Tips Packing Barang Saat Traveling Bareng Bayi

Dulu saat masih single, saya dan suami tipe yang super praktis banget. Termasuk dengan barang bawaan saat traveling. Ringkes bin ajaib. Maka packing barang bukanlah momok, sampai negara api menyerang alias Gayatri lahir. Hahaha, kami punya anak, dan tiba-tiba saja barang bawaan menjadi berlipat ganda.

KURASI BARANG BAWAAN

Apalagi sekarang Gayatri sudah toddler ya. Dia sudah punya “barang favorit” sendiri yang biasanya dia “putuskan” untuk ikut dibawa kemanapun kami pergi.

“Nanti Kim dibawa ya. Kasian kalau ditinggal”, begitu katanya. Kim adalah boneka beruang berpakaian gadis Korea kesayangannya. Apalagi kalau tahu bawa mobil atau kendaraan sendiri. Maka list barang favorit kesayangan yang akan dibawa pasti bertambah panjang. Dari mulai buku Dinosaurus sampai sepeda roda 4.

Tugas saya tentulah jadi kurator. Mana yang HARUS dibawa, mana yang sekiranya BOLEH dibawa, mana yang sangat amat TIDAK PERLU dibawa. Hahaha…. Kadang negosiasi seperti ini yang bikin packing barang jadi lama dan ribet.

That’s why, kalau Gayatri mulai ikut turun tangan, packingnya ditunda biar agak selow. Hihihi….

SPARE WAKTU, JANGAN MUEPEEET!

Jadi walaupun saya dan suami sudah sering bepergian dengan bayi (mengingat kami pernah LDM), dan lumayan terlatih, kami tetap spare waktu yang cukup banyak untuk packing barang saat mau traveling bareng Gayatri.

Seperti saat mau liburan lebaran kemarin. Beberapa hari menjelang berangkat, saya sudah nyicil list dan juga nyicil menyiapkan barang apa saja yang perlu dibawa. Kebiasaan ini menurut saya adalah kebiasaan yang baik ya. Karena liburan jadi lebih nyaman dan lancar kalau semuanya sudah well prepared.

Pengalaman tahun lalu, saat packing barangnya nggak bagus, perjalanan jadi rada riweuh. Pasalnya, popok bayi ketinggalaaaaaan!!!! Hahaha…. Alhasil pas anak kami pup di perjalanan, kami langsung heboh nyari minimarket. Yang ternyata, paling dekatnya ada di 500 m. Hoaaaaaa, bauuuuuu!!!!

So, setelah kami beranjak lebih senior dalam dunia perorangtuaan, kami punya beberapa formula atau bisa dibilang tips ya…. Untuk dapat packing barang dengan rapi, efisien namun tetap kumplit, saat melakukan perjalanan bersama bayi.

Selain kurasi barang dan spare waktu diatas, setidaknya ada 2 hal yang perlu dilakukan:

  1. Menggunakan tas-tas kecil, pouch atau kompartemen di dalam koper atau travel bag.
  2. Menggunakan checklist.

Sounds like saya tu overly rajin gitu ya? Atau OCD? Wkwkwkwk…. Enggak kok. Malah sebaliknya, karena saya tu rada malas ribet di tempat tujuan, makanya mending saya agak ribet sedikit di persiapannya. Malas juga pas baliknya barang pada ketinggalan gitu…. Males banget lah….

So berikut adalah tips packing barang dari kami. Semoga bermanfaat yaaaa!

MENGGUNAKAN POUCH ATAU TAS DI DALAM TAS

Menggunakan pouch memudahkan saya mengorganisir barang di dalam koper. Terutama yang kecil-kecil seperti sabun, peralatan makan anak, makanan, obat-obatan, P3K, charger, make up, dll. Jadi tidak bercampur jadi satu.

