3 Pengalaman Memalukan Bawa Bayi Naik Pesawat

Sebagian besar orang yang ngobrol dengan saya, saat di Bandara bareng bayi, bertanya “apakah bayimu tidak rewel?” Beberapa juga mengajukan rasa salut karena saya berani wara wiri bawa bayi naik pesawat tanpa pendamping. Padahal saya berani ya karena Gayatrinya kooperatif ya. Namun, walau Gayatri anak yang relatif kooperatif dan kalem di tempat umum, saya juga punya pengalaman memalukan bawa bayi naik pesawat.

bayi naik pesawat bareng bayi

Saat Pipis di Lavatory

Okay kejadian ini baru beberapa minggu lalu. Hasil kolaborasi manis antara bayi kepo dan mbak mbak pramugari yang rajin membantu. Terbukalah lavatory saat saya enak-enaknya pipis di atas pesawat.

Saya memang sudah merasa kebeles pipit sejak sebelum boarding. Namun saat itu saya tidak menuntaskan hasrat pipis saya karena nanggung. Lagi nyuapin Gayatri dan uda mendekati waktu boarding. Kan rempes ya gendong bayi sambil buru-buru, mending saya tahan sebentar lalu pipisnya di atas pesawat saja, pikir saya saat itu.

Karena tanpa teman seperjalanan, tentu Gayatri saya bawa masuk ke lavatory. Dia mainan pintu donggg…. Saya biarin karena biasanya begitu, dan aman-aman saja. Gayatri belum bisa buka kuncian pintu kan, walaupun sudah bisa dorong kenop pintunya.

Dan terjadilah insiden kecil itu…. Pramugari (Garuda) yang memang sangat super duper helpful sama penumpang, mungkin karena merasa kawatir dengan suara-suara di pintu atau mungkin mengira saya terkunci dan kesulitan membuka pintu, berinisiatif membuka kuncian pintu dari luar dong…. Dan ups, maaf, pemandangannya kurang menyenangkan ya Mbaaa…. Hehehe….

Saya cuma bisa nyengir, dan pintunya pun ditutup kembali sama mbak pramugarinya. Hehehe, rempong kan kalau saya yang nutup. Harus pake celana dulu (((dijelasin))). :P

Related Post: Pengalaman Bawa Bayi Umur 4 Bulan Naik Pesawat

tips naik pesawat bareng anak

Saat Gayatri Nepuk Pantat Pramugara

Posisi paling pewe buat ibu bawa bayi menurut saya itu di row paling depan yang ada extra legnya. Kalau ga bisa dapet ya di lorong atau di pinggir dekat jendela. Paling sering saya dapatnya di lorong si….

Dapat seat di lorong itu manfaatnya ada beberapa:

  1. Memudahkan keluar masuk kursi,
  2. Nggak terlalu mengganggu penumpang lain,
  3. Kalau merasa sempit handle tangan bagian lorong bisa dibuka, jadi bisa leluasa ada tambahan space di sisi samping,
  4. Kalau Gayatri bosan, dia bisa jalan-jalan sepanjang lorong saat uda diperbolehkan tidak menggunakan seat belt.

Namuuuunnn, ada juga kelemahannya:

  1. Berbahaya saat proses mengeluar masukkan koper ke kompartemen atas, risiko kejatuhannya lebih besar dibanding seat yang dekat jendela,
  2. Seing terganggu hilir mudiknya pramugari tang membawa troli, daaaaaannnn….
  3. Berisiko malu kalau anak kita lagi usil suka jawil-jawil pramugara/ pramugari.

Poin yang ketiga ini beneran saya alami lo. Gayatri pernah nepok pantat pramugara. PRAMUGARA. Cowoooook!!!!

Saya nyadarnya pas uda ketepok, masnya bilang “Eh!” Sambil nengok ke arah saya. Untung saat itu tangannya Gayatri masih terjulur kan. Jadi masnya mahfum, kalau yang nepok bayi imut unyu unyu, bukan emaknyaaa…. Ya kali kaaan…. Saya cuma tersenyum. Dan pramugaranya langsung pasang wajah ramah ke Gayatri, ngajak bercanda. Buset terlatih banget yak, wajah ramahnya….

