Berburu Tiket Kereta Api

25 Februari kemarin uda dapat tiket kereta api belom buat mudik?

Belum?

Kasiaaan. Saya doooong! Nggak mudik. #mintadigaplok Hehehe….

Saya sendiri, walau nggak pernah ikutan mudik pakai kereta api. Selalu kecipratan hebohnya perburuan tiket kereta api. Bagaimana tidak, hampir sebagian besar eks teman kantor kan orang rantau ya. Jadi pasti pada berburu tiket kereta bareng-bareng, tu. Saling pantau di grup kantor. Atau malah saling titip. Rame banget deh.

2019-03-19 07.32.03 1-1024x768

Tips Berburu Tiket Kereta Api Lebaran

Berikut beberapa tips berburu tiket kereta api untuk mudik yang saya dapatkan dari rekan-rekan kantor:

1 . Pastikan jaringan internet kamu lancar.

Yang paling sering kejadian adalah, tiket udah dipilih, tiba-tiba loading lemot, trus keburu disamber orang. Rasanya tu, perih, kaya mantan baru putus sebulan uda kawin sama temen sendiri.

2 . Siapkan jadwal kereta api.

Sebelum beli, sebaiknya kita sudah tahu jadwal kereta api yang mau kita pilih.

Pastikan tanggal berapa mau berangkat dan kapan mau kembali. Jangan on the spot milih di web baru mikir. Sesuaikan jadwal cuti pasangan, jadwal liburan anak, misalnya. Tarik ulur ini kadang-kadang makan waktu ya, jadi dipastikan dulu.

Kota tujuan juga ya, sudah ditetapkan dulu. Buat yang single ini mah bukan perkara sulit ya. Yang uda berkeluarga ni, mudik bisa jadi satu sumber pertikaian rumah tangga. Mau mudik ke rumah orang tua atau mertua ni?

3 . Simpan data penumpang terlebih dahulu.

Catat nama lengkap, nomor KTP, dll, supaya saat pengisian data lebih cepat. Daripada disamber orang maning kan, karena kita lama isi datanya. Lebih mudah lagi kalau kita pakai aplikasi yang memang sudah menyimpan data penumpang sebelumnya. Jadi tinggal login, dan satu klik aja uda keisi datanya. Cepat dan ringkas.

4 . Siapkan pembayaran online.

Yakali tengah malem mau keluyuran bayar tiket di minimarket kan. Paling mudah dan cepet, ya bayar online aja. Jangan lupa handphone diisi pulsa, yang masih pakai token, dicari dulu tokennya.

5 . Tabah dan istiqomah.

Kalau belum dapat, cek beberapa jam kemudian. Siapa tahu ada yang cancel atau lewat batas pembayaran. Jadi tiket dilego ulang di aplikasi.

6 . Kalau bisa nyari tiket bareng-bareng.

Setidaknya sama istri atau sama temen. Jadi bisa saling pantau kondisi di masing-masing aplikasi.

2019-03-19 07.34.47 1-1024x768

Telat ya saya ngasih tips ini, harusnya bulan lalu ya, hehehe. Tapi saya doain deh, semoga yang sampai hari ini belum dapat tiket segera dapat cancelan. Atau dapat tiket kereta tambahan ya nantinya.

Pengalaman Beli Tiket Terburu-buru

Ngomong-ngomong tentang berburu tiket, saya juga pernah sih berburu tiket kereta api. Setidaknya dua kali.

Tidak pada musim menjelang lebaran. Namun, saat mendengar kabar duka yang mendadak.

Yang pertama saat meninggalnya nenek saya dari ayah. Dan yang kedua saat meninggalnya nenek dari suami saya.

Paling mendadak tu pas denger kabar neneknya suami, buyutnya Gayatri meninggal dunia. Saat itu pas jam pulang kantor, tepat saat saya dan suami barengan jemput Gayatri.

Satu-satunya jalan pulang ke kampung ya pasti naik kereta malam kalau kondisinya begitu. Naik bus nggak mungkin karena jamnya uda lewat. Naik pesawat pun uda ga mungkin go show lagi kan.

