Persiapan Kehamilan Sebagai Upaya Pencegahan Stunting pada Anak

tips mempersiapkan kehamilan

Acara resepsi pernikahan telah usai. Malam pertama menanti di depan mata. Lalu apa yang harus dilakukan?Alih-alih menasehati untuk mengambil paket perawatan di salon, Inez, sahabat saya sejak SMP, berpesan: “Minum susu persiapan kehamilan, La!”

“Astaga!” kata saya saat itu. Saya baru nikah Neng, belum mikir mau hamidun.

Saya tidak menanggapi serius pesannya, dan ternyata kehamilan datang tanpa menunggu saya sempat memikirkannya. Tanpa ada jeda masa menstruasi, saya positif hamil. Kami gembira sekali saat itu. Apalagi orang tua saya, janin di kandungan saya adalah calon cucu pertama. Digadang-gadang akan lahir tegap seperti Kakeknya jika laki-laki, dan cantik seperti Neneknya jika perempuan. Sayangnya, kami harus kehilangan kandungan saya secepat kabar datangnya kehamilan itu.

hiksSedih? Tentu saja.

Namun, tak larut dalam kesedihan, kami belajar dari kesalahan masa lalu. Kehamilan adalah sesuatu yang harus dipersiapkan dengan baik. Demi kesehatan calon bayi dan kesehatannya di masa mendatang. Singkat cerita, saya hamil kembali, dan anak kami yang pertama sekarang telah berusia 20 bulan. Puji Tuhan, sehat, tinggi dan lincah bukan main. Seusai melahirkan dulu, saat suami saya meluncurkan niatan menambah momongan, Dokter Kandungan saya berpesan, jaga jarak antar kehamilan agar kondisi tubuh Ibu telah pulih sepenuhnya.

Siaaaap! Dan kini saat yang kami rasa sudah cukup. Empat bulan lagi, Gayatri sapih dan rencananya saya akan melepas IUD yang saya gunakan sebagai alat kontrasepsi. Masa ini akan saya pergunakan kembali untuk memersiapkan tubuh saya menyambut jabang bayi.

Apakah saya terdengar berlebihan, belum lepas IUD sudah persiapan kehamilan berikutnya?

Tentu tidak ya. Selain memiliki pengalaman buruk di masa lalu sebagaimana saya ceritakan di atas, saya juga memiliki data tentang bagaimana masa kehamilan dapat mempengaruhi kesehatan anak di masa depan dalam jangka panjang.

Adalah kondisi bernama stunting, atau gagal tumbuh pada tubuh dan otak anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama, yang mengimbas 29,6% balita Indonesia di tahun 2017. Angka yang kurang bagus, mengingat batas WHO adalah 20%. Kondisi ini terjadi karena pemberian gizi pada 1000 hari pertama kelahiran atau yang sering disebut dengan Golden Period tidak optimal.

persentase stunting balita IndonesiaSumber: Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes RI dalam www.sehatnegeriku.kemenkes.go.id.

Dan sebagaimana mungkin tidak kita sadari benar, Golden Period dihitung sejak hari pertama kehidupan. Yap! Tidak salah baca. Kehidupan dalam konteks ini dihitung sejak hari pertama kehamilan, bukan kelahiran. Atau dengan kata lain sembilan bulan di kandungan sampai dengan usia anak dua tahun.

Oleh karena itu, saya sangat memperhatikan masa persiapan kehamilan. Supaya saat hari pertama sel telur saya bertemu dengan sel sperma suami, tubuh saya telah siap untuk dilekati embrio kesayangan kami berdua.

Lalu bagaimana saya selama ini memersiapkan kehamilan?

1 . Asupan Makanan Pra Kehamilan.

Berkaitan dengan pesan Inez di awal tadi, saya sempat bertanya pada dokter kandungan saya. “Apakah benar saya harus minus susu pra kehamilan untuk mendapat asupan yang terbaik bagi kehamilan saya nantinya?” Jawaban dokter saya, “Tidak.” Yang pasti saya harus memperhatikan adalah kecukupan asupan zat besi, asam folat dan kalsium.  Jadi, saya pun tidak ganti susu, saya tetap minum susu kesukaan saya seperti biasanya (Iya! saya sampai tua gini masih suka minum susu. Doyan!).

Sharing kali ini berdasarkan konsultasi saya dengan dokter kandungan saya ya, bisa jadi kondisi tubuh masing-masing Ibu berbeda. Jadi walaupun secara umum, sama, tapi saya juga menyarankan untuk berdiskusi dengan ahlinya.

makanan ibu hamilUntuk menyukupi kebutuhan zat besi, asam folat dan kalsium, menu makanan yang dikonsumsi tidak harus mewah, dari bahan pangan yang mudah ditemui pun banyak yang mengandung zat-zat tersebut. Berikut adalah contoh menu makanan paling mudah saya temui dan tentu saja saya sukai:

  1. Zat Besi : Daging merah, ayam, ikan, brokoli dan sawi hijau. Zat besi, selain diperlukan untuk kesehatan Ibu juga penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin serta pertumbuhan plasenta.
  2. Asam Folat : Alpukat, jeruk, brokoli dan kacang merah. Asam folat berperan untuk perkembangan tabung saraf yang membentuk otak dan sumsum tulang belakang demi mencegah kecacatan.
  3. Kalsium : Susu, keju dan yoghurt. Kalsium diperlukan untuk pembentukan tulang dan gigi bayi.