Semuanya pun berakhir dengan baik.

Related Post: Pengalaman Membawa Bayi Umur 9 Bulan Naik Pesawat

anak nyaman naik pesawat

Foto-foto di atas diambil saat Gayatri usia 1 tahun di Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta.

Saat Gayatri Pup saat Landing

Bayangkan, saat kru pesawat mengumumkan kalau kami sudah ada di posisi landing, semua penumpang diminta  menegakkan sandaran dan mengencangkan seat belt, lalu tiba-tiba wajah si Ening tegang. Bukan tegang karena mendengar suara mesin pesawat. Saya kenal sekali ekspresi ini. Ekspresi ngeden.

Ya ampunnn baunya. Malu banget saya, karena bau banget.

Waktu itu pas mau ke Yogyakarta, dan mungkin sebagian besar orang tau, entah mengapa prosesi landing di Jogja itu lamaaa. Semacam antri muter-muter di atas. Saya gelisah. Penumpang sebelah saya apalagi! Uda mulai tutup-tutup hidung dan oles-oles freshcare! Gayatri mah lempeng, muka tak bersalah. Ni anak yaaaaaa!!!!

Tapi gimana dong, mau ke toilet juga nggak bisa kan. Karena semua harus duduk. Berbahaya bagi diri saya sendiri, Gayatri dan tentu orang lain, kalau saya sampai nekat jalan dan jatuh. Akhirnya ya sudah, tahankanlah baunya. Pas uda landing sempurna dan kami diizinkan turun, saya langsung ngacir cepet-cepet bawa bocah yang juga uda mulai menggeliat-geliat risih.

Pengalaman Gayatri pup saat penerbangan memang cuma sekali itu si, tapi amit amit dah, jangan sampai kejadian lagi! Wkwkwk! Ngakak kalau ingat….

hehehe

Yaaaaa gitu deh, beberapa kejadian yang rada malu-maluin yang pernah saya alami. Kayanya ya cuma tiga ini di puluhan penerbangan kami. So bisa dibilang, kecil kemungkinan terjadi. Walaupun kalau terjadi pun, semuanya akan tetap baik-baik saja. Asal kita sebagai ibu tetap tenang. Karena kalau nggak tenang, kejadian sekecil apapun bikin mood kita rusak dan ruin the rest of the trip. Jadi tetap semangat yaaa buat yang mau bawa anak/ bayi pergi seorang diri menggunakan moda pesawat. Tenang adalah koentji!

Related Post:
Pengalaman Bawa Bayi Naik Pesawat Umur 4 Bulan
Pengalaman Bawa Bayi Naik Pesawat Umur 9 Bulan

Gimana kalau teman-teman? Adakah kejadian lucu atau malah memalukan selama travelling bareng bayiii? Cerita yuuuuk!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

MPASI On The Go, Bukan Panduan MPASI saat Traveling

Awalnya saya nggak berniat menuliskan MPASI saat traveling versi Gayatri karena MPASI yang saya sediakan bukan yang perfeksionis-perfeksionis amat. Merasa takut menyesatkan. Hehehe….

Namun karena mbak Gusti Tia @tiasangputri request, trus kebetulan di hari yang sama temen lain juga nanya via WA group, ya udah saya tulis aja yak. Sekali lagi, sesuai judul MPASI on the go versi Nyonyamalas ini bukan panduan (karena memang banyak hal yang nggak ideal), sifatnya hanya sekedar sharing pengalaman.

MPASI on the go

Pertimbangan MPASI saat Traveling:

1 . Standarnya berbeda dengan saat di rumah, kepraktisan jadi prioritas juga.

Saya menekankan baik-baik di pikiran saya, yang kadang suka kumat perfeksionisnya, kalau kondisi di rumah dan di “jalan” itu berbeda. Saya harus belajar untuk fleksibel dan juga concern terhadap kepraktisan. Standar yang berbeda kalau di rumah dengan di jalan terutama ada pada jenis menu yang dipilih, yaitu saya akan memilih menu-menu yang mudah diolah.

