Memilih/Mendesain Permainan Anak Perempuan

2019-02-12 06.05.20 3-1024x814

Kalau kata Albert Einstein, “Play is the highest form of research.” Setelah memiliki anak, saya baru memahami benar apa makna dari perkataan ini. Untuk itu, saya jadi cukup concern dalam memilih dan mendesain permainan anak perempuan saya, Gayatri yang berusia dua tahun ini.

Dalam memilih dan mendesain permainan bagi anak perempuan saya, saya tidak sembarang mengikuti tren, melainkan fokus pada perkembangan tubuhnya. Oleh karena itu saya mengacu pada parameter perkembangan anak 0-6 tahun dari Permendikbud Nomor 137 tahun 2014 dan kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP).

Hehehe, semacam serius dan rumit banget ya? Tidak kok, malahan menyederhanakan pilihan orang tua.

Sekilas tentang Parameter Perkembangan Anak dan KPSP

1 . Parameter Perkembangan Anak 0-6 Tahun dari Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014

Dengan parameter perkembangan anak, saya bisa mengetahui tingkat pencapaian perkembangan anak di setiap kelompok usia. Pada parameter ini lengkap pula lingkup perkembangan yang dijabarkan:

  1. Nilai agama dan moral,
  2. Fisik-motorik (motorik kasar, halus, kesehatan dan perilaku keselamatan),
  3. Kognitif (belajar dan pemecahan masalah, berpikir logis, dan berpikir simbolik),
  4. Bahasa (memahami bahasa, mengungkapkan bahasa)
  5. Sosial emosional (kesadaran diri, tanggungjawab diri dan orang lain, serta perilaku pro social)
  6. Seni.

Istilah mudahnya, dengan parameter ini saya jadi tahu, apa “target” yang diharapkan sudah bisa dicapai oleh anak usia 2 tahun.

Form parameter ini bisa diunduh secara umum dan gratis, keyword untuk googling: Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014.

2 . Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)

Sementara dengan KPSP, saya jadi bisa mengetahui apakah ada keterlambatan yang dialami Gayatri di usianya ini.

PhotoGrid_1549927071778-1024x768

Sebagaimana foto di atas, saya mengakses KPSP via aplikasi Primaku IDAI yang bisa di-download di Playstore maupun Appstore secara gratis juga.

Dari kedua form di atas, saya bisa mendokumentasikan apa saja skill yang ingin dikembangkan dari Gayatri, kemudian mendesain pembelajarannya dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam bentuk permainan. Nah, seperti judul artikel ini, yang mau saya bahas lebih lanjut adalah sebatas bagaimana mendesainnya dalam bentuk permainan anak perempuan ya.

Step Memilih/Mendesain Permainan Anak Perempuan

Untuk memudahkan pemahaman, saya ringkas dulu ya, langkah-langkahnya:

  1. Mendokumentasikan skill yang ingin dicapai,
  2. Mendokumentasikan keterlambatan yang ingin ditingkatkan,
  3. Mendokumentasikan permainan terkait.

Dalam kasus Gayatri, kira-kira pengalaman saya mendesain permainan anak perempuan adalah sebagai berikut:

1 . Mendokumentasikan skill yang ingin dicapai

Dalam parameter perkembangan anak ada 60 poin tingkat pencapaian perkembangan anak di usia 2 – 3 tahun. Beberapa poin sudah ada yang bisa dilakukan oleh Gayatri, banyak juga yang belum.

