Memilih/Mendesain Permainan Anak Perempuan

2019-02-12 06.05.20 3-1024x814

Kalau kata Albert Einstein, “Play is the highest form of research.” Setelah memiliki anak, saya baru memahami benar apa makna dari perkataan ini. Untuk itu, saya jadi cukup concern dalam memilih dan mendesain permainan anak perempuan saya, Gayatri yang berusia dua tahun ini.

Dalam memilih dan mendesain permainan bagi anak perempuan saya, saya tidak sembarang mengikuti tren, melainkan fokus pada perkembangan tubuhnya. Oleh karena itu saya mengacu pada parameter perkembangan anak 0-6 tahun dari Permendikbud Nomor 137 tahun 2014 dan kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP).

Hehehe, semacam serius dan rumit banget ya? Tidak kok, malahan menyederhanakan pilihan orang tua.

Sekilas tentang Parameter Perkembangan Anak dan KPSP

1 . Parameter Perkembangan Anak 0-6 Tahun dari Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014

Dengan parameter perkembangan anak, saya bisa mengetahui tingkat pencapaian perkembangan anak di setiap kelompok usia. Pada parameter ini lengkap pula lingkup perkembangan yang dijabarkan:

  1. Nilai agama dan moral,
  2. Fisik-motorik (motorik kasar, halus, kesehatan dan perilaku keselamatan),
  3. Kognitif (belajar dan pemecahan masalah, berpikir logis, dan berpikir simbolik),
  4. Bahasa (memahami bahasa, mengungkapkan bahasa)
  5. Sosial emosional (kesadaran diri, tanggungjawab diri dan orang lain, serta perilaku pro social)
  6. Seni.

Istilah mudahnya, dengan parameter ini saya jadi tahu, apa “target” yang diharapkan sudah bisa dicapai oleh anak usia 2 tahun.

Form parameter ini bisa diunduh secara umum dan gratis, keyword untuk googling: Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014.

2 . Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)

Sementara dengan KPSP, saya jadi bisa mengetahui apakah ada keterlambatan yang dialami Gayatri di usianya ini.

PhotoGrid_1549927071778-1024x768

Sebagaimana foto di atas, saya mengakses KPSP via aplikasi Primaku IDAI yang bisa di-download di Playstore maupun Appstore secara gratis juga.

Dari kedua form di atas, saya bisa mendokumentasikan apa saja skill yang ingin dikembangkan dari Gayatri, kemudian mendesain pembelajarannya dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam bentuk permainan. Nah, seperti judul artikel ini, yang mau saya bahas lebih lanjut adalah sebatas bagaimana mendesainnya dalam bentuk permainan anak perempuan ya.

Step Memilih/Mendesain Permainan Anak Perempuan

Untuk memudahkan pemahaman, saya ringkas dulu ya, langkah-langkahnya:

  1. Mendokumentasikan skill yang ingin dicapai,
  2. Mendokumentasikan keterlambatan yang ingin ditingkatkan,
  3. Mendokumentasikan permainan terkait.

Dalam kasus Gayatri, kira-kira pengalaman saya mendesain permainan anak perempuan adalah sebagai berikut:

1 . Mendokumentasikan skill yang ingin dicapai

Dalam parameter perkembangan anak ada 60 poin tingkat pencapaian perkembangan anak di usia 2 – 3 tahun. Beberapa poin sudah ada yang bisa dilakukan oleh Gayatri, banyak juga yang belum.

Yang ingin kami kembangkan lebih lanjut adalah sebagai berikut:

Lingkup Perkembangan Tingkat Pencapaian Perkembangan yang Ingin Kami Capai
A. Nilai Agama dan Moral Mulai memahami kapan mengucapkan salam, terimakasih, maaf, dsb.
B. Fisik Motorik
  1. Melompat ke depan dan ke belakang dengan dua kaki,
  2. Meremas kertas atau kain dengan menggerakkan lima jari,
  3. Memberitahu orang dewasa bila sakit.
C. Kognitif
  1. Melihat dan menyentuh benda yang ditunjukkan oleh orang lain,
  2. Meniru cara pemecahan orang dewasa atau teman,
  3. Konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain,
  4. Menyebut bagian suatu gambar,
  5. Mengenal bagian tubuh.
D. Bahasa
  1. Memahami perintah sederhana,
  2. Menggunakan 3 atau 4 kata untuk memenuhi kebutuhannya (misal, mau minum air putih).
E. Sosial Emosional
  1. Menyatakan perasaan terhadap anak lain,
  2. Mulai memahami hak orang lain (harus antri, menunggu giliran)
  3. Mulai menunjukkan sikap berbagi, membantu, bekerja sama.
F. Seni
  1. Menyanyi,
  2. Menirukan gerakan berbagai hewan.

Ada beberapa poin lagi, namun supaya sederhana, saya ringkas saja sebagaimana tabel di atas ya.

2 . Mendokumentasikan keterlambatan yang ingin ditingkatkan.

Puji Tuhan, dari 10 poin penilaian kuesioner KPSP tidak ada keterlambatan Gayatri yang perlu ditindak lanjuti. Jadi saya bisa fokus di step nomor 1 dan langsung lompat ke step nomor 3. Kalau ternyata hasil KPSPnya ada yang meragukan, bisa ikuti petunjuk yang ada di aplikasi IDAI ya. Biasanya ada keterangan diminta untuk observasi lebih lanjut.

3 . Mendokumentasikan permainan terkait.

Di tahap ini, saya akan baca-baca buku dan juga googling tentang contoh permainan. Buku yang sering saya baca sebagai referensi permainan adalah Rumah Main Anak yang ditulis oleh Julia Sarah Rangkuti dan Metode Pengajaran Montessori Tingkat Dasar (Aktivitas Belajar untuk Anak Balita) oleh David Gettman.

Dua buku tersebut sangat kaya, biar tidak terlalu overwhelming saat mempraktikannya saya akan memilih berdasarkan tabel di step nomor satu tadi serta menyesuaikan dengan mainan/ peralatan yang ada di rumah.

Contoh Permainan Anak Perempuan

Berikut adalah contoh permainan anak perempuan saya yang saya desain dengan cara di atas dan menggunakan satu mainan utama yaitu figurine hewan ternak.

permainan anak

Figurine hewan ternak yang saya miliki ini saya beli di Shopee, tokonya namanya kotakmainmainan. Awalnya saya kenal toko ini dan langganan di Instagramnya. Tapi setelah tahu dia ada toko di Shopee, saya transaksinya via Shopee. Hihihi, tak lain dan tak bukan demi ngejar free ongkirnya sodara-sodara. Lumayan yak, soalnya saya kan di Surabaya sementara tokonya di Bandung. Hemat belasan sampai dua puluh ribuan, bisa jadi nambah mainan/buku murah di toko tersebut.

1 . Mencocokkan Gambar

Sebelum Gayatri dua tahun, biasanya kami hanya menggunakan figurine ini sebagai alat memperkenalkannya pada nama dan suara hewan. Setelah beranjak besar, karena kebetulan saya memiliki poster hewan juga, saya menggunakannya untuk permainan mencocokkan gambar. Jadi ketika saya menyebutkan nama hewan, saya akan minta Gayatri menunjukkan gambar di poster atau memilih figurine. Atau kalau tidak saya akan mengambil salah satu figurine, dan Gayatri menyebut nama serta memilih gambar.

2019-02-12 06.05.17 2-1024x768

Selain mencocokkan gambar di atas, jika sudah benar, maka kami main tebak nama anggota tubuh hewan. Seperti kepala, kaki, ekor. Kemudian minta Gayatri juga menunjukkan mana kepala hewannya, lalu menunjukkan mana kepala Gayatri, demikian, dst.

