Review Aplikasi Primaku IDAI

Awalnya dulu saya menggunakan form denver dan juga tabel berat badan dan tinggi badan yang ada di buku catatan kesehatan dari kliniknya Gayatri untuk memantau tumbuh kembangnya. Sempat diinfo tentang aplikasi Primaku IDAI oleh Siwi, teman sekaligus tetangga saya yang punya anak seumuran Gayatri juga. Tapi tidak saya download karena keterbatasan space di handphone. Hehehe, maklum handphone jadul.

Related Post: Pengalaman Menggunakan Form Denver

Berhubung awal tahun ini dapat rejeki bisa ganti handphone, salah satu aplikasi yang pertama kali saya download adalah aplikasi Primaku IDAI ini, setelah diingatkan lagi sama Mbak Tia di stories IG.

Daaaaaaannnn, saya happy banget dengan aplikasi ini. Beneran berfaedah. Aku bahagia.

Namun sebelum membahas tentang aplikasi ini, izinkan saya untuk membahas satu tema yang menggelisahkan hati. Hal ini jugalah yang mendorong saya untuk menggunakan dan juga mereview aplikasi ini: Early Intervention.

Early Intervention

Sebenarnya istilah ini saya pinjam dari CDC (Center for Disease Control and Prevention), merujuk kepada satu program di Amerika Serikat yang bertujuan untuk mendeteksi dan menangani keterlambatan atau gangguan perkembangan anak sejak dini. Program ini dikhususkan untuk anak-anak usia 0-3 tahun.

Saya tidak akan membahas program ini lebih lanjut. Namun, slogan mereka, “Learn the Signs. Act Early”, inilah yang ingin saya bahas sebelum membahas aplikasi IDAI lebih lanjut.

Anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan normal sesuai dengan usianya, atau bahkan optimal sesuai dengan potensinya, adalah harapan setiap orang tua. Namun sebagai orang awam terhadap ilmu medis (saya sarjana ekonomi, btw), ada kalanya timbul rasa ragu dalam memastikannya.

Hal inilah yang membuat saya, sepertinya kok ribet banget ya. Pakai form ini itu untuk mengecek tumbuh kembang Gayatri.

setrong

Yang pertama, karena saya tidak memiliki latar belakang pendidikannya – nggak punya ilmunya, dan yang kedua sebagai orang tua kadang kita terlalu “narsis” dengan anak sendiri. Hal-hal sedemikianlah yang membuat kita kadang luput atau abai terhadap fakta yang ada.

Ya, sebagaimana kita ketahui, orang awam memang TIDAK BOLEH mendiagnosis delay atau apapun itu namanya. Namun sebagai orang tua, orang tua WAJIB memahami tanda-tanda apakah yang patut dipantau. Sehingga ketika tanda itu muncul, saya bisa berkonsultasi dengan dokter sedini mungkin. Serta juga memberikan informasi yang akurat bagi dokter dalam observasinya.

Menurut IDAI, seribu hari pertama kehidupan anak (mulai kehamilan sampai usia dua tahun) adalah masa yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Keterlambatan atau kekurangan pada masa ini yang tidak segera ditindaklanjuti dapat berdampak pada kesehatan dan kemampuan anak dalam jangka panjang.

So, “Learn the Signs. Act Early” please! Demi anak-anak kita juga.

Apa Saja yang Perlu Dipantau?

1 . Pertumbuhan.

Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran tubuh bayi atau anak. Gampangannya si, anak tambah tinggi, tambah berat, tambah besar (lingkar kepala).

Nah, setelah ditimbang dan diukur tinggi dan lingkar kepalanya, hasil pengukuran tersebut diplot ke kurva pertumbuhan. Cek deh di KMS (Kartu Menuju Sehat) yang dikasih dari RS atau fasilitas kesehatan lain saat melahirkan, di situ ada kurva pertumbuhan.

KMS

Saya mengunduh gambar di atas dari web Kemenkes ini. Mohon konfirmasi ke DSA/ Posyandu terdekat untuk cek keterbaruannya terlebih dahulu saat akan menggunakannya.

Jadi kalau ada yang bilang, “Ih, anaknya kurus. Nggak dikasih makan ya?” Yang pertama sebaiknya dilakukan, janganlah nangis gerung-gerung sambil baper di pojokan dapur. Tapi ceklah faktanya di KMS. Kalau ijo royo-royo, katakan dengan tegar, “Iya, Jeng…. Anak saya memang langsing, kayak saya, nggak kayak situ!” Jangan lupa kibasin dasternya biar hot.