2 . Kesehatan Psikis dan Fisik Lainnya.

Concern saya yang juga tak kalah penting adalah masalah asma yang saya derita. Saya benar-benar ingin saya fit saat hamil sehingga, saya tidak perlu mengonsumsi obat-obatan. Dulu saat hamil Gayatri saya menyempatkan untuk rutin berenang dan melakukan yoga. Saat ini, karena suami tinggal di luar kota, kedua hal ini sulit untuk saya lakukan. Untuk itu saya mengakalinya dengan berjalan kaki saat berangkat ke kantor dari halte Trans Jakarta atau sebaliknya. Lumayan ya, setengah jam berjalan kaki setiap harinya membuat saya merasa lebih segar dan bugar.

Selain asma, yang sedang saya kawatirkan adalah kondisi psikis saya. Berjauhan dengan suami, dengan kondisi berkerja sambil mengasuh satu balita memang cukup menguras tenaga jiwa dan raga. Beberapa kali saya mendapati kelelahan yang terakumulasi kadang membuat saya merasa burn out.Tanda-tanda yang saya rasakan adalah seringnya saya sulit tidur, mood swing dan merasakan nyeri otot dan kepala.

tubuh dan jiwa yang sehat

Saya bersyukur dukungan suami begitu kuat, sehingga saya tidak mengalami depresi yang berat. Selebihnya untuk menjaga kesehatan psikis saya, saya menggunakan aromaterapi (tidak dianjurkan jika sudah hamil), melakukan meditasi dan juga mendengarkan musik. Hal-hal sederhana ini masih bisa saya lakukan sambil melakukan aktivitas sehari-hari bersama Gayatri, anak pertama saya, dan terbukti efektif.

Saya harap, kesehatan fisik dan psikis saya ini menolong saya mampu menjalani kehamilan dengan sehat dan juga mampu melahirkan pada waktunya. Kesehatan fisik dan psikis juga penting bagi kesiapan saya merawat bayi saya pasca persalinan, terutama untuk mencegah baby blues dan persiapan menyusui.

Jadi yang diperhatikan jangan hanya kesehatan fisik semata ya, kesehatan psikis juga penting!

3 . Pengetahuan untuk Memenuhi Gizi Bayi Setelah Lahir.

1000 hari pertama Kehidupan memang tidak berhenti saat bayi lahir. Setelah lahir, masih ada ratusan hari lagi yang masih harus diperjuangkan. Perjuangan memenuhi gizi bayi melalui ASI dan MPASI. Untuk itu penting bagi saya untuk belajar (lagi dan lagi) tentang menyiapkan ASI (dan juga ASI Perah, karena saya ibu bekerja) serta tentang menyiapkan MPASI.

“Menyusui adalah dasar kehidupan. Dukung ibu menyusui untuk mencegah stunting. Anak sehat, bangsa kuat”, tutur Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), pada Puncak Peringatan Pekan Asi Sedunia (PAS) tahun 2018 di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin pagi (20/8).

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, dr. Kirana Pritasari, MQIH, memaparkan beberapa data kajian dan fakta global dalam The Lancet Breastfeeding Series tahun 2016 membuktikan bahwa ASI Eksklusif menurunkan angka kematian karena infeksi sebanyak 88% pada bayi berusia kurang dari 3 bulan. Lebih jauh lagi beberapa studi menyebutkan inisiasi menyusu dini (IMD) dan ASI Eksklusif berkontribusi dalam memperbaiki berat bayi lahir rendah (BBLR), stunting dan menurunkan risiko obesitas dan penyakit kronis dalam jangka panjang.

ASI mencegah stuntingSumber: Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI dalam www.sehatnegeriku.kemenkes.go.id

Kesalahan yang saya lakukan saat anak pertama terkait ASI adalah saya berpikir pemberian ASI akan berjalan lancar-lancar saja, sehingga saya tidak perlu belajar tentang hal itu. Saya tahu pentingnya ASI dan ASI Eksklusif, namun saya tidak membekali diri saya dengan bekal ilmu yang cukup untuk menjaga produksi ASI saya dan bagaimana memanajemen ASI Perah. Akibatnya saya kehabisan stok ASIP di bulan ke-empat, setiap hari saya harus “kejar setoran” untuk memenuhi kebutuhan ASI Gayatri.

