Tentang Bertahan dan Membagi Waktu

membagi waktu

Karena postingan sebelumnya yang membahas kondisi LDM saya dan suami, banyak yang bilang kalau saya itu wanita tegar. Aseek. Jauh dari suami, sama bayi, nggak punya pengasuh plus kerja 8-5 daaaan masih sempet ngeblog pula. Hihihi terkesan saya supermom yang jago membagi waktu ya, padahal ya kagak…..

Beneran kagak. Kira-kira ya begini prinsip saya saya untuk bertahan hidup sehari-hari….

Tentang Prioritas dan Hidup yang Sederhana

Ketika menyadari saya akan LDM, saya buang jauh-jauh dah segala impian kesempurnaan dalam detail kehidupan. Saya berusaha untuk hidup yang lebih sederhana.

Hidup yang sederhana di sini maksud saya bukan hidup hemat ya. Tapi hidup yang ringkes gitu. Yang nggak banyak mau. Yang nggak mempertanyakan banyak hal. Yang nggak membaperkan hal-hal yang nggak esensi. Jadi energinya nggak terkuras karena terdistribusi untuk hal-hal yang nggak penting.

Prioritas kami adalah kami bertahan.

Prioritas tersebut proxy-nya tiga: kami sehat, kami rukun dan pekerjaan selesai. Untuk itu, sebagian besar waktu saya alokasikan untuk ketiga hal tersebut.

Ada garis bekas setrikaan di celana panjang? Ga masalah.

Kabar Andien jadi Inspiring Mom versi majalah online? I dont care.

¬†Atta Halilintar bikin prank settingan???? Apalagiii! Hihihi….

Saya tahu, beberapa bulan ini saya tidak banyak melakukan progress. Tapi setidaknya saya bertahan dengan baik. Akan ada waktunya saya meningkatkan apa yang saya dapatkan hari ini. Namun itu belumlah prioritas, setidaknya untuk saat ini.

Tentang Multitasking

Bagaimana membagi waktu? Saya cuma bisa bilang kalau saya tidak membagi waktu saya dengan jam segini harus ini, jam segitu harus begitu. Tidak demikian.

Saya cuma fokus pada menyelesaikan satu pekerjaan lalu berganti ke tugas yang lain. Satu satu dan fokus. Konsentrasi pada satu hal. Baru berpindah ke hal lain.

Karena saya tidak bisa multitasking. #sadardiri

Godaan untuk nyambi nyambi besar. Tapi biasanya bukannya mempercepat pekerjaan, malah memperkeruh keadaan. Atau mungkin karena saya saja ya yang tidak bisa multitasking ya, hehehe. Saya pernah menulis tentang multitasking ini di: Multitasking, Yay or Nay.

Tentang Support System

Bagaimana mengasuh dan mendidik anak saat bekerja?

Kalau pas saya kerja ya daycare menjadi tumpuan. Oleh karena itu memilih daycare yang tepat adalah kunci. Banyak poin yang perlu diperhatikan saat memilih daycare, saya pernah cerita di Akhirnya Gayatri Memilih Daycare.

Yang mau saya soroti lebih adalah tentang pola pengasuhan. Titik krusialnya adalah kesepahaman antara daycare dan orang tua tentang pola asuh seperti apa yang akan diterapkan.

*adow berat anet bahasa eike

membagi waktu

Saya mau cerita pengalaman sedikit buat gambaran:

Beberapa hari lalu, Aunty daycare sempat chat saya tentang beberapa perubahan perilaku Gayatri menjelang usia 2 tahun. Sering dibilang Terible Two ya…. Via chat dan ketemu langsung di kemudian hari, kami membahas hal tersebut. Ada beberapa poin yang kami sepakati untuk sama-sama diterapkan baik di daycare maupun di rumah kos secara konsisten.

Sebaliknya, beberapa bulan lalu saat saya ngeh Gayatri sudah bisa bilang “eek”, saya tak lupa mengajak pihak daycare untuk diskusi tentang toilet training. Supaya ya, sama perlakuannya gitu. Jangan sampai di rumah kalau dia bilang “eek” kita ngacir ke toilet, sementara di daycare enggak. Kan bubrah tu settingan bocah.

setrong

Kalau Gayatri sedang sakit dan tidak bisa daycare, saya otomatis wajib izin kantor untuk bersama Gayatri. Hal ini tidak bisa ditawar karena mau siapa lagi cobak yang mengasuhnya? Tentu saja, pihak kantor (atasan) juga harus sudah mengerti kondisi ini.

Tentang Ngeblog

Ini saya bahas tersendiri, karena ngeblog memang punya tempat yang khas. Kalau orang bilang salut saya produktif karena tetep nulis di tengah kondisi saya. Saya bilang malah kebalik.

Ngeblog itu buat saya stress release.

Jadi kalau stress saya nulis, saya malah jadi seger lagi. Walaupun memang tidak bisa seintens saat cuti kemarin, tapi nulis, helps me a lot.

Kapan nulisnya….?

