Menghakimi Mom Snob

Artikel ini sebenarnya ditriger oleh artikelnya Mojok.co yang judulnya lebih ngegas: “Radikalisme New Mom Snob yang Terkadang Menyebalkan”. Yang isinya adalah curhat menarik atas fenomena ibu-baru-perfeksionis-yang-suka-mengomentari-gaya-parenting-orang-lain. Saya bilang menarik, soalnya ya saya related bangeeettt!

Di satu sisi, saya setuju dengan artikel tersebut.

Karena saya pun pernah jadi korban mom snob ya, dalam artian dikomentari secara negatif/ judgemental tentang pengasuhan saya ke Gayatri, dengan gaya yang terkesan merendahkan, meremehkan atau menganggap dirinya (lebih) pintar (poin 2 dari arti snob KBBI).

Dihakimi Mom Snob

Seperti yang disebutkan di Mojok.co, bahkan dua tema penghakiman favorit Mom Snob saya pernah dapatkan. Hehehe….

1  . ASI

Saya di”cubit” Mom Snob terkait ASI itu sekurangnya dua kali.

Yang pertama, saat saya mencari donor ASI bagi Gayatri usia 4 hari, yang harus opname karena sepsis tanpa stok ASIP sama sekali. Ada seorang kawan yang nyeletuk di Facebook, yang intinya, kalau dia jadi saya, dia nggak akan pakai donor ASI, dengan pendapat-pendapat tambahan yang nyerempet SARA.

Pengen rasanya ngegas dan bilang, “Yahhh, Lu nggak ngalamin sendiri si, Nyai!” Untung saya cepet pindah saklar, dan konsen ke urusan yang lebih penting.

Yang kedua, adalah saat saya kehabisan ASIP pas Gayatri growth spurt sekitar usia 3-4 bulanan. Yang komentar tetangga di komplek, kepada Mama Mertua saya yang sedang menenangkan Gayatri yang kelaparan di teras. Saya kan (masih) working mom 8-5 ya saat itu.

Tetangga berkata, “Ibunya ni gimana si, jam segini belum pulang! Nggak mikirin anaknya apa ya? Mana nggak ninggalin susu yang cukup lagi…. Anak saya ya, ASInya banyak Bu…. Harusnya tu…. bla bla bla….”, demikian dikutip oleh Mama Mertua.

Saya sedih? Ya sedih lah!

Tapi nggak sedih gara-gara Tetangga tsb si, lebih sedih karena nggak punya ASIP itu, bingung mikirin buat besok. Soalnya tu Tetangga juga uda disemprot Mama Mertua, hihihi, sampai nggak berani lewat depan rumah sampai beberapa lama.

Sejak saat itu saya bersahabat dengan Mama Mertua.

2 . MPASI

Yuhuuuu! Walaupun hubungan Mertua dan Menantu kami, bisa dibilang sangat amat baik ya…. Tapi bukan berarti tidak pernah ada gejolak di antara kami.

Tanpa mengurangi rasa hormat ke Mama Mertua (alm), saya sempet agak nyesek saat di awal masa MPASI, saya mengutarakan keinginan untuk MPASI homemade. Ditolak mentah-mentah bok sama Mama Mertua, dengan alasan kawatir saya tidak akan sempat.

Saya kaget juga, karena selama ini di rumah Mama, bahkan untuk masak mie saja, Mama Mertua bela-belain bikin mie from scratch loh!

Saya yakin, alasan sebenarnya, karena Mama nggak yakin saya nggak bisa masak MPASI dengan benar. Iya si, masak sehari-hari aja saya failed. Pantas kalau Mama Mertua nggak percaya kalau saya akan masak MPASI homemade.

Selama dua minggu, saya masak MPASI homemade sementara Mama Mertua tetap menyiapkan bubur MPASI instant berfortifikasi (saya juga yang beli, atas arahan beliau #mantunurut).

Setelah selama dua minggu, Mama melihat saya istiqomah dan melihat bahwa masakan saya cucok dengan kaidah MPASI WHO (Mama kader Posyandu, FYI), Beliau melonggarkan pengawasan. Dan secara langsung bilang kalau masakan MPASI saya oke.

