8 Sabun Bayi Non SLS dan Paraben

Sebelumnya saya pernah membahas 4 sabun bayi yang tidak mengandung sls dan paraben. Berhubung isu kulit bayi kembali ramai, saya jadi kepikiran untuk melengkapi tulisan yang lalu di artikel 8 sabun bayi non sls dan paraben.

Sebelumnya saya mau cerita dulu. Beberapa hari ini sosial media ibuk-ibuk sedang ramai dengan topik “Derita Bayi Lucu” tentang seorang bayi yang menderita iritasi kulit parah setelah ditowel-towel pipinya oleh banyak orang di acara kondangan. Well, pro dan kontra langsung merebak. Apalagi setelah thread tersebut dikomentari oleh akun dengan embel-embel dokter kulitku.

Saya tidak mau bahas lebih lanjut pro dan kontranya. Karena pembahasannya jadi merembet ke masalah boleh tidaknya orang towel menowel pipi bayi. Kalau masalah itu si terserah Mak Bapaknya ya kalau saya. Tapi kita juga kudu sadar kalau, menerapkan suatu rule ke orang lain, itu susah, dan ada konsekuensinya juga. Worth or not untuk dilakukan, ya balik lagi ke keputusan dan kondisi masing-masing.

Saya di sini pengen lebih konstruktif aja si bahasnya. Karena saya punya pengalaman anak yang dermatitis atopik juga, walau tidak terlalu parah. Jadi saya niteni (memperhatikan) apa saja yang biasanya menyebabkan anak saya mengalami iritasi kulit.

Saya pernah bahas di artikel “Penyebab Iritasi Kulit Bayi dan Cara Menanganinya“. Di situ saya bahas 3 penyebab yang sering terjadi di Gayatri, anak saya. Salah satu yang paling sering membuat Gayatri iritasi kulit adalah sabun mandi bayi.

Disclaimer: saya bukan dokter, yang saya share adalah pengalaman sehari-hari, tentunya juga ada diskusi dengan dokter. Kondisi yang saya sharingkan spesifik pada kasus anak saya, namun saya rasa, beberapa prinsipnya tetap dapat dipahami dan mungkin bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing, walaupun hasilnya tentu bisa berbeda-beda. :) #nooffense.

Trus kenapa kok gonta ganti merk sampai delapan kali? Honestly, karena saya pengen nyari yang paling bagus sekaligus affordable ya. Nggak pengen boncos juga kan kantong mamak. Kadang saya juga mencoba produk yang dikirimkan ke saya untuk review (tentu dengan seleksi yang ketat).

Berikut adalah perbandingan sabun non sls dan non paraben yang pernah saya coba. Saya harap, pengalaman saya bisa membantu ibuk-ibuk juga yang sedang mencari sabun mandi bayi bayi putra-putrinya….

1 . Mothercare

Produk sabun bayi keluaran Mothercare yang pernah saya coba adalah Mothercare All We Know Body Wash. All we know lah ya, kalau produk ini termasuk brand premium kesayangan ibu-ibu.

Secara umum saya tidak ada masalah dengan produk ini. Cukup lembut di kulit bayi dan tidak menimbulkan iritasi. Hanya saja saya tidak suka dengan desain kemasannya, yang membuat produk mudah tumbah dan belepotan.

Penggunaannya bersama dengan lotionnya membuat kulit lembut banget. Suka, bahkan suami saya juga mengakui kelembutannya.

Harga Rp 100.000,00 – an / 300 ml.

Saya pernah membahas varian ini di artikel Mothercare All We Know Toiletries.

2 . Tupperware Little Bee Baby Wash

Produk ini bebas SLS maupun SLES dan juga paraben. Apa itu SLS, SLES dan Paraben bisa dilihat di artikel ini.

Walaupun demikian, jika dipakai terus menerus, saya merasa kulit bayi menjadi sedikit kering. Tidak sampai iritasi si. Tapi sedikit lebih kering gitu. Tidak supple atau kenyal.

