Anak Aktif Itu Sehat, bersama Susu Indomilk UHT Kids Full Cream

PhotoGrid_1548666639598-1024x1365
“Eh, buset dah, tu bocah kagak bisa diem. Hiperaktif kali yak,” atau kalau tidak, “Ih, nakal banget si. Rusak kali ya setelan baterenya,” seringkali saya mendengar komentar seperti ini di kalangan ibu-ibu. Hehehe, peace ya Buk Ibuuuk! Tidak sedang mengomentari Gayatri, anak saya si, tapi tak urung saya membatin, “Bukankah anak aktif itu sehat ya…. Bukankah tanda mereka sedang asyik-asyiknya bereksplorasi.”
Saya berkaca pada Gayarti soalnya. Usianya dua tahun saat ini, dan memang usia dua tahun sering kali disebut dengan terible two ya, saking mereka bergerak terus plus ngoceeeeeh terus. Hihihi, ada aja tingkah laku mereka yang membuat para ibu mengelus dada. Sambil bergerak, lari-larian, tangan mereka pun sering berhenti pada barang baru untuk kemudian dilihat atau dimainkan. “Apa tu? Apa tu?” celotehnya sambil nggrathil.
PhotoGrid_1548666382338-1024x768
Tapi walaupun merepotkan, menurut saya terlalu dini untuk menilai anak usia dua tahunan mengidap hiperaktif. Dari yang pernah saya baca dari American Academy of Pediatrics, diagnosa hiperaktif yang dalam artikel ini merujuk pada Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) baru bisa dilakukan pada rentang usia 4 – 18 tahun. CMMIW. Itu pun harus dokter yang melakukannya.

Perbedaan antara Anak Hiperaktif (ADHD) dengan Anak Aktif

Bagi orang tua, seperti saya juga, yang awam terhadap ilmu ini, memang sulit untuk membedakannya. Namun menurut Sani B. Hermawan, Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Jakarta pada Kompas, ada beberapa ciri yang bisa dijadikan gambaran, untuk membedakan mana anak hiperaktif (ADHD) dan anak yang aktif sebagai berikut:
  • Anak hiperaktif (ADHD) cenderung tidak bisa mengenali rasa lelah pada tubuhnya.
  • Yang kedua, mereka memiliki kecenderungan untuk impulsif, yaitu bergerak konstan namun sulit kita kenali apa tujuannya.
  • Yang ketiga mereka memiliki kecenderungan untuk merusak atau destruktif.
  • Dan yang keempat, mereka kesulitan untuk fokus atau berkonsentrasi.

Nah, anak aktif yang sehat, tidak demikian. Jadi selama anak memiliki konsentrasi yang baik dan juga mampu mengenali rasa lelahnya, maka menurut saya keaktifan mereka perlu kita dukung. Malah perlu kita stimulasi.

PhotoGrid_1548666743324-1024x768

Saya cukup concern, dan ingin menekankan hal ini karena, menurut saya, melabel negatif anak dengan istilah “hiperaktif” atau yang lebih umum dengan sebutan “nakal” saat anak sedang aktif-aktifnya, bisa membawa orang tua pada cara asuh yang salah. Alih-alih memfasilitasi dan juga mendukung keaktifannya, orang tua akan jadi cenderung membatasi atau malah memarahi anak.

Kenapa anak aktif itu sehat?

1 . Aktif adalah tanda bahwa anak sedang belajar.

Ya, “belajar” dalam hal ini bukan dalam kerangka akademis ya, namun bereksplorasi dengan tubuhnya maupun dengan lingkungan sekitarnya.
Saat anak mulai bisa berjalan, “dunia”nya mulai terbuka tidak hanya sekedar pada tubuh ibunya. Apa yang terlihat sebagai keusilan dan keisengan, bisa jadi adalah cara anak mencari tahu tentang lingkungannya dengan panca inderanya; melihat, menyentuh, memegang, mencium atau bahkan menjilat!
 Apa yang terlihat sebagai polah yang membuat mengelus dada, bisa jadi adalah cara anak untuk belajar menggerakkan anggota tubuhnya. Dia belajar mengoordinasikan tangan, kaki dan juga penglihatannya. Sayang sekali kan, kalau kegiatan mereka dibatasi, padahal eksplorasi itu penting sekali bagi perkembangan fisik maupun mental anak.

