Pengalaman Cabut Gigi Geraham dengan BPJS dan Daftar Puskesmas Online

PhotoGrid_1547492584764-1024x576

Saya memiliki BPJS Kesehatan selama delapan tahun, namun baru kali ini benar-benar memanfaatkan fasilitas ini. Dan cukup terkesan ya. Terkesannya karena ternyata apa yang selama ini saya underestimate ternyata tidak demikian. Berikut pengalaman saya cabut gigi geraham di Puskesmas menggunakan BPJS Kesehatan dan aplikasi eHealth.

Sebelumnya saya cerita dulu ke-skeptisan saya terhadap BPJS ya…. Jadi sebagai PNS kan saya diberi fasilitas BPJS. Berarti genap 8 tahun saya terdaftar keanggotaan BPJS, sesuai masa kerja saya. Bahkan seharusnya suami dan Gayatri anak saya pun bisa dapat fasilitas ini free dari kantor, karena biaya BPJS Kesehatan PNS kan ditanggung kantor.

Namun karena banyak kabar yang beredar kalau pakai BPJS nggak nyaman dll, selama delapan tahun ini hampir tidak pernah saya memanfaatkan BPJS saat sakit/ melahirkan, dll. Bahkan suami dan anak pun tidak saya urus administrasi keanggotaannya.

Saat suami opname di tahun kemarin, saya memilih biaya mandiri. Demikian pula saat Gayatri opname lima hari, pun kami memilih biaya mandiri. Dengan harapan akan mendapat layanan kesehatan yang lebih baik.

Tapi ternyata sama saja. Waktu Gayatri opname, saat itu yang tersedia hanya Kelas 1. Jadi di kamar ada dua pasien. Satu pasien lagi ternyata adalah pasien BPJS. Dari situlah, mata saya mulai terbuka terhadap layanan rumah sakit terhadap pasien BPJS. Kebetulan kedua pasien sama-sama rujukan dari IGD ya…. Jadi bukan dari faskes 1.

Saya si melihatnya pelayanan yang pasien BPJS itu dapatkan sama kok dengan yang Gayatri dapatkan. Saat keluar kami hampir bersamaan, Gayatri duluan dan saya ke kasir. Saya bayar sampai manyun, dan orang tua pasien BPJS itu sumringah karena gratis. Hehehehe, saya manyun beneran. Karena kalau saya dulu nggak skeptis, saya nggak perlu bayar biaya RS kan ya, karena toh dicover BPJS.

hiks

Pengalaman yang mahal. Wkwkwkwk….

Oleh karena itu, saat awal tahun ini saya berencana perawatan gigi geraham, saya memutuskan untuk mencoba menggunakan BPJS saja. Soalnya, di tahun 2017, suami saya pernah cabut gigi geraham juga di satu Fakultas Kedokteran Gigi di Jakarta Selatan, biayanya kurang lebih 2,5 jutaan. Saya pikir dengan duit segitu, mending buat nambahin saya beli Ipad Pro demi bisa doodling elektronik, wkwkwk.

Kedatangan Pertama: Kesan Pertama

Pertama saya datang ke Puskesmas, saya dapat antrian ke 6 apa ya. Cukup lama menunggunya, karena ternyata pada saat yang bersamaan, Puskesmas sedang cek alat. Tapi masih wajar si, nggak sampai jam 11 siang, saya sudah kelar. Perawatan pertama, saya diberi obat untuk menghilangkan rasa sakit dan infeksi dulu, dan diminta kembali lagi. Tidak dikenakan biaya untuk obat maupun dokter.

Kami dapat informasi kalau pendaftaran bisa dilakukan secara online di http://ehealth.surabaya.go.id/pendaftaran/. Sehingga saya nggak perlu menunggu lama, demikian kata petugas Puskesmas. Wow! Saya cukup terkejut si, ternyata Puskesmas sudah berkembang dengan baik ya. Apa saya aja yang nggak update ya? Hehehe….