Saya curiganya, mungkin, karena fragrance yang digunakan ya. Menurut saya wanginya, walaupun enak – musky gitu, cenderung cukup kuat untuk ukuran produk bayi soalnya.

Dari beberapa sumber yang saya baca, fragrance ini pun termasuk salah satu yang membuat kulit iritasi dan kering. Penggunaan produk ini dan produk bayi lain keluaran Tupperware bisa dilihat di artikel spa bayi sendiri di rumah.

Harga Rp 90.000,00 an per 200 ml

3 . Corine de Farme

Produk yang pernah kami pakai adalah Baby Bath 2 in 1 (sabun sekaligus shampo). Produk ini tidak menyebabkan kulit kering. Tapi tidak juga menambah kelembaban. Mungkin karena produk ini sabun sekaligus shampo ya. Kalau lembab, rambutnya malah jadi lepek, imho.

Di dalam produk ini tidak mengandung SLS, tapi mengandung SLeS ya….

Harga Rp 200.000,000 an per 500 ml.

4 . Purebaby Liquid Soap for Sensitive Skin

PALING FAVORIT!!!

Kalau mau dibandingkan dengan produk lain yang saya sebutkan, produk ini termasuk produk terbaik dalam hal melembabkan kulit bayi ya. Karena mengandung oat dan bahan alami lain yang berfungsi mengobati dan melembabkan. Bahkan produk ini berani memberikan klaim merawat dermatitis lo. (FYI, produk ini proses produksinya di bawah pengawasan grup farmasi, jadi klaimnya cukup bisa dipertanggungjawabkan, IMHO).

Kemampuannya membersihkannya juga tokcer. Saya membahas produk ini secara khusus di artikel menangani iritasi bayi, di bagian bawah.

Kualitasnya, menurut saya bersaing dengan Mustela. Wanginya lebih enak Purebaby tapi daripada Mustela.

Harga Rp 106.000,00 / 250 ml.

Kalau tidak ada budget constraint, saya memilih kedua produk ini sebagai favorit saya. Sayangnya dua-duanya agak mahal yak. Hihihi….

Produk Sabun Non SLS dan Paraben Lainnya:

5 . Mustela Bebe, 6 . Cetaphil Baby, 7 . Purebaby (for normal skin), 8 . Switzal (paling affordable). Produk ke 5 s.d. 8 ini pernah saya bahas secara lebih detail di artikel 4 sabun bebas SLS dan Paraben.

Sekian sharing dari saya, semoga sharingnya membantu untuk mendapatkan sabun non sls yang terbaik untuk putera puterinya yaaa….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Bebas Lengket dan Bersin dengan Bedak Bayi Cair Mitu Baby Liquid Powder

Bagaimana cara melakukan perawatan bayi yang tepat menjadi PR banget bagi saya, saat menghadapi anak pertama. Beberapa kali terselip rasa kawatir dan ragu. Apalagi kalau yang mau dilakukan berbeda dengan kebiasaan orang tua jaman dulu. Salah satunya adalah ketika saya dan suami memutuskan tidak menggunakan bedak bayi tabur untuk Gayatri di bagian tubuh manapun. Itu sebelum kami mengenal Mitu Baby Liquid Powder ya….

BUKAN! Bukan karena kami kawatir tentang isu bahan kanker yang terdapat dalam bedak bayi (kasus Eva Echeverria, USA). Karena hasil IARC-WHO sendiri sudah rilis dan menyatakan bahwa talc (yang tidak mengandung asbes) TIDAK bersifat karsinogenik. Cek nanti linknya di daftar pustaka di bawah artikel ya. CMIIW please kalau ada info/ rilis jurnal terbaru ya…

Karena Hachi

Alasan utamanya, bukan karena bahan talc tadi, melainkan karena saya punya asma dan alergi debu. Jadi serbuk apapun yang penggunaannya akan terburai di udara, termasuk pencetus bagi saya. Sangat saya hindari. Sekali bedakan powder, saya bisa hachi hachi alias bersin sepanjang hari. Bersin doang mah masih untung ya, kalau tambah sesak napas bisa berabe. Hehehehe….