Terbirit-birit sambil pulang dan packing barang kami berburu tiket kereta api.

Deg-degan dalam perjalanan ke stasiun. Karena kami belum dapat tiket.

Syukurlah, dalam perjalanan, sambil menenangkan diri akhirnya kami memesan tiket kereta api online. Dan dapat! Padahal di hari H. Bersyukur banget rasanya. Karena kalau nggak ada kejelasan tiket, kasihan kan Gayatri harus terkatung-katung di dinginnya stasiun.

hiks

Sejenak saya flashback, jaman baheula, ketika membeli tiket kereta api harus antri di loket. Betapa tekhnologi sekarang begitu memudahkan manusia ya. Terasa terutama saat mengalami saat-saat genting begini.

Berkat aplikasi online, kami bisa sampai tepat waktu keesokan harinya. Mengantar jenazah Uyut ke peraduan terakhirnya.

Btw ada yang belum pernah menggunakan aplikasi online untuk membeli tiket? Sebenarnya ada banyak ya platform yang menjual tiket kereta api secara online, bahkan di web PT KAI pun juga jual.

Aplikasi Baru Pegipegi

Namun, saat ini saya mau share aplikasi yang punyanya Pegipegi. Aplikasinya baru diperbaharui ni soalnya, per 1 Maret 2019 ini.

Aplikasinya sebesar 27,87 MB. Buat smartphone jaman sekarang si enteng enteng aja ya. Saya merasa navigasinya juga enak dan nggak banyak delay karena bug, pop up nggak penting, dll. So, saya pikir ini perbaikan yang bagus si.

Sekilas tentang aplikasi ini dan perbaikannya dapat dilihat pada description box apps Pegipegi Hotel Train Flight di Apps Store maupun Play Store ya. Kurang lebihnya sbb:

PhotoGrid_1552956492791-1024x768

Untuk pembelian tiket kereta api, di bagian home, kita bisa pilih icon kereta api. Kemudan akan muncul laman Pesan Tiket Kereta dimana kita bisa isi stasiun asal dan tujuan serta tanggal keberangkatan. Di bagian atas ada piliha pulang pergi untuk memudahkan calon pembeli yang mau beli sekalian tiket pulang pergi.

Setelah dipilih akan muncul pilihan kereta yang tersedia beserta detail dan keterangan harga tiket kereta apinya. Saya simulasi pemilihan tiket untuk hari H ya, jadi tanggal keberangkatanya saya samakan dengan tanggal pembelian.

PhotoGrid_1552954142430-1024x768

Selanjutnya proses pemilihan tiket kurang lebihnya sbb ya…. Kalau pas jauh-jauh hari, pilihan kereta bisa jadi lebih banyak daripada ini. Untuk itu untuk memudahkan pemilihan, kita bisa menggunakan fitur Filter dan atau fitur Urutkan.

PhotoGrid_1552954197955-1024x768

Setelah kereta dipilih, kita bisa langsung melengkapi data. Pilihannya ada dua, menggunakan data yang ada dengan log in atau ketik manual. Jika log in enaknya adalah data kita tersimpan, jadi kalau beli tiket lagi tidak perlu isi data berkali-kali. Ini bermanfaat banget lo kalau sedang buru-buru, seperti pas rebutan tiket lebaran gitu….

PhotoGrid_1552954259382-1024x768

Selanjutnya, seperti biasa, kita akan diminta konfirmasi pembelian lalu pembayaran. Praktis banget kan ya proses pesan dan beli tiket kereta api, kalau mau via web bisa juga dengan klik link tadi ya….

Sungguh, saya happy banget si dengan banyaknya aplikasi travel seperti ini. Beneran memudahkan hidup ya…. Nggak perlu antri di stasiun dan pembayarannya pun nyaman.