Permainan ini untuk menstimulai kognitif terutama poin C1, C4, C5 di tabel Parameter di atas.

2 . Pretend Play Antri

Dalam permainan pura-pura ini, saya meminta Gayatri untuk menyusun hewan berbaris ke belakang seperti kalau mau membayar belanjaan di supermarket. Karena Gayatri sudah memahami konsep ini, saat berbelanja, jadi kami menekankan lagi saat bermain. Dalam bermain, kami akan menyebutkan kalau berbaris seperti ini disebutnya antri.

Jelaskan dengan bahasa anak, apa pentingnya antri.

2019-02-12 06.05.20 3-1024x814

Bisa dilakukan dengan berpura-pura antri makanan atau antri ke toilet. Bisa juga dikembangkan saat antri ada yang menyerobot, dll. Kita bisa mendorong anak untuk mengingatkan dengan sopan, atau memberi insight pertanyaan. Contoh lain, adalah misalnya Sapi meminta izin pada kuda untuk memotong antrian ke toilet, karena dia sedang diare, lalu kuda mengizinkan.

Dalam hal ini, kita bisa membantu anak belajar, selain antri juga dalam belajar menyampaikan perasaannya, penggunaan salam, ucapan maaf dan juga terimakasih (poin tabel A, B3, D2, E1, E2 dan E3).

3 . Pretend Play Domba Terjebak

Bermain pura-pura kali ini, melibatkan es batu. Jadi sebelum bermain, saya sengaja untuk meletakkan satu figurine ke dalam mangkuk dan dibekukan dalam freezer. Pura-puranya sebagai hewan yang terjebak di dalam es.

Permainan pura-pura di sini akan melibatkan “drama” ingin menolong antara hewan satu dengan yang lain, dan juga melibatkan kognitif anak dalam memecahkan permasalahan (ikut menolong dengan memecahkan es batu).

PhotoGrid_1549926565258-1024x768

Pelajaran yang bisa didapatkan oleh anak adalah, membangun keinginan untuk berempati, untuk saling membantu (E1 dan E3), belajar memecahkan masalah (C2, C3, D1) dan juga mengenal konsep suhu.

4 . Jalan Lurus dan Lompat

Sebenarnya garis yang kami gunakan ini adalah lakban yang kami tempel di lantai sebagai “jalan raya” kalau Gayatri bermain mobil-mobilan atau kereta-keretaan. Kami letakkan beberapa figurine dalam jarak yang aman, lalu minta Gayatri berjalan dalam jalur namun tidak boleh mengenai figurine tersebut.

2019-02-12 06.05.15 1-1024x768

Tujuan permainan ini adalah melatih motorik kasar anak dalam melompat dengan dua kaki dan melatih konsentrasinya (berjalan lurus mengikuti garis membutuhkan konsentrasi tinggi bagi anak kecil) sesuai poin B1 dan C3.

5 . Melepaskan Hewan dari Dough

Permainan ini mirip dengan permainan nomor 3, yaitu membantu hewan melepaskan diri dari dough atau malam atau lilin mainan. Pelajaran yang bisa didapatkan oleh anak adalah, membangun keinginan untuk berempati, untuk saling membantu (E1 dan E3), belajar memecahkan masalah (C2, C3, D1) dan juga melatih motorik halusnya (B2) dalam menggunakan kelima jarinya.

2019-02-12 06.05.18 1-1024x768

Tentunya permainan bagi anak perempuan bisa dikembangkan tidak hanya lima permainan ini ya. Lima permainan ini pun sebenarnya juga bisa dipakai untuk anak laki-laki. Alat dan mainannya pun bisa disesuaikan misal dengan menggunakan boneka atau barbie, atau mainan lainnya yang ada di rumah.

Yang saya suka dari figurine kotakmainmainan ini, karena mainan ini versatile banget ya. Gampang banget dipakai dan disesuaikan dengan permainan yang mau dilakukan. Selain itu juga long lasting, jadi mainan ini bisa dipakai nggak terbatas usia. Pas Gayatri umur setahun, bisa dipakai untuk mengenalkan hewan dan suara hewan. Sampai nanti besar pun, masih bisa dipakai untuk pretend play.

Tips untuk memilih mainan figurine seperti ini adalah, pastikan bahannya aman serta pilih yang permukaan kulitnya bertekstur (detail). Tekstur di permukaan mainan ini kalau di Montessori akan memperkaya pengalaman dan menjadikan permainan tersebut berkesan bagi anak, karena menstimulasi sensory-nya juga.

Sekian sharing kali ini, semoga bermanfaat ya! Yang mau berbagi ide main atau info toko mainan juga boleh lo, tinggalkan komentar yaa!

Terimakasih, salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Review Aplikasi Primaku IDAI

PhotoGrid_1550097488479-1024x768

Awalnya dulu saya menggunakan form denver dan juga tabel berat badan dan tinggi badan yang ada di buku catatan kesehatan dari kliniknya Gayatri untuk memantau tumbuh kembangnya. Sempat diinfo tentang aplikasi Primaku IDAI oleh Siwi, teman sekaligus tetangga saya yang punya anak seumuran Gayatri juga. Tapi tidak saya download karena keterbatasan space di handphone. Hehehe, maklum handphone jadul.

Related Post: Pengalaman Menggunakan Form Denver

Berhubung awal tahun ini dapat rejeki bisa ganti handphone, salah satu aplikasi yang pertama kali saya download adalah aplikasi Primaku IDAI ini, setelah diingatkan lagi sama Mbak Tia di stories IG.

Daaaaaaannnn, saya happy banget dengan aplikasi ini. Beneran berfaedah. Aku bahagia.

Namun sebelum membahas tentang aplikasi ini, izinkan saya untuk membahas satu tema yang menggelisahkan hati. Hal ini jugalah yang mendorong saya untuk menggunakan dan juga mereview aplikasi ini: Early Intervention.

Early Intervention

Sebenarnya istilah ini saya pinjam dari CDC (Center for Disease Control and Prevention), merujuk kepada satu program di Amerika Serikat yang bertujuan untuk mendeteksi dan menangani keterlambatan atau gangguan perkembangan anak sejak dini. Program ini dikhususkan untuk anak-anak usia 0-3 tahun.

Saya tidak akan membahas program ini lebih lanjut. Namun, slogan mereka, “Learn the Signs. Act Early”, inilah yang ingin saya bahas sebelum membahas aplikasi IDAI lebih lanjut.

Anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan normal sesuai dengan usianya, atau bahkan optimal sesuai dengan potensinya, adalah harapan setiap orang tua. Namun sebagai orang awam terhadap ilmu medis (saya sarjana ekonomi, btw), ada kalanya timbul rasa ragu dalam memastikannya.

Hal inilah yang membuat saya, sepertinya kok ribet banget ya. Pakai form ini itu untuk mengecek tumbuh kembang Gayatri.

setrong

Yang pertama, karena saya tidak memiliki latar belakang pendidikannya – nggak punya ilmunya, dan yang kedua sebagai orang tua kadang kita terlalu “narsis” dengan anak sendiri. Hal-hal sedemikianlah yang membuat kita kadang luput atau abai terhadap fakta yang ada.

Ya, sebagaimana kita ketahui, orang awam memang TIDAK BOLEH mendiagnosis delay atau apapun itu namanya. Namun sebagai orang tua, orang tua WAJIB memahami tanda-tanda apakah yang patut dipantau. Sehingga ketika tanda itu muncul, saya bisa berkonsultasi dengan dokter sedini mungkin. Serta juga memberikan informasi yang akurat bagi dokter dalam observasinya.