Menggunakan pouch juga meminimalisasi bongkar-bongkar koper/ tas terlalu dalam, apabila ternyata ada yang perlu digunakan dalam perjalanan. Untuk hal ini, saya juga selalu memisahkan antara barang yang kemungkinan digunakan di perjalanan dan mana yang hanya digunakan di tempat tujuan, kedalam koper dan tas.

Last but not least, menggunakan pouch juga meminimalisasi ada barang yang tercecer karena jadi lebih mudah mengidentifikasinya, dicek per pouch.

Satu pouch favorit saya adalah seri Travel Kit dari Sleek Baby yang kolaborasi dengan Mbak Puty Puar. Bahannya kain blacu gitu, jadi nggak kaku dan nggak menuh-menuhin tempat. Selain itu satu pouch uda sepaket sama essential travel kit yang berisi perlengkapan kebersihan bayi. Jadi praktis banget dan wajib dibawa kalau traveling. Apalagi produknya ini yang alami tapi mengandung antiseptik gitu.

Saya bahas tentang Sleek Baby Tavel Kit ini di bagian bawah artikel ini ya….

MENGGUNAKAN CHECKLIST

Checklist is a must karena beberapa alasan sebagai berikut.

Yang pertama, karena kalau sudah punya anak, kegiatan packing sering banget multitasking bareng ngurusin anak. Jadi disambi-sambi. Naaaah, sebagaimana multitasking pada umumnya, hal ini menurunkan konsentrasi lo. Untuk itu perlu checklist atau catatan sebagai pengingat, sampai dimana ya tadi packingnya. Uda apa aja yang masuk ke koper dan mana yang belum.

Kedua, supaya lebih kelihatan mana barang yang harus diprioritasin, dan mana yang bisa dikeluarkan kalau ternyata kopernya nggak muat.

Yang ketigaaaaa…. adalah sebagai catatan pas packing pulang. Jangan sampai ada yang ketinggalan yak. Apalagi kalau nginepnya di penginapan atau hotel. Duh, males ngurusnya.

Kelihatannya ribet ya, harus nyatet nyatet dulu. Percayalah, usaha kecil itu bermanfaat besar banget loh. Buat saya si gitu ya. Hihihi….

Buat yang mager banget bikin checklist, saya bikinin nih checklist barang bayi yang perlu dibawa saat traveling. Bisa diunduh di sini ya PRINTABLE CHECKLIST BARANG BAYI. Kalau yang buat orang dewasa perlu dibuatkan juga nggak? Nggak kali ya…. Hihihi….

REVIEW SLEEK BABY TRAVEL KIT

Seperti kata saya di tengah artikel tadi, paket travel kit dari Sleek Baby ini life saver banget buat yang mau traveling bareng bayi. Uda ada pouchnya yang gemes banget karena ada ilustrasi dari Mbak Puty Puar, ilustrator kesayangan ibuk ibuk seIndonesia Raya.

Trus gitu, isinya pun produk bayi, perlengkapan bersih-bersih kumplit ya. Dari Antibacterial 2in1 Hair & Body Liquid Soap (sabun sekaligus shampo bayi), sabun cuci piring dan perlengkapan makan bayi lainnya ( Sleek Baby Bottle, Nipple & Accessories Cleanser), sabun cuci baju Sleek Baby Travel Wash daaaan Antibacterial Diaper Dream.

Semuanya mengandung antiseptik alami yang aman untuk bayi. Ini penting banget ya, kalau traveling menggunakan pembersih yang mengandung antiseptik. Apalagi buat bayi dan anak-anak yang masih dalam masa 1000 hari perlindungan.

Seslebor-slebornya saya, kalau anak baru dari perjalanan jauh atau dari playground, pasti saya mandiin pakai sabun yang mengandung antiseptik. Demi membunuh kuman yang dari luar bok.

Sebagai catatan, antiseptiknya Sleek Baby ini juga bukan triclosan ya. Jadi nggak perlu kawatir akan membunuh kuman baik dan mengakibatkan resistensi kuman jahat.