So, mau pulang kampung kemana tahun ini? Semoga perjalanannya lancar dan aman ya semuanyaaa! Salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Pengalaman Pulang Kampung Naik Bus Bareng Bayi

Tidak bisa ditampik, kebutuhan akan moda transportasi bus masih besar ya. Apalagi yang punya kampung halaman seperti saya, Pati. Yang tidak punya stasiun maupun bandara, dan letaknya nanggung banget.

Perjalanan dari Surabaya ke Pati, via darat adalah 6 – 7 jam, perjalanan santai. Kalau naik pesawat saya harus turun di Semarang, berarti perjalanan dari rumah ke bandara 30 menit, waktu tunggu sekitar satu jam, plus perjalanan udara kurang lebih satu jam, tambah bandara Semarang ke Pati (ke rumah saya) bisa sampai 3 jam. Jadi totalnya 5,5 jam. Beda tipis total waktu perjalanan, namun biayanya selisih jauuuuh. Demikian juga kalau naik kereta, stasiun terdekat juga ada di Semarang.

2019-02-19 05.18.21 1-1024x1024

Maka dari itu, sebenarnya saya paling prefer naik mobil pribadi. Dengan catatan, suami sedang fit, dan liburan kami cukup lama. Kalau suami sedang kurang enak badan ditambah lagi liburan hanya sebentar. Saya kok kasihan sama dia kalau harus nyetir PP tanpa istirahat. Saya nggak bisa nggantiin nyetir soalnya, wkwkwk.

Jadi kalau kondisinya begitu, alternatifnya adalah naik bus atau travel.

Di artikel traveling bareng bayi sebelumnya ada yang bertanya pada saya tentang tips perjalanan membawa bayi 4 bulan naik bus. Jujur saja saya tidak pernah bawa bayi usia segitu ya naik bus. Namun, saya pernah bawa Gayatri naik bus, perjalanan kurang lebih 7 jam naik bus, untuk pulang kampung, saat usianya satu tahun. Walaupun tidak bisa menjawab pertanyaan di artikel sebelumnya, saya tetep kepikiran mau sharing pengalaman tersebut, siapa tahu bermanfaat buat teman-teman yang lain yaaaakkk….

Berikut adalah cerita perjalanan sekaligus tips dari saya….

1 .  Cari Teman Seperjalanan

Jujur, kalau saya pribadi, belum berani naik bus bareng bayi sendirian. Naik pesawat si sering ya, tapi kalau bus, saya masih keder euy. Karena beda banget ya, antara naik pesawat, naik kereta maupun naik bus.

Kalau di atas pesawat atau kereta, kita punya support system seperti pramugari/ pramugara. Sementara kalau di bus tidak ada. Selain itu, di bus dan terminal, frekuensi orang keluar masuk sangat banyak. Tidak seperti bandara dan stasiun yang dibatasi dengan boarding pas. Hal itu tentu akan membuat kondisi di bus/ terminal lebih rawan dibandingkan dengan bandara/ stasiun.

Kondisi membawa bayi, tentulah akan mengurangi konsentrasi kita terhadap lingkngan sekitar. Sehingga adanya teman seperjalanan atau pendamping akan membuat kita lebih nyaman, aman dan juga bisa fokus mengurus anak.

2019-02-19 05.18.22 1-1024x1024

2 . Beli Tiket di Agen yang Terpercaya

Nah, kalau ini pengalaman pribadi jaman kuliah. Jadi waktu itu pertama kali saya naik bus dari Jakarta menuju Pati. Dan karena kurang pengalaman dan juga agak lugu-lugu bloon gitu, saya dibohongin calo dong. Dibohongin harga si masih mending ya, tapi ini tujuannya juga bedaaaaa! Parahnya saya nggak dikasih tiket, saat itu juga iya-iya aja. Dan diarahkanlah saya naik bus arah Solo.

Ingin ku memaki. Tapi kebodohanku sendiri juga si. Hahaha…. Ya namanya juga pengalaman pertama.

Dan ternyata ada satu keluarga juga yang mengalami hal yang sama di bus tersebut. Calo tidak sopan!