Saya ngedraft mostly di note handphone. Jadi pas bengong di Tranjakarta pun saya bisa nulis.

Tantangan saya ngeblog adalah masalah visual. Karena kalau ngedit gambar harus di laptop, dan pegang laptop saat Gayatri bangun adalah kemustahilan. Jadi kalau saya mau edit gambar ya berarti saya harus merelakan sedikit waktu tidur saya. Kalau saya capek, ya berarti tulisan saya hanya akan parkir di draft.

Thats why, di parkiran saya ada 36 drafts tulisan yang belum di publish. LOL.

Intinya adalah: JANGAN MEMAKSAKAN DIRI.

Kalau memang tidak suka menulis ya jangan ngeblog, lakukan saja hobi yang lain. Apalagi kalau punya kondisi seperti saya. Uda deh, selametin yang pokok aja dulu. Kemudian ambil waktu untuk me-time sesuai preferensi masing-masing. ūüôā

Tentang Alat Bantu

Saya nggak punya alat bantu yang fancy btw buat membagi waktu, hihihi. Alat bantu yang saya punya sederhana sekali, namun menurut saya cukup efektif dan efisien membantu saya menyelesaikan tugas sehari-hari. Nggak perlu fancy kan, yang penting everything is done.

Alat bantu saya tiga hal ini:

  1. Alarm
  2. Kalender Meja
  3. Buku Agenda.

Oiya, tentang Buku Agenda. Jangan bayangin isi agenda saya itu schedule yang rapet pet pet tiap jam ada keterangan aktivitasnya apa. Kagak.

Agenda saya isinya cuma berbentuk  to do list. Bahasa kerennya bujo aliat bulleted journal.

Aslinya mah, cuma catetan kudu nyelesein apa hari itu, trus yang uda dicentang atau dicoret.

Ga pakai acara gambar-gambar cantik. Kagak sempet!

Menyederhanakan Rutinitas:

Selain itu kegiatan lain-lain yang rutin saya sederhanakan. Jadi jadwal rutin itu membuat saya nggak banyak mikir. Laundry 2x seminggu, masukin baju bersih ke daycare juga 2x seminggu. Belanja buah di brambang.com per senin. Belanja stok lauk sebulan sekali di nikaskitchen. Masaknya per batch. Belanja lain-lain sama token listrik di Alfamart deket kosan.

Ga sempet masak? Ya beli, gitu aja kok repot.

Kan balik lagi ke prinsip utama membagi waktu: tau prioritas dan sederhanakan kehidupan.

Itulah ikhtiar kami bertahan hidup.

Urusan gosip Andien (Andien lagiiii!) bawa Kawa naik kapal tanpa pelampung? Itu bukan urusan akoooooh!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

The Moment Being Alone (Cerita Pejuang LDM dan Senjatanya)

Bagi orang yang sudah pernah menjalani momen long distance marriage (LDM) pasti tahu “senjata” apa yang paling ampuh dalam menembus jarak antara mereka. Iya! Alat komunikasi! Orang tua saya dulu juga sempat menjalani LDM. Alat komunikasi mereka jaman dulu: surat! Dikirim via pos yang mungkin baru semingguan sampai.¬†Papa saya kangen hari Senin baru tersampaikan ke Mama saya di hari Jumat.

Dan surat-surat tersebut dilaminating dong sama Mama saya, jadi bukti cinta Papa yang kalau lagi berantem (pas sudah nggak LDM) tu surat-surat sering dikeluarin dan diungkit-ungkit. Papa tengsin, kita (anak-anak)-nya ngempet ketawa mau ngakak. 

hehehe

Terpujilah Martin Cooper! Penemu handphone, yang mana kini makin canggih sehingga  membuat hidup saya sebagai pejuang LDM lebih mudah, lebih ringan tekanan kangennya dan lebih produktif.

Yah memang si, bukan berarti semua masalah menghilang. Ada beberapa momen dimana kami tetap harus menghadapi tantangan. Saya yakin momen-momen menantang ini juga dialami oleh sebagian besar Pejuang LDM lainnya….¬†So siapin tisu ama cemilan ya…. Saya mau tjoerhaaaatttt…..

The Moment Being Alone

Foto-foto di bawah adalah momen-momen Suami mengantarkan kami ke Jakarta. Syahdu, haru berkecamuk menjadi satu….

gayatri dan bapak

gayatri dan bapak 2

gayatri dan bapak 3

1 . Kehilangan Sosok Seorang Ayah

“Bapaaqq,” seru Gayatri sambil tangannya menunjuk nunjuk ke arah halaman kosan. Saat itu sekitar pukul 23.00, malam pertama kami (saya dan Gayatri) menginap di kos. Bapaknya ada di Surabaya. Cukup lama saya mencoba menjelaskan pada Gayatri jika Bapaknya tidak di halaman. Tidak bersama kami lagi.

