Punya Anak Kedua? Pertimbangan dan Harapan

punya anak kedua

Saat saya mengupload informasi kehamilan anak kedua, banyak sekali yang memberi selamat. Terimakasih banyak ya teman-teman. Saya terharu, hehehe. Di sela-sela ucapan selamat, ada beberapa teman yang menanyakan alasan atau menanyakan pertimbangan mengapa kami ingin punya anak kedua.

Sejujurnya kalau ditanya demikian, agak bingung juga menjelaskannya dalam bentuk tulisan ya. Hehehe. Soalnya kami berdua memang nggak punya semacam list pertimbangan atau kaya “10 alasan mempunyai anak kedua” gitu lo. Keputusannya diambil bukan serta merta hasil sekali diskusi, langsung jadi “Yuk, punya anak lagi”, nggak gitu! Tapi proses dari sejak awal menikah, punya anak pertama, lalu anak pertama kali sudah tiga tahun, obrolannya terus berkembang. Sampai kemudian memutuskan untuk lepas IUD. Saya coba rangkuma aja tapi ya…. :)

Btw, ngomongin “keputusan punya anak” nggak sama kaya “keputusan beli rumah”. Soalnya banyak variabel, yang tidak bisa manusia tentukan sendiri. Terjadinya pembuahan sel sperma dengan sel telur kan benar-benar di luar kemampuan kami sebagai orang tua ya. Sepenuhnya pasrah kepada Tuhan semata. Keputusan yang menurut kami sepenuhnya ada dalam kendali kami ya: kapan melepas alat kontrasepsi. Punya anak atau tidak punya anak, menurut saya benar-benar adalah kuasa Tuhan semata.

Wong, walaupun alat kontrasepsi masih terpasang pun, kalau Tuhan berkehendak kami punya anak, ya bisa terjadi kan ya.

Keinginan Punya Anak

Kalau diurut-urut, kami berdua sejak mula pernikahan, memang punya harapan untuk punya keluarga yang tidak kecil. Untuk jumlah anak sendiri, kami belum memutuskan berapa. Tapi dalam angan-angan kami tu seneng gitu membayangkan ada beberapa anak dalam keluarga yang rukun.

Hal itu dulu mungkin ya yang harus dibicarakan antara suami istri di awal. Keinginan atau harapan masing-masing pasangan seperti apa. “Mau nggak punya anak?

Dan yang perlu diingat, keinginan untuk punya anak, memang sangat personal ya. Susah juga untuk dikejar alasannya apa. Karena menurut saya, pasti banyak hal yang mempengaruhi. Seperti latar belakang keluarga, pengalaman hidup orang, atau mungkin value/ pandangan seseorang terhadap kehidupan dan dunia juga bisa mempengaruhi keinginan ini.

Saya rasa, setiap orang harus menghargai keinginan orang lain (yang menjalani) terkait hal ini ya. Termasuk juga keinginan pasangan. Tidak ada yang benar atau salah. Karena sifatnya sangat subyektif. Jadi kalaupun pendapat atau keinginan pasangan (baik suami maupun istri) terdengar aneh, ataupun tidak masuk akal bagi kita, ya harus dipertimbangkan.

Kan bikinnya bareng-bareng, anak bareng-bareng juga. Keputusan ga boleh memaksakan kehendak satu belah pihak saja.

Konsekuensi Punya Anak

Buat kami, keputusan untuk punya anak kedua adalah keputusan yang sangat besar. Jadi walaupun sebenarnya kami excited banget buat punya keluarga besar, kami nggak hanya mendasarkannya pada keinginan semata. Sebagai manusia yang bertanggungjawab, kita juga harus memikirkan konsekuensi yang timbul dari memiliki anak.