Yang ingin kami kembangkan lebih lanjut adalah sebagai berikut:

Lingkup Perkembangan Tingkat Pencapaian Perkembangan yang Ingin Kami Capai
A. Nilai Agama dan Moral Mulai memahami kapan mengucapkan salam, terimakasih, maaf, dsb.
B. Fisik Motorik
  1. Melompat ke depan dan ke belakang dengan dua kaki,
  2. Meremas kertas atau kain dengan menggerakkan lima jari,
  3. Memberitahu orang dewasa bila sakit.
C. Kognitif
  1. Melihat dan menyentuh benda yang ditunjukkan oleh orang lain,
  2. Meniru cara pemecahan orang dewasa atau teman,
  3. Konsentrasi dalam mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain,
  4. Menyebut bagian suatu gambar,
  5. Mengenal bagian tubuh.
D. Bahasa
  1. Memahami perintah sederhana,
  2. Menggunakan 3 atau 4 kata untuk memenuhi kebutuhannya (misal, mau minum air putih).
E. Sosial Emosional
  1. Menyatakan perasaan terhadap anak lain,
  2. Mulai memahami hak orang lain (harus antri, menunggu giliran)
  3. Mulai menunjukkan sikap berbagi, membantu, bekerja sama.
F. Seni
  1. Menyanyi,
  2. Menirukan gerakan berbagai hewan.

Ada beberapa poin lagi, namun supaya sederhana, saya ringkas saja sebagaimana tabel di atas ya.

2 . Mendokumentasikan keterlambatan yang ingin ditingkatkan.

Puji Tuhan, dari 10 poin penilaian kuesioner KPSP tidak ada keterlambatan Gayatri yang perlu ditindak lanjuti. Jadi saya bisa fokus di step nomor 1 dan langsung lompat ke step nomor 3. Kalau ternyata hasil KPSPnya ada yang meragukan, bisa ikuti petunjuk yang ada di aplikasi IDAI ya. Biasanya ada keterangan diminta untuk observasi lebih lanjut.

3 . Mendokumentasikan permainan terkait.

Di tahap ini, saya akan baca-baca buku dan juga googling tentang contoh permainan. Buku yang sering saya baca sebagai referensi permainan adalah Rumah Main Anak yang ditulis oleh Julia Sarah Rangkuti dan Metode Pengajaran Montessori Tingkat Dasar (Aktivitas Belajar untuk Anak Balita) oleh David Gettman.

Dua buku tersebut sangat kaya, biar tidak terlalu overwhelming saat mempraktikannya saya akan memilih berdasarkan tabel di step nomor satu tadi serta menyesuaikan dengan mainan/ peralatan yang ada di rumah.

Contoh Permainan Anak Perempuan

Berikut adalah contoh permainan anak perempuan saya yang saya desain dengan cara di atas dan menggunakan satu mainan utama yaitu figurine hewan ternak.

permainan anak

Figurine hewan ternak yang saya miliki ini saya beli di Shopee, tokonya namanya kotakmainmainan. Awalnya saya kenal toko ini dan langganan di Instagramnya. Tapi setelah tahu dia ada toko di Shopee, saya transaksinya via Shopee. Hihihi, tak lain dan tak bukan demi ngejar free ongkirnya sodara-sodara. Lumayan yak, soalnya saya kan di Surabaya sementara tokonya di Bandung. Hemat belasan sampai dua puluh ribuan, bisa jadi nambah mainan/buku murah di toko tersebut.

1 . Mencocokkan Gambar

Sebelum Gayatri dua tahun, biasanya kami hanya menggunakan figurine ini sebagai alat memperkenalkannya pada nama dan suara hewan. Setelah beranjak besar, karena kebetulan saya memiliki poster hewan juga, saya menggunakannya untuk permainan mencocokkan gambar. Jadi ketika saya menyebutkan nama hewan, saya akan minta Gayatri menunjukkan gambar di poster atau memilih figurine. Atau kalau tidak saya akan mengambil salah satu figurine, dan Gayatri menyebut nama serta memilih gambar.

2019-02-12 06.05.17 2-1024x768

Selain mencocokkan gambar di atas, jika sudah benar, maka kami main tebak nama anggota tubuh hewan. Seperti kepala, kaki, ekor. Kemudian minta Gayatri juga menunjukkan mana kepala hewannya, lalu menunjukkan mana kepala Gayatri, demikian, dst.

Permainan ini untuk menstimulai kognitif terutama poin C1, C4, C5 di tabel Parameter di atas.