Favorit saya, selain si Sleek Baby 2 in 1 ini adalah Travel Wash-nya yang asli, beda dari yang lain. Jadi ini sebenernya sabun cuci pakaian tapi bentuknya gel kental gitu. Kita nggak perlu takut bakal tumpah di jalan. Ini adalah kemasan kedua ya. Pertama saya punya travel wash ini pas mudik tahun lalu.

Kalau Sleek Baby Bottle, Nipple & Accessories Cleansernya saya pakai sejak Gayatri masih minum ASIP dulu. Buat nyuci botol susu ampuh banget ngilangin lemak. Jadi walaupun sekarang uda nggak nyusu lagi, masih sering saya pakai buat cuci makanan dan peralatan makannya.

Antibacterial Diaper Creamnya juga bisa dipakai bayi baru lahir, loh.

Keempat produk ini juga dikemas dalam ukuran yang travel friendly, jadi hemat tempat, dan nggak jadi beban kalau mau dibawa-bawa.

Oke banget si pokoknya. Consnya cuma satu: nggak semua minimarket jual. Tapi tenang, kita bisa beli secara online kok di KINO Official Store di Lazada. Dan mau liat info lainnya bisa langsung cek di Facebook Sleek Baby dan IG Sleek Baby.

Nah, kalau temen-temen, biasanya barang apa aja yang wajib dibawa waktu traveling? Ada tips dan trik khusus nggak untuk packing saat traveling bareng bayi? Sharing doooong!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

8 Sabun Bayi Non SLS dan Paraben

Sebelumnya saya pernah membahas 4 sabun bayi yang tidak mengandung sls dan paraben. Berhubung isu kulit bayi kembali ramai, saya jadi kepikiran untuk melengkapi tulisan yang lalu di artikel 8 sabun bayi non sls dan paraben.

Sebelumnya saya mau cerita dulu. Beberapa hari ini sosial media ibuk-ibuk sedang ramai dengan topik “Derita Bayi Lucu” tentang seorang bayi yang menderita iritasi kulit parah setelah ditowel-towel pipinya oleh banyak orang di acara kondangan. Well, pro dan kontra langsung merebak. Apalagi setelah thread tersebut dikomentari oleh akun dengan embel-embel dokter kulitku.

Saya tidak mau bahas lebih lanjut pro dan kontranya. Karena pembahasannya jadi merembet ke masalah boleh tidaknya orang towel menowel pipi bayi. Kalau masalah itu si terserah Mak Bapaknya ya kalau saya. Tapi kita juga kudu sadar kalau, menerapkan suatu rule ke orang lain, itu susah, dan ada konsekuensinya juga. Worth or not untuk dilakukan, ya balik lagi ke keputusan dan kondisi masing-masing.

Saya di sini pengen lebih konstruktif aja si bahasnya. Karena saya punya pengalaman anak yang dermatitis atopik juga, walau tidak terlalu parah. Jadi saya niteni (memperhatikan) apa saja yang biasanya menyebabkan anak saya mengalami iritasi kulit.

Saya pernah bahas di artikel “Penyebab Iritasi Kulit Bayi dan Cara Menanganinya“. Di situ saya bahas 3 penyebab yang sering terjadi di Gayatri, anak saya. Salah satu yang paling sering membuat Gayatri iritasi kulit adalah sabun mandi bayi.

Disclaimer: saya bukan dokter, yang saya share adalah pengalaman sehari-hari, tentunya juga ada diskusi dengan dokter. Kondisi yang saya sharingkan spesifik pada kasus anak saya, namun saya rasa, beberapa prinsipnya tetap dapat dipahami dan mungkin bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing, walaupun hasilnya tentu bisa berbeda-beda. :) #nooffense.