Prioritasnya bisa diurut sbb:

  • Yang tetap jadi prioritas utama tentu adalah kebersihan.
  • Prioritas selanjutnya adalah meminimalisasi makanan yang berisiko memicu alergi.
  • Kepraktisan naik pangkat prioritas ni kalau saat traveling.
  • Kelengkapan menu empat bintang juga tetap saya usahakan.
  • Menu non garam juga saya perhatikan, namun tidak seketat di rumah.

Toh bocah tidak akan langsung anemia cuma karena nggak makan daging sapi selama dua hari traveling. Katakanlah begitu. Tapi kalau kebersihan bisa bahaya sih, kan bisa kena diare di perjalanan dan itu fatal. Maka dari itu kebersihan nomor satu, utamakan selamat. Kelengkapan menu jadi prioritas yang lebih rendah.

2 . Jaga berat bawaan.

Peralatan MPASI kan sebenarnya bisa sedikit bisa juga banyak. Nah kalau di jalan saya akan meminimalisasi membawa peralatan yang berat-berat. Atau kalau bisa malah nggak membawa alat masak sama sekali.

3 . Kenali lokasi penginapan.

Saya tidak anti untuk membeli makanan untuk Gayatri, dan memodifikasinya menjadi makanan bayi. Tentu untuk dapat melakukannya saya harus mengenali lokasi penginapan terlebih dahulu. Seperti di poin 1 tadi, tentu kebersihan adalah nomor 1 ya. Saya berani makan/ beli makan buat Gayatri kalau sebelumnya saya pernah makan di tempat tersebut.

4 . Rileks.

Saya traveling biasanya karena ada acara keluarga, kerjaan kantor atau liburan. Ya saya mau fokus untuk mengerjakan hal-hal tersebut. Even untuk liburan pun saya mau fokus liburan. Hahahaha…. Saya nggak pengen juga karena saya ribet masak, eh kepasan bocah juga lagi malas makan trus saya jadi bad mood sepanjang perjalanan.

Berikut saya jembrengin pengalaman saya ya. Nyonyah pasti akan menemukan banyak kekurangan, jadi mohon jangan berekspektasi terlalu tinggi yak. Ya memang beginilah kenyataannya sih…. Heeee….

Umur 6 bulan – 7 bulan

Umur segini paling saya bawa Gayatri main di sekitaran Jakarta aja. Jadi ga terlalu masalah. Karena ga terlalu lama, bisa bawa bekal makanan (bubur). Kalaupun ga bisa bikinkan bubur, saya bawa pisang atau alpukat. Di jalan tinggal kerok. Tadi saya coba ubek-ubek Galery handphone dan nemu foto ini…. Tapi ini saya lupa pastinya umur berapa kayanya si sekitar 7 atau 8 bulanan deh…. bekalnya kaya gini hehehe….

Sebenarnya bawa bekal bubur sudah jadi seperti ini berisiko ya. Karena makanan matang, agar tidak terkontaminasi bakteri, seharusnya disimpan pada suhu tertentu (di kulkas) bukan di suhu ruang.

kantor

Bagaimana kalau harus menginap? Akankah Nyonya bawa slow cooker dll?

Jawabannya Tidak. Karena di rumah, walaupun ada slowcooker, saya terbiasa masak bubur pakai panci atau alat lain yang ada. Biasanya panci tersedia kalau di penginapan yang ada kitchenettenya.

Paling saya bawa 1) saringan dan 2) parutan keju kecil. Alasannya karena nggak semua tempat menginap menyediakan dua benda ini. Lagipula dua benda ini versatile serta ngebantu banget untuk bikin MPASI, dan ukurannya keciiiiillll. Tinggal diselipin di diaper bag aja muat.

Trus gimana kalau mau menu empat bintang Nyah?

Kembali lagi, sesuaikan dengan lokasi penginapan. Sebisa mungkin cari penginapan yang memungkinkan kita berbelanja jika memang ingin memasak di lokasi traveling. Pilih bahan yang mudah disaring pakai saringan. Jangan pula beli daging sapi yang ga digiling, misalnya. Masak bubur pakai panci. Saring.

Lhah kalau di penginapan?

