Review Aplikasi Primaku IDAI

Awalnya dulu saya menggunakan form denver dan juga tabel berat badan dan tinggi badan yang ada di buku catatan kesehatan dari kliniknya Gayatri untuk memantau tumbuh kembangnya. Sempat diinfo tentang aplikasi Primaku IDAI oleh Siwi, teman sekaligus tetangga saya yang punya anak seumuran Gayatri juga. Tapi tidak saya download karena keterbatasan space di handphone. Hehehe, maklum handphone jadul.

Related Post: Pengalaman Menggunakan Form Denver

Berhubung awal tahun ini dapat rejeki bisa ganti handphone, salah satu aplikasi yang pertama kali saya download adalah aplikasi Primaku IDAI ini, setelah diingatkan lagi sama Mbak Tia di stories IG.

Daaaaaaannnn, saya happy banget dengan aplikasi ini. Beneran berfaedah. Aku bahagia.

Namun sebelum membahas tentang aplikasi ini, izinkan saya untuk membahas satu tema yang menggelisahkan hati. Hal ini jugalah yang mendorong saya untuk menggunakan dan juga mereview aplikasi ini: Early Intervention.

Early Intervention

Sebenarnya istilah ini saya pinjam dari CDC (Center for Disease Control and Prevention), merujuk kepada satu program di Amerika Serikat yang bertujuan untuk mendeteksi dan menangani keterlambatan atau gangguan perkembangan anak sejak dini. Program ini dikhususkan untuk anak-anak usia 0-3 tahun.

Saya tidak akan membahas program ini lebih lanjut. Namun, slogan mereka, “Learn the Signs. Act Early”, inilah yang ingin saya bahas sebelum membahas aplikasi IDAI lebih lanjut.

Anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan normal sesuai dengan usianya, atau bahkan optimal sesuai dengan potensinya, adalah harapan setiap orang tua. Namun sebagai orang awam terhadap ilmu medis (saya sarjana ekonomi, btw), ada kalanya timbul rasa ragu dalam memastikannya.

Hal inilah yang membuat saya, sepertinya kok ribet banget ya. Pakai form ini itu untuk mengecek tumbuh kembang Gayatri.

setrong

Yang pertama, karena saya tidak memiliki latar belakang pendidikannya – nggak punya ilmunya, dan yang kedua sebagai orang tua kadang kita terlalu “narsis” dengan anak sendiri. Hal-hal sedemikianlah yang membuat kita kadang luput atau abai terhadap fakta yang ada.

Ya, sebagaimana kita ketahui, orang awam memang TIDAK BOLEH mendiagnosis delay atau apapun itu namanya. Namun sebagai orang tua, orang tua WAJIB memahami tanda-tanda apakah yang patut dipantau. Sehingga ketika tanda itu muncul, saya bisa berkonsultasi dengan dokter sedini mungkin. Serta juga memberikan informasi yang akurat bagi dokter dalam observasinya.

Menurut IDAI, seribu hari pertama kehidupan anak (mulai kehamilan sampai usia dua tahun) adalah masa yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Keterlambatan atau kekurangan pada masa ini yang tidak segera ditindaklanjuti dapat berdampak pada kesehatan dan kemampuan anak dalam jangka panjang.

So, “Learn the Signs. Act Early” please! Demi anak-anak kita juga.

Apa Saja yang Perlu Dipantau?

1 . Pertumbuhan.

Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran tubuh bayi atau anak. Gampangannya si, anak tambah tinggi, tambah berat, tambah besar (lingkar kepala).

Nah, setelah ditimbang dan diukur tinggi dan lingkar kepalanya, hasil pengukuran tersebut diplot ke kurva pertumbuhan. Cek deh di KMS (Kartu Menuju Sehat) yang dikasih dari RS atau fasilitas kesehatan lain saat melahirkan, di situ ada kurva pertumbuhan.

KMS

Saya mengunduh gambar di atas dari web Kemenkes ini. Mohon konfirmasi ke DSA/ Posyandu terdekat untuk cek keterbaruannya terlebih dahulu saat akan menggunakannya.

Jadi kalau ada yang bilang, “Ih, anaknya kurus. Nggak dikasih makan ya?” Yang pertama sebaiknya dilakukan, janganlah nangis gerung-gerung sambil baper di pojokan dapur. Tapi ceklah faktanya di KMS. Kalau ijo royo-royo, katakan dengan tegar, “Iya, Jeng…. Anak saya memang langsing, kayak saya, nggak kayak situ!” Jangan lupa kibasin dasternya biar hot.