Trus kenapa kok gonta ganti merk sampai delapan kali? Honestly, karena saya pengen nyari yang paling bagus sekaligus affordable ya. Nggak pengen boncos juga kan kantong mamak. Kadang saya juga mencoba produk yang dikirimkan ke saya untuk review (tentu dengan seleksi yang ketat).

Berikut adalah perbandingan sabun non sls dan non paraben yang pernah saya coba. Saya harap, pengalaman saya bisa membantu ibuk-ibuk juga yang sedang mencari sabun mandi bayi bayi putra-putrinya….

1 . Mothercare

Produk sabun bayi keluaran Mothercare yang pernah saya coba adalah Mothercare All We Know Body Wash. All we know lah ya, kalau produk ini termasuk brand premium kesayangan ibu-ibu.

Secara umum saya tidak ada masalah dengan produk ini. Cukup lembut di kulit bayi dan tidak menimbulkan iritasi. Hanya saja saya tidak suka dengan desain kemasannya, yang membuat produk mudah tumbah dan belepotan.

Penggunaannya bersama dengan lotionnya membuat kulit lembut banget. Suka, bahkan suami saya juga mengakui kelembutannya.

Harga Rp 100.000,00 – an / 300 ml.

Saya pernah membahas varian ini di artikel Mothercare All We Know Toiletries.

2 . Tupperware Little Bee Baby Wash

Produk ini bebas SLS maupun SLES dan juga paraben. Apa itu SLS, SLES dan Paraben bisa dilihat di artikel ini.

Walaupun demikian, jika dipakai terus menerus, saya merasa kulit bayi menjadi sedikit kering. Tidak sampai iritasi si. Tapi sedikit lebih kering gitu. Tidak supple atau kenyal.

Saya curiganya, mungkin, karena fragrance yang digunakan ya. Menurut saya wanginya, walaupun enak – musky gitu, cenderung cukup kuat untuk ukuran produk bayi soalnya.

Dari beberapa sumber yang saya baca, fragrance ini pun termasuk salah satu yang membuat kulit iritasi dan kering. Penggunaan produk ini dan produk bayi lain keluaran Tupperware bisa dilihat di artikel spa bayi sendiri di rumah.

Harga Rp 90.000,00 an per 200 ml

3 . Corine de Farme

Produk yang pernah kami pakai adalah Baby Bath 2 in 1 (sabun sekaligus shampo). Produk ini tidak menyebabkan kulit kering. Tapi tidak juga menambah kelembaban. Mungkin karena produk ini sabun sekaligus shampo ya. Kalau lembab, rambutnya malah jadi lepek, imho.

Di dalam produk ini tidak mengandung SLS, tapi mengandung SLeS ya….

Harga Rp 200.000,000 an per 500 ml.

4 . Purebaby Liquid Soap for Sensitive Skin

PALING FAVORIT!!!

Kalau mau dibandingkan dengan produk lain yang saya sebutkan, produk ini termasuk produk terbaik dalam hal melembabkan kulit bayi ya. Karena mengandung oat dan bahan alami lain yang berfungsi mengobati dan melembabkan. Bahkan produk ini berani memberikan klaim merawat dermatitis lo. (FYI, produk ini proses produksinya di bawah pengawasan grup farmasi, jadi klaimnya cukup bisa dipertanggungjawabkan, IMHO).

Kemampuannya membersihkannya juga tokcer. Saya membahas produk ini secara khusus di artikel menangani iritasi bayi, di bagian bawah.

Kualitasnya, menurut saya bersaing dengan Mustela. Wanginya lebih enak Purebaby tapi daripada Mustela.

Harga Rp 106.000,00 / 250 ml.

Kalau tidak ada budget constraint, saya memilih kedua produk ini sebagai favorit saya. Sayangnya dua-duanya agak mahal yak. Hihihi….