Gayatri tidak mengerti. Usianya baru setahun lebih beberapa bulan. Sulit baginya memahami konsep ada dan tiada. Buat dia, tidak kelihatan berarti tidak ada. Dan itu membuatnya sedih. Dia mulai menangis….

hiks

“Oke,” pikir saya saat itu. Sebenarnya terbersit kekawatiran akan keamanan kami, namun, saya pikir ini momen yang penting bagi Gayatri untuk memahami kondisi kami. Jadilah saya menggendong Gayatri tengah malam buta. Mencari Bapaknya di halaman kosan. Tak menemukan Bapaknya, Gayatri mengajak saya keluar pagar. Kemudian saya ajak dia keluar. Saya ajak dia berjalan berputar-putar dekat pos satpam. Sampai akhirnya dia lelah, dan kemudian tertidur di gendongan saya.

Keesokan harinya, saya mulai membiasakan Gayatri “bertemu” Bapak melalui layar.

1 ) Video Call

Video call adalah salah satu cara yang paling efisien mempertemukan muka dua orang berjarak jauh secara real time. Namun, naas, ternyata posisi kamar saya yang seperti bunker, di lantai paling bawah gedung 2,5 lantai, membuat sinyal sulit sekali lancar. Putus nyambung seperti lagu BBB. Untung saya punya mifi kan. Saya pasang dah tu mifi di lubang angin jendela. Yah membaik si…. Tapi ya masih begini ni kira-kira hasil gambarnya:

video call bapakBluuurrrr…. Perpaduan antara sinyal yang tak bersahabat dengan kamera depan yang seadanya. Wkwkwk….¬†Tapi ya lumayan lah, sekarang kalau Gayatri dan suami uda biasa video call melepas kangen. Hanya kalau kamera depan dan tekhnologi penangkap sinyalnya lebih baik, tentu video call dapat dilakukan lebih nyaman.

2 ) Rajin Kirim Foto Update

Setiap hari pun saya sering mengirimkan foto-foto kelakuan bocah yang happy dan lucu itu ke suami untuk meminimalisasi rasa kawatirnya atas keadaan kami yang jauh. Saking seringnya saya mendokumentasikan aktivitas sehari-hari, handphone saya sampai ngehang-ngehang karena storagenya kecil. Akhirnya setiap take foto, setelah kirim, biasanya langsung saya hapus dari storage. Hmmmm…. sepertinya saya perlu ganti gadget #kode wkwkwk….

2 . Keamanan dan Keselamatan

Dua hal yang kami putuskan saat saya kembali bekerja di Jakarta adalah 1) daycare dan 2) kosan. Dua hal ini terkait keamanan dan keselamatan kami.

1 ) Daycare

Kami memilih daycare terdekat dengan kantor saya, selain karena maslah jarak juga karena daycare tersebut komunikatif sekali dengan orang tua. Jadi kalaupun saya antar dalam kondisi kurang enak badan, pengawasannya bagus, dan setiap kali saya tanya responnya cepat.

Selain itu, daycare Gayatri juga menyiapkan fasilitas CCTV yang bisa orang tua akses langsung lewat gadget. Sayangnyaaaaaa…. Lagi-lagi karena storage handphone saya yang ala kadarnya, saya jadi tidak bisa instal aplikasi untuk akses CCTV ituuuu di HP. Hiks…. Jadi yang memantau adalah si Bapak….

CCTV daycare

2 ) Kosan

Banyak yang bertanya mengapa kami memilih untuk menyewa kosan dibandingkan sewa rumah saja. Alasan kami yang terutama adalah karena serem saja si kalau tinggal di rumah hanya berdua dengan Gayatri. Setidaknya kalau di kos kan ada Bapak dan Ibu Kos serta Teman-teman Kos. Jadi kalau saya sakit, ada yang bisa dimintai bantuan. Atau kalau amit-amit ada kriminalitas, kami bisa saling mengamankan.

3 . Produktivitas

Ada yang sempat DM saya tentang akhir-akhir ini saya jarang update blog. Yaiyalah, kan saya prioritas kerja di kantor. Sampai di rumah megang bocah. Sebenarnya si draft tulisan banyaaaak pisan, ada 36 draft yang siap rilis tapi mangkrak. Bisa sebanyak itu draftnya karena selama perjalanan dari dan ke kantor biasanya saya ngetik di note handphone. Yang bikin saya nggak posting draft tersebut karena nggak sempat edit visualnya.

Saya tahu si kalau sebenarnya beberapa aplikasi grafis online bisa diakses melalui handphone. Tapiiiiii….

Hahaha…. Pasti bisa nebak kan ya…. Betuuul! Lagi-lagi karena handphone saya tidak mumpuni, hiks….

Tantangan-tantangan di atas, awalnya membuat saya yang tipikal “istri manja” ini stres. Sempat mengalami insomnia, mood swing, berat badan naik turun dan siklus menstruasi jadi tidak teratur. Namun seiring berjalannya waktu, kami mulai bisa melihat hikmah dibalik tantangan LDM ini.

Best Moment of Being Alone

Momen LDM ini menjadi salah satu best momen dalam pernikahan kami. Ya, best momen yang tidak indah memang. Tapi best momen yang mengajarkan kami beberapa hal penting dan mendasar dalam pernikahan:

1 . Best Moment: Kesederhanaan dan Perjuangan

Seperti sempat saya sebut di atas, jujur, saya bukan perempuan yang tegar. Nama blog ini mungkin cukup menggambarkan seperti apa saya. Malas. Atau mungkin lebih tepatnya manja. Tak pernah hidup bergelimang harta, namun orang tua saya tak pernah membuat saya menderita. Sepertinya selama ini apa yang saya butuhkan selalu terpenuhi.

Mungkin karena itu di antara saya dan suami, momen LDM mempengaruhi lebih banyak ke karakter saya. Saya ditantang untuk menjadi lebih mandiri. Membiasakan diri mengasuh dan memelihara Gayatri sendiri. Mengatur support system kami dengan lebih teliti karena tiada suami yang akan mengecek “bagian” saya lagi.

setrong

Pun, berjuang hidup lebih sederhana. Agar kami dapat bertemu setidaknya dua minggu sekali. Wkwkwk, tiket pesawat pp-nya aja bisa nembus 2 jeti, book, wkwkwk. Namun kami rela.

Berkaitan dengan itu, keinginan membeli gadget demi menghadapi ketiga tantangan sebelumnya pun saya tekan kuat-kuat. Tabungan kami makin menipis walaupun kami sudah berusaha berhemat. Makanya saya seneng banget waktu di blognya, sujiwo.com, Mbak Pungky dan suami bikin giveaway handphone yang spec-nya sesuai banget sesuai harapan saya. Nanti saya bahas di bawah ya. Sekarang lanjut curhat lagi….

2 . Best Moment: Penghargaan atas Kehadiran

Saya jadi menyadari bertapa berharganya kehadiran suami saya. Yang biasanya saya take it for granted. Saya rindu pada guyonan recehnya yang selalu berhasil membuat saya tertawa. Saya rindu pada teguran-teguran tajamnya, yang biasanya benar. Saya rindu pada kehadirannya. Hanya dengan hadir saja, dia bisa membuat suasana berbeda.

Saya yakin suami saya pun merasakan hal yang sama.

Berikut adalah foto-foto di tanggal 5 Mei 2018, momen di saat suami saya mengantarkan saya dan Gayatri di kosan baru. Momen perpisahan pertama kami setelah menikah:

gayatri dan kos

gayatri dan kos 4

gayatri dan kos 3

Saya menyebutkan dua best momen di atas bukan sedang sugar coating ya. Saya tidak mau meromantisasi perpisahan kami. Saya akui kalau LDM itu berat sebagaimana tantangan yang saya ceritakan di awal, dan punya banyak konsekuensi dalam kehidupan kami. Saya tidak merekomendasikan untuk melakukan hal ini, karena LDM memang bukan hal yang ideal terjadi dalam kehidupan rumah tangga.

Namun apabila itu harus terjadi, berjuanglah. Dan carilah hal-hal yang bisa memudahkan perjuangan.

Pejuang LDM dan Senjatanya

Saat saya membaca sekilas blog Mbak Pungky dan suaminya, awalnya saya tidak terlalu tertarik untuk ikut giveaway yang sedang mereka jalankan. Namun setelah saya membaca-baca lagi tentang hadiah yang ditawarkan, saya menjadi semangat banget. Bagaimana tidak, sepertinya inilah cara supaya saya bisa mendapatkan ‚Äúsenjata‚ÄĚ yang lebih yahud menghadapi momen LDM ini: HUAWEI Nova 3i!

huawei nova 3i camera

Mungkin bagi teman-teman yang sedang mencari handphone juga, saya mau sharing spec-nya:

  1. Konektivitas yang Kuat

Konektivitas Huawei Nova 3i didukung fitur canggih:

  • fitur EMUI 8.2 alias¬†elevator modeyang dapat mengoptimalkan kinerja jaringan dan memulihkan sinyal 4G secara cepat,
  • fitur Huawei GEO 1.5 yang memungkinkan pengguna mendapatkan layanan meski di tempat tertutup, nah, pas banget kan handphone ini untuk mengatasi tantangan sinyal di kama saya yang seperti bunker itu‚Ķ.
  • fitur AI Noise Removal yang dapat menganalisis suara sehingga dapat meningkatkan kualitas telepon (call maupun video call) seperti meminimalisasi suara background yang berisik atau malah memperjelas suara rendah yang teridentifikasi sebagai suara kita. Canggih ya‚Ķ.

konektivitas huawei nova

2 . Prosesor Grafis yang Mumpuni

HUAWEI nova 3i mengadopsi tekhnologi grafis yang keren banget:

  • Kirin 710 berteknologi 12 nm, HUAWEI nova 3i yang memberikan hasil responsif yang halus, serta pengalaman bermain yang imersif dengan ISP (prosesor sinyal gambar) independen dan DSP (prosesor sinyal digital).
  • Diperkuat dengan GPU Turbo (graphic processing unit) yang pada akhirnya bakal memberikan pengalaman lebih baik dalam memakai smartphone, termasuk ketika menjalankan game kelas berat.¬†GPU Turbo yang ada di smartphone Huawei akan meningkatkan efisiensi pemrosesan grafis sebesar 60 persen sekaligus mengurangi konsumsi energi SoC (System on Chip) sebesar 30 persen yang berarti akan bikin baterai lebih hemat. Semua proses memaksimalkan kinerja ini dilakukan secara legal di smartphone Huawei yang berarti tidak akan merusak perangkat dan garansi.