2 . Pretend Play Antri

Dalam permainan pura-pura ini, saya meminta Gayatri untuk menyusun hewan berbaris ke belakang seperti kalau mau membayar belanjaan di supermarket. Karena Gayatri sudah memahami konsep ini, saat berbelanja, jadi kami menekankan lagi saat bermain. Dalam bermain, kami akan menyebutkan kalau berbaris seperti ini disebutnya antri.

Jelaskan dengan bahasa anak, apa pentingnya antri.

2019-02-12 06.05.20 3-1024x814

Bisa dilakukan dengan berpura-pura antri makanan atau antri ke toilet. Bisa juga dikembangkan saat antri ada yang menyerobot, dll. Kita bisa mendorong anak untuk mengingatkan dengan sopan, atau memberi insight pertanyaan. Contoh lain, adalah misalnya Sapi meminta izin pada kuda untuk memotong antrian ke toilet, karena dia sedang diare, lalu kuda mengizinkan.

Dalam hal ini, kita bisa membantu anak belajar, selain antri juga dalam belajar menyampaikan perasaannya, penggunaan salam, ucapan maaf dan juga terimakasih (poin tabel A, B3, D2, E1, E2 dan E3).

3 . Pretend Play Domba Terjebak

Bermain pura-pura kali ini, melibatkan es batu. Jadi sebelum bermain, saya sengaja untuk meletakkan satu figurine ke dalam mangkuk dan dibekukan dalam freezer. Pura-puranya sebagai hewan yang terjebak di dalam es.

Permainan pura-pura di sini akan melibatkan “drama” ingin menolong antara hewan satu dengan yang lain, dan juga melibatkan kognitif anak dalam memecahkan permasalahan (ikut menolong dengan memecahkan es batu).

PhotoGrid_1549926565258-1024x768

Pelajaran yang bisa didapatkan oleh anak adalah, membangun keinginan untuk berempati, untuk saling membantu (E1 dan E3), belajar memecahkan masalah (C2, C3, D1) dan juga mengenal konsep suhu.

4 . Jalan Lurus dan Lompat

Sebenarnya garis yang kami gunakan ini adalah lakban yang kami tempel di lantai sebagai “jalan raya” kalau Gayatri bermain mobil-mobilan atau kereta-keretaan. Kami letakkan beberapa figurine dalam jarak yang aman, lalu minta Gayatri berjalan dalam jalur namun tidak boleh mengenai figurine tersebut.

2019-02-12 06.05.15 1-1024x768

Tujuan permainan ini adalah melatih motorik kasar anak dalam melompat dengan dua kaki dan melatih konsentrasinya (berjalan lurus mengikuti garis membutuhkan konsentrasi tinggi bagi anak kecil) sesuai poin B1 dan C3.

5 . Melepaskan Hewan dari Dough

Permainan ini mirip dengan permainan nomor 3, yaitu membantu hewan melepaskan diri dari dough atau malam atau lilin mainan. Pelajaran yang bisa didapatkan oleh anak adalah, membangun keinginan untuk berempati, untuk saling membantu (E1 dan E3), belajar memecahkan masalah (C2, C3, D1) dan juga melatih motorik halusnya (B2) dalam menggunakan kelima jarinya.

2019-02-12 06.05.18 1-1024x768

Tentunya permainan bagi anak perempuan bisa dikembangkan tidak hanya lima permainan ini ya. Lima permainan ini pun sebenarnya juga bisa dipakai untuk anak laki-laki. Alat dan mainannya pun bisa disesuaikan misal dengan menggunakan boneka atau barbie, atau mainan lainnya yang ada di rumah.

Yang saya suka dari figurine kotakmainmainan ini, karena mainan ini versatile banget ya. Gampang banget dipakai dan disesuaikan dengan permainan yang mau dilakukan. Selain itu juga long lasting, jadi mainan ini bisa dipakai nggak terbatas usia. Pas Gayatri umur setahun, bisa dipakai untuk mengenalkan hewan dan suara hewan. Sampai nanti besar pun, masih bisa dipakai untuk pretend play.

Tips untuk memilih mainan figurine seperti ini adalah, pastikan bahannya aman serta pilih yang permukaan kulitnya bertekstur (detail). Tekstur di permukaan mainan ini kalau di Montessori akan memperkaya pengalaman dan menjadikan permainan tersebut berkesan bagi anak, karena menstimulasi sensory-nya juga.

Sekian sharing kali ini, semoga bermanfaat ya! Yang mau berbagi ide main atau info toko mainan juga boleh lo, tinggalkan komentar yaa!

Terimakasih, salam sayang!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Review Aplikasi Primaku IDAI

PhotoGrid_1550097488479-1024x768

Awalnya dulu saya menggunakan form denver dan juga tabel berat badan dan tinggi badan yang ada di buku catatan kesehatan dari kliniknya Gayatri untuk memantau tumbuh kembangnya. Sempat diinfo tentang aplikasi Primaku IDAI oleh Siwi, teman sekaligus tetangga saya yang punya anak seumuran Gayatri juga. Tapi tidak saya download karena keterbatasan space di handphone. Hehehe, maklum handphone jadul.

Related Post: Pengalaman Menggunakan Form Denver

Berhubung awal tahun ini dapat rejeki bisa ganti handphone, salah satu aplikasi yang pertama kali saya download adalah aplikasi Primaku IDAI ini, setelah diingatkan lagi sama Mbak Tia di stories IG.

Daaaaaaannnn, saya happy banget dengan aplikasi ini. Beneran berfaedah. Aku bahagia.

Namun sebelum membahas tentang aplikasi ini, izinkan saya untuk membahas satu tema yang menggelisahkan hati. Hal ini jugalah yang mendorong saya untuk menggunakan dan juga mereview aplikasi ini: Early Intervention.

Early Intervention

Sebenarnya istilah ini saya pinjam dari CDC (Center for Disease Control and Prevention), merujuk kepada satu program di Amerika Serikat yang bertujuan untuk mendeteksi dan menangani keterlambatan atau gangguan perkembangan anak sejak dini. Program ini dikhususkan untuk anak-anak usia 0-3 tahun.

Saya tidak akan membahas program ini lebih lanjut. Namun, slogan mereka, “Learn the Signs. Act Early”, inilah yang ingin saya bahas sebelum membahas aplikasi IDAI lebih lanjut.

Anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan normal sesuai dengan usianya, atau bahkan optimal sesuai dengan potensinya, adalah harapan setiap orang tua. Namun sebagai orang awam terhadap ilmu medis (saya sarjana ekonomi, btw), ada kalanya timbul rasa ragu dalam memastikannya.

Hal inilah yang membuat saya, sepertinya kok ribet banget ya. Pakai form ini itu untuk mengecek tumbuh kembang Gayatri.

setrong

Yang pertama, karena saya tidak memiliki latar belakang pendidikannya – nggak punya ilmunya, dan yang kedua sebagai orang tua kadang kita terlalu “narsis” dengan anak sendiri. Hal-hal sedemikianlah yang membuat kita kadang luput atau abai terhadap fakta yang ada.

Ya, sebagaimana kita ketahui, orang awam memang TIDAK BOLEH mendiagnosis delay atau apapun itu namanya. Namun sebagai orang tua, orang tua WAJIB memahami tanda-tanda apakah yang patut dipantau. Sehingga ketika tanda itu muncul, saya bisa berkonsultasi dengan dokter sedini mungkin. Serta juga memberikan informasi yang akurat bagi dokter dalam observasinya.

Menurut IDAI, seribu hari pertama kehidupan anak (mulai kehamilan sampai usia dua tahun) adalah masa yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Keterlambatan atau kekurangan pada masa ini yang tidak segera ditindaklanjuti dapat berdampak pada kesehatan dan kemampuan anak dalam jangka panjang.