Produk Sabun Non SLS dan Paraben Lainnya:

5 . Mustela Bebe, 6 . Cetaphil Baby, 7 . Purebaby (for normal skin), 8 . Switzal (paling affordable). Produk ke 5 s.d. 8 ini pernah saya bahas secara lebih detail di artikel 4 sabun bebas SLS dan Paraben.

Sekian sharing dari saya, semoga sharingnya membantu untuk mendapatkan sabun non sls yang terbaik untuk putera puterinya yaaa….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Nostalgia Bandung – Jakarta

Mungkin tidak banyak yang tahu ya, kalau perjalanan Bandung – Jakarta menyimpan beberapa cerita penting dalam hidup saya. Kebanyakan yang rada drama-drama gitu si. Kalau kejadian-kejadian tersebut terjadi di tahun 2019, mungkin uda nggak terlalu drama ya. Karena sekarang uda ada Travel Murah dari Cititrans via Traveloka.

Tapi dulu belum sepraktis sekarang.

Buat cari travel ke Jakarta tu ribet bener dah. Kudu nelpon kan. Mana kalau jadwal nggak cucok, ya kudu wara wiri telepon ke beberapa travel. Mau ke terminal, ngebus sendiri, kagak berani. Hahahaha…. Siapa yang ngalamin kaya gini juga?

Ngacuuung! Hayuk mari!

Disclaimer: Artikel ini hanya berisi curhatan semata. Saya cuma pengen bernostalgia. Hihihi….

Pindah Kampus

Cerita pertama adalah ketika baru lulus SMA. Saya diterima di perguruan tinggi harapan saya di Bandung. Tak di sangka-sangka, beberapa minggu kemudian, saya menerima kabar kalau diterima juga di STAN, perguruan tinggi kedinasan harapan para orang tua. Posisinya di Bintaro. Posisinya saat itu saya sudah di Bandung. Sudah ikut ospek pun.

Karena saya anak penurut, ya nurut saran orang tua buat pindah kampus.

Tapi berhubung rada nggak berselera pindah kampusnya, saya ntar sok ntar sok aja pindahannya ke Bintaro, kampus STAN. Ealaaah, gara-gara menunda-nunda ini, semua teman yang keterima di STAN uda pada cabut duluan. Tinggal saya, sorangan wae di Bandung.

Diwanti-wanti sama kakak senior buat naik travel, soalnya barang bawaan saya banyak. Uda beli segala perabot, rice cooker, dll dsb, karena ya nggak nyangka kan bakal pindah kampus. Jadilah saya naik travel, ke Bintaro.

Dari kampus lama, saya ke Dipati Ukur apa Pasteur gitu, naik taxi. Dari taxi barulah naik travel Cititrans. Perasaan uda campur aduk gitu deh. Melo melo sendiri, betraying mimpi dan cita-cita sedari sekolah. Dari teknik ke akuntansi. Astaga astaga….

Related Post: Keingintahuan

Perjalanan di travel mulus-mulus saja. Sampai kemudian, saya penumpang terakhir. Sudah berpesan kepada sopir untuk menurunkan saya di depan gerbang kampus STAN. Saya melamun. Mobil berhenti di depan kebun yang semak-semaknya tinggi menutupi pagar. Sempat terlirik ujung pandangan saya, ada kambing dan kubangan di sisi dalam gerbang. Saya masih melamun.

“Mbak, sudah sampai….”

“Oh iya, Pak.” Saya melangkahkan kaki keluar. Belum selesai sopir yang baik hati itu membantu menurunkan barang, saya bertanya, “Pak, ini nggak salah alamat ya? Kok saya diturunin di kebon?”

“Enggak, Mbak. Kampus STAN kan? Itu ada plangnya….”

Astaga-astaga. Bener Geeengs, ternyata itu kampus! Saya shock….

FYI, saat itu 2007, belum jamannya bu Sri Mulyani. Bu Sri masuk jadi Menkeu, langsung deh STAN direnovasi jadi cakep. Kalau kami-kami angkatan lama ini nostalgia, pasti deh cerita tentang betapa dulu kampus kami sering jadi arena angon kambing. Kayak kebon.