Tapi kalau memang sudah kuning atau malah merah, yuk mari kita menuju bidan, posyandu, dokter anak atau RS terdekat untuk mendapat saran medis yang lebih kompeten dibandingkan komentar pedas netizen. Jangan denial. Dan jangan lupa ucapkan terimakasih ya, sama yang pedas-pedas itu.

2. Perkembangan.

Perkembangan adalah pertambahan kemampuan bayi atau anak.

Contohnya adalah ketika Mertua menelepon dan bertanya, “Ehhhhh, cucuku uda bisa jalan beluuum? Uda bisa ngomong belum? Uda bisa meroda belum? Uda bisa lompat harimau belum? Uda bisa nyetir belum?” Wkwkwkw, no offense ya Papi dan Mem, becanda lo becandaaaa…. Nah, pokoknya yang seperti itulah kira-kira, hehehe….

PhotoGrid_1549927071778-1024x768

Kemenkes RI mengeluarkan KPSP (kuesioner pra skrining perkembangan). Kuesioner ini berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak, sesuai kelompok usianya.

Misalnya untuk usia anak 2 tahun, pertanyaan-pertanyaannya untuk mendeteksi keterlambatan usia 24 bulan adalah, “Apakah anak dapat meletakkan satu kubus di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu?” dan seterusnya.

IDEALnya skrining ini dilakukan oleh tenaga medis ya…. Jadi mereka mengamati perilaku anak. Bukan ditanyain ke anak lo ya pertanyaan di atas. Sehari-hari dilakukan di rumah si boleh, tapi hasilnya tidak menggantikan konsultasi dengan dokter ya.

Cukup sebatas, kalau ditanya Mertua kaya tadi, kita bisa jawab, “Bu…. Lompat harimau itu belum ada di fase perkembangan anak dua tahun…. Mohon ditunggu kira-kira tujuh tahun lagi lah ya….”

Siapa yang Perlu Dipantau, Dimana dan Kapan?

Semua anak tanpa kecuali.

1 . Secara umum, anak atau bayi bisa diperiksa di Puskesmas, atau Posyandu.

Saya sendiri karena (dulu) bekerja keras bagai quda dari jam 8 – 5, tidak bisa datang ke kedua fasilitas tersebut, datangnya ke Klinik Ibu dan Anak pas malam hari.

2 . Untuk bayi/ anak dengan risiko tinggi bisa diperiksakan ke dokter anak di rumah sakit.

Contoh bayi risiko tinggi  menurut IDAI adalah yaitu bayi atau anak yang kelahirannya prematur, memiliki berat saat lahir rendah, bayi baru lahir yang  mengalami infeksi, penurunan kadar gula darah, memiliki sindroma sesak napas, atau pernah mengalami kejang.

Pemantauan tumbuh kembang untuk bayi dianjurkan tiap bulan (dari usia 0 bulan ya, kayak isi bensin, dari enol), biasanya dulu saya lakukan sambil imunisasi. Kemudian anak usia satu sampai dua tahun dianjurkan tiap 3 bulan, dan anak usia dua tahun sampai enam tahun dianjurkan tiap 6 bulan.

Tapi kan kecemasan atas tumbuh kembang anak bisa datang kapan saja.

Apalagi kalau punya tetangga yang julid. #eh

Thats whyyyyy Nyaaah! Punyailah tool pemantauan tumbuh kembang. Bisa buku KMS/ KIA tadi, KPSP atau yang praktis dan menyakup keduanya: Aplikasi Primaku IDAI.

PhotoGrid_1550097488479-1024x768

Review Aplikasi Primaku IDAI

Aplikasi ini adalah aplikasi berbasis smartphone yang resmi dirilis oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Thta’s why namanya Prima, singkatan dari Program IDAI untuk Membangun Anak Indonesia (PRIMA).

Di dalam satu aplikasi ini, saya mendapatkan fitur-fitur yang penting dan sering saya gunakan untuk memantau tumbuh kembang anak saya:

1. Ada form untuk memantau PERTUMBUHAN anak, yaitu adanya kurva pertumbuhan.

Orang tua bisa mengisi berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala anak, kemudian nanti akan diolah dalam bentuk kurva secara otomatis. Selain dalam bentuk kurva/ grafik, olahan data juga akan muncul keterangan apa status gizi anak, apakah baik atau tidak, lalu apakah sudah sesuai antara tinggi dengan berat badannya. Gitu-gitu.

