), pada Puncak Peringatan Pekan Asi Sedunia (PAS) tahun 2018 di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin pagi (20/8).

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, dr. Kirana Pritasari, MQIH, memaparkan beberapa data kajian dan fakta global dalam The Lancet Breastfeeding Series tahun 2016 membuktikan bahwa ASI Eksklusif menurunkan angka kematian karena infeksi sebanyak 88% pada bayi berusia kurang dari 3 bulan. Lebih jauh lagi beberapa studi menyebutkan inisiasi menyusu dini (IMD) dan ASI Eksklusif berkontribusi dalam memperbaiki berat bayi lahir rendah (BBLR), stunting dan menurunkan risiko obesitas dan penyakit kronis dalam jangka panjang.

ASI mencegah stuntingSumber: Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI dalam www.sehatnegeriku.kemenkes.go.id

Kesalahan yang saya lakukan saat anak pertama terkait ASI adalah saya berpikir pemberian ASI akan berjalan lancar-lancar saja, sehingga saya tidak perlu belajar tentang hal itu. Saya tahu pentingnya ASI dan ASI Eksklusif, namun saya tidak membekali diri saya dengan bekal ilmu yang cukup untuk menjaga produksi ASI saya dan bagaimana memanajemen ASI Perah. Akibatnya saya kehabisan stok ASIP di bulan ke-empat, setiap hari saya harus “kejar setoran” untuk memenuhi kebutuhan ASI Gayatri.

Berkaca dari pengalaman tersebut, pada bulan Agustus kemarin saya menyempatkan diri mengikuti seminar singkat tentang kebiasaan baik yang perlu dilakukan ibu menyusui yang dapat meningkatkan produksi ASI. Saya sempatkan khusus datang, karena kalau hamil nanti sudah akan lebih sulit untuk sering-sering berpergian jauh. Selain itu, saya juga mulai mengumpulkan informasi tentang bagaimana cara manajemen ASIP bagi ibu bekerja.

Untuk yang sedang mencari informasi juga, saran saya carilah info terkait:

  • pijat oksitosin,
  • pijat payudara,
  • posisibayi,
  • pelekatan bayi pada puting.

Bagi Ibu bekerja mungkin juga ditambah ilmu tentang:

  • power pumping,
  • cara menghitung kebutuhan ASIP,
  • cara menyimpan ASIP,
  • metode pemerahan ASI,
  • peralatan terkait ASIP.

Ilmu ini sebaiknya sudah dimiliki jauh-jauh hari ya, supaya setelah persalinan, Ibu bisa lebih tenang menghadapi tantangan yang dihadapi yang mungkin gampang-gampang susah.

Kalau terkait MPASI, pengalaman sebelumnya saya cukup lancar. Pembelajaran yang saya lakukan adalah membaca-baca lagi jurnal dan buku terkait MPASI untuk updating ilmu. Saya juga mengikuti talkshow-talkshow Kemenkes melalui media online seperti video anjuran memberikan menu mengandung Ikan sebagai pencegahan stunting berikut:

Sumber: www.sehatnegeriku.kemenkes.go.id. Website ini cukup banyak menyediakan informasi terkait sosialisasi-sosialisasi yang dilakukan oleh Kemenkes dan relatif mudah saya tonton, baca dan nikmati informasinya.

Sekian sharing dari saya tentang bagaimana saya mempersiapkan kehamilan sebagai cara pencegahan stunting. Semoga sharing kali ini bermanfaat ya! Salam sayang….

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Michiyo Ramen Halal Enaaaaakkkk!

michiyo ramen halal mentah

Sssssssslrrrp! Yum! Saat cuaca dingin, terbayang akan sangat menyenangkan bisa menyeruput semangkok ramen halal dalam kaldu tulang yang pekat, sebagaimana penyajian ramen pada umumnya. Namun, beberapa waktu lalu saya sempat menyicipi bentuk lain ramen yang disajikan tanpa kuah. Ya, seperti tsukemen. Dan rasanya tak kalah nikmat….

michiyo ramen halal

michiyo ramen halal indonesia

Tsukemen-alike-ramen ini saya buat sendiri lo, menggunakan fresh noodle siap saji merk Michiyo Ramen. Sempat tidak menyangka kalau rasanya akan senikmat ini. Karena mengenal produk ini sebagai alternatif ramen halal yang sehat, saya cenderung suudzon. Ah, biasanya yang sehat-sehat mah nggak enak. Namun ternyata perkiraan saya salah. Michiyo Ramen memenuhi ketiga harapan saya: halal, sehat dan enak. Tambah satu poin plus: praktis.