2 . Yang kedua, keaktifan fisik bisa membuat anak makin sehat.

Bagaimana tidak, keaktifan anak secara tidak langsung kan seperti olahraga fisik ya. Tentu saja, otot-ototnya pun akan semakin kuat. Selain itu, aktivitas anak juga akan menjauhkannya dari obesitas dan beberapa penyakit terkait. Apabila orang tua memfasilitasi dengan kegiatan outdoor, anak pun bisa dapat bonus udara segar dan sinar matahari yang baik untuk tubuhnya.
Selain itu, saat bermain anak pun merasakan kegairahan karena hormon-hormon dalam tubuhnya bekerja. Tentu hal ini baik baginya karena membuatnya bahagia. Anak yang bahagia tentu juga akan lebih sehat bukan?
PhotoGrid_1548666677180-1024x1365

Dukungan Orang Tua untuk Anak yang Aktif dan Sehat

Sebagai orang tua baru, saya mengakui juga kalau kadang melakukan pengasuhan dengan trial error. Tapi ya namanya usaha, tentu tidak ada salahnya ya Buk Ibuuuk. Berikut adalah hal-hal yang menurut saya penting untuk mendukung anak yang sehat dan aktif:

1 . Memberikan Stimulasi/ Fasilitasi Kegiatannya

Hal sederhana yang sering saya lakukan bersama Gayatri di rumah adalah, jalan-jalan ke taman komplek. Kadang sambil membawa sepedanya, atau sekedar berjalan kaki. Di usia dua tahun yang menjadi perhatian saya adalah kemampuannya berlari, melompat, meniti garis lurus, lempar tangkap bola dan berayun. Jadi kegiatan-kegiatan yang kami lakukan terkait dengan hal tersebut.

2. Memberikan Makanan dan Minuman secara Sehat

Selain memberikan stimulasi dari luar tubuh, tentunya penting juga mendukung keaktifan anak dari dalam tubuhnya. Saya bersyukur, Gayatri tidak mengalami gangguan makan yang berarti. Nafsu makannya cukup baik dan tidak pilih-pilih makanan. Daging merah, udang, ikan, belut, tempe, tahu, berbagai sumber protein hewani dan nabati dia konsumsi dengan happy. Kesukaannya pada buah dan sayur juga memudahkan saya untuk memberi asupan vitamin baginya. Disamping itu, setelah masa sapih, saya tetap memberikan susu padanya.
PhotoGrid_1548666639598-1024x1365
Walaupun kalori yang terbesar, Gayatri dapatkan dari makanan padat. Namun, susu bagi keluarga kami adalah sumber kalsium utama yang paling mudah dijangkau dan juga relatif lebih murah dibandingkan sumber kalsium lainnya. Susu favorit yang kerap kali saya berikan pada Gayatri adalah Susu Indomilk UHT Kids Full Cream , walaupun terkadang rasa lain pun kami berikan sebagai variasi, namun concern terhadap kandungan gula yang rendah menjadikan kami tetap menawarkan varian full cream ini padanya.

Susu Indomilk UHT Kids Full Cream untuk Mendukung Anak Aktif dan Sehat

Alasan mula-mula kami memilih Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah karena susu ini adalah susu UHT. Beberapa hal yang kami sukai dari Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah:

1 . Gayatri cocok.

Alasan yang paling penting adalah, Gayatri tidak mengalami reaksi negatif, seperti mencret, gatal-gatal, perut kembung, dll saat mengonsumsi susu ini. Dalam kemasan sendiri disebutkan bahwa Susu Indomilk UHT Kids Full Cream bisa dikonsumsi bagi anak di atas 12 bulan. Namun, please keep in mind, kalau masih ada ASI, sebelum dua tahun susu terbaik buat anak tetaplah ASI ya.