Tidak memakai bedak bayi, awalnya tidak menjadi masalah selama kami di Jakarta. Karena Gayatri daycare yang 100% menggunakan AC kalau di dalam ruangan.

Semua menjadi berubah saat negara api menyerang. Saya pindah ke Surabaya. Daaaaan! Ya betul sekali sodara-sodara, Surabaya kan panas banget ya. Semacam negara api. Siang hari bisa 33 derajat Celcius sampai 34 derajat Celcius. Lalu lembabnya minta ampun.

Duh rasanya mandi tiga kali sehari tidak cukup.

Pun AC hanya menyala di kamar saat malam hari due to hemat energi dan hemat kocek. Jadi keringat Gayatri dipastikan bercucuran setiap siang hari, mengingat keaktifannya di dalam maupun luar ruangan.

“Aci bauk ecut.”

Begitu Gayatri (2 tahun) anak saya sering mengeluh. Kalau hanya itu saja keluhannya si masih nggak masalah ya. Tapi masalah berikutnya yang sering bikin saya worry adalah, kulitnya jadi lengket karena keringat. Bikin dia nggak nyaman, sering rewel dan garuk-garuk karena gatal.

Kasihan si, soalnya dia juga sedang aktif-aktifnya bergerak kan…. Tidak sekali dua kali, bagian lipatan siku dan lehernya lecet-lecet karena kulit lembab yang bergesekan atau karena dia garuk saat merasa tidak nyaman.

Mengenal Mitu Baby Liquid Powder

Makanya saya seneng banget tu, waktu Mitu mengeluarkan produk Mitu Baby Liquid Powder. Produksi lokal kepunyaan Godrej Group Company. Saya sudah nebak kalau harganya bakalan affordable. Dan beneeeeeerrr!!!

Di minimarket depat perumahan harganya Rp 21.100,00/ 100 gram. Saya bilang affordable karena harga liquid talc Gayatri sebelumnya bisa lima kali lipatnya. Bahagianya dompet mamak! Hihihi….

Produk Mitu ini dikemas dalam kemasan kardus sebagaimana di atas. Pada kardusnya tercantum keterangan bahan, Nomor BPOM, exired date, cara penggunaan, logo halal MUI (disamping kardus), dll.

Saya sangat tenang saat mengetahui sudah ada Nomor BPOM, karena menandakan talc yang terkandung bebas dari asbes. Setahu saya, BPOM cukup strict dengan cemaran bahan ini di dalam kosmetik maupun makanan. Nomor BPOMnya BPOM RI NA 18160103558.

Keterangan ingredients, Nomor BPOM dan juga cara penggunaan juga dapat dilihat dalam kemasan botolnya.

Selain itu ada keterangan bahwa produk ini mengandung ACTI NATURA, hypoallergenic tested serta sehat dan lembut untuk kulit bayi. Dalam kemasan dijelaskan bahwa acti natura adalah gabungan dari Vitamin B-5, Chamomile, Zinc dan Talc yang berfungsi untuk menjada kulit tetap kering dan halus serta terlindungi dari iritasi.

Sebagaimana namanya, liquid, tentu tekstur produk ini cair ya. Lotion a like. Menurut saya lebih cair daripada body lotion biasanya. Namun lebih kental daripada toner. Kurang lebih seperti ini:

Karena teksturnya demikian, hanya perlu memiringkan botol, tanpa perlu ditekan, cairan bedaknya dengan mudah mengalir.

Tutup botolnya yang berbentuk disc top caps juga praktis, karena hanya perlu ditekan sudah membuka. Jadi bagi ibu yang bayinya masih kecil, tidak mengalami kesulitan saat harus membuka bedak dengan satu tangan karena tangan satunya dipakai memegang bayi.