Di awal tadi, saya menyebutnya sebagai ramen halal yang mirip tsukemen. Karena penyajiannya yang tanpa kuah, namun ditemani topping saus kental. Sebuah perpaduan yang nyaman untuk dinikmati di negara tropis seperti Indonesia. Varian Chicken Teriyaki yang akan saya review lebih lanjut telah mendapat serifikasi halal dengan nomor sertifikasi 00090012840700. Oiya, kehalalannya TIDAK HANYA dari sisi bahan baku, namun juga maupun kebersihan proses, lingkungan serta cara pemrosesannya.

Selain Chicken Teriyaki, ada tiga varian saus lain dari Michiyo Ramen ini: Beef Teriyaki, Beef Bolognese dan Chicken Mushroom.

Penyebutannya sebagai fresh noodle merujuk pada bagaimana produk ini diproduksi, yang membedakannya dengan mie instant biasa. Pembedanya adalah produk ini tidak melalui proses penggorengan. Penghilangan proses penggorengan ini menghasilkan ramen yang bebas lemak trans. Hal ini terlihat dari bentuk ramennya sendiri (saat mentah) yang tidak kaku seperti mie instant dan cenderung lentur seperti mie homemade, namun lebih kering. Tentunya hal ini adalah kabar gembira yaaaaa…. Jadi bisa makan tidak se-was-was kalau makan mie instant yang mengandung lemak trans.

michiyo 4 varian

michiyo ramen halal ingredients

Klaim “lebih sehat dari mie instant biasa” juga ditambah dengan fakta bahwa produk mie ini tidak menambahkan bahan pengawet. Proses untuk menghindarkan produk ini dari kerusakan dilakukan dengan teknologi sterilisasi 120 derajat celcius selama 15 menit. Jadi kuman dan bakteri selama sebelum pengepakan dapat mati, dan meminimalisasi potensi kerusakan.

Etapi jangan mentang-mentang zero trans fat dan juga bebas pengawet, trus temen-temen jadi lupa daratan ya, makannya. Hihihi…. segala sesuatu yang berlebihan tentu saja tetap tidak baik, terlebih bagi yang sedang membatasi asupan natrium. Jangan lupa juga untuk menambahkan sayuran, agar asupan makanan kita lebih seimbang.

Penasaran kan penasaran kaaaaannnn? Dari keempat varian, yang mau saya review lebih dalam adalah yang Chicken Teriyaki. Soalnya ini favorit saya, Jepang bangeeeeetttt!

Dalam satu kemasan kita akan mendapatkan: 185 gram ramen, chili powder (saya tidak menggunakannya, hehehe), seasoning powder, soy sauce, seasoning oil, serta wijen bercampur potongan nori. Kemudian dalam alumunium foil terdapat pasta berisi daging ayam (real meat) dalam saus teriyaki.

michiyo ramen halal mentah

michiyo ramen halal bumbu ramen

Untuk mendapatkan kenikmatan yang sempurna (((aseeek))), tentu saja kita harus mengikuti saran penyajiannya ya…. Yang menurut saya paling harus diperhatikan adalah:

1 . Proses perebusan ramen halal.

Rebus air sampai benar-benar mendidih baru masukkan ramennya. Benar-benar mendidih ini maksudnya setelah mendidih, lanjutkan merebus air beberapa saat, agar kuman-kuman betul betul mati. Jangan hanya sampai kemrengseng saja.

Setelah air benar-benar mendidih, masukkan ramen selama dua menit. Biarkan sampai terburai dan lunak seperti gambar di bawah ini. Jangan terlalu lama ya, supaya tekstur kernyalnya tidak rusak.

michiyo ramen halal merebus mie

Dengan tingkat kematangan yang pas, nantinya akan jadi seperti ini:

michiyo ramen halal dengan garpu

Nyam!!!

