5 Produk Perlengkapan Bayi Antibakteri

Sudah dari bulan Agustus, Saya mencoba beberapa produk untuk ibu hamil/ menyusui serta perlengkapan bayi antibakteri dari Mama’s Choice. Review produknya sudah Saya post juga ya beberapa. 

Mungkin ada beberapa teman-teman yang bingung karena produknya banyak banget dan juga namanya belum terlalu familiar karena baru launch, jadi untuk memudahkan aku bikin recap ya. 

List perlengkapan bayi antibakteri di bawah ini Saya susun dari yang paling sering Saya gunakan sampai ke yang paling irit….

1 . Liquid Detergent alias Sabun Cuci Baju Bayi

detergent baju bayi

Produk ini adalah produk perlengkapan bayi antibakteri yang paling cepet abis kalau di rumah kami. Soalnya selain buat nyuci baju bayi, aku pakai sekalian juga buat nyuci baju anak pertamaku dan bajuku. 

Pertimbangan kenapa bajuku juga saya cuci dengan detergent baju bayi adalah karena kan kulit bayi juga sering berinteraksi dengan bajuku ya. Karena ya bisa dibilang hampir 24 jam bareng aku, terutama pas gendong atau peluk. 

Jadi ku pikir akan baik juga kalau bajuku pun dicuci dengan detergent baju bayi yang mengandung antibakteri namun tetap aman dan lembut di kulit bayi, supaya tidak mengiritasi. 

Related post: Tips Menyiapkan Baju Bayi dan Review Detergent Baju Bayi

Buat baju Saya sehari-hari pun, hasil cuciannya cukup memuaskan. Bisa menghilangkan bau keringat dari aktivitas Saya sehari-hari di rumah. 

Yang Saya suka lagi, walaupun dijemur saat mendung, detergent ini ga bikin baju jadi bau apek. Cocok lah untuk digunakan di musim penghujan seperti sekarang ini. 

2 . Antibacterial Moisturizing Hand Gel

mama's choice moisturizing hand gel

Awalnya aku nggak terlalu tertarik dengan produk ini, mengingat di masa pandemi ini aku jarang keluar rumah, dan kalaupun keluar rumah aku pakainya hand sanitizer yang alcohol based sesuai anjuran WHO untuk penanggulangan COVID-19. 

Tapi pas bayi uda lahir, produk ini malah jadi andalan banget saat di rumah aja. Saya taruh di tempat yang mudah terjangkau supaya Saya bisa sering menggunakannya untuk mencegah tangan Saya kering setelah mencuci tangan atau mencuci piring. Saya juga menggunakannya sebagai hand sanitizer sebelum memegang bayi, mengganti popok, dll. 

Saya juga nggak khawatir untuk menggunakannya pada tangan bayi yang sedang suka ngemut jari. Begitu juga untuk anak pertama Saya yang masih balita. Karena formula hand gel ini lembut, aman untuk anak dan juga punya fungsi melembabkan. 

Related post: Review Mama’s Choice Moisturizing Hand Gel

3 . Multi-purpose Cleaner alias Pembersih Pemukaan

Cleaner ini paling sering Saya gunakan untuk membersihkan meja makan anak pertama Saya, Gayatri. Sebelum dan sesudah makan. 

Alasannya si supaya lebih tenang aja ketika anak makan. Biasanya kan anak sering memungut makanan yang sudah jatuh ke meja tu. Jadi nggak terlalu khawatir lagi karena mejanya sudah dibersihkan terlebih dahulu. 

Cleaner ini juga cukup ampuh mengusir bau amis dari makanan loh. Contohnya setelah makan udang rebus, kesukaan Gayatri, saya semprot dan bersihkan meja makannya dengan produk ini. 

Baunya tidak menyengat, karena pakai ekstrak tumbuhan, tapi buat saya yang memang nggak terlalu suka artificial fragrance, it turns to be good. 

Selain untuk membersihkan meja dan kursi makan anak, produk ini pernah Saya gunakan juga untuk disinfeksi kulkas dan mainan.

Related Post: Review Mama’s Choice Multi-purpose Cleaner

4 . Liquid Cleanser alias Sabun Cuci Botol Bayi

sabun cuci botol bayi

Pengalaman pertama Saya pakai produk ini adalah untuk mencuci pompa ASI saat bayi Saya harus rawat inap di Rumah Sakit. Testimoni Saya, produk ini cukup baik membersihkan lemak sisa susu, mudah dibilas sehingga nggak meninggalkan residu sabun dan nggak membuat pompa ASI jadi bau sabun gitu.

Selain karena ada fitur antibakterinya, yang menarik dari produk ini adalah karena klaim food gradenya. Dengan klaim food grade artinya produk ini tidak mencemari peralatan bayi yang dicuci dengan bahan kimia yang berbahaya apabila tidak sengaja peralatan tersebut masuk ke dalam mulut atau berinteraksi dengan makanan. 

Oleh karena itu, Saya rasa cocok banget untuk digunakan mencuci part breast pump, botol susu, teether dan juga peralatan makan bayi/ anak. 

Bagi teman-teman yang Muslim, produk ini juga sudah mengantongi sertifikat halal dari MUI ya…. Jadi nggak hanya menenangkan dari sisi kesehatan, namun juga kehalalannya terjamin. 

Setelah Saya nggak pakai breastpump, produk ini Saya pakai untuk mencuci mainan. Manfaat lain dari produk ini, pernah Saya bahas di artikel 8 Manfaat Sabun Cuci Botol Bayi Multifungsi.

5 . Floor Cleaner alias Pembersih Lantai

pembersih lantai

Last but not least, produk perlengkapan bayi yang mengandung antibacterial agent adalah pembersih lantai. Produk ini ada di nomor terakhir bukan karena Saya nggak suka, tapi karena luas tempat tinggal Saya yang mungil (apartemen). 

Selain itu Saya juga punya tips untuk mengepel dengan hemat tapi lebih bersih di artikel sebelumnya. Jadi satu botol Mama’s Choice Floor Cleaner ini awet bener.

Tentu saja urutan ini belum tentu sama untuk setiap rumah tangga ya. Bisa jadi berbeda kondisi dan juga kebutuhan. Tapi semoga bisa kasih gambaran singkat, buat yang mau kepoin produknya lebih lanjut bisa ke artikel sebelumnya sesuai link yang Saya cantumkan di atas. 

Buat yang mau belanja, semua produk di atas bisa didapatkan di website mamaschoice.id. Teman-teman bisa pakai kode voucher MAMAELLA untuk mendapatkan diskon sebesar 25k pada minimal pembelian 90k.

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Mengajari Anak Makan Sendiri Sejak Dini

Memiliki dua anak dengan jeda usia hampir 4 tahun, menurut Saya, cukup memudahkan Saya untuk mengatur rutinitas harian. Hal ini terutama karena si kakak sudah mulai bisa mandiri dan diajak kerjasama. Salah satunya adalah dengan mengajari anak makan sendiri.

Anak pertama Saya sebenarnya sudah terbiasa untuk makan dengan tangannya sendiri sejak dini. Kami memperkenalkan finger food sejak masih MPASI, disamping tetap menyuapinya dengan bubur bayi. 

Kemudian ketika dia masuk daycare, daycarenya pun cukup disiplin untuk masalah kemandirian anak. Termasuk untuk masalah makan ini, anak dibiasakan untuk makan dengan tertib dan juga belajar makan sendiri. 

Tapi…. Ngaku dosa dulu deh Saya. 

Kebiasaan baik di atas, sempat agak berantakan malah ketika Saya ambil cuti dan jadi ibu rumah tangga. Wkwkwk, ironis ya. Pas ditungguin ibunya, malah kemandirian anakku mengalami “kemunduran”.

Yha, gimana…. Soalnya kadang kan pengen cepet selesai aja tu, jadi ambil jalan pintas “suapin aja”. Soalnya kalau kelamaan, jadinya nggak habis, kawatir kurang gizi kan.

Lagipula kalau makan sendiri tu jadi berantakan kaaan…. Nasi bakal berceceran di bawah meja. Belum lagi kalau makanannya berkuah. Lantai bakalan basah dan lengket. 

Belum lagi kalau menunya seafood, O eM Ge, amisnyaaaa nempel di baju anak. Huhuhu….

Belum lagi ni ya yang krusial, kalau ada makanan jatuh ke lantai, lalu di ambil sama anak lalu diemploooook!!!! Duh, Gusti, hamba kan kawatir bakalan diare.

Feeling related? Berpelukan duluuuuu kita! Hahaha…. 

Tapi akhirnya Saya berdamai dengan hal-hal di atas. Tepatnya pas mulai hamil. 

Pemikiran Saya sederhana, pengennya kalau adik lahir, si Kakak uda bisa makan sendiri. Jadi dia nggak akan terbengkalai makannya karena nungguin Saya ngurusin adiknya. Misalnya adiknya sedang rewel pun, dia bisa makan sendiri gitu. 

Nah berikut adalah tips mengajari anak makan sendiri ala Saya.

Mengajari Anak Makan Sendiri

1 . Porsinya jangan terlalu banyak. 

Apalagi untuk balita yang motorik halusnya masih dalam perkembangan. Proses menyuapkan makanan dari piring lalu masuk ke mulutnya saja merupakan hal yang kompleks, karena melibatkan koordinasi mata, pergelangan tangan, jari dan juga mulut. Bisa jadi hal tersebut adalah hal yang sulit dan juga melelahkan bagi anak. 

Hal ini Saya amati pernah terjadi di anak Saya. Kadang kala, anak Saya berhenti makan sebelum makanan habis, bukan karena sudah kenyang. Tapi karena lelah. Bahkan kadang belum juga mulai, dia merasa overwhelmed. 

Oleh karena itu, bisa dicoba di awal dengan separuh porsi makannya, separuhnya kemudian ditambahkan kemudian setelah selesai. Kadang Saya juga menyuapi porsi keduanya. Gapapa, nanti lama kelamaan, seiring kemampuannya terlatih, anak akan bisa makan dengan porsi yang full. 

2 . Beri potongan yang mudah terlebih dahulu. 

Hal ini juga berdasar pengamatan saja ya Bu Ibu, kalau Saya taruh potongan ayam dibandingkan dengan suiran ayam, anak Saya akan lebih excited dan lebih cepat makan dalam bentuk suiran. 

Makes sense sih. 

Demikian juga kalau Saya bentuk nasinya dalam bentuk bulatan kecil atau potongan sushi kecil juga akan memudahkan anak belajar menyendok. Paling mudah sebenarnya adalah sereal, namun sereal jarang jadi menu kami, jadi Saya sesuai kan dengan kebiasaan di rumah. Hal ini, saya rasa bisa jadi permulaan yang baik. 

Kalau lagi iseng dan selow, kadang saya hiasin juga wkwkwkwk…. yah, variasi biar anak seneng aja si….

3 . Tertib makan di meja. 

Kami juga membiasakan anak makan di tempatnya sendiri. Tidak makan dengan digendong atau jalan-jalan. Dengan demikian, anak juga lebih mudah untuk menggapai makanannya sendiri dalam piring, dan familiar dengan alat makan. 

Bagaimana kalau ga punya meja makan?

Sejujurnya kami juga ga punya meja makan hehehe. Jadi makannya sempat di meja lipat gitu. Lalu kemudian kebetulan dikado highchair yang bisa dipisah meja dan kursinya, jadi kami pakai itu dari dia MPASI sampai sekarang umur 4 tahun.

4 . Pakai alat makan yang sesuai usia. 

Dulu, saya pernah bertanya kepada anak Saya, kenapa kok lebih suka pakai tangan daripada sendok makan, tapi kalau pakai sumpit malah mau. Alasan yang diberikannya adalah, karena kalau pakai sendok makan (ukuran dewasa) nasinya kebanyakan, jadi susah masuk mulut. 

Masalah ini selesai begitu saja saat Saya mengganti sendok nya dengan ukuran yang lebih kecil. 

5 . Ciptakan suasana menyenangkan. 

Poin ini adalah poin yang paling sulit buat Saya. To be honest. Soalnya kadang gatel banget rasanya melihat anak makannya lama atau berantakan.

Tapi kalau Saya menginterupsinya atau malah marah-marah, ya makin males makan sendiri anaknya. Jadi ya exhale inhale, sambil tetap ditemani. 

anak makan sendiri

6 . Jadwalkan anak makan sendiri dengan teratur. 

Ini adalah poin kunci, termasuk juga untuk mengatasi masalah GTM. Tips ini Saya dapat dari dokter anak Saya sekaligus juga Saya dapatkan saat training Montessori at Home. 

Anak sangat sensitif dengan keteraturan. Jadwal yang teratur membuat anak siap dan juga sudah lapar saat waktu makan. 

7 . Siapkan lap serta pembersih lantai atau spray pembersih multifungsi yang mengandung antibakteri.

Lap dan pembersih ini digunakan sebelum makan dan sesudah makan ya. Sebelum makan untuk mendisinfeksi meja dan lantai, sehingga Ibu bisa less worry kalau anak memungut makanan yang jatuh. Setelah makan, agar meja dan lantai kembali bersih dan tidak lengket. 

Ingat untuk tidak lap lap saat anak makan ya, supaya anak tidak terdistraksi konsentrasinya. 

Saya pakai produk pembersihnya dari Mama’s Choice sebagaimana di foto ya. Produk ini mengandung antibakteri dan sekaligus juga food grade, jadi aman (tidak mengontaminasi makanan dengan bahan kimia berbahaya). Untuk yang muslim, produk ini juga sudah mendapat sertifikasi halal dari MUI.

Produk itu memang masih jarang di minimarket, tapi sudah bisa dibeli secara online. Beli aja di mamaschoice.id pakai voucher MAMAELLA buat dapat potongan harga 25k minimal pembelian 90k. 

Related post: Review Mama’s Choice Baby Multi-Purpose Cleaner

Perlu diingat kalau proses mengajari anak makan sendiri itu tidak instan. Perlu kesabaran dan juga perlu konsistensi dari orang tua. Saya pun masih terus berusaha agar tetap konsisten agar anak pun lebih mandiri di masa mendatang. 