Saya terharu. Rasanya tu kayak pengen teriak, “Yeayyy!!!” sambil diiringi lagu Malaikat Juga Tahu-nya Dewi Lestari. Hahahaha!

Malaikat juga tahuuuuu, siapaaaaaaaa yang jadiiiiiiiiii…. Juaranya…..

Merdu pisan euy!

Related Post: Woles Menyambut MPASI (Jurnal WHO Included)

Menghakimi Mom Snob

Tapi di sisi lain….

Ada beberapa hal yang mengganjal juga di hati saya terkait artikel tersebut.

Buat saya, masing-masing Ibu bebas melakukan pengasuhan dengan gaya apapun bagi anak-anak mereka. #ProIbu #ProChoice Jadi jelas, saya tidak mau berusaha membela atau membenarkan gaya komunikasi Mom Snob kebanyakan yang bagaikan NaCl di atas luka menganga ya….

Namun saya kawatir juga ni dengan fenomena ibu-ibu begitu mudah menghakimi ibu lain sebagai mom snob. Begitu mudah menuduh orang lain melakukan mom shaming.

Tanpa melihat, konten dari masukan/ kritik yang disampaikan si “mom-tertuduh-snob” ini.

Saya pernah baca blognya dr. Meta Hanindita. Dia dituduh mom shaming dong. Sama pasiennya! Pas dia melakukan edukasi tentang vaksin.

Okelah, saya nggak tahu persis apa kata-katanya. Namun, heloooo! ini dokter lo. Dan walaupun ada ibu yang anti-vaksin, tetep aja menurut saya aneh, kalau menuduh edukasi profesional seorang dokter sebagai shaming. Kita kan emang dateng ke dokter buat denger opininyaaaaa! Lah kok baper.

Lhah, kalau yang diomongin memang fakta atau opini berdasar, masa iya kita terus-terusan denial, Nyaaaah!

Kalau ternyata terbukti, yang rugi siapa?

Ya kita juga kaaan. Ya anak-anak kita juga kaaaan!

Jangan bilang saya bisa komen gini karena dokter saya baik ya. Saya pernah dateng ke dokter (yang di Surabaya) karena Gayatri nggak nafsu makan habis sakit, dan dijawabnya, “Ah Ibu kali yang nggak telaten (nyuapin).” Pake gaya orang Surabayaan gitu loh.

Hasyeeeemmmm!

Tapi saya jadi mikir, apa bener ya, saya kurang telaten. Hihihi….

Related Post: Menjadi Orang Tua yang Yakin

Atas dasar kepentingan kita, sesama ibu-ibu. Dan juga anak-anak kita yang terkasih. Izinkan eike mengungkapkan pendapat ya….

Apapun yang kita dengar tentang kepengasuhan kita. Mau enak, apa enggak enak. Mau pujian ataupun terasa nyinyiran. Marilah kita bareng saring dan pisahkan ke dalam 3 kluster:

1 . Fakta

2 . Opini

3 . Judgemental

Saya pakai contoh yang saya alami di atas ya….

1 . Tentang donor ASI.

Ternyata di balik omongan nggak enak temen saya tentang keputusan saya nyari donor ASI tu, banyaaaak banget fakta dan nilai-nilai kebenaran di dalamnya. Bahwa ada risiko dan bahaya yang membayangi proses donor ASI ini. Apabila tidak dilakukan penapisan ASIP yang benar.

Saat itu, benar, saking paniknya bahkan saya tidak mencari tahu latar belakang kesehatan pendonor ASIP. Walaupun saya sangat berterimakasih dan juga beruntung karena pendonornya (ternyata) sehat, bukankah ada kemungkinan bagi saya mendapatkan ASIP yang tercemar virus atau penyakit? —– ini fakta yang benar-benar saya sesali sampai sekarang.

Sampai sekarang saya tetap mendukung adanya donor ASI, namun dengan penapisan yang benar.

2 . Tentang kehabisan ASIP

Tetangga berkata, “Ibunya ni gimana si, jam segini belum pulang! Nggak mikirin anaknya apa ya? Mana nggak ninggalin susu yang cukup lagi…. Anak saya ya, ASInya banyak Bu…. Harusnya tu…. bla bla bla….”, demikian dikutip oleh Mama Mertua.

Jam segini belum pulang —–> fakta

Nggak mikirin anaknya apa —–> judgemental

Mana nggak ninggalin susu yang cukup ——> fakta

Anak saya ya, ASInya banyak Bu…. Harusnya tu…. ——> opini

Tentang penghakiman “nggak mikirin anaknya apa” yang dilontarkan tetangga tsb, saya berhak marah. Tapi kata Epicterus, “Any person anggering you becomes your master, he can anger you only when you permit yourself to be disturbed by him”.

Dan saya memilih untuk tidak mengizinkannya membuat saya marah.

Nggak penting. Mending pumping.

3 . Tentang MPASI homemade

Saya nggak bisa masak MPASI homemade dengan benar. —-> opini

MPASI berfortifikasi juga baik. —-> (ternyata) fakta.

Awalnya saya beropini kalau MPASI instant itu tidak baik karena ada pengawet lah, dll. Dan ternyata ketakutan saya tsb sirna ketika berdiskusi dengan mama mertua dan dokter anak kami.

Namun, saya juga berhasil mematahkan opini mama mertua bahwa saya nggak bisa masak MPASI homemade dengan benar. Hihihi. Bangga bukan main ya? LOL.

Pada akhirnya, tanpa emosi, kami berhasil berada di posisi sama-sama memahami pendapat masing-masing. Saya memahami pertimbangan Mama, dan Mama pun jadi respek pada kemauan saya berusaha dan belajar memasak untuk cucunya.

Persahabatan kami terjaga, sampai Beliau meninggal tahun lalu.

Bayangin kalau saya baper. Saya repot sendiri kalau traveling karena sama sekali nggak paham tentang makanan instan berfortifikasi. Hubungan saya dan mertua pun tentu akan memengaruhi hubungan saya dan suami. Jadi nggak enak semua lah.

Dan siapa yang rugi kalau nggak enak semua? Saya juga.

Ya gitu deh….

Daripada rugi sendiri, mending disaring omongan orang. Fakta dan opini (yang sahih) diambil. Bagian (yang kita rasa) judgementalnya dilupakan. Mereka hanya manusia biasa. Mungkin saja niatnya cuma sharing, nggak sengaja menyakiti….

Amin, jamaan….?

Enteng ya Nyonya ini kalau kotbah, super sekali. Hihihi…. Tapi yaaaa, kita sama-sama ngalami lah ya…. Daripada rugi sendiri, mari mengorganisasi pikiran menjadi lebih adem dan woles. Iyo to, enak to….

Udaaaa, iyain ajaaa…. Hahahaha….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Pengalaman Membawa Bayi Naik Pesawat (Umur 4 Bulan)

Ketika Neng Gaya berumur 4 bulan saya berkesempatan membawanya naik pesawat. Tidak tanggung-tanggung dalam satu bulan tersebut, kami harus menjalani 4 penerbangan. Dua penerbangan ke Semarang menuju Salatiga, dua pernerbangan (PP) lainnya ke Surabaya. Bagaimanapun perjalananan-perjalananan tersebut seru ya, dibalik suka dan dukanya. Jika tidak ada halangan kesehatan, membawa bayi naik pesawat, so far, menjadi pilihan saya jika harus berpergian jauh.

Karena toh bayi (di bawah 2 tahun) juga ga dicharge biaya seat, hanya bayar asuransi sekitar 50 ribu, hehehe….. Selain itu waktu perjalanan yang singkat meminimalisasi kemungkinan bayi kelelahan dan rewel berkepanjangan di jalan. Sepanjang-panjangnya ya sejam perjalanan di atas pesawat.

membawa bayi naik pesawat

Berikut pengalaman saya membawa Neng Gaya naik pesawat saat umur 4 bulan yang mungkin poin-poinnya akan bermanfaat bagi teman-teman yang mau berpergian atau mudik naik pesawat membawa bayi.