Kalau diperhatikan lagi, bentuk ramennya tipis seperti spagetti. Rasanya pun beda dengan mie biasa. Menurut saya, ini teksturnya lebih pejal. Bukan alot ya. Kenyal gitu tapi bukan yang menul-menul. Kalau mau cari padanannya mungkin mirip-mirip La Mian Paradise Dynasty ya…. Cuma ini lebih tebal sedikit. If you know i mean.

Kemungkinan yang membuat tekstur dan rasanya berbeda dengan mie biasa adalah adanya bahan tepung kentang sebagai pengganti tapioka. Jadi kenyalnya beda gitu, nggak yang mblenyek kalau kelamaan.

2 . Proses menghangatkan topping.

Saya sempat melakukan kesalahan saat menghangatkan topping. Alih-alih merendamnya dalam air panas. Saya malah merebusnya! Untung saya tungguin, jadi pas kemasannya menggelembung, saya sadar dan mematikan apinya. Setelah saya cek lagi saran penyajiannya, topping dalam kemasan hanya perlu direndam air panas selama dua menit.

Air panasnya bisa menggunakan bekas merebus mie tadi ya…. Jadi praktis dan cepat, tidak perlu ulang rebus air.

michiyo ramen halal cara membuat

Part membuka topping adalah kesukaan sayaaa! Topping ayamnya besar-besar dan rasa sausnya pas. Manis gurih, dan tidak terlalu strong jahenya. Saya suka sekali, rasa toppingnya juga ngeblend dengan potongan nori dan wijen yang membuat rasanya makin Jepang banget.

michiyo ramen halal real meat

Jumlah ayamnya juga so genuine ya. Sebanding dengan harga dan klaim premiumnya. Kalau dari foto pertama tadi agak mumpet-mumpet, niiiiih saya fotoin dari sisi lainnya…. Banyak ya!

michiyo ramen halal dan enak

Produk bisa dibeli online di Tokopedia. Pengalaman saya kemarin beli di Toko Michiyo Ramen. Recommended Seller si, official. Saya pesan jam 12.30, produk sampai di tangan saya jam 19.20 pada hari yang sama. Atau bisa coba kepoin Instagramnya @michiyoramen. Sok buat yang sudah ngiler-ngiler, pesan aja langsung. Harga per bungkusnya Rp 25.000,00.

Setelah nyicip Michiyo Ramen Halal rasa Chicken Teriyaki yang Jepang banget, next target saya si Beef Bolognese ni. Kayanya seru juga tu! Fusion gitu. Ramen Jepang ketemu Italian topping. Saya suda nyetok varian itu dan yang lainnya buat jaga-jaga siapa tahu saya bosen menu hasil meal prep seminggu, atau kalau laper di tengah malam. Hihihi….

Btw, apa ada yang uda nyobain semua varian Michiyo Ramen duluan daripada saya? Sharing dooong di komen pengalamannya!

Terimakasih ya sudah mampir, semoga reviewnya bermanfaat buat teman-teman yang sedang nyari alternatif ramen halal yang lebih sehat daripada mie instant. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Meal Prep Fails dan Lesson Learnnya Selama Sebulan #3 (Tips Menyimpan Sayuran dan Bahan Makanan Lain)

tips menyimpan sayur

Buat yang sering baca blog nyonyamalas (ada nggak ya? ada dong plis plis plis), mustinya uda ngeh ya kalau mulai 14 maret kemarin saya nulis tentang perjalanan saya belajar masak di dapur. Naaaaahhh, sebagai newbie di masalah masak memasak, banyak banget kesalahan yang saya lakukan saat mempersiapkan bahan masakan, seperti saat menyimpan sayuran. Beberapa sudah saya share di artikel sebelumnya:

Pengalaman Meal Prep Minggu I

Pengalaman Meal Prep Minggu II dan III

Padahal sebelum memulai belajar meal prep ini saya juga uda baca-baca duluan pengalaman meal prep orang-orang yang sudah jauh lebih jago. Hehehe, tapi bener kata blog Miun-Miunan, meal prep itu personal banget, harus trial error sendiri biar tahu mana cara yang paling pas sama selera. Oiya, blog apa saja yang saya baca tentang meal prep saya ringkas juga loh di artikel ini: Meal Prep Challenge.