2. Praktis

Saat di rumah maupun di perjalanan, kami tidak perlu menyeduh susu dengan air panas. Kami bisa meletakkan tiga kotak susu di rak Gayatri, dan Gayatri kami latih untuk mengambil dan meminumnya sendiri, tentunya dalam pengawasan saya. Kemasannya juga tidak terlalu sulit untuk digenggam oleh tangan yang masih kecil. Kepraktisan ini, mendukung gaya pengasuhan kami, dimana menekankan kemandirian anak dan juga responsive feeding. Ukurannya yang compact juga membuatnya mudah kami bawa sebagai bekal saat Gayatri bermain di luar rumah.

3. Aman (Terjamin Kebersihannya)

Aman dalam hal ini adalah terkait dengan jaminan bakteri yang terdapat dalam susu telah mati. Pemanasan UHT dan juga pengemasan Tetra Pack membuat kami yakin bahwa produk yang kami terima tetap dalam kondisi yang baik. Hal ini yang membuat kami memilih UTH dibandingkan susu pasteurisasi karena kualitas susu pasteurisasi masih sangat bergantung pada proses penyimpanannya.

PhotoGrid_1548667417432-1024x1365

Selain itu, yang paling utama adalah beberapa poin di bawah ini, yang kami yakini mendukung keaktifan anak sekaligus menjaganya tetap sehat:

4. Kandungan gulanya rendah

Dalam kemasan disebutkan bahwa komposisi produk ini adalah susu sapi segar, air, susu skim bubuk dan penstabil nabati. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada gula tambahan yang diberikan pada produk ini. Saya happy sekali. Berikut adalah alasan mengapa saya senang dengan produk yang rendah gula:

  • sebagai orang tua, tentunya kita familiar dengan apa yang disebut dengan sugar rush atau keaktifan anak yang disebabkan oleh naiknya gula darah, mitos ataupun tidak, kelebihan gula memang tidak baik karena meningkatkan risiko diabetes,
  • meminimalisasi kerusakan gigi,
  • meminimalisasi anak menjadi kenyang karena rasa manis, dan tidak mau mengonsumsi makanan lain.

Memang dalam produk ini disebutkan terdapat 5 gram karbohidrat total dalam setiap kemasan 115 ml-nya, namun jumlah ini pun kalau saya bandingkan dengan produk lain masih tergolong rendah.

5. Kandungan Kalsium

Seperti yang saya sebutkan di atas, alasan terutama kami mengonsumsi susu, dan terutama untuk Gayatri, anak saya, adalah untuk memenuhi kebutuhan kalsiumnya. Mengingat susu adalah sumber kalsium terbaik yang sekaligus juga terjangkau bagi keluarga kami. Nah, Susu Indomilk UHT Kids Full Cream dalam 115 ml diklaim mengandung 30% kebutuhan kalsium anak.

Kalsium penting guna mendukung keaktifan anak, karena kekurangan kalsium dapat menyebabkan osteoporosis (pengeroposan tulang) dan rakhitis (pelunakan tulang yang berakibat kelainan bentuk tulang) dan terkadang sakit pada otot.

6. Kandungan Vitamin D

Mendukung poin kelima, yang saya salut dari Indomilk dalam mendesain Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah karena mereka melengkapi produk ini dengan Vitamin D. Saya bilang ini cerdas si, soalnya untuk menyerap kalsium secara optimal, tubuh manusia memang membutuhkan vitamin D. Jadi produk ini sudah menyediakan duo combo kalsium dan vitamin D. Semoga dengan hal ini penyerapan kalsium bisa optimal dan memenuhi kebutuhan anak.

7. Kandungan Gizi Lain

Dalam Susu Indomilk UHT Kids Full Cream juga terdapat zat gizi lain yang mendukung anak aktif dan sehat seperti:

  • lemak yang memberikan energi,
  • vitamin B kompleks yang membantu dalam proses penghasilan energi dan juga menjaga kesehatan syaraf,
  • zat fosfor yang mendukung kerja otot, dll.

Kandungannya lengkap dan seimbang, oleh karena itu saya yakin untuk mengikutsertakannya dalam rangkaian menu makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh anak saya sehari-hari.

