Tentang Pilihan Gaya Hidup #CerdasDenganUangmu

Hidup 26 tahun dalam keluarga pegawai negeri, membuat cara pandang saya terhadap uang sangatlah konservatif. Penghidupan ya dari pay day ke pay day berikutnya, dicukup-cukupin tapi pasti. Hidup sederhana tapi tidak pernah berkekurangan. Selalu ada makanan empat sehat lima sempurna serta tidak pernah terlambat bayar SPP. Semua karena kedisiplinan dan ketaatan terhadap anggaran.

Tidak ada istilah boros, tidak mungkin juga berfoya-foya. Semuanya bermuara pada satu kata: PAS. Kalau ada sisa, bolehlah ditabung. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Kira-kira begitulah yang diterapkan dan yang saya pelajari dari rumah Papa.

Warna baru yang berbeda, saya rasakan ketika menikah. Suami berasal dari latar belakang keluarga yang sangat berbeda. Alih-alih bekerja kepada negara, mereka terbiasa berwirausaha atau self employed. Gaya hidupnya pun sangat berbeda.

gaya 1

Saya dan Alm. Mama Mertua

Jika diibaratkan dengan minum kopi, mungkin gaya hidup keluarga Papa saya bisa disamakan dengan minum kopi susu encer. Kami menikmati kafein yang tipis perlahan-lahan, supaya persediaan kopi tak segera habis. Sementara gaya hidup Papi mertua saya, menurut Mama mertua, seperti minum espresso. Telak dan mantap. Kafeinnya sekali teguk, nendang sampai ke jantung.

Perbandingannya mungkin begini. Satu SEMPAK milik Papi, harganya bisa sama dengan SEPATU milik saya yang paling mahal. Telak dan mantap.

Saya nggak tahu apakah tingkat kenyamanannya memang seworthy itu atau bagaimana ya…. Wong saya juga nggak pernah nyobain. Ya iyalah, masa saya cobain! Serius! Saya tahu harga celana dalam Papi karena pernah ikut kakak ipar belanja titipan beliau, hehehe. Bawa goodie bag isi sempak aja banyak sales apartement yang ngintilin. Itu baru sempak ya. Belum lagi jam tangan beliau. Mungkin sama harganya dengan harga rumah saya di kampung.

Tapi itu sekarang…. Pas jaman mujur, bisnis sedang di atas angin. Tapi bukan sekali dua kali, Papi mengalami kesulitan keuangan. Mama mertua sendiri yang bercerita bagaimana mereka harus menyambung nasib dari jasa jahitan dan jualan tahu goreng. Jangankan untuk menabung, kakak pertama dan kedua suami pun sempat putus kuliah. Beda banget kan perbandingannya, kayak naik roller coaster kalau kata Raffi Ahmad #eh.

Berbalik dengan itu, Papa saya di masa sulit adalah sahabat karib para pegawai bank. Kredit apapun pasti akan cair kalau sudah disodori SK PNS sebagai agunan. Satu belum lunas saja, sudah ditawari top up. Belum lagi dari koperasi kantor Papa. Slip gaji yang rutin dan pasti datang serta pinjaman demi pinjaman tersebut adalah jaminan, bahwa hidup kami ya lempeng lempeng saja. Punya pelampung dan sekoci cadangan. Selama waspada, pasti selamat sampai tujuan.

gaya 3

Gayatri dan Mama Papa Saya

Saya cerita seperti ini bukan sedang menjelek-jelekkan salah satu dari mereka ya. Both Papa maupun Papi, memberikan pelajaran yang berharga kepada kami berdua.

Pelajaran tersebut bernama: pilihan gaya hidup.

Saya pernah baca di moneysmart.id tentang gaya hidup kelas menengah milenials jaman now yang biayanya per bulan melebihi Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta. Banyak ya. Iya, hanya untuk gaya hidup saja. Dan saya tidak memungkiri hal ini kok. Karena kami sempat juga mengalaminya.

Makan di restoran bisa berkali-kali dalam satu minggu, nonton bioskop setiap film baru tayang. Belum lagi rider receh-recehnya kan, seperti kalau nonton beli snack, beli minum, dll. Nggak kerasa eh banyak! Eh, eh, eh, kok banyak banget!

Gaya hidup tersebut jadi mulai terasa berat saat saya dan suami mengambil pilihan untuk sama-sama keluar dari pekerjaan. Suami resign dari pekerjaannya di Jakarta dan mengambil job di suatu proyek kecil di Surabaya, dan saya menyusul dengan mengambil cuti selama tiga tahun tanpa digaji.