Pengalaman yang mirip, juga kami rasakan. Nyari tiket bus, untuk yang tidak terbiasa naik bus dan tidak kenal agen memang agak agak repot ya. Soalnya kadang agennya tu nggak bisa online. Kalau nggak punya nomor telepon mereka, ya kudu ke terminal. Wasting time.

Waktu itu saya perginya di pertengahan 2018. Belum tahu kalau bus sekarang pun bisa dibeli via website pemesanan tiket online seperti Traveloka. Padahal info tentang ini sudah ada sejak Maret 2018 di Kompas. Duh, kemana aja si guweee! So, saya mau infokan ke temen-temen tentang ini. Kalau mau bepergian naik bus, coba deh beli di web-web seperti ini. Jauh lebih tenang dan nggak kena calo.

3 . Pastikan Jam Keberangkatan

Terkait hal ini kami juga punya pengalaman kurang enak ni. Jadi setelah memesan tiket via agen, kami dapat jam keberangkatan jam 10 pagi kalau tidak salah. Ternyata agennya datanya nggak akurat dong. Jadi jam tersebut sudah penuh armadanya, dan kami dioper ke jadwal lain. Hmmmm….

Salah kami juga si, take it for granted ya, karena kami pikir semua agen pasti profesional. Jadi omongannya bisa dipegang walaupun kami belum cetak tiketnya di loket. Ternyata ya walau sudah reservasi, tapi kalau belum datang, bisa ditikung penumpang lain juga. Pengalaman yak…. Hihihi….

Untungnya jam penggantinya tidak jauh-jauh amat. Setelah beberapa saat menunggu, sambil deg-deg-an, akhirnya kami berangkat.

Terkait dengan poin di atas, kalau pesan via agen, sekali lagi, pastikan ambil tiketnya sebelum hari H lengkap dengan keterangan waktu keberangkatan ya. Jangan hanya mempercayai obrolan dengan agen via telepon.

Kalau pesan via Traveloka si uda relatif aman ya. Karena ada jaminan keberangkatan. Pilihan jamnya juga sudah pasti di aplikasi.

Misalkan saja dari kota Wonogiri ke kota Jakarta, kita sudah memilih PO Sedya Mulya, ni. Tinggal pilih dan order jam yang available yang tertera di aplikasi. Atau bisa juga memilih kota keberangkatan ke kota tujuan yang lain, PO lain dan jadwal keberangkatan lain, semuanya jelas. Nggak ada kira-kira, seperti yang saya alami di atas.

4 . Bawalah Perbekalan

Di terminal Bungur Asih, dari tempat drop off ke bus kita harus berjalan kaki. Jadi penting untuk memastikan barang bawaan seringkas dan seringan mungkin, namun tetap sekomplit mungkin. Kalau saat naik pesawat atau bawa kendaraan pribadi, teman-teman terbiasa bawa koper, saya menyarankan untuk menggantinya dengan travel bag yang bisa dicangklong di punggung.

Bawaan bayi wajib dipisahkan ya di tas tersendiri (diaper bag) supaya tidak perlu bongkar bagasi hanya untuk mengambil minyak telon, misalnya.

Yang wajib dibawa dalam diaper bag, saat melakukan perjalanan membawa bayi naik bus adalah:

  • obat-obatan, minyak telon, dan printilan lain terkait P3K bayi,
  • makanan; snack dan juga makanan berat,
  • pakaian ganti; untuk bayi dan orang tua minimal satu stel, jaga-jaga kalau ada yang muntah,
  • tisu; basah dan kering,
  • diapers,
  • air minum,
  • kaus kaki,
  • handuk kecil,
  • hand sanitizer.

Related post: Tips Menjaga Kesehatan Bayi Saat Traveling

naik bus bareng bayi

5 . Ambil Hikmah dan Nikmati Perjalanan!