Berkaca dari pengalaman tersebut, pada bulan Agustus kemarin saya menyempatkan diri mengikuti seminar singkat tentang kebiasaan baik yang perlu dilakukan ibu menyusui yang dapat meningkatkan produksi ASI. Saya sempatkan khusus datang, karena kalau hamil nanti sudah akan lebih sulit untuk sering-sering berpergian jauh. Selain itu, saya juga mulai mengumpulkan informasi tentang bagaimana cara manajemen ASIP bagi ibu bekerja.

Untuk yang sedang mencari informasi juga, saran saya carilah info terkait:

  • pijat oksitosin,
  • pijat payudara,
  • posisibayi,
  • pelekatan bayi pada puting.

Bagi Ibu bekerja mungkin juga ditambah ilmu tentang:

  • power pumping,
  • cara menghitung kebutuhan ASIP,
  • cara menyimpan ASIP,
  • metode pemerahan ASI,
  • peralatan terkait ASIP.

Ilmu ini sebaiknya sudah dimiliki jauh-jauh hari ya, supaya setelah persalinan, Ibu bisa lebih tenang menghadapi tantangan yang dihadapi yang mungkin gampang-gampang susah.

Kalau terkait MPASI, pengalaman sebelumnya saya cukup lancar. Pembelajaran yang saya lakukan adalah membaca-baca lagi jurnal dan buku terkait MPASI untuk updating ilmu. Saya juga mengikuti talkshow-talkshow Kemenkes melalui media online seperti video anjuran memberikan menu mengandung Ikan sebagai pencegahan stunting berikut:

Sumber: www.sehatnegeriku.kemenkes.go.id. Website ini cukup banyak menyediakan informasi terkait sosialisasi-sosialisasi yang dilakukan oleh Kemenkes dan relatif mudah saya tonton, baca dan nikmati informasinya.

Sekian sharing dari saya tentang bagaimana saya mempersiapkan kehamilan sebagai cara pencegahan stunting. Semoga sharing kali ini bermanfaat ya! Salam sayang….

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Review Shampo Zwitsal Natural, Shampo Bebas SLS dan Paraben yang Super Affordable

zwitsal shampo bayi bebas sls dan paraben

Ketika menulis artikel tentang shampo Zwitsal ini, saya jadi flashback ke beberapa perbincangan dengan sesama ibu baru yang sedang nyari perlengkapan bayi tentang shampo bebas sls dan paraben. Kurang lebih percakapannya seperti ini….

“Mbak, emangnya produk shampo/ sabun bayi yang bagus itu selalu mahal ya?” tanya seorang kawan.

“Kriteria bagusnya gimana dulu ni?” saya tersenyum.

“Ya yang bebas sls, nggak mengandung paraben gitu lo mbaaak,” jawabnya.

“Ya yang mahal banyak memang mbaaa, tapi yang super affordable juga ada. Itu Zwitsal, ada yang sebotolnya (100ml) cuma sepuluh ribuan lo.”

Hehehe, beneraaaan banyak lo yang mengira kalau produk bayi yang bagus itu selalu mahal. Obrolan seperti ini sering muncul di antara ibu-ibu, apalagi jaman saya ibu baru. Di satu sisi masih banyak kekawatiran terhadap ingredients SLS (Sodium Lauryl Sulfate) yang bisa menyebabkan iritasi di kulit bayi, beberapa juga bingung terhadap pro kontra penggunaan bahan paraben. Namun di sisi lain, ibu-ibu juga perhitungan dengan budget toiletries bayi.

Tahun lalu saya sempat menulis tentang 4 sabun bayi non sls dan non paraben. Di daftar tersebut ada yang cukup mahal, namun ada yang terjangkau juga. Dan produk yang menurut saya sangat terjangkau dan kualitasnya bagus sehingga sering saya purchase adalah ya Zwitsal ini. Produk ini jadi solusi buat permasalahan yang diperbincangkan di atas.

Selain harganya yang affordable dan kualitasnya yang bagus, saya antusias dengan produk Zwitsal terutama yang varian Natural, karena walaupun ini produk uda ada dari kapan tahun, tapi mereka rajin improve formulanya. Saya ngeh soalnya saya suka merhatiin kemasannya. Dulu pas awal saya pakai, pas jaman Gayatri newborn, di kemasannya nggak ada tulisan “improved formula”. Nah yang terakhir saya beli adaaa…. Ketika suatu brand rajin improve formula, menurut saya, itu menunjukkan bahwa brand tersebut benar-benar concern pada kebutuhan/ keinginan konsumen dan tidak berhenti melakukan riset.

zwitsal shampo bayi bebas sls dan paraben

Related post: 4 Sabun Bayi Non SLS dan Non Paraben

Tapi sekarang saya nggak mau bahas sabunnya lagi, sekarang mau bahas shamponya. Kalau sabun saya menggunakan Zwitsal sejak Gayatri newborn, shampo Zwitsal baru saya coba pas Gayatri uda bisa berdiri. Berarti sekitar 6 bulan lalu ya. Masalah kepraktisan saja si sebenarnya. Karena dulu mandiin di bak, saya masih nervous jadi lebih nyaman pakai yang 2 in 1. Sekali sabunin sekalian shampoin.