Menurut IDAI, seribu hari pertama kehidupan anak (mulai kehamilan sampai usia dua tahun) adalah masa yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Keterlambatan atau kekurangan pada masa ini yang tidak segera ditindaklanjuti dapat berdampak pada kesehatan dan kemampuan anak dalam jangka panjang.

So, “Learn the Signs. Act Early” please! Demi anak-anak kita juga.

Apa Saja yang Perlu Dipantau?

1 . Pertumbuhan.

Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran tubuh bayi atau anak. Gampangannya si, anak tambah tinggi, tambah berat, tambah besar (lingkar kepala).

Nah, setelah ditimbang dan diukur tinggi dan lingkar kepalanya, hasil pengukuran tersebut diplot ke kurva pertumbuhan. Cek deh di KMS (Kartu Menuju Sehat) yang dikasih dari RS atau fasilitas kesehatan lain saat melahirkan, di situ ada kurva pertumbuhan.

KMS

Saya mengunduh gambar di atas dari web Kemenkes ini. Mohon konfirmasi ke DSA/ Posyandu terdekat untuk cek keterbaruannya terlebih dahulu saat akan menggunakannya.

Jadi kalau ada yang bilang, “Ih, anaknya kurus. Nggak dikasih makan ya?” Yang pertama sebaiknya dilakukan, janganlah nangis gerung-gerung sambil baper di pojokan dapur. Tapi ceklah faktanya di KMS. Kalau ijo royo-royo, katakan dengan tegar, “Iya, Jeng…. Anak saya memang langsing, kayak saya, nggak kayak situ!” Jangan lupa kibasin dasternya biar hot.

Tapi kalau memang sudah kuning atau malah merah, yuk mari kita menuju bidan, posyandu, dokter anak atau RS terdekat untuk mendapat saran medis yang lebih kompeten dibandingkan komentar pedas netizen. Jangan denial. Dan jangan lupa ucapkan terimakasih ya, sama yang pedas-pedas itu.

2. Perkembangan.

Perkembangan adalah pertambahan kemampuan bayi atau anak.

Contohnya adalah ketika Mertua menelepon dan bertanya, “Ehhhhh, cucuku uda bisa jalan beluuum? Uda bisa ngomong belum? Uda bisa meroda belum? Uda bisa lompat harimau belum? Uda bisa nyetir belum?” Wkwkwkw, no offense ya Papi dan Mem, becanda lo becandaaaa…. Nah, pokoknya yang seperti itulah kira-kira, hehehe….

PhotoGrid_1549927071778-1024x768

Kemenkes RI mengeluarkan KPSP (kuesioner pra skrining perkembangan). Kuesioner ini berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak, sesuai kelompok usianya.

Misalnya untuk usia anak 2 tahun, pertanyaan-pertanyaannya untuk mendeteksi keterlambatan usia 24 bulan adalah, “Apakah anak dapat meletakkan satu kubus di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu?” dan seterusnya.

IDEALnya skrining ini dilakukan oleh tenaga medis ya…. Jadi mereka mengamati perilaku anak. Bukan ditanyain ke anak lo ya pertanyaan di atas. Sehari-hari dilakukan di rumah si boleh, tapi hasilnya tidak menggantikan konsultasi dengan dokter ya.

Cukup sebatas, kalau ditanya Mertua kaya tadi, kita bisa jawab, “Bu…. Lompat harimau itu belum ada di fase perkembangan anak dua tahun…. Mohon ditunggu kira-kira tujuh tahun lagi lah ya….”

Siapa yang Perlu Dipantau, Dimana dan Kapan?

Semua anak tanpa kecuali.

1 . Secara umum, anak atau bayi bisa diperiksa di Puskesmas, atau Posyandu.

Saya sendiri karena (dulu) bekerja keras bagai quda dari jam 8 – 5, tidak bisa datang ke kedua fasilitas tersebut, datangnya ke Klinik Ibu dan Anak pas malam hari.

2 . Untuk bayi/ anak dengan risiko tinggi bisa diperiksakan ke dokter anak di rumah sakit.

Contoh bayi risiko tinggi  menurut IDAI adalah yaitu bayi atau anak yang kelahirannya prematur, memiliki berat saat lahir rendah, bayi baru lahir yang  mengalami infeksi, penurunan kadar gula darah, memiliki sindroma sesak napas, atau pernah mengalami kejang.

Pemantauan tumbuh kembang untuk bayi dianjurkan tiap bulan (dari usia 0 bulan ya, kayak isi bensin, dari enol), biasanya dulu saya lakukan sambil imunisasi. Kemudian anak usia satu sampai dua tahun dianjurkan tiap 3 bulan, dan anak usia dua tahun sampai enam tahun dianjurkan tiap 6 bulan.

Tapi kan kecemasan atas tumbuh kembang anak bisa datang kapan saja.

Apalagi kalau punya tetangga yang julid. #eh

Thats whyyyyy Nyaaah! Punyailah tool pemantauan tumbuh kembang. Bisa buku KMS/ KIA tadi, KPSP atau yang praktis dan menyakup keduanya: Aplikasi Primaku IDAI.

PhotoGrid_1550097488479-1024x768

Review Aplikasi Primaku IDAI

Aplikasi ini adalah aplikasi berbasis smartphone yang resmi dirilis oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Thta’s why namanya Prima, singkatan dari Program IDAI untuk Membangun Anak Indonesia (PRIMA).

Di dalam satu aplikasi ini, saya mendapatkan fitur-fitur yang penting dan sering saya gunakan untuk memantau tumbuh kembang anak saya:

1. Ada form untuk memantau PERTUMBUHAN anak, yaitu adanya kurva pertumbuhan.

Orang tua bisa mengisi berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala anak, kemudian nanti akan diolah dalam bentuk kurva secara otomatis. Selain dalam bentuk kurva/ grafik, olahan data juga akan muncul keterangan apa status gizi anak, apakah baik atau tidak, lalu apakah sudah sesuai antara tinggi dengan berat badannya. Gitu-gitu.

PhotoGrid_1550097346547-1024x768

Enaknya lagi ada rekomendasi nutrisinya. Sayangnya, saya melihat untuk rekomendasi nutrisi di tab pertumbuhan pada aplikasi ini masih umum banget ya. Saya berharapnya ada rekomendasi menu, kemudian ada hitung-hitungan kalori atau berapa gram sayur/ buah/ lauk yang diperlukan.

“Puyeng atulah bikin algoritma aplikasinya….”, kata si mas dan mbak developernya. 😛 Hihihi, emang susah si ya, harus temu muka langsung dengan ahli gizi kalau begini yak.

2. Ada kuesioner untuk memantau PERKEMBANGAN anak.

Yaitu dengan form Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Walaupun form yang digunakan berbeda dengan yang sebelumnya saya gunakan (denver), tapi saya merasa manfaatnya sama, yaitu saya bisa tahu apakah anak saya berkembang sesuai dengan usianya.

Dari 9 atau 10 pertanyaan nanti akan muncul hasil apakah perkembangan anak sesuai, meragukan atau menyimpang.

Nah, berbeda dengan yang di tab pertumbuhan, rekomendasi yang ada di tab perkembangan ini detail dan sangat praktis sekali. Jadi ada dua rekomendasi yang diberikan, yang pertama adalah rekomendasi cara stimulasi per tahap pertumbuhan dan yang kedua adalah rekomendasi atau saran untuk ke dokter anak lebih lanjut.

Kurang lebih seperti ini penampakannya:

PhotoGrid_1550097294719-1024x768

Rekomendasi pertama (seperti foto di atas yang paling kanan) akan muncul otomatis pada setiap perubahan usia. Sementara rekomendasi kedua akan muncul setelah kita mengisi KPSP, pada pilihan deteksi keterlambatan. Apabila terdapat kondisi yang meragukan atau menyimpang, maka aplikasi akan memberi rekomendasi untuk ke dokter anak.

