Pengalaman Pulang Kampung Naik Bus Bareng Bayi

2019-02-19 05.18.22 2-1024x1024

Tidak bisa ditampik, kebutuhan akan moda transportasi bus masih besar ya. Apalagi yang punya kampung halaman seperti saya, Pati. Yang tidak punya stasiun maupun bandara, dan letaknya nanggung banget.

Perjalanan dari Surabaya ke Pati, via darat adalah 6 – 7 jam, perjalanan santai. Kalau naik pesawat saya harus turun di Semarang, berarti perjalanan dari rumah ke bandara 30 menit, waktu tunggu sekitar satu jam, plus perjalanan udara kurang lebih satu jam, tambah bandara Semarang ke Pati (ke rumah saya) bisa sampai 3 jam. Jadi totalnya 5,5 jam. Beda tipis total waktu perjalanan, namun biayanya selisih jauuuuh. Demikian juga kalau naik kereta, stasiun terdekat juga ada di Semarang.

2019-02-19 05.18.21 1-1024x1024

Maka dari itu, sebenarnya saya paling prefer naik mobil pribadi. Dengan catatan, suami sedang fit, dan liburan kami cukup lama. Kalau suami sedang kurang enak badan ditambah lagi liburan hanya sebentar. Saya kok kasihan sama dia kalau harus nyetir PP tanpa istirahat. Saya nggak bisa nggantiin nyetir soalnya, wkwkwk.

Jadi kalau kondisinya begitu, alternatifnya adalah naik bus atau travel.

Di artikel traveling bareng bayi sebelumnya ada yang bertanya pada saya tentang tips perjalanan membawa bayi 4 bulan naik bus. Jujur saja saya tidak pernah bawa bayi usia segitu ya naik bus. Namun, saya pernah bawa Gayatri naik bus, perjalanan kurang lebih 7 jam naik bus, untuk pulang kampung, saat usianya satu tahun. Walaupun tidak bisa menjawab pertanyaan di artikel sebelumnya, saya tetep kepikiran mau sharing pengalaman tersebut, siapa tahu bermanfaat buat teman-teman yang lain yaaaakkk….

Berikut adalah cerita perjalanan sekaligus tips dari saya….

1 .  Cari Teman Seperjalanan

Jujur, kalau saya pribadi, belum berani naik bus bareng bayi sendirian. Naik pesawat si sering ya, tapi kalau bus, saya masih keder euy. Karena beda banget ya, antara naik pesawat, naik kereta maupun naik bus.

Kalau di atas pesawat atau kereta, kita punya support system seperti pramugari/ pramugara. Sementara kalau di bus tidak ada. Selain itu, di bus dan terminal, frekuensi orang keluar masuk sangat banyak. Tidak seperti bandara dan stasiun yang dibatasi dengan boarding pas. Hal itu tentu akan membuat kondisi di bus/ terminal lebih rawan dibandingkan dengan bandara/ stasiun.

Kondisi membawa bayi, tentulah akan mengurangi konsentrasi kita terhadap lingkngan sekitar. Sehingga adanya teman seperjalanan atau pendamping akan membuat kita lebih nyaman, aman dan juga bisa fokus mengurus anak.

2019-02-19 05.18.22 1-1024x1024

2 . Beli Tiket di Agen yang Terpercaya

Nah, kalau ini pengalaman pribadi jaman kuliah. Jadi waktu itu pertama kali saya naik bus dari Jakarta menuju Pati. Dan karena kurang pengalaman dan juga agak lugu-lugu bloon gitu, saya dibohongin calo dong. Dibohongin harga si masih mending ya, tapi ini tujuannya juga bedaaaaa! Parahnya saya nggak dikasih tiket, saat itu juga iya-iya aja. Dan diarahkanlah saya naik bus arah Solo.

Ingin ku memaki. Tapi kebodohanku sendiri juga si. Hahaha…. Ya namanya juga pengalaman pertama.

Dan ternyata ada satu keluarga juga yang mengalami hal yang sama di bus tersebut. Calo tidak sopan!