Kedua tekhnologi di atas akan menjadi favorit bagi para gamer pengguna handphone. Namun bagi saya, yang tidak suka main game pun akan bermanfaat karena bisa jadi senjata pendukung produktivitas saya dalam hal editing grafis materi-materi blog.

  1. Kamera dengan Artificial Inteligent (AI)

Memiliki kamera yang diperkuat AI yang membuat hasil foto yangmemiliki kejernihan yang tinggi dan juga bisa untuk efek bokeh yang profesional karena punya aperture f/2.2 di kamera belakang. Kece kan. Kamera depan: kamera AI 24 MP + 2 MP. Kamera belakang: kamera AI 16 MP + 2 MP.

Dengan fitur 16X Super Slow Motion pengguna juga bisa merekam gerakan super detail dalam rekam lambat yang dramatis. Kebayangnya si ngerekam video Gayatri pertama kali terjun ke kolam renang, atau permainan gelembung sabun bakal jadi ekstra menarik dan berkesan.

Saya juga tidak perlu kawatir ribet dengan pengaturannya, karena dengan artificial inteligent HUAWEI nova 3i mampu merekognisi 22 kategori pengaturan settingan momen, sebagai berikut:

huawei camera ai

Oiya, dengan adanya kamera yang mumpuni di handphone, saya juga dimudahkan karena pirantinya jadi ringkas dan ringan.

Selama ini, kalau saya sedang ada job review produk, saya akan menenteng kamera mirrorless saya plus tripod yang segede gaban. Agak repot ya, mengingat saya masih harus menggendong Gayatri juga. Kalau punya gadget ini, saya nggak perlu lagi menenteng kamera mirrorless dan tripod yang besar, saya tinggal bawa HUAWEI nova 3i dan monopod/ tongsis kemudian pengambilan gambar bisa dengan remote atau timer.

Selain mendukung produktivitas, adanya kamera depan dan belakang yang berkualitas di handphone juga akan membantu saya capturing aktivitas sehari-hari yang kemudian saya kirim ke suami saya tanpa takut kehilangan momen penting.

  1. Storage

Tebak berapa besar storage yang dimiliki oleh Huawei nova 3i? 128 GB!!!! Paling besar di kelas smartphone mid-end saat ini. Dengan storage sebesar itu, mau ambil foto sebanyak apapun dan video sesering apapun, saya tak perlu sering-sering menghapusi gambar.

Selain itu, saya pun jadi bisa menginstal lebih banyak aplikasi pengolah gambar, infografis dan video di handphone. Dan bisa mengerjakannya selama saya duduk di Transjakarta pulang pergi ngantor. Asyik banget kan! Tak perlu lagi mengorbankan waktu tidur saya atau waktu bermain saya dengan Gayatri.

  1. Desain yang Fungsional Sekaligus Menarik

Senjata yang mumpuni ini juga punya tampang yang kece dengan tiga pilihan Black, Iris Purple dan Camaro. Ketiganya sama kecenya si…. Kalau ukurannya sendiri layar 6,3 inch FHD+ (2340 x 1080). Cukup besar untuk mengerjakan beberapa pekerjaan, namun cukup ringkas untuk masuk di kantong ataupun pouch.

huawei nova 3i

Spesifikasi lebih detailnya bisa diintip di web HUAWEI ya…. di Spesifikasi HUAWEI Nova 3i.

Sekian curhat tentang Best Momen saat menjalani Long Distance Marriage dengan suami. Semoga sharing kali ini bisa memberikan sudut pandang lain gitu, biar para pejuang LDM tidak melulu galau. Tapi tambah semangat mencari solusi dan “senjata” yang mempermudah kehidupan mereka.

Semangaaaat semuanyaaa!!!!

‚ÄúTulisan ini diikutsertakan dalam giveaway blognya Jiwo‚ÄĚ

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Couple/ Family Budget Meeting, Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga

cara mengatur keuangan rumah tangga

Pas lebaran kemarin, pas maaf-maafan sama pasangan pada ngaku dosa keuangan nggak si sama pasangan?

“Yang, maaf ya, dulu aku bohong sama kamu. Bilang kalau gamis Ria Miranda yang aku beli itu seratus ribuan…. padahal x.xxx.xxx.”¬†Atau ada yang ngumpet ngumpet beli pallete eye shadow baru (lagi)? ūüėõ

Atau suami,¬†“Iya Bu, aku juga. Ngakunya beli diamond buat game Marvel Future Fight 50 ribu per bulan, padahal per minggu beli….”¬†Atau ngibulin istri besaran THR yang diterima?