Mantul yak!

Tapi teteuuuup, seperti saya bilang tadi, skrining di rumah tidak menjadikan skrining oleh tenaga medis tidak diperlukan lagi ya. Kalau pas jadwalnya Posyandu, ya sok atulah ke Posyandu, biar dapat juga pendapat yang valid dari yang lebih berkompeten.

Ada dua hal lagi ni yang saya sueneng banget super banget banget banget…. Aplikasi ini juga punya dua hal ini:

PhotoGrid_1550097395439-1024x768

3 . Jadwal Imunisasi (Jadwal IDAI dan PPI)

Kalau jaman saya masih di Bintaro, saya tu manja bener sama dokter anak langganan. Jadi beneran tiap ke sana, beliau yang ingetin harus balik lagi ke klinik tanggal berapa dan imunisasi apa. Giliran pindah rumah, dan belum nemu klinik dekat rumah, ya mau ga mau kudu inget-inget sendiri jadwal imunisasi.

Makanya happy banget pas ngeh di Primaku ada tab Jadwal Imunisasi. Mana ada dua sub tab lagi, jadwal imunisasi lengkapnya IDAI (yang banyak banget antara imunisasi wajib dan imunisasi tambahan. Hmmmm…. istilah wajib dan tambahan ini sepertinya kurang pas ya, tapi sepertinya istilah ini kan ya yang paling common sense.

Nah, kalau jadwal PPI ini adalah jadwal imunisasi yang program pemerintah, alias yang disubsidi, atau yang sering ibu-ibu komplek sebut dengan imunisasi wajib.

Kelebihannya, di Primaku jadwal imunisasinya sudah disesuaikan sama tanggal lahir anak. Jadi kita ndak perlu ngitung lagi manual, seperti kalau kita cek jadwal pakai tabel. Life saver banget buat nyonya (yang) malas kaya akoooh.

Room for improvement: Bakal lebih enak banget buat user si sebenernya kalau aplikasi ini diintegrasiin sama google calendar ya. Jadi pengguna android bisa ada pop up nya gitu, reminder kalau besok kudu imunisasi. Ting tung ting tung!

Ahhh, malas kali kau Nyahhhhh! Uda gratis pun banyak mintanya!

Wkwkwkwk….Yah, namanya juga usaha Buuuuk! Kalau dikabulkan syukur, kalau engga, aplikasi yang sekarang juga uda cucok meong kok. Sampai saya sukarela bikinin artikel lebih dari seribu kata gini kan.

4 . Artikel kesehatan (>200 artikel)

Fitur terakhir ini jarang saya manfaatkan sebenarnya, tapi pernah. Dan bukan berarti nggak bermanfaat. Hanya memang preferensi saya untuk baca artikel dari laptop aja si. Biar bisa buka banyak tab, sambil bikin pointer dan mata minus saya juga nggak jadi jereng.

Buat yang commuting PP rumah dan kantor, bisa banget ni jadi bahan bacaan daripada follow akun lambe lambe. Julid itu berat, Sistur, kamu nggak akan kuat. Biar aku aja.

Okelah kalau begitu.

hehehe

Berhubung sudah nembus 1500an kata, dan sebelum makin banyak mertua, tetangga dan juga admin lambe yang membenci saya, sebaiknya saya sudahi sampai di sini.

Buat yang mau aplikasi ini download aja! Di Appstore dan Playstore ada.

Trus kalau bingung, bisa cek tutorial dan FAQ di website www.primaku.com.

Semoga sharing kali ini bermanfaat yaaa! Kalau ada teman-teman dokter/ tenaga medis yang mau menambahi atau mengoreksi, atau ada temen ibu-ibu mau curhat atau sharing juga tentang aplikasi IDAI atau apapun, boleh kasi komentar yaaa!

Yang pasti jangan konsultasi, konsultasi mah di pusat kesehatan yaaak! Salam sayang!

.

.

.

.

.

.

Referensi:

  1. https://www.primaku.com/
  2. https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/parents/states.html
  3. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pemantauan-pertumbuhan-anak
  4. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-memantau-pertumbuhan-dan-perkembangan-anak-bagian-1
  5. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-memantau-pertumbuhan-dan-perkembangan-anak-bagian-2
  6. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pentingnya-pemantauan-tumbuh-kembang-1000-hari-pertama-kehidupan-anak
Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Sapih (Part 2)

2019-02-04 03.11.50 1-1024x1365

Lanjoootttt niiii, masalah sapih menyapih. Hehehe…. Seperti yang minggu lalu saya ceritakan di Sapih Part 1, kami mengadopsi konsep beberapa WWL, termasuk yang, “tidak menolak, tidak menawari” nenen selama masa pra sapih. Hanya saja pada saat kami lihat Gayatri sudah siap pisah nenen 100%, kami mulai melakukan “menolak” permintaan nenen.

Wajib dan kudu baca postingan Sapih Part 1 ya….. Biar related.

Tentu saja ada beberapa poin terkait hal menolak permintaan nenen ini ya, supaya bocah tidak patah hati, yang berujung pada retaknya hubungan antara ibu dan anak. (((retaknya))) Bahasa saya uda kaya sinertron jaman dulu kala ya, hehehe…. Nah, yang kami lakukan adalah sebagai berikut:

2019-02-04 03.11.47 1-1024x1365

MASA SAPIH

1. Lihat kesiapan anak dan ibu.

Kesiapan ini benar-benar harus dikonfirmasi betul ya. Jangan hanya karena sudah deadline, atau karena sudah disounding lama, maka lalu otomatis akan siap. Kagak! Lamanya waktu sounding tidak menentukan anak auto siap.

Kemarin di stories ada yang cerita hanya 2 bulan uda siap. Gayatri sendiri 6 bulan baru siap. Ada juga yang cerita kalau uda sounding lama, pas disapih tetep nggak mau.

Saya sendiri menyimpulkan Gayatri sudah siap, adalah ketika Gayatri sendiri bilang setelah tiup lilin, “Gayatri sudah besar yah, nggak nenen.” Oke deh. Nggak nenen kita.

Oiya, saya juga ingin menekankan tentang kesiapan ibu juga ya…. Hehehe. Karena kadang bocahnya woles, ibunya yang drama!

hehehe

Saya maklum si, karena kan menyusui itu sesuatu yang emosional ya. So sweet banget. Banyak kok, ibu-ibu yang pada masa sapih bilang kalau jadi mellow dan juga merasa nggak rela kalau anaknya disapih.

Trus kalau salah satu dari ibu atau anak ternyata dikonfirmasi nggak siap gimana? Kalau kami kemarin rencananya si nambah waktu lagi buat sounding, sampai kesiapan kami terkonfirmasi. Gitu sih. Kan nggak ada juga yang bakal kasih denda yak kalau sapihnya lama, hehehe….

Ga dosa juga kan nyusuin lebih dari dua tahun. Saya pas dua tahun, ya bersyukur juga, bocah dan sayanya pas uda siap.

2. Konsisten dan persisten sama kesepakatan pra sapih.

Memulai untuk konsisten sebenarnya adalah hal yang susah, ketika anaknya mulai nego. Apalagi kalau negonya memelas. Hehehe…. Memang kudu bijaksana menilai, apakah saat itu dia sedang benar-benar butuh nenen, atau sekedar nego.

Karena kalau di pengalaman Gayatri, kebanyakan dia memang memelas untuk nego. Dan anaknya memang pinter nego. Hehehe….