Semoga sharing kali ini bermanfaat ya! Semangaaatt!!!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Pendidikan Anak di Tengah Pandemi

belajar

Tahun ini seharusnya Gayatri masuk PAUD karena umurnya sudah 4 tahun lebih. Namun karena pandemi, kami memutuskan untuk menundanya. Terbesit pertanyaan dalam hati Saya, bagaimana jika pandemi berkepanjangan, dan usia Gayatri makin mendekati usia masuk SD, 7 tahun. Apa ya mungkin ditunda terus….

Saat Saya ngobrol dengan kakak ipar yang sudah punya anak usia sekolah, dia juga menceritakan banyak pro dan kontra sekolah saat pandemi, yang dijalankan dengan cara online saat ini. Begitu juga diskusi dengan Bapak Ibu Saya yang keduanya adalah guru. Bapak guru SMP dan Ibu guru SD.

Menurut mereka, tugas yang agak tricky bagi orangtua saat proses pembelajaran materi. Sebagaimana kita tahu, dan juga dulu Saya jalani juga, anak-anak sudah “dimanjakan” dengan sistem pembelajaran tatap muka di dalam kelas selama ini.

Jadi memang butuh adaptasi yang luar biasa ya, mengubah sistem yang tadinya belajar dibimbing guru, menjadi sistem belajar online yang lebih mandiri. Di satu sisi, menurut saya, hal ini sangat baik ya. Anak jadi terlatih untuk belajar mandiri.

Namun, di sisi lain orang tua juga harus proaktif melihat dan mendampingi anak, siapa tahu mereka belum menemukan cara belajar mandiri yang paling sesuai untuk diri mereka. Apalagi yang masih sangat muda, seperti usia sekolah dasar. Mengingat, materi yang diberikan sekolah via daring belum tentu bisa mengakomodasi kebutuhan mereka.

Saya saja dulu, kalau diingat-ingat, baru bisa belajar mandiri 100% dan efektif itu setelah mahasiswa loh. Sebelumnya benar benar sangat tergantung pada penjelasan guru di kelas. Setelah mahasiswa, Saya baru sadar kalau Saya cenderung visual, dan lebih efektif belajar dengan membuat chart, tabel, gambar, dan diagram saat membaca buku.

Buat Saya sebagai orang tua anak usia dini, yang bisa Saya lakukan adalah dengan membiarkan anak mencoba belajar sambil bermain dengan berbagai macam material. Harapannya adalah agar anak bisa belajar untuk belajar sejak dini. Yah, walaupun masih trial error sampai sekarang, ya… . :)

belajar

Bersyukurnya, seiring berjalannya waktu. Makin banyak pihak yang sharing tentang sistem pembelajaran di rumah. Baik yang free maupun berbayar.

Selama ini Saya mencari ide dan material pembelajaran anak usia dini dari RumahInspirasi, KidsLabIndonesia, KotakMainMainan, dll. Selain sebelumnya Saya juga sempat ambil workshop Montessori at Home di SunshineTeacherTraining dan juga ambil kelas online Montessori Inspired for 4-6 dental Bu Prita (Psikolog dan Kepala Sekolah BNM Montessori) dan Bu Damar Wijayanti (orang tua dan praktisi).

Untuk teman-teman orang tua yang anaknya sudah usia sekolah dasar dan merasa sekolah anaknya belum siap dengan sistem online, bisa banget melengkapi pembelajaran anak-anaknya dengan bimbel online yang juga banyak tersedia. Salah satunya, bimbel online dari Kelas Pintar.

bimbel online

Jadi kalau guru di sekolah cenderung memberikan bahan ajar online berupa slide via WA, bisa didukung dengan bahan ajar lain berupa audio visual atau video dari aplikasi Kelas Pintar tersebut di atas. Dengan begitu, anak-anak yang cara belajarnya cenderung audio pun bisa terfasilitasi dengan baik.

Selain materi pembelajaran, di Kelas Pintar, enaknya, orang tua juga bisa memantau progress pembelajaran secara langsung. Jadi memudahkan orang tua untuk mengevaluasi apakah cara belajar anak sudah optimal dan kemudian bisa melakukan langkah langkah untuk menindaklanjutinya.

Ya, sebagai orang tua dan calon wali murid, Saya tentu berharap agar pandemi cepat selesai dan sekolah bisa kembali beroperasi dengan normal. Supaya anak-anak juga bisa kembali bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya juga.

Tapi kalau pun harus dijalankan dengan online, semoga makin banyak source pembelajaran yang bisa didapatkan anak-anak sesuai dengan karakternya masing-masing.

Tetap sehat, waras dan terus berjuang di tengah pandemi yaaaak!!! Salam sayang selalu!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share