Tapi kalau memang sudah kuning atau malah merah, yuk mari kita menuju bidan, posyandu, dokter anak atau RS terdekat untuk mendapat saran medis yang lebih kompeten dibandingkan komentar pedas netizen. Jangan denial. Dan jangan lupa ucapkan terimakasih ya, sama yang pedas-pedas itu.

2. Perkembangan.

Perkembangan adalah pertambahan kemampuan bayi atau anak.

Contohnya adalah ketika Mertua menelepon dan bertanya, “Ehhhhh, cucuku uda bisa jalan beluuum? Uda bisa ngomong belum? Uda bisa meroda belum? Uda bisa lompat harimau belum? Uda bisa nyetir belum?” Wkwkwkw, no offense ya Papi dan Mem, becanda lo becandaaaa…. Nah, pokoknya yang seperti itulah kira-kira, hehehe….

PhotoGrid_1549927071778-1024x768

Kemenkes RI mengeluarkan KPSP (kuesioner pra skrining perkembangan). Kuesioner ini berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak, sesuai kelompok usianya.

Misalnya untuk usia anak 2 tahun, pertanyaan-pertanyaannya untuk mendeteksi keterlambatan usia 24 bulan adalah, “Apakah anak dapat meletakkan satu kubus di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu?” dan seterusnya.

IDEALnya skrining ini dilakukan oleh tenaga medis ya…. Jadi mereka mengamati perilaku anak. Bukan ditanyain ke anak lo ya pertanyaan di atas. Sehari-hari dilakukan di rumah si boleh, tapi hasilnya tidak menggantikan konsultasi dengan dokter ya.

Cukup sebatas, kalau ditanya Mertua kaya tadi, kita bisa jawab, “Bu…. Lompat harimau itu belum ada di fase perkembangan anak dua tahun…. Mohon ditunggu kira-kira tujuh tahun lagi lah ya….”

Siapa yang Perlu Dipantau, Dimana dan Kapan?

Semua anak tanpa kecuali.

1 . Secara umum, anak atau bayi bisa diperiksa di Puskesmas, atau Posyandu.

Saya sendiri karena (dulu) bekerja keras bagai quda dari jam 8 – 5, tidak bisa datang ke kedua fasilitas tersebut, datangnya ke Klinik Ibu dan Anak pas malam hari.

2 . Untuk bayi/ anak dengan risiko tinggi bisa diperiksakan ke dokter anak di rumah sakit.

Contoh bayi risiko tinggi  menurut IDAI adalah yaitu bayi atau anak yang kelahirannya prematur, memiliki berat saat lahir rendah, bayi baru lahir yang  mengalami infeksi, penurunan kadar gula darah, memiliki sindroma sesak napas, atau pernah mengalami kejang.

Pemantauan tumbuh kembang untuk bayi dianjurkan tiap bulan (dari usia 0 bulan ya, kayak isi bensin, dari enol), biasanya dulu saya lakukan sambil imunisasi. Kemudian anak usia satu sampai dua tahun dianjurkan tiap 3 bulan, dan anak usia dua tahun sampai enam tahun dianjurkan tiap 6 bulan.

Tapi kan kecemasan atas tumbuh kembang anak bisa datang kapan saja.

Apalagi kalau punya tetangga yang julid. #eh

Thats whyyyyy Nyaaah! Punyailah tool pemantauan tumbuh kembang. Bisa buku KMS/ KIA tadi, KPSP atau yang praktis dan menyakup keduanya: Aplikasi Primaku IDAI.

PhotoGrid_1550097488479-1024x768

Review Aplikasi Primaku IDAI

Aplikasi ini adalah aplikasi berbasis smartphone yang resmi dirilis oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Thta’s why namanya Prima, singkatan dari Program IDAI untuk Membangun Anak Indonesia (PRIMA).

Di dalam satu aplikasi ini, saya mendapatkan fitur-fitur yang penting dan sering saya gunakan untuk memantau tumbuh kembang anak saya:

1. Ada form untuk memantau PERTUMBUHAN anak, yaitu adanya kurva pertumbuhan.

Orang tua bisa mengisi berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala anak, kemudian nanti akan diolah dalam bentuk kurva secara otomatis. Selain dalam bentuk kurva/ grafik, olahan data juga akan muncul keterangan apa status gizi anak, apakah baik atau tidak, lalu apakah sudah sesuai antara tinggi dengan berat badannya. Gitu-gitu.