Nhaini memang agak tricky sih kalau nginepnya nggak di rumah Saudara. Tips dari saya si, better sewa apartemen harian atau mingguan ya daripada hotel. Karena di apartemen biasanya ada dapur kecil, dan biasanya juga dekat dengan pusat perbelanjaan.

Saya baru sekali bawa bayi nginap apartemen harian, yaitu pas di Surabaya. Nyewa satu unit Puncak Kertajaya untuk tiga hari. Lebih murah kok daripada hotel. Dan di dekat situ dekat Giant dan Superindo. Ada dapur sederhana, yang penting ada kompor, panci satu dan alat makan. Aman.

Di situ juga ada kantin yang jual gado-gado. Itu rebusan sayur (labu siam, dll), tahu goreng, kentang atau lontong, bisa dialusin jadi bubur bayi kalau kepepet. :P Hehehe…. Disclaimer: Suami dulu tinggal di apartemen ini setahunan, cuma beda tower, jadi dia tahu kantin mana yang layak diacungi jempol kebersihannya.

Saya punya food processor Nyah? Menurut Nyonyah gimana?

Saya nggak punya si, jadi nggak bisa cerita tentang food processor. Mohon maap. Hehehe….

Trus kalau mau bawa alat masak segambreng salah nggak?

Ya enggak papa juga si. Kalau bawa mobil sendiri, apa lagi, ya monggo. Itu tadi versi saya yang pulang kampung atau traveling-nya biasa ke luar kota dan kendaraan yang digunakan adalah pesawat. Sesuai Prinsip MPASI on the go versi Nyonya: Jaga berat bawaan.

setrong

Umur 8 bulan

Umur ini adalah masa paling ekstrim, karena saya sering bolak balik RS nganter Mbah Uti dan juga suami yang opname. Karena ga ada pengasuh, terpaksa Gayatri sering saya bawa ke RS atau ke kantor. Jujur kadang kasian juga sama anak. Tapi bersyukurnya, kami diberi kesehatan dan kekuatan. Setiap pergi-pergi sama juga saya bawa bekal makanan dari rumah.

Pernah, suatu saat saya tidak ekspektasi kalau observasinya Mbah Uti akan lama, dan nggak bawa makanan bayi. Saya melipir ke kantin untuk minta dibuatkan puree alpukat, tanpa gula, es dan susu. Syukurlah kantinnya mau membuatkan. Dengan berdoa, semoga alat makannnya bersih, puree alpukat jadi pengganjal makannya bocah.

Pernah juga saya pesan nasi tim ayam di Kantin Eka Hospital. Memang ini ga ideal untuk dilakukan, walaupun kantinnya bonafid dan bersih, namun bagaimanapun kita tidak bisa menjamin apa yang terkandung di makanannya. Termasuk juga kandungan garamnya. But, kalau sudah darurat, saya pilih yang terbaik yang bisa didapatkan dulu.

Umur 9 bulan – 10 bulan

Umur segini saya sudah mulai merasa mudah, karena Gayatri uda bisa makan makanan keluarga yang dimodifikasi. Saya menyiapkan makanannya dari makanan saya, hehehe. Cuma konsekuensinya, saya harus memilih makanan yang mungkin untuk saya modif jadi makanan bayi.

Pas di usia ini yang laing berkesan buat saya adalah traveling ke Yogyakarta. MPASI saat traveling-nya Gayatri saya bagi menjadi 2 sistem: sarapan di hotel dan selain sarapan makannya di luar.

sheraton

1 . Sarapan di hotel

Kurang lebih 4 hari saya menginap di Sheraton Mustika Hotel, dan so far seneng banget dengan menu-menu yang tersedia di sana karena bisa di modif jadi makanan bayi. Tiap hari berbeda si, tapi yang pasti di sana ada salad bar, omelet dan juga juicer yang ready buat digunakan secara custom. Beberapa paduan menu yang berhasil saya coba kulik:

1) Tofu, nasi, brokoli rebus, potongan ayam rebus dari stall soto,

2) Omelet, kentang, tomat panggang, tahu,

3) Kentang, omelet, wortel rebus, kacang merah rebus,

4) Kentang, buncis, ikan goreng (emacam dori/ gurame tepung dikuliti tepungnya).

