Couple/ Family Budget Meeting, Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga

cara mengatur keuangan rumah tangga

Pas lebaran kemarin, pas maaf-maafan sama pasangan pada ngaku dosa keuangan nggak si sama pasangan?

“Yang, maaf ya, dulu aku bohong sama kamu. Bilang kalau gamis Ria Miranda yang aku beli itu seratus ribuan…. padahal x.xxx.xxx.” Atau ada yang ngumpet ngumpet beli pallete eye shadow baru (lagi)? :P

Atau suami, “Iya Bu, aku juga. Ngakunya beli diamond buat game Marvel Future Fight 50 ribu per bulan, padahal per minggu beli….” Atau ngibulin istri besaran THR yang diterima?

Hahaha, hayo siapa yang 11-12? Yaaaa nggak plek jiplek gitu tapi beti. Ngaku ajaaaaaa! Aaaakkkkk….

Kalau saya dan suami si enggak. #kibasrambut

Bukan! Bukan karena kami nggak mampu ngibul satu sama lain. Tapi karena kami sering banget ngobrolin masalah keuangan keluarga. Bisa dibilang tiap minggu bahas. Apalagi pas dulu narget ngelunasi utang lebih cepat, lebih sering lagi. Jadi ngaku dosanya nggak nunggu dirapel pas lebaran wkwkwkwk. Uda keburu ketahuan eh ngaku duluan.

Lagipula kami tau password atm, mobile banking dan email masing-masing, jadi gampang ngetracenya. LOL.

hehehe

Wkwkwkwk! Tapi seriusan, Couple/ Family Budget Meeting yang rutin dilakukan itu dampaknya baik lo sebagai salah satu cara mengatur keuangan rumah tangga.

Couple/ Family Budget Meeting sebagai Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga

Manfaatnya adalah selain 1) mendorong keterbukaan, juga 2) mendorong masing-masing pasangan untuk tetap berdisiplin mengatur pos/ anggaran yang dimiliki. Selain itu, kita juga jadi 3) aware sama kondisi keuangan terkini dan 4) bisa nyari solusi bareng kalau ada masalah.

Seperti kemarin, suami bilang, “Duit kita kok jadi cepet abis ya akhir-akhir ini, padahal uda jarang jajan.” “Cek aja yuk pak di mutasi rekening,” saya menimpali.

Dan ketemu jawabannya: biaya perjalanan rutin PP Surabaya – Jakarta kami gede bangeeet, saking seringnya. LDM ini sungguhlah berat di ongkos. Ya, gimana dong. Kangen sik, seminggu nggak ketemu tu rasanya kaya nggak ketemu 168 jam.

Hehehe….

Habis menemukan fakta itu, kami ngobrol lebih lanjut. Walau masih meraba-raba cara ngakali biaya perjalanan ini, tapi setidaknya sudah tiada prasangka di antara kami. Bahwa anggaran bocor bukan karena salah satu dari kami foya foya, tapi karena ada jarak di antara kita. Jadi tinggal fokus mikir solusinya.

Thanks to Couple/ Family Budget Meeting!

cara mengatur keuangan rumah tangga

“Couple/ Family Budget Meeting”, ah elaaah bahasanya ribet amat ya. Sebenernya si ya kaya ngobrol-ngobrol biasa, hanya bahasannya spesifik. Fokus ke masalah keuangan. Nggak harus dibungkus serius kaya rapat kantor gitu. Bisa juga sambil ngeteh-ngeteh. Gimana enaknya aja….

Biar meetingnya efektif dan efisien sebagai cara mengatur keuangan rumah tangga, selama ini kami selalu berusaha untuk melakukan hal-hal berikut:

1 . Terbuka satu sama lain.

Dari awal menikah, saya dan suami sudah sepakat untuk terbuka masalah keuangan. Bahkan sebenarnya sejak sebelum menikah, kami pun sudah tahu kondisi keuangan masing-masing. Tidak ada kekawatiran ataupun keraguan akan ditilep satu dengan yang lain.