Kedatangan Kedua: Bolak Balik Periksa Gigi

Kedua kali saya datang, menuruti kata petugas, saya daftar online dulu H-1. Syukurlah saya dapat antrian kedua, suami saya dapat antrian pertama wkwkwk, dia mau ikutan cek gigi juga. Sayangnya, ternyata kondisi gigi saya belum sepenuhnya siap untuk tindakan. Sehingga saya masih perlu konsumsi obat. Hanya obat diganti/ disesuaikan. Biayanya Gratis ya.

Berikut hasil download nomor antrian daftar puskesmas online, file ini tinggal ditunjukkan pada petugas ya….

pengalaman cabut gigi geraham di puskesmas

PS. Nama dan NIK saya saya blur ya….

Oh, iya! Saya diminta kembali lagi beberapa hari kemudian. Dokter juga menambahkan kalau ternyata kondisi gigi saya tidak juga bisa dilakukan tindakan di kedatangan ketiga maka perlu dilakukan rujukan ke dokter spesialis.

Awalnya saya nyaris kumat skeptisnya. “Tuh, kan disuruh bolak balik!”, demikian saya curhat ke kakak ipar. Namun ternyata kakak ipar balik cerita kalau dia pun pernah mengalami hal yang sama (diminta bolak balik) di Klinik Swasta, terkait perawatan gigi. Jadi memang prosedurnya begitu ya. Dokter tidak bisa melakukan tindakan jika gigi masih terasa sakit dan ada penyulit tertentu.

Kedatangan Ketiga: Tindakan Cabut Gigi Geraham

Ketiga kalinya saya datang. Dokter melihat kondisi gigi saya, syukurlah sudah siap dilakukan tindakan. Setelah menunjukkan kartu BPJS Kesehatan ke dokter, saya dicek tekanan darahnya oleh dokter umum, kemudian cek gula darah di lab pada Puskesmas yang sama. Kurang lebih satu jam proses pemeriksaan darah, dll, saya kembali ke klinik gigi untuk dilakukan tindakan.

Sayangnya saya nggak bisa mengambil gambar ya, karena ada larangan mengambil gambar di Puskesmas.

Ruangan tindakan sebenarnya cukup besar ya, namun terasa sempit karena ada dua kursi periksa gigi pasien yang cukup besar. Walaupun begitu saya rasa, kondisinya cukup nyaman kok.

Tiga kali perawatan, dokter yang menangani saya sama. Namun saat tindakan ada dua dokter lagi yang menemani. Salah satunya, dilihat dari penampakannya terlihat lebih senior. Dokter yang senior ini yang kemudian menjelaskan kepada saya tentang tindakan dan alasan tindakan perlu dilakukan.

Ketiga dokter ini cukup menyenangkan gaya komunikasinya. Saya sungguh senang dengan cara mereka mendengarkan keluhan, kemudian memeriksa serta meminta feedback kepada saya. Karena tubuh saya sepertinya memang agak kurang merespon obat bius (pengalaman operasi sebelumnya, juga demikian), saya sempat merasa kesakitan, dan ketiga dokter dengan sabar memberikan dosis lagi serta menunggu lagi sampai bius benar-benar bekerja di mulut saya.

Tindakan selesai.

Biaya Cabut Gigi Geraham di atas: Gratis.

Lesson Learn:

Jangan berpikiran negatif dulu terhadap segala sesuatu. Terutama ketika mendengar review dari orang lain. Karena kebanyakan orang bercerita ke orang lain itu dengan tema sambat. Sambat tentang pengalamannya yang kurang menyenangkan. Sementara mungkin pengalaman yang postif kurang banyak diperdengarkan ya….

Untuk itu saya jadi kepikiran untuk nulis artikel ini, sebagai penyeimbang juga. Oiya, ada cuitan dari Raya Fahreza juga tentang layanan BPJS yang dikomen dan diretweet ribuan orang. Bisa dicek di sini, untuk punya another point of view.

Saya nggak juga berpendapat kalau sistem ini sudah sempurna ya. Tentu saja masih ada room for improvement untuk membuat layanan BPJS ini semakin baik. Tapi berdasar pengalaman saya ini, juga berdasar pengalaman saya menjadi pasien di RS Swasta seperti RS Premier Bintaro, Eka Hospital BSD, IMC Bintaro ataupun klinik-klink biasa, layanan di Puskesmas Gununganyar ini bisa dibilang not bad lah.