Pengalaman yang mirip, juga kami rasakan. Nyari tiket bus, untuk yang tidak terbiasa naik bus dan tidak kenal agen memang agak agak repot ya. Soalnya kadang agennya tu nggak bisa online. Kalau nggak punya nomor telepon mereka, ya kudu ke terminal. Wasting time.

Waktu itu saya perginya di pertengahan 2018. Belum tahu kalau bus sekarang pun bisa dibeli via website pemesanan tiket online seperti Traveloka. Padahal info tentang ini sudah ada sejak Maret 2018 di Kompas. Duh, kemana aja si guweee! So, saya mau infokan ke temen-temen tentang ini. Kalau mau bepergian naik bus, coba deh beli di web-web seperti ini. Jauh lebih tenang dan nggak kena calo.

3 . Pastikan Jam Keberangkatan

Terkait hal ini kami juga punya pengalaman kurang enak ni. Jadi setelah memesan tiket via agen, kami dapat jam keberangkatan jam 10 pagi kalau tidak salah. Ternyata agennya datanya nggak akurat dong. Jadi jam tersebut sudah penuh armadanya, dan kami dioper ke jadwal lain. Hmmmm….

Salah kami juga si, take it for granted ya, karena kami pikir semua agen pasti profesional. Jadi omongannya bisa dipegang walaupun kami belum cetak tiketnya di loket. Ternyata ya walau sudah reservasi, tapi kalau belum datang, bisa ditikung penumpang lain juga. Pengalaman yak…. Hihihi….

Untungnya jam penggantinya tidak jauh-jauh amat. Setelah beberapa saat menunggu, sambil deg-deg-an, akhirnya kami berangkat.

Terkait dengan poin di atas, kalau pesan via agen, sekali lagi, pastikan ambil tiketnya sebelum hari H lengkap dengan keterangan waktu keberangkatan ya. Jangan hanya mempercayai obrolan dengan agen via telepon.

Kalau pesan via Traveloka si uda relatif aman ya. Karena ada jaminan keberangkatan. Pilihan jamnya juga sudah pasti di aplikasi.

Misalkan saja dari kota Wonogiri ke kota Jakarta, kita sudah memilih PO Sedya Mulya, ni. Tinggal pilih dan order jam yang available yang tertera di aplikasi. Atau bisa juga memilih kota keberangkatan ke kota tujuan yang lain, PO lain dan jadwal keberangkatan lain, semuanya jelas. Nggak ada kira-kira, seperti yang saya alami di atas.

4 . Bawalah Perbekalan

Di terminal Bungur Asih, dari tempat drop off ke bus kita harus berjalan kaki. Jadi penting untuk memastikan barang bawaan seringkas dan seringan mungkin, namun tetap sekomplit mungkin. Kalau saat naik pesawat atau bawa kendaraan pribadi, teman-teman terbiasa bawa koper, saya menyarankan untuk menggantinya dengan travel bag yang bisa dicangklong di punggung.

Bawaan bayi wajib dipisahkan ya di tas tersendiri (diaper bag) supaya tidak perlu bongkar bagasi hanya untuk mengambil minyak telon, misalnya.

Yang wajib dibawa dalam diaper bag, saat melakukan perjalanan membawa bayi naik bus adalah:

  • obat-obatan, minyak telon, dan printilan lain terkait P3K bayi,
  • makanan; snack dan juga makanan berat,
  • pakaian ganti; untuk bayi dan orang tua minimal satu stel, jaga-jaga kalau ada yang muntah,
  • tisu; basah dan kering,
  • diapers,
  • air minum,
  • kaus kaki,
  • handuk kecil,
  • hand sanitizer.

Related post: Tips Menjaga Kesehatan Bayi Saat Traveling

naik bus bareng bayi

5 . Ambil Hikmah dan Nikmati Perjalanan!

Nah, di luar pengalaman kurang menyenangkan dengan agen tadi, sebenarnya perjalanan menggunakan bus cukup menyenangkan ya. Terutama karena Gayatri saat itu (usia kurang lebih 18 bulan) sangat excited. Bagaimana tidak, naik “mobil” yang ukurannya berkali-kali lipat dengan ukuran “mobil” yang biasa dia naiki, membuat dia amazed. Wkwkwk…. Dasar anak kecil!