Apalagi yaaa…. Ada yang uda kelupaan juga, hehehe…. Prinsip empat bintang sebisa mungkin saya pegang. Karbonya bisa dicari aja keliling resto, bisa diganti bubur ayam, lontong, ketupat, etc etc etc….

2 . Makan di luar

Menu resto yang paling lazim dan ada di mana-mana yang biasa saya pesan untuk Gayatri adalah ikan bakar (bumbu dipisah). Kulitnya dikupas, daging ikannya dilumat, sama lalapannya timun atau tomat bisa juga jadi finger food ala-ala. Trus apalagi ya, di PHD ada salad bar. Cuma kentangnya uda dicampur mayo. Kalau mau, dicuci bentar pakai air mineral. Salad barnya PHD malah ada kacangmerah, wortel rebus dll-nya. Kalau di Marugame Udon, beli kaldu ikan/ ayamnya terpisah itu murni kaldu loh, nggak pakai garam. Bisa jadi opsi lain buat makan di luar juga.

Yang aman tapi mahal ituuuuu Hanamasa. All you can eat dan “masak sendiri” kan, jadi bisa ngasih daging, sayur, tofu, nasi, dan segala macemnya ke bocah. Tapi nggak mungkin juga ye kita makan tiap hari di Hanamasa. Bisya bisya Bapak syewot bayarnya….

hehehe

Selain itu saya bawa makanan siap saji khusus bayi juga si. Saya bawa Heinz sama Milna biskuit. Gayatri pas umur segini entah kenapa ga doyan makanan instant bubuk. Heinz dan Milna ini jadi kaya last resource banget, daripada nggak makan.

Umur 11 bulan – 12 bulan

Usia ini mah sama seperti makanan di poin sebelumnya, bedanya saya sudah nggak mikir ngalusin lagi. Syukurlah Gayatri naik teksturnya lancar, jadi uda bisa makan nasi. Yang jadi perhatian dan PR bagi saya adalah meminimalisasi asupan garam dan memilih tempat makan dengan kebersihan makanan yang terjamin. Untuk alat makan, saya tetap prefer bawa alat makan sendiri.

Menjelang satu tahunnya Gayatri, kami liburan ke Surabaya dan Bromo, di sini lah MPASI paling koboi yang pernah saya lakukan. Soalnya mostly makanan yang tersedia adalah makanan family yang uda full bumbu. Tapi ya sudahlah uda mau setahun ini ya…. Maafkan ibu ya naaaakkk!

kuat

Hmmm…. jadi banyak juga yak bahasan MPASI saat travelingnya, hehehe…. Semoga sharing kali ini bermanfaat ya Nyaah…. Feel free untuk berbeda pendapat loh. Boleh juga memberi masukan atau berbagi pengalaman selama ini…. Terimakasih sudah mampir, salam sayang selalu….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Merencanakan Liburan Bareng Bocah ala Nyonyamalas

Setahun ini saya sering wara-wiri, ke Surabaya,Yogjakarta, Semarang, Pati, Purworejo  lalu yang terakhir ke Bromo. Sayangnya hampir sebagian besar perjalanan kami itu bukan liburan yang selow…. Sebagian family matter (pemakaman, kondangan, dll) atau kalau engga liburan campur bus-trip kantor atau bareng sama bus-tripnya keluarga. Tetep seneng sih, tapi kemarin Tuan Besar mancing-mancing pengen jalan bertiga aja, murni liburan 100%. Yeah, wishlist 2018: liburaaan!

Kemana? Doain ada rejeki yak, biar kami bisa ke Bali (lagi). Terakhir kami ke Bali, pas belum ada Gayatri. Pure, bondo nekat, impulsif dan tanpa persiapan. Waktu itu kami ke daerah Kuta, yang turis banget. Hihihi, sekarang kami pengen liburan yang rada bener dah kali ini, tetep ke Bali tapi yang lebih syahdu. Tepatnya, ke Nusa Penida.