1 . Sumber Daya Keluarga yang Terbatas

Menambah satu anggota keluarga, berarti sumber daya keluarga yang tadinya digunakan untuk tiga orang, menjadi digunakan empat orang. Hal ini tidak hanya ngomongin tentang masalah keuangan ya, tapi juga tentang waktu, tentang perhatian satu dengan yang lain, tentang tenaga, tentang pikiran, dll.

Punya anak satu aja kadang ngos-ngosan ya energinya??? Hihihi…. Hayuuuk ngaku siapa yang jiper punya anak kedua, karena ngurus anak pertama aja capek? Realistis aja, ngurus anak tu capek jiwa raga, Komandaaan! I feel you!

Oke, katakanlah kita tetep pengen punya anak lagi. Oke, kita senang hidup di dalam keluarga yang rame. Tapi MAU NGGAK menerima konsekuensi untuk berbagi hidup kita lagi? Mau nggak, kita menanggung konsekuensi untuk kasih effort lebih sebagai orang tua.

2 . Beban Masa Depan Anak

Seperti dua sisi mata uang ya. Di satu sisi, anak itu berkah, anak itu anugerah. Di sisi lain anak itu tanggung jawab. Tanggung jawab orang tua memenuhi hak anak sampai anak itu nantinya siap membangun masa depannya sendiri, itu berat kalau di mata saya.

Walaupun, saya percaya kalau Tuhan percayakan, pasti Tuhan mampukan. Pertanyaannya, MAU NGGAK kitanya nanggung konsekuensi itu?

Suami saya si bilang “MAU”, kenceng banget. Hehehe, sayanya yang emang rada phragmatis bilang “Mau, tapi diatur atur dulu ya.” Hehehe…. Kalau temen-temen enggak mau, yauda menurut saya gapapa, kan ga ada yang maksa juga. Kita uda dewasa woy.

Baca Juga: Pengalaman Menggunakan KB IUD

punya anak kedua

Pertimbangan Punya Anak Kedua

Karena dua hal tadi, di kami uda terjawab iya, “Iya pengen punya anak” dan “Mau menerima konsekuensi punya anak tapi dengan pengaturan” maka kami lanjut tu mempertimbangkan hal-hal yang lebih teknis terkait mengatur jarak kehamilan.

1 . Kesiapan Ibu

Setelah melahirkan pertama, dulu kami memang langsung konsul untuk merencanakan kehamilan berikutnya. Kalau anjuran Dokter Kandungan saya, disarankan untuk memberi jarak setidaknya dua tahun dari persalinan pertama. Selain untuk memberi waktu memberikan ASI, juga untuk memulihkan kondisi ibu. Saya kurang tahu ini berlaku umum atau khususon saran untuk kesehatan saya ya. Tapi alasan di atas makes sense si.

Selain kesiapan kesehatan fisik, kesehatan mental juga harus dipersiapkan ya. Masing-masing orang beda-beda menyiapkan mentalnya ya…. Terutama mungkin yang punya trauma atau kejadian tidak menyenangkan di kehamilan atau persalinan yang pertama, perjuangan persiapannya kudu lebih semangat!

2 . Kesiapan Anak Pertama

Selain ayah dan ibu, kami menanyai juga Anak Pertama kami tentang mau nggak punya adik. Sounding tentang hal ini kami mulai dari usianya 2 tahun, dan dia baru oke pas umur 3 tahun. Hehehe, lama juga ya…. Keuntungan mengatur jarak kehamilan memang jadi punya kesempatan untuk diskusi dengan anak.

3 . Kesiapan Ayah

Saya pernah googling dengan keyword “ayah mengalami baby blues” dan ternyata banyak juga ya pengalaman para ayah yang merasakan baby blues saat punya anak. Oleh karena itu, kesiapan ayah juga jangan diabaikan yak.

4 . Kondisi Keuangan

Ada pepatah, “banyak anak, banyak rejeki”. Ada juga yang berpendapat, ” Tuhan pasti akan menyediakan rejeki tepat pada waktunya.” Kami memahaminya si gini, rejeki si Anak tu nggak cuma “akan disediakan” tapi bisa jadi “telah disediakan”. Yang pasti yang “telah disediakan” Tuhan ya akal budinya orang tua ya.