PhotoGrid_1550097346547-1024x768

Enaknya lagi ada rekomendasi nutrisinya. Sayangnya, saya melihat untuk rekomendasi nutrisi di tab pertumbuhan pada aplikasi ini masih umum banget ya. Saya berharapnya ada rekomendasi menu, kemudian ada hitung-hitungan kalori atau berapa gram sayur/ buah/ lauk yang diperlukan.

“Puyeng atulah bikin algoritma aplikasinya….”, kata si mas dan mbak developernya. :P Hihihi, emang susah si ya, harus temu muka langsung dengan ahli gizi kalau begini yak.

2. Ada kuesioner untuk memantau PERKEMBANGAN anak.

Yaitu dengan form Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Walaupun form yang digunakan berbeda dengan yang sebelumnya saya gunakan (denver), tapi saya merasa manfaatnya sama, yaitu saya bisa tahu apakah anak saya berkembang sesuai dengan usianya.

Dari 9 atau 10 pertanyaan nanti akan muncul hasil apakah perkembangan anak sesuai, meragukan atau menyimpang.

Nah, berbeda dengan yang di tab pertumbuhan, rekomendasi yang ada di tab perkembangan ini detail dan sangat praktis sekali. Jadi ada dua rekomendasi yang diberikan, yang pertama adalah rekomendasi cara stimulasi per tahap pertumbuhan dan yang kedua adalah rekomendasi atau saran untuk ke dokter anak lebih lanjut.

Kurang lebih seperti ini penampakannya:

PhotoGrid_1550097294719-1024x768

Rekomendasi pertama (seperti foto di atas yang paling kanan) akan muncul otomatis pada setiap perubahan usia. Sementara rekomendasi kedua akan muncul setelah kita mengisi KPSP, pada pilihan deteksi keterlambatan. Apabila terdapat kondisi yang meragukan atau menyimpang, maka aplikasi akan memberi rekomendasi untuk ke dokter anak.

Mantul yak!

Tapi teteuuuup, seperti saya bilang tadi, skrining di rumah tidak menjadikan skrining oleh tenaga medis tidak diperlukan lagi ya. Kalau pas jadwalnya Posyandu, ya sok atulah ke Posyandu, biar dapat juga pendapat yang valid dari yang lebih berkompeten.

Ada dua hal lagi ni yang saya sueneng banget super banget banget banget…. Aplikasi ini juga punya dua hal ini:

PhotoGrid_1550097395439-1024x768

3 . Jadwal Imunisasi (Jadwal IDAI dan PPI)

Kalau jaman saya masih di Bintaro, saya tu manja bener sama dokter anak langganan. Jadi beneran tiap ke sana, beliau yang ingetin harus balik lagi ke klinik tanggal berapa dan imunisasi apa. Giliran pindah rumah, dan belum nemu klinik dekat rumah, ya mau ga mau kudu inget-inget sendiri jadwal imunisasi.

Makanya happy banget pas ngeh di Primaku ada tab Jadwal Imunisasi. Mana ada dua sub tab lagi, jadwal imunisasi lengkapnya IDAI (yang banyak banget antara imunisasi wajib dan imunisasi tambahan. Hmmmm…. istilah wajib dan tambahan ini sepertinya kurang pas ya, tapi sepertinya istilah ini kan ya yang paling common sense.

Nah, kalau jadwal PPI ini adalah jadwal imunisasi yang program pemerintah, alias yang disubsidi, atau yang sering ibu-ibu komplek sebut dengan imunisasi wajib.

Kelebihannya, di Primaku jadwal imunisasinya sudah disesuaikan sama tanggal lahir anak. Jadi kita ndak perlu ngitung lagi manual, seperti kalau kita cek jadwal pakai tabel. Life saver banget buat nyonya (yang) malas kaya akoooh.

Room for improvement: Bakal lebih enak banget buat user si sebenernya kalau aplikasi ini diintegrasiin sama google calendar ya. Jadi pengguna android bisa ada pop up nya gitu, reminder kalau besok kudu imunisasi. Ting tung ting tung!

Ahhh, malas kali kau Nyahhhhh! Uda gratis pun banyak mintanya!

Wkwkwkwk….Yah, namanya juga usaha Buuuuk! Kalau dikabulkan syukur, kalau engga, aplikasi yang sekarang juga uda cucok meong kok. Sampai saya sukarela bikinin artikel lebih dari seribu kata gini kan.