Kenapa ke Nusa Penida?  Yang pasti karena saya butuh vitamin sea dan juga butuh tempat yang masih bisa saya capai bareng bocah. Masih dendam kemarin ke Bromo ga bisa ke kawahnya gegara harus berangkat pagi dan ga tega bangunin Gayatri demi liat sunrise. Tapi pengen. Huh!

Ni saya pamerin foto Nusa Penida:

merencanakan liburan bareng bocah

Pengen bener dah, saya tu duduk duduk di bawah salah satu payungnya. Doain ya jemaah biar kesampaian ni wishlistnya….

Oiya balik lagi ke laptop… Tentang merencanakan liburan bareng bocah.

Beberapa waktu lalu saya sering banget mengeluarkan (((mengeluarkan kaya album aja))) artikel yang terkait dengan traveling bersama bocah. Ada lima artikel kayanya, mulai dari bawa bayi naik pesawat usia 4 bulan, review 3 maskapai pesawat low cost, review 3 maskapai full service, pengalaman bawa bayi naik pesawat usia 9 bulan sampai review diaper bag yang travelling friendly. Mungkin karena banyak sharing terkait itu, jadi ada beberapa yang nanyain tentang tips merencanakan liburan bareng bocah.

Sejujurnya saya bukan ahli merencanakan liburan ala-ala traveller atau backpacker yak. Kalau mau travelling saya akan nongkrongin tetangga kubikel saya (Kang Irpan) buat minta advices. Hehehe, tapi berhubung uda lumayan sering ya dikit-dikit uda mulai ngerti polanya.

Berikut pola merencanakan liburan ala saya. Nothing special, tapi saya yakin essentials.

1 . Bedakan traveling jaman single dengan jaman uda bawa anak.

Ada beberapa perbedaan antara traveling jaman saya masih sorangan dengan jaman now dimana sudah punya gembolan satu orang anak. Perbedaan yang paling terasa adalah di persiapan akomodasi. Yang dulu bisa nyantai go show, sekarang nggak mungkin go show lagi. Nggak mungkin tega membayangkan kemungkinan terburuk: menggelandang di stasiun atau bandara nunggu moda transportasi dari satu titik ke titik tujuan lain sambil gendong bayi.

Oke mungkin orang lain tega, tapi saya kagak!

hiks

Untuk itu yang pasti saya lakukan adalah Beli Tiket Online dan juga memesan Hotel online (kalau nggak menginap di rumah Saudara).

Saya tadi iseng cek email suami, tenyata pemesanan tiket pesawat kami di traveloka ada hampir dua lusin. Kalau pemesanan hotelnya baru setengah lusin. So far, kalau ditanya biasa pesen tiket dimana, saya akan jawab traveloka. Ada yang sama?

Keuntungannya kita memesan hotel terlebih dahulu adalah kita bisa memilih hotel yang sesuai dengan kebutuhan bocah. Misal: saya pernah memesan satu kamar apartemen di Surabaya saat Gayatri baru-barunya MPASI. Kami memilih unit tersebut karena kami butuh ada kitchenette, lagipula murah. Kalau nggak salah waktu itu dapat Apartemen Puncak Kertajaya. Pas Gayatri uda mulai bisa makan MPASI yang diadaptasi dari makanan orang dewasa, saya sudah lebih fleksibel memilih penginapan.

2 . Hemat tanpa mengorbankan kenyamanan.

Kalau pas bussiness trip sih enak ya, karena penginapan dibayarin kantor. Dan biasanya pun ada corporate rate yang relatif lebih murah daripada rate yang dipajang di resepsionis hotel. Percaya nggak, saya pernah dapat Sheraton Mustika Yogyakarta di harga nett 700k???

Kalau nggak sedang pakai corporate rate emang harus lebih tricky sih. Biar dapat harga murah meriah tanpa harus merogoh kocek terlalu dalem. Kalau advicesnya Kang Irpan si, mesen tiket pesawat + hotelnya milih yang paketan dari Traveloka. Pakai promo-promonya, kalau punya poin gunakan. Trus kalau ada promo kartu kredit, dll juga jangan lupa bandingin, pakai promo yang paling menguntungkan. Hihihi….