“Ibuk, Aci mau nenen.”
“Masih ada nenennya tuuu….”
“Satu aja buk nenennya. Satu aja….”
“Aci masih kecil, nenen dulu.”

hiks

Ya kudu nguatin hati bener ini…. Sambil terus dipeluk sayang, elus-elus, sesuai dengan kesepakatan. Di titik ini saya beneran ngomong sama diri sendiri, kalau sapih itu nggak jahat kok. Asal kita tetap berusaha membuatnya tenteram dan nggak trauma.

Saya juga bilang ke diri saya sendiri, “Wajar, kan kalau Gayatri rewel, wong dua tahun dia hidup dari nenen.” Kalau dia nggak merasa kehilangan malah sedih sayanya, wkwkwk…. Yah intinya, kata-kata penguatan dan penghiburan buat diri sendiri.

3. Bikin anak senyaman mungkin.

Rada dramanya ya pas mau tidur malam. Soalnya dia kebingungan mulai tidurnya karena biasa bobo sambil ngenyot nenen kan…. Jadi agak rewel. Saya inget dulu kata Miss di daycare, Aci kalau di daycare maunya bobok ditepuk tepuk bokong sambil dinyanyiin kasih ibu. Jadi saya lalukan.

Rewel agak lama. Minta ini itu, diturutin aja (kecuali minta nenen tentunya). Setelah kehabisan ide, dia mulai nangis bombay. Saya mengalihkan perhatian pakai lagu cicak cicak di dinding, sambil gendong. Soalnya biar bocah dangak. Kalau dangak refleks akan diam nangisnya. Coba deh. Setidaknya dia bisa istirahat ambil napas dan sedikit tenang. Baru lepas jam 10, dia tidur.

Gayatri terbangun dua kali. Tengah malam dan subuh. Pas saya sudah kelelahan, ganti Suami yang peluk dan puk puk Gayatri.

Oiya saya juga diffuse EO Lavender buat bantu saya tetap tenang dan kalem, nggak emosian selama nyapih. Menurut saya, menjaga emosi ibu ini penting banget ya. Saya memang pengguna EO dari setahun ini jadi uda tahu banget kalau ngefek ke saya. Selain itu saya juga makan enak dan banyak biar ga laper, serta minum kopi biar nggak ngantuk. Saya kalau laper + ngantuk gaswat galaknya soalnya hahaha….

Di hari kedua, selain diffuse Lavender, saya oles juga ke kening dan jempol kakinya. So far ngefek bikin dia kalem. Tips ini saya dapat dari mom elly @pristinelly, produk oil Young Living juga bisa dibeli di akun tersebut.

Selain gendong, nyanyi, puk puk dan EO, ada satu hal lagi yang menurut saya patut dilakukan saat sapih: meminimalisasi penggunaan gadget pada orang tua, jadi anak merasa benar-benar diperhatikan.

2019-02-04 03.11.50 1-1024x1365

4. Tutup akses ke nenen.

Hari kedua ini Gayatri sudah nggak minta nenen, cuma kadang ngeliatin atau ngelus dada saya. Saya uda persiapan pakai kaos yang bukan kaos busui, selain itu juga saya rangkap kaosnya pakai tank top. Jadi mempersulit akses.

Ide nutup akses ini saya adaptasi dari tipsnya mbak @egadioni. Kalau beliau pakai stiker. Ibu-ibu bisa sesuaikan juga mana yang paling pas dengan kondisinya ya….

Mengatasi Payud*ra Sakit saat Sapih

Di hari kedua ini, yang agak bermasalah malah saya. Soalnya payud*ra mulai terasa penuh, karena produksinya sepertinya masih lumayan dan agak sakit kalau kesenggol. Nah, ibu-ibu yang mau sapih jangan melupakan kondisi diri sendiri yaaaa…. Kadang terlalu fokus sama anak, jadi lupa kalau harus juga memikirkan tubuhnya.

*sorry, saya sensor tulisannya soalnya sering kedettect sebagai konten dewasa sama Google Ads. Harap maklum ya….

Saya sempat menanyakan di stories tentang payud*ra yang penuh saat sapih ini. Tips dari Kak Chen (senior saya di kampus yang juga konselor ASI) adalah dikeluarkan saja ASInya sebagian sampai terasa nyaman. Tapi tidak perlu sampai kosong, agar tidak terus mendorong produksi ASI. Beberapa teman yang lain, bilang jika tidak terlalu sakit dibiarkan saja.

Saat itu karena masih bearable, saya biarkan saja, tidak saya pompa.

Di hari ketiga, payudara saya juga mulai nggak sakit lagi. Entah kenapa jadi lemes sendiri, berkurang kaku dan juga nggak nyeri banget. Thanks God pertolonganMu.

Setelah semingguan sapih, saya masih tetap lanjut sounding tipis-tipis. Dampak positif setelah sapih adalah, Gayatri tidak sering terbangun lagi di tengah malam untuk nenen. Saya bersyukur banget, jadinya tidurnya lebih berkualitas ya. Saya juga jadi bisa mengerjakan beberapa pekerjaan di malam dan saat fajar.

Simpulan sapih versi nyonyamalas:

  • sounding yang lengkap dan jauh jauh hari, ini sepertinya kunci utamanya ya. Kalau kasusnya Gayatri, saat kognitifnya uda dapet, kesiapan hatinya lebih mudah diraih,
  • lihat respon dan kesiapan anak,
  • peluk dan jaga emosi,
  • konsisten dan persisten tapi tetap kalem,
  • tutup akses payudara.

Semoga sharing kali ini bisa bermanfaat yaaa! Saya sadar kalau mungkin aplikasinya di keluarga teman-teman bisa bervariasi, jadi saya mendorong teman-teman untuk mengadaptasi/ menyesuaikan dengan kondisi masing-masing ya! Beberapa pengalaman teman-teman lain yang saya screenshoot saya share di Instagram @nyonyamalas di highlight SAPIH ya…. Semoga bisa sharing lagi via stories ya.

Salam sayang untuk putera-puterinya! Semoga lancar sapihnya!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Anak Aktif Itu Sehat, bersama Susu Indomilk UHT Kids Full Cream

PhotoGrid_1548666639598-1024x1365
“Eh, buset dah, tu bocah kagak bisa diem. Hiperaktif kali yak,” atau kalau tidak, “Ih, nakal banget si. Rusak kali ya setelan baterenya,” seringkali saya mendengar komentar seperti ini di kalangan ibu-ibu. Hehehe, peace ya Buk Ibuuuk! Tidak sedang mengomentari Gayatri, anak saya si, tapi tak urung saya membatin, “Bukankah anak aktif itu sehat ya…. Bukankah tanda mereka sedang asyik-asyiknya bereksplorasi.”
Saya berkaca pada Gayarti soalnya. Usianya dua tahun saat ini, dan memang usia dua tahun sering kali disebut dengan terible two ya, saking mereka bergerak terus plus ngoceeeeeh terus. Hihihi, ada aja tingkah laku mereka yang membuat para ibu mengelus dada. Sambil bergerak, lari-larian, tangan mereka pun sering berhenti pada barang baru untuk kemudian dilihat atau dimainkan. “Apa tu? Apa tu?” celotehnya sambil nggrathil.
PhotoGrid_1548666382338-1024x768
Tapi walaupun merepotkan, menurut saya terlalu dini untuk menilai anak usia dua tahunan mengidap hiperaktif. Dari yang pernah saya baca dari American Academy of Pediatrics, diagnosa hiperaktif yang dalam artikel ini merujuk pada Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) baru bisa dilakukan pada rentang usia 4 – 18 tahun. CMMIW. Itu pun harus dokter yang melakukannya.