So, “Learn the Signs. Act Early” please! Demi anak-anak kita juga.

Apa Saja yang Perlu Dipantau?

1 . Pertumbuhan.

Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran tubuh bayi atau anak. Gampangannya si, anak tambah tinggi, tambah berat, tambah besar (lingkar kepala).

Nah, setelah ditimbang dan diukur tinggi dan lingkar kepalanya, hasil pengukuran tersebut diplot ke kurva pertumbuhan. Cek deh di KMS (Kartu Menuju Sehat) yang dikasih dari RS atau fasilitas kesehatan lain saat melahirkan, di situ ada kurva pertumbuhan.

KMS

Saya mengunduh gambar di atas dari web Kemenkes ini. Mohon konfirmasi ke DSA/ Posyandu terdekat untuk cek keterbaruannya terlebih dahulu saat akan menggunakannya.

Jadi kalau ada yang bilang, “Ih, anaknya kurus. Nggak dikasih makan ya?” Yang pertama sebaiknya dilakukan, janganlah nangis gerung-gerung sambil baper di pojokan dapur. Tapi ceklah faktanya di KMS. Kalau ijo royo-royo, katakan dengan tegar, “Iya, Jeng…. Anak saya memang langsing, kayak saya, nggak kayak situ!” Jangan lupa kibasin dasternya biar hot.

Tapi kalau memang sudah kuning atau malah merah, yuk mari kita menuju bidan, posyandu, dokter anak atau RS terdekat untuk mendapat saran medis yang lebih kompeten dibandingkan komentar pedas netizen. Jangan denial. Dan jangan lupa ucapkan terimakasih ya, sama yang pedas-pedas itu.

2. Perkembangan.

Perkembangan adalah pertambahan kemampuan bayi atau anak.

Contohnya adalah ketika Mertua menelepon dan bertanya, “Ehhhhh, cucuku uda bisa jalan beluuum? Uda bisa ngomong belum? Uda bisa meroda belum? Uda bisa lompat harimau belum? Uda bisa nyetir belum?” Wkwkwkw, no offense ya Papi dan Mem, becanda lo becandaaaa…. Nah, pokoknya yang seperti itulah kira-kira, hehehe….

PhotoGrid_1549927071778-1024x768

Kemenkes RI mengeluarkan KPSP (kuesioner pra skrining perkembangan). Kuesioner ini berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak, sesuai kelompok usianya.

Misalnya untuk usia anak 2 tahun, pertanyaan-pertanyaannya untuk mendeteksi keterlambatan usia 24 bulan adalah, “Apakah anak dapat meletakkan satu kubus di atas kubus yang lain tanpa menjatuhkan kubus itu?” dan seterusnya.

IDEALnya skrining ini dilakukan oleh tenaga medis ya…. Jadi mereka mengamati perilaku anak. Bukan ditanyain ke anak lo ya pertanyaan di atas. Sehari-hari dilakukan di rumah si boleh, tapi hasilnya tidak menggantikan konsultasi dengan dokter ya.

Cukup sebatas, kalau ditanya Mertua kaya tadi, kita bisa jawab, “Bu…. Lompat harimau itu belum ada di fase perkembangan anak dua tahun…. Mohon ditunggu kira-kira tujuh tahun lagi lah ya….”

Siapa yang Perlu Dipantau, Dimana dan Kapan?

Semua anak tanpa kecuali.

1 . Secara umum, anak atau bayi bisa diperiksa di Puskesmas, atau Posyandu.

Saya sendiri karena (dulu) bekerja keras bagai quda dari jam 8 – 5, tidak bisa datang ke kedua fasilitas tersebut, datangnya ke Klinik Ibu dan Anak pas malam hari.

2 . Untuk bayi/ anak dengan risiko tinggi bisa diperiksakan ke dokter anak di rumah sakit.

