Review Buku Hamu dan Biji Bunga Matahari, Literasi Keuangan Anak

Beberapa waktu lalu, saya menerima paket buku Hamu dan Biji Bunga Matahari, buku ini bertema literasi keuangan untuk anak-anak. Bukunya ditujukan kepada Hayu, anak kedua saya yang masih berusia 1,5 tahun. Tapi dalam review ini saya akan menyampaikan juga respon anak pertama saya yang berusia 5,5 tahun terhadap buku kartun ini.

Saat menerimanya, saya excited banget karena dua alasan, yang pertama karena buku ini adalah buku literasi keuangan anak pertama yang saya miliki dengan konsep analogi. Penulis menganalogikan konsep keuangan sedrhana melalui perilaku Hamu. Tokoh utamanya adalah hewan hamster yang lucu. Saya berharap hal tersebut akan menarik perhatian si bungsu.

Alasan kedua, karena saya mengasumsikan buku ini ditujukan untuk anak usia dini (termasuk anak kedua saya yang masih batita). Buku cerita anak bertema keuangan yang saya miliki sebelumnya semuanya tokoh utamanya adalah manusia dan ditujukan untuk anak usia sekolah (TK dan SD awal). Jadi saya sangat mengapresiasi adanya buku Hamu ini yang menyasar ke usia yang lebih muda.

Identitas Buku Literasi Keuangan Anak, Hamu

Judul Buku: Hamu dan Biji Bunga Matahari

Penulis: Nurhuda dan Winda

Editor: Amel Erliana Crhistine

Ilustrator: Zamrudi

Penerbit: CV Penamaedo Solution, Nganjuk

ISBN 978-623-98927-0-8

Cetakan Tahun 2022

Volume 16 halaman dalam 8 lembar karton full colour.

Bonus puzzle.

Sinopsis

Tokoh utama buku ini adalah Hamu, seekor hamster. Kisahnya seputar aktivitas Hamu terkait dengan biji bunga matahari. Dari makan, menyimpan, berbagi hingga menanam tanaman bunga matahari. Termasuk ada juga kisah tentang tanaman bunga matahari yang mati.

Review (Orang Tua)

Analagi keuangan yang disampaikan dalam cerita Hamu dan Biji Bunga Matahari ini cukup banyak tapi tidak rumit. Mulai dari konsumsi, menabung hingga investasi disuguhkan dalam bentuk analogi/ cerita hewan. Yang saya sukai, dalam buku ini penulis tak lupa memasukkan unsur berbagi. Hal ini menurut kami penting, agar anak melihat materi tak hanya sebagai tujuan tetapi juga sarana memberikan manfaat.

Mengingat target pembacanya adalah balita, pilihan menggunakan kertas karton, menurut saya sudah sangat tepat, karena tidak mudah sobek dan rusak. Selain itu, saya mengapresiasi desain ujung halamannya yang dibuat tumpul sehingga sangat aman.

Room for improvement untuk buku ini menurut saya adalah meminimaliasi ilustrasinya yang terlalu ramai. Adakalanya gambar latar belakang, yang tidak terkait cerita, tampak lebih menonjol daripada tokoh utama. Misal di halaman 3, ada gambar celengan ayam yang besar sekali.

Gambar tersebut cukup mendistraksi anak kedua saya (1,5 tahun) saat dibacakan cerita. Ia lebih tertarik pada si celengan ayam daripada Hamu yang ukurannya lebih mungil. Namun, untuk anak pertama saya (5,5 tahun) hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah.

Respon Anak Terhadap Cerita Hamu

Anak pertama saya, sejak paketnya dibuka sudah langsung tertarik dengan buku ini. Tampaknya gambar hamster yang menggemaskan yang kontras dengan warna hijau muda pada kotak, memang sangat menarik bagi minat anak-anak. Selain memang anak pertama saya memang pecinta berat buku.