PhotoGrid_1550097346547-1024x768

Enaknya lagi ada rekomendasi nutrisinya. Sayangnya, saya melihat untuk rekomendasi nutrisi di tab pertumbuhan pada aplikasi ini masih umum banget ya. Saya berharapnya ada rekomendasi menu, kemudian ada hitung-hitungan kalori atau berapa gram sayur/ buah/ lauk yang diperlukan.

“Puyeng atulah bikin algoritma aplikasinya….”, kata si mas dan mbak developernya. :P Hihihi, emang susah si ya, harus temu muka langsung dengan ahli gizi kalau begini yak.

2. Ada kuesioner untuk memantau PERKEMBANGAN anak.

Yaitu dengan form Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Walaupun form yang digunakan berbeda dengan yang sebelumnya saya gunakan (denver), tapi saya merasa manfaatnya sama, yaitu saya bisa tahu apakah anak saya berkembang sesuai dengan usianya.

Dari 9 atau 10 pertanyaan nanti akan muncul hasil apakah perkembangan anak sesuai, meragukan atau menyimpang.

Nah, berbeda dengan yang di tab pertumbuhan, rekomendasi yang ada di tab perkembangan ini detail dan sangat praktis sekali. Jadi ada dua rekomendasi yang diberikan, yang pertama adalah rekomendasi cara stimulasi per tahap pertumbuhan dan yang kedua adalah rekomendasi atau saran untuk ke dokter anak lebih lanjut.

Kurang lebih seperti ini penampakannya:

PhotoGrid_1550097294719-1024x768

Rekomendasi pertama (seperti foto di atas yang paling kanan) akan muncul otomatis pada setiap perubahan usia. Sementara rekomendasi kedua akan muncul setelah kita mengisi KPSP, pada pilihan deteksi keterlambatan. Apabila terdapat kondisi yang meragukan atau menyimpang, maka aplikasi akan memberi rekomendasi untuk ke dokter anak.

Mantul yak!

Tapi teteuuuup, seperti saya bilang tadi, skrining di rumah tidak menjadikan skrining oleh tenaga medis tidak diperlukan lagi ya. Kalau pas jadwalnya Posyandu, ya sok atulah ke Posyandu, biar dapat juga pendapat yang valid dari yang lebih berkompeten.

Ada dua hal lagi ni yang saya sueneng banget super banget banget banget…. Aplikasi ini juga punya dua hal ini:

PhotoGrid_1550097395439-1024x768

3 . Jadwal Imunisasi (Jadwal IDAI dan PPI)

Kalau jaman saya masih di Bintaro, saya tu manja bener sama dokter anak langganan. Jadi beneran tiap ke sana, beliau yang ingetin harus balik lagi ke klinik tanggal berapa dan imunisasi apa. Giliran pindah rumah, dan belum nemu klinik dekat rumah, ya mau ga mau kudu inget-inget sendiri jadwal imunisasi.

Makanya happy banget pas ngeh di Primaku ada tab Jadwal Imunisasi. Mana ada dua sub tab lagi, jadwal imunisasi lengkapnya IDAI (yang banyak banget antara imunisasi wajib dan imunisasi tambahan. Hmmmm…. istilah wajib dan tambahan ini sepertinya kurang pas ya, tapi sepertinya istilah ini kan ya yang paling common sense.

Nah, kalau jadwal PPI ini adalah jadwal imunisasi yang program pemerintah, alias yang disubsidi, atau yang sering ibu-ibu komplek sebut dengan imunisasi wajib.

Kelebihannya, di Primaku jadwal imunisasinya sudah disesuaikan sama tanggal lahir anak. Jadi kita ndak perlu ngitung lagi manual, seperti kalau kita cek jadwal pakai tabel. Life saver banget buat nyonya (yang) malas kaya akoooh.

Room for improvement: Bakal lebih enak banget buat user si sebenernya kalau aplikasi ini diintegrasiin sama google calendar ya. Jadi pengguna android bisa ada pop up nya gitu, reminder kalau besok kudu imunisasi. Ting tung ting tung!

Ahhh, malas kali kau Nyahhhhh! Uda gratis pun banyak mintanya!

Wkwkwkwk….Yah, namanya juga usaha Buuuuk! Kalau dikabulkan syukur, kalau engga, aplikasi yang sekarang juga uda cucok meong kok. Sampai saya sukarela bikinin artikel lebih dari seribu kata gini kan.