Dengan akal budi itu, orang tua bisa mengatur keuangannya sedari dini. Jadi kalau ada yang bilang, duh ribet banget si ngatur uang, kaya nggak punya iman. Loh, malah enggak si kalau menurut kami. Mengelola uang sebagai rejeki yang sudah Tuhan percayakan juga bentuk iman sik.

Bukan berarti keuangan orang tua harus perfect dulu ya, baru boleh merencanakan punya anak kedua. Tapi kami berdua, dulu mengusahakan setidaknya keuangan kami dalam kondisi yang relatif sehat. Kriteria saat itu yang kami buat untuk kami antara lain:

  • punya penghasilan,
  • ada dana darurat,
  • ada asuransi jiwa untuk Bapak (pencari nafkah),
  • ada asuransi kesehatan setidaknya BPJS untuk Ibu,
  • cicilan hutang tidak lebih dari 30%.

Sambil jalan, kami mulai menabung untuk persiapan persalinan.

Setelah keempat hal ini kami rasa relatif aman, kami memutuskan untuk melepas KB IUD. Dari yang awalnya direncanakan lepas IUD di usia Gayatri 2 tahun, ternyata mundur sampai 3 tahun. Karena nungguin Gayatrinya “mau punya adek”. Hehehe….

Baca Juga: Menjadi Orang Tua yang Yakin pada Keputusan

Kalau ditanya, setelah ini mau anak ketiga ga? Kemungkinan si baru akan kami jawab nanti setelah punya anak kedua lahir plus dua tahun. Lihat-lihat kondisi lagi, kita evaluasi lagi pertimbangan-pertimbangan di atas, baru memutuskan untuk anak ketiga.

Santai aja, nggak perlu kemrungsung…. Perjalanan ini masih panjang, Teman-temaaaan! Ga perlu buru-buru memutuskan sesuatu yang besar tanggung jawabnya, tapi jangan juga mendasari keputusan hanya karena pendapat orang lain atau ketakutan diri sendiri. :) Jangan lupa bahagiaaaa!!!!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Saat Anak Demam, Ketahui Tanda Darurat dan Pertolongan Pertama!

Akhir-akhir ini, ada imbauan bagi ibu hamil maupun anak untuk menunda kunjungan ke Rumah Sakit jika tidak darurat. Sementara itu, yang namanya anak kan sehari-hari sering sekali mengalami demam dan sakit ya. Sebagai orang tua, wajar si kalau ada kawatir. Tapi kudu ingat untuk #GakPakeDrama ya, supaya kita tetap tenang dan bisa melakukan pertolongan pertama saat anak demam.

Di artikel ini saya pengen share apa itu Tanda Darurat saat Anak Sakit dan Apa Saja Pertolongan Pertama yang biasa saya lakukan di rumah ketika anak saya demam. Jadi kita sebagai orang tua posisinya selalu waspada, namun kita juga harus tahu, kapan sebaiknya “wait and see” dan kapan sebaiknya “gerak cepat”.

Di akhir artikel, saya mau review satu produk terkait penanganan demam. Oiya, disclaimer: saya bukan dokter atau tenaga kesehatan ya, jadi sharing kali ini murni berdasarkan pengalaman sebagai ibu, semoga bermanfaat ya!

pertolongan pertama saat anak demam

Apa dan penyebab demam (?)