Nah, di luar pengalaman kurang menyenangkan dengan agen tadi, sebenarnya perjalanan menggunakan bus cukup menyenangkan ya. Terutama karena Gayatri saat itu (usia kurang lebih 18 bulan) sangat excited. Bagaimana tidak, naik “mobil” yang ukurannya berkali-kali lipat dengan ukuran “mobil” yang biasa dia naiki, membuat dia amazed. Wkwkwk…. Dasar anak kecil!

Ketinggian bus dibanding kendaraan lain, juga membuat Gayatri punya pengalaman sudut pandang yang berbeda terhadap jalan raya. Fun banget lah! Kebetulan armada yang kami naiki juga sangat nyaman. Jadi ketidaknyamanan di masalah ticketing tadi terhapuslah sudah.

Saat sampai di kota tujuan, semua juga happy, termasuk suami saya, karena bisa beristirahat dalam perjalanan. Jadinya kami bisa langsung beraktivitas keesokan harinya, untuk berkunjung ke rumah saudara.

Sekian sharing dari saya, semoga ada manfaatnya yaaa!

Salam sayaaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

3 Pengalaman Memalukan Bawa Bayi Naik Pesawat

Sebagian besar orang yang ngobrol dengan saya, saat di Bandara bareng bayi, bertanya “apakah bayimu tidak rewel?” Beberapa juga mengajukan rasa salut karena saya berani wara wiri bawa bayi naik pesawat tanpa pendamping. Padahal saya berani ya karena Gayatrinya kooperatif ya. Namun, walau Gayatri anak yang relatif kooperatif dan kalem di tempat umum, saya juga punya pengalaman memalukan bawa bayi naik pesawat.

bayi naik pesawat bareng bayi

Saat Pipis di Lavatory

Okay kejadian ini baru beberapa minggu lalu. Hasil kolaborasi manis antara bayi kepo dan mbak mbak pramugari yang rajin membantu. Terbukalah lavatory saat saya enak-enaknya pipis di atas pesawat.

Saya memang sudah merasa kebeles pipit sejak sebelum boarding. Namun saat itu saya tidak menuntaskan hasrat pipis saya karena nanggung. Lagi nyuapin Gayatri dan uda mendekati waktu boarding. Kan rempes ya gendong bayi sambil buru-buru, mending saya tahan sebentar lalu pipisnya di atas pesawat saja, pikir saya saat itu.

Karena tanpa teman seperjalanan, tentu Gayatri saya bawa masuk ke lavatory. Dia mainan pintu donggg…. Saya biarin karena biasanya begitu, dan aman-aman saja. Gayatri belum bisa buka kuncian pintu kan, walaupun sudah bisa dorong kenop pintunya.

Dan terjadilah insiden kecil itu…. Pramugari (Garuda) yang memang sangat super duper helpful sama penumpang, mungkin karena merasa kawatir dengan suara-suara di pintu atau mungkin mengira saya terkunci dan kesulitan membuka pintu, berinisiatif membuka kuncian pintu dari luar dong…. Dan ups, maaf, pemandangannya kurang menyenangkan ya Mbaaa…. Hehehe….

Saya cuma bisa nyengir, dan pintunya pun ditutup kembali sama mbak pramugarinya. Hehehe, rempong kan kalau saya yang nutup. Harus pake celana dulu (((dijelasin))). :P

Related Post: Pengalaman Bawa Bayi Umur 4 Bulan Naik Pesawat

tips naik pesawat bareng anak

Saat Gayatri Nepuk Pantat Pramugara

Posisi paling pewe buat ibu bawa bayi menurut saya itu di row paling depan yang ada extra legnya. Kalau ga bisa dapet ya di lorong atau di pinggir dekat jendela. Paling sering saya dapatnya di lorong si….

Dapat seat di lorong itu manfaatnya ada beberapa:

  1. Memudahkan keluar masuk kursi,
  2. Nggak terlalu mengganggu penumpang lain,
  3. Kalau merasa sempit handle tangan bagian lorong bisa dibuka, jadi bisa leluasa ada tambahan space di sisi samping,
  4. Kalau Gayatri bosan, dia bisa jalan-jalan sepanjang lorong saat uda diperbolehkan tidak menggunakan seat belt.