4 . Artikel kesehatan (>200 artikel)

Fitur terakhir ini jarang saya manfaatkan sebenarnya, tapi pernah. Dan bukan berarti nggak bermanfaat. Hanya memang preferensi saya untuk baca artikel dari laptop aja si. Biar bisa buka banyak tab, sambil bikin pointer dan mata minus saya juga nggak jadi jereng.

Buat yang commuting PP rumah dan kantor, bisa banget ni jadi bahan bacaan daripada follow akun lambe lambe. Julid itu berat, Sistur, kamu nggak akan kuat. Biar aku aja.

Okelah kalau begitu.

hehehe

Berhubung sudah nembus 1500an kata, dan sebelum makin banyak mertua, tetangga dan juga admin lambe yang membenci saya, sebaiknya saya sudahi sampai di sini.

Buat yang mau aplikasi ini download aja! Di Appstore dan Playstore ada.

Trus kalau bingung, bisa cek tutorial dan FAQ di website www.primaku.com.

Semoga sharing kali ini bermanfaat yaaa! Kalau ada teman-teman dokter/ tenaga medis yang mau menambahi atau mengoreksi, atau ada temen ibu-ibu mau curhat atau sharing juga tentang aplikasi IDAI atau apapun, boleh kasi komentar yaaa!

Yang pasti jangan konsultasi, konsultasi mah di pusat kesehatan yaaak! Salam sayang!

.

.

.

.

.

.

Referensi:

  1. https://www.primaku.com/
  2. https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/parents/states.html
  3. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pemantauan-pertumbuhan-anak
  4. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-memantau-pertumbuhan-dan-perkembangan-anak-bagian-1
  5. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-memantau-pertumbuhan-dan-perkembangan-anak-bagian-2
  6. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pentingnya-pemantauan-tumbuh-kembang-1000-hari-pertama-kehidupan-anak
Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Persiapan Kehamilan Sebagai Upaya Pencegahan Stunting pada Anak

Acara resepsi pernikahan telah usai. Malam pertama menanti di depan mata. Lalu apa yang harus dilakukan?Alih-alih menasehati untuk mengambil paket perawatan di salon, Inez, sahabat saya sejak SMP, berpesan: “Minum susu persiapan kehamilan, La!”

“Astaga!” kata saya saat itu. Saya baru nikah Neng, belum mikir mau hamidun.

Saya tidak menanggapi serius pesannya, dan ternyata kehamilan datang tanpa menunggu saya sempat memikirkannya. Tanpa ada jeda masa menstruasi, saya positif hamil. Kami gembira sekali saat itu. Apalagi orang tua saya, janin di kandungan saya adalah calon cucu pertama. Digadang-gadang akan lahir tegap seperti Kakeknya jika laki-laki, dan cantik seperti Neneknya jika perempuan. Sayangnya, kami harus kehilangan kandungan saya secepat kabar datangnya kehamilan itu.

hiksSedih? Tentu saja.

Namun, tak larut dalam kesedihan, kami belajar dari kesalahan masa lalu. Kehamilan adalah sesuatu yang harus dipersiapkan dengan baik. Demi kesehatan calon bayi dan kesehatannya di masa mendatang. Singkat cerita, saya hamil kembali, dan anak kami yang pertama sekarang telah berusia 20 bulan. Puji Tuhan, sehat, tinggi dan lincah bukan main. Seusai melahirkan dulu, saat suami saya meluncurkan niatan menambah momongan, Dokter Kandungan saya berpesan, jaga jarak antar kehamilan agar kondisi tubuh Ibu telah pulih sepenuhnya.

Siaaaap! Dan kini saat yang kami rasa sudah cukup. Empat bulan lagi, Gayatri sapih dan rencananya saya akan melepas IUD yang saya gunakan sebagai alat kontrasepsi. Masa ini akan saya pergunakan kembali untuk memersiapkan tubuh saya menyambut jabang bayi.

Apakah saya terdengar berlebihan, belum lepas IUD sudah persiapan kehamilan berikutnya?

Tentu tidak ya. Selain memiliki pengalaman buruk di masa lalu sebagaimana saya ceritakan di atas, saya juga memiliki data tentang bagaimana masa kehamilan dapat mempengaruhi kesehatan anak di masa depan dalam jangka panjang.

Adalah kondisi bernama stunting, atau gagal tumbuh pada tubuh dan otak anak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama, yang mengimbas 29,6% balita Indonesia di tahun 2017. Angka yang kurang bagus, mengingat batas WHO adalah 20%. Kondisi ini terjadi karena pemberian gizi pada 1000 hari pertama kelahiran atau yang sering disebut dengan Golden Period tidak optimal.

persentase stunting balita IndonesiaSumber: Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes RI dalam www.sehatnegeriku.kemenkes.go.id.