Nah, sejak Gayatri bisa berdiri kan uda enak tuh, nggak terlalu kawatir bakal tergelincir masuk ember, jadi mulai pakai dua produk saat mandi: sabun dan shampo.

Rambut Gayatri sendiri sebenarnya tidak bermasalah. Dari lahir sudah cukup tebal, bahkan sempat dipanggil jabrik, hihihi. Tapi karena nggak pernah digundul, awalnya saya rada kawatir bakal jadi rontok dan tipis. Hihihi, ternyata itu mitos ya.

Walaupun begitu saya tetap cari perawatan rambut yang berkaitan dengan rambut hitam dan tebal. Supaya rambut yang memang dari awalnya sudah tebal tetap terjaga pertumbuhannya sampai nanti dia dewasa. Sayang aja kan kalau sudah ada bakat rambut tebal, tapi nggak terawat.

Yang saya coba adalah produk Zwitsal Natural. Mengapa dulu tertarik mencoba produk ini?

Yang pasti karena pengalaman bagus sebelumnya pakai produk Zwitsal baby bath 2in1nya ya, jadi nggak ragu. Saya cek di ingredients shampo ini, lagi-lagi tak ada SLS dan parabennya. Ditambah lagi ada bahan alami lidah buaya, kemiri dan seledrinya. Bahan-bahan tersebut terkenal berkhasiat membuat rambut tebal, hitam dan sehat.

Sebagai anak yang dulu tinggal bareng bersama nenek, saya familiar banget dengan perawatan-perawatan alami seperti itu. Bukan hal aneh bagi kami, kulit kepala kami adem adem dioles lidah buaya hasil petik dari kebun. Atau dioles minyak kemiri buatan sendiri. Tapi berhubung di Jakarta dan kerja juga, anak saya pakai produk yang siap pakai saja. Lebih praktis pastinya.

zwitsal shampo natural

Well, saya langsung aja bahas produknya ya….

Deskripsi Produk Shampo Zwitsal:

Zwitsal Baby Shampo Natural dengan Aloe Vera, Kemiri, Seledri.

Ingredients:

Water, Sodium Laureth Sulfate, Disodium Cocoamphodiacetate, Cocamidopropyl Betaine, Polyquaternium-7, Parfum, Citric Acid, Sodium Benzoate, Apium Graveolens (Celery) Root/ Seed Extract, Sodium Lactate, Aloe Barbadensis Leaf Extract, Aleurites Moluccana Seed Extract, Panthenol, Etridonic Acid, Cl 42051, Cl 19140.

Sedikit keterangan atas ingredients:

  • Sodium Laureth Sulfate (SLES) berbeda dengan Sodium Lauryl Sulfate (SLS) ya…. Sodium Laureth Sulfate dinyatakan di Paula’s choice ingredients dictionary sebagai bahan yang relatif aman.
  • Apium Graveolens (Celery) Root/ Seed Extract: Seledri.
  • Aloe Barbadensis Leaf Extract: Lidah buaya.
  • Aleurites Moluccana Seed Extract: Kemiri.

Fragrance:

Produk ini mengandung parfum ya, tapi bukan yang nyegrak gitu. Baunya cukup soft tapi cukup ampuh mengatasi bau matahari kalau dia habis berjemur, ataupun bau apek keringat. Jadinya rambutnya terjaga selalu segar. Seneng lah nyium nyiumin rambut Gayatri.

love love

Kemasan:

Harga: yang ukuran 100ml, saya beli di indomaret dekat kosan seharga Rp 11.500,00. Value for money banget kan! Kualitas bagus namun harganya bener-bener terjangkau. Saya juga punya yang kemasan pump ukuran 300ml harganya sekitar Rp 22.000,00.

Where to buy:

Dimana-mana ada iniiii…. mudah banget ditemukan. Di alfamart/ indomaret ada, baby shop apalagi, pasti ada.

Impression:

Rambut asli Gayatri tebal (banyak rambutnya) namun helaiannya tipis. Memiliki tekstur lurus dengan ikal gantung (keriting di bawah). Manfaat menggunakan shampo ini pada rambut dengan tipe seperti Gayatri adalah jadi tidak mudah kusut. Saya senang rambutnya tetap ada ikal alaminya, tapi ikalnya kelihatan cantik gitu. Rapi, hitam dan berkilau.

rambut bayi

Pertumbuhan rambut Gayatri dari bulan ke bulan.

Banyak yang mengomentari rambut Gayatri, katanya kriwil kriwil lucu. Dan walaupun tidak pernah digundul, pertumbuhan rambutnya tetap baik.