Perbedaan antara Anak Hiperaktif (ADHD) dengan Anak Aktif

Bagi orang tua, seperti saya juga, yang awam terhadap ilmu ini, memang sulit untuk membedakannya. Namun menurut Sani B. Hermawan, Direktur Lembaga Psikologi Daya Insani, Jakarta pada Kompas, ada beberapa ciri yang bisa dijadikan gambaran, untuk membedakan mana anak hiperaktif (ADHD) dan anak yang aktif sebagai berikut:
  • Anak hiperaktif (ADHD) cenderung tidak bisa mengenali rasa lelah pada tubuhnya.
  • Yang kedua, mereka memiliki kecenderungan untuk impulsif, yaitu bergerak konstan namun sulit kita kenali apa tujuannya.
  • Yang ketiga mereka memiliki kecenderungan untuk merusak atau destruktif.
  • Dan yang keempat, mereka kesulitan untuk fokus atau berkonsentrasi.

Nah, anak aktif yang sehat, tidak demikian. Jadi selama anak memiliki konsentrasi yang baik dan juga mampu mengenali rasa lelahnya, maka menurut saya keaktifan mereka perlu kita dukung. Malah perlu kita stimulasi.

PhotoGrid_1548666743324-1024x768

Saya cukup concern, dan ingin menekankan hal ini karena, menurut saya, melabel negatif anak dengan istilah “hiperaktif” atau yang lebih umum dengan sebutan “nakal” saat anak sedang aktif-aktifnya, bisa membawa orang tua pada cara asuh yang salah. Alih-alih memfasilitasi dan juga mendukung keaktifannya, orang tua akan jadi cenderung membatasi atau malah memarahi anak.

Kenapa anak aktif itu sehat?

1 . Aktif adalah tanda bahwa anak sedang belajar.

Ya, “belajar” dalam hal ini bukan dalam kerangka akademis ya, namun bereksplorasi dengan tubuhnya maupun dengan lingkungan sekitarnya.
Saat anak mulai bisa berjalan, “dunia”nya mulai terbuka tidak hanya sekedar pada tubuh ibunya. Apa yang terlihat sebagai keusilan dan keisengan, bisa jadi adalah cara anak mencari tahu tentang lingkungannya dengan panca inderanya; melihat, menyentuh, memegang, mencium atau bahkan menjilat!
 Apa yang terlihat sebagai polah yang membuat mengelus dada, bisa jadi adalah cara anak untuk belajar menggerakkan anggota tubuhnya. Dia belajar mengoordinasikan tangan, kaki dan juga penglihatannya. Sayang sekali kan, kalau kegiatan mereka dibatasi, padahal eksplorasi itu penting sekali bagi perkembangan fisik maupun mental anak.

2 . Yang kedua, keaktifan fisik bisa membuat anak makin sehat.

Bagaimana tidak, keaktifan anak secara tidak langsung kan seperti olahraga fisik ya. Tentu saja, otot-ototnya pun akan semakin kuat. Selain itu, aktivitas anak juga akan menjauhkannya dari obesitas dan beberapa penyakit terkait. Apabila orang tua memfasilitasi dengan kegiatan outdoor, anak pun bisa dapat bonus udara segar dan sinar matahari yang baik untuk tubuhnya.
Selain itu, saat bermain anak pun merasakan kegairahan karena hormon-hormon dalam tubuhnya bekerja. Tentu hal ini baik baginya karena membuatnya bahagia. Anak yang bahagia tentu juga akan lebih sehat bukan?
PhotoGrid_1548666677180-1024x1365

Dukungan Orang Tua untuk Anak yang Aktif dan Sehat

Sebagai orang tua baru, saya mengakui juga kalau kadang melakukan pengasuhan dengan trial error. Tapi ya namanya usaha, tentu tidak ada salahnya ya Buk Ibuuuk. Berikut adalah hal-hal yang menurut saya penting untuk mendukung anak yang sehat dan aktif:

1 . Memberikan Stimulasi/ Fasilitasi Kegiatannya

Hal sederhana yang sering saya lakukan bersama Gayatri di rumah adalah, jalan-jalan ke taman komplek. Kadang sambil membawa sepedanya, atau sekedar berjalan kaki. Di usia dua tahun yang menjadi perhatian saya adalah kemampuannya berlari, melompat, meniti garis lurus, lempar tangkap bola dan berayun. Jadi kegiatan-kegiatan yang kami lakukan terkait dengan hal tersebut.

2. Memberikan Makanan dan Minuman secara Sehat

Selain memberikan stimulasi dari luar tubuh, tentunya penting juga mendukung keaktifan anak dari dalam tubuhnya. Saya bersyukur, Gayatri tidak mengalami gangguan makan yang berarti. Nafsu makannya cukup baik dan tidak pilih-pilih makanan. Daging merah, udang, ikan, belut, tempe, tahu, berbagai sumber protein hewani dan nabati dia konsumsi dengan happy. Kesukaannya pada buah dan sayur juga memudahkan saya untuk memberi asupan vitamin baginya. Disamping itu, setelah masa sapih, saya tetap memberikan susu padanya.
PhotoGrid_1548666639598-1024x1365
Walaupun kalori yang terbesar, Gayatri dapatkan dari makanan padat. Namun, susu bagi keluarga kami adalah sumber kalsium utama yang paling mudah dijangkau dan juga relatif lebih murah dibandingkan sumber kalsium lainnya. Susu favorit yang kerap kali saya berikan pada Gayatri adalah Susu Indomilk UHT Kids Full Cream , walaupun terkadang rasa lain pun kami berikan sebagai variasi, namun concern terhadap kandungan gula yang rendah menjadikan kami tetap menawarkan varian full cream ini padanya.

Susu Indomilk UHT Kids Full Cream untuk Mendukung Anak Aktif dan Sehat

Alasan mula-mula kami memilih Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah karena susu ini adalah susu UHT. Beberapa hal yang kami sukai dari Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah:

1 . Gayatri cocok.

Alasan yang paling penting adalah, Gayatri tidak mengalami reaksi negatif, seperti mencret, gatal-gatal, perut kembung, dll saat mengonsumsi susu ini. Dalam kemasan sendiri disebutkan bahwa Susu Indomilk UHT Kids Full Cream bisa dikonsumsi bagi anak di atas 12 bulan. Namun, please keep in mind, kalau masih ada ASI, sebelum dua tahun susu terbaik buat anak tetaplah ASI ya.

2. Praktis

Saat di rumah maupun di perjalanan, kami tidak perlu menyeduh susu dengan air panas. Kami bisa meletakkan tiga kotak susu di rak Gayatri, dan Gayatri kami latih untuk mengambil dan meminumnya sendiri, tentunya dalam pengawasan saya. Kemasannya juga tidak terlalu sulit untuk digenggam oleh tangan yang masih kecil. Kepraktisan ini, mendukung gaya pengasuhan kami, dimana menekankan kemandirian anak dan juga responsive feeding. Ukurannya yang compact juga membuatnya mudah kami bawa sebagai bekal saat Gayatri bermain di luar rumah.

3. Aman (Terjamin Kebersihannya)

Aman dalam hal ini adalah terkait dengan jaminan bakteri yang terdapat dalam susu telah mati. Pemanasan UHT dan juga pengemasan Tetra Pack membuat kami yakin bahwa produk yang kami terima tetap dalam kondisi yang baik. Hal ini yang membuat kami memilih UTH dibandingkan susu pasteurisasi karena kualitas susu pasteurisasi masih sangat bergantung pada proses penyimpanannya.