Dan sebagaimana mungkin tidak kita sadari benar, Golden Period dihitung sejak hari pertama kehidupan. Yap! Tidak salah baca. Kehidupan dalam konteks ini dihitung sejak hari pertama kehamilan, bukan kelahiran. Atau dengan kata lain sembilan bulan di kandungan sampai dengan usia anak dua tahun.

Oleh karena itu, saya sangat memperhatikan masa persiapan kehamilan. Supaya saat hari pertama sel telur saya bertemu dengan sel sperma suami, tubuh saya telah siap untuk dilekati embrio kesayangan kami berdua.

Lalu bagaimana saya selama ini memersiapkan kehamilan?

1 . Asupan Makanan Pra Kehamilan.

Berkaitan dengan pesan Inez di awal tadi, saya sempat bertanya pada dokter kandungan saya. “Apakah benar saya harus minus susu pra kehamilan untuk mendapat asupan yang terbaik bagi kehamilan saya nantinya?” Jawaban dokter saya, “Tidak.” Yang pasti saya harus memperhatikan adalah kecukupan asupan zat besi, asam folat dan kalsium.  Jadi, saya pun tidak ganti susu, saya tetap minum susu kesukaan saya seperti biasanya (Iya! saya sampai tua gini masih suka minum susu. Doyan!).

Sharing kali ini berdasarkan konsultasi saya dengan dokter kandungan saya ya, bisa jadi kondisi tubuh masing-masing Ibu berbeda. Jadi walaupun secara umum, sama, tapi saya juga menyarankan untuk berdiskusi dengan ahlinya.

makanan ibu hamilUntuk menyukupi kebutuhan zat besi, asam folat dan kalsium, menu makanan yang dikonsumsi tidak harus mewah, dari bahan pangan yang mudah ditemui pun banyak yang mengandung zat-zat tersebut. Berikut adalah contoh menu makanan paling mudah saya temui dan tentu saja saya sukai:

  1. Zat Besi : Daging merah, ayam, ikan, brokoli dan sawi hijau. Zat besi, selain diperlukan untuk kesehatan Ibu juga penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin serta pertumbuhan plasenta.
  2. Asam Folat : Alpukat, jeruk, brokoli dan kacang merah. Asam folat berperan untuk perkembangan tabung saraf yang membentuk otak dan sumsum tulang belakang demi mencegah kecacatan.
  3. Kalsium : Susu, keju dan yoghurt. Kalsium diperlukan untuk pembentukan tulang dan gigi bayi.

2 . Kesehatan Psikis dan Fisik Lainnya.

Concern saya yang juga tak kalah penting adalah masalah asma yang saya derita. Saya benar-benar ingin saya fit saat hamil sehingga, saya tidak perlu mengonsumsi obat-obatan. Dulu saat hamil Gayatri saya menyempatkan untuk rutin berenang dan melakukan yoga. Saat ini, karena suami tinggal di luar kota, kedua hal ini sulit untuk saya lakukan. Untuk itu saya mengakalinya dengan berjalan kaki saat berangkat ke kantor dari halte Trans Jakarta atau sebaliknya. Lumayan ya, setengah jam berjalan kaki setiap harinya membuat saya merasa lebih segar dan bugar.

Selain asma, yang sedang saya kawatirkan adalah kondisi psikis saya. Berjauhan dengan suami, dengan kondisi berkerja sambil mengasuh satu balita memang cukup menguras tenaga jiwa dan raga. Beberapa kali saya mendapati kelelahan yang terakumulasi kadang membuat saya merasa burn out.Tanda-tanda yang saya rasakan adalah seringnya saya sulit tidur, mood swing dan merasakan nyeri otot dan kepala.

tubuh dan jiwa yang sehat

Saya bersyukur dukungan suami begitu kuat, sehingga saya tidak mengalami depresi yang berat. Selebihnya untuk menjaga kesehatan psikis saya, saya menggunakan aromaterapi (tidak dianjurkan jika sudah hamil), melakukan meditasi dan juga mendengarkan musik. Hal-hal sederhana ini masih bisa saya lakukan sambil melakukan aktivitas sehari-hari bersama Gayatri, anak pertama saya, dan terbukti efektif.