Contoh bayi risiko tinggi  menurut IDAI adalah yaitu bayi atau anak yang kelahirannya prematur, memiliki berat saat lahir rendah, bayi baru lahir yang  mengalami infeksi, penurunan kadar gula darah, memiliki sindroma sesak napas, atau pernah mengalami kejang.

Pemantauan tumbuh kembang untuk bayi dianjurkan tiap bulan (dari usia 0 bulan ya, kayak isi bensin, dari enol), biasanya dulu saya lakukan sambil imunisasi. Kemudian anak usia satu sampai dua tahun dianjurkan tiap 3 bulan, dan anak usia dua tahun sampai enam tahun dianjurkan tiap 6 bulan.

Tapi kan kecemasan atas tumbuh kembang anak bisa datang kapan saja.

Apalagi kalau punya tetangga yang julid. #eh

Thats whyyyyy Nyaaah! Punyailah tool pemantauan tumbuh kembang. Bisa buku KMS/ KIA tadi, KPSP atau yang praktis dan menyakup keduanya: Aplikasi Primaku IDAI.

PhotoGrid_1550097488479-1024x768

Review Aplikasi Primaku IDAI

Aplikasi ini adalah aplikasi berbasis smartphone yang resmi dirilis oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Thta’s why namanya Prima, singkatan dari Program IDAI untuk Membangun Anak Indonesia (PRIMA).

Di dalam satu aplikasi ini, saya mendapatkan fitur-fitur yang penting dan sering saya gunakan untuk memantau tumbuh kembang anak saya:

1. Ada form untuk memantau PERTUMBUHAN anak, yaitu adanya kurva pertumbuhan.

Orang tua bisa mengisi berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala anak, kemudian nanti akan diolah dalam bentuk kurva secara otomatis. Selain dalam bentuk kurva/ grafik, olahan data juga akan muncul keterangan apa status gizi anak, apakah baik atau tidak, lalu apakah sudah sesuai antara tinggi dengan berat badannya. Gitu-gitu.

PhotoGrid_1550097346547-1024x768

Enaknya lagi ada rekomendasi nutrisinya. Sayangnya, saya melihat untuk rekomendasi nutrisi di tab pertumbuhan pada aplikasi ini masih umum banget ya. Saya berharapnya ada rekomendasi menu, kemudian ada hitung-hitungan kalori atau berapa gram sayur/ buah/ lauk yang diperlukan.

“Puyeng atulah bikin algoritma aplikasinya….”, kata si mas dan mbak developernya. 😛 Hihihi, emang susah si ya, harus temu muka langsung dengan ahli gizi kalau begini yak.

2. Ada kuesioner untuk memantau PERKEMBANGAN anak.

Yaitu dengan form Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). Walaupun form yang digunakan berbeda dengan yang sebelumnya saya gunakan (denver), tapi saya merasa manfaatnya sama, yaitu saya bisa tahu apakah anak saya berkembang sesuai dengan usianya.

Dari 9 atau 10 pertanyaan nanti akan muncul hasil apakah perkembangan anak sesuai, meragukan atau menyimpang.

Nah, berbeda dengan yang di tab pertumbuhan, rekomendasi yang ada di tab perkembangan ini detail dan sangat praktis sekali. Jadi ada dua rekomendasi yang diberikan, yang pertama adalah rekomendasi cara stimulasi per tahap pertumbuhan dan yang kedua adalah rekomendasi atau saran untuk ke dokter anak lebih lanjut.

Kurang lebih seperti ini penampakannya:

PhotoGrid_1550097294719-1024x768

Rekomendasi pertama (seperti foto di atas yang paling kanan) akan muncul otomatis pada setiap perubahan usia. Sementara rekomendasi kedua akan muncul setelah kita mengisi KPSP, pada pilihan deteksi keterlambatan. Apabila terdapat kondisi yang meragukan atau menyimpang, maka aplikasi akan memberi rekomendasi untuk ke dokter anak.

Mantul yak!