Saya menggunakan shampo setiap mandi, jadi dua kali sehari karena sering ada sisa susu atau makanan di rambutnya. Namun, walaupun sering keramas tidak mengakibatkan rambutnya jadi merah seperti anak layangan. Kulit kepalanya pun tidak menjadi kering, saya yakin karena selain tidak mengandung SLS, kandungan aloe veranya efektif menjaga kesehatan kulit kepalanya.

Fitur yang saya sukai dari Shampo Zwitsal:

  • tidak mengandung SLS,
  • tidak mengandung paraben,
  • hypoallergenic, sehingga relatif aman bagi bayi baru lahir sekalipun,
  • tidak pedih di mata,
  • mengandung bahan-bahan natural yang baik untuk kesehatan rambut dan kulit kepala,
  • ada kemasan ukuran kecil yang traveling friendly, ada juga yang besar berbentuk pump,
  • mudah ditemukan,
  • harganya terjangkau.

Demikian review dari saya, semoga bisa jadi masukan yang bermanfaat untuk Nyonyah-nyonyah yang sedang mencari produk perawatan bayi yang value for money namun kualitasnya bagus.

Terimakasih sudah mampir…. Salam sayang!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

3 Pengalaman Memalukan Bawa Bayi Naik Pesawat

bayi naik pesawat bareng bayi

Sebagian besar orang yang ngobrol dengan saya, saat di Bandara bareng bayi, bertanya “apakah bayimu tidak rewel?” Beberapa juga mengajukan rasa salut karena saya berani wara wiri bawa bayi naik pesawat tanpa pendamping. Padahal saya berani ya karena Gayatrinya kooperatif ya. Namun, walau Gayatri anak yang relatif kooperatif dan kalem di tempat umum, saya juga punya pengalaman memalukan bawa bayi naik pesawat.

bayi naik pesawat bareng bayi

Saat Pipis di Lavatory

Okay kejadian ini baru beberapa minggu lalu. Hasil kolaborasi manis antara bayi kepo dan mbak mbak pramugari yang rajin membantu. Terbukalah lavatory saat saya enak-enaknya pipis di atas pesawat.

Saya memang sudah merasa kebeles pipit sejak sebelum boarding. Namun saat itu saya tidak menuntaskan hasrat pipis saya karena nanggung. Lagi nyuapin Gayatri dan uda mendekati waktu boarding. Kan rempes ya gendong bayi sambil buru-buru, mending saya tahan sebentar lalu pipisnya di atas pesawat saja, pikir saya saat itu.

Karena tanpa teman seperjalanan, tentu Gayatri saya bawa masuk ke lavatory. Dia mainan pintu donggg…. Saya biarin karena biasanya begitu, dan aman-aman saja. Gayatri belum bisa buka kuncian pintu kan, walaupun sudah bisa dorong kenop pintunya.

Dan terjadilah insiden kecil itu…. Pramugari (Garuda) yang memang sangat super duper helpful sama penumpang, mungkin karena merasa kawatir dengan suara-suara di pintu atau mungkin mengira saya terkunci dan kesulitan membuka pintu, berinisiatif membuka kuncian pintu dari luar dong…. Dan ups, maaf, pemandangannya kurang menyenangkan ya Mbaaa…. Hehehe….

Saya cuma bisa nyengir, dan pintunya pun ditutup kembali sama mbak pramugarinya. Hehehe, rempong kan kalau saya yang nutup. Harus pake celana dulu (((dijelasin))). 😛

Related Post: Pengalaman Bawa Bayi Umur 4 Bulan Naik Pesawat

tips naik pesawat bareng anak

Saat Gayatri Nepuk Pantat Pramugara

Posisi paling pewe buat ibu bawa bayi menurut saya itu di row paling depan yang ada extra legnya. Kalau ga bisa dapet ya di lorong atau di pinggir dekat jendela. Paling sering saya dapatnya di lorong si….

Dapat seat di lorong itu manfaatnya ada beberapa:

  1. Memudahkan keluar masuk kursi,
  2. Nggak terlalu mengganggu penumpang lain,
  3. Kalau merasa sempit handle tangan bagian lorong bisa dibuka, jadi bisa leluasa ada tambahan space di sisi samping,
  4. Kalau Gayatri bosan, dia bisa jalan-jalan sepanjang lorong saat uda diperbolehkan tidak menggunakan seat belt.

Namuuuunnn, ada juga kelemahannya:

  1. Berbahaya saat proses mengeluar masukkan koper ke kompartemen atas, risiko kejatuhannya lebih besar dibanding seat yang dekat jendela,
  2. Seing terganggu hilir mudiknya pramugari tang membawa troli, daaaaaannnn….
  3. Berisiko malu kalau anak kita lagi usil suka jawil-jawil pramugara/ pramugari.