Ternyata saya cukup rajin juga yak, ngeresume dan nyatet-nyatet…. Wkwkwkwk, lama-lama nama ini blog perlu diganti juga nih jadi nyonyarajin. Bwakakakak….

tips menyimpan sayuran

Pada foto diatas tampak kalau meal prep saya campuran ya, antara menyimpan makanan siap saji (kanan atas) berupa ungkepan ayam dan sambal goreng kentang (tidak terlihat ketutupan ungkepan ayam), sayuran yang telah dipotong dan yang masih utuhan. Demikian juga bumbu, saya juga stok bumbu jadi, hehehe dan bumbu yang racikan sendiri (kiri atas, tutup merah). Intinya meal prep wajib sesuai dengan kebutuhan masing-masing ya Nyah….

Oiya, sebelum saya lanjut, saya mau menegaskan kembali kalau yang saya share pengalaman ini bukan berarti saya sudah perfect ya. Tapi kan siapa tahu ada Nyonyah-nyonyah yang kompetensi masaknya dan tingkat kemalasannya juga 11-12 kaya saya, jadi pengalaman (kesalahan-kesalahan) saya pasti bakal berfaedah.

Lets Go!

Tips Menyimpan Bahan Makanan Ala Nyonyamalas:

1 . Menyimpan Sayuran

Sebelumnya saya mencoba untuk menyimpan sayuran di freezer (ngikut-ngikut akun instagram junjungan saya). Ternyata saya dan suami nggak cucok sama tekstur sayuran yang sebelumnya telah beku. Jadi kami banting setir untuk menyimpannya dalam keadaan mentah.

Biasanya saya akan menyimpannya dalam keadaan sudah dipetik (untuk bayam, kangkung dan kacang panjang). Dicuci bersih, dikeringkan dengan salad spinner (akan dibahas lebih lanjut di bawah). Kemudian diletakkan per sayur di wadah kedap udara yang sebelumnya sudah dialasi koran. Kalau saya nggak sempat nyuci sayurnya, saya cuma petikin saja lalu langsung masuk wadah tanpa kena air.

Air bikin cepat busuk btw.

Kalau labu siam saya simpan dalam keadaan utuh. Kentang pernah saya simpan dalam kondisi terpotong dadu dan direndam dalam air, hanya semalam saja, dan esoknya masih bagus. Kurang tahu kalau lebih dari itu.

Yang saya belum berhasil simpan adalah kemangi. Entah kenapa selalu berakhir layu.

2 . Menyimpan Daging

Saya simpan daging mentah di chiller dalam kondisi sudah dalam potongan sesuai dengan masakan yang direncanakan. Biasanya saya nggak cuci dulu dagingnya sebelum masuk chiller. Baru akan saya cuci saat mau dimasak. Pastikan saat memotong daging, tangan dalam keadaan bersih.

Namun, kalau saya mau masak soto atau sop iga, biasanya saya akan simpan daging dalam kondisi sudah direbus. Tujuannya biar empuk dulu dan ada kaldunya.

3 . Menyimpan Kaldu

Pengalaman yang lalu menyimpan kaldu, baik kaldu udang, kaldu sapi maupun kaldu ayam, di kulkas bawah tidak bisa lebih dari 2-3 hari. Kalau mau menyimpan lebih dari itu, sebaiknya di freezer alias dibekukan. Baca-baca si katanya bisa sampai berbulan-bulan.

4 . Menyimpan Tempe

Saya pernah zonk nyimpen tempe ni, jadi busuk. Akhirnya kalau saya mau simpan lebih dari tiga hari, tempenya saya ungkep dulu, biar nggak cepat busuk.

tips menyimpan bahan makanan

Tips Mempersingkat Waktu Meal Prep

1 . Buat menu mingguan dan daftar belanjaan.

Membuat menu mingguan akan mempermudah pembuatan list belanjaan. List belanjaan akan membuat waktu belanja jadi lebih cepat. Soalnya nggak pakai muter-muter dulu. Sampai ke supermarker/ pasar uda langsung tahu apa yang mau dibeli, jadi cak cek cak cek. Kelar.

2 . Petik sayuran/ potong daging setelah beli, simpan per porsi.