Skripsi oh Skripsi

Karena saya kuliah di STAN, maka lulus D3 saya langsung kerja di Kemenkeu penempatan Jakarta. Kerja sambil kuliah S1 gitu.

Udahlah di situ, saya kira hubungan saya dengan Bandung sudah END. Ternyata tidak. Saya sempat dinas luar di Bandung (bareng tim kantor) beberapa hari. Saat itu kebetulan saya sedang menyusun skripsi.

Dosen pembimbing saya telepon, dia mau ke luar kota lama. Mau ketemu sama saya untuk bimbingan terakhir, sebelum dia tinggal. OMG, eike di Bandung, cuy! Beliau di Depok.

Berhubung eike anggota yellow jacket yang rajin dan berdedikasi pada perkuliahan, maka saya iyakan. Saya cek jadwal kerjaan kantor, dan izin ke tim, saya bisa melipir siang hari menjelang sore.

Dengan jarak Bandung – Jakarta gini, moda transportasi pilihan pertama pasti tetap naik travel. Demi fleksibilitas waktu keberangkatan, dan ketepatan waktu sampai.

Related post: Pengalaman mudik naik bus.

Halo Travel Bandung – Jakarta! Long time no see ya kita! Maaf aku menghubungi hanya kalau butuh saja. Hahahaha….

Ngos-ngosan nyari travel. Masih pake prosedur telepon, Cyyyiinnnn! Nggak berbeda dengan jaman saya pindah kampus dulu. -.-” Mungkin karena saya nggak terbiasa saja ya, dengan sistem ini, nggak punya langganan travel juga, jadi dulu berasa ngeselin.

Tapi rasa kesal dengan cepat berganti rasa lega. Saat perjalanan mulus. Trayek yang sama, hanya perasaan yang berbeda. Dulu karena mau pindah kampus. Sekarang demi ngelarin skripsi lebih cepat. Ya, ada peningkatan si. Jadi walau kebat kebit karena ngejar waktu, rasanya tu tetap ada rasa tenang gitu.

Apa karena saya sudah beranjak dewasa?

#aseeek

Singkat cerita, urusan skripsi saya kelar. Dosen saya yang baru tahu saya PP Bandung-Jakarta, segera mengantar saya ke travel terdekat.

Perjalanan kembali dari Jakarta ke Bandung terasa lebih cepat. Saya sampai di tempat tim kerja menginap, sebelum tengah malam. Langsung istirahat, besoknya uda on lagi.

Saya merasa super. Terimakasih banyak Pak Sopir!

Saat meninggalkan Bandung, saya sempat ingat kalau saya (melamun lagi) flash back mengenang kisah-kisah ospek, kisah pindahan, kisah muter muter kota sama angkot Bandung, kisah nyari travel…. ahhh…. Nostalgia banget walaupun cuma dua bulan.

Saya rada mellow, ngerasa, ya kayanya uda nggak akan ngerasain lagi tu kebat kebit ngejar travel Jakarta – Bandung atau sebaliknya. Udah END beneran.

Good bye Travel! Terimakasih menemani saya dalam beberapa (literally) perjalanan penting di kehidupan saya. Walau hanya sebentar, sungguh besar jasamu.

Muah muah….

*

*

Time flies….

Beberapa tahun kemudian, “Mbak, aku keterima di Kedokteran Hewan, Unpad. Aku mau pindah kampus aja ke Bandung….” si Adik Bontot menelepon.

Hahahaha…. Ternyata, nggak jadi good bye kita, Travel Bandung – Jakartaaaaa!!!!! Tapi si Bontot beruntung sih, uda nggak akan ngalami ribetnya pesan tiket travel, karena sekarang mah tinggal klik klik doang di Traveloka.

Yah, time flies…. Jadi ingat umur…. Hahahaha….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share