Poin yang ketiga ini beneran saya alami lo. Gayatri pernah nepok pantat pramugara. PRAMUGARA. Cowoooook!!!!

Saya nyadarnya pas uda ketepok, masnya bilang “Eh!” Sambil nengok ke arah saya. Untung saat itu tangannya Gayatri masih terjulur kan. Jadi masnya mahfum, kalau yang nepok bayi imut unyu unyu, bukan emaknyaaa…. Ya kali kaaan…. Saya cuma tersenyum. Dan pramugaranya langsung pasang wajah ramah ke Gayatri, ngajak bercanda. Buset terlatih banget yak, wajah ramahnya….

Semuanya pun berakhir dengan baik.

Related Post: Pengalaman Membawa Bayi Umur 9 Bulan Naik Pesawat

anak nyaman naik pesawat

Foto-foto di atas diambil saat Gayatri usia 1 tahun di Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta.

Saat Gayatri Pup saat Landing

Bayangkan, saat kru pesawat mengumumkan kalau kami sudah ada di posisi landing, semua penumpang diminta  menegakkan sandaran dan mengencangkan seat belt, lalu tiba-tiba wajah si Ening tegang. Bukan tegang karena mendengar suara mesin pesawat. Saya kenal sekali ekspresi ini. Ekspresi ngeden.

Ya ampunnn baunya. Malu banget saya, karena bau banget.

Waktu itu pas mau ke Yogyakarta, dan mungkin sebagian besar orang tau, entah mengapa prosesi landing di Jogja itu lamaaa. Semacam antri muter-muter di atas. Saya gelisah. Penumpang sebelah saya apalagi! Uda mulai tutup-tutup hidung dan oles-oles freshcare! Gayatri mah lempeng, muka tak bersalah. Ni anak yaaaaaa!!!!

Tapi gimana dong, mau ke toilet juga nggak bisa kan. Karena semua harus duduk. Berbahaya bagi diri saya sendiri, Gayatri dan tentu orang lain, kalau saya sampai nekat jalan dan jatuh. Akhirnya ya sudah, tahankanlah baunya. Pas uda landing sempurna dan kami diizinkan turun, saya langsung ngacir cepet-cepet bawa bocah yang juga uda mulai menggeliat-geliat risih.

Pengalaman Gayatri pup saat penerbangan memang cuma sekali itu si, tapi amit amit dah, jangan sampai kejadian lagi! Wkwkwk! Ngakak kalau ingat….

hehehe

Yaaaaa gitu deh, beberapa kejadian yang rada malu-maluin yang pernah saya alami. Kayanya ya cuma tiga ini di puluhan penerbangan kami. So bisa dibilang, kecil kemungkinan terjadi. Walaupun kalau terjadi pun, semuanya akan tetap baik-baik saja. Asal kita sebagai ibu tetap tenang. Karena kalau nggak tenang, kejadian sekecil apapun bikin mood kita rusak dan ruin the rest of the trip. Jadi tetap semangat yaaa buat yang mau bawa anak/ bayi pergi seorang diri menggunakan moda pesawat. Tenang adalah koentji!

Related Post:
Pengalaman Bawa Bayi Naik Pesawat Umur 4 Bulan
Pengalaman Bawa Bayi Naik Pesawat Umur 9 Bulan

Gimana kalau teman-teman? Adakah kejadian lucu atau malah memalukan selama travelling bareng bayiii? Cerita yuuuuk!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Manfaat Baby Spa di Rumah dan Cara Mudah Melakukannya

manfaat spa bayi

SPA adalah singkatan dari Sanitas Per Aqua yang berarti perawatan tubuh yang menggunakan media air. Pertama-tama dikenal di Belgia merujuk pada pemandian air panas. Kesimpulan sederhananya spa adalah terapi bagi kesehatan tubuh yang menggunakan air hangat.

“Duh, Nyahhh…. Di rumah saya tidak ada kolam renang nih, jadi nggak bisa dong baby spa di rumah!”

Mmmmm…. Kalau dari web-nya IDAI si, baby spa memang TIDAK harus dengan berenang seperti yang hits di kalangan ibu-ibu jaman now ya. Dalam artikelnya, CMIIW, IDAI menyebutkan secara implisit bahwa terapi air tidak selalu sama artinya dengan berenang. Saya sendiri pun menyesuaikan tahap-tahap baby spa dengan peralatan yang ada di rumah. Cara mudah melakukan baby spa di rumah akan saya bahas di bawah yaaa…..

spa baby di rumah

Manfaat Baby Spa di Rumah

Saya pernah membaca di web bidan.ku ada 14 manfaat loh dari melakukan spa bayi. Kalau teman-teman pengen tahu lengkapnya bisa dilihat di sini.