Segera setelah pulang belanja, petik semua sayuran/ potong daging dan simpan. Jadi langsung ringkes. Soalnya kalau sempat masuk kulkas dulu, keburu mager. Kalau sayuran sudah dalam keadaan terpotong-potong, dan daging-dagingan juga sudah terpotong simpan terpisah dalam jumlah sekali masak.

Tips menyimpan sayuran dengan jumlah per satuan masak ini untuk menghindari proses defrost yangg tidak perlu dari daging-dagingan (kalau disimpan dalam freezer). Selain itu juga menghindari porsi lain terlalu sering “kena tangan”. Karena kena tangan artinya potensi terkena bakteri lagi.

3 . Keringkan sayuran dengan salad spinner sebelum masuk kulkas.

Penyimpanan sayur (dedaunan) harus dalam keadaan sekering mungkin. Kalau tidak mungkin kering 100% ya nggak papa sih, yang penting tidak dalah kondisi basah terendam. Nah kadang proses pengeringan ini perlu waktu. Kemarin saya sempat beli salad spinner, pas Ikea lagi diskon, dan lumayan membantu mempercepat proses pengeringan ini.

Jadi sayurannya kaya diputer gitu. Bayangin aja pakaian kita di mesin pengeringan baju. Kan diputer jadi airnya muncrat-muncrat dan sayurnya kering. Tapi karena ada di dalam baskom jadi muncratnya nggak kemana-mana. Duh, jelasinnya gimana yak…. Wkwkwk…. Bentuk alatnya seperti ini:

salad spinner ikea

Alat ini opsional aja si, nggak harus punya. Saya sharing di sini biar jadi tambahan wawasan aja.

Kalau nggak mau ribet ngeringin, ya nggak perlu dicuci dulu. Petik dalam kondisi kering dan langsung masuk wadah. Nyucinya pas mau masak. Kelar.

4 . Buat ungkepan secara maraton.

Ini kalau nggak salah aku dapat tipsnya dari mbak Ega Dioni yang tinggal di luar Indonesia. Jadi karena bumbu di negara tempat tinggalnya mahal, jadi dia pakai bumbu ungkep untuk beberapa kali pakai. Eh ternyata ungkepan terkahir malah jadi tambah sedap karena sudah nyampur sama kaldu-kaldu daging sebelumnya.

Biasanya saya ungkep ayam kemudian sisa bumbu ungkepan ayam sebelumnya saya pakai untuk ungkep tempe. Oiya, jangan ulangi kesalahan saya ya…. Saya pernah maraton ungkep dengan melibatkan jeroan dan urutannya salah. Saya ungkep ayam – jeroan baru tempe. Jadideh, tempenya ikut bau ati ampela. Wkwkwkwk…. Lesson learnya, kalau mau ungkep jeroan juga, sebaiknya jeroan diungkep di kloter terakhir.

5 . Simpan Bumbu

Sebenarnya ini masih pro kontra ya: nyimpan bawang yang sudah dikupas. Karena ada yang bilang kalau para bawang ini akan menyerap bakteri. Nggak tau benar atau salah. Tapi kalau mengabaikan pro kontra tersebut, menyimpan bawang yang sudah dikupas itu beneran menyingkat waktu masak di pagi hari. Karena nggak perlu ngupas-ngupas lagi.

Yang pasti, simpannya di wadah yang tertutup rapat ya…. Saya biasanya gitu untuk meminimalisasi ketakutan saya atas pro kontra di atas.

Selain menyimpan bawang saya juga menyimpan bumbu jadi hehehe. Merknya BMM alias Bumbu Masak Machmudah. Bumbu ini tu produksi UKM di sekitar Surabaya gitu. Kayanya saya belum pernah lihat di daerah Jawa Tengah atau Jakarta. Tapi yang pernah nemu, komen yak…. Bumbu ini kalau di kulkas awet beberapa hari aja. Tidak seperti bumbu jadi pabrikan. So saya biasanya beli untuk seminggu dan simpan benar-benar di kulkas. Kalau wadahnya menggembung tandanya sudah tidak bisa dipakai lagi.

Sekiaaaaaan tips ala-ala dari saya…. 🙂

Buat Nyonyah-nyonyah yang mau ikutan ngasih tips boleh juga lo, tinggalin tipsnya di bagian komen. Terimakasih sudah mampir. Salam sayang!