1 . Memilih Maskapai Penerbangan:

Penerbangan pertama dan kedua saya bersama Neng Gaya adalah menggunakan maskapai Garuda. Maskapai favorit jika saya tidak harus mempertimbangkan biaya, hahaha…. As you know, Garuda memang relatif mahal. Tapi untuk penerbangan kali ini saya bela-belain naik Garuda karena selain membawa bayi saya juga membawa mama mertua saya yang umurnya sekitar 60 tahun. Tanpa suami saya. Bukan hanya demi impression ke mertua yak! Tapi karena hal itu berarti saya membawa bayi dan lansia sekaligus maka Garuda patut dipertimbangkan. Mengapa?

Berikut hal yang saya suka saat terbang bersama Garuda:

  1. Pramugarinya sangat helpful dan ramah, apalagi ambiancenya juga nyaman ya, ada lagu-lagu daerah dari twilight orchestra yang pasti saya yakin mama mertua suka, mama happy setengah beban perjalanan ini sirna sudah,
  2. Sebagian besar naik turun dari pesawat menggunakan garbarata, walaupun di Semarang tidak menggunakan garbarata, kami yang membawa bayi dipersilakan naik duluan dan dipayungi bok kaya pejabat…. Soalnya Semarang saat itu memang panas-panasnya,
  3. Ada makanan dan minuman ringan,
  4. Ada Marugame Udon di terminal 3 Soekarno Hatta, ini penting buat Bapaknya Neng Gaya biar nganter dengan happy, hahaha….

Namun ada juga hal-hal yang patut digarisbawahi jika terbang dengan bayi menggunakan maskapai Garuda:

  1. Tidak bisa web check in, belakangan saya baru tahu kalau ternyata bisa city check in (check in di konter darat),
  2. Jarak antara konter checkin ke ruang tunggu itu jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhh…. Kabar baiknya ada mobil golf yang wara-wiri untuk mengantar penumpang membawa bayi atau lansia dari ujung ke ujung. Thanks, Angkasa Pura! Please, armadanya ditambah ya, soalnya bermanfaat banget. :)

Penerbangan ketiga dan keempat, karena saya berpergian bertiga bersama Tuan Besar (saya, Neng Gaya dan suami), saya pede untuk menggunakan sodaranya Garuda yang lebih irit, Citilink. Soalnya kalau rempong kan ada Tuan Besar yang sigap as always plus lovely and nice. Muah muah….

Berikut hal yang saya suka saat terbang bersama Citilink:

  1. Bisa web check iiiiiinnnnn!!!! Suka suka sukaa…. Jadi ga repot harus city check in ke konter darat Citilink atau ga harus juga berangkat pagi-pagi demi dapat seat yang bagus pas check in di bandara. Dengan bisa web check in berangkatnya bisa agak santai dan tidak perlu nunggu lama di Bandara.
  2. Jarak antar kursinya (kursi satu dengan kursi depannya) masih relatif longgar. Ada maskapai low cost lain yang saya dan suami rasakan ruang antar kursinya agak lebih sempit dibanding yang lain. Seperti ditambah satu row lagi, cmiiw, mungkin cuma perasaan kami saja ya. Atau mungkinkah kaki kami kadang lebih panjang dibanding hari biasanya? :D wkwkwkwk….
  3. Tiketnya lebih murah, hahaha….

Related Post:

Pengalaman Menggunakan 3 Maskapai Penerbangan Low Cost Carrier

Pilih maskapai apa? #flyingwithbaby . ✈️ Pengalaman pertama dan kedua saya terbang bawa Eneng Gaya dan mama mertua, saya menggunakan maskapai @garuda.indonesia. Alasannya karena saya bawa lansia dan infant sekaligus yang sama-sama baru pertama ini terbang. Jadi prefer yang senyaman mungkin. . Penerbangan saya berikutnya bawa bayi menggunakan @citilink. Adeknya Garuda yang lebih murah. Karena selain saya sudah punya gambaran kalau Gayatri lumayan kooperatif, saya juga bareng suami yang tentu jauh lebih bisa diandalkan tenaganya. Hahaha…. . So far kedua maskapai ini cukup friendly untuk mamak mamak bawa bayi. . Berikut sekilas perbandingan kedua maskapai: . 1. BIAYA Citilink relatif lebih hemat daripada Garuda. . 2. MAKANAN Di Garuda dapat makanan (snack untuk penerbangan jarak dekat, makan untuk jarak jauh). Citilink ga dapat. . 3. MAINAN Kalau bawa bayi/ anak, pakai Garuda dapat mainan, Citilink engga. Tapi mainan ini ga terlalu ngefek si, soalnya Neng Gaya toh lebih suka mainan bungkus tisu. 😅 . 4. HIBURAN Garuda bisa dengerin musik/ video, baca majalahnya yang bagus. Citilink engga ada fasilitas hiburan tsb. Tapi emak bawa bayi mah hiburan utamanya: anak anteng. Cukup. . 5. CHECK IN Citilink bisa web check in untuk penumpang membawa bayi. Garuda ga bisa. Bisanya city check in, yang menurut saya lebih ribet dari web check in. Sepertinya ini demi keamanan bayi sendiri ya. Tapi saya tetep lebih suka web check in. Ga deg2an pas berangkat agak mepet 😬 . 6. AMBIANCE Garuda suasananya lebih syahdu dg alunan musik lagu daerah Indonesia serta sapaan pramugarinya yang ramah, helpfull dan ayu. Citilink kerasa lebih fun dg pantun-pantunnya. . 7. RUANG TUNGGU SOETTA Ruang tunggu Garuda ada di terminal 3 dan rada jauuuuuuuuh dari konter check in. Better siapin waktu yang cukup, jangan datang mefet mefet. Kalau Citilink di terminal 1c. Dua2nya punya nursing room yang nyaman. . Kayanya itu poin-poin perbandingannya…. ada yang mau nambahin? Feel free buat komen ya…. . #tipsmudik #travellingwithbaby #familyfirst

A post shared by emanuella christianti (@nyonyamalas) on

2 . Persiapan Kesehatan sebelum terbang:

Kesehatan bayi terutama yang patut diperhatikan ya. Saat ke Semarang saya sekali cek ke dokter sebelum berangkat, saat ke Surabaya saya ceknya ketika sudah sampai di Surabaya. Memang tidak wajib sih untuk periksa, just in case dia flu atau ada kondisi kesehatan yang kami sebagai orang tua awam tidak dapat melihatnnya. Pesan dari dokter spesialis anak langganan kami adalah, jangan terbang ketika bayi pilek. Saya mahfum si, pengalaman saya dulu (sebagai orang dewasa) terbang pas pilek, kuping saya saja sakit, apalagi bayi.

Oiya, mau terbang atau pun di rumah saja saya selalu sedia termometer dan paracetamol (hasil konsultasi dokter) untuk pertolongan pertama.

3 . Deal with Baby on Board:

Pertanyaan yang sering muncul ketika orang tua akan membawa bayi naik pesawat adalah:

“Perlu pakai earmuff ga si?”

Pertanyaan yang sama saya ajukan ke dokter. Jawabannya earmuff ga terlalu ngefek kata dokter saya. Yang wajib dilakukan untuk mengurangi rasa sakit akibat perubahan tekanan udara yang dirasakan bayi adalah, menyusui bayi saat take off dan landing. Logikanya sama seperti orang dewasa ngemut permen saat take off dan landing, telinga akan terasa plong saat kita menelan ludah.

“Pas menyusui boleh lepas seat belt?”

Saat take off dan landing tentu tidak boleh melepas seat belt. Namun posisi seat belt bayi (dibawah dua tahun) yang melekat di tubuh ibu dengan posisi bayi dipangku (belum memiliki seat sendiri) cukup mudah kok untuk memposisikan bayi miring untuk disusui. So, Nyaaah, jangan kawatir ya….

Saya pribadi menyarankan menggunakan kaos busui dibandingkan menggunakan kemeja kancing depan. Alasannya karena untuk memudahkan menyusui tanpa menggunakan apron. Kemungkinan payudara ibu akan terekspos relatif kecil kecuali anak memberontak parah dan Ibu bergerak tak terkontrol atau yang melihat fokus ke arah dada, maka akan terlihat. Namun jika memang ibu lebih nyaman menggunakan apron bisa dicoba-coba dan dibandingkan mana yang lebih aman dan nyaman. :)

“Gimana kalau bayinya nangis saat di pesawat?”