Ketinggian bus dibanding kendaraan lain, juga membuat Gayatri punya pengalaman sudut pandang yang berbeda terhadap jalan raya. Fun banget lah! Kebetulan armada yang kami naiki juga sangat nyaman. Jadi ketidaknyamanan di masalah ticketing tadi terhapuslah sudah.

Saat sampai di kota tujuan, semua juga happy, termasuk suami saya, karena bisa beristirahat dalam perjalanan. Jadinya kami bisa langsung beraktivitas keesokan harinya, untuk berkunjung ke rumah saudara.

Sekian sharing dari saya, semoga ada manfaatnya yaaa!

Salam sayaaaang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

3 Pengalaman Memalukan Bawa Bayi Naik Pesawat

bayi naik pesawat bareng bayi

Sebagian besar orang yang ngobrol dengan saya, saat di Bandara bareng bayi, bertanya “apakah bayimu tidak rewel?” Beberapa juga mengajukan rasa salut karena saya berani wara wiri bawa bayi naik pesawat tanpa pendamping. Padahal saya berani ya karena Gayatrinya kooperatif ya. Namun, walau Gayatri anak yang relatif kooperatif dan kalem di tempat umum, saya juga punya pengalaman memalukan bawa bayi naik pesawat.

bayi naik pesawat bareng bayi

Saat Pipis di Lavatory

Okay kejadian ini baru beberapa minggu lalu. Hasil kolaborasi manis antara bayi kepo dan mbak mbak pramugari yang rajin membantu. Terbukalah lavatory saat saya enak-enaknya pipis di atas pesawat.

Saya memang sudah merasa kebeles pipit sejak sebelum boarding. Namun saat itu saya tidak menuntaskan hasrat pipis saya karena nanggung. Lagi nyuapin Gayatri dan uda mendekati waktu boarding. Kan rempes ya gendong bayi sambil buru-buru, mending saya tahan sebentar lalu pipisnya di atas pesawat saja, pikir saya saat itu.

Karena tanpa teman seperjalanan, tentu Gayatri saya bawa masuk ke lavatory. Dia mainan pintu donggg…. Saya biarin karena biasanya begitu, dan aman-aman saja. Gayatri belum bisa buka kuncian pintu kan, walaupun sudah bisa dorong kenop pintunya.

Dan terjadilah insiden kecil itu…. Pramugari (Garuda) yang memang sangat super duper helpful sama penumpang, mungkin karena merasa kawatir dengan suara-suara di pintu atau mungkin mengira saya terkunci dan kesulitan membuka pintu, berinisiatif membuka kuncian pintu dari luar dong…. Dan ups, maaf, pemandangannya kurang menyenangkan ya Mbaaa…. Hehehe….

Saya cuma bisa nyengir, dan pintunya pun ditutup kembali sama mbak pramugarinya. Hehehe, rempong kan kalau saya yang nutup. Harus pake celana dulu (((dijelasin))). ­čśŤ

Related Post: Pengalaman Bawa Bayi Umur 4 Bulan Naik Pesawat

tips naik pesawat bareng anak

Saat Gayatri Nepuk Pantat Pramugara

Posisi paling pewe buat ibu bawa bayi menurut saya itu di row paling depan yang ada extra legnya. Kalau ga bisa dapet ya di lorong atau di pinggir dekat jendela. Paling sering saya dapatnya di lorong si….

Dapat seat di lorong itu manfaatnya ada beberapa:

  1. Memudahkan keluar masuk kursi,
  2. Nggak terlalu mengganggu penumpang lain,
  3. Kalau merasa sempit handle tangan bagian lorong bisa dibuka, jadi bisa leluasa ada tambahan space di sisi samping,
  4. Kalau Gayatri bosan, dia bisa jalan-jalan sepanjang lorong saat uda diperbolehkan tidak menggunakan seat belt.