🙂

tips menyimpan sayur

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Pengalaman Meal Prep Minggu Ke 2 dan 3 #2

meal prep minggu 2 dan 3

Edisi rapelan cerita pengalaman meal prep di minggu ke dua dan tiga ini yaaaa…. Dimulai dar ngecek Lesson Learn minggu pertama yaaa…..

Related post: Pengalaman Meal Prep Minggu Pertama

Yang uda dijalankan:

  • Berhubung minggu pertama saya nyoba menyimpan sayuran di frezeer, dan ternyata bikin teksturnya nggak cucok (buat kami), akhirnya minggu ini saya balik seperti dulu kala. Nyimpan sayuran di kulkas bawah. Sayuran saya potong-potong tanpa dicuci kemudian di masukkan ke dalam wadah. Dasar wadah dilapis kertas (saya pakai koran bekas). Kertas tersebut gunanya untuk menyerap kelebihan air, supaya sayuran tidak cepat busuk.

sayur

  • Minggu pertama saya baru ngeh kalau buah yang kami konsumsi sedikit sekali: hanya pisang dan pepaya. Di minggu kedua dan ketiga, kami nambah alpukat, buah naga dan belimbing.
  • Biar nggak selalu tergantung dengan Bumbu Masak Machmudah, saya mencoba masak resep baru pakai bumbu bikin sendiri. Jangan tanya rasanya yaaa….
  • Beli daging yang sudah potongan sesuai masakan (saya belanja di Superindo, beli daging sapi untuk sop buat masak rawon dan krengseng), jadi waktu meal-prepnya lebih singkat.

tempe

Dari Lesson Learn minggu pertama, yang belum berhasil dijalankan adalah: belanjanya nggak pagi. Minggu kedua belanjanya malem, karena habis keluar kota. Minggu ketiga menjelang sore. Jadi meal prepnya tertunda tunda. Mangkanya ga pernah ada foto yang kece kaya kaya di instagram instagram. Wkwkwkwk….

Dikomplain Suami

Oiya….. Di minggu 2 dan 3 ini saya terima komplain dari suami, karena perpaduan menu serta pengolahan sayur yang kurang oke. Hehehe…. Iya si, soalnya kan saya fokus sama apa yang bisa saya masak aja. Jadi keseringan tumis brokoli. 😛

Sebenernya komplain ini dilakukan beberapa kali. Saya jadi sempat ngambek dan mogok masak gegara dikomplain mulu. Nyonyah kan haus apresiasi. Puji dikit kek, biar tetap semangat menghadapi kehidupan. Saya beneran ngambek tauk. Saya chat suami. “Mbok ya pelan-pelan menghadapi masakan saya yang ya gitu gitu aja. Sabar, gitu. Wong dari skala minus, jadi kaya sekarang aja uda lumayan banget progressnya.”

Gitu. Pokoknya kalau ada uneg-uneg mending disampaikan to the point. Laki-laki mah kaga ngarti kalau kita cuma ngambek.

Tapi, sebenernya suami saya juga bukan tipe yang jarang muji. Tapi dia jujur. Kalau enak dibilang enak. Walaupun dia tau enaknya karena bumbu racikan serbaguna sekalipun, akan tetap dia puji. Tapi kalau kagak enak ya dibilang juga “kagak enak”. Dan jujurnya suka brutal. Sadis pisan, kata Afgan.

#LahMalahCurhat

kwetiau

Bikin Menu Kesukaan Semua

Trus akhirnya saya melakukan langkah berikut untuk memperbaiki keadaan sekaligus skill dapur saya. Mungkin langkah-langkah yang saya lakukan bakal bermanfaat juga buat teman-teman ya….

  1. Bikin list lauk sebanyak-banyaknya. Lalu beri keterangan mana yang saya bisa bikin bumbunya from scratch, mana yang mau pakai bumbu jadi (Bumbu Jadi Machmudah Oye!) dan mana yang harus nyari resep dulu.
  2. Bikin list sayur.
  3. Ngobrol sama suami/ anggota keluarga untuk menentukan mana yang mereka suka. Saya bersyukurnya selera Gayatri mirip sama Bapaknya ya. Jadi saya masak satu menu keluarga untuk semua.
  4. Bikin menu mingguan dengan mix antara poin 1 dan 2. Misal: Udang Saus Padang dan Tumis Kangkung, Krengseng Daging Sapi dan Bening Bayam, Sop Kacang Merah Iga dan Tempe Garit, Lodeh dan Ayam Goreng, Rawon dan Telur Asin.
  5. Nyetok resep terkait step nomor 2.