Lakukan langkah sebagai berikut: 1) tetap tenang, 2) abaikan pandangan orang, 3) cari dan temukan penyebab bayi menangis, 4) lakukan tindakan mengatasi penyebab dan kalau no 3 dan 4 ga ngefek juga lakukan nomor 5) tetap percaya diri dan 6) repeat. “Tetap tenang” kedengaran klise ya, tapi trsut me it works. Bayi kita tetap bayi yang sama kok dengan bayi yang kita miliki sehari-hari di rumah. Kebiasaan-kebiasaannya akan tetap sama.

Misalnya kalau Neng Gaya ucek-ucek mata tandanya dia rewel karena mengantuk, usel-usel dada berarti dia lapar, tiba-tiba bau asem artinya dia pupup, kalau dia geleng-geleng gelisah kemungkinan dia bosan maka kasih mainan (kalo Neng Gaya mainan sama dengen kresek plastik, hahaha). Kalau dia melakukan hal-hal di luar kebiasaan seperti (kalau Neng Gaya ya) tepuk tepuk telinga, ada kemungkinan penyebabnya ya tidak biasa, tersangka utamanya telinganya sakit. Maka walaupun dia ga lapar yuk mari dicoba untuk disusui. Kadang Neng Gaya menolak, paksa saja secara lembut.

“Gimana kalau dia pupup di atas pesawat?????”

Kalau ini gawaaaaaattttt!!!! Hahaha…. Jujur saya belum pernah mengalami Gayatri pupup di atas pesawat saat posisi pesawatnya masih di langit. Pernah sekali Gayatri pupup alias eek alias ook alias buang air besar di atas pesawat itu pas posisi sudah selesai landing dan pesawat gerak cuma nyari parkiran. Jadi nunggu bentar sampai turun dan nyari nursing room. Jadi saya ga bisa sharing gimana cara mengganti diapers di atas pesawat.

Namun saya punya tips untuk mencegah Neng Gaya pupup di atas pesawat, tipsnya pernah saya share di akun Instagram @nyonyamalas sebagai berikut:

Tips Bawa Bayi Naik Pesawat: Pengalaman Neng Gaya Pup . Yang paling saya kawatirkan saat bawa Neng Gaya naik pesawat adalah kalau dia pupup di dalam pesawat. Mau ganti rempong, ga diganti bakal rewel, untuk itu saya mempraktikkan beberapa tips dari temen-temen @bcjan_feb2017 : . 👍🏼 pagi hari si Eneng dipijat gowes dulu, biar pas siang jam kami terbang dia uda pupup duluan. Sambil dipijet sambil dibilangin buat pupup sebelum atau sesudah penerbangan. Hehehe, aneh ya ngobrol sama bayi, but it works! Neng Gaya pupup cukup waktu sebelum boarding. Saya nggak pernah sebahagia ini nyium bau pupup si Eneng. Tips ini awalnya saya dapat dari mbak @diniminory thanks maaak 😘 . 👍🏼 tips kedua, siapin tempat tersendiri yang mudah dijangkau berisi diapers, tisu basah, minyak telon (optional). Ini penting agar ga bongkar-bongkar tas buat nyari popok. Tips ini aku dapat dari mbak @dikaarifiani 😘 mamaci mbaaa…. . Pict diambil di nursing room Bandara Ahmad Yani Semarang. Tempatnya kecil tapi nyaman. Tempat ganti diapernya ada cermin besar, jadi Neng Gaya bisa mainan sama bayangannya sambil diganti diapernya. Uda gitu tempat cuci tangan posisinya di sebelahnya persis jadi masih bisa njagain biar nggak gelundung. Thankyou @angkasapura2 ! Good job 😊 . Recommended product: 👍🏼 tisu basah @mamypokoid no alkohol no fragrance, 👍🏼 diaper @goon_indonesia varian excellent soft tipe pants, gampang makeinnya dan juga panjang sampai di atas pusar jadi anget ga masuk angin. . #tipsmudik #flyingwithbaby #baby #travellingwithbaby #nursingroom #cutebaby #airport