Kalau ditanya pengennya bagaimana? Ya maunya gaya hidup tetap asyik, enak, mantap, nendang, tralala tapi sekaligus juga sustain sampai selama-lamanya. Cuma kan yaaa…. Kita berada in the middle class problem ni: banyak mau sementara sumber daya terbatas. Jadi mau nggak mau ya harus menentukan pilihan. Kemana gaya hidup ini kita mau arahkan.

Kami banting setir. Nggak ada lagi tu makan-makan di luar rumah terlalu sering. Ya sekali dua kali dalam sebulan oke lah. Selebihnya kami belanja secara bulk dan masak sendiri di rumah. Dan guess whaatttt???? Di bulan Desember ini, kami bisa mengurangi biaya hidup sampai tinggal 30% dari sebelumnya. Lumayan banget kan ya, dan rasanya nggak sengsara-sengsara amat loh.

Saya jadi makin yakin, kalau masalah keuangan sebenarnya hanya matter of choice saja.

Ya. Tidak ada yang harus.

gaya 2

Tidak ada yang salah atau benar.

Mau senang-senang mumpung masih muda? Monggo….

Mau investasi biar senang-senangnya pas sudah tua aja? Juga monggo….

Semua balik lagi ke pilihan masing-masing. Lebih suka “minum kopi susu” kaya Papa saya atau “espresso” kaya Papi saya. Hanya saja, jangan memaksakan diri minum espresso kalau minum kopi susu aja udah deg-degan.

Sesuatu yang dipaksa itu rasanya bakal menyakitkan. Aseeekkk….

Kapan si harus mulai mengevaluasi pilihan gaya hidup?

1. Saat penghasilan berubah.

2. Saat memiliki tujuan keuangan baru.

3. Kapanpun saat ingin.

Bagaimana memulainya?

Beberapa hal berikut yang menurut saya cukup mudah untuk dilakukan saat memulai perubahan gaya hidup:

1. Mengurangi frekuensi makan di luar.

2. Auto debet rekening langsung ke rekening khusus tabungan atau investasi.

3. Tutup kartu kredit/ uninstal aplikasi fintech atau setidaknya minimalisasi penggunaan fasilitas cicilan.

4. Ambil kursus gratis/ kerjakan hobi yang produktif sebagai pengalihan perhatian.

Pertama melakukan perubahan pasti ada rasa kurang nyaman walau sedikit. Setidaknya ada kecanggungan. Namun berdasar pengalaman kami, percayalah, rasanya tidak sesengsara itu kok. Hehehehe…. Diingat-ingat saja apa alasan ingin memulai perubahan gaya hidup. Biar semangat lagi!!!

Semoga sharing kali ini bermanfaat yaaaaa! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Investasi Terbaik

Well, sebenarnya saya agak kapok nulis tentang investasi terbaik. Masih segar dalam ingatan saya, saya nulis pengalaman investasi yang pernah saya lakukan di blog ini dan kemudian banyak yang nanya-nanya terkait.

Sebenernya saya senang kalau diajak diskusi. Tapi pertanyaannya itu looo….

Kebanyakan seperti ini:

1. Apa si investasi yang tepat buat saya?
2. Saya pengen beli reksadana ni, apa ya mbak yang oke buat saya?
3. Kalau saya mau beli rumah sekian tahun lagi, saya harus investasi apa ya?

Pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya seharusnya diambil atau dihitung sendiri oleh investor sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tipe seperti ini itu nggak bisa yang situ nanya, otomatis keluar jawaban.

IMG_20181231_025029_384-1024x2018

Kasuistis banget. Masalah personal finance, in my humble opinion, sebenarnya masalah pribadi yang berbeda tiap kasusnya ya. Tidak ada satu formula pun yang akan cocok untuk semua kakus…. Eh, kasus.

Sama seperti juga penyakit orang pun bisa macam-macam treatmentnya. Tidak ada satu obat untuk semuanya.

Yang ngeselin lagi, ada juga yang uda panjang lebar minta dijelaskan dari A sampai Z, tapi beberapa bulan kemudian bertanya kembali. Pertanyaan yang sama!

Saya ingatkan kalau saya pernah ngasih link untuk dibaca lebih lanjut. Dan dijawab bahwa dia sibuk. Oh okay, saya juga sebenarnya sibuk (bekerja saat itu dari jam 8 sampai jam 5) untuk menjawab ulang semua pertanyaan dan mencarikan kembali link-link yang sebelumnya saya berikan. Huh!

Hehehe, sorry, jadi curhat ni yeeee….

Tapi saya nulis lagi akhirnya. Selain demi curhat di atas, juga pengen ngasih insight ringan buat teman-teman yang (sama seperti saya juga) mau terus belajar untuk berinvestasi di tahun depan. Bukan pembahasan teknis terkait si, tapi lebih ke persiapan hati dan pikiran dalam memilih investasi terbaik. Semoga tetap bermanfaat ya! 

IMG_20181231_025701-1024x520

Jadi demikianlah tiga kriteria investasi terbaik yang layak untuk kita beli dengan uang hasil kerja keras kita selama ini; 1) yang bisa kita pahami, 2) yang sesuai karakter pribadi dan 3) investasi ke diri.

1. Investasi yang bisa kita pahami

Menggandakan uang di orang pintar. Itu jenis investasi yang paling saya nggak bisa pahami si, hahahaha!

Kalau investasi normal lain, sepertinya masih bisa dinalar dengan logika ya. Jadi kalau tertarik sebuah produk investasi, namun kita belum paham, ya berarti harus belajar dulu.

Oke, beberapa orang menganut pengalaman adalah guru terbaik. Ya bener juga sik. Tapi jangan juga ambil investasi saat pengetahuan akannya itu nol besar. Setidaknya common sense-nya kita paham lah sedikit-sedikit. Kalau hanya terpukau dengan janji dan asumsi, kita langsung bakar-bakar uang, kan sayang uangnya….

Beberapa yang sering banget muncul di pembahasan ibu-ibu adalah unit link. Saya tidak anti unit link si ya. Hanya ada beberapa orang kadang kurang paham dengan produk yang dia beli. Semacam tidak mencari tahu dengan benar sebelumnya.

Pada akhirnya, banyak yang kecewa karena kok nilai pengembaliannya lebih kecil dari yang disetorkan.

Yah, padahal seharusnya dari awal juga bisa dicari tahu ya, bagaimana cara kerja produk tersebut. Bagaimana produk tersebut sebenarnya tidak mengalokasikan seluruh dana nasabah ke investasi melainkan juga menyetorkan sebagian dananya sebagai premi asuransi. Bagaimana sebenarnya angka yang dijanjikan di awal oleh para marketing ini hanyalah sebuah asumsi. Yang mana bisa berubah tergantung dengan kondisi perekonomian di masa yang akan datang.

Sedih sih kalau sampai begitu.

Kalau bagi saya sendiri, rambu-rambu yang saya terapkan adalah:

  • tahu definisi dari produk investasi itu sendiri, kalau definisinya aja ga tahu gimana mau tahu cara kerjanya coba,
  • tahu gambaran bagaimana si cara kerja produk tersebut dalam menghasilkan laba. Misal mendapat laba saat diperjualbelikah, meningkat dalam bentuk potential gain kah, atau bagaimana,
  • tidak mengambil investasi yang too good too be true, misal imbal baliknya terlalu besar,
  • tidak mengambil investasi yang menjanjikan nol risiko, karena sepengetahuan saya tidak investasi yang demikian,
  • mencari second opinion dari teman yang pernah mengambil produk yang sama, alih-alih hanya mendengarkan dari satu pihak.

2. Investasi yang fit dengan karakter pribadi.

Ada TIGA karakter pribadi yang menurut saya perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi: 1) profil risiko, 2)  value/ nilai-nilai yang dianut dan 3) financial goals.

IMG_20181231_025646-1024x520

i) Profil Risiko

Beberapa bank menyediakan jasa ini ya, tapi kita juga bisa mengasses diri sendiri juga. Apakah diri kita termasuk investor yang AGRESIF-kah atau yang KONSERVATIF atau yang sedang-sedang saja (MODERAT). Profil ini menyangkut seberapa besar risiko yang dapat ditanggung oleh seorang calon investor apabila kehilangan investasi atau modalnya. Pemahaman mudahnya begitu ya….

Profil ini mengasses informasi seperti jangka waktu investasi, porsi dana investasi terhadap total asset, tingkat ketergantungan terhadap hasil investasi, toleransi risiko, dan beberapa poin lainnya.

Tentu saja profil risiko masing-masing orang bisa berbeda ya, walaupun nilai investasinya sama. Sebagai gambaran. A adalah seorang janda yang baru saja mendapatkan uang pertanggungan (UP) saat suaminya meninggal sebesar 1 M. Beliau tidak memiliki skill untuk bekerja atau usaha, sehingga akan menggantungkan penghidupannya dari hasil investasi (UP). Selain itu, beliau juga masih harus membesarkan putera-puterinya yang masih usia sekolah. Maka secara relatif, profil ibu ini adalah konservatif karena tingkat ketergantungannya terhadap hasil investasi tinggi, sementara toleransi terhadap risikonya sangat rendah.

Profil risiko ini yang akan memengaruhi produk apa yang tepat untuk calon investor. Dengan profil konservatif, para financial planner kemungkinan akan mengarahkan calon investor ke investasi-investasi yang risikonya rendah seperti deposito atau investasi di pasar uang.

Berbeda dengan B, seorang muda yang tidak memiliki tanggungan. Punya skill dan juga pengalaman bisnis. Profil risikonya agresif, mungkin akan memilih untuk berinvestasi di sektor riil atau pasar modal saja dengan uang sebesar itu. Tentu memang hasil investasinya pun akan semakin besar seiring dengan risikonya.

Teman-teman bisa coba googling dengan keyword “Cek Profil Risiko” ya, kalau mau tahu lebih lanjut.

ii) Value/ Nilai-nilai yang Dianut.

Kalau di poin 1 tadi membahas tentang pengetahuan otak, kalau poin ini lebih ke masalah hati ya…..

Saya cerita pengalaman pribadi sedikit…. Saya lulusan fakultas ekonomi, yang tentu saja familiar dengan masalah keuangan. Profil risiko saya agresif, karena saya sebelumnya aktif bekerja sebagai PNS di Kementerian Besar yang notabene kecil kemungkinan dipecat dan juga bukan tulang punggung keluarga. Jadi tingkat ketergantungan saya terhadap hasil investasi sangat rendah.

Beberapa rekan selalu menganjurkan saya untuk coba-coba investasi di pasar modal. Saya sudah mulai belajar juga sih. Tapi selalu ngeper. Nggak pernah beneran maju.

Kenapa coba?

Karena faktor greedy dan worry dalam diri saya cukup kuat. Jujur.

Serius! Selama saya belum bisa mengendalikan kedua hal tersebut dengan baik, sepertinya lebih baik buat saya untuk berinvestasi ke produk-produk konservatif. Saya ingin meminimalisasi dorongan saya buat jadi obsesif pada uang. That’s why saya selalu salut sama teman-teman yang investasi di dunia pasar modal namun bisa tetap berkepala dingin.

IMG_20181231_024833_109-1024x2018

Terserah! Mau diejekin mulu sama temen, dibilang “kaya nenek-nenek” karena hari gini masih invest di produk yang itu tuuuuuh, saya mah tutup telinga ajaaaah. -.-“

iii) Financial Goals

Masalah karakter pribadi yang menurut saya perlu dipertimbangkan untuk pengambilan keputusan investasi adalah tentang financial goals atau tujuan keuangan.

Seperti tadi ketika kita bahas unit link. Ya kalau tujuan keuangannya murni untuk investasi, bisa jadi keputusan beli unit link itu salah. Karena produk tersebut bukan murni investasi. BISA JADI. Namun keputusan itu bisa jadi tepat, kalau memang tujuan investor juga adalah perlindungan diri (asuransi). BISA JADI lo…. Tetap perlu dicermati proporsinya ya…. IMHO.

Selain itu, ketika kita telah memiliki tujuan keuangan, maka besaran pengembalian investasi yang diharapkan akan lebih terukur. Terukur jumlahnya yang diharapkan, terukur jumlah yang bisa diinvestasikan dan terukur kapan harus telah cair/ tersedia. So, poin ini tentu akan mempersempit pilihan investasi.

3. Investasi pada Diri Sendiri

Belajar skill baru atau pengetahuan baru won’t hurt. Sounds cliche ya? Tapi bener banget kaaaaan….

Both investasi dalam rangka menambah skill dan pengetahuan baru dalam hal investasi, maupun dalam hal lain, keduanya akan bermanfaat dalam jangka panjang. Belajar juga nggak harus ribet ribet kan, belajar investasi juga bisa dari baca-baca artikel investasi, ngobrol atau juga ambil interactive workshop. Semua bisa menyesuaikan dengan kesibukan masing-masing.

Poin ini cukup jelas ya, saya nggak mau berpanjang-panjang. Pokoknya belajar terus sampai akhir hayat.

***

So…. Selamat merenung dan berinvestasi ya teman-teman! Besok sudah 2019 loooh!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share