Hahaha, hayo siapa yang 11-12? Yaaaa nggak plek jiplek gitu tapi beti. Ngaku ajaaaaaa! Aaaakkkkk….

Kalau saya dan suami si enggak. #kibasrambut

Bukan! Bukan karena kami nggak mampu ngibul satu sama lain. Tapi karena kami sering banget ngobrolin masalah keuangan keluarga. Bisa dibilang tiap minggu bahas. Apalagi pas dulu narget ngelunasi utang lebih cepat, lebih sering lagi. Jadi ngaku dosanya nggak nunggu dirapel pas lebaran wkwkwkwk. Uda keburu ketahuan eh ngaku duluan.

Lagipula kami tau password atm, mobile banking dan email masing-masing, jadi gampang ngetracenya. LOL.

hehehe

Wkwkwkwk! Tapi seriusan, Couple/ Family Budget Meeting yang rutin dilakukan itu dampaknya baik lo sebagai salah satu cara mengatur keuangan rumah tangga.

Couple/ Family Budget Meeting sebagai Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga

Manfaatnya adalah selain 1) mendorong keterbukaan, juga 2) mendorong masing-masing pasangan untuk tetap berdisiplin mengatur pos/ anggaran yang dimiliki. Selain itu, kita juga jadi 3) aware sama kondisi keuangan terkini dan 4) bisa nyari solusi bareng kalau ada masalah.

Seperti kemarin, suami bilang, “Duit kita kok jadi cepet abis ya akhir-akhir ini, padahal uda jarang jajan.”¬†“Cek aja yuk pak di mutasi rekening,” saya menimpali.

Dan ketemu jawabannya: biaya perjalanan rutin PP Surabaya – Jakarta kami gede bangeeet, saking seringnya. LDM ini sungguhlah berat di ongkos. Ya, gimana dong. Kangen sik, seminggu nggak ketemu tu rasanya kaya nggak ketemu 168 jam.

Hehehe….

Habis menemukan fakta itu, kami ngobrol lebih lanjut. Walau masih meraba-raba cara ngakali biaya perjalanan ini, tapi setidaknya sudah tiada prasangka di antara kami. Bahwa anggaran bocor bukan karena salah satu dari kami foya foya, tapi karena ada jarak di antara kita. Jadi tinggal fokus mikir solusinya.

Thanks to Couple/ Family Budget Meeting!

cara mengatur keuangan rumah tangga

“Couple/ Family Budget Meeting”, ah elaaah bahasanya ribet amat ya. Sebenernya si ya kaya ngobrol-ngobrol biasa, hanya bahasannya spesifik. Fokus ke masalah keuangan. Nggak harus dibungkus serius kaya rapat kantor gitu. Bisa juga sambil ngeteh-ngeteh. Gimana enaknya aja….

Biar meetingnya efektif dan efisien sebagai cara mengatur keuangan rumah tangga, selama ini kami selalu berusaha untuk melakukan hal-hal berikut:

1 . Terbuka satu sama lain.

Dari awal menikah, saya dan suami sudah sepakat untuk terbuka masalah keuangan. Bahkan sebenarnya sejak sebelum menikah, kami pun sudah tahu kondisi keuangan masing-masing. Tidak ada kekawatiran ataupun keraguan akan ditilep satu dengan yang lain.

Mungkin ada yang bilang keterbukaan seperti ini naif. Tapi bagi suami istri yang sah, kami berpikir bahwa tubuh pun kami bagi dan saling terbuka, padahal itu hal yang sangat pribadi. Mengapa soal keuangan tidak?

2 . Nggak baper.

Ada lo yang baperan sama pasangan masalah keuangan. Entah karena gede kecilnya pendapatan. Karena background status keluarga. Atau hal lain. Nhaah, jangan sampai baper ini mengganggu komunikasi saat ngobrolin keuangan ya. Tar jadi problem di akhir malah.

3 . Memahami prioritas bersama namun menghargai kebutuhan atau bahkan (sekedar) keinginan pasangan.

Saya pakai kata “sekedar” di dalam kurung ya. Walaupun bukan prioritas bersama, bisa jadi keinginan/ kebutuhan pasangan adalah prioritas baginya. Kadang agak susah menerima juga si. Misalkan hobi. Hobi itu kan kadang nggak logis ya. Cuma ya nggak ada salahnya dipertimbangkan, walaupun tak selalu dikabulkan wkwkwkwk.

Karena siapa tahu hobi bisa juga mendukung kinerja pasangan. Atau mendukung kesehatan pasangan. Fisik maupun mental.

Kalau nggak parah-parah banget absurbnya si, kami biasanya saling support. Contohnya seperti yang saya sebutkan di awal, suami saya menganggarkan beli diamond buat mendukung main game. Cuma Rp 50.000,00/ bulan ya oke oke aja saya mah. Atau beli sepatu futsal, kan balik juga buat kesehatan dia. Saya mah happy banget.

Mending dia main game apa main bola kan dari pada mainin hati saya. Ah elahhh….