Kalau saya pribadi yang saya rasakan dari rajinnya saya (aseeek, rajin) melakukan baby spa adalah 1) pertumbuhan Gayatri yang sangat baik, dilihat dari tinggi dan berat badannya yang selalu ada di warna hijau grafik KMS. Untuk 2) perkembangan motoriknya juga sangat baik. Kata adik saya yang fisioterapis, hal tersebut adalah manfaat tidak langsung dari baby spa yang melibatkan unsur pemijatan.

Manfaat lain dari spa bayi yang langsung terasa adalah 3) peningkatan kualitas tidur bayi. Gayatri biasanya kalau habis di-spa, boboknya jadi pules dan tenang.

love love

Kelebihan Spa Bayi di Rumah

Mungkin ada yang masih ragu untuk melakukan baby spa di rumah karena satu dan lain hal. Saya mau sharing sedikit nih. Saya memiliki pengalaman melakukan spa di rumah maupun di salon bayi. Keduanya tentu memiliki kelebihan masing-masing. Untuk spa di rumah, menurut saya kelebihannya adalah sebagai berikut:

1 . Membuat bayi merasa lebih nyaman.

Saya yakin kalau Gayatri bukan satu-satunya bayi yang sering nangis kalau dipijat orang asing. Hehehehe…. Soalnya kalau sedang pijat di salon bayi, sering banget denger bayi yang nangis gerung gerung. Demikian juga bayi saya, walaupun Gayatri sendiri adalah bayi yang doyan dipijat, tapi dia tetap rewel saat dipijat oleh orang asing.

Berbeda kalau di rumah, dia akan merasa lebih familiar dan nyaman. Selain familiar dengan pemijatnya (saya sebagai ibu), juga dengan suasana rumahnya.

2 . Menambah bonding antara orang tua dan anak.

Selama baby spa tentunya orang tua sambil melakukan kontak mata dan juga bisa sambil melakukan stimulasi dengan mengajaknya bicara atau bersenandung.
Saya berpendapat kalau proses memijat ini tidak hanya memuaskan bayi, tapi membuat saya sebagai ibu juga merasa bahagia saat berinteraksi dengannya lewat tatapan atau respon-respon lucu yang dia lakukan. Misal: tingkah konyolnya merem melek saat dipijat atau bagaiman saat bayi excited melihat kecipak air dan busa sabun.

It’s really fun! Both parent and baby deserve it!

3 . Lebih terjamin

Baby spa di rumah tentu memudahkan orang tua untuk memastikan kebersihan peralatan, air yang dipakai serta keamanan produk bayi yang digunakan. Karena tentu orang tua yang paling tahu kondisi bayinya dooong!

spa bayi di rumah

4 . Hemat

Jujurly speaking yaaak, dengan manfaat yang sama dan mungkin malah lebih banyak, rata-rata biaya yang digunakan untuk spa di rumah lebih murah loh. Coba deh itung-itung sendiri hehehe, sebelumnya saya pernah bahas price list salon bayi di Bintaro di sini.

5 . Fleksibel

Melakukan baby spa di rumah tentunya lebih fleksibel dalam hal waktu. Kita tidak terikat jadwal, tidak harus antri, dan bisa dilakukan kapanpun selama orang tua dan bayi siap.

Cara Melakukan Spa Bayi di Rumah

Beberapa waktu lalu saya mencoba produk Little Bee dari Tupperware (yak! Tupperware kesayangan ibuuuu, penasaran kaaaan penasaran kaaaannnn) dalam rangkaian baby spa yang saya lakukan di rumah untuk Gayatri. Kira-kira cara dan tahapannya sbb ya….

1 . Stimulasi Pijat

Tahapan ini jangan sampai kelewatan ya. Adik saya (fisioterapis yang concern ke masalah anak/ pediatri) dari Gayatri kecil memesankan untuk rajin-rajin memijat bayi. Nggak harus ke dukun bayi, kaya jaman dulu. Orang tua pun bisa memijat bayi sendiri. Apalagi sekarang sudah banyak panduannya ya. Sesuaikan saja mana pijatan yang sedang dibutuhkan bayi.

Dalam melakukan pemijatan, orang tua wajib kudu dan harus memperhatikan reaksi bayi ya. Agar terasa nyaman gunakan minyak atau baby oil sebagai media.

Kesan pertama saya menggunakan baby oil dari Little Bee tuh nyaman ya, tidak lengket dan mudah dibilas saat mandi di tahapan kedua. Saya juga senang karena produk ini mengandung aloe vera yang baik untuk melembabkan dan regenerasi kulit.

2 . Mandi/ Berendam

Part favorit Gayatri adalah mandiiiiiiii!!!!!! Dia bahkan sudah bisa bilang “Naniiii, naniiii”, sambil berusaha melepas diapersnya. Hahahaha! Saat mandi juga jadi momen yang menenangkan buat saya, soalnya saya suka wangi powdery musk dari Little Bee Baby Wash dan Little Bee Baby Shampoo.

manfaat spa bayi

Yang harus diperhatikan saat memandikan bayi adalah suhu air serta ingredients dari perlengkapan bayi. Pilih yang melembabkan dan tidak mengandung bahan iritan ya. Seperti kedua produk dari Little Bee Tupperware ini. Jangan sampai lupa waktu juga yaaaa! 15 menit maksimal agar bayi tidak kedinginan.