4 . Artikel kesehatan (>200 artikel)

Fitur terakhir ini jarang saya manfaatkan sebenarnya, tapi pernah. Dan bukan berarti nggak bermanfaat. Hanya memang preferensi saya untuk baca artikel dari laptop aja si. Biar bisa buka banyak tab, sambil bikin pointer dan mata minus saya juga nggak jadi jereng.

Buat yang commuting PP rumah dan kantor, bisa banget ni jadi bahan bacaan daripada follow akun lambe lambe. Julid itu berat, Sistur, kamu nggak akan kuat. Biar aku aja.

Okelah kalau begitu.

hehehe

Berhubung sudah nembus 1500an kata, dan sebelum makin banyak mertua, tetangga dan juga admin lambe yang membenci saya, sebaiknya saya sudahi sampai di sini.

Buat yang mau aplikasi ini download aja! Di Appstore dan Playstore ada.

Trus kalau bingung, bisa cek tutorial dan FAQ di website www.primaku.com.

Semoga sharing kali ini bermanfaat yaaa! Kalau ada teman-teman dokter/ tenaga medis yang mau menambahi atau mengoreksi, atau ada temen ibu-ibu mau curhat atau sharing juga tentang aplikasi IDAI atau apapun, boleh kasi komentar yaaa!

Yang pasti jangan konsultasi, konsultasi mah di pusat kesehatan yaaak! Salam sayang!

.

.

.

.

.

.

Referensi:

  1. https://www.primaku.com/
  2. https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/parents/states.html
  3. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pemantauan-pertumbuhan-anak
  4. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-memantau-pertumbuhan-dan-perkembangan-anak-bagian-1
  5. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-memantau-pertumbuhan-dan-perkembangan-anak-bagian-2
  6. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pentingnya-pemantauan-tumbuh-kembang-1000-hari-pertama-kehidupan-anak
Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

So Good Spicy Chicken Strip, Enak dan Pedas!

Kalau jalan-jalan ke mall, sebelum kena So Good Spicy Chicken Strip, kami sering banget menclok ke salah satu kedai snack chicken strips. Tahu kan ya, yang kekinian itu loooo! Baik yang impor maupun yang lokal, sepertinya memang rame banget ya…. Antriannya panjang ciiin.

Nah kalau di rumah, trus kepengen itu, kadang kami bikin sendiri. Tapi heran selalu garing keset dan seret itu. Entah gimana si cara masaknya yang bener? Ada yang punya resep nggak? #eh

Kalau nggak bikin sendiri, suami sering banget order online. Yang bikin pusing adalaaaaaahhhh…. Seringnya kami ngidam malem-malem banget. Pas lagi lemburan ngerjain kerjaan gitu. Dingin-dingin, trus laper, pengen yang pedes-pedes enak. Hmmmm….

Dulu si berandai-andai, seandainya Doraemon itu ada….

Hihihi, ada yang senasib nggak?

2019-02-05 11.47.49 1-1024x768

Masa kelam itu sudah saya lalui si Nyah. Sekarang berhubung uda tahu kalau ada So Good Spicy Chicken Strip, saya jadi nggak kawatir merana karena pengen chicken strip yang jauh di sono. Yang ini lebih enak pulak.

Lebih enak karena praktis dan cepet bikinnya. Lebih enak di kantong dibanding order ayam spicy di resto fried chicken. Dan yang pastinya juga lebih enak di lidah. Spicy, juicy dan crispy gitu.

Saya review sedikit ya….

2019-02-05 11.47.47 1-1024x768

Nama Produk: So Good Spicy Chicken Strip

Harga: 38 ribu-an rupiah.

Where to buy: Giant.

Ukuran: 250 gram, terbagi menjadi kurang lebih 6 potongan daging ayam.

Deskripsi produk: Ayam potong berbumbu, frozen food.

Keterangan penting lain: Halal.

PhotoGrid_1549342422217-1024x768

Review rasa:

  • Spicy

Kalau ngomongin spicy, level kepedesannya masih bisa saya tolerir. Walaupun saya bukan penggemar makanan super pedas, tapi makanan pedas saya suka. Terutama yang pedesnya enak gini. Nggak nyegrak dan nggak menyakitkan. Nggak juga bikin mules. Pokoknya pedesnya enak.

Duh, sebenernya enak kan subyektif ya. Saya coba deskripsikan deh ya….