Saya? Ya saya punya hobi juga. Ngeblog ini juga hobi yang makan biaya loh. Domain sama hosting per tahunnya Rp 610.000,00 ribuan sendiri. Belum kalau saya pingin stiker-stiker lucu. Hehehehe…. Walaupun dari blog saya juga dapat uang saku. Tapi sejujurnya, domain dan hosting kadang suami juga sik yang transferin. ūüėõ

Suami rela? Ya rela lah. Daripada saya menyalurkan lebih dari 15.000 kata per hari saya ke dia kan. Mending saya bawel di blog dan jadi lebih kalem ke deseu.

Cuma ya teteeeep, kita punya batasan. Yaitu prioritas keluarga. Nah, prioritas keluarga ini uda harus diomongin dan jelas dari sejak awal menikah ya. Kalau kata mbak Prita Ghozie si uda jelas TUJUAN KEUANGANnya apa dulu.

setrong

4 . Ada data pendukung.

Saya dan suami adalah orang yang punya preferensi masing-masing. Dan kebetulan sama-sama kuat. Jadi daripada gontok-gontokan dengan pendapat masing-masing, kami lebih suka ngomong pakai data.

Misalkan, suami lebih suka investasi pakai emas, saya suka tanah. Suami suka reksadana, saya pengen coba-coba saha. Nah, yang kaya gitu kan sebenarnya nggak ada benar salah ya. Itu preferensi. Jalan tengahnya adalah, sama-sama belajar tentang preferensi masing-masing. Kenapa si suami suka emas? Misalkan begitu.

Untuk dapat diskusi dengan kepala dingin tanpa asumsi sendiri, enakan pakai data pendukung.

5 . Ada catatan.

Catatan adalah poin penting dalam menggunakan couple/ family budget meeting sebagai cara mengatur keuangan rumah tangga. Tanpa catatan, bisa jadi budget meeting sudah menghasilkan solusi, tapi kemudian dilupakan begitu saja. Kan sayang….

Kami pernah punya satu buku bahkan lo. Buku ijo, yang kami gunakan sebagai buku catatan utang. Di situ tersimpan hasil budget meeting kami tentang prioritas utang mana yang duluan mau dibayar dan dibayar dari sumber penghasilan mana.

Selengkapnya tentang buku utang ini saya pernah cerita di Tips Melunasi Utang Sebelum Jatuh Tempo.

Catatan di poin ini nggak selalu buat utang ya. Bisa juga untuk tujuan keuangan lainnya. Disesuaikan saja yak!

6 . Ada meeting followup berikutnya.

Catatan juga harus difollow up ya. Meeting followup ditentukan aja saat meeting sebelumnya. Jadi bisa janjian, tar seminggu lagi kita bahas lagi yak. Yah, semacam itu. Saya sendiri nggak punya jadwal khusus banget.

Frekuensi ngobrol dan lamanya sesi ngobrol tentu tergantung kondisi ya. Ada kalanya kami hanya berupa pertanyaan, “Masih ada duit, Bu?” Atau “Eh, aku baru dapat bonus loh, tak buat beli speaker yo!” Uda kelar.

Atau bisa jadi lebih lama. Yang lebih lama biasanya kalau bahas masalah yang dampaknya jangka panjang. Seperti pelunasan utang, mau investasi, rencana beli kendaraan, ya sejenis itu. Teman-teman pasti sudah punya bayangan di keluarga masing-masing ya….. Atau malah uda rajin melakukan couple budget meeting?

Sharing dooong gimana biasanya cara mengatur keuangan rumah tangga di rumah masing-masing…. ūüôā

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Aduh-hainya Ngekos Bareng Bayi #GratitudeList

ngekos

Nyusul cerita sebelumnya tentang pengalaman jadi ibu rumah tangga sementara, ending ceritanya kan saya balik ke Jakarta lagi untuk bekerja. Banyak ni yang nanyain, Ning Gaya gimana nasibnya? Hehehe, Si Ening kabarnya baik, dia ikut saya balik Jakarta. Setelah, Opa Surabaya sempat ngusulin Ning Gaya tetep di Surabaya aja, dan Simbah Akung Utinya yang di Pati juga minta Ning Gaya ke Pati aja, keputusan Gayatri ikut saya, kami pikir adalah keputusan terbaik so far sampai saat ini.

“Berdua aja Nyah?”

Iya…. Dan karena berdua aja, kami memilih untuk ngekos instead sewa rumah. Selain, agar lebih praktis, pilihan ngekos juga memberi kesempatan bagi saya untuk memilih hunian terdekat dengan daycare Ning Gaya sekaligus yang dekat juga dengan kantor saya. Jadi bisa jalan kaki, tidak sampai 10 menit di pagi hari saya bisa antar Si Ening ke daycare dan sampai di kantor. Yah, maksimal jadi 15 menit kalau saya jalannya pelan-pelan atau sambil ngobrol dengan Suster daycare dulu.

“Gimana rasanya ngekos berdua aja sama bayi?”

Hihihi, ya pasti ada suka dukanya ya. Tentu nggak seindah kalau tinggal di rumah bareng sama suami yang pasti. Tapi di postingan kali ini saya nggak mau cerita yang melo melo. Tar saya tambah melo kan yak…. Hihihi….