Saya harap, kesehatan fisik dan psikis saya ini menolong saya mampu menjalani kehamilan dengan sehat dan juga mampu melahirkan pada waktunya. Kesehatan fisik dan psikis juga penting bagi kesiapan saya merawat bayi saya pasca persalinan, terutama untuk mencegah baby blues dan persiapan menyusui.

Jadi yang diperhatikan jangan hanya kesehatan fisik semata ya, kesehatan psikis juga penting!

3 . Pengetahuan untuk Memenuhi Gizi Bayi Setelah Lahir.

1000 hari pertama Kehidupan memang tidak berhenti saat bayi lahir. Setelah lahir, masih ada ratusan hari lagi yang masih harus diperjuangkan. Perjuangan memenuhi gizi bayi melalui ASI dan MPASI. Untuk itu penting bagi saya untuk belajar (lagi dan lagi) tentang menyiapkan ASI (dan juga ASI Perah, karena saya ibu bekerja) serta tentang menyiapkan MPASI.

“Menyusui adalah dasar kehidupan. Dukung ibu menyusui untuk mencegah stunting. Anak sehat, bangsa kuat”, tutur Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), pada Puncak Peringatan Pekan Asi Sedunia (PAS) tahun 2018 di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Senin pagi (20/8).

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI, dr. Kirana Pritasari, MQIH, memaparkan beberapa data kajian dan fakta global dalam The Lancet Breastfeeding Series tahun 2016 membuktikan bahwa ASI Eksklusif menurunkan angka kematian karena infeksi sebanyak 88% pada bayi berusia kurang dari 3 bulan. Lebih jauh lagi beberapa studi menyebutkan inisiasi menyusu dini (IMD) dan ASI Eksklusif berkontribusi dalam memperbaiki berat bayi lahir rendah (BBLR), stunting dan menurunkan risiko obesitas dan penyakit kronis dalam jangka panjang.

ASI mencegah stuntingSumber: Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI dalam www.sehatnegeriku.kemenkes.go.id

Kesalahan yang saya lakukan saat anak pertama terkait ASI adalah saya berpikir pemberian ASI akan berjalan lancar-lancar saja, sehingga saya tidak perlu belajar tentang hal itu. Saya tahu pentingnya ASI dan ASI Eksklusif, namun saya tidak membekali diri saya dengan bekal ilmu yang cukup untuk menjaga produksi ASI saya dan bagaimana memanajemen ASI Perah. Akibatnya saya kehabisan stok ASIP di bulan ke-empat, setiap hari saya harus “kejar setoran” untuk memenuhi kebutuhan ASI Gayatri.

Berkaca dari pengalaman tersebut, pada bulan Agustus kemarin saya menyempatkan diri mengikuti seminar singkat tentang kebiasaan baik yang perlu dilakukan ibu menyusui yang dapat meningkatkan produksi ASI. Saya sempatkan khusus datang, karena kalau hamil nanti sudah akan lebih sulit untuk sering-sering berpergian jauh. Selain itu, saya juga mulai mengumpulkan informasi tentang bagaimana cara manajemen ASIP bagi ibu bekerja.

Untuk yang sedang mencari informasi juga, saran saya carilah info terkait:

  • pijat oksitosin,
  • pijat payudara,
  • posisibayi,
  • pelekatan bayi pada puting.

Bagi Ibu bekerja mungkin juga ditambah ilmu tentang:

  • power pumping,
  • cara menghitung kebutuhan ASIP,
  • cara menyimpan ASIP,
  • metode pemerahan ASI,
  • peralatan terkait ASIP.

Ilmu ini sebaiknya sudah dimiliki jauh-jauh hari ya, supaya setelah persalinan, Ibu bisa lebih tenang menghadapi tantangan yang dihadapi yang mungkin gampang-gampang susah.

Kalau terkait MPASI, pengalaman sebelumnya saya cukup lancar. Pembelajaran yang saya lakukan adalah membaca-baca lagi jurnal dan buku terkait MPASI untuk updating ilmu. Saya juga mengikuti talkshow-talkshow Kemenkes melalui media online seperti video anjuran memberikan menu mengandung Ikan sebagai pencegahan stunting berikut:

Sumber: www.sehatnegeriku.kemenkes.go.id. Website ini cukup banyak menyediakan informasi terkait sosialisasi-sosialisasi yang dilakukan oleh Kemenkes dan relatif mudah saya tonton, baca dan nikmati informasinya.

Sekian sharing dari saya tentang bagaimana saya mempersiapkan kehamilan sebagai cara pencegahan stunting. Semoga sharing kali ini bermanfaat ya! Salam sayang….

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share