Mungkin ada yang bilang keterbukaan seperti ini naif. Tapi bagi suami istri yang sah, kami berpikir bahwa tubuh pun kami bagi dan saling terbuka, padahal itu hal yang sangat pribadi. Mengapa soal keuangan tidak?

2 . Nggak baper.

Ada lo yang baperan sama pasangan masalah keuangan. Entah karena gede kecilnya pendapatan. Karena background status keluarga. Atau hal lain. Nhaah, jangan sampai baper ini mengganggu komunikasi saat ngobrolin keuangan ya. Tar jadi problem di akhir malah.

3 . Memahami prioritas bersama namun menghargai kebutuhan atau bahkan (sekedar) keinginan pasangan.

Saya pakai kata “sekedar” di dalam kurung ya. Walaupun bukan prioritas bersama, bisa jadi keinginan/ kebutuhan pasangan adalah prioritas baginya. Kadang agak susah menerima juga si. Misalkan hobi. Hobi itu kan kadang nggak logis ya. Cuma ya nggak ada salahnya dipertimbangkan, walaupun tak selalu dikabulkan wkwkwkwk.

Karena siapa tahu hobi bisa juga mendukung kinerja pasangan. Atau mendukung kesehatan pasangan. Fisik maupun mental.

Kalau nggak parah-parah banget absurbnya si, kami biasanya saling support. Contohnya seperti yang saya sebutkan di awal, suami saya menganggarkan beli diamond buat mendukung main game. Cuma Rp 50.000,00/ bulan ya oke oke aja saya mah. Atau beli sepatu futsal, kan balik juga buat kesehatan dia. Saya mah happy banget.

Mending dia main game apa main bola kan dari pada mainin hati saya. Ah elahhh….

Saya? Ya saya punya hobi juga. Ngeblog ini juga hobi yang makan biaya loh. Domain sama hosting per tahunnya Rp 610.000,00 ribuan sendiri. Belum kalau saya pingin stiker-stiker lucu. Hehehehe…. Walaupun dari blog saya juga dapat uang saku. Tapi sejujurnya, domain dan hosting kadang suami juga sik yang transferin. :P

Suami rela? Ya rela lah. Daripada saya menyalurkan lebih dari 15.000 kata per hari saya ke dia kan. Mending saya bawel di blog dan jadi lebih kalem ke deseu.

Cuma ya teteeeep, kita punya batasan. Yaitu prioritas keluarga. Nah, prioritas keluarga ini uda harus diomongin dan jelas dari sejak awal menikah ya. Kalau kata mbak Prita Ghozie si uda jelas TUJUAN KEUANGANnya apa dulu.

setrong

4 . Ada data pendukung.

Saya dan suami adalah orang yang punya preferensi masing-masing. Dan kebetulan sama-sama kuat. Jadi daripada gontok-gontokan dengan pendapat masing-masing, kami lebih suka ngomong pakai data.

Misalkan, suami lebih suka investasi pakai emas, saya suka tanah. Suami suka reksadana, saya pengen coba-coba saham. Nah, yang kaya gitu kan sebenarnya nggak ada benar salah ya. Itu preferensi. Jalan tengahnya adalah, sama-sama belajar tentang preferensi masing-masing. Kenapa si suami suka emas? Misalkan begitu.

Untuk dapat diskusi dengan kepala dingin tanpa asumsi sendiri, enakan pakai data pendukung.

5 . Ada catatan.

Catatan adalah poin penting dalam menggunakan couple/ family budget meeting sebagai cara mengatur keuangan rumah tangga. Tanpa catatan, bisa jadi budget meeting sudah menghasilkan solusi, tapi kemudian dilupakan begitu saja. Kan sayang….

Kami pernah punya satu buku bahkan lo. Buku ijo, yang kami gunakan sebagai buku catatan utang. Di situ tersimpan hasil budget meeting kami tentang prioritas utang mana yang duluan mau dibayar dan dibayar dari sumber penghasilan mana.