Yang poin 5 ini optional ya. Khususon buat saya soalnya memang belum bisa inget semua resep masakan. Dan kadang kalau harus googling dulu on the spot, malah jadi boros waktu. Apa lagi kalau ternyata bumbunya ada yang nggak ready di dapur. Endingnya gagal masak maning.

Di minggu kedua dan ketiga ini, ada dua resep baru yang saya coba masak from scratch alias kagak pake bumbu jadi: 1) udang saus padang dan 2) gulai cumi. Yang udang saus padangnya sukses. Yang gulai cumi, biasa aja. Geje rasanya, tapi masih dalam kadar bisa dimakan.

udang

Untuk resep, saya seringnya mengacu ke blognya mbak endang: justtryandtaste. Kadang juga lihat ke cookpad sebagai pembanding.

Meal Prep Memudahkan Evaluasi Gizi

Membuat menu selain memudahkan kita dalam memasak selama seminggu, juga memudahkan kita mengevaluasi gizi yang dikonsumsi keluarga. Seperti minggu lalu saya ngehnya kami kurang buah ya karena meal prep ini.

buah

Kemudian di akhir minggu 3, suami mengeluh lehernya kenceng. Biasanya hal itu terjadi kalau kolesterolnya naik. E bener setelah dicek menu kami memang kebanyakan bersantan, jeroan belum lagi ada udang dan cumi.

Mengolah Udang dan Cumi

Kalau untuk pengolahan bahan makanan hampir sama dengan minggu lalu. Cuma ketambahan udang sama cumi. Berikut beberapa hal yang saya pelajari tentang menyimpan dua bahan ini:

1 ) Udang

Kulit dan kepalanya enak banget dibikin kaldu. Cuma saya lebih suka tidak mengupas udang, kalau masakannya memungkinkan biar daging udangnya tetap juicy. Jadi kepalanya biasanya saya potek sedikit lalu saya bersihkan kotorannya, sambil dijaga agar kepalanya tidak copot. Antenanya saya potong.

2 ) Cumi

Sebagai orang yang nenek moyangnya (literally) pelaut. Saya lumayan bisa lo makan bersihin seafood. Tipsnya adalah: memakai asam jawa. Serius, asam jawa lebih nampol dalam membersihkan cumi. Bau amisnya ilang. Sedep dehhh. Caranya remas-remas cumi dengan air asam jawa + garam, lalu bilas.

cumi

Karena saya mau masak gulai maka bagian yang harus dibuang dari cumi adalah: tulang yang seperti plastik bening, ujung mulutnya yang kaya batu, kulit arinya dan tinta. Hmmmm, sebenarnya tinta tu bikin enak ya. Tapi nggak cucok aja kalau masak gulai, tinta cuminya nggak dibuang.

Continuous Improvement

Minggu keempat adalah minggu terakhir challenge ini ya…. Meal prepnya si bakalan lanjut, cuma mungkin nggak rutin saya update di blog. Takut pada bosen. Hihihi…. Untuk minggu keempat, perbaikan yang pengen saya lakukan adallah sbb:

  1. Belanja lebih pagi!
  2. Belajar bikin snack sebagai gimmick.
  3. Saya pengen punya buku catatan menu. Selama ini soalnya saya bikin di kertas asal-asalan. Biasanya si di buku gambarnya Gayatri. Soalnya kan nyusun menunya sambil nungguin Gayatri main. Cuma saya mikirnya buat lain waktu kan bisa dipakai lagi (berulang menunya).

Tiga itu aja PR yang buat minggu depan…. Doain istiqomah ya Nyaaaahhhh….

meal prep minggu 2 dan 3

Thankyuuu uda mampir. Yuk ayuk cerita siapa yang juga lagi belajar masak ata meal preeeeeep??? Share di comment section yaaa…. Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!