Tapi teteuuuup, seperti saya bilang tadi, skrining di rumah tidak menjadikan skrining oleh tenaga medis tidak diperlukan lagi ya. Kalau pas jadwalnya Posyandu, ya sok atulah ke Posyandu, biar dapat juga pendapat yang valid dari yang lebih berkompeten.

Ada dua hal lagi ni yang saya sueneng banget super banget banget banget…. Aplikasi ini juga punya dua hal ini:

PhotoGrid_1550097395439-1024x768

3 . Jadwal Imunisasi (Jadwal IDAI dan PPI)

Kalau jaman saya masih di Bintaro, saya tu manja bener sama dokter anak langganan. Jadi beneran tiap ke sana, beliau yang ingetin harus balik lagi ke klinik tanggal berapa dan imunisasi apa. Giliran pindah rumah, dan belum nemu klinik dekat rumah, ya mau ga mau kudu inget-inget sendiri jadwal imunisasi.

Makanya happy banget pas ngeh di Primaku ada tab Jadwal Imunisasi. Mana ada dua sub tab lagi, jadwal imunisasi lengkapnya IDAI (yang banyak banget antara imunisasi wajib dan imunisasi tambahan. Hmmmm…. istilah wajib dan tambahan ini sepertinya kurang pas ya, tapi sepertinya istilah ini kan ya yang paling common sense.

Nah, kalau jadwal PPI ini adalah jadwal imunisasi yang program pemerintah, alias yang disubsidi, atau yang sering ibu-ibu komplek sebut dengan imunisasi wajib.

Kelebihannya, di Primaku jadwal imunisasinya sudah disesuaikan sama tanggal lahir anak. Jadi kita ndak perlu ngitung lagi manual, seperti kalau kita cek jadwal pakai tabel. Life saver banget buat nyonya (yang) malas kaya akoooh.

Room for improvement: Bakal lebih enak banget buat user si sebenernya kalau aplikasi ini diintegrasiin sama google calendar ya. Jadi pengguna android bisa ada pop up nya gitu, reminder kalau besok kudu imunisasi. Ting tung ting tung!

Ahhh, malas kali kau Nyahhhhh! Uda gratis pun banyak mintanya!

Wkwkwkwk….Yah, namanya juga usaha Buuuuk! Kalau dikabulkan syukur, kalau engga, aplikasi yang sekarang juga uda cucok meong kok. Sampai saya sukarela bikinin artikel lebih dari seribu kata gini kan.

4 . Artikel kesehatan (>200 artikel)

Fitur terakhir ini jarang saya manfaatkan sebenarnya, tapi pernah. Dan bukan berarti nggak bermanfaat. Hanya memang preferensi saya untuk baca artikel dari laptop aja si. Biar bisa buka banyak tab, sambil bikin pointer dan mata minus saya juga nggak jadi jereng.

Buat yang commuting PP rumah dan kantor, bisa banget ni jadi bahan bacaan daripada follow akun lambe lambe. Julid itu berat, Sistur, kamu nggak akan kuat. Biar aku aja.

Okelah kalau begitu.

hehehe

Berhubung sudah nembus 1500an kata, dan sebelum makin banyak mertua, tetangga dan juga admin lambe yang membenci saya, sebaiknya saya sudahi sampai di sini.

Buat yang mau aplikasi ini download aja! Di Appstore dan Playstore ada.

Trus kalau bingung, bisa cek tutorial dan FAQ di website www.primaku.com.

Semoga sharing kali ini bermanfaat yaaa! Kalau ada teman-teman dokter/ tenaga medis yang mau menambahi atau mengoreksi, atau ada temen ibu-ibu mau curhat atau sharing juga tentang aplikasi IDAI atau apapun, boleh kasi komentar yaaa!

Yang pasti jangan konsultasi, konsultasi mah di pusat kesehatan yaaak! Salam sayang!

.

.

.

.

.

.