Selengkapnya tentang buku utang ini saya pernah cerita di Tips Melunasi Utang Sebelum Jatuh Tempo.

Catatan di poin ini nggak selalu buat utang ya. Bisa juga untuk tujuan keuangan lainnya. Disesuaikan saja yak!

6 . Ada meeting followup berikutnya.

Catatan juga harus difollow up ya. Meeting followup ditentukan aja saat meeting sebelumnya. Jadi bisa janjian, tar seminggu lagi kita bahas lagi yak. Yah, semacam itu. Saya sendiri nggak punya jadwal khusus banget.

Frekuensi ngobrol dan lamanya sesi ngobrol tentu tergantung kondisi ya. Ada kalanya kami hanya berupa pertanyaan, “Masih ada duit, Bu?” Atau “Eh, aku baru dapat bonus loh, tak buat beli speaker yo!” Uda kelar.

Atau bisa jadi lebih lama. Yang lebih lama biasanya kalau bahas masalah yang dampaknya jangka panjang. Seperti pelunasan utang, mau investasi, rencana beli kendaraan, ya sejenis itu. Teman-teman pasti sudah punya bayangan di keluarga masing-masing ya….. Atau malah uda rajin melakukan couple budget meeting?

Sharing dooong gimana biasanya cara mengatur keuangan rumah tangga di rumah masing-masing…. :)

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share

Aduh-hainya Ngekos Bareng Bayi #GratitudeList

Nyusul cerita sebelumnya tentang pengalaman jadi ibu rumah tangga sementara, ending ceritanya kan saya balik ke Jakarta lagi untuk bekerja. Banyak ni yang nanyain, Ning Gaya gimana nasibnya? Hehehe, Si Ening kabarnya baik, dia ikut saya balik Jakarta. Setelah, Opa Surabaya sempat ngusulin Ning Gaya tetep di Surabaya aja, dan Simbah Akung Utinya yang di Pati juga minta Ning Gaya ke Pati aja, keputusan Gayatri ikut saya, kami pikir adalah keputusan terbaik so far sampai saat ini.

“Berdua aja Nyah?”

Iya…. Dan karena berdua aja, kami memilih untuk ngekos instead sewa rumah. Selain, agar lebih praktis, pilihan ngekos juga memberi kesempatan bagi saya untuk memilih hunian terdekat dengan daycare Ning Gaya sekaligus yang dekat juga dengan kantor saya. Jadi bisa jalan kaki, tidak sampai 10 menit di pagi hari saya bisa antar Si Ening ke daycare dan sampai di kantor. Yah, maksimal jadi 15 menit kalau saya jalannya pelan-pelan atau sambil ngobrol dengan Suster daycare dulu.

“Gimana rasanya ngekos berdua aja sama bayi?”

Hihihi, ya pasti ada suka dukanya ya. Tentu nggak seindah kalau tinggal di rumah bareng sama suami yang pasti. Tapi di postingan kali ini saya nggak mau cerita yang melo melo. Tar saya tambah melo kan yak…. Hihihi….

Momen pas dianter ke kos sama Bapak.

Momen pas dianter ke kos sama Bapak.

Saya mau list apa aja si yang saya syukuri di tengah ke-Aduh-hay-an ngekos bareng bayi. Ala-ala #gratitudelist gitu, biar nanti pas saya mulai lelah, saya bisa baca lagi dan jadi pengingat buat saya, daaaan siapa tahu juga bisa jadi penghiburan buat para ibu yang sedang ngalamin hal yang sama dengan saya….

1 . Dapat kos yang dekeeet banget sama daycare-nya Ning Gaya dan kantor saya.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, kosan saya – daycare – kantor dapat ditempuh dalam waktu sepuluh menit. Bahkan jarak kosan saya ke daycarenya Gayatri itu cuma lima langkah. Hihihi…. Kaya lagu dangdut pacar lima langkah yak…. Nggak literaly lima langkah kaki juga si, tapi cuma selisih taman aja uda sampai.

Saya bersyukur banget dapat kosan ini, karena awalnya sebenernya saya mengincar satu kosan lain yang jaraknya lebih jauh sedikit. Sudah kontak-kontakan sama pemiliknya beberapa minggu sebelum saya balik Jakarta. Tapi belum bayar. Eeeeeh, keduluan orang lain, dan saya tahunya itu H-2 dong dari keberangkatan saya. Mau nangis deh. Ya masa iya saya balik Jakarta, bawa bayi, tapi belum jelas mau tinggal dimana.

Trus nyari-nyarilah di olx, nemulah kosan saya ini. Daaaan masih ada satu kamar. Syukurlah…..

setrong

2 . Kosan dekat dengan laundry.

Saya tetap menggunakan jasa orang ketiga untuk laundry karena di kosan tidak ada mesin cuci. Menyuci sekaligus menyeterika sendiri di kosan yang kecil bareng bayi yang sedang aktif-aktifnya bukan pilihan yang bijaksana buat saya, yang juga bekerja dari jam 8 pagi s.d. 5 sore. Daripada capek, emosi dan semuanya berantakan, lebih baik waktu yang dipakai ngurusin cucian buat main sama anak. Hehehe…. Memang harus memilih si, walaupun tidak ideal. Syukurlah ada laundry di samping kosan yang lumayan murah.

3 . Punya teman kos yang muda, ceria dan unyu unyu.

Penyakit paling mematikan itu mungkin bukan kanker, tapi rasa kesepian. Sendiri, ngasuh bocah, LDM, pasti ada saat-saat kita bad mood. Punya temen ngobrol, atau sekedar say hi di pagi dan malam, temen ngangkat galon ke dispenser (wkwkwk) atau sekedar temen makan itu sesuatu yang berharga ya. Saya bersyukur banget ada dua orang yang tinggal sepaviliun dengan saya dan anaknya talkactive dan ceria-ceria banget.

love love

Teman kos ini maksud saya bukan temen ngekos sekamar ya. Tapi teman sepaviliun. Bentuk kosan kami memang rada unik, selain ada kamar-kamar yang langsung menghadap halaman, ada satu yang berbentuk paviliun tersendiri yang berisi dua kamar, satu dapur, satu kamar mandi dan ruang makan yang sekaligus dipakai buat ruang belajar dan ngumpul. Paviliun inilah yang saya tempati bersama dua orang lain yang menggunakan kamar terpisah.

Selisih usia kami sepuluh tahun, jadi sebenernya ya saya nggak bisa curhat yang berat-berat gitu. Kaga nyambung. Tapi dengerin mereka cerita film Korea atau ngeliat tingkah mereka (yang oleh mereka sendiri sebut receh) menghibur banget buat saya.

4 . Karena di paviliun ada dapur, saya bisa masak sendiri.

Karena Long Distance Marriage bikin pengeluaran jadi lebih banyak, jadi proses ngekos bareng bayi pun harus mempertimbangkan kondisi keuangan. Saya nggak bisa sembarang pesan Go Food mulu tiap makan, misalnya. Untungnya dapur di kosan memadai banget buat masak ala saya. Hehehe…. Saya tetep bisa meal prep loh, karena ada kulkas juga yang lumayan gede lah buat dipakai tiga orang.

Hemat Nyaaah!

Apa lagi yaaaa…. Apa lagi yaaa…. Hihihi….

Lesson learnnya buat yang mau ngekos bareng bayi, in my humble opinion mungkin sebaiknya mempertimbangkan hal-hal di atas ya. Terutama yang kedekatan lokasi ituuuuu…. Beneran ngurangin stres banget.

ngekos

Apa lagi yaaaa…. Apa lagi yaaa…. Apa lagi yaaa…. Hihihi….

Sambil saya mikir, Nyonyah-nyonyah sendiri adakah yang punya pengalaman LDM atau pengalaman tinggal berdua bareng bayi? Shariiiing yuuuukkk di comment section!

Terimakasih, salam sayaaang!

 

Sharing is Caring! Yuk share artikel ini ke temen2mu!
Share