Cara Merawat Bayi dengan Bedak Cair Mitu Baby

  1. Tuang MITU secukupnya di telapak tangan.
  2. Tangkupkan di tangan, supaya tidak terlalu tebal nantinya di kulit.
  3. Usapkan pada bayi sampai merata

Bagian tubuh yang saya oles dengan Bedak Bayi Mitu adalah: leher sampai dada, ketiak sampai ke lipatan siku, punggung dan kaki.

Kesan Menggunakan Mitu Baby Liquid Powder

Dari hari pertama pemakaian bedak bayi ini, saya langsung terkesan. Dengan harga yang relatif affordable bedak cair ini mampu beraksi memberikan manfaat.

Bebas Lengket

Sesuai dengan klaimnya, produk ini membuat kulit Gayatri menjadi kering (bukan kering bersisik ya, tapi kering tidak lengket), tetap lembut dan tetap segar. Walaupun produk ini tidak diklaim untuk menyembuhkan biang keringat, namun saya sudah merasa cukup terbantu, karena Mitu Baby Liquid Powder mengurangi kelengketan kulit karena keringat tadi ya….

Bebas Bau

Bonusnya lagi: jadi wangi segeeeerrrr. Wanginya segar yang lembut dan tidak nyegrak. Bayi banget! Walau habis main di bawah matahari sekalipun, Gayatri jadi tidak bau kecut.

Saya jadi tenang kalau lagi main ke rumah mertua. Nggak lagi disaranin, “Pakai bedak dong, pakai cologne bayi dong….” Soalnya Gayatri wangi dan tampak seger. Nggak kumus-kumus atau tampak tak terawat lagi. Hihihi….

Bebas Bersin #HappyTanpaHachi

Dan yang penting lagi pastinya sayapun #HappyTanpaHachi karena tidak perlu berurusan dengan serbuk bedak yang bertebaran. Per hari ini, berarti saya sudah pakai selama kurang lebih tiga minggu ya. Dan no no hachi hachi karena bedak…. Syukurlaaah….

Bebas Worry

Terkait dengan cerita saya di awal tadi, adanya Nomor BPOM inilah yang membuat saya makin yakin jika produk ini relatif aman. Selain itu, bagi rekan-rekan muslim, logo Halal dari MUI juga tentunya membuat tenang dan yakin dengan standar kehalalnya ya….

Buat para nyonyah, yang sedang mencari bedak bayi, mungkin produk ini bisa dipertimbangkan ya. Kalau memang masih ragu, sebaiknya, dicoba dulu di ibunya (seperti yang saya lakukan). Jadi kitapun bisa mengukur tingkat sensibilitasnya ke anak. Mom knows the best!

Semoga sharing pengalaman kami menggunakan bedak bayi cair Mitu Baby Liquid Powder ini bermanfaat ya…. Salam sayang!

*

*

Daftar Pustaka:

Jurnal IARC WHO tentang keamanan bahan talc dan bahan lain pada bedak bayi: https://monographs.iarc.fr/wp-content/uploads/2018/06/mono93.pdf

Launching Produk Mitu Baby Liquid Powder

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Memilih/Mendesain Permainan Anak Perempuan

Kalau kata Albert Einstein, “Play is the highest form of research.” Setelah memiliki anak, saya baru memahami benar apa makna dari perkataan ini. Untuk itu, saya jadi cukup concern dalam memilih dan mendesain permainan anak perempuan saya, Gayatri yang berusia dua tahun ini.

Dalam memilih dan mendesain permainan bagi anak perempuan saya, saya tidak sembarang mengikuti tren, melainkan fokus pada perkembangan tubuhnya. Oleh karena itu saya mengacu pada parameter perkembangan anak 0-6 tahun dari Permendikbud Nomor 137 tahun 2014 dan kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP).