Namuuuunnn, ada juga kelemahannya:

  1. Berbahaya saat proses mengeluar masukkan koper ke kompartemen atas, risiko kejatuhannya lebih besar dibanding seat yang dekat jendela,
  2. Seing terganggu hilir mudiknya pramugari tang membawa troli, daaaaaannnn….
  3. Berisiko malu kalau anak kita lagi usil suka jawil-jawil pramugara/ pramugari.

Poin yang ketiga ini beneran saya alami lo. Gayatri pernah nepok pantat pramugara. PRAMUGARA. Cowoooook!!!!

Saya nyadarnya pas uda ketepok, masnya bilang “Eh!” Sambil nengok ke arah saya. Untung saat itu tangannya Gayatri masih terjulur kan. Jadi masnya mahfum, kalau yang nepok bayi imut unyu unyu, bukan emaknyaaa…. Ya kali kaaan…. Saya cuma tersenyum. Dan pramugaranya langsung pasang wajah ramah ke Gayatri, ngajak bercanda. Buset terlatih banget yak, wajah ramahnya….

Semuanya pun berakhir dengan baik.

Related Post: Pengalaman Membawa Bayi Umur 9 Bulan Naik Pesawat

anak nyaman naik pesawat

Foto-foto di atas diambil saat Gayatri usia 1 tahun di Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta.

Saat Gayatri Pup saat Landing

Bayangkan, saat kru pesawat mengumumkan kalau kami sudah ada di posisi landing, semua penumpang diminta  menegakkan sandaran dan mengencangkan seat belt, lalu tiba-tiba wajah si Ening tegang. Bukan tegang karena mendengar suara mesin pesawat. Saya kenal sekali ekspresi ini. Ekspresi ngeden.

Ya ampunnn baunya. Malu banget saya, karena bau banget.

Waktu itu pas mau ke Yogyakarta, dan mungkin sebagian besar orang tau, entah mengapa prosesi landing di Jogja itu lamaaa. Semacam antri muter-muter di atas. Saya gelisah. Penumpang sebelah saya apalagi! Uda mulai tutup-tutup hidung dan oles-oles freshcare! Gayatri mah lempeng, muka tak bersalah. Ni anak yaaaaaa!!!!

Tapi gimana dong, mau ke toilet juga nggak bisa kan. Karena semua harus duduk. Berbahaya bagi diri saya sendiri, Gayatri dan tentu orang lain, kalau saya sampai nekat jalan dan jatuh. Akhirnya ya sudah, tahankanlah baunya. Pas uda landing sempurna dan kami diizinkan turun, saya langsung ngacir cepet-cepet bawa bocah yang juga uda mulai menggeliat-geliat risih.

Pengalaman Gayatri pup saat penerbangan memang cuma sekali itu si, tapi amit amit dah, jangan sampai kejadian lagi! Wkwkwk! Ngakak kalau ingat….

hehehe

Yaaaaa gitu deh, beberapa kejadian yang rada malu-maluin yang pernah saya alami. Kayanya ya cuma tiga ini di puluhan penerbangan kami. So bisa dibilang, kecil kemungkinan terjadi. Walaupun kalau terjadi pun, semuanya akan tetap baik-baik saja. Asal kita sebagai ibu tetap tenang. Karena kalau nggak tenang, kejadian sekecil apapun bikin mood kita rusak dan ruin the rest of the trip. Jadi tetap semangat yaaa buat yang mau bawa anak/ bayi pergi seorang diri menggunakan moda pesawat. Tenang adalah koentji!

Related Post:
Pengalaman Bawa Bayi Naik Pesawat Umur 4 Bulan
Pengalaman Bawa Bayi Naik Pesawat Umur 9 Bulan

Gimana kalau teman-teman? Adakah kejadian lucu atau malah memalukan selama travelling bareng bayiii? Cerita yuuuuk!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Pengalaman Traveling, Perjalanan Darat Bareng Bayi Menggunakan Mobil

traveling darat bareng bayi

Di tahun lalu saya sempat menuliskan beberapa artikel tentang traveling bareng Gayatri naik pesawat. Hampir setengah lusin kali ya artikelnya, beranak pinak. Kemarin di pertengahan bulan Februari kami sempat melakukan traveling lagi. Berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya, kali ini kami menggunaan kendaraan darat pribadi. Perjalanan yang kami lalui yaitu Surabaya – Pati, sekitar 5-6 jam perjalanan darat normal.