Berbeda dengan anak kedua saya yang memang suka aktif bergerak daripada duduk diam mendengar/ melihat cerita. Butuh waktu berminggu-minggu sampai akhirnya ia tertarik. Awal ketertarikannya pun justru karena bonus puzzle yang ada di dalamnya. Tentu dia belum bisa menyusunnya, tapi hal itu menarik perhatiannya! Dalam bulan terakhir sebelum tulisan ini dibuat, Hamu menjadi salah satu buku yang paling sering direquest oleh si Bungsu untuk dibacakan.

Pembelajaran Anak

Karena buku ini bertujuan untuk edukasi keuangan, saya akan membahas sedikit tentang pembelajaran yang saya amati dari kedua anak saya terkait buku ini.

Untuk anak kedua yang baru berusia 1,5 tahun, ia baru sampai tahap tertarik, mendengarkan dan sesekali bertanya tentang gambar yang ada di buku Hamu. Ia pun baru bisa fokus mendengarkan 2-4 halaman per sesi cerita. Selanjutnya dia akan menunjuk berbagai gambar ilustrasi, dan bertanya ini apa itu apa (sepertinya terdistraksi).

Anak kedua saya juga belum bisa menghubungkan analogi (cerita Hamu) dengan aktivitas keuangan sehari-hari. Hal ini saya maklumi, dan saya juga tidak berekspektasi sejauh itu. Saya hanya berharap kisah ini bisa familiar dan di masa depan membantunya memahami konsep dasar keuangan dengan fun. Jadi bukan pembelajaran instant.

Sementara itu, untuk anak pertama, yang memang lebih besar (5,5 tahun) dan juga secara riil sudah kami kenalkan dengan konsep uang dan menabung, ia sudah bisa menangkap maksud dari analogi tersebut hanya dengan dua-tiga kali dibacakan. Saya menyimpulkan kalau ia mengerti, dari beberapa komentarnya seperti, “Kalau Hamu simpan kuaci (biji bunga matahari) di lubank, kalau Aci (nama panggilan anak saya) di celengan.”

Simpulan

Saya rasa buku ini bagus untuk melengkapi/ memfasilitasi orang tua untuk mulai “ngobrol” masalah keuangan dengan anak sedini mungkin dengan cara yang menyenangkan. Beberapa dari orang tua, seiring kegiatan sehari-hari tentulah pernah menyerempet isu keuangan ini. Nah, buku ini bisa jadi salah satu cara untuk menghighlight kegiatan sehari-hari menjadi pembelajaran yang bermakna.

Tentu saja, buku ini tidak dapat berdiri sendiri sebagai sarana pembelajaran. Anda dapat menggunakan cerita Hamu untuk melengkapi aktivitas riil yang dilakukan di rumah, seperti menabung, berbagi ke sesama, dll agar anak mulai aware dengan konsep-konsep tersebut.

Saya juga sangat mengapresiasi penulis yang mau menyasar target pembaca dengan usia yang sangat muda. Semoga semakin banyak buku-buku bertema literasi keuangan untuk anak usia dini!

ps. Bagi Anda yang ingin tahu lebih lanjut tentang buku Cerita Hamu atau ingin memesannya, Anda bisa cek di Instagram @ceritahamu.id

nyonya

Hai, saya si nyonya malas, Emanuella Christianti. Fulltime employee, part time blogger with love, daily-do-it-yourself enthusiast :) Enjoys my blog and let's be friends!

2 thoughts to “Review Buku Hamu dan Biji Bunga Matahari, Literasi Keuangan Anak”

  1. Kiyuuttnya..
    Buku yang aku suka…karena karakternya unik yaa.. hamster.
    Biasanya anak-anak hanya mengela hewan-hewan tertentu. Dan konsep berbagi ini memberikan kesan yang mendalam, agar anak-anak bisa dengan mudah mengeluarkan apa yang dimilikinya untuk sesama.
    MashaAllah~

  2. Menarik yah buku Hamu buat kenalkan konsep mengelola uang untuk balita. Kalau seumuran Hayu memang lebih suka Tanya apa ini, apa itu. Ia sedang menyerap kosa kata baru. Yakin deh nanti usia 2 th ke atas dia udah bisa ceritakan kembali buku Hamu dg bahasanya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *