Review Shampo Zwitsal Natural, Shampo Bebas SLS dan Paraben yang Super Affordable

zwitsal shampo bayi bebas sls dan paraben

Ketika menulis artikel tentang shampo Zwitsal ini, saya jadi flashback ke beberapa perbincangan dengan sesama ibu baru yang sedang nyari perlengkapan bayi tentang shampo bebas sls dan paraben. Kurang lebih percakapannya seperti ini….

“Mbak, emangnya produk shampo/ sabun bayi yang bagus itu selalu mahal ya?” tanya seorang kawan.

“Kriteria bagusnya gimana dulu ni?” saya tersenyum.

“Ya yang bebas sls, nggak mengandung paraben gitu lo mbaaak,” jawabnya.

“Ya yang mahal banyak memang mbaaa, tapi yang super affordable juga ada. Itu Zwitsal, ada yang sebotolnya (100ml) cuma sepuluh ribuan lo.”

Hehehe, beneraaaan banyak lo yang mengira kalau produk bayi yang bagus itu selalu mahal. Obrolan seperti ini sering muncul di antara ibu-ibu, apalagi jaman saya ibu baru. Di satu sisi masih banyak kekawatiran terhadap ingredients SLS (Sodium Lauryl Sulfate) yang bisa menyebabkan iritasi di kulit bayi, beberapa juga bingung terhadap pro kontra penggunaan bahan paraben. Namun di sisi lain, ibu-ibu juga perhitungan dengan budget toiletries bayi.

Tahun lalu saya sempat menulis tentang 4 sabun bayi non sls dan non paraben. Di daftar tersebut ada yang cukup mahal, namun ada yang terjangkau juga. Dan produk yang menurut saya sangat terjangkau dan kualitasnya bagus sehingga sering saya purchase adalah ya Zwitsal ini. Produk ini jadi solusi buat permasalahan yang diperbincangkan di atas.

Selain harganya yang affordable dan kualitasnya yang bagus, saya antusias dengan produk Zwitsal terutama yang varian Natural, karena walaupun ini produk uda ada dari kapan tahun, tapi mereka rajin improve formulanya. Saya ngeh soalnya saya suka merhatiin kemasannya. Dulu pas awal saya pakai, pas jaman Gayatri newborn, di kemasannya nggak ada tulisan “improved formula”. Nah yang terakhir saya beli adaaa…. Ketika suatu brand rajin improve formula, menurut saya, itu menunjukkan bahwa brand tersebut benar-benar concern pada kebutuhan/ keinginan konsumen dan tidak berhenti melakukan riset.

zwitsal shampo bayi bebas sls dan paraben

Related post: 4 Sabun Bayi Non SLS dan Non Paraben

Tapi sekarang saya nggak mau bahas sabunnya lagi, sekarang mau bahas shamponya. Kalau sabun saya menggunakan Zwitsal sejak Gayatri newborn, shampo Zwitsal baru saya coba pas Gayatri uda bisa berdiri. Berarti sekitar 6 bulan lalu ya. Masalah kepraktisan saja si sebenarnya. Karena dulu mandiin di bak, saya masih nervous jadi lebih nyaman pakai yang 2 in 1. Sekali sabunin sekalian shampoin.

Nah, sejak Gayatri bisa berdiri kan uda enak tuh, nggak terlalu kawatir bakal tergelincir masuk ember, jadi mulai pakai dua produk saat mandi: sabun dan shampo.

Rambut Gayatri sendiri sebenarnya tidak bermasalah. Dari lahir sudah cukup tebal, bahkan sempat dipanggil jabrik, hihihi. Tapi karena nggak pernah digundul, awalnya saya rada kawatir bakal jadi rontok dan tipis. Hihihi, ternyata itu mitos ya.

Walaupun begitu saya tetap cari perawatan rambut yang berkaitan dengan rambut hitam dan tebal. Supaya rambut yang memang dari awalnya sudah tebal tetap terjaga pertumbuhannya sampai nanti dia dewasa. Sayang aja kan kalau sudah ada bakat rambut tebal, tapi nggak terawat.

Yang saya coba adalah produk Zwitsal Natural. Mengapa dulu tertarik mencoba produk ini?

Yang pasti karena pengalaman bagus sebelumnya pakai produk Zwitsal baby bath 2in1nya ya, jadi nggak ragu. Saya cek di ingredients shampo ini, lagi-lagi tak ada SLS dan parabennya. Ditambah lagi ada bahan alami lidah buaya, kemiri dan seledrinya. Bahan-bahan tersebut terkenal berkhasiat membuat rambut tebal, hitam dan sehat.

Sebagai anak yang dulu tinggal bareng bersama nenek, saya familiar banget dengan perawatan-perawatan alami seperti itu. Bukan hal aneh bagi kami, kulit kepala kami adem adem dioles lidah buaya hasil petik dari kebun. Atau dioles minyak kemiri buatan sendiri. Tapi berhubung di Jakarta dan kerja juga, anak saya pakai produk yang siap pakai saja. Lebih praktis pastinya.

zwitsal shampo natural

Well, saya langsung aja bahas produknya ya….

Deskripsi Produk Shampo Zwitsal:

Zwitsal Baby Shampo Natural dengan Aloe Vera, Kemiri, Seledri.

Ingredients:

Water, Sodium Laureth Sulfate, Disodium Cocoamphodiacetate, Cocamidopropyl Betaine, Polyquaternium-7, Parfum, Citric Acid, Sodium Benzoate, Apium Graveolens (Celery) Root/ Seed Extract, Sodium Lactate, Aloe Barbadensis Leaf Extract, Aleurites Moluccana Seed Extract, Panthenol, Etridonic Acid, Cl 42051, Cl 19140.

Sedikit keterangan atas ingredients:

  • Sodium Laureth Sulfate (SLES) berbeda dengan Sodium Lauryl Sulfate (SLS) ya…. Sodium Laureth Sulfate dinyatakan di Paula’s choice ingredients dictionary sebagai bahan yang relatif aman.
  • Apium Graveolens (Celery) Root/ Seed Extract: Seledri.
  • Aloe Barbadensis Leaf Extract: Lidah buaya.
  • Aleurites Moluccana Seed Extract: Kemiri.

Fragrance:

Produk ini mengandung parfum ya, tapi bukan yang nyegrak gitu. Baunya cukup soft tapi cukup ampuh mengatasi bau matahari kalau dia habis berjemur, ataupun bau apek keringat. Jadinya rambutnya terjaga selalu segar. Seneng lah nyium nyiumin rambut Gayatri.

love love

Kemasan:

Harga: yang ukuran 100ml, saya beli di indomaret dekat kosan seharga Rp 11.500,00. Value for money banget kan! Kualitas bagus namun harganya bener-bener terjangkau. Saya juga punya yang kemasan pump ukuran 300ml harganya sekitar Rp 22.000,00.

Where to buy:

Dimana-mana ada iniiii…. mudah banget ditemukan. Di alfamart/ indomaret ada, baby shop apalagi, pasti ada.

Impression:

Rambut asli Gayatri tebal (banyak rambutnya) namun helaiannya tipis. Memiliki tekstur lurus dengan ikal gantung (keriting di bawah). Manfaat menggunakan shampo ini pada rambut dengan tipe seperti Gayatri adalah jadi tidak mudah kusut. Saya senang rambutnya tetap ada ikal alaminya, tapi ikalnya kelihatan cantik gitu. Rapi, hitam dan berkilau.

rambut bayi

Pertumbuhan rambut Gayatri dari bulan ke bulan.

Banyak yang mengomentari rambut Gayatri, katanya kriwil kriwil lucu. Dan walaupun tidak pernah digundul, pertumbuhan rambutnya tetap baik.

Saya menggunakan shampo setiap mandi, jadi dua kali sehari karena sering ada sisa susu atau makanan di rambutnya. Namun, walaupun sering keramas tidak mengakibatkan rambutnya jadi merah seperti anak layangan. Kulit kepalanya pun tidak menjadi kering, saya yakin karena selain tidak mengandung SLS, kandungan aloe veranya efektif menjaga kesehatan kulit kepalanya.

Fitur yang saya sukai dari Shampo Zwitsal:

  • tidak mengandung SLS,
  • tidak mengandung paraben,
  • hypoallergenic, sehingga relatif aman bagi bayi baru lahir sekalipun,
  • tidak pedih di mata,
  • mengandung bahan-bahan natural yang baik untuk kesehatan rambut dan kulit kepala,
  • ada kemasan ukuran kecil yang traveling friendly, ada juga yang besar berbentuk pump,
  • mudah ditemukan,
  • harganya terjangkau.

Demikian review dari saya, semoga bisa jadi masukan yang bermanfaat untuk Nyonyah-nyonyah yang sedang mencari produk perawatan bayi yang value for money namun kualitasnya bagus.

Terimakasih sudah mampir…. Salam sayang!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Perbandingan 3 Maskapai Penerbangan Low Cost Carrier, Seri Pengalaman Membawa Bayi Naik Pesawat

low cost carrier

Sebenarnya saya bukan orang yang suka travelling, namun banyaknya kejadian mengakibatkan saya sering harus berpergian dengan membawa bayi naik pesawat. Sejak usianya 4 bulan sampai dengan 10 bulan, kurang lebih sudah hampir selusin penerbangan Ning Gaya jalani. Walaupun ya perginya hanya ke situ-situ saja, 4 kota. Jakarta – Jogja – Semarang – Surabaya.

Baca dulu artikel di bawah ini ya, biar related, karena di artikel ini saya cuma mau bahas perbandingannya:

Pengalaman secara umum dan tips membawa bayi saat usia 4 bulan.

Pengalaman secara umum dan tips membawa bayi saat usia 9 bulan.

Saya biasanya dalam membeli tiketnya selalu nyari waktu dan harga yang pas, maskapai penerbangan tidak terlalu jadi perhatian, jadilah Ning Gaya uda nyoba Maskapai penerbangan macem-macem. Garuda dua kali, Citilink tiga kali, Air Asia tiga kali, Lion Air sekali dan Sriwijaya dua kali.

Di artikel ini, saya mau mencoba memperbandingkan bagaimana si pengalaman saya membawa bayi naik pesawat dari maskapai yang low cost; Air Asia, Citilink dan Lion Air.

Dan sebelum saya menceritakan bagaimana pengalaman saya menggunakan maskapai penerbangan low cost, saya pengen memberikan beberapa disclaimer, agar pembaca dapat menarik kesimpulan dengan lebih smart bagi kepentingannya masing-masing.

Disclaimer:

  1. Penerbangan membawa bayi yang pernah saya lakukan adalah penerbangan domestik jarak pendek. Waktu tempuhnya tidak sampai dua jam.  Jadi, mungkin beberapa pengalaman akan tidak relevan dengan perjalanan jarak jauh.
  2. Bandara yang saya lewati adalah: Soekarno Hatta untuk Jakarta, Ahmad Yani untuk Semarang, Adi Soecipto untuk Yogyakarta dan Juanda untuk Surabaya. Mohon perhatian bahwa Bandara Soekarno Hatta, Adi Soecipto dan Juanda memiliki beberapa terminal. Terminal yang berbeda akan memberi pengalaman yang berbeda pula.

Karena dua hal di atas, maka saya tidak akan membandingkan tiga maskapai penerbangan berikut secara poin per poin. Melainkan dengan storytelling tentang apa yang saya rasakan saat menggunakan maskapai tersebut. Saya harap dari cerita saya ini tetap dapat diambil kesimpulan yang bermanfaat bagi perjalanan Nyonyah-nyonyah yaaa….

low cost carrier

Pengalaman Menggunakan Maskapai Penerbangan Low Cost secara Umum

Kenyamanan

Jangan salah, low cost itu nggak selalu lebih jelek pelayanannya daripada yang full service loh. Contohnya: saya lebih memfavoritkan Air Asia (low cost) dibandingkan dengan Sriwijaya (full service) dari sisi kenyamanan kursi. Pembahasan tentang Sriwijaya dan maskapai penerbangan full service lain akan saya bahas di artikel terpisah.

Walaupun tidak selalu lebih tidak nyaman dibandingkan dengan maskapai penerbangan full service, namun penerbangan low cost memang tidak selengkap full service. Yang tidak ada dari penerbangan tersebut adalah: layanan makan dan layanan hiburan. Layanan hiburan dalam hal ini adalah layar yang bisa digunakan untuk menonton video serta mendengarkan musik.

Biaya

Untuk tiket yang namanya lowcost pasti paling memang relatif lebih murah ya dibandingkan yang full service. Kalau untuk infant memang free seat-nya, karena bayi di bawah dua tahun masih boleh duduk dipangku orang tuanya. Namun kita masih harus membayar semacam asuransi untuk bayi. Harganya sekitar 40 – 60 ribu, tergantung tujuan penerbangan.

Serta untuk layanan low cost, biasanya untuk memilih bangku di row awal harus menambah biaya tertentu.

Pengalaman berkesan menggunakan Citilink

Saya menggunakan Citilink saat ke Surabaya PP. Perjalanan berjalan menyenangkan, tidak ada yang mengganggu kenyamanan saya maupun Gayatri di perjalanan. Yang saya sukai dari Citilink aalah sebagai berikut:

  1. Krunya relatif ramah-ramah, gayanya santai dan helpful. Saat berangkat dan mendarat, kita akan disapa dengan pantun-pantun yang, kadang kalau sedang iseng saya perhatikan, lucu ugaaaa….
  2. Yang paling mengesankan dari Citilink berikutnya adalah soft landingnya. Buset, saya kayanya berkali-kali naik Citilink seumur hidup saya, selalu landing mulus. Jempol banget buat pilotnya! Jadi yang sedang bawa bayi, dan bayinya sedang bobo saat landing, bayinya tidak terlalu terganggu lah.
  3. Sebagaimana semua penerbangan lowcost, Citilink pun tidak menyediakan fasilitas hiburan berupa video atau musik. Namun Citilink menyediakan majalah Linkers. Dan menurut saya majalah ini bagus banget yak…. Paling bagus di antara sesama inflight magazine-nya maskapai lowcost. Kenapa saya bahas majalah, karena Ning Gaya anak saya suka mainan majalah. Jadi majalah yang warna warni kece, selain menghibur buat saya juga menghibur bocah juga.
  4. Citilink mengizinkan untuk web check ini walaupun kita membawa bayi.

terminal 1C

Ketentuan yang saya dapat di web Citilink terkait mengangkut bayi adalah sbb:

“Citilink mencadangkan hak untuk tidak mengangkut bayi yang berusia 20 (dua puluh) hari dan/atau di bawahnya. Citilink dapat, menurut kebijakan mutlak mereka, memutuskan untuk mengangkut bayi tersebut pada penerbangan jika pengangkutan tersebut disetujui secara tegas dan orang tua bayi menandatangani Surat Pernyataan Tanggung Jawab Terbatas. Untuk alasan keselamatan, jumlah bayi yang dapat Citilink angkut tidak dapat melebihi 10% dari kapasitas pesawat udara.”

Namun dua kali penerbangan kami tidak diminta untuk menandatangani Surat Pernyataan Tanggung Jawab Terbatas. 🙂

Oiya, terminal yang digunakan oleh Citilink di Bandara Soekarno Hatta adalah Terminal 1C. Terminal favorit suami saya karena ada konter Polo. Polo-nya kayanya yang produk lokal punya. Jadi harganya memang miring, ditambah lagi sering ada promo, jadi makin tambah miring lagi. Buat penyuka kaus Polo mungkin bisa mampir sebelum lanjut ke gate. Berarti kalau di foto di atas, jangan langsung masuk security check in dulu yaaaakkkk….

Pengalaman berkesan menggunakan Air Asia

Bisa dibilang maskapai penerbangan low cost favorit saya adalah Air Asia. Saya menyukainya karena:

  1. Tepat waktu, saya belum pernah mengalami delay saat menggunakan Air Asia. Baik dalam penerbangan saya bersama Gayatri maupun penerbangan saya saat masih jaman single.
  2. Kursi dan jarak antar kursinya lebih lebar dibanding maskapai penerbangan low cost lain. Bahkan lebih longgar daripada pesawat Sriwijaya yang pernah saya tumpangi.
  3. Yang saya suka lagi, walaupun membawa infant, kita bisa checkin online atau web checkin. Tidak seperti Garuda (yang hanya bisa city check in dan counter check in) dan Sriwijaya. Dengan checkin online, keberangkatan jadi lebih tenang. Bawa anak kan kadang ada hal-hal tak terduga ya yang terjadi.

menyusui di bandara

Foto di atas adalah di Bandara Juanda. Kalau terminal yang digunakan Air Asia di Bandara Soekarno Hatta adalah Terminal 2F. Saya senang dengan terminal ini karena rapi, dan lebih banyak pilihan makanan dibandingkan dengan Terminal 1C. Namun, nursing roomnya cukup jauh dari ruang tunggu gate. Ada toilet dekat ruang tunggu namun untuk ganti popok bayi, dll, better di nursing roomnya.

Oiya, nursing room 2F ada yang ruang menyusuinya disekat loh. Kalau biasanya kan satu ruangan dipakai bersama-sama. Kalau ini ada yang ruang ganti popok dengan menyusuinya terpisah dengan dua ruang menyusui. Ruang menyusuinya pun disekat, jadi masing-masing ibu menggunakan satu bilik tersendiri.

Kira-kira seperti ini nursing room 2F:

nursing room 2f

Ketentuan yang saya peroleh di web Air Asi terkait membawa bayi adalah:

“Penumpang diharap membawa paspor bayi Anda dengan masa berlaku paling tidak 6 bulan untuk penerbangan internasional. Untuk penerbangan domestik, penumpang diharap membawa kartu identitas atau fotokopi akte kelahiran bayi Anda.”

Walau saya tidak pernah dimintai fotokopi akte kelahiran bayi, namun biasanya saay terbang saya memang jaga-jaga membawa dokumen tersebut.

Tips agar lebih nyaman menggunakan Air Asia:

  1. Belilah asuransi untuk bayi,
  2. Jika menginginkan kursi yang paling depan, kita bisa membeli hot seat. Pembelian secara online lebih murah dibandingkan membeli on flight. Kalau on flight harganya berkisar 80 – 100 ribu. Kalau online bisa setengahnya,
  3. Air Asia menyediakan penjualan makanan di atas pesawat. Jika berencana untuk makan besar, sebaiknya memesan secara online juga saat pembelian tiket.

Pengalaman berkesan menggunakan Lion Air

Saya punya pengalaman unik bersama Lion Air. Jadi saya, suami dan Ning Gaya pernah “terdampar” di Yogyakarta. Penerbangan seluruhnya mengalami gangguan karena cuaca yang buruk serta antrian pesawat yang panjang. Bayangkan, pesawat Batik Air yang rencananya akan kami tumpangi menuju Jakarta, pada saat jam (seharusnya) boarding masih ada di Jakarta dan belum jelas kapan sampai di Yogyakarta. Saat itu naasnya kami mengambil penerbangan malam dan Ning Gaya sedang agak demam. Huft….

hiks

Suami awalnya memutuskan untuk refund atau reschedule saja ke hari berikutnya, daripada harus lontang lantung di bandara. Ketika menuju ke konter Batik Air, yang satu perusahaan dengan Lion Air, iseng suami bertanya apakah kami boleh pindah penerbangan. Dijawab oleh petugasnya, “Boleh”.

Saya tidak tahu peraturannya sebenarnya boleh atau tidak ya.

Kebetulan saat itu ada penerbangan Lion Air yang sedang panggilan boarding. Walaupun harus turun layanan dari Batik Air yang full service ke Lion Air yang low cost, kami senaaaaang sekali, karena bisa pulang saat itu juga. Yeay!

Jadilah untuk pertama kalinya kami menggunakan Lion Air.

Ketentuan yang saya baca di web Lion Air terkait mengangkut bayi adalah sbb:

“Lion Air berhak untuk tidak mengangkut bayi berusia kurang dari dua (2) hari dan bayi yang berusia antara tiga (3) dan tujuh (7) hari harus disertai dengan Sertifikat Kesehatan yang menyatakan bahwa bayi tersebut cukup sehat untuk melakukan perjalanan udara. Sertifikat Kesehatan tersebut harus diterbitkan 72 jam sebelum waktu keberangkatan. Batas usia maksimum bayi adalah kurang dari 2 tahun. Bayi yang melakukan perjalanan udara dengan Lion Air harus disertai dengan Formulir Ganti Rugi yang ditandatangani oleh orangtuanya.”

Namun untuk poin formulir ganti rugi tidak diminta kepada kami saat itu. 🙂

Dan di dalam pesawat itu mungkin nggak sampai 20 orang penumpang ya. Sepi sekali. Saya tidak mau berasumsi apa-apa, karena juga baru sekali ini menggunakan Lion Air. Dan entah apakah akan menggunakannya kembali.

You know what I mean. 😉

***

Saya seneng banget dengan seri ini, karena banyak yang komen, baik di blog maupun di pages/ instagram saya. Respon dari teman-teman, baik berupa kritik, saran maupun request, bikin saya happy karena saya jadi merasa kalau blog saya ini bermanfaat. Hehehe, GR yak…. So keep in touch yaaak! Klik Like di Pages FB nyonyamalas.com di bar kanan (kalau di PC) atau di bagian paling bawah page ini jika Nyonyah membuka via HP.

Terimakasih sudah membacaaa…. Kalau teman-teman punya pengalaman lain terkait tiga maskapai penerbangan di atas, boleh banget lo share pengalamannya di komen. Karena bisa jadi pengalaman yang kita miliki berbeda, dan pasti akan bermanfaat buat Nyonyah-nyonyah lain yang membaca….

Salam sayang!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Gayatri Mendadak Naik Tekstur MPASI

FullSizeRender(1)

Gaya, nama anak saya memang litteraly Gaya ya…. Bukan gegayaan, hihihi. Usianya sekarang 9 bulan dan seperti yang kebanyakan ibu muda bingungkan, 9 bulan adalah saatnya naik tekstur makanan. Saya sendiri rada concern dengan masalah perteksturan ini karena hasil baca-baca, masalah makan itu berkaitan dengan belajar bicara. Rada kawatir juga karena saya pakai blender untuk memroses bubur Gayatri, which is kata orang (((banyakan kata orang nih, hahaha))) bisa bikin bocah susah naik tekstur MPASI.

hehehe

But, ternyata kegalauan tersebut menguap begitu saja. Mendadak Gayatri naik tekstur. Beneran mendadak ya, karena cepat sekali peralihannya. Tanpa saya banyak usaha gitu. Tiba-tiba, eh ni bocah mau makan nasi aja. Blessings in disguise, karena bulan lalu kami rada sibuk dengan masuk keluarnya Suami dan Mama Mertua ke Rumah Sakit, Gayatri malah jadi naik tekstur dengan lancar. Ga nyambung yak? Sumprit, itu nyambung!

Tekstur MPASI Gayatri Sebelum 9 Bulan

Saya sering post menu MPASI-nya Gayatri di Instagram. Kalau temen-temen lihat dan merhatiin pasti ngeh kalau tekstur makanannya Gayatri itu nggak konsisten. Kadang alus banget, kadang kasar, trus besoknya balik alus lagi. Galau, kaya emaknya. 😛

Hal itu karena biasanya saya siapin bubur agak kasar. Kadang bocah mau makan bubur kasar. Kadang nggak maaauuuuuuk…. Kalau pas nggak mau ini kadang saya blender lagi biar alus. Hehehe…. Nggak ideal sih, ngikutin bocah gitu. Tapi prinsipnya si, saya nggak mau maksain dia makan. Tapi tetep dicoba lagi besoknya tekstur kasar, ga mau lagi, blender lagi Maaaanggg….

Itu salah satu menu MPASInya Gayatri pas umur sebelum 9 bulan, kalau mau tau yang lain langsung cuss aja ke IG yaaak….

Blessing in Disguise

Bulan kemarin Suami dan Mama Mertua gantian masuk rumah sakit. Mau nggak mau saya sering bawa Gayatri juga ke RS untuk mengantar mereka berobat. Kalau kami ke RS, nggak mungkin dong mblender ulang bekal Gayatri kalau ternyata dia nggak mau bubur agak kasar. Dan entah karena lapar atau karena ni bocah pengertian, selama di RS nggak pernah ngerewelin makanan. Bekal selalu dimakan. Kadang kalau saya lupa mbekal, saya beli nasi tim ayam di kantin (kantin Eka Hospital, nasi timnya enak loh), dan dia mau juga.

Kayanya si turning poinnya di situ ya. Setelah semuanya sehat, dan kami ga perlu balik RS lagi, Gayatri uda nggak mau makan bubur lagi. Fix nasi. Nasi disini maksudnya nasi lembek ya, seperti nasi tim.

Thanks God! Saya cek di panduan tekstur makannya WHO juga sesuai kok kalau anak usia 9-12 memang sudah waktunya belajar makan nasi. Kalau teman-teman anaknya uda 9 bulan tapi belum bisa makan nasi, tenang Nyyyaaaaahhh, jangan panik. Anak-anak kan punya jalur belajarnya masing-masing. Pelan-pelan sajaaaaahhhh…. 🙂

Makan Sendiri

Cuma sekarang saya punya PR baru nih. Gayatri lagi seneng-senengnya makan sendiri. Dia jumputin nasi di piring, dan dimasukin ke mulutnya. Kadang mau sambil disuapin. Tapi kadang nggak mau sambil disuapin.

Ada senengnya sih. Wah, ni bocah uda tambah pinter. Tapi ada juga nggak senengnya. Dooohhh, saya ni kurang bersyukur banget ya, hahaha. Yang pertama, pasti belepotan dong. Nasi berceceran di lantai. Hal itu buat saya nggak terlalu masalah si. Tinggal diberesin, atau pindah aja tempat makan bocah di teras belakang. Hehehe, kejam.

Yang bikin saya agak worry adalah, kalau dia makan sendiri biasanya cuma mau makan nasi dowang wang wang wang wang wang…. Takut kurang gizi kan lama-lama. Beberapa hal coba saya lakukan sbb:

  1. Nasi dicampur lauk dan sayur yang sudang dicincang lalu dibentuk bulatan-bulatan. Hal ini sempat berhasil, namun hanya beberapa kali, setelah itu failed. Bocah malah nggak mau makan.
  2. Nasinya saya ganti nasi uduk. Masak sendiri tentunya, bukan nasi uduk di warung sebelah. Hehehe…. Saya cuma masukin santan di rice cooker saat membuatkan nasi lembek untuk Gayatri. Ini sebenernya tips dari DSAnya Gayatri si, supaya kalori yang masuk ke tubuh bocah nambah. Ini berhasil, bocah tetap doyan. Semoga kebutuhan lemaknya terpenuhi dari sini ya.
  3. Saya (sebenernya bapaknya si) bikin snack yang “berat”. Kemarin sempat nyoba martabak mi, yang dibuat dari telur, misua rebus, parutan wortel. Lumayan lah buat nambahin nutrisi bocah, ada protein, karbo dan sayuran. Ada yang punya ide snack lain? 🙂

Teman-teman ada yang pernah mengalami hal yang sama? Feel free untuk ninggalin pengalaman atau tipsnya di komen yaaa…. 🙂

kuatLesson Learn

Balik lagi ke masalah naik tekstur MPASI tadi…. Yang saya pelajari dari kejadian Gayatri Mendadak Naik Tesktur MPASI itu adalah:

  1. Nggak perlu pusing atau kebanyakan kawatir, percayalah bocah punya kemampuan untuk belajar yang berbeda-beda 🙂
  2. Yang penting Emaknya usaha konsisten, tapi nggak perlu memaksakan kehendak juga, ikuti saja kesiapan bayi. Siapa tahu nanti bocah yang akan memberi kita kejutan dengan kemampuan-kemampuan barunya.
  3. Setelah satu tantangan selesai, masih banyak tantangan baru yang laiiinnn ahahaha, kagak selesai selesaaaiii, jadi jangan dihabiskan stressnya sekarang…. Karena masih banyak kesetresan lain menunggu…. wkwkwkwk…. Jadi selow aja Nyaaah, Belanda masih jauuuhhh!

FullSizeRender(1)Related Post: Bingung Memilih Metode MPASI? Jangan Lakukan 5 Hal Ini

Mmm…. Apa lagi yak?

Kayanya gitu dulu, sampai jumpa di cerita berikutnya ya Nyah…. Semoga sharing kali ini ada manfaatnya ya, walaupun mostly curhat ahahaha…. Salam sayang! 🙂

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Bingung Memilih Menu MPASI? Jangan Lakukan 5 Hal ini

mpasi

Bulan ini Neng Gaya 6 bulaaaannnn…. Yeaaaayyy!!! Sudah boleh mulai mamam mamam niii. Seperti kebanyakan ibu-ibu (baru) anak satu, segala hal pertama yang dilalui anak pasti bikin gemes-gemes excited. Antara idealisme, penasaran, kekurangtahuan versus kenyataan. Intinya saya bingung memilih menu MPASI.

Siapa ibu muda yang mengalami hal ini? Yuk mari kita tos dulu.

Di tengah kebingungan ini saya banyak sekali mendapat masukan dan juga mencari berbagai sumber. Thanks semuaaaanya yang sudah memberi masukan ya :kiss :kiss. Dalam pencarian tsb, saya sempat makin bikin bingung. Sempet merasa sampai Raisa Hamish punya anak cucu pun, kebingungan saya tak akan berakhir…. Tsaahhh…. Beneran lebay deh. Setelah satu minggu kurang lebih saya menjalankan MPASI, akhirnya kebingungan itu pun sirna sudah.

Nah, kalau ga mau bingung seperti saya, better jangan lakukan 5 hal di bawah ini ya Nyaaah….

1 . Jangan Bertanya pada Sesama Ibu Baru

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada sesama ibu baru, saya wajib menyatakan ini: “Nanya tentang MPASI kepada sesama Ibu baru itu sama aja seperti minta orang buta menuntun orang buta”. Sama kagak ngartinya. Hihihi.

Tapi bukan berarti tidak boleh dilakukan ya. Saya sendiri punya semacam support grup berupa WA group sesama ibu-ibu muda yang anaknya baru lahir di bulan Januari dan Februari 2017. Bisa dibilang ini adalah grup ibu-ibu kesayangan saya banget. Berbagai printilan dan drama MPASI dibahas di sini. Hanya ketika diskusi dengan ibu baru, tujuannya lebih kepada saling menyemangati, dan berbagi rasa senasib sepenanggungan. Oiya, satu lagi, berbagi info diskon. Hehehe. Yang mau follow-follow IG-nya cus ke @bcjanfeb2017 yaaa….

2 . Jangan Bertanya pada Ibu yang Terlalu Tua

Awalnya saya berpendapat mama dan mama mertua pasti punya ilmu yang mumpuni terkait MPASI karena beliau berdua pengalamannya sudah tak diragukan lagi. Tapi ternyata saya salah. Mama saya terakhir bersinggungan dengan MPASI adalah 20 tahun lalu, dimana dulu gencar-gencarnya MPASI siap saji berfortifikasi. Mama dan mama mertua malah agak kawatir memberikan MPASI homemade sebagai MPASI pertama. Alasannya karena MPASI homemade tekstur, kebersihan dan nutrisinya tidak terukur. Ya, saya bisa memahami poinnya sih. Mereka menginginkan yang terbaik juga untuk cucunya.

Lalu satu lagi, mama saya berpendapat usia 4 bulan sudah boleh MPASI. Ya betul, jaman dulu memang MPASI boleh dimulai sejak umur 4 bulan (sekarang juga boleh dengan kondisi tertentu setelah berkonsultasi dengan dokter). Nah, kalau sekarang kan dianjurkannya pada usia 6 bulan. Syukurlah walaupun punya pendapat yang berbeda, Mama selalu menyerahkan keputusan kepada saya.

Bertanya dan berdiskusi dengan ibu yang “terlalu” sepuh berisiko menimbulkan perdebatan dan tudingan “dasar kamuh, anak bau kencur sok tau endebrai endebrai….“. Apalagi kalau kitanya sudah keukeuh dengan salah satu aliran. Hehehe, tapi kalau mamanya sudah modern dan mengikuti perkembangan ilmu perMPASIan, sila kalau mau berdiskusi dengan pikiran terbuka dan kerendahan hati.

Ps. Poin kedua ini tidak berlaku ya, apabila Nyonyah dan Tuan telah sepakat untuk meminta bantuan mamanya/ mama mertua untuk turut mengasuh bayinya. Seperti saya pribadi #curhat, karena mama mertua turut mengasuh Neng Gaya, maka saya tidak mungkin memaksakan kehendak saya sepenuhnya. Ada porsi pendapat beliau untuk menentukan metode seperti apa yang akan dilakukan. Dan menurut saya, hal itu memang layak kita berikan kepada mereka, tentu selama tidak bertentangan dengan anjuran dokter.

Related Post: Parenteam Bareng Mertua? Yay or Nay?

3 . Jangan Silau dengan MPASI Fancy Sophisticated Ala Seleb

a . Jangan Silau Dengan Peralatannya

Ga ada yang salah dengan review produk-produk canggih yang dilakukan oleh para seleb. Yang salah itu, kitanya kadang yang kesilauan, dan jadi pengen beli juga, tanpa tau memperhitungkan value for money dari produk tersebut. Atau butuh enggak butuhnya. Kalau pesennya @elizabethzennifer: “Be a smart reader, mom!“. Sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Hal di atas diamini oleh obrolan bareng seorang Mamah Newbie (sebut saja dia Manda -nama sebenarnya- hehehe) di grup birthclub jan-feb17 kesayangan saya tadi. Jadi ceritanya dia sedang curhat ke sepupunya tentang kebingungannya memilih MPASI lalu dijawab:

“Sebenernya MPASI gampang, kamu aja yg bikin ribet. Mau blender? Wes pake blender yg ono (mojok didapur belum pernah dipake). Mau ngukus? Pake panci aja biasa, isi air pakai mangkok lagi udah tunggu deh. Wes beli saringan khusus aja sama piring mangkok. Soalnya sayang beli yg mahal2. Toh makanan lunaknya cuma sebentar sisanya nanti bertahap tekstur makanannya”

Krak!

Euforia Mamah-mamah Newbie yang bersiap mborong alat MPASI pecah berkeping-keping. Tapi sebagian besar member bahkan Manda juga setuju kalau nasihat tadi banyak benarnya.

Sekarang saat googling artikel tentang peralatan MPASI, kalau saya nemu artikel “30 Peralatan MPASI yang WAJIB Dimiliki Bunda”, itu sudah pasti saya dadah-dadahin. Bhay! Kekepin dompet!

b . Jangan Silau Dengan Metodenya

Tahun ini sepertinya dunia per-ibu-ibu-an ramai benget membahas Andien Aisyah @andienaisyah terkait gaya parentingnya. Bagi sebagian orang, gaya parentingnya menginspirasi dan bagi sebagian orang membuat depresi, hehehe. Kalau saya termasuk yang dua-duanya. Jadi kaya love-hate relationship gitu. Kadang kepo, tapi kadang melongo. Hihihi. Follow – unfollow – follow – hmmm unfollow aja deh. Tapi percuma sih, feednya tetep sering nonggol di explore. -.-“

Untuk memulai BLW, bayi harus dalam kondisi sehat dan gizi baik. Makanan yang pertama kali dimakan Kawa adalah labu siam, brokoli, wortel, dan buncis. Semua dikukus. Sampai pada suatu hari ketika saya dan Mas Ippe ikutan kursus privat BLW dengan dokter @ratih_ayu_wulandari .. Kami diperlihatkan chart nutrisi yang tidak lagi bisa dipenuhi hanya dengan ASI saat bayi berusia sekitar setengah tahun. Di peringkat pertama itu zat besi, lalu protein, energi, baru vitamin. Ini membuat kami “engeh” mengapa ati ayam maupun daging banyak diberikan orangtua pada bayi sejak zaman ibu kita dulu. Tapi tidak hanya itu, bisa dicari juga makanan-makanan yang mengandung zat-zat tersebut di atas. . . Cara pemberian makanan untuk BLW adalah makanan dipotong sesuai dengan genggaman bayi. Berlaku untuk semua jenis makanan. Jangan takut untuk memberikan makanan tinggi kalori dan kolesterol. Babies need that. ASI itu mengandung kolesterol tinggi, jadi mereka sudah sangat terbiasa. Dan jangan takut untuk memberikan minyak. Bayi butuh minyak untuk memperlancar BAB mereka. . . Ingatlah untuk selalu percaya, dan selalu mencontohkan. Bukan menyuruhnya, apalagi memaksa ❤️ . . Nah, sekali lagi.. Cari cara MPASI yang paling suitable buat kamu yaaa 😊🙏🏻 Cari info sebanyak-banyaknya, timbang, lalu lihat mana yang paling pas di hati. Tadi saya juga baru diberi tahu bahwa ada komunitas @ceritablw di Indonesia. Sungguh menarik penjabaran mereka. Follow them and get inspired! . . #AnakuAskaraBiru #Kawa6Bulan #KawaBelajar

A post shared by Andien Aisyah (@andienaisyah) on

Ga bisa dipungkiri kalau info di captionnya @andienaisyah memang banyak yang informatif. Terutama tentang metode baby led weaning (BLW) yang dianutnya sebagai metode MPASI Kawa, anaknya. Saya juga sampai beli buku BLW loh, walaupun akhirnya tidak menerapkan metode tersebut. Namun, walaupun informatif, in my humble opinion, beberapa hal tidak dapat diterapkan oleh semua ibu. Tetep lagi, harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing ya Nyah. Kalau sesuai dan Nyonyah memahami keseluruhan pro and cons-nya ya silakan.

Ingat: Ngefans boleh, silau jangan! Unfollow boleh, julid jangan! I know, you know what i mean. 😛

4 . Jangan “Telan” Artikel Mentah-mentah, Cari Jurnal Asli atau Buku

Oke, kesalahan saya lainnya yang jangan ditiru  (selain kebanyakan nongkrongin instagram) adalah kebanyakan mantengin pinterest. Dimana artikel-artikel di sana kebanyakan adalah artikel luar negeri. Bukan berarti artikel luar negeri tu jelek. Bukan gitu, tapi artikel luar negeri ditulis dengan latar belakang luar negeri yang mungkin saja tidak kontekstual dengan kondisi Indonesia.

Contoh gampangannya adalah tentang bahan makanan yang digunakan. Beberapa menggunakan salmon. Bukan berarti saya bilang salmon tidak baik ya. Tidak baik di kantong, iya sih. Hehehe…. Ketika saya membaca mentah-mentah, di pikiran saya yang terlintas tentang protein yang baik untuk bayi ya cuma salmon tok. Padahal kan enggaaaak. Ikan lain juga ada kandungan proteinnya yang tentu juga bermanfaat.

Saya ngeh-nya pas baca jurnalnya WHO. WHO tidak menyebutkan bahan makanan secara spesifik yang sebaiknya dikonsumsi bayi. Karena kan  bahan makanan yang tersedia di tiap daerah berbeda.  Tidak bisa juga kita memaksakan diri alias ngoyoworo mengada-adakan bahan makanan tertentu, sementara mungkin di daerah kita jenis makanan tersebut sulit ditemui. Malah bisa jadi nggak fresh di tangan kita kan.

Jurnalnya bisa di download di link ini: Jurnal MPASI WHO dan di sini: Guidance.

Intinya, cari tahu apa yang melatarbelakangi penggunaan bahan makanan tertentu atau tindakan tertentu dalam artikel, setelah mengamati amati, Nyonyah bisa memutuskan untuk menitu atau memodifikasi secara cerdas dan kreatif. Sekarang saya cenderung memilih jurnal atau buku sebagai acuan karena biasanya di kedua sumber ini pembahasannya lebih panjang lebar. Sehingga informasi yang didapatkan bisa lebih utuh.

5 . Jangan Lupa Konsultasi dengan Dokter Anak atau Bidan

Akhirnyaaaa….. Saya mah kalau sudah bingung larinya ke dokter. Hehehe…. Soalnya kalau anak kenapa-kenapa larinya juga ke dokter sih. Selain berdoa pastinya.

Bukannya saya mendewakan dokter anak saya dan tutup telinga terhadap masukan dari orang awam. Namun, saya percaya pada dokter saya karena bagaimanapun beliau punya ilmu ya. Beliau sudah invest waktu, tenaga dan uang juga untuk belajar bidang ilmunya. Lagipula selama ini beliau dapat saya percaya. Jadi untuk urusan MPASI ini saya juga akan mendengarkan masukannya lebih dari masukan orang lain.

Terbukti, saat ngobrol dengan dokter banyak mitos-mitos yang akhirnya terpecahkan. Seperti tentang pro kontra metode baby led weaning, MPASI instan, MPASI homemade, menu pantangan, dll. Banyak kerumitan menjadi tercerahkan dan pemahaman saya menjadi berimbang. Yang paling penting, kekawatiran sirna sudah.

Artikel terkait: Klinik Ibu dan Anak di Bintaro (Review Women and Children Clinic)

Oiya, jika Nyonyah mengasuh bayinya bersama orang lain selain suami (entah itu mama kandung, mertua atau baby sitter) saya menyarankan agar pengasuh tersebut ikut konsultasi dengan dokter ya. Manfaatnya supaya ilmunya sama. Satu guru satu ilmu. Sehingga meminimalisasi kesalahpahaman saat mengeksekusi MPASI.

***

Sebenernya ada satu lagi sih yang menurut saya JANGAN DILAKUKAN 😀

“Jangan Nanya di Grup Emak-emak yang Galaknya Minta Ampun dan Suka Judging Mamah Mamah Newbie Polos Lugu kaya Aku”

Tapi ga jadi aku jadiin poin. Takut dibully di komen wkwkwkwkwk…..

***

mpasi

Hasil dari pengaplikasiaan dari lima hal di atas bisa jadi berbeda-beda ya. Ada yang akhirnya menemukan cara A dan ada yang memutuskan cara B. Tidak masalah, menurut saya. Saya sendiri pun tidak selalu ngoyo untuk menemukan jawaban yang paling IDEAL. Saya hanya berharap menemukan jawaban yang SESUAI dan baik untuk saya terapkan sesuai dengan kondisi anak dan keseluruhan keluarga (tentunya kondisi ibu juga).

Akhir kata, semoga Nyonyah dihindarkan dari segala bentuk intimidasi, propaganda, hasutan maupun bujuk rayu dari pihak manapun yang membuat para ibu baru bingung dalam menentukan menu MPASI untuk anak-anaknya. Hihihi….

Aminnn…..

Salam sayang….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Posting Foto Anak, Antara Sharenting, Predator Anak dan Foto Lawas Selmadena

posting foto anak

Tiga hari lalu ada imbauan dari Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk membatasi posting foto anak di media sosial. Imbauan ini muncul karena kasus forum predator anak di FB yang terkuak akhir-akhir ini. Awalnya saya tidak terlalu notice dengan imbauan ini karena di pikiran saya, predator anak tuh sesuatu yang jauh dari kehidupan adem ayem saya. Sampai saya nemu info jumlah anggota forum tersebut. TUJUH RIBUAN ORANG! Jumlah penduduk Indonesia tuh sekitr 250 juta di tahun 2013, kalaulah mau dipukul rata berarti d setiap 35 ribu penduduk Indonesia tuh ada satu anggota forum predator anak tersebut. OMGGGGG!!!! 35 ribu itu paling satu kelurahaaan! Jaman SD aja saya mainnya uda lintas kelurahan looo! Ngeriiii!

Setelah menyadari kemungkinan adanya predator anak di sekitar kita, saya jadi lebih waspada terhadap bahaya sharenting. Alias posting foto anak dengan alasan share parenting. Maksud kita mah baek ya. Mau bagi-bagi pengalaman atau kebahagiaan, tapi pihak lain bisa jadi punya tanggapan atau kepentingan yang berbeda.

Cuman sekarang saya ingin membahas tentang sharenting dari sisi tersebarnya foto lawas mbak Selmadena. Kebetulan kan, berita ini sedang ramai dibicarakan dan waktunya berendengan dengan kasus ngeri di atas. Yang ga tau siapa mbak Selmadena, googling aja ya, di nyonyamalas no gosip no ghibah soalnya, Cyin, hehehe.

Eh aku ceritain aja deh…. 😛

Jadi Mbak Selmadena adalah perempuan yang menerima lamaran putranya Pak Amin Rais, Mas Haqy Rais. Pernikahan mereka menjadi sorotan netizen karena untuk melakukannya Mbak Selma memilih meninggalkan kekasihnya yang telah lama dipacarinya. Di tengah pro kontra atas keputusan tersebut, tersebarlah foto lawas Mbak Selma yang kok… eym, beda banget ya sama wajahnya sekarang. Disinyalir operasi plastik, pihak-pihak yang benci dengan tindakan Mbak Selma langsung membully-nya dengan cap “palsu”. Saya sih tidak masalah dengan operasi plastik atau apapun yang dia lakukan ya. Namun kasus pem-bully-an ini menarik untuk diikuti.

Situ: Hah, lalu apa hubungannya sama predator anak?
Situ: Mbak Selmadena predator anak?
Situ: Jadi Mas Haqy tuh masih siswa Taman Kanak-kanak???
Sini: Bukaaaaannnn!!!!!!!!
Situ: Ooohhh, jadi Mas Haqy yang predator anak?!?
Sini: Bukan jugaaak!!!

Satu hal yang menjadi benang merah antara berita foto lawas Selmadena dan sharenting adalah: ada satu foto unggahan ibunda beliau di Instagram yang jadi salah satu bahan bully kepada si Mbak. Got it? Foto unggahan Ibunda tersebut dilakukan 141 minggu yang lalu. Jauh sebelum kasus cinta segitiga Haqy – Selma – Sena ini ada. Namun, dengan mudah netizen mendapatkannya dengan satu dua ketikan di mesin pencari Google.

selmadena

“Jejak digital akan selalu ada. Sekali diunggah, dia mengudara selamanya.” Click to tweet!

Masalahnya, kita tidak tahu jejak digital itu akan memengaruhi hidup anak kita kelak atau tidak. Bagi kasus Mbak Selma, mungkin hanya privacynya yang terganggu. Bagi para korban penculikan atau predator anak, bisa jadi berbeda. Walaupun mungkin bagi Mbak Selma, rasanya juga sama ngerinya ya sampai dia menonaktifkan kolom komentar di akun media sosialnya. Mungkin loh. Kan haters itu kejam. Nyonyamalas mah ga punya haters, amit-amit, jadi cuma bisa ngebayangin.

Di status seorang teman yang sama-sama bloger saya menanyakan tentang apa saja yang sebaiknya tidak dibagikan di media sosial. Kebanyakan menjawab: 1) foto terkait ketelanjangan, misal anak sedang mandi, tidak memakai pakaian/ celana, 2) foto yang memuat data pribadi; alamat, nama sekolah – berlaku juga untuk geotagging dan 3) foto close up. Hal tersebut kebanyakan untuk melindungi keamanan anak dari penculikan atau kejahatan lainnya. Nyonya mungkin punya masukan lain? Mohon ceritakan di comment section yak!

Beberapa tips pun beredar di banyak artikel, antara lain: 1) memberlakukan setting private di foto anak, 2) memilih circle atau membatasi pertemanan dan 3) membatasi posting foto anak.

Pengakuan dosa nih, saya sendiri sebelumnya pun senang membagikan foto anak saya yang cakep itu (anak sendiri, dipuji sendiri, penyakit emak-emak). Apalagi sebagai orang yang ngeblog dengan tema kebanyakan tentang family, beberapa hal sengaja atau tidak sengaja saya bagikan. Namun, setelah belajar dari beberapa kejadian-kejadian di atas, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk menanyakan beberapa hal di bawah ini sebelum saya membagikan sesuatu di dunia maya.

posting foto anak

1. Pribadikah?

“Apakah ada informasi yang terlalu pribadi yang sebenarnya tidak terlalu urgent untuk yang dibagikan?” Just for insight, contohnya, nama lengkap anak, alamat sekolah, alamat rumah, denah rumah secara mendetail, jam masuk atau pulang sekolah, dll. Nyonya-nyonya bisa jadi punya standar yang lebih ketat atau lebih longgar.

2. Pantaskah?

“Apakah akan ada hal memalukan atau tidak pantas yang terbagikan?” Tak perlu ditanya lagi, foto anak dengan pakaian terbuka paling berbahaya jika ditemukan oleh predator anak. Kalaupun tidak, menurut Nyonya apa yang bakal dirasakan oleh anak, jika temannya menemukan foto tertentu lalu berkomentar, “Iiihhh, ternyata keciiill ya”. Hehehe, tengsin abis.

3. Diizinkankah?

“Apakah anak kita akan keberatan jika kita membagikannya?” Terutama jika dia sudah bisa diajak bicara, tanyakan saja langsung. Apalagi menjelang remaja, apa yang menurut kita cute untuk diposting, belum tentu keren di mata mereka. Di Perancis, orang tua bisa dikenai denda atau bahkan dipenjara apabila dituntut oleh anaknya karena memosting foto mereka di masa lalu. Di Indonesia memang belum ada peraturan demikian. Namun, haruskah ada peraturan terlebih dahulu baru kita memperhatikan dan menjaga perasaan anak kita sendiri?

Setelah menulis artikel ini saya sedikit lega, karena membantu saya menjernihkan pikiran saya sendiri. Sebelumnya saya akui sempat agak paranoid untuk mengunggah foto anak. Bahkan thread tentang mitos pengasuhan bayi, yang saya buat di akun Instagram @nyonyamalas dengan hashtag #CumaMitos, seminggu lalu sempat saya hentikan. Mulai besok thread ini akan posting lagi loh, jadi yang belum follow, sok atuh follow @nyonyamalas. Hahaha, malah sempet-sempetnya ngiklan.

Intinya kalau saya ditanya bakal posting-posting tentang anak lagi tidak. SAYa akan jawab: Iya tetep, tapi dengan lebih bijak. 🙂

Segitu opini saya, jika Nyonya punya tips atau pengalaman lain, feel free untuk cerita di comment yaa…. 🙂 Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!