Hehehe, semacam serius dan rumit banget ya? Tidak kok, malahan menyederhanakan pilihan orang tua.

Sekilas tentang Parameter Perkembangan Anak dan KPSP

1 . Parameter Perkembangan Anak 0-6 Tahun dari Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014

Dengan parameter perkembangan anak, saya bisa mengetahui tingkat pencapaian perkembangan anak di setiap kelompok usia. Pada parameter ini lengkap pula lingkup perkembangan yang dijabarkan:

  1. Nilai agama dan moral,
  2. Fisik-motorik (motorik kasar, halus, kesehatan dan perilaku keselamatan),
  3. Kognitif (belajar dan pemecahan masalah, berpikir logis, dan berpikir simbolik),
  4. Bahasa (memahami bahasa, mengungkapkan bahasa)
  5. Sosial emosional (kesadaran diri, tanggungjawab diri dan orang lain, serta perilaku pro social)
  6. Seni.

Istilah mudahnya, dengan parameter ini saya jadi tahu, apa “target” yang diharapkan sudah bisa dicapai oleh anak usia 2 tahun.

Form parameter ini bisa diunduh secara umum dan gratis, keyword untuk googling: Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014.

2 . Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)

Sementara dengan KPSP, saya jadi bisa mengetahui apakah ada keterlambatan yang dialami Gayatri di usianya ini.

PhotoGrid_1549927071778-1024x768

Sebagaimana foto di atas, saya mengakses KPSP via aplikasi Primaku IDAI yang bisa di-download di Playstore maupun Appstore secara gratis juga.

Dari kedua form di atas, saya bisa mendokumentasikan apa saja skill yang ingin dikembangkan dari Gayatri, kemudian mendesain pembelajarannya dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam bentuk permainan. Nah, seperti judul artikel ini, yang mau saya bahas lebih lanjut adalah sebatas bagaimana mendesainnya dalam bentuk permainan anak perempuan ya.

Step Memilih/Mendesain Permainan Anak Perempuan

Untuk memudahkan pemahaman, saya ringkas dulu ya, langkah-langkahnya:

  1. Mendokumentasikan skill yang ingin dicapai,
  2. Mendokumentasikan keterlambatan yang ingin ditingkatkan,
  3. Mendokumentasikan permainan terkait.

Dalam kasus Gayatri, kira-kira pengalaman saya mendesain permainan anak perempuan adalah sebagai berikut:

1 . Mendokumentasikan skill yang ingin dicapai

Dalam parameter perkembangan anak ada 60 poin tingkat pencapaian perkembangan anak di usia 2 – 3 tahun. Beberapa poin sudah ada yang bisa dilakukan oleh Gayatri, banyak juga yang belum.

Yang ingin kami kembangkan lebih lanjut adalah sebagai berikut:

Lingkup PerkembanganTingkat Pencapaian Perkembangan yang Ingin Kami Capai
A. Nilai Agama dan MoralMulai memahami kapan mengucapkan salam, terimakasih, maaf, dsb.
B. Fisik Motorik
  1. Melompat ke depan dan ke belakang dengan dua kaki,
  2. Meremas kertas atau kain dengan menggerakkan lima jari,
  3. Memberitahu orang dewasa bila sakit.
C. Kognitif
  1. Melihat dan menyentuh benda yang ditunjukkan oleh orang lain,
  2. Meniru cara pemecahan orang dewasa atau teman,
  3. Konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain,
  4. Menyebut bagian suatu gambar,
  5. Mengenal bagian tubuh.
D. Bahasa
  1. Memahami perintah sederhana,
  2. Menggunakan 3 atau 4 kata untuk memenuhi kebutuhannya (misal, mau minum air putih).
E. Sosial Emosional
  1. Menyatakan perasaan terhadap anak lain,
  2. Mulai memahami hak orang lain (harus antri, menunggu giliran)
  3. Mulai menunjukkan sikap berbagi, membantu, bekerja sama.
F. Seni
  1. Menyanyi,
  2. Menirukan gerakan berbagai hewan.

Ada beberapa poin lagi, namun supaya sederhana, saya ringkas saja sebagaimana tabel di atas ya.

2 . Mendokumentasikan keterlambatan yang ingin ditingkatkan.

Puji Tuhan, dari 10 poin penilaian kuesioner KPSP tidak ada keterlambatan Gayatri yang perlu ditindak lanjuti. Jadi saya bisa fokus di step nomor 1 dan langsung lompat ke step nomor 3. Kalau ternyata hasil KPSPnya ada yang meragukan, bisa ikuti petunjuk yang ada di aplikasi IDAI ya. Biasanya ada keterangan diminta untuk observasi lebih lanjut.

3 . Mendokumentasikan permainan terkait.

Di tahap ini, saya akan baca-baca buku dan juga googling tentang contoh permainan. Buku yang sering saya baca sebagai referensi permainan adalah Rumah Main Anak yang ditulis oleh Julia Sarah Rangkuti dan Metode Pengajaran Montessori Tingkat Dasar (Aktivitas Belajar untuk Anak Balita) oleh David Gettman.

Dua buku tersebut sangat kaya, biar tidak terlalu overwhelming saat mempraktikannya saya akan memilih berdasarkan tabel di step nomor satu tadi serta menyesuaikan dengan mainan/ peralatan yang ada di rumah.

Contoh Permainan Anak Perempuan

Berikut adalah contoh permainan anak perempuan saya yang saya desain dengan cara di atas dan menggunakan satu mainan utama yaitu figurine hewan ternak.

permainan anak

Figurine hewan ternak yang saya miliki ini saya beli di Shopee, tokonya namanya kotakmainmainan. Awalnya saya kenal toko ini dan langganan di Instagramnya. Tapi setelah tahu dia ada toko di Shopee, saya transaksinya via Shopee. Hihihi, tak lain dan tak bukan demi ngejar free ongkirnya sodara-sodara. Lumayan yak, soalnya saya kan di Surabaya sementara tokonya di Bandung. Hemat belasan sampai dua puluh ribuan, bisa jadi nambah mainan/buku murah di toko tersebut.

1 . Mencocokkan Gambar

Sebelum Gayatri dua tahun, biasanya kami hanya menggunakan figurine ini sebagai alat memperkenalkannya pada nama dan suara hewan. Setelah beranjak besar, karena kebetulan saya memiliki poster hewan juga, saya menggunakannya untuk permainan mencocokkan gambar. Jadi ketika saya menyebutkan nama hewan, saya akan minta Gayatri menunjukkan gambar di poster atau memilih figurine. Atau kalau tidak saya akan mengambil salah satu figurine, dan Gayatri menyebut nama serta memilih gambar.

2019-02-12 06.05.17 2-1024x768

Selain mencocokkan gambar di atas, jika sudah benar, maka kami main tebak nama anggota tubuh hewan. Seperti kepala, kaki, ekor. Kemudian minta Gayatri juga menunjukkan mana kepala hewannya, lalu menunjukkan mana kepala Gayatri, demikian, dst.

Permainan ini untuk menstimulai kognitif terutama poin C1, C4, C5 di tabel Parameter di atas.

2 . Pretend Play Antri

Dalam permainan pura-pura ini, saya meminta Gayatri untuk menyusun hewan berbaris ke belakang seperti kalau mau membayar belanjaan di supermarket. Karena Gayatri sudah memahami konsep ini, saat berbelanja, jadi kami menekankan lagi saat bermain. Dalam bermain, kami akan menyebutkan kalau berbaris seperti ini disebutnya antri.

Jelaskan dengan bahasa anak, apa pentingnya antri.