traveling darat bareng bayi

Kesalahan

Karena sudah sering melakukan perjalanan bareng bayi, kami berdua jadi agak “ngampangke”. Hal ini terlihat terutama di bagaimana kami packing. Ya, namanya bawa kendaraan sendiri, asumsi kami bakal lebih gampang. No limit bagasi, nggak harus dipak rapi, bisa nanti-nanti nyusul masukin ke mobil. Nggak kayak naik pesawat. Begitu pikiran kami saat itu.

Related Post: Pengalaman Membawa Bayi Naik Pesawat

Hingga di hari H, kami belum kelar packing dong. Harusnya berangkat jam 8 molor ke jam 9 karena masukin barang-barang yang masih kececer. Tapi saat itu kami masih santai lo Nyah, soalnya yahhhh perjalanan darat bareng bayi kan pasti lebih remeh lah ya daripada perjalanan udara.

Sok banget yak?

Tapi ternyata kami salah. Perjalanan udara nggak lebih berat daripada perjalanan darat. Perjalanan darat nggak lebih mudah daripada perjalanan udara. Masing-masing memiliki karakteristik dan tantangannya masing-masing.

Unexpected Things Happened

Semua berjalan mulus, pada awalnya. Gayatri duduk manis sambil babling-babling (meracau khas bayi) ngeliatin kendaraan lewat. Cemilan dan minuman pun dia kudap dengan bahagia.

Mulai beranjak siang, Gayatri mulai bosan. Mainan setir mobil dan bunyi-bunyian diabaikan. Mulai pethakilan. Akrobatik di dalam mobil. Alhasil dia pusing dan muntah.

Bayi muntah mah biasa ya, tinggal ganti baju. Baju gantinya juga sudah tersimpan rapi di diaper bag. Hanya saja ada satu hal yang tidak kami antisipasi: muntahannya kena baju saya.

muka pasrahBaju sebelum dimuntahin bocah: kaos menyusui motif kembang-kembang.

Berikut adalah hal-hal yang tidak saya prediksikan terjadi, tapi terjadi, hahahaha…. #ketawamiris.

  • muntah kena baju ibu

Dan saya tidak menyiapkan baju ganti di diaperbagnya Gayatri. Semua baju saya terlipat manis di koper di bagasi. Tumpukan paling bawah pula. Ngakak dah.

  • pupup

Satu lagi perbedaan perjalanan darat dengan perjalanan udara. Kalau naik pesawat, penumpang dimanjakan dengan adanya nursing room yang memadai (mungkin kecuali bandara Juanda ya, grrrr). Jadi saat Gayatri pup di mobil, saya rada bingung. Mau gantiin popok di mobil apa nyari SPBU. Kami memilih SPBU.

Jangan bayangkan SPBUnya sama dengan di kota-kota besar ya. Hihihi…. Ini SPBU terdekat yang kami dapat kebetulan kurang sip. Tapi lumayanlah buat bersih-bersih. Pastikan bawa air mineral buat cebok ya. Just in case airnya nggak memenuhi ekspektasi.

  • popok ketinggalan

Gaswatnya pas ganti popok itu kami baru sadar kalaaaauuuuuu satu pak diapers andalan Gayatri ketinggalan di ruang tamu. Ga kececer masuk ke bagasi.

Mau kesel, tapi ya salah sendiri nunda-nunda packing. Hahaha…. Jadilah di tengah perjalanan kami hunting popok. Dengan kondisi Gayatri nggak pake popok.

Deg degan asli! Takut keompolan.

Syukurlah 300m berikutnya kami ketemu Mart bersaudara.

Related post: “Senjata” supaya nyaman menyusui saat perjalanan.