Referensi:

  1. https://www.primaku.com/
  2. https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/parents/states.html
  3. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pemantauan-pertumbuhan-anak
  4. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-memantau-pertumbuhan-dan-perkembangan-anak-bagian-1
  5. http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-memantau-pertumbuhan-dan-perkembangan-anak-bagian-2
  6. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/pentingnya-pemantauan-tumbuh-kembang-1000-hari-pertama-kehidupan-anak
Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!

Anakmu Sudah Bisa Anu Belum?

FullSizeRender

Pertanyaan yang sering sekali saya dapat. “Anakmu sudah bisa jalan belum?” “Anakmu sudah bisa ngomong belum?” “Anakmu sudah bisa anu belum?” “Ini itu belum?”

FullSizeRender

Hehehe…. #nooffense. Jujur saya jarang baper ya, karena toh selama ini Gayatri pun tumbuh kembangnya baik-baik saja. Walaupun ya namanya anak kan berbeda-beda timelinenya, kadang ada yang lebih cepat dibandingkan yang lain, atau lebih lambat. Selama masih dalam koridor normal, saya tetap tenang. Saya biasanya ngecek berdasar tes denver.

Tes perkembangan anak sendiri sebenarnya banyak, ada yang pakai KTSP, dll. Tes denver yang saya gunakan sendiri infonya tidak bisa mengukur ketertinggalan anak. Tentu saja, kalau mau mengukur ketertinggalan perkembangan anak tetap harus konsultasi dengan dokter ya. Namun kata dokter anak saya dan adik saya (yang fisioterapis) tes ini masih dapat digunakan sebagai screening awal. Dan saya juga menyukainya karena mudah digunakan.

Related post: Tes Denver.

Walaupun jarang baper, kadang saya berasa bingung menghadapi pertanyaan, “Anakmu sudah bisa anu belum?” ini. Paling salah tingkah jika pertanyaan tersebut ditanyakan di dalam kelompok dimana ada anak lain selain Gayatri. Walaupun jujur saya bangga pada sekecil apapun perkembangan anak saya. Bukan sombong ya. Tapi saya tetap tidak suka membanding-bandingkan perkembangan anak.

Saya jawab nanti ibu lain baper.

Saya nggak jawab tar dikira saya yang baper.

Rikuh. Serba salah. Tiap anak kan punya milestonenya sendiri. Bandinginnya ya sama milestonenya sendiri dari hari ke hari, bukan sama anak orang lain. Jadi sebisa mungkin saya menghindari kemungkinan membahas hal demikian.

hehehe

Ada yang perkembangan anaknya itu jalan duluan dibanding yang lain. Ada yang ngomongnya duluan. Ada yang emang dua-duanya duluan. Ya terserah Tuhan yang kasih perkembangan anak lah. Membanding-bandingkan perkembangan anak hanya akan menuju hal-hal yang lebih banyak mudaratnya. Entah kesedihan bagi si Ibu, atau malah kesombongan.

Padahal, siapa kita coba (sebagai ibu) patut untuk sombong atau sedih atas pertumbuhan anak yang dikaruniakan pada kita?

Bagian kita tuh, berusaha. Ikhtiar.

Dan berdoa.

Uda.

Okeeeee…. Saya maklum juga, kadang pertanyaan seperti ini dilakukan untuk memecah kebekuan. Untuk memancing pembicaraan. Tapi plis sebisa mungkin lakukanlah saat tidak dalam kumpulan anak-anak. Untuk menghindari saling membandingkan perkembangan anak masing-masing.

Saya akan seneng banget kok, kalau ditanyain dalam rangka buat diskusi. Diskusi tentang stimulasi yang dilakukan. Gimana kalau uda begini. Atau begitu. Saya juga suka kalau dikasih informasi dan masukan yang berimbang. Jadi fokusnya di “yuk, kita mau ngapain”. Proses. Dan lebih positif gitu vibenya. Dibandingkan pertanyaan yang ujungnya ditimpali dengan, “Oh, anakkmu begitu, kalau anakku….”

Gitu aja sik. Hehehe….

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!