Namuuuunnn, ada juga kelemahannya:

  1. Berbahaya saat proses mengeluar masukkan koper ke kompartemen atas, risiko kejatuhannya lebih besar dibanding seat yang dekat jendela,
  2. Seing terganggu hilir mudiknya pramugari tang membawa troli, daaaaaannnn….
  3. Berisiko malu kalau anak kita lagi usil suka jawil-jawil pramugara/ pramugari.

Poin yang ketiga ini beneran saya alami lo. Gayatri pernah nepok pantat pramugara. PRAMUGARA. Cowoooook!!!!

Saya nyadarnya pas uda ketepok, masnya bilang “Eh!” Sambil nengok ke arah saya. Untung saat itu tangannya Gayatri masih terjulur kan. Jadi masnya mahfum, kalau yang nepok bayi imut unyu unyu, bukan emaknyaaa…. Ya kali kaaan…. Saya cuma tersenyum. Dan pramugaranya langsung pasang wajah ramah ke Gayatri, ngajak bercanda. Buset terlatih banget yak, wajah ramahnya….

Semuanya pun berakhir dengan baik.

Related Post: Pengalaman Membawa Bayi Umur 9 Bulan Naik Pesawat

anak nyaman naik pesawat

Foto-foto di atas diambil saat Gayatri usia 1 tahun di Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta.

Saat Gayatri Pup saat Landing

Bayangkan, saat kru pesawat mengumumkan kalau kami sudah ada di posisi landing, semua penumpang diminta  menegakkan sandaran dan mengencangkan seat belt, lalu tiba-tiba wajah si Ening tegang. Bukan tegang karena mendengar suara mesin pesawat. Saya kenal sekali ekspresi ini. Ekspresi ngeden.

Ya ampunnn baunya. Malu banget saya, karena bau banget.

Waktu itu pas mau ke Yogyakarta, dan mungkin sebagian besar orang tau, entah mengapa prosesi landing di Jogja itu lamaaa. Semacam antri muter-muter di atas. Saya gelisah. Penumpang sebelah saya apalagi! Uda mulai tutup-tutup hidung dan oles-oles freshcare! Gayatri mah lempeng, muka tak bersalah. Ni anak yaaaaaa!!!!

Tapi gimana dong, mau ke toilet juga nggak bisa kan. Karena semua harus duduk. Berbahaya bagi diri saya sendiri, Gayatri dan tentu orang lain, kalau saya sampai nekat jalan dan jatuh. Akhirnya ya sudah, tahankanlah baunya. Pas uda landing sempurna dan kami diizinkan turun, saya langsung ngacir cepet-cepet bawa bocah yang juga uda mulai menggeliat-geliat risih.

Pengalaman Gayatri pup saat penerbangan memang cuma sekali itu si, tapi amit amit dah, jangan sampai kejadian lagi! Wkwkwk! Ngakak kalau ingat….

hehehe

Yaaaaa gitu deh, beberapa kejadian yang rada malu-maluin yang pernah saya alami. Kayanya ya cuma tiga ini di puluhan penerbangan kami. So bisa dibilang, kecil kemungkinan terjadi. Walaupun kalau terjadi pun, semuanya akan tetap baik-baik saja. Asal kita sebagai ibu tetap tenang. Karena kalau nggak tenang, kejadian sekecil apapun bikin mood kita rusak dan ruin the rest of the trip. Jadi tetap semangat yaaa buat yang mau bawa anak/ bayi pergi seorang diri menggunakan moda pesawat. Tenang adalah koentji!

Related Post:
Pengalaman Bawa Bayi Naik Pesawat Umur 4 Bulan
Pengalaman Bawa Bayi Naik Pesawat Umur 9 Bulan

Gimana kalau teman-teman? Adakah kejadian lucu atau malah memalukan selama travelling bareng bayiii? Cerita yuuuuk!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share