Suhu normal pada tubuh manusia adalah 36,5 – 37,5 derajat Celcius. Biasanya kita akan menyebut demam, saat suhu tubuh melebihi 37,5 derajat Celcius. Selama 3 tahun anak saya, ada beberapa kejadian yang menyebabkannya demam:

  • Suhu lingkungan. Jika baru saja melakukan perjalanan atau ada perubahan sushu yang ekstrim kadang kala, anak saya mengalami demam. Demikian juga jika dia baru melakukan aktivitas fisik dan atau kelelahan. Apakah ada yang sama? Tos duluuuu!!!
  • Infeksi. Ketika tubuh sedang diserang bakteri/ virus, demam adalah tanda bahwa tubuh sedang melawan penyakit.
  • Efek imunisasi.
  • Tumbuh gigi.

Apakah demam berbahaya?

Pada dasarnya demam seperti pada common flu bukanlah hal yang berbahaya, dan biasanya dapat diatasi di rumah. Demam bisa dibilang adalah petanda tubuh yang sedang melakukan perlawanan terhadap kuman, bakteri atau virus yang memasuki tubuh. Namun jika lebih dari 3 hari atau jika ada tanda-tanda lain, demam adalah early warning dari penyakit yang lebih berbahaya, sehingga harus dilakukan konsultasi dengan dokter.

“Mengapa si Dok kok tiga hari?”, saya pernah bertanya demikian pada DSA saya. Kurang lebih beliau menjawab karena ada kekawatiran terkait DBD. Jadi biasanya demam dalam tiga hari akan diperlukan observasi lebih lanjut seperti pemeriksaan darah, dll. Namun kalau baru satu dua hari bisa dilakukan pertolongan pertama, kecuali jika ada tanda-tanda darurat lainnya.

Pertolongan pertama saat anak demam dan tanda darurat ke dokter akan dibahas lebih lanjut di bawah ini ya…..

mengatasi demam

Pertolongan pertama saat anak demam

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan di rumah sebagai pertolongan pertama saat anak demam:

  1. Pastikan anak dalam kondisi nyaman.
    Saat anak demam, buatlah kondisi senyaman mungkin, agar anak tidak kedinginan atau sebaliknya mengalami kepanasan. Orang tua bisa menyelimuti anak dengan kain yang tipis serta membuka jendela agar sirkulasi udara lebih baik dan suhu ruangan menjadi lebih sejuk. Pelukan, sentuhan, cerita-cerita atau hal-hal kreatif lain bisa juga digunakan untuk menenangkan dan mengalihkan perhatian anak dari rasa tidak nyamannya.
  2. Letakkan handuk kecil yang dibasahi air di ubun-ubun kepala atau lipatan-lipatan tubuh anak sebagai kompres demam. Tidak disarankan menggunakan air es (air yang telalu dingin) untuk mengompres, karena bisa membuat anak menggigil. Saya prefer menggunakan air hangat atau air suhu ruangan.
  3. Perbanyak istirahat dan sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah. Hal ini karena kondisi tubuh sedang melemah, sehingga mudah terserang penyakit yang ada di luar rumah.
  4. Cek suhu tubuh. Saya selalu punya termometer di rumah. Tidak harus termometer digital atau termometer forehead ya, mengingat akhir-akhir ini termometer ini jadi sangat mahal dan lebih diprioritaskan untuk tenaga medis. Termometer dengan raksa yang sederhana pun sudah sangat membantu. Biasanya si ngecek suhunya 3-4 jam sekali, atau pas inget, hehehe. Dan selalu saya catat di notes handphone atau selembar kertas. Gunanya catatan ini adalah untuk ditunjukkan ke dokter, apabila Beliau membutuhkan gambaran naik turunnya suhu tubuh selama anak sakit.
  5. Beri cairan dan jaga supaya jangan sampai mengalami dehidrasi. Meski demam tinggi tidak selalu menandakan adanya penyakit serius, namun orang tua sebaiknya tetap waspada. Tanda kecukupan cairan bisa kita lihat dari bibir (kering dan lengket atau tidak), jumlah pipis, warna pipis, area mata, dll.
  6. Sedia obat turun panas, sewaktu-waktu diperlukan.

Tanda Darurat saat Anak Sakit

Nah, bagian ini sekaligus juga menjawab pertanyaan “Kapan perlu konsultasi ke Dokter atau tenaga medis?”. Orang tua sebaiknya segera membawa anak ke dokter apabila ada 3 poin di bawah ini, poin ke-4 tambahan insight :)

1 . Saat demam terjadi pada bayi baru lahir (demam pada neonatus).

Sepengalaman saya, untuk bayi baru lahir kurang dari usia 30 hari, jika ada demam, harus langsung konsultasi dengan dokter/ bidan (sumber: IDAI). Kalau bisa, milikilah nomor kontak dokter anak atau bidan Anda ya, Nyah. Supaya bisa dihubungi terlebih dahulu dan atau konsultasi via telepon.

2 . Saat anak demam sudah 3 hari atau lebih.

Setelah usia anak lebih dari itu, biasanya kalau demam, dokter anak saya akan menyarankan datang/ konsultasi langsung jika demam yang terjadi sudah 3 hari atau lebih.

3 . Saat terdapat tanda-tanda darurat lain.

ATAU jika saat demam (atau bahkan tanda demam) ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan, seperti sesak napas, dll. Berikut adalah beberapa tanda-tanda darurat menurut IDAI, yang harus segera ditangani oleh tenaga kesehatan, jika ada satu saja tanda darurat yang terjadi:

  • sesak napas atau biru pada bibir,
  • diare terus menerus atau muntah-muntah disertai lemas (dehidrasi),
  • nyeri perut hebat,
  • pendarahan terus menerus,
  • kejang atau penurunan kesadaran atau kelumpuhan,
  • demam tinggi 3 hari atau lebih atau demam pada neonatus,
  • kecelakaan, atau
  • keracunan, menelan benda asing, digigit hewan berbisa.

Apabila anak adalah pasien penyakit kronis, sebaiknya hubungi dokter terlebih dahulu ya. Pendapat saya tentang kekawatiran orang tua saat anak sakit bisa dibaca di artikel Better Worry Than Sorry, But….

4 . Saat orang tua memerlukan edukasi.

Poin ke empat ini khususon kalau sedang situasi normal alias tidak physical distancing ya. Semoga pandemi ini segera berakhir aamiin, aamiin….

Poin keempat ini, menurut saya pribadi. Jadi datang ke dokter itu tidak selalu identik dengan minta obat. Saya pribadi jika mengalami keraguan, akan lebih memilih untuk datang ke dokter langganan saya. Yang pertama untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dari profesional. Yang kedua untuk mendapatkan edukasi.

Hal ini tentu saja, karena dokter langganan adalah dokter yang RUM ya. Jadi saya tidak kawatir untuk konsultasi, karena tidak selalu akan berakhir dengan obat. Namun, perlu dipertimbangkan juga ya, karena kalau ke dokter kan ada kemungkinan bertemu pasien lain yang sedang sakit. Jadi ada risiko juga, anak kita tertular penyakit. Apalagi saat ini, kalau bisa konsultasi dulu via WA, via WA aja dulu deh….

Mengatasi anak drama saat demam.

Nah, walaupun secara teori orang tua sering sudah tahu hal-hal di atas, namun ada saja ya hal-hal yang bikin situasi demam jadi drama. Terutama kalau anak uring-uringan dan bad mood. Hihihi….

Yang pasti harus dilakukan tentu saja orang tua harus tetap kreatif dan mengatasinya #GakPakeDrama ya!

Selain pertolongan pertama yang sudah saya sebutkan di atas, saya juga punya trik “unik” yang biasanya berhasil saya lakukan di Gayatri. Yaitu menggunakan Hansaplast Cooling Fever Disney Frozen & Marvel Avengers. Ini adalah kompres demam pertama yang terdapat karakter kartun favorit anak. Hihihi….

kompres demam saat anak demam

Saya merasa penggunaan kompres demam dari Hansaplast ini memudahkan saya untuk menenangkan dan mengalihkan perhatian Gayatri. Saya bisa cerita tentang kuman yang harus dilawan, dan bagaimana kita harus semangat seperti para superhero kartun tersebut. Namanya anak-anak ya, mereka kan lebih mudah disimulasi dengan hal-hal yang sifatnya visual.

Yang saya suka dari #HansaplastID Cooling Fever adalah daya lekatnya yang cukup baik. Jadi plester ini masih menempel dengan baik, walaupun sekali dua kali dilepas oleh anak saya. Ya maklum, kadang anak-anak yang ingin tahu ya. Dan uniknya, walaupun melekat, tapi tidak ada rasa lengket yang mengganggu loh. Aromanya juga segar, tidak berbau obat-obatan, jadi anak tetap merasa nyaman.

Pemakaiannya sendiri juga praktis, karena tinggal dilekatkan di dahi atau di area lain yang membutuhkan kompres. TIDAK PERLU dimasukkan ke dalam kulkas dulu ya…. Karena kalau terlalu dingin, seperti es, malah akan tidak baik :)

hansaplast cooling fever

Informasi lebih lanjut silakan untuk mengunjungi www.hansaplasi.co.id atau melalui akun Instagram resmi @Hansaplast_ID dan Facebook Fanpage @HansaplastID

Sekian sharing dari saya, semoga kita sekeluarga selalu sehat yaaaa!!!!!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Makanan Sehat Favorit saat Hamil, Nggak Bikin Eneg!

Hari ini, kehamilan saya kurang lebih sudah berjalan dua bulan. Saya kadang membanding-bandingkan pengalaman kali ini dengan kehamilan sebelumnya. Ada beberapa perbedaan, terutama soal makanan favorit dan ngidam. Walaupun nafsu makan saya baik, baru kali ini saya pengen makan yang macem-macem. Berbeda dengan sebelumnya yang sepertinya nggak banyak mau. Hihihi. Walau begitu, saya tetap punya makanan sehat favorit saat hamil yang tidak banyak berubah dari dulu. Hal ini penting supaya asupan nutrisi tetap terjaga.

Makanan-makanan tersebut antara lain:

1 . Alpukat dan buah-buahan lain.

Alpukat sebenarnya sudah jadi favorit sejak sebelum hamil. Saat merencanakan kehamilan pun saya sudah gemar mengonsumsi alpukat. Buah ini kaya akan asam folat yang baik untuk perkembangan janin, yaitu untuk mengurangi risiko neural tube defects. Info tersebut salah satunya saya baca di artikel Kehamilan Minggu Pertama ini.

Kalau buah-buahan lain selain alpukat, tidak ada yang spesifik saya favoritkan. Meskipun begitu keberadaannya di kulkas penting untuk menghindarkan saya dari kebiasaan craving es krim dan cokelat. Hihihi…. Entah kenapa saya suka ngemil yang manis-manis. Saya memang tidak benar-benar menghindari makan manis. Namun, dari pengalaman kehamilan sebelumnya, saya sempat diminta diet gula saat trimester terakhir karena berat badang janin yang besar. Jadi belajar dari pengalaman tersebut, saya berinisiatif untuk mencari kudapan yang lebih sehat namun tetap satisfying, sepeti buah-buahan dingin.

2 . Air Kelapa.

Air kelapa ini favorit saya sejak mengandung Gayatri. Entah kenapa kalau mual, atau badan berasa pegel-pegel lalu minum air kelapa, badan jadi berasa lebih segar. Saya pernah menanyakan apakah saya boleh minum air kelapa ke Spog, jawabannya si boleh-boleh saja. Tidak ada efek negatif, jadi entah manfaat yang saya rasakan itu benar adanya atau sekadar placebo, saya tetap mengonsumsinya karena bikin badan saya nyaman. Apakah ada yang suka minum air kelapa juga saat hamil?

3 . Pangsit.

Pangsit yang saya maksud di sini adalah pangsit homemade buatan saya sendiri. Makanan ini memang comfort food buat saya dan anak. Saat hamil, terkadang saya ingin makan sesuatu yang gurih. Daripada saya kebanyakan jajan di luar, akhirnya saya nyetok pangsit di kulkas.

Pangsit juga mudah dibuat dan sehat karena saya membuatnya dari paha ayam dan udang, sehingga kandungan proteinnya banyak.

Bahannya sbb:

  • 150 gram udang
  • 150 gram daging ayam bagian paha
  • Satu sendok makan tepung
  • Garam secukupnya
  • Kaldu jamur
  • Kulit pangsit premade (bisa dibeli di supermaket)

Cara membuat: Cincang udang dan daging ayam menggunakan pisau atau golok. Bubuhi garam dan kaldu jamur secukupnya. Taruh adonan di tengah kulit pangsit satu per satu dan lipat. Pangsit ini bisa digoreng untuk cemilan, atau direbus bersama kaldu.

Saat hamil saya sengaja nggak memberi bawang putih dan lada, karena kadang baunya memicu mual buat saya. Tapi preferensi saja, ya. Dengan resep sesederhana itu saja, rasanya sudah sangat enak. Kuncinya adalah pada kesegaran bahan. Pakai yang benar-benar fresh, terutama udangnya. Udang yang segar akan membuat rasa pangsit jadi lebih gurih dan sedikit manis.

4 . Daging Sapi.

Menurut saya, setiap ibu hamil punya kondisi tubuh yang berbeda-beda. Saya pribadi punya kecenderungan anemia sejak muda. Jadi saya sebisa mungkin mencari bahan makanan yang mengandung zat besi yang mudah diserap tubuh. Kebetulan makanan yang paling saya suka adalah daging sapi.

Tentunya cara saya mengonsumsi daging sapi saat hamil dan saat sedang tidak hamil berbeda. Misalnya kalau steak, saya biasanya suka tingkat kematangan medium karena lebih terasa juicy. Tapi saat hamil, mau tidak mau harus makan dalam kondisi matang sempurna (well done). Hal ini anjuran dari dokter untuk menghindari makanan mentah, terutama daging, ikan dan telur mentah.

5 . Kacang Hijau.

Kalau teman-teman googling dengan keyword “manfaat kacang hijau untuk kehamilan” pasti akan banyak sekali informasi tentang nutrisi yang terkandung di kacang hijau. Dari protein, asam folat, vitamin dan mineral sampai dengan kandungan seratnya. Untuk yang terakhir saya ingin garis bawahi, soalnya, ini membantu banget buat ibu hamil yang sering banget mengalami konstipasi ya.

Kalau bosan mengolahnya menjadi bubur kacang ijo yang bersantan, bisa juga lho diolah menjadi jus, ditambah dengan ketan atau malah dibuat gulai bareng daging! Hihihi! Serius, saya juga baru tahu resep dari Madura ini karena suami saya. Dan rasanya enak!!!!

Selain lima makanan di atas, tentunya saya juga tetap makan makanan sehat lain seperti biasanya dan ditambah vitamin. Susu juga kadang minum kalau sedang tidak eneg, hehehehe…. Kalau teman-teman, makanan sehat apa yang jadi favoritnya saat hamil? Sharing yuuuuk!

Related post: Mencegah Stunting Sejak Sebelum Hamil

PS: Kalau kamu ingin membaca lebih banyak artikel tentang kehamilan dan mengurus anak, dari makanan ibu hamil hingga menyapih bayi, kamu bisa menemukannya di Shopee Moms Club! Selain ada artikel, teman-teman juga bisa menikmati promo diskon spesial! Klik link ini untuk cari info lebih lanjut ya!

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share