Jadi enaknya tu gurih gitu dagingnya. Bumbunya meresap sampai dalam. Kemudian, pedesnya juga berasa sampai ke dagingnya. Jadi nggak hanya di kulit krispinya aja. Kebayang kan nggak?

  • Crispy

Crispynya juga enak. Bumbu pedasnya menurut saya nggak terasa nyegrak. Sampai remah-remahnya saya serok serok dari penggorengan hihihi. Nggak mau rugi.

Paling enak dimakan pas panas-panas.

  • Juicy

Trus yang paling utama dan terutama, seperti yang saya bilang di mula. Spicy chicken strip yang enak itu yang nggak keset dan nggak seret. Jadi juicy gitu. Naaaah, yang So Good punya ini juicy banget dagingnya.

2019-02-05 11.47.50 1-1024x768

Padahal 100% real meat lo. Jadi potongan daging ayam yang dibalut tepung renyah gitu, BUKAN daging giling yang dicampur dengan tepung dan dicetak.

Seems too good to be true ya buat frozen food. Tapi aslik, saya juga amazed.

Buat yang mau lihat gimana saya kepedesan tapi sekaligus keenakan makan Chicken Strip ini bisa meluncur ke video berikut yaaa…..

 


View this post on Instagram

A post shared by emanuella christianti (@nyonyamalas) on

Kelihatan banget kan beneran nggak kontrol mukanya saya makan So Good Spicy Chicken Strip. Lha gimana mau komuk coba, lha wong ini beneran pedes dan enak. Jadi kalau mau makan ini harap ingat, “Jangan di depan calon mertua ya!” Di depan bos juga jangan deh. Soalnya dijamin gagal jaim.

Cara Menikmati:

1. Dicemilin aja uda enak.

2. Dimakan pakai nasi juga enakkkkkkk!

3. Jadi isi kebab.

2019-02-05 11.47.48 1-1024x768

Saya kemarin kepikiran banget ni buat bikin kebab pakai isian So Good Spicy Chicken Strip ini. Jadi kulit tortilla, pakai mentimun, wortel rebus dan juga tomat, pakai dressing mayonaise yang memang ada di kulkas. Pokoknya kebayang apa aja bisa jadi isian pendamping. Nah, daging utamanya pakai Chicken Strip ini.

Uda bela-belain loh, nyisihin dua potong chicken stripnya pas makan malam. Niatnya karena malam mau lembur gitu, buat cemilan. Eeeehhh, pas saya kelar ngelonin Gayatri, chicken stripnya uda lenyap. Dimakan suami.

Yahhh…. kecewa si sebenernya. Tapi mau gimana lagi. Saya nggak bilang kalau mau saya makan. Dan mana mungkin juga suami nggak tergoda makan! Lha wong enak!

Hahaha….

Yasudah deh, kapan-kapan saya bikin nanti saya share lagi di sini ya! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Tidak Takut Lebam saat Menjaga Anak Bereksplorasi #AksiFlashBunda

Kalau ditanya apa kemampuan yang tiba-tiba saya muncul saat menjadi ibu, maka saya akan menjawab, kemampuan seperti The Flash. Hehehe…. Itu lo salah satu speedster di kumpulan superheronya DC Comics, yang seperti namanya, bisa bergerak dengan kecepatan cahaya. Saya punya kekuatan ini hanya jika ada bahaya menyangkut keselamatan anak. Jadi berasa punya kekuatan #AksiFlashBunda getooo.

kuat

Gambar atas: Saya, The Flash KW Super. Gambar bawah: The Flash Ori. Hehehe….

via GIPHY

Kebayang kan, punya anak umur dua tahun yang sudah bisa melesat lincah dan energik kaya torpedo. Dipadu dengan keingintahuan yang super besar, namun dikombinasikan dengan pemahaman akan bahaya yang belum cukup matang. Hmmmm…. Persis seperti torpedo. Tapi torpedo yang arahnya random. Serem kan.

Mau sering melarang kok ya, kawatir nanti dia tidak optimal dalam bereksplorasi. Mau dibebaskan kok ya, ngeri ngeri sedap sama tubuh kecilnya. Jadilah saya, ibunya, yang memang harus waspada dan juga tangkas setiap saat untuk menjaga dan melindungi Gayatri. Sehingga dia tetap bebas bereksplorasi namun juga bebas dari luka ataupun benturan yang mungkin dia dapatkan saat bermain.

Gayatri naik kursi, oleng. Untung ada ibu, yang nangkap di lantai….