A post shared by emanuella christianti (@nyonyamalas) on


 4 . Barang-barang Yang Dibawa

Hampir sebagian besar barang-barang yang saya kira akan diperlukan di lokasi saya paketkan terlebih dahulu. Sehingga saat naik pesawat saya hanya membawa sedikit barang saja. Hal ini diapresiasi temen kantor dan saudara-saudara saya loh, dan memang terasa sangat praktis sih. Poin ini adalah poin yang membuat saya merasa sangat cerdas. Hahaha…. *abaikan*

Ketika saya harus ke Salatiga (lewat Semarang) untuk urusan pekerjaan sambil membawa Neng Gaya dan Mertua, bawaan saya banyaknya sama dengan rekan kerja saya yang sorangan. Tas ransel sedang dan koper isi dokumen pekerjaan. Sementara ketika ke Surabaya selama 6 hari 5 malam, barang bawaan yang saya tenteng naik pesawat juga hanya satu tas ransel sedang yang sama plus diapers bag.

Related post: Rekomendasi Diaper Bag untuk Travelling

“6 hari 5 malam cuma bawa ini aja?”, kata Eyang Kakung.

Ga tau dia kalau ada barang hampir segede kardus sarimi yang sebelumnya sudah saya kirimkan dengan JNE ke rumah Kakak Ipar. Hihihihi…. Untuk meminimalisasi bawaan saya juga memilih untuk 1) membeli barang seperti diapers yang ukurannya besar namun sekali pakai, 2) menggunakan sabun mandi dan shampo yang sama dengan yang dipakai Neng Gaya (sabun 2 in 1, hihihi) serta 3) meminimalisasi pakaian saya dan suami dengan laundry di Surabaya.

Nah namun ada barang-barang tertentu ni yang harus ditenteng kemana pun kami pergi. Barang-barang wajibnya Neng Gaya, sebagai berikut:

Printilan Bayi saat Mudik (urut dari yang ga prioritas no 9 sampai yg paling prioritas no 1): 9. Termometer, 8. Sisir bayi, 7. Teether atau mainan, 6. Diaper cream, @sebamedindo atau merk switzal gantian biar irit 😬, 5. Telon, telon cream @bebe_roosie kalau buat jalan karena takut tumpah, kalau di rumah pakai @bundakonicare yang tutup ungu karena enakeun buat pijit, 4. Jaket yang ada hoodienya @mothercareindo, 3. Baju ganti, 2. Tisu basah @mamypokoid no alcohol no fragrance, aman ga bikin bokong Eneng Gaya iritasi, 1. Diapers @goon_indonesia, andalan Ibu, mau di rumah ataupun jalan-jalan sampai ke luar kota pun Neng Gaya teteup pakai merk ini sejak umur 1 bulanan. . Nomor 1-3 adalah yang paling wajib saya bawa kalau keluar rumah bareng Neng Gaya, walaupun cuma ke mall buat makan. Makin jauh perjalanan maka makin banyak barang yang dibawa. . Barang-barang ini saya letakkan secara terpisah dan di tempat yang mudah dijangkau. Jadi kalau diperlukan ga perlu bongkar-bongkar tas. . Kalau teman-teman apa aja yang biasa dibawa kalau pergi sama bayinya? Share doooong…. 🙏🏼 siapa tahu bisa jadi tips untuk mudik nanti…. . #tipsmudik #travellingwithbaby #nursingbag #perlengkapanbayi

A post shared by emanuella christianti (@nyonyamalas) on


Itu sharing pengalamanku selama empat kali membawa bayi naik pesawat. Semoga bermanfaat bagi temen-temen ya…. Feel free to share dan tag temen-temen lain yang membutuhkan di sosial media.

Update November 2017:
Gayatri sekarang sudah 9 bulaaaannn!!! Dan sudah melakukan penerbangan sebanyak hampir selusin. Beberapa tips dan pengalaman tambahan terkait membawa bayi, saya tulis lebih lanjut di artikel berikut:

Pengalaman Membawa Bayi Usia 9 Bulan dan Perbedaannya dengan Usia 4 Bulan. 

WAJIB DIBACA! Kompilasi artikel terkait traveling bareng bayi naik pesawat.

Jika temen-temen punya tips lainnya bisa juga tinggalin tipsnya di comment section yaaa…. :) Terimakasih.

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share