PhotoGrid_1548666789584-1024x768

Banyak hal positif yang bisa kita dapatkan dari konsumsi susu dan juga aktivitas fisik anak, ya…. Semoga sharing kali ini makin membuat Teman-teman semangat untuk support anak dalam hal aktivitas maupun pemenuhan gizinya…. Teriring doa semoga anak-anak kita semua selalu aktif dan juga sehat!

Oiya, artikel ini saya ikut sertakan dalam Blog Competition yang diadakan oleh Indomilk, dengan pengalaman yang saya ceritakan berdasarkan pembelajaran dan pengalaman saya pribadi. Teman-teman, bisa juga ikut lomba ini loh, info lebih lanjut bisa cek media sosial dengan tagar #IndomilkUHTKidsFullCream #AktifItuSehat atau langsung ke web ini.

Semoga sharing kali ini bermanfaat yaaa! Salam sayang!

Sumber:

  1. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder: https://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/pages/AAP-Expands-Ages-for-Diagnosis-and-Treatment-of-ADHD-in-Children.aspx
  2. Beda Anak Hiperaktif dan Superaktif: https://edukasi.kompas.com/read/2009/07/16/12460644/read-brandzview.html
  3. Pentingnya kalsium: https://hellosehat.com/parenting/nutrisi-anak/kebutuhan-kalsium-untuk-anak/
Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Sapih (Part 1)

weaning with love

Heyyyaaaaa!!! Gayatri uda dua tahun aja ni bulan ini. Hehehe…. Seperti kesepakatan saya dan suami, kami akan melakukan sapih dengan mengadaptasi metode weaning with love. Dalam artikel ini kami akan sharing bagaimana cara kami menyapih Gayatri ya. Sharing pengalaman saja dan tidak bermaksud menyatakan bahwa cara ini paling benar atau bagaimana.

Walaupun memang cocok pada kami, memang belum tentu cocok untuk anak atau orang tua lain. Tapi siapa tahu cocok kan yaaa…. Hihihi….

Tentang Metode Menyapih

Banyak yang membahas tentang cara sapih dengan Weaning With Love. Saya sendiri mengadaptasi beberapa poin-poin dari WWL ini. Beberapa di antaranya adalah:

  • menyapih dengan mempertimbangkan kesiapan bayi,
  • tidak dengan “menipu”,
  • mengalihkan perhatian dengan kasih sayang (pelukan, tepuk tepuk lembut, dll).

Yang tidak saya adopsi dengan saklek adalah prinsip “don’t offer, don’t refuse“. Karena pada masa pra sapih (saya menyebutnya demikian) mulai dari 18 bulan s.d. 24 bulan saya melakukan prinsip ini sambil terus sounding. Namun setelah usia 24 bulan, dalam beberapa negosiasi yang dilakukan Gayatri, saya menolak dengan halus permintaannya untuk menyusu. Tentunya karena saya menilai saat itu Gayatri meminta menyusu bukan karena kebutuhan, namun karena kebiasaan menjelang mau tidur. Hal ini juga mempertimbangkan karakter dan rules di rumah masing-masing ya…..

Namun bukan berarti saya bilang orang yang tidak menggunakan cara-cara WWL ini tuh menyapih tidak dengan cinta yak. Ya enggak juga keles, thats wahy saya jarang sekali menggunakan frasa tersebut.

Setiap ibu (yang normal) saya rasa akan mengambil keputusan apapun dilandasi dengan cinta. Setidaktahu apa pun ibu terhadap metode-metode terbaik abad ini, dan secanggung apapun dia melakukannya, saya tetap yakin para ibu melakukannya dengan cinta. Cinta kepada anaknya.

love love

So please, jangan saling menghakimi metode mana yang paling baik dan paling penuh cinta ya…. Yang ada adalah metode mana yang paling cocok bagi keluarga. 🙂

Related Post: Orang Tua yang Yakin

Tentang Usia Menyapih

Oiya, tentang usia yang tepat untuk menyapih, sebenarnya memang tidak ada batas waktu yang saklek ya tentang masa sapih ini. Kami melakukannya pada usia 2 tahun, karena memang ingin Gayatri menikmati ASI setidaknya sampai 2 tahun. Walaupun saya tidak berhasil ASIx namun tetap ingin memberi ASI sampai dua tahun sesuai anjuran dokter.