3 . Perawatan Kulit

Perawatan kulit bayi pada tahap ketiga ini tentunya disesuaikan dengan kebutuhan bayi masing-masing ya…. Kalau Gayatri saya menggunakan Little Bee Baby Lotion di seluruh tubuhnya. Tidak lengket loh! Cepat meresap lotionnya.

Beberapa ibu yang senang menggunakan bedak bagi bayinya, produk Little Bee Baby Powder memiliki kelebihan yaitu adanya bahan Allantoin yang selain mencegah iritasi kulit, juga mengikat partikel bedak agar tidak berhamburan.

setrong

Cukup mudah kan? Mengingat manfaatnya yang besar, saya yang (kadang) malas-malasan aja bisa jadi rajin, hihihi…. Semoga artikel ini membuat temen-temen yang masih ragu untuk melakukan baby sa sendiri di rumah jadi tambah semangat yaaa!

Terimakasih sudah berkunjung! Salam sayaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Anakmu Sudah Bisa Anu Belum?

FullSizeRender

Pertanyaan yang sering sekali saya dapat. “Anakmu sudah bisa jalan belum?” “Anakmu sudah bisa ngomong belum?” “Anakmu sudah bisa anu belum?” “Ini itu belum?”

FullSizeRender

Hehehe…. #nooffense. Jujur saya jarang baper ya, karena toh selama ini Gayatri pun tumbuh kembangnya baik-baik saja. Walaupun ya namanya anak kan berbeda-beda timelinenya, kadang ada yang lebih cepat dibandingkan yang lain, atau lebih lambat. Selama masih dalam koridor normal, saya tetap tenang. Saya biasanya ngecek berdasar tes denver.

Tes perkembangan anak sendiri sebenarnya banyak, ada yang pakai KTSP, dll. Tes denver yang saya gunakan sendiri infonya tidak bisa mengukur ketertinggalan anak. Tentu saja, kalau mau mengukur ketertinggalan perkembangan anak tetap harus konsultasi dengan dokter ya. Namun kata dokter anak saya dan adik saya (yang fisioterapis) tes ini masih dapat digunakan sebagai screening awal. Dan saya juga menyukainya karena mudah digunakan.

Related post: Tes Denver.

Walaupun jarang baper, kadang saya berasa bingung menghadapi pertanyaan, “Anakmu sudah bisa anu belum?” ini. Paling salah tingkah jika pertanyaan tersebut ditanyakan di dalam kelompok dimana ada anak lain selain Gayatri. Walaupun jujur saya bangga pada sekecil apapun perkembangan anak saya. Bukan sombong ya. Tapi saya tetap tidak suka membanding-bandingkan perkembangan anak.

Saya jawab nanti ibu lain baper.

Saya nggak jawab tar dikira saya yang baper.

Rikuh. Serba salah. Tiap anak kan punya milestonenya sendiri. Bandinginnya ya sama milestonenya sendiri dari hari ke hari, bukan sama anak orang lain. Jadi sebisa mungkin saya menghindari kemungkinan membahas hal demikian.

hehehe

Ada yang perkembangan anaknya itu jalan duluan dibanding yang lain. Ada yang ngomongnya duluan. Ada yang emang dua-duanya duluan. Ya terserah Tuhan yang kasih perkembangan anak lah. Membanding-bandingkan perkembangan anak hanya akan menuju hal-hal yang lebih banyak mudaratnya. Entah kesedihan bagi si Ibu, atau malah kesombongan.

Padahal, siapa kita coba (sebagai ibu) patut untuk sombong atau sedih atas pertumbuhan anak yang dikaruniakan pada kita?

Bagian kita tuh, berusaha. Ikhtiar.

Dan berdoa.

Uda.

Okeeeee…. Saya maklum juga, kadang pertanyaan seperti ini dilakukan untuk memecah kebekuan. Untuk memancing pembicaraan. Tapi plis sebisa mungkin lakukanlah saat tidak dalam kumpulan anak-anak. Untuk menghindari saling membandingkan perkembangan anak masing-masing.

Saya akan seneng banget kok, kalau ditanyain dalam rangka buat diskusi. Diskusi tentang stimulasi yang dilakukan. Gimana kalau uda begini. Atau begitu. Saya juga suka kalau dikasih informasi dan masukan yang berimbang. Jadi fokusnya di “yuk, kita mau ngapain”. Proses. Dan lebih positif gitu vibenya. Dibandingkan pertanyaan yang ujungnya ditimpali dengan, “Oh, anakkmu begitu, kalau anakku….”

Gitu aja sik. Hehehe….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!