  • perjalanan molor menjadi hampir 9 jam

Karena harus beresin muntahan, lalu bongkar bagasi, ambil baju ganti saya. Lalu hunting diapers. Ditambah waktu makan siang yang agak lama. Akhirnya kami telat sampai ke rumah Mbah Akung dan Uti. Perjalanan yang normalnya 5-6 jam jadi 9 jam. Tapi syukurnya semuanya masih dalam kondisi sehat dan happy. Gayatri juga masih happy walaupun agak sedikit bosan.

pati surabayaBeginilah kira-kira rute perjalanan darat bareng bayi kami. Hehehe….

Lesson Learn

1 . Packing

Packing harus dilakukan minimal di malam sebelum hari keberangkatan. Jangan lupa membuat cek list barang, supaya tidak ada yang tertinggal. Barang apa sajakah yang harus dibawa saat traveling bersama bayi dengan perjalanan darat (mobil pribadi)?

Saya menyarankan setidaknya membawa dua tas kecil sebagai tas yang siap sedia dan terpisah dengan bagasi, mainan dan bagasi it sendiri. Rinciannya adalah sbb:

1) Tas kecil pertama.

Tas kecil pertama ini adalah diaper bag bayi. Isinya: 1 stel pakaian ganti, 3 pcs diapers, snack, makanan, minuman, obat-obatan, termometer, tisu basah, peralatan mandi bayi (krim/ lotion – kalau saya pakai liquid talc, sabun, shampo, minyak telon, sikat gigi), tisu basah, tisu kering.

2) Tas kecil kedua adalah perlengkapan/ bekal orang tua.

Tas kecil kedua adalah peralatan on the go-nya orang tua. Isinya: pakaian ganti, handuk kecil (bisa dipakai barengan bayi), obat-obatan, charger, power bank, dompet, modem.

3) Mainan.

Saya bawa dua mainan: 1) woble todle ELC mainan yang multifungsi gitu, reviewnya di sini, saya copot setirnya saja untuk mainan di mobil dan badan mainannya ditaruh di bagasi, 2) building block untuk mainan di lokasi liburan.

4) Bagasi.

Menghitung jumlah bawaan yang akan dibawa saat liburan memang tricky ya. Tapi yang pasti sesuaikan dengan lama liburannya. Misal:

  • Jumlah pakaian bayi: 2 stel baju harian kali jumlah hari + baju cadangan sebanyak 3 buah + baju untuk bepergian sebanyak 2 buah.
  • Jumlah popok minimal: 5 per hari kali 2 hari = 10 pcs. Saya hanya mengalikan dua dengan asumsi akan membeli diapers di lokasi liburan. Namun, jika di lokasi liburan diasumsikan sulit mencari minimarket, better bawa sebanyak 5 per hari kali jumlah hari libur + cadangan sebanyak 3 pcs.

2 . Car Seat

Biasakan anak menggunakan car seat. Karena lebih aman dan nyaman untuk semua penghuni mobil.

3 . Hati yang Gembira

Hati yang gembira adalah obat! Petuah ini juga berlaku di dalam perjalanan. Klau hati kita gembira menjalaninya, semua akan terasa menyenangkan kok. Seperti traveling kami yang molornya alamak pun bisa terasa piknik tambahan. Hahaha…. Hal ini terutama buat Ibu ya, yang kadang lebih perfeksionis, jadi kalau ada apa-apa yang kurang pas, sering jadi bad mood. Ayooo, cheer up! Soalnya kalau Ibunya bad mood biasanya bayi/ anak bakalan ketularan tuh.

traveling darat bareng bayi happyBaju habis dimuntahin bocah: blus abu-abu. Wkwkwkwk….

4 . Be flexible!

Yah, namanya juga bawa bayi ya…. Kadang memang diperlukan beberapa improvisasi. Terutama kalau kondisi di jalan menyangkut kesehatan bayi ya. Keselamatan tetap nomor satu.

Demikin sharing kali ini, hehehe…. Sering banget ya saya sharing kesalahan atau trial dan error, ya habisnya emang sering error sik. -.-” tapi semoga keerroran kami bisa jadi pelajaran yang berharga dan bermanfaat buat Nyonyah-nyonyah semua yaaa…. Trus kalau Nyonyah punya tips/ lesson learn yang pernah dialami boleh lo diceritain di comment section.

Terimakasih sudah mampir, salam sayang selalu….

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!