Gayatri naik sepeda di jalan turunan. Untung ada ibu yang siaga megangin sebelum jatuh.

Gayatri main perosotan. Gayatri main ayunan. Gayatri main apa aja. Ada ibu yang siap menjaga. Ketabrak ayunan, keseruduk sepeda, ngesot di bawah perosotan. Aku rapopo.

Namun ya, no pain no gain ya Buk Ibukkk…. Cuma bedanya ini yang ngerasain pain-nya itu ibunya, alih-alih anak. Memar dan lebam ada aja Buuuk yang nyangkut di kaki maupun anggota tubuh yang lain.

Sayang seribu sayang, ada perbedaan signifikan antara saya sebagai manusia biasa sama The Flash tadi. Kalau The Flash kan punya aura yang melindunginya dari gesekan selama beraksi. Nah, saya kagak. The Flash juga punya kekuatan untuk menyembuhkan diri yang lebih cepat. Nah kalau saya yaaa…. Gitu deh…. Lebam sekali bisa dua sampai tiga minggu baru sembuh kalau cukup besar luka dalamnya.

Kalau pas lebamnya di betis atau paha si tidak terlalu mengganggu ya. Tapi kalau lebamnya tu pas di area gerak, seperti lutut atau siku itu loooooooh! Rasanya mak nyuuuut pas gerak…. Pegel linu nyeri. Ibu-ibu pasti tahu lah rasanya. Padahal masih harus tetap beraksi kan.

hiks

Salah Kaprah saat Mengatasi Lebam

Oleh karena lebam sudah jadi seperti teman seperjalanan yang tidak menyenangkan, maka saya pun mencari ilmu bagaimana cara untuk mengusirnya dengan cepat. Tentunya biar bisa ber-#AksiFlashBunda lagi. Nah, pas pelatihan P3K di kantor, sang trainer menekankan beberapa salah kaprah yang biasa dilakukan masyarakat saat mencoba mengatasi lebam. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Melakukan pijatan di lokasi terjadinya memar. Jika memang ingin memberikan rasa nyaman, bisa dengan kompres es atau dengan menepuk-nepuk di bagian luar memar.
  • Melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan fase memar (penjelasan selanjutnya dibahas di bagian bawah).
  • Mengoles balsam atau krim panas lainnya yang memperparah pembengkakan.

Mengoles gel/ krim obat lebam (bukan krim panas yaaa!) berdasarkan pengalaman saya memang efektif membantu penyembuhan lebam, namun aplikasinya pada tahapan yang sesuai dan tentunya juga sesuai cara penggunaan pada produk. Tentang pengalaman saya menggunakan Thromboflash, gel obat lebam, ini akan saya bahas lebih lanjut di artikel bagian bawah ya.

IMG_20190118_100430-1024x768

Nah, jadi ketiga kesalahan di atas mohon diingat-ingat ya, jangan sampai alih-alih mengusir eh, lebamnya malah betah dan jadi makin parah.

Bersahabat dengan Lebam

Naaah, supaya kita (((kitaaaaa, saya aja kali ya, hehehe) nggak salah kaprah lagi, saya belajar dulu dong tentang apa dan bagaimana terjadinya memar dan lebam.

Definisi Lebam

Secara sederhana memar dan lebam dapat diartikan sebagai cedera pada jaringan tubuh yang menyebabkan aliran darah mengumpul pada suatu jaringan terdekat, namun tidak disertai dengan luka terbuka. Atau bisa juga dibilang kalau memar ini adalah pecahnya pembuluh darah kapiler di bawah kulit karena benturan dengan benda tumpul.

Tahapan Perubahan Warna Lebam

Saat darah mengumpul tersebutlah maka timbul rasa nyeri dan terjadi perubahan warna kulit. Nah, luka memar atau lebam sendiri ada beberapa fasenya ya, Teman-teman…. Kebetulan pas saya membuat artikel ini ada beberapa lebam di tubuh saya, jadi bisa saya dokumentasikan. Sayangnya yang fase merah dan kehijauan tidak ada. Namun semoga gambaran di atas cukup membantu yaaa….

PhotoGrid_1548457399597-1024x768

Tahapan perubahan warna lebam sendiri sebenarnya ada empat tahap sebagai berikut:

1. Merah

Warna ini biasanya muncul saat baru terjadi benturan. Saat diamati, biasanya akan terlihat bahwa lokasi yang terbentur akan sedikit bengkak dan nyeri jika disentuh.

2. Biru Keunguan

Di area yang bengkak di atas, setelah dua hari akan membiru atau keunguan. Hal ini menandakan darah yang mengumpul di sekitar jaringan tersebut kekurangan oksigen. Sehingga darah merahnya berubah warna menjadi biru atau keunguan seperti di foto paling kiri di gambar di atas.

3. Kehijauan

Setelah beberapa hari, kurang lebih seminggu (tergantung luka), lebam akan berangsur menjadi kehijauan. Hal itu berarti sel darah merah mulai terurai dan proses penyembuhan sedang berlangsung. Yeaay!

4. Kuning Kecokelatan

Dari warna kehijauan di atas, lebam akan berubah warna lagi ke arah yang lebih cerah yaitu kuning atau cokelat. Setelah warna ini, lebam tidak akan berubah warna lagi, melainkan berangsur-angsur menghilang seperti di foto tengah dan foto paling kanan gambar di atas.

Pertolongan Pertama yang Bisa Diterapkan saat Lebam

Sesuai yang saya pelajari saat workshop P3K di kantor, saat terjadi cedera yang menimbulkan memar atau lebam, maka yang PERTAMA kali dilakukan adalah prosedur R-I-C-E. Prosedur inilah yang seharusnya / harap segera dilakukan saat fase memar pada warna MERAH. Namanya juga pertolongan pertama.

Jangan malah saat fase ini kita oles-oles balsem atau krim panas yang lainnya, yang bisa makin memicu pembengkakan di jaringan memar tadi…. Hehehe….

setrong

R-I-C-E sendiri sebenarnya adalah singkatan dari Rest – Ice – Compression – Elevation.

1 . Rest

Saat terjadi cedera, maka setidaknya istirahatkan bagian tubuh yang mengalami cedera. Lamanya istirahat bervariasi sesuai rasa nyeri yang dialami ya…. Tujuannya adalah untuk mencegah cedera berlanjut dan juga untuk mempercepat proses penyembuhan.

2. Ice

Kompres dingin dilakukan pada 10 menit pertama segera setelah benturan terjadi, lalu diulang pada 2-4 jam berikutnya dalam satu hari. Dilakukan menggunakan es batu (dalam plastik tentunya) yang telah dilapisi oleh handuk. Tujuan dari pengkompresan dingin ini adalah untuk mengatasi bengkak, mengurangi nyeri dan juga mengurangi ketegangan otot.

3. Compression

Memberikan tekanan pada bagian memar. Saya klarifikasi ya, tekanan dalam hal ini BUKAN berarti pijatan. Melainkan bisa berupa tekanan tangan saat melakukan kompres dingin tadi, atau dengan elastic verban yang melilit kompres dingin. Tujuan langkah ini adalah untuk mengatasi pembengkakan.

4. Elevation

Meninggikan bagian yang cedera pada posisi yang lebih tinggi dari jantung. Hal ini bermanfaat agar mempermudah cairan (darah, dll) yang tadinya mengumpul pada jaringan yang terbentur agar kembali ke jantung. Sehingga tidak terjadi akumulasi yang menimbulkan pembengkakan makin parah.

Pengalaman Menggunakan Thromboflash, Sahabat Keluarga

Nah, sayangnya, saya seringkali setelah benturan terjadi belum ngeh tuh dengan rasa sakitnya. Kadang masih sibuk main dengan anak, atau juggling with another pekerjaan rumah. Tiba-tiba besoknya pas bangun tidur, kok terasa nyeri dan memarnya sudah biru keunguan. Jadi tidak sempat melakukan pertolongan pertama sebagaimana di atas.

Seperti kejadian beberapa minggu lalu. Saya kurang tahu karena terbentur apa, sepertinya terbentur palang di tempat main Gayatri. Hanya yang pasti, pas saya naik tangga di toko buku kok nyeri banget. Apalagi saat itu ke lantai tiga. Hanya karena pakai celana panjang terus, jadi tidak bisa periksa. Keesokan harinya sudah biru seperti ini:

IMG_20190125_102845-1024x768

Kalau kecil-kecil lebamnya mah biasa diabaikan yak. Hehehe, tapi lebam kali ini cukup besar, pas di lutut lagi, rasanya lumayan nyeri kalau saya pakai jongkok saat bermain dengan Gayatri. Pilihan yang bisa saya lakukan kalau menemukan lebam yang sudah pada fase BIRU KEUNGUAN seperti di atas adalah 1) kompres hangat atau pakai 2) Thromboflash.