Selain itu, kami rasa dengan beberapa persiapan yang telah kami lakukan sebelumnya sejak usia 18 bulan, Gayatri telah siap di usia tersebut.

Oiya, kesiapan Gayatri ini beneran kami konfirmasi ya. Bukan hanya perasaan saya semata….

Nah, inilah yang kami lakukan sebelum dan saat menyapih Gayatri. Untuk kemudahan teman-teman membaca, saya akan membagi ke dua tema bahasan: Pra Sapih dan Sapih. Lalu di masing-masing tema akan ada sub tema untuk menghighlight beberapa pesan ya. Nggak saklek bingit si, cuma biar lebih mudah dipahami saja….

Di artikel ini saya bahas tema satunya dulu ya…..

PRA SAPIH

1. Kesepakatan dg suami

Poin 1 intinya saya dan suami sepakat untuk memulai sapih segera setelah usia 2 tahun. Sepakat juga untuk pakai cara sounding jauh-jauh hari karena metode ini beberapa kali kami pakai dan bisa masuk ke Gayatri dg efektif. Soundingnya sebenarnya mulai dari 18 bulanan. Namun mulai intens dua bulan sebelum Gayatri dua tahun, dan sebulan sebelumnya bisa dibilang tiap hari soundingnya.

Saya sendiri juga sudah meyakini bahwa saya sebagai ibu, siap untuk menyapihnya. Jadi nggak mellow, atau masih ragu dan galau. Saya memahami, kalau kontak saat menyusui adalah sesuatu yang sangat indah, yang kadang bagi ibu sulit untuk melepaskannya.Ibu pun sering merasa jahat atau bersalah saat menyapih. Hal tersebut harus dihindari.

setrong

Karena perlu disadarai juga bahwa menyapih juga adalah kebutuhan bagi anak. Masa-masa baginya untuk belajar bahwa dunianya itu besar, tidak sebatas pada tubuh ibunya. Dia juga akan belajar bahwa dirinya bisa dan mampu untuk (mulai) mandiri. Jika dilakukan tanpa trauma, saya rasa hal ini dapat dicapai.

Kembali lagi, apapun keputusan parenting, mau sapih umur 3 tahun dan mau pakai cara apapun sebaiknya hasil diskusi dari kedua orang tuanya ya. Karena bagaimanapun nanti, ibu akan butuh bantuan dan support suami saat menjalaninya.

2. Sounding ke anak dan keluarga

Sounding ke Gayatri sudah mulai sejak dia 18 bulan. Tapi nggak intens. Baru mulai intens dibicarakan dua bulan sebelum sapih. Dan sebulan sebelum sapih bisa dibilang setiap hari selalu disounding. Kadang serius njelasin, kadang nyeletuk-nyeletuk aja.

Poin ini si yang menurut saya jadi senjata weaning with love di keluarga kami.

Apa yang disounding?

1. Kapan sapih

Berikut beberapa poin pertanyaan yang saya ajukan pada diri sendiri dan kemudian bicarakan dengan Gayatri.

  • Kapan Gayatri mau disapih? Saat ulang tahun 2 tahun.
  • Kapan ulang tahun? – – – – Januari
  • Kapan itu januari? – – – – Habis Desember (lihat kalender)
  • Kapan sapihnya start? Habis tiup lilin dan potong kue.

IMG_20190113_130519-1024x1365

PRnya adalah karena masalah waktu sifatnya adalah konsep. Dan konsep waktu ini belum dipahaminya. Jadi harus menurunkan ke hal-hal yang Gayatri familiar dulu.

Kami menjelaskan ulang tahun dengan tiup lilin dan potong kue sebagai penanda waktu. Walaupun sebenarnya tidak terbiasa merayakan ultah juga, tapi hal itu yang paling familiar sama Gayatri. Karena di daycare sering ada yang merayakan ulang tahun dengan tiup lilin dan potong kue. Syukurlah Gayatri ingat momen ultahnya Rafka, Atano dan Malik. Jadi kalimatnya, “Gayatri mau ulang tahun. Tiup lilin. Tiup lilin sudah besar ya…. Sudah besar tidak nenen.”