2019-02-12 06.05.20 3-1024x814

Bisa dilakukan dengan berpura-pura antri makanan atau antri ke toilet. Bisa juga dikembangkan saat antri ada yang menyerobot, dll. Kita bisa mendorong anak untuk mengingatkan dengan sopan, atau memberi insight pertanyaan. Contoh lain, adalah misalnya Sapi meminta izin pada kuda untuk memotong antrian ke toilet, karena dia sedang diare, lalu kuda mengizinkan.

Dalam hal ini, kita bisa membantu anak belajar, selain antri juga dalam belajar menyampaikan perasaannya, penggunaan salam, ucapan maaf dan juga terimakasih (poin tabel A, B3, D2, E1, E2 dan E3).

3 . Pretend Play Domba Terjebak

Bermain pura-pura kali ini, melibatkan es batu. Jadi sebelum bermain, saya sengaja untuk meletakkan satu figurine ke dalam mangkuk dan dibekukan dalam freezer. Pura-puranya sebagai hewan yang terjebak di dalam es.

Permainan pura-pura di sini akan melibatkan “drama” ingin menolong antara hewan satu dengan yang lain, dan juga melibatkan kognitif anak dalam memecahkan permasalahan (ikut menolong dengan memecahkan es batu).

PhotoGrid_1549926565258-1024x768

Pelajaran yang bisa didapatkan oleh anak adalah, membangun keinginan untuk berempati, untuk saling membantu (E1 dan E3), belajar memecahkan masalah (C2, C3, D1) dan juga mengenal konsep suhu.

4 . Jalan Lurus dan Lompat

Sebenarnya garis yang kami gunakan ini adalah lakban yang kami tempel di lantai sebagai “jalan raya” kalau Gayatri bermain mobil-mobilan atau kereta-keretaan. Kami letakkan beberapa figurine dalam jarak yang aman, lalu minta Gayatri berjalan dalam jalur namun tidak boleh mengenai figurine tersebut.

2019-02-12 06.05.15 1-1024x768

Tujuan permainan ini adalah melatih motorik kasar anak dalam melompat dengan dua kaki dan melatih konsentrasinya (berjalan lurus mengikuti garis membutuhkan konsentrasi tinggi bagi anak kecil) sesuai poin B1 dan C3.

5 . Melepaskan Hewan dari Dough

Permainan ini mirip dengan permainan nomor 3, yaitu membantu hewan melepaskan diri dari dough atau malam atau lilin mainan. Pelajaran yang bisa didapatkan oleh anak adalah, membangun keinginan untuk berempati, untuk saling membantu (E1 dan E3), belajar memecahkan masalah (C2, C3, D1) dan juga melatih motorik halusnya (B2) dalam menggunakan kelima jarinya.

2019-02-12 06.05.18 1-1024x768

Tentunya permainan bagi anak perempuan bisa dikembangkan tidak hanya lima permainan ini ya. Lima permainan ini pun sebenarnya juga bisa dipakai untuk anak laki-laki. Alat dan mainannya pun bisa disesuaikan misal dengan menggunakan boneka atau barbie, atau mainan lainnya yang ada di rumah.

Yang saya suka dari figurine kotakmainmainan ini, karena mainan ini versatile banget ya. Gampang banget dipakai dan disesuaikan dengan permainan yang mau dilakukan. Selain itu juga long lasting, jadi mainan ini bisa dipakai nggak terbatas usia. Pas Gayatri umur setahun, bisa dipakai untuk mengenalkan hewan dan suara hewan. Sampai nanti besar pun, masih bisa dipakai untuk pretend play.

Tips untuk memilih mainan figurine seperti ini adalah, pastikan bahannya aman serta pilih yang permukaan kulitnya bertekstur (detail). Tekstur di permukaan mainan ini kalau di Montessori akan memperkaya pengalaman dan menjadikan permainan tersebut berkesan bagi anak, karena menstimulasi sensory-nya juga.

Sekian sharing kali ini, semoga bermanfaat ya! Yang mau berbagi ide main atau info toko mainan juga boleh lo, tinggalkan komentar yaa!

Terimakasih, salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share