3 Pengalaman Memalukan Bawa Bayi Naik Pesawat

bayi naik pesawat bareng bayi

Sebagian besar orang yang ngobrol dengan saya, saat di Bandara bareng bayi, bertanya “apakah bayimu tidak rewel?” Beberapa juga mengajukan rasa salut karena saya berani wara wiri bawa bayi naik pesawat tanpa pendamping. Padahal saya berani ya karena Gayatrinya kooperatif ya. Namun, walau Gayatri anak yang relatif kooperatif dan kalem di tempat umum, saya juga punya pengalaman memalukan bawa bayi naik pesawat.

bayi naik pesawat bareng bayi

Saat Pipis di Lavatory

Okay kejadian ini baru beberapa minggu lalu. Hasil kolaborasi manis antara bayi kepo dan mbak mbak pramugari yang rajin membantu. Terbukalah lavatory saat saya enak-enaknya pipis di atas pesawat.

Saya memang sudah merasa kebeles pipit sejak sebelum boarding. Namun saat itu saya tidak menuntaskan hasrat pipis saya karena nanggung. Lagi nyuapin Gayatri dan uda mendekati waktu boarding. Kan rempes ya gendong bayi sambil buru-buru, mending saya tahan sebentar lalu pipisnya di atas pesawat saja, pikir saya saat itu.

Karena tanpa teman seperjalanan, tentu Gayatri saya bawa masuk ke lavatory. Dia mainan pintu donggg…. Saya biarin karena biasanya begitu, dan aman-aman saja. Gayatri belum bisa buka kuncian pintu kan, walaupun sudah bisa dorong kenop pintunya.

Dan terjadilah insiden kecil itu…. Pramugari (Garuda) yang memang sangat super duper helpful sama penumpang, mungkin karena merasa kawatir dengan suara-suara di pintu atau mungkin mengira saya terkunci dan kesulitan membuka pintu, berinisiatif membuka kuncian pintu dari luar dong…. Dan ups, maaf, pemandangannya kurang menyenangkan ya Mbaaa…. Hehehe….

Saya cuma bisa nyengir, dan pintunya pun ditutup kembali sama mbak pramugarinya. Hehehe, rempong kan kalau saya yang nutup. Harus pake celana dulu (((dijelasin))). ­čśŤ

Related Post: Pengalaman Bawa Bayi Umur 4 Bulan Naik Pesawat

tips naik pesawat bareng anak

Saat Gayatri Nepuk Pantat Pramugara

Posisi paling pewe buat ibu bawa bayi menurut saya itu di row paling depan yang ada extra legnya. Kalau ga bisa dapet ya di lorong atau di pinggir dekat jendela. Paling sering saya dapatnya di lorong si….

Dapat seat di lorong itu manfaatnya ada beberapa:

  1. Memudahkan keluar masuk kursi,
  2. Nggak terlalu mengganggu penumpang lain,
  3. Kalau merasa sempit handle tangan bagian lorong bisa dibuka, jadi bisa leluasa ada tambahan space di sisi samping,
  4. Kalau Gayatri bosan, dia bisa jalan-jalan sepanjang lorong saat uda diperbolehkan tidak menggunakan seat belt.

Namuuuunnn, ada juga kelemahannya:

  1. Berbahaya saat proses mengeluar masukkan koper ke kompartemen atas, risiko kejatuhannya lebih besar dibanding seat yang dekat jendela,
  2. Seing terganggu hilir mudiknya pramugari tang membawa troli, daaaaaannnn….
  3. Berisiko malu kalau anak kita lagi usil suka jawil-jawil pramugara/ pramugari.

Poin yang ketiga ini beneran saya alami lo. Gayatri pernah nepok pantat pramugara. PRAMUGARA. Cowoooook!!!!

Saya nyadarnya pas uda ketepok, masnya bilang “Eh!” Sambil nengok ke arah saya. Untung saat itu tangannya Gayatri masih terjulur kan. Jadi masnya mahfum, kalau yang nepok bayi imut unyu unyu, bukan emaknyaaa…. Ya kali kaaan…. Saya cuma tersenyum. Dan pramugaranya langsung pasang wajah ramah ke Gayatri, ngajak bercanda. Buset terlatih banget yak, wajah ramahnya….

Semuanya pun berakhir dengan baik.

Related Post: Pengalaman Membawa Bayi Umur 9 Bulan Naik Pesawat

anak nyaman naik pesawat

Foto-foto di atas diambil saat Gayatri usia 1 tahun di Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta.

Saat Gayatri Pup saat Landing

Bayangkan, saat kru pesawat mengumumkan kalau kami sudah ada di posisi landing, semua penumpang diminta  menegakkan sandaran dan mengencangkan seat belt, lalu tiba-tiba wajah si Ening tegang. Bukan tegang karena mendengar suara mesin pesawat. Saya kenal sekali ekspresi ini. Ekspresi ngeden.

Ya ampunnn baunya. Malu banget saya, karena bau banget.

Waktu itu pas mau ke Yogyakarta, dan mungkin sebagian besar orang tau, entah mengapa prosesi landing di Jogja itu lamaaa. Semacam antri muter-muter di atas. Saya gelisah. Penumpang sebelah saya apalagi! Uda mulai tutup-tutup hidung dan oles-oles freshcare! Gayatri mah lempeng, muka tak bersalah. Ni anak yaaaaaa!!!!

Tapi gimana dong, mau ke toilet juga nggak bisa kan. Karena semua harus duduk. Berbahaya bagi diri saya sendiri, Gayatri dan tentu orang lain, kalau saya sampai nekat jalan dan jatuh. Akhirnya ya sudah, tahankanlah baunya. Pas uda landing sempurna dan kami diizinkan turun, saya langsung ngacir cepet-cepet bawa bocah yang juga uda mulai menggeliat-geliat risih.

Pengalaman Gayatri pup saat penerbangan memang cuma sekali itu si, tapi amit amit dah, jangan sampai kejadian lagi! Wkwkwk! Ngakak kalau ingat….

hehehe

Yaaaaa gitu deh, beberapa kejadian yang rada malu-maluin yang pernah saya alami. Kayanya ya cuma tiga ini di puluhan penerbangan kami. So bisa dibilang, kecil kemungkinan terjadi. Walaupun kalau terjadi pun, semuanya akan tetap baik-baik saja. Asal kita sebagai ibu tetap tenang. Karena kalau nggak tenang, kejadian sekecil apapun bikin mood kita rusak dan ruin the rest of the trip. Jadi tetap semangat yaaa buat yang mau bawa anak/ bayi pergi seorang diri menggunakan moda pesawat. Tenang adalah koentji!

Related Post:
Pengalaman Bawa Bayi Naik Pesawat Umur 4 Bulan
Pengalaman Bawa Bayi Naik Pesawat Umur 9 Bulan

Gimana kalau teman-teman? Adakah kejadian lucu atau malah memalukan selama travelling bareng bayiii? Cerita yuuuuk!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!