Kami jelaskan kalau Gayatri ulang tahun di Januari. Januari habis Desember. Dia nggak tahu apa itu Januari dan Desember. Jadi ya dibilang aja pas Desember, ini bulan Desember. Habis Desember Januari ya…. Pas masuk Januari dibilang lagi, sekarang uda Januari. Bisa juga pakai kalender. Gayatri ulang tahun 10 hari lagi (misal) sambil nunjukin jari 10. Besoknya gitu lagi nunjukin jari 9, dst. Kami mulai gitu H-10 karena Gayatri tahunya angka ya baru 1-10 hehehe….

2. Kenapa sapih

Tentu sebenarnya alasan sapih dalam sebuah keluarga sangat kompleks ya. Yang pasti terkait dengan kebutuhan bayi, kondisi ibu maupun kondisi keluarga.

Misalnya, orang tua seudah merasa cukup memberikan ASI sampai 2 tahun saja sesuai anjuran WHO dan IDAI, atau karena masalah kesehatan ibu, atau masalah rencana program anak selanjutnya, dll. Namun bagi kami, yang perlu disampaikan ke Gayatri, tidak semuanya, hanya beberapa hal sebagai berikut:

  • Umur 2 tahun sudah besar,
  • Besar itu seperti apa, gambaran atau deskripsi kata “besar”,
  • Besar berarti tidak nenen.

Kami menjelaskan konsep “sudah besar” sama dengan Mas Malik. Teman daycarenya yang paling besar. “Mas Malik sudah besar, Mas Malik nggak nenen.” Konsep ini clear saat Gayatri sendiri sering bilang ke kami kalau Mas Malik nggak nenen. Hehehe…. Ini butuh beberapa hari ya. Nggak instan.

weaning with love

3. Bagaimana setelah sapih

Yang jangan lupa disounding adalah skenario setelah tidak nenen sebagai berikut:

  • Gimana kalau Gayatri pengen nenen,
  • Gimana kalau Gayatri mau bobok (karena Gayatri biasa bobok sambil menyusu).

Kami memilih untuk bilang,  “sudah besar minumnya susu kotak. Kalau pengen nenen ambil susu kotak. Susu kotak di rak.” Keteraturan posisi ini ternyata membantu juga. Jadi dia nggak dalam kondisi nol banget saat sapih. Uda tau “exit procedure”. Tentunya Gayatri juga sudah bisa minum susu kotak (pakai sedotan) dan doyan juga ya.

Yang lebih penting lagi, kami juga bilang kalau, “Walaupun Gayatri sudah ga nenen, ibuk tetap sayang. Gayatri ga nenen, boleh peluk erat. Kalau ngantuk peluk ibuk. Nanti ibu puk puk sambil nyanyi sampai Gayatri bobo. Kalau sedih peluk ibuk. Peluk sayang.”

Tentu saja masalah peluk erat, puk puk dan nyanyi ini disesuaikan dengan bagaimana kebiasaan anak sebelumnya, kalau bobok saat nggak ada ibunya ya…. Kebiasaan puk puk dan nyanyi ini adalah informasi dari daycarenya Gayatri dulu, Sementara kalau peluk, itu kebiasaan Gayatri kalau bobok sama bapaknya.

***

Yang melakukan sounding ke Gayatri ini tidak hanya saya. Hal di atas tentunya juga dilakukan oleh suami saya ke Gayatri. Pokoknya satu suara. Karena kami sering juga ngumpul keluarga bareng kakak ipar. Kakak ipar dan ponakan-ponakan juga tahu tentang ini dan ikutan bantu sounding juga.

So far saya merasakan bahwa sounding ini ngebantu banget. Mungkin karena Gayatri tipe yang (saya duga) thinking ya. Seperti saya. Jadi lebih mudah disentuh melalui kognitifnya dulu. Dia akan memahami sesuatu baru kemudian menerimanya. Setelah masalah pemahamannya kelar, baru kemudian menjaga hati dan perasaannya agar legowo.

Cerita selanjutnya saat masa sapih akan saya ceritakan di postingan berikutnya DI SINI yaa! Semoga bermanfaat! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!