Masa dong, dia cerita pernah merencanakan liburan ke Bali (Legian) 4 hari, tiket (dari Bandung) ama hotel all in untuk 2 orang dewasa + anak, yang tadinya 5 juta jadi 3,2 juta. Hemat 1,8 juta karena memanfaatkan fitur paketan dari Traveloka tersebut. Okelah, 3,2 juta utnuk empat hari, mungkin buat beberapa orang masih lumayan yak…. Temen-temen yang backpackeran mungkin bisa bilang bisa nyari akomodasi yang lebih miring lagi. But, buat saya dan buat mas Irfan tadi, backpakeran dengan bawa bayi is a NO! Hehehe…. Dan saya nggak bakal nolak bisa hemat 1,8 juta buat akomodasi perjalanan.

Iseng-aja aku bikin studi kasus buat wishlist kami di Nusa Penida tadi yak pake paket pesawat hotel traveloka:

paketan hotel pesawat traveloka

Jadi pesan paket pesawat+hotel secara bersamaan lebih hemat dibanding pesan terpisah, infonya sih hematnya bisa sampai 20% tanpa kode promo apapun. Tapi bisa juga lebih hemat lagi karena sering ada promo seperti di bawah ini:

promo traveloka

Dengan beli paketan + promo berarti biayanya sekitar 3.3 juta yak…. Kelebihan lainnya juga karena sistem paketan ini lebih praktis dan saving time, cara pembayarannya pun mudah dan tersedia banyak metode pembayaran. Cucok meong buat orang yang malas cerdas kaya saya!

Bandingin kalau harus beli tiket pesawat sendiri:

tiket pesawatBiaya hotelnya:

biaya hotel

Total Biaya jadi: 4,1 juta. Hehehehe, jadi  yak, untung sekitar 800 rebuuu. Mayan banget tu 800 rebu buat nambahin bayar sewa motor seminggu atau buat nambahin jajaaaaaannnn…..

ngiler

3 . Persiapkan dan perhitungkan barang bawaan.

Selain dua hal di atas, hal lain yang paling krusial dalam travelling bersama bayi adalah masalah barang bawaan. Rules mempersiapkan barang bawaan bagi saya:

  • Barang yang bisa dibeli di lokasi sebaiknya beli di lokasi, ini berlaku terutama untuk barang-barang yang sekali pakai seperti: DIAPERS BAYIIIIIII. Uda gede banget kan kalau bela-belain bawa dari rumah. Menuh-menuhin bagasi, bikin repot. Tapi jangan lupa untuk memastikan kalau di dekat lokasi liburan ada minimarket itu tuh, yang selalu tetanggaan. Biasanya si barang meraka kumplit. Hehehehe….
  • Maksimal bawa 2 tas punggung (travel bag) + 1 diaper bag atau 1 tas punggung + 1 koper + 1 diaper bag. Itu maksimal banget yak. Paling sering kami bawa satu travel bag + 1 diaper bag. Kenapa itu maksimal banget, karena kami juga masih harus ngawasin satu bocah yang beratnya hampir 11 kilo dan uda lincah jalan ke sana kemari…. Atau kadang ngesot ke sana kemari…. Hahaha….
  • Kalau bisa sebagian barang dipaketkan, paketkan saja dulu. Ini terutama kalau tujuan liburannya ke rumah Saudara yak. Dan jangan lupa pastikan itu barang sampai tepat waktu. Ga lucu juga kita uda mau pulang, ehhhhh paketannya baru nyampe. Bisa nggak ganti sempak seminggu kan.

Itu aja si, kalau tips memilih maskapai yang tepat dan tips di perjalanannya bisa di lihat di related post di bawah ini yak….. Sekali lagi, jangan lupa doain kami bisa nyampai ke Nusa Penida yaaak! Atau ada yang mau traktir traktir kami liburan? Hehehehe….

Saya pamerin ni satu foto lagi yak, biar mupeng:

nusa penida

Buat yang mau liburan bareng bocah, happy holiday! Jangan lupa untuk pesan tiket + hotel yang paketan biar lebih hemat dan makin happy saat holiday! Salam sayang selalu….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share