Momen pas dianter ke kos sama Bapak.

Momen pas dianter ke kos sama Bapak.

Saya mau list apa aja si yang saya syukuri di tengah ke-Aduh-hay-an ngekos bareng bayi. Ala-ala #gratitudelist gitu, biar nanti pas saya mulai lelah, saya bisa baca lagi dan jadi pengingat buat saya, daaaan siapa tahu juga bisa jadi penghiburan buat para ibu yang sedang ngalamin hal yang sama dengan saya….

1 . Dapat kos yang dekeeet banget sama daycare-nya Ning Gaya dan kantor saya.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kosan saya – daycare – kantor dapat ditempuh dalam waktu sepuluh menit. Bahkan jarak kosan saya ke daycarenya Gayatri itu cuma lima langkah. Hihihi…. Kaya lagu dangdut pacar lima langkah yak…. Nggak literaly lima langkah kaki juga si, tapi cuma selisih taman aja uda sampai.

Saya bersyukur banget dapat kosan ini, karena awalnya sebenernya saya mengincar satu kosan lain yang jaraknya lebih jauh sedikit. Sudah kontak-kontakan sama pemiliknya beberapa minggu sebelum saya balik Jakarta. Tapi belum bayar. Eeeeeh, keduluan orang lain, dan saya tahunya itu H-2 dong dari keberangkatan saya. Mau nangis deh. Ya masa iya saya balik Jakarta, bawa bayi, tapi belum jelas mau tinggal dimana.

Trus nyari-nyarilah di olx, nemulah kosan saya ini. Daaaan masih ada satu kamar. Syukurlah…..

setrong

2 . Kosan dekat dengan laundry.

Saya tetap menggunakan jasa orang ketiga untuk laundry karena di kosan tidak ada mesin cuci. Menyuci sekaligus menyeterika sendiri di kosan yang kecil bareng bayi yang sedang aktif-aktifnya bukan pilihan yang bijaksana buat saya, yang juga bekerja dari jam 8 pagi s.d. 5 sore. Daripada capek, emosi dan semuanya berantakan, lebih baik waktu yang dipakai ngurusin cucian buat main sama anak. Hehehe…. Memang harus memilih si, walaupun tidak ideal. Syukurlah ada laundry di samping kosan yang lumayan murah.

3 . Punya teman kos yang muda, ceria dan unyu unyu.

Penyakit paling mematikan itu mungkin bukan kanker, tapi rasa kesepian. Sendiri, ngasuh bocah, LDM, pasti ada saat-saat kita bad mood. Punya temen ngobrol, atau sekedar say hi di pagi dan malam, temen ngangkat galon ke dispenser (wkwkwk) atau sekedar temen makan itu sesuatu yang berharga ya. Saya bersyukur banget ada dua orang yang tinggal sepaviliun dengan saya dan anaknya talkactive dan ceria-ceria banget.

love love

Teman kos ini maksud saya bukan temen ngekos sekamar ya. Tapi teman sepaviliun. Bentuk kosan kami memang rada unik, selain ada kamar-kamar yang langsung menghadap halaman, ada satu yang berbentuk paviliun tersendiri yang berisi dua kamar, satu dapur, satu kamar mandi dan ruang makan yang sekaligus dipakai buat ruang belajar dan ngumpul. Paviliun inilah yang saya tempati bersama dua orang lain yang menggunakan kamar terpisah.

Selisih usia kami sepuluh tahun, jadi sebenernya ya saya nggak bisa curhat yang berat-berat gitu. Kaga nyambung. Tapi dengerin mereka cerita film Korea atau ngeliat tingkah mereka (yang oleh mereka sendiri sebut receh) menghibur banget buat saya.

4 . Karena di paviliun ada dapur, saya bisa masak sendiri.

Karena Long Distance Marriage bikin pengeluaran jadi lebih banyak, jadi proses ngekos bareng bayi pun harus mempertimbangkan kondisi keuangan. Saya nggak bisa sembarang pesan Go Food mulu tiap makan, misalnya. Untungnya dapur di kosan memadai banget buat masak ala saya. Hehehe…. Saya tetep bisa meal prep loh, karena ada kulkas juga yang lumayan gede lah buat dipakai tiga orang.

Hemat Nyaaah!

Apa lagi yaaaa…. Apa lagi yaaa….¬†Hihihi….

Lesson learnnya buat yang mau ngekos bareng bayi, in my humble opinion mungkin sebaiknya mempertimbangkan hal-hal di atas ya. Terutama yang kedekatan lokasi ituuuuu…. Beneran ngurangin stres banget.

ngekos

Apa lagi yaaaa…. Apa lagi yaaa….¬†Apa lagi yaaa…. Hihihi….

Sambil saya mikir, Nyonyah-nyonyah sendiri adakah yang punya pengalaman LDM atau pengalaman tinggal berdua bareng bayi? Shariiiing yuuuukkk di comment section!

Terimakasih, salam sayaaang!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!