Kali ini saya pilih yang nomor 2, karena lebih praktis, yaitu menggunakan Thromboflash, sahabat keluarga yang memang wajib ada di kotak P3K kami.

Sekilas Tentang Produk

PhotoGrid_1548454933256-1024x1364

Thromboflash adalah obat untuk luka dalam/ memar atau lebam yang bersifat anti thrombosis/ anti coagulant. Bahan aktifnya adalah Heparin Sodium 200 IU yang berfungsi untuk melarutkan darah yang mengumpul di bawah permukaan kulit sebagaimana disebut di atas. Selain itu juga berfungsi untuk mengurangi pembengkakan dan melancarkan peredaran darah.

Dalam kemasannya sendiri tampak banyak keterangan seperti Logo Halal MUI, Nomor BPOM, Simbol Obat Lingkaran Biru (obat bebas terbatas), keterangan obat hanya untuk aplikasi bagian luar tubuh, keterangan bahan aktif, petunjuk penyimpanan dll yang menurut saya lengkap. Hal tersebut menggambarkan betapa produk ini concern dan melindungi konsumen.

Cara Menggunakan:

IMG_20190118_100249-1024x768

  1. Oles tipis di permukaan memar/ lebam, 2-3 kali dalam sehari. Bisa juga dengan dioleskan pada sepotong kain kasa lalu ditempelkan pada bagian lebam.
  2. Pergunakan sampai sembuh.
  3. Hentikan pemakaian jika terjadi indikasi alergi.
  4. Tidak boleh digunakan pada luka terbuka.
  5. Kode obat ini adalah bulat biru dengan lingkaran hitam, yang berarti Thromboflash ini obat bebas terbatas. Seperti juga halnya dengan obat flu, dll, penggunaannya untuk balita, kalau saya pribadi akan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Yang saya suka dari Thromboflash:

Yang pasti saya suka karena produk ini efektif mempercepat penyembuhan lebam ya. Yang biasanya saya bisa dua sampai tiga minggu, kemarin itu dalam waktu kurang dari seminggu, lebamnya sudah pulih kembali. Seneng banget saya! Jadi nggak takut lebam lagi!

PhotoGrid_1548457848054-1024x1365

Selain itu beberapa hal lain yang saya suka dari Thromboflash adalah:

1. Bersertifikasi Halal dari MUI sehingga aman dan nyaman.

Thromboflash mengandung Heparin Sodium dari bahan bovine yang bersumber dari mucosa sapi. Oleh karena itu, produk ini sudah mendapat sertifikat halal dari MUI. Bagi teman-teman yang muslim, mungkin hal ini bisa menjadi perhatian khusus ya, ya karena tidak semua Heparin Sodium berasal dari sumber mucosa sapi tersebut, ada juga yang bersumber dari porcine yang berasal dari mucosa babi.

2. Praktis.

Saya memiliki produk ini yang ukuran 10 gram. Tidak makan tempat sehingga bisa disimpan dalam pouch P3K kami yang ukurannya mungil. Selain itu, juga praktis dalam hal waktu. Cocok bagi yang sibuk dan tidak bisa beristrirahat ketika mengalami lebam. Cocok juga bagi yang sering berpergian karena pengaplikasiannya lebih praktis dibandingkan dengan kompres hangat yang membutuhkan waktu dan persiapan peralatan.

3. Tidak lengket.

Bentuk produknya gel, ketika diaplikasikan tidak ada rasa lengket dan cepat meresap, sehingga tetap nyaman walaupun digunakan di balik celana atau pakaian.

Harga: Saya membelinya di onlineshop kurang lebih Rp 40.000,00-an.

Produsen: Fahrenheit (PT Pratapa Nirmala).

Keterangan lebih lanjut pada pamflet dalam produk sebagai berikut:

IMG_20190125_102448-1024x768

Demikian sharing saya tentang bagaimana mengobati memar/ lebam di tubuh Ibu. Jadi tak perlu lagi takut lebam saat melakukan #AksiFlashBunda ya! Tetap semangat dalam menjaga putera puteri kita saat bereksplorasi!

Semoga sharing kali ini bermanfaat. Salam sayang!

PS: Artikel ini diikutsertakan dalam #LombaBlogThromboflash #AksiFlashBunda, namun segala materi yang di sebutkan di atas, kecuali disebutkan lain, merupakan hasil pembelajaran dan pengalaman blogger secara pribadi.

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share