Apalagi gratis kan. Hihihihi…. Seneng banget deh saya, kalau inget layanan di atas itu free.

love love

Saya menulis ini juga bukan berarti naif terhadap pelaksanaan pelayanan kesehatan oleh beberapa oknum yang masih memperhitungkan untung rugi ya. Kalau ada yang bilang oknum seperti itu masih ada, saya juga yakin ada si.

Apresiasi

Namun saya tetap mau menuliskan pengalaman ini untuk mengapresiasi tenaga kesehatan dalam hal ini tiga orang dokter gigi yang merawat saya (saya tidak sebutkan namanya due to their privacy), faskes Puskesmas Gununganyar dan juga Pemkot Surabaya. Semoga cerita ini pun mendorong orang lain untuk bercerita hal baik yang sama, dan hal baik tersebut menjadi standar baru bagi layanan kesehatan di bangsa ini.

Hihihi…. Sekali-kali serius ya eike ngomongnya….

Pahami Prosedur

Oiyaaa! Selain itu, tetap menurut saya, sebagai pasien kita harus mengert prosedurnya baik-baik. Supaya kita tahu mana yang bisa kita upayakan untuk meminimalisasi ketidaknyamanan. Karena kalau nggak ngerti prosedur dan kudu bolak balik ga jelas, juga males juga kan Kumendan.

Nah, salah stu prosedur yang menurut saya memudahkan pasien (di Surabaya) adalah aplikasi eHealth berikut. Saya nggak tahu kalau di daerah lain ya. Saya pernah baca di artikel Mbak Uniek kalau di Semarang bisa via WA. Please let me know, buat yang pengalaman jadi pasien di Puskesmas daerah lain, infoin aja di comment section ya. Pasti akan bermanfaat banget buat orang lain juga.

Daftar Puskesmas Online via eHealth Surabaya

Aplikasi ini sebenarnya tersedia di Appstore ya. Tapi kalau nggak mau download aplikasinya bisa ke webnya saja si di http://ehealth.surabaya.go.id/pendaftaran/. Saya sendiri juga daftarnya via web hehehe.

Kalau penjelasan Pemkot Surabaya terkait aplikasi ini adalah sbb: “Aplikasi yang dikembangkan oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk memudahkan akses layanan kesehatan baik promotif, preventif, dan kuratif untuk mewujudkan masyarakat Surabaya sehat, mandiri, dan berdaya saing global.”

Saya nggak mau mereview panjang lebar ya. Hanya ingin menunjukkan bagaimana langkah-langkah melakukan pendaftaran sebagai pasien di Puskesmas menggunakan aplikasi ini.

Langkah-langkah Daftar Puskesmas Online

Langkah-langkah pendaftaran pasien ditunjukan dengan gambar berikut ya. Gambar-gambar di bawah adalah hasil screenshoot dari aplikasi eHealth Surabaya yang berbasis web:

daftar puskesmas online

  • Pilih Bahasa (Indonesia, Jawa, Madura)
  • Pilih Fasilitas Kesehatan (Rumah Sakit atau Puskesmas)
  • Pilih Regional Puskesmas (Surabaya Pusat, Barat, Utara, Timur, Selatan)
  • Pilih Nama Puskesmas

periksa gigi di puskesmas

  • Pilih Status Kependudukan (KTP Surabaya atau Non Surabaya)
  • Pilih Poli Kesehatan yang Ingin Dikunjungi (Umum, Gigi, KIA atau Klinik Ibu dan Anak, Gizi, Sanitasi, Batra, Psikologi, Lansia)
  • Isi Data Pasien, Verifikasi
  • Download Nomor Antrian

Sekian sharing kali ini yaaaa! Semoga infonya bermanfaat bagi yang mau daftar puskesmas online atau yang mau cabut gigi geraham dengan BPJS di Puskesmas! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!