PhotoGrid_1548667417432-1024x1365

Selain itu, yang paling utama adalah beberapa poin di bawah ini, yang kami yakini mendukung keaktifan anak sekaligus menjaganya tetap sehat:

4. Kandungan gulanya rendah

Dalam kemasan disebutkan bahwa komposisi produk ini adalah susu sapi segar, air, susu skim bubuk dan penstabil nabati. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada gula tambahan yang diberikan pada produk ini. Saya happy sekali. Berikut adalah alasan mengapa saya senang dengan produk yang rendah gula:

  • sebagai orang tua, tentunya kita familiar dengan apa yang disebut dengan sugar rush atau keaktifan anak yang disebabkan oleh naiknya gula darah, mitos ataupun tidak, kelebihan gula memang tidak baik karena meningkatkan risiko diabetes,
  • meminimalisasi kerusakan gigi,
  • meminimalisasi anak menjadi kenyang karena rasa manis, dan tidak mau mengonsumsi makanan lain.

Memang dalam produk ini disebutkan terdapat 5 gram karbohidrat total dalam setiap kemasan 115 ml-nya, namun jumlah ini pun kalau saya bandingkan dengan produk lain masih tergolong rendah.

5. Kandungan Kalsium

Seperti yang saya sebutkan di atas, alasan terutama kami mengonsumsi susu, dan terutama untuk Gayatri, anak saya, adalah untuk memenuhi kebutuhan kalsiumnya. Mengingat susu adalah sumber kalsium terbaik yang sekaligus juga terjangkau bagi keluarga kami. Nah, Susu Indomilk UHT Kids Full Cream dalam 115 ml diklaim mengandung 30% kebutuhan kalsium anak.

Kalsium penting guna mendukung keaktifan anak, karena kekurangan kalsium dapat menyebabkan osteoporosis (pengeroposan tulang) dan rakhitis (pelunakan tulang yang berakibat kelainan bentuk tulang) dan terkadang sakit pada otot.

6. Kandungan Vitamin D

Mendukung poin kelima, yang saya salut dari Indomilk dalam mendesain Susu Indomilk UHT Kids Full Cream adalah karena mereka melengkapi produk ini dengan Vitamin D. Saya bilang ini cerdas si, soalnya untuk menyerap kalsium secara optimal, tubuh manusia memang membutuhkan vitamin D. Jadi produk ini sudah menyediakan duo combo kalsium dan vitamin D. Semoga dengan hal ini penyerapan kalsium bisa optimal dan memenuhi kebutuhan anak.

7. Kandungan Gizi Lain

Dalam Susu Indomilk UHT Kids Full Cream juga terdapat zat gizi lain yang mendukung anak aktif dan sehat seperti:

  • lemak yang memberikan energi,
  • vitamin B kompleks yang membantu dalam proses penghasilan energi dan juga menjaga kesehatan syaraf,
  • zat fosfor yang mendukung kerja otot, dll.

Kandungannya lengkap dan seimbang, oleh karena itu saya yakin untuk mengikutsertakannya dalam rangkaian menu makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh anak saya sehari-hari.

PhotoGrid_1548666789584-1024x768

Banyak hal positif yang bisa kita dapatkan dari konsumsi susu dan juga aktivitas fisik anak, ya…. Semoga sharing kali ini makin membuat Teman-teman semangat untuk support anak dalam hal aktivitas maupun pemenuhan gizinya…. Teriring doa semoga anak-anak kita semua selalu aktif dan juga sehat!

Oiya, artikel ini saya ikut sertakan dalam Blog Competition yang diadakan oleh Indomilk, dengan pengalaman yang saya ceritakan berdasarkan pembelajaran dan pengalaman saya pribadi. Teman-teman, bisa juga ikut lomba ini loh, info lebih lanjut bisa cek media sosial dengan tagar #IndomilkUHTKidsFullCream #AktifItuSehat atau langsung ke web ini.

Semoga sharing kali ini bermanfaat yaaa! Salam sayang!

Sumber:

  1. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder: https://www.aap.org/en-us/about-the-aap/aap-press-room/pages/AAP-Expands-Ages-for-Diagnosis-and-Treatment-of-ADHD-in-Children.aspx
  2. Beda Anak Hiperaktif dan Superaktif: https://edukasi.kompas.com/read/2009/07/16/12460644/read-brandzview.html
  3. Pentingnya kalsium: https://hellosehat.com/parenting/nutrisi-anak/kebutuhan-kalsium-untuk-anak/
Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Sapih (Part 1)

weaning with love

Heyyyaaaaa!!! Gayatri uda dua tahun aja ni bulan ini. Hehehe…. Seperti kesepakatan saya dan suami, kami akan melakukan sapih dengan mengadaptasi metode weaning with love. Dalam artikel ini kami akan sharing bagaimana cara kami menyapih Gayatri ya. Sharing pengalaman saja dan tidak bermaksud menyatakan bahwa cara ini paling benar atau bagaimana.

Walaupun memang cocok pada kami, memang belum tentu cocok untuk anak atau orang tua lain. Tapi siapa tahu cocok kan yaaa…. Hihihi….

Tentang Metode Menyapih

Banyak yang membahas tentang cara sapih dengan Weaning With Love. Saya sendiri mengadaptasi beberapa poin-poin dari WWL ini. Beberapa di antaranya adalah:

  • menyapih dengan mempertimbangkan kesiapan bayi,
  • tidak dengan “menipu”,
  • mengalihkan perhatian dengan kasih sayang (pelukan, tepuk tepuk lembut, dll).

Yang tidak saya adopsi dengan saklek adalah prinsip “don’t offer, don’t refuse“. Karena pada masa pra sapih (saya menyebutnya demikian) mulai dari 18 bulan s.d. 24 bulan saya melakukan prinsip ini sambil terus sounding. Namun setelah usia 24 bulan, dalam beberapa negosiasi yang dilakukan Gayatri, saya menolak dengan halus permintaannya untuk menyusu. Tentunya karena saya menilai saat itu Gayatri meminta menyusu bukan karena kebutuhan, namun karena kebiasaan menjelang mau tidur. Hal ini juga mempertimbangkan karakter dan rules di rumah masing-masing ya…..

Namun bukan berarti saya bilang orang yang tidak menggunakan cara-cara WWL ini tuh menyapih tidak dengan cinta yak. Ya enggak juga keles, thats wahy saya jarang sekali menggunakan frasa tersebut.

Setiap ibu (yang normal) saya rasa akan mengambil keputusan apapun dilandasi dengan cinta. Setidaktahu apa pun ibu terhadap metode-metode terbaik abad ini, dan secanggung apapun dia melakukannya, saya tetap yakin para ibu melakukannya dengan cinta. Cinta kepada anaknya.

love love

So please, jangan saling menghakimi metode mana yang paling baik dan paling penuh cinta ya…. Yang ada adalah metode mana yang paling cocok bagi keluarga. 🙂

Related Post: Orang Tua yang Yakin

Tentang Usia Menyapih

Oiya, tentang usia yang tepat untuk menyapih, sebenarnya memang tidak ada batas waktu yang saklek ya tentang masa sapih ini. Kami melakukannya pada usia 2 tahun, karena memang ingin Gayatri menikmati ASI setidaknya sampai 2 tahun. Walaupun saya tidak berhasil ASIx namun tetap ingin memberi ASI sampai dua tahun sesuai anjuran dokter.

Selain itu, kami rasa dengan beberapa persiapan yang telah kami lakukan sebelumnya sejak usia 18 bulan, Gayatri telah siap di usia tersebut.

Oiya, kesiapan Gayatri ini beneran kami konfirmasi ya. Bukan hanya perasaan saya semata….

Nah, inilah yang kami lakukan sebelum dan saat menyapih Gayatri. Untuk kemudahan teman-teman membaca, saya akan membagi ke dua tema bahasan: Pra Sapih dan Sapih. Lalu di masing-masing tema akan ada sub tema untuk menghighlight beberapa pesan ya. Nggak saklek bingit si, cuma biar lebih mudah dipahami saja….

Di artikel ini saya bahas tema satunya dulu ya…..

PRA SAPIH

1. Kesepakatan dg suami

Poin 1 intinya saya dan suami sepakat untuk memulai sapih segera setelah usia 2 tahun. Sepakat juga untuk pakai cara sounding jauh-jauh hari karena metode ini beberapa kali kami pakai dan bisa masuk ke Gayatri dg efektif. Soundingnya sebenarnya mulai dari 18 bulanan. Namun mulai intens dua bulan sebelum Gayatri dua tahun, dan sebulan sebelumnya bisa dibilang tiap hari soundingnya.

Saya sendiri juga sudah meyakini bahwa saya sebagai ibu, siap untuk menyapihnya. Jadi nggak mellow, atau masih ragu dan galau. Saya memahami, kalau kontak saat menyusui adalah sesuatu yang sangat indah, yang kadang bagi ibu sulit untuk melepaskannya.Ibu pun sering merasa jahat atau bersalah saat menyapih. Hal tersebut harus dihindari.

setrong

Karena perlu disadarai juga bahwa menyapih juga adalah kebutuhan bagi anak. Masa-masa baginya untuk belajar bahwa dunianya itu besar, tidak sebatas pada tubuh ibunya. Dia juga akan belajar bahwa dirinya bisa dan mampu untuk (mulai) mandiri. Jika dilakukan tanpa trauma, saya rasa hal ini dapat dicapai.

Kembali lagi, apapun keputusan parenting, mau sapih umur 3 tahun dan mau pakai cara apapun sebaiknya hasil diskusi dari kedua orang tuanya ya. Karena bagaimanapun nanti, ibu akan butuh bantuan dan support suami saat menjalaninya.

2. Sounding ke anak dan keluarga

Sounding ke Gayatri sudah mulai sejak dia 18 bulan. Tapi nggak intens. Baru mulai intens dibicarakan dua bulan sebelum sapih. Dan sebulan sebelum sapih bisa dibilang setiap hari selalu disounding. Kadang serius njelasin, kadang nyeletuk-nyeletuk aja.

Poin ini si yang menurut saya jadi senjata weaning with love di keluarga kami.

Apa yang disounding?

1. Kapan sapih

Berikut beberapa poin pertanyaan yang saya ajukan pada diri sendiri dan kemudian bicarakan dengan Gayatri.

  • Kapan Gayatri mau disapih? Saat ulang tahun 2 tahun.
  • Kapan ulang tahun? – – – – Januari
  • Kapan itu januari? – – – – Habis Desember (lihat kalender)
  • Kapan sapihnya start? Habis tiup lilin dan potong kue.

IMG_20190113_130519-1024x1365

PRnya adalah karena masalah waktu sifatnya adalah konsep. Dan konsep waktu ini belum dipahaminya. Jadi harus menurunkan ke hal-hal yang Gayatri familiar dulu.

Kami menjelaskan ulang tahun dengan tiup lilin dan potong kue sebagai penanda waktu. Walaupun sebenarnya tidak terbiasa merayakan ultah juga, tapi hal itu yang paling familiar sama Gayatri. Karena di daycare sering ada yang merayakan ulang tahun dengan tiup lilin dan potong kue. Syukurlah Gayatri ingat momen ultahnya Rafka, Atano dan Malik. Jadi kalimatnya, “Gayatri mau ulang tahun. Tiup lilin. Tiup lilin sudah besar ya…. Sudah besar tidak nenen.”

Kami jelaskan kalau Gayatri ulang tahun di Januari. Januari habis Desember. Dia nggak tahu apa itu Januari dan Desember. Jadi ya dibilang aja pas Desember, ini bulan Desember. Habis Desember Januari ya…. Pas masuk Januari dibilang lagi, sekarang uda Januari. Bisa juga pakai kalender. Gayatri ulang tahun 10 hari lagi (misal) sambil nunjukin jari 10. Besoknya gitu lagi nunjukin jari 9, dst. Kami mulai gitu H-10 karena Gayatri tahunya angka ya baru 1-10 hehehe….

2. Kenapa sapih

Tentu sebenarnya alasan sapih dalam sebuah keluarga sangat kompleks ya. Yang pasti terkait dengan kebutuhan bayi, kondisi ibu maupun kondisi keluarga.

Misalnya, orang tua seudah merasa cukup memberikan ASI sampai 2 tahun saja sesuai anjuran WHO dan IDAI, atau karena masalah kesehatan ibu, atau masalah rencana program anak selanjutnya, dll. Namun bagi kami, yang perlu disampaikan ke Gayatri, tidak semuanya, hanya beberapa hal sebagai berikut:

  • Umur 2 tahun sudah besar,
  • Besar itu seperti apa, gambaran atau deskripsi kata “besar”,
  • Besar berarti tidak nenen.

Kami menjelaskan konsep “sudah besar” sama dengan Mas Malik. Teman daycarenya yang paling besar. “Mas Malik sudah besar, Mas Malik nggak nenen.” Konsep ini clear saat Gayatri sendiri sering bilang ke kami kalau Mas Malik nggak nenen. Hehehe…. Ini butuh beberapa hari ya. Nggak instan.

weaning with love

3. Bagaimana setelah sapih

Yang jangan lupa disounding adalah skenario setelah tidak nenen sebagai berikut:

  • Gimana kalau Gayatri pengen nenen,
  • Gimana kalau Gayatri mau bobok (karena Gayatri biasa bobok sambil menyusu).

Kami memilih untuk bilang,  “sudah besar minumnya susu kotak. Kalau pengen nenen ambil susu kotak. Susu kotak di rak.” Keteraturan posisi ini ternyata membantu juga. Jadi dia nggak dalam kondisi nol banget saat sapih. Uda tau “exit procedure”. Tentunya Gayatri juga sudah bisa minum susu kotak (pakai sedotan) dan doyan juga ya.

Yang lebih penting lagi, kami juga bilang kalau, “Walaupun Gayatri sudah ga nenen, ibuk tetap sayang. Gayatri ga nenen, boleh peluk erat. Kalau ngantuk peluk ibuk. Nanti ibu puk puk sambil nyanyi sampai Gayatri bobo. Kalau sedih peluk ibuk. Peluk sayang.”

Tentu saja masalah peluk erat, puk puk dan nyanyi ini disesuaikan dengan bagaimana kebiasaan anak sebelumnya, kalau bobok saat nggak ada ibunya ya…. Kebiasaan puk puk dan nyanyi ini adalah informasi dari daycarenya Gayatri dulu, Sementara kalau peluk, itu kebiasaan Gayatri kalau bobok sama bapaknya.

***

Yang melakukan sounding ke Gayatri ini tidak hanya saya. Hal di atas tentunya juga dilakukan oleh suami saya ke Gayatri. Pokoknya satu suara. Karena kami sering juga ngumpul keluarga bareng kakak ipar. Kakak ipar dan ponakan-ponakan juga tahu tentang ini dan ikutan bantu sounding juga.

So far saya merasakan bahwa sounding ini ngebantu banget. Mungkin karena Gayatri tipe yang (saya duga) thinking ya. Seperti saya. Jadi lebih mudah disentuh melalui kognitifnya dulu. Dia akan memahami sesuatu baru kemudian menerimanya. Setelah masalah pemahamannya kelar, baru kemudian menjaga hati dan perasaannya agar legowo.

Cerita selanjutnya saat masa sapih akan saya ceritakan di postingan berikutnya DI SINI yaa! Semoga bermanfaat! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!